DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.
GENRE :
Adventure & Romance
WARNING :
FemKura. An Indonesian version for 1001 Nights by Runandra, one of my favorite author!^^
CHAPTER 17 : FESTIVALS
"Apa ini?" Kurapika bertanya dengan alis mata berkerut.
"Itu namanya yukata," Kuroro menjawab dengan tenang.
"Aku tahu itu. Maksudku, kenapa kau memberiku ini?"
Kurapika mendesaknya sambil bersungut-sungut ketika mengambil yukata itu dengan hati-hati. Sehelai yukata berwarna biru muda dengan corak kupu-kupu berwarna kuning dan merah. Entah kenapa, warnanya mengingatkan Kurapika pada baju khas sukunya.
"Kita akan pergi ke festival malam ini."
"Kenapa?"
Kuroro tidak langsung menjawabnya. Tentu saja dia tidak bisa memberitahukan alasan yang sebenarnya kenapa ia mengajak gadis itu pergi bersamanya. Jika Kuroro melakukannya, pasti Kurapika akan marah dan tidak mau pergi, membahayakan rencananya.
"Jangan bilang ini salah satu dari ide anehmu untuk bersenang-senang dengan tidak jelas," Kurapika bertanya lagi sambil menatap Kuroro curiga, mengusik ingatan pria itu mengenai perjanjiannya dengan Killua.
"Kalau iya?" Kuroro menantang Kurapika sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan tersenyum.
Kurapika menghela napas dan menatap yukata di depannya. Dia menelusuri coraknya yang berbentuk kupu-kupu berwarna kuning dengan ibu jarinya, merasakan kain unik yukata itu dengan penuh pertimbangan.
"Kurasa pergi ke festival di sebuah negara asing bukan ide buruk. Lagipula, Hanzo sudah bersusah-payah mendatangkan kita ke sini selama musim festival."
Kuroro menaikkan sebelah alis matanya. Jarang sekali dia langsung terbawa pertanyaan-pertanyaan Kurapika yang mendesak dan menekan dirinya dengan begitu mudah. Sepertinya mood gadis itu sedang bagus.
Yah, mungkin Dewi Fortuna sedang berada di pihakku sekarang.
"Uum...Danchou?"
"Shalnark. Bagaimana penyelidikannya?"
"Baik-baik saja, tapi sebelumnya...Kenapa kau berpakaian seperti itu, dan berdiri di tengah koridor seperti ini? Di mana Kurapika?"
"Dialah alasannya kenapa aku di sini; dia mengusirku keluar kamar karena sedang mengganti pakaiannya dengan yukata," Kuroro menjawab sambil memberi isyarat dengan kepalanya ke kamar tidur tertutup yang ada di belakang pria itu di mana Kurapika berada. "Menjawab pertanyaan pertamamu, kami akan pergi ke festival di daerah pusat kota. Lalu, apa yang kautemukan?"
"Seperti yang kita duga, mereka menempatkan banyak Ninja di sekitar Museum Nasional. Tak mungkin kita masuk diam-diam. Walau tidak semua dari Ninja itu adalah Pengguna Nen; sebenarnya ini pun jarang, kupikir mereka masih lebih hebat daripada preman mafia yang biasa kita hadapi."
Machi muncul entah dari mana dan berdiri tepat di sebelah Shalnark. Dia menaikkan sebelah alis matanya walau hanya sekilas, tapi tak menanyakan apapun mengenai apa yang dilihatnya. Di sana, berdiri di hadapannya, adalah Danchou-nya mengenakan yukata berwarna biru gelap. Itu adalah warna tengah malam, dan terdapat pola berbentuk geometris dengan warna biru pucat di atasnya.
"Hmm..." Kuroro, secara spontan bersikap sesuai kebiasaannya, menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. "Beritahu Nobunaga untuk membuat Ninja Hunter tetap sibuk hari itu, lagipula dialah yang paling merepotkan. Akan ada sedikit perubahan rencana; teman-teman Kurapika juga berpartisipasi dalam operasi ini."
"Teman? Maksudnya, anak-anak itu?" Alis mata Machi mengernyit ketika teringat Gon dan Killua.
"Ya."
"Tapi kenapa mereka ingin membantu?" Shalnark menyela, tak memahami perkembangan baru situasi ini.
"Demi kebaikannya, tapi dia tidak tahu, dan sebaiknya jangan. Gadis itu akan menghentikan teman-temannya jika dia tahu."
Lalu, Kuroro melihat Machi mengernyit. Dia sudah terbiasa untuk memperhatikan arti dari sikap Machi yang seperti itu; ada beberapa kernyitan yang menunjukkan firasat buruk, dan firasat Machi memang tiada bandingannya.
"Firasat buruk, Machi?" Kuroro bertanya ingin tahu.
"Tidak...," jawab Machi dengan suara pelan. "Aku tak keberatan mereka ikut berpartisipasi, tapi..."
"Tapi?"
"Sebenarnya, sejak awal aku merasa ada sesuatu yang terlewatkan."
Kuroro menaikkan sebelah alis matanya, tanda bagi Machi untuk menjelaskan lebih jauh.
"Ya. Seakan-akan...ada hal lain yang kita butuhkan. Bukannya ini akan mengacaukan rencana, tapi...jika kita memiliki 'sesuatu yang hilang' itu, bahkan semuanya akan menjadi lebih baik," perlahan Machi menjabarkan firasatnya, tapi tetap saja tidak tepat kedengarannya.
Kuroro mempertimbangkan kata-kata Machi dan merenungkannya. Firasat Machi biasanya akurat, lebih akurat dari apapun juga. Firasat wanita itu belum pernah salah sebelumnya, dan bukan merupakan suatu tindakan yang keliru untuk hanya mempercayai firasatnya. Jadi, yang perlu Kuroro lakukan adalah menemukan 'bagian yang hilang' itu sebelum besok siang.
"Ngomong-ngomong, apakah Kalluto tahu bahwa saudaranya sedang ada di sini?" Kuroro tiba-tiba bertanya.
"Aku tidak tahu. Haruskah aku memberitahunya?" Shalnark balik bertanya sambil mengangkat bahunya dengan sikap yang santai.
"Ya. Beritahukan juga, dia bebas mengunjungi saudaranya kapan pun dia inginkan, selama kunjungannya itu tidak mempengaruhi rencana kita," jawab Kuroro, menganggukkan kepalanya.
"Aku mengerti," Shalnark menanggapinya dengan suara yang dilagukan.
Bocah Zaoldyeck yang umurnya lebih muda itu mungkin memang anggota yang masih sangat baru di Genei Ryodan, tapi dia sudah dianggap sebagai Laba-laba. Bahkan dia membantu menemukan pengangkat Nen untuk Kuroro. Kuroro sudah bersumpah pada dirinya sendiri untuk menjaga anak buahnya, dan dia tak akan meninggalkan tugas itu. Tiba-tiba pintu geser di belakangnya terbuka, memperlihatkan Kurapika yang memicingkan matanya dengan berbahaya.
"Aku mendengar hal-hal yang mencurigakan," dia berkata sambil mengarahkan tatapannya yang tajam pada Kuroro. Namun pria itu masih memunggunginya. Dia menoleh melihat Shalnark dan Machi. "Dan kenapa mereka ada di sini?"
Machi hanya menanggapi gadis itu dengan dingin tanpa berkata apa-apa. Tetapi Shalnark menikmati waktunya sejenak untuk mengagumi Kurapika dengan mulut yang sedikit terbuka. Kurapika mengenakan yukata biru muda yang seakan-akan memang dijahit khusus untuknya, obi berwarna merah marun merengkuh pinggang rampingnya dengan sempurna. Rambut pirangnya kini sudah mencapai bahu. Shalnark baru saja akan mengatakan sesuatu, tapi Kurapika segera memelototinya.
