DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.

GENRE :

Adventure & Romance

WARNING :

FemKura. An Indonesian version for 1001 Nights by Runandra, one of my favorite author!^^

.

A/N :

Ah…chapter kali ini terlambat seminggu dari yang direncanakan, karena kemarin aku liburan^^

Terima kasih banyak untuk semua yang telah setia membaca dan mereview, membuat semangat menulisku mulai kembali seperti sedia kala.

Happy reading^^

.

.

.

CHAPTER 8 : A TOUCH OF THE PAST

'"Apa yang terjadi dengan rantaimu?"

Kurapika menghentikan pekerjaannya dan menoleh kepada Kuroro dengan pandangan bingung, memintanya untuk menjelaskan lebih jauh. Ia sedang mencuci noda-noda darah di bajunya; lagi-lagi mereka bertemu dengan beberapa orang pemburu bayaran yang mengincar kepala Kuroro. Yang lebih membuatnya jengkel, baju Kuroro tetap bersih tanpa noda.

"Kenapa kau tidak menggunakan rantai yang kau gunakan padaku waktu itu di York Shin?" Kuroro menjelaskan.

"Oh," Kurapika bergumam dan melanjutkan membersihkan noda dari bajunya. "Aku tidak bisa. Ada syaratnya. Seharusnya kau sudah tahu tentang ini."

"Bahwa kau hanya dapat menggunakannya pada Gen'ei Ryodan dan bukan pada yang lain, kalau tidak kau akan mati?"

"Ya," jawab Kurapika pendek. Ia beranjak dan membersihkan dedaunan kering yang menempel di celananya, Kuroro pun berdiri.

Sejak kejadian di Penginapan Prancing Pony, di mana Kurapika terserang demam dan mengigau, Kurapika tidak lagi begitu memusuhi Kuroro, walau ia masih menjaga jarak dengannya. Kuroro tetap seperti biasa, menjadi dirinya sendiri dan lepas, tapi sikapnya terhadap Kurapika mulai lebih hangat dan lebih sering berbicara dengannya. Biasanya Kuroro akan menanyai Kurapika pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya penasaran, dan kadang-kadang, pertanyaan-pertanyaan itu akan memberinya tatapan peringatan dari Kurapika; walau tanpa Mata Merah-nya.

"Kenapa kau tidak mengubah syaratnya? Hal itu mulai terlalu merepotkan dalam pertarungan. Kau tidak bisa melawan dengan kekuatan penuh."

Kurapika mendengus pelan. Tentu saja dia tahu itu. Bukannya Kurapika tak peduli atau apa, tapi mengubah syarat yang ia terapkan di rantainya bukanlah hal yang mudah. Jantungnya sudah terlilit Judgement Chain, dan dia tidak akan bisa mengangkatnya begitu saja. Seseorang harus melakukan itu untuknya. Kurapika memberitahukan hal ini dengan suara datar, seolah ia tidak peduli sama sekali.

"Hmm..." Kuroro menutupi mulutnya dengan tangan sambil berjalan berdampingan dengan Kurapika melintasi hutan. "Jika Judgement Chain diangkat, rantainya pun akan lenyap. Tapi kau bisa membuat syarat dan jaminan baru, 'kan?"

"Benar. Tapi sebenarnya, bahkan jika aku mengangkat Judgement Chain itu, aku tidak tahu syarat baru apa yang akan kuterapkan. Setidaknya kekuatannya harus sama dengan yang kumiliki sekarang," Kurapika berkata.

Baginya, menangkap Gen'ei Ryodan adalah tujuan seumur hidupnya. Dia mau membuang apapun untuk memenuhi tujuannya itu; Kurapika tidak punya tujuan lain yang menyamai pembalasan dendamnya. Pandangan matanya menajam saat memikirkan ini, dan dia menjadi bermasalah lagi. Bahkan walaupun Kurapika telah bersumpah memusnahkan Gen'ei Ryodan untuk membalaskan dendam orang-orang sesukunya, di sini ia berjalan melintasi hutan dengan Pemimpin Gen'ei Ryodan sendiri, dan dalam jarak yang sangat dekat dengannya. Kurapika menunduk dan tanpa sadar memainkan cincin di jari telunjuknya. Sebelumnya, ia tak pernah memberi perhatian apapun pada cincin itu, tapi akhir-akhir ini Kurapika selalu punya kesempatan untuk menatap cincin itu dan wujudnya pun segera melekat dalam benaknya.

Cincin itu cukup sederhana. Terbuat dari perak, dan di tengahnya terdapat batu permata aquamarine. Ishtar memberikan cincin bertatahkan aquamarine itu dengan alasan, karena cocok dengan warna matanya, itulah yang dia katakan. Di sepanjang cincin itu terdapat sekilas tanda dari bahasa kuno; di mana tidak ada buku dan pengetahuan pun hilang selamanya. Saat Kurapika meraba cincin perak itu, dia dapat merasakan kelembutan dan kejernihannya, dipadukan secara sempurna oleh pembuatnya. Kurapika dapat merasakan aura lemah terpancar dari cincin itu, tapi hanya itu. Ishtar mengatakan bahwa batu cincin akan berubah warna jika mendeteksi keberadaan makhluk gaib di dekatnya, tapi sejauh ini hal itu tidak terjadi.

Kuroro mengamati Kurapika dari sudut matanya. Entah bagaimana gadis itu menjadi diam dan berhenti dengan kata-kata kasarnya. Setiap kali Kurapika bicara padanya, selalu ada nada berlebihan pada suaranya, seolah ia mengerahkan banyak usaha hanya untuk berbicara dengan Kuroro. Akhir-akhir ini, terutama setelah peristiwa di penginapan, Kurapika berbicara padanya dengan yang mungkin dia sebut sebagai suara normalnya. Kuroro juga menyadari kebiasaan baru Kurapika meraba cincin itu seolah mencoba mengalihkan perhatian dari pikirannya yang gelap. Kuroro melihat ke cincinnya sendiri; cincin yang sama dengan milik Kurapika, kecuali batu cincinya adalah onyx.

Seberapapun inginnya aku menyangkal, dia memang benar. Aku tidak bisa tetap seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu dengan rantai Nen-ku. Sejauh ini, pemburu yang mengejar kami bukanlah masalah besar, tapi jika pemburu dan Pengguna Nen yang lebih kuat datang…aku tidak mau bergantung padanya. Aku harus mandiri, oleh karena itu aku harus bisa melindungi diriku tanpa membutuhkan bantuan darinya…, pikir Kurapika dalam-dalam. Ia mengernyit dengan getir. Dan sepertinya kita tidak akan bisa segera menyelesaikan masalah ini.

"Bersiaplah," tiba-tiba Kuroro memberitahunya dengan suara yang lembut.

Kurapika tersentak saat mendengar suara Kuroro begitu dekat di telinganya, dan dia berterimakasih pada Tuhan karena tidak tersipu (dia tidak menginginkan godaan yang tidak perlu dari Kuroro lebih dari biasanya, karena pria itu sepertinya punya bakat menggoda Kurapika) karena instingnya sebagai seorang Hunter, Kurapika dapat merasakan kehadiran beberapa orang pemburu di sekitar mereka, menunggu untuk menyergap.

"Tiga di depan, dua di belakang, dan dua lagi di masing-masing sisi," Kurapika bergumam dalam bisikannya.

"Bagus sekali. Aku benar-benar melihatmu sebagai seorang Hunter profesional."

"Jangan mengejekku," Kurapika merengut padanya, namun tetap menjaga agar tubuhnya tetap rileks, mereka berpura-pura tidak menyadari kehadiran para pemburu itu. "Aku pernah menangkapmu sekali."

