DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.
GENRE :
Adventure & Romance
WARNING :
AR, FemKura, Indonesian version.
CHAPTER 23 : SCARLET TEARS
Dekorasi yang mencolok dan lampu yang berkedip memenuhi seluruh mansion, merupakan sesuatu yang aneh bagi Kurapika. Dia mulai pusing karena semua kilatan cahaya dan warna-warna cerah itu. Suara berisik para tamu–semua perbincangan resmi dan tawa cekikikan itu–membuatnya gila. Itulah sebabnya dia sangat tidak menyukai pertemuan resmi seperti ini.
"Aku terkejut kau masih tidak terbiasa dengan ini," kata Kuroro sambil mengarahkan dirinya dengan mudah di antara kerumunan para tamu.
Kurapika mengikuti dekat di belakangnya, dia terlihat bersungut-sungut dan tidak senang. Kali ini, Kuroro bersikeras–mendesaknya–untuk mengenakan tube dress. Kuroro beralasan bahwa dia harus mencoba gaun dalam berbagai model; walau dia tak mengerti kenapa, dari semua model baju yang ada, dia harus memakai tube dress. Gaun itu menampakkan bahunya yang putih dan kurus dan Kurapika merasa telanjang dan tidak aman mengenakannya.
Akibatnya, Kurapika pun jadi sedikit membungkuk karena kurang percaya diri. Seringkali Kuroro harus mengingatkan gadis itu agar tidak membungkuk karena terlihat jelek, tapi terus saja diulangi. Saat akhirnya Kuroro sudah jengkel, pria itu menggunakan dirinya sendiri untuk menghilangkan kecenderungan itu.
Dengan cepat Kuroro melangkah ke belakang Kurapika–yang perhatiannya teralihkan karena gaun yang dipakainya sehingga tidak memperhatikan Kuroro sudah berdiri di belakang–dan menarik bahunya hingga seluruh punggung gadis itu menyentuh dada Kuroro. Kurapika membeku karena sentuhan ini.
"Sekarang kau pertahankan postur ini," Kuroro berbisik di telinga Kurapika, dan memberinya sensasi yang terasa aneh lagi.
Dalam satu gerakan cepat, Kuroro mengambil posisi di samping Kurapika dan menyelipkan lengannya ke pinggang gadis itu. Posturnya pun menjadi lebih tegak dan melengkung.
"Hingga kau bisa mengingat postur ini seperti kebiasaanmu, aku akan terus begini," Kuroro berkata, atau lebih tepatnya, mengancamnya.
Oh, Kuroro tahu Kurapika tidak menyukai kontak kulit apapun dengannya; pelanggaran privasi, begitulah dia menyebutnya. Kurapika menoleh, merengut padanya, tapi Kuroro mengabaikannya dan mulai menggiring gadis itu dengan sedikit mendorong tubuh Kurapika ke depan. Kurapika pun patuh dan berjalan berdampingan dengan Kuroro, membuat mereka lebih terlihat seperti pasangan pengantin baru yang mesra–yang sayangnya Kurapika dengar dari pasangan yang memperhatikan mereka.
Kuroro dan Kurapika mengamati aula dalam diam, bahkan tidak mau repot-repot untuk menyapa tamu-tamu lain yang tidak mereka kenal. Kuroro sudah memberitahunya untuk mencari seorang 'pria botak dengan kumis tebal seperti sikat', mengingat penampilan pria itu tidak berubah walau setelah beberapa tahun berlalu sejak terakhir kali dia mengunjungi Sang Duke.
"Kapanpun kami sedang tak ada kegiatan, biasanya aku menghabiskan sebagian besar waktuku sebagai peneliti. Dia punya investasi barang-barang langka yang luar biasa dan semacamnya. Semua yang eksotis dan langka menarik perhatiannya," Kuroro berbaik hati menjelaskan, walau Kurapika tidak bertanya.
Tak heran dia tahu banyak tentang hal-hal semacam itu–harta karun dan semacamnya...Dia seorang peneliti di bidang itu, pikir Kurapika sambil memutar kedua bola matanya.
Sesosok bayangan bergerak dengan luwes dan cepat di antara kerumunan, jelas sekali dia menuju ke arah Kuroro dan Kurapika. Kuroro memperhatikan kedatangan bayangan itu, tapi tak sedikitpun ia bersiaga. Kuroro tahu siapa itu.
"Dan tentu saja ada peneliti yang lainnya juga," Kuroro berkata dengan seulas senyum tipis di wajahnya.
"Lucifer!" Sebuah suara yang terdengar muda menyapa pria itu saat bayangan tersebut berhenti di hadapannya, menampakkan seorang pria tinggi kurus dengan rambut hitam yang terurai panjang bagai tirai sutra sedikit melewati bahunya. Wajahnya tirus dan panjang, dengan tulang pipi menonjol dan kulit pucat seperti mayat seolah tak ada darah yang mengalir di balik kulit porselennya itu. Matanya adalah yang paling mencolok dari keseluruhan wajahnya; berwarna abu-abu yang dingin, terlihat seperti warna biru yang sangat pucat, dengan permukaan seperti kaca yang memberikan kehidupan pada sepasang masa yang seharusnya tampak seperti mata orang yang sudah mati itu.
"Hei, aku tak mengira akan bertemu denganmu di sini! Dan lagi, mungkin seharusnya aku bisa menduganya," ucap pria terhormat itu ceria dengan kedua tangan yang terbuka lebar.
Kali ini, tidak seperti waktu itu dengan Anansi, Kuroro membiarkan pria itu memeluknya seperti saudara sendiri. Kurapika menaikkan kedua alis matanya. Jika Kuroro mengijinkan hal kekeluargaan seperti itu, artinya pria tersebut orang yang cukup dekat dengannya. Kemungkinan besar lebih dekat dari hubungannya dengan para anggota Genei Ryodan; tetapi jika memang begitu, kenapa dia tak pernah muncul sebelumnya?
"Dia salah seorang dari peneliti yang kau bilang tadi?" Kurapika bertanya, walau dia tahu apa jawabannya bahkan sebelum dia bertanya.
"Ya," Kuroro menjawab. Lalu dia berbalik untuk memperkenalkan teman lamanya. "Lucian Virgiliu, Count Wallachia. Sudah lama ya."
Kurapika memicingkan matanya. Bagaimana mungkin Kuroro Lucifer, dari semua manusia yang ada di dunia ini, berkenalan dengan orang-orang yang berasal dari kalangan atas? Baiklah, jadi sekarang seorang Count. Sebelumnya Lady Ryuusei-gai (yang setara dengan seorang Ratu, mungkin?), lalu Sang Duke. Nanti siapa lagi? Seorang Kaisar, mungkin?
"Oh, lupakan semua formalitas itu, Teman," Count muda itu mengibaskan tangannya. Ketika pandangannya jatuh pada Kurapika, seringai lebar terlihat di wajah pucatnya. "Dan ini pasti teman wanitamu?"
"Begitulah," jawab Kuroro enteng sambil mengambil segelas anggur yang ditawarkan pelayan yang kebetulan melewatinya.
Kuroro sengaja tidak menawari Kurapika; dia tahu gadis itu tidak tahan pada anggur atau minuman beralkohol lainnya. Dia sudah punya cukup pengalaman untuk tidak kembali mengambil resiko membuat Kurapika mabuk. Kurapika, di saat yang sama, tidak menghiraukannya. Bahkan dia senang pria itu menyelamatkannya dari formalitas yang melelahkan.
