DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.

GENRE :

Adventure & Romance

WARNING :

AR, FemKura, Indonesian version.


CHAPTER 21 : DIVINITY


"Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?" Kurapika bertanya dengan ragu sambil berjalan di belakang Seiryuu.

"Tentu. Tanya saja," kata pria itu santai. Karena dia memilih untuk menemani Kuroro dan Kurapika, dengan bijak dia memutuskan mengganti 'pakaian kebangsawanannya yang terlalu mencolok' dengan pakaian biasa. Dia bahkan merubah sedikit penampilannya menjadi lebih normal karena Kurapika dengan baiknya menunjukkan bahwa Seiryuu sudah memiliki suatu tanda atau ciri dalam penampilannya sebagai makhluk bukan manusia; kulitnya berwarna kebiruan.

"Kenapa kalian tidak menghabisi Jorou-gumo sebelum dia mengamuk dan membunuh orang-orang?"

"Yah, Nona, kami adalah Shishin; Makhluk Langit, bukannya semacam pekerja sosial. Walaupun dengan jujur kukatakan kami hanyalah para pesuruh bagi para Raja, Dewa dan Dewi di atas sana, tapi tugas kami benar-benar untuk mengamati manusia. Bukan untuk menolong manusia setiap kali mereka meminta. Pertolongan kami hanya diberikan pada saat-saat genting, berdasarkan penilaian para Raja di Surga. Kalau tidak, jika semua manusia itu terlalu bergantung pada kita, bayangkan betapa malas dan lemahnya mereka nanti. Belum lagi tumpukan pekerjaan yang akan kami dapatkan. Aku bermaksud menghindari hal itu," ia tertawa pelan di akhir penjelasan singkatnya.

"Jadi kenapa kau membantu kami?" Kali ini Kuroro yang bertanya.

Seiryuu menoleh, menaikkan sebelah alis matanya pada pria itu, tapi kemudian dia mulai tertawa lagi.

"Seperti yang kukatakan sebelumnya, kalian adalah orang asing di sini. Kalian tidak berada di bawah yurisdiksi kami. Bahkan, kami diberi ijin untuk menjaga kalian selama kami mau. Lagipula, kalian berdua bukanlah manusia murni, jadi bertambah lagi alasan bagi kami untuk secara pribadi turun ke sini dan melakukan sesuatu."

Seiryuu menyebut mereka 'bukan manusia murni' dengan sikap cuek hingga hal itu membuat Kurapika mereka tak nyaman. Dia teringat pada percakapan singkat di antara mereka setelah akhirnya Jorou-gumo terbunuh, dan ketika Byakko dan Seiryuu tiba-tiba muncul di hadapan mereka.

.

"Bukan...manusia murni?" Kurapika bisa merasakan darahnya membeku di dalam pembuluhnya.

Untuk beberapa alasan, dia tahu pria berwarna kebiruan itu tidak bercanda sama sekali. Entah kenapa, dia hanya tahu bahwa Seiryuu benar. Seiryuu tersenyum lebar kepada mereka, terlihat kehangatan dan kegembiraan di dalamnya.

.

"Itu karena darahku dengannya 'kan?" Kuroro akhirnya bertanya untuk menegaskan.

"Hm? Bagaimana kau tahu?"

"Kuzunoha memberitahuku," jawab Kuroro singkat dengan hati-hati.

"Kuzunoha-chan memberitahumu? Aw, dan di sini aku mencoba menakut-nakuti kalian," ucapnya sambil sedikit memanyunkan bibirnya.

Seiryuu melompat dari dahan pohon dan mendarat di tanah yang lembut dengan anggun bagaikan seorang penari. Ketika kakinya menyentuh tanah, gerakannya sama sekali tak menyebabkan sehelai daun kering pun bergeser dari tempatnya. Ia memberikan seulas senyum puas pada Kurapika, yang masih kebingungan.

"Kurasa aku membuatnya terkejut, ya?"

"Kau sungguh tidak sopan," kata Byakko, mengkritik pria muda itu. "Dan kau bahkan belum memperkenalkan diri!"

"Oh baiklah, perintah untuk memperkenalkan diri. Aku Seiryuu, Naga Biru Langit dari Timur. Senang bertemu dengan kalian."

Kurapika menatapnya. Sepertinya dia pria yang ramah dan santai. Seiryuu selalu menampakkan senyum di wajahnya yang kekanak-kanakan, dan perangainya sungguh santai terhadap mereka; tidak seperti Suzaku yang formal dan Byakko yang tegas. Seolah dia tak peduli pada dunia dan hanya bersenang-senang saja.

"Suzaku bilang kalian punya urusan di wilayahku. Kalian sudah selesai di sini, bukan? Ayo ikutlah, aku akan membawa kalian ke tempatku."

Dan itulah bagaimana akhirnya mereka langsung menuju ke suatu desa di wilayah Barat. Byakko memutuskan untuk tidak meninggalkan wilayahnya, meskipun alasan sebenarnya hanya karena dia tidak mau membuat dirinya lelah gara-gara ocehan Seiryuu yang bukan-bukan.


Wajahnya memucat, tapi Kurapika bilang tak ada kram perut seperti apapun yang bisa mengacaukan mood dan staminanya. Dia berjalan dalam diam, hanya setengah mendengarkan ocehan Seiryuu yang tiada akhir dan komentar serta pertanyaan yang kadang dilontarkan Kuroro. Ketika rasa sakitnya semakin memburuk, Kurapika pun semakin gelisah dan dia harus mencengkeram perutnya dengan kedua tangan walau memang hal itu sedikit mengurangi rasa sakitnya. Ketika akhirnya Kuroro menyadari gadis itu tertinggal di belakang mereka, dia berbalik dan menaikkan sebelah alis matanya melihat sikap tubuh Kurapika yang aneh.

Kurapika mendongak dan melemparkan tatapan tegas padanya, seakan mencoba menyampaikan pesan bisu melalui tatapannya yang dipenuhi rasa sakit. Kuroro menangkap pesan itu.

"Sudah waktunya?" Dia bertanya dengan suara yang terdengar setengah jengkel.

Gadis itu hanya mengangguk.

"Ada apa?" Tanya Seiryuu saat memperhatikan para tamunya berhenti beberapa langkah di belakangnya. Baru saja pertanyaan itu keluar dari mulutnya, dia mencium sesuatu; tak diragukan lagi, itu bau darah kotor.

"Bisa kau bawa kami ke sungai terdekat?" Kuroro bertanya, mengabaikan pertanyaan Seiryuu.

"Tentu, cukup dekat kok," Seiryuu menjawab sambil menunjuk ke arah tertentu. Dia menyelamatkan Kuroro dari rasa malu harus menjelaskan bahwa Kurapika tengah mengalami masa menstruasinya; Seiryuu mengetahui hal ini saat mencium bau darah kotor.

Dan karena itulah mereka beristirahat sebentar di dekat sungai. Sementara para lelaki berdiam di balik semak-semak, Kurapika memanfaatkan waktunya untuk membasuh bagian bawah tubuhnya dan membersihkan apapun yang perlu dibersihkan. Akhirnya Kurapika memutuskan untuk membasuh seluruh tubuhnya dengan air bersih. Dia menyimpan pakaiannya di tanah yang kering dan mulai membersihkan diri.

Suara gemerisik pelan semak-semak mengagetkan gadis itu. Dia berbalik dengan setengah marah mengira salah seorang dari pria itu mungkin mengintipnya; tapi sepertinya tidak. Satu-satunya yang dia lihat adalah seekor kucing putih sedang berkeliaran di sekitar pakaiannya. Kucing kecil itu menatap pakaian Kurapika ingin tahu, mengendusnya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Menyingkirkan kecurigaan awalnya sebagai peringatan palsu, dengan cepat dia melanjutkan menggosok badannya. Yang gagal diperhatikan Kurapika adalah ketika kucing itu pergi setelah memuaskan rasa ingin tahunya, seuntai kalung magatama tergantung di mulut binatang itu. Namun, yang paling penting adalah Si Gadis Kuruta tidak melihat ekor kucing itu terbelah dua di bagian ujungnya. Saat Kurapika mengenakan pakaiannya, ketika itulah dia baru menyadari bahwa jimat yang diberi Suzaku hilang. Dia terkesiap. Tiba-tiba Seiryuu melangkah keluar dari balik semak-semak.

