DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.
GENRE :
Adventure & Romance
WARNING :
AR, FemKura, Indonesian version.
CHAPTER 22 : FAIRY TALE COMES INTO LIFE
"Kuroro, anakku! Oh, lihatlah sudah betapa dewasanya kau sekarang!"
Pria jangkung dengan kulit berwarna ochre gelap dan rambut pirang platina menyerbu Kuroro dengan kedua lengannya yang terbuka lebar, tapi akhirnya dia hanya memeluk udara kosong. Di menit terakhir, Kuroro menghindari 'pelukan'-nya. Si pria jangkung memberinya tatapan puppy eyes yang berkaca-kaca.
"Sudah hampir lima belas tahun berlalu sejak terakhir kali kita bertemu dan sekarang kau memperlakukan ayahmu seperti ini?"
Kurapika langsung terperangah sementara Kuroro mengernyit dalam-dalam.
"A-Ayah?" Kurapika berkata dengan kengerian terdengar di nada suaranya.
"Hentikan, Anansi. Jangan pergi berkeliaran dan membuat pernyataan yang salah, terutama mengaku-aku sebagai ayahku. Itu menjengkelkan," ucap Kuroro tegas, jelas sekali dia merasa tidak senang.
Pria itu memanyunkan bibirnya.
"Kau sudah tidak lucu lagi. Dulu kau manis sekali." Perlahan dia menghampiri Kuroro dan sebenarnya ingin mengacak-acak rambut Kuroro yang hitam dan basah (ya, dia masih basah kuyup dari ujung kepala sampai ujung kaki). "Tapi kau akan selalu menjadi anakku, 'kan?"
"Hentikan. Aku bukan lagi anakmu," Kuroro mendorong Anansi agar menyingkir. "Aku akan berumur 27 tahun ini."
Berbicara tentang umur, membuat Kurapika teringat akan hari ulang tahun. Dia baru saja ingat sebentar lagi ulang tahunnya. Yah, tapi bukan berarti hari ulang tahunnya sebentar lagi atau pun masih lama ada bedanya 'kan? Lagipula hari ulang tahunnya sudah menjadi sesuatu yang agak sepele dalam hidupnya. Apa artinya merayakan hari ulang tahun ketika orang-orang yang berperan dalam kelahirannya sudah tiada? Sebenarnya, mereka telah pergi untuk selamanya.
Sesaat, ingatannya tertuju pada teman-temannya; Leorio, Gon, Killua, dan Senritsu. Bahkan Bashou. Pasti akan menyenangkan merayakan ulang tahunnya bersama mereka. Namun, pikiran itu segera ia singkirkan begitu dia tahu betul membayangkan sesuatu seperti itu merupakan kesalahan.
"Dua puluh tujuh! Oh Sayang! Jadi ini pasti pacarmu, 'kan? Benar? Lagipula memang sudah waktunya kau mencari pacar!"
Dengan cepat Anansi berbalik menatap Kurapika, atau lebih tepatnya, seperti Kuroro diam-diam menyebutnya, mengincar gadis itu sebagai korban selanjutnya.
"Halo, Sayang. Senang bertemu denganmu. Wah, wah, anakku memang jeli memilih wanita, ya?"
"Anansi, dari tatapan yang diperlihatkannya pada kita, aku kira dia bukan pacarnya. Bahkan, kurasa dia jauh dari itu."
"Benarkah? Aw, sayang sekali. Bukankah dia gadis paling manis yang pernah kita lihat?" Anansi berkata sambil menepuk pipi gadis itu perlahan dengan tangannya yang seperti laba-laba, menunjukkan kegembiraannya secara terang-terangan.
Kurapika masih sangat terkejut, dikonfrontasi oleh seorang pria yang sangat aneh tanpa peringatan apapun sebelumnya, hingga dia tak bisa membalas diperlakukan seperti anak-anak begitu. Dalam kondisi normal, dia pasti menggeram marah, memperingatkannya agar tidak memperlakukan dirinya seperti anak-anak.
"Terus terang, kurasa kau yang harus sedikit lebih dewasa," kata Ging sambil sedikit menusukkan ujung jarinya ke dada Anansi, menuduh pria itu.
"Jangan kejam begitu padaku, Ging," Anansi merengut padanya; sepertinya itu hal yang biasa dia lakukan.
Mendengar nama 'Ging', bayangan Gon langsung berkelebat di benak Kurapika. Semua kebingungannya terlupakan, segera menoleh dan menatap pria itu tajam.
"Kau ayahnya Gon Freecs, bukan?"
Ging menaikkan sebelah alis matanya, demikian pula halnya dengan Kuroro. Sementara itu, Anansi, tak mengerti apapun seperti bayi saja.
"Jadi dia ayahnya Gon? Tak heran mereka begitu mirip," Kuroro mengangguk pelan saat suatu penjelasan akhirnya membuat dirinya mengerti.
"Kalian berdua mengenal putraku?" Ging bertanya dengan kegembiraan terlihat jelas di wajahnya, matanya berkilat senang.
"Gon mencarimu ke mana-mana!" Kurapika berkata, merasa agak jengkel dengan perlakuan Ging yang tidak adil kepada anaknya sendiri.
"Jadi dia menerima tantanganku?" sebenarnya Ging terdengar sangat senang mendengar hal itu.
"Kenapa kau mempersulit hidupnya?" Kurapika hampir saja menginjakkan kakinya kesal, tapi dia menahan diri karena menghargainya sebagai ayah Gon.
Ging tersenyum tipis padanya.
"Nona Muda, tolong mengerti situasi kami. Ini perjanjian yang kami buat secara tidak langsung. Aku sudah memberitahukan padanya dalam pesanku, jika dia ingin bertemu denganku, dia harus menyusulku. Kalau tidak, aku belum akan menganggapnya sebagai Hunter sejati."
Pria itu, yang terlihat seperti Gon versi dewasa, melemparkan pandangan jauh ke arah horizon, tatapan kerinduan terlihat di matanya yang berwarna coklat.
"Lagipula, aku sudah menyerah menjadi seorang ayah. Aku merasa tak pantas bertemu dengannya."
Suara dan kata-katanya sangat jujur hingga Kurapika tak punya pilihan lain selain bersimpati pada Ging.
"Tapi Gon ingin sekali bertemu denganmu," ucap Kurapika dengan suara pelan.
"Kalau begitu dia harus melacak keberadaanku dengan semangat yang sama," Ging tersenyum pada Kurapika seperti bagaimana halnya Gon tersenyum padanya. Kemiripan mereka hampir membuat Kurapika merasa ngeri.
Kurapika menunduk, ia patah semangat; dia tak bisa menimpali tanggapan Ging. Angin dingin bertiup di sepanjang pantai, membuatnya tanpa sadar menggigil dan bersin; dia masih basah kuyup.
"Oh, ini salahku. Seharusnya aku mengatasinya sejak tadi." Lalu Anansi mengibaskan tangannya dan tiba-tiba saja, kondisi Kuroro dan Kurapika sudah kering.
"Tadi itu apa?" Kurapika bertanya, heran betapa bersih dan keringnya dia sekarang; sementara beberapa detik sebelumnya dia sangat berantakan.
"Itu rahasia," Anansi berkedip padanya.