"Dan dia akan berperan sebagai siapa?"
"Istriku," jawabnya datar hingga Kurapika mendadak tersedak karena alasan yang tak jelas.
"Hoo..." dia bersiul santai sambil menatap Kurapika dengan tatapan kagum. Itu adalah sikap tubuh Kuroro yang dibenci Kurapika; membuatnya merasa begitu percaya diri. "Aku tak pernah mengira kau akan mengambil seorang wanita untuk menjadi soţie-mu ('istri' dalam bahasa Rumania). Lucifer Sang Serigala Penyendiri, hah?"
Kurapika sedikit berkedut saat ia menyebutkan tentang 'sang serigala penyendiri'. Terdengar begitu salah di telinganya; ada kesan mesum di situ. Lucian memperhatikan sikap tubuh yang hampir tak kentara ini dan menafsirkannya sedikit keluar dari jalur.
"Sebenarnya, fata ('gadis' dalam bahasa Rumania), seharusnya aku memanggilnya Kuroro, benar 'kan? Tapi aku memilih untuk memanggilnya Lucifer. Tahukah kau apa alasannya?"
Kurapika menggelengkan kepalanya pelan, tapi dia merasakan sesuatu yang aneh akan segera datang.
"Karena dengan begitu nama kami berdua akan terdengar mirip. Lucian, Lucifer. Pasangan Lu-Lu!"
Tanpa sadar mulut Kurapika menganga beberapa senti. Apakah Lucian bermaksud menciptakan pelesetan dengan kata 'lulu'?
"Cukup sudah dengan lelucon konyol itu, Lucian. Itu tidak lucu," kata Kuroro datar.
"Aw, kau tidak asyik!"
"Rupanya kau masih harus menunggu lebih lama untuk tumbuh dewasa, berlawanan dengan umurmu yang sebenarnya."
"Pfft. Jangan mulai memberitahu dunia tentang umurku yang sebenarnya, oke? Ternyata kau kasar juga," Lucian memicingkan matanya, berpura-pura merasa tidak senang; tak ada sakit hati atau apapun. "Jadi apa yang sedang kaulakukan? Aku tak melihat rombonganmu di manapun juga di sekitar sini."
"Bukan urusanmu untuk mengetahui hal itu."
"Pelit sekali," Lucian mendecakkan lidahnya kesal.
"Dan bagaimana denganmu?"
"Aku? Urusan biasa. Bepergian keliling dunia mencari sesuatu yang menarik perhatianku. Berburu harta karun sudah pasti menyenangkan," dia berkata sambil tertawa pelan.
Jika dia seorang Hunter, dia akan menjadi Treasure Hunter, ucap Kurapika dalam hati. Tak heran dia tak pernah muncul sebelumnya; dia terlalu sibuk mencari harta karun dengan berkeliling dunia.
"Oh, dan Kurapika?"
Kuroro menoleh memandang Kurapika, dan gadis itu mendongak menatap Kuroro tepat di matanya. Belakangan ini sikap seperti itu tidak lagi menimbulkan kecanggungan di antara mereka; seolah telah menjadi kebiasaan seperti halnya dengan bernapas. Sebelumnya, sangat sulit bagi Kurapika untuk menatap Kuroro di matanya bahkan tanpa perasaan marah sekalipun.
"Kau menjauhlah darinya," ucapnya datar.
"Hah?" Kurapika berkedip. Ucapan Kuroro tadi tidak seperti dirinya yang biasa, mengatakan hal seperti itu secara terang-terangan mengenai teman dekatnya—jika Lucian dianggap sebagai salah satunya.
"Kau kejam sekali, Lucifer. Kau berbicara buruk tentangku tepat di hadapanku," Lucian berkata, berpura-pura merasa terluka. "Jangan khawatir, aku tak akan meminum darah istrimu."
Wajah Kurapika menjadi pucat pasi dan begitu jelas terlihat sehingga Kuroro pun tertawa.
"Dia seorang vampir," Kuroro memberitahunya.
Ah, pantas warna matanya terlihat begitu tidak hidup. Walaupun raut wajah cerianya menambah aura kehidupan di dalam matanya, pikir Kurapika.
"Yah, tentu akan sangat bijaksana jika kau pun mejauh darinya," Kuroro berkata sambil menyesap anggurnya dengan senyum geli terpampang di wajahnya. "Aku yakin darahnya akan terasa sangat buruk."
Kurapika tidak tahu apakah dia harus merasa dipuji atau tersinggung. Namun, Lucian melengkungkan kedua alis matanya, dia merasa tertarik.
"Dan apa yang membuatmu bisa berpendapat
seperti itu?" Dia bertanya dengan penasaran.
"Dia berbagi darahku," kata Kuroro singkat, tapi rupanya cukup jelas bagi vampir itu.
"Itu menjelaskan pendapatmu barusan," ucapnya masam. "Sayang sekali. Tidak, itu benar-benar sangat disayangkan; sungguh mubazir."
Melihat Kurapika tak mengerti percakapan kedua pria tersebut, Lucian berinisiatif untuk menjelaskan padanya.
"Draga ('sayang' dalam bahasa Rumania), temanmu ini punya darah yang rasanya seperti racun bagiku. Sangat buruk sebenarnya, karena darahnya tercampur dengan sesuatu yang jahat."
"Darah Ishtar," Kuroro bergumam pada gadis itu. "Vampir hanya meminum darah manusia dan binatang. Makhluk-makhluk lainnya, terutama yang berbahaya seperti mereka, seringkali akan lebih beracun bagi sesamanya."
"Oh begitu," Kurapika bergumam dengan sudut bibir yang berkedut karena gugup. Dia tidak tahu apakah dia harus merasa senang atau bingung dengan informasi itu.
Kalian berdua adalah manusia yang nyaris tidak murni, suara Seiryuu kembali bergema di kepalanya, dan membuatnya gelisah karena hal itu mengingatkannya akan darahnya yang aneh.
"Ngomong-ngomong, apa kau tahu apa yang akan dipamerkan Si Tua Abelard itu malam ini?" Tanya Lucian dengan gembira.
"Sepasang Mata Merah," jawab Kuroro datar.
"Sudah kuduga kau pasti tahu," Lucian menepuk bahu Kuroro. "Dan lagi, aku yakin harta milikku melebihi kelangkaan dan keindahan hartanya."
"Oh?" Kuroro menaikkan salah satu alis matanya heran. "Dan harta apakah itu yang 'melebihi kelangkaan dan keindahan Mata Merah'?"
Lucian menyeringai lebar seperti kucing Cheshire.
"Akan kutunjukkan padamu. Ikut aku."
Lucian baru saja berbalik dan akan melangkah ke kamar yang disiapkan untuknya ketika Kuroro menghentikannya.
"Tidak sekarang, Lucian. Untuk saat ini kami punya urusan penting dengan Duke."
Jika dia seekor anak anjing, kedua telinganya akan terkulai di kepalanya, mengeluarkan suara merengek dan kecewa.
"Kau sudah bertemu dengannya?" tanya Kuroro, mengabaikan lelucon Lucian.
"Tidak tahu. Pasti dia ada di antara kerumunan, menghibur para tamu," jawabnya sambil cemberut.