"Hei, tadi-"

BUGG!

Dagunya diserang dengan kasar oleh Dowsing Chain milik Kurapika. Seiryuu tersandung dan jatuh telentang.

"Kubilang juga apa," ucap Kuroro sambil menghela napas ketika menyaksikan Seiryuu jatuh dengan mulus ke tanah.

"Kenapa sih?!" Kata Seiryuu geram sambil mengusap dagunya yang sakit.

"Pengintip! Kau mesum!" seru Kurapika. Sebenarnya, dia sudah selesai berpakaian ketika Seiryuu mendadak muncul. Hal itu terjadi hanya karena dia sedang tidak beruntung.

"APA?!" Seiryuu meraung marah. "Aku tidak mengintip! Aku baru saja merasakan kehadiran seorang youkai di sini!"

"Hanya ada seekor kucing yang lewat!"

"Kucing kau bilang?! Itu nekomata, Sialan! Periksa barang bawaanmu! Apa ada yang hilang?"

Kurapika membeku sesaat. Lalu mendadak dia memasang raut wajah netral.

"...Tak ada."

"Benarkah?" Seiryuu menatapnya curiga.

"Ya," dia berkata sambil memalingkan wajah. Kurapika enggan memberi tahu mereka bahwa jimat pelindungnya hilang. Yah, lagipula itu tak berbahaya karena jimat tersebut sama sekali tak berguna sebelumnya. Itu terbukti saat pertandingan berbahaya melawan Jorou-gumo; jimat itu hanya menjadi hiasan saja.


"Apa kau melakukannya dengan tepat seperti apa yang kuperintahkan?" Seorang wanita bertanya.

Dia merupakan suatu gambaran sempurna kecantikan klasik dengan nuansa oriental. Kulitnya seputih salju, rambutnya yang lembut dan tebal sehitam kayu eboni; berkilau dengan sinar yang sangat lembut saat cahaya menimpanya, bibirnya semerah darah segar; namun hatinya sehitam batu arang. Kimono dua belas lapisnya yang mewah dan rumit menutupi bahunya yang putih dan terlihat rapuh. Jemarinya bergerak anggun ketika dia memberi isyarat pada seekor kucing putih agar mendekat.

Seperti yang kau minta, Tamamo-no-Mae-sama, kucing youkai itu berkata sambil menjatuhkan jimat milik Kurapika di lantai di hadapan wanita itu.

"Bagus sekali," wanita itu tersenyum pada kucing tersebut dengan dingin, namun senyum itu sangat menyeramkan hingga si kucing pun gemetar. Kecantikannya sendiri cukup membinasakan untuk dilihat, tanpa menyebutkan senyumannya yang sangat dingin namun memikat.

"Tanpa jimat Baku yang menjijikkan ini, dia akan menjadi sasaran yang mudah," katanya sambil menjilat bibirnya dengan lembut. "Aku akan menembus keberhasilan yang gagal dicapai Jorou-gumo."

Si Nekomata melirik benda tertentu yang sudah mengalihkan perhatiannya. Benda itu berdiri di dekat wanita tersebut, di bawah pandangan matanya yang penuh kewaspadaan. Si Nekomata tahu bahwa benda tersebut adalah benda berharga yang baru saja berhasil didapatkan wanita itu; satu-satunya benda yang sudah pasti ia tak punya maksud untuk melepaskannya. Saat memperhatikan tatapan penasaran Si Nekomata pada benda miliknya yang berharga, wanita itu memberikan senyumannya yang bahkan lebih memikat dengan jahatnya.

"Aku akan mendapatkan matanya."

Sepasang Mata Merah menatap kedua youkai itu dengan tatapan kosong.


"Kalian lihat desa di sebelah sana? Mata Merahmu ada di sana. Entah bagaimana, Mata Merah itu berakhir menjadi benda yang dipuja warga desa. Seluruh desa menyembahnya seolah benda itu kiriman para Dewa di atas sana."

Mereka sedang berdiri di puncak bukit di mana mereka bisa melihat desa itu. Desa yang miskin; letaknya sangat jauh dari kota yang terakhir mereka kunjungi. Di balik kondisinya yang melarat, para warga terlihat cukup bahagia dengan hidup mereka.

"Kenapa benda itu bisa menjadi benda yang dipuja? Seharusnya itu benda yang hanya bisa dimiliki bangsawan; bukan warga desa yang miskin," Kuroro bertanya dengan sedikit merasa geli.

"Yah, aku mengerti kebingunganmu, tapi tanah ini masih penuh dengan perselisihan dan perang sipil di daerah perbatasan. Sangat berbeda dengan kondisi kota besar dan modern yang baru saja kau kunjungi. Sungguh, perbedaannya terlalu mencolok. Hanya saja mungkin para bangsawan akan kehilangan harta mereka jika membuat marah para petani. Kekuatan massa, kau tahu? Jangan pernah meremehkan mereka." Dia mengangkat bahu dan tertawa pelan, memperlihatkan perhatian yang sebenarnya ia miliki untuk kesejahteraan warga di sana.

"Apa yang kita lakukan sekarang?" Kurapika bertanya dengan sedikit bergumam. Dia menatap Kuroro penuh arti; satu tatapan yang bisa ditafsirkan pria itu ketika mendapati Si Gadis Kuruta sedang menatapnya.

"Aku tahu. Tidak mencuri." Kuroro berkata sambil mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah.

"Kenapa tidak? Bukankah kau pencuri?" Tanya Seiryuu dengan kegembiraan terlihat begitu jelas di wajahnya yang tampak muda.

"Dia sedang dalam kondisi tak bisa melakukan tugas apapun. Aku tak bisa berada terlalu jauh darinya." Kuroro mengangkat bahunya dengan cuek, setidaknya menunjukkan bahwa hal tersebut tidak mengganggunya.

"Hmm..." Seiryuu mengangguk, lalu tiba-tiba menyeringai lebar seperti Kucing Cheshire. "Kalau begitu inilah waktunya aku muncul."

Mengabaikan raut wajah Kuroro dan Kurapika yang bingung, Seiryuu mendekat dan membisikkan rencananya pada mereka. Mendengar rencana ini, Kuroro menaikkan sebelah alis matanya yang tajam sementara Kurapika menganga terkejut. Seringai Seiryuu bahkan menjadi lebih lebar lagi.


Semuanya sangat normal di desa itu, setiap orang melakukan pekerjaan mereka dengan penuh tanggung jawab sambil menikmati hidup seperti yang bisa dilakukan orang lain yang bahagia. Ketenangan ini hanya bertahan hingga gempa bumi yang belum pernah terjadi sebelumnya mendadak mengguncang desa, membuat warga menjadi panik. Namun, gempa itu bukanlah peristiwa paling penting yang terjadi pada hari itu. Yaitu kemunculan seekor naga biru di kuil sederhana desa tersebut.

Para warga terkesiap ketika naga itu meraung. Kepala raksasanya membungkuk dan mata topaz-nya yang besar mengamati seluruh desa seperti kamera pengawas.

Pendeta kuil itu, seorang pria yang sangat tua, tersandung keluar dari kuil dan bersujud dengan penuh hormat kepada naga tersebut.

"Seiryuu-sama!" Dia berkata dengan suara keras; cukup keras untuk bisa didengar oleh warga lainnya. "Atas kepentingan apa kau memberkahi kami dengan kemunculanmu?"

Si Naga Seiryuu mendengus keras dan menghembuskan asap dari hidungnya yang besar.

Perhatikan apa yang akan kukatakan, wargaku, dan kalian akan terhindar dari nasib buruk. Bencana telah menimpa Saikyo, kota besar. Karena kepemilikan atas sepasang mata itu yang penuh dengan warna api. Kembalikan mata itu ke tempat asalnya, atau kalian akan menderita!

Suara Seiryuu yang bergema terdengar ke seluruh desa, menimbulkan ketakutan dan rasa kagum ke hati semua warga. Semua jatuh berlutut dan mulai membungkuk dengan ketakutan dan rasa penghormatan yang mendalam.

