DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

Lucian smelled a lot of Kurapika's blood, but the innkeeper seemed worried more about Fino. What had happened? Had the innkeeper left out something crucial?

GENRE :

Adventure & Romance

WARNING :

FemKura, torture scene, curses.


CHAPTER 27 : (NEVER) MY JUDAS


Yang mereka temukan di lantai bawah lebih buruk dari yang mereka duga. Kurapika tak terlihat di mana pun, dan di sana, terbaring Fino yang bersimbah darah dan tak sadarkan diri. Orang-orang berkerumun mengelilingi Fino, melihat dan menunjukkan rasa simpati mereka kepada penjaga penginapan. Bergegas Kuroro dan Lucian berjongkok di depan tubuh Fino dan memeriksanya.

"Scuzați mi intruziunea ('maaf aku mengganggu')...," Lucian bergumam sambil sekilas memeriksa Fino kalau-kalau ada luka luar.

"Fino, oh Fino...," pria tua itu terus menyebutkan namanya dengan keras berharap gadis itu mungkin akan mendengar suaranya dan terbangun. Namun demikian, tak terjadi keberuntungan seperti itu.

"Dia hanya mengalami luka kecil dan sedikit gegar otak di kepalanya. Selain itu, dia baik-baik saja. Ini semua darah Kurapika," Lucian mengumumkan hasil pemeriksaannya.

"Di mana Kurapika?" Kuroro menanyai penjaga penginapan.

"Ku–Kurapika? Oh Sayang...di mana dia? Aku tidak tahu..." pria tua yang malang itu terlihat begitu tidak fokus hingga tak bisa menjawab dengan benar.

"Di mana gadis yang satunya lagi?" Kuroro bertanya pada kerumunan orang yang berada di sana dengan tidak sabaran.

"Aku...Aku hanya menemukan Fino seorang," salah seorang pemuda menjawab; ada noda darah di celana dan kausnya yang sederhana–darah milik Kurapika, jika yang dikatakan Lucian memang benar.

"Tenang, Lucifer. Biar kucari tahu apa yang terjadi," Lucian meletakkan sebelah tangannya di salah satu bahu Kuroro dan mengambil sampel darah Fino dari luka gores yang ada padanya dengan menggunakan jari lalu menjilat darah itu.

Kuroro menatap lurus ke wajah vampir itu. Dia tahu kemampuan lain yang dimiliki Lucian. Lucian bisa menyadap ingatan seseorang yang darahnya dia rasakan. Semua ingatan yang tersimpan di otak bisa jadi memburuk seiring dengan berjalannya waktu, tapi tubuh seseorang tetap mempertahankan ingatan itu hampir selamanya. Walau kualitasnya tidak sedetail dan serumit seperti yang diingat oleh otak meskipun tetap akurat. Lagipula ingatan yang dimiliki seseorang bergantung pada perasaan dan panca inderanya pada saat itu.

Lucian memejamkan mata, berusaha berkonsentrasi melalui perpindahan berbagai ingatan dan imaji tak beraturan yang ia lihat melalui darah Fino. Setelah menyusun ingatan-ingatan yang dinilai relevan, Lucian pun menafsirkannya.

"Ingatannya sedikit kabur, tapi aku bisa menyimpulkan bahwa mereka diserang oleh suatu kelompok. Kurapika melindunginya, itulah kenapa darahnya bisa ada di tubuh Fino. Sepertinya dia dijadikan sandera untuk mengancam Kurapika, maka sikap Kurapika terhadap mereka pun melunak. Tunggu–"

Kedua alis matanya mengernyit lebih dalam.

"Kurasa mereka membius Kurapika. Lalu...memukul gadis ini tepat di kepala," dia menyelesaikan penjelasannya dengan suara pelan.

Ketika Lucian membuka matanya untuk melihat Kuroro, mata gelap pria itu tertuju pada titik tertentu. Penasaran, Lucian mengikuti arah tatapan Kuroro, dan menemukan luka sayatan bergerigi di punggung tangan Fino. Sayatan itu sengaja dibuat di sana dan menggambarkan bentuk yang aneh.

"Lambang huruf 'M' berdarah...," Kuroro bergumam dengan suara yang hampir tak terdengar.

Lucian tak tahu kenapa Kuroro terlihat kaget dengan masalah lambang huruf 'M' ini, tapi ketika dia menoleh untuk menanyakan hal ini padanya, vampir itu membatalkan maksudnya. Melihat tatapan membunuh yang dilepaskan Kuroro, dia tahu lebih baik tidak memaksanya dengan pertanyaan yang tidak penting. Kuroro tiba-tiba berdiri dan melesat keluar penginapan. Lucian hanya bisa menatapnya seperti kelinci yang tersambar petir.

"Tuan, apa kau seorang dokter?" Pria tua penjaga penginapan itu bertanya pada Lucian dengan malu-malu.

"Aku tak punya sertifikat resmi sebagai dokter medis, tapi memang aku tahu tentang pengobatan dan semacamnya."

"La-Lalu bisakah kau menolong Fino?"

"Seperti yang kubilang, bătrân (pria tua), Fino baik-baik saja," Lucian memutar kedua bola matanya yang berwarna abu-abu. "Tapi baiklah, aku akan merawatnya."

Karena dia seorang manusia, seperti diriku dulu, Lucian bergumam dalam dalam hati, meskipun menurutku Lucifer itu tak peduli sama sekali.


Kuroro berdiri di atap salah satu gedung tertinggi di sekitar daerah itu. Dia tak tahu pasti bagaimana cara melacak kelompok Mammon, tapi berdasarkan firasat, naluri atau apapun namanya, dia tak peduli. Perburuannya membuahkan hasil dan dia menemukan bahwa Mammon menempatkan persembunyian sementara mereka di tempat yang terbengkalai–mirip seperti yang selalu dilakukan Genei Ryodan.

Peniru, dia mendengus sinis dan menyiratkan kebencian yang tidak biasa.

Dia masih bisa merasakan Nen-nya di dalam tubuh Kurapika. Setidaknya, dia tahu bahwa Si Kuruta masih hidup.

Kuroro seorang diri sudah cukup untuk mendapatkan Kurapika kembali. Namun, hanya dia sendiri tidak cukup untuk menghancurkan Mammon seluruhnya. Tidak. Dia tak hanya ingin mendapatkan gadis itu kembali. Dia ingin menghapuskan Kelompok Mammon secara teliti dan melakukan pemusnahan hingga kelompok itu habis. Dia akan melihat semua itu dengan mata kepalanya sendiri.

Tanpa mengalihkan tatapannya; yang begitu intens hingga mungkin bisa membakar melubangi dinding kokoh gedung itu, dia mengeluarkan ponselnya dan memencet nomor yang ia hafal di luar kepala. Suara Shalnark terdengar dari seberang sana. Pesan Kuroro jelas dan sederhana.

"Kita punya misi."

Setelah memberitahukan posisinya secara singkat kepada Shalnark, Kuroro menutup teleponnya. Bahkan dia tidak memberitahu anggota Laba-laba yang lebih muda darinya itu tentang misi baru mereka. Para anak buahnya akan selalu menjalankan misi apapun yang dia berikan tanpa bertanya. Mereka tak pernah bertanya padanya. Sebagai modus operandi, mereka tahu apa yang Kuroro wajibkan–dilakukan tanpa adanya kekangan, kecuali pria itu memerintahkan sebaliknya. Itu merupakan protokol standar di antara mereka; seperti itulah Kurapika menyebutnya.

Kuroro tersenyum tipis. Dia suka perbendaharaan kata gadis itu.

"Kau tak perlu ikut denganku jika kau tak mau," kata Kuroro datar dan acuh tak acuh tanpa mengarahkan ucapannya itu pada seseorang secara khusus.

'Orang tertentu' itu lalu melangkah keluar dari bayangan dan menampakkan diri yang tak lain tak bukan adalah Lucian. Dia memandang Kuroro dengan tatapan menyelidik, mencatat bahwa pria yang lebih muda darinya itu sudah mengubah kembali penampilannya ke dalam penampilan ala Danchou-nya yang lama. Bahkan rambutnya disisir ke belakang, memperlihatkan tanda lahir di keningnya menjadi terlihat oleh siapapun.

Dia seperti sedang menyatakan perang dengan Mammon secara resmi, vampir itu bergumam dalam hati.

"Tidak, aku tak bisa membiarkan seorang pria pembunuh pergi berkeliaran mencoba bermain-main menjadi pahlawan sementara dia bisa saja menghancurkan semuanya hingga tak bersisa. Tidak, terima kasih. Mungkin aku memang seorang vampir, tapi aku suka kedamaian dan seorang pencinta damai."

