DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.
GENRE :
Adventure & Romance
WARNING :
FemKura.
CHAPTER 24 : LACRIMOSA
"Aku minta maaf," dengan suara pelan, Kurapika berbisik padanya.
Kuroro, yang sedang berjalan di depannya, menoleh dan menatapnya ingin tahu.
"Untuk apa?" Dia bertanya, suaranya terdengar lembut.
"Untuk semua yang kulakukan waktu itu...," gumam Kurapika dengan pandangan tertuju ke bawah, dan melanjutkan ucapannya dalam suara yang terdengar bagaikan suara hantu, "Dan terima kasih."
Sepertinya Kurapika ingat setiap detail peristiwa itu. Kuroro berusaha untuk tetap mempertahankan ekspresinya yang datar walau sebenarnya dia merasakan hangat dan senang mendengar kata-kata Kurapika.
"Kenapa kau tidak menyembuhkan luka itu?"
Kurapika memutuskan tidak menggunakan Holy Chain untuk menghapus bekas luka di kedua tangannya. Kurapika tidak menjawab, namun Kuroro tahu alasan di baliknya. Bekas luka tersebut sebagai pengingat dia pernah menjadi begitu bodoh—dan yang paling penting, betapa tidak berdaya diri Kurapika di hadapan pria itu. Kuroro tidak tahu apakah tindakan Kurapika membahayakan kesehatannya atau tidak, namun dia tahu pasti bahwa gadis itu tak akan mengubah keputusannya tak peduli apapun yang dikatakan Kuroro. Maka, Kuroro pun tetap diam.
Lucian juga turut membantu dengan tidak menanyakan masalah itu, dan lebih memilih untuk berusaha memperbaiki suasana canggung yang kini terasa di antara Kuroro dan Kurapika. Lucian bersikeras ikut serta dalam perjalanan mereka ke Ryuusei-gai. Dia ingin mengunjungi Ishtar setelah sekian lama tak bertemu. Tak seorangpun dari mereka merasa keberatan—kecuali satu : bagaimana bisa dia bepergian ketika siang hari? Bagaimanapun juga dia seorang vampir.
"Itu bukan sesuatu yang harus kalian khawatirkan. Masalah itu sudah diselesaikan bertahun-tahun yang lalu : lihatlah," kata Si Vampir bangga sambil menunjukkan sebuah botol berisi lotion. "Tabir Surya Khusus untuk Vampir! Aku yang membuatnya, tentu saja."
Kemudian Lucian menunjukkan keampuhan penemuannya di siang hari yang terik ketika lotion itu bekerja dengan menakjubkan karena membuatnya bisa bepergian seperti manusia normal—maka Lucian pun ikut serta.
Ternyata, bepergian bersama-sama dengan Lucian Virgilliu seperti yang telah diduga sebelumnya menambah bumbu dalam perjalanan mereka. Tak satu hari pun terasa membosankan, meski seringkali dia akan sangat mengesalkan Si Gadis Kuruta yang malang—Kuroro tidak begitu merasa jengkel karena terbiasa dengan tingkah laku vampir itu. Misalnya pada salah satu kesempatan berikut ini :
"Aku tak akan pernah tergiur dengan darahmu, fata (gadis)," kata vampir itu pada suatu hari ketika mereka berjalan di bawah kanopi pepohonan yang terdapat di hutan, seperti yang biasanya dilakukan Kuroro dan Kurapika. Dengan ikut sertanya Una, mereka tak bisa lagi mengambil jalan umum.
"Jadi tenanglah sedikit, oke? Baunya busuk bagiku. Tapi...," dia menoleh pada Kuroro. "Pasti aku bisa menikmatinya secara fisik, benar 'kan?"
Kurapika terperangah.
"...Lakukan saja sesukamu," Kuroro mengangkat bahunya tak peduli.
Kalimat itu keluar dari mulut Kuroro saat Lucian sudah dianiaya secara fisik oleh Kurapika—dia menendang tulang keringnya.
"Tapi mungkin seharusnya aku memperingatkanmu dulu bahwa meskipun dia bukan wanita paling kuat yang pernah kutemui, dia wanita yang temperamennya paling galak," ucap Kuroro serius.
"Ya ampun, terima kasih atas peringatannya, Kawan," kata Lucian sinis sambil mengusap tulang keringnya yang sakit. "Katakan, apa dia juga seganas itu di tempat tidur?"
"LUCIAN!" Kurapika berteriak, wajahnya merah padam, dan mulai memukuli Lucian tanpa ampun.
Kuroro memutar kedua bola matanya jengkel.
"Kau menanyakan hal yang tak mungkin. Bagaimana aku bisa tahu sedangkan aku sendiri tak pernah tidur bersamanya? Walau dia memang menyatakan bahwa aku sudah beberapa kali melecehkannya secara seksual..."
"Bagaimana ceritanya? Apakah dia benar-benar nikmat?"
"Sudah pasti terlalu kurus," komentarnya datar.
"HEI KALIAN LELAKI KASAR!"
Maka Kurapika mulai mencekik Lucian sampai mati, walau vampir itu sebenarnya memang sudah mati. Enaknya punya teman seperjalanan yang hidupnya abadi adalah : bisa membunuhnya hingga beberapa kali tanpa harus benar-benar membunuhnya.
Kesimpulannya, Lucian selalu berakhir menjadi korban penganiayaan Kurapika. Hal ini melegakan bagi Kuroro. Sementara Una menjaga jarak aman dari Lucian karena vampir itu bukan makhluk suci.
Ketika mereka sampai di Ryuusei-gai, hari sudah senja. Una harus ditinggalkan di hutan di mana Rusalka berdiam–siren itu akan menemaninya–karena Una tak akan bisa masuk selangkah pun ke kota itu mengingat dirinya adalah Unicorn. Kuroro memutuskan untuk bermalam terlebih dahulu di kediamannya sebelum mereka pergi menemui Ishtar besok. Lucian berbaik hati menawarkan diri untuk menemui Ishtar lebih dulu, setidaknya memberitahukan tentang kedatangan mereka. Kurapika menerima keputusan itu, dia berterima kasih walau tidak mengatakannya. Namun begitu mereka tiba di tempat tinggal Kuroro, dia tak bisa langsung beristirahat yang sebenarnya sangat ia butuhkan.
"Yo, Danchou! Kami sudah menunggumu!" Kata Phinks dengan suara yang terdengar gembira.
Para anggota Laba-laba sudah berkumpul di sana. SEMUANYA. Namun untuk pertama kalinya, yang sekarang membuat Kurapika merasa terganggu bukanlah orang-orang itu melainkan tebalnya debu yang menutupi seluruh tempat. Bahkan udara di dalamnya sangat berbau busuk, bau lapuk dan debu. Bagi Kurapika baunya sangat mencekik.
"Aku tak ingat pernah memberitahu kalian untuk berkumpul di sini," Kuroro berkata, dari nada suaranya sepertinya dia sedikit terkejut.
Sekilas dia melirik Shalnark, yang kemudian–seolah membenarkan kecurigaan Kuroro–menundukkan kepala, merasa ciut saat itu juga. Nobunaga melingkarkan lengannya di bahu pemuda itu, terlihat mengintimidasi anggota Laba - laba yang lebih muda darinya itu. Malangnya Shalnark, sepertinya dia diancam agar mau mengatakan semua yang dia tahu. Kuroro menghela napas melihat tingkah para anak buahnya yang aneh dan kekanak-kanakan itu. Dengan adanya mereka di sekitar Kurapika, hanya Tuhan yang tahu kapan dan bagaimana seluruh neraka akan meledak.
Kuroro melirik Kurapika, tidak terkejut melihat gadis itu kini meradang yang ditafsirkan Kuroro sebagai rasa marah yang ditahan. Dia tak akan menunggu hingga Kurapika meneriakkan kemarahannya, dan baru saja akan menggiring Kurapika ke kamar pribadinya saat gadis itu berbisik dalam suara yang tertahan dan terdengar galak.
"Ini gila."
Kuroro berkedip.
"Tempat ini sungguh tidak masuk akal! Benar-benar kotor! Tempat apa ini, kandang babi?!" Dia berteriak.
Ledakan amarahnya yang begitu tiba-tiba membuat beberapa orang anggota Laba-laba terlonjak kaget, sementara yang lainnya tersentak tanpa sadar.
"Aku tak peduli jika kalian semua mau tidur dan duduk di atas lapisan debu dan jamur yang kotor itu, tapi TIDAK, aku tak mau begitu. Jadi, Kuroro Lucifer, kau akan membantuku membersihkan tempat ini, atau setidaknya kamar tidurmu, apapun alasannya. Jika aku sampai harus menyeretmu secara paksa agar kau mau melakukannya, maka akan kulakukan! "
Dalam sekejap, Kuroro, dalam arti sebenarnya, tak bisa berkata-kata mendengar semburan desakan dan kata-kata kasar Si Gadis Kuruta. Sementara dia masih terperangah, dan begitu pula halnya dengan Laba-laba lainnya, Kurapika berderap melangkah sambil menyeret pria itu bersamanya karena belenggu yang ada di antara mereka; tepat seperti apa yang ia katakan.
