DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.

GENRE :

Adventure & Romance

WARNING :

FemKura. An Indonesian version for 1001 Nights by Runandra, one of my favorite author!^^

.

Happy reading^^

.

.

CHAPTER 12 : A MOMENT OF INSANITY

Dia melihat sekitarnya untuk memastikan tak ada seorangpun yang mengikutinya, atau yang melihatnya mengendap-endap ke dalam kamar hotel. Yah, disebut hotel sepertinya terlalu tinggi. Tempat itu adalah hotel sederhana, atau lebih seperti penginapan mewah. Dia menyatu dengan bayangan, merayap menuju ke jendela kamar yang berada di lantai tiga. Dia mengetuk tiga kali di kaca jendela yang tertutup itu dan menunggu.

"Masuklah, Shalnark," terdengar jawaban dari dalam kamar.

Dengan hati-hati, pemuda itu membuka jendela dan menyelinap masuk ke dalam kamar. Begitu masuk, ia segera mengamati kamar itu; kamar itu kecil, dengan dua tempat tidur berukuran single di satu sudut. Kamar itu sedikit beraroma lavender; yang merupakan ciri khas dari hotel itu. Hotel itu cukup terkenal di wilayah tersebut karena memiliki kamar-kamar yang berbeda dan tema yang berbeda pula berdasarkan aromanya. Ada mawar, lavender, citrus, mahogany dan lain-lain.

"Apa kau membawa daftarnya?" Pria yang menempati kamar itu bertanya padanya. Dia sedang duduk di sofa di sudut lain kamar itu. Sesosok yang mungil duduk di sampingnya.

"Ya, Danchou. Nama, lokasi; semuanya ada di sini," Shalnark berkata sambil menyerahkan sehelai kertas pada Kuroro, sementara pandangannya tertuju pada gadis yang duduk di sampingnya.

Kurapika duduk sambil memeluk kedua lututnya, wajahnya tenggelam di antara lutut sehingga hanya rambut pirangnya yang terlihat. Dia duduk diam seperti batu, dan tak memberi respon apapun saat Shalnark masuk kamar. Shalnark setengah berharap untuk disambut tatapan tidak senang atau tatapan memusuhi oleh gadis itu, karena Kurapika membenci Genei Ryodan dengan sepenuh hatinya, tapi ia terlihat tak bernyawa. Sementara itu, Kuroro, membaca daftar pemilik Mata Merah dengan tanpa bicara. Matanya berhenti pada bagian tertentu kertas itu dan menaikkan sebelah alis matanya sedikit. Setelah beberapa saat, Kuroro melipatnya dan menoleh pada Shalnark, yang masih memandangi Kurapika.

"Biarkan saja dia. Dia sedang merasa tidak enak badan hari ini," kata Kuroro singkat, dengan penutup di nada suaranya. Shalnark segera mengetahui bahwa Kuroro tidak punya keinginan untuk menjelaskan lebih jauh tentang kondisi gadis itu. Ia tak berani memaksa.

"Yah, ada lagi, Danchou? Perintah lainnya mungkin?"

"Untuk saat ini, tidak ada. Kalau aku punya rencana lain, kau yang akan pertama kali kuhubungi. Kau boleh pergi," perintah Kuroro pada pemuda itu. Sudah secara otomatis diputuskan bahwa Shalnark mengambil alih posisi Pakunoda sebagai tangan kanan Kuroro. Ia akan menyampaikan semua perintah yang diberikan Kuroro kepada anggota Ryodan lainnya.

"Baiklah. Kalau begitu selamat tinggal, Danchou. Jaga dirimu baik-baik," Shalnark melambaikan tangannya dengan ceria kepada Kuroro lalu berbalik. Meskipun begitu, sebelum Shalnark melangkah keluar jendela, ia berhenti sebentar dan menoleh memandang Kurapika.

"Kau juga, Kurapika. Semoga lekas sembuh." Kurapika tersentak walau hanya sekilas mendengar perkataan Shalnark. Lalu pemuda itu mengendap-endap keluar kamar, dan sekali lagi kamar itu hanya ditempati oleh dua orang.

Kamar itu pun hening, walau bukan merupakan keheningan yang tidak mengenakkan. Kuroro menyandarkan punggungnya di sofa yang empuk dan menutup matanya. Kurapika masih tidak bergerak. Selama sekitar lima menit, mereka tetap seperti itu.

"Kau bisa mengangkat wajahmu sekarang," Kuroro akhirnya berkata, suaranya terdengar lembut. Ia tak menerima jawaban apapun dari gadis itu.

Kuroro benar-benar ingin menghela napas dan memijit ujung hidungnya tapi ia melawan dorongan itu. Kurapika sedang mengalami perubahan mood bulanan karena periode menstruasinya, tapi tetap saja Kuroro sulit terbiasa dengan hal itu. Setidaknya Kurapika tidak lagi banyak mengeluh. Dia akan tiba-tiba dongkol dan terlihat kesal karena alasan yang tak jelas. Kurapika adalah seorang yang logis dan beralasan; dia selalu punya alasan untuk tindakannya. Akhir-akhir ini, dia tak punya sedikitpun kelogisan itu.

"Kau harus terbiasa dengan perubahan mood-nya nanti, karena dia sedang memasuki masa pubernya. Dia akan bersikap tidak rasional dan emosional, dan sebaiknya kau tidak memperburuk hal itu. Kau sudah dewasa 'kan? Jaga dia."

Itulah peringatan Ishtar untuknya sebelum mereka pergi dari Ryuusei-gai untuk yang kedua kalinya. Kuroro mengenyahkan ide itu dari pikirannya karena dia tahu Kurapika lebih dari mampu untuk menangani dirinya sendiri. Yah, sepertinya Kuroro salah dan gadis itu ternyata tidak mampu mengendalikan-yang membuatnya sangat kecewa-untuk menangani perubahan hormonalnya. Kuroro sendiri takluk. Dia tak pernah berperan sebagai pengasuh, sedikitnya untuk seorang gadis remaja dengan hormon yang mengamuk. Kurapika akan memasang raut wajah sedih, tapi di waktu yang sama anehnya dia tidak benar-benar menghindar dari kehadiran Kuroro; sementara sebelumnya dia akan berusaha untuk berada di jarak terjauh dari pria itu. Contohnya sekarang. Kurapika bahkan tidak menghiraukan bahwa mereka duduk dalam jarak yang sangat dekat, bahu Kuroro hampir menyentuh bahunya.

Kemudian, mereka menyewa sebuah kamar di penginapan karena Kurapika sedang mengalami masa mentruasinya lagi yang menyulitkan. Dia perlu beristirahat selama beberapa hari di minggu terkutuk itu. Kuroro dan Kurapika meminta Si Unicorn untuk tinggal di hutan dan menunggu mereka, dan sepertinya kuda ajaib itu tidak keberatan.

