DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.

GENRE :

Adventure & Romance

WARNING :

FemKura. An Indonesian version for 1001 Nights by Runandra, one of my favorite author!^^

.

A/N :

Natsu Hiru Chan, aku berhasil menyelesaikan update ini dua hari lebih cepat dari yang kamu minta, haha XD

Kaoru Hiiyama, I hope this will be better than before ^^'

.

Happy reading^^

.

.

CHAPTER 11 : YOU COULD HAVE TOLD US EARLIER

Mereka hampir keluar dari gurun saat tiba-tiba cincin itu bersinar merah, dan lagi-lagi Kurapika-lah yang menyadari perubahan itu dikarenakan oleh kebiasaan barunya. Tak seorangpun dari mereka yang tahu makhluk gaib seperti apa yang ada di dekat situ, tapi dari pengamatan Kuroro, karena sinar merah cincin itu menjadi lebih intens seiring detik waktu yang berlalu, ia menyimpulkan bahwa makhluk itu sedang bergerak mendekati mereka dengan cepat.

Benar saja, dalam beberapa detik kemudian, Kuroro dan Kurapika disambut oleh makhluk dengan bagian bawah tubuhnya berupa tubuh seekor elang, dan tubuh bagian atasnya berwujudkan seorang wanita, dengan sepasang sayap elang yang kokoh sebagai lengannya. Wajahnya terlihat garang, matanya menatap Kuroro dan Kurapika dalam-dalam...mengamati wajah mereka seolah berusaha mengingatnya. Ia melipat sayapnya yang besar di samping tubuhnya dan kembali menatap dengan mata hijaunya yang bulat. Kurapika mengernyit melihat sikap makhluk itu. Dia tahu itu Harpy, tapi kabarnya Harpy adalah makhluk yang agresif, dan akan menyerang siapapun yang dilihatnya. Harpy yang satu ini terlihat cukup jinak dan sopan.

"Nak, Lady punya pesan untukmu," tiba-tiba ia berbicara pada Kuroro, yang sedikit mengernyit mendengar nama Ishtar disebut. Tak ada jawaban apapun dari pria itu, Harpy melanjutkan, "Katanya, kalian temuilah Chiron di tempat tinggalnya, dan aku akan membawa kalian ke sana."

"Chiron?" Kurapika ikut bicara. Dia pernah mendengar nama itu. "Chiron, maksudnya Chiron Si Centaur?"

"Kau berwawasan luas, Gadis Kecil," Harpy menyeringai padanya, memamerkan deretan gigi putihnya yang seperti gigi hiu pada Kurapika.

"Kami tak membutuhkan bantuanmu. Kami akan menemukannya sendiri," Kuroro berkata dengan tajam dan ia sudah setengah berbalik saat Harpy itu mengernyit padanya dengan tidak senang. Ia menjulurkan salah satu sayapnya dan tanpa memberikan peringatan apapun, ia memukul kepala Kuroro dengan keras. Kuroro tersandung dan hampir jatuh jika ia tidak segera menstabilkan keseimbangannya dalam kecepatan yang berbeda dengan kecepatan manusia biasa. Kurapika menganga melihatnya.

"Jangan sombong, Nak!" kata Harpy itu geram, tersinggung dengan ucapan Kuroro yang kurang ajar. "Seorang pemuda sepertimu akan membutuhkan waktu puluhan tahun lamanya untuk menemukan sendiri tempat Chiron itu. Sadarlah akan kemampuanmu. Dan kau suka atau tidak, aku akan mematuhi perintah yang diberikan padaku sepenuhnya."

Kemudian Harpy itu terbang. Ia terbang beberapa meter dari atas tanah, sebelum menukik ke arah Kuroro dan Kurapika, menyambar pinggang mereka dengan cakarnya yang besar. Kurapika menjerit terkejut saat mendapati dirinya tiba-tiba melayang, hanya tergantung pada genggaman cakar Harpy di pinggangnya yang kurus. Saat Kurapika melihat ke sekitarnya, yang ia lihat adalah pemandangan yang kabur karena Harpy terbang membelah udara dengan kecepatan yang tidak sama seperti alat transportasi udara. Dalam waktu beberapa menit yang terasa sangat sebentar seperti hitungan detik, Harpy itu memekik.

"Kita lihat bagaimana kau mengatasinya dari sini. Temukan dia sendiri, seperti yang kau bilang tadi," Harpy itu menantang mereka; atau lebih khususnya lagi, ia menantang Kuroro.

Tanpa mengurangi kecepatannya, Harpy melepaskan pegangannya di pinggang mereka, dan segera saja, Kurapika mendapati dirinya mengalami terjun bebas untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia jatuh laksana peluru dari ketinggian ratusan meter di atas tanah; jika Kurapika jatuh, dia akan hancur seperti tomat. Kurapika tidak memiliki kemampuan yang membuatnya bsa bertahan hidup dalam situasi seperti itu, tidak seperti Presiden Netero.

"Kuroro, kau bodohhhh...!" teriak Kurapika saat mereka berdua takluk pada hukum gravitasi dan terus jatuh dari langit ke bumi.

SPLASH!

Bingung dan terkejut, Kurapika gagal menyadari bahwa mereka belum hancur seperti tomat seperti yang ia kira. Malah, mereka berada di dalam air. Gendang telinganya berdenyut menyakitkan karena perubahan tekanan yang drastis, sementara kepalanya berdenyut karena berbenturan keras dengan permukaan air. Ia menghentakkan tangannya dengan panik, mencoba mengarahkan diri di dalam air dan untuk mencoba mencari tumpuan. Air yang dingin menyengat matanya, gelembung air keluar dari mulutnya saat ia ternganga seperti orang yang tenggelam. Tiba-tiba, dalam kepanikannya, Kurapika merasa sebuah lengan memeluk pinggangnya dan siapapun itu, pemilik lengan tersebut menyeretnya menuju ke permukaan.

