DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.

GENRE :

Adventure & Romance

WARNING :

AR. FemKura. An Indonesian version for 1001 Nights by Runandra, one of my favorite author!^^


CHAPTER 15 : CONCLUSIONS OF THE PASTS


Kuroro mengerang ketika mencoba menggerakkan tubuhnya yang terasa sakit. Rasanya seperti berbaring dalam satu posisi untuk waktu yang lama dan sekarang sekujur tubuhnya nyeri. Dia membuka matanya, dan hal pertama yang dia lihat adalah wajah tidur Kurapika tepat di sampingnya. Segera saja, Kuroro beranjak bangun, tak menghiraukan rasa sakit di otot dan sendi-sendinya.

Kemudian Kuroro menyadari bahwa mereka terdampar di pantai di mana mereka berada sebelum menyeberangi teluk dengan menaiki punggung Una tadi. Dia mendongak dan mendapati pulau terapung itu sudah menghilang, bersama Phoenix. Dia melirik sosok Kurapika yang masih tertidur. Dari bagaimana cara Kuroro berbaring tadi, dan bagaimana cara Kurapika tidur, dia bisa membayangkan bahwa dari sudut pandang orang luar mereka terlihat lebih seperti pasangan yang tengah berpelukan daripada wisatawan yang terdampar. Syukurlah dia yang bangun lebih dulu. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan Kurapika jika dia mendapati dirinya berada dalam posisi yang penuh kompromi bersamanya? Bencana.

Kuroro merasakan dorongan pelandi bahunya, dan ketika berbalik, dia berhadapan dengan Una, Si Anak Unicorn.

"Kau menunggu kami? Anak baik," Kuroro menepuk kepala Una dengan lembut.

Angin di sekelilingnya terasa dingin, dan hari sudah senja. Dia perlu membangunkan gadis itu dan pindah ke hutan terdekat. Dia tak ingin bermalam di pesisir terbuka seperti itu, karena rentan terjadi angin malam yang buruk dan juga berbagai alasan lainnya.

"Kurapika, bangun," Kuroro mengguncang bahu Kurapika pelan.

Kurapika, karena dia orang yang mudah terbangun dalam tidurnya, merespon dengan cepat. Dengan terkantuk-kantuk ia mengerang dan bergerak menyamping. Matanya terbuka, berkedip beberapa kali. Kepalanya linglung, dan pikirannya kacau, seolah mereka baru saja berenang melewati lumpur yang tebal. Dia melihat ke sekitarnya, dan ketika pandangannya tertuju pada Kuroro, sebuah suara terdengar di benaknya.

Ketika anak itu lahir, bawa dia kepada Ishtar.

"Anak? Anak apa?" Kurapika tiba-tiba berteriak dan kekuatannya kembali secara tak terduga, mengingat dia baru saja bangun. Kurapika tersentakke dalam posisi duduk.

Kurapika menoleh kepada Kuroro dengan tatapan menuduh dan penuh kebencian. Kuroro sendiri terkejut, karena gadis itu tiba-tiba memekik dan langsung bangkit dari pasir seolah dia tersetrum. Kurapika mencengkeram kerah baju pria itu dan mengguncangnya dengan kasar.

"Apa yang kaulakukan padaku? Kapan kau—"

"Aku tak menyentuhmu!" Protes Kuroro, segera setelah dia mengerti apa yang membuat Kurapika panik. "Terutama menghamilimu! Berpikirlah dengan logis, Kurapika! Kita baru saja beberapa jam keluar dari gua itu dan apa kau benar-benar mengira kau bisa hamil, dalam waktu sependek itu?"

"Yah, Kuroro. Bahkan sejak aku bepergian bersamamu, semuanya menjadi tidak logis lagi!"

"Kali ini aku setuju denganmu dengan sepenuh hatiku." Dia menggerutu sambil melepaskan cengkeraman erat Kurapika di bajunya. "Lihat, Una masih mengijinkanmu untuk menyentuhnya, yang jelas-jelas berarti bahwa kau masih perawan. Jadi berhenti menuduhku."

Benar juga, segera setelah Kurapika berteriak histeris, Una menghampirinya dan mendorongnya perlahan berulang kali, seolah berusaha untuk menghiburnya. Ketika Kurapika melihat ke dalam mata Una yang besar itu, seketika kepanikannya menguap dan pinggulnya menjadi lemas. Dia menghela napas lega dan memeluk kepala Anak Unicorn itu, seakan-akan berusaha untuk lebih meyakinkan dirinya. Lalu Kuroro merapikan bajunya yang kini kusut akibat tindakan Kurapika. Setelah beberapa menit, Kurapika terlihat sudah tenang sepenuhnya, Kuroro berdiri dan membersihkan debu yang menempel di celana yang ia kenakan.

"Aku lelah," tiba-tiba Kurapika berkata.

"Ya, herannya begitu," Kuroro mengakui.

"Bisa kita sudahi hari ini?"

Kuroro menaikkan sebelah alis matanya. "Sikap kita sudah seperti orang lain pada umumnya, ya?"

"Seperti yang kubilang tadi, aku terlalu lelah bahkan untuk berdebat denganmu hari ini. Dalam kondisi biasa, aku akan menanggapimu."

"...Bagiku kau tidak terlihat selelah itu. Kau baru saja mendebatku."

"Diam." Kurapika merengut padanya.

"Ayo, pertama-tama kita masuk dulu ke dalam hutan," Kuroro berkata sambil menyandang ransel di bahunya. "Kita tak bisa berkemah di tempat terbuka seperti ini. Belum lagi angin malamnya. Kita akan terserang demam jika tidur di sini."

"Setuju."

Kita...Sejak kapan kata itu terdengar normal di antara aku dan dia? Kurapika merenung di benaknya sambil membawa tas ranselnya sendiri dan berjalan mengikuti Kuroro menuju ke hutan tak jauh dari tempat mereka berada sekarang. Namun ketika mereka tiba di sana, Kurapika tak memikirkannya lebih jauh lagi.


Kuroro dan Kurapika membuat api unggun untuk menghangatkan badan. Keduanya duduk berhadapan di antara api unggun itu; belenggu Hassamunnin sudah melebar lagi hingga mereka bisa duduk dalam posisi seperti itu. Sebelumnya, itu tak mungkin karena ruang yang terbatas. Kurapika masih merasa tak nyaman dengan kenyataan bahwa belenggu itu sudah melebar, yang merupakan akibat dari membaiknya hubungan antara dirinya dan Kuroro. Namun tetap saja, dia bersyukur atas ruang tambahan yang dia dapatkan sekarang. Una duduk di dekat Kurapika, yang masih terlihat agak bingung. Dia bersandar di panggul Una, seolah itu adalah bantalnya. Si Anak Unicorn sudah tertidur, dan begitu pula halnya dengan Kuroro, walau Kurapika tahu betul bahwa ketika pria itu tidur, dia selalu waspada akan sekelilingnya.

Kurapika menatap api yang berderak; warnanya mengingatkan gadis itu pada warna mata saudara sesukunya. Dia menggertakkan giginya dan menundukkan kepala di antara kedua lututnya. Dia ingin menangis, benar-benar ingin menangis terlebih lagi setelah dia dipaksa untuk melihat mimpi buruk masa lalunya. Jika masalah anak yang disinggung Ishtar tidak mengalihkan perhatiannya, hal pertama yang dilakukan Kurapika ketika dia bangun mungkin menangis histeris. Tapi dia sudah berjanji untuk menjadi kuat, dan berusaha keras menjaga janji itu.

