DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.

GENRE :

Adventure & Romance

WARNING :

FemKura. A Bittersweet and VERY long chapter.


CHAPTER 29 : A LOOP OF INFINITY


Dalam keheningan, diam-diam dua sosok melintasi jalan kosong di sebuah kota yang tampak seperti kota mati itu. Mereka melangkah menuju ke suatu penginapan, menikmati waktu mereka. Keduanya mengenakan pakaian resmi, seolah baru saja kembali dari pesta besar. Namun salah seorang dari mereka berjalan pincang, sesekali kernyitan dan tatapan marah terlihat di wajah yang lembut itu.

"Sepatu stiletto sialan... Siapapun yang menciptakan benda terkutuk ini pasti ingin bisa menyiksa wanita secara perlahan tapi menyakitkan," dia bergumam pelan sambil terlihat dengan jelas bahwa dia meringis ketika melangkah.

Dia mengenakan gaun halter neck dari bahan satin berwarna biru gelap dengan belahan di bagian samping dari bawah gaun sepanjang lutut itu hingga mencapai setengah paha. Sarung tangan putihnya panjang hingga ke siku. Saat ia berjalan, gaun tersebut berkibas di seputaran kakinya, sedikit memperlihatkan pahanya yang seputih susu, tapi dia bisa bersikap tak peduli karena kondisi jalan kosong seperti kuburan. Kehadiran seorang pria di sampingnya pun tidak mengganggu dirinya, setidaknya dia tak perlu bersikap penuh tata krama di dekatnya–bahkan saat dia sepenuhnya sadar bahwa pria itu bisa melihat kulitnya yang nampak sepintas lalu. Meskipun bukan berarti pria itu memang akan melakukannya. Dia bisa melihatnya sepanjang hari tanpa menunjukkan reaksi apapun, lagipula si gadis tak peduli.

"Kalau kau tanya aku, penyebab penderitaanmu sekarang lebih karena kau menyiksa kakimu dengan berlari ke mana - mana dan berkelahi sambil memakai sepatu berhak tinggi itu," rekannya menanggapi dengan ringan.

Pria itu mengenakan tuxedo, dan terlihat seperti seorang pria terhormat biasa, sebagaimana pria pada umumnya, jika bukan karena kain putih yang menutupi kening dan sepasang anting bulat berwarna biru yang tak terelakkan lagi terlihatmencolok dalam kesederhanaan penampilannya. Di salah satu lengannya terdapat sebuah tempat kecil berharga yang dipegangnya dengan hati - hati. Dia menjaga pandangannya tetap lurus ke depan, bahkan tidak mencoba untuk melirikkulit rekannya yang terbuka–pikiran seperti itu bahkan tak pernah muncul di benaknya–seolah dia sudah terbiasa melihatnya.

Tatapan marah Si Gadis semakin dalam saat ia tujukan pandangannya yang penuh kebencian ke sepatu - hak - tinggi - yang - baginya - seolah - berasal - dari - dasar – neraka itu, berharap dia bisa menyingkirkannya sesegera mungkin.

"Apa aku punya pilihan lain? Dengan semua tali pada sepatu ini, aku akan terbunuh sebelum aku bisa melepaskannya," dia berdesis saat otot betisnya berkedut karena terlalu letih.

Pria itu mengangkat sebelah tangannya untuk menutupi mulut dan dagunya sambil mengingat kembali bencana penting yang berubah menjadi medan pertarungan. Dia ingat saat paling penting ketika itu, berkenaan dengan sepatu hak tinggi tersebut.


Pria itu mendengus ketika mendarat di lantai keras berkarpet. Kepalanya pun terbentur, tapi karpet itu mengalasikejatuhannya dan mengurangi dampak yang timbul karenanya maka dia hanya sedikit merasa pusing. Bahkan sebelum dia bisa banyak bergerak seperti mengangkat kepalanya dari lantai, benda berujung tajam dijejalkanke perut gendutnya, hampir melubangi perutnya hingga ke ulu hati.