Segera setelah kepala Kurapika keluar dari air, ia menarik napas dan mencoba berenang ke tepi. Kurapika mengeluarkan tubuhnya dari air dan terbatuk-batuk dengan keras saat ia mencoba untuk mengeluarkan sisa air di mulutnya. Kuroro duduk di sampingnya dan keadaannya sama sekali tidak seperti Kurapika. Dia tenang, walaupun dia pun basah kuyup. Kurapika merengut padanya.

"Kau tahu kita akan mendarat ke dalam air," gadis itu menyalahkan Kuroro.

"Kukira kau melihat danau di bawah sini saat kita jatuh." Kuroro mengangkat bahu dan menyisir rambutnya yang basah dengan jarinya. "Dan ada apa dengan kata 'bodoh' yang kaukatakan saat kita jatuh tadi?"

Kurapika melotot padanya tanpa mata merahnya. "Jika kau tidak sekasar itu pada Harpy, kita tidak akan jatuh!"

"Mungkin," komentar Kuroro dengan kurang sopan, yang dilakukan pria itu untuk membuat Kurapika jengkel.

"Dan terima kasih untuk itu, ransel kita basah kuyup! Baju yang ada di dalamnya juga!" Kurapika hampir berteriak saat melihat ranselnya yang lepek dengan putus asa.

"Kita dapat mengeringkannya nanti," jawab Kuroro santai.

Si Gadis Kuruta memalingkan wajahnya, bermaksud untuk menenangkan diri, tapi saat ia melihat ke arah sungai, matanya membelalak tak percaya ketika melihat sesuatu di sana. Mulut Kurapika menganga sejenak, sebelum akhirnya ia memanggil,

"Rusalka?"

"Akhirnya kau menyadari kehadiranku," Siren itu mengibaskan ekornya dengan gembira, walaupun nada suaranya sedikit terdengar sinis. "Dan betapa pembohongnya dirimu. Aku benar selama ini, kau ADALAH seorang gadis." Rusalka memicingkan matanya dengan tatapan menuduh.

"Aku...aku minta maaf tapi...aku berada dalam situasi di mana aku harus menyamar sebagai laki-laki...," Kurapika menundukkan kepalanya.

"Aku mengerti," Rusalka melambaikan tangannya dengan tidak sabar di depan wajahnya, mengenyahkan permintaan maaf Kurapika.

"Jadi ini siren yang waktu itu kau katakan padaku," tiba-tiba Kuroro bicara di belakang Kurapika. Suatu kenyataan seolah memukul kepala Kurapika dengan keras dan ia segera memalingkan wajah Kuroro dari Rusalka, dalam cara yang kasar.

"Apa yang kaulakukan? Jangan melihatnya!" Kurapika berdesis pada Kuroro. Dia tak ingin terkena masalah mencegah pria itu terjun ke danau karena pesona siren.

Kuroro mengedipkan matanya kaget, terkejut dengan perlakuan Kurapika tapi terutama karena sikap Kurapika yang sengaja menyentuhnya; yaitu wajahnya. Bahkan gadis itu menutup telinga Kuroro; takut Kuroro dapat mendengar suara siren itu dan tersihir karenanya. Rusalka pun tertawa menyaksikan adegan lucu itu.

"Kau menggelikan. Jangan khawatir, dia tidak akan terpengaruh sihirku karena kalian berdua dilindungi dengan baik oleh cincin yang kalian miliki itu," Rusalka menjelaskan setelah selesai tertawa.

"Cincin?" Kurapika melihat cincinnya, dan cincin itu bersinar merah menyala seperti laser. Ia segera menjauh memisahkan diri dari Kuroro tepat setelah ia mendengar penjelasan Rusalka. Kuroro melihat cincin miliknya, dan cincinnya juga bersinar merah menyala.

"Cincin itu memiliki mantra pelindung terhadap sihir dari makhluk seperti kami," Rusalka mencondongkan badannya dan menatap mereka dengan ketertarikan. Air berputar pelan di sekelilingnya.

"Tapi aku terkena racun," gumam Kurapika pada dirinya sendiri sambil menyentuh lehernya dengan hati-hati di mana ular Chimera itu menggigitnya. Siren itu mendengarnya dan tertawa.

"Cincin itu melindungimu dari sihir kami, tapi tidak dari serangan fisik. Kutukan atau sihir apapun, cincin itu akan menghapusnya. Tapi tidak mempan terhadap kerusakan fisik dan kerusakan apapun yang bersifat langsung."

"Kenapa kau di sini? Kukira kau seharusnya berada di hutan di dekat Ryuusei-gai," Kuroro bertanya padanya dengan santai.

"Yah, aku di sini untuk berkunjung." Siren itu menegakkan tubuhnya. "Lagipula, aku harus menyampaikan sebuah pesan. Chiron sedang menunggu kalian. Pergilah ke pohon cemara yang paling tinggi di sebelah sana, dia akan ada di suatu tempat di dekat pohon itu," Rusalka berkata sambil mengarahkan jari telunjuknya yang berwarna biru ke arah yang ia sebutkan.

"Di suatu tempat?" Kuroro menaikkan sebelah alis matanya mendengar arah yang tidak jelas itu.

"Si Bokong Tua itu suka mengembara ke mana saja. Terlalu sulit baginya untuk tinggal di satu tempat dalam waktu lama." Wanita cantik itu menghela napas, seolah ia sudah sering kesusahan karena kebiasaan centaur itu. "Ngomong-ngomong, semoga kalian berhasil menemukannya."

