DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.

GENRE :

Adventure & Romance

WARNING :

FemKura. Fight scenes and a little bit gore for this chapter.


CHAPTER 19 : THE SPIDER LADY


"P-Putra Anansi?" Kurapika tergagap bingung. Apa lagi artinya itu?!

Kuroro lebih memicingkan matanya.

"Jorou-gumo...," ucapnya, dengan suara yang dingin. Bahkan walaupun Jorou-gumo merupakan sejenis roh jahat, ia bisa merasakan penekanan ancaman di suara lembut itu. Ultimatum yang bersifat final, dan wanita itu pun mengerti, tidak mematuhinya benar-benar suatu kebodohan; setidaknya untuk saat itu.

Dengan satu kibasan pergelangan tangannya yang kurus bagai ranting pohon, Kurapika langsung terlepas dari jaring laba-laba yang menyelimutinya seperti lapisan pelindung. Dia dilepaskan terlalu mendadak sehingga tidak sempat menyiapkan diri sama sekali untuk mendarat. Dia mendarat begitu saja dengan disertai suara benturan keras di tanah yang lembut. Sesaat Kurapika merasa seperti melihat bintang-bintang yang berkilauan, sebelum akhirnya menggelengkan kepala untuk menjernihkan pandangannya. Ketika gadis itu segera berdiri, Kuroro sudah ada di depannya, dengan punggung yang membelakangi Kurapika.

"Apanya Anansi?" ujar Kurapika kesal.

"Anansi itu seseorang; atau lebih tepatnya, dia adalah penjelmaan dari roh laba-laba." Kuroro menoleh, menatap mata Kurapika. "Dialah yang memberitahuku tentang laba-laba berkaki dua belas."

Detak jantung Kurapika berhenti sekejap. Dia tahu Kuroro mencoba mengatakan padanya bahwa Anansi adalah inspirasinya untuk Genei Ryodan; ide yang mendasari terbentuknya kelompok itu. Kurapika memicingkan matanya ketika sebuah pemikiran terlintas di benaknya.

"Apakah dia juga gurumu?" Dia bertanya dengan suara pelan.

"Semacam itulah," jawab Kuroro sambil mengangkat bahu seolah tak peduli. "Tapi dia tinggal hanya sebentar. Dia bersamaku beberapa bulan saja, lalu dia pergi dan tak pernah datang berkunjung."

Tak ada kesedihan maupun penyesalan di nada suara pria itu. Seolah dia tak peduli gurunya datang mengunjunginya atau tidak, bahkan seakan-akan tak peduli apakah mantan gurunya mengingatnya atau tidak.

Baiklah, Putra Anansi…Apa yang membawamu datang ke negeri ini? Wanita itu bertanya sambil membalikkan badannya menghadap Kuroro. Dia menggoyangkan tubuhnya yang tampak menggiurkan dengan cara yang sensual, diam-diam menunjukkan tonjolan belahan dadanya yang mengintip dari balik kimononya yang longgar. Pemandangan ini membuat Kurapika tidak nyaman, tapi dia tak mengatakan apapun.

"Aku di sini untuk suatu urusan," ucap Kuroro singkat. "Dan berhentilah memanggilku seperti itu."

Kenapa? Panggilan itu cocok denganmu...Wanita itu mencibir. Lagipula, aromamu sama dengannya...

Kuroro menajamkan tatapannya menjadi suatu tatapan berbahaya, sedangkan Kurapika mengangkat kedua alis matanya. Sepertinya Anansi adalah topik yang cukup sensitif bagi Kuroro; karena suatu alasan yang belum diketahui gadis itu.

Urusan apakah itu? Aku harus tahu karena aku penghuni asli dan kalian pendatang. Aku harus tahu apa yang terjadi di daerah kekuasaanku, dia melanjutkan.

"Daerah kekuasaanmu?" Kuroro mendengus secara terang-terangan. "Kau berbicara seolah kau adalah pemilik tempat ini padahal sebenarnya kau hanyalah bakemono."

Mm-hmm...Jorou-gumo menampakkan seringai iblisnya pada Kuroro. Dan bakemono ini tentu saja mengenal daerah ini seperti punggung tangannya sendiri. Dan mungkin...Dia bergerak lebih dekat ke pria itu, tubuhnya bergerak penuh gairah hingga membuat Kurapika serasa pening melihatnya. Bakemono ini bisa menjadi bantuan dalam bentuk apapun, berkaitan dengan apa yang kau sebut 'urusan'-mu tadi?

"Apa yang kautawarkan?" Kuroro berkata, mendadak berubah ke situasi tawar-menawar. Sedari tadi, dia tak bergeming bahkan ketika wajah mengerikan wanita itu hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya.

Hmm...Tergantung apa yang kauinginkan. Dia pun mundur dan menegakkan postur tubuhnya, agak merasa terhina karena Kuroro bisa tahan akan pesonanya.

"Kami sedang mencari benda tertentu. Mata Merah; walaupun aku tidak tahu apa sebutannya di sini."

Harta karun? Jorou-gumo berkata, merasa tertarik.

"Semacam itulah," Kuroro mengangguk. Sekilas dia mencuri pandang ke arah Kurapika, yang menyimak percakapan mereka sejak awal. Kuroro mengerti bahwa Mata Merah bukanlah sekedar harta karun; tapi berarti segalanya bagi gadis itu.

Aku mengerti...Jorou-gumo bersenandung sambil mengetuk dagunya lembut dengan jemari yang berbentuk seperti laba-laba. Benda seperti itu hanya mungkin disimpan di kastil.

"Jadi apa yang bisa kaulakukan?" Kuroro menantangnya, melipat kedua tangannya di depan dada.

Pertama-tama, bagaimana kau menyusun rencana untuk mendapatkan benda itu, Nak? Jorou-gumo balik bertanya.

"Siapa yang tahu? Kami akan mencari informasi dari kota," Kuroro mulai melangkah tegap.

Dalam diam, Kurapika mengikutinya, tapi dia terus melirik ke balik bahunya, kepada Si Wanita Laba-laba, yang terus menatap mereka berdua dengan tatapan waspada bahkan saat keduanya berjalan menuruni bukit menuju ke kota yang sibuk. Semua mengenai dirinya terasa mencurigakan, dan menakutkan bagi Kurapika. Dia tidak menyukai wanita itu, sedikitpun.

Dari jarak sejauh itu, bahkan mata Kurapika gagal menangkap adanya seringai jahat di wajah bakemono itu dan sikap tubuh di mana dia menjilat bibir tipisnya yang begitu merah, seolah merasa kelaparan.


Secara mengejutkan, ternyata mudah mendapatkan informasi di kota yang bising itu. Yang mereka lakukan hanya masuk ke dalam sebuah restoran, sekilas menanyai pelayannya (yang berhasil dilakukan dengan menakjubkan berkat pesona Kuroro yang tak tertahankan) mengenai kabar apapun tentang peredaran benda-benda tertentu di kota itu, dan voila! Informasinya sangat melimpah bagai banjir dari bendungan yang hancur.

Sepertinya, Mata Merah menjadi topik hangat di kota yang hidup itu dalam beberapa bulan terakhir. Tampaknya bangsawan pemilik kastil tersebut mempunyai mata itu, dan sejak itulah ia menjadi cukup beruntung dalam berbagai kesepakatan di bidang bisnis dan politik. Maka benda aneh itu dinyatakan oleh Si Bangsawan sebagai jimat keberuntungan miliknya seorang.

"Dengan kata lain...," Kuroro berkata dengan suara pelan sambil mengambil sepotong makanan menggunakan sumpit, "Mustahil mendapatkannya melalui negosiasi. Tak ada cara yang bisa membuat bangsawan itu akan melepaskan benda yang bernilai tinggi seperti Mata Merah."