Masa lalu itu berharga untuk dipelajari...Itu yang dikatakan Phoenix sebelum dia menendang Kurapika dan Kuroro ke masa lalu mereka.

Apa yang ada di dalam masa laluku yang bisa dipelajari? Di sana hanya ada kepahitan dan kebencian, dan kehilangan...pikir Kurapika hampa.

"Aniki...," dia bergumam dengan suara yang sedih.

Kakaknya adalah satu-satunya orang yang dekat dengannya. Bahkan jika dunia hancur, selama kakaknya masih ada bersamanya, Kurapika merasa dia akan baik-baik saja. Oh, dia menyayangi orangtuanya, tentu saja, tapi tidak sebanyak rasa sayangnya pada kakaknya. Mereka tak terpisahkan, dan dia selalu terinspirasi untuk menjadi sepertinya. Dia bermimpi untuk berkeliling dunia bersama kakaknya, tapi mimpi itu dihancurkan dan diinjak-injak dengan kejam...oleh pria itu.

Kurapika mengangkat wajahnya, cukup untuk menatap sosok pria itu yang tengah tertidur di hadapannya. Pria dengan rambut dan mata sehitam batu bara; iblis yang menjatuhkan seluruh desanya dan merenggut kehidupan sukunya, bersama dengan hilangnya harga diri mereka: Mata Merah itu. Mata Kurapika berkobar merah, kecerahannyahampir melebihi api unggun. Suara derak api menyembunyikan suara gemerincing halus rantainya, sementara In menyembunyikan cahayarantai Nen-nya. Rantai itu melayang dengan berbahaya di sekelilingnya, seperti ular kobra yang siap menyerang.

Aku bisa melakukannya sekarang. Dia berbisik di benaknya. Aku bisa membunuhnya sekarang. Rasa haus akan darah mulai menelannya, dan Mata Merah-nya menyaladengan kebencian yang terpelihara di hatinya sejak perjalanannya dari Gunung Rukuso tanpa ditemani siapapun.

Jika dia mati, kau pun akan mati. Malam ini bukanlah bulan baru. Sebuah bisikan berbicara di benaknya; suara yang sangat pelan di benaknya yang terdalam.

Tak masalah. Dia membelalakkan matanya dan Chain Jail melayanglebih tinggi, siap untuk menyerang kapan pun juga.

Kau tak akan memperoleh keselamatan dari dendam. Suara Phoenix terdengar lembut di kepalanya, mengingatkannya.

Aku tak perlu keselamatan. Dia mengenyahkan suara itu dari benaknya. Hidupku dipersembahkan untuk dendam sukuku.

Bertahanlah dan lanjutkan hidup. Kurapika berkedip. Suara dari guru bela dirinya berdentang di kepalanya sepeti lonceng gereja.

Lestarikan darah Kuruta yang kita banggakan.

Kau akan mati jika dia mati.

Kurapika menjatuhkan tangannya dan rantainya pun lenyap menjadi udara yang tipis. Dia bersandar lagi di panggul Una. Ketika bahunya terkulai, dia merasakan tekad sebelumnya untuk membunuh Pemimpin Geng Laba-laba menguap. Rasa haus akan darah kemudian berganti dengan kebingungan.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa yang harus kulakukan? Dia merenung dengan kekhawatiran terlihat di wajahnya. Tiba-tiba saja, semuanya muncul menjadi dua pilihan sederhana : untuk hidup, atau untuk mati. Jika Kurapika membunuh Kuroro sekarang, anggap dia berhasil, dia akan memenuhi salah satu sumpahnya dengan bayaran nyawanya sendiri sementara Mata Merah sukunya yang berharga akan hilang selamanya. Jika Kurapika memililih untuk tidak membunuh Kuroro sekarang, dia bisa terus hidup untuk mengumpulkan Mata Merah itu dan memenuhi harapan gurunya, tapi kemungkinan dia akan kehilangan satu-satunya kesempatan dalam hidupnya untuk bisa membunuh pria itu.

Aku berjanji akan membantumu mengumpulkan semua Mata Merah sukumu, bukan? Suara Kuroro terdengar di benaknya.

Seperti dia akan menjaga janjinya saja. Demi Tuhan, dia seorang penjahat. Kurapika scoffed mentally.

Aku memegang kata-kataku, Kurapika. Lagi, suara itu muncul di benaknya.

Kenapa aku harus mempercayainya? Kurapika mencoba meyakinkan diri.

Pertama aku seorang manusia, sedangkan jati diriku sebagai Laba-laba adalah yang kedua. Suara itu berbicara lagi.

Manusia tidak selalu menjaga sumpahnya! Dia hampir berteriak di dalam hati, berharap suara yang mengganggu itu akan pergi. Orang-orang melanggar sumpah mereka...

Dia tak pernah berbohong padamu, hingga saat ini. Sebuah suara kecil lain berbicara di benaknya; suara kecil di benaknya yang etrdalam.

Itu tak masalah! Itu tak masalah! Dia memegangi kepalanya dengan putus asa. Aku hidup semata-mata karena tujuan ini. Aku harus membalaskan dendam saudara-saudara sesukuku, kalau tidak—

Jangan sia-siakan hidupmu demi dendam.

Kurapika menahan napas. Apa aku...menyia-nyiakan hidupku?

Sekali kau mendapatkan pembalasan dendammu, kau hanya akan tertinggal dalam kehampaan yang dingin. Suara Guru Nen-nya terdengar di benak Kurapika.

Kau tak akan pernah memperoleh keselamatan dari dendam. Suara Phoenix sekali lagi invaded benaknya.

Apa aku benar-benar membutuhkan keselamatan? Kurapika mengerutkan posisi tubuhnya hingga meringkuk erat. Aku tak mengerti. Aku tak paham...

Kurapika semakin meringkuk ketika dia mulai tenggelam dalam kebingungannya. Apa...yang seharusnya kulakukan?


Daun-daun yang berguguran berderak di bawah kakinya, dan kanopi yang terbuat dari pepohonan lebat berada di atas mereka. Keduanya tahu bahwa mereka masih jauh di dalam hutan, dan mungkin mereka perlu bermalam lagi hingga sampai di pemukiman terdekat. Kurapika mengangkat wajahnya dan menatap punggung Kuroro, yang sedang berjalan di depannya. Sepanjang hari itu, mereka tidak berbicara banyak. Ini menunjukkan bahwa keduanya tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mereka mengijinkan Una untuk memandu mereka keluar hutan, lagipula mereka benar-benar tidak mengenal hutan itu.

"Kau kurang tidur," itu lebih terdengar seperti pertanyaan daripada pernyataan dari Kuroro.

Kurapika tersentak dari lamunannya dan mendongak hanya untuk menatap langsung ke dalam mata obsidian priaitu. Ada sesuatu di sana, tapi Kurapika tak bisa menebaknya. Benar, semalam dia tak bisa tidur karena berbagai pertanyaan yang tak terjawab di benaknya, dan dia tak menyadari bahwa hal itu terlihat jelas dari wajahnya yang pucat dan lingkaran hitam di bawah matanya.

"Urus urusanmu sendiri," dia langsung berkata sambil membuang muka.

Kuroro menatapnya selama beberapa detik, sebelum memalingkan wajah dan melanjutkan langkahnya melintasi hutan. Dia memang punya urusan sendiri untuk dipikirkan. Semua fakta yang baru dia ketahui dari rekaman sinematis masa lalunya; sangat mengganggu.