Kemudian Rusalka menyelam ke dalam air dan tidak muncul lagi. Keheningan menyelimuti Kuroro dan Kurapika hingga akhirnya mereka bangkit dan melanjutkan perjalanan menuju ke pohon cemara yang tinggi itu. Mereka berusaha mengeringkan diri saat berjalan, sementara Kurapika terus protes tentang keadaan mereka yang menjadi basah sekarang, baju yang lepek, adanya kemungkinan terkena demam, dan banyak lagi. Kuroro, seperti biasanya, hanya mengabaikan omelannya.

Mereka sudah lama sampai di pohon cemara itu, tapi seperti yang dikatakan Rusalka, Centaur itu tak ada di manapun. Malah daripada mencarinya, Kurapika memilih untuk berdiam di sana dan mengeringkan pakaian smbil menunggu 'Si Bokong Tua' kembali ke pohon cemara itu. Kuroro setuju dengannya dan ikut berdiam di sana.

Keduanya berusaha mencari baju yang selamat dari air danau, lalu mengganti pakaian mereka. Kurapika mengganti bajunya di balik semak-semak, tapi saat dia keluar dari semak-semak itu dengan bajunya yang baru, ia melihat Kuroro masih bertelanjang dada. Yang membuatnya ngeri, dia melihat bekas luka di seluruh tubuh pria itu. Bekas luka yang paling mengerikan adalah bekas luka besar di sekitar perutnya. Bekas luka itu terlihat seolah sesuatu menusuk menembus tubuh Kuroro, dan ia berhasil bertahan hidup.

Saat Kuroro berbalik, Kurapika sudah mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menyibukkan diri. Ia tidak punya keinginan untuk membahas tentang bekas luka itu, alasannya adalah Kurapika tidak ingin mendengar cerita mengerikan bagaimana Kuroro mendapatkan bekas luka itu, dan lebih jauh lagi Kurapika hampir yakin bahwa Kuroro pun tak akan membicarakannya.

Untuk beberapa lama mereka duduk di atas rumput, melihat baju-baju basah yang digeletakkan di rumput yang kering. Kurapika mulai tertidur, sementara Kuroro sudah tidur sejak pertama dia berbaring di rumput hangat itu.

"Ohohoho! Sepasang manusia!" sebuah suara bass tiba-tiba muncul entah dari mana.

Kaget, Kurapika segera berdiri. Ia melihat ke sekitarnya seperti seekor kucing yang siap menerkam. Kuroro, di pihak lain, hanya bangun dan mengedipkan matanya dengan terkantuk-kantuk. Tak ada ketegangan sama sekali.

"Segar dan muda. Sudah berapa lama waktu berlalu sejak terakhir kali aku melihat seorang manusia datang ke tempat tinggalku yang sederhana ini?" kata suara itu lagi.

Segera saja, Kurapika dapat mendengar suara derap langkah makhluk berkaki empat menghampirinya dan Kuroro. Dia dapat memastikan, dari suara itu, makhluk apapun yang datang, sudah pasti besar. Seperti yang diperkirakan Kurapika, seorang Centaur besar keluar dari semak-semak. Bagian bawah tubuhnya, berupa rusa jantan yang kuat, melangkah dengan sikap penuh percaya diri. Bagian atas tubuhnya adalah seorang pria telanjang; dadanya berotot, dengan bulu coklat menutupi bagian tengah dadanya itu. Wajahnya adalah wajah seorang pria setengah baya, dengan janggut coklat seperti janggut kambing dan telinga runcing, wajah itu bersinar dengan kebijaksanaan seorang pertapa.

"Beritahu aku, Hai Manusia! Urusan apa yang kalian bawa serta?" Centaur itu melanjutkan, matanya terlihat penasaran. "Aku, Chiron, akan memberi apapun yang kalian minta. Bertualang jauh ke dalam jantung hutan ini, seperti yang telah kau perbuat, menunjukkan bahwa hutan menganggap kalian tidak membawa bahaya bagi penghuni tempat ini."

"Uh..." Kurapika, sejujurnya, tersipu tiba-tiba menghadapi satu makhluk setengah manusia yang berbicara dalam dialek kuno. Kurapika tidak tahu bagaimana dia harus menjawab Centaur itu.

"Kami datang ke sini atas perintah Lady Ishtar. Aku yakin kau pernah mendengarnya?" Kuroro berdiri dan menepuk celananya dengan santai.

Kuroro berbalik dan menatap Chiron lurus ke matanya. Sebenarnya, dia juga penasaran tentang Centaur. Dia mendengar cerita tentang kebijaksanaan dan pengetahuannya yang luas. Kuroro ingin tahu, dan belajar. Chiron memiringkan kepalanya ke satu sisi dan mengernyit. Ia menyilangkan kedua lengannya yang berbulu di depan dadanya yang berotot. Kemudian, seolah sesuatu muncul di benaknya, matanya berseri-seri.

"Ah..." ia mengangguk. "Ya, ya, tentu saja. Kalian pasti utusan dari Milady?"

"Begitulah," Kuroro mengangkat bahu.

"Dan gadis muda di sana itu..." Chiron menoleh pada Kurapika, yang masih tak bisa bicara. "Dia 'leman'-mu ya?"

Tidak memahami arti 'leman', Kurapika menatap Centaur itu dengan bingung. Tiba-tiba Kuroro tertawa terbahak-bahak, seolah Centaur itu adalah lelucon terburuk di bumi ini. Kurapika mengedipkan matanya dan melihat Kuroro dengan tatapan bingung di wajahnya. Centaur itu sendiri terlihat tidak menyadari kenapa Kuroro tiba-tiba tertawa.