Kurapika hanya duduk di hadapan Kuroro dan menatap makanannya. Dia belum menyentuhnya sama sekali dan hanya menatapnya dengan tatapan muram. Kuroro memilih untuk membiarkan gadis itu bertindak sesuai keinginannya; dia akan bicara ketika dia ingin bicara. Itu suatu tradisi dan kebiasaan yang terbentuk di antara mereka berdua.

"Mata Merah...," Kurapika mulai bicara dengan suara serak yang hampir tedengar seperti bisikan, "Tidak seharusnya menjadi jimat keberuntungan milik siapapun..."

Dan akhirnya dia kembali terdiam dalam jangka waktu yang lama. Kesedihan yang muram dan teramat sangat kelam terlihat di sekelilingnya, dan Kuroro pikir mungkin gadis itu bisa hancur setelah beberapa lama, putus asa karena beban yang ia pikul seorang diri.

"Kupastikan tidak akan jadi seperti itu," akhirnya Kuroro berkata dengan sungguh-sungguh. "Dan itulah kenapa kita akan mengambilnya kembali."

Kurapika melirik ke atas, ke arah Kuroro, dari balik bayangan poninya. Apa Kuroro mencoba membuat suasana hatinya menjadi lebih baik? Pria itu masih menikmati makanannya, seolah komentar yang ia ucapkan selewat tadi hanya sisa-sisa renungannya saja.

"Habiskan makananmu. Kau tak bisa berkelahi dengan perut kosong," ucap Kuroro sambil menunjuk makanan Kurapika yang belum disentuh, dengan sumpitnya.

Kurapika menatap makanannya yang sudah dingin. Tiba-tiba, rasa laparnya yang terlupakan balas menyerang dan dia bisa mendengar suara pelan gemuruh dari perutnya yang sudah protes. Dengan wajah merona karena malu, Kurapika mengambil sumpit dan mulai menyantap porsi makannya pelan-pelan.

Semua hal di antara Kuroro dan Kurapika entah kenapa menjadi tentram, dan Kurapika mulai menikmatinya.

Mereka menyewa sebuah kamar di penginapan sederhana, dan yang membuat Kurapika putus asa dan jengkel, para pelayan di sana tertawa saat mendengar dan melihat mereka berdua menginap di kamar yang sama. Seharusnya itu tak usah dibesar-besarkan, bukan?

"Itu tak bisa dihindari," Kuroro berkata sambil tertawa pelan ketika melihat wajah Kurapika merengut, berubah menjadi sangat cemberut.

Kurapika memelototinya tajam. "Sepertinya kau menikmatinya," ia menuduh.

"Mm-hmm…Mungkin," gumam Kuroro lembut dan dengan sebuah seringai terlihat di wajahnya yang tampan.

Tuhan, beri aku kekuatan. Kurapika memijit batang hidungnya, ia merasa sangat kesal. Pria ini benar-benar membuatku jengkel, dan dia bersenang-senang di atas penderitaanku.

Dan kemudian mereka tidur di kasur lipat terpisah tanpa saling mengucapkan 'selamat tidur.'

Kuroro baru saja tertidur sebentar ketika dia mendengar suara gemerisik yang mengganggu berasal dari kasur lipat di sebelahnya. Dia pikir Kurapika mengalami mimpi buruknya yang lain lagi; yang memang mulai menjadi seperti kebiasaan yang kadangkala terjadi. Di awal perjalanan mereka, kadang cukup sering hingga Kuroro mengira sepertinya dia tak bisa lagi tidur tanpa terganggu selama Kurapika bersamanya. Di waktu setelah itu, mimpi buruk lebih jarang datang dan kengerian yang dirasakan gadis itu pun berkurang. Pada satu waktu Kuroro hanya mendapati Kurapika memeluk kedua lututnya dalam diam dan kadang melihat bahunya yang terlihat lemah gemetar walau tidak begitu kentara.

Kuroro memutuskan untuk meninggalkannya sendirian, karena Kurapika cenderung menyingkirkannya dengan kejam ketika dia mendesak menanyai gadis itu tentang mimpi buruknya. Kuroro tak ingin lagi menjadi korban dari caci maki yang dilontarkan Kurapika. Tapi suara gemerisik itu tak pernah hilang dan malah semakin jelas terdengar, lebih berisik dan tidak beraturan.

"Kuroro?"

Dalam sekejap pria itu membuka matanya. Dia tahu pendengarannya masih sempurna, tapi dia ragu saat mengira suara Kurapika hampir terdengar seperti memohon. Gadis itu tak pernah memohon padanya. Curiga, Kuroro membalikkan badannya untuk melihat apa yang membuat Kurapika begitu gugup, dan setelah ia melihatnya, ia mendapati dirinya menyaksikan pemandangan yang aneh.

Kurapika tengah berdiri di atas kasur lipatnya, yukata tidurnya merengkuh tubuhnya yang kurus dengan longgar. Yang membuat Kuroro tercengang adalah laba-laba kecil dalam jumlah yang tak masuk akal banyaknya mengelilingi kasur lipat Kurapika. Anehnya, kasurnya sendiri sama sekali tak diganggu. Dia menatap Kurapika, dan ketika tatapan mereka bertemu, Kuroro melihat tepat ke Mata Merah-nya yang menakjubkan. Kuroro mengambil kesempatan ini untuk mengagumi keindahan mata gadis itu; yang tak pernah membuatnya bosan. Dia yakin, wajah pucat Kurapika dan rambutnya yang keemasan melengkapi keindahan matanya yang tak ternilai harganya.

"Lakukan sesuatu!" Desis Kurapika.

Rupanya, seperti yang segera disadari Kuroro, gadis itu menahan dorongan untuk menjadikan seluruh kamar di mana mereka berada menjadi hancur lebur. Kurapika tidak takut pada laba-laba itu; dia hanya bertarung dengan iblis yang berada di dalam dirinya sendiri; rasa marah dan haus darah yang timbul setiap kali dia melihat laba-laba. Kali ini, oh astaga, dia sedang menatap ribuan laba-laba.

Kuroro sendiri tidak begitu yakin, apa yang harus dia lakukan pada situasi seperti itu. Jika dia bergerak tiba-tiba, serangga itu mungkin melompat kepada Kurapika dan membuatnya gila. Dengan sangat perlahan dan pelan, Kuroro beranjak duduk dan mengeluarkan Buku Skill Hunter-nya. Dia membolak-balik halamannya hingga menemukan halaman yang ia inginkan, dan dia menatap laba-laba itu dengan sedikit ragu.

Aku belum pernah mencobanya, tapi tak ada salahnya mencoba, pikir Kuroro.

Lalu dengan sangat cepat, dia menggunakan Teleportasi kepada laba-laba itu. Dia berusaha membuang sebagian besar laba-laba itu jauh-jauh, tapi cukup banyak juga yang tertinggal. Laba-laba bergegas menghampiri Kurapika, tapi gadis itu segera mengeluarkan Dowsing Chain dan menghancurkan serangga-serangga kecil itu menjadi tak berbentuk lagi. Sialnya, dia tak melihat seekor laba-laba berukuran besar merayap di belakangnya. Kuroro melihatnya dan baru saja akan memperingatkan Kurapika ketika laba-laba itu tiba-tiba melompat ke punggungnya. Kuroro membelalakkan matanya ngeri.

Kurapika menjerit dengan sangat kencang; jeritan yang bisa membangkitkan jiwa orang mati di seluruh pemakaman.

