DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.
GENRE :
Adventure & Romance
WARNING :
AR, FemKura, Indonesian version.
CHAPTER 20 : A SHORT RESPITE
Semuanya kacau dan berisik oleh berbagai keributan dan suara yang memenuhi udara. Jorou-gumo berteriak melengking dalam kegilaannya karena amarah yang teramat sangat. Kuroro menjerit kesakitan saat dagingnya melepuh dan berkarat karena jaring Jorou-gumo yang mengandung asam. Kurapika terlindung dan aman namun ia tak berdaya. Bau tajam daging yang terbakar menginvasi inderanya dan hal itu memicu naluri Kurapika; putus asa, dia memperluas jangkauan Nen-nya dan menyelimuti Kuroro dengan itu. Sepertinya apa yang dilakukan gadis itu sedikit membantu, karena teriakannya berubah menjadi suara erangan kesakitan. Kuroro membuka matanya sedikit, dan untuk sesaat tatapan mereka saling bertautan. Ribuan emosi terlihat di mata yang biasanya dingin itu. Dan ada emosi yang bergejolak di mata biru Kurapika yang sewarna dengan birunya samudera, dan kini sudah berubah warna menjadi merah.
Suara derak logam tiba-tiba terdengar di tengah-tengah keributan itu.
"Rin byo tou sha kai jin retsu zai zen! Roh Setan, pergilah!" Dua suara berdentang bagaikan bel, diucapkan secara bersama-sama secara sempurna, terdengar jelas dari kejauhan.
Tiba-tiba, Kuroro dan Kurapika diselimuti cahaya hangat berwarna putih, dan ketika cahaya terang itu meredup, jaring laba-laba yang mematikan itu sudah lenyap. Kuroro ambruk ke atas tubuh Kurapika, namun dia mempertahankan kesadarannya walau hanya sedikit. Darah mengalir deras dari daging merah di punggungnya; dagingnya meleleh karena zat asam. Yang tersisa dari baju pria itu, seluruhnya kini berubah menjadi warna merah tua yang basah kuyup karena darah segar miliknya sendiri.
Kurapika menoleh sebentar...melirik kepada penolong mereka; yang ternyata adalah dua orang gadis remaja. Mereka berdiri di jalan besar dengan Shakujyo milik keduanya yabg bergemerincing; tongkat yang terbuat dari kayu atau kuningan dengan enam buah lingkaran berlapiskan emas, di tangan mereka. Semuanya mengenakan pakaian Pendeta Shinto berwarna putih. Salah seorang di antara mereka berambut hitam dengan panjang sebahu sementara yang seorang lagi sama-sama berambut hitam namun panjang.
KALIAN INI-Jorou-gumo berteriak marah sambil menyerang mereka dengan kekuatan penuh namun gadis dengan rambut sebahu berpotongan bob meraih manik-manik Juzu miliknya dan mulai mengucapkan mantra.
"Rin byo tou sha kai jin retsu zai zen noumaku senmanda masara dan sen da makaraosha da sowata ya un tarata kan man—!" Mulutnya bergerak dengan cepat menurut mantra yang ia gumamkan dengan sangat fasih. Suatu gelombang kekuatan menyapu bersih seluruh area itu dan sosok tertentu muncul di kening monster laba-laba.
"—on kiri kiri on kiri kiri!" Dia terus mengucapkan mantra, sementara Jorou-gumo menjadi lumpuh karena mantra itu. Dia melawan mantra yang ditujukan padanya, dan akibatnya luka-luka bermunculan di seluruh tubuhnya yang licin.
TER-TERKUTUK KAUUUU! Dia memekik marah, dan lagi-lagi memuntahkan pasukan laba-laba kecilnya. Mereka menyerang gadis yang tengah mengucapkan mantra itu, secara membabi-buta.
"Benar-benar pantang menyerah!" Gadis lancang itu berseru dan merubah formasi jari-jarinya. "On kiri kiri bazara bajiri hora manda manda un hatta, on kiri kiri bazara bajiri hora manda manda un hatta—"
Jutaan laba-laba dilumpuhkan dan bersatu membentuk bola laba-laba yang menjijikkan. Empat pilar cahaya muncul dan mengunci pergerakan mereka.
"On sara sara basara hara kyara un hatta on agyana wei senji kya sowaka!" Tangan dan jari gadis itu bergerak dengan cepat, membentuk banyak simbol yang tak memiliki arti apapun bagi orang kebanyakan. Dengan satu gerakan akhir dari tangannya, laba-laba itu ditelan api dan terbakar habis.
"Ayo, cepat kita pergi." Gadis yang satunya lagi menarik Kuroro dan Kurapika dari tanah, meminjamkan bahunya untuk membantu Kurapika membawa Kuroro.
"Tapi bagaimana dengan gadis itu?"
"Tara akan baik-baik saja. Prioritas utama kami adalah kalian berdua."
Baru saja dia mengatakan hal itu, sebuah suara jeritan terdengar dan sesosok tubuh jatuh ke tanah. Tara menderita luka parah di lengannya, namun tetap berpegangan pada Shakujyo-nya dan dengan tegar berdiri untuk kembali menghadapi laba-laba mengerikan itu. Meraung, Jorou-gumo berusaha keras menghampiri Tara meskipun dia lumpuh.
Sepertinya konsentrasi gadis yang berambut panjang terpecah antara menolong temannya atau memenuhi tugasnya membawa Kuroro dan Kurapika ke tempat yang aman.
"Bantu dia," kata Kurapika tegas sambil berinisiatif membawa Kuroro sendirian dengan membebankan seluruh bobot pria itu ke bahunya.
"Tapi-"
Miho. Suara lembut seorang wanita bergema di kepala mereka. Kurapika terpaku mendengar suara itu, tapi gadis yang berada di hadapannya terlihat lega mendengarnya. Saat dia menoleh, seekor kyuubi (rubah berekor sembilan/rubah betina) berwarna putih seputih salju berdiri tak jauh dari tempat mereka. Mata bulatnya yang keemasan menatapnya ramah, dan sebuah permata emas tersemat di keningnya; hampir terlihat seperti matanya yang ketiga.
Pergi dan bantulah Tara, aku sendiri yang akan membawa mereka, perintah kyuubi itu.
"Ya! Terima kasih banyak, Daisaiin-sama!"
Lalu Miho membungkuk pada kyuubi dan segera membantu temannya. Kurapika menatap kyuubi itu dengan tatapan ragu, namun secara batiniah kyuubi menatapnya dengan tenang.
Ayo, Nak. Dalam wujudku yang sekarang ini aku tak bisa menawarimu bantuan. Tapi begitu kalian sampai di kuilku, kalian akan mendapatkan semua pertolongan yang diperlukan.
Kemudian rubah betina itu berbalik dan mulai melangkah pergi. Kurapika merasa gugup dan melihat melewati bahunya ke pertarungan yang sedang berlangsung di antara dua orang gadis remaja dan laba-laba yang mengamuk. Sambil mengencangkan rahangnya, Kurapika membawa Kuroro. Ia menggeram, menyampirkan lengan pria itu melewati kedua bahunya, dan menahan rasa sakit di pergelangan kakinya, mulai menarik Kuroro untuk mengikuti kyuubi.
