DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.

GENRE :

Adventure & Romance

WARNING :

FemKura. An Indonesian version for 1001 Nights by Runandra, one of my favorite author!^^


CHAPTER 18 : JOURNEY IN THE EAST


"Jelaskan!"

Kurapika hampir berteriak pada Kuroro, tapi pria itu terlihat acuh tak acuh. Kuroro sudah terbiasa menghadapi Kurapika yang berseru dan meneriakinya. Lagipula, dia sudah bepergian bersama gadis itu untuk beberapa bulan lamanya.

Sekarang, mereka sudah keluar dari Museum. Senritsu sedang merawat Leorio, sementara Shalnark pergi untuk menemui rekan-rekannya.

"Tak banyak hal yang harus dijelaskan. Pertama, kita perlu pengalih perhatian agar Coltopi bisa mendapat kesempatan untuk membuat replika Mata Merah, itulah gunanya serangan tadi. Kedua, kita perlu kambing hitam jadi mereka tidak akan berusaha menelusuri orang-orang yang menghadiri acara pembukaan. Akan jadi masalah jika kita sampai ditelusuri. Ketiga, jika benda yang hilang hanya Mata Merah, ini akan menimbulkan kecurigaan dan mereka akan berusaha untuk menyelidiki orang-orang yang ada hubungannya dengan Mata Merah. Skenario terburuknya, mungkin mereka akan menyelidikimu, karena kau adalah keturunan terakhir Suku Kuruta yang masih hidup dan kau terdaftar sebagai Kurapika Kuruta di Perkumpulan Hunter."

Kuroro berbalik menghadap Kurapika yang marah. Dia dapat melihat kobaran amarah di mata biru bagaikan warna samudera itu, tapi dia pun melihat, amarahnya tidak sampai ke batas di mana mata itu akan berubah menjadi merah. Kuroro sudah membeberkan fakta bahwa teman-teman Kurapika turut membantu dalam rencana itu, ia harap Kurapika tidak melihat dari sisi itu saja. Gadis itu semakin pandai melihat kebenaran di balik permainan kata-kata Kuroro.

"Puas?" Kuroro tersenyum ramah pada Kurapika, yang ditanggapi gadis itu dengan wajah yang merengut geram.

"Jadi kenapa kau membohongiku?" Desaknya.

"Bohong?"

"Kau bilang kita tak akan merampok tempat itu!"

"Aku tak pernah memberikan konfirmasi seperti itu. Aku hanya menanggapi pernyataanmu; tak lebih tak kurang," Kuroro menyeringai angkuh pada Kurapika, dan wajah Si Gadis Kuruta tak melembut sedikit pun.

Kurapika tak keberatan Tompa menjadi kambing hitam atas semua yang terjadi; lagipula, pria licik itu bisa lolos dari masalah seperti yang biasanya dia lakukan. Lagipula Kurapika tak pernah menyukainya. Alasannya merasa kesal karena lagi-lagi dia tak berdaya menghadapi permainan kata-kata Kuroro. Dia harus mengingatkan dirinya berulangkali untuk tidak menyimpulkan arti tersembunyi dari kata-kata pria itu. kurapika merasa benar-benar bodoh di depan Kuroro, dan itu sungguh membuatnya kesal.

Kurapika harus menahan diri hingga menggertakkan giginya dan mengencangkan kepalan tangannya supaya tidak menerjang leher Kuroro lalu mencekiknya hingga mati. Kurapika menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Jelas sekali dia sedang berusaha mendinginkan diri hingga Kuroro tak tahan untuk tidak menghela napas berat saat melihatnya.

"Ini demi kebaikanmu, Kurapika. Jangan terlalu dipikirkan."

Sambil berkata begitu, Kuroro menepuk pelan rambut pirang Kurapika yang lembut sebelum berbalik dan berlalu pergi dengan santai. Kurapika, bukannya marah, langsung terpaku ketika Kuroro bersikap lembut seperti itu. Tidak, sebenarnya itu bukan pertama kalinya terjadi. Ada beberapa kesempatan lain di mana Kuroro melakukan hal yang sama padanya. Tetap saja, Kurapika tak akan pernah terbiasa.

Demi kebaikanku? Bagaimana...Bahkan jika Kurapika tak mau memikirkannya, semua pemikiran itu datang begitu saja. Semua rencana yang rumit itu dilakukan demi kebaikannya; Kuroro memastikan agar Kurapika tidak akan terlibat masalah apapun pada akhirnya nanti. Kurapika menatap punggung Kuroro yang semakin menjauh, yang terbalut pakaian serba hitam itu; punggung yang biasa ia lihat dalam perjalanannya yang panjang bersamanya. Suka atau tidak, Kurapika harus menerima kenyataan kecil yang baru dia ketahui ini.

Kuroro melindunginya.

Tidak, itu tidak mungkin, pikir Kurapika sambil menggelengkan kepalanya pelan. Pada akhirnya, dia melakukan itu untuk kesenangannya sendiri.


Bandara dipenuhi wisatawan dan para pegawainya; baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Terlihat begitu sibuk dengan berbagai aktivitas; orang-orang berjalan dengan cepat di sana-sini, saling menyapa, berjabat tangan, berpelukan, berciuman dan masih banyak lagi. Di antara kerumunan itu ada sekelompok penjahat beranggotakan enam orang. Empat orang di antaranya membawa barang-barang bawaan, tapi dua orang lagi tak punya tanda-tanda yang mencirikan mereka akan naik balon udara.

"Kurapika, apa yang akan kaulakukan selanjutnya?" Leorio bertanya, mengabaikan Kuroro yang berdiri sedikit di belakang Kurapika untuk memberi gadis itu privasi bersama teman-temannya.

"Kurasa untuk sementara kami harus tinggal di negara ini lebih lama."

"Kenapa?" cetus Gon tiba-tiba dengan rasa penasaran seperti yang dimiliki murid taman kanak-kanak.

"Sepertinya masih ada beberapa pasang Mata Merah di sini," jawab Kurapika, suaranya lembut dan terkendali. "Aku akan mengumpulkan semua Mata Merah di sini sebelum pindah ke tujuan berikutnya."

"itu pekerjaan yang cukup berat. Beritahu kami jika kau perlu bantuan, Kurapika! kami teman-temanmu. Kau bisa meminta bantuan kapan saja," dengan antusias Gon memohon pada Si Pirang.

"itu benar, Kurapika. Kau harus lebih menghargai teman-temanmu," Senritsu menambahkan.

Killua, selama mereka bercakap-cakap, tatapannya terus tertuju pada Kuroro. Pria itu seperti sedang tidak sadar atau semacamnya. Dia tidak betul-betul memperhatikan apapun yang terjadi di antara Kurapika dan teman-temannya. Namun, Killua yakin, Kuroro mendengar setiap kata yang mereka lontarkan.

Ini tebakan besar, tapi layak dicoba...pikirnya.

Killua melirik ke arah Kurapika. Dia masih sibuk dengan Senritsu dan Gon, yang sedang menasihatinya untuk terus menjaga komunikasi karena mereka sudah membelikannya ponsel. Killua mengambil kesempatan ini untuk mendekati Kuroro dan berbisik padanya,

"Katakan...Apa kau sebenarnya sedang berusaha menemukan identitasmu yang sebenarnya?"

