DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

All seemed well as Kurapika finally woke up. However, what kind of explanation would Lucian offer regarding the rings? What about 'the restrainers'?

GENRE :

Adventure & Romance

WARNING :

FemKura.


CHAPTER 28 : INTERMEZZO


Sesuai dugaan Leorio, Kurapika Kuruta SEPENUHNYA mengalami disorientasi begitu dia siuman.

"Kurapika, kau sadar!"

"Kurapika! Bagaimana perasaanmu?"

"Kurapika!"

Gadis yang namanya dipanggil beberapa kali oleh tiga orang berbeda itu hanya bisa berkedip bingung dan heran.

"Apa–kenapa–bagaimana–?" Dia gemetar, tak bisa memahami semuanya sekaligus.

Saat ketiga orang itu berusaha menyuapinya dengan segala informasi yang mereka tahu mengenai kondisinya, Kuroro menatap tajam pada teman vampirnya.

"O mare parte din explicație, Lucian ('penjelasan yang banyak, Lucian')," Kuroro berkata dengan suara yang tajam.

Lucian menaikkan sebelah alis matanya bingung. Sangat jarang Kuroro berbicara dalam bahasa Rumania (yang telah ia ajarkan dalam waktu luang mereka). Jika dia melakukannya, artinya dia ingin bicara empat mata dengan vampir itu.

"Chiar acum ('sekarang juga'). Afara ('di luar')," Kuroro menambahkan.

"Ei bine... ('Yah...') Nu ma deranjează, dar... ('Aku tidak keberatan, tapi...')" Lucian sekilas melirik Kurapika yang masih dengan disorientasinya. "Ce zici de Kurapika? ('Bagaimana dengan Kurapika?')"

"Prietenii ei vor ține ocupat ei ('Teman-temannya akan membuatnya sibuk')," Kuroro segera menanggapi dan mulai melangkah menuju ke pintu.

"Dar ea are dreptul să știe asta! ('Tapi dia juga berhak mengetahui hal ini!')" Protes vampir itu, tapi meskipun demikian dia mengikuti Kuroro ke luar kamar.

"Voi spune-i ce are nevoie să știe ('Aku akan memberitahukan padanya apa yang perlu dia ketahui')," jawab Kuroro singkat.

Tanpa bersuara dan diketahui siapapun, kedua pria itu menyelinap keluar dari kamar. Sesampainya di luar, mereka berjalan beberapa meter lagi jauhnya dari kamar tersebut agar percakapan mereka tidak terdengar oleh orang-orang yang berada di kamar itu. Ketika Kuroro menganggap jaraknya sudah cukup, dia berbalik dan mengkronfontasi Lucian.

"Jadi?"

"Kau mau aku menjelaskan apa?" Lucian mengangkat kedua bahu dan tangannya, menunjukkan bahwa dia tak tahu apa-apa.

"Cincin itu."

"Ah...Ya, begini..." Lucian menggaruk bagian belakang kepalanya. "Dari mana ya aku memulainya? Oke, pertama, darah Ishtar. Apa kau tahu ada efek sampingnya?"

"Aku sudah menduga pasti ada efek sampingnya." Kuroro menyilangkan kedua lengannya. "Apa saja?"

"Tanyakan pada Anansi kalau kau ingin tahu secara terperinci," kata vampir itu cuek.

Kuroro mengernyit mendengarnya, dan mengingatkan diri untuk 'mengunjungi ayah angkatnya'.

"Tapi sejauh ini aku hanya tahu bahwa pemulihan yang luar biasa adalah salah satu efek sampingnya–seperti yang terjadi pada față–sama halnya dengan kematian dan penyakit jiwa."

Lucian mengambil jeda sebentar dan mengamati perubahan ekspresi wajah Kuroro. Dia tahu pria yang lebih muda darinya itu sudah merasakan sesuatu dari informasi tersebut. Lucian pun tak mau repot menjelaskan lebih jauh secara mendetail tentang 'kenapa' dan 'bagaimana', karena sepertinya Kuroro pun tidak meminta penjelasan atas hal itu–dia bisa mencaritahu sendiri. Kuroro memicingkan matanya walaupun hampir tak terlihat.

"Teruskan."

"Ei bine... Jadi pada dasarnya kalian membutuhkan semacam penahan untuk mengendalikan darah Ishtar yang ada di dalam tubuh kalian berdua."

"Karena kau kurang sehat secara psikologis dan dia tidak stabil secara emosional," adalah yang Lucian ingin katakan, tapi sengaja ia abaikan karena tahu hal itu tak akan mendatangkan hal positif jika diberitahukan kepada Sang Pemimpin Laba-laba.

Kedua alis mata Kuroro mengernyit.

"Cincin itu?"

"Kedua cincin itu," Lucian mengoreksi, "adalah penahan untuk kalian. Aku bertemu Anansi di reruntuhan kamp yang benar-benar kau hancurkan hingga berkeping-keping," dia menekankan bagian akhir kalimatnya dengan sedikit rasa tidak suka. "Dan dia memodifikasi kedua cincin tersebut menjadi penahan."

Lebih baik kau jangan beritahu dia tentang sepasang antingnya yang menjadi penahan, kalau tidak aku akan menghantui setiap siang dan malammu dengan mimpi buruk tentang laba-laba, MENGERTI? Anansi sudah mengancam Lucian, jadi vampir itu tak punya pilihan lain selain mematuhi jelmaan laba-laba tersebut–jangan sampai dia ditimpa kemalangan dengan kehidupan penuh laba-laba selama sisa keabadiannya. Dia tak mau itu, tidak sama sekali.

"Jadi sebaiknya kalian berdua tidak melepaskan kedua cincin itu, jika kalian ingin hidup normal–" Lucian berhenti sejenak dan mengoreksi perkataannya sendiri, "hidup yang relatif normal."

"Setelah semua ini," Kuroro mengangkat sebelah tangannya di mana Cincin Solomon dan cincin penahan itu terpasang, dan memberikan seulas senyum suram yang hampir terlihat sinis, "...hidup takkan pernah normal lagi."

"Um...Kuroro?" Terdengar suara pelan Gon dari kejauhan, di pertengahan jarak antara pintu dan dua orang lelaki dewasa itu.

Gon memandang Kuroro dengan tatapan mata yang mantap, tidak nampak rasa takut ataupun benci seperti biasanya, tapi menatap vampir itu curiga–yang tidak dianggap sebagai hal yang penting bagi Lucian. Kuroro menoleh dan memberi tatapan yang mengisyaratkan agar Gon melanjutkan ucapannya, apapun itu. Gon langsung paham.

"Mm... Kurapika pingsan lagi."

Lucian langsung terpaku, tapi raut wajah Kuroro tetap tenang dan tidak terpengaruh apapun. Dia menatap bocah itu mantap.

"Maksudmu, dia jatuh tertidur?" Kuroro bertanya sambil tersenyum tipis. Dia merasa geli kenapa bocah itu mau repot-repot memberitahukan padanya tentang kondisi Kurapika. Dia dihargai sama seperti bagaimana Gon menghargai Kurapika.

Killua pun datang secepat kilat dan memukul Gon dengan keras, tepat di kepalanya. Akibatnya Gon sedikit terjungkal.

"Gon, kau bodoh! Dia hanya tertidur!"

Lucian hanya bisa menatap takjub pada Sang Pemimpin Laba-laba. Bagaimana dia bisa begitu selaras dengan Si Gadis Kuruta, sungguh di luar perkiraannya.


"TAHAN!"

Semua yang ada di kamar itu pun membeku di tempatnya masing-masing. Semua mata tertuju pada Si Pria Bertudung, merasa sangat kebingungan. Si Pria Bertudung tak pernah meninggikan suaranya untuk memberikan perintah; biasanya dia melakukan itu dengan sikap tenang dan sepenuhnya terkendali.

"Jadi kau seorang Kuruta, hah? Sungguh ini sangat ajaib! Membayangkan keturunan terakhir Suku Kuruta bisa bepergian dengan orang yang telah membunuh sukunya!"

"Aku melalui semuanya selama ini bersama dengan kenyataan itu!"

"Oh benarkah? Aku bisa melihat kenapa Kuroro Lucifer begitu menjagamu seperti layaknya menjaga barang berharga hingga dia mau repot-repot mempertahankanmu untuk tetap bersamanya! Bolehkah kami menghinanya sedikit?"

Setelah berkata demikian, dia membalikkan Kurapika dengan kasar hingga punggung gadis itu menghadap ke arahnya. Dalam sekejap, dia membuat lambang 'M' berdarah di punggung Kurapika dengan pisau belati yang dia sembunyikan di balik tudungnya. Kurapika hanya bisa terhenyak kaget saat kulitnya merasakan tusukan pisau tajam itu.