Demikianlah, Si Gadis Kuruta yang sedang begitu semangat bersih-bersih membuka jendela di lantai atas–yang ditempati Kuroro–untuk membiarkan udara memasuki tempat itu, meraih sapu, pengepel lantai dan ember–yang dikira Kuroro tak pernah ada sebelumnya–memenuhi ember itu dengan air, dan mulai membersihkan lantai atas.
"Ayo kerja!" Kurapika membentak Kuroro sambil melemparkan alat pengepel lantai yang sudah basah padanya.
Hanya punya sedikit pilihan atau bahkan malah tak punya sama sekali, Kuroro menuruti keinginan gadis itu dan menggulung lengan bajunya ke atas, bersiap untuk bekerja keras. Berisiknya kegiatan kecil mereka menarik perhatian Laba-laba, yang masih bersikeras tak mau bersih-bersih. Sesaat kemudian, akhirnya Kalluto menyerah.
"Aku mau bersih-bersih juga..." katanya pelan sambil mencari alat-alat kebersihan lainnya.
"Kenapa? Seperti ini pun sudah cukup nyaman," Phinks berkata sambil menepuk lantai di sampingnya, menimbulkan kepulan debu yang beterbangan, membuat beberapa orang dari mereka terbatuk-batuk.
"Tidak, sudah terlalu kotor," Kalluto menggelengkan kepalanya, masih mencari sapu atau pengepel lantai.
"Kau benar. Sudah bertahun-tahun sejak tempat ini terakhir kali digunakan." Machi akhirnya berdiri sambil menghela napas dan bergabung dengan Kalluto mencari sapu dan pengepel lantai lain yang bisa mereka gunakan.
Yang lainnya pun saling lirik, sebelum sama-sama menghela napas dan mengangkat tubuh masing-masing dari lantai yang sangat kotor.
Setelah sekitar satu jam berlalu–debu yang sangat tebal dan sudah lama menempel itu terjebak bersatu dengan interior kamar, membuat mereka kesulitan saat menghapusnya, Kurapika jatuh terduduk di lantai karena kelelahan. Kuroro melihat ke sekeliling kamarnya yang kini bersih. Dia bukan orang yang tidak menghargai kebersihan sama sekali seperti Phinks, tapi tak pernah sekalipun dalam hidupnya, kamarnya sebersih ini–benar-benar bersih dan berkilau. Dia heran kenapa Kurapika bisa membersihkan tempat seluas itu dalam waktu yang relatif singkat. Kekuatan perempuan, mungkin?
"Ugh, aku kotor, bau, dan lengket dengan keringat!" Dia mengeluh tak keruan sambil menggaruk lengannya yang gatal.
"Kalau begitu mandilah," Kuroro menyarankan sambil melangkah menuju ke kamar mandi.
Mata Kurapika langsung berbinar tatkala pria itu menyebutkan kata 'mandi'. Kuroro masuk ke kamar mandi dan menekan beberapa tombol pada tangki pemanas air untuk menyalakannya. Mesin itu pun mulai berdengung pelan.
"Aku dulu!" Kurapika berkata sambil bergegas berjalan melewati Kuroro; dia membawa pakaian bersih di tangannya.
"Sesukamu saja," Kuroro mengangkat bahu.
Apa yang membuatnya begitu lama? Kuroro berpikir sambil menunggu di luar, duduk di lantai di samping pintu kamar mandi. Sudah lebih dari satu jam berlalu sejak Kurapika masuk ke sana. Kuroro memanggil gadis itu tapi tak ada jawaban.
"Kurapika, aku masuk sekarang," dia memperingatkan, tapi tetap saja tak ada jawaban. Untuk seseorang yang menjunjung tinggi nilai kesopanan, Kurapika pasti akan berteriak padanya agar menjauh dari kamar mandi.
Dengan hati-hati, dia membuka pintu kamar mandi. Pintunya dikunci dari dalam, tapi dia adalah Kuroro Lucifer dan ini tempat tinggalnya; tentu dia tahu setiap sudut dan celah tempat itu, terutama kuncinya. Pria itu mengintip ke dalam, dan tak ada teriakan marah. Dia melangkah masuk, hampir terendam uap air panas. Dengan cepat Kuroro menemukan apa yang dicarinya.
Seperti yang telah ia duga sebelumnya, Kurapika jatuh tertidur sambil berendam di bath tub. Tubuh gadis itu, mulai dari daerah bawah leher hingga ke bawah terbenam di dalam air panas, kepalanya bersandar ke bath tub porselen yang halus. Dia tampak benar-benar tak sadar di mata pria yang sedang berdiri di depan bath tub itu, yang saat ini berada dalam keadaan yang cukup sulit.
Uap mengepul di permukaan air, namun hanya sedikit uap itu yang menutupi tubuh Kurapika yang sepenuhnya telanjang di bawah sana. Kuroro harus memalingkan wajahnya dari pemandangan tak senonoh di hadapannya, sebelum pikiran kotor mulai datang. Kuroro menghela napas.
Harus bagaimana sekarang? Dia kebingungan.
"Seumur kita seharusnya punya pacar satu atau dua orang," gumam Phinks tanpa sadar.
Setelah kegiatan bersih-bersih yang sangat melelahkan selama dua jam, mereka sudah selesai dengan pekerjaan membosankan itu dan dengan gembira menyingkirkan alat-alat kebersihan yang baru saja digunakan. Seperti biasanya, mereka memilih tempat favorit masing-masing dan menempatkan diri dengan nyaman.
"Mengidam-idamkan seorang kekasih, Phinks?" ejek Feitan.
"Hei, itu kebutuhan lelaki normal, tahu," protes Phinks, walaupun dia tidak terlihat tersinggung dengan tanggapan sadis pria berperawakan kecil itu.
"Bicara tentang itu...," Shalnark bergabung dalam percakapan itu, "Aku penasaran apakah Danchou punya kekasih?"
Semua mata tertuju padanya, seolah di lehernya baru saja tumbuh satu atau dua kepala lagi. Shalnark tersentak di tempatnya, menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Yah...kalian tahu 'kan Danchou selalu menghilang setiap kali kita menyelesaikan misi, dan tak seorangpun yang tahu ke mana dia pergi dan apa yang dilakukannya."
"Pikir saja, tak ada seorang pun dari kita yang tahu tentang kehidupan pribadi Danchou," Franklin berkata dengan suaranya yang biasa, yang setenang lautan.
Sebagian besar dari mereka mengangguk setuju. Kuroro Lucifer selalu menghilang tanpa mengatakan apapun pada mereka tentang tempat yang ia tuju kemudian atau apa rencananya setelah menyelesaikan misi. Dia pergi begitu saja, hanya itu. Lagipula tak seorang pun dari mereka yang benar-benar peduli dengan hal ini. Mereka punya cara dan jalan hidup sendiri; beberapa di antaranya memilih untuk menjalin persahabatan, sedangkan yang lainnya memilih untuk menyendiri, dan sudah merupakan peraturan tak tertulis di kelompok itu bahwa mereka mengurus urusan masing-masing di luar periode saat misi berlangsung.
Pelan, terdengar suara langkah kaki bergema dari lantai atas. Machi melangkah menuruni anak tangga yang sudah tua itu, melirik ragu ke arah tertentu melewati bahunya.
"Ada apa, Machi?" Shalnark bertanya, ketika melihat raut wajahnya yang sedikit bermasalah.
"Yah, aku naik hendak menanyai Danchou sesuatu, dan..." Machi menggantung ucapannya.
"Dan?" Nobunaga beranjak bangun dan sudah memegangi ujung gagang katananya, wajahnya terlihat seperti wajah pemangsa. Machi menatapnya dengan tatapan penuh perhitungan; mempertimbangkan apakah sebaiknya dia memberitahu samurai itu yang mudah terbawa emosi atau tidak.
"Sepertinya mereka ada di kamar mandi."
"T-Tunggu. Maksudmu..." mata Phinks membelalak terkejut. "Mereka berdua?"
Machi mengangguk.
Mereka pun bergegas pergi ke lantai atas.
Dia terbangun oleh suara khas air yang mengalir dari pancurankamar mandi. Dia bergerak sedikit, masih terlihat mengantuk saat terjaga dari tidurnya. Secepat kilat, rentetan kata-kata merasuk ke dalam benaknya bagai pesan telegram.
Mandi. Telanjang. Tertidur. Tempat Kuroro. Seseorang sedang mandi.
Dengan hampir terlalu tergesa-gesa, Kurapika duduk, mengusik air yang tenang dan menimbulkan suara berisik ketika air bercipratan keluar. Meskipun panas, wajahnya berubah menjadi pucat pasi dan pembuluh darahnya terasa dingin seolah seluruh darahnya membeku.
"Sudah bangun?" Malangnya, terdengar suara yang begitu dikenal Kurapika, dari balik tirai mandi yang memisahkan bath tub dari pancuran utama.
Kurapika tak menjawab, namun wajahnya menunjukkan semua kengerian yang meluap dari hatinya.
"Menurutku bukan tindakan yang bijak bagimu untuk keluar sekarang," Kuroro melanjutkan ucapannya dengan suara pelan.
Kata-kata itu baru saja sampai di telinganya ketika tiba-tiba keributan terdengar dari luar kamar mandi.
"DANCHOU! KAU BAIK-BAIK SAJA?!" Nobunaga berteriak.