Kuroro menaikkan sebelah alis matanya, tidak memahami apa yang dikatakan bocah itu. "Jelaskan."

"Kau orang yang menempatkan kepentingan dirimu dan kelompokmu di atas segalanya, tapi kau pernah berkomentar 'di mana kunci menuju kesadaran diri itu berada', di Kota Yorkshin waktu itu. Itu bertentangan."

"Dan?" Kuroro mulai menyukai penjelasan bocah itu.

"Kalau kau siap membuang dirimu pada kematian, mungkin artinya kau sendiri tidak memiliki nilai apapun. Atau mungkin, kau tak pernah memikirkan diri sendiri. Dengan kata lain, kau memang orang yang tidak egois."

"Apakah aku harus menganggapnya sebagai pujian?" Kuroro berkata sambil terkekeh sinis, dan Killua bersumpah dia bisa merasakan sikap dingin pria itu di nada suaranya. Itu sikap dingin yang tak pernah ada ketika Kuroro berbicara dengan Kurapika, sejauh pengamatannya. Meski begitu, Killua terus mendesaknya.

"Dengan mempertimbangkan semua itu, danwaktu kau bilang bahwa kau hanya ingin membantu Kurapika...itu membuatku ingin tahu : apa rencana yang ingin kaulakukan bersamanya? Apa rencanamu tentangnya?" Killua berhenti sejenak, sebelum melanjutkan dengan suara yang bahkan terdengar lebih pelan : "Apa kau mencoba menemukan alasan dari tindakanmu?"

"Kau memang jeli, Bocah Zaoldyeck. Benar, aku ternyata memikirkan hal-hal yang tak pernah kupedulikan sebelumnya. Dan aku menyadarinya tak lama setelah aku memulai perjalananku bersama gadis itu. Ini sungguh memperdayaiku, jadi aku ingin melihat sampai sejauh mana ini akan terjadi."

"Kau penasaran tentang perubahan-perubahan yang terjadi padamu?" Killua bertanya dengan mata yang terlihat semakin membelalak di setiap detik waktu yang berlalu.

"Hmm…," Kuroro menutupi mulutnya dengan sebelah tangan; sikap tubuhnya yang khas ketika sedang berpikir. "Kau bisa bilang begitu."

Pria ini benar-benar aneh! Pikir Killua sambil menatap Kuroro heran.

Killua memiiki sebuah kesimpulan di dalam benaknya : bahwa Kuroro Lucifer memutuskan suatu misi, murni berdasarkan naluri, bahwa dia tak punya alasan yang jelas di balik semua tindakannya, bahwa yang dia lakukan demi kepentingan yang lain, bukan demi dirinya sendiri. Dan itulah sebabnya dia kurang memiliki kesadaran diri. Mengenai Kurapika, Killua menduga Kuroro Lucifer menemukan artinya dengan menyadari hal itu melalui Kurapika, bahwa pria itu menemukan alasannya hidup melalui Kurapika, ini sama tidak jelasnya seperti apa yang mungkin kita rasakan saat mendengarnya karena Kurapika adalah orang yang paling menginginkan kematian Kuroro.

"Dan menjawab pertanyaanmu : aku hanya melakukan apa yang ingin kulakukan, seperti yang pernah kusebutkan sebelumnya," Kuroro berkata lagi dengan tenang.

Ekspresi dari alasan-alasan itu…pastinya suatu konsep yang merepotkan. Kenapa orang harus menjelaskan alasan mereka ke dalam kata-kata sederhana? Kuroro merenung saat itu juga. Lagipula, manusia hanya melakukan apa yang benar-benar dia inginkan sepenuh hasratnya.

Kuroro mengangkat wajahnya, mencuri pandang ke arah Kurapika, gadis yang bepergian bersamanya selama beberapa bulan ke belakang. Dan aku hanya melakukan apa yang benar-benar aku inginkan sepenuh hasratku.

"Aku tak tahu ini pantas atau tidak," Leorio tiba-tiba berkata dengan suara pelan, mendapat kesempatan untuk bicara saat Killua terdiam.

Kuroro mendengarnya dan menoleh untuk melihat pria jangkung itu. Leorio bicara dengan mata yang menatap ke bawah; salah satu ciri yang menandakan keraguan. Meski penampilannya terkesan tua, Kuroro tahu umur Leorio hanya lebih tua beberapa tahun dari Kurapika. Sembilan belas? Atau mungkin dua puluh? Kuroro tahu dari sudut matanya, Gon dan wanita bertubuh pendek itu masih membuat Kurapika sibuk dengan nasihat-nasihat mereka atau semacamnya.

"Tapi tolong jaga dia."

Leorio mengangkat wajahnya, menatap langsung ke mata Kuroro. Kuroro bisa melihat keyakinan di dalam tatapannya itu, meski jelas sekali Leorio ragu mengatakannya. Killua menaikkan sebelah alis matanya, sementara Kuroro menahan tawanya dan malah mempertahankan 'topeng ketidakpedulian' di wajahnya.

"Aku tidak mengira kau akan mengatakan hal seperti itu."

"Kami terbiasa menjadi musuh, itu benar. Tapi mempertimbangkan kondisi yang ada, dan seperti apa kepribadian Kurapika, dia tak akan memperbolehkan kami menjaganya. Kadang dia bisa menjadi sangat ceroboh, meskipun bisa juga menjengkelkan karena pintar dan tahu segalanya. Kurasa kau tipe orang yang lebih tenang, jadi kau kau harus berhati-hati padanya."

"Kekhawatiranmu tidak berdasar," ucap Kuroro datar.

"Aku tak bisa menahan diri untuk tidak khawatir! Tapi kesampingkan semua itu," Leorio mengumpulkan keberaniannya, melangkah lebih jauh untuk mendekati Kuroro. "Jika kau berani menyentuhnya seujung jari pun, aku tak akan membiarkanmu lolos dengan mudah."

"Yang sekarang terjadi lebih dari itu," Kuroro menyeringai senang padanya.

Leorio langsung terganga tanpa sadar mendengar ucapan Kuroro. Wajahnya langsung memerah, terbakar rasa malu yang teramat sangat. Kuroro melangkah menuju Kurapika. Dia memberi Leorio lirikan terakhir, dan sebuah jawaban,

"Aku hanya berjanji atas hal yang aku tahu bisa kutepati."


"Sungguh, apa akan baik-baik saja meninggalkan Kurapika bersama pria yang sifatnya tak bisa diperbaiki, suka berubah-ubah dan berbahaya itu?" tanya Leorio ragu sambil melihat pemandangan bandara yang terlihat mengecil dari dalam balon udara.

Sebenarnya, setelah beberapa lama merenungkan kata-kata terakhir Kuroro untuknya, akhirnya Leorio mengerti bahwa pria itu mencoba memberitahunya. Dan itu membuat Leorio gelisah. Kenyataan bahwa Kuroro Lucifer mengatakan dia tidak berjanji untuk tidak menyentuh Kurapika walau hanya seujung jari membuat Leorio berada pada batas sikap tenangnya, dan mungkin kewarasannya.

