DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^

SUMMARY :

Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.

GENRE :

Adventure & Romance

WARNING :

FemKura.


CHAPTER 26 : SLEEPLESS NIGHT


Ketika Kuroro sadar kembali, dia mendapati dirinya mengambang telentang dalam kegelapan yang dingin, tak berdasar.

Inikah dunia setelah mati? Pikirnya dengan selera humor yang sinis. Kalau memang iya, ternyata di sini begitu menjemukan.

"Wah, wah, siapa bilang kau sudah mati?" Terdengar suara menyebalkan yang familiar di telinganya.

Kuroro mendongak, melihat Phoenix datang menghampiri, bergerak naik-turun dengan cara berjalannya seperti biasa yang begitu megah. Atau sepertinya, dialah yang melihatnya bergerak naik-turun. Dengan sekali menggerakkan bahunya, Kuroro mengarahkan dirinya sendiri hingga dia bisa berdiri di dasar kegelapan yang tak terlihat, di ketinggian yang sama dengan Phoenix. Kuroro menatapnya dingin, penuh tanya.

"Jangan menatapku seperti itu," dia merengut kesal. "Aku ke sini untuk menunda permintaan maaf darimu, maka dari itu jadilah anak baik dan dengarkan dulu apa yang harus kukatakan padamu."

Kuroro menaikkan sebelah alis matanya. Sepertinya Lady Merah itu sedang dalam mood yang benar-benar tidak bagus. Mendengus jengkel, Phoenix melipat kedua tangannya di depan dada.

"Ingat waktu di gua saat aku berusaha membakar kalian dengan apiku?"

"Tentu aku ingat," jawab Kuroro datar.

"Yah, bersyukurlah. Karena hal itu, sekarang kau akan segera hidup kembali."

Kuroro menatapnya bingung walau hampir tak kentara.

"Ketika apiku gagal membakar kalian hingga mati, peristiwa itu memberi kalian kemampuan untuk sekali mencurangi kematian karena kalian dianggap layak mendapatkannya. Singkatnya, kau akan hidup kembali."

Wanita itu menyaksikan Kuroro mencerna penjelasannya, yang tak membutuhkan waktu lama.

"Tapi, kau harus bertindak cepat, kalau tidak gadis itu akan mati untuk yang kedua kalinya. Ketika itu ter–"

" 'Cepat?' Apa maksudmu?" Kuroro menyela sebelum Phoenix bisa menyelesaikan kalimatnya.

Awalnya wajah wanita itu menjadi merah karena marah telah disela dengan lancang, tapi saat menyadari penjelasannya yang memang bercampur aduk, Phoenix mendinginkan amarahnya. Dengan sekali kibasan tangannya, sesuatu yang terlihat seperti layar hologram muncul dalam kegelapan yang tak berbatas itu, menunjukkan suatu adegan di dunia nyata.

Kuroro melihat tubuhnya bermandikan genangan berwarna gelap dari darahnya sendiri. Tak jauh dari situ adalah jasad Kurapika, yang tak bergerak dan tak bernyawa sama seperti dirinya. Aneh, Kuroro merasakan kegelisahan ketika melihat jasad gadis itu tapi tak merasakan apapun tatkala melihat jasadnya sendiri.

Jin Ifrit itu sangat gembira atas kekalahan mereka yang konyol lalu dengan sebuah dorongan lengannya yang berapi menuju ke langit, dan ledakan muncul dari tanah yang menyangga jasad Kuroro dan Kurapika. Ketika debu yang mengepul turun kembali ke permukaan bumi, sebuah tiang es berdiri dengan penuh kebanggaan dan di dalam kurungannya adalah jasad mereka berdua.

"Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Jin Ifrit itu, tapi aku kira dia berencana untuk bersenang-senang dengan jasad kalian. Mungkin untuk menunjukkan pada dunia bahwa siapapun yang berani melawannya akan berakhir dengan cara yang sama." Phoenix mendengus, jelas merasa jijik. "Selera yang rendah."

Mengabaikan jawaban Phoenix yang sadis dan vulgar, Kuroro mengamati pemandangan di depannya. Ada sesuatu yang salah. Setelah memeriksa lebih dekat, dia menyadari bahwa yang salah itu adalah fakta bahwa lubang penuh darah di dadanya sudah hilang, hanya menampakkan sekilas noda darah di balik kemejanya yang compang-camping.

"Ketika kau hidup kembali, gadis itu pun akan mengalami hal yang sama. Masalahnya efek langsung dari tiang es bisa membunuhnya. Itu bukan es biasa, Kurapika akan tertidur selamanya karena suhu yang ekstrem. Apiku tak bisa menghangatkannya karena bukan bagian dari duniamu."

Tanpa Phoenix harus menjelaskan panjang lebar rinciannya, Kuroro pun paham. Itu sebabnya kenapa orang tak boleh tidur ketika mereka sedang berada dalam lingkungan yang sangat dingin. Mereka bisa mati dalam tidurnya.

"Jika itu terjadi, tak ada yang bisa menyelamatkannya. Dia tak dilindungi Cincin Solomon. Cincin jahanam itu hanya melindungi pemiliknya yang sah, kecuali jika diperintahkan lain. Memalukan, kau belum tahu bagaimana memanfaatkan potensi yang tak terbatas itu, mengingat Ishtar mengorbankan hidupnya demi mewariskan cincin itu padamu."

Mendengar nama Ishtar membuat Kuroro kembali tersadar ke dunia nyata. Dia menoleh, memandangi mata Phoenix yang liar dan berwarna keemasan, mencari kebenaran di dalamnya.

"Dia tahu ini akan terjadi."

"Itu karena aku memberitahunya, Tolol, " Phoenix mendengus."Kau tahu dia tak bisa meramalkan masa depan, dia hanya melihat kebenaran dari apa yang tampak di depan matanya."

Mungkin Phoenix-lah yang pertama kali memanggil pria itu dengan sebutan 'Tolol.'

"Meski aku harus mengakui dia cukup pintar, bisa menyimpulkan kemungkinan terjadinya beberapa hal," dia bergumam dan mengangkat bahunya. "Ngomong-ngomong..."

Phoenix mengibaskan tangannya lagi, Kuroro pun tertelan ke dalam apinya yang merah keemasan. Dia melihat ke sekelilingnya dan memperhatikan bahwa wanita itu sudah menghilang. Suaranya hanya berupa bisikan yang terdengar jauh di antara suara derak api mistik yang cukup keras.

Cepatlah, Kuroro... Waktu terus berjalan...

Kuroro seolah benar-benar bisa merasakan seringai Phoenix yang lebar.

Sang Waktu tak menunggu siapa pun...


Deifri sedang dalam mood-nya yang paling riang pada abad ini. Sudah lama waktu berlalu sejak terakhir kali dia membunuh seseorang. Deifri menari-nari dengan konyol, mengelilingi tiang es yang berisi dua korbannya. Dari kejauhan, Scheherazade hanya mengamati dengan tatapannya yang tajam.

Scheherazade! Panggil Jin Ifrit itu dengan seringai kemenangan menghiasi wajahnya yang keras seperti batu. Orang-orang yang kau bawa ini membuktikan bahwa mereka tak lebih dari sekadar olahraga saja bagiku.

"Jangan sombong dulu, Deifri. Jika aku jadi kau, aku belum akan merayakannya. Pertunjukan yang sebenarnya baru saja dimulai," katanya ceria sambil dengan gembira menyaksikan percikan api di dalam tiang es.

Jin Ifrit itu hanya sempat memberi Scheherazade tatapan bingung ketika tiba-tiba tiang es tersebut pecah berkeping-keping seolah baru saja sesuatu meledak dari dalam. Dua tubuh manusia yang bermandikan api berwarna keemasan keluar dari dalam tiang dan mendarat ke tanah. Suara erangan tertahan keluar dari bibir Kuroro ketika dia berusaha berguling ke posisi yang lebih nyaman.

APA? Jin Ifrit itu meraung tak percaya. Dia bersumpah, dia sudah menusuk jantung pria itu jadi kenapa manusia kecoak itu masih hidup dan keadaannya baik-baik saja? Dan demi neraka jahanam, apakah itu adalah api dari dunia sana yang menyelimuti keduanya?!