"Maaf mengganggu, Danchou. Kami akan menyeretnya pergi," terdengar suara Phinks dengan kesan nakal pada suaranya.
"Nobu, jangan menerobos masuk! Kau tidak bisa begitu!" Suara panik Shalnark terdengar.
"Kau akan menghancurkan saat kebersamaan mereka," muncul tanggapan kocak Kalluto yang diiringi dengan suara cekikikan tawa yang terdengar begitu kegirangan.
Kurapika bisa merasakan panas menghampirinya lagi dan merebus seluruh tubuh dan otaknya; di luar rasa marah dan menimbulkan rasa malu. Kuroro menghela napas lelah.
"Kami tak melakukan apapun, jadi diamlah," dia berkata pada mereka, suaranya bisa jelas terdengar walau Nobunaga meraung-raung.
Setelah terjadi pergumulan di luar kamar mandi, akhirnya suasana pun tenang kembali. Sebenarnya Franklin datang membantu dan mengunci pergerakan Nobunaga sementara yang lain membungkam mulutnya. Machi berinisiatif untuk mengikat Nobunaga erat-erat dengan Benang Nen-nya, merasa sangat jengkel karena suara ribut yang ia sebabkan.
"Mereka salah paham," Kuroro berkata sambil terkekeh pelan.
"Itu salahmu," ucap Kurapika dengan geram, namun lebih terdengar seperti ratapan daripada kemarahan.
"Siapa yang tertidur saat berendam?" Pria itu bertanya, tahu betul bahwa walau apapun yang terjadi dia akan memenangkan perdebatan kecil ini.
"Kau bisa saja membangunkanku!" Ucap Kurapika dengan marah.
"Lalu kau mengincar leherku sambil mengatakan bahwa aku mencoba melecehkanmu lagi secara seksual? Tidak, terima kasih."
Kurapika sudah membuka mulutnya untuk protes, tapi saat menyadari tak ada argumen apapun yang bisa ia gunakan untuk melawan pria itu, dengan bijak Kurapika menutup mulutnya untuk menyelamatkan wajahnya dari rasa malu. Dia malah mendekatkan kedua lututnya ke dadanya yang telanjang sambil cemberut.
Kuroro, di balik tirai yang menutupi Kurapika dari penglihatan pria itu, tahu bahwa Si Gadis Kuruta sedang merengut karena kalah dan nampaklah seulas senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Aku sudah selesai. Kau bisa menggunakan kamar mandi ini untukmu sendiri."
Kurapika mendengar suara cipratan air, langkah kaki melintasi genangan air, suara pintu yang dibuka dan kemudian ditutup. Dengan hati-hati, Kurapika mengintip dari balik tirai, dan ketika melihat pancuran utama kosong dan Kuroro tak terlihat di mana pun, dia melompat keluar dari bath tub dan bergegas menyelesaikan mandinya. Dia kenakan pakaiannya yang bersih, namun di saat yang sama dia menyadari bahwa selama Kuroro mandi tadi, pakaiannya–termasuk pakaian dalamnya–tergantung secara terbuka di salah satu gantungan yang terpasang di pintu.
Seandainya Kurapika masih berada di air, mungkin airnya mulai bergelembung karena mendidih oleh panas yang keluar dari wajahnya. Sungguh, itu benar-benar memalukan. Berarti Kuroro sudah melihat pakaian dalamnya.
Lutut Kurapika menjadi lemas dan dia mulai mengeluh dengan sedih. Mungkin dia tak bisa lagi melihat tepat ke mata Kuroro. Setelah beberapa menit berusaha menenangkan jiwa dan rasa malu yang mengacaukan pikirannya, akhirnya Kurapika meneguhkan diri dan dengan tegar melangkah keluar dari kamar mandi hanya untuk melepaskan rasa malu ketika Kuroro berbalik menatapnya.
Aku memang menyedihkan, dia mengutuk dirinya sendiri.
"Kurapika," pria itu mulai bicara dengan suara yang serius, dan Kurapika membeku dalam langkahnya. Dia tidak membalikkan badannya untuk menghadap ke arah Kuroro. "Barang-barangmu hilang."
"APA?!"
Sementara itu, saat semuanya begitu hidup dan berisik di kediaman Kuroro, suasana di kuil milik Ishtar agak serius. Lucian duduk dengan nyaman di antara bantal dan alas duduk milik Ishtar yang tak terhitung banyaknya, dan ada di hadapannya adalah Lady Ryuussei-gai sendiri.
"Sudah lama sejak terakhir kali aku bertemu denganmu, Lady. Kecantikan dan kemudaanmu sungguh abadi," dengan sopan dia memuji wanita itu.
"Kau pun begitu. Sekarang, kenapa kau datang ke sini, Count muda dari Wallachia? Apa kau datang mengumpulkan beberapa bahan untuk percobaan kecilmu tentang obat-obatan itu lagi?" Wanita itu berkata dengan suara tawa yang terdengar pelan.
"Ah, selalu tepat pada sasaran seperti biasanya. Yah, seperti yang sudah kau lihat melalui diriku, ada beberapa bahan yang hanya bisa kudapatkan di sini. Dengan kata lain : bisakah aku mendapatkan ijinmu menjelajahi hutan untuk mencari bahan-bahan itu?"
"Tentu saja, hutan terbuka untukmu. Kau salah seorang kepercayaan Kuroro, dan itu saja sudah merupakan hal yang luar biasa. Berbicara tentang obat-obatan, berapa banyak obat ajaibmu yang sudah dipatenkan?" Ishtar bertanya, sedikit merasa penasaran.
"Tidak, tidak. Aku tak akan mematenkan obat penemuanku; semuanya untuk penggunaan pribadi. Jadi, kusimpulkan aku pun diizinkan untuk meminjam Basille?"
Seolah memberikan tanggapan mendengar namanya disebut, basilisk itu merayap dan bergerak melata naik ke bahu Lucian. Dengan lidahnya yang terbelah, dia menjilat pipi vampir itu, untuk me-'rasa'-kannya.
Sudah bertahun-tahun lamanya... Basilisk berdesis setelah mengenalinya.
"Ah, Bassille. Masih cantik seperti biasanya, ya? Bisakah kupinta sedikit bisamu untuk obat-obatanku?" Lucian bertanya sambil membelai sisiknya yang ternyata lembut.
Aku hanya tunduk pada perintah Ratuku..., jawab ular itu.
"Kau bisa meminta sedikit bisanya," Ishtar berkata sambil mengangguk dan tersenyum ramah.
"Terima kasih banyak atas kebaikanmu, Ratuku," dengan hormat Lucian menundukkan kepalanya,"Oh, selain itu, Lucifer memintaku mengembalikan ini padamu."
Lucian segera menggeledah saku bajunya dan akhirnya mengeluarkan sebutir telur berukuran kecil. Itu telur yang diberikan Ishtar kepada Kuroro melalui Suzaku. Ishtar mengambilnya, meletakkannya ke dekat cahaya untuk mengamatinya lebih dekat. Lucian tak mengerti apa arti sikapnya itu, tapi dia melihat senyum puas menghiasi wajah pucat wanita itu.
"Milady," panggil Lucian pelan.
Lucian menegakkan posisinya dan mencondongkan badannya ke depan, raut wajah suka bercanda di wajahnya berganti menjadi sesuatu yang serius. Ishtar menaikkan sebelah alis matanya melihat perubahan dalam perilaku Lucian. Lucian menelan ludah sekali sebelum membuka mulutnya.
"Aku punya permintaan."
"Dan apa permintaanmu itu?" Ishtar bertanya dengan suaranya yang lembut.
"Ini tentang Lucifer dan Kurapika."
Kurapika melipat kedua tangannya di depan dada sambil mengetukkan kakinya tak sabar ke lantai. Dia memelototi semua anggota Laba-laba yang dikumpulkan Kuroro di hadapannya.
"Siapa. Pelakunya." Kurapika bertanya dengan suara tegang.
Beberapa orang di antara mereka hanya saling pandang dengan bingung, tapi beberapa orang lagi bersikap agak aneh–terutama Nobunaga, Kalluto, Feitan, Shalnark, dan Phinks. Kurapika mengamati mereka dengan kecurigaan yang sangat besar. Kuroro menghela napas; inilah salah satu hari yang sulit bersama Kurapika dan Laba-laba ketika mereka berkumpul bersama di bawah naungan atap yang sama.
"Bagaimana?" Desak gadis itu.
Beberapa orang dari mereka mengangkat bahu bersikap masa bodoh, tak peduli apakah Kurapika kehilangan semua barang bawaannya; semua pakaiannya, atau tidak. Melihat sebagian besar anggota Laba-laba tidak mau bekerja sama, Kurapika mengeluarkan Dowsing Chain miliknya dan mulai menginterogasi orang-orang yang paling mencurigakan; Nobunaga, Feitan, dan Phinks. Kurapika menyingkirkan Shalnark karena mungkin dia gelisah hanya karena gugup; lagipula dia bukan tipe orang yang suka berbuat begitu. Ini pun berlaku bagi Kalluto, yah, bocah itu memang marah pada semua teman-teman Killua, tapi apa maksudnya melakukan itu semua? Jika dia berpikir seperti anggota keluarga Zaoldyck lainnya, dia akan memilih cara yang lebih kejam.