Dengan lamban mereka memasuki hutan. Sebentar-sebentar kyuubi putih itu akan berhenti dan menunggu mereka dalam keheningan. Matanya yang keemasan bersinar bagai lentera dalam temaramnya suasana hutan sementara permata di keningnya berkilau seperti satu-satunya bintang dalam kegelapan. Senja mulai tiba, dan hutan semakin sepi di setiap detik yang berlalu. Napas Kurapika semakin terengah-engah saat mereka mulai berjalan menanjak dikarenakan tugasnya yang berat menarik Kuroro di sepanjang perjalanan. Pria itu hanya bisa berdiri, dengan seluruh punggung dan sebagian kakinya melepuh dan berkarat menjadi luka yang lebar. Kurapika harus berulangkali mengambil napas dan membetulkan posisi Kuroro, dan juga meredakan rasa berdenyut di pergelangan kakinya yang membengkak.
"Kenapa...," tiba-tiba Kuroro bicara, namun suaranya yang lemah menyebabkan perkataannya terdengar parau, "...kau menangis?"
Sebenarnya, dia sudah mengamati air mata itu cukup lama. Dia ingin bertanya, tapi dia sedang merasakan sakit yang teramat sangat hingga tak bisa mengumpulkan cukup tenaga, bahkan untuk bicara. Kurapika mengedipkan matanya sekali. Dia mengangkat tangannya yang bebas dan menyentuh pipinya; yang terasa hangat dan basah oleh air matanya. Dengan wajah bingung, gadis itu menghapus sisa-sisa air mata dari wajahnya.
"Aku tidak tahu?" Ucapnya lemah, suaranya tak mengkhianati kebingungannya sendiri mengenai air matanya yang mengalir tanpa sengaja.
Mereka melanjutkan perjalanan dalam keheningan. Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya mereka sampai di kuil, dan tiba di gerbang depan kuil itu. Lalu kyuubi putih itu berlari melalui sebuah terowongan menakjubkan yang terdiri dari ratusan gerbang torii berwarna merah terang di sepanjang jalan batu itu, menuju ke kuil utama.
Meyakinkan dirinya sendiri bahwa tujuan mereka sudah dekat, Kurapika menguatkan diri untuk berjalan beberapa menit lagi di bawah bayangan merah terang pintu gerbang torii yang cerah. Ketika akhirnya Kurapika keluar dari gerbang merah tua itu, dia mendapati dirinya berada di halaman depan kuil utama. Tempat yang tenang, damai; sebuah tempat peristirahatan yang sempurna.
Sebelum Kurapika menyadarinya, tempat itu sudah sibuk dengan aktivitas. Gadis-gadis muda kuil itu menghampiri Kurapika, membantunya dengan Kuroro, membawa tubuh lumpuh itu ke 'bagian sayap rumah sakit' kuil tersebut. Dengan lembut mereka memandu Kurapika untuk ikut serta, mengatakan padanya bahwa dia akan aman di lingkungan kuil Inari yang tertutup. Setelah mereka mencapai bangsal dan mulai melepaskan pakaian Kuroro yang sobek, salah seorang pendeta muda menyentuh punggung Kuroro yang terluka parah dan dia langsung menjerit kesakitan. Tangannya melepuh seketika; racunnya masih tertinggal di daging Kuroro.
"Aku akan menyembuhkannya," desak Kurapika, karena dia tahu para pendeta itu tak bisa begitu saja menyentuh luka Kuroro, kalau tidak mereka akan terbakar akibat racun yang hebat itu.
Kuroro hanya bisa menaikkan sebelah air matanya namun tak memberikan penolakan apapun. Dengan enggan, gadis-gadis itu bergeser ke samping memberikan lebih banyak ruang bagi Kurapika. Kurapika merubah posisinya menghadap ke punggung Kuroro yang terluka parah, ketika pria itu duduk di depannya, ia meringis melihat luka yang mengerikan itu. Dalam sekejap, Kurapika merubah warna matanya menjadi merah dan Holy Chain miliknya menari di sekitar ibu jari gadis itu. Dengan sekali jentikan pergelangan tangan, Holy Chain mengelilingi tubuh Kuroro dan suatu aliran Nen merengkuhnya.
Yang tidak diperkirakan Kurapika adalah tindakannya ini akan membutuhkan tenaga yang sangat besar untuk menyembuhkan luka bakar Kuroro. Itu bukan luka bakar biasa. Sulit disembuhkan, dan Kurapika harus meraih cadangan Nen-nya lebih dalam. Dia mulai sulit bernapas begitu tubuhnya letih; namun dia tetap bertahan. Setelah selesai dengan bagian punggung, Kurapika berpindah ke kaki Kuroro. Kali ini, Kuroro sudah memperhatikan pernapasan gadis itu yang tidak nomal dan wajahnya yang pucat pasi.
"Kurapika, kau terlalu memaksakan dirimu," Kuroro memperingatkan, namun Kurapika mengabaikannya.
"Sedikit...lagi...," dia berkata dengan suara tertahan.
Tak lama setelah Kurapika melihat luka terakhir di kaki pria itu menutup, dia sudah memberikan semua yang ia miliki dan pandangannya menjadi hitam pekat. Kurapika terjatuh ke depan, namun dengan cepat Kuroro menangkapnya sebelum wajah gadis itu menyentuh lantai tatami lebih dulu. Cepat-cepat Kuroro memeriksa denyut nadi dan pernapasan Kurapika, dan ia pun segera menyadari gadis itu pingsan karena kelelahan. Kuroro menghela napas lega.
"Daisaiin-sama! (Pendeta Tertinggi Yang Agung)" Seluruh miko di kuil itu tiba-tiba langsung duduk dengan cara yang sangat sopan dan membungkuk kepada seseorang yang berada di pintu masuk ruangan itu.
Di sana, tepat di ambang pintu, seorang wanita dengan penuh kemegahan berambut putih seputih salju hingga ujungnya menyentuh lantai tatami. Tidak seperti pendeta lainnya, dia mengenakan pakaian Pendeta Tertinggi yang sangat rumit; haori putih berhiaskan bordiran bunga krisan Jepang berwarna perak dan keemasan dengan tudung transparan tersampir menutupi rambut dan bahunya, dan hakama ungu tua menunjukkan tugas yang diembannya sebagai Pendeta Tertinggi. Di keningnya terdapat permata berwarna keemasan, yang Kuroro ingat pernah melihat permata itu di kening kyuubi putih.
Tanpa suara, wanita itu menghampiri Kuroro dan Kurapika yang tak sadarkan diri. Dia duduk dengan anggun di hadapan mereka, dan mengangkat sebelah tangannya, membubarkan sepasukan pendeta keluar ruangan. Keheningan mendadak memenuhi ruangan itu.
"Selamat datang di Kuil Fushimi Inari Taisha. Aku Kuzunoha, Pendeta Tertinggi yang memimpin saat ini," dengan sopan ia membungkuk kepada tamunya.
Kuroro tak mengatakan apapun karena dia masih lelah dan Kurapika masih pingsan dalam pelukannya.