"Sebuah kenang-kenangan untukmu dan dirinya, mengingatkan tentang kebersamaan kita yang menyenangkan," Si Pria Bertudung berbisik dekat di telinga gadis itu.

Lalu dia menarik segenggam rambut pirangnya dan menariknya dari tanah.

"Cap dia."


Sebuah jeritan yang begitu memilukan memenuhi kamar dan bergemuruh di sepanjang lantai hotel itu ketika tengah malam tiba. Killua dan Gon; yang tidur di kamar yang sama dengan Kurapika, langsung berdiri kaget. Sementara itu, Leorio terjungkal begitu saja dari sofa yang dia tiduri ke lantai berkarpet dengan suara benturan pelan. Ketika Leorio baru saja bisa mengangkat badannya dari lantai, mengusap keningnya yang sakit sambil terkantuk-kantuk, Gon dan Killua sudah ada di tepi tempat tidur Kurapika.

"Kurapika, ada apa?"

Pertanyaan itu diulang beberapa kali, tapi sama sekali tak menenangkan Si Kuruta yang gemetar. Gadis itu sibuk melihat ke balik bajunya, dengan penuh ketakutan berusaha menemukan cap kasar laba-laba berkaki dua belas di dadanya–yang kini sudah lenyap karena kemampuan penyembuh yang ia miliki. Sementara saat ketiga orang itu berusaha menenangkan Kurapika, Kuroro–yang mau tak mau ikut mendengar jeritan yang membuat bulu kuduk berdiri dari kamar sebelah yang disewanya bersama Lucian "Sfinte Sisoe ('Holy shit')!" Dia mengumpat sambil terjungkal dari tempat tidur dengan cara yang sama seperti Leorio–berdiri di ambang pintu dan menyaksikan seluruh keributan itu tanpa bicara. Dia masih mengenakan pakaian ala Danchou, hanya saja sekarang rambutnya dibiarkan turun.

Perhatian semua orang tertuju padanya ketika Kurapika mulai memanggil namanya dengan agak ketakutan.

"Kuroro!" Akhirnya dia berteriak.

"Kau tak perlu berteriak, Kurapika. Aku tidak tuli," pria itu menjawabnya dengan tenang, dia masih berada cukup jauh dari tempat tidur.

Kurapika memelototinya seperti biasa, tapi di balik rasa kesal itu Kuroro bisa menyaksikan dengan jelas kengerian yang sangat nyata dalam mata biru samuderanya yang saat ini sedikit bersemburat kemerahan.

"Apa... Bagaimana... Bagaimana keadaanku waktu kau menemukan aku?"

Ketiga teman Hunter itu tahu bahwa yang dimaksud olehnya adalah peristiwa Mammon, seperti sudah diinformasikan padanya bahwa Kuroro Lucifer yang sebenarnya menyelamatkan dirinya (dia tidak terlihat terkejut mengenai hal ini, menanggapinya dengan sangat tenang–seolah itu hal biasa–yang membuat teman-temannya sangat ketakutan).

"Seberapa banyak yang kau ingat?" Tanya Kuroro pelan.

"Aku..." Kurapika menggigit bagian bawah bibirnya, dia gemetar ketika mengingat peristiwa mengerikan itu. "Sepertinya aku pingsan setelah mereka mengecapku..."

Kurapika masih mencengkeram bajunya tepat di atas jantungnya; tempat di mana Kelompok Mammon sudah mengecapnya. Walau buktinya sudah hilang, rasa sakitnya masih terus terasa; membakar dan begitu nyata, sangat menyakitkan.

Tentu saja Leorio sudah memperhatikan cap itu sebelum menghilang, tapi dengan bijak dia memilih untuk tidak memberitahu Gon dan Killua mengenai hal itu–karena suatu alasan yang mungkin dia tak sampai hati memberitahukannya pada kedua bocah itu. Terlalu menyedihkan.

Kuroro memandangi gadis itu dengan penuh selidik. Dia tahu betul apa yang ingin ditanyakan Kurapika.

"Mereka tidak memperkosamu, Kurapika."

Ketiga orang lainnya yang ada di kamar itu pun tercengang.

"Kau yakin?"

Mereka menoleh menatap Kurapika dengan tatapan tak percaya.

"Ya, aku cukup yakin."

Mereka kembali menatap Kuroro.

"Tidak, kau tidak yakin!" Bentak gadis itu, suaranya langsung pecah. "Kau tidak ada di sana waktu mereka–mereka..."

Kuroro menghela napas. Hanya ada satu cara untuk meyakinkan gadis itu bahwa dia masih perawan. Kuroro melangkah ke sampingnya dan membungkuk jadi dia bisa memegangi dagu Kurapika di antara ibu jari dan jari telunjuknya lalu mengangkat kepalanya. Mata Merahnya yang terlihat ragu menatap mata obsidian pria itu.

"Ayo kita datangi Una."

Unicorn itu akan menjadi satu-satunya yang memberikan keputusan final, yang kebenarannya tak bisa disangkal, apakah Kurapika masih suci atau tidak.

Sambil terisak, Kurapika pun mengangguk.

Kuroro melepaskan mantel khas Danchou miliknya yang tebal dan menyampirkannya ke bahu kurus Kurapika. Lalu dia menyelipkan sebelah tangan ke belakang lututnya dan menggendongnya ala bridal style. Dia betulkan posisi Kurapika dalam pelukannya untuk memastikan bahwa gadis itu akan terlindung dari buruknya angin malam hari. Dia selipkan kepala Kurapika ke bawah dagunya ketika gadis itu menyandarkan kepalanya sendiri ke dadanya.

Sebelum Kuroro melompat dari balkon kamar hotel, dia melirik ketiga teman Kurapika yang masih terbengong-bengong.

"Kalian bisa ikut kalau mau."


Una berdiri di tepi danau di hutan itu, sedih dan benar-benar khawatir. Dia hanya bisa menunjukkan pada Kuroro ke arah mana Kelompok Mammon telah membawa Kurapika, dan hanya itu yang bisa dia lakukan. Dia ingin bertemu Kurapika, untuk melihat apakah dia baik-baik saja atau tidak. Dia ingin mendatangi mereka, tapi dia tak bisa memasuki kota. Dia hanya bisa berjalan mondar-mandir di hutan dengan gelisah; menunggu dan menunggu hingga mereka datang mengunjunginya.

"Una?"

Dan doanya pun terkabul.

Kurapika!

Tanpa basa-basi, Una berlari menuju ke arah dari mana suara gemetar Kurapika berasal. Dia segera menemukan Kuroro berjalan ke arahnya, menggendong Kurapika dalam pelukannya. Tanpa merasa bimbang; yang begitu melegakan Kuroro dan Kurapika, dengan tak sabaran Una mendorong masuk kepalanya ke dalam rengkuhan kedua lengan Kurapika yang terbuka lebar, di saat yang sama juga berhati-hati agar tidak sampai melukai gadis itu dengan tanduknya. Dia menciumi dada Kurapika lekat-lekat dan dengan begitu menggebu, bagai seorang anak yang sangat merindukan ibunya.

Kuroro memberi Kurapika seulas senyum kemenangan.

"Apakah ini pembenaran dan penghiburan yang cukup untukmu?"

Mata Kurapika kini sudah berkaca-kaca karena air mata lega.

"Lebih dari cukup."

Una tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Apapun itu–mereka bisa saja membicarakan tentang akhir dunia–dia sudah cukup bahagia dengan merasakan kehadiran Kurapika di dekatnya.

Di saat yang sama, ketiga teman Hunter Kurapika berdiri dalam jarak yang cukup jauh dari pertemuan kembali Sang Unicorn dan sahabatnya. Mereka menatap dengan mulut menganga dan mata yang membelalak lebar.

"Apa kalian melihat apa yang kulihat, atau aku melihat itu karena aku terlalu lelah?" Leorio bertanya, masih tak berani mengalihkan perhatiannya dari kuda bertanduk yang bersinar yang sedang menggosokkan kepalanya kepada Kurapika, karena adegan itu terlalu berharga untuk dilewatkan dan dia takut jika dia memalingkan wajahnya, semua akan lenyap.

"Aku sedang melihat seekor kuda yang bersinar dalam gelap, dengan tanduk di kepalanya, yang kudengar disebut Unicorn," kata Killua.

"Tepat seperti yang kulihat. Jadi itu nyata?"

"Seekor Unicorn!" Gon memekik kegirangan.

Pekikannya menarik perhatian Unicorn tersebut, yang kemudian memandangi mereka dengan tatapan waspada namun juga penuh rasa ingin tahu. Keingintahuan itu menjadi lebih baik di antara dirinya dan Gon, segera saja keduanya sudah saling mengamati dan saling menghibur satu sama lain. Kurapika meminta Kuroro untuk menurunkannya, dan pria itu pun menurutinya.