Sial, dia tidak harus jadi orang yang penuh teka-teki dan membuat kesal begini, 'kan?

"Akan ada banyak masalah. Pasti," ucap Killua tegas.

"Bukannya kau bilang kita tak usah mengkhawatirkan mereka?" Gon bertanya, dengan sikap yang polos dan tak tahu apa-apa seperti biasanya.

"Apa yang ingin Killua katakan, Gon, ada kemungkinan timbulnya konflik di antara mereka. Bahkan kau dan Killua sering terlibat pertengkaran, bukan?" Senritsu menjelaskan padanya dengan senyum keibuan nampak di wajahnya yang bulat.

"Ya...," Gon mengangguk.

"Tapi aku setuju dengan Killua. Mereka akan baik-baik saja."

"Bagaimana kau bisa mengatakannya dengan begitu percaya diri, Senritsu? Yang bisa kulihat di antara mereka adalah pertumpahan darah yang akan terjadi nanti," Leorio berkata sambil memicingkan matanya. "Dan pertengkaran mulut."

Yah, tentu saja. Mereka sama-sama pandai bicara. Aku senang jika bisa melihat mereka berdebat. Pasti akan menjadi tontonan yang mengasyikkan, Leorio mendengus sinis.

"O-san, kau terlalu dibutakan cemburu," Killua, yang sudah tahu apa yang sebenarnya dirasakan Leorio, menyeringai lebar.

Tapi aku lebih khawatir pada kemungkinan di mana pria itu menjadi terlalu posesif pada Kurapika, melihat mereka bepergian begitu lama dan seperti apa sikap pria itu saat berada di dekatnya...Killua menambahkan di dalam benaknya, tak berani untuk mengatakannya langsung. Bisa-bisa dia mendapatkan ledakan amarah dari Leorio. Dan aku tak pernah menyangka pria bernama Kuroro itu ternyata bisa menjadi sangat bodoh, pikirnya lagi sambil diam-diam memutar kedua bola matanya.

"A-APA?!" Leorio marah, tapi tak bisa dipungkiri wajahnya kini sudah sangat memerah.

"Tapi Leorio," Gon angkat bicara lagi, " Aku tidak melihat kebencian sedikitpun yang berasal dari Kuroro."

"Jangan kau juga, Gon! Bukankah kau bilang, kau memandang rendah Genei Ryodan? Jadi kenapa sekarang kau memihaknya?!" Pria jangkung itu hampir berteriak kesal.

"T-Tidak, aku tidak—"

"Gon memang membenci Laba-laba. Tapi Kuroro, sebagai dirinya pribadi, tidak terlalu seperti orang yang bisa sangat dibenci seperti yang pernah kita pikirkan," Killua mengangkat bahunya sambil melihat ke lautan di bawah sana yang tengah mereka lintasi.

"Ya. Kupikir dia tidak bermaksud memicu perkelahian dengan Kurapika," Gon berkata lagi, menganggukkan kepalanya dengan bersemangat.

"Gon, kau terlalu naif," Leorio memijit batang hidungnya. "Dia mungkin tidak ingin berkelahi dengan Kurapika sekarang, tapi siapa tahu pria itu berubah pikiran dan memutuskan untuk menghabisinya? Kuberi tahu saja, dia orang yang berbahaya dan suka berubah-ubah!"

"Keselamatannya terjamin selama belenggu itu masih ada, O-san," ujar Killua sedikit merasa jengkel, dia mulai lelah terus-menerus mengingatkan Leorio.

"Ya, tapi—"

"Bagaimanapun juga, mereka berdua sudah berubah. Irama detak jantung mereka dipastikan sudah berubah," Senritsu menoleh dan melihat ke luar jendela balon udara itu, menurunkan pandangannya ke lautan luas di bawah sana. "Terutama pria itu."

"Apa yang sangat berbeda tentang dia, sebelum dan sesudahnya?" Killua bertanya dengan sebelah alis mata yang dinaikkan. Pria itu selalu sulit diterka, dan menurut sudut pandang Killua—itu tak pernah berubah.

"Sebelumnya, dia terlihat hampa bagiku; seperti sebuah peti mati yang kosong. Mungkin alasan kenapa detak jantungnya terdengar seperti merengkuh kematian adalah : hidupnya kosong, tak berarti."

"Tunggu sebentar. Apa kau mau mengatakan bahwa pria yang dingin itu akhirnya menemukan sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang, untuk menjadikan hidupnya berharga, dan karena itu dia berusaha terus hidup karena hidupnya sekarang bernilai?" Killua bertanya, walau dia sudah menduga bahwa pemikirannya lebih dari sekedar tepat. Jika Senritsu membenarkan kecurigaannya, bahkan dia tak perlu mencari jawaban dari pertanyaannya itu.

Senritsu hanya menoleh pada Killua dan memberinya seulas senyum manis yang terlihat keibuan.

"Detak jantung tak pernah berbohong."


Killua menempelkan keningnya ke jendela balon udara itu yang terasa dingin. Saat ia memejamkan matanya, dia bisa ingat dengan jelas adegan yang baru saja terjadi kemarin di Museum Nasional. Kejadian itu sangat mengganggu Killua, dan membuatnya penasaran hingga tak bisa melakukan apa-apa terhadap kondisi yang sedang terjadi.

Flashback

"Kalluto!"

Mendengar namanya dipanggil oleh kakaknya tercinta, sosok kurus yang ada di hadapan Killua itu pun patuh dan segera berhenti. Killua, seperti biasanya, meluncur dan berhenti di tempat tertentu, menunggu hingga bocah itu mau berbalik untuk berhadapan langsung dengannya. Gon segera menyusul dan mendapati mereka ada di semak-semak di sekitar Museum.

"Ada apa, Killua?"

"Dia Kalluto," Killua menjawab dengan suara tertahan. "Adik laki-lakiku."

"Adik laki-lakimu?" Gon memiringkan kepalanya, berusaha mengingat. "Kupikir kau punya adik perempuan?"

"Tidak, adikku laki-laki. Hanya saja dia adalah korban obsesi aneh ibuku yang suka mendandaninya dengan pakaian perempuan."

"Bukan begitu!" Kalluto berbalik dan protes. "Kau tahu alasannya karena kondisi tubuhku lemah, jadi itu sebagai jimat untuk membuat kondisiku lebih baik!"

"Cih. Takhyul," Killua mendengus sinis. "Lagipula, apa yang kau pikirkan? Bergabung dengan Ryodan seperti itu. Bukankah Ayah memperingatkan kita untuk menjauh dari mereka?!" bentaknya kasar.

"Setidaknya alasanku bergabung tidak buruk! Aku berusaha menemukan saudara kita!" Kalluto menampik.

"Saudara yang mana?" Tanya Gon polos, tapi dia mendapatkan tatapan yang mematikan dari Kalluto.

"Adik laki-lakiku, kakaknya. Namanya Alluka," Killua menjawab Gon singkat, sebelum kembali berbalik pada Kalluto.