Dia membuka mata hendak melihat penyerangnya, dan terkejut saat melihat seorang gadis pirang bergaun biru berdiri di atasnya dengan menakutkan. Kedua tangannya diletakkan di pinggang, dan wajahnya jelas - jelas sangat memancarkanesensi iblis.

"Sekarang, jika kau berbaik hati memberikan kunci menuju tempat harta itu padaku, mungkin aku akan menahan diri untuk tidak memusnahkanmu dengan sepatu stilleto milikku. Sepatu itu khusus dibuat untuk kesempatan seperti ini, kau tahu?"

Jika pria itu cukup terlatih dalam seni berakting dan berpenampilan, dia pasti menyadari gadis itu tidak bersungguh-sungguh dengan perkataannya dan dari auranya sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia memang bermaksud untuk membunuh. Sayangnya, secara menakjubkan Kurapika sudah belajar berakting 'jahat' karena perjalanannya bersama seorang penjahat Kelas S untuk jangka waktu yang lama.

Tak menerima jawaban apapun dari Si Pria Gemuk, tak sabar Kurapika melesakkan sepatu stilleto ke perutnya sambil menahan diri agar tidak benar-benar menusuk pria malang yang sudah ketakutan setengah mati itu. Pria tersebut mengerang dan menjerit, sebelum mulai menggeledah isi sakunya dan melemparkan kunci itu pada Kurapika.

Kurapika menangkap kunci tersebut dengan sebelah tangan dan menyeringai puas.

"Betapa bijaksananya dirimu." Pria yang mendampingnya memberikan seulas senyum yang sangat dingin.

Si Pria Gemuk bahkan semakin menciut ketika dia melihat ke dalam mata obsidian milik pria tampan itu—dingin dan tak berperasaan. Bahkan dia menangkap kesan bahwa pria itu sedikit kecewa karena si gadis tidak membunuhnya seperti ikan dengan sepatu stilleto miliknya.

Hal terakhir yang dilihatnya sebelum dia tak sadarkan diri adalah wajah si gadis yang membayangi wajahnya dengan sejenis semprotan sudah siap di tangan. Dia memberinya seulas senyum yang hampir terlihat seperti senyum permohonan maaf, sebelum menyemprotkan cairan itu langsung ke wajahnya.

"Selamat tidur."

Dan kegelapan pun menelannya sembari menghapuskan kenangan mengerikan tentang pertemuannya dengan kedua orang itu.


"Tapi kau terus berada di punggung Una selama perjalanan pulang dari mansion itu ke kota ini," pria itu mengingatkan setelah selesai menyegarkan ingatannya, dan sepertinya Si Gadis tidak begitu suka diingatkan seperti itu.

"Kau," dia berdesis sambil dengan lancang menunjuk muka pria itu, "TIDAK TAHU betapa menyakitkannya sepatu ini karena kau TAK PERNAH memakainya sebelumnya, jadi diamlah."

"Aku kaget kau bisa sebegitu protesnya tentang rasa sakit yang sepele ini sementara kau menanggung rasa sakit yang sangat menyakitkan ketika peristiwa Mammon tanpa mengeluh sedikitpun."

Degup jantung Kurapika sekejap berhenti, dia terperangah dan mulutnya langsung terkatup kencang. Meskipun dia tidak mengeluh sedikitpun mengenai siksaan yang dilakukan oleh Kelompok Mammon, tetap saja kejadian itu merupakan kenangan yang sangat mengganggu hingga Kurapika akan senang sekali melupakannya dan menghapus kejadian itu dari kenangan yang tersimpan di otaknya.

Dia langsung terdiam. Dia berusaha berjalan senormal mungkin—sebisanya—tanpa menghiraukan sensasi berdenyut menyakitkan di betis yang membuat pikirannya mati rasa. Otot-otot betisnya hampir menjerit KELELAHAN.

Langkahnya terhenti ketika suatu benda diangkat tepat ke depan mukanya. Dia berkedip. Itu kotak yang berisikan wadah sepasang Mata Merah. Kurapika melirik Kuroro penuh tanya.

"Pegang itu sebentar," Kuroro hanya berkata.