"Kalau begitu usahamu tak ada artinya."

"La naiba (sialan)! Kau benar-benar berencana untuk menghancurkan seluruh tempat itu?"

"Belum tentu."

Lucian tahu yang tersirat di dalam jawaban yang singkat itu adalah Kuroro sedang dalam kondisi ingin membunuh. Bahkan kalaupun vampir tersebut berusaha, dia tak akan bisa menghentikan Sang Pemimpin Laba-laba. Ikut sertanya Lucian dalam misi penyelamatan ini menjadi sesuatu yang tak berarti.

"Kurapika tak akan menyukainya kalau dia tahu," Lucian berkata, berharap ia bisa melunakkan hati Kuroro.

"Bahkan dia tak akan mengenali apa yang tengah terjadi di sekitarnya saat itu," Kuroro berujar, secara mengejutkan suaranya terdengar kejam dan tidak menyenangkan. "Bahkan aku ragu dia akan bisa mengingat semuanya."

"Artinya?" Lucian benar-benar tak mengerti.

"Kelompok Mammon," Kuroro mulai menjelaskan dengan sedikit geram, "...beranggotakan orang-orang yang mendapatkan kesenangan mereka dengan membuat orang lain kesakitan."

"Terdengar seperti Feitan."

Kuroro mengangguk. "Bayangkan sebuah kelompok berisi selusin Feitan dalam tingkatan yang lebih buruk."

"Sfinte sisoe (holy shit)!" Lucian merinding.

Kuroro memicingkan matanya. Dia tahu mungkin Kurapika tengah mempertahankan diri dari serangkaian rasa sakit di saat yang sama sekarang ini–disiksa dengan cara yang melebihi segala kemungkinan yang bisa ia bayangkan. Kuroro tahu Kurapika akan tetap bertahan hidup. Harga diri gadis itu terlalu tinggi untuk membiarkan dirinya dibunuh oleh sekumpulan 'penjahat rendahan', dan mungkin dia pun tengah merencanakan bagaimana membalas mereka, mengingat Kuroro tahu betul kemampuan Kurapika menahan dendamnya.

Tetap saja, dia tidak menyukai kemungkinan itu.


Selama masa tinggalnya yang sebentar bersama satuan pengawal Keluarga Nostrad, setiap saat dia harus melalui sesi penyiksaan untuk mendapatkan informasi dari para tawanan. Dia telah menyadari bahwa suatu hari nanti mungkin posisinya tertukar dan bisa saja dia menjadi salah satu orang yang disiksa demi mendapatkan informasi. Namun, penyiksaan-penyiksaan sebelumnya yang pernah dilakukan di bawah pengawasan Kurapika–dia tak pernah melakukan hal itu dengan tangannya sendiri–terlihat tak ada artinya jika dibandingkan dengan yang dilakukan Mammon padanya.

Mereka sudah menyegel Nen-nya, mematahkan lengan kirinya, menusukkan jarum-jarum yang tidak steril di antara kuku jari tangan dan daging yang berada di bawahnya, mencabuti kuku di tangan yang satunya lagi, mencambukinya, menendangnya di bagian mana pun yang bisa diraih kaki mereka, memukulinya tanpa ampun, mencambuki dengan cambuk berhelai sembilan, dan seterusnya. Dari waktu ke waktu, indera perasanya mulai mati rasa dan rasa sakitnya pun mulai mengabur. Dia bersyukur rasa sakitnya tidak begitu menyiksa, tapi dia masih ingat dengan jelas betapa menyiksanya ketika mereka baru saja memulai sesi pertama.

Hal pertama yang dilakukannya adalah meronta dan berusaha melarikan diri, tapi sebelum sempat melakukan apapun, seorang pria yang tak terkira besarnya mendorong gadis itu hingga jatuh ke lantai berdebu; membuatnya menelan kotoran, sementara pria yang seorang lagi menghancurkan pergelangan kakinya. Lalu mereka memutuskan tendon Achilles di kedua pergelangan kakinya maka dia pun tak bisa lagi melarikan diri. Ketika mereka melakukan hal ini, dia menjerit sangat kencang, rasa sakit menghanguskan kedua kakinya dan menyerang bagian atas tubuhnya. Kedua kakinya mengejang keras, spam yang disebabkan oleh trauma di otot-otot dan saraf tubuhnya.

"Sekarang jadilah gadis yang baik dan beritahu kami tentang Genei Ryodan," salah seorang penyiksanya berkata dengan manis namun terdengar begitu memuakkan di telinga Kurapika.

Kurapika tidak menjawabnya–atau mungkin sedikit, karena gadis itu sudah tidak bisa menjawab akibat masih tidak fokus yang disebabkan oleh rasa sakit yang dialaminya.

"Bagaimana?" Pria itu seorang yang tidak sabaran dan dia mencengkeram rambut pirang Kurapika, menarik kepalanya ke belakang, hampir mematahkan lehernya.

"Bagaimana...aku...bisa tahu...?" Kalimat itu bermaksud dia ucapkan dengan cara membentak, tapi Kurapika kehilangan tenaga hingga suaranya terdengar terlalu lemah.

"Jangan pura-pura bodoh, kami sudah mengamatimu dan Kuroro Lucifer. Kalian berdua tak terpisahkan. Kami simpulkan kau adalah orang kepercayaannya atau apalah. Anggota Genei Ryodan, mungkin?" Seorang wanita yang membuat Kurapika teringat pada Machi pun angkat bicara.

"Aku BUKAN Laba-laba!" Kurapika mulai mendapatkan kekuatannya kembali dalam kalimatnya, rasa sakitnya mulai samar, walau masih begitu menyiksa.

"Hm? Lalu apa? Teman? Sungguh berbeda dengan apa yang kudengar," wanita itu menggelengkan kepalanya sambil bergumam sendiri. "Kuroro Lucifer tidak punya teman."

Kurapika tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum, meskipun kondisi yang ia alami sungguh bertolak belakang.

Kau belum menyelesaikan seluruh penyelidikanmu kalau begitu, pikirnya penuh kemenangan saat bayangan Lucian muncul di benaknya.

Wanita itu menatap Kurapika begitu lama, lebih lama dari sebelumnya ketika dia melihat seulas seringai singkat menghiasi wajahnya yang penuh darah, sebelum wanita tersebut berjalan ke arahnya mengamati wajah Si Gadis Kuruta dengan rasa ingin tahu yang besar.

"Kudengar dia pria yang aneh. Mungkinkah dia juga punya selera yang aneh dalam memilih wanita? Katakan, apa kau kekasihnya?"

Pertanyaan itu membuat Kurapika terdiam, sementara si wanita tersebut tetap mengamati sosoknya.

"Aneh. Wajahmu tidak buruk, tapi dadamu rata!" Katanya sambil mengukur dada Kurapika dengan kedua tangannya.

Kurapika menjerit kaget dan refleks memukulkan kepalanya ke hidung wanita itu. Dia tak bisa mengerahkan seluruh tenaganya karena posisinya yang terbatas, tapi yang baru saja ia lakukan cukup untuk membuat wanita yang tak tahu malu itu menyingkir.

"Aieee! Kau mematahkan hidungku!" Ratapnya.

"Berhenti mengeluh. Hidungmu tak akan patah hanya karena benturan kepala penuh kutu." Seorang pria bertudung, yang memutuskan untuk duduk di sudut ruangan yang kotor itu, angkat bicara dengan suara yang terdengar dingin dan otoriter.

Dari cara pria bertudung itu membawa diri dan bagaimana yang lain bersikap di dekatnya, Kurapika bisa dengan cepat menyimpulkan bahwa Si Pria Bertudung adalah pemimpin kelompok itu. Si Pria Bertudung menoleh pada Kurapika dan memberinya tatapan yang dingin. Gadis itu tidak tersentak–tatapan dingin sudah seperti sarapan saja baginya.

"Rupanya kau memiliki sikap yang cukup pemberontak, Gadis Kecil. Bagaimana jika kau bekerja sama dengan kami dan beritahu apapun yang kau tahu tentang Genei Ryodan, dan kami akan membiarkanmu pergi...tanpa cedera yang lebih jauh lagi dari ini."

Kurapika mendengus, di mana sikapnya ini menyiratkan suatu penghinaan.

"Bagaimanapun juga kau tetap akan membunuhku!" Bentaknya.

Si Pria Bertudung menyeringai.

"Gadis pintar."