Ishtar mengorbankan nyawanya demi mewariskan cincin itu padamu. Itu yang diberitahukan Phoenix ketika mereka berada dalam dunia kegelapan bagi orang-orang yang terbuang sebelum Kuroro terlempar kembali ke kehidupannya oleh api wanita itu. Kuroro mengeluarkan Cincin Solomon dari dalam sakunya dan meraba cincin itu dengan lembut.

Jika aku tak bisa melakukan sesuatu yang berguna dengan cincin ini, sama saja artinya pengorbanan Ishtar terbuang percuma, pikirnya tegas sambil menyematkan cincin itu ke jari tengahnya, merasakan sentuhan dingin benda yang terbuat dari logam itu di kulitnya. Dia akan mengira-ngira bagaimana cara menggunakan Cincin Solomon itu–dan bertindak cepat–sebelum hidup Kurapika berakhir.

Lalu, keajaiban pun terjadi.


"Lemegeton : Ars Goetia." Kuroro mendapati dirinya sendiri bergumam pada Cincin Solomon yang bersinar terang di jarinya.

Sesaat kemudian, muncullah iblis raksasa yang keluar dari Cincin Solomon itu. Berwujud naga berwarna merah darah sepanjang tiga puluh kaki dengan sayap lebar, merah dan matanya pun menyala merah. Segera saja, seolah sudah mengetahuinya sejak dulu, Kuroro mengenali nama iblis itu.

"Vassago, Pangeran Neraka," dia menyapa dengan suaranya yang diucapkan tanpa jeda dan benar-benar tenang.

Semua pengetahuan ini tertuang ke dalam kepalanya tanpa stimulasi apapun sebelumnya. Terjadi begitu saja–pengetahuan tersebut langsung memasuki benaknya, membanjiri pria itu dengan informasi lengkap secara terperinci tentang 72 iblis yang terpenjara dalam cincin kuningan itu.

Naga tersebut menatapnya penasaran dengan mata ovalnya yang besa.

Perintahmu, Tuan? Dia berkata dengan suara khas lelaki yang dalam dan nyaring, membuat suara Deifri terdengar lebih lemah jika dibandingkan dengan suaranya.

Kuroro memberi isyarat ke arah Sang Jin Ifrit dengan anggukan kepalanya.

Dalam sekejap, iblis raksasa itu melompat dari hadapan Kuroro dan menyerang Deifri tanpa ampun. Jin Ifrit tersebut, yang beberapa saat lalu terlihat tak terkalahkan baik bagi Kuroro maupun Kurapika, sekarang tampaknya menjadi mainan anak-anak bagi Vassago. Hanya karena perintah Kuroro yang mudah, iblis itu menahan diri untuk tidak mencabik-cabik Ifrit menjadi serpihan. Malah sebelah kakinya tertanam di punggung Deifri, mendesak Jin Ifrit yang malang itu ke tanah.

Kuroro berjalan terhuyung-huyung dan menatap Deifri yang berhasil ia taklukkan dengan tatapan waspada. Sangat berbeda dengan memiliki anggota Laba-laba di bawah perintahnya. Iblis ini ditaklukkannya secara paksa hingga melebihi batas kewajaran bahkan menurut standar Kuroro sendiri. Dia harus bijaksana dan berhati-hati memilih kata-kata saat memberikan perintah. Mungkin mereka setia padanya; Sang Pemilik Cincin Solomon, tapi berdusta adalah sifat alami mereka. Lebih baik aman sekarang daripada menyesal kemudian.

Scheherazade menatap Kuroro dengan tatapan kagum yang terlihat jelas di wajahnya yang eksotis. Wanita itu sudah menduga bahwa Kuroro akan tetap bersikap dingin, tapi dia tidak mengira Kuroro akan benar-benar terkendali dalam sikapnya yang tenang.

Seperti yang diharapkan dari lelaki yang dibesarkan Ishtar, Scheherazade tersenyum mengiyakan pendapatnya.

Dalam diam, Scheherazade bangkit dari duduknya dan melangkah ke mana keributan itu terjadi. Deifri meronta, berusaha melepaskan diri tapi tak membuahkan hasil. Apa yang didapatnya adalah gertakan keras dari naga itu.

"Sekarang kau berada dalam ampunanku," ucap Kuroro. Dia memandang Ifrit itu dengan mata obsidiannya yang dingin sambil berdiri dengan gagahnya di hadapan Ifrit yang kalah meskipun kemejanya kini compang-camping.

Jadi apa yang akan kau lakukan? Melenyapkanku? Bentak Deifri kasar, dan tubuhnya pun lebih ditekankan ke tanah oleh Vassago.

"Tenanglah Ifrit, aku tak akan membunuhmu," kata Kuroro perlahan dengan suara yang lembut. "Tapi kau harus mengikuti aturanku."

Oh tidak, hardik Sang Jin.

"Pertama, kau tak akan pernah menyakitiku dan gadis itu...," Kuroro berhenti sejenak sambil mempertimbangkan kembali pilihan kata-katanya, "...dan keturunan kami nanti. Ketidakpatuhan akan langsung memusnahkanmu. Kedua, kau akan mengikuti apapun perintah yang kuberikan padamu. Kau patuhi semua aturan ini hingga akhir hidupmu. Mengerti?"

Dia memberi Jin Ifrit itu seulas senyum jahat.

Wajah Deifri mengernyit menjadi wajah paling jelek yang pernah dilihat Kuroro sembari dia berusaha menjaga amarahnya tetap terkendali. Melemparkan kemarahannya di tengah kehadiran Pangeran Neraka dan majikannya adalah hal paling bodoh yang pernah ada. Tidak, dia tetap menghargai hidupnya meskipun nanti akan sedikit lebih dibatasi.

Jelas.

"Aku tak akan memenjarakanmu ke dalam cincin, maka kau bebas berkeliaran di dunia ini sesuka hatimu," Kuroro menambahkan.

Deifri menaikkan salah satu alis matanya dengan curiga.

Oh betapa murah hatinya dirimu.

"Aku tahu bagaimana rasanya jika kebebasanmu direnggut," Kuroro hanya menanggapi sambil diam-diam mengingat hari di mana dirinya berada di bawah pembatasan Judgement Chain milik Kurapika.

Kuroro berbalik pada sang naga, dan dengan satu anggukan kepala Vassago pun bergeser ke samping namun tetap dalam jarak di mana dia bisa melompat kepada Jin Ifrit itu sebelum jin tersebut bisa melukai majikannya. Deifri berdiri dengan angkuh, tak mau repot membersihkan dirinya akibat dipaksa mencium tanah oleh Sang Iblis.

"Ikrarkan sumpahmu padaku, segel perjanjian ini dengan jiwamu."

Kuroro mengangkat tangannya yang mengenakan Cincin Solomon, sementara Deifri merobek telapak tangannya dengan cakarnya yang tajam untuk mengeluarkan darah kental. Dia gantungkan telapak tangannya yang sudah dilukai itu di atas cincin tersebut, dan ketika darahnya menetes jatuh ke Segel Solomon, cincinnya menjadi terang benderang.

Aku bersumpah dengan darahku–yang merupakan hidupku, jiwaku–bahwa aku akan mematuhi aturanmu.

Terdengar suara berdesis dari cincin itu, dan saat api tersebut akhirnya padam, cincinnya masih utuh dan penuh tanpa adanya bekas hangus sedikit pun. Kuroro hafal bahwa perjanjian itu disegel sehingga Jin Ifrit tersebut tak lagi bermaksud jahat padanya. Dia berbalik kepada Vassago.

"Pergilah."

Dengan suara raungan keras, yang tak memiliki kedengkian di dalamnya, iblis raksasa itu menerjunkan dirinya sendiri ke tempat berlindung yang aman di dalam cincin. Tak ada jejak Vassago yang tertinggal di dunia yang fana ini. Suasana menjadi hening hingga kemudian dipecahkan oleh Scheherazade.

"Hebat! Benar-benar menakjubkan!" Scheherazade bertepuk tangan gembira hingga membuat Kuroro langsung curiga. Wanita itu berbahaya, tak terduga.

"Kelihatannya tak ada lagi yang harus kuajarkan padamu. Beritahu aku, Nak, apakah kau merasakan ada aliran deras informasi ketika kau mengaktifkan cincin itu untuk pertama kalinya?"

"Informasinya begitu banyak hingga kepalaku terasa seperti akan meledak," Kuroro mengakui.