"Silahkan buat dirimu nyaman di sini, Tamuku. Ini permintaan dari Shishin; salah satu dari Empat Mahluk Penjaga Empat Mata Angin. Selama kau masih berada di dalam lingkungan tertutup tempat suci ini, tak ada bahaya apapun yang bisa menimpa dirimu dan temanmu," ia melanjutkan.
"Kau rubah betina berekor sembilan itu," kata Kuroro tiba-tiba.
Wanita dengan rambut putih bagaikan salju itu tersenyum hangat padanya. "Ya, begitulah." Dia menoleh melihat pergelangan kaki Kurapika, yang sekarang sudah membengkak dan membiru. "Gadis yang malang, dia melukai dirinya sendiri."
Kuzunoha meraih seperangkat perlengkapan P3K yang ditinggalkan pendeta muda ketika dia membubarkan mereka dari ruangan itu. Dia mengoleskan obat sejenis salep ke pergelangan kaki Kurapika yang bengkak dan membalutnya rapi dengan perban. Kuroro hanya diam mengamati.
"Dia bisa saja menyembuhkan pergelangan kakinya dulu sebelum membawaku," gumamnya.
"Mungkin hal itu tidak terlintas di benaknya karena dia sangat tidak fokus." Seulas senyum lembut nampak di wajahnya yang terlihat rapuh. "Atau mungkin menurutnya itu tidak bijaksana dilakukan dengan kehadiran Jorou-gumo di sekitar kalian."
Wanita rubah itu mengemasi kembali semua perlengkapan P3K setelah dia selesai, lalu menegakkan posisinya untuk memeriksa Kuroro secara selintas.
"Normalnya," ucapnya pelan, "Orang biasa pasti sudah mati begitu menyentuh jaring Jorou-gumo yang beracun, apalagi yang lebih dari itu. Tapi kalian bisa bertahan dari trauma dan rasa sakit, bahkan dari racun."
Kuroro menyimaknya baik-baik. Dia tahu pasti apa yang akan ditanyakan wanita itu.
"Dari bau darahmu tadi," Kuzunoha melanjutkan, "Aku bisa mengatakan kalian bukan keturunan manusia biasa. Kalian ini apa?" Dia bertanya sambil menatapnya aneh. Dia tak pernah bertemu seseorang yang begitu luar biasa sebelumnya. Hal itu membuatnya takut; Kuroro membuatnya takut.
Pria berambut hitam itu menatapnya dengan penuh perhitungan. Kuroro bisa melihat wanita itu terkesima dengan daya tahannya yang luar biasa. Mungkin dianggap sebagai sesuatu yang fenomenal, namun hal itu memang tak bisa dihindari.
"Aku terlahir sebagai manusia," akhirnya Kuroro menjawab, "Tapi darahku sudah tercampur dengan darah medusa."
Wajah kuning gading Kazunoha kini memucat. Walau dia tidak begitu tahu tentang makhluk sebangsanya di luar batas negerinya, dia mendengar beberapa cerita tentang medusa; medusa yang kejam.
Kuroro menoleh melihat Kurapika yang masih belum sadar.
"Dia pun begitu."
Kuzunoha menahan napasnya sesekali.
"Aku mengerti," akhirnya dia berkata dengan suara yang sangat pelan. "Ada banyak hal yang ingin kukatakan pada kalian berdua, tapi sepertinya kita harus menunggu hingga temanmu sadar kembali."
Dengan keanggunan seseorang yang berasal dari keluarga bangsawan, Kuzunoha berdiri dan berjalan ke pintu geser. Sebelum pamit, dia memberitahukan bahwa semua kebutuhan mereka; seperti makanan dan perlengkapan mandi, akan disediakan maka tak ada yang perlu mereka khawatirkan. Saat pintu geser itu ditutup dengan suara benturan pelan, Kuroro menoleh untuk melihat kepada Kurapika lagi. Wajahnya yang pucat pasi terlihat dingin bagaikan batu. Dengan lembut ia membelai pipi pucat Kurapika dengan punggung tangannya, seolah pipi itu akan hancur jika disentuh. Suatu pemikiran bergema di benaknya.
Kenapa kau menangis?
Kuzunoha mengunci diri di kamar pribadinya. Dia mengambil sehelai kertas kasa berlukiskan seekor harimau putih, dan meletakkan kertas itu di hadapannya. Dia menatapnya dalam sikap yang menunjukkan suatu penghormatan, dan beberapa detik kemudian, dia meletakkan ketiga jarinya; jari telunjuk, jari tengah dan jari manis; dari kedua tangannya, di atas lantai tatami tepat di hadapannya, sambil bertekuk lutut dan membungkuk dalam-dalam.
Seakan menjawab permohonannya yang tanpa kata-kata, lukisan harimau di kertas kasa itu menjadi hidup dan melangkah keluar dari ruang dua dimensi ke dunia nyata. Harimau itu berjalan lurus ke arah Kuzunoha yang sedang membungkuk dan duduk di hadapannya.
Kau sudah melaksanakan tugasmu dengan baik, harimau itu berkata dengan suara berat dan keras.
"Itu kebahagiaan untukku, Byakko-sama," ucap Kuzunoha dengan lembut.
Ketika wanita berambut putih itu mendongak, dengan seijin Byakko, harimau putih itu sudah berubah wujud menjadi manusia. Di hadapan Kuzunoha adalah seorang pria bertubuh besar dan berkepala harimau mengenakan baju baja berwarna keemasan dan topi baja yang biasa digunakan untuk berperang dihiasi batu giok putih berukuran besar di keningnya. Dia memegangi tombak kerajaan di tangannya, siap menyerang musuh manapun kapanpun juga.
"Seharusnya Suzaku memberitahuku tentang kedatangan mereka lebih awal. Dengan demikian, kedua orang muda itu tidak perlu bertemu Jorou-gumo, dan mereka tidak akan terlibat masalah besar seperti sekarang," Byakko menggelengkan kepala harimaunya yang putih salju, sedikit merasa jengkel, "Benar-benar, dia susah diberitahu!"
Kuzunoha tak mengatakan apapun dan hanya duduk manis saat Byakku menceritakan tingkah laku Suzaku yang santai dan menimbulkan banyak masalah untuknya. Sesaat kemudian, barulah wanita yang terlihat rapuh itu memberanikan diri untuk mengangkat topik tertentu pada seniornya.
"Byakko-sama, pria itu..." dengan ragu dia mulai bicara. "Katanya dia berbagi darah dengan medusa. Mungkinkah itu...?"
"Ya, dia anak angkat Ishtar. Kau pernah mendengar tentangnya?" Byakku mengangguk, sedikit terkejut dengan kegugupan dan pertanyaan wanita lembut itu. Biasanya Kuzunoha selalu percaya diri dan terkendali.
"Ya. Siapa yang belum pernah mendengar..." dia mendongak sambil mengkhayalkan, menatap langit malam yang berbintang. "Kisah tentang Dewi yang jatuh dari khayangan?"