"Kurapika," Kuroro mencoba lagi. Dia jarang memanggil gadis itu dengan nama lahirnya, karena sepertinya dia tidak senang dipanggil seperti itu olehnya. Kuroro pikir mungkin Kurapika tidak mau dipanggil begitu oleh musuh bebuyutannya.

"Daftarnya ada di sini. Kesemua 34 pasang Mata Merah itu," Kuroro memberitahunya, sementara matanya yang tajam mencoba mencari-cari tanda jawaban apapun dari Kurapika. Seharusnya ada 36 pasang, tapi mereka sudah memiliki dua pasang.

Kurapika mengangguk lemah.

"Ada satu pasang di kota tetangga," Kuroro memberitahunya lagi. Kali ini, Kurapika mengangkat wajahnya. Matanya sekilas terlihat merah dan bengkak; tanda ia menangis diam-diam. Kuroro sedikit mengernyit melihatnya.

"Benarkah?" Kurapika bertanya, suaranya serak. Ada tanda penuh pengharapan dalam mata yang lelah itu.

"Ya," Kuroro membuka lipatan kertas itu dan menunjukkannya pada Kurapika. Kurapika mengambilnya dari tangan Kuroro lalu melihatnya. Matanya tertuju pada satu bagian, dan genggamannya di kertas itu pun menjadi lebih erat. Kuroro terus mengamati reaksinya.

"Apa kau akan melakukannya?" Kuroro bertanya padanya, seperti seorang dokter menanyai pasiennya. Dari penjelasan Chiron, mereka diberi satu hari kebebasan dari sihir Hassamunnin selama bulan baru saat kekuatannya berada pada titik paling lemah. Sayangnya, mereka masih belum menemukan seberapa jauh 'kebebasan sementara' itu. Kebetulan, pemilik sepasang Mata Merah akan mengadakan pesta malam itu.

Kurapika mengangguk.

"Kalau begitu sudah beres. Untuk mengisi waktu, kenapa kau tidak beritahu aku apa yang mengganggumu?" mata gelap Kuroro masih tertuju pada Kurapika.

Kurapika menatapnya kaget, tapi segera memalingkan wajah dan tidak menjawab apapun. Sebenarnya, Kuroro benar-benar ingin gadis itu mengatakan segalanya, karena hal itu mengganggu Kuroro dan dia tak bisa menyelesaikan masalah itu. Walau bagaimanapun, dengan bijaksana Kuroro memilih untuk tidak memaksa dan membiarkan Kurapika. Dia akan segera membaik, atau setidaknya Kuroro harap begitu.

"Yah, aku anggap kau menolaknya."

Kuroro mengambil kertas itu dari tangan Kurapika, jarinya bersentuhan dengan jari Kurapika dan kali ini gadis itu tidak tersentak.

.

.

Kurapika melihat gaun itu dengan rasa tidak suka terlihat jelas di wajahnya. Ia mengernyit, seolah gaun itu dilapisi racun, walaupun warnanya merah cerah, kain sutranya berkilau indah di bawah cahaya lampu. Kuroro menunggu Kurapika mengatakan sesuatu mengenai gaun yang telah dia pilih untuknya. Akhirnya Kurapika mendongak dengan wajah yang paling tidak menyenangkan.

"Ayolah, kau tidak bisa lagi berpakaian seperti laki-laki," Kuroro memutar matanya, mengetahui apa yang tengah dipikirkan gadis itu.

"Tetap saja...," Kurapika memanyunkan bibirnya. "Aku tidak suka memakai gaun."

Walau begitu, Kurapika tetap melangkah ke kamar mandi dan mengganti bajunya dengan gaun itu. Kuroro berdiri di dekat pintu, jarak yang diijinkan belenggu gaib itu sudah melebar, memberi mereka privasi. Saat Kurapika akhirnya keluar, Kuroro berbalik dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.

Gaun itu merengkuh tubuh Kurapika dengan sempurna; tebakannya tidak salah tentang ukuran yang pas untuk gadis itu. Kerah oriental bertepi emas, gaunnya memiliki belahan di salah satu sisi, menampakkan sedikit kakinya yang seputih susu hingga setengah paha. Bahunya yang terbuka dan pundaknya terlihat bercahaya, kulit mulus selembut kulit bayi.

"Kenapa halter neck?" Kurapika protes sambil berusaha beradaptasi dalam gaun ketat itu.

Kuroro tidak mengatakan apapun tapi hanya mengaguminya. Diam-diam, Kuroro merasa bangga ia telah memilih gaun yang tepat untuk Kurapika, dan terlebih lagi dia terlihat cantik memakainya. Di lain pihak, Kurapika, merasa benar-benar sadar diri dan gugup. Dia tidak pernah memakai sesuatu yang begitu terbuka sebelumnya, dan dia merasa telanjang mengenakannya. Kurapika ingin berganti pakaian lagi dan mengenakan pakaian santainya yang biasa, tapi dia tahu Kuroro tidak akan membiarkannya melakukan hal itu. Saat ia menyadari pandangan Kuroro padanya, dan tatapan kagumnya, Kurapika menjadi lebih sadar dan ia bergerak-gerak gelisah. Dia tahu dia tidak sejelek itu, tapi dia juga sadar bahwa 'aset'-nya bukanlah sesuatu yang pantas dipamerkan. Untuk seseorang yang memiliki dada berukuran cup A, tentu saja Kurapika tidak akan merasa begitu percaya diri dalam gaun yang ketat seperti itu. Untunglah Kuroro memberinya gaun berpotongan halter neck untuk menutupi kekurangannya.

"Kau terlihat bagus mengenakannya, jadi hentikan protesmu," akhirnya Kuroro berkata. Bagaimanapun juga, tatapannya tak pernah lepas dari Kurapika. Ia merasakan sesuatu yang kurang. Walau Kurapika sudah terlihat cantik secara alami, gadis itu masih terlihat terlalu polos untuk seseorang yang akan pergi ke pesta; terutama jika dia berpura-pura menjadi seseorang yang berasal dari keluarga bangsawan.

Tiba-tiba, ada suara ketukan di pintu.

"Danchou, mereka semua sudah siap," sebuah suara yang terdengar feminin memanggil dari balik pintu.

"Ah, waktu yang tepat, Machi. Bisa kau pinjami aku peralatanmu?"

"Peralatan? Apa-oh..." suasana pun hening sejenak, kemudian Machi memasuki kamar dengan sebuah kotak kecil di tangannya. Tanpa bicara sepatah kata pun, ia memberikan kotak itu kepada Kuroro, yang mengucapkan terima kasih padanya. Machi kemudian undur diri dari kamar itu, tapi tidak sebelum memandang Kurapika dengan tatapan yang menilai.

"Apa itu?" Kurapika bertanya, tapi dia mendapatkan jawabannya segera setelah Kuroro membuka kotak itu. Oh astaga, baginya itu adalah kotak yang mengerikan.

"Duduk di sini, aku akan memberimu make up."

.

.

"Hei Machi, apakah aku terlihat bagus mengenakan setelan ini?" Phinks memanggil gadis itu sambil membetulkan dasinya.

