DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.
GENRE :
Adventure & Romance
WARNING :
FemKura. An Indonesian version for 1001 Nights by Runandra, one of my favorite author!^^
.
A/N :
Sepertinya aku akan berusaha membalas review di bagian akhir fic mulai sekarang...
Happy reading^^
CHAPTER 12 : LOOKING BACK PART 1 – CRIMSON SKY
"Hari ini akan menjadi hari pertama dari minggu keempat sejak kita keluar dari hutan tempat tinggal Chiron, dan kita sudah berjalan tanpa henti, masih belum sampaikah kita ke tempat itu?" Kurapika bergumam sambil memasukkan selimutnya yang tipis ke dalam ransel.
"Jangan tanya aku. Pemandu yang kita punya hanyalah anak Unicorn itu, dan yang bisa kita lakukan sekarang hanya mengikutinya," Kuroro mengangkat bahu sambil melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Kurapika.
Ketika mereka keluar dari hutan ajaib itu, mereka menyadari bahwa mereka keluar di hutan yang sama sekali tidak mereka kenal. Mungkin saja mereka berada di bagian akhir dari sisi lain dunia, dengan mempertimbangkan semua tentang makhluk ajaib. Lagipula, Harpy tidak memberi Kuroro dan Kurapika waktu untuk mengamati tempat sekelilingnya ketika mereka dibawa pergi dari hutan tempat tinggal Chiron. Mereka berjalan selama satu minggu, sebelum Kurapika diserang oleh periode menstruasi bulanannya sehingga mereka harus berhenti menetap di kota selama sekitar satu minggu, dan setelah itu berjalan tanpa henti selama hampir satu minggu juga.
"Kita harus memberinya nama. Rasanya tidak nyaman terus memanggilnya 'anak Unicorn'," Kurapika berkata sambil membelai surai kuda itu yang berwarna keperakan. Kuda itu menciumi tangannya dengan lembut.
"Itu tugasmu," kata Kuroro sambil berlalu dan menyandang ranselnya di bahu.
Kurapika menatapnya marah, namun tak mengatakan apapun untuk membalasnya. Ketika mereka melintasi hutan, dengan Si Unicorn sedikit berada di depan keduanya bertugas sebagai pemandu, Kurapika merenungkan hal itu. Entah kenapa, dia tak bisa memikirkan nama untuk anak kuda itu. Seolah pikirannya diblokir. Sesaat kemudian, Kurapika hampir saja menyerah ketika tiba-tiba dia mendengar sebuah suara.
Una...
"Heh? Apa kau mengatakan sesuatu?" Kurapika mengangkat wajahnya dan melirik Kuroro.
Kuroro menatapnya dengan raut wajah yang sedikit terlihat bingung. Dia mengangkat sebelah alis matanya, tapi tetap mempertahankan kecepatan langkahnya.
"Kukira itu kau," jawab Kuroro.
Una...Aku...
Secara bersamaan, Kuroro dan Kurapika mengalihkan pandangan mereka ke anak Unicorn, yang sudah berhenti dan menoleh untuk balik menatap mereka dengan matanya yang bulat. Kemudian dia menyenggol pelan pipi Kurapika dengan hidungnya.
"Itu kau," seru Kurapika sambil menepuk kepala Si Unicorn. "Jadi namamu Una?"
Lagi-lagi, Si Unicorn menciumi telapak tangan Kurapika dan menghela napas dengan lembut, seolah membenarkan pendapatnya. Kuroro menatap ke arah Si Unicorn dengan ketertarikan yang baru.
"Lalu kenapa kau tidak memberitahu kami lebih awal?" Kurapika bertanya sambil menepuk kuda ajaib itu dengan penuh kasih.
"Yah kurasa itu karena dia masih seekor anak kuda. Dalam dunia manusia, mungkin sama dengan balita," Kuroro mengatakan pendapatnya. "Dia masih sangat muda hingga hampir belum bisa merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat."
Kurapika tidak menanggapi hipotesis Kuroro, dan dia hanya menatap kuda putih itu dengan kagum. Kuda itu masih sangat muda namun berani menjelajahi dunia bersama Kuroro dan Kurapika. Dia sangat berani. Itu membuat Kurapika memikirkan tentang keluarganya. Kenapa dia tidak menemui kelompoknya di hutan Chiron tadi?
"Ngomong-ngomong, mungkin kita coba saja peruntungan kita."
Kurapika mendongak dan menatap pria itu dengan bingung.
"Una, bisa kau beritahu kami berapa jauh lagi tempat Lady Merah itu?" Kuroro maju selangkah dan menatap anak kuda itu langsung ke matanya. Dia hanya bisa berharap anak kuda itu bisa membuat kalimat yang tepat, karena tampaknya dia sudah mengerti percakapan manusia.
Tidak jauh..., kata Una secara telepatis.
"Jadi tempat itu sudah dekat?" tanya Kurapika penuh harap.
Tidak dekat..., Una menjawab lagi, jawabannya bertolak belakang.
"Apa?" terlihat jelas bahu Kurapika menjadi lunglai. "Jadi yang mana?"
"Keduanya. Tidak terlalu jauh, tapi juga tidak terlalu dekat. Artinya, kita harus terus berjalan dan mungkin akan sampai ke sana hari ini," Kuroro mengangkat bahu, seolah ia tak peduli sama sekali.
"Sungguh membantu," Kurapika berkata dengan sinis; dan Kuroro mengabaikan hal ini. Dia sudah terbiasa dengan cemoohan gadis itu.
"Dan begitu percaya dirinya kau." Kurapika memicingkan matanya sambil sedikit memanyunkan bibirnya; yang ditanggapi Kuroro dengan sebuah seringai di wajahnya.
Hal itu sedikit mengejutkan Kurapika, karena sebenarnya dia jarang melihatnya menyeringai dengan cara bercanda seperti itu. Biasanya dia akan bersikap diam, menyeringai nakal dengan jahatnya, atau bersikap sombong, tapi tidak sambil bercanda. Selama sepersekian detik, Kurapika sangat terkejut seolah terpaku. Kuroro berbalik dan melanjutkan langkahnya, menyeret Kurapika bersama dengan belenggu yang ada di antara mereka. Tentu, belenggu itu sudah melebar secara signifikan, dan Kurapika tidak bisa berpura-pura tidak tahu. Tetap saja, dia akan memilih untuk tidak mengangkat topik itu, jika memang memungkinkan. Membicarakannya hanya akan membuat situasi menjadi lebih canggung; dan Kurapika sudah cukup sering berada dalam situasi yang canggung dan memalukan bersama Pemimpin Laba-laba itu.
