DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.
GENRE :
Adventure & Romance
WARNING :
FemKura. An Indonesian version for 1001 Nights by Runandra, one of my favorite author!^^
CHAPTER 16 : ONSEN!
Kurapika melihat keluar melalui jendela yang besar dan tebal di balon udara itu, memandangi kota yang dinaungi awan mendung yang tipis. Dia akan mengumpulkan Mata Merah lainnya, dan tentu saja bersama Kuroro Lucifer. Belenggu gaib itu masih mengganggu, dan walaupun dia ingin menyangkalnya, Kurapika harus mengakui bahwa memiliki ruang pribadi yang lebarnya terus bertambah merupakan perubahan bagus yang bisa ia miliki. Contohnya, pada saat ini, mereka sedang duduk saling berhadapan, keduanya duduk di sofa mewah yang terdapat di kelas bisnis balon udara itu.
"Tak biasanya kau mau mengeluarkan banyak uang hanya untuk mendapatkan kamar pribadi ini," Kurapika berkata dengan sedikit rasa ingin tahu terdengar dari nada suaranya.
"Yah, tepatnya aku bukan orang yang boros, dan aku juga bukan orang yang kikir," Kuroro mengangkat bahu sambil meletakkan gelas anggurnya. "Walau akan menakjubkan jika kita menggunakan Lisensi Hunter-mu tadi; kita bisa mendapatkan lebih dari ini."
"Maaf ya, Lisensi Hunter-ku benar-benar tak berguna lagi sejak waktu itu kau memalsukan kematianku dengan sangat brilian. Aku tak akan mengambil resiko ditemukan Nostrad dengan menggunakan lisensi itu walaupun hanya sekali! Siapapun yang memiliki Lisensi Hunter dan uang yang cukup, bisa melacak pengguna lisensi mereka di seluruh dunia," protes Kurapika.
"Aku tahu, aku tahu. Shalnark sudah memberitahukan itu semua padaku," dia bersandar kembali ke sofa yang nyaman itu dan bersantai.
"Tapi aku penasaran...Kenapa kau tidak mendapatkan Lisensi Hunter untukmu sendiri? Semua ujiannya pasti akan sangat mudah bagimu," Kurapika bertanya sambil mengernyit.
"Aku tak membutuhkannya. Di samping itu, bergabung dengan Organisasi Hunter akan membuat namamu tercatat. Aku berasal dari Ryuusei-gai, jadi tidak seperti dirimu dan Shalnark, secara politis aku tidak ada. Aku lebih memilih namaku tidak tercatat di manapun. Aku menghargai kerahasiaan dan kemandirian." Dia menyeringai lebar kepada Kurapika. "Lagipula, baik dengan atau tanpa Lisensi Hunter, aku bisa mendapatkan apapun yang kuinginkan."
"Betapa angkuhnya."
Kurapika memutar kedua bola matanya jengkel dan menoleh untuk melihat ke bawah, ke arah pemukiman di luar sana. Kuroro benar, tentu saja. Dia melebihi kualifikasi untuk menjadi seorang Hunter, dan sudah jelas dia mampu mendapatkan apapun yang dia inginkan, tak peduli betapa alasannya sukar dimengerti dan betapa sulitnya mendapatkan keinginannya itu. Pikirannya kemudian beralih ke masalah tertentu yang baru saja mereka selesaikan beberapa hari yang lalu.
"Apakah Fino akan baik-baik saja?" tanpa sadar Kurapika bergumam.
"Pasti," Kuroro menyesap anggurnya lagi. "Kita sudah menjelaskan semua padanya dan dia terlihat gembira."
Gadis itu menghela napas lagi, kali ini dia merasa kesal karena sikap Kuroro yang tenang. Kurapika tahu mungkin Kuroro hanya memperhitungkan semuanya, tapi tetap saja hal itu mengesalkan, melihatnya begitu bebas dan santai. Sejujurnya, hal itu membuatnya rendah diri dan tidak siap.
Seperti kata Kuroro; beberapa hari yang lalu mereka memutuskan untuk menyimpan Mata Merah untuk sementara waktu di Penginapan Prancing Pony. Mereka pergi ke sana, menyapa pemilik penginapan itu dengan sopan, dan menyeret Fino ke salah satu kamar memberitahukan semua mengenai kondisi mereka pada gadis itu. Tindakan yang berani, tapi tak ada pilihan lain. Daripada membuang waktu dengan berbasa-basi, seperti yang Kuroro katakan, mereka harus langsung ke inti masalahnya. Namun mereka menghilangkan bagian cerita mengenai Nen. Waktunya tidak cukup saat itu, sehingga mereka tidak menjelaskan tentang Nen dan segala yang berkaitan dengan hal itu kepada Fino, walaupun Kurapika berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia akan mengajari Fino tentang Nen suatu hari nanti.
"Aku mengerti. Jadi itu alasannya...," Fino mengangguk tanda mengerti.
Gadis itu tidak terlihat ketakutan, dan Kurapika takjub dibuatnya. Dia menduga Fino akan bereaksi hebat mengenai masalah jin dan belenggu gaib, mengingat Fino adalah seorang gadis desa.
"Jadi, mana barang-barang kalian yang harus kusimpan?" Fino bertanya.
"Ini," Kuroro menunjukkan gadis itu beberapa pasang bola mata yang mengapung di dalam tempatnya, dan seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, Fino menjerit kencang.
"MATA?!"
Kurapika menghela napas, bahunya terkulai lemah. Dia tak pernah suka jika harus bercerita tentang sukunya lagi dan lagi. "Yah, begini..." Lalu dengan singkat Kurapika memberitahukan kisah dan tujuannya mengumpulkan semua 36 pasang Mata Merah itu, walau dia tidak mengatakan bahwa Kuroro-lah yang membunuh sukunya.
"Oh, aku mengerti," Fino berkata dengan suara yang lebih tenang, namun wajahnya terlihat muram. "Aku betul-betul menyesal atas rasa kesedihanmu. Itu sungguh tugas yang menakutkan, Kurapika. Kau beruntung memiliki Kuroro di sampingmu."
"Ya, sangat beruntung," Kurapika bergumam dengan sinis sambil melirik pria itu dengan pandangan bertanya-tanya. "Tapi aku minta maaf sudah merepotkanmu, Fino."
"Bukan masalah!" Fino tertawa dan melambaikan tangannya di depan wajahnya, mengenyahkan rasa tak enak Kurapika terhadapnya. "Lagipula, aku senang kau mempercayaiku."
Dan itulah ceritanya bagaimana mereka bisa menyimpan tiga pasang Mata Merah di Penginapan milik Fino.
"Lagipula...," Kuroro tiba-tiba menambahkan. Hal ini menarik perhatian Kurapika dan gadis itu menoleh ke arahnya, menunggu kata-kata Kuroro selanjutnya. "Ini juga merupakan tindakan pengamanan."
"Tindakan pengamanan?" Kedua alis mata Kurapika langsung mengernyit.
"Kurasa ini merupakan cara terbaik untuk menempatkanmu dan Nobunaga di ruangan yang terpisah. Aku tak mau kalian berdua terlibat dalam pertengkaran yang sia-sia, seperti sebelumnya."