"Bagus, kalau begitu aku tak punya tugas lagi untuk dilaksanakan," Scheherazade memberi pria itu seulas senyum senang sebelum berbalik memunggunginya. "Selamat bersenang-senang dengan pelayanmu yang baru."

Sambil berkata begitu, dia melangkah pergi dari tempat itu. Sekilas Kuroro melihat Scheherazade melambaikan tangan padanya tanpa menoleh melihatnya untuk yang terakhir kali. Lalu, cepat-cepat Kuroro mengalihkan perhatian kepada prioritas utamanya : Kurapika.

Dia berjongkok di samping tubuh kaku Kurapika dan yang membuatnya kecewa, tubuh gadis itu sedingin es. Dia memicingkan matanya, roda di otaknya berderak saat dia mencoba memikirkan sesuatu–apapun itu–untuk menyelamatkan Kurapika. Sebuah ide muncul di benaknya dan dia menoleh pada Jin Ifrit, yang berdiri menganggur dalam jarak satu kaki darinya.

"Aku akan memberimu perintah pertama," ucapnya datar.

Sang Ifrit berlutut di hadapan Kuroro dengan menekuk salah satu lututnya di tanah. Dia menyeringai pada majikannya yang baru.

Keinginanmu adalah perintahku, Tuan...Meskipun aku harus memperingatkanmu sebelumnya bahwa aku tak bisa menghangatkan gadis itu dengan apiku. Akhirnya aku malah akan memanggangnya.

Kuroro memicingkan matanya walaupun hanya sekilas. Bahkan setelah perjanjian itu, Sang Ifrit masih tetap lancang. Sungguh menjengkelkan. Melenyapkan pikirannya yang sepele dan tidak relevan, dia pun fokus pada situasi yang lebih gawat.

"Bawa kami ke Penginapan Prancing Pony."


Fino menutup pintu di belakangnya sepelan mungkin. Ketika akhirnya pintu itu tertutup, dia bersandar di pintu itu dan menghela napas.

"Fino, Sayang? Ada apa?" Suara ayahnya mengagetkan gadis itu dari lamunan.

Awalnya, mereka mengalami hari yang tenang dan damai ketika tiba-tiba pintu depan ditendang hingga terbuka dan seorang pria muda bergegas masuk menggendong seorang gadis yang tak sadarkan diri dalam pelukannya. Tindakan itu pun sudah membuat para tamu yang ada waktu itu sangat ketakutan, namun pria tersebut memperburuk suasana dengan meneriakkan nama Fino. Awalnya Fino dibuat sangat kesal oleh tamu yang kasar itu, tapi setelah melihat dengan siapa dia tengah berurusan, berbagai ekspresi berkelebat melewati wajahnya yang sedikit pucat. Mulanya adalah rasa kaget, lalu kebingungan, lalu terkejut, dan akhirnya merasa malu. Sebelum Fino menyadarinya, dia sudah merawat tubuh Kurapika yang sangat dingin.

"Aku tak punya petunjuk satu pun, dan Kuroro pun tak akan membicarakannya. Dia hanya memintaku memandikan Kurapika dalam air panas dan aku hanya melakukannya. Aku tak tahu apa yang terjadi dan kupikir aku ingin tahu karena tubuh Kurapika tidak seperti tubuh siapapun yang pernah kulihat, atau kusentuh dalam kasus seperti ini. Benar-benar dingin dan beku! Seolah tubuhnya benar-benar seperti pahatan balok es!" Fino berkata dengan kedua tangannya menghentak tak beraturan mengiringi emosinya yang berapi-api.

"Lalu bagaimana?" Tanya pria tua itu dengan sabar.

"Yah...tak berhasil sama sekali. Karena tak baik membiarkannya di dalam air terlalu lama, kami harus mengeringkan tubuhnya dan membaringkannya di tempat tidur. Kusimpan segala jenis selimut dan penghangat di atasnya, semua kain tebal yang bisa kutemukan. Tetap saja, menurutku itu tak banyak membantu," Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan sedih.

"Hmm...haruskah kuberikan saran pada mereka?" Ayahnya bergumam sambil memandangi pintu seolah sedang memandang ke arah Kuroro dan Kurapika.

Tanpa menunggu tanggapan Fino, pria tua itu mengetuk pintu dan menunggu dengan sopan.

"Masuklah," terdengar suara lembut Kuroro.

Pria tua itu pun patuh. Dia menghampiri mereka, dengan tanpa suara sejauh yang ia bisa dan saat melihat tubuh Kurapika yang terkulai lemas–yang tampak biru–dia merasa hatinya serasa menciut. Gadis cantik itu kondisinya menurun jadi seolah tak bernyawa seperti itu, sungguh malang.

"Aku tak tahu apa yang terjadi, dan aku tak akan mendesakmu mengenai hal itu. Tapi kupikir aku bisa memberitahu bagaimana cara menyelamatkan nyawanya," kata si pria tua dengan nada suara penuh hormat.

Kepala Kuroro langsung menoleh memperhatikan perkataan pemilik penginapan. Ditatapnya pria tua itu dalam-dalam, menunggu dia mengatakan sebanyak mungkin informasi yang dibutuhkan.

"Yah, kau tahu...Ada satu cara yang ampuh untuk menghangatkan tubuh orang yang hampir mati karena kedinginan. Yaitu melalui kontak kulit dengan kulit secara terus-menerus."

Kuroro menatapnya ragu dengan mata terbelalak.

"Kontak kulit secara langsung?"

Si pria tua mengangguk dengan sungguh-sungguh. "Hangatkan dia dengan tubuhmu, itu cara yang paling cepat dan paling ampuh untuk menaikkan suhu badannya."

Kuroro melihat kembali pada Kurapika yang sedang sekarat. Ekspresinya benar-benar kosong. Sang penjaga penginapan mengamatinya dalam diam, sebelum akhirnya merangkul Kuroro dengan sebelah tangan.

"Tapi aku tak akan memaksakannya padamu, Nak. Aku tak tahu apa hubunganmu dengan gadis itu, dan aku tak akan membuat asumsi di sini jika kau ragu melakukan...tindakan seperti itu. Tapi pikirkan lagi. Hidupnya bergantung padamu."

Dia meremas pelan bahu Kuroro untuk menyemangatinya dan dia pun meninggalkan pria muda itu sendiri dalam damai, menutup pintu di belakangnya tanpa suara. Kuroro menatap wajah Kurapika; kulitnya begitu putih hingga hampir biru, bibirnya sudah berwarna kebiruan. Kuroro mengernyit.

Apa yang kuragukan? Dia memarahi dirinya sendiri sebelum segera berdiri. Kukatakan padanya bahwa aku tak akan membiarkannya mati, dan aku akan menepati janjiku.

Dalam gerakan yang cepat dia melepaskan pakaiannya, kecuali baju dalam, dan juga melepaskan pakaian Kurapika, meninggalkan baju dalam gadis itu tetap melekat di tubuhnya. Dalam keadaan biasa, adegan tersebut mustahil bisa menjadi kenyataan di lain waktu yang mungkin Kuroro miliki dalam hidupnya. Hal itu tak bisa dihindari. Apa artinya norma kesopanan jika berkaitan dengan masalah hidup atau mati?

Dengan tenang dia menyelinap masuk ke bawah tumpukan selimut yang sudah Fino sediakan untuk mereka, dan menempelkan tubuhnya ke tubuh Kurapika. Kuroro menggigil ketika pertama kali bersentuhan dengan kulit gadis itu yang sedingin es-seakan-akan dia sedang memeluk es balok yang berbentuk Kurapika. Kemudian Kuroro mulai menggosok punggung rapuh Kurapika dan kedua lengannya, sementara dia tautkan kedua kakinya dengan kaki Kurapika untuk menjaganya agar tetap hangat. Dia benamkan kepala Kurapika di daerah perpotongan lehernya sembari dengan sengaja ia biarkan napasnya yang hangat mengenai wajah Kurapika.

Sepanjang waktu Kuroro melakukan semua itu, tak ada respon apapun dari Kurapika. Dia hanya berbaring di sana, tak bergerak dan tak bernyawa, seolah tak mampu merespon sentuhannya lagi. Kuroro lalu memejamkan matanya dan untuk pertama kali dalam 27 tahun hidupnya, dia berdoa. Aku tak tahu berapa banyak dan siapa saja Dewa yang ada di luar sana, tapi aku hanya berdoa, dia berbisik dengan lantang di dalam benaknya, bahwa dia tak akan mati dalam pelukannya.