"APA?!" dengan kejam ia membentak Shalnark.
Shalnark membeku di tempatnya dan tidak bergerak sedikit pun. Machi menaikkan sebelah alis matanya, dan Kuroro terpengaruh dengan reaksi mereka. Pria itu berbalik, dan ketika akhirnya ia melihat Kurapika dalam penampilannya yang baru, Kuroro tertegun. Dia berhenti melangkah dan matanya terbelalak. Dia mengamati gadis pirang itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kurapika heran, dan di saat yang sama dia dapat merasakan rona kemerahan menjalar naik ke wajahnya.
Kuroro membuka mulutnya hendak bicara, tapi Kurapika menunjuknya sambil menatapnya tajam...memperingatkan pria itu. Kuroro pun mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah dan dengan bijak menutup mulutnya. Machi dan Shalnark membelalakkan matanya seolah tak percaya. Ini pertama kalinya mereka melihat Sang Danchou begitu merendah dan menunjukkan sikap menyerah. Mereka pun saling bertukar pandang karena merasa aneh.
Kuroro Lucifer benar-benar sudah berubah.
"Kau terlihat manis."
Kurapika berhenti melangkah seketika, seolah Kuroro membuatnya lumpuh dengan racun yang bersifat melumpuhkan atau semacamnya. Dia menoleh ke arah Kuroro dan membelalakkan matanya hingga ukuran maksimum. Kuroro, yang berada selangkah di depannya, berhenti dan menoleh untuk melirik gadis itu. Seulas senyum tipis nampak di wajahnya yang tampan.
"Apa?" desis Kurapika tak percaya.
"Yukata itu cocok untukmu," Kuroro mengulang kata-katanya dan berbalik pergi.
Pria itu mulai melangkah lagi dan Kurapika pun terseret. Si Gadis Kuruta berkedip berulang kali, mencoba memahami arti dari kata-kata Kuroro walaupun kata-kata itu terdiri dari suku kata yang paling sederhana yang pernah ada di kamus manapun. Mereka menempuh jalan yang sepi dari Ryokan, turun ke festival di daerah pusat kota. Kuroro dan Kurapika berjalan berdampingan dalam keheningan yang penuh ketenangan ketika angin malam bertiup semilir melewati mereka. Keduanya terbiasa berada dalam interaksi yang hening seperti ini, dan mereka pun menikmatinya. Sesaat kemudian, akhirnya Kurapika tak bisa menahan diri dan harus menanyakan pertanyaan ITU.
"Tadi…,"Kurapika mulai bicara, keraguan terdengar jelas di nada suaranya, "Apa yang kaurencanakan?"
"Tadi?"
"Di onsen…," dia bergumam dengan suara pelan, merasa malu untuk mengatakannya.
"Ah…," Bibir Kuroro membentuk sebuah senyum tipis ketika dia mengerti apa yang dimaksud Kurapika. "Tidak ada."
"T-tidak ada?" Kurapika berkedip tak percaya.
"Tidak ada. Aku hanya bercanda," Kuroro mengangkat bahunya cuek, namun senyuman itu masih terlihat di wajahnya. Lagipula, Kurapika tak melihatnya.
"Kau? Bercanda?" Kurapika mengernyit. Benar-benar tidak seperti Kuroro Lucifer yang biasanya, melakukan hal yang kekanak-kanakkan seperti itu. "Kau tak pernah bercanda."
"Sepertinya kau mudah tertipu, aku tak bisa menahannya," Kuroro menyeringai padanya, tapi dia tak mengatakan apapun lagi.
"Tertipu? Aku bukan mainanmu!" protes Kurapika dan mulai mengomel tak jelas sambil memanyunkan bibirnya.
Melihat reaksi gadis itu, Kuroro terkekeh pelan...membuat Kurapika semakin marah. Segera setelah mereka sampai di pintu masuk festival, keduanya disambut orang-orang yang tak terduga maupun yang sudah diduga kedatangannya oleh Kuroro dan Kurapika.
"Kurapika!"
Kurapika mendongak dan ketika melihat orang yang baru saja memanggil namanya, dia langsung terdiam di tempat. Di sana, berdiri bersama Killua, Gon, dan Leorio, ada Senritsu. Suara bernada yang baru saja didengar Kurapika ternyata suara Senritsu. Mereka semua mengenakan yukata khas daerah itu, siap untuk bersenang-senang. Namun Kurapika, terlihat begitu pucat seperti hantu. Seolah darah tidak mengalir di wajahnya, membuat wajah gadis itu pucat pasi. Dia berhenti melangkah, dan secara otomatis Kuroro pun begitu. Kuroro menaikkan sebelah alis matanya sambil mengarahkan matanya yang gelap ke wanita bertubuh kecil itu. Kuroro mengenalnya; dia ada ketika Kurapika menangkapnya waktu itu di Kota Yorkshin.
Kurapika menoleh ke arah Kuroro dengan marah dan memelototinya. Andai tatapan bisa membunuh, pasti pria itu sudah termutilasi secara mengerikan karena tatapan Kurapika sejak tadi.
"Kau pembohong! Bukannya kau bilang itu hanya salah satu ide anehmu untuk bersenang-senang?!"
"Aku tidak mengiyakannya, 'kan? Aku hanya bilang, 'Bagaimana kalau memang iya?" Kuroro menanggapi. "Tapi aku tak tahu mengenai keterlibatannya dalam hal ini," Kuroro mengisyaratkan ke arah Senritsu.
Kurapika menggertakkan giginya kesal. Kuroro benar. Dari satu sisi, dia tidak berbohong padanya karena dia tidak menjawab pertanyaan itu. Perhatian Kurapika hanya teralihkan, jadi dia tidak benar-benar memperhatikan detail bagaimana Kuroro menjawabnya. Itulah, seperti yang sudah dia katakan berulangkali pada dirinya sendiri dengan sinis, seni yang dia dapatkan setelah bepergian terlalu lama bersama pria yang menjengkelkan itu. Jika Kurapika bersikap terlalu mudah padanya, pasti akan berakhir dengan Kuroro mengerjainya, lagi dan lagi; walau hal itu tak pernah membahayakan, tetap saja menjengkelkan.
Pria licik! Dia mengutuk dalam hati.
Meskipun begitu, Kurapika tahu bahwa Kuroro memberitahukan yang sebenarnya ketika mengatakan bahwa dia tak tahu apa-apa tentang keterlibatan Senritsu. Kurapika pun mengerti; dari cara pria itu berbicara, bahwa semua yang berkaitan dengan kepergian mereka ke festival direncanakan oleh teman-temannya. Apa tujuannya, Kurapika tidak tahu sama sekali. Dia membelokkan langkahnya, menghadap keempat orang temannya dan memelototi tiga orang di antaranya yang berada di belakang Senritsu. Leorio terlihat seperti menyesut ketika tatapan mematikan gadis itu tertuju padanya, dan sudut bibir Leorio pun berkedut gelisah.
"Ada apa ini?" tanya Kurapika dengan geram.
Killua bertukar pandang penuh arti dengan Kuroro. Diam-diam mereka sudah setuju untuk tidak memberitahu Kurapika tentang kesepakatan mereka. Killua pun sudah memberitahu yang lain sebelumnya bahwa Kurapika tidak tahu mereka akan berpartisipasi mencuri Mata Merah.
"Ayo kita bersenang-senang bersama, Kurapika!" seru Gon dengan antusias. Sekali lagi Killua bersyukur atas sikap polos Gon yang dilakukan untuk mengalihkan perhatian Kurapika dari topik 'apa yang sedang terjadi saat ini'.