Kuroro memberinya seulas senyum tipis, merasa geli melihat Lucian. Dia berjalan melewati vampir itu dan menepuk bahunya pelan dua kali, seolah berusaha meyakinkannya. Kuroro lalu memberikan gelas anggurnya yang sudah setengah kosong.
"Aku akan menemuimu lagi nanti."
Suaranya terdengar begitu lembut dan seperti saudara hingga Kurapika hampir terpeleset karena terkejut. Kuroro menatapnya dengan menaikkan sebelah alis matanya, yang hanya ditanggapi Kurapika dengan tatapan tajam untuk mengisyaratkan pada pria itu 'urus urusanmu sendiri.' Wajah Lucian pun berbinar dan dia tersenyum senang pada Kuroro, walau pria itu sudah melangkah pergi bersama Kurapika yang mengikuti di belakangnya.
"Aku sayang padamu, Saudaraku," Dia berseru dari tempatnya berada.
Kali ini, Kuroro-lah yang hampir terpeleset. Beberapa orang di sana menatapnya bingung, yang diabaikan Kuroro tanpa kesulitan, namun entah kenapa raut wajah geli dari Kurapika berdampak lebih besar daripada semua tatapan itu.
"Aku sayang padamu, Saudaraku," Kurapika menirukan Lucian dengan sangat gembira.
Kuroro memberinya tatapan yang mengancam, namun diabaikan gadis itu dan terus berlanjut hingga ia perlu menahan tawanya. Satu hal yang pasti, Kurapika menyukai selera humor Lucian yang bagus.
"Lucifer, anakku tersayang! Bagaimana kabarmu?" Seorang pria tambun, ceria, menyambut mereka dengan kedua lengan gemuknya yang terbuka lebar dalam pelukan selamat datang segera setelah dirinya melihat Kuroro.
"Sangat baik, Duke. Bagaimana denganmu?"
"Tak mungkin lebih baik," dia berkata sambil tertawa dengan gembira. Bagi Kurapika, dia adalah contoh sempurna seorang pria tua yang bahagia. "Oh, lihat siapa ini. Teman wanitamu, bukan?"
Dia membungkukkan badannya pada Kurapika dengan sopan dan meraih tangannya untuk mencium punggung tangan gadis itu sekilas. Kurapika berusaha sebaik-baiknya untuk tidak tersentak saat bibir Sang Duke menyentuh kulitnya.
Dia seorang Casanova yang terkenal, kata-kata Kuroro pun bergema di kepalanya, membuat Kurapika panas dingin...mengetahui bahwa Sang Duke memang berusaha main mata dengannya.
"Istriku," Kuroro meralat.
"Ah..." Sang Duke bergegas melepaskan tangan Kurapika dan memberinya seulas senyum permohonan maaf sambil berdehem. "Begitu..."
"Bagaimana kabarmu, Duke Cenebum yang terhormat?" Kurapika membungkuk hormat padanya, berusaha untuk bersikap sopan. Dia tak memperhatikan perubahan sikap pria tua itu yang hampir tak kentara saat Kuroro menyebutkan 'istriku'.
"Ohoho, wanita muda yang cukup mempesona, bukan?" Sang Duke tertawa. "Berapa umurmu, Mademoiselle? ('Nona' dalam bahasa Perancis)"
Kurapika terpaku dan menoleh pada Kuroro, diam-diam bertanya padanya. Haruskah dia memberitahukan umurnya yang sebenarnya? Kuroro hanya menatap kosong padanya, sungguh tidak membantu sama sekali. Kurapika berusaha untuk tidak merengut pada pria itu, karena tidak pantas bagi seorang istri untuk merengut pada suaminya.
"Em...Tujuh belas?" Kurapika mengaku sembari merasa gugup.
"Tujuh belas?" Sang Duke mengulang, syukurlah atas kuasa Tuhan dia tidak sampai berseru mengatakannya.
"Lucifer! Dia terlalu muda untuk menjadi épouse-mu! ('istri' atau 'pasangan' dalam bahasa Perancis)" Protes Sang Duke, bingung dengan keputusan Kuroro yang sepertinya tak pantas, menjadikan gadis semuda itu sebagai istrinya.
Kurapika bingung dan tersipu, tak tahu harus berbuat atau berkata apa. Kuroro hanya tersenyum dengan begitu menawan kepada majikannya.
"Kenapa tidak? Dia sudah cukup umur."
"Tapi–"
"Duke, walau bagaimana pun kau menentangnya, itu tak akan merubah apapun. Dia sudah menjadi istriku." Terdengar kesan penutup pada suaranya, menunjukkan bahwa dia tak mau lagi menerima perdebatan apapun mengenai masalah itu.
"Yah, kurasa kau benar..." Sang Duke menghela napas. Lalu dia memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan mereka. "Jadi, Lucifer, harta seperti apa yang kau bawa?"
"Hmm... " Kuroro memasang sikap tubuh yang biasa dia tunjukkan saat sedang berpikir. "Bagaimana dengan istriku ini? Dia harta yang cukup langka, bukan?"
Kuroro hanya setengah bercanda di sini. Sebenarnya, Kurapika memang merupakan suatu harta; yaitu keturunan terakhir Suku Kuruta yang masih hidup. Tentu dia tak akan membocorkannya pada Duke, namun tetap saja dia memang menganggap Kurapika sebagai harta atau semacamnya.
Sang Duke, tak tahu akan hal itu, langsung tertawa. Sementara Kurapika merasa seperti ingin muntah.
"Aku tak pernah mengenalmu sebagai orang yang romantis seperti itu," Dia berkomentar.
"Kudengar orang berubah setelah mereka menikah," Kuroro merendah.
Oh, sekarang Kurapika benar-benar ingin muntah.
"Wah, wah. Istrimu sungguh berpengaruh besar bagimu, aku mengerti."
Kini Sang Duke memandang Kurapika dengan penghargaan dan rasa hormat. Kurapika bergerak-gerak tak nyaman di bawah pengamatannya. Dia tak pernah suka diamati dengan begitu dekat dan intens. Namun di saat yang bersamaan, dia pun ingin menampar 'suami'-nya yang pandai berkata manis itu.
"Begini, Duke," Kuroro mendekati pria itu dan berbicara dengan suara pelan saat Kuroro memutuskan sekaranglah saatnya untuk bicara bisnis. "Hartaku ini adalah sesuatu yang sangat langka, dan terlintas dalam benakku untuk menukarnya dengan harta milikmu."
"Menukarnya? Wah, wah, itu patut diperhatikan, mengingat pendapat itu datang dari dirimu," Duke tua itu menaikkan sebelah alis matanya yang tebal, dan mengisyaratkan Kuroro dan Kurapika untuk ikut ke tempatnya.
Dia meminta mereka menunggu di ruang tamu pribadinya, sementara dia mengambil Mata Merah miliknya sendirian. Pasangan itu duduk di sofa. Kurapika mengamati keseluruhan ruangan itu dengan penuh rasa ingin tahu; ruangan yang ditata dengan sangat mewah, belum lagi berbagai benda berharga lainnya yang ada di sana.
"Aku terkejut kau tak pernah mencoba merampoknya," komentar Kurapika pelan.
"Aku menghormatinya, dan itu sebabnya aku tak akan mencuri apapun darinya, terutama pada kesempatan ini. Itu akan mencemari nama baiknya, dan aku tak mau itu terjadi," ucap Kuroro singkat.