Waktu terus berlalu, dan Kuroro takut seiring dengan menipisnya waktu, begitu pula halnya dengan hidup Kurapika. Dinginnya kulit gadis itu masih tetap pada tingkat kebekuan yang sama, dan Kuroro sendiri pun sudah mulai merasa kedinginan. Kuroro menghembuskan napas ke kedua telinga Kurapika, ke matanya, ke lehernya, dan bahkan ke mulutnya-seolah dia sedang melakukan napas buatan. Dibelainya helaian rambut Kurapika yang dingin, merengkuh gadis itu lebih erat dalam pelukannya.

Tanpa sadar pandangannya bergerak menuju ke jendela kamar mereka, di mana tirainya masih terbuka dan dia memperhatikan malam sudah tiba. Ini pertama kalinya Kuroro pernah berinisiatif menyelamatkan hidup seseorang daripada menghancurkannya. Bahkan dirinya tidak tidur sekejap pun; bagaimana bisa dia beristirahat saat Kurapika berbaring dengan kondisi hampir tak bernyawa di hadapannya, jiwanya bisa pergi meninggalkan raganya kapan saja ketika dia sedang tidak waspada? Tetap berjaga-jaga adalah hal terakhir yang bisa dia lakukan untuk meyakinkan dirinya bahwa Kurapika tidak mati-setidaknya belum.

Lagi, Kuroro berusaha menggosokkan kehangatan ke dalam tubuh Kurapika yang sedingin es. Dia gosok lengannya, dan kemudian bergerak turun lebih jauh ke bagian paha, merasakan lekuk halus tubuh gadis itu dengan kedua tangannya. Dia tertawa dalam hati. Bukannya dia punya pikiran mesum atau apa-bahkan Kuroro tak bisa memikirkan itu, mengingat kondisinya yang mengerikan-tapi dia yakin beberapa orang pria pasti mau mengeluarkan banyak uang untuk berada dalam posisi yang ditempati Kuroro sekarang.

Kurapika tidak buruk sebagai seorang gadis, meski dia lebih termasuk gadis yang tomboy mengingat sifatnya yang suka melawan. Dia pun cukup cantik-Kuroro tak pernah pemilih tentang perempuan, namun bukan berarti biasanya dia memang peduli pada mereka-dan Kurapika memiliki bentuk tubuh yang lumayan bagus, meski menurut Kuroro sedikit terlalu kurus. Ishtar sudah menasihatinya karena kesehatan mereka terabaikan, melihat Kuroro dan Kurapika-terutama Kurapika-menjadi lebih kurus.

Apa yang Kuroro hargai dari orang lain bukan hanya penampilan mereka, tapi juga kepribadian dan karakternya-kecantikan sejati, seperti bagaimana para penyair menyebutnya.

Kuroro diam mengamati dengan teliti gadis yang masih tak sadarkan diri dalam pelukannya; gadis yang saat ini masih berada pada batas antara hidup dan mati. Seringkali Kurapika bisa jadi gadis yang menyulitkan, tapi saat dia harus bersikap dewasa, dia benar-benar dapat diandalkan. Belum lagi pendiriannya yang kuat tentang keadilan dan hati nurani. Dia hampir selalu perlu alasan logis untuk semua hal yang dia lakukan. Sementara itu, Kuroro, tidak begitu memikirkan alasan ketika dia melakukan apa yang menurutnya perlu dilakukan.

Kurapika adalah orang dengan standar moral yang tinggi dan pembela keadilan-begitulah istilahnya secara klise. Kuroro seorang penjahat yang paling dicari di dunia, Pemimpin Genei Ryodan yang terkenal kejam.

Kurapika dilahirkan di keluarga yang sempurna, di desa dan rumah yang juga sempurna. Dia dibesarkan dengan baik. Kuroro dilahirkan di daerah miskin dan kotor yang paling berbahaya di dunia, surga bagi para penjahat dan pengungsi dari seluruh dunia. Dia dibesarkan oleh Medusa untuk bertarung.

Hidup gadis itu pahit dan menyakitkan karena pembantaian sukunya. Pria itulah otak di balik pembantaian tersebut. Si Gadis bersumpah membalas dendam padanya. Si Pria sebagai target menerima tantangan itu.

Itulah awal terjalinnya kisah mereka bersama.

Kuroro dan Kurapika termasuk kelompok Nen Spesialisasi. Golongan darah mereka sama-sama AB. Keduanya memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Keduanya terampil dalam kemampuan khusus mereka. Keduanya cerdik dan ahli strategi. Keduanya punya sekelompok orang yang mereka percayai-Kuroro dengan Genei Ryodan, Kurapika dengan teman-temannya. Meskipun begitu...

Kuroro menekankan wajahnya ke puncak kepala pirang gadis itu. Dia mengambil napas perlahan, namun tidak menangkap sedikit pun aroma wangi khas Kurapika. Rasa dingin itu menutupi segala aroma yang dimilikinya. Kuroro mengernyit, dipeluknya Si Gadis lebih erat, mengabaikan kedekatan intim mereka yang membahayakan.

Keduanya sama-sama kesepian.


Hal pertama yang dia dapati saat inderanya baru saja pulih adalah kedinginan. Dia merasa pusing dan sangat beku. Rasanya seakan-akan dia sudah direndam di dalam air es, atau mungkin salah satu kolam di Kutub Utara. Giginya mulai bergemeretuk pelan akibat kedinginan, dan dia tanpa sadar menggigil. Masih dengan mata terpejam, dia berusaha bergerak mencari kehangatan, dan segera dia temukan.

Sesuatu yang kokoh menekan tubuhnya yang telanjang, memindahkan kehangatan. Dengan begitu inginnya Kurapika merengkuh sumber panas itu secara membabi buta, melingkarkan kedua lengannya ke sekeliling sesuatu yang hangat tersebut dengan begitu putus asa seolah hidupnya bergantung padanya. Kurapika tak tahu betapa kehangatan itu terasa nyata.

Sesuatu bergeser di sekitarnya dan suatu beban diletakkan di bagian atas tubuhnya. Kurapika merasa dirinya ditarik ke dalam sesuatu seperti pelukan, tapi dia sangat bersyukur akan hal itu. Tak mau repot membuka matanya, Kurapika menggeser kepalanya dan menemukan tempat yang lebih nyaman. Benaknya terasa lamban hingga gadis itu tak bisa berpikir jernih. Yang terpikir olehnya hanya ingin membuat dirinya hangat.

Kurapika membenamkan kepalanya ke tempat yang terasa bengkok itu. Dia mengambil napas pelan dan menangkap bebauan aroma maskulin yang dikenali benaknya sebagai sesuatu yang familier. Menghela napas berat, dia terlelap kembali ke dalam tidurnya yang nyenyak.

Dia merasa senang.


Ketika Kuroro merasakan Kurapika bergeser dalam pelukannya, dia hampir kegirangan. Jika gadis itu terbangun, artinya dia sudah melewati masa kritis. Dia akan terus hidup. Kenyataannya, hal yang paling menarik adalah Kurapika merapatkan dirinya lebih dekat pada Kuroro. Bahkan balik memeluknya, berusaha lebih mendapatkan kehangatan. Tubuh gadis itu bergerak sendiri berdasarkan naluri untuk tetap bertahan.

Kuroro membiarkan Kurapika melakukan apa yang diinginkannya, bahkan saat gadis itu membenamkan kepalanya di perpotongan leher pria tersebut dan menempatkan kepalanya di sana. Bibir tipis Kuroro membentuk seulas senyuman, dan untuk pertama kalinya setelah malam panjang yang melelahkan, dia bisa beristirahat baik mengistirahatkan badan maupun pikirannya. Kuroro membiarkan dirinya terlelap ke dalam tidurnya yang begitu ia butuhkan setelah mengetahui bahwa Si Gadis Kuruta akan tetap hidup.


Sebelumnya, hanya indera perasanya-lah yang sedikit pulih. Kali ini, ketika dirinya terbangun, kelima inderanya lebih waspada dan berfungsi sepenuhnya. Hal pertama yang ia perhatikan adalah kehangatan yang terasa familier, secara samar dirinya teringat begitu dia menginginkan kehangatan itu. Hal selanjutnya yang terasa familier adalah aroma maskulin.