"J-jadi apa yang harus kita lakukan?" Pemimpin tertua desa itu bertanya, dengan suara gemetar, tangannya yang lemah terlihat bergetar.

Dua orang pengembara dari negeri asing akan segera tiba di kota ini. Berikan Mata Merah itu pada mereka, dan kalian akan terhindar dari bencana besar. Perhatikan peringatanku, hai rakyatku yang baik.

Setelah berkata demikian, naga itu menghilang secepat kemunculannya. Keheningan memenuhi seluruh desa sebelum kekacauan terjadi. Orang-orang bergegas ke kuil dan meminta pendeta membawakan Mata Merah dan memeganginya sambil mereka menunggu di jalan masuk desa, mengantisipasi kedatangan 'dua orang pengembara dari negeri asing'.

Segera saja, seperti apa yang Seiryuu bilang sudah ia prediksikan, dua orang yang masih tampak muda berjalan menuruni jalan setapak yang menuju ke desa mereka. Tak diragukan lagi mereka memang berasal dari negeri asing seperti yang disebutkan Seiryuu-sama, melihat dari pakaiannya yang aneh.

Bahkan tanpa mengucapkan salam yang pantas pada mereka, Kepala Desa dan Si

Pendeta Tua bergegas menghampiri mereka dan memaksa keduanya membawa serta Mata Merah pergi dari sana, mengatakan bahwa itu ketentuan dari naga suci, pelindung tanah mereka.

Kurapika merasa seperti ingin menepuk keningnya karena kesal sementara Kuroro ingin tertawa gembira. Lalu Kepala Desa berkata bahwa mereka sudah menyiapkan kamar terbaik sebagai tempat bagi Kuroro dan Kurapika untuk bermalam, serta seluruh keperluan mereka akan disediakan juga. Kurapika merasa tak enak, namun orang-orang itu memaksa agar 'maksud baik' mereka diterima.

Tak mampu menahan rasa ingin tahunya, akhirnya pendeta menanyai mereka tentang Mata Merah. Kuroro memberinya senyuman yang lebih terlihat netral.

"Rasa ingin tahu merupakan hal baik, namun ada pengetahuan tertentu di mana mengabaikan keingintahuan itu akan menyelamatkanmu dari bahaya yang menyertainya."

Bagi para pendeta tua, kalimat Kuroro terdengar cerdas dan bijak, namun sayangnya itu hanya diucapkan untuk membuat Kurapika mendengus. Kata-kata yang manis, pikir Kurapika pahit. Namun, Kuroro mengatakan itu memang hal yang bijak, karena kata-katanya tak diragukan lagi akan menyelamatkan mereka dari pekerjaan membosankan; menjelaskan sejarah Mata Merah dan situasi mereka saat ini.

Mereka diantar dengan segala perilaku sopan yang dimiliki warga desa itu menuju ke 'kamar terbaik di desa.' Dan setelah entah berapa kali warga membungkuk dan bersujud dalam-dalam sampai ke tanah, akhirnya mereka pergi meninggalkan Kuroro dan Kurapika dalam ketenangan. Kurapika menghela napas sementara Kuroro tersenyum geli. Baru saja mereka menempati kamar itu, suatu sosok menyelinap masuk diam-diam.

"Sudah lama sejak terakhir kali aku melakukannya. Rasanya sangat menyenangkan." Seiryuu tersenyum kekanak-kanakan.

"Kau mengancam rakyatmu sendiri!" Kurapika berseru, malu oleh metode paksaan Seiryuu yang terlihat sangat memalukan.

"Aw, Kurapika-chan, manusia-manusia itu sungguh keras kepala dan pasrah pada intuisi mereka sendiri. Mereka tak akan melepaskan 'benda suci' demi alasan biasa apapun itu. Lagipula, kemunculan kami sesekali, para Shishin, juga perlu agar mereka terus teringat akan keberadaan kami."

"Biarkan saja, Kurapika. Kau tak punya hak untuk menilainya. Ini daerahnya, mereka adalah rakyatnya. Biarkan dia melakukan apa yang menurutnya pantas."

Sikap Kuroro yang cuek dan agak dingin seperti ini kembali mengingatkan Kurapika pada kekejaman pria itu terhadap nyawa orang dan nilai hidup mereka. Kebencian yang dulu mulai muncul kembali, membuat Kurapika merengut geram pada Kuroro. Merasakan mood Kurapika tengah menanjak naik ke tingkat yang paling buruk, Seiryuu berusaha menyelamatkan hari itu. Yah, setidaknya dia sudah mencoba.

"Kurapika-chan, sungguh kau terlalu muram. Tersenyumlah sedikit, ya?" Katanya ceria sambil mencubit kedua pipi gadis itu.

PLAK!

"Kenapa kau memukulku?!" Seiryuu mengusap pipinya yang sakit.

Kuroro hanya terkekeh melihat kemalangan Seiryuu.

"Gangguan mood bulanan. Selamat datang ke duniaku."


Kurapika pikir sepertinya dia benar-benar sial. Tidak hanya karena sedang menstruasi, tapi juga hal itu terjadi pada saat bulan baru; saat yang paling dia harapkan setiap bulan. Hanya saat itulah dia bisa menjauh dari pria yang (kadang) menyebalkan (walau sejauh ini dia tak pernah bisa menjauh darinya lebih dari enam meter), dan sekarang dia harus menghabiskan waktu menggulung diri di tempat tidur menahan rasa sakit di perutnya.

"Apa rasanya sesakit itu?" Tanya Seiryuu bingung.

"Coba saja," Kuroro mengangkat bahunya.

Kurapika berusaha mengabaikan kedua pria menyebalkan itu dan berusaha lebih fokus agar bisa tidur. Lebih cepat dia terlelap, lebih cepat juga dia menyingkirkan rasa sakit yang begitu berdenyut-denyut di perutnya, walau biasanya tidurnya akan segera terganggu karena rasa sakit yang tak tertahankan.

Tanpa dia ketahui, tidurnya kali ini akan menjadi tidur yang mencemaskan; suatu bencana.


"Kuroro, bangun."

Dengan cepat pria itu membuka matanya. Dia mendengar ketegangan di suara Seiryuu; ciri-ciri adanya kabar buruk. Kuroro beranjak dari kasur lipatnya dan perlahan menuju ke kasur lipat yang ditempati Kurapika. Seiryuu sudah merundukkan badannya di atas sosok Kurapika yang tak bergerak dan mengamati sesuatu lekat-lekat.

"Ada apa?" Bisik Kuroro pelan.

"Coba bangunkan dia," Seiryuu balik berbisik, walau tatapannya masih tertuju pada gadis itu.

Kuroro menaikkan sebelah alis matanya, merasa bingung atas perintah Seiryuu yang terdengar aneh. Seiryuu bisa saja membangunkan Kurapika sendiri tapi dia meminta Kuroro yang membangunkannya. Pasti ada alasan untuk ini. Kuroro memanggil Kurapika, dan dia tidak menjawab. Dia coba mengguncang bahunya pelan, tak ada tanggapan juga. Gadis itu terlihat tidur begitu nyenyak, dan tak bisa dibangunkan sama sekali.

"Apa yang terjadi?" tanya Kuroro lagi sambil mengernyit.

"Ini tidak bagus. Dia berada dalam pengaruh Nue. Kita tak bisa membangunkannya." Seiryuu menggelengkan kepalanya perlahan.

"Dan nanti apa yang akan terjadi padanya?"

"Jika kita membiarkannya seperti ini, dia akan tidur selamanya hingga hidupnya berakhir sendiri."

Aku tidak bisa seperti itu, pikir Kuroro pahit. Adanya kemungkinan yang suram di mana dia akan terjebak dengan Putri Tidur atau Sleeping Beauty yang ini (ya, dia mengakui Kurapika cantik, walau tidak termasuk sangat cantik) selama sisa hidupnya tidak sesuai dengan rencana yang ia miliki.

"Dia kehilangan jimat Baku-nya. Idiot. Nekomata itu pasti mencurinya," tuduh Seiryuu dengan suara pelan.

"Bisakah kau membuat jimat yang baru?"