Ketika malam tiba, mereka masih belum keluar dari hutan sehingga harus berkemah lagi di tempat terbuka. Mereka memasang tenda tepat seperti malam sebelumnya, dan duduk di depan kehangatan api dalam suasana yang hening.

'Salad days...ketika aku masih hijau dalam penghakimanku..." tiba-tiba Kurapika bergumam tanpa sadar. Suaranya terdengar seperti bisikan di tengah suara derak api. Melihat sayuran dan dedaunannya, salad adalah hal pertama yang datang di benak gadis itu, dan berpikir tentang salad; frasa itu adalah hal pertama yang muncul di benaknya.

"Kutipan dari Cleopatra? Ada apa dengan kutipan itu?" Kuroro bertanya, tertarik pada komentar aneh yang tiba-tiba dilontarkan Kurapika. Kurapika jarang menjadi aneh begitu. Kuroro tahu gadis itu sama seperti dirinya; penuh pemikiran dan seorang ahli strategi.

Kurapika mengangkat bahunya. "Setelah mengunjungi masa lalu kita, itu yang muncul di benakku."

"Itu berlaku untukku, tapi tidak untukmu. Kau masih dalam masa salad days-mu." Kuroro terkekeh geli. "Sebenarnya, kau anak yang dewasa sebelum waktunya."

"Salah siapa?" bentak Kurapika jengkel, dia pun merasakan wajahnya terasa seperti terbakar karena malu.

Kuroro kembali terkekeh melihat reaksi Kurapika yang kekanak-kanakkan, tapi tak berkata lebih jauh lagi. Keheningan mengisi kehampaan di antara mereka. Dari satu sisi, tentu Kurapika benar. Kuroro adalah orang yang tanpa disadari menyebabkan situasi di mana Kurapika harus tumbuh dewasa lebih cepat dari seharusnya guna bertahan hidup dan membalas dendam. Kuroro, untuk sekali ini, tidak menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku namun dia menatap ke arah api unggun dengan tatapan jauh entah ke mana yang terlihat di wajah tampannya. Kurapika mencuri pandang, dan melihat ekspresi seperti itu di wajah Kuroro, membangkitkan rasa ingin tahunya.

"Apa yang kaurasakan, setelah semua itu?" akhirnya Kurapika bertanya.

"Ada apa dengan perhatian yang tiba-tiba ini?" Kuroro bertanya sambil menatap ke dalam mata gadis itu, merasa benar-benar curiga. Kurapika tak pernah bertanya mengenai keadaannya atau apapun.

"Anggap saja aku penasaran," Kurapika mengangkat bahu. Sebenarnya, dia hanya ingin membandingkan perasaan Kuroro dengan perasaannya. Jika dia merasa bingung, lalu apa yang dirasakan pria itu?

"Aku merasa kehilangan arah," dengan jujur Kuroro mengakui sambil mengalihkan tatapannya ke api unggun. "Sangat menjengkelkan...menemukan ada banyak hal di sekitarku yang tidak kusadari. Tidak, bukannya aku tidak tahu. Aku hanya tidak ingin tahu."

Kurapika terkejut, Kuroro menjawab pertanyaannya. Mengenal Kuroro (sayangnya, hal itu tak bisa dihindari karena mereka telah bepergian bersama untuk sekian lama), dia adalah tipe orang yang memendam segalanya sendiri, dan jarang memberitahu orang lain tentang perasaannya atau apapun. Hal itu sedikit mengejutkan Kurapika, namun meskipun begitu, Kurapika tak berkomentar apa-apa dan bertanya lebih jauh,

"Apa kau menyesalinya?"

Kuroro mengangkat bahu. "Entahlah." Dia jujur mengenai hal itu. Orang akan mengira dia akan mengabaikan masalah tersebut dan melanjutkan rutinitas hidupnya, tapi dia tak bisa; dan ini membuatnya bingung.

"...Yang mana yang lebih buruk; mengunjungi mimpi buruk masa lalumu, atau menemukan bahwa ada bagian penting masa lalumu yang tidak kau ketahui?" Kurapika bertanya lagi.

"Siapa yang tahu? Tapi jika kau bertanya padaku, keduanya sama-sama tidak menyenangkan...," Kuroro berhenti sejenak, sebelum menambahkan : "...Kairi."

"Jangan memanggilku dengan nama itu," tiba-tiba Kurapika berkata. "Aku sudah membuang nama itu enam tahun yang lalu," ucapnya sambil memalingkan wajah.

"Jangan khawatir. Nama itu tidak cocok lagi denganmu. Walau bagaimanapun juga, bagiku kau tetaplah Kurapika. Aku tak mengenal Kurapika yang lain selain dirimu," kata Kuroro datar, tanpa menatap mata gadis itu.

Apa aku...mencari pembenaran untuk diriku sendiri? Untuk kejahatan yang telah kulakukan...Dia berhenti dalam renungannya. Kejahatan? Uhh...aku mulai aneh.

Kurapika, di lain pihak, merasa sangat aneh mendengar jawaban seperti itu dari Kuroro Lucifer. Jika ditafsirkan dengan salah, kalimat itu bisa memiliki berbagai arti. Tak ingin menambah daftar hal-hal yang harus dipikirkan olehnya, Kurapika mengenyahkan pemikiran itu. Jika mungkin, dia tak mau memikirkan apa yang harus dilakukan atas apa yang dikatakan atau dilakukan Pemimpin Geng Laba-laba itu tentang dirinya. Itu buruk bagi kesehatannya.

Suasana hening kembali. Hanya suara nyanyian serangga di sekitar mereka yang terdengar. Tiba-tiba, kali ini Kurapika angkat bicara; atau lebih tepatnya, berbisik,

"Selama ini, aku terus memelihara kebencianku terhadapmu dan terhadap anak buahmu. Sekarang setelah aku mengunjungi masa laluku...aku ingat..."

Dia berhenti sejenak, seolah merasa ragu untuk melanjutkan ucapannya. Dengan sabar Kuroro menunggu hingga gadis itu siap untuk menyelesaikan kalimatnya, tapi kata-kata itu tak keluar dari mulutnya. Kurapika hanya memeluk kedua lututnya dan menyandarkan pelipisnya di situ.

"...Sudahlah...," ucap Kurapika pelan sambil memejamkan matanya. Kuroro menaikkan salah satu alis matanya dengan penasaran, tapi melihat Kurapika tak ingin melanjutkan ocehannya, dia memutuskan untuk tidak memaksa gadis itu. Kurapika mengabaikan Kuroro sepenuhnya sepanjang sisa malam itu.

Itu hanya demi memenuhi nafsuku untuk membalas dendam. Tidak murni dari rasa hormatku kepada mereka yang telah mati di desaku. Lagipula itu hanya perasaan pribadiku saja. Aku hanya ingin membalas mereka yang telah merugikanku...

Itu kesimpulan yang harus dia terima. Tapi dia menambahkannya dengan pemikiran lain,

Tapi bukan itu yang seharusnya kulakukan. Prioritas utamaku adalah mengumpulkan Mata Merah...dan melanjutkan hidupku.


Api berderak tenang di tengah-tengah perkemahan mereka yang sederhana. Kurapika menatapnya tanpa sadar.

Aku tak akan menoleransinya. Kami tidak dilahirkan untuk menjadi kambing hitam bagi para bajingan yang serakah itu. Kau perlu dana? Baik, aku akan mendanaimu.