Maskulin? Kurapika mengulangi di dalam hati, sedikit merasa kaget.

Telinganya menangkap suara napas pelan dan dalam milik seseorang-seorang pria-yang tengah tertidur sangat, sangat, teramat sangat dekat dengannya. Bahkan Kurapika tak berani membuka matanya.

Tidak, tidak, tidak... Dia memohon dalam hati.

Dengan penuh kehati-hatian, Kurapika menggunakan kedua lengannya untuk mengetahui siapa yang tidur di sampingnya. Jemarinya menelusuri kulit yang ternyata lembut, walau dia bisa merasakan otot-otot yang kekar dan kuat di balik kulit lembut itu. Mulai dari bagian atas pinggang, bergerak naik ke atas. Dia berhenti ketika jarinya meraba bagian punggung dengan kulit yang kasar di atasnya. Merasakan tekstur kulit itu, Kurapika tahu itu merupakan bekas luka yang lebar, dan sepertinya terletak di belakang perut pria ini.

Sebuah bekas luka di sekitar perut.

Sesuatu muncul di benaknya. Dia pernah melihat bekas luka seperti itu sebelumnya, diceritakan dan ditunjukkan bagaimana pria tersebut bisa mendapatkannya. Tanpa sadar Kurapika pun gemetar.

Dia tahu siapa pria itu.

Dengan sangat terlambat, dia menyadari bahwa tubuhnya ditempelkan dengan erat ke tubuh sang pria. Dia bisa merasakan kaki-nya terjalin dengannya, dia bisa merasakan kedua lengan-nya melingkar di bagian atas tubuhnya. Dia bisa merasakan dada-nya-dan gerakan naik-turun dada itu ketika dia bernapas-mengenai dada gadis itu. Yang paling membuatnya ngeri, Kurapika menyadari bahwa dirinya telanjang-hanya mengenakan baju dalam. Sepertinya, dia pun sama.

Bahkan tak mau repot membuka mata untuk membuktikan kecurigaannya-hampir tak perlu dibuktikan lagi-dia mendorong pria itu agar menjauh dan menjerit.

Atau setidaknya itulah maksudnya, karena akhirnya Kurapika hanya bisa memekik pelan, yang terdengar seperti suara mencicit yang sedih-bagai tikus yang ketakutan. Jeritan terkejutnya dan dorongannya yang kasar sontak membangunkan Kuroro dari tidurnya dan mata pria itu pun langsung terbuka. Sepasang mata hitam Kuroro yang dipenuhi rasa kaget bertemu pandang dengan mata biru yang sewarna dengan birunya samudera dan dipenuhi kepanikan. Melihat dirinya telanjang, Kurapika segera meraih selimut sebanyak ia bisa untuk menutupi kulit polosnya. Dengan benar-benar sadar dan ketakutan, dia meringkuk menutupi tubuhnya, membuatnya terlihat lebih rapuh dan mungil dari biasanya.

Awalnya Kuroro sangat kaget, tapi ketika menyadari bahwa energi Si Gadis Kuruta sudah cukup pulih hingga bisa mendorongnya dalam reaksinya yang berlebihan saat mendapati dirinya dalam keadaan lebih dari setengah telanjang di tempat tidur bersamanya, Kuroro pun rileks. Dia mengambil waktu sejenak mengamati gadis itu.

Tubuhnya begitu menggigil, namun mereka berdua tahu itu bukan karena rasa takut. Kurapika tak pernah takut pada Kuroro dalam keadaan apapun juga. Yang satu ini pun bukan merupakan suatu pengecualian. Kurapika terkejut, memang iya. Dia kaget dan panik, itu juga benar. Dia takut pada Kuroro, tidak. Entah kenapa, Kurapika percaya padanya. Aneh memang. Kurapika mulai menggosokkan tangannya ke bagian atas lengan agar tubuhnya merasa lebih hangat.

"Kurapika, kau kedinginan," Kuroro memberitahukan kenyataan yang memang sudah jelas terlihat sambil mengulurkan sebelah tangannya. "Kemarilah."

Suaranya pelan dan lembut, walau ada sekilas rasa lelah terdengar di sana. Kurapika menatapnya ragu, mencengkeram selimut dengan tangannya yang gemetar. Matanya mengatakan : apa yang terjadi hingga kita berakhir dalam situasi memalukan seperti ini?

Dengan letih Kuroro memberitahu gadis itu mengenai Jin Ifrit dan Cincin Solomon, menunda menceritakannya secara terperinci nanti. Mata Kurapika berkata lagi: apa ini memang benar-benar perlu?

"Aku tak mau mengambil resiko kehilangan dirimu hanya karena alasan harga diri yang konyol. Itu tidak masuk akal," katanya datar sambil mengibaskan tangannya dengan tidak sabar.

Kuroro begitu kelelahan, baik pikiran maupun tubuhnya hingga dia tak peduli untuk memikirkan kembali kata-katanya. Dia tak peduli dampak apa yang mungkin timbul karena perkataannya itu; dia hanya mementingkan tentang menyelamatkan seorang gadis agar tidak mati kedinginan. Kurapika memaksakan diri untuk bicara, tapi ucapannya terdengar parau dan berderak karena beberapa lama suaranya tidak digunakan dan tenggorokannya kering.

"Tapi-"

"Kurapika, jika aku ingin melakukan sesuatu padamu, aku sudah melakukan-nya beberapa jam yang lalu saat kau benar-benar tidak sadar," Kuroro berkata dengan suara yang terdengar kesal.

Si Gadis pun benar-benar tersipu, merasakan panas di pipinya yang dingin. Mulutnya terperangah dan dia menatap Kuroro dengan tatapan seolah tak percaya-karena pria itu nyatanya tidak melecehkan dirinya secara seksual-dan merasa malu-karena tahu bahwa Kuroro benar. Andai pria lain yang bersamanya saat ini, Kurapika mungkin sudah tamat sejak dulu. Kuroro menaikkan sebelah alis matanya melihat reaksi Kurapika yang canggung, tapi kemudian tersenyum sendiri.

"Kemarilah, Kurapika," ucap Kuroro dan mengulurkan tangannya lagi pada gadis itu.

Kali ini, Kurapika menurut ketika pria itu meraih lengannya dan menariknya lebih dekat. Lagipula, dia sangat memerlukan kehangatan. Tanpa perlawanan dia biarkan Kuroro menyelipkannya ke bawah dagu, tapi Kurapika pastikan lengannya terletak di antara dadanya dan dada pria itu. Kuroro tak mempermasalahkan hal ini dan hanya menyelimuti sosok yang lebih mungil darinya itu dengan pelukannya.

Kurapika menarik napas perlahan, dan dia bisa menghirup aroma khas Kuroro. Terdapat bebauan maskulin yang lembut di dalamnya dan meski Kurapika tak pernah sengaja mempelajari aroma khas lelaki sebelum ini, dia cukup yakin bahwa aroma maskulin Kuroro membawa semacam rasa aman-seakan-akan tempatnya memang di sana.

Jika Kurapika bandingkan aroma itu dengan aroma pria lain yang dikenalnya, ada perbedaan. Leorio memakai cologne sepanjang waktu, jadi Kurapika tak pernah tahu aroma Leorio yang sebenarnya-yah, walau bukan berarti dia ingin tahu. Killua dan Gon, mereka baru saja meninggalkan masa kanak-kanak dan memasuki usia remaja, jadi Kurapika cukup yakin setidaknya mereka berdua masih berbau seperti anak-anak. Ini pun bukan berarti Kurapika memperhatikannya secara khusus.

Membiarkan dirinya diselimuti aroma yang sudah terasa familier, Kurapika hanya bisa memasrahkan diri dalam pelukan Kuroro dan membuat dirinya rileks.

Tiba-tiba, orang yang kepadanya Kurapika tujukan kebencian untuk selamanya beberapa bulan yang lalu, menjadi seseorang yang seringkali menjadi tempat baginya untuk bersandar.

setidaknya kau bisa bersandar padaku. Lagipula, aku bukan temanmu, adalah kalimat yang pernah diucapkan Kuroro. Sungguh, itu benar sekali. Kuroro tak pernah menjadi temannya. Dia...lebih dari itu.