"Tidak, tidak. Aku takut itu adalah kesimpulan yang keliru. Aku terkejut, Chiron, kupikir kau akan cukup bijaksana untuk tidak menyimpulkan secara buta hubungan di antara manusia satu dengan lainnya."

Kuroro menyeringai pada Centaur itu, yang sudah sadar dari kebingungannya dan kemudian tersenyum pada pria itu. Senyumnya terlihat seperti senyum seorang kakek yang mendengarkan kata-kata cucunya yang kurang bijaksana.

"Dan apakah kau menyimpulkan bahwa aku telah salah mengira hubunganmu dengan gadis itu? Tidak, Anak Muda. Aku tidak salah paham, seperti yang kau simpulkan," ia menjawab. "Seperti yang telah kalian katakan, Milady sudah memberitahuku tentang kedatanganmu."

Tampak jelas sekali, Kuroro terlihat terkejut dengan jawaban Chiron. Centaur itu menang atas permainan kecil mereka, permainan kata-kata, dan Kuroro Lucifer tidak biasa kalah dalam permainan itu. Saat Chiron tersenyum ramah padanya, Kuroro sedikit cemberut. Kurapika, entah bagaimana terlalu bingung untuk melihat ekspresi sedikit kekanak-kanakan yang jarang diperlihatkan Kuroro.

"Dan jelaskan padaku apa yang terjadi di sini," akhirnya Kurapika bertanya pada Kuroro. "Apa yang dia maksud dengan 'leman?' "

"Leman artinya..." Sedetik Kuroro merasa ragu. Mengenal bagaimana Kurapika dan kebiasaannya untuk bereaksi secara berlebihan, Kuroro mencoba menemukan penjelasan yang cocok. Walau bagaimanapun, pada akhirnya, dia akan tetap meledak marah. "Yah, secara sederhana 'leman' berarti kekasih."

Dan bom pun dijatuhkan.

"APAAAA?" Wajah Kurapika pun pucat. Ia menoleh pada Chiron, ekspresinya terlihat marah. "Dari mana kau mendapatkan kesalahpahaman yang mengerikan itu?"

"Menurutku itu perbuatan Ishtar," gumam Kuroro, ia kurang tertarik membahas topik itu.

"Oh, apapun itu, kesalahpahaman ini harus diluruskan!" Kurapika berbalik menghadap Chiron, yang memandang mereka dengan kesenangan terlihat di wajah kunonya. "Bagus Tuan, jika kau mengijinkanku untuk mngoreksimu, tak mungkin, tidak dalam milyaran tahun lamanya, aku akan menjadi kekasihnya. Tidak akan pernah. Tidak akan."

"Dan kenapa begitu, Gadisku yang cantik?"

"Karena pria ini adalah otak di balik pembantaian sukuku." Kurapika memicingkan matanya walau hanya sekilas. "Dan aku tak akan memaafkannya untuk itu." Ia melanjutkan ucapannya dalam gumaman, seolah mengatakannya pada dirinya sendiri.

Kuroro, yang berdiri sedikit di belakang Kurapika, menatap gadis itu dengan matanya yang gelap. Ia tak mengatakan apapun untuk membela diri, ataupun meminta maaf atas kejahatan yang telah ia lakukan. Kuroro tak menyesal melakukannya. Tidak ada sedikitpun penyesalan di hatinya. Chiron melihat Kurapika, lalu melihat Kuroro. Ia bersenandung pelan dan terlihat memikirkan sesuatu, saat tiba-tiba ia mendekati Kurapika.

"Jika demikian, Gadis, perkenankan aku untuk membaca peruntunganmu," tanya Chiron dengan sopan, tangannya terulur pada Kurapika.

Kurapika mendongak, dan kemudian dia menyadari ukuran Centaur itu yang sebenarnya. Tingginya jauh melebihi Kurapika, kepala gadis itu hanya mencapai perutnya. Tubuh rusanya sebesar tubuh kuda jantan. Kurapika melihat tangan Chiron yang besar dengan bingung, tidak mengerti apa yang diminta Centaur itu. Dia melirik Kuroro dengan ragu, yang berdiri tidak jauh darinya (karena belenggu itu) sambil bertumpu pada salah satu kakinya.

"Seni meramal telapak tangan. Dia ingin melihat telapak tanganmu," Kuroro memberitahu Kurapika. Dia tahu dari tatapan gadis itu bahwa dia menginginkan semacam penjelasan tentang apa yang sedang terjadi.

"Benar Gadisku. Kami, Centaur, ahli dalam seni meramal telapak tangan. Kehidupan manusia digariskan di telapak tangan mereka sejak mereka lahir. Garis di telapak tangan manusia menyimpan rahasia kehidupan seseorang secara garis besar. Masa depan, walau bagaimanapun, dilarang untuk diberitahukan."

"Kalau begitu apa yang bisa kau beritahukan?" Kurapika bertanya dengan sedikit bingung.

"Semua tentang diri mereka, kecuali masa depannya."

"...Jika itu masalahnya...aku tidak ingin peruntunganku dibaca," kata Kurapika tegas.

"Oh? Kenapa? Mohon beritahu aku alasannya," Centaur itu terlihat kecewa.

"Aku tidak mau orang mengintip hidupku," Kurapika melirik Kuroro sejenak. "Dan mengumumkannya di depan orang lain."

"Hmm...itu akan menjadi keputusan yang sulit, takutnya begitu, Gadis," Chiron menggelengkan kepalanya.

"Apa maksudmu?" Kurapika bingung lagi.