"Itukah tempatnya, Una?" Kurapika membelai surai anak Unicorn itu sambil melihat sebuah pulau kecil yang mengapung tak jauh ke laut.
"Kita sudah menemukan tempatnya, tapi masalahnya sekarang...bagaimana caranya kita ke sana? Tempatnya berada di lepas pantai, dan tidak ada alat transportasi apapun untuk mencapainya," Kuroro melangkah maju dan berdiri di tepi tebing di mana mereka berpijak sekarang dan mengamati sekeliling.
Tidak ada kota ataupun tanda-tanda adanya peradaban di dekat sana, dan nelayan tidak suka berada di tempat itu, karena pantainya agak berbatu. Berenang menuju ke pulau itu hampir mustahil, sama saja dengan bunuh diri. Kuroro tidak bisa menggunakan kemampuan teleportasi karena kemampuan itu mensyaratkannya pernah berada di tempat yang akan dituju walaupun hanya sekali. Dia tidak bisa melakukan teleportasi ke tempat yang benar-benar belum dikunjunginya. Satu cara melintasi lautan adalah dengan terbang, tapi tidak seorang pun dari Kuroro dan Kurapika memiliki kemampuan seperti itu. Jika Harpy yang pernah mengantar mereka ada di sana, hal itu tidak akan terlalu menjadi masalah. Sayangnya yang pergi bersama mereka adalah Unicorn, bukan Pegasus.
Tunggangi Una...Anak kuda itu tiba-tiba memberitahu Kurapika sambil menyenggol gadis itu dengan hidungnya. Una berjalan di air...
"Menunggangimu? Bisakah kau melakukannya? Kau masih seekor anak kuda."
"Seharusnya tidak apa-apa, mengingat tubuhmu kecil. Lagipula dia bukanlah anak kuda biasa," Kuroro mengangkat bahu. "Meski begitu, masalahnya hanya kau yang bisa menungganginya."
"Kenapa?" Kurapika berkedip.
"Suatu larangan suci bagi pria untuk menunggangi Unicorn," Kuroro berkata dengan nada suara yang datar, seolah dia tidak tertarik.
Una mendekati Kuroro dan kemudian menyenggol bahunya pelan. Tunggangi aku...Dia berkata lagi, kali ini kepada Kuroro. Kuroro berbalik padanya dan membelai surai anak kuda itu, tapi raut wajahnya terlihat keras.
"Kau akan dikucilkan oleh kelompokmu," kata Kuroro, seolah mengingatkan Una. Kurapika melihat sambil mengamati mereka.
Mereka membuang Una...Una sendirian...Una berkata dengan sedih sambil menyandarkan kepalanya ke arah Kuroro, menikmati perhatian yang diberikan pria itu.
Kurapika mengernyit mendengarnya. Bagaimanapun juga, dia merasa sedih untuk kuda itu, dan marah kepada kelompoknya. Kenapa mereka membuangnya? Makhluk yang cantik dan tak berdosa seperti itu. Namun, ketika Una mengatakan bahwa dia sendirian, jantung Kurapika berdenyut. Gadis itu merasanya seolah jantungnya dicubit; dia teringat ketika bepergian sendiri dari Gunung Rukuso. Saat itu, Kurapika merasa sendirian di dunia ini.
"Jadi itukah alasannya kenapa kau pergi bersama kami?" Kuroro bertanya lagi.
Una pergi dengan kalian...Una membantu kalian...Dia bergeser sehingga Kuroro menghadap panggulnya; menandakan bahwa dia siap untuk dinaiki Kuroro. Dia tidak peduli kelompoknya akan mengucilkannya atau tidak; mereka sudah membuangnya. Kuroro menatap Una sejenak, sebelum dia menepuk pelan bagian belakang kuda itu, dan kemudian dengan sekali lompatan duduk di punggung Una. Ketika Kuroro melompatinya, Una tidak bergerak sedikitpun; seolah Kuroro tak pernah berada di punggungnya, seolah pria itu tidak memiliki bobot sama sekali.
"Ayo," Kuroro mengisyaratkan Kurapika untuk melompat ke belakangnya.
"Apa dia akan baik-baik saja? Maksudku, jika dua orang menungganginya...," Kurapika memandangi anak kuda itu dengan ragu. Kuroro memutar kedua bola matanya dengan jengkel.
Una kuat...Una bisa membawa Kuroro dan Kurapika...
"Hei, dia ingat nama kita," Kurapika berkata dengan mata terbelalak.
"Cepat, Nak," ucap Kuroro, suaranya terdengar mengejek.
"Aku bukan anak-anak!" Sambil merengut, Kurapika melompati Una dan duduk di belakang Kuroro.
"Kalau begitu bersikaplah sesuai dengan umurmu," Kuroro berkata sambil mendengus pelan, masih mengejek gadis itu.
Tiba-tiba, tanpa peringatan sebelumnya atau apapun, Una mulai berderap menuju ke laut berbatu. Terkejut, Kurapika menjerit dan secara insting berpegangan pada apapun yang berada dalam jangkauan tangannya; pinggang Kuroro. Ketika Kurapika tiba-tiba menempel erat pada Kuroro, Kuroro terdiam tapi tak mengatakan apapun. Dia berpegangan pada surai Una, berhati-hati untuk tidak menggenggamnya terlalu kuat, jangan sampai dia menyakiti anak kuda itu. Kemudian mereka mulai menunggangi Unicorn menuju ke pulau kecil yang mengapung di lepas pantai berbatu.
Kurapika menoleh, melirik sebentar melewati bahunya. Dia bisa melihat pantai berbatu tidak jauh letaknya; dan sekarang mereka menunggangi Unicorn di tengah jurang kecil di antara pulau dan pantai itu. Kurapika memperhatikan ada riak air kapanpun Una melangkah di permukaannya tapi dia tahu Unicorn itu tidak menyentuhnya; dia mengapung di atasnya. Tanpa banyak hambatan maupun masalah lainnya, mereka sampai di pulau kecil itu dalam keadaan kering dan aman. Cepat-cepat keduanya turun dari punggung Una segera setelah mereka berada di tanah yang kering.
Di depan Kuroro dan Kurapika ada sebuah gua; dan dari penampakannya, itu adalah gua di dalam air. Jalan kecil dari mulut gua itu terlihat menurun, dan di sana hampir gelap gulita. Tak ada suara angin yang bertiup dari dalam gua, maka gua itu merupakan suatu jalan buntu.
"Jadi kita pergi ke bawah, hah?" Kurapika bergumam pelan.
"Apa lagi?" Kuroro mengangkat bahu.