Dengan sekali anggukan kepala, orang-orang itu memulai aktivitas yang sangat mereka senangi–menyiksa. Mereka hanya berhenti setelah Kurapika memperoleh beberapa tulang rusuk yang hancur, sebelah lengan yang patah, beberapa luka sayatan yang menjijikkan, dan memuntahkan dahak berdarah–pertanda terjadinya perdarahan di bagian dalam tubuh–sebelum mereka mencoba menginterogasinya lagi.

"Masih juga tidak bicara?" Si Pria Bertudung berkata dengan suara yang dingin.

Kurapika membungkam mulutnya.

"Hmm... Aneh." Si Pria Bertudung melipat kedua lengannya dan bersandar ke dinding yang dingin. "Kau bilang kau bukan anggota tapi kau bepergian bersama Pemimpin Genei Ryodan. Dan sekarang kau tak mau mengatakan sepatah kata pun tentang mereka? Kenapa?"

Kurapika menahan dorongan untuk memutar kedua bola matanya–dia tak mau memberi mereka hiburan dengan memberitahu dia bisa terjebak bersama Pemimpin Laba-laba adalah karena Hassamunnin. Namun, Si Gadis Kuruta benar-benar lega dengan sikap mereka yang dungu–kurang memperhatikan detail–mereka tidak menyadari bahwa dirinya memakai lensa kontak hitam. Jika mereka tahu bahwa gadis itu adalah seorang Kuruta, semuanya akan menjadi lebih buruk bahkan lebih dari hanya sekedar bernasib jelek.

Menyadari respon Kurapika yang kurang seperti sikap keras kepalanya yang harus 'dibetulkan', Si Pria Bertudung memerintahkan para anak buahnya melanjutkan penyiksaan terhadap Kurapika. Kali ini, gadis itu mendapatkan lebih banyak lagi rusuk dan tulang-tulang yang patah, sama seperti tempurung lututnya yang hancur, kedua lengan yang tulangnya bergeser dari tempat yang seharusnya, dan kuku jari yang rusak.

"Masih tidak mau bicara?" Si Pria Bertudung menyenggol kepala Kurapika dengan ujung sepatunya.

Kurapika memelototinya dengan penuh kebencian meskipun kondisinya yang sekarang sudah seperti orang terbuang. Sebelum mengalah pada kegelapan sesaat, dia mengucapkan tiga patah kata :

"A...ku...bukan...Judas..."


"...'Dan ia berkata pada mereka, "Apa yang akan kalian berikan padaku jika kuserahkan dia padamu?" Maka mereka menghitung tiga puluh uang perak, lalu menyerahkan uang itu padanya.'..."

Kurapika menoleh pada Kuroro, menatapnya dengan aneh dan bingung. Namun dia menyelesaikan ayat yang tadi diucapkan pria itu.

"Matius 26 :15. Sekarang ada apa dengan kutipan dari Injil itu?"

Kuroro mengangkat wajahnya dan menatap tepat ke dalam mata Kurapika yang sewarna dengan birunya samudera. Ketika dia tak mengatakan apapun, Kurapika berbalik menghadap Kuroro sepenuhnya dan meletakkan kedua lengannya di pinggang.

"Ayat yang tidak terkenal tentang pengkhianatan Judas Iscariot melawan Yesus Kristus. Ada apa dengan itu?"

"Pengkhianatan? Aku lebih cenderung mengatakan bahwa Judas hanya melakukan pertukaran yang adil. Lagipula, Injil itu sendiri menggambarkannya sebagai pria pebisnis, dan itulah kenapa dia menjadi bendahara di kelompok itu."

"Pertukaran yang adil?" Kurapika membelalakkan matanya. "Kau bilang menjual seseorang dengan harga tiga puluh uang perak itu pertukaran yang adil?"

"Saat itu, tiga puluh uang perak adalah jumlah yang cukup besar," Kuroro berkata dengan tenang.

"Dia menjual guru dan majikannya sendiri!"

"Dan akhirnya dia mendapatkan hukumannya, benar?" Kuroro menampakkan seulas senyum tipis di wajahnya yang tak menunjukkan emosi apapun. "Ada beberapa versi berbeda mengenai hal itu. Injil Matius mengatakan bahwa dia mengembalikan uang itu kepada pendeta dan gantung diri. Kitab Perjanjian Baru mengatakan bahwa dia membeli sebidang tanah dengan uang itu, tapi jatuh dengan kepala menimpa tanah lebih dulu, meledak hingga terbelah dua dan ususnya terburai keluar,' dan sejak itu tanah tersebut dinamakan Akeldama atau Tanah Berdarah. Injil Judas bersaksi bahwa dia dirajam sampai mati oleh rekannya sesama murid Yesus."

"Injil Judas adalah yang paling meragukan di antara semuanya," Kurapika memicingkan matanya.

"Bagaimanapun juga," Kuroro memejamkan matanya seolah menyiapkan diri untuk terjun ke dalam kondisi penuh pemikiran, "Mereka adalah sesuatu yang tidak relevan bagi kita."

"Jadi APA maksudmu?" Kurapika berkata, mulai frustrasi dengan cara bicara Kuroro yang membingungkan.

"Kita berdua bisa menjadi Judas, Kurapika," akhirnya Kuroro berkata.

Kurapika membeku, dan Kuroro menjelaskan maksudnya.

"Kita bisa menjadi Judas bagi satu sama lain. Aku bisa saja menangkap dan menjualmu sebagai keturunan terakhir Kuruta yang masih hidup kepada kolektor lain yang mau membayar mahal. Kau, di saat yang bersamaan, bisa saja menjual informasi tentang Ryodan ke Hunter lain untuk membantumu menyingkirkan kami."

"Tapi kita tidak melakukannya," kata Kurapika membela diri, tapi segera saja raut wajahnya berubah drastis menjadi lebih lembut, "Dan menurutku kita tak akan pernah begitu."

Terlepas dari perdamaian yang terjadi di antara kita, ia menambahkan dalam hati.

Seulas senyum senang diam-diam mengembang di bibir Kuroro saat mendengar ucapan Kurapika dan merasakan kalimat yang diucapkan gadis itu di dalam hatinya.

"Setuju."


Kuroro membuka matanya. Itu adalah percakapan terakhir mereka sebelum Kurapika diculik Kelompok Mammon. Betapa ironisnya, begitu cepat Kuroro dan Kurapika membuktikan bahwa mereka bukan Judas–atau lebih khususnya lagi, kali ini giliran Kurapika.

"Danchou, semuanya sudah di sini," Shalnark mengumumkan.

Lucian menatap Kuroro dengan cemas. Di balik sikapnya yang dingin seperti biasa, vampir itu bisa benar-benar melihat mata obsidian Sang Lucifer yang dingin mengobarkan aura membunuh dengan begitu tegas. Jika tiba waktunya aura itu lolos dalam tingkat kekuatan yang penuh, Lucian harap dia tak akan ikut dibumihanguskan tanpa sengaja–meski kemungkinan besar itu takkan terjadi.

Lucifer tak pernah terlihat begitu terguncang seperti ini, Lucianbergumam dalam hati dan mencuri pandang ke arah Laba-laba yang lain. Itukah alasan yang membuatnya memunggungi mereka, agar para anak buahnya tidak melihat kondisinya yang seperti ini?

"Lenyapkan mereka semua," hanya itu yang Kuroro katakan.

Para anggota Laba-laba pun saling lirik dan mereka menoleh pada Nobunaga, memberinya tatapan yang menyiratkan kau-tahu-misi-ini-untuk-menyelamatkan-Si-Kuruta-dalam-keadaan-hidup-meskipun-Danchou-tidak-mengatakannya-terus-terang-jadi-kau-jangan-bertindak-bodoh-dan-membunuh-gadis-itu-dalam-pelaksanaan-misi-ini. Nobunaga mendengus protes karena mereka semua sepertinya menganggap dia sebagai seseorang yang dungu. Meskipun apa yang terjadi sekarang bisa juga dibilang mengerikan, Danchou-nya mengumpulkan semua anggota Laba-laba untuk menyelamatkan Si Pengguna Rantai–orang yang sama yang telah membunuh Uvogin dan Pakunoda.

"Misi dimulai."

Dan semua anggota Laba-laba pun bubar tanpa meninggalkan jejak. Lucian melangkah mendekati Kuroro dan bersiul ketika melihat suatu tempat yang luas.

"Bagaimana kau akan menemukannya?"

"Aku bisa merasakannya." Terima kasih pada Nen yang ia tanamkan ke dalam diri Kurapika.

"Apakah dia masih hidup dan keadaannya baik-baik saja?"

Kuroro melemparkan tatapan yang seolah berkata 'kau-ini-bodoh-atau-apa'.

"Dia masih hidup." Tapi pastinya dia tidak baik-baik saja.