"Membuat jimat Baku bukanlah bidangku," Seiryuu berhenti sejenak, dan segera menambahkan, "Tapi aku bisa mendapatkan jimat yang baru untuknya."

"Kalau begitu cepat dapatkan," desak Kuroro tak sabar.

Seiryuu merengut; dia tidak suka disuruh-suruh, walau itulah yang selalu dia dapatkan dari sesamanya.

"Aku akan segera kembali, sementara itu tugasmu menjaga Nue tetap sibuk. Dia ada di atap, aku bisa merasakannya seperti api unggun di padang pasir. Jangan membunuhnya karena Nue yang lain akan segera datang menggantikan yang mati." Dia berhenti bicara dan melirik Si Kuruta yang masih tertidur. "Bagi mereka, dia santapan yang sangat lezat."

Kuroro memicingkan matanya walau hanya sekilas namun raut wajah pria itu memperlihatkan perhatian yang sebenarnya dia miliki mengenai masalah ini. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Kemudian Seiryuu menggumamkan beberapa kata, yaitu mantra tertentu, dan tiba-tiba sebuah ledakan angin bertiup ke empat arah kamar itu. Lalu Kuroro memperhatikan terjadi sedikit perubahan di udaranya.

"Aku sudah menenun jaring penghalang. Warga desa tak akan memperhatikan keributan yang kau buat ketika mengatasi Nue itu. Pastikan gadis itu tidak keluar dari penghalang tersebut, mengerti?"

Kuroro tidak menjawab.

"Dan jangan biarkan dirimu terbunuh oleh Nue itu," Seiryuu menambahkan sambil menyeringai.

Kuroro mendengus sinis. "Kau tak perlu mengatakannya," ucapnya datar.

Setelah melambaikan tangan, Seiryuu terbang ke angkasa dan menghilang dalam gelapnya langit malam itu, seolah dia tertelan kegelapan seluruhnya. Kuroro bergegas keluar kamar dan melompat ke atap dengan mudah. Sebenarnya suatu pemikiran mengganggu pria itu tanpa henti : kenapa hanya dia yang diincar? Meskipun dia tak bisa merenungkan hal ini lebih jauh, karena apa yang dicarinya kini sudah berdiri di hadapannya.

Nue adalah makhluk yang aneh dan berpenampilan buruk rupa. Memiliki kepala monyet yang jelek dengan tubuh anjing rakun, berkaki harimau dan ular sebagai ekornya. Mengingatkan Kuroro pada chimera yang mereka temui beberapa minggu yang lalu atau mungkin beberapa bulan yang lalu. Ada asap hitam yang mengelilinginya, menambah suasana tidak menyenangkan yang disebabkan oleh kehadiran Nue. Meski berada di hadapan makhluk jahat, Kuroro tetap tenang. Seolah dia tumbuh berkembang dengan bahaya semacam itu.

"Di sini kau rupanya." Suaranya menggertak pelan dan seulas senyum seram menghiasi wajahnya yang dingin.


Kurapika merasa aneh. Dia tahu dia sedang tidur, tapi tidurnya gelisah. Dia terus bergerak-gerak dan dia merasa sekujur tubuhnya berkeringat. Akhirnya, sesaat kemudian, dia menyerah dan membuka matanya. Yang pertama dilihatnya adalah seorang anak lelaki berdiri di ambang pintu kamar. Kurapika berkedip beberapa kali untuk menjernihkan pandangannya, dan saat pandangannya sudah jelas, dia menyesal telah membuka matanya.

Itu kakaknya. Kakaknya yang tercinta. Namun di saat yang bersamaan, dia juga bukan kakaknya. Alasan pertama, dia kehilangan kepalanya.

Benar-benar ketakutan, Kurapika tersentak bangun ke posisi duduk, wajahnya pucat seputih kertas. Matanya segera berubah warna menjadi merah, menyala terang dalam kegelapan kamar itu. Air matanya mengalir tak terkendali, dan dia mulai terisak. Kurapika hampir menangis tersedu-sedu ketika tiba-tiba dia melihat kakaknya yang tanpa kepala itu menggendong sesuatu dengan hati-hati dalam pelukannya.

Gadis itu seakan pingsan saat melihat apa yang dipegangi tubuh pemuda tersebut; kepala kakaknya.

"A-Aniki-" Dia tersedak kata-katanya sendiri. Rasanya dia ingin muntah, tapi ia tutup mulutnya dengan sebelah tangan sementara tangan yang satunya menyokong tubuhnya.

Mata Merah kakaknya menatap Kurapika dengan tatapan yang aneh; seolah membujuk gadis itu untuk mengikutinya. Lalu kakaknya berbalik dan mulai melangkah keluar dari kamar.

"Aniki, tunggu-!"

Kurapika berusaha bergerak, tapi bahkan dia tak bisa pergi dari kasurnya. Sesuatu membatasi gerakannya. Saat dia menunduk melihat ke dadanya, barulah ia menyadari ada sesuatu yang berkilau di balik bajunya. Dia segera tahu itulah yang membuatnya tak bisa bergerak. Tanpa berpikir lagi, Kurapika merobek benda berkilau itu dari lehernya; itu adalah o-mamori dari Kuzunoha, dan membuangnya ke lantai tanpa berpikir.

Segera setelah dia mendapati dirinya bisa bergerak, dia bergegas keluar kamar untuk menyusul kakaknya. Dia mendapati pemuda itu berjalan pelan menjauh darinya. Panik, Kurapika berlari mengejarnya namun tak peduli seberapa cepat dia mengejar, dia tak pernah bisa mendekatinya. Seakan kakaknya itu terlihat semakin menjauh darinya; jauh dari jangkauan tangannya. Seolah dia tak bisa menggapai kakaknya itu selamanya.

Lalu Kurapika mulai menangis keras sambil berlari mengejarnya dengan lebih bersemangat lagi. Dia meneriakkan nama kakaknya dalam kesedihan yang teramat sangat; ratapannya menyayat hati walau tak ada seorang pun yang memperhatikan tangisannya.

Dalam kenyataannya, Kurapika yang berada di dunia nyata sebenarnya sedang berjalan terhuyung-huyung keluar kamar, keluar dari penginapan, menyusuri jalan yang lengang, keluar dari desa, masuk ke dalam bahaya yang jahat.


Nue itu berada beberapa meter jauhnya dari Kuroro, menggeram dengan ganas padanya namun tidak mencoba menyerangnya sama sekali. Yang dia lakukan hanyalah menghindari serangan Kuroro dan berkeliaran mengelilingi pria itu. Ketangkasannya menakjubkan dan Kuroro harus mengakui hal ini. Walaupun Kuroro tidak benar-benar mengerahkan seluruh kemampuannya dalam menghadapi youkai yang satu ini, karena tugasnya hanyalah mengalihkan perhatian makhluk itu dan tidak untuk membinasakannya, Nue itu sungguh lihai menghindari serangannya. Kuroro mengernyit memperhatikan hal ini.

Apakah dia ada di sini hanya untuk menyiksanya dengan mimpi buruk, atau... Dia mengernyit lebih dalam lagi. Apakah dia hanya berusaha mengalihkan perhatianku? Untuk mengulur waktu, mungkin?

Begitu kesadarannya ini tiba-tiba menghantam kepala Kuroro, En-nya melebar dengan tidak sabar. Nen-nya begitu bernafsu mencari ke daerah sekitarnya, dan benarlah yang ia takutkan, Kurapika menghilang. Kuroro langsung menyadari dia sudah salah menilai. Dia memicingkan matanya menjadi lirikan yang berbahaya dan melenturkan kedua lengannya.

"Yah, aku bukan satu-satunya yang bodoh di sini," dia berkata sambil tertawa hampa, suaranya datar dan dingin. "Sepertinya waktu bermain-main sudah selesai."


Kurapika bahkan berjalan lebih jauh dari daerah aman desa itu. Seorang wanita sudah menunggunya dengan sabar, mata merah tuanya menyala lapar saat tatapannya jatuh pada Si Gadis Kuruta. Tatapan itu semakin dalam saat dia melihat Mata Merah Kurapika yang menyala.

"Ooh..." Rayunya dengan penuh kasih. "Mata yang begitu indah. Tentu aku harus mendapatkannya menjadi milikku."