"Kau kejam, Kak Killua! Bisa-bisanya kau mengabaikan Kak Alluka seperti itu?!" Kalluto menuntut dengan emosional.

"Mengabaikannya?" Killua menaikkan sebelah alis matanya. "Ayolah, beri aku waktu sebentar untuk menjelaskan. Alluka kabur dari rumah, seperti yang kulakukan dulu. Artinya dia muak dengan keluarga kita dan hanya ingin memulai hidup yang baru. Apa yang salah dengan itu?"

"Tapi bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu padanya?"

"Dia seorang Zaoldyeck. Dia bisa menjaga dirinya sendiri sebaik yang bisa kita lakukan," kata Killua santai, walau Gon bisa merasakan kekhawatiran di suara Killua meski sekilas dan lemah.

"Tapi—"

"Tidak ada alasan apapun, Kalluto. Menjauhlah dari Laba-laba, tak ada untungnya bagimu. Selain itu, bagaimana kau bisa mencari Alluka sementara yang kaulakukan bersama mereka hanya merampok dan membunuh?"

Mendengar kalimat itu, wajah Kalluto menampakkan ekspresi yang bercampur aduk, antara kekecewaan yang sangat besar dan sedikit kemarahan. Dia menegakkan tubuhnya dan kembali pada ekspresinya yang dingin. Dengan dagu yang terangkat tinggi, dia melemparkan Mata Merah kepada Killua, yang menangkapnya dengan mudah.

"Danchou memberitahuku untuk memberikannya padamu," dia berkata sambil memberi penekanan pada kata danchou. Dia pun mulai melangkah pergi.

Tatapan Killua terpaku pada sosok adiknya yang semakin menjauh, dan ekspresi bingung terlihat jelas ketika melihat perubahan sikap Kalluto yang tiba-tiba.

"Oh, dan Kakak?" Kalluto berhenti, melirik Killua dengan dingin. "Jangan bicara tentang orang lain kalau kau tidak tahu apa-apa mengenai mereka."

Setelah mengatakan itu, Kalluto pergi dan menghilang dari pandangan mereka. Di waktu yang sekejap itu, Gon menyadari aura dingin dalam tatapan Kalluto sama persis dengan tatapan Killua saat dia sangat marah. Yah, lagipula mereka bersaudara, bukan?

"Pria itu sudah memperhitungkan hal ini," tiba-tiba Killua berkata. "Dia merencanakannya sedemikian rupa supaya aku mengejar adikku, mendapatkan Mata Merah, dan memberikannya pada Kurapika nanti."

"Benarkah?!" Gon terperangah kaget hingga mulutnya membentuk huruf 'O'.

"Hah. Kurapika harus sangat berhati-hati bersama pria itu. Dia pria yang licik," gumam Killua pada dirinya sendiri. "Ayo pergi, Gon. Kita harus memberikan ini pada Kurapika. Dia pasti senang bisa mendapatkannya kembali."

"B-Baiklah…"

Dan mereka pun kembali ke Ryokan lalu meletakkan mata itu di kamar yang ditempati oleh Kurapika.

End of Flashback


Malam pun tiba dan nampak dua orang sedang sibuk berkemas-kemas di kamar yang mereka sewa di sebuah Ryokan. Berdasarkan jadwal, mereka harus pergi sesegera mungkin ke perfektur berikutnya di mana target selanjutnya berada. Sebuah suara ketukan tiba-tiba terdengar di pintu geser kamar mereka, mengusik aktivitas yang tengah mereka lakukan dalam keheningan. Dengan ijin Kuroro, Shalnark menyelinap masuk ke kamar itu. Seperti biasa, tak bosan-bosannya pemuda itu memperlihatkan senyumnya yang lebar di wajahnya yang tak tahu malu itu.

"Aku mendapat beberapa kabar," dia mengumumkan. "Yang mana yang kau pilih lebih dulu, kabar buruk atau kabar baik?"

"Kabar buruk," jawab Kuroro tenangs eolah itu bukan masalah.

"Seperti yang kau minta," Shalnark mengangguk, seolah dia tak akan memberitahukan kabar buruk sama sekali. "Yah, rupanya beberapa pasang Mata Merah di Negara ini sudah raib dari pemiliknya, Jadi, masalah buruknya adalah akan lebih sulit melakukan pemeriksaan untuk mencari Mata Merah karena kita sama sekali tidak tahu medan di sini."

Awan suram dengan cepat terlihat di sekitar kepala Kurapika. Kepalanya tertunduk lemah mendengar kabar itu; pasti akan menjadi tugas yang sangat menakutkan untuk menyisir seluruh negeri guna menemukan Mata Merah. Namun Kuroro tidak terlihat sesuram Kurapika. Bahkan, sepertinya dia tidak terpengaruh.

"Dan berita baiknya?" Kuroro bertanya dengan sikap yang tenang.

"Hal bagusnya adalah kau bisa tenang mendapatkan Mata Merah tanpa perlu risau tentang masalah bulan baru, dan yah...," Pemuda itu menyeringai ragu. "Kurapika tak perlu melalui semua masalah yang mungkin terjadi dalam pencurian Mata Merah?"

"Menghilangkan beban moralnya, apakah itu yang ingin kau katakan?" Kuroro terkekeh geli melihat anak buahnya benar-benar peduli pada Si Pengguna Rantai.

Bukannya menjawab dengan kata-kata, Shalnark hanya menyeringai malu. Kurapika menatap pemuda itu tak percaya. Kenapa dia menganggapnya kabar baik? Itu bukan urusannya jadi seharusnya Shalnark tidak menyimpulkan kabar itu sebagai kabar baik. Jika Shalnark adalah Nobunaga, dengan gembira dia akan mengejek Kurapika yang harus mencari Mata Merah di setiap sudut dan celah negeri itu, hanya untuk membuatnya dongkol. Benar, memang, Shalnark adalah salah seorang anggota Laba-laba yang paling sering mengunjungi mereka dari waktu ke waktu. Apakah Shalnark mulai merasa mengenal gadis itu, atau apa?

"Yah, setidaknya aku akan berusaha menyelidiki masalah ini lebih dalam. Kita lihat saja apakah aku bisa mendapatkan informasi lagi di mana kira-kira Mata Merah berada. Aku akan memberitahumu sesegera mungkin, Danchou," Shalnark memberikan pernyataan dengan penuh percaya diri seperti biasanya.

"Bagus sekali. Kau boleh pergi," Kuroro mengangguk.

"Kalau begitu, sampai jumpa lagi!" Shalnark berceloteh sambil berbalik pergi.

Segera setelah kepergiannya, Kuroro sedikit mengernyit. Semuanya menjadi lebih rumit. Kurapika menghela napas. Ia menyerah.

"Bagaimana sekarang?"

"Iya, bagaimana?"

Kedua kalimat itu persis sama dengan yang mereka gumamkan beberapa bulan yang lalu di dalam gua di mana Hassamunnin pertama kali mengutuk mereka dengan belenggu itu, membuat Kuroro dan Kurapika merasa bahwa mereka kembali ke awal dan harus memulainya lagi. Ini masuk akal, karena mereka memulai pencarian di negeri asing.