Ketika Nobunaga mendapati Kurapika bersama Kuroro di bandara, dia hampir menerjang tenggorokan gadis itu dengan katana miliknya. Untunglah ada Machi di sana, maka dia menyeret pria itu kembali sebelum bisa menimbulkan petaka lainnya dan memberi lebih banyak masalah bagi Danchou mereka. Kurapika, di lain pihak, membuat Nobunaga sulit...mencemooh pria itu dengan tatapan menghina secara terang-terangan. Kuroro harus menyeret gadis itu pergi sebelum dia menyerang Nobunaga secara lisan dengan komentarnya yang paling pedas dan memperburuk situasi.
"Oh, terima kasih banyak untuk pertimbanganmu yang begitu murah hati," Kurapika berkata dengan sengit sambil bersandar di sofa.
"Bukan masalah. Aku pun melakukannya demi kebaikanku sendiri."
Kuroro meletakkan salah satu kakinya di atas lututnya yang lain dan sepenuhnya bersantai. Sebenarnya, jika dia berada di tempat yang sama dengan Nobunaga saat ini, Nobunaga akan tanpa henti memberikan komentar sinis tentang Kurapika, dan Kuroro tidak menyukainya; tidak sama sekali. Dia sudah mengenal Si Pengguna Rantai lebih dari orang lain, dan dia tahu bahwa Kurapika adalah rekan yang bisa memberikan persetujuan jika ditangani dengan benar; abaikan kebiasaannya yang sinis. Sebenarnya dia menikmati kebersamaannya bersama gadis itu.
"Berbicara tentang itu, kenapa kau membiarkan mereka ikut serta?"
"Mereka memaksa untuk datang. Di samping itu, aku dengar Desa Awan Tersembunyi seharusnya adalah kampung halaman Nobunaga dan Machi."
"Kupikir mereka dilahirkan di Ryuusei-gai?" Kurapika mengangkat sebelah alis matanya.
"Mereka ada di antara bayi-bayi yang dibuang di kota itu," Kuroro berkata dengan sikap biasa, seolah apa yang ia katakan bukanlah masalah besar.
"Oh," hanya itu yang bisa dikatakan Kurapika. Secara teknis, Nobunaga adalah salah seorang dari anggota Laba-laba yang sangat dibencinya, tapi setelah mendengar kenyataan kecil ini, dia tak bisa untuk tidak sedikit merasakan simpati. Yah, dia akan menoleransi orang-orang itu untuk saat ini. Lagipula, mereka sekarang mengunjungi kampung halaman setelah sekian lama.
"Biarkan mereka bepergian, sesekali saja," Kuroro menambahkan sambil menyesap anggurnya.
"Bukankah kalian selalu bepergian?" Kurapika berkata dengan sedikit mendengus.
"Yah, kurasa begitu…" Dia terkekeh sambil tersenyum tipis. "Tapi, mungkin kita akan membutuhkan mereka untuk menyamar ketika akan mengambil Mata Merah apapun yang terjadi."
"Pembohong. Kau hanya ingin menjarah tempat itu," ucap Kurapika dengan sikap mengejek, dan membuat Kuroro menaikkan sebelah alis matanya. Mungkin dia memang sudah menerima Kuroro sebagai seseorang; berada di sampingnya secara terus-menerus dan hal itu sudah berlangsung selama beberapa bulan lamanya, tapi dia masih membenci Genei Ryodan sebagai sebuah kelompok.
"Aku bukan orang yang begitu sombong. Ini acara grand opening Museum Nasional, pasti kau bisa membayangkan akan seketat apa keamanannya?"
"Apa ini? Apa kau sedang mengatakan bahwa kau menggerakkan seluruh anggota hanya untuk membantuku mendapatkan Mata Merah?" Kurapika bertanya seolah tak percaya. Yang benar saja, pria di hadapannya ini terus membuatnya terkejut dengan sikapnya yang aneh dan pola sikapnya yang luar biasa. Ataukah memang hanya Kurapika yang tidak siap menerima kebaikannya?
"Kau bisa bilang begitu," Kuroro mengangkat bahu, seolah tidak ada masalah besar. "Aku berjanji padamu untuk mengumpulkan semua Mata Merah, bukan?"
Kuroro mungkin tidak memperhatikan, karena dia tengah menyibukkan diri mengagumi pemandangan di luar balon udara, namun Kurapika langsung diam ketika mendengar pria itu mengatakan janji tersebut. Dia tak bisa mengeluarkan kalimat itu dari dalam benaknya, kapanpun dia merasa putus asa melalui tugas-tugas membahayakan dengan pergi berkeliling dunia untuk mengumpulkan setiap pasang Mata Merah yang berharga.
Sungguh, aku tidak memahami pria ini…, batinnya ingin tahu.
"Yo, Kurapika! Selamat datang di Desa Awan Tersembunyi, kampung halamanku!" Hanzo menyapa Kuroro dan Kurapika dengan tangan terbuka.
"Terima kasih sudah menjemput kami, Hanzo," Kurapika berkata dengan sopan. Dan maaf sudah merepotkanmu dengan mengurus semuanya selama kami di sini."
"Oh, bukan masalah! Semuanya sudah selesai dan siap melayanimu, Nyonya!" Dia berkata sambil menaikkan jempol tangannya.
Kuroro dan Kurapika saling lirik. Diam-diam keduanya berpendapat sama, bahwa dengan cepat Hanzo sudah menerima kenyataan bahwa Kurapika adalah perempuan dan dia menganggapnya lemah. Ketika mereka tiba di bandara, hari sudah malam.
"Pembukaannya dua malam lagi. Aku meminta kalian datang lebih awal karena akan ada festival dan bazar sebelum acara itu. Maka aku berpikir untuk mempersilakan kalian merasakan bagaimana festival di sini. Kalian pun harus mencoba onsen-nya (Pemandian Air Panas)! Aku sudah memesan sebuah kamar di Ryokan (penginapan tradisional Jepang dengan pemandian air panas) terbaik di sekitar sini," Hanzo terus mengoceh.
Ketika pria itu menyebutkan tentang Onsen, Kurapika terdiam. Untuk suatu alasan yang tak masuk akal, dia punya firasat buruk ketika mendengar kata itu. Tiba-tiba, Nobunaga bergegas maju dan mencengkeram tangan Hanzo.
"Kau penduduk sini? Beritahu aku lebih banyak tentang tempat ini! Ini juga kampung halamanku, tapi aku baru pertama kali ke sini," samurai itu berkata dengan mata yang berbinar-binar.
"Benarkah? Rasanya senang berada di rumah, bukan? Kalau begitu, ikut aku! Aku akan mengajakmu berkeliling untuk memuaskan hatimu!" Hanzo menjawab dengan antusiasme yang sama.
"Baiklah, Danchou, aku ijin dulu sebentar!" Si Samurai tersenyum lebar pada Kuroro, tapi menoleh ke arah Kurapika dan memberinya tatapan tajam. "Dan jangan berani-beraninya kau berbuat macam-macam, Anak Nakal!"
Kemudian, kedua pria itu berlalu pergi sambil bergandengan tangan, tenggelam dalam antusiasme dunia kecil mereka. Kurapika senang jika Nobunaga pergi sesekali, karena samurai itu memelototinya sepanjang waktu sambil menggenggam erat gagang katana miliknya, siap menyerang Kurapika dalam kesempatan apapun. Kurapika menggelengkan kepalanya tak percaya, tapi Kuroro hanya terkekeh geli.