"Apa itu penting?" komentar Machi dengan dingin tanpa menoleh.

"Tentu saja! Lagipula, aku seharusnya menjadi pengawal Danchou di pesta ini," Phinks merasa dongkol karena tanggapan Machi yang dingin itu.

"Pakai saja sunglasses," kata Machi sambil memutar matanya.

Phinks, Nobunaga, dan Shalnark ditugaskan untuk menjadi 'pengawal' bagi Kuroro dan Kurapika, sementara mereka berdua berpura-pura menjadi kepala keluarga bangsawan yang berpengaruh. Anggota Geng Laba-laba lainnya ditinggal karena mereka tidak berencana untuk merampok mansion itu, jadi tak perlulah mengerahkan seluruh anggota. Shalnark ada di sana saat Kuroro memberitahunya rencana itu, dan dia menyaksikan betapa marahnya Kurapika saat mendengar bahwa dia harus berpura-pura menjadi kekasih Kuroro. Kuroro berhasil meyakinkan gadis itu untuk melakukannya, walau dia sepertinya sangat keberatan melakukannya. Bahkan mereka harus pergi dan membeli gaun untuk Kurapika, karena dia tidak punya baju seperti itu di barang bawaannya yang sangat kurang.

"Hei, Machi," Dia memanggil Machi, yang menoleh ke arahnya tanpa berkata apapun. "Apakah menurutmu rencana ini akan berhasil?"

"Kau tahu tidak ada rencana yang tidak akan berhasil jika Danchou yang merencanakannya," Machi memberitahunya dengan merasa tidak senang, seolah dia kecewa karena Shalnark meragukan rencana Kuroro.

"Aku tahu itu, tapi mengingat Kurapika ada dalam rencana ini..." ia menggantungkan ucapannya. Machi menoleh dan menatapnya, dia tahu apa yang sedang Shalnark pikirkan. Kurapika, secara alamiah, memiliki kebencian terhadap Kuroro karena dialah otak di balik pembunuhan seluruh sukunya. Mungkin saja gadis itu mengacau di tengah-tengah rencana.

"Jangan khawatir. Rencana ini akan sukses besar."

"Apakah itu instingmu yang bicara?"

"Perlukah kau bertanya?"

.

.

"Berhenti bergerak." Kuroro meraih dagu Kurapika dengan tangan kiri dan memaksa gadis itu untuk melihat ke arahnya.

"Tapi rasanya sangat tidak nyaman," balas Kurapika dan mencoba menjauh tapi Kuroro tak akan melepaskannya.

"Terima saja. Tutup matamu." Dengan cepat Kuroro mengambil eyeliner dan mulai mengoleskannya segera setelah Kurapika memejamkan matanya. Kelopak matanya bergerak-gerak saat eyeliner itu menyentuh kulitnya, dan bulu matanya gemetar. Ia mengernyit karena merasa tak nyaman, tapi berusaha untuk tetap diam.

"Jangan dulu buka matamu, tunggu hingga eyeliner-nya kering," perintah Kuroro.

Dengan enggan, Kurapika mematuhi pria itu dan memejamkan matanya. Kuroro telah mengoleskan make up tipis untuknya, karena Kurapika menyatakan bahwa dia tidak pernah menggunakan make up selama tujuh belas tahun hidupnya. Kurapika menuntut ingin tahu kenapa pria seperti Kuroro bisa tahu bagaimana cara memakai make up, di mana sebenarnya bukanlah hal penting bagi Kuroro untuk mengetahui hal-hal semacam itu. Kuroro hanya mengangkat bahu dan mengatakan bahwa seseorang memaksanya untuk belajar. Kurapika tahu yang dia maksud adalah Ishtar, dan dia pun tak mengatakan apapun lagi.

"Aku percaya kau bisa memakai lipstik-mu sendiri?" Kuroro bertanya, dan Kurapika segera menyambar lipstik itu dari tangannya dan berjalan ke kamar mandi.

Ketika Kurapika keluar dari kamar mandi dan mengembalikan lipstik pada Kuroro, ia memperhatikan ada sedikit coretan lipstik di sudut bibirnya.

"Tunggu."

Kuroro memberhentikan Kurapika dan tanpa meminta izin, ia menghapus sisa lipstik di sudut bibir gadis itu dengan ibu jarinya. Sikap itu mengejutkan Si Gadis Kuruta dan membuatnya lengah saat Kuroro menyentuh bibirnya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Kurapika membeku di tempatnya, tapi tidak menepis tangan pria itu. Di waktu yang bersamaan, Shalnark memasuki kamar tanpa mengetuk pintu, dan melihat Kuroro menyentuh bibir Kurapika. Dia sendiri tertegun dan membeku, namun segera pergi melarikan diri dari kamar itu sebelum Kurapika meledak dan mulai berusaha membunuhnya. Walaupun Shalnark tahu itu tidak logis, dia hanya merasa sebaiknya tidak tertangkap basah melihat mereka dalam kedekatan seperti itu.

"Kenapa terburu-buru, Shal? Kau seperti habis melihat hantu atau sesuatu," tanya Nobunaga sambil bercanda, tapi tiba-tiba dia mengernyit. "Apakah terjadi sesuatu di kamar itu?"

"Hah?" Shalnark mengedipkan matanya, tidak memahami arti dari ucapan samurai itu. "Tidak, tapi...Tunggu, Nobu!"

Nobunaga bergegas menerobos masuk ke kamar yang ditempati Kuroro dan Kurapika, pedangnya diacungkan dan siap beraksi. Saat masuk, dia berubah seperti batu, seolah ia melihat orang bermuka jelek di kamar itu. Di sana, di dalam kamar, Kuroro memeluk tubuh Kurapika sementara gadis itu bersandar ke dadanya dan mencengkeram lengannya sebagai pegangan. Sebenarnya, Kurapika mencoba mengenakan sepatu berhak tinggi dan tersandung di langkahnya yang pertama, Kuroro segera menangkapnya, tapi sepertinya Nobunaga salah sangka. Terlebih lagi, Kurapika sudah memakai wignya dan sepertinya samurai itu tidak mengenalinya sebagai Si Pengguna Rantai. Mulut Nobunaga menganga seperti seorang idiot, sementara Kuroro menoleh melihatnya dengan raut wajah terkejut, dan wajah Kurapika mulai memerah dengan geram.

Sebuah teriakan marah yang mengatakan "KELUAR!" terdengar dan segera saja orang-orang di luar kamar melihat Nobunaga berlari dari kamar itu demi keselamatannya.

"Apa yang terjadi?" Phinks bertanya, bingung melihat Nobunaga begitu tersipu.

"D-d-di-di-di kamar..." Mata Nobunaga masih terbelalak terkejut. Shalnark menghela napas sementara Machi menggelengkan kepalanya kesal.

"Ada apa di kamar itu?" Phinks bertanya sambil mengernyit.