"Di mana, di mana?!" pekik Kurapika sambil melompat ketakutan, berusaha melepaskan laba-laba yang merayapi sekujur tubuhnya. "Ambil makhluk itu, ambil!"

"Kurapika, tenang!" Kuroro segera berdiri dan berusaha memeganginya tapi gadis itu menepiskan tangannya.

"Ambil makhluk itu dariku!" Dia menjerit lagi, "AAAAAAH!"

Gerakan Kurapika menjadi lebih hebat saat laba-laba itu merayap di punggungnya, di balik yukata tidur yang ia kenakan. Berharap bisa mencegah Kurapika menghancurkan seluruh kamar dalam usahanya melepaskan makhluk itu dari tubuhnya, Kuroro menangkap dan mengunci pinggang gadis itu dengan tangan kiri sementara tangan kanannya menekankan kepala Kurapika ke lekukan lehernya.

"Diam," perintah Kuroro tegas. "Aku akan mengambil laba-laba itu."

Kurapika segera diam tak bergerak seperti tongkat dan merintih dengan menyedihkan dalam pelukan Kuroro. Dia mencengkeram yukata pria itu sambil berpegangan ke punggungnya. Kurapika membenamkan wajahnya ke dalam lekukan leher Kuroro, berusaha meredam ketakutannya. Dengan hari-hati, Kuroro mulai menurunkan yukata dari bahu Kurapika, berusaha tidak mengganggu laba-laba yang menempel di punggungnya. Dia langsung melihat makhluk itu karena warnanya begitu kontras dengan kulit Kurapika yang seputih susu.

Dengan hati-hati tangan kanan Kuroro mendekati laba-laba itu dengan menelusuri punggung Kurapika yang halus, bergerak turun mulai dari bahunya. Gadis itu sendiri terlalu sibuk memikirkan ada seekor laba-laba mengusik punggungnya hingga tak menyadari tangan Kuroro yang membelai punggungnya itu dengan sengaja.

Segera setelah laba-laba itu berada dalam jangkauan tangannya, Kuroro menangkap dan meremasnya hingga seluruh cairan makhluk itu memenuhi tangannya, segera mengakhiri hidupnya yang menyedihkan. Kuroro merasakan Kurapika menjadi lemas dalam pelukannya karena lega, akhirnya laba-laba itu lenyap dari punggungnya. Hanya kemudian Kuroro menyadari kondisi Kurapika yang kini seperempat telanjang karena setengah dari bagian tubuh atasnya terbuka.

Tunggu, belum selesai, tiba-tiba pria itu memberitahu dirinya sendiri ketika dia teringat satu hal. Kuroro mulai menelusuri punggung Kurapika dengan jemari di tangan kirinya sambil berusaha menemukan bekas gigitan yang mungkin ada di sana. Namun, Kurapika gemetar saat Kuroro melakukannya dengan sangat lembut hingga dia merasa harus mendorong pria itu agar menjauh dan menampar wajahnya.

PLAK!

"Pelecehan seksual!" Kurapika menjerit.

"Jangan salah sangka!" Kuroro mengusap pipinya yang teraniaya sambil protes, "Aku berusaha mencari tahu apakah kau digigit atau tidak!"

"Tidak!" Jawab gadis itu, namun wajahnya sudah memerah karena malu, seperti lampu neon.

"Kau tak pernah tahu. Kau terlalu berkonsentrasi menangkap ini," Kuroro menunjukkan entah-apa-yang-tersisa dari laba-laba itu di tangan kanannya, "Dari punggungmu, hingga kau tidak memperhatikan hal lainnya."

"Apa yang terjadi?" Pintu kamar mereka sudah padat dengan kerumunan para tamu dari kamar yang berdekatan dengan kamar mereka dan para pelayan penginapan.

"Laba-laba," dengan kesal Kuroro melemparkan bangkai laba-laba kepada mereka.

Para tamu dan pelayan itu memekik menyaksikan sisa-sisa laba-laba yang menjijikkan dan melesat pergi. Kuroro menghela napas; tiba-tiba ia merasa begitu lelah. Dia melangkah ke jendela dengan pemandangan taman yang bisa dilihat dari sana dan membuang bangkai laba-laba begitu saja ke luar jendela. Kuroro mengelap bersih tangannya dengan kertas tissue yang tersedia di kamar itu.

"Ayo, sini kuperiksa," katanya lembut ketika ia berbalik dan kembali menghadap Kurapika.

"Kenapa kau peduli?"

Kuroro memutar kedua bola matanya, dan bukannya menjawab pertanyaan sinis gadis itu, dia menarik bahu Kurapika...membalikkan badannya hingga punggung Si Pirang menghadap ke arahnya. Dengan cepat Kuroro mulai memeriksa keseluruhan punggung Kurapika menggunakan matanya dan menelusuri punggung itu dengan jemarinya yang kekar.

"H-hei!" Kurapika mulai protes, wajahnya mulai betul-betul merona. Dia harus menahan rasa gemetar yang begitu menyesakkan saat jemari Kuroro yang dingin menyentuh kulitnya yang berkilau.

"Nihil," ucap Kuroro tajam. "Berikutnya."

Dia menegakkan tubuhnya dan menggunakan Gyo pada Kurapika. Memandangi gadis itu dari dekat mulai dari kepala sampai kaki. Ketika melihat tak ada yang aneh, barulah Kuroro bisa sedikit rileks.

"Sekarang gunakan Gyo-mu padaku dan lihatlah apa ada yang aneh," katanya tajam.

Kurapika dapat merasakan aura memerintah dalam kata-katanya, dan dia memutuskan untuk tidak menentangnya kali ini. Jika Kuroro sampai seserius itu, pasti ada suatu hal yang penting. Dengan patuh Kurapika menatapnya dari dekat dengan menggunakan Gyo, tapi setelah dia membetulkan yukata tidurnya; dengan rona kemerahan masih terlihat di wajahnya, ke posisi bagaimana seharusnya yukata itu dipakai. Ternyata benar, dia mendapati seuntai benang halus menempel di bahu Kuroro.

"Benang?" Gumam Kurapika sambil mengambil benang itu dengan hati-hati.

"Jaring laba-laba," ucap Kuroro datar sambil memeriksa benang itu dengan Gyo. "Ini perbuatan Jorou-gumo."

"Tapi kenapa?"

"Tipuan sederhana, ini ciri yang banyak dimiliki roh atau jelmaannya," jelas Kuroro sambil mengibaskan benang itu dan segera lenyap. "Mereka biasanya mengalihkan perhatian mangsanya dan menyematkan jaring sejenis itu pada mereka, yang pastinya akan menjebak mangsanya atau mengendalikannya."

Kurapika menatapnya penuh arti.

"Ajaran Anansi?" Dia bertanya dengan suara terkendali.

Kuroro memberi gadis itu seulas senyum nakal.

"Setidaknya," katanya dengan suara pelan, "Jorou-gumo berhutang penjelasan pada kita."


Aku ingin tahu, jawab Jorou-gumo pada Kuroro dan Kurapika ketika mereka datang keesokan harinya untuk menginterogasi wanita itu, di bukit yang sama di mana terakhir kali mereka meninggalkannya. Aku ingin melihat bagaimana ia bereaksi pada laba-laba sebanyak itu. Reaksimu pasti membosankan Nak, karena kau menghabiskan waktu yang tidak sebentar bersama Anansi-sama, pastinya kau sudah sangat terbiasa melihat laba-laba sedemikian banyaknya.

Di balik keangkuhannya, Jorou-gumo diharuskan menghormati Anansi hingga tingkat tertentu, karena Anansi, sebenarnya, memiliki kedudukan yang lebih tinggi darinya.