"Jadi, ada apa kau ke sini? Pastinya bukan hanya untuk menyapa kami," Kuroro berkata sambil menatap dengan penuh perhitungan.
"Tepatnya memang itu yang akan kami lakukan. Kau belum berubah, Kuroro. Masih sinis seperti biasa; meragukan niat baik orang lain," Ging tersenyum padanya, tapi ada penyesalan dalam senyuman itu. Seolah dia menyayangkan Kuroro tumbuh menjadi orang yang sinis seperti itu.
Kuroro tidak menanggapi jawaban Ging.
"Lagipula, kami guru Nen-mu 'kan? Bukankah wajar bagi guru untuk memeriksa keadaan muridnya?"
Kurapika membelalakkan matanya. Dia sudah sedikit menyelidiki tentang Ging untuk Gon, dan dari data-data yang sedikit serta hasil penelitian yang mereka dapatkan, Kurapika hanya bisa menyimpulkan bahwa Ging kuat dan cukup berpengaruh untuk memiliki kedudukan sebagai presiden suatu negara. Anansi adalah makhluk gaib, terbukti dari sihir kecil yang dia lakukan tadi. Membayangkan Kuroro Lucifer sama seperti guru-gurunya itu, tak heran dia bisa memiliki kekuatan dan kemampuan seperti sekarang.
Ini membuat Kurapika iri. Dia hanya punya seorang guru yang agak mudah ditipu sebagai mentornya; satu-satunya orang yang bisa ia perlakukan dengan sedikit lebih hormat.
"Sekarang apa yang akan kalian lakukan?"
"Hmm apa lagi yang akan kita lakukan, Ging?" Anansi menoleh, bertanya kepada temannya.
"Bisakah kau lebih mengingat semuanya?" Ging memutar kedua bola matanya. "Kami dengar kalian sedang mengumpulkan Mata Merah."
"Dan?" Kuroro tahu ke mana arah percakapan ini.
Semua indra Kurapika pun waspada ketika mendengar tentang Mata Merah. Tiba-tiba, bobot tiga pasang Mata Merah yang ia simpan di ranselnya menjadi begitu terasa. Tiga pasang lagi ada pada Kuroro; mereka berhasil mengumpulkan enam pasang Mata Merah di negara asal Hanzo waktu itu.
"Dan kurasa gadis ini seorang Kuruta. Kau berbaik hati melakukan itu untuknya?"
"Maksudmu?" Kuroro mulai tak sabar. Dari cara mereka berbicara, dia tahu mereka sudah diberitahu makhluk gaib lainnya; Una - lah yang paling ia curigai. Namun bukan juga berarti dia keberatan Una memberitahu mereka. Apalagi, dia tidak menyangkal pernyataan Ging mengenai dirinya yang melakukan sesuatu yang begitu baik bagi Kurapika.
"Kami akan membawamu ke Mata Merah terdekat."
"Apa? Tolong ulangi lagi?" Kali ini, Kurapika yang menanggapi. Atau berseru lebih tepatnya.
"Kami akan membawamu ke Mata Merah terdekat," dengan baik hati Anansi mengulanginya untuk Kurapika, yang matanya saat itu sudah berkilau penuh harap dan rasa terima kasih. "Tapi tempatnya di Perussa."
"Itu sangat jauh dari sini. Di sisi lain benua ini; lebih tepatnya di perbatasan." Kuroro mengernyit ketika menghitung jarak yang harus mereka tempuh. Perlu waktu dua minggu untuk sampai ke sana.
"Makanya kita lewat jalan pintas; Cincin Peri!" Anansi mengumumkan dengan bangga. "Lagipula, Perussa masih terletak di Benua Erin."
"Cincin Peri?" Ucap Kuroro dan Kurapika bersamaan.
"Ayo ikut, kalian akan melihatnya sendiri."
Dan mereka pun bergegas masuk ke dalam gelapnya hutan.
Segera saja, Kuroro dan Kurapika mendapati bahwa Cincin Peri adalah memang benar cincin yang digambar di tanah dengan kekuatan yang tidak biasa.
"Berdirilah di tengah cincin dan jaga jangan sampai sedikit pun bagian tubuhmu ada di atas lingkaran. Kau tak ingin ketinggalan sebuah jari atau lenganmu di sini, 'kan?" Anansi berkata sambil disenandungkan.
Mereka pun berdesak-desakan di lingkaran kecil itu, berusaha menjaga jarak aman dari dalam lingkaran yang disebut Cincin Peri itu.
"Dan?" Tanya Kurapika ragu. Dia tidak menyukai gagasan yang mengharuskannya untuk berdiri berdekatan dengan Kuroro; tidak setelah mereka melakukan banyak hal untuk melebarkan jarak belenggu agar bisa lebih memiliki privasi.
"Sekarang di mana si kecil ituuu?" Anansi bergumam sendiri sambil melihat ke sekitarnya.
"Temukan dia!" Ging berseru sambil bergerak dengan cepat untuk menangkap sesuatu yang tampaknya mengapung di udara.
KYAAAAAAH!
Sebuah suara yang sangat kecil memenuhi udara bagai dentingan lemah bel yang lembut.
Hei biadab kau! Jangan ganggu aku! Tunggu sampai kulaporkan perlakuan yang memalukan ini pada Ratu - ku, Titania!
Suara jeritan yang melengking itu sangat lemah hingga jika Kuroro dan Kurapika tidak memberikan perhatian lebih, mereka tak akan menyadari keberadaannya. Dalam genggaman Ging, ada seorang gadis kecil mungil yang berkilau dengan sayap kupu-kupu yang juga berkilau, mata berwarna ungu pucat seperti bunga lili. Dia berusaha membebaskan diri dari tangan Ging, tapi semua usahanya tak membuahkan hasil.
"Tenang, Lilias. Ini aku," kata Ging lembut sambil berusaha menenangkan gadis kecil mungil itu, tapi dia yang memiliki ukuran sebesar ibu jari terus berteriak, mengabaikan permohonan Ging supaya dirinya tenang.
Tentu saja, dari pandangan pertama, Kuroro dan Kurapika langsung tahu bahwa gadis kecil mungil itu tak lain tak bukan adalah peri. Itu masuk akal; jika mereka akan menggunakan Cincin Peri, tentu saja mereka akan membutuhkan seorang peri.
Lilias... Una menghampiri peri yang sedang mengamuk itu, dan suaranya sebenarnya sampai ke telinga Lilias.
Una! Tolong aku! Dia memohon kepada Unicorn itu dengan suara yang terdengar sedih.
Tapi Lilias, dia tak bermaksud jahat. Lihatlah lebih dekat, Una berkata padanya dengan lembut dan perlahan.
Dengan isakan dan tangisan, akhirnya Lilias mendongak dan melihat wajah Ging yang tersenyum. Tak sampai sedetik, ekspresinya yang menyedihkan berubah menjadi ekspresi marah.
KAU! Berani-beraninya kau memperlakukan aku seperti ini! Kau bajingan! Badut!
"Maafkan aku, tapi kami membutuhkan bantuanmu," kata Ging menyesal sambil melepaskan peri yang amarahnya tengah bergolak itu. Segera setelah terlepas dari genggamannya, dia bergegas pergi menghampiri Una dan diam di surainya yang keperakan.