Kurapika memicingkan matanya. Jadi itulah alasan kenapa Genei Ryodan mencuri dan merampok harta orang lain; untuk mendanai seluruh kota. Tetap saja, itu bukan alasan yang cukup bagi mereka untuk membunuh orang. Dalam deskripsi pekerjaan mereka untuk mendapatkan barang-barang itu, tidak perlu sampai membunuh bukan? Dia mendengus pelan dan menggelengkan kepalanya. Jika itu tujuan Phoenix; untuk meyakinkan Kurapika bahwa dia harus memaafkan Kuroro atas tindakannya yang salah enam tahun yang lalu dengan cara menunjukkan masa lalu pria itu, dia gagal.

Walau bagaimanapun juga, kejahatannya terhadapku tak bisa dimaafkan. Tapi...

Beberapa adegan di masa lalu Kuroro berkelebat di benaknya. Dari semua kenangan mimpi buruk di masa lalu pria itu, dia tak bisa melupakan saat di mana orangtua Kuroro saling bunuh. Dia ingat ketika Kuroro memberitahu Kurapika bahwa kemampuan psikologisnya terlalu lambat berkembang.

Jadi, apakah memang sudah sifatnya untuk begitu mudah mengabaikan kematian?

Kurapika memiringkan kepalanya dan menyandarkannya ke bahu.

Apa aku harus memaafkannya karena dirinya yang seperti itu?

Kurapika bergeser dan mengambil Mata Merah dari dalam ranselnya. Dia menatap bola mata yang mengapung itu dalam diam. Kurapika harus mengakui bahwa apa yang dilakukannya memang mengerikan, memandangi mata yang seharusnya sudah mati bersama jasad pemiliknya, namun bola mata itu menyala seakan-akan hidup. Dia tidak tahu mata siapa yang tengah dipandanginya saat ini, genangan air yang hangat mengalir jatuh membasahi pipinya. Bagi Kurapika, mata yang sudah mati itu seperti memberitahukan padanya bahwa mereka kesepian; bahwa mereka ingin bersatu kembali bersama bola mata yang lainnya.

"Aku berjanji..." Dia berbisik dengan suara yang hampir tak terdengar sambil memejamkan matanya kuat-kuat, mencoba menahan air matanya. "Aku berjanji akan mengumpulkan semuanya tanpa kegagalan."

Aku berjanji akan membantumu mengumpulkan semua mata saudara sesukumu, 'kan? Lagi-lagi suara Kuroro terdengar pelan di dalam benaknya. Dia menahan keinginan untuk menangis. Dia tak akan menangis, tidak di depan pria itu. Dia akan kuat, Kurapika menganggukkan kepalanya.

"Sebaiknya kau memegang janjimu," bisik Kurapika dalam suara yang hampir terdengar seperti sebuah isakan.

Aku memegang janjiku, Kurapika.

"...Brengsek," Dia menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya.

Tanpa Kurapika ketahui, diam-diam Kuroro sudah mengamatinya selama dia bersandar di batang pohon besar di belakangnya. Pria itu tahu bahwa Kurapika sudah memerangi iblis di dalam dirinya; nafsunya untuk balas dendam, kebenciannya, dan semua emosi negatif yang telah dia 'kembangkan'; itulah bagaimana Kurapika menyebutnya, selama enam tahun. Terlalu mudah untuk menebak apa yang tengah direnungkan gadis itu. Dan lagi, masalah Kuroro mungkin lebih sederhana dari masalah Kurapika.

Dia telah mengabaikannya selama ini. Kebenciannya terhadap Ishtar; wanita yang dengan kehendaknya sendiri membesarkan Kuroro, berdasarkan atas keengganannya untuk mempelajari kebenaran. Apa yang dia pikirkan saat itu? Dia menutup kedua telinganya dan menolak untuk mendengar penjelasan apapun. Tidak, bahkan dia tidak memberi mereka satu kesempatan pun untuk menjelaskan; baik Hatsubaba maupun Ishtar. Dia meninggalkan mereka sebelum mereka bisa membela diri terhadap tuduhan Kuroro. Betapa memalukannya dirinya.

Kuroro menatap ke dalam hangatnya api di perkemahan mereka. Terlepas dari semua rasa bersalah dan ketidakpercayaannya terhadap kebodohannya ketika dia remaja dulu, dia masih tak berharap untuk pulang dan bertemu Ishtar saat ini. Umumnya itu yang akan dilakukan orang-orang biasa; pulang kepada orangtua mereka dan berkumpul kembali. Tidak, Kuroro tak akan melakukannya. Ada hal yang lebih penting saat ini, dan masalah di antara dirinya dan Ishtar bisa menunggu sedikit lebih lama. Lagipula, Ishtar sudah menunggu selama sepuluh tahun. Sedikit lebih lama dari itu tak akan melukainya.

Kuroro menghentikan serentetan pemikirannya dan mendengus pahit.

Aku masih tetap anak nakal yang egois, bukan? Pikirnya.

Aku tak bisa menerima betapa kau tidak berterimakasih pada ibu angkatmu. Suara jengkel Kurapika ketika memarahinya saat itu. Kuroro memejamkan matanya dan berpikir.

Kurasa aku menganggap gadis itu dengan apa adanya. Dia mengangkat bahu.

Hatinya...tak bisa dipulihkan. Suara sedih Ishtar terdengar di kepalanya. Kuroro, dengan mata yang masih dipejamkan, mengernyit walaupun hanya sekilas ketika mengingat kata-kata itu. Ishtar mengatakan itu seolah-olah memang benar-benar mustahil dan seperti suatu keputusan akhir. Ketika Kuroro mendengarnya, memberikan kesan bahwa Kurapika adalah mainan rusak yang tak bisa diperbaiki. Kuroro tak menyukainya. Dia akan membuktikan pada Ishtar bahwa bukan itu masalahnya.

Tiba-tiba, Kuroro merasakan seseorang menatapnya. Dia bahkan tak perlu mendongak untuk melihat siapa orang itu. Bukan hanya karena dia tahu bahwa hanya Kurapika satu-satunya manusia yang ada di daerah itu, namun dia sudah familiar dengan tatapan gadis itu, juga dengan mata Kurapika yang memelototi dirinya.

"Ya, Kurapika?" tanya Kuroro, tak punya keinginan untuk melihat mata Kurapika yang bertanya-tanya. Tanpa sadar Kuroro tak ingin melihat mata Kurapika yang agak berwarna kemerahan; yang merupakan tanda bahwa gadis itu diam-diam menangis tadi. Kuroro merasa dirinya buruk kapanpun dia melihat mata Kurapika yang seperti itu; namun Kuroro tak pernah menyadarinya.

Kurapika terdiam sesaat, masih ragu apakah dia harus mengatakan pertanyaannya atau tidak. Beberapa hari yang lalu, keduanya merasa tak nyaman atas topik pembicaraan mengenai masa lalu yang baru saja mereka kunjungi. Tapi nampaknya Kuroro mau mendengarkan Kurapika, maka gadis itu pun menanyakannya,

"Jadi kau tidak pernah tahu sampai sekarang?" dia bertanya dengan suara yang terdengar pelan.

"Tidak," hanya itu jawaban Kuroro. Dia tahu Kurapika bertanya tentang fakta bahwa Ishtar tak pernah bermaksud untuk membesarkannya menjadi pasukan elit.

"Aku bertaruh kau pun tak pernah ingin mencaritahu."

Kuroro tak menjawab; dan sikap ini dianggap Kurapika sebagai sebuah jawaban 'tidak.'

"Langsung pada kesimpulan. Bahkan seorang Kuroro Lucifer pun membuat kesalahan semacam itu," ejek Kurapika, bermaksud untuk membuat Kuroro kesal. "Dan terlebih lagi, perlu waktu sepuluh tahun untuk mengetahuinya!"