Una memandumu...Anak Unicorn itu melangkah maju dan memasuki gua. Segera setelah dia ditelan kegelapan hutan itu, tiba-tiba tanduknya bersinar seperti bara obor. Sinar itu memberi Kuroro dan Kurapika cahaya yang memadai untuk berjalan sehingga tidak akan tersandung. Maka ketiganya melangkah maju ke medan berbatu, turun ke dalam perut gua.
Selama beberapa menit mereka terus melintasi jalan kecil yang lurus, landai, namun berbatu. Una tidak terlihat memiliki kesulitan apapun saat berjalan menuruni lereng gua. Setelah sekitar beberapa menit, mereka melihat cahaya di ujung terowongan yang dingin dan gelap.
"Aku sudah menunggu kalian," sebuah suara wanita yang lembut—selembut beludru—menyapa mereka. Kuroro tersentak walau hampir tak kentara. Suara itu mengingatkannya pada sosok Ishtar.
Ketika akhirnya mereka keluar ke dalam ruangan luas di ujung terowongan, mereka disambut oleh seorang wanita dengan penampilan yang luar biasa. Dia memiliki mata berwarna emas yang tajam, rambutnya berwarna seperti warna kobaran api dan emas. Pakaiannya terbuat dari sutra dan satin transparan berwarna merah tua dan bersinar keemasan. Di kepalanya ada sebuah lingkaran emas dengan sebuah batu rubi dan bulu yang sangat besar di atasnya di kening wanita itu. Bulu itu terlihat berkilau seperti bubuk peri; berwarna merah dan halus seperti kobaran api. Dia duduk di sofa yang ditutupi kain satin merah.
"Phoenix," Kuroro bergumam segera setelah pandangannya tertuju ke wanita itu. Dia tak mungkin salah. Lady Merah, ya itulah dugaannya.
"Itulah aku. Sekarang kemarilah, Anak-anak. Aku sudah mendengar dari Chiron dan Ishtar mengenai keadaan kalian," dia mengisyaratkan Kuroro dan Kurapika untuk mendekat.
Hanya Una yang datang mendekatinya. Phoenix itu berdecak kagum saat melihatnya lalu menepuk surai peraknya dengan lembut.
"Oh, betapa cantiknya kau. Dan kau juga punya nama yang cantik. Una, ya?" Dia memandang anak Unicorn itu dengan mata penuh kasih. Una menjilat tangannya sekali, menghargai perhatian yang diberikan wanita itu kepadanya.
"Apa kau akan menolong kami?" Kurapika bertanya dengan sedikit curiga.
"Apa lagi yang akan kulakukan? Teman-teman lamaku yang baik mengirim kalian kepadaku setelah memberitahukan tentang semuanya. Tentu saja aku tak bisa menolak mereka. Di samping itu, kalian sudah menempuh jalan ke sini dari hutan Si Tua itu."
Kurapika memandang Kuroro, begitu pula halnya dengan pria itu. Mereka memikirkan hal yang sama : mengingat bahwa Lady Merah, Chiron dan Ishtar adalah teman lama, cara mereka bicara sangat berbeda. Sementara Ishtar sangat sopan dan formal, Chiron kuno, dan Phoenix ini cukup funky dan modern.
"Terlepas dari mereka semua...," Wanita itu sekarang memandangi mereka dengan tatapan tertarik. "Aku sendiri memang cukup penasaran."
Mengesampingkan harga dirinya, Kurapika mungkin akan mundur ketika Phoenix melihatnya dengan cara seperti itu. Hal itu membuatnya takut. Dia terlihat seperti akan bersenang-senang di atas penderitaan Kurapika.
"Baiklah, apalagi yang kalian tunggu? Mendekatlah, aku tidak menggigit."
Tak seorangpun dari Kuroro dan Kurapika bergerak, dan Phoenix itu pun menghela napas.
"Baiklah jika kalian tidak mau. Bukan masalah besar," Dia memutar kedua bola matanya. "Lagipula aku bisa melakukannya dari sini." Dia mengangkat bahunya dengan cuek.
Tiba-tiba saja, api menyala...menyebar dari tempat di mana Lady Merah sedang duduk. Refleks, Kuroro dan Kurapika berusaha menghindarinya tapi mereka terlalu lambat. Atau setidaknya, api itu yang bergerak terlalu cepat. Dalam waktu sekejap saja kobaran api sudah mengelilingi mereka, menjilat pakaian dan kulit mereka. Panik, Kurapika mencoba memadamkan api namun Kuroro menghentikannya.
"Jangan khawatir, api Phoenix tidak membakar," Kuroro memberitahu sambil memegangi lengan gadis itu dengan erat. "...Kecuali kau bukan perawan," dia berkata sambil mengalihkan pandangannya.
Kurapika bisa merasakan wajahnya terbakar karena malu. Kenapa Kuroro harus mengatakan hal seperti itu di saat yang gawat seperti sekarang ini?
"Seperti yang diharapkan dari 'putra' Ishtar tersayang," Lady Merah menyeringai, mengabaikan tatapan tajam Kuroro. "Kalau begitu, bisa kita mulai?"
"Ke mana?" Kuroro bertanya dari tengah-tengah gemuruh api.
"Ke ruang virtual yang merupakan duniaku," Lady Merah tersenyum pada Kuroro dan Kurapika dengan seringai senangnya yang khas. "Ke rekaman sinema masa lalu kalian."
Sebelum Kuroro dan Kurapika bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk menunjukkan rasa terkejut dan protes yang teramat sangat, kobaran api menelan mereka sepenuhnya dan mereka dikirim ke kegelapan tak berujung yang bukan main dalamnya. Kuroro masih memegangi lengan Kurapika saat mereka terjun bebas ke dalam kegelapan.
"Masa lalu...berharga untuk dipelajari."
Dan keduanya terhempas ke dalam kondisi tak sadarkan diri.
Ketika Kuroro sadar kembali, dia sudah sendirian dalam kegelapan. Dia tidak lagi memegangi lengan Kurapika, gadis itu tak ada di manapun. Dia tidak tahu arah ke atas dan ke bawah, kiri dan kanan. Dia hanya...mengapung dalam kegelapan. Tak tahu apa yang harus dilakukan, Kuroro menunggu. Dia adalah pria yang berhati-hati, jadi dia akan menunggu dan melihat apa yang akan terjadi. Dari kata-kata Phoenix itu, sepertinya dia tidak bermaksud melukai Kuroro dan Kurapika. Tiba-tiba saja, sudut mata Kuroro menangkap kerlap-kerlip cahaya. Dia berbalik dan melihat setitik cahaya dari jauh. Yah, dia tidak tahu apakah cahaya itu memang jauh atau cahaya itu kecil sehingga membuatnya mengira berasal dari jarak yang jauh. Bagaimanapun juga, tiba-tiba cahaya itu bertambah terang dan bertambah besar ukurannya, dan Kuroro segera kewalahan dibuatnya. Refleks, Kuroro menutupi matanya dengan kedua tangan. Ketika dia merasa cahaya itu sudah meredup, dengan hati-hati dia membuka matanya, dan menemukan dirinya sudah mendarat di suatu tempat di bumi yang tidak dikenalnya sama sekali. Dia ada di hutan.