"Karena...," Centaur itu menyeringai padanya. "Aku hanya bisa memberimu informasi penting setelah aku membaca peruntunganmu." Ia menoleh pada Kuroro. "Dan peruntungannya juga."

"Seberapa penting informasi yang akan kauberitahukan itu?" Kuroro melangkah maju menghadap Chiron dengan raut wajah yang serius.

"Informasi itu berkaitan dengan belenggu yang mengikat hidup kalian bersama," Chiron memberi petunjuk.

Kuroro menaikkan sebelah alis matanya mendengar petunjuk yang samar dari Centaur itu, tapi tak mengatakan apapun untuk meminta penjelasan lebih. Ia memandang Kurapika dengan tatapan penuh arti. Kurapika memutar bola matanya dalam keputusasaan, karena dia mengerti apa yang coba disampaikan pria itu. Sebaiknya mereka mematuhi aturan yang dibuat Centaur itu, lagipula mereka tengah berada di tempat tinggalnya.

Kurapika mengulurkan telapak tangannya pada Chiron. Centaur itu mengambilnya dan membelai telapak tangannya. Lalu meregangkannya dan menatapnya dengan intensitas tertentu terlihat di matanya. Kurapika berdiri dengan canggung di depannya, sebenarnya ia gelisah. Chiron meraba garis di telapak tangannya dalam diam, seolah meraba huruf Braille. Setelah sekitar satu menit berlalu, Chiron melepaskan tangan Kurapika. Lalu Chiron melakukan hal yang sama kepada Kuroro. Setelah selesai, dia melangkah mundur dan sepertinya merenungkan sesuatu.

"Jadi?" Kurapika bertanya dengan penuh harap.

"Kalian memang memiliki peruntungan yang paling menarik...," Centaur itu menganggukkan kepalanya. "Aku tak bisa menjelaskan kenapa, tapi masa depan kalian seputih kertas kosong."

"Kosong?" Kurapika mengedipkan matanya.

"Kehidupan yang satu terjalin dengan kehidupan lainnya, jalan terlintasi, masa depan yang tak tertulis menunggumu. Jangan takut, Wahai Temanku, di setiap masa depan yang tak terlihat, akan selalu ada kemungkinan yang tak terhitung banyaknya."

Kuroro dan Kurapika saling bertukar pandang. Dalam sekejap saja, mereka berdua-yang mana ini jarang sekali-memiliki pendapat yang sama. Centaur itu benar-benar makhluk yang aneh, dan terlalu dramatis.

"Dan tentang kalian berdua, apakah kalian ingin aku mengatakannya?" Chiron bertanya.

"Bahkan tanpa kau terjemahkan dari seni meramal telapak tangan, rasanya aku tahu orang seperti apa dia," gumam Kurapika. "Tentunya orang egois yang hanya memikirkan keuntungannya sendiri."

"Ah, jangan biarkan penilaianmu terselubungi emosi yang teramat sangat. Lihatlah dengan hatimu, diri orang yang sebenarnya hanya dapat dilihat melalui hati, melihat dengan mata saja sama artinya seperti orang buta." Centaur menggelengkan kepalanya, sedikit menyayangkan pendapat Kurapika.

"Apa kau mengatakan bahwa penilaianku tentangnya salah?" Kurapika mengernyit padanya. Dia tidak ingin konsepnya mengenai diri Kuroro yang bagaikan iblis dihancurkan. Dia tidak berharap untuk melihat sisi baik pria itu, khawatir kebenciannya terhadap Kuroro akan hilang.

"Hai Gadis, seni meramal telapak tangan tak berdusta. Kenyataan yang bisa kusampaikan adalah, rekanmu sama sekali bukan pria yang egois. Dia-"

"Cukup basa-basinya," tiba-tiba Kuroro bicara, suaranya terdengar galak. Ia mengernyit dengan tidak senang kepada Chiron. Kurapika memandangnya dengan mata terbelalak. Jelas sekali bahwa Kuroro tak ingin kebenaran tentang dirinya yang sebenarnya diungkapkan pada Kurapika. Hal itu membuat Kurapika semakin penasaran.

"Jadi, bagaimana dengan informasi penting yang tadi kau bicarakan?" Kuroro bertanya, berusaha memfokuskan kembali tujuan utama mereka mengunjungi Chiron.

"Aah, ya tentu. Sudah berapa jauh kita menyimpang dari bahasan yang sebenarnya? Maafkan aku atas penyimpangan ini," Centaur itu sedikit membungkuk pada Kuroro dan Kurapika, meminta maaf dengan sopan.

"Informasinya," Kuroro berkata lagi. Ia sudah tak selera untuk berbincang-bincang dengan Chiron.

"Bersabarlah, temanku. Ketidaksabaran dapat membawa petaka pada apa yang kau lakukan," Chiron memberitahunya dengan bijaksana. "Sebagai informasi, aku memberitahumu bahwa selama setiap bulan baru, kalian akan mendapatkan kebebasan sementara."

"Kebebasan...sementara?" Kurapika mengernyit bingung. Dia mulai lelah dibuat pusing oleh cara berbicara Centaur itu.

"Di setiap bulan baru, Hassamunnin akan kehilangan kekuatannya, sihirnya habis. Hanya di saat itulah, kalian akan terbebas dari kutukannya."

"Singkatnya, pada setiap bulan baru belenggu gaib itu akan hilang," Kuroro menyederhanakan informasi dari Chiron.

"Kau bisa katakan begitu," Centaur itu mengangguk setuju.

Kurapika memandang Si Centaur, kemudian memandang Kuroro. Ia mengedipkan matanya beberapa kali, otaknya berusaha memproses informasi itu.