Kau pikir aku mau menolongmu setelah perlakuanmu yang buruk terhadapku?! Peri kecil itu berkata sambil menggembungkan pipinya.
"Seperti yang kubilang tadi, ini salahku. Tolong maafkan aku Lilias, tapi kami benar-benar membutuhkan bantuanmu. Hanya kau yang bisa membantu kami, hanya kau."
Lilias tersipu mendengarnya.
"Rayuan. Cukup sudah. Dia menyerah. Kuberi tahu saja ya, Ging bisa menggunakan kepiawaiannya berbicara untuk meniduri wanita jika mau sedikit lebih berusaha lagi," Anansi memberitahu Kuroro dan Kurapika sambil menggelengkan kepalanya perlahan, jelas - jelas meragukan kemampuan aneh Ging dalam merayu gadis-gadis.
Tentu saja tak seorang pun dari mereka yang tahu bahwa putranya; Gon Freecs, mewarisi kemampuan alami yang sama.
Jalan di Cincin Peri benar-benar halus. Semuanya terlihat berkilau dan tembus pandang; seolah mereka tengah menaiki aurora. Lagipula tak ada jalan yang terlihat jelas. Sejauh mata memandang, hanya ada banyak jalur jalan tiada akhir yang berkilauan, berbaur satu sama lain, berbelok kesana kemari. Rasanya mustahil melihat ujung jalan itu.
Dengan panduan Lilias, mereka menyusuri salah satu jalan yang berkilau itu. Bagi para peri, Cincin Peri hanyalah jalan lurus seperti jalan layang dalam ukuran manusia. Mereka bisa melihat jalan yang menuju ke Cincin Peri. Ada juga peri-peri lain yang melintasi tempat itu, tertawa cekikikan dan bercakap-cakap dengan suara mereka yang berdenting. Daftar semua Cincin Peri yang tersebar di seluruh benua hampir tak ada habisnya. Seperti Jalan Hantu di wilayah Suzaku dan teman-temannya waktu itu; Cincin Peri adalah jalan pintas yang menuju ke tempat mana pun yang terletak di Benua Erin.
Anansi berjalan di samping Kuroro, menanyai pria itu tentang apa saja yang sudah ia lakukan selama lima belas tahun ini. Akhirnya, Kuroro sampai pada pertanyaan terakhir yang sudah mengganggu benaknya sejak pertama kali Anansi menawarkan untuk membantu mereka.
"Apa kau membantu kami karena permintaan Ishtar?"
Anansi menatapnya dengan mata terbelalak dan mulut menganga.
"Oh Dewa, tidak! Dia tak pernah meminta apapun dariku; seperti biasa. Justru akulah yang pertama bertanya tentangmu!"
Mereka terjatuh dalam keheningan yang mendalam saat melalui lintasan Alam Gaib. Peri-peri kecil cekikikan di sekitar mereka dengan gembira, mengomentari penampilan mereka yang aneh dan kejadian tak biasa di mana sekelompok manusia bepergian melalui Jalan Gaib.
"Ishtar dan aku membesarkanmu seperti pada anak sendiri," tanpa sadar Anansi berkata.
"Berperan sebagai suami-istri bersamanya demi kepuasan hatimu, aku tak akan menjadi bagian dari hal itu," kata Kuroro, dengan cara yang agak terlalu dingin.
"Masih perang dingin dengan dia?"
Kuroro tidak menjawab. Sebenarnya, jauh di dalam hatinya, dia tak lagi merasakan kebencian yang dulu ia rasakan terhadap ibu angkatnya. Tapi bukannya mengatakan hal itu pada Anansi, Kuroro memilih untuk memendamnya sendiri dan membiarkan pertanyaan Anansi tak terjawab.
Beberapa langkah di belakang mereka, Ging mempercepat langkahnya hingga dia berjalan di samping Kurapika.
"Anansi memberitahuku bahwa Kuroro memiliki masa kecil yang buruk."
"Begitulah," Kurapika bergumam setuju saat teringat masa lalu yang ditunjukkan Phoenix padanya.
"Dan kudengar kau punya masa lalu yang cukup pahit, dan penyebabnya tak lain adalah Kuroro."
"Kau benar," Kurapika menanggapi, walau suaranya datar dan tertahan.
"...Kau sudah melalui banyak hal, ya?" Ging tersenyum hangat padanya lalu menepuk rambut pirangnya. "Kau kuat."
Hati Kurapika rasanya membeku dan berhenti berdetak. Kata - kata itu, 'Kau kuat'; mengingatkannya pada sumpah yang ia ucapkan pada almarhum kakaknya bahwa dia akan menjadi kuat. Kurapika mengangkat wajahnya dan tatapannya jatuh ke punggung Kuroro; punggung yang kini sudah terbiasa dilihatnya.
Apakah aku benar-benar kuat? Dia bertanya-tanya, dan keraguan mulai muncul kembali. Ataukah aku hanya kehilangan jalanku saja?
"Mata Merahmu akan ada di mansion di kota ini. Beritahu kami jika kalian memerlukan bantuan apapun itu, kami akan menunggu di sini," Anansi berkata sambil menunjuk ke arah kota yang berada di hadapan mereka.
Dengan begitu, Anansi dan Ging pun sama-sama menghilang. Una akan tinggal di dalam amannya hutan; bagi makhluk yang sangat luar biasa seperti Una, untuk bepergian di tempat manusia tinggal tak akan pernah aman. Lagipula, berada di antara ketidakmurnian terlalu lama dalam satu periode tidak sehat untuk Unicorn sepertinya.
"Sekarang apa?" Kurapika bertanya ketika mereka berjalan menuruni jalanan yang berangin menuju ke pintu gerbang kota.
"Satu-satu dulu, ayo kumpulkan informasi. Prosedur standar."
Kurapika merasakan mual di perutnya. Dia belum merencanakan akan menjarah tempat tinggal orang lain. Walau benda yang akan mereka curi memang haknya; atau begitulah yang dikatakan Kurapika, tetap saja tak akan sependapat dengan hati nuraninya. Mencuri itu perbuatan yang buruk, dan selamanya akan terus begitu bagi Kurapika.
Kegelisahannya tak luput dari pengamatan Kuroro yang memang biasanya jeli terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya. Dia melirik gadis itu.
"Kau akan terbiasa."
Kurapika merengut padanya. "Aku tak mau terbiasa dengan hal seperti ini."
"Sesuaikan dirimu," Kuroro hanya mengangkat bahunya.
Jika yang Kurapika lakukan adalah tidak mau terlalu nyaman dengan pencurian, itu bukan masalah Kuroro. Dia tak akan memaksakan cita-citanya pada gadis itu; makanya Kurapika bersikap seperti biasa. Itu merupakan kesepakatan yang terbentuk dengan sendirinya tanpa diucapkan; kesepakatan yang tak jelas awal mulanya. Ada banyak hal di antara mereka yang tiba-tiba berubah menjadi begitu alamiah hingga mereka tak mau bersusah payah untuk menelusurinya. 'Urus urusan masing-masing' adalah kesepakatan mereka yang paling awal.
Di saat yang bersamaan, keduanya tak pernah memikirkan atau mempertimbangkan akibat dari kesepakatan seperti itu; mereka saling menerima satu sama lain.