"Kau benar, bahkan kau membuatku tak berdaya selama berminggu-minggu," Kuroro tertawa geli. Kurapika memutar kedua bola matanya dengan jengkel.

Saat Kurapika akan melontarkan ejekan kepada Kuroro, ia merasakan sebuah gerakan di sebelah kanannya. Kurapika meregangkan pergelangan tangan dan jari-jarinya, sambil terus berjalan dengan santai seolah dia tidak menyadari apapun.

"Pertama dari samping," gumam Kuroro saat semak-semak bergemerisik. Seperti yang telah diperkirakan oleh Kurapika, dua orang pria melompat dari masing-masing sisi, senjata mereka siap melukai keduanya. Kuroro meregangkan pergelangan tangannya dan segera saja dua buah paku khususnya tertanam dalam-dalam di kening mereka, membuat mereka mati seketika. Kurapika mengeluarkan Dowsing Chain-nya dan mengarahkan bola besi di ujung rantai itu ke wajah mereka secara bergantian; membuat kedua pemburu itu tak sadarkan diri. Kuroro menghela napas.

"Gelombang kedua, dari belakang," Kuroro bergumam dan melemparkan dua buah pakunya melewati bahu tanpa membidiknya. Kedua paku itu menemukan targetnya secara akurat, membunuh dua orang pemburu lagi. kurapika tersentak melihat pembunuhan berdarah dingin yang dilakukan Kuroro. Ia melihat mayat-mayat itu dengan rasa kasihan dan jijik.

"Menyimpan yang terbaik untuk yang terakhir, hah?" Kuroro tersenyum dan berbalik, dengan berat badannya bertumpu pada kaki kiri.

Menanggapi hal itu, tiga orang pria melompat dari pepohonan dan mendarat di tanah dengan suara pelan. Kurapika segera mengenali mereka sebagai Pengguna Nen. Dia benar-benar ingin mengerang. Masalah adalah hal terakhir yang dia inginkan, tapi Pengguna Nen yang mengejar dirinya dan Kuroro ditambah kondisi terkutuk mereka saat ini bisa dibilang M-A-S-A-L-A-H besar.

"Kemampuanmu benar-benar bagus, seperti yang digosipkan," salah seorang dari mereka berkata, seorang pria bertubuh besar seperti raksasa dengan suaranya yang serak.

"Seperti yang diharapkan dari seorang Pemimpin Gen'ei Ryodan, hah?" pria bercambang yang terlihat seperti seorang Viking berkata.

"Tapi aku tidak mengira kau bepergian dengan seorang gadis. Kukira kau tipe penyendiri. Kekasihmu?" cibir seorang pria bertubuh lebih kecil dengan wajah nakal.

"Kalau begitu kalian akan terkejut," Kuroro hanya menjawab sambil meraih dan mengunci jemari ramping Kurapika dalam genggamannya. "Kekasihku ini sama kuatnya dengan siapapun juga dari kalian." Ia menyeringai, tapi seringainya ditujukan kepada Si Kuruta yang marah besar di sampingnya.

"Kau bajingan—" Kurapika menggertakkan giginya, mencoba menelan teriakan yang mengancam untuk meledak di tenggorokannya. Bertengkar dengan Kuroro sekarang bukanlah pilihan terbaik, mengingat ada Pengguna Nen yang mengejar mereka. Jadi ia akan mengurus hal itu dengan Kuroro nanti.

Pertarungan dimulai saat Si Raksasa melompat ke arah mereka, kepalan tangannya terangkat untuk memukul mereka. Kepalan tangan itu bertemu dengan tanah kosong dan menghancurkannya seperti lumpur. Pada detik kedua, pelipisnya bertemu dengan sebuah pukulan lutut yang keras dan membuatnya terbang melintasi lapangan. Kuroro dan Kurapika mendarat di tanah yang sudah dengan mudahnya dihancurkan.

"Aku tahu dia tidak bercanda saat mengatakan bahwa gadis itu tangguh," Si Pria Nakal tertawa cekikikan. "Menarik, benar-benar menarik." Dia terkekeh saat melirik kepada Kurapika, memberinya rasa takut.

Si Pria Viking menggeram keras dan melampiaskannya kepada Kuroro dan Kurapika, kapak raksasanya sudah ia pegang. Dia mengayunkan kapaknya ke arah mereka, tapi Kuroro menahan kapak itu dengan hanya menggunakan satu tangan, walaupun tanah di bawahnya berderak karena pengaruh serangan itu. Si Pria Viking menggeramdan lebih mengerahkan kekuatannya, tapi kapak itu tidak bergerak sedikit pun. Kuroro menaikkan sebelah alis matanya.

"Ini sama sekali tidak sebanding dengan kekuatan brutal milik Uvo," ia berkomentar. Kuroro melihat gerakan ke sebelah kanannya dan samar-samar melihat sebuah tendangan menerjang. Tumit Kurapika menendang rahang Si Pria Viking dengan keras, membuatnya jungkir balik di udara, kapaknya terlupakan dalam genggaman Kuroro.

"Mood-mu benar-benar buruk hari ini," Kuroro berkata sambil melemparkan kapak di tangannya.

"Dan menurutmu itu salah siapa?" Kurapika membentak dengan tidak senang kepadanya, namun tetap memusatkan perhatian pada Si Pria Nakal.

Si Pria Nakal menyeringai dengan jahatnya pada gadis itu, dan tiba-tiba Kurapika merasakan gerakan cepat di tanah. Sebelum ia sempat bereaksi, tanah yang berada di bawahnya ambruk dan ia masuk ke dalam tanah yang menganga. Kurapika tersentakterkejut, tapi pegangan Kuroro menjadi lebih erat dan ia merasakan tarikan yang kuat menariknya ke atas. Beberapa saat kemudian, tangan Kuroro melingkar di pinggang ramping Kurapika dan pria itu melompat mundur untuk menjaga jarak dari Si Pria Nakal.

"Oh, sayang sekali. Aku hampir mendapatkannya," Si Pria Nakal mendecakkan lidah. Makhluk besar yang terlihat seperti kepiting dan seekor kumbang memekik dari tanah yang terbuka dan mundur kembali ke dalam kegelapan bumi. "Tapi selama kau berada di atas tanah, aku dapat menangkapmu."

Tanah pun bergetar lagi, dan Kuroro melompat ke batang pohon, masih dengan Kurapika dalam pelukannya, saat tanah ambruk. Makhluk di dalam tanah itu memekikkesal seolah kehilangan targetnya sekali lagi. Saat Kuroro mendarat di batang pohon, Kurapika mendengar sebuah suara benda tajam membelah udara, melesat ke arah mereka. Kurapika mengeluarkan Dowsing Chain-nya dan memukul mundur peluru yang datang ke arah mereka. Sepasang kapak yang berbentuk seperti piringan hitam dan dimanipulasi Nen melayang di udara untuk sesaat dan terbang kembali kepada pemiliknya. Si Pria Viking menangkap dua kapak itu dan menjilat bibirnya yang berdarah. Sebelum Kuroro dan Kurapika yang tengah berada di atas pohon dapat membalas serangannya, pohon itu bergetar dengan keras. Kenyataannya, pohon itu tumbang saat Si Pria Raksasa memukul batang pohon di bawah mereka dan menghancurkannya; pasti ia berasal dari kelompok Enhancement.

Kuroro melompat dari pohon yang tumbang itu; masih membawa Kurapika dengan sebelah lengannya, dan baru saja akan mendarat di tanah saat tanah itu terbelah dan hewan peliharaan Si Pria Nakal menunggu untuk menelan mereka. Kurapika bereaksi dengan cepat dengan membentangkan dan melilitkan Dowsing Chain-nya ke batang lain di pohon. Ia menarik mereka berdua menjauh dari makhluk bawah tanah itu; kali ini Kuroro menggantung di pinggangnya. Memanfaatkan kesempatan itu, keduanya berayun dan mendarat di atas batang pohon.