"Aniki! Aniki, di mana kau?"
Kuroro mendengar suara seorang gadis kecil. Dia berbalik waspada, setengah mengantisipasi apa yang akan dilihatnya. Cukup tepat dugaannya, dia melihat seorang gadis kecil; berambut pirang, bermata aquamarine dan berumur sekitar tiga belas tahun, tersandung semak-semak yang berada di dekat Kuroro. Kuroro sudah menyiapkan diri untuk melihat Kurapika dalam versi yang lebih muda, tapi tetap saja dia tidak siap untuk melihat seorang gadis kecil yang mungil dan manis. Gadis kecil itu terlihat seperti boneka; bahkan Kuroro pun tak bisa memungkiri hal ini.
"Aniki!" Gadis kecil itu berteriak lagi sambil mencari di sekitar semak-semak untuk menemukan kakaknya.
"Di sini, Kairi," terdengar suara yang lain; jelas sekali itu suara laki-laki namun masih ada kesan anak-anak di dalamnya, terdengar dari balik salah satu semak-semak.
Kuroro pikir dia salah mendengarnya, tapi dia tahu pendengarannya masih sempurna. Hanya saja ketika Kuroro mengira dia sedang melihat Kurapika di masa kanak-kanaknya, gadis kecil itu memiliki nama yang berbeda. Kairi. Apakah dia anak yang berbeda...atau seperti apa yang dia kira?
Sebuah sosok keluar dari balik salah satu semak-semak. Kuroro berbalik dan melihat ke arah sosok itu. Dia jarang menunjukkan raut wajah ketika dia terkejut ataupun kaget; menaikkan sebelah alis mata adalah hal yang paling sering dilakukan Kuroro. Meski begitu, Kuroro tidak tahu apakah itu juga yang dia lakukan sekarang karena dia sendirian di sana, tapi Kuroro dengan jelas menunjukkan ekspresi terkejut ketika melihat tiruani Kurapika yang sama persis; Kurapika yang sekarang; Kurapika-nya.
'Seperti yang kupikirkan...,' Kuroro merenung diam-diam. 'Seorang kakak yang mirip, sekitar lima tahun lebih tua darinya...dan namanya yang sebenarnya adalah Kairi, bukan Kurapika.'
"Kairi, kau membolos lagi 'kan? Seharusnya kau ada di kelas sekarang!" versi laki-laki dari Kurapika; orang yang biasa dikenal Kuroro ketika Kurapika masih menyamar sebagai laki-laki, bertolak pinggang dan berdiri di hadapan si gadis kecil, mencoba sebisa mungkin untuk terlihat mengintimidasi.
"Tapi kelasnya sangaaaaaaatt membosankan, aku bisa mati kebosanan," gadis kecil itu cemberut dan meletakkan kedua tangannya di belakang kepala, jelas sekali dia tidak terintimidasi oleh kakaknya. Dia tahu kakaknya itu terlalu baik untuk menakutinya.
"Kau pikir kau sangat pintar, hah? Berpikir bahwa kau sudah tahu apapun yang sedang mereka ajarkan di kelas," kakaknya memicingkan matanya.
"Tapi kau mengajariku lebih dari yang mereka ajarkan di kelas. Aku tahu kau juga membolos waktu kau seumurku! Ayah dan Ibu memberitahukannya padaku! Mereka bilang : 'Jangan seperti kakakmu, dia selalu membolos dan berkelana di hutan, melakukan entah apa yang hanya Tuhan yang tahu.' Itu. Kau lebih banyak belajar di luar daripada di kelas, 'kan? Aku juga begitu."
Kuroro mendengus geli. Gadis kecil itu mengatakan semuanya dengan menyilangkan kedua tangannya di dada dan mendongakkan kepalanya, menantang sang kakak. Benar-benar seperti Kurapika yang dikenalnya. Meski begitu, kakaknya memijit ujung hidungnya dan menghela napas berat. Dia menatap adik perempuannya dan akhirnya menggelengkan kepala dengan helaan napas berat lagi.
"Untuk apa kau menghela napas seperti itu? Kau benar-benar seperti orang tua, Kakek Kurapika," si gadis kecil menyeringai lebar kepada kakaknya; Kurapika yang sebenarnya.
"Oh, diamlah, Kairi. Atau aku tak akan mengajarimu apapun hari ini," ancam kakaknya, dan kali ini cara itu berhasil.
"Jangan marah, Aniki. Kaulah yang terbaik!" dengan cepat si gadis kecil berpegangan ke leher kakaknya dan menciumnya di pipi. Kuroro membeku selama sepersekian detik lamanya; itu sama persis dengan apa yang dilakukan Kurapika-nya pada Kuroro ketika dia mabuk dan tak sadarkan diri. "Ayo, ayo, cepat kita pergi."
"Sebelum mereka menangkapmu, 'kan?"
Pemuda itu menyeringai pada adiknya, meskipun begitu dia meraih tangannya dan pergi ke dalam hutan, membawa si gadis kecil bersamanya.
Tiba-tiba, semuanya menjadi statis dan udara berdengung lembut. Seolah molekul-molekul di dalam udara bergetar. Kuroro dapat merasakan ruang dan waktu jadi berubah, dan ketika semuanya stabil dan senandung serta getaran itu sudah berhenti, dia sudah ada di bagian lain hutan itu.
"Kairi, aku punya hadiah untukmu."
Kuroro berbalik dan melihat mereka berdua lagi. Keduanya berbaring di atas rumput di sebuah lereng yang menghadap ke laut. Cuacanya hangat dan sinar matahari tidak terlalu panas. Itu adalah hari yang sempurna untuk bermalas-malasan.
"Benarkah? Hadiah apa?" si gadis kecil beranjak dan berseri-seri menatap kakaknya dengan mata birunya yang besar. Itu adalah ekspresi yang tak akan pernah dilihat Kuroro seumur hidupnya.
"Ini." Si pemuda mengeluarkan sesuatu dari sakunya; sesuatu yang kecil dan berkilau. Dia memasukkannya ke tangan si gadis kecil dan memberinya senyuman yang terlihat bodoh. Si gadis kecil membuka telapak tangannya dan menatap benda yang ada di sana. Itu sebuah anting; tidak, ANTING ITU! Mata Kuroro membelalak walau hanya sekilas. Itu adalah anting yang begitu berharga bagi Kurapika-nya, dan di waktu yang sama anting itulah yang secara ajaib menyamarkan dirinya sebagai laki-laki untuk waktu yang lama.