"Untuk sekarang, kurasa kita perlu tinggal di Ryokan ini sampai ada kabar lagi dari Shalnark," ucap Kuroro akhirnya setelah diam sejenak sambil melipat beberapa lembar kertas dan menyimpannya ke dalam saku.

Kurapika hanya bisa menerima hal itu dengan bahu terkulai. Akhirnya, mereka harus pergi ke resepsionis dan mengatakan ingin tinggal lebih lama dalam waktu yang belum bisa dipastikan. Mereka menghabiskan malam dalam keheningan, sama-sama menyibukkan diri dengan kegiatannya masing-masing. Kuroro tenggelam dalam buku yang dibawakan Shalnark untuknya beberapa hari yang lalu. Sementara itu, Kurapika, sedang mencoba ponsel barunya; hadiah dari teman-temannya. Sebelum itu mereka pun sudah memberi Kurapika nomor-nomor yang bisa dihubungi.

"Ada masalah?"

Suara yang belakangan ini terdengar familiar membuyarkan konsentrasi mereka dan keduanya langsung mendongak waspada. Mereka tidak merasakan kehadiran seorangpun sebelumnya, hingga mereka mendengar suara itu. Di taman di depan kamar mereka ada Suzaku, mengenakan pakaian yang sama dengan yang dipakainya ketika pertama kali mereka bertemu. Wajahnya tampak senang, dan matanya berkilat ingin tahu.

"Dan apa hubungannya denganmu?" tanya Kuroro tenang.

"Maaf aku ikut campur, tapi aku di sini untuk menawarkan bantuan."

Dia sangat sopan dan punya tata krama hingga Kurapika tak kuasa menolak kehadirannya, bahkan ketika dia duduk di teras tepat di depan kamar mereka tanpa permisi. Kuroro melirik Phoenix Asia itu, sebelum menghampiri dan duduk di dekatnya. Kurapika pun menyusul, tapi dia duduk lebih jauh dari Suzaku.

"Dan bantuan seperti apa yang kautawarkan pada kami?"

Suzaku memperlihatkan senyumnya yang menawan, tapi bukannya menjawab pertanyaan Kuroro, dia menoleh pada Kurapika.

"Hai Gadis, apa kau masih punya jimat yang kuberikan padamu waktu itu?"

"Hah?" Kurapika berkedip. Lalu dia segera menarik tali yang melingkar di lehernya, terlihatlah jimat yang ditanyakan Suzaku. Berupa seuntai kalung dengan sebuah magatama terbuat dari bahan yang tidak diketahui Kurapika; warnanya seperti pasir, jika disentuh rasanya seperti gading. Suzaku memberikan jimat itu di malam saat pertama kali mereka bertemu di puncak bukit yang berletak di dekat festival diadakan.

"Ya, yang itu. Jagalah baik-baik jangan sampai hilang karena sulit mendapatkannya. Walaupun kalian berdua dilindungi dengan jimat pelindung yang kalian miliki," Suzaku melanjutkan sambil meraih tangan Kuroro dan meraba cincin pria itu dengan ibu jarinya, "Aku takut jimat ini tak bisa memberikan perlindungan di sini, di negri yang bukan asalnya."

"Terimakasih untuk nasihatmu," ucap Kuroro datar sambil menarik tangannya dari genggaman Suzaku.

Mungkin hal itu terlihat menggelikan bagi Kurapika, gadis itu menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Dia hanya mendengus sambil bersenandung pelan dan mempertahankan ekpresi dingin di wajahnya. Kurapika kembali memasukkan kalung magatama itu ke balik bajunya.

"Tapi kenapa hanya aku yang diberi jimat?"

"Apa aku bisa menganggap ucapanmu itu sebagai pernyataan bahwa kau ingin dia juga dilindungi?" Suzaku menggodanya. "Betapa baiknya dirimu."

"T-tidak!" protes Kurapika marah, namun wajahnya mengatakan sebaliknya karena terlihat semburat rona kemerahan di sana.

"Tak usah resah, Gadis, temanmu tidak membutuhkan perlindungan apapun saat ini karena dia sedang tidak berada dalam bahaya yang akan segera terjadi," Suzaku memainkan sebelah tangannya.

"Bahaya yang akan segera terjadi?" Kuroro memicingkan matanya.

Dia menatap Suzaku, pria itu pun tersenyum padanya. Tapi Kuroro bisa melihat di balik wajah berseri-seri yang diperlihatkannya, ada sedikit keseriusan. Dia bersungguh-sungguh dengan yang dia katakan, dan Kuroro yakin jika sosok mistis berwujud manusia itu menganggap situasinya berbahaya, pasti memang benar begitulah adanya. Bahkan dia sampai bertindak cukup jauh dengan memberi Kurapika sebuah jimat pelindung khusus. Yang mengganggu Kuroro adalah arti tersembunyi di balik kata-kata Suzaku; ada bahaya besar yang mengancam Kurapika, sedangkan dia sendiri aman dari bahaya itu. Akan seperti apa bahayanya?

"Aku hanya berharap," Suzaku berkata lagi, dan kali ini sepertinya ditujukan untuk Kuroro, "Apa yang kutakutkan tak berdasar."

"Yang kautakutkan?" Kuroro menatapnya penuh tanya. Apa yang bisa membuat Suzaku yang begitu dihormati di negri itu menjadi sangat gelisah?

"Baiklah!" Suzaku tiba-tiba berdiri dan menepukkan kedua tangannya. Sikapnya ini membuat Kurapika agak lengah, bahkan Kuroro berkedip terkejut. "Oya, bisakah kita bertemu besok pagi di gerbang utara kota ini? Dari situ, aku akan memandu kalian."

"Apa kau tahu apa yang kami cari?" tanya Kurapika bingung.

"Tentu saja. Setelah kekacauan yang kalian lakukan di Museum Nasional kemarin, akan sangat mengherankan jika tak ada satupun dari kami yang tahu tentang kalian dan pencarian kalian yang berhubungan dengan Mata Merah," Suzaku tertawa terbahak-bahak, dan suara tawanya terdengar seperti lonceng yang berdentang.

"Kami?"

Suzaku hanya menanggapi pertanyaan ganjil Kurapika dengan seulas senyum nakal. Dia mengayunkan kedua lengannya lebar-lebar dan segera saja sosoknya diselimuti cahaya yang berwarna keemasan. Refleks, Kurapika dan Kuroro menutupi mata mereka dari cahaya yang menyilaukan itu.

"Kalau kalian tidak keberatan, sampai jumpa besok siang."

Itulah kalimat terakhir Suzaku sebelum dia pergi. Kuroro segera membuka matanya dan sesaat dia melihat jejak keemasan yang ditinggalkan Suzaku ketika menghilang.


Tak punya pilihan apapun dan melihat tak ada pilihan lain yang lebih baik, Kuroro dan Kurapika setuju untuk mengikuti perintah Suzaku dan bertemu dengannya di gerbang utara. Sesampainya di sana, pria itu sudah menunggu. Kurapika setengah menduga dia akan kembali mengenakan pakaian yang sama, tapi dengan bijaknya Suzaku mengenakan pakaian biasa; pakaian dengan tema oriental.