"Bersama dia di dekatku?" desis Kurapika dengan nada suara yang terdengar skeptis.
"Jangan hiraukan aku," ucap Kuroro datar.
"Bagaimana bisa?" Kurapika menolehkan wajahnya, memberi pria itu sebuah tatapan yang menunjukkan rasa kesal, "Keberadaanmu bagai duri di dalam dagingku!"
"Kurapika."
Gadis itu tersentak ketika sebuah tangan meraih tangannya dengan lembut. Kurapika berbalik, menunduk melihat seorang wanita bertubuh kecil yang berdiri di hadapannya. Senritsu tak pernah berubah. Dia masih memancarkan sikap ramah dan lembut yang begitu keibuan...dan sangat diinginkan Kurapika. Mungkin Senritsu adalah orang terdekatnya yang memiliki sosok seorang ibu.
"Senritsu...," Wajah Kurapika langsung menunjukkan ekspresi sedih, "Aku benar-benar minta maaf..."
Senritsu menggelengkan kepalanya. Dia tahu untuk apa Kurapika minta maaf; karena meninggalkan dirinya dan memalsukan kematiannya, dan juga menipunya. Senritsu memahami beban dan siksaan yang harus dilalui gadis itu.
"Kau tetaplah dirimu, Kurapika. Tapi kau yang sekarang lebih terkendali." Senritsu melirik Kuroro sekilas, yang berdiri tak jauh dari mereka (karena belenggu itu, tentu saja). "Sekarang kau lebih dewasa dan tenang secara emosional," tambahnya sambil terus melirik pria itu.
Kuroro menaikkan sebelah alis matanya, heran atas sikap Senritsu. Dia tahu arti tersembunyi dari kata-katanya; bahwa dialah alasan kenapa Kurapika sekarang tumbuh dewasa. Kuroro memutuskan untuk tidak mengatakan apapun dan berpura-pura tidak mendengar percakapan itu. Lebih bijaksana untuk menyimpannya di dalam hati saja.
"Kenapa kau ada di sini?" Kurapika bertanya sambil menggenggam tangan Senritsu. Memegangi tangan wanita itu terasa begitu menenangkan. Baik dan lembut, Kurapika sangat merindukannya.
"Ada sesuatu yang harus kuberitahukan padamu," Senritsu tiba-tiba menjadi sangat serius dan menatap langsung ke mata Kurapika. "Nostrad sedang memburumu."
Satu pernyataan itu menarik perhatian mereka berlima. Killua, Gon, dan Leorio terperangah bersamaan. Mereka hanya tahu bahwa Nostrad adalah mantan majikan Kurapika, dan salah satu anggota Mafia. Meskipun begitu, informasi dari Senritsu sudah cukup untuk bisa memperkirakan seberapa menakutkannya kondisi saat ini. Diburu Mafia bukanlah hal yang bagus atau mudah. Kurapika menahan napas ketika informasi itu merasuki benaknya. Dia sudah menduga hal ini, tapi mendengarnya secara langsung tetap saja membuatnya terkejut. Kuroro sedikit memicingkan matanya. Dia sudah menduga masalah ini akan datang, tapi dia tak pernah mengira bahwa dia akan merasa tidak senang mendengarnya.
"Dia megetahui mayatmu palsu. Dia juga sekarang tahu bahwa kau seorang Kuruta. Kurasa dia mencoba menjadikanmu sebagai hadiah baginya. Untuk Nostrad, kau adalah artifak hidup yang bernilai milyaran zenni, yang bisa menghasilkan cukup uang untuk melunasi semua utang dan membantunya meningkatkan status sosial," Senritsu melanjutkan penjelasannya dengan kernyitan yang nampak di wajahnya yang cemas.
"Aku tahu…," jawab Kurapika dengan suara yang lemah.
"Kuharap kau benar-benar tahu apa yang harus kaulakukan, Kurapika. Tetaplah low profile sebisa mungkin. Untungnya, Nostrad masih belum tahu bahwa sebenarnya kau perempuan. Selama kau menyatakan dirimu perempuan dan tak pernah menunjukkan Mata Merahmu, kau akan baik-baik saja."
Kurapika sedikit menoleh dan matanya yang berwarna bagaikan samudera bertemu dengan mata Kuroro yang gelap. Mereka berdua menyetujui satu hal; daftar masalah yang mereka punya baru saja bertambah satu.
Ketika mereka berjalan mengitari bazar, mencoba berbagai macam makanan (namun Kurapika terlihat ragu melakukannya), dan mencoba berbagai permainan daerah itu (bersama Kurapika yang enggan), Kurapika menjadi tahu banyak hal tentang apa saja yang dilakukan ketiga temannya selama dia terjebak bersama Kuroro Lucifer. Gon masih mencari ayahnya; Ging, sementara Killua masih menemaninya. Leorio masih bergulat dengan sekolah kedokterannya, namun keuangan tidak lagi menjadi masalah berkat bantuan Lisensi Hunter. Senritsu mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai pengawal ketika dia mendengar rencana Nostrad untuk menangkap Kurapika. Bashou pun begitu. Mereka berdua sepakat untuk pergi terpisah dan mencari Kurapika untuk memberitahukan informasi itu padanya. Karena Senritsu menemukannya lebih dulu; berkat telepon dari Killua saat itu, dia akan memberitahu Bashou nanti.
"Aku sudah menimbulkan banyak masalah bagi kalian berdua," Kurapika berkata sambil tertunduk malu. Dia menatap Senritsu dan memberinya seulas senyuman terima kasih. "Tapi aku benar-benar berterimakasih padamu."
"Jangan pikirkan itu, Kurapika. Kau menyelamatkan hidup kami berulang kali, dan di samping itu, itulah gunanya teman," ucap Senritsu dengan senyumnya yang berseri-seri.
Sambil mendengarkan cerita mereka yang tak begitu penting, Kuroro terus menatap Gon.
Di mana aku pernah melihat wajah seperti itu sebelumnya? Tidak, tepatnya bukan wajahnya, tapi matanya. Pandangan yang menakjubkan itu tidak biasa. Dan terlihat mirip seperti seseorang, pikirnya. Semua kenangan itu seperti butiran pasir; semakin dia mencoba menggenggamnya, semakin banyak pasir yang keluar dari celah jari-jarinya. Seolah seseorang yang berada dalam ingatan Kuroro berasal dari masa lalu yang sudah cukup lama.
"Ngomong-ngomong, Kurapika, Lisensi Hunter milikmu sekarang tak berguna lagi, 'kan?" Gon tiba-tiba berkata.
"Oh. Yah...," Kurapika menoleh, memahami pertanyaan Gon. "Sebelumnya karena aku seharusnya sudah mati, tapi sekarang karena Nostrad mungkin bisa melacakku melalui Lisensi itu."
"Kalau begitu, kenapa kau tidak mengambil punyaku saja?" Gon mengambil Lisensi Hunter miliknya dan menawarkannya pada Kurapika.
Tampak jelas sekali, Kurapika terkejut dengan kebaikan hati bocah itu, tapi dia menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih Gon, tapi tidak usah. Aku tak bisa merepotkanmu lebih dari yang sudah kulakukan."
"Jangan khawatir, masih ada Lisensi Hunter milik Killua," Gon beralasan.
"Tidak, aku tak bisa menerimanya. Hak atas lisensi itu sepenuhnya milikmu. Bukan tindakan yang tepat bagiku untuk menggunakannya," ucap Kurapika tegas.
"Tapi aku meminjamkannya padamu atas keinginanku sendiri!" Bocah berambut spike itu memaksa.