Pertama, Feitan–nihil. Kedua, Nobunaga–nihil. Samurai itu mendengus merasa menang sekaligus menghina Kurapika. Terakhir, Phinks–Dowsing Chain berputar dan akhirnya berayun dengan pasti dalam kecepatan yang tetap. Gadis itu mendengar beberapa Laba-laba menelan ludahnya gugup. Diam, Kurapika menarik kembali Dowsing Chain-nya. Kuroro menaikkan salah satu alis matanya, ingin tahu bagaimana bencana yang sudah bisa diduga sebelumnya itu selanjutnya akan berkembang.
Kemudian Kurapika mendongak dan menatap Phinks dengan tajam, matanya berubah menjadi merah dalam waktu kurang dari sepersekian detik.
"Kau pembohong besar," dia berkata dengan nada mengancam. "Sekarang kembalikan pakaianku dan mungkin aku akan menyelamatkan hidupmu yang menyedihkan."
"Huh," Phinks mengejeknya, "Kau pikir kau bisa melakukannya?"
"Oh, ya aku bisa." Kurapika berujar dengan manisnya sambil memberi seulas senyum jahat pada pria itu yang membuatnya takut hingga ke sumsum. Hanya saja kemudian Phinks merasakan sesuatu yang keras berputar, melilit mengitari tubuhnya bagai ular yang menjebak mangsanya.
"Sejak kapan?"
Kuroro memandang Kurapika dengan kagum. Kini dia tahu kenapa Uvogin–Si Raksasa Uvogin–dikalahkan oleh gadis kurus itu. Dia pintar dan cerdik untuk ukuran gadis seusianya, itu bahayanya.
"Sekarang..." Kurapika melanjutkan dengan senyum sadis menghiasi raut wajahnya yang jahat. "Haruskah aku menggunakan Judgement Chain-ku padamu?"
"Coba saja," tantang Phinks sambil memelototinya.
"Phinks," panggil Kuroro, dan pria itu pun berbalik melihat ke arah Danchou-nya. "Bersikap baiklah. Kujamin, ditusuk oleh benda itu rasanya jauh dari nyaman."
Suara Kuroro terdengar hampir terlalu serius hingga Phinks pun menelan ludahnya gugup. Sebenarnya, Kuroro hanya bermain-main dengan para anak buahnya setelah semua masalah yang disebabkan oleh pria mesum itu, walau Kuroro mengakui bahwa dikekang Judgement Chain rasanya tidak nyaman sama sekali.
Kurapika mengeluarkan Judgement Chain-nya, dan rantai itu melayang seperti kobra yang siap menyerang korbannya hingga mati. Laba-laba lainnya mengamati situasi ini dari dekat; andai mereka tahu teknik dan kemampuan Si Pengguna Rantai, bahwa dia akan menjadi sedikit ancaman baginya apakah dia harus memutuskan untuk memburu mereka lagi–walau Kuroro mendesaknya agar tidak melakukan hal semacam itu. Dia tipe orang yang menepati janji, walau seperti apapun rasa sakitnya.
"Kalau begitu, syarat pertama adalah–"
"Aku akan mendapatkannya! Akan kudapatkan segera! Akan kukembalikan ranselmu!" Akhirnya Phinks menyerah.
Nobunaga tertawa dengan sangat gembira melihat Phinks ditakut-takuti oleh seorang gadis kecil, sementara Feitan mengejeknya di dalam hati. Phinks hanya pergi sambil menghentakkan kakinya dan menggerutu untuk mengambil tas ransel itu, namun kembali dalam waktu yang hampir terlalu cepat dengan tangan kosong dan wajah pucat.
"Barang-barangku?" Tuntut Kurapika, suaranya terdengar berbahaya dan penuh kebencian.
"Hilang," Phinks berbisik ngeri.
"APA?!" Kurapika berteriak namun wajahnya pun memucat di saat yang sama.
"Bodoh. Ini Ryuussei-gai. Kau meninggalkannya di luar, seharusnya kau tahu pasti tas itu akan dicuri," ucap Machi dingin, kata-katanya tajam, menusuk Phinks berulang kali, seperti pisau milik tukang daging yang sedang menyembelih seekor babi.
"Semoga beruntung, Phinks," Feitan terkekeh senang.
"Dia akan menghabisimu," Shalnark berkata, dia merasa sedikit ngeri.
"Ayo bersiap-siap untuk pemakamannya," kata Franklin pelan.
"Hei, aku belum mati!" Protes Phinks, namun lebih terdengar seperti rengekan.
"Kau akan mati jika kau tidak menemukannya sampai besok pagi," Kurapika menatapnya tajam dengan menyeramkan, rantainya berderak tak sabar, seolah ingin segera melemparkan mata pisaunya ke jantung Phinks.
Kuroro menghela napas dalam hati. Untunglah mereka mampir ke Penginapan Prancing Ponny terlebih dahulu untuk menyimpan Mata Merah yang sudah mereka dapatkan sebelum datang ke Ryuussei-gai. Kalau tidak, dengan hilangnya lagi Mata Merah, Kurapika tak akan ragu membunuh Phinks dengan cara yang paling menyakitkan, mengerikan di mana pun dan kapan pun dia mau.
Kuroro menarik lengan Si Kuruta yang emosinya tengah bergolak itu dan mulai menyeretnya kembali ke kamar mereka. "Baiklah, semoga berhasil, Phinks."
"Danchou, teganya kau!"
"Rasakan," kata Machi lagi dengan dingin bagaikan es.
"Machi, apa kau tak punya belas kasihan?"
"Dia tak punya hati, oke."
"Hmph."
"Sial. Kalluto! Kau harus ikut denganku karena itu idemu!"
"Ap–GYAA...!"
Maka Phinks menyeret Kalluto bersamanya, mencari tas ransel Kurapika yang hilang.
Kurapika masih muram ketika dia dan Kuroro berada di kamar pria itu. Kurapika terus mengomel tentang lelucon Phinks yang keterlaluan, dan bagaimana Kuroro tidak mengajarkan anak buahnya tata krama, lalu masih banyak lagi. Kuroro tahu lebih baik dia diam mendengarkan gadis itu, daripada berdebat seperti apa yang biasanya mereka lakukan.
Tak bisa lagi menghadapi keprihatinan dan kemarahan gadis itu, Kuroro menyerah. Dia berdiri dari tempat tidurnya dan memanggil Kurapika.
"Kemarilah," dia menganggukkan kepalanya ke arah tertentu.
"Aku akan menunjukkan sesuatu padamu."
Kurapika menaikkan kedua alis matanya, terkejut karena Pemimpin Laba-laba menawarkan diri menemani gadis itu untuk melihat-lihat 'rumahnya'. Kurapika sedang tidak begitu ingin sebenarnya, tapi mungkin saja itu akan mengurangi kecemasan dan kekesalan yang ia rasakan. Selanjutnya, dia mengikuti Kuroro saat pria itu membuka pintu tertentu dan memberi isyarat padanya untuk masuk. Kurapika pun melangkah memasuki ruangan yang gelap gulita itu, udaranya pengap tapi tidak begitu berdebu seperti di ruangan lainnya. Kuroro menekan tombol lampu, membuat ruangan itu dipenuhi cahaya menyilaukan walau hanya sesaat.
Beberapa detik kemudian, Kurapika terperangah melihat pemandangan di hadapannya. Di ruangan itu, ada rak-rak buku yang bersandar ke dinding usang bangunan tersebut, berdiri menjulang tinggi hingga ke atap, semuanya dipenuhi buku dalam berbagai warna dan ukuran, belum lagi judul, bahasa dan umur buku-buku itu.
"Perpustakaan pribadi milikku," kata Kuroro bangga.
Kurapika mendekati rak dan mulai mengamati judul-judulnya. Dengan hati-hati, jemarinya menelusuri buku-buku itu, seolah ia takut bukunya akan hancur menjadi debu karena satu sentuhan saja.
"Oh. Tuhan! Di sini ada beberapa buku yang kucari selama ini! Bagaimana bisa kau mendapatkan semua cetakan ini? Kupikir semuanya sudah lenyap dari permukaan bumi!"
Kuroro terkekeh.
"Yah, kalau kau begitu tertarik, kau bisa mengambil beberapa. Lagipula, aku sudah membaca hampir semuanya."
"Buku sebanyak ini? Kau benar-benar punya terlalu banyak waktu, ya?"
"Mungkin begitu," gumam Kuroro pelan. "Tapi aku iri padamu."
Mata Kurapika membelalak selebar-lebarnya. "Kenapa?"
"Kau dan teman-temanmu benar-benar suka pertanyaan 'kenapa', ya? Baik, tebaklah."
Kurapika menatapnya curiga. Kuroro menanggapi hal itu dengan tersenyum tipis.
"Coba saja. Tak ada salahnya."
Apa? Apa yang begitu unik pada dirinya hingga Kuroro iri padanya? Apa perbedaan yang begitu jelas di antara dirinya dan pria itu hingga membuatnya iri? Hati nurani? Tak mungkin. Tiba-tiba, seolah gadis itu baru mendapatkan pencerahan dari Buddha, dia langsung tahu.
"Karena aku punya tujuan yang jelas dan berbeda dalam hidupku?"