Jauh dari tempat di mana Kuroro dan Kurapika berada, lagi-lagi Ishtar sedang menatap cermin air ajaibnya, berbicara dengan seseorang yang berada di belahan lain dunia.
"Aku sangat terkejut kau akan bersedia membantu mereka," dia berkata dengan suaranya yang parau, "Kirin-sama."
Setelah konfrontasinya dengan Tamamo-no-Mae, kyuubi keemasan itu yang khususnya terobsesi pada Mata Merah Kurapika, ditaklukkan Kirin dan diperintahkan untuk mengembalikan Mata Merah yang lain kepada Kurapika. Itulah kenapa akhirnya Kurapika bisa mengumpulkan enam pasang Mata Merah di wilayah tersebut dalam waktu relatif singkat.
Aku melakukan hal itu demi kebaikan negeriku, bukan untukmu maupun anakmu. Semua Mata Merah itu, merupakan pertanda buruk. Suatu tindakan yang baik dan bijak menyelamatkan negeriku dari pembawa bencana. Kirin berbicara dengan anggun dan menggunakan dialek kuno, seperti biasanya.
"Pertanda buruk? Mungkin saja, mengingat hal tragis yang menimpa sukunya."
Anakmu dan istrinya, mereka menempuh jalan yang berduri. Maafkan kelancanganku ini Lady, tapi bersediakah kau memberitahukan padaku cerita tentang mereka? Ini sangat membangkitkan rasa ingin tahuku. Bayangan Kirin di cermin air milik Ishtar itu sedikit bergerak, seolah dia merasa kurang nyaman dengan adanya masalah itu tapi juga terlalu penasaran untuk mengabaikannya begitu saja.
Ishtar hanya tersenyum padanya.
"Sepertinya aku tak bisa melakukan itu untukmu, Kirin-ku Sayang. Aku tak mau memperlebar jurang yang ada di antara aku dan anak itu. Mengenai dia dan segala cerita tentangnya, kau harus bertanya sendiri padanya."
Kirin tidak tahu, bahwa jawaban yang sama pun diberikan pada Kurapika beberapa bulan yang lalu. Di saat yang bersamaan, seolah menunjukkan bahwa Kurapika mulai mendapatkan jawaban yang ia cari, walau tanpa sadar gadis itu memperlihatkan 'keinginan'-nya untuk lebih mengenal orang yang dia sebut musuhnya.
"Dan kalau begitu, maukah kau berbaik hati memberi kami tempat untuk menginap malam ini?" Anansi berusaha bertanya sesopan mungkin.
Bangsawan pemilik mansion itu; yang namanya tidak terlalu penting untuk disebutkan di sini, menatapnya curiga, tapi meskipun begitu dia menganggukkan kepalanya tanda setuju pada rombongan itu. Lagipula, rombongan yang terdiri dari empat orang itu sepertinya memiliki banyak cerita menarik, dan cerita menarik membuat dirinya terhibur.
"Terima kasih banyak, Tuanku yang baik. Semoga para Dewa tersenyum padamu." Anansi membungkuk pada bangsawan itu, namun di dalam hati mencibir karena dia tahu yang akan diterima bangsawan itu dari para Dewa adalah sebaliknya.
Kemudian tanpa melalui berbagai formalitas lainnya yang tidak penting, para tamu diantar ke kamar mereka. Karena Kuroro dan Kurapika menyatakan diri sebagai suami-istri; sesuatu yang sudah Kurapika katakan dengan suara keras bahwa dia merasa keberatan tapi sepertinya kalah karena Ging dan Anansi mendukung ide Kuroro atas alasan yang tidak berani ditanyakan Kurapika. Gadis itu bisa melihat dengan jelas kilatan nakal di mata Ging dan Anansi; dua orang aneh itu.
Keseluruhan rencananya sangat sederhana sampai-sampai Kurapika hampir tak bisa percaya. Kuroro dan Kurapika berpura-pura menjadi bangsawan dan istrinya, yang tertimpa sial karena dirampok dalam perjalanan mereka, dan akhirnya ditemani Ging dan Anansi; wisatawan yang kebetulan lewat dan menawarkan diri untuk menolong. Anansi akan mengatasi masalah keamanan dengan caranya sendiri sementara Kuroro dan Kurapika pergi mengambil Mata Merah.
"Sekarang apa?" Kurapika bertanya dengan agak singkat karena dia masih kesal harus berpura-pura menjadi istri Kuroro. Benar-benar rencana yang memalukan!
Dia duduk merosot di sofa yang berada di kamar dengan wajah sedikit masam. Terlebih lagi, dia dipaksa mengenakan gaun! Gaun yang menakutkan, seperti yang sudah ia katakan sebelumnya. Itu adalah gaun berkerah halterneck yang terakhir kali dia pakai sewaktu menghadiri pesta bersama beberapa orang Genei Ryodan yang menyamar sebagai pengawal untuk mengambil Mata Merah. Ya, malam penuh takdir di mana sialnya saat itu tanpa sadar dia menjadi mabuk karena minuman keras.
Kuroro hanya mengabaikan protes Kurapika dan melangkah ke balkon mansion itu. Dia mengamati halaman belakang sekilas, dan akhirnya memutuskan akan lebih mudah untuk menerobos masuk dari dalam mansion.
"Kita akan bergerak begitu matahari terbenam. Bangsawan dan para pelayannya pasti sudah tertidur saat itu, tinggal pengawal saja. Aku yakin mereka akan cukup mudah ditangani," Kuroro mengumumkan rencananya.
Kurapika hanya mendengus kesal, memberitahu pria itu bahwa dia mendengar perkataannya dan tidak merasa keberatan.
Ketika senja tiba, Kuroro dan Kurapika menyelinap keluar dari kamar tidur mereka dan mampir ke kamar Anansi. Kuroro melihat ke dalam dan memberikan isyarat kilat pada kedua gurunya bahwa dia akan melaksanakan rencananya. Anansi hanya mengangguk.
Kuroro dan Kurapika berjalan diam-diam dan secepat mungkin menyusuri koridor mansion yang berangin. Bukan karena mansion itu terlalu besar dan Kuroro tak bisa mengarahkan dirinya sendiri. Sekali melihat bagian luar mansion dan sekilas mengamati bagian dalam bangunan itu, secara kasar dia bisa menentukan tata ruangnya. Itu adalah kemampuannya yang sudah terasah selama bertahun-tahun berada di dunia pencurian.
Di belokan pertama koridor, Kuroro berhenti sebelum mereka sempat berbelok. Kuroro berbalik menghadap Kurapika dan memberinya sebuah botol parfum kecil. Kurapika menatapnya aneh.
"Kau tahu apa yang harus kaulakukan," ucap Kuroro sambil memberi isyarat ke arah belokan itu dengan sedikit menyentakkan kepalanya.
Kurapika merengut tidak senang. Sebenarnya, Kuroro baru saja mengajarinya bagaimana memanfaatkan 'pesona wanita'-nya untuk mendapatkan jalan dengan cara yang diinginkan gadis itu. Kurapika meringis mendengar kata-kata yang digunakan Kuroro; terdengar salah baginya. Meskipun begitu, atas desakan Kuroro, dia menyerah.
Menarik napas dalam-dalam, Kurapika menguatkan dirinya; tepatnya harga diri yang ia miliki, untuk kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.