'Jadi anting itu dari kakaknya. Kenang-kenangan terakhir...'
"Aku tahu kau tidak suka barang-barang perempuan dan semacamnya, tapi aku tetap berpikir bahwa kau setidaknya membutuhkan sebuah anting. Jadi aku memilih anting yang paling sederhana dan polos," si pemuda menggaruk bagian belakang kepalanya, ia merasa malu.
"Kenapa hanya satu? Kupikir anting seharusnya sepasang?" Si gadis kecil mengangkat anting itu dan memegangnya berlawanan dengan sinar matahari. Antingnya sedikit berkilau ketika sinar itu memainkan triknya di permukaannya yang terbuat dari kaca.
"Karena anting ini ajaib; hanya ada satu-satunya. Jadi jangan sampai hilang, ya?"
Si gadis kecil tak mengatakan apapun, namun dia menerjang kakaknya dan membuatnya jatuh terbaring. Si gadis kecil memeluknya hingga pemuda itu hampir kehabisan napas.
"—Tidak bisa—bernapas—" Si pemuda menepuk bahu adiknya, untuk memberitahukan bahwa sebaiknya dia berhenti mencekiknya hingga mati.
"Terima kasih, Aniki," bisik Si gadis kecil sambil melonggarkan pelukannya di leher kakaknya. "Aku sayang padamu."
Si pemuda menepuk puncak kepala pirang itu; yang sama dengan miliknya. Terdapat seulas senyum lembut di wajahnya yang hanya ditujukan untuk adiknya yang ia sayangi. "Aku juga."
Raut wajah Kuroro menjadi gelap saat melihat adegan penuh kasih sayang di hadapannya; walaupun dia tidak menyadari perubahan itu. Apa yang Kuroro lihat benar-benar asing baginya, dan dia mulai gelisah melihatnya. Entah bagaimana, Kuroro punya firasat buruk tentang semua ini; tentang melihat masa lalu Kurapika-nya. Apapun yang tengah direncanakan Phoenix itu, pasti bukanlah hal yang menguntungkan bagi Kuroro.
Tiba-tiba, seperti yang sudah diperkirakan Kuroro, keributan terdengar tak jauh dari sana. Si gadis kecil yang merasa ingin tahu dan kewaspadaan si pemuda membuat mereka segera bangkit dan pergi menuju ke jalan utama. Kuroro mengikuti di belakang mereka, merasa tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi. Di sepanjang jalan utama, kerumunan orang menyerbu menuruni jalan menuju ke pantai, di mana pelabuhan berada.
"Kurapika? Kairi? Syukurlah kalian ada di sini. Cepat dan larilah!" seorang wanita setengah baya melihat kedua anak itu lalu dengan baik dan ramah menghampiri mereka.
"Bibi, apa yang terjadi? Kenapa semuanya melarikan diri dari desa dengan begitu tergesa-gesa?" Si pemuda memandangi kekacauan itu dengan sedikit merasa takut. Apapun sebenarnya yang terjadi, pasti itu adalah bencana. Bagi Suku Kuruta melarikan diri seperti itu; mereka, ksatria yang membanggakan dari Gunung Rukuso, melarikan diri seperti kelinci yang ketakutan. Pasti ada sesuatu di desa. Dia harus memeriksanya sendiri.
"Aku...," wanita itu melihat si gadis kecil berdiri tak begitu jauh dari sana. Berpikir untuk menghindarkan si gadis kecil dari berita buruk, dia berbisik kepada si pemuda dengan suara pelan, "Desa diserang oleh sekelompok orang. Mereka luar biasa kuat, bahkan para pejuang kita mengalami kesulitan. Terlebih lagi, sepertinya mereka mengincar Mata Merah kita."
'Kami...,' batin Kuroro, mata gelapnya berkilat mengerikan.
Dalam sekejap saja, mata si pemuda menjadi berkobar-kobar dan dia menoleh, membelalakkan matanya ke arah di mana desanya berada. Bulu kuduknya merinding karena amarah, tapi dia tidak berani untuk berbalik menghadap adik perempuannya, yang masih tak menyadari apa yang tengah terjadi.
"Apakah...Ayah dan Ibu juga bertarung?" dia bertanya sambil berbisik.
"Ah...ya, tentu saja..." jawab wanita itu dengan ragu.
"Bibi, tolong jaga Kairi untukku. Aku akan membantu mereka."
"Kurapika, itu bunuh diri namanya! KURAPIKA!" Sebelum wanita itu dapat meraih lengan si pemuda untuk mencegahnya pergi menghampiri kematian, dia sudah menghilang ke balik semak-semak, mengambil jalan pintas menuju ke desa.
"Bibi, Aniki pergi ke mana? Kenapa semuanya lari? Haruskah aku mengejarnya?" Si gadis kecil, panik dan tidak tahu apa-apa, memegangi rok wanita itu dan memperhatikan sekitarnya dengan matanya yang biru.
"Tidak, Kairi, kau pergi bersamaku."
Sebelum gadis kecil itu bisa menyelinap pergi seperti yang dilakukan kakaknya, wanita itu meraih pergelangan tangannya dan menyeretnya pergi bersama, walaupun si gadis kecil benar-benar tidak mau melakukannya.
Kuroro mengikuti sekelompok orang yang tengah berlari menyelamatkan diri menuju ke laut, tapi dia melirik sekilas menuju ke arah desa ke mana si pemuda berlari pergi. Dia ingat pemuda itu.
Kuroro duduk di atas batu yang kering, menunggu gadis yang basah kuyup dan tak sadarkan diri itu bangun. Dia mendongak dan melihat langit yang abu-abu masih berwarna kemerahan karena api yang menyala sebelumnya dan membakar seluruh desa. Bukannya kelompoknya memang merencanakan kebakaran itu; tapi kebakaran terjadi begitu saja selama kekacauan berlangsung, ketika semua orang sedang sibuk bertarung dan hal itu membuat mereka menghancurkan semuanya; yang akhirnya berujung dengan kebakaran.
Kuroro menatap gadis itu lagi. Mulanya, gadis itu dipaksa menaiki perahu yang berlayarke laut untuk menghindari pembantaian. Dia melawan mereka, memaksa ingin menunggu kakaknya. Mereka meyakinkannya bahwa kelompok berikutnya akan mengikuti mereka dan kakak si gadis kecil pasti akan ada di sana, maka dia pun menyetujuinya untuk sementara. Namun dia benar-benar tidak terkendali saat melihat langit merah yang menggantung di atas desanya. Segera saja, mata berwarna biru samudera itu ditimpa oleh bayangan warna merah tua dari langit yang terbakar. Pemandangan itu memberi efek yang mengerikan, bahkan Kuroro tidak bisa memungkiri bahwa warna itu sangat cantik. Dia tak pernah melihat warna seperti itu sebelumnya.