Kuroro tahu wanita itu tidak berkata jujur sepenuhnya, tapi dia tak berkomentar apapun. Dia juga sudah memperingatkan Kurapika untuk tidak mengatakan apa-apa tentang benang itu, bermaksud berpura-pura tidak tahu agar bisa menangkap basah Jorou-gumo.

Dan bagaimana tentang benda yang kaucari?

"Ada di kastil," jawab Kuroro sambil mengisyaratkan ke arah kastil yang berlokasi di jantung kota.

Kalau begitu, bagaimana caramu mendapatkannya? Pastinya bukan untuk dipamerkan kepada publik 'kan? Jorou-gumo mengejek sambil memperlihatkan seringainya.

"Mendobrak masuk dan mencurinya. Metode yang cukup langsung pada sasaran," Kuroro mengangkat bahunya, tak peduli.

Kurapika merasa seperti merendahkan dirinya, saat memikirkan ia menurunkan martabatnya pada seorang pencuri, tapi dia memutuskan untuk menguatkan hatinya dengan tujuan memenuhi sumpah. Seperti yang dikatakan Suzaku; hasil menunjukkan kebenaran di dalamnya.

Setidaknya, Jorou-gumo berkata sambil menghampiri Kuroro dan menyentuh bahu pria itu. Dia bersandar di sana dengan cara yang menggoda dan membisiki Kuroro dengan suaranya yang sensual. Aku bisa menolongmu melalui kesepakatan yang sangat bagus, asalkan kau bisa mengeluarkan serangga-serangga itu dari pengamanan kastil.

"Maksudmu para pengawal? Pasti kau bisa menangani mereka dengan mudah di mana pun tempatnya, karena kau menganggap daerah ini sebagai daerah kekuasaanmu," Kuroro berkata dengan seulas senyum masam diarahkan kepada wanita itu, sambil lagi-lagi dia terlihat tak terpengaruh akan usaha Si Wanita Laba-laba untuk membuatnya terpesona.

Wajah Jorou-gumo menggelap sambil benar-benar cemberut.

Seharusnya aku sudah menjadikan mereka santapanku sejak dulu, jika bukan karena kertas terkutuk, kotor dan memperdayaiku itu! Desisnya marah.

"O-fuda?" Kurapika menyela, "Mereka mempekerjakan biksu dan 'pembasmi setan' sebagai penjaga tempat itu?"

Mereka, dan orang-orang seperti 'dirimu'. Seluruh kastil dimiliki o-fuda itu, aku tak bisa masuk selangkahpun ke dalam kastil yang tertutup itu. Dia mengucapkan kata-kata itu dengan penuh dendam sambil menatap kastil dengan mata berkobar amarah dan kebencian.

Ketika Si Wanita Laba-laba mengatakan 'orang-orang seperti kalian', Kuroro dan Kurapika mengerti yang dimaksud olehnya adalah Pengguna Nen. Tanpa saling memberitahu secara verbal, keduanya memiliki pemikiran yang sama; mereka akan menghadapi sejumlah orang yang merepotkan.

Setidaknya, Putra Anansi, Jorou-gumo menoleh pada Kuroro sekali lagi, kebencian yang begitu hebat di matanya berubah menjadi cahaya dingin penuh penilaian. Jika kau menginginkan pertolonganku, antarkan mereka yang memburu kalian ke air terjun di dalam hutan. Aku akan melenyapkan mereka untukmu.

"Sepertinya ini tidak gratis?" Kuroro bergeser, menyokong berat badannya pada satu kaki.

Itu tak perlu dikatakan lagi, aku memang tidak melakukan suatu pekerjaan secara cuma-cuma, jelmaan laba-laba jahat itu berkata sambil menyeringai dan Kurapika menangkap kilatan kelaparan di mata yang terlihat seolah berasal dari dunia lain itu. Tapi aku akan mendapatkan hadiahku di akhir hari.

Kuroro memicingkan matanya curiga. "...Aku mengerti," ucapnya setelah terdiam sejenak.

Jadi kita sepakat? Tanya Jorou-gumo dengan bersemangat dalam suaranya yang mengerikan.

"Sepakat."


Kurapika menghela napas berat menatap menara kastil di hadapannya. Dia akan melakukan perampokan yang lainnya lagi, tapi tak peduli betapa dia begitu membenci pekerjaannya, dia cukup sadar bahwa dirinya hanya memiliki sedikit pilihan mengenai hal itu. Tak ada yang cara yang ditempuh, maka tak ada apapun yang bisa didapatkan; seperti kata sebuah pepatah lama.

"Siap?" Kuroro yang berada di sampingnya bertanya.

Kurapika menghela napas lagi dan merubah warna matanya menjadi merah. "Kurasa begitu."

"Ayo kita pergi."

Kedua sosok pemberani itu bergegas menuju ke gerbang depan kastil. Para penjaga menghentikan mereka sambil mengacungkan katananya. Kemudian, Kurapika memejamkan matanya seolah buta sementara Kuroro menuntun tangannya.

"Berhenti! Sebutkan nama dan apa kepentingan kalian!" Kata salah seorang penjaga dengan suara lantang.

"Aku datang hanya untuk menunjukkan sesuatu yang pastinya akan membuat bangsawan pemilik kastil ini tertarik," Kuroro berkata dengan suara yang terlatih sempurna dan lembut.

"Kalau begitu tunjukkan dulu," mereka bersikeras.

"Baiklah kalau kau memaksa," ucap Kuroro sambil tersenyum tipis dan berbalik pada Kurapika. "Buka matamu."

Dengan patuh, seolah Kurapika adalah pelayan dan Kuroro adalah majikannya, Kurapika membuka kelopak matanya dan menatap para penjaga itu dengan matanya yang merah membara. Para penjaga tercengang, mereka saling bertukar pandang sebelum menyampaikan pesan kepada tuannya.

Segera saja, Kuroro dan Kurapika mendapati diri mereka berada di dalam ruang tertutup kastil raksasa itu. Mereka diantar ke salah satu menara kastil. Kuroro melihat sekitarnya dan mendapati sejumlah o-fuda berada di setiap sudut kastil. Dia juga melihat biksu dan pembasmi setan, juga beberapa orang Pengguna Nen yang sedang berdiri berjaga-jaga di setiap tempat. Sepertinya Jorou-gumo tidak bercanda waktu dia berkata bahwa keamanan di kastil itu ketat.

Mereka diantar ke ruang kerja Si Bangsawan untuk bertemu secara pribadi. Bangsawan itu, seorang pria setengah baya dengan kumis hitam di wajahnya, sedang duduk di tempat yang paling jauh di dalam kantor mewah itu, dengan dua orang pengawal yang juga adalah Pengguna Nen, ada di sampingnya. Di dalam kantor itu ada sekumpulan Pengguna Nen, biksu dan pengusir setan, menjaga semua pintu keluar dan jendela. Kuroro memperhatikan, kondisi itu seperti apa yang sudah ia duga sebelumnya.

"Para pengawalku bilang kau punya hal menarik untuk diperlihatkan kepadaku?" Tanya bangsawan itu sambil terus menatap Kuroro dalam-dalam. Matanya seperti elang, tapi Kuroro membalasnya dengan senyuman yang sopan dan berani.

"Benar, Tuanku yang terhormat," dia membungkuk seperti apa yang biasa dilakukan orang-orang di sana.

Tanpa diberitahu, sekali lagi Kurapika membuka matanya...perlahan tapi pasti, dan mengarahkan tatapannya yang tajam pada bangsawan pemilik kastil itu. Si Bangsawan terkesiap senang dan terkejut menyaksikan bola matanya yang membara. Si Bangsawan memandanginya dengan keterkejutan yang begitu jelas. Bahkan pemandangan ini menuai bisikan kagum dari para pengawal yang berkesempatan melihatnya sekilas.