Tanpa bicara, Kurapika pun patuh mengamankan kotak itu dalam rengkuhan tangannya yang bersarung. Namun sebelum Kurapika menyadarinya, dia merasa begitu ringan saat dirinya seolah melayang. Pada detik berikutnya, suatu kenyataan merasuki benaknya; dia tengah digendong oleh Kuroro secara bridal style. Dia meliriknya lagi penuh tanya, tapi pria tersebut kembali memasang topeng tanpa ekspresi yang datar dan tak berperasaan.

Seulas senyum tipis terbentuk di wajah gadis itu.

"Kuanggap ini sebagai kompensasi karena sudah mengingatkanku tentang kenangan yang tidak menyenangkan."

"Tentu saja," terdengar jawabannya yang singkat sambil melangkah menuju ke Penginapan Prancing Pony dengan bawaan 'baru' dalam pelukannya.


Begitu mereka sampai di ambang pintu kamar yang mereka sewa (yang memiliki pintu rahasia menuju ke ruangan penyimpanan koleksi Mata Merah mereka), Kuroro menurunkan Kurapika dan Si Gadis Kuruta itu pun tak membuang waktu—selain beberapa detik yang digunakannya untuk mendorong kotak itu ke dada Kuroro, memaksa pria tersebut untuk memeganginya—melepaskan sepatu terkutuk dari neraka dan melemparkan sepatu itu sejauh mungkin. Kuroro mengamati sepatu berhak tinggi yang malang itu melayang melintasi udara dan membentur dinding di sudut kamar tidur. Sepertinya sepatu itu akan tetap di sana untuk sementara, kalau tidak mungkin untuk selamanya.

Kurapika bergegas menuju ke tempat tidur dan menghempaskan dirinya ke tepi tempat tidur seolah dia tak peduli terhadap dunia dan mulai melemaskan betisnya dari rasa berdenyut yang menyakitkan itu, juga kakinya, dari mati rasa dengan memutar pergelangan kakinya perlahan. Bahkan dia menghela napas lega.

Kuroro tersenyum geli di dalam hati, dengan hati-hati Kuroro meletakkan kotak yang dipegangnya di meja terdekat dan mulai 'melucuti' segala akesesori dari tubuhnya. Pertama dasi; yang begitu saja ia hempaskan ke meja tanpa berpikir lagi. Lalu dia membuka dua kancing teratas kemeja putihnya setelah melepaskan jas hitam terlebih dahulu dan menyampirkannya di sandaran kursi.

Di saat yang bersamaan, Kurapika mulai 'melucuti' semua aksesorisnya juga—sepasang anting, kalung, gelang, sarung tangan—yang semuanya diberikan Kuroro entah dari mana asalnya; Kurapika tak mau tahu. Sambil melipat sarung tangan itu menjadi gulungan yang rapi, bekas luka di kedua telapak tangannya menarik perhatian Si Gadis.

"Aku terkejut bekas luka ini tidak hilang," dia berkomentar, secara langsung ucapannya mengarah pada kemampuan penyembuhnya yang luar biasa yang baru saja dia ketahui.

"Mungkin karena kau tidak ingin bekas luka itu hilang," Kuroro menanggapi tanpa menoleh ke arahnya, sudah tahu bekas luka mana yang Kurapika maksudkan.

Kurapika hanya mengangkat bahunya tak peduli.

"Kurasa begitu."

Kurapika berdiri dan mulai melangkah mengelilingi kamar tanpa tujuan seperti orang yang sedang gugup, tapi sebenarnya dia mencoba membiasakan kakinya ke lantai sekali lagi setelah berjam-jam mengalami siksaan yang begitu menyakitkan dengan sepatu hak tingginya. Dia merasa seperti berjalan di awan. Kuroro mengamatinya diam-diam.

Dia perhatikan rambut pirangnya kini tumbuh panjang melewati bahu. Dia perhatikan tubuhnya yang ramping kini lebih berlekuk.

"Berapa umurmu, Kurapika?" Dia bertanya dengan sedikit melamun.

"Sebentar lagi sembilan belas tahun, sepertinya," jawab Kurapika tak peduli, masih berjalan mengelilingi kamar tanpa henti.