"Orang melakukan kesalahan, Kurapika." Kuroro menjawab dengan suara yang terdengar monoton.

"Itulah apa yang kita sebut dengan 'kebaikan dibalas kejahatan', dan kau akan membayarnya," komentar Kurapika secara terang-terangan.

Aku sudah membayarnya, memilikimu sebagai penyiksa pribadiku, pikir Kuroro pahit sambil memutar kedua bola matanya dan menatap ke atas.

"Sekarang setelah kau mengetahui kebenarannya, apakah kau akan merubah sikapmu terhadap Ishtar?"

"Jujur saja, berhentilah bertanya mengenai masalah yang tidak seharusnya kau ketahui," Kuroro bahkan tak mau repot untuk menyembunyikan rasa lelahnya atas sikap Kurapika yang keras kepala dengan memijit batang hidungnya. "Masalah ini sama sekali bukan urusanmu."

"Benar, tapi itu menggangguku. Aku...merasa kasihan padanya."

Suaranya terhenti begitu saja ketika ia menyadari kejengkelan Kuroro. Lalu mereka sama-sama diam. Kurapika bergeser lebih jauh ke dalam pelukan hangat Una. Kuroro, di lain pihak, masih duduk di tempatnya.

"Kurasa sebaiknya kau meminta maaf padanya," tiba-tiba Kurapika berkata.

"...Aku akan memikirkannya."

Kurapika menoleh padanya dan memberi pria itu ekspresi wajahnya yang paling menunjukkan rasa terkejut dan tanpa sengaja tertangkap basah. Dia pikir Kuroro akan mengabaikannya atau membelalak padanya dengan peringatan untuk menyingkir dari segala urusannya. Kurapika tak pernah menduga Kuroro akan mengatakan sesuatu yang begitu sederhana (mengingat kalimat itu keluar dari seorang Kuroro Lucifer).

"Akankah nanti kau mengakuinya sebagai ibumu?" Kurapika bertanya lebih jauh lagi.

"Jangan paksakan keberuntunganmu, Nak," ucap Kuroro sambil mendecakkan lidahnya kesal. Kali ini dia membuka matanya, sedikit memelototi Kurapika.

"Berhenti memanggilku Nak! Aku sudah berusia tujuh belas, dan akan segera berusia delapan belas tahun!" protes Kurapika sambil sedikit cemberut.

"Benar, aku lupa. Lagipula kau adalah anak yang dewasa sebelum waktunya," pria itu menyeringai sinis sambil melemparkan ranting kering ke dalam api. "Waktunya tidur, Nak."

"Oh, kau sungguh menyebalkan!" Kurapika berkata sambil menarik selimutnya dari dalam ransel dengan kasar, masih mematuhi pria itu walau dia marah. Tanpa perdebatan atau pertengkaran lebih jauh, keduanya memutuskan untuk beristirahat dan tidur.


Kuroro baru tidur selama beberapa jam, ketika kehadiran seseorang membuatnya tersentak hingga membangunkan pria itu dari tidurnya. Dengan waspada, Kuroro bangun dan secara naluri langsung berada dalam kondisi Zetsu. Dia mengamati sekelilingnya, tapi tak ada yang mencurigakan. Api unggun sudah meredup bagaikan batu permata merah yang menyala, dan malam itu sungguh hening, kecuali suara jangkrik dan serangga lainnya.

Kurapika masih tertidur lelap, namun Kuroro melihat bahwa Una sudah bangun. Dia hanya lelah seperti biasanya, tapi dia tak berani untuk bergeser khawatir akan membangunkan Kurapika, karena gadis itu tidur sangat dekat dengan Si Anak Unicorn.

Ketika Kuroro baru saja memutuskan bahwa itu hanyalah suatu paranoia sekilas, dia merasakannya. Tekanan yang bertambah besar dan berasal dari satu arah, tepat mengarah kepada dirinya dan Kurapika. Kuroro merasa mengenal aura kehadiran itu, niat membunuh dari sana pun muncul. Dengan cepat, dia melirik Una dan anak kuda itu sudah bersiap untuk mempertahankan dirinya. Kuroro dapat merasakan kekuatan Una membalas dan menyelimuti daerah di sekitar api unggun itu, membuat suatu penghalang di sekitar mereka.

Jangan bernapas...atau bicara...Una memberitahunya.

Kuroro menatap Kurapika, yang dengan bahagianya tak menyadari ada sesuatu yang muncul. Namun nampaknya, suara Una membangunkan Kurapika dari tidurnya. Ketika Kurapika membuka matanya, Kuroro melompat ke samping gadis itu...menutup mulut dan hidungnya dengan menggunakan satu tangan. Terkejut, Kurapika berusaha untuk membalas namun Kuroro sudah menahan gerakannya dalam keadaan terbaring dengan menggunakan sebelah tangan. Kekuatannya melebihi Kurapika, maka jika Kurapika membalas pun sepertinya akan sia-sia saja.

"Jangan bernapas," bisik Kuroro di telinga Kurapika, wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.

Tak memahami situasi itu, dan belum merasakan ketegangan Kuroro dan Una, Kurapika mencoba untuk bersantai namun tetap waspada. Itu hal yang sulit, karena suara serak Kuroro mendadak terdengar begitu nyaman di telinganya, meskipun ada ketegangan di dalamnya. Menyadari apa yang dipikirkannya, Kurapika memarahi dirinya sendiri karena pemikiran kasar yang tiba-tiba itu. Dengan patuh Kurapika menahan napasnya, namun Kuroro tetap tak melepaskan tangannya dari wajah gadis itu. Segera saja, mereka mendengar suara gemerisik semak-semak dan sebuah sosok keluar dari kedalaman hutan yang sangat gelap. Oh, astaga, betapa terkejutnya Kurapika ketika dia melihat sosok itu.

Hisoka! Pekiknya dalam hati.

Jika pria itu bertemu dengan Kuroro dan Kurapika, itu sudah menjadi hal yang buruk, tapi ditambah dengan kondisi di mana pelawak itu sedang berada dalam nafsu membunuhnya yang sangat dalam, keinginan untuk membunuh, sama saja dengan bencana besar. Kali ini Kurapika dengan keinginannya sendiri menahan napas sekuat-kuatnya. Bahkan dia tak berani untuk mengejang sedikitpun. Kuroro menatap ke depan sambil mengamati Hisoka melihat sekeliling tempat itu dengan matanya yang terlihat seperti kelaparan. Pandangan matanya terlihat seolah ia berada dalam pengaruh obat bius; seperti Hisoka yang biasanya ketika pria itu sedang dalam kesenangan melakukan pembunuhan.

"Aneh..." Badut gila itu bergumam. "…Aku bersumpah aku merasakan kehadiran mereka beberapa detik yang lalu di tempat ini…"

Dia melangkah mengelilingi tempat itu, seolah mencoba untuk meyakinkan dirinya. Postur tubuhnya mengerikan; dia membungkuk seperti seekor makhluk buas dan raut wajahnya menegang, membuat Kurapika merinding ketika melihatnya. Hisoka terlihat seperti pemangsa yang siap memangsa korban manapun yang dilihatnya.

"Di sini…," Dia bergumam sambil berhenti tepat di hadapan Kuroro, Kurapika dan Una.