Kurapika jarang bermimpi. Kalaupun iya, pastilah mimpi buruk, dan mimpi buruknya terjadi lebih sering; memimpikan mimpi buruk yang sama berulangkali; pembantaian sukunya dan tubuh kakaknya yang dipenggal. Namun, kali ini, ia bermimpi sesuatu yang janggal dan aneh.
Kurapika sedang berdiri dalam kegelapan yang teramat sangat. Begitu gelapnya hingga dia tak bisa tahu apa yang ada di bawah, di atas, atau di sampingnya. Anehnya, dia tidak takut sama sekali. Itu bukanlah kegelapan yang dingin; tapi tampak bagai kegelapan yang menyambutnya dengan hangat, merengkuh dirinya dengan suasana abadi dan keteguhannya di mana-mana. Rasanya damai, sangat menenangkan.
Dia menangkap setitik cahaya dari sudut matanya. Berkedip lemah dari kejauhan, membujuk Kurapika untuk mendekat. Ingin tahu, Kurapika berjalan perlahan menghampiri bintik cahaya itu. Semakin ia mendekat ke cahaya yang berkedip itu, semakin ia merasa berat dan susah di hatinya; namun cahaya itu tetap memaksanya untuk mendekat. Sesuatu tiba-tiba menghentikan kedua kakinya. Saat melihat ke bawah, dia dihadang makhluk yang tampaknya tak berbahaya, tapi sangat aneh.
Terlihat seperti seekor tapir, tapi tidak terlalu. Makhluk itu memiliki kepala gajah, taring dan belalai, sementara tanduk dan taringnya seperti milik harimau. Tubuhnya tertutupi helaian rambut abu-abu yang tipis. Itulah Baku. Makhluk kecil itu menarik tepi celananya, memaksanya untuk tidak pergi ke sumber cahaya itu. Kurapika melihat cahaya yang tampak lemah itu, lalu melihat Baku. Dia mengulanginya beberapa kali, sebelum akhirnya duduk di samping makhluk aneh itu.
"Ini aneh, tapi aku merasa harus tetap bersamamu," ucap gadis itu pelan.
Dengan kilatan rasa senang di matanya yang kecil, Baku menciumi lengan Kurapika, memohon untuk dipeluk. Geli dengan sikapnya yang aneh, Kurapika menuruti rengekannya. Dia menepuk kepalanya yang kecil dengan lembut, seperti layaknya menepuk seekor anjing. Menghela napas puas, Baku mengistirahatkan kepalanya di pangkuan Kurapika.
Ketenangan kembali menyelimuti gadis itu, dan sebelum dia menyadarinya, dia sudah tertelan ke dalam pelupaan yang tak berbatas.
"Akhirnya sadar juga?" Adalah kalimat pertama yang diucapkan Kuroro pada Kurapika ketika dia berkedip membuka matanya.
Kurapika menolehkan kepalanya untuk melihat pria itu, yang tampak segar dan hidup seolah tak pernah mengalami cedera yang begitu menyedihkan sebelumnya. Kuroro duduk di atas kasur lipatnya, masih mengenakan yukata tidurnya. Kurapika memandang ke arah langit-langit yang rendah di atasnya. Dia baru mengenal tempat ini, tapi anehnya, Kurapika yakin dia merasa penuh tenaga; seolah ini pertama kalinya dia mengalami tidur yang memuaskan dan menenangkan.
"Di mana?"
"Kuil Fushimi Inari Taisha," Kuroro menjawab. "Kau tidur selama dua hari penuh."
"APA?" Kurapika berteriak ngeri sambil tersentak bangun dari kasur lipatnya.
"Tenang, Nak." Dengan cuek Kuroro menutupi mulutnya ketika dia menguap. "Aku baru saja bangun beberapa menit yang lalu."
"Hah?" Kurapika berkedip melihatnya melakukan sikap tubuh yang lazim dilakukan orang biasa seperti itu; dia terang-terangan menahan uapannya? "Lalu bagaimana kau tahu sekarang sudah dua hari?"
"Teman kecil ini yang memberitahuku," Kuroro mengangkat lengannya yang tersamarkan oleh tubuhnya sendiri, dan bergantung ke lengannya itu adalah makhluk aneh yang lainnya lagi.
Kurapika mengernyit dan mencondongkan badannya lebih dekat ke pria itu untuk melihat makhluk tersebut dengan lebih jelas. Makhluk itu terlihat seperti rubah berukuran kecil, sebesar tikus atau tupai. Melihat Kurapika dengan matanya yang tajam, menatapnya dengan keanehan yang sama seperti yang diberikan gadis itu padanya. Sesaat kemudian, Kurapika tahu apa jenis makhluk itu.
"Kuda-kitsune!" Katanya senang.
"Kenapa kau begitu senang melihatnya?" Tanya Kuroro sambil menaikkan sebelah alis matanya.
"Aku selalu ingin punya satu yang seperti ini!" Kata Kurapika, terlalu gembira untuk bersikap acuh tak acuh pada Kuroro seperti yang biasanya dia lakukan. "Kemari, rubah kecil," ucapnya sambil mengulurkan sebelah tangan pada makhluk itu, sementara tangan satunya lagi menyangga tubuhnya.
Kuda-kitsune membaui tangan Kurapika dengan hati-hati terlebih dahulu, sebelum melompat dari lengan Kuroro ke tangannya. Lalu dengan semangat menaiki lengan Kurapika menuju ke bahu, menciumi pipi gadis itu dengan hidung mungilnya.
"Seperti anak kecil saja," Kuroro menggoda Kurapika.
"Kau bilang apa?" Kurapika memelototinya.
"Aku sembilan tahun lebih tua darimu, jadi cukup tepat aku memanggilmu begitu."
"Umurku tujuh belas! Aku bukan anak kecil lagi!"
"Bukankah ini saatnya kau menyembuhkan pergelangan kakimu yang terkilir?"
Kurapika berkedip. Kenapa pria ini mendadak mengalihkan topik?
"Tidak, aku kehabisan Nen," jawabnya singkat.
"Kau sudah tidur nyenyak selama dua hari penuh."
"Apa kau tahu berapa banyak Nen yang kugunakan untuk menyembuhkan punggung dan kakimu?" Kurapika menjawab, menoleh bermaksud untuk memelototi Kuroro namun ketika mata mereka bertemu, dia tak bisa memberinya lebih dari sekedar tatapan yang memusuhi. Kurapika hanya menatapnya. Sesaat kemudian, gadis itu memalingkan wajahnya.
"Lagipula aku tidak mau membuang Nen-ku untuk hal-hal sepele. Pada waktunya kita keluar dari tempat ini nanti, saat itu mungkin pergelangan kakiku sudah kembali normal."
"Berapa banyak Nen-mu yang tersisa?"
"Hanya sedikit." Kurapika mengangkat bahunya. "Perlahan akan terkumpul kembali dari waktu ke waktu."
"Kita tak bisa menghasilkan Nen," Kuroro berkata dengan suara datar, namun ada tekanan di dalamnya, seperti suatu penegasan.
"Lalu apa saranmu?" Tanya Kurapika jengkel. Dia tahu apa yang Kuroro maksudkan; ketika mereka melangkah keluar kuil, Jorou-gumo akan mengejar mereka dan mereka harus berada dalam kondisi prima untuk menghadapinya.