Lagi, Kurapika menggelengkan kepalanya dengan sungguh-sungguh dan meletakkan kedua tangannya di balik punggungnya; itu adalah sikap yang menunjukkan bahwa Kurapika tak akan pernah menerima tawaran Gon walau apapun yang terjadi. Gon langsung memanyunkan bibirnya, menunjukkan kekecewaannya secara terang-terangan atas penolakan Kurapika. Lalu Leorio berusaha untuk menyelamatkan hari itu dengan mendinginkan suasana canggung yang sedang terjadi.
"Hei, Kurapika, kau harus punya ponsel. Dengan begitu, kita masih bisa saling berkomunikasi," ia menyarankan.
Begitu Kurapika teralihkan dengan bahasan mengenai ponsel itu, Gon menoleh kepada Kuroro; yang berdiri di samping Kurapika sejak tadi dan menyaksikan semua peristiwa yang terjadi di hadapannya. Dia menaikkan sebelah alis matanya ketika menyadari tatapan tajam dari Gon yang langsung diarahkan padanya. Bukannya mengatakan sesuatu, Gon menyerahkan Lisensi Hunter-nya pada Kuroro. Kali ini, Kuroro berkedip, menunjukkan kegalauannya menafsirkan tindakan bocah itu.
"Tolong simpan ini untuk Kurapika," kata Gon singkat.
Killua mengernyit melihat sikap Gon. Dengan kata lain, sikapnya menunjukkan bahwa dia cukup mempercayai Kuroro untuk menjaga benda penting seperti itu demi kepentingan Kurapika. Tangan Killua mulai merasa gatal untuk menyadarkan temannya itu. sepertinya Gon benar-benar melupakan reputasi Kuroro yang terkenal jahat sebagai Pemimpin Genei Ryodan. Atau, Gon sudah memutuskan untuk mengabaikan kenyataan itu.
"Apa yang membuatmu mengira bahwa aku akan menerimanya?" Akhirnya Kuroro menjawab sesaat kemudian, "Aku orang yang suka mengambil kesempatan, dan dia menolak tawaranmu, aku akan mengikuti keputusannya. Dan lagi, dengan atau tanpa Lisensi Hunter, tak ada bedanya bagiku."
Killua memicingkan matanya. Bajingan yang sangat sombong, pikirnya.
"Selain itu, bukankah seharusnya kau menghormati keputusannya?"
Kuroro tersenyum pada Gon, dan senyuman itu sangat ramah hingga Gon tak bisa untuk tidak merasakan dalam waktu yang sekejap itu, bahwa sebenarnya Kuroro adalah orang yang sangat baik. Dia menanamkan dalam benaknya bahwa pria itu seorang penjahat, tapi sulit membayangkan seorang pembunuh dan pencuri sepertinya mampu menunjukkan ekspresi seperti itu.
"Aku mengerti...," Gon bergumam, bahunya terkulai...merasa kalah dan kesal. Sedih karena maksud baiknya ditolak Kurapika, dia mengerti Kurapika pasti punya alasan sendiri.
Sementara itu, Killua memandangi Kuroro dengan ekspresi keras di wajahnya.
"Ekspresi dari semua alasan itu...bukanlah bidangku. Tapi sejujurnya, atau lebih tepatnya lagi, kenyataannya, itulah tempat di mana kunci menuju kesadaran diri berada."
Killua ingat Kuroro menggumamkan tentang hal itu ketika Gon bertanya padanya kenapa dia bisa membunuh orang-orang yang tak berkaitan dengan dirinya. Entah kenapa, hal itu mengganggu Killua. Bagaimana bisa seorang pemimpin dari kelompok terkenal Genei Ryodan mengatakan hal seperti itu? Killua berharap akan mendengar sesuatu yang hebat, tapi yang diucapkan Kuroro terlalu sederhana dan samar. Selain itu, apa yang dilakukan Kuroro belakangan ini sungguh merupakan tanda tanya besar. Ketika Killua bertanya apa alasannya menolong Kurapika sejauh ini, Kuroro tak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Seolah Kuroro tidak tahu kenapa dia melakukan apa yang dilakukannya sekarang. Ekspresi alasannya, begitulah Kuroro menyebutnya, sepenuhnya samar dan tidak jelas.
Kunci menuju kesadaran diri...Dia mengatakannya seolah dia masih berusaha menemukan kesadarannya sendiri. Dia terdengar seolah dia tak pernah menanyakan alasannya; tidak, seolah dia tak punya alasan di balik semua rencana itu. Ini membingungkan. Seharusnya dia pria yang pintar, karena mampu menjabarkan rencana yang membutuhkan kemampuan maksimal para anak buahnya. Aku yakin dia juga yang merencanakan semua rencana melarikan diri tanpa meninggalkan bukti apapun. Seperti seorang iblis...Lalu ada apa dengan pernyataan itu? Kukira dia egois, bajingan yang serakah, yah mengingat dia adalah pencuri...
Killua melirik Kuroro diam-diam. Pria itu sekarang tengah berbicara dengan Kurapika, atau lebih tepatnya berdebat, dalam cara yang normal seperti yang dilakukan orang biasa. Orang luar tak akan pernah menduga bahwa mereka berdua pernah berusaha saling memburu satu sama lain hanya untuk saling bunuh. Sungguh ironis; dan di sinilah mereka sekarang, mengenakan yukata dan berjalan-jalan menyusuri bazar dalam sikap yang membuat mereka lebih terlihat layaknya pasangan daripada musuh.
Kunci menuju kesadaran diri...Killua mengernyit. Dia melirik Senritsu, yang ikut bercakap-cakap bersama Leorio dan Gon. Senritsu menggambarkannya sebagai seseorang yang hidup berdampingan dengan kematian...seseorang yang menerima kematian dengan begitu siapnya...
"Inikah Kartu Identitas Mahasiswa-mu, Leorio?" dengan polosnya Gon menyela ketika dia melihat sebuah kartu.
"Ya. Kami semua memilikinya sebagai bukti menjadi mahasiswa di sana."
"Eeeh? Jadi kampusmu benar-benar bergengsi?"
Ketika mereka berdua bercakap-cakap tentang sekolah kedokteran Leorio, sebuah pemikiran muncul di kepala Killua setelah menguping sebagian kecil percakapan mereka.
Identitas...? Kematian...kesadaran diri...Alasan kenapa dia membantu Kurapika atas keinginannya sendiri...Oh! Mungkinkah?
Killua mendongak ketika pemikiran itu melintas di benaknya, tapi kemudian menghilang secepat kedatangannya ketika matanya menangkap sosok yang ia kenal. Walau Killua hanya melihatnya beberapa detik saja, dia mengenali orang itu dan hal ini membuatnya waspada. Dengan tergesa-gesa, Killua berbalik kepada Kurapika.
"Aku baru saja melihat Tompa! Cepat pergi!"
"Hah?" Leorio menggaruk bagian belakang kepalanya. "Maksudmu pria tua yang menjengkelkan dari Ujian Hun—"
"Heeii...! Bukankah itu Gon dan teman-temannya?!"
Seperti diberi aba-aba, Kurapika meraih lengan Kuroro ketika dia mendengar suara mengerikan itu dan memeluknya seolah lengan Kuroro merupakan garis hidupnya. Tidak hanya itu, tapi dia juga mampu membuat Kuroro berbalik menjauh dengan kekuatan yang sukar dipercaya. Leorio, Killua, dan Gon bergegas membentuk barikade untuk menutupi Kurapika dari pandangan pria menakutkan itu. Kuroro menatap Kurapika dengan mata terbelalak; secara otomatis gadis itu menempelkan tubuhnya dekat ke tubuh Kuroro, seperti yang akan dilakukan sepasang kekasih yang romantis. Sikap itu benar-benar tidak seperti Kurapika yang biasanya; sebenarnya, sikap itu merupakan sesuatu yang menurut Kuroro tak akan pernah Kurapika lakukan bersamanya dibandingkan bersama orang lain. Dia pun menyadari tingkah laku aneh teman-teman Kurapika lainnya, dan semua keanehan ini bermula karena seorang pria bernama Tompa, kalau Kuroro tidak salah dengar.