Mereka membuatnya menuju batas kewarasan yang dia miliki. Dia telah melalui begitu banyak kesulitan namun penyiksaan ini melebihi semua pengalamannya, merenggut segala sesuatu yang bisa membuatnya tetap hidup dan melakukan perlawanan. Dia tak akan pernah menyerah pada manusia rendahan seperti mereka. Ketika dia pingsan untuk pertama kalinya, mereka memberinya waktu istirahat yang sangat tidak cukup, yaitu sepuluh menit saja, sebelum menendangnya lagi agar ia sadar kembali. Sesi interogasi lainnya yang tak membuahkan hasil pun tiba, diikuti dengan sesi penyiksaan kejam selanjutnya.

Kemudian, suara napasnya menjadi lebih terdengar seperti desahan. Dia bisa merasakan kerongkongannya terisi penuh oleh darah–perdarahan paru-paru.

Untuk mengalihkan dirinya dari rasa sakit dan untuk mengabaikan semua hinaan, perlakuan kasar dan pertanyaan-pertanyaan mengganggu yang dilontarkan padanya, Kurapika memutuskan untuk memikirkan masalah lain. Hal pertama yang muncul di benaknya adalah, sungguh mengherankan, yaitu kata-kata terakhir Ishtar padanya :

Jaga dia?

Jika dia cukup sehat, pasti dia akan mendengus dengan sinisnya.

Sudah pasti Ishtar meminta hal yang BESAR padanya dengan permintaan itu. 'Jaga dia' memiliki banyak implikasi baginya. Dengan menyetujui permintaan itu, secara otomatis dia berjanji 'untuk tidak membunuhnya', 'untuk tidak membiarkan yang lain membunuhnya', dan bahkan 'selalu berada di sisinya'. Seolah Kurapika setuju untuk tinggal bersamanya, dan, jangan-jangan, menjadi pelindungnya juga? Tidak. Sebutan pengasuh atau istri sepertinya lebih cocok untuk itu.

Aku membuat kesalahan dalam masalah yang besar. Dia mengecam dirinya sendiri, walau anehnya gadis itu tak punya rasa penyesalan telah menyetujui permintaan yang diucapkan Ishtar ketika dia sedang sekarat.

Kurapika tidak tahu apakah itu karena dia sedang berhalusinasi sebagai efek samping dari rasa sakit yang dideritanya, atau karena sebelumnya dia dibius oleh sesuatu yang menjijikkan, atau karena dia setengah bermimpi dan hampir pingsan lagi, tapi dia merasa cukup yakin telah mendengar suara tawa canda kakaknya dan mengatakan :

Oh, benarkah?

Sebelum Kurapika bisa menghibur arwah kakaknya yang ia khayalkan lebih jauh, dia disiram air yang dinginnya seperti es. Rasa dingin yang begitu menggigit menyadarkan saraf dan indera gadis itu dengan cara yang kasar, dan dia hampir tersentak kaget.

"Bangun! Kau ada di sini bukan untuk tidur seharian!" Sebuah suara yang kasar sampai ke telinganya dengan semena-mena.

"Ini semakin lama dan membosankan," Si Wanita tak Tahu Malu yang meraba-raba Kurapika tadi merengut. "Bisakah kita lakukan dengan caraku saja?"

"Silakan," Si Pria Bertudung mengangguk menyatakan persetujuan dan ijinnya.

Si Wanita Tak Tahu Malu menjerit kegirangan dan melompat menghampiri Si Kuruta yang sekarat, sudah setengah dimutilasi itu.

"Rasanya tak akan terlalu menyakitkan, Nona," dia merayu Kurapika, menegakkan tubuh gadis itu dengan kasar seperti memperlakukan sebuah boneka mainan. Untuk seseorang yang terlihat kurus dan rapuh, Si Wanita Tak Tahu Malu memiliki otot-otot yang kuat.

Dia tunjukkan giginya, dan Kurapika memperhatikan bahwa beberapa saat kemudian taring wanita itu bertambah panjang dan tajam. Terlihat seperti taring vampir milik Lucian.

"Aku bisa menghisap informasi apapun dari siapapun juga, asalkan aku meminum darahnya. Cukup keren, 'kan? Seperti vampir," dia tertawa gembira sebelum menancapkan taringnya ke leher lembut Kurapika.

Kurapika hanya sempat terhenyak kaget, tapi karena tubuhnya sudah mati rasa terhadap pemukulan keji dan dilakukan secara berulang-ulang pada sesi sebelumnya, dia tidak merasakan kesakitan apapun yang mengagetkan. Rasanya lebih seperti digigit semut. Satu-satunya hal yang membuatnya ngeri adalah setelah semua upayanya untuk mengurangi rasa sakit demi memenuhi janjinya tentang 'aku bukan Judas', Mammon tetap akan mendapatkan akses ke dalam memorinya.

Dia hampir menangis dalam penyiksaan ketika jeritan kesakitan Si Wanita Tak Tahu Malu itu mengalihkannya dari rasa malu dan putus asa.

"Sekarang apa, Hei Perempuan?" kata salah seorang pria dengan jengkel. Sepertinya Si Wanita Tak Tahu Malu memiliki bakat melebih-lebihkan segala sesuatu, jadi mereka tak pernah menanggapinya secara serius.

"Da–Darahnya–" Si Wanita Tak Tahu Malu tersedak dan langsung muntah darah.

Kurapika, yang sama-sama terkejut dan bingung, hanya bisa berbaring di lantai yang dingin sambil menyaksikan wanita itu mengeluarkan darah Kurapika dari organ dalamnya. Dalam sekejap dia kejang dan tak lama kemudian mati.

Semua anggota Kelompok Mammon menatap jasad wanita itu tanpa bisa berkata-kata, lalu mengalihkan perhatian kepada Kurapika; yang saat itu masih tertegun. Si Pria Bertudung menyeringai senang dan keheranan. Otak Kurapika mulai berpikir dan langsung teringat pada suatu percakapan yang menggerakkan ingatannya.

...darah yang rasanya seperti racun bagiku...bercampur dengan sesuatu yang menjijikkan...darah Ishtar...kalian berdua bukan manusia murni...

Kesimpulan : Si Wanita Tak Tahu Malu keracunan intisari Ishtar yang mengalir di dalam darahnya.

"Rupanya wanita Kuroro Lucifer ini punya banyak trik lebih dari yang kita bayangkan," kata Si Pria Bertudung sambil terkekeh pelan.

"Aku bukan wanita miliknya...," desis Kurapika kesal saat dia pulih dari rasa terkejutnya. Luka gigitan di lehernya masih terbuka dan darah masih mengalir deras dari sana. Dia sudah kehilangan begitu banyak darah dari sesi-sesi penyiksaan sebelumnya dan ditambah dengan sekarang ini, dia akan segera mati karena kehabisan darah daripada karena alasan lain.

Seorang pria lain tertawa, "Aku mengerti! Karena dia bepergian dengan Kuroro Lucifer tapi menyatakan dirinya bukan milik pria itu, pasti dia adalah pelacurnya!"

Yang lainnya pun tertawa gembira, seolah hal itu merupakan lelucon yang sangat menghibur DAN mereka tidak terpengaruh kematian Si Wanita Tak Tahu Malu yang sial dan disebabkan oleh darah beracun Kurapika. Bagi Kurapika, itu sepenuhnya merupakan hinaan yang memalukan. Dia ingin balik melontarkan balasan yang kasar bahwa dia bukan wanita seperti itu dan Kuroro Lucifer sama sekali bukan pria yang penuh dengan hawa nafsu, tapi kerongkongannya yang rusak membuatnya tak bisa melakukan itu. Ya, Kuroro memperlakukan dirinya secara terhormat hingga gadis itu mulai menyadari bahwa tak ada seorang pun penjahat sekaliber dia yang akan memberi perlakuan seperti itu. Memang benar Kuroro dikenal pandai menyamar dan seorang penipu yang lihai, tapi Kurapika tahu–dia hanya tahu begitu saja–bahwa Kuroro selalu jujur padanya.

Hingga saat itu, dia tak pernah berbohong pada Kurapika.

"Kalau dia bisa membuat perhatian pria itu tetap tertuju padanya dalam waktu yang lama, artinya dia pasti pencinta yang benar-benar hebat. Mari kita buktikan sendiri." Salah seorang dari anggota Mammon yang paling gemuk, berbulu dan pastinya paling bejat dengan nafsu berahi yang berlebihan, melangkah maju dan mulai membuka kancing celananya.

"Jangan bunuh dia saat kau melakukannya," Si Pria Bertudung berkata, suaranya tak menampakkan emosi apapun.