Kuroro diam sejenak, menutupi mulutnya dengan sebelah tangan; sikap tubuhnya yang khas ketika sedang berpikir. Sesaat kemudian, dia menatap Kurapika dalam-dalam membuat gadis itu bergerak-gerak gelisah.
"Aku punya satu teori, tapi mungkin kita bisa mencobanya."
"Teori apa?"
"Nen terbagi dalam kategori yang berbeda-beda, artinya setiap kelompok seharusnya punya sifat yang pada umumnya sama. Kalau memang begitu, seharusnya Nen bisa dialihkan dari satu orang ke orang lainnya untuk mengisi Nen orang itu. Lagipula, ada beberapa perawatan menggunakan Nen untuk menyembuhkan, terutama bagi kelompok Reinforcement. Holy Chain-mu adalah satu contoh yang bagus."
Kurapika mengernyit. "Tapi bahkan jika sifatnya sama, bisa saja tidak cocok untuk setiap orang, benar 'kan?"
"Benar. Namun, dalam kasus kita, aku bertaruh Nen kita pasti cocok."
"Apa yang membuatmu berpikir begitu?" Tanya Kurapika tak percaya. Sungguh, pria ini penuh kejutan.
"Kita berdua termasuk ke dalam kelompok Specialisation, dan golongan darah kita sama; AB. Mereka bilang kepribadian seseorang bisa dikelompokkan berdasarkan golongan darah, artinya kurang lebih kepribadian kita sama."
"Aku tidak melihat kesamaan itu di antara kita," gadis itu menjawab dengan datar dan tak ada perubahan apapun di raut wajahnya.
"Terlebih lagi, kau mendapatkan darahku dari transfusi itu. Semua ini seharusnya meningkatkan kecocokan Nen kita," Kuroro mengabaikan tanggapan tajam gadis itu.
Kurapika bahkan mengernyit lebih dalam lagi. "Jadi apa maksudmu?"
"Hubungkan Nen kita dan lihat apakah kau bisa mengakses Nen-ku dan menggunakannya seperti Nen milikmu sendiri atau tidak." Dia berkata dengan suara datar.
Kurapika sangat tidak menyukai ide itu; sungguh tidak menyukainya. Nen adalah sesuatu yang bersifat pribadi dan tersendiri; dari sudut pandangnya, Nen seperti simbol identitas masing-masing orang. Berpikir bahwa Nen-nya mungkin cocok dengan pria ini yang seorang penjahat dan Kurapika akan mencoba mengakses Nen-nya untuk digunakan sebagai Nen-nya sendiri, membuat gadis itu gemetar ketakutan, dan sedikit merasa jijik. Kurapika tak ingin mengakuinya, tapi dia takut jika percobaan kecil ini berhasil, seperti menyegel kenyataan bahwa mereka telah berbagi bagian dalam diri mereka satu sama lain.
"Ayolah," Kuroro mengisyaratkan padanya untuk mendekat dan memegangi tangannya.
Dia tidak terlihat terganggu mengenai hal ini; tidak, dia terlihat acuh tak acuh. Dia tak peduli. Kurapika menelan ludah dengan gugup. Meski takut, dia ingin tahu; dia ingin tahu lebih banyak tentang Nen, ingin tahu sejauh mana dia bisa menggunakan kekuatannya. Tanpa mau repot-repot melawan hati nuraninya, Kurapika menggenggam tangan Kuroro.
Nen milik Kuroro meningkat dengan halus dan lembut, mengalir sempurna begitu mencapai Kurapika. Ketika Nen Kuroro menyelimuti Kurapika sepenuhnya, Kurapika kewalahan dengan suatu sensasi yang aneh. Rasanya seperti tenggelam dalam sejenis cairan, dan cairan itu memberikan setruman menggelitik di seluruh tubuhnya. Dia bisa merasakan Nen Kuroro memasukinya melalui pori-pori kulitnya, mendorong lebih dalam ke bagian dalam dirinya, mencoba terhubung dengan Nen gadis itu. Begitu Nen mereka bertabrakan, Kurapika terkesiap saat dadanya merasa sesak dan dibatasi.
Kuroro terus memegangi tangan Kurapika, diam-diam mengamati ekspresinya yang hampir tak kentara. Dia bisa merasakan Nen-nya bertemu Nen gadis itu; awalnya terasa seperti hujan es yang disertai badai; Nen Kurapika menolak Nen-nya, tapi dari waktu ke waktu secara bertahap kekacauan itu mereda dan mereka tergabung menjadi satu. Kurapika memejamkan matanya, memusatkan perhatiannya ke Nen baru di dalam tubuhnya. Rasanya seperti bayi yang baru lahir, polos dan murni tapi kuat. Dia melepaskan sebelah tangannya dari genggaman Kuroro; tangan yang menghasilkan Rantai Nen, dan berusaha mengeluarkan rantainya. Berhasil.
Suara derak rantai Nen yang terdengar familiar memenuhi kamar itu, dan Kuroro melihatnya ingin tahu. Holy Chain muncul, melayang seperti seekor lebah yang kebingungan. Mata rantai yang berbentuk salib itu lalu terbang ke arah pergelangan kaki Kurapika yang bengkak, mengapung di atasnya, mengeluarkan sinar hangat sambil menyembuhkan cederanya. Dalam sekejap, pergelangan kaki Kurapika kembali normal.
Kuroro Lucifer gembira. Dia tak pernah mengira, teorinya akan terbukti benar.
Kurapika menarik kembali rantainya dan menyimpan kembali Nen-nya. Begitu Nen-nya kembali ke tempatnya di dalam diri Kurapika, Kuroro melepaskan Nen-nya dari Nen gadis itu. Dia menarik kembali Nen-nya perlahan, jadi tidak membuatnya terkejut hingga mengancam nyawanya. Meski begitu, Kuroro sengaja meninggalkan sedikit sisa Nen-nya. Setelah seluruh proses itu selesai, keduanya ambruk ke lantai tatami.
"Berhasil," Kurapika berkata seolah tak percaya di antara helaan napasnya.
"Jadi aku benar," gumam Kuroro, matanya berkilat gembira.
Tiba-tiba, dia tertawa. Dia tertawa seperti anak kecil yang akan tertawa ketika baru saja mendapatkan mainan yang sudah lama dia dambakan, sambil berbaring terlentang. Kurapika menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya; apa yang terjadi pada pria itu?
"Aku benar," Kuroro berkata lagi sambil menoleh melihat Kurapika dengan penuh perasaan.
Kurapika menahan napasnya. Kegembiraan polosnya yang mendadak merupakan sesuatu yang menular pula pada dirinya sendiri. Kuroro menunjukkan kepribadiannya yang kekanak-kanakkan pada Kurapika; sesuatu yang sangat jarang dia lakukan secara terang-terangan, dan mungkin juga itu adalah salah satu dari kepribadiannya yang sebenarnya. Menangkap hal itu sekilas, dan terbuai oleh kegembiraan kekanak-kanakkan pria itu, Kurapika ikut terbawa. Dia tersenyum padanya.