Kaki Hisoka berada di sebelah rambut pirang Kurapika, dan tatapannya terlihat seperti bertemu pandang dengan Kuroro. Dari versi Hisoka, meskipun begitu, dia hanya menatap tanah kosong di bawahnya. Setelah beberapa detik yang terasa begitu lama, akhirnya Hisoka pergi dari tempat itu, bergumam kecewa pada dirinya sendiri.

"Dan kupikir aku sudah menemukan hiburan…," gumam Hisoka sambil melangkah pergi.

Kuroro, Kurapika dan Una masih mempertahankan posisi mereka selama beberapa detik hingga mereka yakin bahwa Hisoka sudah meninggalkan tempat itu dan tak bisa mendengar mereka bertiga.

Pergi… akhirnya Una berbisik dan menarik kembali penghalangnya.

"Apa yang dilakukan Hisoka di sini?" Kurapika berbisik, masih takut bila kemungkinan Hisoka bisa mendengar suaranya dan dia kembalimendatangi mereka.

"Aku lebih suka jika mencari tahu sendiri," Kuroro menjawab sambil menarik tangannya dari wajah Kurapika.

Bahkan tanpa mereka mengatakannya, keduanya tahu bencana seperti apa yang akan dialami jika mereka bertemu dengan Hisoka yang sedang berada dalam mood seperti itu. Dia akan mengabaikan penjelasan mereka dan hanya akan memaksa untuk bertarung. Melihat dari kondisi Kuroro dan Kurapika, tentu tidak menguntungkan. Hisoka adalah tipe lawan di mana seseorang harus berkelahi dengan kekuatan penuh, bahkan Kuroro pun tahu akan hal ini.

"Lepaskan tanganmu!" desis Kuapika.

Dengan patuh, Kuroro bangkit dan membiarkan Kurapika duduk tegak. Dia merilekskan otot-ototnya yang lelah, karena terus berada di atas Kurapika tadi, ketikaHisoka berkeliling di sekitar perkemahan mereka.

"Pasti aku akan memar," gumam Kurapika sambil memijit bahu dan lengannya.

Sambil merilekskan diri, dia melihat Una masih sedikit gemetar karena aura membunuh yang begitu terasa ketika Hisoka ada di sana tadi. Kuroro mencondongkan badan ke arah kuda itu dan menepuk pundaknya. Una meringkik pelan dan menggerakkan hidungnya ke dekat Kuroro.

"Hisoka pasti membuatnya takut," komentar Kurapika saat melihat Una yang gugup dan gelisah.

"Anak mana pun akan mengompol di celana ketika melihat Hisoka dalam kondisi seperti itu," ucap Kuroro santai sambil terus membelai surai Una.

"Bahkan aku harus mengakui, Hisoka membuatku takut dari waktu ke waktu." Tanpa sadar Kurapika bergidik ketika teringat akan tatapan lapar yang ditujukan padanya dalam kondisi seperti tadi.

"Aku tak akan menenangkanmu seperti yang sedang kulakukan pada Una," Kuroro berkata, dia menyeringai nakal sambil lebih mencondongkan badannya pada Una yang menikmati perhatiannya.

"Biar untuknya saja. Aku tak butuh!" bentak Kurapika dengan kejamnya.

"Benarkah?" Pria itu terus menggoda Kurapika dengan sebuah seringai terlihat di wajahnya yang tampan.

Tak menemukan cara yang bagus untuk membuat Kuroro berhenti, Kurapika memutuskan untuk diam dan mengutuk pria itu di dalam hati. Itu akan menyelamatkan dirinya dari godaan Kuroro selanjutnya yang pasti akan membuat gadis itu malu, seperti yang dia pelajari dari sejumlah pengalaman dulu. Tiba-tiba, sesuatu muncul di benak Kurapika.

"Ngomong-ngomong tentang Hisoka...," dia mulai bicara. "Gon dan Killua memberitahuku sesuatu tentang keberadaan Hisoka di Pulau Greed mencari seorang Pengangkat Nen untukmu. Jadi akhirnya dia mendapatkan kesempatannya untuk bertarung denganmu?"

"Ya," Kuroro menjawab dengan ramah.

"Siapa yang kalah?" tanya Kurapika langsung.

Di dalam hatinya, Kurapika tahu siapa pemenangnya. Hisoka akan membunuh lawannya ketika dia selesai bermain-main bersama mereka, dan jika Kuroro masih hidup dan beraktivitas seperti biasa, yah...artinya hanya satu. Meski demikian, merupakan hal yang logis jika Kuroro menghabisi Hisoka, karena badut gila itu sudah berulangkali menjerumuskannya ke dalam situasi yang tidak baik. Pertama, dia mengkhianati Genei Ryodan untuk Kurapika dan mungkin Kuroro akan kehilangan nyawanya jika Gon dan Killua tidak tertangkap oleh para anak buahnya. Lalu, Kuroro pun bisa menjadi tak terduga di waktu seperti itu. Siapa yang tahu apa yang dia pikirkan?

"Perlukah kau bertanya?" Kuroro berkata dengan cara yang angkuh.

Kurapika merengut padanya karena sikap angkuh Kuroro yang menjengkelkan. Tiba-tiba saja gadis itu menjadi tidak tertarik akan topik tersebut.

"Rasanya aku akan tidur sekarang," Kurapika berkata sambil menghela napas. Benar-benar, berdebat dengan Kuroro hanya membuatnya lelah.

"Tak masalah untukku." Kuroro mengangkat bahu, tapi dia tak kembali ke posisinya semula. Kuroro berbaring di samping Una setelah membelai surai anak kuda itu yang berwarna keperakan beberapa kali; seolah mencoba menenangkan Una lagi.

Tidurlah di dekatku. Anak Unicorn itu memohon, suaranya terdengar pelan dan lemah.

Sebenarnya, Kurapika sudah siap untuk menggeser tempatnya dan tidur di suatu tempat yang jauh dari Kuroro, namun mendengar permohonan Una, dia tak sampai hati menolaknya. Lagipula, sihir Una-lah yang menyelamatkan mereka dari masalah besar. Maka Kurapika pun menoleransi keberadaan Kuroro yang berada dekat dengannya. Dia tidur dan mereka menghabiskan sisa malam itu berkumpul di dekat Unauntuk membuatnya nyaman, karena Una masih trauma dengan kehadiran Hisoka yang mengancam.


"Hal itu masih menggangguku...," Kurapika mulai bicara dengan suara pelan. "...Tentang masalah anak..." Kali ini bahkan suaranya menjadi lebih pelan.

Mereka masih berjalan melintasi hutan, namun saat kanopi pepohonan menipis, mereka tahu bahwa mereka sudah dekat dengan jalan keluar dari hutan itu, dan dekat ke pemukiman.

"...Aku cukup yakin kau tidak hamil," Kuroro menanggapi dengan canggung sambil melirik Una. Kuda itu masih bersikap normal di sekitar Kurapika, yang berarti pendapat Kuroro benar.

"...Tetap saja...," Kurapika menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan rona merah yang terasa seperti membakar wajahnya.

"Dia bilang 'ketika anak itu lahir' tanpa mengatakan bagaimana dan kapan akan terjadi. Santailah sedikit, Kurapika. Kau TIDAK hamil." Kuroro menghela napas. "Bahkan dia tak mengatakan bahwa kaulah yang akan melahirkan anak itu."

Tapi apa lagi yang bisa terpikir oleh Kurapika? Bagaimana mungkin seorang anak lahir tanpa ada seorang ibu untuk melahirkannya? Kalaupun ada, Kurapika satu-satunya orang yang bisa melahirkan karena dia satu-satunya perempuan di sini...Tunggu sebentar.