"Ah tidak, perempuan itu tak akan mati karena dia hanya menidurinya. Kau sudah melihat seperti apa daya tahannya." Seorang wanita lain, yang diam sejak tadi hingga Kurapika gagal menyadari keberadaannya, mengatakan hal itu sambil mengangkat bahu.

Pria itu melemparkan celananya ke samping dan kejantanannya begitu mencolok hingga semua orang di ruangan itu bisa melihatnya tanpa harus bersusah-payah.

"Huh, aku heran di mana kau sembunyikan kekuatan dan daya tahanmu yang sangat besar itu dalam tubuh kecil ini?" Dia berjongkok mendekati Kurapika dan meraih dagu gadis itu kasar dalam tangannya yang gemuk dan berotot. "Aku ingin tahu akan seberapa 'kuat' kau di tempat tidur... Walaupun sayang sekali tidak ada tempat tidur di sini."

Sejujurnya, Kurapika ketakutan–sangat ketakutan hingga matanya berubah warna menjadi merah tapi untunglah tertutupi oleh lensa kontaknya. Dia ingin menyerah dalam derasnya air mata dan menangis meratapi kesialan ekstrem dan kematian yang tak pernah berhenti menghantui dirinya. Kenapa harus dia? Dia ingin menjatuhkan seluruh sosok gadis kuat yang menempel pada dirinya dan langsung menyerah saja pada rasa takut itu, tapi tak akan ia biarkan hal ini berlalu dengan cara demikian. Dia seorang Kuruta yang memiliki kebanggaan, dan akan tetap menjadi satu-satunya yang tersisa hingga kematian merenggut nyawanya. Kematian akan lebih bisa diterima daripada hidup dengan rasa malu yang tak terpulihkan.

Kurapika memelototi pria gemuk itu dengan penuh kebencian dan mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki, Kurapika bergumam dalam napasnya yang letih :

"Du-te la drăcu '..."

"Apa?" Penyiksanya memberikan tatapan bingung yang bodoh.

Salah seorang anggota wanita dalam Kelompok Mammon terkekeh senang.

"Jadi dia bisa bicara Bahasa Rumania, hah?"

Sebenarnya, Kurapika tidak bisa bicara Bahasa Rumania. Hanya karena Lucian kadang-kadang menggumamkan beberapa kata-kata kotor dan umpatan dalam Bahasa Rumania, dan Kuroro menerjemahkan semua itu berdasarkan permintaannya, hingga dia mulai mempelajari satu atau dua patah kata dalam Bahasa Rumania.

"Dan apa artinya?"

"Hmm... Sesuatu yang sama artinya dengan 'Pergilah ke neraka'," wanita itu mengangkat bahu.

Sebuah pukulan meninju pipi Kurapika, diberikan tanpa ampun dan dampaknya begitu kuat hingga lensa kontaknya terjatuh. Untunglah, dia begitu tidak fokus dan pikirannya begitu berkabut hingga saat itu kemarahannya terlupakan dan matanya kembali berubah menjadi warna biru seperti biasa.

"Kau sok pintar, hah?" Si Pria Gemuk berkata dengan geram padanya. "Mari kita lihat apakah kami bisa mengajarkan beberapa etika padamu."

Kalian semualah yang benar-benar butuh etika! Dia menjerit dalam benaknya, namun terlalu pusing untuk mengucapkannya walau hanya sepatah kata.

"Ini," seorang pria lain melemparkan suatu benda yang terlihat seperti sepotong besi pada pria gemuk itu. "Kubuat itu di saat senggang ketika kalian semua sedang bersenang-senang dengannya."

Si Pria Gemuk mengamati benda itu lekat-lekat, dan ketika dia akhirnya menyeringai puas dengan jahatnya, Kurapika tahu dia berada dalam ronde siksaan lainnya yang menyakitkan. Si Pria Gemuk berbalik ke salah seorang rekannya dan meminta api. Pria yang lain hanya mengangkat bahunya dan dengan mudah menyalakan api menggunakan kemampuan Nen-nya. Ketika besi itu membara, baru Kurapika menyadari benda itu sudah ditempa ke semacam perangkat yang digunakan untuk memberi cap. Matanya membelalak ngeri dengan jelas. Bukan kemungkinan diberi cap lah yang menerornya; tapi desain cap itu yang membuatnya sangat ketakutan.

Cap laba-laba berkaki dua belas yang dibentuk dengan kasar.

"Kami akan membantumu menjadi Laba-laba yang resmi," pria itu tertawa cekikikan dengan gembira sambil mengumumkan versi dirinya yang beralih untuk 'membantu' gadis itu.

Tak bisa menahannya lebih lama lagi, mata Kurapika merah membara, mengungkapkan identitas yang sebenarnya. Mata Si Pria Bertudung terbelalak.

"TAHAN!"


Jika pria itu seorang Kuruta, matanya pasti sudah menyala lebih dari itu. Selama hidupnya, dia tak pernah merasa semarah itu sebelumnya.

Besi putih-panas tersebut masih berdesis setelah dipakai, dan asap mengepul di dekat dada Kurapika yang telanjang. Tak perlu seorang jenius untuk menebak apa yang baru saja terjadi. Pria itu bisa mencium bau tajam daging yang baru terbakar. Si Pria Bertudung memegangi Kurapika dengan rambutnya, menarik sekepal rambut pirang lembut gadis itu sambil membiarkannya menggantung beberapa inci dari tanah. Celana jeans-nya compang-camping dan baju atasannya hanya berupa sehelai kain perca yang menggantung longgar dari tubuhnya, sedikit menutupi bagian tubuh atas gadis itu yang penuh luka memar dan bersimbah darah. Bagian belakang bajunya pun basah kuyup oleh darah, sementara bagian depan dirobek dengan sengaja.

Dia begitu hancur; teramat sangat hancur dan rusak hingga kata 'tak bisa diperbaiki' berkelebat di benak pria itu.

Tangannya mengepal begitu erat hingga ruas jarinya memutih. Lucian memperhatikannya meremang dalam kemarahan yang tak terbendung hingga dia mengambil beberapa langkah ke belakang, sebelum akhirnya berbalik ke Laba-laba lainnya.

"Berlindung!"

Diketahui bahwa bagi para anggota Laba-laba, Lucian seperti sekutu Danchou mereka di waktu senggangnya dan sedikit banyak telah menerima vampir itu sebagai 'teman Danchou'. Mereka juga tahu Lucian seorang pelawak, dan ketika dia memberitahu mereka untuk segera pergi dengan wajah seserius itu, mereka mematuhinya.

Tepat pada waktunya, begitu semua anggota Laba-laba sudah berlindung, kemarahan Kuroro Lucifer meledak dengan hebatnya.

Mereka tidak yakin apa yang sebenarnya baru saja terjadi. Mereka hanya tahu ada suatu ledakan keras, dan ada kobaran api, raungan makhluk liar dan asap muncul dari kobaran api yang lapar, ditambah dengan suara kerangka bangunan yang runtuh. Selain itu, di samping semua teriakan ketakutan dan kematian, mereka mendengar suara Danchou mereka yang keras laksana baja :

"Lemegeton : Ars Goetia."

Di balik potongan batu timah yang sangat besar dan digunakan sebagai tameng, Lucian dan beberapa anggota Laba-laba; yaitu Phinks, Machi, Shalnark, Feitan, dan Kalluto, menyempatkan diri untuk bercakap-cakap.

"Hampir saja! Si Bodoh itu benar-benar menggunakan Cincin Solomon!" Lucian lalu mengucapkan beberapa umpatan dalam Bahasa Rumania; yang diabaikan oleh yang lainnya.

"Ini kedua kalinya amarah Danchou lepas kendali," Machi mengingatkan diri dengan suaranya yang dingin.

"Waktu pertama kali Danchou (hanya) kesal, dia meratakan seluruh suku seperti serangga," Feitan berkata, hampir terdengar seperti merasa bangga atas apa yang dilakukan Danchou-nya saat itu.

Tanpa sadar Kalluto pun gemetar. "Bagaimana caranya?"

"Siapa yang tahu? Dia hanya memberitahu kami untuk menjauh sebelum melepaskan kekuatannya. Tak ada seorang pun dari kami yang berani untuk melanggar perintahnya ketika berkaitan tentang tindakan keselamatan. Dia yang paling tahu sejauh apa kekuatannya."

Kalluto merasa seolah darahnya membeku mendengar hal itu. Memikirkan bahwa orang-orang aneh dengan kekuatan yang sukar untuk dipercaya akan takut terhadap kekuatan yang dimiliki seorang pria, membuatnya ngeri. Kalluto melirik ragu melewati bahunya.