"Terberkatilah mereka yang kau hormati,'' ejek Kurapika. "Karena mereka terhindar dari kemungkinan dirampok dengan konyolnya oleh Genei Ryodan."
Kuroro hanya mengangkat bahunya, tak terpengaruh oleh ejekan gadis itu. Tak lama, Sang Duke kembali memasuki ruangan itu dengan membawa sebuah kotak yang kokoh dalam rengkuhan kedua lengan gemuknya. Dia meletakkan kotak itu di atas meja yang terbuat dari kayu mahoni di hadapan Kuroro dan Kurapika, sehati-hati mungkin. Dia membukanya dengan cara yang begitu dramatis, dan tampaklah Mata Merah itu.
Kuroro tidak terkesan sedikit pun, sebelum ini dia sudah sering menikmati waktunya dengan menatap bola mata yang mengapung itu, tapi Kurapika ternyata tak pernah merasa lelah untuk gembira ketika melihat mata yang berharga itu. Dia menegakkan posisinya dan mencondongkan badan untuk melihat kedua bola mata itu lebih dekat. Baiklah, itu asli.
"Jadi? Bagaimana menurutmu? Apa yang bisa kau tawarkan untuk ditukar dengan mata ini?" Sang Duke bertanya sambil duduk bersandar di kursinya yang besar.
Dengan senyum penuh teka-teki, Kuroro bergerak dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Dia meletakkan benda yang dia sebut 'harta miliknya yang paling berharga' –yang sebenarnya tidak begitu adanya–dengan hati-hati di atas meja. Sebenarnya dia tidak peduli dengan benda itu. Abelard Constantine langsung melongo saat dia memegang benda yang hendak ditukarkan Kuroro.
"B-Bagaimana kau bisa memilikinya?" Seru Sang Duke, masih tak bisa menerima kenyataan bahwa dia sedang menatap Bulu Phoenix seperti yang dikisahkan dalam dongeng.
Kuroro tersenyum penuh kemenangan. Melihat ekspresi wajahnya, dia tahu bahwa dia memenangkan kesepakatan di antara mereka.
"Bukan masalah bagaimana aku mendapatkannya. Aku hanya tertarik apakah kau mau menukarkan Mata Merah itu dengan sehelai bulu ini, atau tidak," ucapnya malas.
"Perkenankan aku memeriksanya dulu," mohon Sang Duke.
Kuroro mempersilakannya dengan memberi isyarat melalui sebelah tangannya, dan dengan sangat hati-hati Duke memeriksa Bulu itu bagai kristal yang sangat rapuh dan akan hancur jika dipegang dengan kasar.
"Ini sungguhan," Sang Duke berbisik takjub dan senang.
"Tentu saja. Kau meragukan kredibilitasku?" Kuroro menanggapi, dengan nada yang agak terlalu angkuh menurut Kurapika.
"Tidak, tidak, tentu saja tidak."
"Jadi?"
"Mata Merah itu milikmu," Sang Duke memutuskan dengan begitu cepat, matanya yang lapar tak lepas dari Bulu Phoenix di tangannya.
"Bagus. Aku akan meminta Lucian mengambilkannya untukku," ucap Kuroro sambil beranjak dari duduknya, diikuti oleh Kurapika; yang hanya menjadi pengamat sedari tadi.
Setelah menyelesaikan segala formalitas, Kuroro dan Kurapika pamit dan melangkah menuju ke aula di mana tamu-tamu lain memanjakan diri mereka dengan obrolan dan minuman yang tidak membahayakan. Mereka berdua sudah menduga manfaat Bulu Phoenix itu ketika Kuroro menerima pesan dari Abelard Constantine. Itu merupakan salah satu bukti bahwa mereka tak perlu saling memberikan konfirmasi; contohnya saja, Kurapika tidak terkejut lagi saat Kuroro mengajukan Bulu Phoenix untuk ditukarkan.
Tak ada lagi yang perlu mereka diskusikan. Semua berjalan lancar sesuai rencana. Yah, mungkin kecuali bagi Lucian.
"Apa? Memangnya aku ini siapa? Suruhanmu?" Protes Lucian segera setelah Kuroro memberitahu janji yang ia ucapkan kepada Duke bahwa Lucian akan mengambilkan Mata Merah itu untuknya.
"Berbaik hatilah sedikit, Lucian. Lagipula, kau berhutang budi padaku," Kuroro berkata sambil tersenyum nakal.
"Iya, iya! Aku akan melakukannya, asal jangan mulai mengingatkanku tentang 'budi baik'-mu itu!" Lucian mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, dan mulai bergumam, menggerutu pada dirinya sendiri.
Lucian mengarahkan mereka ke kamar yang disiapkan khusus untuknya, di mana hartanya yang berharga berada, yang dia janjikan untuk memperlihatkannya pada Kuroro dan Kurapika. Ketika mereka sampai di kamar itu, Kuroro melihat ke sekeliling kamar dan memperhatikan ada sesuatu yang terlupakan.
"Bukankah kau juga seharusnya membawa teman wanita?"
"Oh, aku membawanya, kok," Lucian menyeringai.
Dia bersiul dan dalam sekejap seekor kucing hitam muncul begitu saja. Kucing betina itu mengeluarkan suara seperti suara dengkuran dengan perlahan sambil menggesekkan badannya yang lentur dan berbulu ke sepatu bot Lucian. Lucian mengangkat kucing itu dan mulai mrmbelainya dengan penuh kasih sayang.
"Ini dia. Namanya Stella, karena dia punya bulu berbentuk bintang di keningnya."
"Seekor kucing?" Kurapika kebingungan.
" Kenapa, draga, undangannya tidak secara khusus menyebutkan bahwa aku harus membawa teman wanita seorang manusia." Dia menyeringai lebar padanya, membuat Kurapika teringat akan Killua. Mungkin ketika Killua sudah tumbuh dewasa, dia akan sedikit mirip dengan Lucian.
"Kau dan penafsiranmu yang aneh, " kata Kuroro geli.
"Itu yang membuat semua jadi lebih menarik, hei kau pria yang terperangkap," Lucian menjulurkan lidahnya pada Kuroro sebelum melepaskan kucing itu dari pelukannya. Si Kucing berjalan melintas memasuki kamar, menghilang ke balik pintu yang sedikit terbuka.
"Oya, 'hartaku'... " Dia berkata tanpa sadar sambil melangkah di belakang Stella menuju ke kamarnya."Kau tahu Lucifer, ketika aku melihat soție - mu, terus terang aku terkejut karena... "
"Lucian," Kuroro tiba-tiba berkata dengan tajam. "Kurasa aku tahu 'hartamu' itu apa."
"Oh." Lucian berhenti di tengah jalan menuju ke kamarnya. Lalu dia melirik Kurapika yang terlihat agak gelisah. "Yah, kalau menurutmu begitu..."
"Aku mau melihatnya," Kurapika tiba-tiba berkata. "Aku ingin melihatnya," Dia mengulangi ucapannya sambil memberikan penekanan.
"Fata, Sayang, menurutku ini bukan pemandangan yang indah untukmu."
"Alasannya?"
"Yah..."
"Kumohon, tunjukkan padaku."