"Apa yang kauinginkan sebagai gantinya?" Si Bangsawan bertanya dengan tatapan yang masih tertuju pada Kurapika.

"Pertama, bolehkah aku memeriksa sepasang Mata Merah yang kaumiliki?" Kuroro bertanya dengan kepala yang masih menunduk.

Tanpa ragu, Si Bangsawan memerintahkan seorang pemuda, budaknya, untuk membawakan Mata Merah dari tempat penyimpanan. Pemuda itu bergegas pergi dan kembali dengan membawa Mata Merah di tangannya yang kecil. Tatapan Kurapika bergerak ke mata itu, namun ia menahan emosinya dengan pengendalian yang sempurna, mempertahankan topeng ketidakpedulian yang membosankan dan tanpa ekspresi.

Kuroro menerima benda itu dan menegaskan keasliannya. Bibirnya membentuk sebuah senyuman, dan saat melihatnya, Kurapika tahu itu aba-aba untuknya. Dia mengambil Mata Merah itu, menyelipkannya dengan aman ke lengan kiri, sementara tangan kanannya memegangi tangan kiri Kuroro. Si Bangsawan menaikkan sebelah alis matanya melihat sikap aneh mereka.

"Bagaimana?" Tanyanya tak sabar. Dalam pikirannya, ia mengira jika hanya Mata Merah saja bisa memberikan keberuntungan padanya, bayangkan keberuntungan seperti apa yang akan membanjiri dirinya jika dia memiliki seorang gadis yang masih hidup dengan Mata Merah yang juga masih hidup. Pemikiran itu membuatnya teralihkan dari segala akal sehat yang ia miliki.

"Baiklah kalau begitu, kami permisi."

Kuroro mengeluarkan Buku Skill Hunter-nya dan membuka halaman Teleportasi. Sebelum para pengawal sempat bereaksi, mereka sudah menghilang. Langsung saja, kastil pun tenggelam dalam kekacauan yang tak terhingga ketika para pengawal memeriksa kastil untuk menemukan pencuri kurang ajar yang baru saja merampok majikan mereka, namun keduanya tak bisa ditemukan di mana pun.

"Ke kota! Cari ke kota!" Suara-suara galak terdengar dari jalanan Kota Saikyo yang sibuk.

"Mereka datang," Kuroro berkata dengan suara yang tenang.

Kurapika memasukkan Mata Merah ke dalam ransel dan mengikatnya dengan kencang. Kuroro sendiri sudah membawa ranselnya dan siap bergerak kapan saja. Mereka langsung berteleportasi ke kamar yang mereka sewa di penginapan. Cepat-cepat, Kurapika mengemasi semua barangnya dan begitu dia sudah siap, dia menatap Kuroro dengan penuh kepastian.

"Ayo pindah."


"Kau menyerahkan pekerjaan kotor padaku, ya?" ucap Kuroro santai sambil mengirimkan seorang pria lagi menuju kematiannya.

Kurapika merengut menyaksikan pemandangan itu. "Aku bersumpah untuk hanya membunuh Laba-laba," ucapnya datar sambil memukul penjaga lain hingga pingsan menggunakan Counterattack Chain miliknya.

"Hmm..." Kuroro bergumam sambil menyenandungkannya. "Tapi kau pernah membunuh seorang pria sebelumnya, benar 'kan? Hari itu waktu kau kembali ke identitasmu sebagai seorang gadis."

Bayangan pria yang dibunuhnya segera berkelebat dalam benak Kurapika. Di tengah kepanikannya waktu itu, secara tak sengaja ia menghancurkan tengkorak pria tersebut. Kurapika meringis mengingat kenangannya yang tidak menyenangkan.

"Aku tak bermaksud melakukannya," dia membela diri.

"Ya, tentu," Kuroro berkata, mengejek gadis itu.

Mereka sudah dalam perjalanan menuju ke hutan di mana Jorou-gumo tinggal. Dugaan mereka benar, para Pengguna Nen sedang berusaha keras mengejar mereka. Salah seorang Pengguna Nen yang kemampuannya lebih baik dibandingkan rekan-rekannya berusaha menyusul dan mengalahkan mereka tapi sayangnya malah disingkirkan oleh Kuroro. Sedangkan yang beruntung mungkin hanya mendapatkan gegar otak ringan atau beberapa luka sayatan yang dalam karena serangan Kurapika yang masih mau bermurah hati.

"Berhenti kalian, Penyihir pencuri!" Seru para pengejar itu.

"Yang benar saja. Memangnya kita akan berhenti," Kurapika memutar kedua bola matanya.

Segera saja, air terjun sudah ada di hadapan mereka dan keduanya tanpa gentar menuju ke sana. Ketika mereka sudah sangat dekat dengan air terjun itu, Kuroro memicingkan matanya dan saat menyadari sesuatu yang penting, dia mendekati Kurapika dan mengulurkan tangan kirinya.

"Kemarikan tanganmu."

Tanpa berpikir lagi, sesuatu yang nantinya akan membuat Kurapika memarahi dirinya sendiri karena menunjukkan kepercayaannya pada pria itu, Kurapika meraih tangan Kuroro. Saat mereka hampir melompat ke air terjun, Kuroro menggunakan Teleportasi. Orang-orang yang mengejar mereka berhenti mendadak di dekat air terjun. Dengan napas yang masih tersengal-sengal akibat aktivitas mereka sebelumnya yang menguras tenaga, orang-orang itu mencoba menyisir daerah di dekat air terjun mencari tanda-tanda keberadaan kedua pemberani itu.

Dahan pohon di dekat air terjun sedikit bergoyang ketika dua manusia tiba-tiba mendarat di salah satu dahannya yang tinggi. Keduanya segera beralih ke kondisi Zetsu. Diam-diam Kuroro bergerak dengan cepat hingga bisa mengintip apa yang terjadi di bawah sana. Kurapika menatapnya bingung.

"Ada apa?" Kurapika bertanya dengan suara berbisik.

"Lihatlah," Kuroro mengisyaratkan padanya untuk mendekat dan ikut melihat. "Dan gunakan Gyo-mu."

Di bawah sana, di dekat air terjun, di mana orang-orang yang sedang mencari mereka berada, helaian benang halus tampak terpasang ke orang-orang itu; baik ke kaki, lengan, leher maupun kepala mereka. Kurapika mengernyit melihatnya. Tiba-tiba, dia merasakan firasat yang sangat buruk.

Benar saja, bagai besi yang tertarik oleh magnet yang kuat, orang-orang itu terseret arus air di bawah air terjun. Mereka hanya bisa menjerit terkejut, dan setelah berada di bawah permukaan air, suara air dan gemuruh air terjun meredam semua teriakan dan jeritan itu. Sesaat kemudian, sosok-sosok tubuh itu mengapung di permukaan dan terbawa arus.

Dengan mata Kuroro dan Kurapika yang tajam, keduanya bisa melihat semua mayat itu bukanlah mayat biasa. Terlihat seakan-akan sari kehidupan mereka dihisap sampai habis, membuatnya layu seperti dedaunan kering. Kurapika meringis merasakan sensasi tak nyaman di perutnya. Dia harus memegangi cabang pohon untuk mempertahankan pijakannya.

"Apa..." Dia mulai bicara dengan suara yang lemah. "Apa itu...?"

"Jorou-gumo," jawab Kuroro datar, walau ada kilatan tak senang di bola matanya yang hitam. "Dia mengeringkan sari kehidupan mereka, dan bermaksud melakukannya juga pada kita."