Dan dia selamat dari pertempurannya dengan Ayah dan Kakek. Benar-benar seorang monster, ucap Kalluto dalam hati.

"Tetap saja, aku tak bisa percaya dia bisa sebegitu marahnya hanya karena anak nakal itu," ucap Nobunaga dengan menghina.

Shalnark dan Machi menghela napas. Nobunaga masih sangat marah pada gadis pirang itu. Namun Lucian tidak tertarik dengan percakapan mereka maka dia mengintip pertempuran besar yang merusak itu. Dari kejauhan dan di antara asap berdebu yang menutupi seluruh tempat, dia bisa menangkap kerlip kedua anting bulat berwarna biru yang merupakan ciri khas dari Kuroro Lucifer. Lucian menghela napas lega.

Anansi, sepasang anting yang kau berikan padanya sebaiknya memiliki daya tahan yang sangat besar, kalau tidak hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi ketika Lucifer kehilangan penahan yang dibuat khusus untuknya itu, Lucian merengek dalam hati.


Sejauh apa kemarahan Kuroro bisa dilihat dari separah apa kerusakannya hingga kamp tertutup itu–tidak hanya ruang penyiksaan/interogasi–bertahan dari amarahnya.

Hampir semua anggota Mammon berubah menjadi sosok dan bentuk yang tidak bisa dikenali lagi, sementara bangunannya takluk pada kekuatan iblis yang dikeluarkan Cincin Solomon. Kuroro berdiri di antara lautan asap dan debu bersama beberapa iblis yang masih berdiri di sampingnya. Begitu kotoran dan debu kembali terhempas ke tanah, hanya tiga sosok yang masih berdiri–Kuroro, Si Pria Bertudung, dan Kurapika yang masih berada dalam cengkeraman Si Pria Bertudung.

Meskipun wajahnya disembunyikan di bawah bayangan tudungnya, Kuroro bisa merasakan kekaguman pria itu tertuju pada iblis-iblisnya. Si Pria Bertudung menjatuhkan beban di tangannya secara sembarang, dan Kurapika ambruk. Dia sudah memenuhi peranannya sebagai tameng bagi pria itu, jadi Si Pria Bertudung tak membutuhkannya lagi.

"Wah, wah...sungguh menakjubkan kekuatan yang kau punya itu," Si Pria Bertudung melangkah maju dan berani menghadap Kuroro dalam kondisinya yang penuh amarah namun sedikit membius. "Bayangkan tujuan yang begitu luar biasa yang bisa kau capai dengan kekuatan itu saja!"

Kuroro memicingkan matanya, melirik pria itu dengan berbahaya.

"Maksudmu?"

"Kau suka langsung bicara pada intinya, ya? Yah, bagiku itu tak masalah." Si Pria Bertudung mengangkat bahunya santai, seolah tidak terpengaruh oleh aura tertekan yang diberikan Kuroro. "Kau tahu, kau bisa dengan mudah mendominasi dunia dengan kekuatanmu. Pernahkah kau memikirkan hal itu?"

Kuroro hanya menatapnya dengan tidak tertarik.

"Kenapa kau tidak bergabung denganku dalam pencarian itu?"

Tanpa merasa ragu atau bimbang, Kuroro memberikan perintah rahasia pada salah satu iblisnya dan iblis itu melontarkan api yang kejam ke arah pria bertudung. Meskipun dia adalah orang yang banyak bicara dan bertubuh besar, sebenarnya pria bertudung itu lemah. Dalam sekejap saja, dia sudah berubah menjadi abu.

"Debu kembali ke debu, tanah kembali ke tanah," ucap Kuroro dingin sambil menyaksikan sisa-sisa Si Pria Bertudung tertiup angin berdebu dan menghilang tanpa jejak. "Kelompok Mammon, pelindung keserakahan. Keserakahanmu akan menjadi kejatuhanmu."

Lalu, suasana pun hening–hanya suara angin malam bertiup melintasi reruntuhan dan sisa-sisa tempat itu.

"Lucifer, kita perlu membawanya ke rumah sakit," Lucian lah yang pertama memecahkan kesunyian itu.

"Tidak," segera terdengar jawaban Kuroro yang terkesan bengis.

Lucian hanya sempat berkedip bingung ketika dalam gerakan secepat angin puyuh, Kuroro sudah mengamankan Kurapika dalam pelukannya.

"Machi," Kuroro tiba-tiba memanggil wanita itu.

"Ya," dengan cepat Machi langsung muncul di sampingnya.

"Ikuti aku. Yang lainnya, buru setiap anggota Mammon."

Lalu, tanpa buang waktu sedetik pun, Machi dan Kuroro pergi, meninggalkan Lucian dan anggota Laba-laba lainnya di tempat yang hampir tak berguna lagi itu.

"Yah...," Lucian menggaruk bagian belakang kepalanya dengan gugup. "Aku akan menyusul mereka. Semoga beruntung, Teman-teman!"

Lucian pun pergi seperti Kuroro dan Machi.

"Kenapa Danchou mau bersusah-payah menyelamatkan anak nakal itu?" Nobunaga bersungut-sungut.

"Kurasa ada hubungannya dengan kesepakatan mereka," Shalnark menyela sambil mengelilingi tempat itu, melakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa mayat-mayat anggota Kelompok Mammon yang terkapar di sana memang sudah mati.

"Kesepakatan?"

"Aku pernah bertanya pada Danchou bagaimana dia bisa membuat Si Kuruta benar-benar mau bekerja sama, dan dia memberitahuku bahwa mereka punya suatu kesepakatan. Meskipun dia tak mengungkapkan rinciannya padaku."

"Danchou hanya menjaga akhir dari persetujuan dalam kesepakatan itu. Dia orang yang menepati janji," kata Franklin dengan percaya diri dan sikap tenang yang menakutkan.

"Dengan membuat gadis itu tetap hidup?" Nobunaga terdengar jijik.

"Aku yakin itu bagian dari kesepakatan mereka."

"Apapun itu, kita punya tugas yang harus kita kerjakan di sini," kata Shizuku polos sambil mengeluarkan Deme-chan. "Kurasa aku harus membersihkan mereka?"

Sementara Shizuku bekerja menghisap sisa-sisa anggota Kelompok Mammon, Feitan menghampiri salah satu mayat yang hangus terbakar. Tangannya mengeluarkan sinar berwarna ungu ketika dia menyentuh salah satu mayat yang belum terkoyak oleh Kuroro yang murka dan haus darah. Lalu Feitan melanjutkan dengan diam-diam melakukan interogasi yang sebenarnya di luar kuasanya.


Ketika mereka sampai di sembarang hotel, Kuroro dan Machi menerobos masuk ke salah satu kamar kosong, meninggalkan Lucian mengurus pemesanan kamar dan tugas-tugas pembantu lainnya. ("Aku lagi! Aku bukan bell boy mereka, pentru numele lui Dumnezeu (Demi Tuhan)!" Setelah merobek baju Kurapika yang tak bisa dipakai lagi, Machi melakukan pertolongan pertama untuk menjahit tendon Achilles Kurapika yang terputus, menyatukannya kembali, juga menjahit luka sayatan yang lebar dan dalam di sekujur tubuh gadis itu. Ketika Machi membalikkan tubuh babak belur Kurapika untuk memeriksa punggungnya, kedua alis mata wanita itu sedikit berkedut saat melihat luka bacokan berbentuk huruf 'M' menggores punggungnya. Luka itu memenuhi punggung Kurapika, melebar dari bahu atas hingga ke pinggang atas.

Kurapika tak memberi reaksi apapun ketika Machi merawat lukanya. Tak yakin, Machi mencuri pandang ke arah Danchou-nya, dan mendapati pria itu menatap kosong entah ke mana. Wajahnya tak menunjukkan emosi apapun, dan keberadaannya begitu terpisah dari dunia ini. Sepertinya dia sedang mengarahkan seluruh sel otaknya untuk berpikir apa lagi yang harus dilakukan dalam situasi seperti ini. Machi menoleh mengamati Kurapika–dia terlihat seolah jiwanya berada pada batas akan terlepas dari raganya.

"Danchou, aku sudah melakukan semua yang kubisa," akhirnya dia berkata dengan suara pelan.

Kuroro tak memberikan tanggapan apapun.

"Berikan ini padanya," Lucian, yang lagi-lagi mendadak muncul entah dari mana, mengulurkan sebuah suntikan berisi cairan berwarna aneh kepada Machi.

Wanita itu menatapnya ragu.

"Itu obat penghilang rasa sakit," Lucian memutar kedua bola matanya.