Kaget dan penasaran, Kuroro mencuri pandang melewati bahunya. Di sana, di belakangnya dan di hadapan teman-teman Kurapika, adalah seorang pria pendek dan gemuk dengan hidung yang terlihat seperti habis disengat lebah. Dia lebih tua dari mereka semua, bahkan lebih tua dari Kuroro. Sepertinya pria itu adalah kenalan lama mereka dari Ujian Hunter, dan mereka enggan bertemu dengannya karena beberapa alasan.
"To-Tompa!" Gon tersenyum, namun sudut bibirnya berkedut gugup; begitu pula dengan yang lainnya.
"Apakah kalian semua diundang ke sini oleh Hanzo? Ooh, sungguh reuni yang menyenangkan. Hm?"
Ketiganya terdiam ketika Tompa mencondongkan badannya ke samping untuk melihat seorang gadis di belakang mereka. Dia mengernyit saat melihatnya, khususnya ketika melihat warna rambutnya yang keemasan. Mengingatkan pria itu pada seseorang yang dikenalnya.
"Hei, bukankah itu Kurapika?"
Tompa menunjuk ke arah Kurapika, dan gadis itu membeku di tempatnya, meremas lengan Kuroro saking paniknya. Kuroro heran melihat tingkah laku Kurapika yang benar-benar tidak seperti biasanya, tapi dia terlalu penasaran untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya, membuatnya menunda untuk menanyakan banyak pertanyaan yang sudah ada di benaknya saat itu juga.
"T-Tidak! Tidak, tidak, itu tidak mungkin, Tompa," Leorio berkata sambil menarik Kurapika ke depan Tompa. "Kau lihat, dia seorang gadis. Kurapika laki-laki!"
"Y-ya! Itu benar!" Gon menganggukkan kepalanya dengan bersemangat.
"Yah, kalian benar. Jadi ada di mana dia sekarang? Kukira dia akan bersama kalian, karena kalian selalu bersama-sama," Tompa mengangkat bahunya.
Keempat orang itu mulai bercakap-cakap, tapi apa yang dilakukan ketiga orang lagi adalah mengalihkan percakapan itu dari topik mengenai Kurapika. Sementara itu, Kurapika mendengarkan percakapan mereka dan tak menyadari pelukannya di lengan Kuroro, dekat ke dadanya.
"Bisa beritahu aku apa yang sedang terjadi?" akhirnya Kuroro bertanya, karena Kurapika terlihat begitu tenggelam dalam dunianya sendiri. Kuroro lupa mengingatkan kenyataan kecil pada Kurapika tentang dirinya yang tengah memeluk lengan pria itu.
"Tompa adalah pembuat masalah. Dia jahat, senang menghancurkan peserta baru Ujian Hunter. pada dasarnya, tujuannya adalah menghancurkan kandidat Hunter pemula."
"Hmm…," Kuroro mengangguk, dan tiba-tiba sebuah ide brilian muncul di benaknya. "Apakah dia tahu kau seorang Kuruta?"
"Kurasa tidak. Kenapa?" Di kata terakhirnya, Kurapika menoleh dan menatap Kuroro dengan tajam. Entah kenapa dia masih waspada atas segala topik mengenai Suku Kuruta, terutama jika hal itu berhubungan dengan mereka berdua.
"Yah…aku hanya berpikir…," bahkan tanpa menyelesaikan kalimatnya, di mana hal ini jarang sekali dilakukan Kuroro Lucifer, pria itu mengeluarkan ponselnya dari lengan yukata yang ia kenakan dan mulai mengetik sebuah pesan dengan cepat.
Bahwa aku sudah menemukan bagian yang hilang, Kuroro menambahkan di dalam hati.
Kurapika mengernyit melihat sikap Kuroro. Hanya saja ketika dia melihat ke tangan kanan Kuroro, yang ia gunakan untuk mengetik pesan, Kurapika menyadari bahwa dia sudah memegangi lengan kiri Kuroro dalam waktu yang sangat lama. Dengan sikap yang terlampau kasar, Kurapika melepaskan pegangannya dari lengan Kuroro seolah merasa terganggu karenanya. Kuroro hanya meliriknya, tapi tak mengatakan apapun. Dia hanya tertawa geli dengan pelan sebelum mengalihkan perhatiannya lagi ke ponselnya.
Merasa canggung dan terasingkan, terima kasih pada kemunculan Tompa yang mendadak, Kurapika memutuskan untuk meraba cincinnya; sebuah cincin yang diberikan Ishtar, dan tanpa sadar mengamatinya. Dia menatap batu safir di cincin itu, melambangkan warna alami matanya. Memikirkan hal itu, Kurapika menyadari bahwa kondisinya menjadi sangat aneh dan tentunya tak biasa. Baru saja beberapa bulan lalu, mereka dan Genei Ryodan saling mengincar; dan sekarang mereka pergi ke festival bersama-sama.
Lamunan Kurapika langsung buyar ketika tiba-tiba seekor kunang-kunang terbang di depan wajahnya. Melayang mengelilingi kepalanya, sebelum terbang menjauh dan menghilang di antara kerumunan. Hal itu membuat Kurapika terkejut, karena kunang-kunang jarang pergi ke tempat ramai. Menganggap hal itu kejadian sepele, Kurapika baru saja akan kembali memperhatikan cincinnya, ketika kunang-kunang lain menarik perhatiannya. Kunang-kunang itu terbang menuju ke arah yang sama dengan kunang-kunang sebelumnya, Kurapika mencatat. Dia mengernyit melihat kebetulan yang aneh ini.
Dalam waktu sebentar saja, Kurapika mulai menyadari ada banyak kunang-kunang di sekitarnya, dan cukup aneh…orang-orang yang berada di sekitar Kurapika tidak menyadari hal itu. Semua kunang-kunang itu pergi ke arah yang sama, dan bukan lagi hanya kebetulan. Ketika Kurapika melirik cincinnya, seolah membenarkan kecurigaannya, cincin itu mengeluarkan cahaya lemah berwarna merah seperti batu amber.
"Di atas bukit itu," Sebuah suara berkata dengan lembut di dekat telinga Kurapika.
Tersentak, Kurapika berbalik dan mendapati wajahnya hanya berjarak beberapa inci saja dari wajah Kuroro. Pria itu menaikkan sebelah alis matanya saat melihat Kurapika lengah seperti ini; jarang sekali dia begitu. Mengabaikan hal itu, Kuroro menunjuk ke sebuah bukit.
"Di sana. Seseorang sedang menunggu kita, dan orang itulah yang mengirimkan semua kunang-kunang ini", dia berkata.
Ketika Kurapika mendongakkan kepalanya, benar juga…dia melihat sinar lemah dari tepi hutan yang berada di puncak bukit.
"Ayo." Tanpa membicarakannya lebih jauh, dengan cepat Kuroro bergegas menuju ke bukit. Kurapika, tak punya pilihan lain, terseret oleh Kuroro hingga dia harus segera mengejar di belakangnya.