Kuroro mengambil satu langkah mundur, sengaja mengamati sosok Kurapika secara keseluruhan. Hampir satu setengah tahun berlalu sejak mereka terbelenggu sihir Hassamunnin, dan sepanjang waktu itu dia terus-menerus berada di sisinya, dan sebaliknya. Kurapika masih seorang remaja, dia masih tumbuh dewasa. Entah kenapa Kuroro tahu (menilai dari sikap, kepribadian dan berbagai kondisi gadis itu) bahwa Kurapika bisa dibilang terlambat berkembang untuk seorang gadis, tapi Kuroro tak peduli. Namun demikian, melihat Si Kuruta tumbuh dewasa baik secara fisik maupun mental memberinya suatu rasa senang yang aneh karena ada kelegaan juga di sana.

"Aku mandi duluan," Kurapika mengumumkan, menyadari bahwa Kuroro tengah mencermatinya secara diam-diam.

Pria itu hanya bergumam 'Hm' dengan tidak jelas untuk menunjukkan bahwa dia mendengarnya, lalu Kurapika menghilang ke dalam kamar mandi yang menyatu dengan kamar tidur mereka. Enaknya, kamar tidur dengan pintu rahasia itu kebetulan menjadi dua kamar dengan kamar mandi di dalam. Meskipun Kurapika sulit menerima "Hanya ada SATU tempat tidur di kamar ini!"(dan dijawab dengan "Tapi itu tempat tidur queen size, jadi lebih dari cukup untuk kalian berdua" dari Fino, dan Fino ditanggapi lagi oleh Kurapika dengan "bukan itu masalahnya!")

Kuroro, di lain pihak, sama sekali tak keberatan.

"Pemalu," dia sudah menggoda Kurapika dengan kata itu dulu, dan dia mendapatkan tatapan yang sangat 'cantik' darinya.

Perlahan, Kuroro duduk dan tatapannya jatuh pada kotak yang berisi Mata Merah. Dia mengambil isinya, meletakkannya di atas meja dan mengamatinya lekat-lekat. Terlihat sama seperti Mata Merah lainnya yang sudah dia kumpulkan, tapi yang satu ini sepertinya memiliki makna tertentu bagi Kuroro.

Dia tahu kenapa, dan tanpa sadar dia menggumamkan alasannya :

"Mata Merah terakhir..."


"Mata Merah terakhir...," Kurapika bergumam sendiri di kamar mandi.

Suaranya tenggelam dalam percikan air yang kencang dari pancuran yang menghantam lantai kamar mandi. Dia sudah melepaskan semua pakaiannya dan menikmati mandi dengan pancuran air hangat. Dia menunduk dan jarinya tanpa sadar menelusuri titik tertentu di dadanya di mana jantungnya berada.

Cap itu seharunya ada di sini...Pikirnya dengan sedikit gemetar saat mengingat pengalaman menakutkan dengan Kelompok Mammon.

Dia senang sekali tubuhnya—atau intisari Ishtar di dalam tubuhnya—memutuskan untuk menyembuhkan tanda cap itu. Jika tanda itu tetap ada, dia tak tahu bagaimana dirinya akan hidup. Mungkin dia akan dihantui mimpi buruk lebih sering daripada yang sudah-sudah.

Dia memandangi kedua telapak tangannya—bekas luka yang diberikan Kuroro pada pertarungan terakhir mereka sepertinya bersifat permanen. Dia mengingat kembali kata-kata yang diucapkan pria itu :

Mungkin karena kau tak mau bekas luka itu hilang.

Kurapika memejamkan matanya. Ya, itu benar. Dia tak mau bekas luka tersebut hilang. Biarkan bekas luka itu menjadi pengingat atas ketakberdayaannya di hadapan Sang Pemimpin Laba-laba dan kebodohannya yang telah membiarkan emosi menguasai akal sehatnya.