Shalnark melihat-lihat penginapan yang rapi itu, sepertinya dia tertarik. Danchou-nya memerintahkan pemuda itu secara khusus untuk pergi ke Penginapan Prancing Pony dan menunggunya di sana. Dengan penuh rasa ingin tahu, baru saja Shalnark mengambil tempat di salah satu meja, seorang gadis muda yang kira-kira seumur dengan Kurapika menghampirinya. Senyum lebar menghiasi wajah gadis itu. Rambut ekor kudanya bergoyang di belakang kepalanya, menirukan sikapnya yang periang.

"Apakah kau, mungkin saja, mencari Kuroro?"

Sebenarnya, Shalnark terperangah keheranan mendengar gadis itu menyebutkan nama Danchou-nya dengan begitu santai seolah dia adalah teman Kuroro-Laba-laba muda itu tidak diberitahu tentang perkenalan gadis tersebut yang relatif masih baru dengan Sang Pemimpin Geng Laba-laba. Shalnark hanya bisa mengangguk sembari membisu dan menatapnya dengan mulut terperangah saat gadis itu melompat-lompat menuju ke tangga. Dia semakin terperangah ketika melihatnya kembali bersama Kuroro.

"Siapa?" Hanya itu yang bisa ditanyakan Shalnark dalam kondisinya yang tertegun.

"Fino, putri pengurus penginapan ini. Dialah yang menyimpan semua Mata Merah untuk kami."

"Ah, begitu," seringai Shalnark yang tak tahu malu pun tampak, seolah jawaban singkat Kuroro sangat menjelaskan segalanya.

Dengan riang, pemuda berambut coklat pasir itu mengambil sehelai kertas yang dilipat dan membuka lipatannya, meratakannya di permukaan meja. Tanpa membuang waktu lagi sedetik pun, dia lanjutkan dengan memberitahu Kuroro tentang pergerakan pasar gelap yang berkaitan dengan Mata Merah. Tentu saja Kuroro sudah memberitahukan padanya bahwa belenggu itu sudah dihancurkan dan dia sudah mendapatkan kembali kebebasan pribadinya sepenuhnya. Shalnark mencatat hal ini, dan tidak terkejut mendengar Pemimpin Geng Laba-laba itu meneruskan pencarian terhadap Mata Merah.

Lagipula, Kuroro Lucifer dikenal sebagai pria yang memegang kata-katanya. Kenyataan bahwa hal itu berkaitan dengan seorang Gadis Pirang dari Suku Kuruta adalah dorongan tambahan bagi Kuroro untuk melakukannya-atau kutukan dalam kamus Nobunaga.

"Aku benar-benar yakin tak akan ada masalah mengenai Mata Merah, selama kau-" dia berhenti bicara selama sepersekian detik, sebelum melanjutkan, "...mengawasi mereka dan terus memberi informasi padaku."

Jika Kuroro punya sepasang telinga kucing atau anjing, pasti telinganya akan berdiri, dengan tajam memperhatikan ketika dirinya berhenti di tengah kalimat yang dia ucapkan. Shalnark menyadari sikap tubuh yang aneh itu-yang jarang terjadi.

"Danchou, apakah terjadi sesuatu?"

"Dia bangun."

Shalnark menatap wajah Kuroro lekat-lekat.

"Kurapika?" Perlahan dia bertanya.

Kuroro mengangguk. "Dia pingsan selama dua hari penuh. Sekarang dia bangun," katanya sambil mengangkat bahu seolah tak peduli-atau seharusnya begitu.

Shalnark bergeser di kursinya dan mencondongkan badannya ke depan, menempatkan kedua siku di atas meja dan memandangi Kuroro dengan tatapan penuh selidik. Kuroro menyadari sikap tubuh ini dan menatap pemuda yang berada di hadapannya dengan tatapan bingung. Ini jarang terjadi, targetnya sengaja melakukan sikap tubuh yang bertanya-tanya seperti itu.

"Danchou, apa yang akan kaulakukan setelah ini?" Pemuda berambut coklat pasir itu bertanya dengan pelan sambil meletakkan jari telunjuknya di sehelai kertas di atas meja-daftar lokasi Mata Merah.

"Meninggalkannya sendiri. Dan dia pun akan meninggalkan kita," selanjutnya jawaban Kuroro datang dengan cepat dan secara otomatis, seperti jawaban yang sudah terlatih.

"Akhirnya damai!" Mungkin merupakan tanggapan yang Kuroro kira akan didengarnya dari Shalnark, tapi pikiran itu tidak terlintas di benak si Pemuda.

"Apa kau yakin, Danchou?"

Kuroro mendongak dan menatapnya tajam. Shalnark sedikit menciut saat menerima tatapan itu.

"Maksudmu?"

"Sebenarnya, aku dan beberapa orang dari kami (terutama Machi, dia menambahkan dalam hati) sudah menyadari tentang..." Shalnark menggerak-gerakkan lidahnya saat mencari kata yang cocok, "Rasa sukamu terhadap Si Kuruta. Aku ragu akan mudah untukmu meninggalkannya sendiri begitu saja."

"Apa yang kurasakan tak ada hubungannya dengan tindakan terbaik apa yang harus dilakukan demi kepentingan semua pihak yang terlibat," ucapnya tegas dan dengan nada suara yang terdengar seperti menyudahi topik itu.

Sifat egois itu lagi… Shalnark berkata dalam hati, saat mengenali penolakan Kuroro untuk membahasnya lebih jauh.

Salah satu alasan kenapa pemuda itu memutuskan untuk bergabung dengan Genei Ryodan beberapa tahun yang lalu adalah karena dia tertarik pada keegoisan Kuroro Lucifer dan pengabdiannya pada Genei Ryodan juga Ryuusei-gai.

Ini pertama kalinya dia meminta bantuan salah seorang anak buahnya untuk urusan pribadi. Shalnark menghentikan rentetan pemikirannya. Dan lagi, dia hanya akan memperhitungkan hal ini demi kepentingan Ryodan-untuk memastikan bahwa Si Pengguna Rantai tak akan mengganggu kami lagi.

Diam-diam Shalnark mengamati Danchou-nya sebisa mungkin ketika Kuroro sedang serius memberitahu Fino bahwa Kurapika sudah bangun dan meminta putri pengurus penginapan tersebut untuk merawat Si Gadis Kuruta. Semua yang dilakukan pria itu untuknya terlihat tulus dan penuh perasaan.

Aku tak tahu lagi mana alasan yang benar. Masalah pribadi atau kepentingan Ryodan? Laba-laba muda itu berpikir.

Ketika dia menangkap secercah cahaya lembut yang sangat mungkin terlewatkan menerangi mata Kuroro yang gelap tak berdasar saat pria itu melihat Kurapika muncul di kaki anak tangga, Shalnark menemukan jawabannya.

Masalah pribadi, ternyata.


Si Gadis Kuruta segera menghampiri mereka ketika dia melihat keduanya berada dalam kerumunan di aula penginapan.

Tanpa bicara, Kurapika berdiri di samping Kuroro, sementara pria itu mendongak dan mengamati wajahnya. Mereka terus begitu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kurapika sudah tak pucat lagi, setidaknya ada kedalaman ekspresi di wajahnya, tidak lagi putih seperti kertas kosong. Kuroro bisa mengatakan dari cara gadis itu berjalan tadi bahwa otot-ototnya masih sedikit mengalami atrophia sebagai efek samping dari suhu dingin yang ekstrim. Dia tahu beberapa peregangan dan berjalan kaki akan diperlukan Kurapika.

Kuroro mengulurkan sebelah tangannya dan perlahan menangkupkan tangannya ke pipi gadis itu. Dia bisa merasakan kehangatan di dalamnya. Bukannya tersentak menjauh dari sentuhan Kuroro seperti yang biasanya Kurapika lakukan, Kurapika balik bersandar pada sentuhannya, menikmati rasa hangat dari tangan pria itu. Sebelumnya, sentuhan Kuroro terasa dingin dan tak bernyawa-tak memiliki hasrat di dalamnya. Kali ini, Kurapika tidak tahu apakah karena suhu tubuhnya yang sangat rendah atau sikap Kuroro terhadapnya yang lebih hangat, namun sentuhannya begitu hangat dan melindungi.