"Lepaskan tanganmu!" Kurapika berdesis dan menepiskan tangan Kuroro segera setelah kaki mereka menyentuh batang pohon itu. Kuroro hanya mengangkat bahu dan tetap mematuhinya.

"Kau tidak bisa lari!" Si Pria Viking meraung dan melemparkan kapaknya lagi ke arah Kuroro dan Kurapika. Kali ini, Kurapika tidak hanya membelokkan kapak-kapak itu, tapi melilitkan rantainya ke sekitar gagang kapak dan melemparkannya ke makhluk kumbang-kepiting yang masih tak terlindung di tanah yang menganga. Segera saja hutan itu dipenuhi oleh teriakan yang memekakkan telinga dari makhluk yang sekarat itu; yang hanya bisa bertahan selama beberapa detik.

"Kau! Teganya kau membunuh peliharaanku yang cantik!" Si Pria Nakal memekik marah dan pada saat yang sama Si Pria Raksasa menebang pohon tempat di mana Kuroro dan Kurapika berada.

Kali ini, mereka berdua mendarat di atas tanah yang aman, hanya untuk disambut oleh gerakan Si Pria Nakal. Keduanya menghindari serangan Si Pria Viking dengan tarian mereka sendiri, berdansa waltz mengitari pria raksasa yang lamban itu. Dari sudut matanya Kurapika melihat sesuatu datang dan Dowsing Chain-nya mencegah hal itu. Ia menangkap beberapa buah jarum setajam silet, yang diberi racun di setiap ujung jarum itu. Si Pria Nakal terus menghujani mereka dengan jarum beracun, dan Kurapika harus terus membelokkan jarum-jarum itu. Sementara itu, Kuroro harus menghadapi dua orang musuh sendirian. Keduanya hanya bisa menggunakan salah satu tangan mereka karena batasan jarak yang diijinkan oleh belenggu Hassamunnin, dan hal itu sangat membatasi kisaranserangan dan pertahanan mereka.

Kuroro menembakkan pakunya kepada Si Pria Viking dan menikamkening pria itu dalam-dalam, membunuhnya seketika. Di waktu yang sama, Si Pria Raksasa merubah sasarannya dan mengincar kepala Kurapika yang tak berdaya, karena gadis itu masih disibukkan oleh jarum Si Pria Nakal. Kurapika menyadari serangannya dan mengambil resiko waktu sedetik untuk menendang Si Pria Raksasa di wajahnya dan menghindar sebelum kepalan tangan pria itu menghancurkan kepalanya. Dalam jangka waktusedetik ini, Si Pria Nakal menggunakan kesempatannya untuk menghujani mereka dengan jarum-jarumnya lagi, dan Kurapika tidak punya waktu untuk menahannya. Kuroro melihat jarum-jarum itu datang.

Kuroro membelokkanhampir semua jarum itu dengan pakunya, tapi masih ada beberapa jarum yang menuju ke kepala Kurapika yang tidak terlindungi. Jika jarum-jarum itu menembuskepalanya, dia akan mati seketika; yang berarti kematiannya juga. Mengorbankan lengannya, Kuroro menggunakan lengannya sendiri sebagai tameng. Jarum-jarum itu menembus dagingnya dengan dalam dan wajahnya menyiratkan kesakitantapi dia sama sekali tak bersuara. Mengabaikan rasa sakit itu, Kuroro melemparkan pakunya sendiri dan dengan sukses memukul sasarannya; kening Si Pria Nakal, dengan ketepatan sempurna dalam satu tembakan. Si Pria Nakal mati seketika.

Suara retakanterdengar dan Si Pria Raksasa terjatuh dengan rahang hancur karena pukulan Kurapika. Kurapika berbalik saat Kuroro melepaskan tangannya dan melihatnya mencabuti jarum-jarum dari lengan lumpuhnya yang tergantung di bahunya. Kurapika tahu ia harus berterimakasih pada pria itu, tapi pemikiran bahwa Kuroro melindunginya hingga mengorbankan lengannya, baginya terlalu dibuat-buat. Kurapika merasa sedikit bersalah, tapi ia segera mengesampingkannya.

"Lenganmu," Kurapika berkata.

"Akhiri dia," hanya itu yang diucapkan Kuroro. Kurapika mengangkat alis matanya mendengar suara Kuroro yang memerintah. Kuroro menatapnya dan mengisyaratkan dengan kepalanya ke arah Si Pria Raksasa yang tak sadarkan diri di tanah. "Bunuh dia."

"Tidak," Kurapika segera menjawab.

"Akhiri dia seperti yang kau lakukan pada Uvo," ulang Kuroro, kali ini nada suaranya terdengar lebih dingin.

"Tidak, aku tidak punya dendam padanya," dengan keras kepala Kurapika berkata lagi. Kuroro mendengus mencemooh sikapnya itu; ini pertama kalinya Kuroro melakukan itu pada Kurapika dan hal ini mengejutkan Kurapika. Kurapika sudah terbiasa dengan sikap santai Kuroro yang biasa terhadapnya, dia tidak pernah melihat pria itu begitu kasar kepadanya sebelum ini.

"Jadi kau akan menunggu hingga dia membunuh salah satu temanmu, kemudian kau baru akan membunuhnya?" Kuroro menantang Kurapika, kejengkelannya terlihat dengan jelas.

Kurapika menahan napasnya karena terkejut. Kuroro mendelik pada Kurapika dengan mata gelapnya yang dalam, sepasang mata yang dingin itu tidak menyetujui sikapnya. Kata-kata Kuroro masuk akal. Bagaimana jika Si Pria Raksasa itu bangun dan marah karena penghinaan yang telah didapatkannya dan memutuskan untuk membalas dendam. Bagaimana jika dia memutuskan untuk melacak teman-teman Kurapika dan membunuh mereka untuk menyiksanya? Tidak, Gon, Killua dan Leorio tidak mudah dikalahkan, tapi bagaimana jika mereka melakukan beberapa trik kotor terhadap mereka? Kurapika tahu Kuroro hanya bersikap bijaksanadan berhati-hati. Dia hanya tidak ingin membunuh…Dia takut untuk membunuh; untuk mengotori tangannya dengan darah musuhnya. Tapi dia sudah pernah membunuh. Uvogin dan Pakunoda, Kurapika telah membunuh mereka.

Kuroro menatap Kurapika sejenak, hingga akhirnya ia menghela napas dan membunuh Si Pria Raksasa sendirian; dengan menusukkening pria itu dengan pakunya. Kurapika menyadari bahwa Kuroro menggunakan tangan kirinya yang tidak terluka. Ia sedikit mengernyit.

"Lenganmu," Kurapika berkata lagi.

"Biar saja. Jarum-jarum itu diberi racun yang melumpuhkan, tapi akan baik-baik saja dalam waktu dua hingga tiga jam kemudian," ucap Kuroro, dengan sedikit rasa kesal terdengar di suaranya yang berat.

Dalam diam, Kuroro dan Kurapika melanjutkan perjalanan mereka. Selama setengah hari mereka berjalan berdampingan dalam suasana yang aneh. Sebenarnya, kebanyakan Kurapika yang merasa aneh. Ia merasa malu terhadap dirinya sendiri; terhadap keegoisannya, terhadap sikapnya yang kekanak-kanakan. Ia berpikir kembali ke saat Ujian Hunter berlangsung, ketika mereka berada di Menara Trick dan harus melalui pertandingan melawan para penjahat. Ia telah menolak untuk membunuh lawan yang akan menjadi anggota Ryodan, sebab ia tak ingin melukai orang yang tak berbahaya. Kurapika teringat akan kata-kata Leorio saat itu; yang telah mengatasi orang itu untuknya.