"Aku berinisiatif menyelidiki masalah ini, dan usahaku membuahkan hasil," kata Suzaku segera dengan suaranya yang selembut beludru, setelah mereka saling menyapa secara singkat. "Dari lima pasang Mata Merah yang tersebar di negeri ini, dua di antaranya hilang. Kalian mendapatkan salah satunya dari Museum Nasional, ada satu pasang di sebelah barat dan satu pasang lagi di sebelah timur."

"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?"

"Kita akan berkunjung ke sebelah barat terlebih dahulu, karena letaknya lebih dekat dari sini daripada ke sebelah timur."

Lalu Suzaku mulai berjalan menuju ke hutan lebat yang letaknya tak jauh dari pinggiran kota. Dengan tujuan tertentu, Suzaku menyatakan bahwa sebenarnya dia tahu di mana kedua pasang Mata Merah yang hilang itu berada.

Maka mereka bertiga berjalan dalam keheningan ke hutan itu; baik Kuroro maupun Kurapika tidak menanyakan ke arah mana Suzaku membawa mereka. Mereka tahu, sebagai ciptaan khayangan, Suzaku terikat pada kekuatan pernyataannya; dia terikat untuk mengikuti apa yang ia katakan. Jika dia berjanji membantu mereka, dia akan melakukannya. Mereka cukup mempercayai Suzaku untuk membiarkannya memandu mereka yang tak tahu apa-apa.

"Kita akan mengambil jalan pintas," Suzaku tiba-tiba mengumumkan sambil menghentikan langkahnya.

"Dan?" tanya Kurapika pelan. Jika mereka memang akan mengambil jalan pintas, Suzaku bisa saja terus berjalan tanpa mengatakan apapun. Tidak begitu penting mengumumkannya terlebih dahulu.

"Yah, memberitahu kalian sebelumnya merupakan hal yang sangat penting, karena jalan pintas yang akan kita ambil bukan jalan setapak biasa," Suzaku menoleh dan memberi gadis itu senyuman yang penuh teka-teki. "Ayo."

Kuroro dan Kurapika mengikuti Suzaku ketika dia melangkah menuju lokasi tertentu. Di dekat kakinya, ada dua tumpukan aneh bebatuan yang berdiri seperti tonggak pembatas berukuran kecil. Suzaku berdiri hanya berjarak satu langkah dari batu-batu itu dan menatap ke dalam kegelapan hutan di hadapannya. Dia mengangkat salah satu lengannya, mulai menyanyikan semacam puji-pujian dengan suara yang hampir tak terdengar. Kuroro dan Kurapika terlihat penasaran; sudah pasti Suzaku akan melakukan sesuatu yang luar biasa.

Ketika Suzaku terlihat sudah menyelesaikan nyanyiannya, ada hembusan angin bertiup dari jalan setapak sempit yang tak terlihat, melaju di antara dua tumpukan batu itu; seolah angin itu bertiup dari lorong di antara dua gedung yang sangat besar. Kurapika dan Kuroro bisa langsung melihat udara bergetar dan berputar seolah dipanaskan, tapi hanya sekejap saja. Di detik berikutnya, semua kembali terlihat normal.

"Lihatlah Jalan Hantu yang baru saja kubuka untuk kalian," kata Suzaku bangga sambil minggir dari tempatnya, membiarkan Kuroro dan Kurapika melihat jalan itu secara keseluruhan.

Kurapika terpaku sementara Kuroro memicingkan matanya yang gelap. Di sana, di antara dua tumpukan batu itu, ruang dan waktu seperti ditarik dan sebuah pintu menuju ke dimensi lain tampaknya sudah terbuka. Sementara pemandangannya secara umum sama, tak bisa dipungkiri ada aura mengerikan dan bau arwah-arwah penasaran yang hampir terasa seperti mencekik ketika kabut tipis menyeramkan menyelimuti udara.

"Jalan Hantu kau bilang?" Kuroro bertanya dengan tatapan yang masih tertuju pada gerbang kecil di antara dua tonggak pembatas itu.

"Ya. Tak ada tempat manapun di negeri ini yang tak bisa didatangi dengan menggunakan jalan ini. Namun...," ucap Suzaku sambil melangkah masuk ke jalan itu dan memberi isyarat melalui tangannya kepada Kuroro dan Kurapika untuk mengikutinya.

Mereka sekilas saling bertukar pandang, menampakkan kehati-hatian, tapi meskipun begitu keduanya sepakat untuk melanjutkan dan menghadapi 'tantangan'. Lagipula, tak ada kondisi di mana keberhasilan bisa didapat tanpa adanya pengorbanan. Sekalinya mereka memasuki jalan itu, gerbang di belakangnya pun tertutup dan mereka mendapati diri mereka sendiri berada di hutan yang sama, tapi di ruang yang berbeda; ada banyak kabut putih tipis berputar-putar di sekeliling mereka; bergerak dan menari seperti hidup. Kurapika mengernyitkan hidungnya ketika dia menangkap bau dupa yang dibakar; yaitu benda yang dibakar di depan altar orang meninggal selama upacara pemakaman. Kuroro melihat sekeliling dan mendapati beberapa sosok yang terlihat bungkuk, berjalan dengan kepala tertunduk. Dia tidak yakin apakah memang karena penglihatannya saja atau karena kabut, tapi sosok-sosok itu terlihat tembus pandang.

"Seperti namanya, jalan ini merupakan bagian dari dunia orang mati tapi hanya sebagian kecil saja. Maka tempat ini diberi peringatan dan jangan pernah menatap roh-roh orang mati itu terlalu lama karena sekalinya mereka membuatmu terpesona, dengan cara tertentu mereka akan berusaha mempertahankanmu di sini bersamanya."

"Tolong katakan lagi kenapa kita mengambil jalan ini?" Kurapika bertanya dengan suara tegang ketika suatu roh baru saja melewatinya; tidak, tapi melewati melalui dirinya.

"Menjamin kalian tak akan tersesat, akan sampai ke tujuan jauh lebih cepat. Selama kalian bersamaku, aku bisa menjamin keselamatan kalian," jawab Suzaku penuh percaya diri dan dia pun mulai berjalan lagi.

Hampir terlalu tergesa-gesa, Kurapika mengikuti Phoenix Asia itu. Dalam diam Kuroro mengikuti di belakangnya. Sekarang, lagi-lagi secara sembunyi-sembunyi dia melirik penghuni Jalan Hantu itu. Penampilan mereka terlihat cukup normal; setidaknya lebih terlihat seperti manusia meski aura mengerikan mengelilingi mereka dan kesuraman yang teramat sangat menaungi tempat di sekitarnya.

"Di banyak kejadian, manusia-manusia yang tidak beruntung tersandung ke alam ini. Mereka akan bernasib baik jika bisa menemukan jalan keluar, tapi jika membuang waktu terlalu lama di alam ini dalam satu periode, jiwa mereka yang masih hidup akan terlalu memburuk hingga untuk mengatasinya merupakan tugas yang melelahkan," Suzaku berkata dengan suara pelan dan penuh kesedihan, karena dia sudah menyaksikan banyak kasus seperti itu.