"Itu bagus untuknya," ia berkata. "Machi, apa kau juga tidak ingin pergi?" tanya Kuroro sambil menoleh pada wanita itu.
"Tidak, aku tidak tertarik," ucap Machi dengan acuh tak acuh. Yang penting baginya adalah apapun yang berkaitan dengan Danchou-nya dan Genei Ryodan. Selain kedua hal itu, tidak ada yang membuatnya tertarik.
Kurapika melirik Kuroro sekilas, sebelum akhirnya pria itu memalingkan wajah untuk menghindari tatapannya yang bertanya-tanya. Saat itu Kurapika merasakan kepedulian di nada suara Kuroro. Kurapika tahu bahwa Kuroro Lucifer peduli pada orang-orang di dalam kelompoknya, tapi dia tidak menduga bahwa pria itu akan bersikap sedemikian baiknya. Ini terasa mengganggu, tapi kenapa Kurapika merasa familiar dengan sikap itu?
"Danchou," Shalnark memanggil, bermaksud menanyakan perintah selanjutnya.
Ah, benar. Kita punya masalah di sini...Kurapika rasanya ingin menepuk keningnya karena jengkel, tapi dia menahan diri. Dia memeluk tubuhnya sendiri sambil berbalik, seperti yang dilakukan Kuroro.
Berdiri di tengah-tengah bandara, tepat di depan bagian imigrasi, seluruh anggota Genei Ryodan hadir. Ya. Setiap. Anggota. Jika Kurapika diminta untuk menamai kondisi ini dengan satu kata saja, sudah pasti dia akan mengatakan BENCANA. Tidak hanya karena mereka semua mengenakan pakaian yang mencolok, tapi sikap mereka pun tidak lebih baik dari penampilannya. Selain itu mereka juga tidak punya bawaan apapun. Kuroro merasakan kegelisahan Kurapika karena keberadaan Ryodan di sekelilingnya, maka dia memberi mereka perintahnya yang biasa :
"Bubar."
Dengan satu kata itu, seluruh anggota Ryodan lenyap dari sana, masing-masing pergi secara terpisah.
Betapa efektifnya, dengan enggan Kurapika mengakui. Genei Ryodan, walaupun terdiri dari penipu dan penjahat, tapi sangat tertib dab efektif, tidak seperti kelompok lainnya. Dan ini hanya mungkin terjadi di bawah kepemimpinan Kuroro Lucifer, dan Kurapika tahu sepenuhnya bahwa Kuroro mungkin akan menjadi Pemimpin Geng Laba-laba selamanya; tak ada yang bisa menandinginya.
"Kita pergi ke penginapan sekarang?" Kuroro bertanya dengan ramah.
"Ya...," jawab Kurapika dengan murung.
Kuroro menaikkan sebelah alis matanya. "Ada apa?"
"Aku...," Dia enggan mengatakannya, karena rasa ketakutannya yang tidak masuk akal yang mungkin akan menjadi kenyataan jika kalimat itu keluar dari mulutnya. "...punya firasat buruk mengenai penginapan ini."
"Kupikir begitu," Kurapika bergumam sambil menahan napasnya.
Kuroro harus sependapat bahwa semua tidak penuh warna seperti seharusnya. Tidak, ralat itu, semua menjadi terlalu berwarna dengan semua keributan yang sudah bisa diduga sebelumnya.
"Kurapika!" Suara kekanak-kanakkan yang tak diragukan lagi adalah milik seorang bocah lelaki berambut hitam dengan gaya spike di seberang lobi hotel.
Gon bergegas meninggalkan counter resepsionis, meninggalkan kedua orang temannya yang lain, dan tergelincir lalu berhenti di hadapan Kurapika. Kurapika ingin pergi, masih merasa tak enak, tapi dia tahu tindakan itu hanya akan membuat semuanya menjadi lebih buruk. Jadi, dia memaksa dirinya untuk tetap bertahan di tempatnya berada sekarang.
"Gon, sudah lama ya," gadis itu berkata sambil tersenyum lemah.
"Ya! Bagaimana kabarmu?" tanya Gon, dengan antusiasme yang berkobar dan benar-benar polos, hingga Kurapika tak tahan untuk tidak tersenyum lebih berseri-seri sekarang.
"Aku baik-baik saja, seperti yang kau lihat," jawabnya ramah. "Bagaimana kabarmu dan yang lainnya?"
"Tetap aktif dan hidup seperti seharusnya," kali ini suara lain yang menjawabnya.
Kurapika mendongak dan mendapati Killua berjalan dengan ogah-ogahan ke arah mereka. Dia berhenti di hadapan mereka, di samping Gon, dan menatap Kurapika sejenak.
"Yo," dia berkata sambil mengangkat sebelah tangannya dengan santai, sikap yang dia tunjukkan ketika menyapa seseorang.
"Killua," Kurapika menyebut namanya, sedikit merasa aneh. Dia masih ingat kemarahan Killua dulu. Itu adalah kenangan yang tak mungkin dia lupakan.
"Kulihat hubungan kalian baik," kata Killua datar. Sejenak dia menatap Kuroro dengan tajam, sebelum memalingkan wajahnya.
"Cemburu?" Kuroro tak tahan untuk tidak menyerukan kata itu sambil memasukkan kedua tangan ke dalam sakunya dengan santai. Kurapika akan mengomentarinya nanti, Kuroro yakin akan hal itu.
Terkejut, Killua berkedip dan mulutnya menganga tapi dia segera kembali ke raut wajahnya yang biasa dan menatap Kuroro dalam-dalam. Kurapika sendiri terkejut oleh jawaban Kuroro yang tak terduga, dan itu terdengar menantang, tak salah lagi. Seolah Kuroro sengaja menantang Killua.
Kekanak-kanakkan sekali! Kurapika berkata dalam hati. Dia tak pernah melihat Kuroro yang seperti ini sebelumnya.
Gadis itu mengamati Kuroro dan Killua dengan tatapan tak percaya ketika mereka berdua saling adu tatap, sementara Gon pun tak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Eh…Killua?" ucap bocah itu pelan.
"APA?!" Killua menanggapi, suaranya membentak seperti anjing yang menyalak.
"Mm…kukira Leorio sedang dalam masalah di sana. Lihat, dia melambaikan tangannya memanggil kita kembali ke sana," Gon bergumam sambil menarik lengan baju Killua.
Benar juga, Kurapika bisa melihat Leorio memandang mereka dengan ekspresi gelisah. Ketika sudah berjalan beberapa langkah, Gon berbalik dan melambaikan tangannya dengan bersemangat pada Kurapika. "Kita akan bertemu lagi, Kurapika."
Kurapika hanya bisa balik melambaikan tangannya tanpa berkata apapun, walau dia memaksakan diri tersenyum untuk menghargai bocah itu.
"Temanmu benar-benar tidak ramah," Kuroro berkata ketika Gon dan Killua sudah lebih menjauh dan tak bisa lagi mendengar mereka.
"Kau yang pertama kali memprovokasinya, dasar bodoh!" desis Kurapika sengit.