Akhir-akhir ini, Kurapika mulai memahami hidup Kuroro; yang mengabdikan diri pada Genei Ryodan, seperti sehelai bulu yang melayang-layang di alam semesta. Tak punya maksud dan sasaran yang nyata, tujuan yang jelas atau apapun juga baginya untuk dituju. Mungkin itu alasannya kenapa detak jantung Kuroro terdengar hampa dan seperti kematian bagi Senritsu–dia tak punya kehidupan. Kuroro sudah merenungkan hal ini. Dia ingin tahu apakah yang dikerjakannya saat ini merupakan hasrat yang dia miliki atau tugas semata–tugas yang dia klaim bertahun-tahun yang lalu ketika dia hanya bermaksud untuk membuat Ishtar jengkel.
Kuroro diam sesaat, sebelum akhirnya ia memecahkan keheningan itu dengan seulas senyum yang paling jarang ia tunjukkan. "Aku terkesan."
Senyumnya hampir terlalu lembut bagi Kurapika, dan hampir membuatnya terkena serangan jantung.
"Kalau begitu apa kau akan percaya, jika kukatakan bahwa perpustakaan ini adalah harta karunku?" Kuroro bertanya dengan lembut, sambil terus menatap gadis itu.
"Ya," jawaban dari Kurapika datang begitu cepat. Jawaban yang berasal dari naluri dan intuisi di dalam hatinya, dan sudah terlanjur ia ucapkan sebelum kata tersebut sampai ke benaknya untuk diproses terlebih dahulu.
"Apa kau juga akan percaya bahwa kaulah satu-satunya yang pernah kuijinkan masuk ke sini?" adalah pertanyaan yang ingin ditanyakan Kuroro pada Kurapika, tapi dia memutuskan untuk menyimpannya dalam hati.
Kadangkala, ada beberapa hal yang lebih baik dibiarkan tidak terungkap begitu saja.
"Jin Ifrit."
Kuroro dan Kurapika terdiam menatap Ishtar, seolah wanita itu berbicara dalam bahasa makhluk luar angkasa. Keesokan harinya, begitu pagi datang, mereka pergi ke kuil Ishtar sebelum para anggota Laba-laba kembali meledakkan emosi Kurapika lagi. Dan tentang barang-barang Kurapika, yah, sebenarnya Phinks masih memeriksa seisi kota untuk menemukannya. Secara ajaib Kuroro berhasil meyakinkan Kurapika untuk 'memberinya lebih banyak waktu.'
"Kau bilang apa?" Tanya Kurapika.
"Kalian harus menemukan Jin Ifrit untuk menghancurkan kutukan Hassamunnin." Melihat raut wajah Kurapika yang menunjukkan bahwa dia benar-benar tidak tahu apa-apa, Ishtar menghela napas dan berkata, "Scheherazade akan menjelaskannya pada kalian."
"Siapa?"
Ishtar menaikkan sebelah alis matanya, dia tidak tahu apa yang terjadi semalam, namun kedua orang muda itu tampak melamun. Yah, mungkin akan lebih sehat baginya untuk tidak salah mengasumsikan beberapa hal.
"Scheherazade," dia mengulangnya, dan di saat yang sama masuklah suatu sosok ke ruangan itu.
Sosok yang dipanggil Ishtar adalah wanita dengan kecantikan yang indah dan sempurna. Rambut hitam ikalnya yang tebal berayun anggun sewaktu dia melangkah melintasi ruangan dengan tanpa suara, langkahnya begitu hidup dan terlihat bagai tarian. Scheherazade mengenakan pakaian penari Arab Timur Tengah–yang terdiri dari atasan 'bikini' dan celana panjang tembus pandang yang menampakkan siluet kaki indahnya–dengan perhiasan yang bergemerincing di sekujur tubuhnya. Sehelai cadar tembus cahaya terurai dari puncak kepalanya, sementara kulitnya yang berwarna seperti madu berkilau keemasan tampak memikat dalam remangnya cahaya yang menerangi ruangan itu. Dengan sebuah hentakan, dia duduk di sebelah Ishtar, perhiasannya bergemerincing ceria.
"Halo," dia menyapa dengan ramah, suaranya lembut dan ringan.
Kurapika hanya bisa menatapnya takjub, sementara Kuroro melihat wanita itu dengan tidak merasa tertarik. Kenalan Ishtar lainnya yang juga aneh, pria itu berkata dalam hati.
"Mari kita langsung bicara ke intinya," Scheherazade berkata dengan suara yang terdengar bagai menyanyikan sebuah lagu. "Ketika jin menjatuhkan mantera, mantera itu bekerja berdasarkan syarat yang ditetapkan jin tersebut. Hanya jin dengan kekuatan dan tingkatan yang lebih hebat mampu menghilangkan kutukan itu. Jika seseorang ingin menghilangkan kutukan yang dikenakan padanya, maka orang itu harus menemukan jin yang lebih kuat yang bersedia membantu."
"Dan hal itu tidaklah mudah," Kuroro menyimpulkan.
"Mmhmm...," Scheherazade memberinya seulas senyum tipis, dan mengangkat kelima jemarinya yang lembut dan lentik. "Sekarang, ada lima kelompok jin berdasarkan kekuatan yang mereka miliki : Jann, Djinn, Shaitan, Ifrit dan Madira. Hassamunnin; meskipun dia bodoh, nakal dan aneh, dia adalah salah satu Shaitan terkuat. Sebenarnya dia dikelompokkan sebagai Ifrit, tapi sayangnya dia terlalu senang berbuat kenakalan daripada berkonsentrasi untuk naik ke tingkat Ifrit."
Kuroro dan Kurapika mendengarkan wanita itu baik-baik, dan Scheherazade melanjutkan penjelasannya.
"Jadi, kami sudah mencari Ifrit yang sedikit lebih kuat dari Hassamunnin dan kami menemukannya. Namanya Deifri, dan dia adalah Ifrit yang liar. Dibuang dari komunitas kami karena pembangkangan dan kekejamannya. Sekarang tugas kalian bernegosiasi dengan Ifrit tentang menghilangkan belenggu itu, tapi tidak mudah mengingat jin sangat tegas dengan mantera mereka dan kemungkinannya kecil mereka akan tunduk pada permintaanmu. Yang sering terjadi adalah, dia akan memilih untuk bertarung."
"Dan itu sebabnya kau menugaskan kami ke Ifrit yang 'liar, membangkang dan kejam,' atau singkatnya, Ifrit yang jahat?" Tanya Kurapika hati-hati.
"Sebab jika kalian melawan dan membunuh jin yang termasuk ke dalam komunitas kami, kau bermusuhan dengan semua komunitas. Jadi, lebih baik berurusan dengan Ifrit yang hidup menyendiri. Menemukan Deifri perlu waktu karena kebanyakan 'iblis' Ifrit sedikit banyak lebih kuat daripada Hassamunnin, dan kau tak akan punya kesempatan menang melawan mereka."
Kuroro mendengus pelan, merasa diremehkan oleh alasan Scheherazade. Setidaknya, dia merasa sedikit tersinggung tapi dia tahu kekuatan jin merupakan masalah besar. Jadi Kuroro menjaga mulutnya tetap diam. Scheherazade memperhatikan hal ini dan sekilas tersenyum senang padanya.
"Baiklah, semuanya sudah dikatakan," ucap Ishtar sambil kembali mengambil alih percakapan itu. "Sekarang saatnya ujian."
"Ujian?" Kuroro memicingkan matanya, mengarahkan tatapan yang menunjukkan kesangsiannya.
"Ya, ujian untuk melihat seberapa jauh kecocokan kalian berdua dalam pertarungan hidup dan mati."
Sebuah seringai yang hampir terlihat seperti seringai iblis bagi Kurapika menghiasi wajah cantik Ishtar dengan dingin, dan dia melepaskan bando yang menahan helaian rambut ikalnya yang berwarna hitam pekat. Ketika rambut itu jatuh terurai dan lekukan ikalnya terulur, tekstur rambutnya berubah drastis. Mata Kurapika membelalak ngeri saat menyaksikan perubahan itu.
Sekejap saja, Lady Ryuussei-gai yang anggun di hadapannya berganti menjadi sesosok makhluk wanita berambut ular. Ular-ular itu berdesis liar dan ganas, menyentakkan badannya dengan sengit ke semua arah seolah begitu ingin menggigit sesuatu hingga mati. Mata hitamnya berganti dengan mata merah yang membelalak lapar, sambil memperlihatkan taringnya kepada mereka.
Terlalu kaget dengan perubahan yang drastis itu, Kurapika tidak memperhatikan sebuah tombak jatuh dari langit-langit, siap menusuknya. Kuroro meraih pinggang gadis itu–di mana hal ini menjadi kebiasaan–menariknya dari tempat semula ia berdiri dan melompat pergi. Sebuah tombak yang sangat besar, berukuran raksasa menusuk dalam-dalam hingga ke dasar, menghancurkan lantai, meremukkan bebatuan seperti remah-remah roti.
"Apa yang–" Kurapika berkedip sambil menggantung di lengan Kuroro (ini juga menjadi kebiasaan).
Kuroro mendongak memelototi Ishtar, namun tercengang ketika pandangannya jatuh pada wanita itu.