Begitu Kurapika bergabung dengan Gon dan Una, Killua dan Leorio turut serta dalam kegembiraan itu, menikmati saat-saat bahagia bersama seperti dulu. Kuroro, menghormati kebersamaan tersebut, undur diri ke dalam kegelapan hutan yang tersembunyi, memberikan privasi bagi mereka.

Saat seperti itu merupakan batas yang sepatutnya tak boleh dia masuki–bagian dari dunia Kurapika yang bukan tempat bagi dirinya.


Kurapika pikir akhirnya dia bisa mendapatkan hari-hari yang penuh dengan ketenangan, walaupun dia masih kecewa karena beberapa hari kemudian teman-temannya harus pulang untuk kembali melaksanakan tugas dan pekerjaan mereka : Leorio dengan sekolah kedokterannya, Gon dan Killua dengan perjalanan–memburu–Ging mereka.

Oh, dan tentu saja Gon sudah mengganggu Lucian untuk berbicara tentang Ging.

"Pria itu? Dia orang yang paling aneh, paling gila yang pernah kutemui. Belum lagi dia orang yang sangat merepotkan, memberikan lelucon gila pada anak lelaki satu-satunya–"

"Lucian!"

BUGG!

"Killua, apakah ayahku orang yang jahat? Semua berbicara buruk tentangnya."

"Tidak, Gon. Kurasa itu hanya cara mereka menunjukkan kasih sayangnya untuk ayahmu."

"Kurasa justru teman-teman ayahmu yang sedikit gila."

Kurapika pikir hari-harinya akan kembali normal (YA! Bepergian bersama Kuroro Lucifer dan Lucian Virgilliu sekarang dianggap normal olehnya), tapi oh Tuhan ternyata dia salah besar.

Beberapa hari setelah keberangkatan teman-temannya dan dia bersama Kuroro melanjutkan Perburuan–Mata–Merah mereka, seluruh Geng Genei Ryodan berkumpul di hadapan Kuroro untuk melaporkan misi Perburuan–Kelompok–Mammon mereka yang berjalan dengan sukses. Terlebih lagi, mereka mengumumkan akan tetap bersama Danchou-nya selama beberapa hari kemudian.

Datanglah pengganggu Kurapika, langsung dari dasar Neraka.


"Apakah menurutmu ini akan berhasil?" Tanya Phinks gugup sambil melirik ke arah rekan-rekannya.

"Sejujurnya aku tidak tahu," Shalnark menjawab dengan suara pelan sambil memandangi Si Gadis Kuruta yang tak sadarkan diri di hadapan mereka. "Atau setidaknya, aku tak mau tahu..."

Kurapika sedang duduk di sebuah kursi sederhana dengan dagu yang menempel ke dada. Ekspresinya terlihat tenang, menutupi kenyataan bahwa sebenarnya dia dibius hingga tertidur tak lain tak bukan oleh para anggota Laba-laba itu sendiri. Napasnya teratur, sikap tubuhnya pun rileks.

"Ingatkan aku lagi kenapa kita melakukan hal ini," ucap Machi singkat dengan suara sedingin es, memberi tatapan tak suka pada Phinks dan Shalnark.

"Yah..." Phinks menggaruk bagian belakang kepalanya.

Para anggota Laba-laba pun saling lirik. Tentu saja mereka ingat dengan cukup jelas peristiwa yang menjadi pencetus misi menyenangkan namun sangat berbahaya ini yang mereka lakukan tanpa seijin Danchou mereka. Bukannya mereka tak punya pilihan lain dalam hal ini–bahkan kalaupun mereka minta izin, mustahil Kuroro Lucifer akan menyetujui misi tersebut.

"Kau ingin aku untuk APA?"

Raungan kemarahan Kurapika sedikit mengguncang seluruh kamar–kalau bukan seluruh rumah kecil nan sepi yang mereka tempati saat ini–tapi pria yang dia teriaki tak terpengaruh dan tetap pasif. Atau sekarang dia sudah terbiasa. Kuroro melipat kedua lengannya di depan dada dan menatap rekannya itu dengan mantap.

"Aku ingin kau tinggal di sini bersama yang lain sementara aku menangani urusan yang mendesak," dia berbaik hati mengulangi kalimatnya pada gadis itu.

Namun tidak membantu sama sekali.

"Kau ingin AKU menghabiskan dua malam di bawah ATAP YANG SAMA bersama semua anggota Laba-laba anak buahmu itu? Apa kau sudah kehilangan kewarasanmu, Kuroro Lucifer?"

"Tidak. Aku benar-benar sehat walafiat, lahir dan batin," Kuroro memberinya ekspresi geli yang menjengkelkan.

"Kuroro!"

"Kurapika, ini hanya untuk satu malam. SATU. Tak bisakah kau bertahan bersama mereka hanya untuk semalam?"

"DUA hari satu malam," dia menegaskan. "Kalau begitu beri aku alasan kenapa aku tak bisa ikut bersamamu dan malah tinggal bersama–" sejenak dia berusaha keras menemukan kata yang cocok, dan akhirnya menetapkan pilihan, "...para berandalan itu."

"Jadi kau lebih memilih untuk ikut bersamaku?" Seringai Kuroro melebar.

"Tentu saja, IYA!" Dia hampir memekik sekarang.

"Sebelumnya kau selalu mengomel, mengeluh bahwa kau ingin pergi jauh dariku. Dan sekarang setelah kita menghancurkan belenggu itu, kau ingin tetap dekat denganku?"

"Bodoh! Ini dan hal itu sangat berbeda!"

Tanpa sepengetahuan mereka, para anggota Laba-laba menguping dari balik pintu. Mereka berkerumun di koridor dan berusaha menempelkan telinga ke pintu, menajamkan pendengaran untuk menangkap percakapan Kuroro dan Kurapika yang tidak begitu jelas terdengar melalui pintu yang kokoh itu. Meski tak sulit mendengar apa yang Kurapika katakan dengan sempurna–karena dia bicara sambil berteriak.

"Hoo... Menurutmu apa yang akan mereka sepakati?" Phinks bertanya dengan suara berbisik yang terdengar girang.

"Aku bertaruh Danchou akan membuatnya tetap tinggal," Franklin balas berbisik.

"Menurutku Kurapika akan ikut bersama Danchou," Shalnark menyela.

"Aku bertaruh Danchou akan membiarkannya memutilasi kalian semua hingga mati saat mereka tahu kalian menguping," Machi berkata dengan suara yang sangat pelan, menolak merendahkan ucapannya menjadi bisikan semata namun di waktu yang sama dia tak ingin terdengar oleh dua orang yang sedang bercakap-cakap di dalam kamar.

"Sssh!" Mereka semua meletakkan jari telunjuk di bibir masing-masing, mengisyaratkan wanita itu untuk tetap diam sebelum mereka menguping kembali.

Wajah Machi merengut tak senang karena diberitahu untuk diam–biasanya dia-lah yang memberitahu mereka. Sambil mendengus kesal, dia melangkah ke dinding di seberang mereka dan bersandar di sana, memutuskan untuk sedikit mengamati situasi daripada bergabung dengan tim penguping.

"Kau bilang apa, Nobu?" Tanpa sadar dia bertanya.

"!#%^&*()" Terdengar suara umpatan yang tidak jelas.

"Oh, aku lupa..." dia mengangkat bahunya yang kurus dengan cuek, bahkan tak mau repot untuk menoleh pada samurai malang yang berada dalam kondisi terikat dan plester menutupi mulutnya yang lantang.

Nobunaga berusaha keras membebaskan diri dari tali yang mengikatnya, tapi tali itu merupakan benda istimewa yang takkan putus kecuali menggunakan kekuatan yang sangat besar. Lebih banyak Nen yang digunakan untuk memutuskan tali itu, akan semakin erat pula 'pelukannya'. Hanya orang-orang dengan kekuatan begitu besar yang aneh seperti Uvogin bisa memutuskan tali semacam itu. Saat mereka semua dengan suara bulat memutuskan untuk menguping, mereka sudah mempertimbangkan untuk pertama-tama membungkam dan melumpuhkan Nobunaga. Itulah tindakan pengamanan penting yang terpikir oleh mereka.

"Apakah menurutmu Danchou bisa benar-benar meyakinkannya untuk tinggal?" Machi bertanya lagi, tampaknya dia tidak mengarahkan pertanyaannya pada seseorang secara khusus. Ketika tak ada jawaban yang datang, Machi mengernyit. "Lucian?"

Menjawab panggilannya, Lucian muncul entah dari mana. Seolah dia keluar begitu saja dari bayangan koridor itu. Seringai tak tahu malu-nya yang biasa, terlihat di wajahnya yang sangat pucat sementara mata abu-abu vampir itu berkilat nakal.