"Aku telah mengurus barang yang telah ditinggalkan karena harga dirimu."

Itu benar. Berpegangan pada harga dirinya sebagai seorang Kuruta, Kurapika menolak untuk membunuh orang itu dengan tanpa alasan. Kemudian Killua mengkonfrontasinya.

"Kau takut untuk membunuh, 'kan?"

Ya, Kurapika memang takut, tapi ia membuat alasan yang ia sebut 'keyakinan'. Tak peduli betapa inginnya dia menyangkal hal itu, kebenaran tetaplah kebenaran. Kurapika menjunjung tinggi harga diri Suku Kuruta, tapi di saat terakhir, dia hanyalah orang yang tak bertanggungjawab. Harga dirinya tidak mengijinkannya untuk membunuh pria itu, tapi ia mengharapkan orang lain untuk melakukan itu. Akhirnya, Leorio harus melakukan hal itu untuknya. Kurapika malu atas dirinya sendiri.

Petir bergulir dari kejauhan, dan langit mulai gelap. Kuroro mendongak dan membaui udara. Suara gemuruh petir lagi-lagi memenuhi langit.

"Hujan akan t-turun…," Kuroro bergumam pada Kurapika tanpa menoleh.

Kurapika mengernyit mendengar suaranya. Dia terdengar gagap tapi Kuroro Lucifer TIDAK PERNAH gagap. Dia begitu percaya diri seperti seekor ayam jantan, dan tidak akan pernah menampakkan apapun yang menunjukkan rasa kurang percaya diri. Kurapika menatap punggung Kuroro untuk beberapa detik, tapi menggelengkan kepalanya sekilas. Mungkin dia telah membayangkan beberapa hal, dan lagipula Kuroro tidak pernah gagap. Kurapika sedang tidak benar-benar fokus saat itu, jadi Kurapika segera mengenyahkan pikirannya.

.

.

Hujan deras membasahi mereka dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan mereka terus berjalan untuk mencari tempat berlindung. Bahkan kanopi hutan tidak cukup untuk melindungi mereka dari hujan deras. Setelah beberapa menit berada di tengahair hujan yang dingin, akhirnya Kurapika melihat sebuah gua. Mereka berlari menuju ke gua tersebut, tapi sepanjang jalan itu Kuroro terus tersandung beberapa kali dan hal itu tidak luput dari pengamatan Kurapika yang tajam. Meskipun ia tak mengatakan apapun mengenai hal itu.

Saat mereka berdua sampai di gua, mereka segera berdiam lebih jauh ke dalam kegelapan gua itu, menjauhi cipratan air hujan dari mulut gua. Kuroro duduk dengan luwesnya, walau Kurapika memperhatikan ada sedikit kekakuan dalam gerakan pria itu yang biasanya lembut. Sebelum Kurapika duduk, Kuroro berkata,

"Ganti bajumu."

Kurapika menatap pria itu dengan sedikit mengernyit, sementara Kuroro berbalik dengan punggungnya menghadap ke arah Kurapika. Dengan enggan Kurapika mengerti apa yang dikatakan Kuroro. Dia ingin Kurapika mengeringkan dirinya sendiri dan mengganti bajunya yang basah kuyup dengan baju yang kering. Keduanya tidak ingin terserang demam, sama seperti keduanya tidak ingin sampai harus saling merawat satu sama lain. Tanpa berkata apapun, Kurapika berbalik memunggungi Kuroro dan menggeledah ranselnya yang basah kuyup mencari baju yang cocok dan sehelai handuk. Untunglah ransel itu terbuat dari bahan yang tahan air, sehingga isinya pun bisa tetap kering. Kurapika berganti pakaian dengan cepat. Ia tidak lagi mengancam Kuroro untuk tidak mengintipnya, karena entah bagaimana Kurapika cukup mempercayai Kuroro bahwa dia tidak akan melakukan perbuatan yang begitu rendah seperti itu. Kurapika menyadari apa yang tengah ia pikirkan dan memarahi dirinya sendiri karenanya. Kenapa ia punya penilaian yang tinggi terhadap musuhnya? Tapi lagi-lagi, musuhnya bukanlah musuh biasa. Dia adalah, Kuroro Lucifer.

"Aku sudah selesai," Kurapika bergumam dan tetap memunggungi Kuroro. Ia mendengar suara gemerisik pakaian dilepas dan dipakai, dan suara handuk menggosok kulit.

Saat mereka berdua selesai berganti pakaian, mereka meletakkan pakaian basah di tanah untuk mengeringkannya. Kurapika berdiam pada jarak maksimum yang diijinkan belenggu gaib itu, akhirnya menyadari bahwa jaraknya telah melebar; Kurapika duduk sambil memeluk kedua lututnya dekat ke badannya untuk mempertahankan sedikit kehangatan yang diberikan gua kecil itu. Kuroro duduk dengan menekuk satu kakinya dan kakinya yang lain diselonjorkan di tanah. Ia menutup dan membuka kepalan tangannya, dan Kurapika menyadari bahwa kepalan tangan pria itu gemetar. Kuroro mengarahkan mata gelapnya yang dapat diinterpretasikan sebagai rasa jengkel. Kurapika menatapnya selama beberapa saat, berdebat dengan dirinya sendiri apakah dia harus bicara atau tidak.

"Ada apa denganmu?" akhirnya Kurapika berkata dengan penuh rasa ingin tahu. Kuroro menoleh untuk melihat Kurapika dan menaikkan sebelah alis matanya dengan bertanya-tanya.

"Aku tidak buta. Aku tahu sesuatu yang salah terjadi pada tubuhmu," ucap Kurapika. Kuroro menatapnya dalam-dalam untuk sejenak, seolah menilai apakah lebih baik ia memberitahukan tentang kesulitannya kepada Kurapika atau tidak.

"Tetanus," akhirnya Kuroro berkata.

"Apa?" Kurapika mengedipkan matanya.

"Kukira mungkin aku terkena tetanus," Kuroro berkata dengan nada suara yang monoton, seolah itu bukanlah masalah besar.

"Kau terkena tetanus?" Kurapika merubah posisinya untuk menghadap Kuroro. "Tapi bagaimana—jarum-jarum itu?"

"Mungkin," Kuroro mengangkat bahunya.

"Tapi bagaimana kau bisa yakin?"

"Aku masih belum yakin. Otot rahangku mulai lebih kaku sejak beberapa jam yang lalu. Jika ini memang tetanus, bakterinya mungkin telah merubah diri untuk membuatnya lebih kuat beberapa kali daripada bakteri biasa…kejang mulut biasanya muncul dalam tujuh hari, tapi dalam kasus ini, hanya perlu waktu setengah hari untuk mencapai tingkat kejang mulut," Kuroro menjelaskan. "Yang berarti…mungkin hanya perlu waktu beberapa hari sebelum menjadi fatal."

"Bagaimana mungkin kau bisa mengatakannya dengan tenang seolah KAUbukanlah orang yang tertular?" Kurapka berseru tanpa sadar. Kemudian dia teringat akan penggambaran Senritsu terhadap detak jantung Kuroro. Pria itu hidup berdampingan dengan kematian, menerimanya seperti seseorang menerima kehidupan. Ia tak takut mati, dan bahkan ia merengkuhnya. Kurapika menggigil tanpa sadar, dan berterimakasih pada kegelapan gua sehingga Kuroro tidak menyadari gerakan kecilnya.