"Maksudmu aku bisa menjauh darinya sejauh mungkin di bulan baru?"

"Bahkan jika kau pergi ke ujung dunia, itu tidak masalah; hanya di malam itu," Kuroro memberitahunya, rasa senang terlihat di wajahnya. Ia dapat melihat Si Kuruta meledak marah.

Kurapika menganga untuk lima detik lamanya, sebelum ia memekik,

"Seharusnya kau memberitahu kami lebih awal! Jadi setidaknya aku bisa menghabiskan satu malam yang penuh dengan kebahagiaan jauh darinya!" Jika Kurapika sedang sendiri, saat ini dia pasti menarik rambutnya dengan gusar.

"Dan aku dapat memisahkan diri dalam saat yang penuh dengan kedamaian, jauh dari omelannya," Kuroro menambahkan dengan nada suara yang monoton.

Centaur itu tertawa melihat pertengkaran mereka. "Yah, aku akan menyerahkan masalah ini ke tangan kalian. Sebagai tambahan, Milady juga ingin berbagi kebijaksanaannya. Dia merasa akan sangat baik bagiku dan dirinya untuk mengatasi urusan pencarian makhluk-makhluk mistis itu. Sebagai saudara, kami punya kesempatan yang lebih baik untuk menemukan apa yang kalian cari."

Kuroro mengernyit mendengarnya. Jika Ishtar benar-benar ingin menolong, seharusnya dia lakukan itu sejak awal. Dari cara Chiron berbicara tentang Ishtar, sepertinya Ishtar berada dalam kedudukan yang sama dengannya, dalam hal umur dan pengetahuan.

"Sementara ini, dari sekarang, sebaiknya kalian berdamailah dengan konflik apapun yang kalian miliki sekarang," Chiron melanjutkan.

Kurapika terdiam sesaat. Hal pertama yang muncul di benaknya adalah Mata Merah dan pembantaian sukunya. Ia dapat merasakan seolah matanya menyengat, mengancam untuk berubah warna menjadi merah saat itu juga, tapi ia menahannya.

"Aku sudah menyampaikan pesanku pada kalian, oleh karena itu aku pun sudah menyelesaikan tugasku." Chiron mendongak menatap langit. "Langit mulai gelap, senja sudah tiba. Bermalamlah di sini, Teman-temanku, karena lebih aman di sini daripada di luar sana. Hutan ini akan melindungi kalian dari bahaya apapun."

Tanpa banyak bicara, Kuroro dan Kurapika menyetujui undangan Centaur itu untuk bermalam di hutan.

.

.

Kurapika menatap api di kemah sementara mereka. Dia ingat Kuroro memberitahunya bahwa semakin kuat makhluk gaib itu, maka akan lebih sulit untuk menemukan mereka. Manusia seperti mereka akan membutuhkan waktu puluhan tahun lamanya untuk menemukan satu makhluk gaib yang cukup kuat untuk menghancurkan mantra Hassamunnin. Dia berterimakasih, Ishtar dan Chiron cukup baik menawarkan bantuan untuk menemukan makhluk-makhluk itu. Kurapika tidak ingin berkeliling dunia tanpa tujuan bersama Kuroro Lucifer.

Kurapika teringat akan interupsi Kuroro yang tergesa-gesa saat Chiron hendak mengatakan sesuatu tentang kepribadiannya. Sepertinya pria itu tidak ingin membiarkan Kurapika tahu tentang dirinya yang sebenarnya, atau itulah yang dapat disimpulkan Kurapika. Kurapika merenungkan hal itu sejenak, sebelum ia menggelengkan kepalanya untuk melenyapkan pikiran itu. Apapun yang ingin Kuroro lakukan untuk dirinya sendiri, tidak ada hubungannya dengan dia.

Kuroro, sementara itu, menatap telapak tangannya sesaat. Ia ingat raut wajah Chiron sekilas berubah ketika sedang membaca peruntungannya. Sesuatu yang luar biasa tertulis di takdirnya, atau mungkin itulah yang akan dikatakan Chiron. Kuroro pun penasaran, tapi ia merasa tidak nyaman jika orang lain tahu tentang dirinya lebih dari dia sendiri. Entah bagaimana ia merasa tidak aman.

"Sementara kita menunggu mereka...," tiba-tiba Kurapika bicara, "Haruskah kita mengumpulkan Mata Merah?"

Suaranya pelan, tapi masih bisa didengar oleh Kuroro. Kuroro tidak menoleh untuk melihat ke arahnya, tapi dia hanya mengalihkan perhatiannya ke api.

"Kurasa begitu. Lagipula, kita atasi masalah kita dulu, kesampingkan belenggu itu," Kuroro menanggapi dengan datar.

"Berdamailah dengan konflik apapun yang kalian miliki sekarang."

Kuroro mendengus diam-diam. 'Centaur itu memang pintar bicara,' pikir Kuroro pahit. Dia tahu bahwa yang dimaksud Chiron bukan hanya masalah Mata Merah. Dia tahu Centaur itu membicarakan sesuatu yang lain; sesuatu yang lebih pribadi dan dalam. Kuroro tidak tahu apakah Si Gadis Kuruta memahaminya atau tidak, tapi Kuroro tak punya maksud untuk membahasnya.

"Kita dapat melakukannya setiap bulan baru," tiba-tiba Kuroro berkata.

Kurapika menoleh padanya, tatapannya meminta pria itu untuk menjelaskan maksudnya.

"Setiap bulan baru, kita tidak terikat oleh belenggu gaib itu. Kita akan punya lebih banyak ruang untuk bergerak. Akan lebih mudah bagi kita untuk mendapatkan Mata Merah," Kuroro menjelaskan.