Seperti dugaan Kuroro, Kurapika terus mengomel mengenai sikapnya dan seterusnya; yang umumnya dia abaikan sambil mengurus registrasi mereka. Setelah semuanya beres, pelayan mengantar mereka ke kamar. Kamar itu merupakan kamar luas bergaya Jepang, dengan sebuah pintu geser yang mengarah ke koridor terbuka di kedua sisi, dengan lantai tatami, dan di seberang koridor terdapat taman bergaya Jepang yang tertata rapi.
"Kasur lipatnya ada di lemari," Pelayan itu menjelaskan sambil menggeser pintu, menampakkan ruang penyimpanan yang berisi seluruh keperluan mereka. Dia kemudian melanjutkan penjelasannya mengenai berbagai kegunaan dan fasilitas di kamar itu, sebelum akhirnya dia berhenti di depan sebuah laci kecil.
"Ada 'pengaman' di sini, kalau-kalau kalian memerlukannya," ucapnya dengan suara berbisik yang terdengar sensual sambil tertawa lembut 'ohohoho' dan menutupi mulutnya dengan sikap yang malu-malu.
Ketika kata 'pengaman' itu disebutkan, wajah Kurapika benar-benar memerah bahkan dia bisa merasakan telinganya terbakar karena malu.
"Kami tak akan memerlukannya," Kuroro berkata dengan nada suara yang datar dan cuek.
"Benarkah?!" Si Pelayan menutupi mulutnya dengan kedua tangannya sekarang, terlihat terkejut bahkan dia sedikit tersipu karena salah memahami arti kata-kata yang diucapkan Kuroro. Sementara itu Kurapika merasa seperti dia akan meleleh menjadi jeli karena rasa malu yang tak tertahankan.
"Kalau begitu, aku permisi." Si Pelayan membungkukkan badannya dengan sopan sebelum mengundurkan diri. Sumpah, Kurapika bisa mendengar suara gembiranya ketika bertemu dengan pelayan lain dan bergosip tentang mereka yang 'tidak membutuhkan 'pengaman' apapun'. Kuroro dan Kurapika masih berdiri; Kuroro mengagumi kamar itu sementara Kurapika masih dalam keterkejutannya setelah menyaksikan kesalahpahaman Si Pelayan.
"Bisakah kau tidak mengatakan komentar yang tak perlu jika itu akan menimbulkan tafsiran yang salah?!" Kurapika hampir berteriak pada Kuroro, yang terlihat tidak resah oleh semua kesalahpahaman itu.
"Oh, ayolah Kurapika. Seorang pria dan seorang gadis tidur di kamar yang sama selama tiga hari dua malam, kesimpulan apa lagi yang bisa mereka dapatkan? Hubungan keluarga jelas tidak mungkin, karena kita tidak mirip. Kau harus terbiasa dengan hal itu sekarang," Kuroro berkata sambil mengangkat bahu dan menjatuhkan ranselnya ke lantai lalu meregangkan tubuhnya dengan santai.
"Setidaknya jangan buat kondisinya menjadi lebih buruk!" ucap Kurapika sambil mengikuti Kuroro seperti seekor anak anjing.
"Jangan emosi, Nak. Kenapa kau tidak pergi ke onsen untuk mendinginkan kepalamu? Malam seperti sekarang ini merupakan saat yang sempurna untuk berendam air panas. Sudah jelas kau membutuhkannya."
"Maaf ya! Perlu kau ketahui, belenggunya hanya bisa melebar paling jauh lima meter. Bagaimana aku pergi ke onsen jika aku terjebak bersamamu?! Aku tak punya pilihan lain!" kata Kurapika tajam.
"Jadi jika itu memungkinkan, kau benar-benar ingin pergi ke onsen?" Kuroro berbalik dan menghadap ke arahnya, seolah menantang gadis itu.
"Ya, begitulah, tapi—"
"Kalau begitu, ayo pergi."
"Aku—apa?!"
Kurapika memeluk tubuhnya yang ramping dengan merasakan ketidakamanan teramat sangat yang pernah dia rasakan seumur hidupnya. Dia berada di sana dalam keadaan setengah telanjang, hanya mengenakan sehelai handuk putih, sekedar menutupi tubuhnya dari dada hingga setengah pahanya. Bahkan walaupun dia sudah membenamkan seluruh tubuhnya hingga ke leher, dia sungguh merasa telanjang. Dia tak memperhatikan ketika mereka memasuki Ryokan, jadi dia tidak mengetahui adanya keterangan bahwa Ryokan itu memiliki onsen yang bisa digunakan oleh laki-laki maupun perempuan. Bahkan jika dia tahu, dia tak mengira Kuroro akan menyeretnya ke dalam onsen. Terlebih lagi, pasangan orang tua yang juga berada di pemandian itu tengah membicarakan mereka!
"Oh, sungguh pasangan muda yang serasi," salah satu wanita tua itu berkata dalam suara bisikan yang terdengar gembira.
"Kuharap aku bisa kembali muda seperti mereka," yang lainnya berkata dengan penuh harap.
Lagipula kenapa sikapku melunak, sih?! Bodoh! Wajah Kurapika sudah sangat merona karena malu, yang disebabkan oleh percakapan para wanita tua itu.
"Wajahmu sudah memerah," Kuroro, yang duduk dalam jarak kurang dari lima meter dari gadis itu, berkomentar.
"Ini karena panas," Kurapika mengelak sambil menjauh sekitar satu inci dari Kuroro. Apa yang dia katakan itu merupakan alasan yang sempurna karena onsen-nya benar-benar panas.
Yah, walaupun Kurapika harus mengakui, rasanya enak merendam tubuhnya yang lelah di dalam air yang beruap dan panas, dengan aroma belerang. Onsen itu merupakan onsen yang berada di luar ruangan dan indah, dengan pohon bambu di sekitar mereka dan pagar bambu yang membatasi pemandian khusus pria, khusus wanita dan pemandian yang diperuntukkan untuk pria dan wanita. Pemandian itu terbuat dari bahan-bahan alami; berlapis kerikil halus, dengan batu besar sebagai dindingnya yang digunakan para tamu untuk bersandar ketika bersantai di dalam air panas. Kurapika benar-benar beruntung karena onsen itu memperbolehkan para tamu untuk mengenakan handuk di dalam air, karena kebanyakan onsen melarangnya. Lebih baik dia mati daripada berendam telanjang dalam air yang sama dengan Kuroro.
Kurapika memeluk kedua lututnya dengan erat, masih merasa tak aman meskipun sudah mengenakan handuk dan tertutupi uap tipis air panas itu. Airnya sedikit buram karena belerang, jangan lupakan uapnya; cukup untuk menyembunyikan kondisinya yang setengah telanjang, namun hal itu masih mengganggunya. Dan lagi, mungkin dia memang perlu berendam air panas…membantunya untuk mengendurkan syaraf dan ototnya yang sakit setelah terbang berjam-jam dan karena perjalanan dengan berjalan kaki yang dia lakukan bersama Kuroro.
"Nyamannya…," Kurapika menghela napas puas.
"Kubilang juga apa, kau membutuhkan ini," Kuroro berkata sambil sedikit menyeringai.
Kurapika mengabaikan tanggapan angkuh Kuroro dan membenamkan tubuhnya lebih dalam ke air berasap itu, ketika sebuah pemikiran aneh melintas di benaknya. Dia langsung merona seketika. Kurapika menjadi sangat pendiam. Benar-benar diam, hingga mungkin seseorang akan mengira bahwa gadis itu sudah melihat Gorgon dan berubah menjadi batu. Kuroro menaikkan sebelah alis matanya melihat sikap Kurapika yang aneh ini. Sepertinya dia kini sering terdiam tiba-tiba.