Kuroro terkejut, tapi dia tidak memperlihatkannya. Malah, dia terdiam dalam waktu yang hanya selintas itu. Kuroro menggulingkan tubuhnya hingga tengkurap dan mengulurkan sebelah tangan untuk memainkan helaian rambut keemasan Kurapika dengan jemarinya yang ramping. Kurapika menyaksikan pria itu memutar-mutar rambutnya tanpa sadar, tak keberatan dengan sikap tubuhnya.
"Apa yang kaurasakan?" Dia bertanya dengan ekspresi menerawang terlihat di wajahnya.
Kurapika berguling hingga terlentang di lantai tatami. Dia terus menarik dan menghembuskan napasnya, mencoba merasakan kondisi tubuhnya.
"Aku merasa seperti punya lebih banyak Nen," akhirnya dia menjawab dan perlahan menolehkan kepalanya menghadap Kuroro. "Kau pun begitu?"
Kuroro mengangguk, sinar kepuasan berkilat di matanya. Teorinya semua benar; dia benar-benar bisa mengisi Nen orang lain begitu lama ketika Nen-nya cocok dan kondisinya saling bertemu.
Bukannya merasa gembira seperti halnya Kuroro, atau gembira karena memiliki lebih banyak Nen, Kurapika merasa darahnya membeku di pembuluh darahnya. Pertama, darahnya yang bercampur dengan darah pria itu, dan sekarang Nen-nya. Rasanya seperti Kuroro menginvasi dirinya melalui cara yang sangat lembut dan tidak terpikirkan. Kuroro meninggalkan jejak-jejak dirinya di dalam diri Kurapika; memberi gadis itu bagian dirinya dalam cara yang berbeda.
Perlahan namun pasti, Kuroro memasuki inti diri Kurapika.
"Yo, Ishtar. Sepertinya semua berjalan terlalu lembut bagi mereka."
"Benarkah begitu?" Wanita itu tersenyum pada bayangan Phoenix di permukaan air ajaibnya. Menyediakan cara komunikasi jarak jauh di antara dirinya dan pihak lain yang sama-sama memiliki air ajaib.
"Pastinya. Kudengar dari sepupuku, sialnya mereka dalam masalah besar sekarang, tapi tepatnya itu hal yang baik."
"Phoenix, tolong, bahasamu," Ishtar memijit batang hidungnya dengan lembut.
"Repot," Lady Merah itu memutar bola matanya. "Lagipula, mereka melakukan percobaan kecil yang lucu, dan hasilnya mereka bisa mengakses Nen masing-masing dan bahkan mengalihkan Nen mereka satu sama lain. Benar-benar aneh, ya? Aku tak pernah mendengar hal seperti ini sebelumnya."
Ishtar terkekeh. "Aku tak menyangka mereka akan jadi secocok itu."
"Apa maksudmu?"
"Nen adalah sesuatu yang sangat lembut dan serius." Dia berkata sambil memutar-mutar helaian rambutnya dengan jemarinya yang kurus. "Itu bukan permainan anak-anak, khususnya jika melibatkan interkoneksi di antara Nen. Nen menunjukkan jiwa dan bagian dalam diri seseorang. Menurutmu apa akibatnya ketika mereka memberikan Nen-nya satu sama lain? Bahkan mengakses Nen masing-masing seperti Nen miliknya sendiri?"
"Memberikan jiwa mereka satu sama lain? Bagus, seolah mereka menjadi satu."
"Tepat sekali."
"Ya ampun. Beritahu saja mereka untuk segera menikah." Dia berkata sambil melipat kedua tangannya di depan dada seperti orangtua yang jengkel pada anaknya.
Ishtar tersenyum dengan lembut pada burung legendaris yang keras kepala itu. "Kuharap semudah itu, Temanku."
Kurapika duduk di balkon kamar mereka, dengan pemandangan ke danau di belakang kuil. Dia masih merasa tak enak setelah percobaan kecil mereka dengan Nen masing-masing. Kadang dia merasa perutnya melilit setiap dia teringat kenyataan bahwa Kuroro sudah memberikan Nen-nya di dalam tubuhnya. Kurapika merasa ceroboh. Merasa disakiti. Menelan kemarahannya, Kurapika menengadah dan mulai melafalkan baris favoritnya :
Matahari di angkasa, pepohonan di tanah...
Raga kami dari bumi, jiwa kami dari Surga di atas sana...
Sang Mentari dan Bulan meremajakan raga kami, mengirimnya ke angin yang bertiup di daratan
Berterimakasih pada Para Dewa yang tinggal di Surga bagi tanah Kuruta
Biarkan jiwa kita hidup dalam perlindungan dan semangat yang abadi
Aku datang agar mampu berbagi kegembiraan bersama saudara-saudaraku
Memanjatkan penghormatan bagi warga Suku Kuruta,
Biarkan Mata Merah kami bersaksi...
"Doa Suku Kuruta?" Tanpa sadar Kuroro bertanya.
Dia pernah mendengar doa itu sebelumnya; waktu di penginapan milik Fino, saat Kurapika masih sangat memusuhinya. Memikirkan hal itu, Kuroro menyadari betapa semua menjadi nyaman di antara mereka berdua. Sebelumnya, khususnya Si Kuruta akan mengambil setiap kesempatan untuk membuatnya jengkel, mencemooh dan mencaci-makinya. Sekarang hubungan mereka satu sama lain sudah sangat lebih nyaman, membuat Kuroro merenung; apa yang ada di benak Kurapika sekarang?
Kurapika tak menanggapi pertanyaan aneh Kuroro, seolah dia tak mendengarnya. Lalu Kuroro sengaja mendekatinya dan duduk di samping gadis itu. Bulan berada jauh di atas sana, menggantung bagai satu-satunya lentera dengan cahayanya yang kesepian. Kurapika duduk tak bergerak dan tegang meski suasananya tak berbahaya sama sekali. Hal ini membingungkan Kuroro; dan dia pun mengulurkan tangan untuk menyentuhnya.
Saat Kurapika melihat dari sudut matanya ketika tangan pria itu mendekat, dengan cepat ia menepisnya. Sepertinya Kuroro sedikit terkejut dengan sikap bermusuhannya yang tiba-tiba ia lakukan lagi; sudah sangat lama waktu berlalu sejak terakhir kali Kurapika menghindari sentuhannya. Kuroro menatap wajah gadis itu dari dekat. Ia merasa tertarik dengan sikap Kurapika yang tiba-tiba berubah. Kurapika mudah ditebak, setidaknya bagi Kuroro. Namun kali ini, Kuroro tak bisa memahami apa yang ada di balik ekspresinya itu. Penghinaan? Kebencian? Memandangnya rendah? Sedih? Muak?
"Apa yang kaupikirkan?" Tanya Kuroro ingin tahu.
Wajahnya mungkin memperlihatkan keingintahuannya dengan jelas hingga membuat Kurapika merasa seperti subjek yang sedang diteliti daripada ditanya. Kurapika memalingkan wajahnya, tak menjawab pertanyaan Kuroro. Tanpa berpikir dua kali, dengan cepat Kuroro mengulurkan sebelah tangannya pada gadis itu dan memegangi dagunya, memaksa Kurapika untuk melihatnya.