"Oh...," Kurapika bergumam dan melihat ke api lagi. Dia tak mengatakan apapun karena dia tengah memikirkannya. Sebenarnya, Kurapika ingin menjauh dari Kuroro. Dia jadi mulai terlalu nyaman dengan keberadaan Kuroro di sekitarnya, dan hal itu mengagetkannya. Bagaimanapun juga, apa yang dikatakan pria itu benar. Mata Merah akan berada di daftar teratas sekarang.

"Baiklah...," kata Kurapika tanpa mengalihkan pandangannya dari api.

Suasana pun hening. Seringkali saat mereka berkemah, mereka tidak bicara banyak, jadi sudah menjadi rutinitas bagi mereka untuk berada dalam keheningan seperti itu, bahwa mereka menemukan kedamaian bagi diri sendiri saat itu.

Tiba-tiba, keduanya mendengar suara gemerisik pelan dari semak-semak di dekat sana. Mereka tidak terkejut, karena Chiron telah meyakinkan Kuroro dan Kurapika bahwa hutan tidak punya maksud untuk melukai mereka, keduanya tetap diam di tempatnya, dan hanya melihat ke arah semak-semak itu. Mereka menunggu apapun yang berada di balik semak-semak untuk keluar. Tak lama kemudian, sesuatu tampak bercahaya dari kegelapan hutan, di balik semak-semak itu. Seekor Unicorn lalu keluar ke tanah terbuka di mana Kuroro dan Kurapika sedang berkemah.

Kurapika menganga melihatnya. Dia pernah mendengar tentang Unicorn di cerita dongeng, dan dia pernah berharap dapat melihat Unicorn. Dan di sinilah Kurapika sedang melihat salah satu dari Unicorn itu. Unicorn itu adalah hal paling cantik yang pernah dilihatnya, kuda paling anggun yang pernah Kurapika lihat seumur hidupnya. Tubuhnya berwarna putih suci, bersinar lembut dan halus dalam kegelapan hutan. Tanduk emas nampak di keningnya bersinar seperti debu emas. Surainya berkilau laksana sutra, setiap helainya berwarna perak platinum dengan sedikit warna biru pucat. Mata bulatnya menatap Kurapika dengan rasa ingin tahu yang sama seperti yang dimiliki gadis itu.

'Seekor Unicorn? Betapa anehnya,' pikir Kuroro, bibirnya membentuk senyuman tipis, sebuah senyum senang. Ia pernah mendengar dongeng tentang Unicorn dari Ishtar waktu di masa kecilnya dulu, tentu saja. Kuroro melihat Kurapika, dan seperti yang ia duga, Kurapika penasaran tentang binatang itu.

"Sebaiknya kau tidak mendekatinya lebih dulu. Unicorn sangat waspada terhadap orang asing, dan mereka bertarung secara mengejutkan untuk binatang yang terlihat begitu jinak. Satu tusukan dari tanduknya, maka habislah kau," secara otomatis Kuroro memberitahunya; kebiasaan baru yang ia lakukan selama perjalanannya bersama gadis itu.

"Jadi kita hanya bisa menunggunya menghampiri kita?" Kurapika bertanya, matanya masih tertuju pada kuda itu.

"Jika dia memang akan melakukannya," Kuroro mengangkat bahu, namun walau demikian ia melihat Unicorn itu sekali lagi. Dia adalah Kuroro Lucifer, seseorang yang sangat menghargai hal-hal yang indah. Unicorn merupakan salah satu dari hal indah itu; dan dia akan menghargainya sebanyak yang dia bisa.

Setelah sekitar satu menit, Unicorn itu melangkah pelan menuju Kuroro dan Kurapika, matanya tertuju pada Kurapika. Saat Unicorn itu melangkah, derapnya tak terdengar saat menapak di tanah yang berumput. Ia mendekat hingga hanya berjarak satu langkah dari Kurapika. Kurapika menatapnya takjub. Itu adalah kesempatan sekali seumur hidup; untuk melihat seekor Unicorn dengan matanya sendiri. Dengan hati-hati, Kurapika mengangkat sebelah tangannya dan mengulurkannya ke kuda mistis itu, sambil mengamati reaksinya.

Bukannya mundur, seperti yang sudah dipekirakan Kurapika, kuda bertanduk itu melangkah lebih dekat dan menempelkan ujung hidungnya ke tangan Kurapika yang kecil lalu menjilatnya. Unicorn itu bernapas pelan mengenai tangan Kurapika dengan senang saat gadis itu membelai hidungnya dengan lembut. Wajahnya berseri-seri, sepertinya Unicorn itu menerimanya.

"Kau tahu, Unicorn hanya mengijinkan orang yang masih perawan untuk menyentuh mereka," tiba-tiba Kuroro memberitahunya, sambil mengantisipasi reaksi Kurapika yang biasanya berlebihan.

Kurapika menoleh untuk melotot pada Kuroro, dan Kuroro dapat melihat semburat tipis kemerahan di wajahnya.

"Kau tak perlu memberitahuku informasi yang memalukan seperti itu," protes Kurapika.

"Apanya yang memalukan?" Kuroro bertanya sambil tersenyum senang. "Menurutku itu hal yang bagus?"

Tepat setelah Kuroro menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Unicorn itu mengalihkan perhatiannya kepada pria itu dan mnyentuhnya...menempelkan hidungnya ke bahu Kuroro bahkan menjilat pipinya. Kuroro terlihat sangat terkejut, dia tidak mengira Unicorn itu akan mendekatinya. Apalagi, lebih keras ia mencoba mendorong kuda itu, kuda itu semakin bersandar padanya.