"Tapi...di mana dia?" Kurapika melihat ke sekitar air terjun dari dahan pohon itu, tapi wanita laba-laba yang kejam itu tak terlihat di mana pun.

"Ayo pergi. Kita tak punya urusan lagi di sini," ucap Kuroro.

Merasa ada arti tertentu di balik kata-katanya, Kurapika hanya mengangguk dan mengikuti pria itu melompat turun dari dahan. Namun segera setelah kaki Kurapika menapak tanah, kesadaran yang mengerikan muncul di benaknya.

"Kastilnya," ia bergumam pelan, matanya membelalak ngeri.

"Kurapika," Kuroro menoleh dan menatapnya galak, seperti orangtua yang memperingatkan anaknya. "Kita benar-benar tak ada hubungannya dengan hal ini."

"Kotanya!"

Seakan tidak mendengar Kuroro, Kurapika segera berlari menuju kota. Kuroro menggelengkan kepalanya kesal dan mengejar gadis itu. Dia tak akan melindunginya dari semua kenyataan mengerikan yang akan segera dia temui.

Begitu mencapai batas kota, orang-orang sudah berlarian menyelamatkan diri. Kastilnya, yang sebelumnya berdiri kokoh dan megah, kini diselubungi lapisan tebal jaring laba-laba yang berwarna keperakan. Kurapika tercekat melihatnya dan tanpa mengatakan apapun pada Kuroro, berlari menuju ke kastil secepat mungkin. Tapi terhenti oleh kekuatan tak terlihat dan tak bisa bergerak lebih jauh lagi. Ketika berbalik, dia melihat Kuroro menapakkan kakinya kuat-kuat ke tanah, tidak membiarkan gadis itu melangkah lebih jauh.

Aku tak pernah mengira belenggu gaib bisa berguna di situasi seperti ini, pikirnya pahit.

"Pergi ke sana merupakan tindakan yang keliru, Kurapika," Kuroro memperingatkan.

"Aku tak bisa hanya berdiri dan tak melakukan apapun! Bukan hanya kastil; seluruh kota berada dalam bahaya!" Jawab Kurapika, wajahnya sudah memerah karena marah.

Kuroro menanggapinya dengan dingin; sesuatu yang sangat jarang ia lakukan pada Kurapika.

"Apapun yang kautemukan di dalam sana, kau tak bisa menyalahkan siapapun," ucapnya dengan suara dingin seperti es. "Kau hanya bisa menyalahkan dirimu sendiri."

Saat itu Kurapika tidak tahu apa yang dimaksud Kuroro tapi dia tak memikirkannya lagi. Baginya, ada banyak nyawa yang berada dalam bahaya dan dia merasa terdorong untuk menolong mereka. Gadis itu mengabaikan pernyataan Kuroro yang tak masuk akal; tapi nanti akan menjadi sesuatu yang disesalinya. Seharusnya dia mendengarkan pria itu.

"Terserah!" Bentak Kurapika tak sabar.

"Itu pilihanmu," Kuroro berkata lagi, sebelum akhirnya bergerak dan mengikuti Kurapika menuju ke kastil.


"Oh. Tuhanku." Kurapika harus menutupi mulutnya dengan tangan guna mengurangi rasa mual yang merasuki tubuhnya. Sementara itu, Kuroro, berdiri tegak dan terkendali di samping Kurapika dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku. Dia melihat sekitarnya dengan sedikit rasa jijik terlihat di matanya yang gelap.

Ada mayat di mana-mana, dan tidak terlihat bagus sama sekali. Beberapa mayat terbungkus buntalan tebal dan kencang dari jaring laba-laba, membuatnya terlihat seperti kepompong ulat sutra. Bagian yang paling mengerikan dari pemandangan itu adalah mayat yang sudah terpotong-potong menjadi onggokan daging yang sudah tak bisa dikenali lagi, atau mayat dengan luka sobekan terbuka di perutnya dan isi perut itu berserakan di mana-mana dengan sangat menjijikkan.

"Oh Tuhan...," Kurapika berbisik sambil melihat salah satu mayat itu. "Bisa-bisanya dia..."

"Dia adalah bakemono; roh iblis. Apa yang kauharapkan?" Ucap Kuroro datar, nada suaranya terdengar seperti mengejek.

Kurapika sudah membuka mulutnya hendak mencaci-maki Kuroro, tapi dia berhenti saat mendengar suara decak bibir yang menjijikkan dan suara seperti sedang mengunyah berasal dari lantai atas. Mengabaikan Kuroro dan menguatkan diri untuk menyaksikan peristiwa mengerikan lainnya, Kurapika bergegas ke lantai atas.

Di sanalah, di hadapan Kurapika, Jorou-gumo sedang membengkokkan sesuatu. Kimono hitamnya yang terbuat dari sutra sudah lepek karena darah kental dan isi perut manusia, rambutnya yang hitam pekat hampir seluruhnya berubah warna menjadi merah tua. Dia tidak memikirkan apakah perilakunya terpuji atau hina dan malah memusatkan perhatiannya pada yang sedang dia lakukan sekarang. Wajah Kurapika menjadi pucat pasi begitu dia melihat lebih jelas apa yang dilakukan jelmaan laba-laba itu.

Jorou-gumo sedang menghisap usus bangsawan pemilik kastil itu; yang terbaring terlentang dengan tulang iga yang dibuka paksa dan isi perutnya bisa terlihat jelas oleh siapapun juga. Matanya menonjol keluar dengan sangat mengerikan dan mulutnya menganga tapi tak ada sedikitpun suara yang terdengar dari sana. Ketika Jorou-gumo akhirnya menyadari keberadaan Kurapika, dia menjatuhkan usus itu dan menoleh perlahan untuk melihatnya. Dia menyeringai lebar pada gadis itu dengan mulut belepotan noda darah berwarna merah tua yang gelap. Kurapika menahan napas saat Jorou-gumo menatapnya dengan rasa lapar mendominasi matanya yang bersegi-segi.

Gadis kecillll...Dia berdesis dan tertawa mengerikan.

Rupanya, dia lebih tertarik pada wajah Kurapika yang ketakutan daripada raut wajah Kuroro yang terkendali. Kurapika membuka mulutnya tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar. Kata-katanya tersangkut di tenggorokan saat menyaksikan penampilan Jorou-gumo yang mengerikan.

"Penampilanmu sangat tak sedap dipandang, Jorou-gumo," ujar Kuroro tenang.

Putra Anansiiiii...Bahkan dia tertawa lebih keras lagi. Lihat gadis kecil yang malang ituuu...sepertinya dia terlihat sangat terkejut...Kenapa kau terkejut, Gadis Keciilll...?

Kurapika hanya bisa mengumpulkan cukup kekuatan untuk membuka dan menutup mulutnya seperti ikan mas koki.

Kenapa kau sekaget ituuu? Kukira kau sudah tahu sejak awal bahwa inilah tujuankuuu? Seringainya semakin lebar di setiap kata yang ia desiskan.

"Se-Sejak awal?" Akhirnya Kurapika bisa mengucapkan sebuah kalimat setelah berusaha keras.

Aaah...Kau tidak tahuuu...Dia menoleh pada Kuroro. Dia tidak tahuuu...Kenapa, Putra Anansiiii?

Kurapika menatap Kuroro dengan kengerian yang sama, seolah pria itu sudah berubah wujud menjadi monster seperti halnya Jorou-gumo.

"Sejak awal, dia ingin menggunakan kita sebagai umpan untuk menarik Para Pengguna Nen itu keluar dari keamanan kastil," dia menoleh pada Kurapika dengan mata obsidiannya yang dingin. "Untuk menyantap mereka."