Lucian memandang Kuroro yang akhirnya menyerah dan menganggukkan kepalanya. Dengan ragu, Lucian mengeluarkan sebuah kotak berisikan harta miliknya dari dalam kamar; kotaknya berukuran cukup besar untuk memuat satu kepala manusia. Perlahan Lucian membuka kotak itu dan, benar saja, sebuah tempat dengan kepala yang mengapung di dalamnya pun terlihat—sebuah kepala yang sangat dikenali Kurapika.
Matanya yang bagai samudera langsung menyala merah.
"Aniki—"
Lalu dia pun tak sadarkan diri, bukan karena terkejut tapi karena Kuroro memukul tengkuknya dengan kekuatan yang mampu membuatnya pingsan. Lucian terlihat agak terkejut dengan keseluruhan adegan itu.
"Dia seorang Kuruta yang masih hidup?"
"Yang terakhir," kata Kuroro singkat sambil membawa tubuh Kurapika yang tak sadarkan diri, dengan cara bridal style.
"Kupikir bukankah kau yang...Lalu bagaimana mungkin dia..." Lucian terlihat bingung seolah dia sudah melihat hal yang paling aneh dalam hidupnya.
"Ceritanya panjang, dan rumit."
"Aku suka cerita yang panjang. Beritahu aku, Lucifer."
"Kapan-kapan, Lucian. Ada masalah yang lebih mendesak sekarang. Imbalan apa yang akan membuatmu setuju untuk melepas Mata Merah milikmu itu?"
"Apa yang bisa kau tawarkan?" Tanya vampir tersebut sambil melipat kedua lengannya di dada.
"Bantuan dariku. Apa itu bisa diterima?"
"Hmmm..." perlahan Lucian menoleh menatap Kurapika dengan tatapan ganjil di matanya yang aneh.
"Dia pengecualian, Lucian."
Walaupun suara Kuroro tenang dan terkendali, Lucian tahu pria itu benar-benar serius. Dia pun memasang sikap tubuh tanda menyerah—sebaiknya jangan bermain-main dengan apa yang menjadi milik dari Kuroro Lucifer.
"Kurasa itu kesepakatan yang cukup adil. Bantuan darimu, Pemimpin Genei Ryodan yang terkenal kejam, hampir sama dengan bantuan dari seluruh kelompok. Mungkin itu akan sangat berguna," dia mengangkat bahunya santai.
"Bagus. Aku akan mengirim anak buahku untuk mengambil Mata Merah itu nanti."
"Kepala, maksudmu," Lucian menyeringai seram. "Oh, dan kirimlah Paku, oke? Dia satu-satunya yang paling normal di antara semua anak buahmu."
"Dia sudah lama mati," ucap Kuroro datar, suaranya tak menunjukkan emosi apapun.
Lucian terperangah, mulutnya membentuk huruf O besar.
"Dia membunuhnya," Kuroro memberi isyarat pada Lucian ke arah Kurapika yang pingsan dalam pelukannya dengan menganggukkan kepala.
"Oh. Aku mengerti," komentar Lucian dengan canggung. Kini suatu pertanyaan besar muncul di benaknya; bagaimana bisa dia bepergian dengan pembunuh anak buahnya? Dan lagi, pertanyaan yang sama juga berlaku untuk Kurapika : bagaimana bisa dia bepergian dengan pembunuh seluruh sukunya?
"Aku akan mengirim Machi."
Sebelum Lucian bisa protes atau berkata apapun lagi untuk menentang keputusannya yang terburu-buru, Kuroro pun pergi.
"Oh. Tuhan," Lucian menggaruk bagian belakang kepalanya, merasa tak yakin apa yang harus dilakukan dengan situasi yang terjadi saat ini.
Tepat di hadapannya, adalah suite yang disiapkan untuk Kuroro dan Kurapika, namun kini kosong DAN setengahnya hancur. Sebenarnya, tak ada yang rusak kecuali pintu yang menuju ke balkon, ditambah dengan beberapa retakan di dinding. Lucian hanya bisa menggelengkan kepalanya keheranan.
"Sungguh pasangan yang kasar," dia menghela napas dan pergi untuk memberitahu Abelard Constantine tentang penyebab di balik guncangan kecil dan suara ribut yang sebelumnya terjadi. Tentu saja Lucian harus mengarangnya, karena sedikit pun dia tidak tahu ada apa.
Peristiwa itu berawal dari reaksi Kurapika yang meledak saat dia siuman.
Hal pertama yang diingat gadis itu ketika membuka matanya adalah tatapan mata kakaknya yang menyala merah terang—tingkatan warna yang diam-diam menurut Kuroro hanya menempati posisi kedua jika dibandingkan dengan Mata Merah milik Kurapika. Mata itu menyuarakan dorongan balas dendam yang penuh hasrat bagi Kurapika, dan menghidupkan kembali rasa hausnya akan balas dendam yang sempat terabaikan.
Sebelum Kurapika menyadarinya, dia sudah mengamuk—menyerang Kuroro dengan gencar dan membabi-buta, tak peduli dia sedang mengenakan tube dress dan mereka tengah berada di suite milik orang lain. Setelah gadis itu menghancur-leburkan pintu balkon, Kuroro memancingnya pergi dari tempat itu untuk menghindari perhatian yang tak perlu dari para tamu.
Demikianlah, pertarungan mereka pun terjadi di hutan tak jauh dari kediaman Abelard Constantine.
Pertarungan yang melelahkan, Kuroro harus mengakui hal ini. Gadis itu tidak ragu ataupun berhenti, sama sekali tidak memberi kesempatan bagi Kuroro untuk beristirahat. Terus menyerang seperti banteng gila, tak bermaksud berhenti hingga berhasil mencabik-cabik nyawa dan jiwa pria itu keluar dari tubuhnya. Kebulatan tekadnya membuat Kuroro lemah. Kekuatan Reinforcement-nya membuat dirinya bingung—Kurapika mampu menghancurkan batang pohon yang besar dengan tangan kosong. Ini membuat Kuroro teringat pada Uvogin, tapi yang membuatnya semakin mengagumi Kurapika adalah kelihaian dan daya tahannya dalam mempertahankan kemampuan Emperor Time—yang semestinya membutuhkan Nen yang sangat besar untuk mempertahankan semua tipe Nen di waktu yang bersamaan dalam jangka waktu yang lama, belum lagi penggunaannya yang terbatas.
Chain Jail milik Kurapika menari mematikan namun anggun mengitari Kuroro, berusaha menggigitnya hingga mati dengan kaitannya. Tak sulit menghindari serangan rantai itu, tapi yang diwaspadai Kuroro hanyalah trik yang dimiliki Kurapika—gadis itu seorang petarung yang licik, baiklah.
Sementara Kurapika mengandalkan Chain Jail-nya semata, Kuroro harus menggunakan Pisau Benz—pisau beracun yang cukup ampuh untuk melumpuhkan seekor ikan paus. Dia hanya perlu memberinya sayatan yang dangkal, dan pertarungan akan berakhir. Masalahnya, gadis itu sungguh hebat mampu menghindari serangannya.
Seketika, Kuroro kebetulan berada dalam kesempatan yang sempurna untuk melumpuhkan gadis itu—di belakangnya ada pohon tua yang besar, lebar, memiliki batang yang kuat dan besar. Dengan satu jentikan pergelangan tangannya, Kuroro melemparkan beberapa buah paku berukuran sebesar pemecah es kepada Kurapika dan rupanya Dewi Fortuna berada di pihaknya.