"Ada apa?"
"Aku…," mata Kurapika tertuju ke air yang buram itu, bahkan dia memeluk kedua lututnya dengan lebih erat. Wajahnya semakin memerah. "…tidak akan hamil karena ini…'kan…?"
Kuroro ternganga; sungguh. Itulah pertama kalinya Kuroro melakukan hal itu seumur hidupnya.
"Kurapika," dia berkata dengan suara yang terdengar benar-benar serius. "Itu adalah hal paling menggelikan yang pernah kudengar seumur hidupku."
"Yah, maaf saja!" Terpicu oleh rasa malu yang tak tertahankan, Kurapika memercikkan air panas ke arah Kuroro.
"Oh!"
Ketika Kurapika menyadarinya, kedua tangannya sudah terangkat ke udara, dan seluruh kepala Kuroro sudah basah kuyup. Perlahan tapi pasti, pria itu mengangkat tangannya dan menepiskan air dari wajahnya. Sementara itu Kurapika menurunkan tangannya dan matanya membelalak membayangkan hal mengerikan yang akan terjadi kemudian.
"Kau…," Kuroro mulai bicara sambil menurunkan tangan dari wajahnya, "…meminta masalah, Nona."
Dalam rentang waktu yang sekejap itu, Kurapika benar-benar lumpuh oleh tatapannya. Bukan tatapan membunuh, bukan juga tatapan jahat atau ganas atau apapun. Hanya saja…tatapan pria itu melumpuhkannya. Dia benar-benar tertegun, secara fisik maupun mental, hingga tak menyadari para wanita tua itu sedang tertawa cekikikan di sisi lain pemandian itu. Satu-satunya alasan mereka begitu karena melihat Kuroro menghampiri Kurapika dengan sikap yang…sangat mengundang kesalahpahaman (setidaknya menurut ukuran Kurapika).
Tepat sebelum Kurapika bisa bicara atau bereaksi apapun untuk membalas sikap Kuroro yang aneh, dia mendengar sebuah keributan dari pemandian lain. Dia hampir mengabaikan keributan itu dan fokus pada bencana di dekatnya, ketika percakapan yang terdengar kemudian menarik perhatian gadis itu sepenuhnya.
Di pemandian khusus laki-laki, dua bocah dengan warna rambut berbeda berlari menuju ke air tenang di onsen itu lalu melompat.
"Pemandian air panas! YEAAHH!"
SPLASH!
"O-oi! Anak-anak, bersikaplah yang baik!" Leorio segera mengejar mereka, siap memarahi mereka tanpa ampun karena membuat keributan besar di onsen yang hening dan tenang itu. Onsen seharusnya menjadi tempat untuk meditasi dan relaksasi, bukan tempat untuk anak-anak yang berisik seperti Gon dan Killua untuk bermain di koridor.
"Kau berisik, O-san. Hanya ada kita di sini," protes Killua, yang sudah basah kuyup dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Tetap saja, ada tamu di pemandian lain. Jangan mengganggu mereka!" desis Leorio jengkel.
"Ya, yaaaa," Killua berkata dengan suara terpaksa sambil menempatkan dirinya di samping Gon, di salah satu sisi kolam air belerang yang beruap itu.
Mereka tenang sebentar, dan suasana pun damai walau hanya untuk sesaat.
"Aku masih tak bisa percaya bahwa Kurapika benar-benar perempuan," Leorio angkat bicara.
"Yah, biasakan dirimu," ucap Killua sadis. "Daripada itu, aku masih sulit menerima dia bepergian bersama Kuroro Lucifer."
"Tapi Killua, mereka tak bisa berbuat apa-apa mengenai hal itu, bukan?" ucap Gon, berusaha meredakan emosi Killua.
"Tetap saja...," Killua membenamkan dirinya lebih dalam ke air panas dan cemberut. "Dia bisa meminta bantuan kita untuk mengumpulkan Mata Merah itu. Kenapa harus Kuroro Lucifer? Apakah dia tidak mengganggap kita temannya?"
"Oy, oy! Jangan bilang begitu!" Leorio menyanggah bocah itu. "Kurapika pasti punya alasan sendiri. Walaupun aku juga tidak suka dia bepergian dengan pria yang berbahaya itu."
Kurapika benar-benar terpaku ketika menguping peercakapan mereka. Dia memahami kekesalan dan kekhawatiran teman-temannya itu, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia sudah putus asa mencari Mata Merah, dan dia pun tak tahu kapan dirinya dan Kuroro akhirnya bisa menghancurkan belenggu itu. Tanpa sadar, tubuh Kurapika terbenam lebih dalam ke air yang beruap itu, permukaannya sudah melewati dagunya. Entah bagaimana, dia merasa sangat pusing, dan semua percakapan di sekitarnya menjadi seperti kelompok kata yang saling bercampur-aduk.
"Kurapika?" akhirnya Kuroro menyadari keanehan ini. Dia mendekati gadis itu dengan hati-hati, sepenuhnya mengetahui bahwa Kurapika sangat waspada jika dia berada di dekat orang lain dalam kondisi setengah telanjang seperti itu. Mungkin dia akan memukulnya hingga pingsan jika Kuroro berada terlalu dekat dengannya.
Kurapika tidak menjawab, dan itu membuatnya khawatir karena wajah gadis itu sudah semerah lobster, tatapannya pun tidak fokus. Kuroro langsung tahu, Kurapika hampir pingsan karena suhu yang panas. Tanpa peringatan apapun terlebih dahulu, Kuroro menyelipkan sebelah tangannya di belakang lutut gadis itu dan sebelah tangannya lagi menyokong bagian atas tubuhnya. Secara bridal style, Kuroro mengangkat Kurapika dari pemandian air panas dan bergegas keluar dari tempat itu. Namun dia bertindak cukup hati-hati agar handuk yang dikenakan Kurapika tidak terlepas. Kejadian itu menimbulkan keributan kecil di antara para tamu yang ada di sana.
Namun Kuroro tidak menyadari, suaranya terdengar oleh tiga sosok yang sedang berendam di pemandian lain.
Kurapika merasa pusing, sangat. Dia merasa seolah jatuh tertidur dalam kawah berapi yang aktif atau semacamnya. Gadis itu mulai berkeringat, dan rasanya mulai tak nyaman. Dia menggeliat dalam tidurnya, berusaha mencari posisi yang bisa membuatnya merasa lebih dingin, ketika tubuhnya terkena angin yang bertiup semilir. Angin itu bertiup terus-menerus, dan diarahkan padanya. Rasanya nyaman. Mata Kurapika bergerak terbuka ketika dia sudah merasa cukup nyaman. Kurapika mendapati dirinya berada di sebuah kamar, tubuhnya kering dan dia dipakaikan yukata yang digunakan untuk tidur. Yah, walaupun rambutnya masih lembab.
"Kau sudah bangun," sebuah suara bass berkata.
"Apa kau—"
"Para pelayan yang memasangkan pakaianmu," Kuroro segera menyela sebelum gadis itu berteriak marah.