Tamamo-no-Mae memiringkan dagu Kurapika ke atas dengan jemarinya yang berurat dan mengamati wajah pucat mulusnya lebih dekat.

"Maafkan aku, Gadis Kecil. Aku tak punya dendam padamu, tapi salahkan dirimu sendiri memiliki mata yang sangat terkenal seperti itu," ucapnya lembut, seolah dia akan memeluknya dan bukannya akan mencongkel mata gadis itu.

Kurapika hanya memandangi wanita itu dengan tatapan kosong, meski matanya menyala merah terang. Tiba-tiba, Kurapika berkedip sekali. Tamamo-no-Mae terkejut melihatnya. Dalam sekejap, ini menunjukkan padanya bahwa Nue yang mengendalikan Kurapika memang sangat hebat. Sebelum mata itu kembali ke warna aslinya yang biru, dengan cepat Tamamo-no-Mae melenturkan jemari di tangan yang satunya lagi, siap mencongkel mata Kurapika. Namun, bahkan sebelum dia sempat menggerakkan tangannya, sesuatu yang berat dan keras memukul wanita itu tepat di wajahnya.

Jeritan Tamamo-no-Mae bergema di seluruh hutan, mengganggu para penghuninya dari tidur mereka yang lelap. Darah hitam yang hangat berceceran di seluruh wajah, rambut dan kimononya, namun bukan kekacauan dan darah kental itu yang membuatnya kesakitan; melainkan jimat o-mamori yang dililitkan di sebuah benda yang kokoh.

Segera setelah benda itu jatuh ke tanah, percikan yang menutupi wanita rubah itu menjadi tidak teratur. Ketika akhirnya Tamamo-no-Mae membuka matanya, mangsanya sudah menghilang dari pandangan. Merasa sangat marah, dia mencari ke sekitarnya dan segera mendapati Kuroro memegangi Kurapika yang tertegun di dalam pelukannya dengan aman.

"TERKUTUK KAUUUU!" Wanita dengan kecantikan yang teramat sangat itu memekik marah dan bermetamorfosis ke wujudnya yang sebenarnya; seekor rubah betina emas berekor sembilan. Mata merah tuanya memelototi Kuroro, terbakar kebencian dan dia memamerkan taringnya yang tajam pada pria itu dengan ganas.

Dari sudut pandang Kurapika, semuanya membingungkan dan tak bisa dimengerti; dia tak bisa memahami situasi yang melibatkan dirinya sekarang, dia tak bisa berpikir dengan benar. Dia hanya melihat tanpa pemahaman apapun yang mendatanginya. Kuroro, setelah menjauhkan gadis itu dari medan pertarungan, melawan wanita berpenampilan keji itu yang mendadak berubah menjadi rubah betina berpenampilan iblis. Salah satu lengannya tergantung tak berguna di persendian bahunya, jelas cedera akibat pertarungan sebelumnya. Sekali lagi, baju Kuroro semuanya sobek dan penuh darah, seperti saat dia diserang Jorou-gumo, walau sepertinya dia tidak begitu memikirkannya.

Kedua sosok itu tiba-tiba terlibat dalam pergerakan cepat yang memanas; saling pukul dan menghindari serangan. Kurapika tidak bisa mengikuti gerakan mereka dengan matanya; dia merasa begitu berat dan lamban. Bahkan dia tidak tahu siapa yang sekarang lebih unggul. Dia menangkap kilatan benda logam sekarang dan kemudian di tengah badai gerakan itu; Kuroro menggunakan pisau Benz-nya yang beracun melawan Tamamo-no-Mae walau dia terlihat kebal terhadap racun yang melumpuhkan.

Setelah beberapa saat berlalu namun terasa sangat lama bagai tak berkesudahan, awan hitam tiba-tiba berkumpul di atas mereka, menunjukkan suatu pertanda buruk. Keduanya mendongak terkejut, tapi kyuubi emas itu lebih terlihat ketakutan daripada terkejut. Dia tampaknya benar-benar ketakutan. Dalam sekejap, rubah betina emas berekor sembilan itu berbalik hendak pergi dari sana, namun sebuah petir menyerangnya tanpa ampun. Petir itu hampir saja menghanguskan Tamamo-no-Mae seluruhnya, tapi Kuroro bisa merasakan ada suatu wujud yang mengendalikan kekuatan petir itu.

Ketika ledakannya surut, yang terlihat hanyalah seekor rubah betina yang tertutupi luka-luka bakar dan tanah di sekitarnya hangus menghitam. Rubah betina itu masih hidup, walau sekarat, karena dia masih bergerak mengejang terus-menerus.

"Di sana kau rupanya!" Sebuah suara yang terdengar familiar menyapa telinga Kuroro, dan saat mendongak, dia hampir tak percaya atas apa yang dilihatnya.

Turun dengan anggunnya dari langit yang gelap adalah Kirin, dan mengikuti di belakangnya yaitu Suzaku dan Seiryuu dengan segala kemegahan surgawi mereka. Bentuknya seperti seekor kuda, namun tubuhnya tertutupi sisik keemasan dan bukannya bulu-bulu halus seperti layaknya kuda biasa. Mencuat dari keningnya sebuah tanduk tajam yang kuat. Wajahnya lebih terlihat seperti naga daripada kuda. Matanya yang berapi-api menyala, menatap semua yang ada di sekitarnya. Ketika Kirin mendarat dengan tanpa suara di hadapan Kuroro, pria itu memperhatikan bahkan rumput pun tidak menekuk saat bersentuhan dengan kukunya. Kuroro tak pernah berpikir dia akan bertemu Kirin di dalam hidupnya.

Yah, mengingat dia sudah bertemu dua jenis Phoenix, satu naga, satu manusia harimau, dan banyak lagi makhluk mustahil lainnya, dia mulai percaya bahwa apapun juga bisa terjadi dalam hidupnya.

Mengetahui kedatangan makhluk langit hanya bisa mengandung arti perdamaian pada akhirnya, Kuroro mengijinkan dirinya untuk rileks sebentar. Dia menepuk baju dan celananya dari debu sebelum berbalik melihat Kurapika yang masih tidak fokus. Dia masih terduduk di tanah, terlihat tersesat dan tak berdaya.

"Kau," ucapnya tajam, seolah dia bermaksud memarahi gadis itu, "Benar-benar berteman baik dengan masalah ya?"

Masih berada dalam kebingungan dan dengan pikiran berkabut, Kurapika hanya bisa menanggapi dengan kedipan mata.

"Oh tidak, lihat ini," Seiryuu mencolek kepala Nue dengan ujung sepatunya sedikit. Kepala itu berguling ke samping, meninggalkan jejak darah dalam kebangkitannya.

"Seperti yang diharapkan dari anak angkat Ishtar, bukan?" Suzaku tersenyum manis, tapi tampaknya menjengkelkan Kuroro.

Mendapatkan perhatianku bukanlah berarti bahwa kalian berdua tidak mampu menghadapi situasi ini dengan kekuatan sendiri. Kirin mendadak bicara, suaranya terdengar anggun dan berkarisma.

Kuroro tak menjawab. Kurapika memutar kedua bola matanya; makhluk lain yang seperti Chiron. Dia akan mengalami kesulitan dalam memahami perkataannya. Bagus sekali.

Meskipun itu hanyalah sejumput fakta semata, namun oleh sebab itu pernahkah kalian, katakan, memberikan berkah yang diperlukan pada sesama semasa hidupnya?

Kali ini, jelas dia menegur Kuroro. Kuroro tahu yang dimaksud Kirin adalah peristiwa waktu itu di Saikyo. Dia hanya menyeringai.

"Bukankah kami hanya setengah manusia di matamu?"

Kirin melakukan gerak tubuh yang bisa ditafsirkan sebagai kernyitan tidak senang, jika Kirin memang bisa mengernyit. Dia tidak menyukai jawaban Kuroro yang kurang ajar. Secepat kilat, Kirin sudah mengarahkan tanduknya ke leher Kuroro, ujungnya yang setajam silet menggores leher Kuroro yang bagai porselen dengan lembut, tepat di mana pembuluh darah arterinya berada. Mata Kurapika membelalak; dia pernah mendengar bahwa pada umumnya Kirin itu makhluk yang ramah, walau bisa menjadi ganas pada kondisi tertentu. Secara fisik dia bisa merasakan ketidaksukaan Kirin terhadap Kuroro yang nyaris langsung terjadi begitu saja.