Kurapika tersentak keras.

"Kau tahu," bisiknya marah. "Kau sudah tau sejak awal."

"Ya," Kuroro mengangguk dengan begitu tenang.

"Kenapa kau tidak memberitahuku?!" Gadis itu hampir berteriak padanya, matanya berubah menjadi sangat merah.

"Kalau aku beritahu, kau tak akan mau bekerjasama, dan seluruh negeri akan mengejarmu."

"Jadi kau berusaha menyingkirkan semua saksi mata." Itu lebih terdengar seperti pertanyaan daripada pernyataan.

"Singkatnya, ya."

"KAU-!"

Indahnya...Suara Jorou-gumo yang membuat bulu kuduk merinding membuyarkan kemarahan Kurapika dalam sekejap. Dia menoleh melihat Si Wanita Laba-laba, yang menatapnya dengan cemburu.

Kau punya mata seindah ituuuu...Dia berdesis sambil merangkak di lantai menghampirinya. Sepasang lengan lainnya menonjol keluar dari panggul makhluk itu. Aku ingin tahu bagaimana jika aku memakanmu hidup-hidup...Sepasang lengan lainnya muncul lagi. Apakah aku akan memiliki mata indahmu ituuu? Muncul sepasang lengan lagi.

Aura jahatnya begitu intens hingga terasa seperti menghancurkan semangat bertarung Kurapika ke dalam ketiadaan. Dia dapat merasakan kedua lututnya gemetar ketakutan.

Gadis Keciiilll...Dia berdesis lagi, dan wajahnya mulai bergerak, berubah bentuk menjadi sangat buruk kelihatannya.

"Kurapika, pegangan," Kuroro berkata sambil memegangi lengan Kurapika.

"A-Aku-"

GADIS KECIILLL! Dengan lengkingan yang terdengar seolah mampu membuat darah membeku, tubuh Si Wanita Laba-laba terlihat akan meletus dan menggembung pada saat yang sama. Roh yang pernah berwujud seorang wanita menarik yang begitu cantik, sudah berubah menjadi laba-laba hitam mengerikan berukuran raksasa.

Monster laba-laba itu menerjang Kurapika, namun taringnya hanya menemukan udara. Sekali lagi Kuroro menghindarkan mereka dari bahaya melalui Teleportasi.

Putra Anansiiii...Setan laba-laba itu menjentikkan taringnya yang tajam dengan lapar dan tidak sabar. Aku akan mendapatkanmu...Dia mendorong tubuhnya yang sangat besar dan merangkak keluar dari kastil. Dan gadis kecil yang cantik itu...


Kuroro berteleportasi ke hutan. Dia tahu mereka aman dari setan laba-laba yang gila itu hanya sebentar. Dia harus melakukan sesuatu berkaitan dengan Kurapika. Dia terlihat kalah dan tak bernyawa; dia hanya mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Kuroro menyikut lengan gadis itu, tapi dia malah diberi sebuah tamparan keras di pipinya.

"Teganya kau!" Desisnya sengit, matanya masih bersinar merah.

Kuroro tak berkata apa-apa.

"Begitu banyak orang...be-begitu banyak orang yang tak berdosa..." Kurapika memejamkan matanya dan jatuh merosot ke tanah dengan tak berdaya.

Kuroro mengernyit padanya, tapi masih belum mengatakan apa-apa.

"Itulah kenapa kau tidak mau aku pergi ke kastil...Karena kau tidak ingin aku tahu...," gumamnya lemah.

"Seperti yang kukatakan padamu; kau hanya bisa menyalahkan dirimu sendiri. Jika kau pikirkan lebih jauh, kau mungkin bisa mengetahui tujuan wanita itu lebih dini," ucap pria itu dingin.

Kuroro tak pernah memperlakukan Kurapika sedingin dan secuek itu sebelumnya. Rasanya hampir seolah Kurapika patut menerimanya; karena dia terlalu lemah, karena dia terlalu berhati lembut, karena dia terlalu berpemikiran pendek. Dia memperkenankan semuanya terjadi, semua keanehan yang berlawanan dengannya itu, agar dia bisa belajar.

"Semua urusan ini bisa menunggu. Kita harus melanjutkan perjalanan," ucapnya tenang.

"Ke mana?" Gumam Kurapika.

Ya, ke mana? Pikir Kuroro pahit. Kekuatan Jorou-gumo kini berlipat ganda setelah melahap Para Pengguna Nen itu. Itulah kenapa dia berusaha menerobos pertahanan kastil Si Bangsawan. Saat ini, Kuroro dan Kurapika tak punya kesempatan untuk kabur darinya. Pada akhirnya pasti Jorou-gumo bisa melacak keberadaan mereka, kecuali jika ada mukjizat.

Semua ciptaan khayangan itu, mereka tak ada ketika sangat diperlukan begini, Kuroro mendecakkan lidahnya.

Pergilah ke Utara, sebuah suara yang dalam dan lembut tiba-tiba berbicara di benak suara seorang pria, yang dia tidak tahu siapa. Kaget, Kuroro menolehkan wajahnya ke samping untuk mencari pemilik suara itu, tapi tak ada hasilnya.

Tiba-tiba saja, sesuatu mendarat ke tanah dengan sebuah goyangan keras dan pepohonan di sekitarnya tertiup bagaikan dedaunan kering.

GADIS KECIILLL...PUTRA ANANSIIII...Jorou-gumo melengking lapar sambil menjentikkan taringnya berulangkali. KUTEMUKAN KALIAANNN...

Kuroro mendecakkan lidahnya lagi dan menarik lengan Kurapika dengan kasar. Lalu dia mulai berlari dengan begitu membabi-buta, menyeret Kurapika bersamanya.

"Kita akan pergi ke mana?" Tanya Kurapika dalam pelarian mereka yang gila. Dorongan adrenalin sepertinya telah menyembuhkan Kurapika dari keputusasaannya.

"Utara," jawabnya singkat.


"Oh kasihan...lihat apa yang mereka lakukan," Seiryuu menghela napas dengan sedih melihat kastil dan kota yang malang itu. Untunglah kota tidak mengalami kerusakan terlalu parah akibat perbuatan Jorou-gumo.

Seiryuu-sama, seharusnya kau ada di Timur; daerah kekuasaanmu. Kau semestinya membantu mereka. Menghabisi Jorou-gumo merupakan hal yang mudah bagimu, kata seorang gadis kecil yang mengenakan pakaian Shikigami berwarna putih dengan lembut.

Yahh..., Seiryuumelipat kedua tangannya di depan dada. Menyaksikan ini sangat menarik. Aku ingin tahu bagaimana mereka menangani wanita menyeramkan itu.

Kejamnya dirimu, Shikigami itu menggelengkan kepalanya sambil menghela napas berat.

Oh ayolah. Aku sudah memberi petunjuk pada pria itu untuk pergi ke tempatmu. Bukannya aku tidak membantu mereka sama sekali, oke? Jawabnya sambil cemberut seperti anak kecil.

Yang kaulakukan hanya memberitahu anak itu untuk pergi ke Utara, jawab Sang Shikigami sinis.

Aku percaya itu cukup pantas. Lagipula, aku yakin kau pasti tahu apa yang harus kaulakukan, bukan? Dia menoleh, menyeringai ke Si Bocah Shikigami. Kuzunoha-chan?

Sang Shikigami menghela napas berat sekali lagi. Kau sukar dipercaya, Seiryuu-sama.


"Shuzaku itu tak bisa dipercaya!"