Si gadis kecil menerjunkan dirinya ke air dan berenang menuju pantai. Sayangnya, dia terlalu kecil untuk bisa bertahan dari arus yang kuat, dan dia pun terhempas hingga tak sadarkan diri. Gelombang arus air laut membawanyamenuju ke pantai, dan Kuroro harus menunggunya sadar, sebelum melanjutkan kembali apa yang telah dilakukannya saat ini. Yah, dia bisa menunggu. Lagipula Kuroro adalah orang yang sabar.
Baru saja Kuroro bersandar ke batu yang berada di belakangnya, gadis kecil itu bergerak. Kuroro menaikkan sebelah alis matanya. Di manapun dan kapanpun juga, gadis itu akan melakukan apapun hanya untuk membuatnya gemas, 'kan? Baru saja Kuroro mau bersantai, gadis itu malah bangun.
"A...niki...," si gadis kecil bergumam.
Perlahan, tapi pasti, gadis kecil itu beranjak dan menggelengkan kepalanya untuk menjernihkan pikirannya. Dia menengadah menatap langit, dan saat dia melihat langit merah yang berasap, matanya membelalak maksimum. Dengan cepat ia berdiri dan berusaha berlari menaiki bukit menuju ke desa. Awalnya ia berjalan perlahan dan tertatih-tatih, tapi lama-kelamaan kekuatannya kembali dan mulai bergegas menuju ke desa. Tapi ketika dia sudah sampai di sana, semuanya sudah terlalu terlambat.
Semua orang dibuat menjadi tidak bermata, dan beberapa lagi tidak memiliki kepala. Mayat. Kantung mata mereka menganga kosong, memandangi angkasa sambil seolah memberitahukan kengerian yang baru saja mereka alami. Lutut si gadis kecil pun menjadi lemas dan dia ambruk ke tanah. Tenggorokannya kering dan dia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Kuroro berjalan ke arahnya, dan dengan santai mengamati sekeliling. Ya, tepatnya inilah yang terjadi. Pembantaian Suku Kuruta demi Mata Merah mereka yang berharga; tepat sekali. Kuroro bahkan bisa mengenali tanda-tanda yang ditinggalkan para anak buahnya. Lekukan di lantai adalah ciri khas Uvogin, luka karena tembakan adalah ciri Pakunoda. Melihat semua itu membuat Kuroro merasa aneh; hampir terasa seperti...nostalgia. Kuroro mengalihkan perhatiannya kembali kepada gadis yang memiliki masa lalu ini. Dia masih berada di tanah, kekuatan yang berada di tubuh kecilnya melemah.
"Desa...Semua orang...," akhirnya dia bergumam.
Pinggulnya masih belum kembali kuat seperti seharusnya, jadi dia harus merangkak di antara mayat-mayat itu. Dia tersentak setiap kali pandangannya jatuh ke salah satu dari orang-orang itu. Dia langsung mengenali mereka, walaupun mereka sudah kehilangan matanya. Beberapa kali si gadis kecil muntah, perutnya tak mampu bertahan dari kengerian yang menyelimuti tempat itu. Kemudian, dia menemukan apa yang dia cari.
"...Aniki..."
Di sana, di tengah-tengah tanah yang relatif bersih, ada satu mayat tanpa kepala. Baju khas sukunya bersih dan tak bernoda, walau ada beberapa sobekan di sana-sini. Kuroro menajamkan pandangannya. Ya, tentu saja dia ingat. Dia bertanya-tanya bagaimana bisa dia lupa saat melihat wajah Kurapika untuk yang pertama kalinya di Kota Yorkshin waktu itu. Seharusnya dia ingat wajah itu. Lagipula, dialah yang membunuh pemuda itu yang secara sah memiliki nama 'Kurapika'.
"ANIKIIII!"
Dengan sebuah hentakan kaki, si gadis kecil melompat ke arah mayat kakaknya dan meratap seperti binatang yang terluka. Dia menyandarkan kepalanya di dada mayat itu; detak jantung itu kini menghilang, dan menggenggam bajunya dengan tangan yang gemetar. Dia meratap dan terisak, tak peduli akan apapun kecuali rasa kehilangan dan kesedihannya saat ini. Kuroro menyaksikan adegan itu sambil berdiri di belakang si gadis. Dia ingat, waktu itu dia berdiri tepat di sebelah sana, mengamati semua korbannya setelah mereka 'bersenang-senang'. Entah keluar dari mana, pemuda berambut pirang itu menyerang ke arahnya. Dia ingat dirinya menatap ke dalam Mata Merah itu, Mata Merah yang paling indah saat itu. Dia mengidamkan mata itu, dan ketika Kuroro melihat wajah manis si pemuda, tiba-tiba ia merasa sayang jika mata itu dipisahkan dari wajahnya; wajah itu benar-benar cocok dengan Mata Merah yang ada di sana.
"Bukan kau...Bukan kau...," Si gadis kecil terus menangis terisak. "Apa...yang akan kulakukan...tanpamu?" Dia bergumam. "Kau bodoh..."
Kuroro menghela napas. "Benar-benar klise...'
"Kai...ri...?"
Mata Kuroro membelalak. Dia merasa mendengar sebuah suara; suara seorang pria dewasa. Dia sudah memberitahu para anak buahnya saat itu untuk memastikan bahwa mereka sudah membunuh semuanya.
"Kairi...apakah itu benar kau?"
Suara itu menjadi lebih kuat, seperti suara seseorang yang baru saja menemukan secercah harapan di lubang kegelapan yang terdalam. Si gadis kecil segera berhenti menangis dan melihat sekitar, mencari sumber suara. Kemudian dia melihat sesosok tubuh bergerak tidak terlalu jauh dari tempatnya berada sekarang, tersembunyi di bawah atap yang ambruk. Dengan cepat dia berlari menghampiri, menyingkirkan reruntuhan yang menutupi sosok itu. Seorang pria berotot, hampir mendekati ukuran Uvogin, ditemukan dalam keadaan sekarat di sana. Pria itu bermandikan darahnya sendiri, tapi masih bernyawa.
'Pria yang kuat...,' pikir Kuroro.
"Guru Senso! Kau masih hidup!" Si gadis kecil memeluk pria itu dengan hati-hati, sehingga tidak memperburuk luka-lukanya.