"Apa bedanya? Aku tidak akan mati karena ini," Kuroro menghela napas. "Lagipula, mungkin saja ini bukan tetanus. Masih harus dipastikan lebih lanjut."

"Ya, benar. Tentu saja kau tidak akan mati," Kurapika berkata, nada suaranya terdengar sangat sinis. "Jika kau benar-benar mati, bayangkan bagaimana reaksi dunia nanti. Kuroro Lucifer mati karena tetanus."

Kuroro menaikkan sebelah alis matanya. "Mood-mu benar-benar buruk hari ini."

"Dan menurutmu apa alasannya?" Kurapika membentaknya. "Oh, untuk orang yang terkena tetanus kau bicara terlalu banyak!"

"Karena mereka menyebutmu kekasihku?"

"Ya, dan karena KAU menyebutku kekasihmu." Kurapika membelalakkan matanya pada Kuroro; mata merahnya bercahaya mengerikan dalam kegelapan gua. Sepasang mata itu terlihat seperti sepasang permata ruby pucat yang mengapung di udara. "Seperti hal itu akan terjadi saja! Tidak dalam jutaan tahun. Langkahi dulu mayatku."

"Phinks benar. Kau benar-benar tidak punya selera humor," Kuroro menghela napas.

"Maaf? Kenapa aku harus bersikap ramah padamu dan memiliki selera humor saat kau berada di sekitarku? Di samping itu, aku tidak punya waktu untuk membangun semacam selera humor menakutkan saat aku seharusnya mengumpulkan mata orang-orang sukuku dan membunuh setiap orang dari kalian!"

Suara Kurapika bergema di dalam gua. Kuroro menatapnya dengan tatapan lurus tapi tidak berkata apapun. Kurapika menggertakkan giginya, menutup matanya dan memalingkan wajahnya. Ia menarik kedua lututnya lebih dekat ke tubuhnya dan memeluknya. Kurapika menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya, mencoba menenangkan kemarahannya. Oh Tuhan, ia merasa seperti akan menangis karena kemarahan yang dirasakannya tapi ia tak akan pernah melakukan hal itu.

Kuroro memandangnya lekat-lekat. Si Gadis Kuruta menjadi lebih terbuka akan perasaannya meskipun sebagian besar dari keterbukaannya itu adalah penghinaan dan kebencian terhadapnya dan terhadap kelompoknya. Tetap saja, Kuroro tidak dapat menahan diri untuk tidak menyadari betapa hancurnya Kurapika. Di sana, berada dalam jarak kurang dari satu meter dari tempatnya berada, gadis itu tengah memeluk tubuhnya sendiri, mencoba menahan emosinya, melawan dunia sendirian. Jika Kuroro harus membandingkannya dengan, katakanlah, Machi; dasarnya tidak sama. Machi dilahirkan di Ryuusei-gai, terbuka terhadap kekerasan dan sejenisnya sejak ia bisa bicara dan berjalan. Kurapika, di lain pihak, dunianya yang damai direnggut dengan cara yang paling kejam; dan Kuroro adalah otak di balik itu. Kejadian itu membuat Kurapika trauma hingga mencapai pada suatu titik di mana ia dapat membuang apapun dan berjalan menyusuri pembalasan dendamnya.

"Kurapika," Kuroro mendengar dirinya sendiri bergumam. Gadis itu membeku saat Kuroro memanggilnya dengan namanya. "Aku sudah memberimu luka yang besar," Kuroro berkata dengan suara yang pelan, dan yang mengejutkan, suara itu terdengar lembut.

Kurapika mendongak dan menatapnya dengan pandangan seolah tak percaya. Dalam rentang waktu sedetik, Kuroro pikir ia melihat rasa terkejut di mata gadis itu; tapi ia benar-benar salah. Matanya berubah warna menjadi merah tua dalam waktu sepersekian detik, kebencian meluap dari sepasang permata indah yang paling bercahaya yang pernah Kuroro lihat dalam hidupnya. Dalam sekejap mata, Kurapika berdiri dan menendang Kuroro tepat di wajahnya dengan keras. Kuroro tersandung dan jatuh terbaring. Kepalanya terasa pusing dan matanya tidak bisa fokus, tapi Kurapika menarik kerah mantelnya dan meninjunya dengan kepalan tangannya. Kuroro dapat mengatakan bahwa Kurapika telah mengerahkan seluruh kekuatan yang ia miliki dalam satu pukulan, dan rasanya benar-benar sakit.

"Luka yang besar? JANGAN MENGEJEKKU!" Kurapika berteriak. "Apa yang telah kau lakukan bahkan sama sekali tidak mendekati luka! Kau MENGHANCURKAN duniaku! Kau membunuh semua keluargaku dan mencongkel mata mereka untuk mengaguminya pada saat-saat tertentudan kemudian menjualnya seolah mata itu tidak berarti apa-apa selain barang yang tidak berguna!"

Kurapika mengguncang tubuh Kuroro dengan keras, tapi Kuroro tidak berkata apa-apa. Ia menatap mata yang membara itu, menerima semua kebencian dan hinaanKurapika terhadapnya. Kuroro tak menyangkal apapun.

"Jika kau mencoba untuk meminta maaf, tidak usah! Aku tidak akan pernah memaafkanmu, tidak selama hidupku! Aku akan dikutuk jika aku memaafkanmu! Jiwaku tak akan pernah beristirahat dengan tenang sebelum aku membalaskan dendam seluruh sukuku!" Kurapika terus berteriak dan berseru padanya.

Pada setiap kata yang dia teriakkan, iris matanya diwarnai oleh warna merah yang lebih tua seolah mata itu berdarah dan terbakar pada waktu yang bersamaan. Kurapika berhenti berteriak di satu titik dan hanya suara suara napasnya yang terengah-engah yang bisa terdengar. Kuroro tetap tidak mengatakan satu kata pun, walaupun bibirnya berdarah dan wajahnya terluka akibat tindakan kekerasan yang dilakukannya. Kurapika menggertakkan giginya dalam kekesalan dan kejengkelanyang mendalam saat melihat musuhnya tidak bereaksi apapun. Dia sangat marah dan tersakiti, sehingga ia tak mampu menahan air matanya lagi.

"Sialan kau, kau Bajingan…," isak Kurapika. "Kata-katamu tidak berarti apa-apa sekarang…Itu tidak akan pernah…Mereka yang sudah mati tidak akan pernah kembali lagi…Keluargaku akan tetap mati…Sialan kau…"

Kepalan tangannya yang mencengkeram baju Kuroro kini gemetar. Kurapika menundukkankepalanya untuk menghindari tatapan Kuroro sambil terus mencucurkan air matanya. Kuroro tetap diam dan hanya menatapnya lekat-lekat. Bahu kecil Kurapika terlihat gemetar, dan suaranya menjadi begitu lemah.

"Kau tidak tahu apa yang aku rasakan…," Kurapika bergumam dalam isakannya, kepalan tangannya masih mencengkeram baju Kuroro.

Suara derasnya hujan memenuhi gua, meredamisakannya. Kuroro membayangkan bagaimana jika ia ada di pihak Kurapika. Bagaimana jika seluruh Ryuuseigai dimusnahkan, dan dia menjadi satu-satunya orang yang bertahan hidup? Bagaimana jika seluruh anggota Gen'ei Ryodan dibantai, dan hanya dia yang tersisa? Apa yang akan ia rasakan? Bagaimana jika dia tahu siapa pembunuhnya, dan tahu bahwa mereka ada di luar sana, tetap bebas dan tidak dihukum? Akankah ia mencari mereka untuk membalas dendam?

Ya.

Seperti apa yang dia lakukan untuk Uvogin di York Shin waktu itu.