Seorang pria berseragam menguap lebar saat kebosanan menguasai dirinya. Pekerjaan itu memiliki bayaran yang cukup bagus, hanya saja terlalu membosankan. Ketika dia menguap lagi untuk yang kesekian puluh kalinya malam itu, suara benturan pelan menarik perhatiannya.
Akhirnya, sesuatu benar-benar terjadi! Dia membatin penuh harap.
Ketika berbalik, dia melihat seorang tamu berambut pirang berjongkok di lantai, memegangi pergelangan kakinya dengan hati-hati. Tanpa berpikir lagi, Si Penjaga menghampiri gadis itu.
"Hei, Gadis. Apa yang kau lakukan tengah malam begini?" Dia bertanya sambil berusaha agar suaranya terdengar selembut mungkin.
"Oh? Maafkan aku. Pergelangan kakiku sakit," tamu pirang itu berkata dengan suara serak yang menggoda telinganya. Betapa manis suaranya!
Dia ikut berjongkok untuk melihat lebih dekat apa masalah gadis itu. Si Gadis Pirang memegangi pergelangan kakinya seolah rasanya menyakitkan, bergerak tak nyaman dalam posisinya, gaunnya yang memiliki belahan di bagian samping dan memanjang hingga ke pertengahan paha tersingkap dengan anggun memperlihatkan sebagian besar kakinya.
"Apa pergelangan kakimu keseleo, Gadis?" Si Penjaga tersenyum hangat, tapi matanya menjalar dari pergelangan kaki menuju ke paha gadis itu.
Hoo boy, ucapnya dalam hati, mulai ngiler melihat kakinya yang ramping, panjang dan seputih susu. Kakinya panjang dan indah, sial. Si Penjaga mengutuk dengan gembira begitu serigala di dalam dirinya mulai bangun. Yah, menjadi bujangan dalam jangka waktu yang paling lama di dalam hidupnya, tak heran penjaga baik itu sangat mengidamkan bisa bersentuhan dengan kulit wanita.
"Tuan?" Si Pirang bertanya dengan suara pelan dan mengundang.
"Hah? Oh, ah, ya?" Si Penjaga kembali memerhatikan dengan canggung.
Ketika dia berbalik untuk menghadap Kurapika lagi daripada hanya menatap kakinya dengan lapar, Si Pirang sudah memegangi botol parfum kecil di dekat wajahnya. Gadis itu tersenyum hangat padanya.
"Selamat tidur."
Dan sesuatu yang dingin disemprotkan ke wajah penjaga itu.
Dia pun tiba-tiba merasa pusing dan mengantuk.
Lalu mencium lantai dengan keras dengan seluruh wajahnya.
Kurapika menghela napas berat sambil bergeser menjauh ketika Si Penjaga hampir jatuh menimpanya, maka dia pun jatuh mencium lantai dan tidak mengenai dirinya. Cara yang ia lakukan benar-benar siksaan bagi Kurapika. Dia merasa seolah harga dirinya hancur menjadi debu, dan tertiup angin.
Ini terlalu berlebihan, dengan pahit Kurapika mengomel di dalam hati sambil berdiri dan menepuk kakinya.
Suara tepuk tangan pelan membangunkan Kurapika dari renungannya yang penuh dendam. Saat berbalik, dia dihadapkan dengan Kuroro yang sangat puas dan begitu senang.
"Sungguh menakjubkan."
"Jika arti kata-katamu adalah pujian, aku tidak merasa dipuji sama sekali," katanya sinis sambil memberinya tatapan tajam.
"Kau tak mau ada pertumpahan darah, jadi kau harus melakukannya," Kuroro tersenyum lagi pada Kurapika, jelas merasa senang karena gadis itu benar-benar mendengarkan sarannya mengenai 'pesona wanita' dan melaksanakannya dengan baik.
Kurapika mendecakkan lidahnya kesal sebelum kembali memperhatikan penjaga yang sudah jatuh mendengkur di lantai, lalu pada botol di tangannya.
"Ngomong-ngomong, ini apa?"
"Ramuan khusus dari Anansi. Hanya para Dewa yang tahu apa saja kandungannya, dan aku punya firasat sebaiknya kita tidak usah tahu bahan-bahan apa saja yang biasa dia gunakan untuk membuat ini," Kuroro mengangkat bahu sambil melewati penjaga itu dengan sikap tak peduli. "Dia bilang orang yang terkena semprotan ini akan melupakan apa yang terjadi sebelum dia jatuh tertidur; yang berarti dia tak akan mengingat dirimu yang sudah mengelabuinya."
Atau menunjukkan kakiku padanya, dia menggeram marah di benaknya, namun memutuskan tak akan menunjukkannya secara terang-terangan, takutnya jika Kurapika melakukannya, Kuroro hanya akan menggoda dirinya tanpa henti. Pria itu benar-benar memanfaatkan dirinya, itulah yang membuatnya emosi.
Dan cara itu diulangi beberapa kali hingga Kurapika merasa seolah dia hampir hancur dalam rasa malu.
"Harus berapa kali lagi aku melakukan ini?" Dia berkata dengan berbisik cukup keras sambil berjongkok di lantai dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Ucapannya terdengar seperti rengekan di telinga Kuroro. Kuroro menatapnya dengan sedikit merasa kasihan. Sepertinya gadis itu terlalu serius memikirkan semua ini. Yah, dari didikan dan asuhan yang diterima Kuroro, pria itu sudah terbiasa melakukan cara apapun untuk mencapai tujuannya, namun gadis itu benar-benar terkejut harus menggunakan 'cara kotor' dalam mencapai tujuannya.
"Kurapika," Kuroro baru saja mulai bicara, ketika ujung matanya menangkap sesuatu menuju ke arah mereka.
Dengan cara yang agak terlalu kasar, Kuroro memegangi lengan Kurapika, mengangkatnya dengan paksaan hingga berdiri dan membuatnya lengah. Tanpa peringatan apapun sebelumnya yang seharusnya dia berikan pada gadis itu, Kuroro menangkap pinggang Kurapika dan mendekatkan tubuh gadis itu ke tubuhnya. Terkejut, Kurapika terkesiap namun Kuroro mengambil kesempatan ini untuk mengunci bibir Kurapika dengan bibirnya.
Kurapika merasa pikirannya menjadi kusut dan tak bisa berpikir dengan lurus. Dia tak bisa melakukan apa-apa dan terkulai lemas dalam pelukan pria itu. Tangannya tanpa sengaja menjatuhkan botol yang tadi ia pegang, terjatuh ke lantai yang berkarpet dengan suara dentingan pelan. Ketika lidah Kuroro tanpa sengaja berbenturan dengan lidahnya, dia merasa seolah suatu aliran listrik yang lemah menjalar ke seluruh tubuhnya dan merasakan sensasi aneh seperti kesetrum yang sangat mendalam di sepanjang tulang punggungnya. Sensasi itu melumpuhkan indra Kurapika dan menjadikan dirinya seperti jelly, lemas seketika.
Kuroro tidak tahu apakah ini alam bawah sadarnya yang bertindak atau nalurinya sebagai lelaki, namun merasakan Kurapika takluk dalam pelukannya, dia merasa terdorong untuk bertindak lebih jauh. Kali ini, Kuroro sengaja menjilat bagian dalam langit-langit mulut Kurapika. Sayangnya tindakan ini menyadarkan gadis itu dari keadaannya yang semula seolah tak sadarkan diri.