"Aku tak akan bertahan lama, Kairi...Kematian tengah datang menjemputku...Hal itu tak bisa dielakkan...," dia menghembuskan napas yang terasa begitu menyakitkan baginya, dan menoleh untuk melihat si gadis kecil dengan lebih baik. Gadis itu pucat pasi dan kesakitan. "Aku sangat senang...melihatmu masih hidup...Kau adalah murid terbaikku, Kairi..."
"Tidak, Anikilah...," si gadis kecil berhenti sejenak, lalu menundukkan kepalanya dan melanjutkan, "...murid terbaikmu."
"Ah..." jika matanya masih ada di sana, Senso pasti akan memicingkan matanya dan kehilangan warna matanya. "Begitukah..."
Tiba-tiba, dia terbatuk dan darah muncrat keluar dari dalam mulutnya.
"Guru Senso!"
"Kairi—!" Senso berkata dengan napas yang tidak teratur. Sepertinya dia akan segera mati. "Bertahan dan hiduplah...Jangan sia-siakan hidupmu untuk balas dendam...Jangan pergi...mengejar Laba-laba..."
"L-Laba-laba?"
'Ah, jadi dialah orang yang masih hidup saat itu dan memberitahunya...' Kuroro mengangguk puas. Dia sudah penasaran tentang hal ini sejak lama.
"Hiduplah, Kairi...Lestarikanlah darah Kuruta kebanggaan kita..."
Dan kemudian, pria itu menghembuskan napas terakhirnya.
Si gadis kecil memandangi kuburan yang susah payah ia buat untuk saudara-saudara sesukunya yang telah gugur. Kedua tangannya mengepal, beberapa memar menghiasi tangan dan kakinya karena dia terus tersandung saat menyeret semua tubuh yang berat itu. Matanya masih basah dan bengkak karena tangis yang tanpa henti selama mengumpulkan semua mayat itu dan membakarnya. Dia merasa semua air matanya sudah kering. Dia memegangi tas selendangnya dan menggertakkan rahangnya dengan tekad yang penuh.
Kuroro berdiri di belakang gadis itu, menyaksikannya berusaha mengendalikan diri dan bersiap untuk perjalanannya nanti. Si gadis kecil sudah mengenakan anting ajaib dari kakaknya, dan memberinya sosok sebagai seorang laki-laki; Kurapika yang selalu dikenal Kuroro. Tidak, dia mengambil sosok kakaknya. Dia hidup sebagai pemuda itu sekarang, maka dia pun mengambil namanya.
Kurapika berdiri menghadap desa yang hancur dan kuburan itu. Wajahnya suram dan tak bernyawa. Satu-satunya emosi yang ada di sana adalah kebulatan tekad untuk membalas dendam.
"Namaku Kurapika Kuruta. Aku akan mencari mata milik saudara-saudara sesukuku, dan untuk membalaskan dendam mereka. Aku akan melacak mereka dan membunuh setiap anggota Laba-laba, bahkan jika itu mengorbankan hidupku," dia bergumam dengan suara yang datar, seolah melatih apa yang sudah dihafalnya.
Dia menggumamkan kalimat itu beberapa kali, seolah meyakinkan dan meneguhkan dirinya sendiri. Lalu, dia berbalik dan menuruni jalan pembalasan dendamnya tanpa menoleh.
Dan kemudian, waktu pun berhenti.
"Kau selalu bertanya-tanya apa sumber kekuatannya 'kan?"
Suara itu merayap menuju ke telinga Kuroro, lembut bagai beludru, seperti aliran air yang tenang. Tiba-tiba, dia dapat merasakan kehadirannya, tepat di sampingnya. Bahkan dia bisa merasakan mata emasnya yang selalu bercahaya senang menatap ke bagian belakang kepalanya, dan bibirnya yang selalu tertarik ke atas menyeringai padanya. Kuroro menolak untuk menghadapnya.
"Apa kau ingin jawabannya?"
Kuroro meliriknya sekilas. Begitu dia menoleh, kegelapan melanda dan sekali lagi Kuroro ditelan kegelapan. Kuroro melihat ke sekitarnya dengan waspada, tapi mengingat tak ada yang bisa dia lakukan di dunia wanita itu, Kuroro pun menenangkan dirinya. Apa yang akan terjadi, terjadilah. Dia hanya akan menunggu dan melihat.
"Dia memulai perjalanannya dengan kepala tegak, memikul harga diri seorang Kuruta; sebagai Kuruta terakhir yang masih hidup. Dan sekarang..."
Lady Merah mengibaskan jubahnya ke depan untuk memperlihatkan apa yang ada di belakangnya.
"...Lihat kenyataannya."
Di tanah; atau di suatu tempat yang terlihat seperti tanah dalam kegelapan tak berujung itu, adalah Kurapika. Dia memegangi kepalanya seolah takut langit akan jatuh menimpanya. Bahunya gemetar tak terkendali, diikuti dengan isak tangisnya. Dia merintih tak jelas, tubuhnya melengkung erat dan rapuh. Hal itu mengingatkan Kuroro akan peristiwa di gua, ketika Kurapika memukulnya dan secara terang-terangan menangis di hadapannya. Namun kali ini, dia terlihat lebih hancur dari sebelumnya.
"Keputusasaan adalah motivasinya, dan kebencian adalah bahan bakarnya. Keduanya, walau bagaimanapun..."
Kuroro mendengar suara derak rantai, terseret dan merayap di sekitarnya. Akhir-akhir ini, setiap kali dia mendengar suara derak rantai, hal pertama yang muncul di benaknya adalah Kurapika. Ketika Kuroro melihatnya, Kurapika sudah dikelilingi dan diikat oleh rantai; rantai itu menyelimutinya. Meskipun dia terlihat tak sadar.
"Juga menjadi belenggu yang mengikatnya. Itu berawal darimu..."
Tiba-tiba Kuroro merasakan sebuah sentuhan yang dingin di tangan kirinya; tangan yang biasa dia gunakan untuk mengambil nyawa orang-orang. Ketika Kuroro melihat ke bawah, dia melihat tangannya memegang sebuah rantai besi.
"...dan itu berakhir..."
Kemudian Kuroro dapat merasakan sebuah sentuhan dingin, dan tajam dari sebuah mata pisau di tengkuknya. Mata pisau itu hanya menyentuh Kuroro, tapi dia dapat merasakan ketajamannya. Bahkan tanpa melihat pun dia tahu bahwa itu adalah mata pisau dari Judgement Chain.
"...kepadamu lagi."
"Dan apa maksud dari semua ini?" Kuroro bertanya dengan dingin dan tanpa emosi, didukung oleh kebosanan di wajahnya yang tak menampakkan ekspresi apapun.