"Kenapa?" Kuroro bertanya sambil menghindari serangan jaring laba-laba yang kesekian kalinya, yang menuju ke arahnya.

"Jimat yang dia berikan padaku tak berguna!" Kurapika berteriak sambil melompat dari sebuah pohon yang segera terbungkus jaring laba-laba Jorou-gumo hingga membuatnya layu. "Benar-benar tak berguna!"

Kurapika mengeluarkan Counterattack Chain-nya dan berusaha membalas monster itu. Mata pisaunya menusuk mata bersegi-segi monster itu, dan dia berteriak kesakitan. Memusatkan kekuatan di kepalan tangannya sambil meningkatkan tipe Nen Reinforcement miliknya dengan Nen Emperor Time, Kurapika melayangkan sebuah tinjuan keras ke perut besar monster itu. Dengan sebuah jeritan lagi yang terdengar, laba-laba itu terlempar dan menimpa pepohonan, langsung meratakan bagian hutan itu.

"Kau sedang bersemangat, ya?" Komentar Kuroro senang.

"Diamlah!" Kurapika hanya membentaknya.

Setelah melepaskan tubuh raksasanya dari kotoran, Jorou-gumo berteriak marah dan kembali menghujani mereka dengan jaring laba-laba. Keduanya bisa menghindar dengan baik, dan kali ini Kurapika menggunakan Counterattack Chain-nya untuk memutuskan satu dari delapan kaki monster itu. Dia berteriak kesakitan.

GADIS KECIIILLL! Dia berteriak penuh dendam. Dengan marahnya, dia mengambil kakinya yang terputus dan mulai memakannya.

Kurapika meringis melihat pemandangan menjijikkan itu. Ketika Jorou-gumo selesai memakan dagingnya sendiri, ia menarik napas dalam dan mulai tersedak. Dia berusaha keras mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya, ketika akhirnya ia berhasil, oh betapa menjijikkan sekali kelihatannya. Milyaran laba-laba berkerumun di tanah dan pepohonan. Kejadian dengan makhluk itu semalam tak ada apa-apanya dibandingkan dengan sekarang.

"Menyingkirlah," perintah Kuroro.

Ia melangkah ke depan Kurapika, mengeluarkan Buku Skill Hunter-nya dan membuka halaman baru; halaman yang belum pernah Kurapika lihat sebelumnya. Kuroro menarik napas dalam-dalam dan ketika dia menghembuskan napasnya, api keluar dari mulutnya seperti pelontar api dan membakar laba-laba mengerikan itu hingga kering. Setelah dia selesai, setengah hutan di depannya terlihat seperti korban kebakaran hutan. Pepohonan masih ada namun berubah menjadi arang.

Kuroro terbatuk-batuk mengeluarkan asap begitu dia selesai.

"Ini alasannya kenapa aku memilih tidak menggunakan kemampuan Flamethrower," protes Kuroro sambil terbatuk-batuk sekali lagi seakan dia adalah naga api yang baru saja mengosongkan amunisinya.

"Kau bisa menggunakan kemampuan itu tadi malam," Kurapika menanggapi.

"Dan beresiko menghanguskan seluruh penginapan?" Jawab pria itu tegas di antara batuknya.

BERANINYA KAUUU! Jorou-gumo meratap karena murka dan putus asa melihat anak-anaknya terpanggang.

Dia memuntahkan satu batalion laba-laba kecil lagi, dan Kuroro kembali menggunakan kemampuan Flanethrower-nya. Namun kali ini, mereka terjatuh ke dalam jebakannya. Ketika api dan asap mengaburkan pandangan mereka, Jorou-gumo melontarkan jaring khusus beracunnya ke arah mereka. Kurapika-lah yang pertama melihat jaring itu, dan dia menyeret Kuroro agar menjauh dengan menarik kerah baju pria itu. Tindakan meloloskan diri dari jaring mematikan ronde pertama; yang bahkan melelehkan tanah dengan asam korosif-nya yang merusak, tapi mengorbankan pergelangan kaki Kurapika. Salah satu pergelangan kalinya keseleo parah.

Mereka jatuh tersandung ke tanah dalam satu loncatan dan benturan, dan sebelum sempat bangkit, ronde kedua jaring beracun itu sudah berada di atas mereka. Melihat tak ada jalan untuk menghindarinya kali ini, Kurapika memeluk tubuhnya sendiri, bersiap menghadapi malapetaka yang akan segera terjadi.

Yang tak terpikirkan olehnya adalah Kuroro akan menyelipkannya di bawah tubuhnya, membuat pria itu menerima seluruh serangan dengan punggungnya.

Inilah pertama kalinya jeritan kesakitan pernah keluar dari mulut Kuroro sejak hari ketika dia 'lulus' dari latihan-latihan Ishtar yang kejam. Rasa sakit itu mengendalikan pikirannya melebihi batas kewarasan pria itu, dan ini tidak sama seperti yang pernah ia alami sebelumnya. Bahkan saat Kuroro menyelimuti seluruh punggungnya dengan Kou, itu hanya sedikit membantu. Yang paling parah adalah kedua kakinya, yang tidak terlindungi Kou sama sekali. Dia bisa merasakan dagingnya terbakar dan berkarat, hampir mencapai tulang. Rasa sakit karena terpanggang menjalar, menghancurkan tubuhnya.

Kurapika, yang tertegun di bawah Kuroro, menyaksikan keseluruhan ekspresi penderitaan pria itu. Raut wajah yang tak pernah Kurapika sangka akan dilihatnya, walau dia sering memimpikan bisa menyebabkan bencana hingga separah itu pada Kuroro.

Tanpa Kurapika sadari, sesuatu yang terasa hangat dan menggenang, lolos dari sudut matanya dan jatuh membasahi wajahnya yang pucat.


TBC


A/N :

Hufft...chapter kali ini sungguh penuh perjuangan! Untuk menebus translate chapter kemarin yang kurang bagus menurutku, chapter ini kukerjakan dengan lebih teliti dan lebih berkonsentrasi. Karena pusing dan mual akibat brightness komputer kantor yang hampir maksimum, aku ga bisa mengerjakannya di laptop dulu, untunglah sudah bisa download aplikasi office yang cukup memadai di hapeku...yah walau tangan rasanya sampai kesemutan ==

Aku update lebih cepat kali ini, soalnya sedang dalam nostalgia mode...sampai baca ulang 1001 Nights versi asli, juga sebagai hadiah untuk author-author lain yang juga menggemari fic ini, adik-adikku tersayang, yang membuatku bahagia dengan kemajuannya dalam membuat fic.

Semangat terus yaa...! xD

Ini balasan review di chapter kemarin :

Sends :

Kupenuhi janji untuk update hari ini...yah biarpun dirimu pasti sekarang udah tidur, hehe!

Ga ada Killua, tapi akan semakin seru!

Nekomata Angel of Darkness :

Alluka itu cowok...jadi anak-anaknya Zaoldyeck cowok semua, hanya saja Alluka dan Kalluto memang suka memakai pakaian perempuan. Untung lebih jelasnya, coba aja lihat di Hunter Wikipedia ya ;)

Kirin? Ya, dia tokoh yang baik di sini!

Kujo Kasuza Phantomhive :

Aku tak akan pernah bosan menagih update Hunter Theater, aku juga kangen fic KuroPika karya Kujo! Dx

Natsu Hiru Chan :

Eh? Ide Natsu tentang posisi itu bagus juga *smirk*

Gimana, udah jelas belum kenapa Kuroro dipanggil Putra Anansi? Yah karena dia dianggap anaknya Anansi...hehe!


Review please...dan jangan lewatkan chapter selanjutnya!^^