"Oh...," Kurapika bergumam, dan berkata dengan suara pelan, "Kepalaku rasanya seperti berputar." Dia merasa otaknya seperti direbus, dan seluruh tubuhnya terbakar.
"Tentu saja. Apa yang kaupikirkan? Kau mencoba memasak dirimu sendiri" Kuroro mendengus geli.
Kurapika menoleh memperhatikan sekelilingnya lebih jauh, sesaat sebelum ia menyadari bahwa angin lembut yang dirasakannya tadi berasal dari kipas yang digunakan Kuroro. Pria itu duduk di sampingnya dengan satu kaki tertekuk ke atas untuk menyangga salah satu sikunya sementara tangannya yang lain digunakan untuk mengipasi Kurapika dengan perlahan, mengeluarkan panas dari tubuh gadis itu. Dia mengenakan yukata tidur yang sama seperti yang dikenakan Kurapika. Kurapika menatap langit-langit kamar mereka, matanya memandang jauh.
"Aku tak butuh teman. Satu-satunya yang bisa kuandalkan hanyalah kekuatanku sendiri, dan aku hidup semata-mata untuk tujuan ini," dia berkata, suaranya terdengar seperti bisikan.
Kuroro terdiam sesaat. Dia tahu kenapa Kurapika tiba-tiba mengucapkan hal seperti itu, mungkin Kurapika berusaha memberi sugesti pada dirinya sendiri bahwa penting baginya untuk tidak terlalu memikirkan apa yang mungkin dipikirkan ketiga temannya tentang dirinya. Dia mencoba melepaskan diri dari emosinya. Kuroro pun menyadari apa yang dimaksud dengan 'tujuan' yang dibicarakan Kurapika.
"Kalau kau tak butuh teman, itu pilihanmu. Dan lagi, bahkan kekuatanmu pun sama lemahnya dengan teman-temanmu," ucap Kuroro lembut beberapa saat kemudian.
"Apa maksudmu dengan 'lemah'?" Kurapika bertanya, sedikit merasa terhina dengan jawaban pria itu tapi dia merasa terlalu lemas untuk marah.
Keputusasaan adalah motivasinya, dan kebencian adalah bahan bakarnya. Suara Phoenix bergema di benak Kuroro. Namun, keduanya pun seperti borgol yang mengikatnya.
Selama kekuatanmu berasal dari kebencian yang kaumiliki, tak akan ada untungnya bagimu. Itulah yang ingin Kuroro katakan, tapi dia memutuskan untuk menyimpannya di dalam hati. Apapun yang terjadi, Kurapika tak akan mendengarkannya.
Semua dimulai darimu, dan berakhir pula padamu. Sungguh Kuroro bisa merasakan adanya ejekan di senyum Phoenix waktu itu. Selama kau hidup, Kuroro Lucifer, dia percaya bahwa bebannya tak akan menghilang. Jadi terserah padamu apakah kau akan membebaskannya dari rantai yang membelenggunya atau tidak.
Kuroro merenungkannya. Memikirkan hal itu, jika dia mati, maka beban Kurapika akan terangkat. Dan lagi, jika dia mati, Kurapika akan kehilangan tujuan hidupnya, bukan? Lagipula, membalaskan dendam sukunya berarti membunuh Kuroro dan seluruh anggota Laba-laba. Jika Kuroro terus hidup, Kurapika pun demikian, demi memenuhi pembalasan dendamnya, walau hidupnya sendiri akan menderita. Mana yang lebih baik, bagi Kurapika untuk kehilangan tujuan hidupnya atau melanjutkan hidup sambil dihantui dendam?
Kenapa aku begitu mempedulikan hal ini? Pria itu tiba-tiba mendengus geli. Ini tidak seperti dirinya yang biasa, peduli pada orang lain di luar lingkaran Genei Ryodan. Namun ketika berbicara tentang hal ini, nasib Kurapika bergantung pada keputusan Kuroro. Walaupun enggan, dia harus mengakui bahwa Phoenix memberitahukan yang sebenarnya.
"Kuroro?" Kurapika bertanya dengan ragu, kepada pria yang tiba-tiba menjadi sangat pendiam dan menahan diri. Dia dapat melihat kebingungan yang hampir tak kentara di raut wajahnya, dan benar-benar tidak seperti Kuroro yang biasanya. Mungkin juga karena halusinasi Kurapika yang disebabkan oleh tubuhnya yang 'mendidih'.
Menanggapi panggilannya, Kuroro menoleh pada Kurapika. Dia memanfaatkan waktunya untuk mengamati wajah Kurapika; kulitnya yang pucat, rambut emasnya yang kini panjangnya sudah mencapai bahu. Kuroro pun memperhatikan bahwa berat badan gadis itu berkurang banyak. Awalnya, ketika dia bergegas membawa Kurapika yang setengah telanjang dari onsen ke kamar mereka, dia menyadari betapa ringan tubuhnya. Bahkan dia hanya menggunakan sedikit tenaga untuk mengangkatnya. Kuroro tahu, Kurapika terbilang kurus untuk gadis setinggi dia, tapi Kuroro tak pernah menduga bahwa Kurapika akan sekurus itu. Ketika Kuroro menatap matanya, mata Kurapika terlihat bergerak-gerak gelisah di bawah tatapannya. Lagipula, Kuroro tak bisa menyalahkan gadis itu; hubungan di antara mereka aslinya merupakan hubungan antara pembunuh dan korbannya, sang pembalas dan target dari pembalasan dendam itu. Tak ada sesuatu pun yang manis dalam hubungan mereka, termasuk saat ini, semua hanya karena kutukan Hassamunnin.
Apakah itu kutukan, ataukah berkah? Apakah itu anugerah, atau kutukan? Yang lebih penting lagi, apakah aku ingin kondisinya menjadi berbeda?
Tenggelam dalam renungannya, tanpa sadar Kuroro mengulurkan tangan dan membelai pipi Kurapika yang memerah dengan lembut menggunakan punggung tangannya. Gadis itu tidak berbuat banyak seperti tersentak, misalnya. Malah yang terjadi adalah, dia menyandarkan kepalanya ke tangan Kuroro, merengkuh rasa dingin yang diberikan pria itu. Mengejutkan, kulit Si Kuruta benar-benar lembut; seolah ini pertama kalinya Kuroro menyentuhnya. Tidak, dia sudah pernah menyentuh Kurapika dalam berbagai kesempatan, tapi dia tak pernah memperhatikan hal-hal yang mendetail seperti itu.
"Jika kau tak ingin bersandar pada teman-temanmu, setidaknya kau bisa bersandar padaku. Lagipula, aku bukan temanmu," Kuroro berkata dengan suara yang lirih, seolah kalimat itu tak bermaksud untuk diucapkan maupun untuk didengar.
Kurapika sudah terlelap ketika kalimat itu keluar dari mulut Kuroro, kelopak matanya pun sudah setengah tertutup. Dia mendengar semua itu, tapi melewatkan pernyataan Kuroro dan menganggapnya sebagai salah satu dari halusinasinya saja. Bahkan Kurapika berpikir bahwa sentuhan Kuroro yang dingin di pipinya merupakan halusinasinya yang lain. Demikianlah, Kurapika tertidur nyenyak sementara tubuhnya mencoba menurunkan suhunya yang panas.