"Aku tak pernah mengira kau akan sangat ketakutan melihat seorang gadis, Nobu," Kuroro berkata sambil terkekeh saat ia keluar dari kamar itu, sementara Kurapika mengikuti di belakangnya, sekilas rona kemerahan masih terlihat di wajah gadis itu dan raut wajahnya pun masih tampak marah.

"Sejak kapan ada seorang gadis di kamarmu, Danchou?" Phinks berkedip beberapa kali saat melihat Kurapika. "Dan seorang gadis yang manis pula. Di mana kau menemukannya?" Ia menyeringai lebar, dan Kurapika mengernyit padanya dengan jijik.

"Dan di mana Si Pengguna Rantai itu? Kukira kau terjebak bersamanya?" Ia menambahkan.

Kuroro menaikkan sebelah alis matanya dan menoleh kepada Shalnark, yang sudah bersembunyi di belakang Machi. Pengguna Benang Nen itu memutar kedua bola matanya dan bergeser untuk menunjukkan Shalnark yang mengenakan setelan jas hitam.

"Kau tidak memberitahu mereka?" Kuroro bertanya dengan nada suara yang terdengar penasaran.

"Memberitahu apa?" Mereka semua, kecuali Machi, bertanya pada Shalnark secara bersamaan. Pemuda itu tersentak.

"Shal, katakan." Nobunaga mengeluarkan pedangnya, pembuluh darah di pelipisnya berdenyut-denyut.

"B-Baik, baik!" Shalnark mengangkat tangannya dalam posisi menyerah. Ia melirik Kurapika, yang memalingkan wajahnya, dan menelan ludah. "Erh...Dia...Dia sebenarnya adalah Si Pengguna Rantai...," Shalnark menjelaskan dalam suara yang pelan.

Suasana pun hening selama tiga detik lamanya, sebelum...

"DIA APA?"

.

.

Berdiri dengan mengenakan sepatu berhak tinggi, Kurapika hampir setinggi Kuroro. Entah bagaimana, sebaliknya, anehnya Kurapika merasa kecil. Dia tidak pernah menyukai pertemuan sosial seperti itu, temasuk saat dia masih bekerja sebagai pengawal Nostrad. Kali ini bahkan lebih buruk, karena dia turut serta sebagai salah seorang tamunya.

"Masih tidak terbiasa dengan ini?" Kuroro bertanya padanya dengan suara rendah dan senyum senang terlihat di wajah tampannya.

"Aku tidak akan pernah terbiasa," Kurapika menjawab sambil menatapnya marah dan dengan cara yang kasar. Kuroro terlihat menikmati dirinya sendiri, tambah lagi ia juga terlihat menikmati ketidaknyamanan Kurapika. Terlebih lagi ada tiga orang Laba-laba mengikuti di belakangnya, berpura-pura menjadi pengawal mereka. Seluruh situasi dan suasana yang dialami Kurapika sudah cukup untuk membuatnya gila, dan Kuroro masih punya nyali untuk menggoda Kurapika mengenai hal itu.

"Belajarlah menikmati hal seperti ini. Mungkin kita perlu melakukannya cukup sering nanti." Kuroro tersenyum pada Kurapika, dan Kurapika tidak tahu apakah senyuman itu benar-benar asli atau tidak. Lagipula, dia juga tidak benar-benar peduli.

"Yah, bagaimana dengan membiarkanku menikmati diriku sendiri sambil menginjak kakimu dengan sepatu hak tinggiku?" Kurapika berkata dengan geram padanya, namun tetap menjaga suaranya tetap pelan sehingga tidak mengejutkan siapapun yang berada di dekat mereka dengan sikap bermusuhannya.

"Sayangnya aku tak bisa mengijinkan hal itu," Kuroro tersenyum lagi padanya, tapi ia meraih tangan kanan Kurapika dan meletakkannya di tangan kirinya. "Ayo, Milady," ia membungkuk dengan sikap yang mengejek.

"Tentu saja, Milord," jawab Kurapika sinis dan mengejek dengan cara yang sama. Mereka pun melangkah masuk ke ballroom, bergandengan tangan.

Sementara itu, ketiga orang 'pengawal' terus mengamati Kuroro dan Kurapika saat mereka terus berdebat dengan cara mereka sendiri. Kuroro terus menggoda Kurapika sementara gadis itu terus melemparkan komentar sinis terhadapnya. Phinks dan Nobunaga saling lirik beberapa kali, masih tidak terbiasa dengan fakta bahwa Si Pengguna Rantai adalah seorang gadis, dan Danchou mereka sudah bepergian bersamanya selama ini. Shalnark, di lain pihak, menikmati adegan itu dan tersenyum-senyum sendiri.

"Apakah mereka selalu begini?" Phinks berbisik pada Shalnark.

"Kukira begitu. Hubungan mereka sudah lebih baik daripada sebelumnya, menurutku," Shalnark menjawab dengan ceria.

"Aku masih belum bisa percaya Si Bajingan Rantai itu benar-benar seorang gadis," Nobunaga melipat kedua lengannya dan wajahnya menunjukkan dengan jelas dilema yang tengah ia alami.

"Tapi dia memang gadis yang sangat manis, aku akui itu," Phinks bersiul dengan santai saat memandang Kurapika sekali lagi.

"Dia cocok dengan Danchou, 'kan?" Shalnark menyuarakan pendapatnya, namun hal ini membuatnya menerima tatapan tajam dari Nobunaga.

"Jangan pernah berpikir begitu," katanya geram dengan tidak senang.

"Ada yang cemburu di sini," Phinks menyeringai sambil berbisik pada Shalnark, yang menanggapi dengan menganggukkan kepalanya.

"Jaga mulutmu, Bajingan!" Nobunaga menaikkan suaranya dan tangannya sudah berada di gagang pedangnya, tapi kedua rekannya segera menenangkannya.

"Jangan keras-keras, Nobu! Kita tidak ingin menarik perhatian yang tak perlu di sini," Shalnark mendesis.

"Ck!"

.

.

"Pria yang ada di sana itu," Kuroro menunjuk dengan menggerakkan dagunya, "...akan menjadi targetmu malam ini."

"Jangan mengatakannya dengan cara seperti itu. Itu membuatku merasa seolah aku seperti..." Kurapika menggantungkan ucapannya, merasa malu bahkan untuk menyelesaikan kalimatnya.

"Tak ada yang mengatakan bahwa kau akan menjual tubuhmu pada pria tua itu," Kuroro menghela napas, walau sebuah seringai nakal terlihat jelas di wajah tampannya.

Kurapika menekankan kukunya dalam-dalam ke kulit Kuroro, saat mereka masih berjalan bergandengan tangan. Kuroro sedikit tersentak, tapi tak mengatakan protes apapun. Ia terus memasang raut wajah dinginnya.

"Ada satu hal yang membuatku penasaran," Kurapika berkata dengan suara yang pelan.

"Yaitu?"

" 'Kebebasan sementara' ini...berapa banyak kebebasan yang sebenarnya kita dapatkan? Apakah hanya faktor keterpisahan, atau belenggu yang mengikat hidup kita pun akan menghilang untuk sementara?" tanya Kurapika datar, seolah mereka hanyalah pasangan yang membahas tentang permasalahan hidup yang sepele.