"Aku yakin betul dia akan membuatnya tinggal," Sang Vampir menjawab dengan suara yang lembut sambil melangkah menghampiri Machi.

"Apa alasannya?"

"Akulah yang mengatakan padanya bahwa gadis itu tak boleh ikut bersama kami."

"Kau akan pergi bersama Danchou?" Machi menoleh memelototinya dengan mata menyipit, sengaja menunjukkan kecurigaannya terhadap Lucian. "Apa yang sedang kau rencanakan?"

"Alasanku rahasia, tapi aku akan memberitahukan rencanaku padamu."

Dia menyeringai nakal dan mulai menjelaskan rencananya pada wanita itu.


Machi menunduk melihat apa yang katanya disebut sebagai obat menakjubkan yang Lucian berikan padanya sebelum dia pergi bersama Kuroro. Menurutnya, obat itu akan memberi Kurapika mantera tidur yang dahsyat, tapi di saat yang bersamaan dia akan berada di bawah hipnotis yang membuatnya bisa menjawab pertanyaan apapun yang ditujukan padanya dengan jujur tanpa ada kesalahan. Keseluruhan konsep obat itu telah menggugah rasa ingin tahunya, tapi sekarang dia mulai merasakan keraguan, entah apa, di lubuk hatinya. Nalurinya mengatakan bahwa rencana ini tak akan berakhir dengan baik.

Meski demikian, anggota Laba-laba yang lainnya sudah terlalu menggebu-gebu ingin menguji obat itu hingga dia pun tak bisa benar-benar merasa keberatan. Dengan suara bulat, mereka setuju untuk menginterogasi Kurapika tentang hubungannya dengan Sang Danchou. Secara pribadi, Machi pun ingin segera tahu mengenai hal itu.

Yang harus mereka lakukan adalah melarutkan obat itu ke dalam minuman dan membuat Si Kuruta meminumnya. Setelah memutar otak karena mereka tahu mustahil bisa membuat Si Kuruta makan atau minum apapun yang mereka berikan padanya–mempertimbangkan bahwa dia masih sangat waspada terhadap mereka–akhirnya mereka mendelegasikan tugas itu kepada Shalnark yang malang.

Tentu saja pemuda itu menolak keras misi yang menegangkan dan mengancam nyawa tersebut, tapi ketika diberitahu bahwa dia orang kedua setelah Danchou yang dekat dengan gadis itu (di antara semua anggota Laba-laba, pastinya), dia tahu dia tak bisa menolak. Setelah berdoa demi hidup yang lebih lama dan 'hindarkan aku dari nasib yang penuh derita ini, oh Tuhan', Shalnark pergi ke kamar Kurapika (yang dengan enggan setuju untuk tinggal di kamarnya hingga Kuroro kembali–tapi hanya Tuhan yang tahu bujukan apa yang digunakan pria itu untuk benar-benar meyakinkan gadis keras kepala tersebut agar tetap tinggal) untuk menawarinya soft drink kalengan.

Mereka sudah melarutkan obat itu dan menyuntikkannya ke dalam minuman kaleng, dan hanya bisa berharap gadis itu tak akan memeriksa kaleng tersebut dan menemukan tanda bekas suntikan. Rupanya, Dewi Fortuna tersenyum pada mereka dan Kurapika tidak memeriksa. Segera setelah dia menghabiskan seluruh isi kaleng tersebut, dia langsung pingsan.

"Apa yang pertama-tama harus kita tanyakan padanya?" Tanya Kalluto polos, menyuarakan pikiran yang sama seperti yang tengah dipikirkan Laba-laba lainnya.

"Biar kucoba," Nobunaga berderap maju dengan sebelah tangan memegangi gagang pedangnya. Samar-samar ada bekas plester di sepanjang mulutnya, dan kulitnya masih berdenyut-denyut karena plester yang dilepas secara paksa. Sialan kalian semua, besok-besok aku akan membuat kalian tahu bagaimana rasanya diplester! Dia bersumpah dalam hati.

"Nobu, jangan kasar...," Shalnark memperingatkan dengan gugup.

Sudah menjadi rahasia umum di antara mereka semua bahwa Danchou mereka anehnya menyukai Si Gadis Kuruta–atau setidaknya melindungi gadis itu dengan begitu mengerikan. Itulah salah satu topik interogasi tersebut : menemukan alasan sikap posesif Danchou mereka yang tak biasa terhadap Kuruta ini.

"Hei, bangun kau Bocah!" Bentak Nobunaga.

Kurapika bergerak bangun dan tanpa sadar para anggota Laba-laba menahan napasnya. Mereka semua pun tegang, mengantisipasi apa yang akan dilakukan gadis itu, namun langsung menghela napas lega saat melihat rasa kantuk di matanya yang sebiru samudera. Obat itu bekerja dengan baik. Nobunaga merengut padanya, tapi tampak keangkuhan di wajah pria itu.

"Jawab aku, apa kau pernah mencoba melukai Danchou dalam...dalam perjalanan kalian?" Nobunaga hampir meludahkan dua kata terakhir seolah dua kata itu adalah wabah penyakit.

"...Ya..." keluarlah jawaban Kurapika yang terdengar pelan, matanya menatap kosong, tak bernyawa.

Nobunaga menggeram pelan, tapi tatapan dingin Machi mencegahnya menghunus pedang.

"Dia tidak melukainya," Machi memperingatkan Nobunaga.

"Ck! Pertanyaan selanjutnya!" Nobunaga kembali mengarahkan perhatiannya pada gadis yang sedang dalam pengaruh obat itu. "Apa kau bermaksud melukai Danchou nantinya?"

" Tidak," kali ini jawabannya meluncur sedikit lebih cepat dari mulut Kurapika.

"Apa kau bermaksud untuk membunuhnya?"

"Tidak."

Setiap orang di kamar itu menaikkan kedua alis mata meja dan saling pandang karena merasa keheranan. Di sini adalah Si Pengguna Rantai; satu-satunya yang selamat dari pembantaian Suku Kuruta, yang telah bersumpah atas darah, jiwa dan hidupnya sendiri untuk melakukan balas dendamnya terhadap Genei Ryodan, memberitahu mereka bahwa dia tak bermaksud untuk membunuh otak di balik pembantaian sukunya? Apa mereka bisa mempercayai itu?

"Kenapa?" Kali ini, Machi yang bertanya.

"... Kami punya...sebuah kesepakatan...," Kurapika menjawab, suaranya menghilang sejenak lalu melanjutkan, "... Dan aku sudah...berjanji..."

"Janji apa?" Machi bertanya lagi dengan lebih mendesak.

Kedua alis mata Kurapika bertaut, menunjukkan bahwa dia sedang melawan desakan yang timbul karena obat untuk memberitahukan jawabannya kepada mereka–yaitu janjinya pada Ishtar. Takut hal itu akan menyadarkan Kurapika dari hipnotis, Machi memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya dengan pertanyaan lain. Roda di otak Machi berderak dan bergemuruh begitu menyadari bahwa Nobunaga sudah menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang hanya berkaitan dengan Danchou. Bagaimana dengan Ryodan?

"Bagaimana dengan kami? Apa kau bermaksud untuk membunuh kami?" Dia bertanya dengan suara yang mantap.

Beberapa orang anggota Laba-laba menatapnya tak percaya, namun Laba-laba yang lainnya pun mengangguk, paham bahwa pertanyaan wanita itu memang masuk akal.

"... Tidak..." muncul jawaban Kurapika yang terdengar sedikit ragu.

"Kenapa?" Machi menekannya. Dia memperhatikan ada keyakinan dari bagaimana cara Kurapika menanggapi pertanyaan-pertanyaan mengenai Danchou mereka, tapi caranya menjawab tidak sama ketika diajukan pertanyaan mengenai Laba-laba. Dia mulai melihat tanya jawab ini akan mengarah ke mana. Meskipun begitu, dia harus memastikan.

"... Kesepakatan itu..."

"Kesepakatan, kesepakatan, kesepakatan! Demi Neraka Jahanam, 'kesepakatan' apa yang kau ocehkan?" Nobunaga berteriak tak sabar.

"... Aku akan bekerja sama dengannya menemukan jalan menghancurkan belenggu itu...sebagai balasannya dia akan membantuku mengumpulkan semua Mata Merah... Setelah semuanya selesai, dia akan meninggalkanku sendiri...dan aku akan meninggalkannya bersama para anak buahnya..."

Phinks bersiul. "Tindakan yang bagus, Danchou."

"Tapi aku takkan pernah bisa membunuh bocah jahanam ini! Bagaimana aku bisa membalas dendam untuk Uvo?" Nobunaga berteriak marah sambil berjalan mondar-mandir untuk menghadapi konfraternya, seolah haknya telah dilanggar.