Dengan sengaja Kuroro membiarkan jemarinya berlama-lama di pipi Kurapika sambil menelusuri bentuk wajah gadis itu. Dia begitu muda, kuat tapi juga rapuh. Kuroro pernah melihatnya mogok beberapa kali, dan hal itu lebih dari cukup bagi Kuroro untuk belajar bahwa Kurapika seperti cangkang kerang yang kuat di bagian luar namun bagian dalamnya sama rapuhnya dengan orang lain yang juga mengalami tragedi dalam hidup.
"Mm...permisi?"
Sebuah suara pelan dan terdengar ragu, membuyarkan lamunan Kuroro.
"Masuklah," dia hanya berkata, lagipula dia tak bisa pergi dari sisi Kurapika.
Pintu itu bergeser terbuka, tapi walaupun Kuroro memunggungi pintu tersebut, dia tahu bahwa Gon-lah yang datang dengan sopan dan mengatakan permisi sebelum masuk. Kuroro pun memperhatikan bahwa dari mereka berempat, bocah berambut spike itu yang tidak begitu membencinya. Walau dia pernah mendengar dari Machi dan Shalnark bahwa Gon memandang rendah kelompoknya jika menilai dari sikap yang dia tunjukkan pada Nobunaga dan Feitan ketika dirinya dan Killua ditangkap.
"Apakah Kurapika baik-baik saja?" tanya Gon malu-malu. Secara pribadi, Gon tidak bisa memahami Kuroro dan cara berpikir pria itu. Dia memberikan toleransi pada Kuroro karena sepertinya Kuroro menjaga Kurapika dengan baik. Lagipula, dari sudut pandangnya, Kuroro tidak bermaksud jahat pada Kurapika saat itu.
"Dia akan baik-baik saja," Kuroro menjawab. "Kenapa kau datang?"
Gon tidak menjawabnya untuk sejenak, tapi kemudian dia angkat bicara, "Kami baru saja mendengar ada keributan, di pemandian."
"Dan?"
"Yah...kami bertanya pada orang-orang mengenai apa yang terjadi, dan..." Gon menggantungkan kalimatnya.
"Apa kau mengkhawatirkannya?" Kuroro bertanya sambil berbalik menghadap Gon.
Gon terlihat sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. "Tentu saja! Dia temanku," ucapnya dengan nada suara yang terdengar heran, seolah jawabannya sudah jelas sehingga Kuroro tak perlu menanyakannya.
"Senang mendengarnya," Kuroro berkata sambil tersenyum tipis. Meskipun kamar itu memiliki cahaya yang remang-remang, Gon memperhatikan suatu gerakan kecil, yang mengusik rasa ingin tahunya.
"Mm..."
"Kurapika baik-baik saja, Gon," pria itu berkata, tahu bahwa bocah itu tak tahu bagaimana harus memanggilnya.
Kali ini, Gon terkejut Kuroro memanggilnya dengan menyebut namanya, tapi dia segera pulih dari rasa terkejutnya. "Kuroro, kenapa kau membantu Kurapika?"
Bocah itu bertanya dengan polos, membuat Kuroro terkekeh. "Kau selalu menanyaiku pertanyaan yang sulit. Kenapa, kau bilang? Bagaimana ya...Yah, singkatnya, kami menyetujui kesepakatan di antara aku dan dia."
"Kesepakatan?" Mata Gon membelalak.
"Aku akan membantunya mengumpulkan semua 36 pasang Mata Merah, dan sebagai gantinya, dia akan bekerjasama denganku untuk menghancurkan 'kutukan' ini dan ketika semuanya sudah selesai, dia akan membiarkan kami sendiri, dan kami pun akan meninggalkannya," Kuroro berkata dengan tenang pada Gon, yang menyimaknya baik-baik.
"Jadi dia berjanji umtuk tidak memburumu lagi?" Gon bertanya lagi, matanya semakin melebar setiap detik.
"Ya, mungkin."
"Mungkin?" Gon berkedip dan memiringkan kepalanya karena bingung.
"Kau tahu, kesepakatan kami hanya berpengaruh selama belenggu ini masih terpasang dan 36 pasang Mata Merah itu masih tersebar di seluruh dunia. Sekalinya belenggu ini hancur, dan dia memiliki semua Mata Merah itu, selalu ada kesempatan salah satu dari kami melanggar kesepakatan itu. ini bukan kesepakatan seumur hidup. Tak pernah ada kesepatan yang seperti itu," Kuroro menjelaskan.
"Kau setuju bukan, Bocah Zaoldyeck yang ada di sebelah sana?"
Gon terdiam dan setetes peluh membasahi pelipisnya. Terdengar suara decakan lidah yang terdengar kesal dari balik pintu geser di sebelah Gon, dan Killua melangkah maju menampakkan dirinya.
"Bagaimana kau bisa menemukanku? Zetsu-ku sempurna," dia berkata sambil sedikit cemberut.
Tanpa menjawabnya, Kuroro hanya memberi bocah itu sebuah senyuman nakal. "Temanmu yang seorang lagi; dia dokter, 'kan? Kenapa kau tidak memanggilnya ke sini untuk memeriksa Kurapika," ucapnya ramah sambil mengisyaratkan ke arah Kurapika yang tertidur.
"Benar!" kata Gon dengan wajah berseri-seri lalu bergegas menjemput Leorio.
Killua tetap berdiri di tempatnya. Dia menatap Kuroro penuh tanya, dan Kuroro menerimanya tanpa memalingkan wajah atau melakukan apapun.
"Kenapa? Aku masih tak mengerti. Kau tidak mendapatkan apapun dengan membantu Kurapika begitu banyak. Bahkan kesepakatan itu terlalu jauh untuk menjadi alasan dari semua yang kaulakukan untuknya," desak Killua curiga. "Mengenal seperti apa dirimu, kau adalah tipe orang yang menempatkan keuntungan bagi dirimu dan kelompokmu di atas apapun."
"Apakah pertanyaan 'kenapa' merupakan pertanyaan favoritmu?" Kuroro menjawab dengan nada suara yang sedikit terdengar kesal. Dia tak suka menjelaskan tentang dirinya sendiri; seringkali ketika dia melakukannya, orang-orang tidak memahaminya, jadi apa gunanya memberitahu bocah itu?
"Sebut saja ini tindakan pencegahan. Kami tidak ingin Kurapika terlibat masalah lagi, lebih dari yang sudah dia punya sekarang," ucap Killua datar.
"Aku hanya melakukan apa yang kuinginkan," akhirnya Kuroro berkata.
"Kau ingin membantunya? Tapi dia berbahaya untukmu dan kelompokmu," Killua bertanya dengan kebingungan yang tampak jelas di wajahnya yang kekanak-kanakkan.
Kuroro tersenyum melihat kebingungan Killua. Namun dia tak bisa menjawabnya. Itu adalah pertanyaan yang dia pun sulit untuk menjawabnya. Kenapa, kenapa, dan kenapa? Kuroro tidak tahu. Dia hanya merasa tak bisa meninggalkan Kurapika sendiri, merasa bahwa dia harus melakukan sesuatu. Penebusan dosa untuk kejahatan yang telah dia lakukan enam tahun yang lalu? Mungkin saja.
Jangan cemas, kau akan ingin membebaskannya. Suara Phoenix, lagi dan lagi, bergema di kepalanya.