Dia mulai melakukan perlawanan, berusaha melepaskan diri. Kuroro, dengan keteguhan yang sama, menahan gadis itu dengan memegangi tengkuknya dan menarik tubuh Kurapika ke arahnya. Kemudian mereka terlibat dalam permainan tarik-menarik yang bodoh. Kurapika, merasa putus asa, memegangi kedua sisi wajah Kuroro dan berusaha menjauhkan kepala pria itu. Sayang sikap itu bahkan membuat ciuman mereka terlihat lebih bergairah daripada sebelumnya.
Walau ciuman mereka terasa begitu lama, nyatanya hanya berlangsung beberapa detik saja sebelum akhirnya ada seseorang yang dengan lancangnya mengganggu mereka.
"Hei, kalian! Apa yang kalian la–"
Rupanya penjaga itu mengerti dia datang di waktu yang sangat tidak tepat ketika pandangannya jatuh kepada 'pasangan' itu. Wajahnya langsung memerah dan refleks membalikkan tubuhnya kembali memunggungi mereka.
"M-M-Maaf sudah mengganggu," ucapnya gugup dengan canggung. "Aku tidak tahu kalian berdua sedang sibuk," dia berbisik sambil berusaha kembali ke posnya.
Baru saja berjalan satu langkah, tiba-tiba pandangannya menjadi gelap dan dia pun menyerah tak sadarkan diri. Dia tidak tahu yang menjadi penyebab dari pingsannya dia secara mendadak tak lain adalah Kuroro, yang sudah berdiri di belakangnya, menang mutlak dan sebelah tangan terangkat ke atas. Kuroro memukul bagian belakang lehernya dengan kekuatan yang cukup membuat penjaga itu pingsan tanpa harus membunuhnya.
Di belakangnya, Kurapika berdiri menyandarkan punggungnya ke dinding dan napasnya begitu terengah-engah. Dia melemparkan tatapan jijik pada Kuroro, tapi anehnya mata gadis itu tidak berubah warna menjadi merah. Sebetulnya, matanya bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera berubah.
Tentu saja Kurapika tahu apa alasan Kuroro tiba-tiba menciumnya ketika dia mendengar suara penjaga itu saat mengganggu 'waktu pribadi' mereka. Namun meskipun begitu, tetap saja tidak membenarkan kenyataan bahwa dia merasa sangat dilecehkan secara tidak adil.
Dengan marah, Kurapika mengambil satu langkah lebar ke arah Kuroro, sebelah tangan gadis itu siap menyerang wajahnya tapi gerakannya terhenti ketika Kuroro mencengkeram pergelangan tangannya.
"Seorang istri yang baik tidak memukul suaminya setelah berciuman, 'kan?" Kuroro tersenyum padanya.
"Mungkin tidak," Kurapika berkata sambil menggertakkan giginya, wajahnya kini sangat merah. "Tapi beritahu aku, Suamiku Sayang, apa yang membuatmu berpikir bisa melakukan itu seenaknya demi kesenanganmu sendiri?"
"Bukankah hal yang biasa bagi suami istri untuk menyibukkan diri bersama dalam ciuman yang penuh gairah?" Dia menggodanya lagi.
Ketika Kuroro menyebutkan 'ciuman yang penuh gairah', wajah Kurapika langsung menjadi semerah lobster.
"Mungkin itu masalahnya," desisnya marah dan mendekatkan wajahnya ke wajah Kuroro hingga hidungnya hampir menyentuh hidung pria itu. Matanya berkobar amarah saat terbelalak ke dalamnya mata Kuroro yang gelap. "Tapi ingat, Kuroro Lucifer, aku bukan wanita murahan yang bisa kau manfaatkan untuk itu dan pada kenyataannya aku BUKAN, dan TIDAK AKAN PERNAH, menjadi istrimu."
Kuroro menyeringai pada Kurapika dan mencondongkan badannya ke depan hingga keningnya menyentuh kening Kurapika. Gadis itu tersentak saat dia melakukannya.
"Yah, kau bisa menganggapnya latihan bagi masa depanmu sebagai seorang istri," kata Kuroro dengan suara yang rendah, dan menggoda.
Suara pria itu membuat Kurapika gemetar, tapi dia menahan diri untuk tidak memperlihatkannya. Menurut Kurapika sebenarnya suara Kuroro begitu enak terdengar di telinganya. Kesampingkan itu, hanya membayangkan dirinya sebagai seorang istri saja ternyata sulit.
"Tapi itu ciuman pertamaku!" Protes Kurapika dengan suara berdesis sambil mendorong Kuroro kasar.
"Oh?" Kedua alis matanya melengkung, matanya bersinar nakal. "Sayang sekali kalau begitu."
Kurapika merengut marah pada Kuroro, yang sedang membungkuk mengambil botol yang jatuh ke lantai. Dia melangkah ke penjaga yang pingsan itu, menyemprot wajahnya dengan ramuan, untuk memastikan agar dia lupa pernah melihat Kuroro dan Kurapika dalam 'waktu pribadi' mereka. Setelah selesai, Kuroro berdiri dan memasukkan botol itu ke dalam saku, melihat bahwa mereka sudah begitu dekat dengan ruang harta. Dia melirik Kurapika sekilas, tapi gadis itu membalasnya dengan tatapan penuh kebencian.
Kurapika tetap berdiri di tempatnya, tapi saat Kuroro meraih bagian samping tubuhnya begitu cepat dan melingkarkan lengannya di bahu ramping gadis itu, dia pun langsung membeku.
"Ayolah, kita harus menjadi suami istri. Lakukan saja," Kuroro berbisik padanya dengan suara yang mesra, sangat menghayati perannya.
"Aku tak akan membiarkanmu bersenang-senang di atas penderitaanku," desis Kurapika kesal.
Kuroro membalas dengan senyuman kekanak-kanakan yang jarang ia perlihatkan. "Apakah akan ada bedanya kalau kuberi tahu kau bahwa itu juga ciuman pertamaku?"
Semua tata krama dan sikap tenangnya terlupakan, Kurapika terperangah begitu saja ke wajah Kuroro.
"Kau bohong," ucapnya datar dengan suara yang terdengar seolah tak percaya.
"Tidak," jawab Kuroro dengan suara yang disenandungkan. "Sebenarnya, ini pertama kalinya aku pernah memegang seseorang seperti ini."
Seolah menekankan maksudnya, dia meremas pegangannya di bahu Kurapika. Sikap tubuh ini membangkitkan kembali sensasi aneh seperti kesemutan di sepanjang tulang punggungnya lagi dan membuat rona kemerahan di pipinya menjadi semakin merah.
"Sepertinya tidak begitu..." Kurapika bergumam.
"Yah, bisa kita lanjutkan?" Kuroro berkata sambil mendorongnya ke depan dengan lengannya yang kuat.
Kurapika baru saja akan menanggapi lagi ketika putaran pelan kamera pengawas yang menyoroti koridor menarik perhatian gadis itu.
"Bagaimana dengan CCTV itu?" Tanya Kurapika ragu.
"Oh, Anansi sudah mengurusnya," Kuroro hanya menjawab dengan percaya diri.