"Nobu, apa kau ini memang hanya orang bodoh yang sangat berisik dan mengesalkan? Ada kesepakatan atau tidak, kau tidak akan mendapatkan pembalasanmu. Danchou tak akan mengizinkannya," Machi memutar kedua bola matanya jengkel. Bahkan kadang dia benar-benar penasaran apakah samurai itu memiliki otak yang sehat atau tidak.

"Rasa suka Danchou pada gadis itu jelas sekali. Nanti kau harus menghadapi Danchou sebelum kau bisa menyentuhnya," kata Phinks santai sambil menunjuk Kurapika dengan menggerakkan dagunya.

"Danchou akan mengatakan sesuatu seperti : 'langkahi mayatku', tapi sungguh kau yang akan mati lebih dulu," Feitan berkata dengan terkekeh-kekeh yang sudah menjadi ciri khasnya.

"Kau gila. KALIAN SEMUA GILA!" Nobunaga meraung sambil berbalik menghadap Si Gadis Kuruta yang berada dalam kondisi terhipnotis karena obat. Kecemburuan dan kemarahan begitu menyala di matanya yang kecil, bahkan orang buta pun tak akan bisa melewatkannya.

"Nobu, jangan lakukan hal yang bodoh," Machi memperingatkan sambil melangkah menghampiri samurai itu, kedua tangannya dilenturkan guna mengantisipasi perkelahian yang akan terjadi.

"Dasar penyihir. Kau bukan cuma menggoda Danchou tapi juga menyiasati teman-temanku untuk membelamu!" Desis Nobunaga.

"Nobu, kami hanya menyatakan apa yang sudah jelas!" Suara Machi pun naik satu nada, "Ingatkah kau kejadian Mammon itu?"

"Ngomong-ngomong tentang kejadian itu..." Bibir tipis Nobunaga membentuk seulas senyum jahat. "Hei anak nakal! Apa yang sudah kau beritahukan pada para pengecut Mammon itu tentang kami? Sebaiknya kau jujur saja," katanya sambil menggeram pelan.

"... Tidak ada..."

Nobunaga gagal menyembunyikan keterkejutannya. Yang lainnya pun sama kagetnya.

"Apa yang sudah kau katakan pada mereka?" Nobunaga hampir meraung karena dia pikir Si Gadis Kuruta tengah berbohong–walaupun menurutnya tidak begitu, dia tak bisa menerimanya.

"... Pergilah ke neraka..."

Seutas pembuluh darah berkedut di kening Nobunaga.

"Dasar anak nakal! Aku akan menganggapnya secara pribadi hingga kau dikeluarkan dari kesengsaraanmu nanti."

Dengan kecepatan penuh, Nobunaga menghunus pedangnya dan mengarahkannya ke bawah dalam gerakan membelah, siap membelah gadis yang sedang lemas itu menjadi dua. Bukannya menyayat daging, pedang tersebut hanya berhasil membelah kursi menjadi dua.

"MACHI!" Nobunaga meraung.

"Bukan aku," terdengar suara Machi dari belakang samurai itu–yang untuk sekali ini, suaranya terdengar kaget.

Sang Samurai menoleh untuk melihat bahwa Machi memang masih berada di belakangnya, dan ketika dia balik menoleh ke mana Si Gadis Kuruta duduk sesaat tadi, sungguh dia hanya menemukan serpihan kayu dan logam; sisa-sisa kursi yang terbelah olehnya. Tanpa perlu banyak usaha, dia langsung menemukan gadis pirang itu.

"Mengajak berkelahi, hah? Baik! Kita lihat kau bisa apa!"

"Nobu!" Franklin ikut ke dalam aksi tersebut untuk mengunci Sang Samurai yang mudah marah dan keras kepala itu dalam rengkuhan lengan raksasanya. Cara ini memang selalu berhasil.

Machi sengaja memposisikan diri di depan Si Kuruta, bersama dengan Shalnark. Pemuda berambut coklat pasir itu adalah yang paling mengenal Si Gadis Kuruta di antara anggota Laba-laba, jadi dia tahu gadis itu tak akan menyakitinya–yah, setidaknya dia tak akan membunuhnya. Di lain pihak, Machi selalu mengagumi dan memuja Kuroro sebagai pemimpinnya yang memiliki karisma dan tidak tergantikan. Jika Danchou-nya menganggap Si Kuruta cukup berharga untuk dilindungi dan cukup tepercaya untuk bisa diajak bekerja sama dalam suatu kesepakatan, dia akan melindungi gadis itu dari bahaya yang tak perlu bahkan tanpa harus diminta.

Sebesar itulah pengabdian Machi kepada Kuroro Lucifer, meski pengabdian tersebut tak pernah berubah menjadi suatu romantika walau di masa mendatang sekalipun.

"Aku belum bisa mati..."

Shalnark mendengar Kurapika bergumam sendiri karena secara fisik dia yang berdiri paling dekat dengan gadis itu.

"Apa?"

"Aku punya tugas...," Kurapika berkata diambil menatap bekas luka di kedua tangannya. "... Kubilang padanya aku belum akan mati..."

Sebagai orang luar, baik Machi maupun Shalnark sama-sama mengerti apa arti dari monolognya itu. Satu hal yang mereka tahu pasti : begitu banyak yang sudah terjadi di antara Kuroro dan Kurapika, orang lain tak punya harapan untuk menjadi bagian dari syair yang ada di antara dua orang yang sempat bermusuhan itu. Mereka memiliki dunianya sendiri; kedua anggota Laba-laba itu sangat mengerti.

Tiba-tiba, keseluruhan interogasi itu anehnya menjadi sia-sia. Karena sejak awal, alasannya sudah salah. Tak mungkin mereka bisa memahami hubungan aneh di antara kedua orang tersebut.

"... Itulah kenapa..." Mata Kurapika tiba-tiba berkilat merah dengan berbahaya. Hal ini mengejutkan kedua pembelanya, tapi terlambat. "Aku tak akan membiarkan diriku terbunuh dengan begitu mudahnya."

Sebelum Machi dan Shalnark bisa bereaksi, Kurapika menerjang Nobunaga, bermaksud balas melawannya. Murka, Nobunaga membebaskan dirinya dari cengkeraman kuat Franklin saat raksasa itu sedikit tertegun oleh ledakan amarah Kurapika yang tiba-tiba.

Sejak awal, membius Si Kuruta adalah ide buruk, dan jadi semakin buruk dengan terlambat menyadari bahwa Si Kuruta terkenal dengan kepribadiannya yang cepat marah, dan kondisinya menuju ke titik yang paling buruk dengan adanya kenyataan bahwa Si Pengguna Rantai yang mudah terbawa emosi mulai tak stabil secara mental karena pengaruh obat. Dan itu sepenuhnya adalah salah mereka.

Terkutuklah rasa penasaranmu itu, Lucian! Umpat Machi dalam hati sambil berusaha menyelamatkan situasi.


"Ce sa întâmplat ('Ada apa'), Lucifer?" Lucian bertanya dengan nada suara seolah tak tahu apa-apa, meski dia merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan di lubuk hatinya.

Kuroro sudah berhenti melangkah dan sedang memandang ke arah sebuah rumah sederhana di mana dia tinggalkan Kurapika bersama para anak buahnya. Entah kenapa, dia mendapat firasat buruk atas keputusannya meninggalkan mereka 'di bawah atap yang sama', seperti bagaimana Kurapika menyebutnya. Sebuah kernyitan terlihat di antara kedua alis matanya dan dia berbalik menatap Lucian dengan penuh perhitungan.

"Apa yang kau rencanakan?" Kuroro mengucapkan pertanyaannya dengan jelas, kapan pun dia bersikap seperti ini, itu artinya dia menginginkan jawaban yang jelas dan masuk akal. Dan Lucian tahu itu–tapi juga bisa dieja menjadi K-I-A-M-A-T bagi dirinya.

"Re–Rencana?" Lucian mengutuk bicaranya yang gagap di dalam hati. "Tapi aku hanya membawamu ke Anansi, seperti yang kau minta."

"Dan kenapa kau menyarankan untuk tidak membawa serta Kurapika?" Matanya dipicingkan menjadi tatapan yang berbahaya.

"Mm... Karena kau bilang akan menjelaskan sendiri padanya?" Ujung mulut Lucian sudah berkedut gugup, dan hal ini tidak luput dari pengamatan Kuroro yang tajam.

"Lucian," Kuroro berkata lagi dengan ancaman utama di suaranya yang halus bagai sutra.

Lucian tersedak, mengeluarkan suara 'eep' dan dia sebenarnya hampir terlonjak kaget mendengar batas kesabaran di suara Kuroro. Itu hal yang baik dan buruk bagi Lucian, tapi sebelum dia diancam lebih jauh hingga akhirnya menumpahkan semua rahasia dengan tidak sengaja, kepala Kuroro langsung menoleh ke arah pondok itu. Mata obsidiannya membelalak takjub dan terkejut. Dia telah merasakannya–Nen Kurapika sedang bergolak. Apapun artinya itu, dia tahu artinya merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan.