"Hmm...terus terang, aku pun tidak tahu. Sudah pasti bahwa kita diberi keterpisahan tak terbatas untuk malam ini saja, karena kita telah mencobanya sekarang. Untuk belenggu yang mengikat hidup kita, kita belum mencobanya."

Pertanyaan itu tidak muncul dalam benak mereka sebelumnya, saat mereka masih berada di hutan tempat Chiron tinggal. Masih menjadi pertanyaan apakah salah satu dari mereka akan hidup jika yang satunya lagi mati pada malam bulan baru itu. Sebenarnya, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab seputar apa yang disebut dengan 'kebebasan bulan baru' yang baru saja mereka ketahui. Mereka tidak tahu apakah mereka hanya bebas dari faktor jarak saja, ataukah bebas dari kutukan yang mengikat hidup mereka juga. Kuroro dan Kurapika pun tidak tahu apa yang akan terjadi jika mereka sedang berada di tempat yang sangat berjauhan saat kebebasan itu berakhir.

"Yah...," Kuroro melirik Kurapika dengan seringai iblis terlihat di wajahnya. "Lagipula kita akan selalu bisa berusaha mencaritahu apa yang akan terjadi."

"Dan mempertaruhkan segalanya? Tidak," Kurapika sedikit melotot padanya. "Setidaknya, bukan sekarang. Aku tidak ingin mati sebelum berhasil mengumpulkan Mata Merah sukuku."

'Oh, suatu peningkatan,' pikir Kuroro puas; tapi kenapa dia merasa seperti itu dia pun tak mengerti.

"Dan...," Kurapika berhenti.

"Dan?"

"Tidak. Bukan apa-apa," Kurapika bergumam, tiba-tiba tidak ingin melanjutkan diskusi kecil mereka.

Kuroro menaikkan sebelah alis matanya pada Kurapika, tapi tidak menanyakan apapun lebih jauh. Berminggu-minggu ia habiskan bersama gadis itu, dan dia tahu lebih baik tidak memaksakan pertanyaan yang tidak penting. Kurapika bisa jadi sangat merepotkan saat dia kesal, dan Kuroro sudah cukup repot dengan semua rencana mata Mata Merah malam ini.

Sebenarnya, Kurapika hampir mengatakan, "Aku tidak ingin lagi terlibat dalam situasi yang penuh kompromi bersamamu," tapi memutuskan untuk tidak mengatakannya. Kurapika merasa bahwa jika dia memberitahu Kuroro tentang itu, Kuroro akan menggodanya tanpa henti; dan rasanya sudah cukup. Di dalam hati Kurapika mengutuk pria itu, Kurapika iri padanya karena Kuroro terlihat benar-benar tidak terpengaruh kapanpun mereka terlibat dalam situasi yang memalukan (setidaknya memalukan bagi Kurapika). Contohnya, kejadian-kejadian memalukan yang terjadi di Penginapan Prancing Pony milik Fino.

Di samping itu; walau Kurapika tidak akan pernah mengakuinya secara sadar dan terang-terangan, dia ingin menyelamatkan mukanya dari rasa malu di depan Kuroro dan kelompoknya. Berbicara tentang kewaspadaan diri di depan umum...

Rencananya sebenarnya cukup sederhana. Mereka hanya perlu berbaur dengan para tamu, menemukan pemilik mansion, dan kemudian Kurapika harus mencoba menemaninya dalam arti apapun (mungkin lebih baik dengan menggodanya, tapi Kurapika langsung menatap Kuroro dengan tajam saat pria itu menyebutkan hal ini maka Kuroro membiarkannya memutuskan caranya sendiri) sementara Kuroro akan menyelinap masuk ke ruang harta dan mencuri Mata Merah. Nobunaga akan pergi bersama Kuroro agar tidak menimbulkan kecurigaan, sementara Shalnark dan Phinks akan tinggal bersama Kurapika. Setelah itu, mereka akan pergi meninggalkan mansion sesegera mungkin.

Semuanya berjalan lancar hingga Kuroro undur diri untuk suatu urusan dan meninggalkan Kurapika menangani bangsawan pemilik mansion itu. Bangsawan itu; Lord Hubert, meminta Kurapika untuk minum anggur bersamanya, dan Kurapika mematuhinya. Ia minum bersamanya sambil berbincang mengenai politik; sesuatu yang sangat Kurapika ketahui. Bahkan Shalnark hanya bisa mengikuti apa yang dibicarakan gadis itu, abaikan Phinks; dan Lord Hubert terlihat kagum dengan pengetahuan yang dimiliki Kurapika. Mereka minum bergelas-gelas anggur, hingga wajah Kurapika berubah menjadi merah seperti lobster, dan dia mulai tertawa cekikikan.

Ketika Kurapika mulai bersikap seperti itu, Phinks dan Shalnark saling bertukar pandang dengan khawatir tapi tidak mengatakan apapun. Selama Kurapika bisa membuat bangsawan itu betah, mereka akan mengikuti rencananya. Shalnark mulai melirik jam tangannya, penasaran kenapa Danchou lama sekali mencuri Mata Merah itu. Phinks terus mengamati Si Gadis Kuruta dan mendengarkan percakapan mereka, kalau-kalau gadis itu keceplosan mengucapkan sesuatu yang penting mengenai Geng Laba-laba dalam keadaannya yang sedang mabuk.

Saat Kuroro kembali, Kurapika sudah tak bisa berdiri tegak dan dia terpaksa duduk di sofa bersama bangsawan itu. Lord Hubert sendiri sepertinya kehilangan kesadaran atas keadaan sekitarnya. Para pengawalnya berdiri di dekatnya, namun wajahnya menampakkan kekhawatiran kepada mereka.

"Apa yang terjadi di sini?" tanya Kuroro bingung saat dia melihat Kurapika dalam kondisi seperti itu.

"Yah, dia minum cukup banyak bersama pria tua itu...," Shalnark memberitahunya dengan suara pelan.

"Dia mabuk?"

Terkejut, Kuroro memandang gadis itu, yang sudah setengah tertidur dan setengah sadar. Nobunaga mendengus di belakang Kuroro, tapi tak mengatakan apapun. Kemudian Kuroro mendekati Kurapika dan melihat matanya. Benar juga, matanya sudah tidak fokus dan wajahnya berwarna seperti tomat.

"Kurapika?" Kuroro memanggil namanya, dan Kurapika menengadah dengan seringai bodoh di wajahnya. Kurapika mulai tersenyum padanya; senyum yang kekanak-kanakan.

"Ah...kau benar-benar kembali padaku," kata Kurapika. Kuroro menaikkan sebelah alis matanya.

"Kau mabuk. Ayo kita kembali." Kuroro menarik lengan Kurapika dan menariknya ke dalam posisi berdiri, tapi gadis itu tersandung dan hampir jatuh telentang jika Kuroro tidak segera memeluk pinggangnya. Kemudian Kurapika mulai tertawa cekikikan.