Seorang pria sudah menunggu mereka di bawah bayangan sebuah pohon, seperti yang diperkirakan Kuroro sebelumnya. Penampilannya mencolok, membuat Kuroro dan Kurapika bisa segera menemukan dirinya ketika mereka menaiki bukit. Pria itu memiliki rambut yang lembut berwarna merah tua yang dia kuncir cukup tinggi. Sehelai penutup kepala bergaya oriental dengan warna keemasan menjuntai di kepalanya, dan dihiasi banyak permata berharga, yang sebagian besar adalah batu rubi. Butiran permata dengan berbagai warna menggantung di tudung kepalanya itu, rambutnya dibelah dua, dan jatuh sempurna di kedua sisi wajahnya. Wajahnya berwarna kuning pucat, dan matanya yang sipit cerah dengan semburat keemasan. Penampilannya yang bergaya oriental melambangkan warna keberuntungan yaitu merah, seperti dalam kepercayaan orang Cina, dengan bordiran dari benang emas menghiasi mantelnya. Singkatnya, dia berpenampilan mewah.
"Halo," Pria dengan penampilan yang feminin itu menyapa Kuroro dan Kurapika dengan ramah. Bahkan suaranya pelan dan lembut seperti semilir angin. "Kuroro dan Kurapika, benar bukan?"
"Ya, dan kau siapa?" Kuroro bertanya dengan hati-hati sambil melangkah maju hingga dia sedikit berada di depan Kurapika.
"Namaku Suzaku, seperti yang dibaptiskan para leluhur ribuan tahun yang lalu," jawabnya sopan sambil sedikit membungkuk. Bahkan caranya berbicara memberikan kesan bahwa dia berasal dari keluarga bangsawan.
"Suzaku…," Kurapika mengernyit. "Jadi kau ada hubungannya dengan Phoenix?"
"Kau tidak salah. Dia adalah sepupu jauhku," Suzaku tersenyum lembut pada mereka. "Dan aku berada di sini atas kepentingannya. Sepertinya dia lupa menyampaikan sesuatu pada kalian." Setelah berkata seperti itu, Suzaku membuka telapak tangannya dan nampaklah sebuah telur kecil di sana. Bercahaya redup, seperti ranting dengan bara api.
"Dan apa itu?" Kuroro bertanya.
"Tepat seperti kelihatannya; sebutir telur. Untuk tujuan apa telur ini diberikan, aku tak bisa memberitahumu. Aku hanya diberi tugas untuk mengantarkannya pada kalian."
Suzaku melangkah maju dan memberikan telur yang seperti kerikil itu pada Kuroro, yang menerimanya dalam diam. Dia mengamatinya sejenak, tapi setelah merasakan tak ada maksud jahat dari benda itu, Kuroro memasukkannya ke dalam lengan yukata. Kalaupun ada, telur itu memancarkan suatu aura yang terasa menenangkan.
"Phoenix pasti sudah memberitahu kalian bahwa ada anak yang akan lahir dari telur itu, dan kalian harus membawa telurnya kepada Ishtar begtu waktunya tiba?"
"APA?!" Kurapika berteriak marah segera setelah kalimat itu keluar dari mulut Suzaku.
Terkejut, Suzaku hanya bisa berkedip dengan bingung sementara Kuroro sedikit mengernyit karena merasa tak senang dengan sikap Si Gadis Kuruta.
"Dia hanya memberitahu kami untuk membawa anak itu padanya ketika dilahirkan, dan dia tidak menyebutkan apapun tentang telur! Jadi kupikir-" ucap Kurapika geram, wajahnya pun memerah. Semua kegugupan dan kegelisahannya ternyata sia-sia. Dia sudah ditipu! Kuroro, di balik sikapnya yang tenang, juga merasakan kekesalan yang sama di dalam hatinya.
"Oh? Seharusnya tidak begitu." Shizaku terlihat terkejut, tapi dia terkekeh geli. "Sepertinya sepupuku sudah mengerjai kalian."
Dia tertawa pelan melihat raut wajah Kurapika.
"Tapi kemudian-" Shuzaku mulai berkata lagi, namun mendadak berhenti di tengah-tengah kalimat saat sepertinya dia menaydari sesuatu.
"Kemudian?"
"Tidak...tidak apa-apa," Dia tersenyum minta maaf.
Sementara Kurapika menggerutu marah dan bersumpah untuk membalas Phoenix suatu hari nanti, Kuroro mengernyit.
"Kau bilang 'ketika waktunya tiba'?"
"Ya. Kau akan mengetahuinya melalui hatimu, jadi jangan bertanya padaku karena aku tidak tahu."
Shuzaku memandangi punggung Kuroro dan Kurapika dalam diam, yang perlahan-lahan menjauh ketika mereka berjalan ke arah kerumunan bazar itu, sambil memperdebatkan tentang sesuatu. Sungguh, ketika mereka mengenakan pakaian yang biasa dan sederhana seperti itu, Kuroro dan Kurapika terlihat seperti pasangan yang sempurna.
"Benar-benar tidak seperti dirimu yang biasanya...memberikan sesuatu kepada manusia, Suzaku. Sebuah jimat pelindung," Suara yang berat terdengar dari belakang Phoenix bergaya oriental itu.
Bahkan Suzaku tidak mau repot untuk melihat siapa yang berbicara padanya, karena dia sudah tahu.
"Seiryuu."
Pemilik suara yang berat itu adalah seorang pria tinggi, kurus dengan rambut lurus yang panjang dengan tatanan yang aneh. Rambutnya berwarna gelap dengan semburat biru tua. Dia mengenakan pakaian bergaya oriental berwarna biru langit dengan bordiran berbentuk naga menghiasi pakaian mewah itu. Dia memakai hiasan kepala yang menyerupai ukiran seekor naga biru, sebuah batu zamrud tersemat di bagian keningnya. Dia turun dari langit dan mendarat di samping pria yang berpakaian merah. Jika dibandingkan dengan Suzaku, Seiryuu terlihat lebih muda , sementara Suzaku sendiri terlihat lebih cerdas.
"Gadis itu...," Suzaku bergumam. "Dia sangat rentan terhadap mimpi buruk. Dia akan menjadi mangsa yang sempurna untuk Nue."
"Nue, ya?" Seiryuu mengikuti arah pandangan Suzaku. "Aku mengerti. Jadi itu alasannya kenapa kau memberinya sebuah Jimat Baku?"
"Ya. Dengan mimpi buruk seperti itu dari masa lalunya, dia akan membutuhkan banyak bantuan untuk melawannya. Dia perlu lebih dari hanya menghargai dirinya sendiri; dia perlu waktu yang sangat lama untuk pulih. Bekas lukanya terlalu dalam."
"Dan membayangkan dirinya tengah bepergian bersama pria yang menakutkan jiwanya itu," Seiryuu terkekeh menertawakan situasi ironis yang terjadi di antara Kuroro dan Kurapika.
Untuk sesaat mereka tetap diam, mengamati festival dari kejauhan.
"Ngomong-ngomong, kau hampir keceplosan sedikit," Seiryuu berkata.
"Ya, tapi untungnya aku segera ingat," Suzaku memejamkan matanya. "Kepingan masa depan itu sangat rahasia jadi tak boleh diberitahukan pada mereka apapun yang terjadi."
"Sebenarnya, bukan berarti terserah kita untuk memutuskan bagaimana masa depan mereka akan berkembang. Bahkan jika kita memberitahu mereka, mungkin berubah tapi mungkin juga tidak. Bukan hak kita menentukan jalan mana yang ditempuh untuk mencapai masa depan yang dipilihnya. Bagi setiap manusia, ada berbagai masa depan berbeda yang tak terhitung banyaknya. Masa depan mana pun yang mereka pilih, tak akan mempengaruhi kita."