Kirin adalah makhluk keadilan. Mungkinkah itu terjadi karena dia tahu pria ini seorang penjahat? Kurapika merenung.

"Sudah, sudah, Kirin-sama. Kau tahu betul dia hampir kehilangan nyawanya waktu melawan Jorou-gumo, dan sekarang dia juga menderita patah tulang akibat pertarungannya dengan Nue. Bukankah dia sudah cukup menerima hukuman untuk kesalahannya?" Suzaku berkata dengan lembut, seolah berusaha menenangkan emosi Kirin yang naik, karenanya mungkin bisa menyelamatkan nyawa Kuroro.

"Bukankah kau Kirin-sama yang penuh kebaikan?" Seiryuu, lagi-lagi dalam usahanya untuk menyelamatkan hari itu, dengan penuh maksud menekankan kata penuh kebaikan. "Tunjukkan kemurahan hatimu pada mereka, Tuanku."

Setelah hening sesaat, Kirin akhirnya menyerah pada bujukan kedua bawahannya. Sambil mendengus, dia menjauhkan tanduknya yang berbahaya dari leher Kuroro.

"Jika kau memang sekuat seperti yang dikatakan orang, disembah seperti bagaimana layaknya Tuhan disembah, lalu kenapa tidak membuktikannya dengan menghancurkan belenggu yang sudah mengganggu kami ini?" Tanya Kuroro tenang.

Kirin menatapnya tajam dengan matanya yang berwarna keemasan bagaikan bara api yang bersinar.

Nak, jangan mengejekku. Dia mendengus. Kutukan yang diberikan kepada kalian berdua sungguh merupakan sesuatu yang teramat mudah bagiku. Aku tak diperkenankan, walau dengan alasan apapun juga, menghancurkan belenggu yang bukan berasal dari negeri ini, dan itu pun tidak berada di bawah yurisdiksiku. Aku sama sekali tak memiliki hak untuk mencampuri segala urusan di luar dari negeri tempatku berasal.

Kurapika memicingkan matanya dan suasana suram segera menaungi dirinya. Dia pun punya harapan sendiri, namun harapan itu langsung harus disingkirkan jauh-jauh.

Perhatikan kata-kataku, Nak, oleh karenanya kalian harus bersikap bijak dalam melakukannya. Hancurkan belenggunya, tetaplah berharap dan sejak itu kalian menanggung beban ini sendiri di pundak kalian untuk menjelajahi dunia mencari makhluk gaib yang berasal dari negeri yang sama dengan asal kutukan itu. Ini adalah hukum yang harus senantiasa kupatuhi, dari mana pun asalnya dan tak peduli di mana daerah kekuasaannya. Kirin menjelaskan, suara batinnya terdengar datar dan monoton.

Kuroro mengernyit. Ishtar tak pernah menyebutkan hal ini.


"Genbu, Kura-kura Hitam dari Utara, akan mengantar kalian ke negeri tetangga. Sampai jumpa di sana." Seiryuu menjelaskan sambil berbaring di atas lantai tatami di di penginapan tempat mereka bermalam. Kuroro dan Kurapika sudah selesai dengan urusan mereka mengumpulkan Mata Merah di negeri itu; saatnya bagi mereka untuk pindah. Seiryuu dan Suzaku memutuskan ikut untuk bersenang-senang; dan mereka sudah bersenang-senang dengan menjahili Kuroro dan Kurapika. Seiryuu sering menjahili Kurapika dengan menggodanya; sementara Suzaku mengincar Kuroro sebagai mangsanya yang sial. Walaupun perlu banyak usaha untuk bisa mengganggu pria yang dingin itu.

Ketika malam datang dan kedua manusia itu sudah pergi tidur, Suzaku tetap terjaga. Seiryuu tak pernah berhenti membuatnya ingin tertawa, bahkan setelah berabad-abad mengenalnya; di sanalah dia sedang mendengkur pelan, tertidur nyenyak sementara sebenarnya dia tak perlu tidur sama sekali. Setelah yakin bahwa Kuroro dan Kurapika sudah tidur lelap, Suzaku menghampiri mereka berdua dan berbisik,

"Keluarlah Hassamunnin, ini Suzaku ingin berbicara secara pribadi denganmu."

Segera saja, belenggu merah yang mengikat Kuroro dan Kurapika berkelap-kelip. Setitik cahaya kecil berwarna biru muncul dan mengeluarkan diri dari belenggu merah itu. Melayang ragu di atas kedua sosok yang tengah tertidur itu, sebelum berubah wujud menjadi wujud yang nyata berupa jin yang tampak seperti anak kecil.

Salam, Tuan Suzaku. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu secara pribadi. Jin itu membungkukkan badannya dalam-dalam.

"Justru aku yang senang," Suzaku balas menyapa dengan sopan. "Alasanku memanggilmu tengah malam begini adalah karena ada yang harus kutanyakan mengenai mereka berdua. Selama ini aku ingin tahu : apa pendapatmu mengenai hubungan mereka?"

Hassamunnin terperangah secara terang-terangan pada pria yang terlihat feminin dan mengenakan pakaian bergaya oriental itu.

Tentunya, Tuan Suzaku, Anda menanyakan pertanyaan yang sudah jelas diketahui apa jawabannya. Bahkan tanpa kuberitahu, Anda pasti sudah melihat dan memahami hubungan mereka, bukan?

"Yah, Hassamunnin, aku hanya ingin penegasan. Kau terus bersama mereka, mengikat mereka satu sama lain. Bagaimana kau melihat dalamnya hubungan mereka? Sebagai orang ketiga dalam tim yang menyatakan diri sebagai musuh, pasti kau yang paling tahu." Suzaku tersenyum, namun ada kesan kekuasaan dalam nada suaranya.

Apa kau ingin mendengar yang sebenarnya, atau kau ingin mendengar apa yang ingin kau dengar? Jin itu menyeringai nakal padanya.

"Apakah pertanyaanku kurang jelas?" Suzaku berkata, bibirnya membentuk suatu garis lurus.

Hassamunnin menelan ludah dengan gugup. Kedudukan Suzaku lebih tinggi daripada dirinya, dan terlebih lagi saat ini dia berada di negeri Suzaku, jadi dia harus tunduk pada perbuatan dan perintah pria itu. Menghela napas berat, dia memberitahu semua pendapatnya mengenai Kuroro dan Kurapika; dengan sejujur-jujurnya.

Kau tahu, mereka berdua tak ada harapan. Pria bernama Kuroro ini masih belum menyadari perasaan sukanya yang tumbuh pada gadis itu. Dia benar-benar bodoh dalam hal ini, mengingat kecerdasannya dan semua kelebihan lainnya, sementara Si Gadis masih menyangkal kenyataan yang sudah jelas terlihat, bahwa Kuroro memang peduli padanya. Mereka itu benar-benar orang bodoh!

Jin tersebut mengatakan semua itu seperti semburan senjata api. Dia lebih terdengar seperti sedang protes daripada menjawab pertanyaan Suzaku. Suzaku hanya tertawa pelan.

"Cukup tepat. Tapi meskipun begitu, menurutmu apa yang mereka butuhkan? Tak bisa seperti ini terus selamanya, sesuatu harus berubah."

Tuan, tentunya kau mengerti mereka tidak berada di bawah perwalianmu dan kau tidak bertanggung jawab atas mereka, bukan? Kenapa kau bersusah payah meningkatkan hubungan mereka? Kalau mereka saling bunuh atau apa, itu seharusnya bukan urusanmu, benar 'kan? Jin itu bertanya dengan kernyitan dalam menggores halus keningnya yang botak. Dia memiringkan kepalanya, tidak mengerti hasrat Suzaku untuk ambil peranan dalam urusan kedua manusia itu.

"Yah, anggap saja aku tergugah membantu mereka sejak pertama kali aku mendengar masalahnya?" Dia menjawab sambil menyeringai.