Kuroro menghela napas saat gadis yang sedang mabuk itu membiarkannya memeluknya; otomatis Kurapika bersandar pada Kuroro dan tenggelam dalam tawanya. Menyimpulkan bahwa Kurapika tidak mampu lagi berjalan, dengan santai Kuroro menyelipkan sebelah lengannya di balik kedua lutut Kurapika dan mengangkatnya, menggendongnya ala bridal style. Tindakannya, sepertinya, menimbulkan tiga tanggapan berbeda dari anak buahnya.

Shalnark menutupi mulutnya dengan tangan dan wajahnya memerah. Rahang Phinks menganga lebar, sementara Nobunaga menjadi kaku dan matanya membelalak; seolah akan meloncat keluar dari tempatnya. Sementara mereka tidak pernah melihat Kuroro melakukan hal seperti itu, Kuroro sendiri sudah terbiasa melakukannya; dia terpaksa membawa Kurapika seperti itu dalam beberapa situasi selama perjalanan mereka.

"Lord Hubert, aku harus pamit karena pasanganku sepertinya tidak bisa lagi mengikuti pesta ini," Kuroro undur diri dengan sopan kepada pemilik mansion itu.

"Oh...Oh baiklah...Heheh...Kau boleh pergi...," jawab Lord Hubert, ia mulai kehilangan ketepatan bicaranya karena anggur.

Kuroro sudah berbalik dan baru saja akan melangkah pergi saat bangsawan tua itu memanggilnya. Kuroro setengah berbalik dan menatapnya.

"Anak muda...kau beruntung...tidak gampang mendapatkan seorang wanita yang baik seperti milikmu..." Ia tertawa, dan Kuroro hampir berpikir pria tua itu sudah sadar kembali. Akhirnya, tepat setelah mengatakan hal itu, Lord Hubert jatuh tertidur di sofa.

Pemimpin Genei Ryodan itu menghela napas dan mulai melangkah menuju ke pintu keluar, keluar dari gedung itu. Setelah mereka sampai ke tempat persembunyian sementara; yang sebenarnya adalah hotel di mana Kuroro dan Kurapika tinggal, Kuroro berpikir tentang komentar aneh bangsawan itu.

Wanita yang baik? Ia merenung sambil melirik wajah Kurapika, yang tertidur dalam pelukannya. Mungkin saja dia memang wanita yang baik, jika tidak begitu bernafsu untuk membalas dendam.

.

.

"Danchou sudah berubah."

Shalnark melihat ke arah samurai yang berusia lebih tua darinya itu dengan alis mata yang dilengkungkan. Nobunaga memintanya untuk bicara secara pribadi, karena ada sesuatu yang ingin ia bahas dengan Shalnark. Shalnark tak mengira bahwa topiknya adalah mengenai Kuroro sendiri.

"Apa maksudmu?"

"Di mansion, ketika aku pergi dengannya untuk mencuri mata itu, aku menanyainya...sesuatu...," Nobunaga mengalihkan pandangannya, seolah ia sendiri merasa tidak yakin apakah akan memberitahukan semuanya kepada Shalnark atau tidak.

"Sesuatu apa?" Shalnark memandanginya lekat-lekat. "Beritahu aku semuanya, Nobu. Kalau tidak aku tak bisa membantu."

Nobunaga menggaruk bagian belakang kepalanya dan akhirnya menghela napas. Kemudian ia memberitahu Shalnark apa yang terjadi.

Flashback

Mereka berjalan dalam keheningan, Nobunaga sedikit berada di belakang Kuroro seperti bagaimana layaknya seorang pengawal. Nobunaga terus menatap punggung Kuroro dan memalingkan wajah, alis matanya berkerut seolah ada sesuatu yang mengganggunya. Akhirnya, Nobunaga tak bisa menahan dirinya lagi dan ia harus bertanya pada Kuroro.

"Danchou."

"Ya?"

"Apakah akan baik-baik saja meninggalkan gadis itu sendirian? Maksudku...dia bisa saja menyerang Shalnark dan Phinks dan...kau tahu...mengingat dia adalah Si Pengguna Rantai..."

"Dia akan tetap mengikuti rencana dan tidak akan melakukan apapun yang bodoh seperti itu. Aku jamin," jawab Kuroro dengan dingin.

"Tapi dia membenci kita! Maksudku...seharusnya kita tak boleh percaya padanya 'kan? Lagipula, dia membunuh Uvo..." Nobunaga mengepalkan tangannya saat teringat akan kematian sahabatnya di tangan Kurapika.

"Dan kita sudah membunuh seluruh keluarganya," jawab Kuroro, kali ini ada batas dalam nada suaranya. Nobunaga tidak melewatkannya, tapi tetap memaksakan pendapatnya.

"Tapi Danchou! Dia-"

"Nobu." Kuroro berhenti dan berbalik menghadap Nobunaga. Samurai itu membeku di tempatnya saat Kuroro sedikit membelalak padanya. "Aku sudah bepergian terus-menerus bersamanya beberapa minggu terakhir ini. Kau bisa mengatakan apapun yang ingin kau katakan, tapi tak ada satupun perkataanmu yang bisa mengubah pendapatku tentangnya."

Setelah mengatakan hal itu, Kuroro berbalik lagi dan melanjutkan langkahnya dalam kecepatan sebelumnya, seolah ia sama sekali tidak menunjukkan sedikitpun rasa kesal pada Nobunaga. Kuroro meninggalkan Nobunaga yang menganga terkejut.

End of Flashback

"Tidakkah itu aneh? Danchou percaya padanya!"

"Erh...yah..." Shalnark memalingkan wajahnya dan memeras otaknya untuk menemukan penjelasan yang tepat mengenai ikatan luar biasa di antara Kuroro dan Kurapika. Tentu saja Shalnark tidak akan sangat terkejut dan shock seperti Nobunaga jika dialah orang yang melihat reaksi Kuroro atas ketidakpercayaan dan kecurigaan Nobunaga terhadap Kurapika. Lagipula, Shalnark sudah pernah melihat keduanya dalam hubungan yang dekat seperti itu; misalnya saat di gua dan saat berada di kamar. Bahkan Machi dapat merasakan getaran tertentu di antara Kuroro dan Kurapika.

"Aku tidak tahu apakah ini akan membantumu menghadapi situasi ini atau tidak tapi...Kurapika mengatakan sesuatu saat itu..." ia menatap Nobunaga yang masih kebingungan.

"Saat itu?"

"Saat dia sedang berurusan dengan bangsawan pemilik mansion itu."

Flashback

"Hei...di mana pasanganmu?" Lord Hubert yang sudah mabuk itu bertanya pada Kurapika, yang wajahnya sudah memerah.

"Pasangan? Oh...maksudmu dia...," kata Kurapika dengan suara yang parau.