Kedua manusia di belakangnya mendengarkan cerita Suzaku dalam diam. Mereka cukup bijak untuk menerima situasi di mana mereka berada sekarang semata-mata karena kebaikan hati Suzaku. Jika dia mau, dia bisa saja menelantarkan Kuroro dan Kurapika di sana sebagai santapan roh-roh orang mati itu. Untuk beberapa saat mereka melanjutkan perjalanannya yang menyeramkan, ketika tiba-tiba Suzaku mendongak dan berhenti. Kuroro dan Kurapika langsung berhenti secara hampir bersamaan tepat di belakangnya.

"Ada apa?" tanya Kurapika hati-hati.

"Sepertinya...," Suzaku menoleh dan memperlihatkan senyum yang menunjukkan permohonan maaf pada mereka, "Aku harus meninggalkan kalian sebentar."

Mata Kurapika membelalak dengan sangat drastis hingga Suzaku dengan cepat menambahkan :

"Tapi aku akan memastikan kalian selamat sampai di tujuan."

Seolah menjawab perkataannya, suara roda yang berderak terdengar bergema di sepanjang jalan sempit di mana mereka berdiri sekarang. Segera saja, sosok samar sebuah gerobak yang biasa ditarik kerbau terlihat dari kejauhan. Ketika sosok itu mendekat, mata Kurapika terbelalak karena apa yang dilihatnya.

Menjulang di hadapannya adalah gerobak dengan wajah cacat seorang wanita yang sangat besar di bagian depan, memblokir semua jalan masuk ke gerobak itu sendiri. Meski digambarkan seperti gerobak yang biasanya ditarik seekor kerbau, tak ada seekor kerbau pun yang diikatkan ke gerobak itu.

"Apa…" Kuroro mulai buka suara sambil menatap kendaraan fantastis itu dengan tatapan seolah tak percaya.

Oooh…Suzaku-samaaaa…Wajah wanita itu bicara, suaranya yang melengking bergetar gembira. Sudah lama sekali…sangat lamaaa…

"Ini Oboroguruma. Dia akan membawa kalian ke tempat tujuan menggantikanku."

Aku akan mematuhi tugas apapun yang kau berikan dengan sepenuh hatiku…Wanita itu meratap mesra kepada Suzaku. Di manapun, kapanpun…Suzaku-sama-ku tercintaaa…

"Kau gadis yang baik, Oboroguruma," Suzaku terkekeh dan membelai pipi wanita itu tanpa sedikitpun rasa jijik yang terlihat, baik di raut wajah, sikap tubuh, maupun ucapannya. "Kau akan membawa mereka ke Saikyo?"

Apapun untukmu, Suzaku-samaaaa…Wanita itu berkata lagi dalam suara yang halus. Lalu dia menolehkan wajahnya pada Kuroro dan Kurapika; yang sama-sama langsung membeku ketika mengarahkan matanya yang sangat besar dan terlihat jahat kepada mereka. Masuklah, tamu-tamuku…

Tanpa peringatan sepatah kata pun, wanita itu membuka mulutnya lebar-lebar dan menerjang ke arah Kuroro dan Kurapika untuk menelan mereka seluruhnya. Refleks, Kuroro menangkap pinggang Kurapikadengan cara yang agak terlalu kasar dan melompat menjauh dari 'Si Penyerang'.

"Oh Sayang…," Suzaku menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, menampakkan ekspresi terkejut seolah tak punya kesalahan apapun di wajahnya.

"Untuk apa itu?!" pekik Kurapika dengan masih tergantung oleh lengan Kuroro di pinggangnya. "Suzaku!"

"Maaf aku tidak menjelaskannya pada kalian, tapi itulah cara Oboroguruma membawa para penumpangnya," jawab Suzaku sambil terkekeh geli.

Wahai Tamu-tamu yang terhormat, tolong jangan mempersulit tugasku…Wajah wanita itu berkata dengan sikap yang sedikit mengancam sambil mengernyit pada mereka dan perlahan mendekat, roda-rodanya berderak mengerikan.

"Tidak terlihat aman sama sekali," komentar Kuroro tajam.

"Yah, keuntungan yang akan kalian dapatkan nanti membenarkan cara yang dipakainya, bukan?" Suzaku tersenyum pada mereka dan kali ini Oboroguruma memastikan tidak memberi sedikitpun kesempatan bagi mereka untuk kabur.

Dia menelan mereka bulat-bulat, seluruhnya, dengan mulut menganga bahkan menjilat bibirnya yang berwarna merah tua dengan senang, seolah dia baru saja merasakan hidangan terbaik yang disajikan di hadapannya.

"Sekarang, Oboroguruma, jangan kecewakan aku," Suzaku menepuk kepala yang sangat besar itu sekali lagi.

Tak akan pernah, Suzaku-sama…lebih baik aku mati daripada mengecewakanmu…Dia bersandar ke tangan Suzaku seakan-akan menikmati kasih sayangnya.

"Baiklah kalau begitu, pergilah kalian. Beritahu mereka aku akan menghubungi mereka sesegera mungkin," kata Suzaku sambil menepuk gerobak itu dua kali dengan lebih kuat, seolah menyemangatinya.

Aku akan memberitahu mereka…Jaga dirimu baik-baik, Suzaku-samaaaa…Oborogurumo menundukkan kepalanya dan pergi ke dalam kabut tipis hingga akhirnya menghilang.

"Sekarang…" Suzaku berbalik dan berlalu pergi. "Aku penasaran apa yang ingin dibahas Kirin-sama bersamaku?"


Apa yang kaurasakan, Tamu-tamuku yang terhormat? Suara itu bergema di sebuah ruangan kecil yang terletak di dalam gerobak Oborogurumo.

Kurapika merasa seperti sedang mendengar versi lain dari suara licik Bastille.

"Apakah kami terlihat nyaman?" dia bergumam dengan sangat jengkel, menyesalkan keadaan di mana dirinya terbaring di lantai yang terbuat dari kayu dengan Kuroro berada DI ATASNYA. Begitulah tepatnya mereka mendapati bagaimana posisi diri mereka sendiri di dalam gerobak tepat setelah ditelan Oborogurumo.

Yah…

"Kau! Menyingkir!" Kurapika membentak Kuroro.

"Jangan berteriak di telingaku, Kurapika. Aku tidak tuli," ucap Kuroro sambil mengangkat tubuhnya dari atas Kurapika dan membetulkan posisinya, hingga dia duduk bersandar ke dinding kayu gerobak itu.

Kurapika merengut dengan sengit padanya, tapi tak mengatakan apapun untuk mengasarinya secara verbal seperti yang biasanya dia lakukan. Alasannya adalah karena ini bukan pertama kalinya Kuroro ada di atasnya dan dia menyadari pria itu tak punya maksud untuk menyentuhnya; tapi dia terlalu malu untuk mengeluh pada Kuroro mengenai hal itu. Intinya, Kurapika memutuskan untuk menyimpannya sendiri sambil menyerang pria itu dengan pelototannya saja.