"Tapi apakah itu dosa, memiliki preferensi atas masa depan yang mereka pilih? Aku tak tahan..."
"Kau terlalu lembut, Suzaku," pria muda yang berasal dari langit itu menyeringai.
"Katanya ketika seseorang sangat membenci orang lain, kebencian itu bisa berubah menjadi cinta. Apakah menurutmu hal itu akan berlaku bagi mereka?"
"Siapa tahu?" Seiryuu mengangkat bahunya cuek. "Kau bertanya pada orang yang salah. Justru kaulah Suzaku, yang diberkahi seni meramal di negeri ini. Seharusnya kau lebih tahu daripada aku."
"Aku hanya menanyakan pendapatmu, Seiryuu. Begitu sulitnyakah?" Suzaku meliriknya tajam.
"Yah, jika kau menginginkan pendapatku pribadi...," Pria Naga itu memandang jauh ke depan sana dan mengamati Kuroro dan Kurapika lagi. "Kurasa itu akan terjadi."
"Yang perlu kau lakukan sederhana saja, diam dan lihatlah," itu yang dikatakan Kuroro kepada Kurapika mengenai rencana pencurian Mata Merah. Bahkan tanpa Kurapika harus bertanya padanya, Kurapika tahu bahwa Kuroro benar-benar akan menugaskan anggotanya untuk melakukan pekerjaan kotor itu. Kurapika menentangnya, tapi apa yang bisa dia lakukan? Tak mungkin dia mendapatkan mata itu melalui cara yang jujur. Jika Kurapika betul-betul sudah memutuskan untuk mengumpulkan semua Mata Merah itu, dia tak punya pilihan lagi selain berpaling ke cara yang tidak jujur.
Sudah pasti Genei Ryodan adalah kelompok yang tepat untuk melakukan pekerjaan kotor itu. Lagipula, mereka memang ahlinya.
Di acara Grand Opening Museum Nasional, mereka pergi bersama-sama namun Senritsu tidak datang karena ada hal lain yang harus dia tangani lebih dulu. Dia berjanji pada Kurapika bahwa dia akan menemuinya nanti. Kuroro mengajak Kurapika berkeliling Museum, memisahkan gadis itu dari teman-temannya. Akan terlalu mencurigakan jika mereka langsung mengambil posisi di sekitar Mata Merah. Ketika akhirnya mereka masuk ke dalam aula di mana Mata Merah dipamerkan, teman-teman Kurapika sudah ada di sana.
Kuroro mengamati kembali situasi aula itu sebentar. Ada beberapa orang Ninja ditempatkan di sana sebagai penjaga, dan langsung mencuri begitu saja merupakan tindakan yang ceroboh. Selain itu, Kuroro yakin beberapa orang dari mereka adalah Pengguna Nen. Ketika Kuroro merasa semuanya sudah berada di penempatan yang tepat, dia berbalik dan bertemu pandang dengan Killua.
Di malam sebelumnya, Killua menyelipkan secarik kertas yang bertuliskan nomor ponselnya, ke tangan Kuroro. Meragukan tindakan Si Bocah Zaoldyeck yang begitu terang-terangan; mempertimbangkan kewaspadaan yang semula ada, Kuroro memahami maksud Killua membuat rencana bersamanya. Rencana sudah dirumuskan, sekaranglah saat untuk melaksanakannya.
Kuroro menganggukkan kepalanya sekilas kepada Killua, yang ditanggapi bocah itu dengan sebuah seringai nakal. Dia menoleh pada Gon dan Leorio, keduanya mengangguk dengan cara yang hampir tak terlihat, menanggapi isyarat Killua. Tanpa bicara, mereka memisahkan diri dan berpura-pura mengamati beberapa benda : Leorio berdiri di dekat Mata Merah, sementara Gon dan Killua menempatkan diri di artifak lainnya. Setelah Killua melihat Leorio sudah berada di tempatnya, Killua berbisik dengan sangat pelan :
"Senritsu, sekarang."
Di luar Museum yang besar itu ada Senritsu, yang berdiri di samping Shalnark.
"Killua bilang, ini saatnya," Dia mengulang pesan itu kepada Shalnark.
"Roger," Shalnark mengangguk dengan antusias.
Dia mengalihkan perhatiannya pada ponsel miliknya yang sudah dimodifikasi dan menekan satu tombol : mengirimkan pesan. Dalam waktu kurang dari sedetik, pesan pun tiba di setiap ponsel para anggota Geng Laba-laba yang sudah siap di posisi mereka masing-masing. Hanya ada dua kata di pesan itu :
MISI DIMULAI.
Menjawab aba-aba tersebut, Laba-laba pun bergerak.
"Sepertinya kau sudah mulai menerima pria itu. Detak jantungmu mengatakan hal itu," Senritsu berbisik kepada Kurapika sesaat sebelum mereka berpisah di festival semalam. Kurapika menyangkalnya dengan tegas, tapi Senritsu hanya tersenyum.
Sejak kapan...? Kurapika merenung sambil diam-diam mencuri pandang ke pria itu, ...Aku mulai menerimanya?
Tiba-tiba, sebuah suara ledakan membuat Kurapika tersadar dari lamunannya dan ledakan itu mengguncang seluruh gedung dengan keras. Para tamu menjerit ketakutan ketiba mereka melihat puing-puing dinding gedung itu berjatuhan dari lantai atas ke aula. Tembakan peluru menyerbu lantai atas, dan beberapa bayangan menerobos masuk ke dalam gedung. Para Ninja menanggapi kekacauan itu dengan cukup cepat; melompat naik dari aula ke lantai di atasnya, tapi apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan adalah mengantar nyawa mereka sendiri kepada Kematian. Para Ninja yang asli, dalam sekejap saja, terpotong menjadi beberapa bagian oleh Benang Nen yang tak terlihat, atau menjadi seperti sarang lebah karena menghadang Peluru Nen, atau termutilasi oleh bayangan kecil yang melewati mereka, atau kepala mereka terputar ke dalam beberapa sudut yang aneh, atau dengan berbagai cara lain yang sama-sama mengerikan.
Dari bawah, Kurapika bisa melihat beberapa bayangan lewat, berbaur di tengah kegelapan dengan Ninja yang berbalut pakaian berwarna biru. Dari penglihatan orang biasa, mungkin terlihat seperti benturan beberapa bayangan hitam di udara, tapi bagi mata Kurapika yang terlatih, dengan jelas dia bisa melihat Genei Ryodan memukuli sekelompok Ninja seperti mengusir lalat saja. Yang tidak dimengerti Kurapika adalah kenapa semua anggota Geng Laba-laba berpakaian serba hitam dan menutupi wajah mereka. Tidak seperti mereka yang biasanya.
"Temanmu sudah melihat mereka bersama kita di bandara. Untuk mengurangi kecurigaan, aku meminta mereka menutupi penampilannya," Kuroro menerangkan pada Kurapika dengan suara yang sangat pelan; yang hanya bisa didengar oleh gadis itu.
Keterangan itu menjelaskan segalanya. Tetap saja, Kurapika sangat tidak suka dengan kenyataan bahwa banyak orang yang mati dalam misi ini. Sekejap saja, aula menjadi kotor dengan darah dan mayat Ninja yang tumbang. Sebagian besar tamu, setidaknya mereka yang kakinya cukup kuat, menyelamatkan diri ke pintu masuk. Beberapa di antaranya sangat terkejut hingga yang bisa mereka lakukan hanya duduk seperti orang bodoh di atas lantai marmer sambil menyaksikan pembantaian dengan mata yang ketakutan.
Sebuah bayangan dengan sangat cepat masuk ke dalam aula dan sebuah sosok berperawakan kecil mendarat di dekat Leorio.