"Mungkinkah itu Una...?"

"Dia hanya seekor anak kuda, jangan berharap terlalu banyak."

"Baik, mungkin aku yang akan melahirkan anak itu, yah semoga saja bukan, tapi siapa yang akan menjadi ayahnya? Aku bukan Bunda Maria," Kurapika berkata sambil mengangkat kedua tangannya karena putus asa.

Kuroro berbalik menatapnya, dan dia memberikan sebuah seringai lebar. Itu adalah seringai yang menimbulkan kengerian hingga ke tulang sumsum Kurapika, bukan karena hal yang mengerikan atau menggertak dari seringaian itu, tapi karena hal lain.

"Bukan kau." Kurapika berkata dengan suara yang terdengar seperti bisikan, penuh dengan rasa takut.

"Tak ada yang bilang begitu," jawab Kuroro sambil berbalik kembali, seringai itu masih nampak di wajah pucatnya.

"Aku lebih baik mati daripada melahirkan anakmu," desis Kurapika geram.

"Benarkah? Hati-hati dengan apa yang kau katakan. Itu bisa menjadi bumerang bagimu," Kuroro menakut-nakuti gadis itu.

Oh, betapa tergodanya Kurapika untuk mengeluarkan rantainya dan menghujamkan mata pisau rantainya itu tepat ke jantung Kuroro dan menghabisinya saat ini juga. Namun akhirnya Kurapika menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Dia melakukan hal itu berulangkali hingga pikirannya sudah terasa tenang. Kuroro, di lain pihak, masih menampakkan seringai senang di wajahnya yang biasanya tak menunjukkan emosi apapun.

Keluar. Una tiba-tiba mengumumkan.

Benar saja, ketika Kurapika menengadah dia bisa melihat akhir dari hutan itu hanya berjarak beberapa meter dari tempat mereka berada sekarang. Bahkan mereka bisa melihat pinggiran kota yang berada di luar hutan. Lalu mereka mempercepat langkah menuju ke sana, dengan kekuatan baru yang datang dari pemikiran bahwa mereka akan berkumpul lagi dengan pemukiman di sana.

"Kurapika," Kuroro tiba-tiba berkata, ketika mereka melangkah menuju ke luar hutan.

Kurapika menatap pria itu tepat di matanya. Dengan keseriusan di nada suara Kuroro, Kurapika tahu dia harus memperhatikannya.

"Ketika kita sudah selesai dengan...semua masalah mengenai belenggu gaib ini, kau bebas untuk berusaha mendapatkanpembalasanmu dariku."

"Apa?" Kurapika langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar apa yang dikatakan pria itu dan Kuroro pun harus terpaksa berhenti. Dia berbalik dan menatapnya. Kurapika tengah memandangi Kuroro dengan tatapannya yang paling menyiratkan keraguan dan seolah mengatakan aku-tak-bisa-mempercayai-pendengaranku-saat-ini-walau-aku-percaya-pendengaranku-masih-sempurna.

"Itu hakmu," Kuroro berkata tanpa ragu. "Lagipula, mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama, jika aku menjadi dirimu."

Kurapika mengernyit menatapnya. Kuroro bersikap aneh dan mengatakan hal-hal yang tak biasa akhir-akhir ini, terutama setelah mereka meninggalkan gua tempat tinggal Phoenix. Pertama, dia menjadi lebih jujur padanya terutama tentang pikiran dan perasaannya. Itu membuat Kurapika tak nyaman, karena itu artinya Kuroro mulai terbuka padanya. Hal ini membuat Kurapika takut; Kurapika takut dia akan menerima pria itu. Apakah mengunjungi masa lalunya berpengaruh bagi Kuroro?

"Tapi ketika saat itu tiba, jangan harap aku akan menanggapinya dengan mudah," dia melemparkan senyum lebarnya dan berbalik melanjutkan langkahnya.

"Hmph! Silakan saja," Kurapika mendengus ketika mereka berderap melangkah ke kota.

Kuroro berbicara dengan jujur, sungguh, kini Kurapika berpendapat bahwa Kuroro yang sekarang lebih baik. Setidaknya dia bisa mengetahui apa yang tengah dipikirkan pria itu.


Hiruk pikuk kota semakin terasa aneh bagi Kurapika. Dia menghabiskan waktu berbulan-bulan bersama Kuroro bepergian melintasi daerah yang tidak mereka kenal dan tempat terpencil dengan tujuan untuk bertemu beberapa makhluk ajaib. Kali ini, mereka harus mengisi persediaan, karena sudah mulai menipis. Una tetap tinggal di hutan, karena dia tak bisa pergi ke kota yang penuh dengan ketidakmurnian. Dia akan menunggu Kuroro dan Kurapika dengan sabar di sana.

"Aku sudah berpikir," tiba-tiba Kurapika berkata.

"Memikirkan apa?" tanya Kuroro santai. Akhir-akhir ini, suasana di sekitar mereka sudah lebih mudah dan mereka pun bercakap-cakap lebih sering seperti orang lain pada umumnya.

"Jika kita mengumpulkan Mata Merah, bukankah seharusnya kita menemukan tempat penyimpanan? Lagipula semuanya ada 36 pasang..."

"Benar," Kuroro mengangguk. Dia pun memikirkan hal itu. "Ada beberapa pilihan. Apakah kita tinggalkan Mata Merah bersama para anggota Laba-laba—"

"Tidak. Coret pilihan itu," Kurapika langsung menyela.

"Atau kita temukan tempat kita sendiri untuk menyimpannya tapi keamanannya dipertanyakan jadi mungkin kita pun harus mencoret pilihan ini. Atau kita bisa menyimpannya di Ryuusei-gai."

"Aku tak mau sering pulang pergi ke tempat terpencil itu," Kurapika menggelengkan kepalanya. "Terlalu melelahkan."

"Aku pun begitu. Pilihan terakhir adalah...kita simpan semua Mata Merah itu di Penginapan Prancing Pony."

"Di tempat Fino? Kita sudah terlalu membuatnya repot, kita tak bisa merepotkannya lebih dari itu," Kurapika mulai protes.

"Jadi pilihan apa yang kau punya?" Kuroro balik bertanya.

Kurapika terdiam, karena dia tahu bahwa dia tak punya pilihan yang lebih baik dari semua pilihan yang ditawarkan Kuroro. Dari semua pilihan yang ada, sepertinya tempat Fino adalah pilihan terbaik.

"Yah...," Kurapika mulai bicara lagi, namun sebuah suara yang terdengar familiar menyela ucapannya.

"Kurapika?"

Kurapika menengok ke sekitarnya, mencoba menemukan pemilik suara itu. Aneh, dia merasa pernah mendengar suara itu sebelumnya, tapi sepertinya sudah lama.

"Kurapika, benarkah ini kau?" suara itu terdengar lebih dekat sekarang.

Ketika Kurapika berbalik dan akhirnya matanya tertuju pada si pemilik suara, wajah gadis itu pun memucat. Kuroro menyadari hal ini dan menaikkan sebelah alis matanya heran.

"Ha-Hanzo?"

Dari semua orang yang ada, sekarang Hanzo-yang-banyak-bicara muncul di hadapan Kuroro dan Kurapika.

"Hei, aku tak mengira akan bertemu denganmu di sini! Bagaimana kabarmu? Aku berusaha menghubungimu sejak lama tapi teleponmu mati. Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat," Hanzo menghujani Kurapika dengan banyak pertanyaan dan kalimat sambil menghampiri gadis itu dengan senyuman nampak di wajahnya yang muda.