Tidak masuk akal. Apa kau yakin mau membantu mereka? Yang kau anggap bantuan bisa saja menjadi masalah bagi mereka, kau tahu? Jin itu mendengus, merasa senang mengejek Suzaku.

Suzaku hanya tersenyum. "Kalau begitu, menurutmu seharusnya bagaimana?"

Hassamunnin merengut padanya, meski ia tetap memberitahukan pendapatnya.

Mereka tak punya dasar yang kokoh yang membuat mereka bisa membangun hubungan baru di atas hubungan lama yang pahit. Sebagian besar masalahnya datang dari gadis bodoh itu. Dia masih mengalami trauma yang mendalam dan bekas lukanya mungkin membutuhkan waktu lebih dari beberapa tahun agar sembuh sepenuhnya. Hanya perlu sedikit saja provokasi untuk membangkitkan gejolak kemarahan gadis itu mengenai kematian sukunya, Jin itu bicara ceplas-ceplos sambil mengangkat bahu kecilnya cuek.

"Dasar yang kokoh, hah? Mengingatkanku pada percakapan yang kudengar dari dua orang wanita yang sedang bergosip."

Kau, menguping wanita yang sedang bergosip? Jin itu memberinya tatapan ragu, namun Suzaku melanjutkan kalimatnya seolah dia tak mendengar tanggapan Hassamunnin yang mencelanya.

"Mereka bilang hanya anaklah yang menjadi dasar yang kokoh dalam suatu keluarga."

Tunggu sebentar, kau tidak bermaksud untuk... Hassamunnin terlihat tidak setuju dengan Phoenix yang ada di hadapannya itu.

"Jika kau memikirkan seperti apa yang kupikirkan; di mana kuanggap memang begitu adanya, kau pasti tahu dengan tepat apa yang kumaksudkan," Suzaku memberinya seulas senyum penuh teka-teki, dan mengakhiri percakapan kecil mereka.


Esoknya, siang hari mereka sudah sampai di pesisir. Dengan cepat Seiryuu berlari menuju ke pantai seperti apa yang kiranya akan dilakukan seorang anak kecil. Kuroro dan Kurapika melihat ke sekitarnya; tak ada tanda-tanda kehidupan di sana, hanya pantai yang kosong. Kosong mungkin bukan kata yang tepat; sepertinya murni adalah kata yang cocok. Pantai berkilau putih, pasir yang tak ternodai tangan manusia.

"Heeeei, Genbu! Pria tua, di mana kau?!" Seiryuu mulai berteriak lantang, sambil menendang butiran pasir tanpa berpikir.

BUGG!

Suara senjata tumpul yang memukul kepala Seiryuu begitu keras hingga semua mata langsung terarah ke tempat di mana suara itu berasal. Tiba-tiba, seorang pria tua dengan punggung bungkuk sudah berdiri menjulang lebih tinggi dari Seiryuu, yang terlihat lebih tinggi lagi karena Seiryuu tengah memegangi kepalanya yang teraniaya. Pria tua itu memiliki cangkang kura-kura hitam purba di punggungnya, memakai pakaian kuno dan memegangi tongkat bengkok dari kayu. Janggut putih kelabu menggantung di wajahnya seperti tirai kusut, sedikit menyapu pasir saat dia bergerak.

"Pemuda kurang ajar! Begitukah sikapmu pada yang lebih tua, hah? Si bodoh yang tak tahu malu! Memanggilku pria tua sementara kau sendiri hanya lebih muda beberapa dekade di bawahku! Pemuda zaman sekarang, mereka mendewakan penampilan yang muda sementara tidak memperhatikan nilai yang sebenarnya dari kebijaksanaan!"

Meskipun penampilannya kuno, pria tua itu merupakan orang yang sulit ditangani. Dia memukul Seiryuu berkali-kali dan tanpa ampun dengan tongkat kayu oak-nya, mencaci-makinya dengan kejam sepanjang waktu itu.

"Sakit! Pria tua! Ow, ow! Berhenti memukuliku dengan tongkatmu!"

"Genbu-san, jika kau terus melakukannya, kau akan menghancurkan kepalanya. Kalau dia sampai amnesia karena perbuatanmu, bayangkan bencana seperti apa yang akan ditimbulkan nanti," kata Suzaku dengan lembut sambil mendekati mereka berdua yang sedang bertengkar itu.

"Oh, kau benar! Benar sekali, Suzaku! Oh Dewa, kapan pemuda ini akan belajar tentang kebijaksanaan, hah?" Genbu menggelengkan kepalanya seolah merasa sangat kecewa.

"Tidak adil! Suzaku selalu menjadi favoritmu! Itu sebabnya kenapa kau selalu menganiayaku! Aku harus menggugatmu atas tuduhan penganiayaan anak!" Seiryuu menarik janggut pria tua itu dengan kasar.

Kemudian mereka berdua mulai terlibat pertengkaran yang kekanak-kanakan. Meninggalkan Suzaku sendirian, tertawa terbahak-bahak melihat tontonan itu. Kuroro dan Kurapika tidak tahu harus bagaimana. Kurapika ingin tertawa karena mereka berdua mengingatkannya pada Killua dan Gon ketika mereka bertengkar karena berbagai alasan yang kekanak-kanakan; Kuroro pikir mereka berdua seperti orang bodoh saja.

"Abaikan saja. Ini hanya salah satu dari rutinitas sehari-hari mereka," ucap Suzaku sambil mengipasi wajahnya yang memerah (karena tertawa) dengan tangannya sambil menghampiri mereka lagi. "Oya, sebelum kalian pergi, bawalah ini bersamamu."

Suzaku memberi mereka sehelai bulu bercahaya yang terlihat seperti bulu burung merak merah.

"Ini salah satu bulu milikku. Akan berguna nanti tak lama lagi," ia menoleh pada Kuroro, "Dan aku yakin kau akan tahu kapan saat yang tepat untuk menggunakannya."

Kuroro menaikkan sebelah alis matanya mendengar arti yang tersirat di kata-kata Suzaku, namun meskipun begitu dia mengambil bulu tersebut tanpa berkata apa-apa dan memasukkannya ke dalam ransel. Tak lama, mereka bisa melihat Genbu berjalan terhuyung-huyung ke arah mereka bersama Seiryuu yang habis dipukuli mengikuti di belakangnya.

"Ah, kita pergi sekarang? Siap berlayar, orang muda?" Dia menyeringai pada mereka seperti apa yang akan dilakukan seorang pria tua jenaka.

"Kapan saja," jawab Kurapika.

Genbu mengangguk puas, dan kemudian dia kembali berjalan terhuyung-huyung ke pesisir. Ketika memasuki lautan, dia mulai berubah wujud menjadi kura-kura hitam raksasa, seperti julukan yang dimilikinya.

"Melompatlah ke punggungnya. Semoga dia tidak melemparkanmu ke dalam lautan," kata Seiryuu sambil menyeringai nakal, ditujukan kepada Kurapika.

Wajah Kurapika memucat, dan hal itu tak luput dari pengamatan Kuroro yang jeli. Lalu dia mencatat dalam hati : Kurapika Kuruta tak bisa berenang.


Semua di sekeliling mereka berwarna biru mengagumkan; tidak heran, mereka berada di dalam air tapi karena berkah yang dimiliki Genbu mereka terlindungi sihirnya, membuat mereka mampu bernapas di dalam air. Mereka menikmati perjalanan pendek itu, dengan segala kekayaan samudera memanjakan mata mereka, ketika tiba-tiba Genbu berhenti berenang maju dan malah mengambang di air yang hangat.

Seolah menjawab aba-aba yang ditujukan kepada mereka, baik Kuroro maupun Kurapika sama-sama mendongak dan melihat sesuatu yang sangat aneh.

Oho? Sepertinya ini dia, kura-kura yang terlihat purba itu bergumam.

"Artinya?" Kurapika bertanya sambil terperangah pada seorang pria raksasa yang mengambang di dalam air, memegang sebuah trisula di tangannya. Pasti raksasa itu tidak akan mencabik-cabik mereka dengan trisulanya 'kan?

Saatnya mengucapkan selamat tinggal, Anak-anak.