Kuroro menegakkan badannya dalam posisi duduk dan melepaskan tangan Kurapika dari bajunya. Tangan Kurapika masih gemetar dalam genggaman Kuroro. Dia tidak tahu apa yang menguasai dirinya saat itu, tapi Kuroro menarik Kurapika untuk mendekat dan meletakkan kepala gadis itu di dadanya, membiarkannya menangis di sana. Kurapika terlalu bingungdan terbebani oleh emosinya, sehingga dia tak peduli. Ia terus menangis, mengabaikan kenyataan bahwa musuhnyalah yang tengah memeluknya saat ini.

"Aniki…," Kuroro mendengarnya bergumam beberapa kali dalam isakannya. Ia merasakan Kurapika bersandar padanya dan melanjutkan kedukaannya. Mungkin ia telah salah lagi mengira Kuroro sebagai kakaknya, tapi itu tak apa. Kuroro akan menoleransinya lagi.

Kuroro menatap ke dalam kegelapan gua. Ia sendiri tak mengerti apa yang tengah ia lakukan saat ini. Satu yang diketahui Kuroro; entah bagaimana dia bisa memahami perasaan kehilangan gadis itu saat ia berduka karena pembantaian sukunya. Ia menangis saat membaca kematian Uvogin dalam ramalan Neon Nostrad. Ia mengadakan requiem khusus untuk kematian Uvogin dalam cara yang sesuai dengan seleranya. Itu adalah pembalasan dendamnya terhadap kematian Uvogin. Mungkin ia seorang Danchou Gen'ei Ryodan yang dingin dan perhitungan, tapi ia seorang manusia yang bisa merasakan.

Gadis itu ingin membalas dendam atas kematian orang-orang sesukunya. Kuroro lebih tahu dari siapapun juga, bahwa itu adalah hak Kurapika, tak peduli betapa egoisnya hal itu terlihat. Dia pun egois. Bedanya adalah, Kuroro tidak membenci Kurapika, tapi Kurapika membenci Kuroro dengan sepenuh jiwa. Kebenciannya begitu besar sehingga tak bisa dipadamkan; dan ironisnya emosi negatif yang kuat itulah yang mengikat mereka satu sama lain, tidak hanya secara fisik tapi juga mengikat hidup mereka.

.

.

Keduanya tetap dalam posisi itu untuk beberapa saat, hingga akhirnya Kurapika tenang. Kurapika menegakkan tubuhnya dan menghindari tatapan Kuroro. Kurapika menjauh darinya dan kembali ke tempatnya berada sebelumnya, memeluk kedua lututnya lagi. Kurapika memalingkan wajah dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Kuroro mengamatinya setiap saat, tapi tidak mengatakan dan melakukan apa-apa.

Kuroro bersandar ke dinding batu gua yang dingin, duduk dengan satu kaki tertekuk ke atas dan menoleh untuk melihat tirai hujan di luar gua. Kuroro mengarahkan matanya dan tiba-tiba sebuah kenangan lama muncul di benaknya. Itu adalah kenangan yang ia harap dapat ia lupakan sejak lama, tapi tidak bisa. Kenangan itu selalu muncul kembali saat Kuroro hampir melupakannya, kehadiran kenangan itu tetap melekat dalam benaknya.

"Waktu itu pun sedang hujan…," Kuroro bergumam, "…saat Ishtar menemukanku pertama kali." Kurapika bergerak, tapi tetap tidak menoleh pada Kuroro.

"Aku masih berumur tiga tahun…dia menemukanku di antara mayat kedua orangtuaku. Kedua orangtuaku saling membunuh, ayahku berusaha membunuhku, ibuku berusaha melindungiku. " Kuroro berhenti sesaat, sebelum melanjutkan dengan suara yang sama, "Basille yang menemukanku lebih dulu, dia tertarik dengan bau darah. Tak lama kemudian Ishtar datang, dan itulah bagaimana dia mengadopsiku."

Kurapika menatap ke dalam kegelapan, kata-kata Kuroro tenggelam dalam benaknya. "Kau bilang anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua mereka punya kesempatan yang kecil untuk bertahan dalam kedewasaan mereka."

"Dia pun melatihku; baik secara fisik maupun Nen. Aku tahu dia bukan manusia sejak hari pertama saat ia mulai melatihku. Kekuatan dan kemampuannya jauh di atas manusia manapun. Kau tidak akan mengerti sebelum kau menghadapinya sendiri."

Kurapika mendengarkannya dengan penuh perhatian. Kuroro tidak menjelaskan bagaimana Ishtar melatihnya, tapi Kurapika membayangkan bahwa Ishtar telah melatih Kuroro dengan keras dan disiplin yang ketat, meskipun dia baik dan penampilannya pun lembut. Entah bagaimana, tidak sulit membayangkan Ishtar sebagai seorang ksatria.

"Kenapa kau membencinya?" Kurapika bertanya.

Kuroro menoleh dan melihat Kurapika menatapnya dengan mata biru samuderanya. Ada rasa ingin tahu terlihat di sana, dan sekilas kemarahan. Kuroro tidak tahu apa yang membuatnya marah, tapi pertanyaan gadis itu terlalu pribadi. Ia tidak akan menjawab pertanyaannya, belum saatnya. Kuroro hanya memberinya sebuah senyuman yang mempesona, dan tidak mengatakan apapun lebih jauh. Kuroro memalingkan wajahnya dan menutup matanya, mengakhiri kisahnya yang pendek. Kurapika mengernyit atas sikap pria itu, tapi tidak memaksanya lebih jauh. Kurapika tahu, entah bagaimana, jika Kuroro ingin bicara, dia akan bicara. Kalau begitu, dia hanya akan menunggu.

.

.

Shalnark melihat keluar jendela balon udara. Ia menempelkan dagunya pada telapak tangannya dan menghela napas. Danchou-nya tiba-tiba menelepon kemarin, memberitahunya untuk mendapatkan obat tertentu untuknya dan membawakan obat itu padanya segera. Ia menyadari keanehan dan kekakuan di suara Kuroro, dan dia bicara padanya sangat singkat; membuat Shalnark menyimpulkan bahwa penyakit itu mulai menghabisiKuroro. Dalam waktu yang tak lama lagi, Kuroro tidak akan bisa bicara sama sekali. Ia harus sampai ke tempatnya secepat mungkin. Tapi ada satu masalah.

"Yo, Shal! Apa yang kau lihat?" Phinks memukul bahunya dengan keras.

Shalnark hanya menoleh dan sedikit mendelik kepadanya, atau lebih jelasnya cemberut kepada pria itu, sambil menggosok bahunya yang sakit di mana Phinks memukulnya barusan. Kuroro memberitahunya untuk datang sendirian, karena dia tidak ingin mereka menarik perhatian. Bagaimanapun, mereka memaksa untuk ikut karena ingin bertemu dengan Danchou mereka.

"Hei, kenapa kau ngambek? Danchou bukannya melarang kami datang. Dia hanya bilang : 'jika itu memungkinkan', benar tidak?" Phinks berkata membela diri.

"Dan mungkin juga itu berarti kalian tidak boleh datang bersamaku," Shalnark berkata, ia masih cemberut.

"Hei, ayolah. Lagipula, tidak datang semua kok; hanya aku, kau, Nobunaga, Machi dan Feitan."

'Ya, semua pembuat masalah….' Shalnark melawan keinginannya untuk mencakar pipinya sendiri karena putus asa.

"Kami ingin memeriksa Danchou, apa itu salah?" Nobunaga ikut bergabung dengan mereka. Sebenarnya, dialah yang memaksa yang lainnya untuk ikut. "Kita tidak tahu apa yang bisa dilakukan Si Pengguna Rantai itu saat Danchou sakit seperti sekarang ini." Ia mengerutkan hidungnya dengan jijik.