Phoenix itu menatap Kuroro tepat di matanya. Ada sebuah kilatan yang dingin dan mencela di matanya yang liar. Bahkan Kuroro merasa ngeri ketika diberi tatapan semacam itu oleh salah satu dari makhluk ajaib yang terkenal.
"Selama kau hidup, Kuroro Lucifer, dia percaya bahwa beban ini tak akan pernah hilang. Jadi terserah padamu apakah kau akan membebaskannya dari rantai yang membelenggunya atau tidak."
"Kau bilang aku bertanggungjawab atas menjadi seperti apa dia sekarang? Jangan bercanda. Itu jalan yang dia pilih dan atas kehendaknya sendiri," Kuroro menjawab sambil memicingkan matanya.
"Jangan khawatir, kau akan ingin membebaskannya." Wanita itu memberinya senyum paling licik yang bisa dia perlihatkan. Bahkan Kuroro tidak punya kesempatan untuk membalas, ketika tiba-tiba Lady Merah menyentuh keningnya yang memiliki tanda dengan ujung jari telunjuk. "Sekarang, pergilah. Berikutnya giliranmu."
Tiba-tiba, Kuroro terlempar ke kegelapan yang paling dalam dengan tak berdaya, di mana dia bahkan tak bisa merasakan atau melihat tubuhnya sendiri.
"Berapa lama kau akan berbaring di bawah sana dan menangisi dirimu sendiri, Bodoh? Kau sudah bukan bayi lagi," Lady Merah berkata dengan suara yang tegas namun tetap lembut.
Kurapika tidak menjawab. Dia bahkan tidak bergerak ketika wanita itu memanggilnya. Seolah jiwanya meninggalkan raganya, dan dia hanya sebuah cangkang yang kosong. Phoenix itu menghela napas dan diam-diam menghampirinya. Tak ada satupun jejak langkah di kegelapan yang dalam itu; ruang yang dia ciptakan dengan kekuatannya, seolah mereka berada di ruang angkasa, kosong dan hampa udara. Phoenix berjongkok di hadapan Kurapika dan mengulurkan tangannya menyentuh gadis rapuh itu. Dia menyokong dagu Kurapika dengan tangan kirinya, meraih helaian rambut pirang gadis itu yang kini lebih panjang dengan tangan kanan dan memainkannya.
"Berapa lama kau akan membiarkan masa lalu menghantuimu?" Dia bertanya lagi, suaranya lebih pelan dari sebelumnya.
Sebelumnya, ketika rekaman sinema masa lalu Kurapika mencapai puncaknya; ketika dirinya yang berumur tiga belas tahun memasuki desa yang terbakar dan menemukan tubuh kakaknya yang dipenggal, Kurapika merasa hancur dan meratap. Phoenix sengaja menempatkan Kuroro dan Kurapika di ruang waktu yang terpisah, untuk menghindari berbagai konflik yang tak perlu yang mungkin meningkat saat proses itu sedang berlangsung. Tindakannya tepat. Jika Kuroro berada di sana saat Kurapika merasa hancur, dia akan menyerangnya dengan tekad yang bulat untuk membunuh. Dia memohon Kurapika untuk menghentikan kemarahannya dan menjauhkannya dari siksaan. Dia tak berharap untuk melihat mimpi buruk lagi, terutama dengan akurasi seperti itu.
"Masa lalu berharga untuk dipelajari, tapi tak sehat jika terlalu berpegangan pada masa lalumu. Itu akan menghancurkanmu."
"Aku harus membalas dendam…Kalau tidak mereka tidak akan beristirahat dengan tenang…" Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kurapika bicara. Suaranya serak dan kasar.
"Sebentar." Phoenix memutar kedua bola matanya, seakan-akan lelah atas sikap Kurapika yang keras kepala. "Itu pendapatmu. Apakah mereka memang mengatakan itu padamu?"
Kurapika tidak menjawab.
"Ingat kembali apa yang dikatakan gurumu sebelum kematian menjemputnya."
Hiduplah, Kairi. Bertahan dan hiduplah. Jangan sia-siakan hidupmu untuk membalas dendam. Lestarikan darah Kuruta yang kita banggakan.
"Kau tidak akan pernah memperoleh keselamatan dari balas dendam."
"...Keselamatan..." Entah bagaimana, kata itu menyentuh lubuk hatinya yang paling dalam; sebuah tempat kecil yang berada di luar jangkauannya.
"Sekarang kemarilah dan siapkan dirimu, apa yang akan kau lihat adalah masa lalu yang juga menyakitkan dari orang yang menjadi sumber kebencian dan keputusasaanmu."
Kurapika mendongak dan bertemu dengan mata emas Lady Merah untuk yang pertama kalinya sejak dia terlempar ke ruang virtual masa lalu itu. Nampak kegembiraan di dalam sepasang mata itu; tak diragukan lagi, tapi juga ada tanda emosi yang lain di sana : rasa ingin tahu. Phoenix itu mengulurkan tangannya dan menyentuh kening Kurapika dengan ujung jari telunjuknya; tepat seperti yang dia lakukan pada Kuroro. Dalam sekejap saja, sebelum Kurapika sempat menyiapkan diri, dia terjatuh ke dalam kegelapan yang pekat. Kurapika dapat merasakan dirinya bergerak, tapi dia tidak bisa mengenali arah. Apakah bergerak ke atas atau ke bawah, ke kiri atau ke kanan, dia tidak tahu sama sekali. Hanya tiba-tiba saja, waktu bergerak di sekitarnya dan ruang itu berubah.
Tubuh Kurapika merasa punggungnya membentur sesuatu yang keras dan padat. Untuk sesaat matanya tak bisa melihat apapun, dan ketika pandangannya sudah jernih kembali, Kurapika menemukan dirinya tengah memandangi langit-langit di sebuah rumah.
TBC
A/N :
Ini balasan reviewnya ya...
Natsu Hiru Chan :
Ya, chapter kemarin itu memang manis banget...salah satu chapter favoritku^^v
Sends :
Okay, here it comes...haha!
October Lynx :
Whattt...you started to prefer this one rather than the original one?! *blush*
:
Hai, salam kenal...iya, pasti aku terus berusaha untuk ngelanjutinnya kok^^
Kujo Kasuza Phantomhive :
Wah...terima kasih^^ aku senang bisa menyampaikan feeling yang sama untuk bagian flashback itu walaupun dengan Bahasa Indonesia
Kurapika my sister :
Terima kasih sudah mau menunggu update versi translate ini...semoga bisa cukup bantu kamu untuk memahaminya
Terakhir...untuk Azumaya Miyuki, get well soon...I'm kinda miss you xD
Ok, REVIEW please...^^