"Apa masalahmu?" Tanyanya langsung.
Kurapika meringis ketika dikonfrontasi Kuroro, seolah dia merasa rugi dan sakit saat pria itu bicara padanya. Dia menarik dagunya dari cengkeraman Kuroro dan kembali memalingkan wajah. Kuroro mengernyit.
"Jika kau memandangku dengan sebegitu rendahnya, lalu kenapa kau menyembuhkanku?"
"Kenapa kau menyelamatkanku?"
Kuroro menghela napas.
"Untuk alasan pertama, sebelumnya aku sudah memberitahumu beberapa kali bahwa aku sedikitpun tak bermaksud membiarkanmu mati karena suatu alasan yang belum bisa kuberitahukan padamu. Kedua, lebih baik satu orang saja yang terluka daripada kita berdua sama-sama terluka. Benar?"
Kurapika mencari pernyataan untuk membalasnya, tapi ia tak menemukan satupun.
"Bagaimana dengan pertanyaanku?" Desak Kuroro.
"Aku tak mau berhutang budi padamu. Jadi anggap saja kita impas," Kurapika berkata dengan datar, suaranya tak menunjukkan emosi apapun. Dia berhenti sejenak, matanya memancarkan keraguan. Ketika akhirnya dia menanyakan pertanyaan yang menganggunya entah-sudah-berapa-lama, suaranya terdengar sedikit lemah. "Kenapa kau melakukan semua ini untukku? Kau tidak mendapatkan keuntungan apapun."
"Ini bukan karena kepentingan pribadi," jawab Kuroro pelan, dengan cara yang sedikit menunjukkan rasa hormat.
"Lalu apa?"
"Aku tak akan memberitahumu," pria itu menyeringai padanya.
"Pelit." Kurapika memanyunkan bibirnya.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan, itu tak akan mengubah apapun," Kuroro terkekeh.
Alasan kenapa Kuroro rela mengambil resiko hingga sejauh itu untuk membantunya akan menjadi misteri bagi Kurapika untuk waktu yang sangat lama. Dia akan tahu ketika nanti orang lain harus mengulangi jawaban itu padanya.
Dalam keheningan yang selaras, mereka berjalan menyusuri terowongan Torii yang berwarna merah terang ke anak tangga besar yang terbuat dari batu menuju ke pintu masuk Kuil Fushimi Inari. Mereka bahkan tidak menoleh lagi untuk yang terakhir kali ke kuil yang telah menampung mereka selama beberapa hari yang lalu.
"Kuroro, Kurapika."
Suara yang lembut memanggil mereka sebelum mereka melangkah keluar dari keamanan kuil. Saat berbalik, mereka melihat Pendeta Tertinggi Yang Agung, Kuzunoha, melangkah menghampiri. Dia segera menyusul dan memberi mereka masing-masing sebuah jimat pelindung; sebuah o-mamori. Itu adalah kantong kecil berbentuk persegi panjang yang rata dengan simpul di atasnya yang juga berfungsi sebagai segel. Simpulnya terhubung dengan seuntai tali yang cukup panjang untuk dijadikan kalung.
"Ini hadiah perpisahanku untuk kalian. Aku tak bisa meninggalkan kuil ini, hanya pada kondisi khusus saja, jadi kesempatan bagiku untuk bertemu kalian di luar sana benar-benar tipis." Dia memberitahu mereka dengan lembut. "Tapi meskipun begitu, perkenankan aku untuk memberikan nasihat terakhir. Berhati-hatilah pada Tamamo-no-Mae."
Kurapika mengejang mendengar nama yang mengerikan itu. Oh, dia tahu nama itu, dan sepertinya Kuzunoha melihat hal itu di matanya.
"Aku bisa memastikan pada kalian bahwa Tamamo-no-Mae lebih jahat dari Jorou-gumo. Jika kalian terlibat dengannya, ambillah Hoshi no Tama miliknya; yaitu permata yang kami miliki, kaum rubah, di dalam diri kami."Dia berkata sambil menunjuk batu permata berwarna keemasan yang tersemat di keningnya. Berisi sesuatu yang paling menjadi intisari dari kami; jiwa kami. Sekali kau memilikinya di tanganmu, kau bisa memerintahkannya melakukan semua penawaranmu."
"Dengan asumsi jika kami memang bisa mengambilnya," Kurapika berkata dengan kurang merasa tertarik. Itu tugas yang hampir mustahil dilakukan.
Kuzunoha hanya tersenyum lemah padanya. "Semoga perjalanan kalian aman," katanya sambil meremas tangan Kurapika, berusaha menentramkannya.
"Terima kasih," Kurapika menjawab dengan sopan. Walau aku ragu perjalanan ini nanti akan benar-benar aman, ucapnya dalam hati.
"Tamamo-no-Mae itu siapa?" Kuroro bertanya.
Kurapika menatapnya heran. "Aku terkejut kau tidak tahu."
"Memangnya aku ini apa, ensiklopedia berjalan?" Kata Kuroro datar, tapi ia merasa geli.
"Tapi-"
"Hush!"
Sebelum Kurapika bisa menyelesaikan kalimatnya, wajah Kuroro berubah waspada dan dia mendorong gadis itu ke pinggir. Karena Kuroro tidak melihat ke arah mana Kurapika menyingkir, tangannya yang besar tak sengaja mendarat di dada Kurapika; atau lebih tepatnya, di payudara gadis itu. Kurapika membeku, begitu pula Kuroro. Setelah beberapa detik yang terasa bagai tak berkesudahan, kemurkaan di bawah sana mengguncang seluruh hutan hingga burung-burung harus terbang pergi dari sarang mereka yang nyaman secepat kilat.
"KAU—!#$%^&*()!"
"Itu tak disengaja!" Kuroro membela diri.
Yang paling mencemaskannya, lengkingan suara Kurapika mengundang masalah yang coba dia hindari beberapa detik lalu. Hutan pun berguncang lagi dan sesuatu mendarat dengan keras di hadapan mereka.
GADIS KECIIIIL! PUTRA ANANSIIIII! Jorou-gumo memekik. Salah satu matanya masih tak ada, begitu pula halnya dengan salah satu kakinya.
Bagai dikuasai iblis, Jorou-gumo menyerang Kuroro dan Kurapika, taringnya dijentikkan dengan marah dan penuh nafsu untuk menikmati daging dan darah mereka. Lagi, adrenalin segera menghapuskan semua jejak rasa malu dari kepala Kurapika dan dia beralih ke posisi bertarung. Kini mereka siap melawan monster itu, tak ada lagi yang bisa menghalangi. Keduanya melompat bersamaan, dan Kurapika menggunakan Counterattack Chain ke leher monster itu untuk membatasi gerakannya. Kuroro menggunakan kesempatan ini untuk menyerang dan mencongkel matanya yang satu lagi. Berteriak marah dan kesakitan, Jorou-gumo membalas sekuat tenaga hingga akhirnya terlepas dari rantai itu, membuatnya hancur sedikit demi sedikit.