Shalnark menghela napas dan tidak mengatakan apapun lagi. Kalaupun iya, Shalnark akan mengatakan bahwa Si Pengguna Rantai itu tidak akan melakukan apapun kepada Danchou mereka. Namun, hal itu membingungkannya, bagaimana Kuroro Lucifer bisa dikalahkanoleh penyakit semacam itu. Kemungkinan seseorang tertular tetanus cukup kecil, kecuali jika bakterinya telah berubah. Bahkan jika itu masalahnya, merupakan kesempatan yang sangat kecil dapat melukai Kuroro dengan senjata beracun apapun. Danchou mereka adalah orang yang sangat berhati-hati, dan tidak akan mengambil resiko terpotong hanya untuk pamer kekuatan dan daya tahan tubuhnya. Shalnark sempat mengira bahwa Kuroro mungkin terluka saat berusaha melindungi Si Pemuda Kuruta, tapi ia segera menghilangkan prasangka itu. Danchou mereka bukanlah tipe orang yang akan melindungi orang lain, apalagi musuh. Di samping itu, Si Pemuda Kuruta juga bukan orang yang perlu perlindungan.

Beberapa jam kemudian, akhirnya mereka tiba di bandara. Saat mereka sudah keluar dari balon udara, Shalnark membuka ponselnya dan memijit nomor Kuroro. Memerlukan sedikit waktu sebelum telepon itu diangkat, dan itu merupakan hal yang tidak biasa. Biasanya Kuroro mengangkat telepon dari mereka dengan cepat. Lebih lagi, saat telepon itu dijawab, tidak ada sapaan atau apapun. Biasanya Kuroro akan memanggil dengan nama mereka, tapi kali ini tidak ada apapun.

"Danchou?" Shalnark bertanya dengan ragu.

[…Dia sedang tidak bisa bicara sekarang.] Sebuah suara feminin menjawab telepon itu, dan bukannya suara bass Kuroro seperti biasanya. Shalnark terdiam dalam waktu sepersekian detik, tapi sebelum ia dapat mengatakan apapun, suara itu melanjutkan kembali ucapannya. [Kami ada di dalam gua, di suatu tempat di hutan di sebelah timur bandara. Kau ada di Bandara Lucca 'kan?]

"Ya. Aku akan segera ke sana," jawab Shalnark, berusaha agar suaranya terdengar senormal mungkin.

[Tunggu.] Suara itu memanggilnya lagi sebelum Shalnark menutup teleponnya. Suara tersebut bimbang sesaat. [Sebelum kau pergi, bawalah air yang banyak dan sejumlah makanan. Jika memungkinkan, bawalah makanan yang mudah dicerna.]

Shalnark agak terkejut dengan permintaannya itu, namun meskipun begitu ia pun mengangguk. "Baiklah, aku akan mengingatnya."

[Bagus.]

"Tunggu!" Tapi Shalnark terlambat, teleponnya sudah ditutup. Shalnark menghela napas dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.

"Apa kata Danchou?" Machi bertanya sambil berdiri lebih dekat kepadanya. Sementara para anggota pria di Ryodan yang ada di sana, terutama Nobunaga, Phinks dan Feitan sedang berdebat dan bertaruh ke arah mana mereka akan pergi.

"…Machi, apa kau punya intuisi sejauh ini?" Tanya Shalnark polos. Machi mengarahkan pandangan matanya.

"Beritahu dulu apa yang terjadi."

"Yah…seseorang menjawab teleponku, tapi dia bukan Danchou."

"Si Pengguna Rantai?"

Shalnark memberi wanita itu sebuah senyuman tipis, dan Machi menaikkan sebelah alis matanya. "Si Pengguna Rantai seorang gadis?"

"Aku belum tahu, tapi yang tadi menjawab teleponku sudah pasti seorang gadis. Dan karena Danchou bukan tipe orang yang akan bepergian dengan seorang gadis, kita dapat menyimpulkan dengan aman bahwa Si Pengguna Rantai adalah seorang gadis. Lagipula mereka 'kan terjebak bersama…"

"Jadi bagaimana sekarang?"

"Kurasa pertama kita perlu membeli makanan dan air untuk Danchou," Shalnark mengangkat bahunya. "Atau gadis itu akan membunuhku…," ia bergumam pada dirinya sendiri dan menggigil membayangkan Kurapika menyiksanya dengan Chain Jail.

Machi menaikkan sebelah alis matanya lagi, tapi sebelum ia sempat bertanya apapun, Shalnark diserang oleh Phinks dan Nobunaga. Mereka merecokinya dengan pertanyaan tentang ke arah mana mereka akan pergi, dan mereka mulai mendebat pemuda itu. Machi menghela napas dan berjalan lebih dulu, mengabaikan mereka semua. Jika Shalnark menanyakan tentang intuisi lagi padanya, ia sudah punya satu sekarang.

Dan itu bukanlah sesuatu yang buruk. Tidak sama sekali.

.

.

Kurapika meletakkan ponsel di atas tanah yang dingin dan menghela napas. Perlu banyak upaya baginya untuk berbicara dengan anggota Gen'ei Ryodan dengan cara yang sopan. Untunglah orang yang menelepon tadi adalah anggota Ryodan yang terlihat paling normal. Kurapika bersandar ke dinding gua yang kasar dan menunduk melihat pria yang sedang tertidur dengan kepalanya berada di atas pangkuan Kurapika. Kurapika mengingat kejadian kemarin, saat tiba-tiba Kuroro terkena kejang.

Flashback

Saat Kurapika bangun hari itu, akhirnya hujan berhenti. Ia melihat ke arah Kuroro, yang masih tertidur dengan kepala menunduk dan duduk bersila dengan kedua lengannya terlipat di dada. Kurapika melirik melihat wajahnya, dan menyadari warna pucat yang tidak biasa di kulitnya yang berwarna gading. Tak ingin membangunkan pria itu, Kurapika pun tidur lagi, tapi terbangun tak lama kemudian setelah ada gerakan di dekatnya. Saat Kurapika membuka matanya, ia melihat Kuroro tergeletak di lantai, punggungnya melengkung ke belakang dan seluruh tubuhnya membentuk sebuah busur yang kaku. Gua itu gelap, dan Kurapika tidak bisa melihat wajah Kuroro dari tempatnya berada. Ia memperhatikan lengan Kuroro bergetar dalam gerakan yang menyentak. Kurapika tahu bahwa penyakit itu sudah hampir mencapai puncaknya. Segera setelah itu, Kuroro ambruk dan terbaring tak bergerak.

Terlalu terkejut untuk mengingat bahwa Kuroro Lucifer adalah musuh bebuyutannya, instingnya bekerja dan Kurapika bergegas ke samping pria itu. Kurapika memeriksa denyut nadinya di luar kebiasaannya, yang sebenarnya hal ini tidak perlu. Dia masih hidup, yang berarti juga bahwa Kuroro masih hidup. Saat Kurapika menyentuh kulit Kuroro, ia menyadari tubuhnya agak panas. Kuroro terserang demam sekarang. Kedua alis matanya mengernyit, mungkin ia merasa sakit.

"Kuroro," Kurapika memanggilnya, mencoba untuk membangunkannya. Nama itu terasa aneh di mulutnya, tapi Kurapika mengabaikan hal itu. Kuroro sedikit bergerak, dan berusaha membuka matanya. Ia mengerang lemah dan memiringkan badannya. Kuroro menggunakan sikunya untuk menyokong tubuhnya dan menggunakan tangan yang satunya lagi untuk memijit pelipisnya yang berdenyut-denyut. Kurapika mengamatinya lekat-lekat, untuk melihat ada kerusakan atau gejala apapun yang muncul.