Semburat bayangan yang menampakkan kedamaian terlihat di mata Kurapika yang sebiru samudera, dan Shalnark; sebagai pengamat yang jeli seperti biasanya, tak melewatkan hal itu. Di dalam hati, Shalnark tersenyum penuh kemenangan. Andai Nobunaga melihatnya, dia pasti sudah jatuh terbaring di lantai dengan mulut berbusa.

"Apakah Fino ikut bersamamu?" Akhirnya Kuroro bertanya.

Seolah menjawab pertanyaannya, Fino berjalan melompat-lompat menuju Kurapika dan perlahan meraih lengan gadis itu-dia tahu Si Gadis Kuruta masih sangat lemah dan lesu. Dia diberitahu Kuroro tentang peristiwa itu setelah malam pertama Kurapika terbangun, dan dirinya begitu ketakutan, mungkin saja dia menangisi Kurapika habis-habisan jika Kuroro tidak memberitahukan padanya bahwa Kurapika sudah pulih.

"Aku akan bersamanya, jangan khawatir!" Kata Fino riang, gembira akan berjalan-jalan bersama Kurapika. Bukan rahasia lagi bahwa gadis desa itu sangat mengagumi Kurapika.

Setelah Kuroro mengangguk setuju dan mempersilakan mereka, kedua gadis itu berjalan ke pintu masuk penginapan dan menghilang ke balik pintu. Tatapan Shalnark masih tertuju ke pintu itu bahkan setelah waktu berlalu beberapa detik.

"Sepertinya dia gadis yang baik," kata Shalnark.

"Kau punya kesempatan. Dia masih lajang, sejauh yang aku tahu," Kuroro terkekeh geli pada pemuda berambut pirang pasir yang ada di hadapannya.

"Danchou!" Nada suaranya meneriakkan bantahan, namun tak pelak lagi rona kemerahan mewarnai kedua pipinya. "Aku sama sekali tak memikirkan apapun tentangnya."

"Tahap penyangkalan," Kuroro mengangguk penuh arti, seulas seringai nakal menghiasi wajahnya.

"A-Ah, ngomong-ngomong!" Shalnark sengaja berdehem sambil mencoba mengalihkan topik pembicaraan. "Kudengar dari yang lain Mammon sedang bergerak."

Semua tanda kejahilan pun lenyap dari wajah Kuroro ketika mendengar informasi dari Shalnark, walau dia tetap menjaga raut wajahnya tetap datar dan kosong. Dia memicingkan matanya meski hanya sekilas ketika mendengar nama Mammon. Dia tegakkan postur badannya dan aura di sekelilingnya tiba-tiba saja menjadi serius.

"Apa yang mereka rencanakan?"

"Kami masih belum mengetahuinya. Yang lain sedang melakukan penyelidikan."

"Terus beritahu aku tentang aktivitas mereka," ucap Kuroro tegas, bagai seorang Jendral yang bicara pada pasukannya.

"Mengerti."


"Apa kau pernah mendengar tentang Mammon?" Itu hal pertama yang Kuroro tanyakan pada Kurapika ketika gadis itu kembali ke kamar mereka bersama pada salah satu tamasya hariannya yang berarti latihan ringan bersama Fino.

Sudah beberapa hari berlalu sejak Kurapika sepenuhnya pulih dari mantra dingin itu dan sekarang dia sedang dalam proses mendapatkan staminanya kembali. Kesehatannya meningkat cepat, dan sekarang dia sudah HAMPIR sebaik dulu, hanya saja sekarang dirinya lebih mudah kedinginan.

"Tentu saja," dia mendengus. "Aku menghabiskan sebagian besar hari-hariku sebagai seorang Hunter sebelum kejadian Hassamunin sebagai blacklist hunter. Aku sudah pernah melihatnya dalam daftar penjahat yang paling dicari. Kenapa?"

"Mereka menyatakan diri sebagai saingan Genei Ryodan, dan akan melakukan apapun juga tak peduli urusan apapun yang kami tangani."

Kurapika mendengus angkuh dan mulai mengomel.

"Benar. Kesan pertama yang kudapatkan dari penjelasan tentang Mammon adalah mereka hanya sekumpulan Pengguna Nen yang suka melukai diri mereka sendiri, mencoba bunuh diri, psikopat, berotot kuat, seperti baru saja menunjukkan kekuatan yang mereka miliki tapi tidak benar-benar dikenali berdasarkan aktivitasnya. Hah! Aku cukup yakin bahwa lebih dari setengah Para Pengguna Nen, mafia, dan Perkumpulan Hunter belum pernah mendengar sekalipun tentang mereka—kecuali mereka yang berkecimpung dalam bisnis terlarang."

"Seberapa berbedanya mereka dengan kita, menurutmu?"

"Seberapa bedanya? Oh, yang benar saja!" Kurapika memutar kedua bola matanya seolah dia baru saja ditanyai pertanyaan paling bodoh yang pernah ada. "Apa aku benar-benar perlu menjabarkannya?"

Kuroro tersenyum geli dan duduk bersandar di kursinya. Dia menempatkan salah satu kakinya di atas kaki yang satunya lagi dan menautkan kedua tangannya, mengistirahatkannya di atas pangkuan. Bahasa tubuhnya menyatakan keinginan pria itu untuk mendengar ceramah Kurapika yang mungkin akan panjang.

"Ya."

Kurapika memicingkan matanya dengan sedikit merasa tak senang. "Jika aku menjawab pertanyaanmu, aku hanya akan melambungkan egomu yang sudah besar."

"Coba saja."

Dia tak akan membiarkan aku terlepas dari percakapan ini, akhirnya Kurapika memutuskan. Dia menghela napas dan duduk di tepi tempat tidur.

"Yah, pertama, cara yang mereka lakukan dalam aktivitasnya kasar dan sederhana; kekurangan cara untuk membedakan diri dengan para penjahat lain yang juga tak ada artinya. Sepertinya mereka tidak punya tujuan yang jelas dalam organisasi mereka-kecuali mungkin yang terbaik adalah Ryodan. Terlebih lagi, jelas terlihat bahwa mereka sedang berusaha membuat nama untuk diri mereka sendiri, karena selalu meninggalkan lambang 'M' berdarah di mana pun mereka beroperasi. Mereka tak punya ciri khas."

Di akhir penjelasannya, Kurapika mendecakkan lidahnya tajam, menunjukkan ketidaksukaan pada kelompok itu seolah menegaskan poin yang terakhir.

"Jadi kau mau bilang bahwa metode Ryodan canggih?" Suara Kuroro terdengar sangat senang.

"Aku tidak ingat tadi aku bilang begitu," Kurapika menanggapi dengan nada suara yang terdengar tersinggung. "Biar kujelaskan : sementara kalian lebih sistematis dalam setiap tindakan kalian, metode yang digunakan Mammon lebih serampangan dari apapun juga. Aku ragu mereka punya aturan protokoler yang layak di dalam kelompoknya."

Ciri khas Genei Ryodan adalah selalu menghilang tanpa jejak dalam misi apapun. Baik misi berdarah maupun yang berskala tinggi, atau sangat bersih dan cepat tanpa meninggalkan bukti apapun. Tak ada kelompok penjahat atau perseorangan yang bisa mencapai standar semacam itu, dan Kurapika lebih tahu dari siapapun juga bahwa semua itu mampu dilakukan oleh Kuroro Lucifer.

Dan dialah pria itu, yang sedang duduk dengan cara yang begitu sopan, jika tidak dikatakan bersikap sangat familier, bersama Kurapika. Ugh, mereka bahkan berbagi tempat tidur yang sama dalam arti yang sebenarnya-tak ada arti lain.

Tampaknya Para Dewa sedang bosan dan memutuskan untuk bermain-main dengan kami..., pikir Kurapika sinis.

Kuroro menatap Kurapika, jauh lebih lama daripada sebelumnya hingga Kurapika mulai bergerak-gerak tak nyaman. Dia tak pernah suka diamati dan diteliti, dan dari semua orang yang dikenalnya, seharusnya Kuroro-lah yang paling tahu. Pemimpin Geng Laba-laba itu mencondongkan badannya ke depan, memijakkan kedua kakinya ke lantai dan menempatkan kedua sikutnya di pangkuan, sementara tangannya masih saling bertaut.

"Kau tahu," dia mulai bicara, "Kau bisa mengatakan semua ini karena lamanya waktu yang kau habiskan bersamaku, karena kau pernah berada di antara kami dan melihat apa yang terjadi di dalam kelompok Genei Ryodan-karena kau mengetahui segala seluk-beluk tentang kami."