Ging menatap temannya dengan matanya yang besar dan penuh rasa ingin tahu. Dia sedang berbaring tengkurap, memandang jeli kepada temannya dalam saat-saat di mana dia jarang menunjukkan warisannya yang aneh.
Anansi duduk bersila di atas tempat tidurnya, dan ENAM lengannya terulur membuatnya terlihat seperti patung Dewa Hindu dengan tangan lebih dari satu. Semua jari di seluruh tangannya terbuka, tapi wajahnya tak menunjukkan sedikitpun aktivitas aneh guna mengerahkan tenaganya yang sedang dia upayakan saat ini.
"Apa lagi yang sedang kau lakukan?" Tanya Ging.
"Menyabotase kamera pengawas. Semua kamera tak akan merekam apapun yang berhubungan dengan Kuroro dan gadis itu," Anansi menyeringai.
"Hmm... Kau akan melakukan apapun untuk anak itu 'kan?" Ging bertanya lagi sambil berguling di tempat tidur dengan malas.
"Yah, dia anakku," Anansi tertawa pelan. "Dan akan selalu menjadi anakku dalam hal apapun."
"Kau dan Ishtar," Ging menghela napas."Kalian berdua seperti orang tua adopsi. Aku terkejut dia tidak menjadi anak manja."
"Dan itulah kenapa dia istimewa."
Ging memicingkan matanya sambil menggelengkan kepala karena begitu terheran-heran.
"Orang tua adopsi, baiklah."
"Katakan lagi, apa tujuanku melakukan semua perbuatan yang memalukan itu jika akhirnya kita akan masuk secara paksa?" Kurapika bertanya dengan jengkel sambil merobohkan penjaga lainnya, gaunnya berkibas dan berkibar di sekelilingnya seperti tarian warna merah yang tampak samar. Jangan bilang kau hanya ingin menjahiliku, pikirnya.
"Untuk menghindari konfrontasi apapun yang tidak perlu sebelum kita sampai di tempat utama," jawab Kuroro singkat sambil membunuh seorang penjaga lain.
Mereka menggunakan cara berbeda untuk menghadapi lawan, tapi keduanya memiliki efisiensi yang hampir sama. Hampir, karena cara yang dilakukan Kuroro benar-benar bagus dan tidak akan menimbulkan masalah yang lebih jauh lagi.
"Lima belas tahun yang lalu, beberapa bulan sebelum Anansi pergi, Ging datang ke Ryuuseigai mencari reruntuhan."
Kuroro mendobrak pintu besar yang menuju ke tempat penyimpanan harta dengan mudahnya, memperlihatkan semua harta itu untuk mereka sendiri.
Ah, ya. Gon pernah menyebutkan bahwa ayahnya adalah seorang Hunter dalam bidang arkeologi. Kurapika mencatat.
"Mungkin Ging menarik perhatian Anansi karena keunikannya, aku tidak tahu. Tapi mereka cepat berteman satu sama lain dan langsung terlihat seperti teman yang sudah saling mengenal sejak lama. Saat Ging memutuskan untuk pergi, melakukan lebih banyak penelitian di berbagai reruntuhan di seluruh dunia, Anansi langsung memutuskan untuk ikut bersamanya."
"Meninggalkanmu dan Ishtar," dengan ragu Kurapika menambahkan.
Kuroro mengangguk. Dia melintas ke ruang harta, mengabaikan benda-benda berharga lainnya dan langsung ke Mata Merah yang tersimpan rapi di antara harta-harta lainnya.
"Anansi selalu menjadi orang yang penuh rasa ingin tahu. Kadang dia pergi dalam jangka waktu yang lama untuk bepergian. Jadi tak ada bedanya," Kuroro mengangkat bahu, seolah tak peduli sedikit pun mengenai hal itu.
Di balik sikap tenangnya, di dalam hatinya banyak yang harus Kuroro pikirkan. Memikirkan kembali bagaimana dia bisa tertawa secara terang-terangan dan tersenyum kekanak-kanakan kepada Kurapika ketika mereka melakukan percobaan mengenai Nen, Kuroro heran kenapa dia bisa langsung merasa nyaman dengan kehadiran Kurapika di sekitarnya. Gadis itu merasa marah kepadanya, gadis itu membencinya, tapi anehnya kenapa Kuroro merasa senang dengan keberadaannya? Kuroro tak pernah bersikap begitu di depan Genei Ryodan.
Kurapika yang pertama kali pernah mendengar tentang masa kecil pria itu, dan dia sama sekali tak bermaksud memberitahunya.
Suara keras para penjaga menyadarkan Kuroro dari lamunannya. Dengan cepat, Kuroro mengambil Mata Merah dan memberitahu Kurapika untuk pergi ke sebuah jendela berukuran besar. Kurapika punya firasat buruk saat Kuroro membuka jendela tersebut.
"Lompat."
Ketakutan Kurapika menjadi kenyataan ketika kata itu keluar dari bibir Kuroro.
"Tidak mau! Aku sedang memakai gaun yang mengerikan ini!"
"Kau bisa bertarung sambil memakainya, apa bedanya dengan melompat dari ketinggian segini?"
"Tapi–"
Suara-suara lantang bisa terdengar dari ujung koridor. Tak ingin lagi membuang waktu mereka yang berharga, Kuroro memutuskan untuk mengatasi hal ini dengan caranya. Tanpa peringatan apapun sebelumnya, dia meletakkan Mata Merah dalam perlindungan Kurapika, mengangkat tubuh Si Gadis Kuruta yang sangat ringan dan menggendongnya secara bridal style. Kurapika hanya sempat menjerit dengan suara melengking dan memegangi roknya dengan sebelah tangan ketika Kuroro melompat dari jendela yang terbuka. Itu yang bisa dia lakukan agar rok itu tetap di tempatnya hingga tidak memperlihatkan seluruh kaki dan baju dalamnya.
Segera setelah kaki Kuroro menyentuh tanah yang kokoh, mereka bisa mendengar suara ringkikan kuda. Langsung saja Una menampakkan sosoknya yang anggun; seluruh tubuhnya berkilau dan bersinar di gelapnya malam. Dia berderap ke arah mereka, tidak berhenti bahkan ketika Kuroro melompat untuk menungganginya. Dengan kecepatan yang tak pernah terbayangkan oleh Kuroro dan Kurapika bahwa dia mampu berlari secepat itu sebelumnya, Una membawa mereka pergi dari tempat itu.
Sayangnya, ada beberapa orang Pengguna Nen yang berusaha menyusul mereka. Kurapika–lah yang pertama menyadari hal itu.
"Di belakang–"
"Jangan bicara, atau kau akan menggigit lidahmu," dengan tegas Kuroro memberitahukan padanya, matanya tertuju ke depan.
Aku memasang pembatas. Tahan napas kalian! Una berkata sambil bergegas masuk ke dalam hutan.
Dari sudut pandang orang-orang yang mengejar mereka, para pencuri itu tiba menghilang, lenyap seolah mereka bukan bagian dari dunia ini. Dua tamu lain yang juga ikut bersama mereka pun menghilang tanpa jejak, seolah sejak awal mereka tidak pernah datang ke mansion itu. Di kemudian hari peristiwa ini menjadi legenda di daerah itu; bahwa seorang putri dan pangeran muncul ke dunia nyata dari cerita dongeng dan mereka pulang kembali ke dunianya dengan menunggangi Unicorn.