Ketika itu terjadi, Kurapika merasa jantungnya diremas dengan kencang untuk sesaat. Dia terkesiap tajam dan jatuh bertekuk lutut sambil mencengkeram dadanya. Ini pertama kalinya seseorang menghancurkan rantai Nen-nya, dan Kurapika tak pernah mengira rasanya begitu menyakitkan.
Tanpa bicara, Kuroro mengangkat tubuh Kurapika dengan meraih pinggangnya dan mengangkutnya di bahu, menggendong gadis itu seperti membawa sekarung gandum. Dia melompat ke dahan pohon terdekat ketika Jorou-gumo memuncratkan jaringnya yang beracun.
"Kau baik-baik saja?" Kuroro bertanya dengan pelan sambil tetap mengawasi monster buta yang mengamuk itu.
"Aku akan baik-baik saja, tapi..." Dia menarik napas dalam. "Nen-ku terpecah...Tak pernah kusangka akan sesakit ini..."
DI SANAAAAAA...Jorou-gumo memekik dan menerjang mereka meskipun tubuhnya sangat besar.
Kuroro baru saja menyiapkan diri dengan kedua lengannya memeluk Kurapika untuk melompat keluar dari masalah ketika tiba-tiba tubuh laba-laba itu, begitu tiba-tiba, terbelah dua. Dengan jeritan terakhirnya, kedua bagian tubuh Jorou-gumo jatuh bebas menuju ke tanah, mengikuti hukum gravitasi. Monster itu hancur menabrak tanah, darahnya yang hijau gelap mewarnai seluruh tempat di sekitar sosoknya yang kini berwarna hijau kusam. Kaki laba-labanya mengejang sedikit, sebelum akhirnya kaku dan tubuhnya hancur menjadi butiran pasir halus dan tertiup angin.
Kuroro dan Kurapika melihat ke bawah dari dahan pohon di mana mereka berada, tak yakin atas apa yang baru saja terjadi. Mereka turun ke tanah dan memeriksa tempat itu. Tak ada satu pun jejak Jorou-gumo tertinggal di sekitar situ, hanya kekacauan di hutan yang dia sebabkan saat mengamuk.
"Siapa kau?" Kurapika tiba-tiba bertanya dengan suara yang terdengar curiga ketika melihat seorang pria berpenampilan aneh berdiri tidak terlalu jauh dari mereka.
Pria itu berdiri di dalam bayangan gelap pepohonan, kepalanya tersembunyikan oleh bayangan yang pekat. Namun mereka bisa melihat baju baja keemasan yang dia kenakan. Pria itu diam sesaat, sebelum memutuskan mengambil beberapa langkah ke dalam cahaya temaram yang masuk melalui kanopi hutan yang rimbun.
Kurapika bisa merasakan rahangnya menganga ketika melihat pria berkepala harimau putih. Dia terus-menerus melihat makhluk aneh dan semakin aneh di setiap hari dalam perjalanannya.
"Aku Byakko, Harimau Putih dari Barat. Aku senang bisa berkenalan dengan anak angkat Ishtar dan istrinya."
"I-Istri?" Kurapika tersipu lagi. Kuroro memicingkan matanya walau sedikit, saat nama Ishtar disebutkan; nama dan kepopulerannya sepertinya sudah mendunia.
"Tapi aku harus mengatakan bahwa kalian seharusnya jangan terlalu mencampuri persoalan di negeri ini, belum lagi terlibat dengan salah satu youkai di sini. Itu sangat tidak disarankan dan tidak dianjurkan." Dia berkata dengan kalimat yang agak pedas.
Kurapika baru saja akan protes, ketika sebuah suara yang disenandungkan terdengar menyela dirinya,
"Begitu kejamnya dirimu, Byakko-san...," kata sebuah suara yang datang dari atas.
Mereka bertiga mendongak dan melihat seorang pria mengenakan pakaian biru bergaya oriental dengan rambutnya yang berwarna biru gelap duduk dengan santai di sebuah dahan pohon, memandangi mereka dengan ekspresi senang terlihat di wajahnya.
"Seiryuu!" Bentak pria berkepala harimau.
"Jorou-gumo yang awalnya mencari masalah dengan mereka, dan sekarang kau menyalahkan mereka. Betapa jahatnya kau. Lagipula, kau bisa saja menolong mereka sejak tadi, kau tahu." Seiryuu berkata dengan sebuah seringai canda nampak di wajahnya.
"Kau sendiri? Yang kaulakukan adalah mengamati mereka melawan youkai yang menyedihkan itu dari atas sana tanpa melakukan apapun," kata Byakko sengit.
Kuroro mengernyit mendengarnya. Apa benar Seiryuu ada di atas sana, mengamati mereka sepanjang waktu, tanpa dia menyadari kehadiran pria itu? Hal ini mengingatkan Kuroro pada kejadian di Ryokan waktu itu, ketika Suzaku muncul tiba-tiba tanpa Kuroro menyadarinya.
"Yah..." Seiryuu mengetuk-ngetuk dagunya dengan jemarinya yang panjang. "Bukankah itu salah satu dari peraturan terselubung bahwa seharusnya aku tidak mencampuri urusan di daerahmu? Yang bisa kulakukan hanyalah menonton dan itu sungguh membuatku bosaaaannn..."
"Ada juga ketetapan kuno yang mengatakan bahwa kita tidak boleh membantu manusia terus-menerus. Keberadaan kita untuk dihormati, bukan untuk berbaur dengan manusia di sekitar kita terlalu sering kalau tidak mereka akan kehilangan rasa hormatnya pada kita."
"Ah." Seiryuu menyeringai lebar padanya. "Itu mungkin benar tapi apa kau sudah lupa bahwa selain sebagai orang asing di negeri ini..."
Dia menoleh, melirik Kuroro dan Kurapika dengan kilatan aneh di mata biru safirnya. Melihat matanya itu, Kuroro pun langsung tahu bahwa Seiryuu tidak melihat mereka seperti layaknya dia melihat orang biasa.
"Mereka berdua hampir tidak bisa dianggap sebagai manusia murni?"
TBC
A/N :
Makasih untuk Natsu Hiru Chan yang udh bntu publish xD
Langsung aja, ini balasan review chapter lalu!
Nekomata Angel of Darkness :
Hohohoho, aku juga kesel sm Jorou-gumo...susah banget matinya DX
Knp jd tb2 gaje tentang kirin nih btw ==
Natsu Hiru Chan :
Wahai gurunya Natsu, jangan salahkan aku atas kegilaan muridmu itu Dx
Yupp...cuma satu scene tp berkesan banget!
Shizuku M :
Iya...bener kan...itu jg yang bkin ga sabar pgn cepet2 update, heheh!
LyraKuruta404 :
Ahahahaha, I just translated this...just wanna share with another Indonesian authors^^
Runandra-senpai was really great, she could write an amazing fic like this x3
Mikyo :
Terima kasih atas dukungannya^^v
Sends :
Hohoho, ini datang dengan kecepatan penuh hanya untukmu...
Met liburan xD
Kujo Kasuza Phantomhive :
Iya aku udah r n r! Suka bangett...update lagi ya!
mayuyu :
Kuroro akan tetap mempesona x3
Akhirnya bisa istirahat jariii...haduhhhh D'x
Review please...^^