Tanpa peringatan apapun, tiba-tiba Genbu membuang mereka dari punggungnya yang bercangkang keras. Dalam sekejap, Kuroro dan Kurapika mendapati diri mereka basah kuyup dan tak bisa bernapas, seperti apa yang seharusnya terjadi jika mereka berada di dalam air. Kurapika langsung panik ketika dia ditelan kegelapan samudera yang luas. Membuatnya teringat pada hari yang menyeramkan ketika dia menerjunkan dirinya ke laut berusaha kembali ke tempatnya untuk mencari kakaknya. Itu adalah bagian dari kenangan tak menyenangkan yang tanpa disadari telah dihidupkan kembali oleh ucapan Seiryuu yang sembarangan.

Dengan penuh ketakutan dia menggerak-gerakkan kedua lengan ke sekelilingnya seperti orang gila. Kuroro berusaha menenangkannya, tapi dia malah diberi pukulan dan cakaran oleh Si Gadis Kuruta. Tiba-tiba, saat Kuroro baru saja akan memutuskan untuk membuat gadis itu tak sadarkan diri guna memudahkannya, mereka dikelilingi cahaya yang lembut. Kuroro merasa adanya tarikan ketika mereka naik dengan cepat menuju ke permukaan.

Dalam sekejap, mereka mendapati diri mereka terhempas ombak ke pantai. Mereka tersandung, bertumpukan secara berantakan; Kuroro berada di atas Kurapika (untuk yang kesekian puluh kalinya dalam perjalanan mereka bersama) dengan pasir yang mengacaukan sekaligus menjadi bantalan bagi mereka di saat yang sama. Butiran pasir yang kasar masuk ke mulut mereka, membuat keduanya terbatuk-batuk.

Segera setelah Kuroro menyingkirkan pasir dari mulutnya, dia mendongak. Matanya yang gelap tertuju pada sosok berkabut yang melayang di atas lautan. Melihat pria raksasa itu dari pantai di bawah cahaya matahari yang terang, Kuroro mampu melihat sosok pria itu secara keseluruhan. Seluruh kulitnya berwarna biru dan licin, serta tak ada ekspresi apapun di wajahnya. Janggutnya menggantung di dagu seperti rumput laut biru yang kusut. Pakaian yang ia kenakan adalah satu-satunya yang memberikan informasi mengenai asal pria itu.

"Manannan mac Lir." Kuroro berbisik sambil mengernyit.

Laut tiba-tiba bergemuruh ganas, seolah mengumumkan datangnya tsunami atau badai. Manannan mac Lir, salah satu Dewa Laut yang terkenal, kembali ke tempat tinggalnya di laut yang dalam. Dia bahkan tidak bicara sepatah kata pun pada mereka atau menyapa. Sungguh teman yang tidak ramah.

Kurapika akhirnya terbatuk, memuntahkan air laut dan pasir dari mulutnya. Dia benar-benar berantakan; sekujur tubuhnya basah dari ujung kepala sampai ujung kaki; rambut pirangnya kusut, bajunya basah dan menempel ke tubuhnya, dan dia merasa sangat kedinginan. Pantainya berangin, dan itu membuatnya dingin. Dia tak mau sampai terserang demam. Rasanya sudah cukup dia jatuh sakit dan dirawat oleh Pemimpin Geng Laba-laba terkutuk itu.

Kuroro, Kurapika!

Sebuah suara yang terdengar familiar menyapa mereka sebelum Kurapika sempat menggerutu seperti yang biasa ia lakukan ketika sedang benar-benar kesal. Saat gadis itu mendongak, dia merasa harinya berubah menjadi lebih baik. Dengan senang, Una berlari kencang ke arah mereka; pasir beterbangan di belakangnya.

"Una!"

Una menyelipkan kepalanya ke dalam pelukan Kurapika, meski tetap berhati-hati supaya tidak menusuk gadis itu dengan tanduknya. Dia menjilat wajah Kurapika dengan gembira, lalu beralih kepada Kuroro dan melakukan hal yang sama padanya. Walaupun Pemimpin Geng Laba-laba itu tidak keberatan dengan apa yang dilakukan Una, dia harap Kurapika tidak sedang menatapnya dengan semacam ekspresi mengejek tampak di wajah gadis itu. Dia tahu Kurapika menikmati dengan hati senang, menyaksikan Kuroro jadi sedikit merona karena siraman kasih sayang Una yang sukar dihentikan kepada pria itu.

Kurapika biasanya melakukan hal itu hanya untuk membuat Kuroro jengkel, namun saat ini pikiran itu tidak terlintas di benaknya. Hal itu menjadi kebiasaan Kurapika begitu saja; dan kebiasaan sukar dihilangkan.

"Dia sudah menunggu kedatangan kalian berhari-hari."

Sebuah suara menarik perhatian mereka dan keduanya menoleh kepada pemilik suara bass tersebut. Sementara Kurapika terlihat waspada, Kuroro lebih terlihat terkejut. Dia mengenali suara itu. Rupanya, takdir menyimpan lebih banyak kejutan untuknya.

Di sana, di pinggiran hutan yang berbatasan dengan pantai, dua orang pria berdiri santai. Sepertinya mereka teman seperjalanan. Kuroro tak bisa menahan diri untuk tidak sedikit terperangah ketika matanya tertuju kepada mereka.

Pria yang satu memiliki wajah yang terlihat muda dengan tatapan yang menunjukkan bahwa dia haus akan petualangan. Dia memakai sorban, membungkus sebagian besar rambutnya tapi beberapa helai rambutnya yang hitam pekat lolos dari ikatan sorban itu. Mengenakan pakaian yang praktis dan dia terlihat tenang. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku.

Yang seorang lagi adalah pria dengan kulit berwarna ochre gelap. Rambutnya panjang tidak diikat, terlihat seperti tidak pernah digunting selama beberapa tahun, malah mungkin beberapa dekade. Dia tersenyum tak tahu malu meski wajahnya seram. Rambutnya berwarna emas platina, sangat kontras dengan rambut temannya dan rambutnya sendiri. Pakaiannya minimal, hanya berupa sehelai kain yang menutupi sebagian besar kulitnya dengan baik.

Mereka sudah menemaniku sejak beberapa hari yang lalu, Una memberitahu mereka.

Sementara itu Kuroro masih menatap kedua pria itu seolah dia sedang melihat hantu. Kurapika mengernyit melihatnya.

"Ada apa?" Dia bertanya dengan hati-hati. Melihat dari bahasa tubuh mereka, sepertinya mereka tidak bermaksud jahat. Una pun sepertinya menerima mereka.

Kuroro akhirnya membuka belahan bibirnya dan dua kata keluar dari mulutnya seperti bisikan hantu.

"Ging. Anansi."


TBC


A/N :

Oke, sebelumnya aku mau kasih pengumuman dulu, bahwa ijin untuk translate sekuel 1001 Nights udah dapet xD Thanks a lot, Runandra-senpai!

Yup, langsung aja ke balasan review chapter lalu ya :

Mikyo :

Yup, sekarang jadi tambah seru!

Hohoho, jadi suami istri? Kita lihat di sekuel selanjutnya!

Makasih xD

Sends :

Ahaha, iya untung ada Natsu waktu itu xDa

Hm...sebenarnya update kali ini rasanya agak lambat karena kerjaan kantor lagi sibuk, capek jadinya cepat tidur deh

Semoga fic ini bisa menemani liburanmu, hehe!

Nekomata Angel of Darkness :

Nah, di chapter ini Kirin sama Nekomata muncul dua-duanya. Gimana? XD

mayy :

Halo, salam kenal dan KuroPika FOREVER juga xD

Iya aku usahakan update seminggu dua kali. Untuk fic yang lain, secara bertahap aku lanjutkan kok. Makasih ya :)

Shizuku M2 :

Iya aku juga suka yang itu sama yang pas Kuroro mainkan rambutnya Kurapika.

Tentang pertanyaan kedua, di chapter depan bakal muncul tuh :D

Kujo Kasuza Phantomhive :

Ayo update lagi Hunter Theater! Ramaikan KuroPika lagi Dx

Yup, betul sekali karena darah Ishtar... Hehe


Semuanya, jangan lewatkan chapter depan ya

Akan terjadi sesuatu, hehe

Review please... ^^