"Jika aku menjadi dirimu, aku akan mengabaikan pernyataan maaf vampir yang menyebalkan ini dan segera kembali pada Kurapika."

Suara yang tenang namun riang pun terdengar, dan Kuroro bisa mengenalinya dalam sekejap bahwa suara itu milik Anansi. Tak menanggapi pria itu, Kuroro bergegas menuju ke arah rumah itu berada setelah menyerang Lucian dengan tatapan super tajam.

"Sudah kubilang padamu ini bukan ide yang bagus," Anansi mengejek Lucian dengan keriangan yang tak disembunyikan.

"Aku hanya mencoba untuk membantu!" Dia membalas.

"Bagaimana caranya? Dengan mencoba menghancurkan es di antara gadis itu dan Kelompok Laba-laba?" Anansi mendengus geli. "Dalam masalah apapun, alasan sebodoh apapun yang kau punya, aku sangat menganjurkan agar kau pergi menyusul Kuroro dan memeriksa sudah seberapa buruk keadaannya."

"Terima kasih banyak untuk penghiburanmu," gumam Lucian dengan enggan tapi meskipun demikian pergi ke arah rumah itu.


Namun, vampir itu tidak siap untuk melihat adegan yang berlangsung di hadapannya dan Kuroro. Dari semua hal, ini yang harus terjadi.

Sebagian besar anggota Laba-laba; terutama Bonolenof, Coltopi, Shizuku, Feitan dan Kalluto, tetap aman berada di pinggir ruangan. Feitan memilih untuk tidak ikut campur dengan urusan tersebut karena dia tidak mood melawan Si Pengguna Rantai yang dalam kondisi setengah sadar. Bukan hanya itu, Si Gadis Kuruta pun sepertinya sudah memasuki tahap delusi; yang mungkin adalah efek samping dari obat tersebut, karena dia mulai meneriakkan beberapa hal yang tak mereka mengerti–atau memilih untuk tidak memahaminya–sebagai tanggapan atas seruan kasar Nobunaga.

Perkelahian tersebut sebenarnya menghibur, melihat Shalnark dan Machi berusaha menjauhkan Si Kuruta yang berada dalam pengaruh obat dan mengamuk dari samurai yang tengah bergolak marah, sementara Franklin dan Phinks yang berusaha menjauhkan samurai tersebut.

Mereka semua begitu disibukkan oleh kekacauan yang berkelanjutan itu hingga gagal menyadari kehadiran dua sosok yang baru saja tiba.

"Ada apa ini?"

Ruangan itu pun langsung hening.

"D-D-Da-Dan-Danchou," Shalnark berusaha bicara walaupun suaranya terdengar seperti mencicit namun melengking.

Para anggota Laba-laba 'yang tidak bersalah' hanya melihat kepada Danchou mereka, lalu kepada vampir yang sangat pucat itu, dan kemudian kepada kelompok yang baru saja bergulat beberapa detik yang lalu. Sekarang, adegan yang lebih menghibur sebentar lagi akan dimainkan.

"Ya?"

Kata itu diucapkan begitu datar dan tak menunjukkan emosi apapun namun penuh tuntutan tak terucap. Lucian sangat ketakutan dengan bagaimana segala sesuatunya bisa terjadi seperti itu bahkan ide untuk melarikan diri terselip di benaknya. Dia hanya ingin lenyap begitu saja bersama udara–atau terbakar hingga menjadi debu di peti matinya, mungkin, lagipula dia seorang vampir.

"... Kuroro...?"

Sebuah suara lembut terdengar jelas di keheningan kamar itu yang menegangkan, mengejutkan, dan semua kepala pun sontak menoleh ke arah pemilik suara tersebut. Sial, mereka semua lupa tentang Si Kuruta yang masih berada dalam pengaruh obat. Tak mungkin dia akan mendengarkan alasan apapun atau bahkan Kuroro Lucifer. Yang lebih buruk lagi, dia juga sedang dalam kondisi mengalami tahapan delusi. Dia bisa melakukan hal mustahil apapun yang tak bisa ia lakukan dalam keadaan normal.

"Kurapika, apa–"

Kuroro tak bisa bersuara ketika pandangannya tertumpu pada Si Kuruta. Dia benar-benar kacau. Wajahnya pucat dan tatapan Mata Merahnya berkabut. Dia menatap pria itu dengan cara yang aneh; ada sesuatu tentangnya yang tak bisa Kuroro ungkapkan dengan tepat. Mereka berdua saling menatap, dalam waktu yang paling lama daripada biasanya sebelum Mata Merah Kurapika tiba-tiba jadi begitu menyala, demikian pula dengan gerakan tubuhnya.

"Kau bajingan! Setelah apa yang kau lakukan padaku, kau pikir kau bisa kabur dengan mudahnya, hah? Aku akan mendapatkan pembalasanku!"

Lalu dia memekik dan menghentakkan langkahnya kepada Sang Pemimpin Laba-laba yang tertegun. Setiap orang di sana pun sama terkejutnya dan ketika kata-kata gadis itu menyadarkan Kuroro, hampir saja terlambat. Nobunaga–lah yang pertama tersadar kembali.

"Hentikan! Dia akan–"

Sebelum siapapun bisa bergerak dari tempatnya; selain Nobunaga yang sedang berusaha menyelinap keluar dari cengkeraman Feitan, Kurapika sudah berada di hadapan Kuroro dan menarik kerah bajunya. Dia tarik pria itu maju ke arahnya dan hal itu pun terjadi.

Dengan paksa dia menekankan bibirnya ke bibir Kuroro.

"Sekarang kita seri...," Kurapika berkata dengan suara yang kurang terdengar, bertolak belakang dengan energi yang dia miliki sebelumnya.

Tanpa membuang waktu lagi, Kurapika–yang–tengah–tidak–menjadi–dirinya–sendiri itu ambruk membentur dada bidang Kuroro dan jauh tertidur seolah mantera tidur menimpanya dengan kuat. Ketika Kuroro merasakan kedua lutut Kurapika menekuk karena menahan berat tubuh, refleks pria itu menyelipkan kedua lengannya dan memeganginya sebelum dia bisa membentur lantai yang keras. Bagi mereka yang belum cukup lama mengenal Kuroro, ekspresi di wajah Kuroro Lucifer sungguh tak ternilai–dia tertegun, linglung, kaget, heran, kebingungan, dan berbagai istilah sinonim lainnya yang ada dalam kamus, DITAMBAH rona kemerahan meski sedikit sekali dan samar.

Keheningan memenuhi ruangan itu lagi. Semua terperangah melihat tindakan yang baru saja dilakukan Kurapika, seolah hal itu merupakan kejahatan yang tidak sepantasnya terjadi. Kemudian lagi-lagi setiap orang di kamar tersebut seluruhnya kehabisan akal lagi. Tak ada yang sepenuhnya tahu bagaimana menjelaskan semua situasi itu kepada Kuroro, apalagi memahami ciuman yang–dari semua orang yang ada dunia ini–Kurapika lakukan dengan paksa kepada Kuroro Lucifer. Atau mungkin, semua hal di antara mereka kini jadi lebih lembut dari sebelumnya. Kemudian, Nobunaga membocorkannya.

"Lucian, kau sekutu bajingan! Obatmu tidak manjur!"

Oh tidak.

Beberapa orang anggota Laba-laba menelan ludah dengan gugup, sementara Phinks, Feitan, Shalnark dan Machi mengambil tindakan sendiri membuat samurai–yang–baru–saja–mengatakan–sesuatu–yang–begitu–dungu menjadi tak sadarkan diri.

Lucian sudah bergegas menyelamatkan diri menuju jalan keluar terdekat–yaitu jendela–saat Kuroro muncul secara ajaib di hadapannya dan menyeretnya dengan menarik kerah vampir itu. Dia masih memegangi Kurapika di lengan satunya, kepala Si Gadis Kuruta bersandar dengan nyaman di dada Sang Lucifer. Tatapan Kuroro dipicingkan, terlihat berbahaya, dengan aura membunuh di sepasang mata obsidian itu.

"Sekarang, aku yakin harus ada penjelasan yang sangat BAGUS mengenai hal ini," kata Kuroro dengan suara yang menyiratkan ancaman mematikan.


"Oh tidak! Apa yang–aw, aw, aw!" Kurapika mencengkeram kepalanya yang berdenyut-denyut dengan putus asa dan patah semangat. Sakit kepala itu seolah bisa meledakkan kepalanya dan demamnya menghanguskan otak.