Anansi tertawa terbahak-bahak.
"Benar-benar hebat! Hoo boy, aku tak pernah menyaksikan pencurian yang begitu menghibur sebelumnya!"
"Benarkah?" Tanpa sadar Kuroro bertanya sambil menepuk seluruh tubuhnya setelah turun dari punggung Una. Setelah menunggangi kuda dengan begitu liar melintasi hutan, debu dan dedaunan kering menempel di sekujur tubuhnya.
Ging menghampiri Kurapika dan memberikan ransel miliknya dan milik Kuroro yang mereka titipkan kepada kedua pria itu selama berada di mansion. Sekilas dia memandang Kurapika dengan tatapan sedih terlihat di wajahnya. Sepertinya dia sedang bertarung dengan suara hatinya mengenai suatu masalah, maka Kurapika menunggu hingga Ging terlihat siap mengatakan pikiran apapun yang ada di benaknya.
"Kurapika, kalau kau bertemu Gon–"
"Aku akan bilang padanya bahwa ayahnya ternyata memang sakit," Kurapika berkata dengan pasti.
Sesaat Ging terlihat terkejut dengan jawaban Kurapika yang sengit, tapi kemudian dengan cepat dia kembali pada sikapnya yang tenang dan memberi Kurapika senyumnya yang ramah.
"Lakukan itu untukku."
Dan mereka pun berpisah. Namun, perpisahan itu hanya terjadi setelah Anansi berhasil mencium pipi Kuroro, yang membuat sekujur tubuh pria itu merinding.
Kuroro dan Kurapika baru saja sampai di hotel yang berada di kota tetangga ketika tiba-tiba ponsel Kuroro berdering. Dia mengeluarkan ponselnya tapi kedua alis matanya melengkung saat melihat nama pengirim pesan, dan alis matanya semakin naik begitu dia selesai membaca seluruh pesan itu.
Perlahan, dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan menoleh pada Kurapika.
"Aku baru saja menerima pesan yang sangat menarik."
"Pesan apa?" Tanya Kurapika dengan tidak begitu fokus sambil menghapus sebagian besar riasan wajahnya dengan kasar; lagipula dia tak pernah suka memakainya. Jujur saja, dia tidak begitu tertarik.
"Seorang kenalan lamaku bermaksud memamerkan hartanya yang paling berharga, Mata Merah."
Kurapika langsung mengangkat wajahnya penuh perhatian mendengar benda yang sebenarnya adalah harta miliknya dan bukan milik orang lain.
"Dan dia mengundangku, asalkan aku mengajak teman wanita."
Kurapika menaikkan sebelah alis matanya. "Kenapa?"
"Pernahkah kau mendengar tentang Abelard Constantine?"
"Tidak."
Kuroro memberinya seulas senyum licik. "Dia adalah Duke Cenabum, seorang Casanova, pria mata keranjang yang cukup terkenal."
Otot di pipi Kurapika berkedut tanpa sengaja mendengar sebutan 'pria mata keranjang'. Dia tahu Kuroro mungkin sudah menyusun rencana dengan memanfaatkan dirinya sebagai seorang wanita; dan biasanya bukan hal yang bagus. Kurapika hanya berharap Kuroro tidak akan memintanya berjalan sambil memperlihatkan lagi kakinya yang telanjang. Lebih baik dia bunuh diri saja daripada harus melakukannya lagi.
"Apa yang kau rencanakan?"
"Aku akan membawamu ke pesta, tentu saja," Kuroro berkata dengan suara yang datar, seolah itu bukan hal paling jelas di muka bumi ini.
"Pesta lagi?" Ucap Kurapika dengan suara yang terdengar mengerikan.
"Ya. Kurasa kita perlu membeli gaun lain untukmu. Yang terakhir kau pakai sudah tak bisa dipakai lagi," katanya sambil mengamati gaun compang-camping yang masih dipakai gadis itu. Semua sobekan di gaun itu akibat menunggangi kuda melintasi hutan.
"Tidakkah kau sedikit royal menggunakan uangmu?" Kurapika memicingkan matanya dengan tidak senang. Dan beberapa di antaranya bukan keperluanmu. Menggunakan uang untuk hal yang tidak perlu benar-benar bukan kebiasaanku.
"Aku merasa ini cukup menarik," Kuroro terkekeh.
"Apa, membeli gaun?"
"Mendandanimu," koreksinya.
Wajah Kurapika sedikit memerah. "Aku bukan bonekamu!"
"Sebenarnya, aku membantu memperbaiki selera fashion-mu." Kuroro berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Dan membantumu lebih seperti perempuan. Semacam itulah."
"Terima kasih banyak," ucap Kurapika dengan nada sinis yang sangat kental. "Kau mengatakannya seolah aku tak bisa mengurus diriku sendiri."
"Bagiku memang begitulah kelihatannya," Kuroro berkata sambil terkekeh, dan kemudian mereka berdebat tentang hal-hal sepele semacam itu. Pada akhirnya, mereka diam dengan menghadiri pesta.
"Setidaknya," Kuroro akhirnya berkata, mulai lelah dengan perdebatan mereka yang tak berujung namun tak jelas ke mana arahnya. "Kau tak usah cemas akan dilecehkan oleh Abelard Constantine ini."
"Itu tidak meyakinkanku," Kurapika merengut pada pria itu.
"Kalau begitu apa yang bisa kulakukan untuk meyakinkanmu?"
"Kenapa kau perlu meyakinkanku?" Tanya Kurapika kesal.
"Karena sepertinya kau sangat khawatir dengan kemungkinan itu," Kuroro berkata, seolah memang jelas begitu adanya.
"Lagipula kenapa kau peduli?" Kurapika, masih tak mau menerima perhatian Kuroro yang tulus, membentaknya.
"Perlukah kau bertanya?" Kuroro balik bertanya.
Kurapika hanya bisa melongo mendengarnya.
TBC
A/N :
Wahh akhirnya selesai x'D sampai ga tidur siang di hari Minggu, sampai tangan pegal n jariku kayak kesetrum...
Terima kasih secara khusus kuucapkan untuk Sends dan Natsu Hiru Chan, karena bantuan dan dukungan merekalah chapter ini bisa publish!
Ok langsung ke balasan review chapter kemarin :
Mikyo :
Hohoho nanti terjawab di sekuel berikutnya xD
Sends :
Iyaa... Ini kilat khusus T,T
Nekomata Angel of Darkness :
Seiryuu emang lucu, tapi di chapter depan juga bakal ada seseorang yang ikut menyemarakkan suasana xD
Natsu Hiru Chan :
Waktu itu Kurapika nolong Kuroro dari tepi danau jadi ga masuk ke air...
Tentang Ging sama Anansi udah terjawab kan... Hehe
Kujo Kasuza Phantomhive :
Anansi itu OC kok... But sounds real, right? ^^
Ayo Kujo juga update lagi n aku juga minta hadiah ultah Dx
mayuyu :
Kuharap update ini udah cukup cepat, hehe
Shina Kurta :
Terima kasih atas dukungannya xD
Oke, jangan lewatkan chapter berikutnya!
Kita kenalan dengan seseorang x3
Review please... ^^
KUROPIKA FOREVER