Paku-paku Kuroro menancap tepat menembus daging telapak tangan Kurapika dan gadis itu benar-benar terpaku ke batang pohon yang ada di belakangnya. Kuroro yakin dia sudah memakunya ke pohon itu, karena kekuatan yang dia kerahkan saat melemparkan paku-paku itu cukup besar untuk menancapkannya dalam-dalam ke batang pohon. Posisi Kurapika saat itu mirip seperti orang yang disalib.
Yang sangat membuatnya terkejut, dan mungkin juga ngeri, perlawanan Kurapika tak ada batasnya. Sambil mengerang dan menjerit bagai binatang yang terluka, Kurapika berusaha membebaskan dirinya dari paku-paku itu. Dia menarik tubuhnya ke depan, tak mempedulikan kedua telapak tangannya yang berdarah dan daging yang tercabik dari tulangnya.
"Kurapika, berhenti!" Kuroro berteriak padanya, tapi Kurapika tak akan berhenti. Dia tak pernah mengira gadis itu akan bertindak sejauh ini, mencabik dagingnya sendiri untuk bisa menghampiri Kuroro. Seberapa jauhkah kebencian Kurapika terhadapnya yang bergolak itu membesar?
Sesaat kemudian, dengan jeritan terakhir, Kurapika membebaskan telapak tangannya dari paku-paku itu. Paku-paku tersebut tetap pada tempatnya, tertanam di batang pohon. Tertutupi darah Kurapika, dan luka terbuka di telapak tangannya mengalami perdarahan hebat, seperti air ledeng. Jika tak diobati, dia bisa mati karena kehabisan darah. Kurapika tersandung dan jatuh ke tanah, tapi ketika dia menyokong tubuhnya dengan kedua tangan yang hancur, bahkan dia tidak tersentak kesakitan sedikitpun. Bagai dikuasai iblis, Kurapika mengabaikan luka mengerikan itu dan malah langsung menyerang ke arah Kuroro.
Lagi, Kuroro harus menjaga jarak dari gadis gila itu sambil terus menyebarkan En-nya. Hal ini menghabiskan Nen-nya, dan dia tahu tak bisa terus melakukan itu. Dia harus menghentikan Kurapika tanpa benar-benar membunuhnya—itulah hal tersulit yang pernah dilakukan Kuroro dalam hidupnya. Ini karena Kuroro bersikeras memegang teguh pendiriannya untuk tidak membiarkan gadis itu mati.
"Kurapika, kendalikan dirimu!"
Suara Kuroro tak pernah sampai ke akal sehat di benak Kurapika, karena sudah dihalangi pikirannya yang kacau. Setelah beberapa menit berlalu dan masih dalam permainan yang sama, Kuroro benar-benar mulai lelah dengan pertarungan ini; belum lagi jumlah darah Kurapika yang mengalir begitu banyak membuatnya sungguh tak senang.
Akhirnya, Kuroro memutuskan bahwa ini sudah pada batasnya. Sudah cukup. Dia menteleportasi dirinya tepat di hadapan Kurapika—membuat gadis itu sangat terkejut. Dalam sepersekian detik yang terlihat melambat tanpa batas waktu, Kuroro mencengkram kedua bahu Kurapika dan mengarahkan lututnya ke ulu hatigadis itu. Saat Kurapika meringkuk, Kuroro memberikan serangan penyelesaian—sebuah sayatan di bagian lengan atasnya. Sayatan itu sedikit dalam, maka darah pun memancar keluar lebih banyak lagi, namun Kuroro yakin racunnya berhasil memasuki sistem tubuh Kurapika. Masalah lain pun muncul : gadis itu masih bertahan.
Saat dia jatuh begitu saja ke tanah, suatu kenyataan merasuk ke dalam benaknya bahwa dialah yang kalah total. Kuroro berjongkok di sebelahnya, mengamatinya keheranan—dia orang 'normal' pertama—pastinya Silva Zaoldyck di atas normal—yang mampu bertahan dari Pisau Benz miliknya yang beracun. Dengan menyentak, gadis itu mencengkeram kemeja Kuroro dengan kedua tangannya yang berlumuran darah. Dengan tangan yang gemetar dia mengangkat tubuhnya, dan Kuroro memeganginya dengan hati-hati.
Kurapika menatap Kuroro tajam, namun tatapan itu segera berubah menjadi tatapan penuh tangis. Air mata membanjiri pipi pucatnya secara tak terkendali. Tetesan lembut air yang mengandung garam itu memantulkan warna merah dari Mata Merah-nya yang menyala, memainkan tipuannya di mata Kuroro. Sekilas pria itu menduga Kurapika menangis darah, tapi dia segera merubah pikirannya yang bodoh itu.
Air Mata Merah..., gumamnya.
Suara isakan mulai lolos dari tenggorokan Kurapika, lalu dia pun menyembunyikan wajahnya di kemeja Kuroro. Itu adalah sikap yang tak biasa dilakukan seseorang yang lagi-lagi gagal mengalahkan musuh bebuyutannya.
Kurapika mulai meratap dan menangis seperti bayi, ia tumpahkan segala kesedihannya. Betapa kesalnya dia saat menyadari bahwa dirinya tak bisa mengalahkan Kuroro Lucifer walau apapun yang terjadi. Pria itu masih berada di atas kemampuannya. Dia tak memiliki kesempatan sedikitpun untuk mengalahkannya, dan dia tahu itu. Dia mungkin bisa mengalahkan Laba-laba lainnya, seperti Uvogin, tapi tidak Kuroro Lucifer. Pria itu terlalu kuat. Bahkan ketika Kurapika mempertaruhkan nyawanya demi mendapatkan kekuatan, Kuroro masih terlalu kuat untuknya.
"Terkutuk kau! Terkutuk kau...!" Dia bergumam di tengah ratapannya. Daripada kutukan, bagi Kuroro lebih terdengar seperti permohonan.
Tak lama kemudian, racun pun bekerja di tubuh Kurapika dan akhirnya gadis itu takluk tak sadarkan diri. Begitu dia terkulai lemas dalam pelukan Kuroro, Kuroro memeganginya; memeluk erat sosok rapuh itu seolah akan hancur jika Kuroro melepasnya. Kuroro bisa merasakan kemejanya basah kuyup karena darah dan air mata gadis itu. Banyaknya darah yang mengalir dari tubuh Kurapika mengusik Sang Pemimpin Genei Ryodan. Detak jantungnya menjadi tak menentu, sebuah suara berkata dari balik benaknya :
Dia sekarat...
Kuroro tidak tahu apakah suara itu datang dari ikatan yang terbentuk karena darah mereka atau jeritan Nen miliknya yang ditinggalkan di dalam tubuh Kurapika. Satu hal yang ia tahu pasti adalah suara itu benar. Kurapika memang sedang sekarat. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Kuroro terperosok dalam kepanikan yang teramat sangat. Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Wah, wah, benar-benar pertengkaran suami-istri yang sengit. Ya ampun, aku belum pernah melihat pertengkaran yang begitu berdarah seperti ini," seseorang berkata dari semak-semak yang berada tak jauh dari sana.
Lucian berdiri dengan satu lengan bertumpu pada pohon di dekatnya, menyokong tubuhnya. Dia berdiri dan berbicara dengan begitu tenang dan terkesan malas seolah darah sebanyak itu tak mempengaruhinya sedikitpun, walau dia memang seorang vampir.