Wanita tersebut bukan lagi Ishtar yang dia kenal. Ukuran tubuhnya berlipat ganda, menjulang tinggi di atas mereka bagai raksasa. Bagian bawah tubuhnya pun berubah menjadi tubuh ular, tebal, licin, dan bersisik. Bagian atas tubuhnya masih berupa manusia, dengan kulit yang masih seputih susu dan tak bersisik, namun sosoknya secara keseluruhan memancarkan aura yang berbeda–aura yang begitu dahsyat. Ishtar saat ini sedang dalam keagungan penuh sebagai Medusa.
Kalian berdua akan bertarung denganku sampai mati sebelum kalian bisa pergi mencari Ifrit! Suaranya berdentum dan bergema di ruangan yang luas itu. Kurapika setengah menduga suara yang akan keluar lebih terdengar berdesis seperti ular, namun suaranya terdengar agak licik daripada berdesis.
Tanpa menunggu penjelasan apapun, Sang Medusa merenggut tombak dari lantai batu seperti menarik sebuah tusuk gigi dari segumpal adonan, dan melata dengan cepat dan berapi-api keluar ruangan itu, ke dalam liarnya hutan yang ada di belakang kuil. Kuroro dan Kurapika hanya melongo ke gerbang di mana Ishtar menghilang. Scheherazade mengamati mereka berdua dengan ekspresi yang tak terbaca terlihat di wajahnya yang eksotis, sebelum menepuk tangannya menarik perhatian mereka.
"Begitu kalian siap menghadapinya, temui aku di sini, dan aku akan membawa kalian padanya," Scheherazade berkata dengan suara yang tenang.
"Apa kami benar-benar harus–" Kurapika baru saja mulai bicara, namun Scheherazade mengangkat sebelah tangannya dengan sikap yang tegas untuk membuat gadis itu berhenti.
"Tunjukkan bahwa kalian mampu kembali hidup-hidup dari pertarungan dengan Ifrit yang kemungkinan besar akan terjadi, dengan mengalahkan Ishtar," kata Scheherazade, wajahnya serius dan terus begitu. "Kalau tidak, baik aku maupun Ishtar tak akan memberitahu bagaimana cara menemukan Ifrit, dan kalian bisa menghabiskan seumur hidup bersama, kalau tidak keberatan."
Kurapika langsung tersedak, sementara Kuroro mengernyit. Scheherazade tersenyum lebar pada mereka berdua, seolah berusaha menyemangati mereka.
"Baiklah, semoga beruntung."
Keduanya diam ketika mereka tiba di kamar Kuroro. Sama-sama mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu dari para anggota Laba-laba. Terutama Phinks (yang tersentak setiap kali dia melihat gadis itu) dan Nobunaga, Kuroro dan Kurapika pun bergegas menuju ke kamar tidur pribadi Kuroro.
"Kuroro," tanya Kurapika pelan segera setelah mereka sampai di kamar tidurnya.
"Hm?" Suaranya datar dan terkendali, mengkhianati hatinya yang terasa berat.
"Apa kau akan benar-benar membunuhnya?"
"... " Kuroro langsung berhenti melangkah dan memejamkan matanya. Tentu dia ingin menghindari membunuh Ishtar, tapi dia juga lebih tahu daripada siapapun bahwa wanita itu mampu menyudutkannya di mana dia akan dipaksa untuk membunuhnya agar bisa bertahan. Kuroro tahu betul hal itu.
Kurapika bisa merasakan jawaban Kuroro, maka dia tidak memaksa pria itu dengan pertanyaannya. Dengan ragu dia melirik ke pintu yang menuju ke perpustakaan pribadi Kuroro.
"Haruskah kita–"
"Tidak," Kuroro menjawab, bahkan sebelum Kurapika menyelesaikan pertanyaannya.
Kurapika pun diam dan menunggu pria itu menjelaskan lebih lanjut.
"Hanya ada satu cara untuk membunuh Medusa."
"Yaitu?" Kurapika tahu dia tak ingin mengetahuinya, sebenarnya, tapi Kurapika merasa wajib untuk bertanya.
Kuroro menoleh memberinya tatapan kosong, tak bernyawa.
"Dengan memenggal kepalanya."
"Apa ini benar-benar perlu?"
Lucian duduk di puncak batang pohon tertinggi sambil menatap ke arah Sang Medusa. Basille melingkarkan tubuhnya dengan agak longgar ke tubuh Lucian, seperti kalung raksasa. Ishtar memunggungi vampir itu, suatu tindakan pencegahan bagi Lucian. Dia tidak mau secara tidak sengaja membunuh sosok yang disebut teman Kuroro tersebut dengan tatapannya yang mematikan. Ular-ular di kepalanya berayun dan bergerak melata di rambutnya dengan malas, suara desisannya menyatu dengan tiupan angin yang tenang.
Ya, hanya itu jawabannya.
"Sungguh, kau tak harus mendesaknya sekeras itu, kau tahu," Lucian berkata lagi sambil mengusap tubuh Basille yang bersih.
Aku tak bisa mengambil risiko, Ishtar beralasan. Jika mereka tak bisa mengalahkan aku dalam kondisi mereka saat ini, mereka hanya mengantarkan nyawa mereka pada kematian dengan menghadapi Deifri.
"Oh, ayolah...," Lucian memutar bola matanya. "Deifri itu Jin Ifrit yang aneh. KAU adalah dewi yang turun dari langit! Kau beberapa kali lipat lebih kuat dari jin itu. Bagaimana kalau mereka mati saat melawanmu?"
Apa kau benar-benar percaya aku akan membunuh mereka? Ishtar membentaknya, walau dia masih tak mengalihkan tatapan matanya ke arah Lucian.
"Tapi kau bilang–"
Hingga mereka bisa membunuhku, setelah itu barulah aku akan membiarkan mereka pergi memburu Deifri.
"Oh, begitu..." Lucian menyandarkan punggungnya di batang pohon yang dingin. "Tapi itu terlalu kejam. Dia tak akan pernah memaafkanmu."
Apa salahnya? Dia sudah membenciku, ini tak merubah apapun, Ishtar berkata dengan suara yang sedih.
"Pasti jadi masalah. Ishtar, kau akan menyesalinya," Lucian berujar pelan sambil memicingkan matanya yang berwarna abu-abu dengan tidak senang. Lucian tahu Kuroro sudah memaafkan wanita itu, setelah percakapan kecil (yang lebih terkesan dipaksakan sebenarnya) antara dirinya dengan Kuroro.
Ishtar hanya tersenyum sendiri. Dan untuk permintaanmu, sedang dikerjakan dengan baik. Jalannya sudah diatur, semua sudah dibereskan.
"Benarkah? Itu kabar yang bagus," seulas senyum hangat menghiasi wajah pucat Lucian.
Aku terkejut kau begitu perhatian dengan kebaikan mereka. Kenapa, Count muda dari Wallachia?
Senyum Lucian melebar ketika dia memetik sehelai daun dan melilitnya, memainkannya sebentar dengan jemarinya yang berurat.
"Aku hanya suka mereka bersama."
Pepohonan tumbang dengan suara dentuman yang keras. Tanah berguncang, begitu terasa, ketika sesosok makhluk raksasa sedang bertempur dengan dua orang manusia. Pertempuran yang panjang, berat–belum lagi memiliki takdir yang menyakitkan.
Dengan sedikit saja sentakan dari pinggangnya, Ishtar menyapu bersih seluruh area itu dengan tubuh ularnya yang sangat besar. Dua sosok mendarat dari udara ke tanah yang tersapu bersih itu, keduanya sama-sama terengah-engah dan berkeringat. Sebelah pipi Kurapika bengkak karena pukulan yang baru saja diterimanya, sementara Kuroro–meski berada dalam kondisi yang jauh lebih baik dari Kurapika–lengan kiri bajunya sudah compang-camping. Keduanya penuh memar dan luka sayatan yang tidak dalam, karena mereka bertempur di hutan, tentu saja.
Ada apa? Hanya inikah yang bisa kalian lakukan? Suara Ishtar berdentum dengan agungnya saat dia menunduk kepada Kuroro dan Kurapika.
"Ck, ini tidak berhasil," Kurapika berkata sambil meludahkan darah dari dalam mulutnya dan menghapus sisa darah itu dari bibirnya.
"Sudah kubilang padamu, hanya ada satu cara untuk untuk membunuh Medusa," ucap Kuroro muram sambil meregangkan pergelangan tangannya.
"Apa kau benar-benar serius?" Kurapika meringis membayangkan memenggal Ishtar, meskipun wanita itu sedang menjadi monster saat ini.
"Apa kita punya pilihan lain?"
"...Tidak."
Ishtar menghujamkan tombaknya pada mereka, keduanya melompat bersamaan, menghindar agar tidak tercabik-cabik menjadi bongkahan daging oleh tombak yang besarnya tidak masuk akal itu. Belenggu di antara mereka sudah banyak melebar, belakangan ini mereka tidak mau repot-repot untuk mengukurnya. Sejauh ini, tak ada gerakan yang terasa terbatas. Mereka nyaman dengan jarak yang mereka pertahankan sambil melawan Sang Medusa. Sepertinya hasilnya akan bagus bagi mereka.
Atau setidaknya mereka pikir begitu.
Dengan gerakan kepalanya yang tiba-tiba, Ishtar menoleh membelalakkan matanya yang mematikan pada Kuroro dan Kurapika.