"Ha. Jadi kau masih perjaka," Kurapika berkata dengan ejekan terdengar di nada suaranya. Sebenarnya, di balik itu ia merasa cukup terkejut bahwa ternyata Kuroro masih perjaka.

"Pemandangan yang menarik!" sebuah suara menyapa mereka. "Aku cukup terkejut, sebenarnya, anak Unicorn itu akan tertarik padamu."

"Dia hanya anak Unicorn?" Kurapika bertanya sambil menoleh melihat Chiron, yang sedang berjalan santai menyusuri jalan setapak menuju ke arah mereka.

"Begitulah, Gadis. Anak Unicorn yang keras kepala, yang punya kecenderungan untuk memberontak pada ibunya," Centaur itu tertawa terbahak-bahak.

"Dan bagaimana aku bisa menjauhkannya dariku?" Kuroro mencoba menjauh dari Unicorn itu yang malah tak bergeming sedikitpun.

"Ah, Anakku. Apakah kata-kataku tidak sampai ke telingamu? Anak Unicorn ini berkemauan keras. Dia tidak mendengarkan ibunya, bagaimana aku bisa memerintahkannya untuk menjauh darimu?" Chiron menggelengkan kepalanya dengan dramatis.

"Itu sangat membantu," Kuroro memutar bola matanya dan bergumam sinis.

Setelah satu menit berlalu yang terasa seperti 'pelecehan' yang berlangsung sangat lama, akhirnya anak Unicorn itu terlihat puas dan mengalihkan perhatiannya kembali pada Kurapika. Kurapika membelai kepalanya dengan lembut, seolah anak Unicorn itu adalah peliharaannya.

"Aku bertaruh dia akan langsung menyukai Gon," Kurapika bergumam dengan senyum tipis terlihat di bibirnya.

"Teman kecilmu yang naif itu?" Kuroro terkekeh, mengingat bocah pemberani yang bertemu kembali dengannya di jalanan Kota York Shin.

"Naif? Yah kukira kau bisa menyebutnya begitu."

Kurapika memejamkan matanya dan mengingat wajah teman-teman yang ia sayangi. Kurapika ingin tahu bagaimana kabar Leorio; dia harap Leorio baik-baik saja dengan sekolah kedokterannya. Gon dan Killua, Kurapika yakin mereka pun begitu, seperti biasanya. Mereka adalah contoh sahabat terbaik. Kurapika menghela napas pelan saat mengingat reaksi keras Killua padanya ketika dia tahu tentang perjalanannya bersama Kuroro Lucifer. Kurapika hanya dapat berharap bahwa Pemuda Zaoldyeck itu akan memahami kondisinya suatu hari nanti.

Unicorn itu menjilat wajah Kurapika dan melihat matanya yang sebiru samudera. Mata bulatnya seolah meyakinkan Kurapika bahwa masalahnya akan diselesaikan. Kurapika tersenyum dan menyandarkan kepalanya ke hidung Unicorn itu.

Dia hanya bisa berharap, Unicorn itu benar.

.

.

"Salam, Milady! Betapa dirimu selalu secantik biasanya. Sudah lama waktu berlalu sejak terakhir kali kita berjumpa," Chiron membungkukkan kepalanya dengan hormat pada bayangan yang ada di air mancur.

"Salam juga untukmu, Chiron. Sudah puluhan tahun sejak terakhir kali kita bertemu, benar sekali," bayangan Ishtar di air itu tersenyum pada Si Centaur Kuno.

"Aku sudah bertemu anak angkatmu dan rekannya. Mereka benar-benar bukan manusia biasa."

"Benar begitu? Di mana mereka sekarang?"

"Aku mengirim mereka untuk mengunjungi Lady Merah. Jangan khawatir Milady, seekor anak Unicorn memaksa untuk menemani mereka dalam petualangannya."

"Seekor anak Unicorn? Sungguh tidak biasa," Ishtar menaikkan sebelah alis matanya. Seekor Unicorn mendekati Kuroro? Itu benar-benar aneh. Terlebih lagi, anak Unicorn terkenal sangat pemilih.

"Dan anak Unicorn itu sepertinya menyukai gadis itu."

'Itu tidak terlalu mengejutkan,' pikir Ishtar.

"Milady, ada sesuatu yang harus aku beritahukan tentang mereka," tiba-tiba Centaur itu berkata dengan wajah serius.

"Baik atau buruk?" tanya Ishtar hati-hati.

"Aku khawatir tak bisa menjawabnya, Milady, karena aku pun tak mengerti. Aku hampir tak percaya atas apa yang ditunjukkan mataku sendiri, Milady, kadang mataku menipuku. Bagi seorang manusia, seperti pria muda itu, memiliki hidup yang panjang dan luar biasa adalah sangat jarang. Terlebih lagi, masa depan mereka sepenuhnya tak tertulis."

"Masa depan yang tak tertulis?" Ishtar berkata sambil mengernyit. Sangat jarang bisa menemukan manusia dengan masa depan yang tak tertulis. Kuroro memiliki hidup yang panjang tak terlalu mengejutkan, mengingat kemampuan bertahan hidupnya yang luar biasa, walau ia tahu bahwa anak itu tidak akan terlalu senang mendengarnya.

Dalam kasus Kuroro dan Kurapika, itu bisa berarti bahwa hubungan mereka dapat berkembang menjadi hubungan lain yang memungkinkan, dan masa depan mereka bergantung pada hal itu. Seandainya begitu, keputusan mengirim mereka untuk bertemu Lady Merah memang akan sangat bijaksana.

TBC

.

.

A/N :

Review please...^^