"Kau terkena kejang,"Kurapika sengaja memberitahu Kuroro.

"Aku tahu." Kuroro menengadah dan tatapannya bertemu dengan tatapan Kurapika. Kemudian ia menggumamkan sesuatu, mungkin ia menggerutu, da mencoba untuk duduk. Kurapika tidak melakukan apapun untuk menolongnya, tapi ia malah mengepal tangannya di pangkuannya. Kurapika mengamati setiap gerakan Kuroro. Kuroro mengeluarkan ponselnya dan memijit sebuah nomor. Saat Shalnark akhirnya menjawab telepon itu, dengan singkat Kuroro memberitahunya untuk mendapatkan obat tetanus dan segera membawa obat itu kepadanya.

Tanpa memberitahu Shalnark di mana posisinya, Kuroro menutup teleponnya dan lengan kirinya jatuh terkulai ke samping tubuhnya. Kuroro menghela napas pelan dan bersandar ke dinding gua yang dingin. Kurapika masih menatapnya, seolah mengantisipasi gerakan Kuroro selanjutnya.

"Kau juga demam," akhirnya Kurapika bicara lagi, suaranya pelan. Kuroro menoleh padanya tapi tak mengatakan apapun.

Kurapika tahu apa yang tengah dipikirkan pria itu. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk memadamkan demam itu. Mereka tidak punya air dingin yang bersih untuk memberi Kuroro kompres dingin. Mereka tidak punya obat demam. Apa yang bisa mereka lakukan adalah menunggu Shalnark dan obat yang dibawanya. Tetap saja, hal ini membuatnya merasa tidak nyaman. Ada orang yang sedang sakit, duduk diam tanpa melakukan apa-apa hampir membuatnya tak tahan! Tapi orang sakit itu adalah Kuroro Lucifer!

Tiba-tiba, Kurapika merasa Kuroro bergeser ke sampingnya. Sebelum Kurapika dapat melakukan sesuatu, entah bagaimana, Kuroro terjatuh dan kepalanya mendarat di pangkuan Kurapika. Kurapika terdiamsejenak, dan hampir memukul Kuroro saat menyadari bahwa pria itu sudah tak sadarkan diri. Sepertinya tubuh Kuroro mulai menyerah terhadap penyakit itu. Melihat bahwa tak ada yang bisa Kurapika lakukan, Kurapika hanya membiarkannya untuk merasa nyaman kali ini.

End of Flashback

Itulah awalnya bagaimana mereka bisa berada dalam posisi seperti sekarang ini. Kurapika dapat merasakan panas keluar dari tubuh Kuroro yang demam bahkan setelah beberapa jam berlalu. Kurapika merasa bahwa demam Kuroro memburuk. Tanpa sadar Kurapika memeriksa suhu badan Kuroro dengan tangannya yang dingin, dan merasakan panas membakar tangannya itu. Kurapika mengernyit dengan gelisah. Kuroro tertidur seolah tidak terganggu oleh demam itu, namun wajahnya terlihat tak bernyawa dan pucat, seolah ia sudah mati, walaupun Kurapika tahu benar bahwa Kuroro masih hidup. Kurapika menyingkirkan beberapa helai rambut hitam dari wajah pucat pria itu dan tatapannya jatuh pada tanda salib di keningnya. Pikirannya kembali pada percakapan mereka beberapa jam yang lalu.

Flashback

Kurapika melihat perbannya dan merasa terdorong untuk melepasnya. Perban itu akan membuat demamnya semakin buruk. Kurapika mencoba untuk melakukan hal itu selembut mungkin, tapi sentuhannya membuat Kuroro terbangun. Kuroro menatapnya letih, tapi tanpa kecurigaan. Tanpa menjelaskan apapun, Kurapika melepaskan perban dari kepala Kuroro dan mengelap keringat di keningnya. Kuroro sedikit kaku karena gerakannya, tapi itu hanya membuat Kurapika tersenyum geli. Dia tidak tahu kenapa dia tersenyum, tapi mungkin ia hanya senang melihat Kuroro kaku karena sentuhannya, di mana biasanya ia yang kaku karena sentuhan Kuroro.

Sekarang saat Kurapika memandang wajahnya lebih dekat, Kurapika menyadari bahwa Kuroro terlihat lebih muda dari usia sebenarnya, terutama dengan rambutnya yang dibiarkan jatuh. Kurapika teringat saat Neon berceloteh tentang seorang pria berumur 26 tahun yang telah menolongnya menyelinap ke Gedung Cemetery untuk menghadiri pelelangan, dan Kurapika tahu Neon berbicara tentang Kuroro. Kurapika memperhatikan rambut Kuroro menjadi lembab karena keringat dan tangannya pun bergerak sendiri. Kurapika membelai rambut hitam itu dan menyisirnya; hanya beberapa detik kemudian Kurapika menyadari tindakan bodoh yang sedang dia lakukan sekarang. Matanya membelalak tak percaya dan memarahi dirinya sendiri karena melakukan hal itu. kenapa dia melakukannya?

Sebuah tangan yang dingin menarik pergelangan tangannya. Kurapika memperhatikan tatapan Kuroro terhadapnya, ada sesuatu di matanya tapi Kurapika tidak bisa membacanya. Kuroro membuka telapak tangan Kurapika dan menuliskan sesuatu dengan jarinya di telapak tangannya itu. Dia sudah tidak bisa bicara lagi, tidak dengan rahang yang terkunci. Kurapika mengernyit dan berusaha memahami apa yang ditulisnya.

"Apa…yang…sedang…kau…lakukan? Apa yang sedang kulakukan, kau menanyakan itu padaku?" Kurapika bertanya pada Kuroro, dan pria itu melepaskan tangannya. Kedua alis mata Kurapika sedikit mengernyit dan ia menatap ke dalam kegelapan gua. Kenapa? Tubuhnya ingat, tapi benaknya tidak ingat. Kenapa ia melakukannya?

"Aniki…," akhirnya Kurapika bergumam, berhenti sesaat dan menelan ludah. Kuroro masih menatap wajah Kurapika. "Biasa melakukan hal itu kapanpun aku demam."

Kuroro menahan tatapan gelapnya di wajah Kurapika, membaca pikiran gadis itu dari raut wajahnya. Mata biru Kurapika bersinar dengan nostalgia yang pahit. Kurapika sedikit memiringkan kepalanya, seolah mencoba mengingat sesuatu. "…Dia bilang itu akan membuatku merasa lebih baik."

End of Flashback

Dan percakapan itu pun berakhir seperti ini. Sebenarnya, Kuroro memang merasa lebih baik saat tangan dingin gadis itu berada di keningnya yang panas. Lebih jauh lagi, entah bagaimana…itu terasa…menenangkan? Dalam tidurnya yang setengah sadar, Kuroro teringat—tubuhnya teringat—belaian lembut orang lain; wanita lain, tangannya lebih besar dari tangan Kurapika, dan lebih dewasa. Tubuhnya teringat tidur di pangkuan seseorang, tubuhnya teringat rambutnya dibelai dengan lembut, tubuhnya teringat suara lembut orang lain menenangkannya bahwa ia akan baik-baik saja besok. Sekarang Kuroro tidak bisa membedakan antara kenangan dan kenyataan. Apakah gadis itu benar-benar sedang berbicara padanya, atau ia hanya sedang mendengarkan suara seseorang dari masa lalunya? Bagaimanapun, itu bukan masalah baginya. Ia merasa cukup senang dalam posisinya sekarang, dan meskipun sakit, Kuroro merasa nyaman dalam tidurnya.

TBC

A/N :

Review please…^^