Sesosok bocah kurus melompat ke dudukan di mana Mata Merah ditempatkan, dan hampir melesat pergi ketika Leorio mencegatnya.
"Hei, kau! Berhenti seka-"
Itu hanya tindakan saja, sungguh. Leorio seharusnya terkejut dan berusaha mengikuti bocah itu, berpura-pura mengambil artifak berharga itu kembali. Tapi, bocah itu pun terlalu serius dengan pekerjaannya, atau terlalu terkejut oleh seruan Leorio yang keras, hingga menendang pria malang itu tepat di pipi, membuatnya terbang dan membentur dinding.
"Leorio!" seru Kurapika sambil menghampiri Leorio yang malang, menyeret Kuroro karena belenggu gaib di antara mereka.
Kuroro melihat bocah itu dan dengan satu anggukan yang menakutkan, sosok itu melesat pergi untuk melanjutkan rencananya. Tapi Killua melihat sekilas mata sosok itu yang tidak tertutupi dan mengenalinya.
"Tak mungkin...," gumam Killua kaget. Dia segera sadar dari keterkejutannya, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Gon, Killua berlari mengejar sosok itu.
"Killua!" Mengabaikan segalanya, Gon turut melesat mengikuti Killua ke luar gedung.
Kuroro menyaksikan semua itu sambil berdiri di samping Kurapika, yang sedang sibuk menangani Leorio yang terluka. Kuroro tak bisa mengacuhkan pria jangkung yang sialnya ditendang salah satu anggotanya. Bibir tipisnya membentuk seulas senyum yang menunjukkan kepuasan. Semua berjalan sesuai rencana.
"Apa sudah dikosongkan?" Phinks berseru pada rekan-rekannya.
Yang melakukan pembunuhan dan mengalihkan perhatian adalah Machi, Phinks, Coltopi, Bonolenov, Shizuku dan Feitan. Tugas Franklin hanya membobol tembok dan membuat jalan masuk bagi mereka, sementara Shalnark mengawasi di luar. Nobunaga pergi untuk menjauhkan Hanzo dari Museum. Machi menunduk dan ketika melihat Mata Merah sudah lenyap, ia sedikit menganggukkan kepalanya pada samurai itu.
"Tak ada lagi yang harus kita lakukan di sini," dengan santai Nobunaga berkata sambil meraih kepala dari salah seorang Ninja, dan dengan suara retakan yang membuat ngilu, membengkokkan kepala itu...mengirimkan Ninja tersebut kepada Sang Pencipta.
"Ayo kita pergi dari sini. Orang-orang ini membosankan. Inikah yang bisa dilakukan Ninja yang terkenal itu? Nobu seharusnya malu," ejek Feitan sambil mendengus, seraya menjatuhkan Ninja lainnya ke aula, yang kini seolah beralih fungsi menjadi tempat pembuangan mayat Ninja.
"Yah, beberapa dari mereka tidak buruk, kok," ucap Shizuku dengan polosnya sambil menunjuk luka bacokan di lengannya.
"Ini dia yang lebih baik," Phinks mengumumkan ketika seorang Ninja yang juga adalah Pengguna Nen dengan cepat menghampiri mereka. "Dia milikku!"
"Tidak. Milikku," Feitan melesat melewati Phinks dan hampir menyayat perut Ninja itu dengan pedang tipisnya ketika tubuh tersebut berubah bentuk menjadi bentuk yang aneh untuk menghindari serangan yang membahayakan nyawanya.
"Apa?" Feitan menaikkan sebelah alis matanya.
"Giliranku!" Feitan berkata dan setelah memutar lengan kanannya beberapa kali, melayangkan pukulan yang teramat keras ke dada Ninja itu.
Bukannya hancur berkeping-keping, tubuh itu menjadi lembek seperti tanah liat. Ninja itu mendengus, dan mengembalikan bentuk tubuhnya ke kondisi semula.
"Tak mungkin!"
"Tipe Transformasi. Sepertinya dia menerapkan benda yang terbuat dari tanah liat ke tubuhnya," Shizuku menyela.
"Gah! Aku benci Kelas Transformasi. Membuatku teringat pada pengkhianat itu!" seru Phinks.
"Kalian, orang-orang kafir! Teganya kalian mencemari Museum yang kami banggakan! Kalian akan menerima balasannya!" Ninja itu berkata dan dia melompat ke arah Phinks.
Sebelum bisa mencederai Phinks, tangannya yang terulur terlepas dari bahunya, dan darah pun muncrat dari luka yang terbuka itu. Ketika Ninja yang malang itu menjerit kesakitan, Machi berdiri dengan santai di atas balkon dengan kedua tangan memegangi Benang Nen miliknya yang tak terlihat.
"Bahkan tanah liat bisa disayat dengan benang," ucapnya dingin. Dengan sebuah gerakan saja dari pergelangan tangan wanita itu, Sang Ninja pun berubah menjadi daging cincang, dan jatuh mengalami nasib yang sama dengan rekan-rekannya di aula di bawah sana.
"Hoo...menakutkan," Phinks berbisik pada Coltopi, yang seperti biasa tak berkomentar apa-apa.
"Kita pergi," Machi mengumumkan dengan suaranya yang dingin sedingin stalaktit es manapun. Dia berbalik dan mulai melangkah masuk ke pintu keluar yang dibuat Franklin.
"Dan jangan lupa untuk meninggalkan BENDA ITU."
"Leorio, kau baik-baik saja?" Kurapika bertanya sambil memeriksa dengan cepat luka yang mungkin diderita Leorio.
"Apa aku terlihat baik-baik saja?!" bentak Leorio. "Sialan, sakit sekali. Rasanya seperti semua kuda liar menendang wajahku."
"Wajahmu terlihat seperti biasanya," kata Kurapika datar.
"Apa? Ini kedua kalinya kau bilang begitu!" serunya jengkel. Yang pertama kalinya, tentu saja, ketika mereka menempuh Ujian Hunter.
Ketika Kurapika dan Leorio memperdebatkan hal itu tanpa henti, Kuroro mengamati lantai atas. Para anak buahnya sudah pergi, yang berarti sekarang waktunya mereka menemukan kambing hitam yang sudah dia siapkan. Benar juga, sepasukan petugas keamanan dan lebih banyak Ninja menuju ke lantai atas setelah Genei Ryodan pergi, salah seorang dari mereka berseru dari atas sana,
"Kami menangkap salah satu dari mereka! Pelakunya adalah pria ini!"
Seorang Ninja mendarat di lantai tanpa suara, lebih seperti yang biasa Killua lakukan. Keributan itu menarik perhatian Kurapika dan Leorio. Ketika mereka menoleh, mereka melihat Ninja itu menjatuhkan sesuatu yang berat dari bahunya ke lantai. Kurapika bingung dan tak percaya, dia tak bisa percaya seorang Laba-laba membiarkan sosok itu tertangkap. Namun ketika Kurapika menatap pria itu, Kurapika tahu bahwa keraguannya tak pernah salah.
"Tompa?"
TBC
A/N :
Langsung aja balas review di chapter lalu :
Nekomata Angel of Darkness :
Hahaha, di chapter ini pun Killua masih nongol...selamat menikmati xD
Natsu Hiru Chan :
Mungkin Kuroro pake handuk aja...atau pas udah berendam handuknya dilepas, ga tau juga...*blushing berat*
Sends :
Dan akhirnya sekarang muncul lagi! Hahahahaha xD
Kujo Kasuza Phantomhive :
Aku akan terus menanti...apa yang kaujanjikan...*bercucuran air mata sambil pasang musik sedih*
Review please...^^