Mungkin, tapi kenapa? Kepentingan apa yang mengubah perhatianku? Pikir Kuroro.
"Kenapa, ya?" Kuroro menutupi mulutnya dengan sebelah tangannya dan dalam sikap berpikirnya yang khas.
"Apa kau…" Killua enggan mengatakannya, tapi dia punya suatu kecurigaan besar. "…merasa bertanggungjawab untuknya?"
Kuroro menoleh dan menatap Killua dengan tanpa ekspresi.
"Tidak. Pastinya bukan itu alasannya," akhirnya dia berkata setelah terdiam beberapa lama.
"Kalau begitu apa?"
Kuroro tak sempat menjawab pertanyaan Killua, ketika Leorio datang dengan gaduh ke depan kamar mereka, peralatan kedokterannya sudah ia bawa di tangannya. Gon mengikuti di belakang Leorio seperti seekor anak anjing yang setia.
"Kura—MMPH!"
Sebelum pria jangkung itu sempat mengeluarkan teriakan yang sanggup membangkitkan orang mati, Gon memeganginya dari belakang dan membekap mulutnya.
"Jangan ribut, Leorio! Kurapika sedang tidur!" bisiknya.
"Benar. Maaf." Leorio menggaruk bagian belakang kepalanya karena malu.
"Ck, O-san, kau selalu membuat kami malu kapan pun, di mana pun," Killua menyeringai sambil mengejek.
"Diam kau, dasar bocah!" Pria berkacamata itu menampakkan wajah cemberutnya yang jelek yang merupakan ciri khas dari 'Leorio'.
Tanpa diminta, dengan sopan Kuroro bergeser, memberi ruang pada mahasiswa kedokteran itu untuk mengurus perawatan medis Kurapika, jika dia memang membutuhkannya. Leorio duduk di samping kasur lipat Kurapika dan siap memeriksanya, tapi dia memberi Kuroro tatapan waspada sebelumnya. Leorio bekerja dengan lembut dan tak berkata apapun agar tidak membangunkan Kurapika yang memang harus banyak tidur.
"Bocah Zaoldyeck," Kuroro memanggil Killua dengan suara pelan.
Killua tidak menjawabnya, tapi menoleh padanya dengan sedikit waspada. Sepertinya ketidakpercayaan bocah itu terhadap Pemimpin Geng Laba-laba sudah mulai berkurang.
"Kau bilang sesuatu tentang dia tidak meminta bantuanmu untuk mengumpulkan Mata Merah, bukan?" Kuroro bertanya, matanya yang gelap tertuju pada sosok Kurapika yang sedang tidur.
"Ya. Ada apa?" Killua balik bertanya. Dia punya dugaan mengenai apa yang akan ditanyakan pria itu.
"Kalau begitu maukah kau berpartisipasi kali ini?"
Killua mengernyit curiga mendengar tawaran baik Kuroro. Killua tahu, Kuroro bukanlah orang yang bisa begitu saja menawari seseoorang untuk bergabung dalam operasinya, belum lagi jika mengingat hubungan di antara mereka dan kelompok pria itu dulu. Sudah pasti Kuroro merencanakan sesuatu. Ketika Killua mempertimbangkan tawaran yang 'menggiurkan' itu, sesuatu muncul dalam benaknya.
"Setuju, tapi dengan satu syarat," Killua menjawab dengan sebuah senyum lebar nampak di wajahnya.
"Yaitu?"
"Kau harus mengajak Kurapika pergi ke festival besok malam."
Kuroro menaikkan sebelah alis matanya, jika ada sesuatu yang melibatkan Kurapika, semua terlihat rumit baginya. Mempertimbangkan situasi yang ada, gadis itu tak akan mau pergi ke festival.
"Baiklah," akhirnya Kuroro mengangguk. Tak ada salahnya mencoba membujuk Kurapika. Lagipula, dia sendiri ingin tahu seperti apa festival itu.
"Beres kalau begitu. O-san, apa kau sudah selesai?" Killua melangkah menghampiri Leorio, yang berjongkok di samping Kurapika.
"Ya. Dia baik-baik saja. Dia butuh istirahat. Lihat dia, tidur dengan nyenyak seperti batu," ucap Leorio sambil mengemasi peralatannya ke dalam tas.
"Setidaknya dia tidak mendengkur sepertimu," Killua menyeringai.
"Aku tidak mendengkur!"
"Kau menyangkalnya. Kau mendengkur seperti seekor dinosaurus. Ayo, Gon! Banyak yang harus kita lakukan!"
"Eh?"
Setelah berkata begitu, Killua menyeret Gon keluar dari kamar, meninggalkan Leorio di belakangnya. Leorio menatap Kuroro dengan gugup, karena dia tahu apa yang bisa dilakukan pria itu. Walaupun dia sering membual sebagai yang paling aktif secara fisik di antara teman-temannya di sekolah kedokteran yang dia ikuti, di antara orang-orang ini, dia merasa seperti seekor semut. Leorio bergegas keluar, tapi sebelum melarikan diri, dia menyempatkan untuk menoleh ke arah Kurapika sekali lagi. Terakhir, dengan enggan dia melirik Kuroro dan menutup pintu geser di belakangnya perlahan.
"Killua, apa yang tadi kau bicarakan dengan Kuroro?" tanya Gon penasaran ketika mereka berjalan menuju ke kamar.
"Aku akan memberitahumu secara terperinci nanti," ucap Killua tak sabar sambil menekan nomor tertentu di ponselnya.
Gon hanya berkedip bingung. Dia mengamati Killua ketika bocah berambut perak itu menempelkan bagian mikrofon ponselnya ke pipinya, wajahnya terlihat bersemangat. Ketika akhirnya teleponnya diangkat, wajahnya berseri-seri dan ada sinar kegembiraan di matanya yang seperti mata kucing itu.
"Senritsu, ini aku."
TBC
A/N :
Gyaa…rasanya ga sabar n menyenangkan sekali menerjemahkan salah satu chapter favoritku ini! Aku suka kebersamaan Kuroro dan Kurapika di kampung halaman Hanzo.
Oke, ini balasan review chapter lalu :
Gaara Zaoldyeck 'Lucifer :
Iya…bagian itu emang lucu xD
Ok ini lanjut…hehe
Natsu Hiru Chan :
Salad Days itu saat di masa muda di mana seseorang masih miskin pengalaman.
Mudah-mudahan Natsu juga suka chapter ini ya x3
alucard4869 :
Kuroro was adorable *blush*
Terima kasih selalu menantikan fic-ku w
Kujo Kasuza :
APAAAA!? *shock*
Waktu lappy-ku rusak, aku pake cara Rere…ngetik di hape dengan penuh perjuangan (pegal banget karena touch screen!), trus kirim ke email sendiri. Abis itu edit n publish di warnet deh!
Semoga komputer Kujo cepet sembuh yaa *kibasin sapu tangan dengan mata berkaca-kaca*
Hehe, ceritanya tambah seru mulai chapter ini…nantikan terus ya…
Sends :
Hahaha, update kali ini kurang kencang karena kebanyakan proyek (?)
Makasih…
mayuyu :
Wah nick name yang lucu! xD
Salam kenal…iya, Runandra emang hebat…bkin cerita sebagus ini!
Makasih udah review ;)
Review please…^^