"Dan kau benar, Lucifer. Samar-samar darahnya berbau sama seperti darahmu. Bau racun," dia mengernyitkan hidung. "Aku tak akan pernah mau meminumnya."
"Kau ada di sini hanya untuk mengatakan itu?" Tanya Kuroro tak sabar.
"Tidak. Aku di sini untuk menolong, prietenul meu ('temanku' dalam bahasa Rumania)." Dia menegakkan tubuhnya dan memperlihatkan seringainya yang lebar. "Ikut aku dan bawa juga draga-mu."
Tak punya pilihan lain yang lebih baik, Kuroro mengangkat tubuh lemas Kurapika dan mulai mengikuti Lucian ke manapun dia pergi.
"Silakan gunakan suite ini jika kau merasa cocok. Asal jangan menghancurkannya seperti apa yang kalian lakukan di tempat Abelard," kata Lucian santai, berusaha menenangkan Kuroro. Yah, setidaknya dia berusaha walau hanya berpengaruh sedikit.
Lucian membawa mereka ke mansion pribadinya dan memberikan sebuah suite untuk digunakan sesuka hati. Menunda segala formalitas 'terima kasih' untuk dilakukan nanti, Kuroro bergegas membawa Kurapika ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur sebelum mulai bekerja menghentikan pendarahan hebat gadis itu dengan membalut lubang yang menganga di kedua telapak tangannya. Dalam sekejap saja, seprai putih tempat tidur itu berwarna merah gelap karena darah Kurapika.
Lucian meringis mencium bau darah aneh Kurapika yang berbau tajam, seperti bau besi dan beracun. Untuknya, bau itu bagai bau busuk. Dia melangkah pergi, dan segera kembali membawa sepaket obat-obatan di tangannya. Obat itu berupa tablet berwarna merah marun tua, dan bentuknya seperti sel darah merah.
"Berikan ini padanya. Obat ini akan langsung menghentikan pendarahannya," dia berkata sambil memberikan satu buah tablet tersebut pada Kuroro.
Maka Kuroro pun memasukkan tablet itu ke mulut Kurapika, dan sungguh mengherankan, tablet itu langsung bekerja segera setelah dicerna dan kandungannya diserap sistem metabolisme tubuh Kurapika.
"Dan apa ini?"
"Sudah jelas, itu obat untuk menghentikan pendarahan. Aku sendiri yang membuatnya. Vampir yang suka bepergian seperti aku perlu obat-obatan yang bermanfaat, bukan? Lagipula, kehabisan darah adalah musuh terbesar bangsa kami."
"Oh," hanya itu tanggapan Kuroro, walau sebenarnya dia tertarik pada penemuan kecil Lucian.
"Aku bisa memberimu beberapa buah jika kau mau," dengan baik hati Lucian menawarkan.
"Terima kasih."
"Tak usah sungkan, frater ('saudara laki-laki dalam bahasa Rumania)," Lucian mengangkat bahunya. "Kalau begitu, akan kutinggal kau bersama fata-mu."
Kurapika merasa seperti mengapung di air yang gelap. Semuanya gelap, dan dia sangat lelah. Dia merasa seperti tunduk dalam kegelapan yang tak berbatas, bersatu dengan kegelapan itu dan melupakan segala hal yang membebani pikiran dan jiwanya. Dia lelah, dia ingin beristirahat dan melupakan semuanya. Kurapika menutup kedua matanya penuh kesungguhan dan membiarkan tubuhnya jatuh ke dalam belas kasih kegelapan yang menyelimutinya.
Kau lelah.
Sebuah suara dari masa lalu yang sangat Kurapika kenal membuatnya bangun. Saat gadis itu membuka mata, sesosok wajah muncul di atasnya.
"Aniki," suaranya sedikit terdengar seperti bisikan hantu.
Kairi, kau memperbudak dirimu sendiri begitu keras. Biarkan dirimu beristirahat. Kata hantu itu sambil membelai rambut Kurapika dengan tangannya yang tembus pandang. Kakaknya terlihat utuh; kepalanya ada di sana, bersama sepasang matanya—sepasang mata yang memancarkan ketenangan dengan begitu indahnya.
"Tapi Aniki...aku belum membalas kematianmu dan suku kita..."
Tak ada seorangpun yang memintamu untuk melakukannya, sosok bayangan itu berkata, suaranya seperti angin kering yang hampa dan bertiup dalam musim yang sangat dingin.
"Tapi—"
Kairi, temukan sendiri alasanmu hidup. Raison d'être... Hantu kakaknya yang telah mangkat memohon padanya, dengan mata yang bersinar mengerikan namun sedih dalam pekatnya kegelapan.
Penderitaanmu membuat kami sedih, lebih dari apapun juga. Kau harapan terakhir kami untuk tetap bertahan hidup, keturunan terakhir suku kita. Hiduplah, Kairi. Hiduplah dengan bahagia. Setidaknya ada satu hal yang bisa kaulakukan untuk kami. Kami tak menginginkan pembalasan, sosok itu menggelengkan kepalanya perlahan.
"Hidup dengan bahagia?" Gadis itu menyahut ucapan kakaknya yang sudah mati. "Aku sudah lupa...bagaimana caranya hidup bahagia."
Benarkah? Saat itu, suara samar tersebut tidak terdengar penuh kesedihan namun terdengar penuh harap. Lihatlah dari dekat, Kairi. Ada kebahagiaan yang melimpah di dekatmu.
Lalu bayangan samar itu mulai mengabur. Terkejut, Kurapika mengulurkan tangan meraih hantu kakaknya namun tangannya hanya merengkuh udara kosong dan kegelapan. Keheningan yang teramat sangat memenuhi diri gadis itu, dan sekali lagi dia ditinggal sendirian. Dia menatap ke dalam kegelapan yang pekat.
Kebahagiaan melimpah? Di mana? Dia merenung putus asa.
Beberapa bayangan melintas di depan matanya : Gon, Killua, Leorio, Senritsu, Bashou.
Kuroro Lucifer.
Ketika Kurapika membuka mata, dia disambut oleh langit-langit yang tak dikenalnya dan mendapati dirinya berbaring di tempat tidur yang juga asing. Dia merasa pusing dan tidak fokus, tapi meskipun begitu dia merasakan tatapan bosan tertuju padanya. Dia menoleh untuk melihat pemilik tatapan itu, yang tak lain tak bukan adalah Kuroro.
Pria itu mengamati wajahnya, begitu pula halnya dengan Kurapika. Ada sekilas lingkaran hitam di bawah mata Kuroro yang gelap, tanda bahwa dirinya belum tidur—atau istirahat—dengan benar. Dia masih memakai kemeja yang sama yang dipakainya ke pesta Sang Duke, yang sudah berakhir sehari sebelumnya. Wajahnya lebih pucat dari biasa, hampir pucat pasi. Wajah Kurapika pun sama pucatnya, tak ada rona sama sekali. Wajah gadis itu seperti sehelai kertas kosong; putih dan datar, tak ada nuansa atau ekspresi sedikitpun.
Akhirnya perhatian Kurapika kembali ke langit-langit yang berada di atasnya, sementara tatapan Kuroro tak pernah lepas darinya.
"Apakah aku pernah bahagia?" Dia tak bertanya pada siapapun secara khusus, suaranya hanya terdengar seperti bisikan lemah.