"Aku—aku baik," Kurapika tergagap, gagal menunjukkan bahwa dia baik-baik saja seperti apa yang baru saja dikatakannya.

"Hm...kau terlihat berbeda...Suaramu lebih..." Kedua alis matanya mengernyit ketika dia mulai berpikir. Dia mengamati Kurapika secara mendetail, sebelum akhirnya menyadari : "Kau memakai pakaian perempuan!"

"Aku perempuan, Hanzo. Aku harus menyamar sebagai laki-laki selama Ujian Hunter, dan tak ada kondisi yang mengharuskanku untuk mengatakan apa alasan di balik itu. Jadi, kau bilang kau mencariku 'kan? Untuk keperluan apa?" Dengan cepat Kurapika memberitahu Hanzo.

"Hah? Oh ya! Hampir saja lupa. Kau tahu, ada Museum Nasional baru di negaraku. Sangat menakjubkan. Datang dan lihatlah sendiri. Karena aku tahu seperti apa dirimu, kurasa kau pasti ingin melihat-lihat. Jadi aku akan memberimu undangan." Hanzo sepertinya lupa tentang kenyataan bahwa Kurapika seorang perempuan sekarang dan mulai mengoceh tentang Museum Nasional.

Hanzo menggeledah sakunya dan mengambil selembar kartu undangan. Dia menyodorkannya pada Kurapika, yang masih waspada namun sudah mulai tenang.

"Apakah undangan ini benar-benar penting? Apa acaranya benar-benar bergengsi?" Kurapika mengamati undangan itu sekilas.

"Tentu saja! Museum ini akan menjadi museum terbaik di seluruh dunia! Ada banyak barang antik dan artifak langka disimpan di sana; barang-barang yang tak akan pernah kautemukan di tempat lain tapi kau akan menemukannya di museum ini. Sungguh, kau harus melihatnya!" Hanzo berkata dengan antusias.

"Kalau begitu, bisakah aku juga memiliki undangan itu?" Kuroro tiba-tiba angkat bicara.

Kurapika menoleh dan menatap pria itu dengan tatapan bertanya-tanya. Hanzo, di lain pihak, terlihat seperti dia baru melihat pria yang berdiri dekat di belakang Kurapika untuk pertama kalinya.

"Kau...Temanmu, Kurapika?" Hanzo bertanya pada Kurapika.

"Mm...bisa dibilang begitu," Kurapika menjawab dengan malas dan menggertakkan giginya, karena dia bisa merasakan Kuroro tersenyum senang di belakangnya.

"Aku tertarik pada benda-benda langka dan artifak. Jika kau tidak keberatan, aku ingin mengagumi harta karun negaramu juga. Itu merupakan kebanggaan untukku," Kuroro berkata dengan sopan.

"Oh, justru aku yang bangga! Ini, ambillah satu!" Hanzo bergegas mengambil undangan lagi dan memberikannya pada Kuroro.

"Tanggal dan tempatnya ada di situ. Jika kalian perlu bantuan mengenai akomodasi, kalian serahkan saja padaku. Kalau begitu, aku harus pergi sekarang. Aku punya acara lain untuk kuhadiri. Sampai jumpa, Kurapika." Hanzo sudah berbalik untuk melangkah pergi, tapi kemudian di pertengahan jalan dia berhenti dan menambahkan, "Oh, ngomong-ngomong, kurasa Gon, Killua dan Leorio juga akan datang. Mungkin kita akan memiliki acara reuni yang menyenangkan, ya? Sampai nanti."

Setelah berkata begitu, Hanzo melambaikan tangan pada Kuroro dan Kurapika lalu menghilang di antara kerumunan. Kurapika berdiri mematung, tak tahu apa yang akan dilakukan kemudian.

"Sepertinya kau tidak terlalu senang bertemu dengannya," Kuroro berkomentar.

"Hanzo banyak bicara; bibirnya benar-benar tak bisa direm. Aku tak mau dia mengetahui apapun yang berkaitan dengan situasi yang kita alami," Kurapika berkata dengan datar. "Bencana besar kalau Hanzo sampai menyebarkan berita tentang kita."

"Kurasa begitu," Kuroro mengangkat bahunya, dan mereka kembali berjalan di antara kerumunan. Secara pribadi, Kuroro adalah tipe orang yang ingin menghindari masalah dan gosip yang tidak perlu. Dia sungguh menghargai privasi, dan dia yakin Kurapika pun begitu.

"Aku benar. Nostrad tidak mengumumkan kematianku," gumam Kurapika.

"Tak heran kenapa pria tadi tidak terlihat terkejut mendapati dirimu di sini, hidup dan bersikap seperti biasanya," Kuroro mengangguk. Hal itu mengganggunya sejak awal.

"Aku tak mengira…," Kurapika berkata lagi dengan suara pelan. "Merupakan ide yang bagus untuk datang ke acara itu, baik diundang maupun tidak."

"Kenapa tidak? Kupikir pergi ke negara lain merupakan perubahan yang bagus," ucap Kuroro.

"Kau dengar apa yang dikatakannya tadi. Gon, Killua dan LEORIO juga akan ada di sana. Mereka akan membuat keributan besar, ketika kita bertemu dengan mereka semua. LAGI."

"Kau masih memikirkan kejadian di Penginapan Prancing Pony waktu itu?" Kuroro bertanya.

"...Ya...Di samping itu, sekarang bukan waktunya untuk berjalan-jalan. Kita punya masalah mendesak untuk diatasi," ucap Kurapika tegas dengan yakin.

"Benar. Lalu, apakah akan lain jika aku memberitahumu bahwa tujuan kita selanjutnya tepatnya adalah negara temanmu itu?"

Kurapika segera menoleh dan menatap dalam-dalam pria yang lebih tua dan lebih tinggi darinya itu. Bahkan tanpa Kurapika menanyakannya, Kuroro tahu apa yang ditanyakan gadis itu melalui matanya yang sebiru samudera.

"Museum Nasional yang tadi dibicarakan temanmu," dengan santai Kuroro menjelaskan, "Adalah tempat di mana benda yang kauinginkan berada."

Mata Kurapika membelalak. Bibirnya sedikit terbuka, hanya dua kata yang keluar dari mulutnya dalam bisikan yang lemah namun intens,

"Mata Merah."


TBC


A/N :

Balasan review chapter lalu :

Natsu Hiru Chan :

Apa yang dikatakan Kuroro tentang omongan Phoenix itu, udah tau 'kan gimana? Hehe! *smirk*

Kay Lusyifniyx :

Kay juga ikutin terus ya xD

October Lynx :

Umm...okay, this time I tried to edit this more than once...although I was a little bit too rush yesterday *grin*

I hope my translation will be better in each chapter.

Thanks a lot Oct *wink*

Sends :

*twitch* Musnahkan Sends sesuai permintaan ==

Kujo Kasuza Phantomhive :

Mana updatenyaaaaaaaaa Dx

Ayren Christy Caddi :

Hello there xD

Yup, phoenix itu emang keren...suka Four Daughters of Armian ga? Yang putri bungsunya itu nanti jadi phoenix...

fadya gumaida :

Hmm...kita tunggu aja apa maksudnya ya, pastinya chapter depan adalah salah satu chapter favoritku juga *wink*

Gaara Zaoldyeck 'Lucifer :

Hoi hoi hoi! Ujung nickname-nya ganti nih? Hehe!

Makasih...semoga chapter ini pun cukup memuaskan dan jangan lewatkan chapter selanjutnya ya...


Review please...^^