Tepat pada waktunya, Kurapika melilitkan rantainya ke batang pohon dan mengangkat dirinya juga Kuroro–dengan meraih lengannya–dari sasaran tatapan Ishtar. Tak ada jejak pepohonan, tanah dan lainnya yang sudah dibuat menjadi batu oleh tatapan Sang Medusa. Namun, dengan melayang seperti itu, mereka tak bisa mengendalikan arah mereka dan ketika Ishtar mengulurkan sebelah tangannya pada Kuroro dan Kurapika, mereka hanya bisa pasrah menerima pukulan itu.
Mereka terlempar membentur pepohonan. Dedaunan berjatuhan dan ranting-ranting yang patah turun bagai salju. Suara terbatuk-batuk terdengar dari balik tabir debu itu ketika mereka berdua jatuh secara bertumpuk. Kali ini, Kurapika-lah yang berbaring di atas Kuroro.
Kurapika segera berusaha bangkit agar menjauh darinya, tapi dia meringis ketika rasa sakit menyerang tulang rusuknya–dia tahu beberapa tulang rusuknya patah. Kuroro mengerang pelan ketika dia beranjak duduk. Lengan kirinya terputar ke arah yang aneh dan tampak seolah tak bertulang. Dengan hati-hati dia menyentuh lengannya dan meringis.
"Tulang hancur dan terdislokasi," Kuroro mengumumkan, seolah dia tidak sedang memeriksa lengannya sendiri.
Tanpa membuang satu helaan napas atau memikirkannya lagi, Kurapika mengeluarkan Holy Chain dan mulai menyembuhkan lengan Kuroro. Itu merupakan tindakan yang benar-benar berasal dari naluri. Ketika dia sibuk dengan lengan pria itu, Kuroro memperhatikan kedatangan tombak selanjutnya. Dengan cepat dia meraih kepala Kurapika dan menundukkannya ke tanah untuk menghindari sabetan tombak–jika Kuroro tak melakukannya, mereka akan berakhir tak berkepala.
"Ayo," Kuroro berdesis sambil mengangkat gadis itu menggunakan lengannya yang tidak cedera dan melompat lebih jauh dari Medusa yang sedang mengamuk. Kurapika memusatkan konsentrasinya menyembuhkan lengan Kuroro daripada tulang rusuknya yang berdenyut sakit.
"Sembuhkan tulang rusukmu," Kuroro berkata dengan tegas segera setelah lengannya terasa seperti baru lagi.
Kurapika menaikkan sebelah alis matanya. Bagaimana dia bisa tahu beberapa tulang rusuknya patah? Rupanya, ketika Kuroro menekankan tubuh gadis itu ke tubuhnya saat menggendongnya tadi, dia bisa merasakan gangguan aneh pada tulang rusuknya. Patuh, Kurapika melakukan seperti apa yang diperintahkan.
Ayo Kuroro, Kurapika! Apa lagi yang kalian tunggu? Ishtar berseru sambil menerjang ke arah mereka.
Kuroro meringis ketika melihat wanita itu menampakkan taringnya ke arahnya. Dia memejamkan matanya sedetik saja saat menetapkan pikirannya.
"Kurapika, aku mengandalkanmu."
Kurapika menatap pria pendiam yang pandai menutupi perasaannya itu dengan ketakutan di matanya yang kini berubah menjadi merah sepenuhnya. Mereka sudah mendiskusikan hal itu, dan sudah membuat rencana tapi itu merupakan upaya terakhir. Kurapika mengernyit padanya dan saat merasakan keputusan pria itu, dia hanya bisa menelan ludah dengan gugup dan mengikuti rencana.
Taring Ishtar tak pernah menyentuh mereka tapi hanya menakut-nakuti saja. Ketika dia mendongak mencari keduanya, Kurapika melayang jauh di atasnya, dengan Kuroro berada dalam lingkaran belenggu mereka. Mengumpulkan seluruh kekuatan yang ia miliki, Kurapika memegang kedua tangannya dan merentangkan jemarinya. Dengan lebih banyak konsentrasi, lebih banyak Nen, dan Mata Merah yang lebih menyala–Kuroro merasa seolah yang dilihatnya adalah sepasang miniatur matahari di dalam mata gadis itu–dia menciptakan sepuluh rantai yang sama persis. Akan lebih baik jika Kuroro ada di sana untuk meminjamkan Nen-nya pada Kurapika, tapi ini adalah tugas yang harus dikerjakannya sendiri.
Dengan satu sentakan pergelangan tangannya, Kurapika menjulurkan semua rantai itu untuk melilit tubuh, leher dan pinggang Ishtar laksana ular-ular yang lapar; untuk membatasi gerakannya karena Kurapika mengikatkan ujung lain rantai-rantai itu ke pepohonan dan tanah yang kuat. Kurapika tahu ini hanya trik yang bisa bertahan hanya beberapa detik saja, yang begitu sempit waktunya, hanya memberi Ishtar kekuatan yang murni. Itu merupakan taruhan yang berbahaya; teknik yang baru mereka rencanakan semalam dan jika cara ini gagal, Nen-nya akan hancur dan saat itu akan menjadi akhir bagi mereka berdua.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Kuroro melakukan bagiannya dalam rencana itu; pekerjaan yang kotor–memenggal wanita itu.
Bukan pemandangan yang indah; jauh dari itu. Pemandangan itu pun memberikan sensasi mual di bagian bawah perutnya. Kuroro sudah melihat banyak kepala manusia lainnya menggelinding di tanah, isi perut mereka, darah kental mereka, setiap hal mengerikan yang pernah ia hadapi di muka bumi. Dia bahkan tidak berkedip sedikitpun saat menghancurkan seorang pria hingga hanya tertinggal sedikit dagingnya saja. Tapi tidak, kali ini berbeda–perutnya mengejang tak nyaman saat melihat tubuh lemas ibu angkatnya.
Tidak, dia tak sampai hati memenggalnya. Dia menyayat cukup dalam hingga pembuluh nadinya terluka parah. Yah, yang dilakukannya memang kejam, karena ini berarti wanita itu akan mengalami kematian yang lama dan menyakitkan.
Tapi hanya itulah satu-satunya alasan kenapa dia masih bisa memeganginya utuh dalam pelukannya. Ishtar tak bisa lagi menggerakkan kepalanya, hanya mampu menggerakkan bola matanya di dalam kantung matanya. Ketika Kuroro menyayat kerongkongannya hingga memancarkan darah dengan deras, Ishtar langsung berubah kembali ke sosok manusianya, dan tubuhnya mendarat di sekitar danau Morgan le Fay. Dengan kesungguhan dan rasa penghormatan, Kurapika berdiri di belakang Kuroro untuk memberi mereka saat terakhir bersama.
"Kenapa kau tidak memberitahuku...," bisik Kuroro, "Bahwa kau melepaskan keabadianmu untuk menolongku hari itu?"
Bahkan tanpa Kuroro harus menyebutkan waktu dan tempatnya secara mendetail, Ishtar tahu apa yang dia maksud–yaitu hari ketika dirinya memberikan darahnya untuk menyelamatkan Kuroro. Ishtar tersenyum padanya, hampir terlihat seperti senyum sedih, ketika dia mengamati wajah pria muda itu. Lalu matanya terlihat menerawang jauh ke waktu yang lalu.
"Aku sudah lelah dengan kehidupan. Hidup yang terlalu lama. Aku tak lagi mempedulikannya," Ishtar berkata, suaranya berbisik lemah.
"Bagaimana dengan Anansi?"
"Kurasa dia pun pasti sudah mengetahui hal ini. Dia penggosip yang menyebalkan, tak ada cerita di dunia ini yang lolos darinya," kata Ishtar, tertawa pelan walau terasa menyakitkan.
"Kenapa kau tidak menjelaskan semua yang kau lakukan untukku?" Kuroro bertanya lagi, suaranya masih pelan dan berbisik.
Ishtar menatap ke dalamnya mata pria itu yang berwarna gelap tak berdasar. Mereka berdua memiliki mata berwarna hitam. Mereka berdua memiliki rambut hitam yang lembut. Mereka berdua berkulit pucat. Mereka berdua berpenampilan bagus; yang satu berwajah tampan, menawan dan sungguh memiliki daya tarik, sedangkan yang satunya lagi cantik mempesona. Tak heran jika orang akan benar-benar percaya bahwa mereka memang ibu dan anak.
"Kuroro..." Ishtar mulai bicara, suaranya terdengar lembut. "Semuanya berakhir demi kebaikanku, atas keinginanku sendiri. Tahun-tahun yang kulalui untuk membesarkanmu hanyalah sebagian kecil keberadaanku yang berabad-abad, namun saat itu berarti bagai selamanya bagiku."
Wanita itu menghela napas berat, namun napasnya lebih terdengar seperti desahan angin yang kering.
"Kau putraku, dan akan selalu begitu. Aku tak mengharapkan ucapan terima kasih maupun penghargaan apapun dari anak yang telah kubesarkan."
Dia mengangkat sebelah tangannya yang rapuh dan membelai pipi Kuroro. Dia tersenyum, dan hal itu mengejutkan mereka berdua karena memberikan kesan ucapan selamat tinggal.