Machi pun melakukan seperti apa yang diperintahkan, dan menyuntikkan obatnya ke peredaran darah Kurapika. Gadis itu masih tidak memberikan reaksi yang nyata.

"Machi, pergi dan jemput teman-teman Kurapika. Terutama dokter itu. Bawa mereka ke sini tentu saja, tapi jaga mereka tetap aman."

"Baiklah."

Wanita itu pun pergi.

"Lucian. Aku memerlukan pertolonganmu lagi." Dia masih belum mengalihkan tatapan kosongnya dari titik yang sama sedari tadi.

"Care este (apa itu)?"

"Kembali ke tempat tadi dan temukan cincin Kurapika. Mereka pasti sudah merampas cincin itu darinya. Sama persis seperti ini, tapi batunya berwarna biru." Ia lemparkan cincinnya pada Lucian.

Lucian ingin sekali menanyakan banyak hal kenapa Kuroro membuat keputusan seperti itu, tapi dia tahu sekarang bukan saat yang tepat. Akan ada kesempatan lain baginya untuk menginterogasi pria yang lebih muda darinya itu. Tanpa bicara, dia pergi dari kamar hotel itu, meninggalkan Kuroro bersama Si Kuruta yang lagi-lagi sedang sekarat.

Kamar itu pun hening, dan Kuroro masih berdiri di posisi yang sama sejak dia pertama datang. Dia meraba Cincin Solomon yang melingkar di jarinya, merasakan sentuhan dingin itu.

"Kenapa kau tidak melindunginya?" Dia berkata.

Asap yang ringan dan tipis pun muncul dan Ifrit menampakkan dirinya dengan gaya yang lebih licik daripada sebelumnya.

Komandoku adalah untuk tidak melukainya. Kau tak pernah memintaku untuk melindunginya.

Kuroro memicingkan matanya, tapi meskipun demikian dia mengakui bahwa caranya mengungkapkan maksudnya ketika menyatakan aturan-aturan itu sedikit kurang lengkap.

"Aku akan memberimu perintah yang baru." Akhirnya dia berbalik untuk melirik sosok Kurapika yang masih tak bergerak di tempat tidur. "Lindungi dia."

Selamanya?

"Ya, jika memang diperlukan."

Bagaimana denganmu?

Menyadari hal itu untuk pertama kalinya, Kuroro menyimpulkan bahwa salah satu alasan yang membuatnya begitu tak terkalahkan bukan hanya karena kekuatan dan upaya semata. Ada faktor-faktor eksternal yang berperan dalam hal itu–khususnya dari seorang wanita berambut hitam dan seorang pria berambut keemasan.

"Pada kenyataannya, aku punya perlindungan yang cukup..."


Ketika Lucian sampai ke tempat yang hancur itu–("Jadi akhirnya dia benar-benar meledakkan seluruh tempat ini menjadi hancur berkeping-keping," Lucian memutar kedua bola matanya), semua anggota Laba-laba sudah menghilang dan tak satupun mayat Mammon yang tertinggal. Hanya ada satu makhluk hidup di sana, dan sepertinya menunggu Lucian.

"Lihat semua kecelakaan ini!"Lucian mendengus. "Apa yang Ishtar pikirkan waktu itu? Memberikan darahnya dan Cincin Solomon pada Lucifer. Dia bermaksud menjadikannya manusia setengah dewa atau apa?"

"Kurasa tidak," Anansi menggelengkan kepalanya, dan rambut pirang pucatnya berayun perlahan. "Keduanya untuk perlindungan dan pertahanan diri baginya."

Vampir itu mengernyit dan memiringkan kepalanya.

"Kau tahu. Caramu bersikap di dekat Lucifer benar-benar berbeda ketika sedang bersama orang lain. De ce? (Kenapa ?) "

"Karena dia anak yang lucu," Anansi menirukan mimik imut yang membuat Lucian merasa mual.

Orangtua angkat...Itulah yang langsung terlintas di benak Lucian.

"Ngomong-ngomong, ini cincinnya. Aku bertaruh dia memintamu mencari ini," Anansi melemparkan cincin milik Kurapika padanya.

Lucian menangkap cincin itu dengan satu tangan dan memasukkannya ke dalam saku. Dia bahkan tidak mau repot untuk memeriksanya lagi. Dia memandangi Anansi dengan tatapan menyelidik, sebelum menghela napas berat.

"Untunglah anting darimu bekerja dengan sangat bagus."

Anansi memberikan seulas senyum tipis.

"Memang seharusnya begitu. Menjadi manusia dengan darah yang bercampur dengan darah seorang Dewi, walaupun dia adalah Dewi yang turun dari langit, tetap ada resiko yang mengerikan. Inti darah tersebut, merupakan racun yang mematikan meskipun kekuatan di dalamnya–kekuatan itulah yang membuat Kuroro bisa menguasai Cincin Solomon. Jika dia bukan manusia yang cukup kuat secara mental, fisik, emosional, dan psikologis, darah itu akan menghancurkannya. Secara fisik dan mental, Kuroro di atas manusia rata-rata. Tapi secara psikologis...," Anansi berbalik, terkesan ragu.

"Secara psikologis?" Lucian mendesak.

"Psikologisnya berkembang dengan terlambat dan perlahan–mandek. Mungkin dia jenius, tapi kurang memiliki kemampuan untuk membedakan yang benar dan yang salah. Keduanya dianggaptidakpenting baginya dan bagi proses berpikirnya."

"Kekurangan hati nurani?"

"Secara kasarnya begitu," Anansi mengangguk, mengakui kesimpulan Lucian sambil merengut. "Dan itulah sebabnya dia membutuhkan penahan–hanya Tuhan di atas sana dan Setan di neraka yang tahu apa yang akan dia lakukan ketika intisari Ishtar menguasai dirinya."


Ketika Leorio datang dan begitu melihat temannya yang babak belur, dengan suara lantang dia menyarankan supaya Kurapika dibawa ke rumah sakit tapi Kuroro bilang itu tak mungkin. Dalam catatannya, Kurapika Kuruta seharusnya mati dan dia dia harus tetap mati selamanya untuk keamanannya sendiri. Sementara Leorio memeriksa cedera yang diderita Kurapika secara menyeluruh, Killua mulai menginterogasi Sang Pemimpin Laba-laba.

"Baiklah, jadi aku tak akan menerima jawaban 'tidak' untuk hal ini : bagaimana ceritanya sampai dia bisa jadi seperti itu?" Killua berbalik dan memelototi pria yang lebih tua darinya itu. Gon pun memberinya tatapan penuh tanya yang memaksa.

Kuroro menghela napas dalam hati. Itu hak mereka untuk tahu apa yang sesungguhnya terjadi hingga Kurapika mengalami kondisi yang menyedihkan seperti itu. Lalu dia memberitahu mereka secara garis besar mengenai Kelompok Mammon, dan bahwa gadis itu sudah lebih baik sejak Machi sudah merawat luka-lukanya.

"Jika bukan karena Machi, Kurapika mungkin sudah mati atau setidaknya lumpuh selama sisa hidupnya," dia membicarakan tentang kedua tendon Achilles-nya yang terputus.

"Menurutmu dia akan baik-baik saja? Dia tak akan lumpuh?" Mata Gon sudah berkaca-kaca karena air mata.

"Aku percaya pada kemampuan Machi," Kuroro berkata, mengacuhkan hal itu. "Tapi sekarang semuanya tergantung pada kemampuan teman kalian sebagai seorang dokter."

"Dia masih mahasiswa yang perlu banyak latihan!" Protes Killua. Leorio berterimakasih pada Killua yang memberinya alasan, karena dia sendiri tidak begitu percaya diri dengan kemampuannya hingga saat ini.

Kuroro tidak menanggapi protes Killua. Malah, pria itu melipat kedua lengannya di depan dada dan mengambil tempat di sebuah kursi di sudut ruangan. Lalu dia memejamkan matanya dan menolak obrolan apapun dengan bocah-bocah itu. Killua dan Gon bertukar pandang risau.

Mereka hanya bisa menunggu.


"Bagaimana dengan Kurapika?" Lucian bertanya.

"Efek samping darah Ishtar yang ada padanya seharusnya tidak sama signifikannya dengan Kuroro, karena Kurapika menerimanya dari Kuroro. Meskipun begitu, suatu peringatan keamanan akan diperlukan karena secara emosional dia tidak sestabil itu," dia berhenti sejenak, dan menambahkan, "Belum."

Pasangan yang cocok. Mereka saling melengkapi satu sama lain, pikir Lucian sekilas.