Phinks dan Shalnark menjadi tegang dan saling menatap dengan gugup. Lalu mereka melihat ke arah Kurapika dengan tatapan waspada, mempersiapkan diri jika gadis itu keceplosan mengatakan bahwa 'dia' yang ia maksud adalah Kuroro Lucifer.

"Sepertinya...dia telah mengabaikanmu...karena itulah, kau bisa...menemaniku...Aku menyukaimu, tahu?" Lord Hubert memandang Kurapika kagum bahkan dalam keadaanya yang sudah mabuk.

Tiba-tiba, Kurapika tertawa dalam cara yang sangat enak didengar. Tawanya berdering seperti bel di telinga Phinks dan Shalnark.

"Oh...dia tak akan meninggalkanku...Dia akan kembali padaku...pasti..."

End of Flashback

"Dia benar-benar bilang begitu?" mata Nobunaga sekarang terlihat menonjol seolah akan meloncat keluar dari kantung matanya.

"Ya. Kau bisa bertanya pada Phinks tentang itu. Bahkan dia bertanya apa yang sudah mereka lakukan selama 'perjalanan' mereka hingga sekarang," Shalnark menggelengkan kepalanya dengan jengkel.

"Beritahu aku juga!" dengan cepat Nobunaga menarik Shalnark dengan mencengkeram bagian depan bajunya dan mengguncang pemuda itu dengan dahsyat, seolah ia benar-benar mencoba mengeluarkan jawabannya dari Shalnark.

"J-Ja-Jangan gun-guncang-guncang a-aku! B-Bahkan-aku- a-aku tidak tahu!" Shalnark berkata dalam suara staccato sambil menarik pergelangan tangan Nobunaga, berusaha melepaskan dirinya dari samurai gila itu.

"Ck!" Nobunaga melepaskan Shalnark dan berjalan mengelilinginya dengan gugup.

"Santai, Nobu. Setidaknya kita tahu Danchou tidak berada dalam bahaya apapun 'kan?" Shalnark berkata sambil cemberut dan membetulkan bajunya kembali. Kenapa dia harus selalu menjadi subjek penganiayaan oleh setiap orang yang ada di kelompoknya?

"Tapi itu akan mengarah ke hal yang salah! Bagaimana jika akhirnya mereka bisa saling menerima satu sama lain?" Nobunaga berteriak gelisah.

"Kupikir itu seharusnya hal yang bagus?" tanya Shalnark dengan kebingungan terlihat di wajah baby face-nya.

"TENTU SAJA TIDAK! ITU BERARTI AKU TIDAK BISA MEMBALASKAN DENDAM UVO!" Nobunaga berseru pada Shalnark hingga pemuda itu harus melindungi dirinya dari muncratan ludah Nobunaga.

"Kenapa kau berpikir begitu?"

"Karena...aku merasakan sesuatu yang mengerikan...jika Danchou benar-benar menerima gadis itu, ia akan melindunginya dari pembalasan dendamku..."

'Yah, kurasa sudah pasti Danchou akan melakukannya,' pikir Shalnark, tapi dengan bijaksana ia menyimpan pemikiran itu untuk dirinya sendiri karena takut Nobunaga akan berubah pikiran dan memutilasinya daripada memutilasi Si Pengguna Rantai.

.

.

"Aniki...," Kurapika berkata dalam kondisinya yang setengah tertidur. Kurapika memeluk Kuroro erat dengan penuh kasih sayang, hingga bisa membuat orang lain menduga bahwa mereka memang sepasang kekasih. Kuroro menghela napas. Dalam khayalan Kurapika, dia memeluknya dan mereka berdua jatuh mendarat ke lantai dengan lengannya merangkul leher pria itu.

Kurapika menekankan wajahnya ke dada Kuroro, sebuah senyum kekanak-kanakan tampak di wajahnya. Kuroro menunduk melirik gadis itu, yang otomatis berbaring di atasnya. Wajahnya memerah karena alkohol, tapi pastinya dia terlihat lebih cantik saat tersenyum seperti itu. Berminggu-minggu mereka bepergian bersama, Kurapika tidak pernah tersenyum padanya; tidak sekalipun jika senyum sinis tidak ikut dihitung. Saat Kurapika tersenyum hanyalah ketika dia mabuk. Yah, Kuroro tidak bisa menyalahkannya. Lagipula, dia adalah musuh bebuyutannya; orang yang membuat Kurapika menjadi yatim piatu, orang yang telah membunuh seluruh sukunya, satu-satunya orang yang dibenci Kurapika dengan sepenuh jiwanya. Kurapika tak punya alasan untuk tersenyum pada Kuroro.

"Aniki...," Kurapika bergumam lagi.

Kuroro memandangnya dan mengulurkan tangannya. Ia menepuk kepala gadis itu dengan lembut, dan Kurapika tertawa pelan, seperti anak kecil. Kuroro menaikkan sebelah alis matanya. Dalam situasi normal, Kurapika akan menepiskan tangannya, menatapnya tajam, atau melemparkan kata-kata sinis padanya. Sebenarnya, sekalinya Kuroro bisa menyentuh Kurapika tanpa dipelototi olehnya adalah saat gadis itu mabuk. Kuroro mengacak-acak rambut Kurapika; yang terasa halus dan lembut. Kurapika menghela napas senang, seperti seekor kucing yang dimanjakan, dan dia mendongak menatap Kuroro. Kuroro pun berhenti, takut Kurapika sadar dan menyadari situasi mengerikan yang tengah ia alami saat ini.

Namun, hal itu tak pernah terjadi. Kurapika mencondongkan badannya ke depan dan mencium pipi Kuroro; dengan lembut dan penuh kasih sayang. Kuroro membeku, sekujur tubuhnya menjadi kaku. Dalam 27 tahun hidupnya, tak ada wanita yang pernah menciumnya. Yah, lagipula Kuroro tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk melakukannya, tapi kali ini dia benar-benar lengah. Kurapika mengangkat kepalanya dan menatap ke dalam mata Kuroro yang gelap; mata birunya tidak fokus karena alkohol. Walau begitu, Kuroro tidak melewatkan cahaya kesedihan di mata aquamarine itu.

"Aniki...aku tersesat...," bisik Kurapika. "Apa yang harus kulakukan sekarang...?"

Kuroro mengernyit mendengar pernyataannya. Terdengar tidak seperti Kurapika, kehilangan tujuan seperti itu. Kuroro selalu berpikir bahwa tujuan gadis itu lurus ke depan dan tak mungkin untuk dilupakan. Kenapa Kurapika mengatakan hal itu, seolah menunjukkan bahwa dia kehilangan fokus dalam melakukan tugasnya?

"Apakah aku...melakukan hal yang benar..? Beritahu aku...Aniki..."

Kuroro membiarkan gadis itu tenggelam dalam renungannya, sementara ia mendengarkannya dalam diam. Akhirnya Kurapika jatuh tertidur di atas Kuroro, dan dengan sebuah helaan napas, ia beranjak bangun dan membaringkan gadis itu di tempat tidur. Kuroro duduk di tempat tidurnya sendiri dan memikirkan ocehan Kurapika.