"Lagipula, itu sikap alamiah seorang ibu, benar tidak?" Dia melihat Kurapika dari sudut matanya, menyadari bahwa dia tak bisa lagi menggerakkan kepalanya. "Kemarilah, Kurapika."
Dalam sekejap, Kurapika sudah berlutut di hadapan Ishtar dengan kedua lututnya menyentuh tanah penuh darah. Dia terlihat pucat pasi dan kelelahan karena pertempuran tadi. Ishtar menggerakkan sebelah tangannya lagi sedikit dan Kurapika bergegas menggenggam tangan yang lemah itu–terasa begitu rapuh dalam sentuhannya.
"Jaga dia?" Pinta Ishtar sambil tersenyum lemah.
Detak jantung Kurapika berdegup dua kali lipat dan gadis itu menggigit bibir bawahnya keras. Matanya menatap dalam-dalam ke mata Ishtar yang berwarna gelap, dia bisa melihat ketulusan dan permohonan di sana. Bagaimana bisa dia penuhi permintaan yang mustahil itu? Kuroro adalah musuh bebuyutannya! Tapi bagaimana bisa dia menolak permintaan terakhirnya? Dia tidak tahu apakah matanya mengkhianati perasaannya yang sebenarnya, namun dia mengangguk dengan sungguh-sungguh. Setidaknya itu hal terakhir yang bisa dia lakukan untuk menghargainya.
Untuk menunjukkan kepuasan dan kebahagiaannya atas jawaban Kurapika, Ishtar memejamkan matanya. Lalu, seolah menanggapi aba-aba yang ia berikan, seluruh tubuhnya terlihat menipis dan menjadi tembus pandang. Keseluruhan sosoknya menjadi kabur dan memudar, dan Kuroro merasa bobot Ishtar dalam pelukannya menghilang, Ishtar membuka matanya lagi dan menatap putra tersayangnya.
Kuroro..., suara Ishtar sudah terdengar tipis seperti udara. Aku ingin mendengarnya...sekali saja...
Itu permohonan terakhirnya kepada Kuroro; harapan seumur hidupnya untuk dipanggil 'Ibu' oleh putra satu-satunya. Kuroro membuka mulutnya, namun kata itu seolah tersangkut di tenggorokannya.
Kuroro...
Dan sebelum Kuroro bisa memenuhi permintaan terakhirnya, Ishtar dari Ryuussei-gai hancur menjadi butiran pasir.
Pertama adalah tangannya yang menyentuh pipi Kuroro. Kemudian mantera penghancur menyebar ke seluruh tubuhnya bagaikan racun. Wajah memohon masih terlihat di wajahnya yang cantik, dan sayangnya wajah itu akan menghantui Kuroro, mengingatkan pada kegagalannya. Saat Ishtar sudah sepenuhnya menghilang, Kuroro mengepal kedua tangannya erat.
Kurapika terisak saat melihatnya. Baginya, kematian seperti ini terlalu menyakitkan–tak meninggalkan sedikitpun jejak orang yang baru saja meninggalkan mereka. Pandangannya jatuh pada Kuroro.
Di mata Kurapika, Kuroro terlihat seolah berusaha merengkuh apa yang tersisa dari Ishtar. Sedikit pasir yang telah ia genggam di tangannya, dia kepal erat tapi tetap saja lolos dari celah-celah jari bahkan butiran pasirnya lebih halus. Pada akhirnya, tak ada sedikitpun jejak Ishtar yang tertinggal. Semua tertiup angin dan tenggelam ke danau yang dalam.
Punggung Kuroro terkulai dan kepalanya tertunduk. Poninya yang berantakan menutupi wajahnya, dan mengaburkan ekspresi yang entah seperti apa yang ada di sana. Kurapika ingin mengintip ke wajahnya, namun dia merasa hal itu tak pantas untuk dilakukan. Malah, dia hanya diam di sana, duduk di depan Kuroro seperti patung. Keheningan mendominasi dunia mereka hingga bisikan pelan Kuroro membuyarkannya.
"Aku tidak memanggilnya Ibu..."
Rasanya lama sekali, mereka berdua tetap diam dalam posisi seperti itu. Akhirnya, Kuroro sedikit bergerak, dia mencondongkan badannya ke depan dan sedikit menempelkan keningnya ke bahu Kurapika. Gadis itu hanya tersentak. Dia tetap duduk diam, tegap dan tenang. Dia akan mengijinkan Kuroro menjadi anak manja lagi. Lagipula, apa yang bisa dilakukan Kurapika saat dia merasakan sesuatu yang basah dan hangat jatuh mengalir ke lengannya ketika Kuroro bersandar padanya? Kurapika akan membiarkan Kuroro memiliki saat kelemahannya–ini tidak sering terjadi hingga gadis itu merasa ia harus melihatnya.
Lagipula mereka sudah saling berbagi saat kelemahan masing-masing.
"Biarkan aku tetap seperti ini..." terdengar suara Kuroro yang agak gemetar. "Sedikit lebih lama..."
Dia musuhku. Dia musuh abadiku. Seharusnya aku membunuhnya selagi aku bisa, selama aku punya kesempatan, Kurapika membatin. Kalau begitu kenapa...
Setetes air mata yang basah, hangat mengalir di pipinya.
...aku menangis seperti ini?
Dia mengangkat kedua lengannya dan meletakkan kedua tangannya di punggung pria itu, memeluknya dengan nyaman.
Kenapa...aku melakukan ini?
Kurapika menekuk tangannya dan mencengkeram baju pria itu. Dia terisak sambil berusaha menekan tangisannya yang tertahan. Sesuatu membelenggu dadanya, membuatnya sesak. Dia bisa merasakan Nen pria itu yang berdiam di dalam dirinya bergerak gelisah dan itu membuatnya terpengaruh. Kuroro menanggapi dengan menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Kurapika, tak ragu membiarkan gadis itu merasakan air matanya di kulitnya. Kuroro pun berpegangan pada Kurapika seolah dia adalah pegangan hidupnya.
Petir bergemuruh dari kejauhan, dan awan hitam pertanda buruk menggantung di atas mereka, di mana pada saat yang sama menjatuhkan bayangan menyedihkan ke dua sosok manusia yang terikat dalam suatu pelukan pelipur lara. Segera saja, langit menumpahkan air mata, berkabung merasa kehilangan dewi mereka yang turun ke bumi. Hujannya deras dan dingin, namun tidak mengusik kedua manusia itu. Air danau meluap perlahan, dan di antara suara gerimis hujan yang mendera permukaan tenang air danau itu terdengar sebuah bisikan :
Aku akan menjadi Aegis Shield*-mu...
TBC
*Aegis Shield : tameng milik Dewi Athena yang dihiasi kepala Medusa yang dipenggal.
A/N :
Ok, it's time to apologize Dx
Terlambat dua minggu... Ga bisa dihindari, dua minggu ini di kantor sibuk, susah fokus, sleeping disorder, keyboard Lappy rusak (spasi dan beberapa huruf ga bisa dipencet...!) sementara tanganku sakit karena kebanyakan ngetik di kantor.. akhirnya full mengandalkan hp ==
Syukurlah akhirnya selesai juga, aku ga bisa buru-buru karena ini salah satu chapter klimaks...jangan sampai hasilnya kacau. Dan chapter kali ini lebih panjang xD
Makasih untuk Sends, sudah mau aku repotkan untuk publish chapter ini :) October Lynx untuk salah satu ungkapan English yang masih bikin aku meragukan terjemahannya saat itu, untuk aionwatha (yah walau aku yakin dia tidak membaca ini), you're still a great English teacher inside and my dear big sist :)
Ok, langsung aja ke review chapter sebelumnya ya :
Sends :
Oink xD seneng banget, akhirnya selesaiiii pijitin jariku ya T,T
Nekomata Angel of Darkness :
Bagaimana dengan chapter ini? Aku rasa mengharukan...
Mikyo :
Ini update telat... Tapi mudah-mudahan masih bisa dinikmati, akan kuusahakan yang terbaik
Shizuku M2 :
Ow, hubungan mereka romantis dengan caranya sendiri... Tanpa banyak kata dan janji yang membuai kalbu, seolah memang telah tercipta satu sama lain...(aku ngomong apa sih ini ==a)
Natsu Hiru Chan :
Natsuuuu...! Ayo kita syukuran...! KuroPika pelukan...! XD
bunnygirl :
Sudah terjawab kan caranya? Tapi klimaks fic ini masih belum berakhir...karena belum melawan Deifri x3
Shina Kurta :
Seharusnya sih seminggu dua kali xDa
Sayang kesibukan dan keterbatasan menghalangi niat baikku :'(
Ameriya7 :
Yah biarpun telat...Ini update-nya xD
Kujo Kasuza Phantomhive :
Mudah-mudahan chapter kali ini semakin terasa feel-nya... Dan terima kasih lagi buat hadiahnya ya, kutunggu fic-fic KuroPika lainnya jika sudah memungkinkan x3
ayrencc :
Maaf g via pm, jariku rasanya udah kyk kesetrum Dx
Masalah Lappy tambah parah.
Bayangkan, aku bisa apa tanpa space bar? Dx
Vina :
Bagaimana dengan yang ini? OvO
Kuusahakan update secepatnya... Sambil masih berupaya untuk lebih fokus, but I'm better now xD
Review please... ^^
KuroPika FOREVER