"Efek samping, efek samping. Kau terus mengoceh tentang efek samping. Sebenarnya efek sampingnya itu apa?" Lucian mengetuk-ngetukkan kakinya sedikit sebagai tanda bahwa dia frustrasi.

"Bisa apa saja, baik menguntungkan maupun merugikan. Pemulihan luar biasa, kematian dan penyakit jiwa adalah yang paling sederhana," kata Anansi sambil mengangkat bahu, dan dia tak ingin lebih menjelaskan kemungkinan efek samping lainnya yang mengerikan.


"Tak mungkin!"

Seruan kasar Leorio menarik perhatian semua penghuni kamar itu. Dia masih merundukkan badannya di atas tubuh Kurapika, memeriksanya sekali lagi dengan suatu kernyitan dalam di keningnya. Dia lebih terlihat bingung daripada khawatir.

"Ada apa, Leorio?" Gon lah yang pertama bertanya.

"Aku..." Awalnya dia ragu, tapi akhirnya dia menoleh ke arah Kuroro. "Apakah dia mempelajari kemampuan baru selama bepergian?"

Kali ini giliran Kuroro yang mengernyit.

"Jelaskan."

"Yah... Lihat di sini." Leorio mengangkat lengan Kurapika yang patah dan yang membuat Kuroro takjub, lengan itu terlihat baru sepenuhnya.

"Ada apa dengan lengannya?" Killua bertanya.

"Killua, lengannya PATAH dan berbelok ke arah yang salah beberapa menit yang lalu kalau-kalau kau tidak memperhatikan (dan sepertinya memang sudah jelas seperti itu), dan sekarang pulih dengan sempurna!" Leorio memutar kedua bola matanya jengkel atas sikap cuek bocah itu. "Dia pun tadinya menderita perdarahan kerongkongan, lima tulang rusuk yang hancur dan sisanya patah, tulang lengan atas hancur, tempurung lutut patah dan retak, tulang belikat patah, perdarahan dalam, trauma di sekitar ulu hati, tengkorak retak, kukunya...uuh..." Leorio meringis saat mengingat bentuk kuku jari-jari Kurapika yang cacat–atau setidaknya begitu.

Binatang-binatang itu! Mereka benar-benar mencabuti kukunya! Sungguh, Leorio hampir muntah.

"Kedengarannya mengerikan..." Gon menampakkan wajah sedih puppy face - nya.

"Dan sekarang semuanya sembuh!" Leorio mengabaikan tanggapan Gon.

"Semuanya sembuh?" Tanya Killua menegaskan.

"Seratus persen! Jadi," Leorio kembali menoleh pada Kuroro, "Apa dia memang Kurapika yang kami kenal? Kami tahu dia punya beberapa kemampuan, tapi ini terlalu aneh dan..." Dia melirik Kurapika dengan gelisah, "Seperti bukan manusia."

Sesuatu di benak Kuroro sepertinya tepat ketika pria itu mendengar kalimat 'seperti bukan manusia'.

Darah Ishtar...

"Jadi apa masalahnya? Bukankah itu hal yang bagus?" Tanya Gon polos, wajahnya berseri-seri.

"Itu bagus, Gon, tapi terlalu aneh," Killua mendorong kepala bocah itu. "Bagaimana jika itu situasi seperti 'masa tenang sebelum badai tiba'?"

"Dia tidak bangun."

Suara Kuroro lebih terdengar seperti pertanyaan daripada pernyataan. Pria itu memandangi Kurapika penuh selidik, sementara tiga orang lainnya bertukar pandang khawatir.

"Yah..." Si Jangkung Leorio menggaruk bagian belakang kepalanya. "Itulah bagian yang tak kumengerti. Seharusnya dia sudah sadar sekarang. Mungkin sedikit pusing dan tidak fokus tapi...yah..."

Kuroro mengernyit. Ada sesuatu yang terlupakan.

"Lucifer."

Sebuah suara yang tidak familiar bagi ketiga teman Kurapika namun familiar bagi Kuroro terdengar dari tempat gelap di kamar itu. Gon, Killua dan Leorio menolehkan kepala mereka ke arah balkon kamar dan melihat seorang pria aneh di sana. Sedetik yang lalu tak ada siapapun di situ.

"Cukup lama juga," kata Kuroro pelan.

"Ini cincinnya," Lucian melemparkan kedua cincin tersebut dengan cueknya ke arah Kuroro; yang ditangkap oleh pria itu dengan hanya satu tangan dan tanpa perlu melihatnya.

Lucian melihat sosok Kurapika yang masih tertidur.

"Bagaimana draga ('kekasih')?"

"Dia tidak bangun," Kuroro menjawab dengan suara yang terdengar suram.

Kedua bahu Lucian sedikit terkulai, dan bergumam, "Cum era de așteptat ('seperti yang diperkirakan')."

Kuroro menaikkan sebelah alis matanya tapi sebelum dia bisa menanyakan apapun, Lucian sudah berjalan ke arah tempat tidur Kurapika. Gon, Killua dan Leorio bergeser membuat barikade di antara vampir itu dan Si Gadis Kuruta. Lucian berkedip sekali.

"Mereka adalah teman-teman dekatnya." Kuroro pun menoleh pada mereka bertiga. "Dia kenalan Kurapika."

Ketiganya mengamati Lucian dengan waspada dan penuh curiga, dan mereka masih menolak untuk bergeming dari tempatnya. Lucian menghela napas tak peduli.

"Putra Zaoldyck, Si Calon Dokter, dan putranya Ging?" Lucian menoleh, bertanya pada Kuroro; yang dijawab pria itu dengan mengangguk dan tanpa bicara.

Wajah Gon langsung cerah.

"Kau kenal ayahku?"

"Seperti itulah, tapi mari kita bicarakan hal itu nanti," Lucian memberi isyarat tanda berhenti dengan tangannya sebelum Gon membanjirinya berbagai pertanyaan mengenai Hunter yang sulit dimengerti itu. Dia menatap Kuroro dengan pandangan yang sama datarnya.

"Hei, karena mereka begitu tidak mempercayai aku, kenapa tidak kau saja yang memasangkan cincin itu padanya?"

Kuroro menaikkan sebelah alis matanya.

"Apa akan ada bedanya?"

"Siapa tahu?" Vampir itu menyeringai ragu, berusaha terlihat tak tahu apa-apa namun yang dilakukannya itu merupakan usaha yang tidak pandai.

Kuroro menunduk melihat kedua cincin yang menyala merah di tangannya, lalu mengangkat wajahnya lagi menatap Lucian. Dia memicingkan matanya pada vampir itu.

"Kau harus menjelaskannya nanti."

Lucian terhenyak dan ujung mulutnya berkedut tanpa sadar karena gugup. Kuroro pun menyematkan cincin dari Ishtar ke jari kurus Kurapika. Lucian menyilangkan jemarinya di balik punggung. Ketiga orang yang lainnya lagi, masih tak tahu apapun, terus menahan napas untuk berjaga-jaga.

Setelah satu menit berlalu, Kurapika membuka matanya.


TBC


A/N :

Oke, telat seminggu deh. Hambatan yang ada bertambah...lappy error, dan Mama sudah waktunya untuk banyak istirahat. Sebelum dan sepulang kerja aku kerjain kerjaan di rumah, akhirnya sekitar jam 7 malam udah capek banget trus langsung tidur sampai pagi. Aku juga kangen sama teman-teman sesama fans KuroPika yang sering ngobrol di dunia maya :'(

Ah ya, kalau ada yang fans KuroPika yang suka juga Shounen ai atau yaoi KuroPika, bisa like fans page di Facebook. Search aja Bonbonpich di situ.

Ini balasan review chapter kemarin :

Nekomata Angel of Darkness :

Kurapika ya begono :O

Elly Fair :

Wah makasih, salam kenal xD

Sends :

Yah yang lama itu chapter sekarang, sampai aku pun kesal sendiri =='a

bunnygirl :

Wah bunny sampai dua kali review... Maaf ya, belakangan ini aku hampir ga punya waktu luang. Update langsung dua chapter sebagai permohonan maaf pun ga mungkin, setidaknya aku upayakan ga telat lagi. Ikuti terus ya ceritanya ;)

Mikyo :

Iya ini chapter yang agak mengerikan tapi Kuroro keren banget di sini XD

Terima kasih banyak untuk support-nya

Kujo Kasuza Phantomhive :

Haha nanti juga masih ada yang bikin blushing kok x3

Ya, memang awalnya agak menyebalkan kurang punya waktu untuk diri sendiri tapi mungkin ini pengorbanan yang bisa aku lakukan :)

Natsu Hiru Chan :

Gomen telat update Dx

.

Review please... ^^


~KuroPika FOREVER~