Kuroro mengamatinya dalam-dalam, mencoba menafsirkan tatapan menerawang jauh di wajah Kurapika. Seluruh bahasa tubuhnya menyiratkan rasa lemas dan letih, dengan tak ada satupun tanda bahwa dirinya akan berubah lagi menjadi pembunuh yang begitu menggila seperti yang terjadi sebelumnya.
"Aku tak pernah melihatmu tertawa," Kuroro mengakui—dia hanya tahu sekali waktu ketika Kurapika tertawa. Sebuah suara tawa yang lembut saat dia mabuk dalam misi mereka untuk mendapatkan Mata Merah—bahkan disaksikan pula oleh Shalnark dan Phinks. Dengan suara pelan Kuroro menambahkan, "Aku jarang melihatmu tersenyum, kecuali saat kau sedang bersama teman-temanmu."
Kurapika tetap diam tak bergerak di tempat tidurnya, matanya yang sebiru samudera tanpa sadar menatap kosong langit-langit yang berada di atasnya.
"Apa kau ingin bertemu mereka?" Tanya Kuroro dengan lembut.
Tentu saja dia ingin, tapi Kurapika tak mau mereka melihatnya dalam kondisi seperti ini. Mereka akan mengganggu dirinya dengan berbagai pertanyaan mengenai hal ini, dan tentunya lebih banyak lagi masalah akan timbul terutama di antara teman-temannya itu dan Kuroro. Dia sudah punya cukup masalah dan kesulitan semacam itu. Tetap saja, Kurapika sangat merindukan mereka...khususnya Senritsu; Senritsu yang begitu keibuan.
Dan sekarang dia merasa seperti ingin menangis. Oh, bagus sekali.
Melihat kilauan yang menandakan air mata akan segera mengalir, Kuroro beranjak dari tempat duduknya dan duduk di tepi tempat tidur Kurapika. Andai saja bisa, Kuroro tak mau melihat air mata gadis itu. Rasanya...menyayat hati. Dia genggamkan tangannya di tangan Kurapika, menyelimuti sepenuhnya tangan kecil itu di tangannya yang besar. Kurapika tersentak saat tangan itu menyentuh tangannya, namun menjadi tenang ketika dalam sikap diamnya, Kuroro memberinya sebuah remasan menenangkan di tangannya yang terbalut perban—berhati-hati agar tidak menyakiti lukanya.
Sikap yang terlihat sepele ini melepaskan suatu kekuatan yang sebelumnya terasa begitu mengikat dan membengkak di dalam dada Kurapika. Dia menarik napas dalam-dalam dan melepaskan tekanan di dadanya, pelan namun pasti. Kurapika memejamkan mata dan memegang tangan Kuroro; membalas sikap pria itu, kebaikan hati yang Kuroro tujukan padanya.
"Terima kasih."
"Kau tahu, Lucifer. Abelard tidak secara khusus mengatakan bahwa kau harus membawa serta istrimu. Dia hanya memintamu membawa pendamping wanita. Kenapa kau memaksa, mengatakan bahwa gadis itu adalah istrimu?"
Kurapika sudah tertidur lagi dengan aman, dan Lucian sedikit berbincang-bincang dengan temannya. Dia menawarinya minuman dingin, dan Kuroro menerimanya dengan senang hati.
"Itu tindakan pencegahan. Walaupun dia seorang Casanova, Abelard masih tahu tata krama. Dia tak akan mencoba main mata dengan istri seseorang."
"Singkatnya, kau tak mau Kurapika-mu menarik perhatian pria tua itu; yang kemungkinan besar akan terjadi jika dia tahu statusnya yang masih lajang."
Kuroro mengangguk.
"Sungguh besar kesetiaanmu untuknya. Aku terkesan," Kali ini, Lucian terdengar sangat serius sambil memberi penekanan pada kalimatnya.
"Dia akan melupakan ini, cepat atau lambat," kata Kuroro singkat.
"Apa yang membuatmu berpendapat seperti itu?"
"Karena aku mengenalnya," sahutnya dengan percaya diri.
Dia akan menganggap hal ini sebagai 'saat kegilaannya', yang terjadi karena kelelahan dan disorientasi yang ia alami, Kuroro berkata dalam hati sambil tanpa sadar menatap ke dalam gelasnya yang isinya sudah kosong lebih dari setengah, bongkahan es batu di dalam gelas itu berdenting dengan lembut.
"Kau begitu pesimis, tidak biasanya," Lucian menaikkan sebelah alis matanya.
Kuroro memejamkan matanya dan menghela napas dalam hati.
"Itu namanya realistis."
Lucian sangat tidak senang dengan tanggapan Kuroro, tapi dia tak berkesempatan membalas perkataannya ketika ponsel Kuroro berdering. Pria itu membuka ponselnya dan membaca pesan yang baru ia terima, dan mau tak mau ia pun bengong menatap pesan itu.
"Apa lagi sekarang?" Tanya Lucian waspada saat melihat ekspresi aneh di wajah temannya yang biasanya datar itu.
Tanpa menjawab, Kuroro hanya memberikan ponselnya pada Lucian, memintanya untuk membaca pesan itu sendiri. Begitu Lucian selesai membacanya, dia pun ternganga.
Pesan itu singkat saja :
Pengirim : Ishtar
CEPAT KEMBALI. Aku sudah menemukan cara untuk melepaskan belenggu itu.
TBC
A/N :
Akhirnya selesai...! TvT
Walau laptop sempat error, hiks...
Baru sadar minggu ini hanya sekali update. Apa daya, ada beberapa alasan...salah satunya fic one shot-ku yang dipublish sebelum ini memang memakan waktu lebih lama.
Lanjut ke balasan review chapter kemarin :
Nekomata Angel of Darkness :
Haha, makasih...ini udah lanjut. Perasaan Kuroro lebih terbuka di sini.
Aku kayaknya udah punya ide untuk fic ultah Kirin...tapi sabar ya...hehe
Sends :
*gulingkan sesuai permintaan* *ambil lagi*
Humm...minggu ini sedikit lambat, tapi makasih udah mengingatkan dan menyemangati...
Shizuku M2 :
Ahahaha, iya...aku juga seneng banget baca scene kissing itu, haha xD
Mikyo :
Bagian di mana Kuroro cemburu? Hm...ada, tapi tetap dengan gayanya dia yang tetap elegan 'n tersirat *smirk*
mayuyu :
Maaf agak lambat minggu ini dan maaf sudah membuatmu susah tidur, haha xD
Hehe, kita sama...rela Kuroro grepe2 Kurapika *evil smirk*
Natsu Hiru Chan :
Mulut disumpal bakpao? Enak dong ==
Iya...KuroPika kissu...*tebar confetti*
Ayo bikin lebih banyak kissu KuroPika Dx
Kujo Kasuza Phantomhive :
Wah ditunggu banget hadiahnya...makasih ya...
N mudah2an Kujo sempat bikin KuroPika lagi xDa
Rin-X-Eden :
Ahaha, dulu juga aku baca fic aslinya terakhir, karena aku kira Kurapika jadi cowok (waktu itu masih bener2 straight), tapi akhirnya malah baca marathon sekalian sama sekuelnya sampai beberapa hari xD
.
Chapter depan mulai klimaks...jangan lewatkan ya^^v
Review please...?
KUROPIKA FOREVER