Dengan cepat, Kurapika duduk bersandar ke dinding yang berlawanan menghadap Kuroro. Mereka tetap diam sejenak, mengingatkan diri sendiri.

Kita sudah sampai di tempat yang kalian tujuuuu… Oborogurumo tiba-tiba mengumumkan, dan mereka bisa merasakan gerobaknya melambat perlahan hingga akhirnya berhenti.

"Cepat sekali?" Kurapika berkedip terkejut. Hanya beberapa menit saja waktu yang terlewati dan mereka sudah sampai di tujuan.

Aku tidak mengecewakan Suzaku-samaaaa…kata Oborogurumo, merasa senang karena berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Lalu dia membuka pintu belakang gerobak itu. Kuroro dan Kurapika pun keluar dengan menggunakan cara yang normal. Dengan kesal Kurapika pikir roh iblis itu setidaknya bisa saja memasukkan mereka dengan cara yang waras.

Segera setelah keduanya berada di luar gerobak, mereka bisa melihat ada gerbang kecil menuju ke dunia manusia. Mereka bergegas keluar dari Jalan Hantu. Diam-diam Kurapika lega sudah keluar dari tempat mengerikan itu dengan selamat. Mereka mendapati diri mereka sendiri sedang berdiri di puncak bukit menghadap ke kota besar yang berada di kaki bukit. Kurapika terheran-heran dengan kemegahan kota itu, begitu pula halnya dengan Kuroro. Kota itu tampak menakjubkan dengan penataan dan arsitekturnya yang antik, terutama kastil dengan menara kembar yang menjulang anggun di jantung kota yang luas itu. Kemudian Kuroro pun tahu; saat pandangannya tertuju pada kastil itu, pasti di sanalah Mata Merah berada.

Oborogurumo, sebagai roh ia tak bisa keluar dari Jalan Hantu begitu saja, menatap mereka dengan penuh perhitungan di wajah cacatnya yang menakutkan. Sesaat kemudian, akhirnya dia memutuskan.

Sedikit nasihat yang bagus dariku, Tamu-tamuku yang terhormat…Oborogurumo tiba-tiba berkata dengan tingkat keseriusan tertentu di nada suaranya.

Kurapika dan Kuroro berbalik menghadap roh iblis yang masih berada di gerbang Jalan Hantu itu.

Waspadalah pada Laba-laba yang memiliki tempat ini...Lalu dia menghilang, masuk kembali ke dalam Jalan Hantu. Jalan itu segera tertutup, dan semuanya kembali normal. Angin bertiup dengan tenang di sekitar mereka, dan suasananya tidak menunjukkan ada bahaya.

"Laba-laba, dia bilang?" Kurapika bertanya dengan suara yang terdengar ragu dan mengernyit pada Kuroro.

"Ya, katanya begitu," Kuroro mengangguk, walau ekspresinya pun sama-sama terlihat bingung.

"Yah, di sini ada satu," gumam Kurapika masam sambil berbalik untuk melangkah pergi menuju ke kota di bawah bukit.

Kuroro hanya menaikkan sebelah alis matanya melihat sikap gadis itu dan tak mengatakan apapun lagi. Dia hanya mengikuti Kurapika menuruni bukit dalam diam.


Mereka hampir meninggalkan bukit ketika dikejar masalah yang lain lagi.

Setelah beberapa langkah di kaki bukit, tiba-tiba Kurapika merasa sesuatu menyentak kedua bahunya. Dia mencoba menepis apapun itu, tapi tetap saja terjadi. Tiba-tiba, terlalu tiba-tiba, dia diguncang-guncang dengan kasar dan segera mendapati dirinya mengapung. Kuroro, yang terikat dengannya dalam artian oleh belenggu gaib itu, ikut terseret. Terkejut, Kurapika menjerit.

Peristiwa itu merupakan adegan yang menyenangkan bagi siapapun yang melihatnya; dua orang dengan penampilan yang berbeda melompat-lompat di udara seperti ikan yang tertangkap umpan pemancing. Tapi tidak begitu menyenangkan bagi mereka. Kuroro mendarat dengan mulus di tanah yang kokoh hampir tanpa suara, tapi kaki Kurapika tak pernah bisa menginjak tanah. Ketika Kuroro mendongak, dia melihat gadis itu tergantung terbalik di antara batang pohon dengan benang sutra yang berayun di sekitarnya. Belenggu gaib itu sudah melebar hingga enam meter; dan merupakan jarak yang cukup untuk bisa membuat Kurapika tergantung di sana sementara Kuroro sudah aman di tanah.

"Apa—" Kurapika mulai bicara, tapi terpotong dengan suara cekikikan yang mengerikan milik seorang wanita.

Ohoho…Lihat apa yang kutangkap. Gadis kecil yang cantik dan penuh energi…Suara lembut itu berkata, begitu lembut bagaikan beludru hingga membuat bulu kuduk Kurapika merinding. Sangat lezat, penuh dengan inti kehidupan dan kekuatan…

Seorang wanita mengenakan kimono pendek yang indah berbahan sutra dengan warna hitam pekat muncul dari balik kegelapan hutan di atas sebuah batang pohon, dekat dengan tempat di mana Kurapika tergantung dengan posisi terbalik. Gerakannya licin dan cepat, seolah dia merupakan bagian dari pohon itu dan terbiasa bergerak di antara batang pohon meskipun penampilannya halus. Kulitnya pucat bagai mayat, mata hitam pekatnya bersegi seperti mata serangga. Rambutnya yang sangat panjang jatuh terurai di bahunya, bahkan panjang rambutnya itu melewati batang pohon di mana ia berdiri. Malah alis matanya terlihat seperti dicukur dan digantikan dengan dua bulatan aneh berwarna hitam di keningnya di mana seharusnya alis matanya berada.

Dalam beberapa gerakan cepat, Kuroro sudah ada di belakang wanita mengerikan itu dengan jemarinya yang kaku menyentuh tengkuknya dalam posisi menyayat; siap memenggal kapanpun dia inginkan.

"Lepaskan dia, Jorou-gumo," Kuroro berkata dengan suara yang terdengar sudah pada batas yang sangat berbahaya. Kurapika berkedip ketika mendengar perubahan drastis di nada suara Kuroro. Dia belum pernah mendengar pria itu begitu mengancam sebelumnya. Terlebih lagi, sepertinya Kuroro mengenal wanita itu.

Ah…Wanita mengerikan itu berkata dengan suara yang sensual sambil menoleh pada Kuroro dengan mata yang sepenuhnya berwarna hitam bagaikan batu obsidian.

Dia menatap Kuroro dengan ketertarikan yang teramat sangat sambil tersenyum mempesona. Kurapika gemetar melihat senyuman itu; bukannya terlihat menggoda, tapi malah lebih terlihat mematikan. Kecantikannya membunuh, Kurapika yakin akan hal itu. Wanita itu membuka bibirnya yang tipis dan merayu :

Bukankah ini putra Anansi?


TBC


A/N :

Maaf kali ini ga sempat balas review...udah larut banget...

Pastinya jangan lewatkan chapter berikutnya! *wink*


Review please...^^