Sakit kepala? Demam? Apa yang terjadi padaku? Dia berkedip beberapa kali sambil berusaha menahan air mata yang menetes tak tertahankan dan mengaburkan pandangannya. Rasa panas itu membuatnya gila!

"Hai."

Suara yang terdengar dingin dan familiar di telinganya itu menyadarkan Si Gadis Kuruta kembali ke dunia nyata dan dia paksakan diri untuk fokus dan untuk mencerna keadaan di sekeliling tempatnya berada sekarang. Dia ada di kamar yang tak asing baginya, dia berbaring di tempat tidur yang terasa familiar, dia mendengar suara yang familiar untuknya, dan dia merasakan sentuhan dingin tangan yang juga terasa familiar di keningnya yang terbakar karena demam.

"Kau masih sedikit demam."

"SEDIKIT?" Dia berseru dengan suara parau, tapi hanya itu yang bisa dilakukannya. Setelahnya, dia langsung terbatuk-batuk dengan bodoh.

Sebelah lengan yang kuat menyelip ke balik punggungnya dan membantu gadis itu duduk di tempat tidur. Di antara suara batuknya, samar-samar dia merasakan ada jemari yang memaksa memasukkan sebutir tablet ke dalam mulutnya dan sensasi dingin dari gelas yang menyentuh bibirnya yang kering. Lalu dia mendapati dirinya menikmati efek mendinginkan yang berasal dari air dingin yang turun ke kerongkongannya.

"Penjelasan?" Gadis itu bertanya masih dengan suara yang parau sambil menghabiskan seluruh isi gelas seperti orang yang sudah tidak minum selama tiga hari.

Kuroro menyingkirkan gelas tersebut dan membaringkan Kurapika ke tempat tidur sebelum ia menjelaskan seluruh skenario yang telah direncanakan di belakang mereka berdua. Dia sudah mendapatkan detailnya dari Lucian dengan benar-benar menyiksa nyawa abadi dari vampir itu. Ketika Kuroro sampai pada penjelasan tentang obat, Kurapika langsung memucat.

"Dia membiusku?"

"Secara teknis, mereka yang melakukannya. Para anak buahku membiusmu, Lucian yang membuat obatnya."

"Terserah saja," dia mengibaskan sebelah tangannya dengan tak sabaran, mengabaikan detail yang tak penting. "Kalau begitu sekarang, apa ini? Aku menderita sakit kepala yang teramat sangat sebagai efek samping dari obat bodoh itu?"

"Ya," jawab Kuroro sambil bersandar di kursi dengan kedua lengan dilipat di depan dadanya.

"Argh! Aku akan mendapatkan mereka nanti!" Kurapika bersumpah dengan lantang meski merasakan sakit kepala yang teramat sangat.

"Jangan khawatir, aku sudah pastikan agar mereka tetap tinggal hingga kau pulih," Kuroro berkata, sengaja menghilangkan detail-detail tentang bagaimana dia menggunakan kelemahan kelompok pengganggu itu dan memastikan bahwa mereka tidak akan melarikan diri dari kemarahan Kuroro dan Kurapika. "Begitu kau siap untuk menghabisi mereka, beritahu aku. Aku tak ingin melewatkan tontonan itu," dia berkata sambil terkekeh.

Kurapika memberinya tatapan yang berbeda.

"Kau benar-benar pria yang membingungkan, kau tahu?"

Kuroro menyeringai seperti Kucing Cheshire.

"Mereka perlu segera mengambil hikmahnya, dan kurasa sangat perlu mempelajari hal itu dengan cara yang benar-benar keras. Aku hanya ingin memastikan mereka BETUL-BETUL mempelajarinya dengan sepenuh hati sekarang."

"Seberapa banyak masalah yang kau lalui kali ini?"

Kuroro hanya mengangkat bahu. "Kurasa tidak sebanyak dirimu. Meskipun bagi seseorang yang mengalami sakit kepala, kau cukup lincah."

"Wah, terima kasih," Kurapika memutar kedua bola matanya. "Kau tak tahu sakit kepala ini begitu membunuhku."

"Kau tidak terlihat sekarat sama sekali."

"Diam!"

Kuroro terkekeh geli sementara Kurapika meringkukkan badannya erat seperti bola dan mengumpat pelan sementara kepalanya terasa semakin menyakitkan. Kuroro mengamati 'bola' kecil di atas tempat tidur itu, sebelah tangan menutupi mulutnya dalam sikap berpikirnya yang khas. Sesaat kemudian, dia memutuskan untuk bertanya.

"Seberapa banyak yang kau ingat?"

Kurapika mendengus.

"Aku ingat Shalnark memberiku sekaleng minuman soft drink. Setelah itu, kurang lebih aku kehilangan kesadaran."

"Hanya itu?" Ada semacam antisipasi tersembunyi di nada suaranya.

"Kurasa–" Mata Kurapika membelalak ngeri saat menyadari arti yang mungkin merupakan 'antisipasi' dalam nada suara Kuroro. Dia tersentak bangun ke dalam posisi duduk dan memberi pria itu tatapan mengiba. "Apa yang kulakukan kali ini?"

"Hm?" Kuroro berusaha keras menutupi senyumnya, tapi mulutnya sudah berkedut.

"Jangan bercanda! Obat itu–apa yang kulakukan waktu sedang dalam pengaruh obat?"

"Melakukan beberapa hal yang...tak mungkin," dia menyeringai dan sekarang berusaha memperhalus tawanya yang penuh kegembiraan.

"HAL-HAL apa?" Dia pun berteriak, sakit kepalanya terlupakan.

"Sudah, sudah, Kurapika. Jangan terlalu serius, itu tidak sehat–"

"AKU TAK PEDULI DENGAN KESEHATANKU SEKARANG! BERITAHU SAJA APA YANG TELAH KULAKUKAN!"

"Apa kau ingin aku memberitahukannya atau kau mau sebuah peragaan?" Kuroro melanjutkan dengan pengendalian pada tingkat yang sama, hingga membuatnya bingung tanpa henti. Dia merasa jahat menggodanya saat gadis itu tengah sakit kepala akibat mabuk, tapi dia tak bisa menahan diri. Ekspresi di wajah gadis itu terlalu langkauntuk dilewatkan.

"Pe-Peragaan?" Suaranya gemetar dan matanya membelalak ngeri.

Kuroro melemparkan seringai jahatnya yang tampan, sengaja keliru menafsirkan pertanyaan yang Kurapika ajukan untuk menegaskan kembali sebagai suatu pernyataan jawaban.

"Peragaan kalau begitu."


"Kita benar-benar celaka," Lucian meratap.

"Ini salah-MU! Kenapa kau harus menyeret kami segala, kau vampir bodoh!" Phinks menendang bagian samping tubuhnya, dan Sang Vampir pun mengaduh.

"Jika rasa penasaranmu terus membuat kami terlibat masalah-masalah yang tidak penting, aku pastikan tak lama lagi kau tak bisa merasakan penasaran apapun," Machi berdesis dengan mematikan sambil menatap tajam vampir itu; yang menciut di bawah tatapannya yang menghanguskan. "Kau juga, Nobu!"

Sang Samurai duduk di sudut berdebu kamar itu, melamun dan meratap. Sebenarnya, dia terlihat seperti akan meledak dalam tangis dan menangis banjir kapanpun juga jika diberi aba-aba.

"Dia, dia...dia c, c, ci—" katanya gagap, tak bisa menyelesaikan kata c—itu.

"Mencium Danchou," Phinks berbaik hati membantu menyelesaikannya.

"Melakukan ITU pada Danchou! Danchou yang malang!" Nobunaga sudah menutupi wajahnya dengan kedua tangan seperti para pelayan wanita yang beradegan penuh tangis dalam opera sabun, meratap atas tragisnya kehidupan cinta mereka.

"Malang? Kurasa dia agak menikmatinya," Phinks tertawa.

"KAU!" Nobunaga meraung seperti singa yang terluka.

"Apa lagi salahku kali ini?" Bentak Sang Samurai.

"Kau ini bodoh ya? Semua keributan ini disebabkan olehmu!" Machi balik membentaknya.

"Tapi dia menyuruhku untuk pergi ke neraka!"

"Idiot. Itu yang dia katakan pada para Mammon itu ketika mereka menginterogasinya tentang kita."

Kali ini, secara mengejutkan Feitan-lah yang menjawabnya. Semua kepala menoleh kepada pria kecil itu, kaget dia bisa menjelaskannya. Nobunaga menatapnya aneh dan tak percaya. Sebelah alis mata Franklin terangkat tajam saat melihat reaksi aneh mereka semua.

"Dan tepatnya bagaimana kau bisa tahu itu, Feitan?" Phinks bertanya ingin tahu.

"Yah...," Feitan menggeser kedua kakinya untuk menyesuaikan keseimbangan tubuhnya. "Aku hanya 'menginterogasi' beberapa orang yang 'beruntung'."