Keraguan diri, itulah yang dialami Kurapika sekarang. Tanpa seorangpun yang bisa memberinya saran, dia hanya bisa bergantung pada pengetahuan dan hati nuraninya. Adalah normal bagi seseorang pada usianya mengalami keraguan diri, kehilangan pandangan hidupnya, menjadi bingung atas dirinya sendiri. Kuroro, walau bagaimanapun juga, tidak bisa dihubungkan dengan itu. Dia selalu mengetahui dengan jelas apa yang dia inginkan dan bagaimana dia akan melakukannya. Pendidikan dan asuhan yang ia terima begitu keras dan menyeluruh, jadi Kuroro tak punya waktu untuk meragukan dirinya sendiri. Tumbuh di Ryuusei-gai, kemandirian dan kebebasanlah yang dia pelajari di masa kecilnya. Dan lagi, dia adalah orang dewasa yang prematur; itu yang selalu dikatakan Ishtar padanya.

"Aku tak bisa membantumu," tanpa sadar ia memberitahu Kurapika yang sedang tidur. "Kau harus menemukan jawabannya sendiri."

Mengingat bahwa merupakan suatu kesempatan yang langka mereka tidak terbelenggu oleh sihir Hassamunnin, Kuroro memutuskan untuk menikmati waktunya dengan mandi air panas. Saat mandi, dia tak tahan untuk tidak merenungkan apa yang Kurapika gumamkan saat mabuk.

Apakah aku melakukan hal yang benar?

Kuroro mendengus. Kadang-kadang, ia berpikir bahwa hati nurani gadis itu yang bermoral tinggi terlalu berlebihan. Lalu, mungkin saja Kuroro-lah yang kekurangan moral itu. Tiba-tiba, sebuah pertanyaan muncul di benaknya.

Kenapa kaulakukan apa yang kaulakukan sekarang? Kenapa?

Pertanyaan yang dimulai dengan kata 'kenapa' adalah kelemahannya. Dia tidak pernah mencoba untuk merumuskan alasannya dengan kata-kata. Semua yang dilakukan Kuroro hanya berdasarkan pada apa yang dia inginkan, dan apa yang terbaik bagi kelompoknya. Jarang sekali dikendalikan oleh alasan yang jelas. Dia tak pernah banyak memikirkan tentang tindakan dan keputusannya, kecuali pertimbangan mengenai keuntungan terbaik untuk Gen'ei Ryodan. Dia tidak benar-benar mempedulikan akibat dari keputusannya bagi orang-orang yang tidak berhubungan dengannya.

"Kurasa kau benar, Kurapika. Aku orang yang egois," ia merenung. Hatsubaba memberitahunya tentang pendapat Kurapika mengenai dirinya. Kuroro tidak terkejut dengan pendapat Kurapika yang sangat negatif tentangnya. Dia tak pernah terlalu peduli pada pendapat orang lain mengenai dirinya. Mereka bisa mengatakan semua yang ingin mereka katakan tentang Kuroro, tapi pria itu tak akan peduli.

Lalu, hal itu menunjukkan betapa egoisnya dia.

.

.

Saat Kurapika bangun, hal pertama yang menyambutnya bukanlah cahaya hangat mentari, tapi sakit kepala yang sangat parah. Kurapika mengerang kesakitan dan menggulingkan badannya di tempat tidur, memegangi kepalanya sambil memejamkan matanya kuat-kuat. Lalu Kurapika menyadari bahwa dia tidak bisa bergerak dengan bebas, seolah baju yang ia kenakan membatasinya. Rambut dan wajahnya pun terasa aneh. Ketika Kurapika merasa tak tahan lagi, dia memutuskan untuk beranjak dan memeriksa apa yang salah dengannya.

"Ooh..." segera setelah Kurapika bangkit, kepalanya diserang oleh sakit kepala terburuk yang pernah ia alami. Kurapika mencondongkan badannya ke depan dan menggenggam seprai tempat tidur, sementara tangan yang satunya lagi memijit pelipisnya untuk membantunya menghilangkan rasa berdenyut-denyut itu.

"Sakit?" sebuah suara yang terlalu familiar berbicara di sampingnya.

Kurapika berbalik dan melihat Kuroro duduk di atas tempat tidur di dekat tempat tidurnya, ia mengenakan baju yang terlihat nyaman. Sepertinya Kuroro pun baru saja bangun. Saat Kuroro melihat raut wajah bingung gadis itu, ia menunjuk pakaian yang dikenakannya. Dengan hati-hati Kurapika melihat ke bawah, dan betapa terkejutnya dia melihat dirinya sendiri masih mengenakan gaun yang ia pakai untuk pesta semalam.

"Apa? Kenapa? Bagaimana?" Kurapika berkedip, tak mengerti bagaimana dan kenapa dia tertidur dengan masih mengenakan gaun itu.

"Kau minum terlalu banyak." Kuroro mengangkat bahunya, seolah itu bukan masalah besar.

"Aku mabuk?" Kurapika berkata, terdengar ketakutan, "Apakah aku melakukan atau mengatakan sesuatu yang bodoh?"

"Selama pesta, kau tidak begitu." Kuroro menyembunyikan seringainya, tapi Kurapika memperhatikan sesuatu dari pilihan kata-kata yang diucapkan Kuroro.

"Selama pesta...Lalu, setelah pesta...?" Kurapika takut mendengar jawabannya, tapi dia harus tahu.

"Kau mengoceh tak jelas. Tapi lagi-lagi, kau salah mengenaliku sebagai kakakmu."

"Tak mungkin..." Kurapika menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan membungkuk, seolah dia sedang berduka. Kuroro membiarkannya meratap diam-diam, sebelum gadis itu mengangkat wajahnya lagi. "Apa yang kulakukan kali ini?"

"Kau tak akan mau tahu," jawab Kuroro singkat. "Itu hanya saat kegilaanmu."

"APA? Apa maksudmu? Kau tidak mengatakan bahwa aku-" sepertinya Kurapika tersedak pada kata terakhir.

"Lalu, menurutmu apa yang kaulakukan?" Kuroro balik bertanya, sebuah senyum gembira tampak di wajahnya yang biasanya tak menunjukkan emosi apapun.

"Aku-Berhenti membodohiku!" Kurapika berteriak padanya, wajahnya sudah benar-benar memerah.

"Bukan masalah besar, benar kok," kini Kuroro hampir tertawa terbahak-bahak.

"Kalau begitu, beritahu aku!" Kurapika terus berteriak.

"Kau memelukku, dan..."

Kurapika sudah ketakutan saat Kuroro menjawab pertanyaannya, tapi saat dia berhenti sejenak, gadis itu menatapnya ngeri. "...dan?"

"Kau menciumku."

"TIDAK MUNGKIN!" wajah Kurapika terlihat seolah terbakar.

"...di pipi."

Bantal pun melayang dan mencium wajah Kuroro.

TBC

.

.

A/N :

Review please...^^