Kuroro berhenti sejenak untuk membiarkan kata-katanya masuk ke kepala Kurapika, mempersilakan gadis itu untuk mencernanya.

"Dirimu sebelum peristiwa Hassamunnin tersebut mungkin akan menggolongkan kami sebagai penjahat rendahan sama seperti mereka," dengan santai Kuroro mengakhiri ucapannya dengan suara yang begitu tenang.

Kurapika menatapnya dengan tatapan yang mengatakan aku-tidak-menyadarinya-sama-sekali-tapi-sekarang-saat-kau-mengatakannya-sepertinya-aku-mengerti. Kurapika mengalihkan pandangannya dari wajah pria itu ke jemari kakinya yang ia mainkan. Kedua alis matanya bertaut saat dia tenggelam dalam renungannya.

"Kurasa begitu...," Kurapika bergumam.

Kuroro pun beranjak dan menghampiri Kurapika. Dia berhenti ketika hanya berjarak satu langkah darinya. Gadis itu masih menunduk melihat ke jemari kakinya; tiba-tiba terlihat begitu menarik perhatian. Memberikan seulas senyum tipis yang menyiratkan kepuasan, Kuroro mengulurkan tangannya dan mengacak rambut pirang Kurapika dengan lembut.

"Jangan terlihat terlalu sedih begitu, Kurapika," ucap Kuroro parau. "Orang memang selalu cenderung menjadi subjektif daripada objektif ketika memberikan pendapat mereka, terutama mengenai masalah yang dampaknya berkaitan dengan kehidupan pribadi. Kau pun bukan merupakan suatu pengecualian."

"Kecuali kau?" Kurapika bertanya sambil berbisik pelan setelah terdiam beberapa lama.

"Tidak. Aku pun sama."

"Dalam masalah apa?"

"Kau."

Jawaban Kuroro datang begitu cepat dan langsung pada intinya hingga hampir membuat Kurapika terjatuh dari tempatnya duduk. Dengan segera dia mendongak, bermaksud menantang Kuroro untuk mengatakannya lagi di depan wajahnya, tapi dia malah mendapati dirinya menatap ke dalam sepasang mata obsidian yang hanya berkata jujur padanya. Kurapika tahu, Kuroro tidak berbohong. Tetap saja, pembenaran Kuroro-atau sebenarnya, pengakuan-bukanlah sesuatu yang mudah diterima.

"Bukan Ryodan? Bukan Ryuusei-gai?"

"Bukan."

"Bahkan bukan Ishtar?" Gadis itu berharap semoga dia bernasib baik, tidak mendapatkan tanggapan yang negatif dari Kuroro karena telah menyinggung tentang wanita itu.

Kuroro terdiam sesaat, sebelum menggelengkan kepalanya.

"Tidak," Karena dia sudah mati sekarang, ia menambahkan dalam hati.

Kurapika tidak tahu apakah dia harus merasa gembira atau khawatir mendengarnya.

"Kenapa?"

Gadis itu berusaha mencari-cari ke dalamnya mata Kuroro demi menemukan sebuah jawaban.

"Apa kau perlu alasan?"

Kurapika menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan Kuroro dan memejamkan matanya. Mungkin memang bermula dari sesuatu yang sungguh berdarah dan mengerikan, namun itu pun merupakan kebutuhan yang tak bisa mereka sangkal.


Tanpa sadar Kuroro menatap Cincin Solomon dan cincin yang satunya lagi di jemarinya, keduanya kenang-kenangan dari Ishtar, di ruangan tersendiri di kamar tidurnya ketika akhirnya Kuroro melirik ke arah pintu.

"Mau berapa lama kau berdiri di sana memandangiku seperti orang bodoh?"

"Kasar sekali!"

Dan pintu itu pun terbuka dengan keras, menampakkan seorang vampir bertubuh jangkung yang membawa dua buah boks. Raut wajahnya yang pucat seperti pura-pura kesal sambil berjalan masuk ke kamar dengan langkah pasti dan menjatuhkan kedua boks itu dengan cara seolah sedikit tak peduli. Kuroro memberinya tatapan yang menyiratkan bahwa dia tak setuju pada cara Lucian memperlakukan boks-boks tersebut.

"Kuharap Kurapika sedang pergi keluar, iya kan?"

"Dia tak akan kembali sampai dua jam lagi."

"Slavă Domnului! ('syukurlah' dalam Bahasa Rumania)" Lucian bersyukur lega sambil bersiul ragu.

Kuroro menaikkan sebuah alis matanya bingung.

"Aku tak mau melihatnya jadi histeris karena semua ini," dia menunjuk kedua boks tersebut dengan gerakan kepalanya.

"Maaf sudah membuatmu repot dengan membawakannya ke sini," Kuroro terkekeh dan beranjak. Dia membuka kotak itu dan memeriksa dua pasang Mata Merah yang tersimpan di sana, di mana salah satunya lengkap dengan kepalanya.

"Yah, memang sudah seharusnya kau minta maaf," Lucian mendengus sambil berbaring tengkurap di atas tempat tidur dengan malas.

Setelah memutuskan bahwa dirinya puas dengan kondisi Mata Merah itu, Kuroro berjalan menuju ke salah satu sudut kamar. Dia mulai mengurusi sesuatu yang tak bisa dilihat Lucian dari posisi di mana dia berada sekarang.

Sepenuhnya mengabaikan vampir itu, Kuroro melanjutkan pekerjaannya. Segera saja, pintu rahasia pun terbuka, memperlihatkan pintu di langit-langit yang menuju ke loteng rahasia. Lucian terperangah melihatnya.

"Wow. Dari luar, penginapan ini sungguh terlihat normal. Tak pernah terpikirkan ternyata memiliki peralatan aneh yang menakjubkan seperti ini."

"Fino punya terlalu banyak waktu senggang," Kuroro menanggapi sambil terkekeh pelan. "Dia tahu tempat-tempat rahasia yang lainnya lagi yang ada di seluruh kota."

Mereka berdua bekerja cepat, menempatkan tambahan Mata Merah ke kamar/loteng penyimpanan rahasia. Begitu mereka selesai dan sudah menutup kembali pintunya, suatu kekacauan bisa terdengar dari jalan. Sebelum mereka sempat memeriksa, pintu kamar Kuroro digedor dengan keras. Dalam sekejap, Kuroro pun membukanya.

Di hadapan pria itu adalah pengurus penginapan, wajahnya benar-benar pucat.

"Ada apa?" Suara Kuroro terdengar pasif dan tidak tertarik.

"F, f, Fino-"

Tak mampu menyelesaikan kalimatnya, pengurus penginapan itu bergegas pergi menuruni tangga secepat mungkin. Lucian dan Kuroro saling bertukar pandang dengan bingung, tapi meskipun demikian mereka melangkah turun untuk melihat ada apa dengan Fino hingga sampai mengusik pria tua itu. Jika tak terjadi apa-apa, mungkin Kurapika ada di sana tengah merawatnya. Lucian hampir selangkah berada di luar kamar ke koridor penginapan tersebut ketika lubang hidungnya mengempis dan matanya terbelalak.

"Darah," gumam Lucian, menarik perhatian Kuroro. "Banyak sekali."

Kuroro mengernyit. Fino terluka, Kurapika mungkin sudah menyembuhkannya dengan Holy Chain. Jadi kenapa...?

"Oh, Doamne...(' Oh Tuhan' dalam Bahasa Rumania) Ini bukan darah Fino," dia menatap Kuroro dengan sangat ketakutan. "Ini darah fata-mu ('gadis' dalam Bahasa Rumania)."


TBC


A/N :

Senangnya, fic ini rasanya semakin disukai... Walau kesibukan tengah menghadang diriku...T.T

Tapi inilah hidup... Hehe!

Wah aku lelah banget, maaf kali ini g bisa balas review chapter kemarin tapi aku sangat berterimakasih atas semua support yang diberikan xD

Sebenarnya translate sudah selesai semalam tapi aku perlu waktu yang tenang untuk edit semuanya dari awal. Yang aku suka dari chapter kali ini adalah waktu Kuroro berdoa demi keselamatan Kurapika.

.

Review please...^^


~KuroPika FOREVER~