"Maksudmu mereka yang masih memiliki sisa-sisa penampilan asli sebelum Danchou menggantinya secara permanen?" Phinks menyeringai dengan mengerikan.

"Terserah kau mau menyebutnya apa," Feitan mengangkat bahunya tak peduli. "Oh, dan trivia lain untuk menghiburmu : dia terus bilang 'Aku bukan Judas.' Entah apa artinya."

Shalnark dan Machi sesaat saling lirik. Judas adalah tokoh favorit Kuroro dari Injil, seringkali dia merujuk padanya, untuk alasan yang tidak—dan tak akan pernah—benar-benar mereka pahami. Lagipula bukan hal yang penting bagi mereka.

"Kenapa kau tidak beritahu kami sebelumnya?" Desak Machi.

"Aku tak mengira itu penting," penjahat kecil itu menyeringai.

"Jika kau beritahu kami lebih awal, kita tak perlu melalui semua masalah yang merepotkan ini," protes Shalnark. "Sekarang kita hanya bisa menunggu hal terburuk."

Lucian menghela napas berat dari sudut ruangan di mana dia sedang duduk dengan murung.

"Aku sudah mati dan aku akan mengalaminya sekali lagi...," Lucian memanyunkan bibirnya.

Kalimat itu hampir saja tidak jadi keluar dari mulutnya ketika teriakan mengerikan dan memekakkan telinga menggelegar melintasi tempat itu dan membuat rumah terguncang karena sebegitu kuatnya. Suaranya lebih terdengar seperti ledakan. Setiap orang di sana terlonjak kaget dan terkejut. Burung-burung dan binatang lainnya yang berdiam di hutan terdekat meninggalkan sarang mereka dengan tergesa-gesa. Setelah teriakan itu berhenti, tergantikan dengan jeritan jengkel dan kemarahan yang tenggelam dalam tawa ringan yang menemaninya. Seringai penuh arti nampak di wajah pucat vampir itu.

"Yah, setidaknya bukan hari ini..."


Sebelum maksud dari kata-kata Kuroro merasuki kepalanya, gadis itu hanya bisa menangkap sekilas gerakan samar, dan yang selanjutnya ia lihat, Kuroro sudah menggenggam rambut pirang Kurapika dan dia mengunci bibir Si Gadis Kuruta dengan bibirnya. Sungguh, itu hanya ciuman biasa, tapi tetap saja mengejutkan Kurapika. Ketika Kuroro melepaskan ciumannya, suara itu pun datang.

Teriakan melengking yang merusak seluruh tempat itu.

Dan kemudian teriakan menyakitkan gadis itu diiringi oleh ledakan tawa Kuroro (Kurapika terlalu sibuk dengan rasa malunya hingga tak menyadari kejadian tertawanya Kuroro Lucifer yang fenomenal ini).

"Aku, aku...aku melakukan itu?" Wajah Kurapika sudah semerah lobster karena malu setelah dia selesai menjerit dan berteriak. Suaranya menjadi parau kembali.

"Yah, kau mengatakan sesuatu seperti : 'Sekarang kita seri' setelahnya." Wajah Kuroro pun memerah karena tertawa.

"Se-seri?" Dia berkedip bingung.

"Kukira yang kau maksudkan adalah ciuman pertamamu." Lagi, seringai jahat itu. "Oh, seharusnya kau lihat ekspresi yang lain—"

"Yang lain?" Suaranya naik setingkat. "Jangan bilang aku melakukannya di depan mereka?"

Oh, Tuhan, mohon hindarkan aku dari rasa malu ini!

"Setiap. Orang. Dari. Mereka," dengan jahatnya dia memberitahu Kurapika. "Ditambah Lucian."

Sungguh sial. Itu saja langsung menghentikan sistem tubuhnya untuk mengatasi rasa malu dan jengah yang begitu membunuh. Tanpa bersuara, Kurapika pingsan dan jatuh ke atas tempat tidur.

"Oh tidak...," Kuroro menyeringai sendiri.

Kuroro bertanya-tanya kapan terakhir kalinya dia begitu bersenang-senang seperti sekarang. Akhir-akhir ini, semua membuatnya tertekan dan segala yang dilihatnya menjadi suram—atau setidaknya meredup. Dia menghela napas puas sambil memandangi sosok Kurapika yang tak sadarkan diri, yang wajahnya masih sangat merona.

Dia bangkit dan duduk di atas tempat tidur sementara pandangannya tertuju pada gadis itu. Perjalanan mereka mengumpulkan Mata Merah akan berakhir, cepat atau lambat.

Kuroro memicingkan matanya walau hanya sekilas saat memikirkan hal itu. Rasanya terlalu menyenangkan memiliki Kurapika di dekatnya. Dan lagi, di saat yang sama dia tahu tidak sehat bagi mereka untuk bersama terlalu lama. Semuanya menjadi di luar kendali, dan mereka sama-sama mengetahui hal itu meskipun tak pernah mengatakannya langsung. Itu merupakan kenyataan mengerikan lainnya bagi mereka; mereka bisa berbagi pikiran tanpa perlu membicarakannya. Seolah mereka begitu selaras.

Tidak. Mereka berdua sangat berbeda dengan ideologi yang sangat berbeda pula. Yang terbaik bagi mereka adalah cepat menyelesaikan perburuan Mata Merah dan pergi meninggalkan satu sama lainnya selama sisa hidup mereka.

"Kau hanya belajar tidak mengambil sesuatu untuk diberikan setelah kau kehilangan apa yang kau sayangi. Bukankah itu terlalu?" Suara Anansi sampai ke telinganya dengan lembut.

Pria itu berdiri di samping jendela yang terbuka, mengamati mereka berdua dengan rasa geli nampak di wajahnya yang terlihat suram. Namun, tatapannya tetap jahil seperti biasa. Kilatan cahaya lembut melintasi mata Kuroro yang biasanya dingin.

Meski Anansi hadir di sana, dia mengulurkan sebelah tangannya dan membelai pipi Kurapika dengan punggung jemarinya. Matanya sedikit menyipit ketika benaknya mengatakan :

Mungkin ini waktunya bagiku untuk menikmati sisa waktuku bersamamu.

"Kenapa kau ada di sini?" Dia bertanya pada Anansi dengan suara acuh tak acuh, suaranya benar-benar kontras dengan sikap tubuhnya yang lembut.

Anansi tersenyum sendiri meski Kuroro bersikap dingin padanya; Kuroro mengijinkannya melihat sisi lembut yang ia miliki saja sudah merupakan kemajuan baginya.

"Kurasa kau punya pertanyaan untukku?"

"Kau bahkan membuat penahan untuknya," Kuroro menyatakan fakta yang memang sudah jelas benar adanya, tidak begitu menjawab pertanyaan Anansi.

"Tentu saja," senyum Anansi melebar. "Dia berarti segalanya bagimu, 'kan?"

Kuroro tidak menyangkalnya—maupun berencana untuk melakukan hal seperti itu.


TBC


A/N :

Hahah, Nobunaga lucu banget di sini...beberapa kali aku sampai tertawa sendiri XDD

Oke, Langsung saja ke review chapter lalu :

Sends :

Iya ini sudah aku perhatikan dan update lebih awal kan xDv

Uzumaki Naa chan :

Pastinya akan semakin menarik walau tidak begitu mulus...hehe! Oh kalau ada yang tidak dimengerti silakan tanya aja xD

Nekomata Angel of Darkness :

Hehe, iya sih kalau aku ngeri bayangin kuku dicabut bikin ingat sama film yang aku tonton dulu D:

Tapi mudah-mudahan terobati dengan chapter ini x3

Mikyo :

Iya kan, keren kan w

bunnygirl :

Iya kemarin telat banget ya, sorry xDa

Semoga bunny menikmati chapter ini

NICKY RIMONOV :

Really? Gw jg g sabar bgt translate yang bagian itu plus yang versi rate M-nya x3

Makasih ya Gan! XDD

imappyon :

What, maraton bacanya? Kyk aku dulu waktu baca 1001 English (´∇ノ`*)ノ

Iya kan, bener kan Runandra–senpai hebat O(≧∇≦)O

Haha iya 1001 ini pengalaman pertamaku translate, n perlu strategi juga ternyata xDa

Kujo Kasuza Phantomhive :

Hehe iya, intinya Kurapika disiksa sampai g berbentuk ¬_¬

Ow tenang saja di sekuelnya nanti bakal lebih banyak action dan ada science fiction sedikit tanpa melupakan bumbu romance n humor :)

HoHo gpp baca fic dulu baru lanjut belajar xD

fadya :

Oh pantas fadya menghilang...

Sukses UN–nya ya xDv

.

Review please...^^


~KuroPika FOREVER~