Dia sedikit ingin tahu apakah penemuan luar biasa seperti itu pernah terjadi pada Kuroro sebelumnya. Namun, mengingat bekas luka yang ada di sekujur tubuhnya, mungkin itu tak pernah terjadi. Lagipula, Kuroro tak pernah membiarkan dirinya sendiri bisa dikalahkan oleh lawan mana pun.

Setelah Kurapika selesai mandi, dia melangkah keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian lengkap dan rambut yang masih basah. Matanya langsung tertuju pada Mata Merah terakhir yang diletakkan di atas meja. Dia memicingkan matanya begitu perasaan aneh menyelimuti dirinya. Seharusnya sekarang dia merasa senang mengingat semua mata saudara sesukunya sudah terkumpul, jadi kenapa dia tidak terlihat gembira?

"Mereka semua akan tiba di sini dalam waktu dua hari," Kuroro tiba - tiba memberitahu sambil meletakkan ponsel miliknya.

Kurapika menoleh dan berkedip, tak mengerti maksud dari perkataannya.

"Para Laba - laba."

Dia pun bergumam samar, "Oh." Tanpa sadar Kurapika melihat kalender di kamar mereka, namun tiba - tiba ekspresinya berubah serius dan dia mengernyit.

"Tadi kau bilang dua hari?"

Kuroro meliriknya. Ada sesuatu yang tak biasa dalam suara gadis itu.

"Ya. Ada masalah?"

"Lihat tanggalnya."

Kuroro menaikkan sebelah alis matanya, tapi meskipun demikian dia menghampiri Kurapika dan berdiri tepat di belakangnya. Dia sedikit mencondongkan badannya ke depan sambil melihat kalender sekilas. Ketika pandangannya jatuh pada tanggal itu, suatu fakta tertentu membuat semua menjadi jelas baginya.

"Ah...," dia bergumam menegakkan tubuhnya.

Kurapika menoleh menatapnya penuh arti.

"Apa kau berpikiran sama denganku?"


Kuroro sedang mandi dan Kurapika ditinggalkan sendiri di kamar untuk merenungkan sesuatu.

Kurapika ingin tahu apakah dia harus memberitahu Fino bahwa para anggota Laba-laba sebentar lagi akan datang atau tidak, karena walau bagaimana pun juga Fino merupakan pemilik penginapan. Ia putuskan sebaiknya gadis desa itu diberitahu; jangan sampai dia ketakutan ketika sekumpulan pria dan wanita berwajah keji datang menerobos masuk ke dalam penginapan. Kurapika pun berjalan keluar kamar dan menuruni tangga.

Malam sudah larut jadi Kurapika berusaha sehening mungkin saat dia menuruni tangga. Ketika gadis itu hampir sampai di anak tangga terakhir, dia mendengar suara yang berasal dari ruang makan penginapan. Dia mengernyit.

Siapa?

Yang terpikir olehnya hanya Fino. Gadis itu masih bangun ketika mereka kembali; dia memaksakan diri menunggu mereka dengan alasan bahwa dia tak bisa mengunci pintu sebelum mereka kembali. Namun, sekarang pertanyaannya menjadi : Siapa yang sedang berbicara dengan Fino pada jam segini?

Kurapika berjingkat dan secara sembunyi - sembunyi mengintip ke ruangan yang besar itu. Dia terkejut melihat Fino sendirian. Sekilas dirinya berpikir bahwa mungkin gadis itu mabuk dan sedang bicara sendiri, tapi Kurapika tidak menangkap bau alkohol atau semacamnya–di samping itu, Fino benar - benar bukan tipe gadis peminum; dia gadis yang baik. Merasa sangat penasaran, Kurapika menjulurkan lehernya lebih jauh melihat apa yang sebenarnya sedang dilakukan gadis itu.

Dia hampir terperangah begitu melihat Fino memegangi alat tertentu dan tengah berbicara kepada alat itu.

Ponsel? Sejak kapan–

Fino adalah tipikal gadis kampung yang hidup di pedesaan terpencil. Kurapika yakin Fino tak pernah menyentuh ponsel sebelumnya, apalagi memiliki atau bahkan menggunakannya. Dia menebak, gadis polos itu mungkin baru membanjiri dirinya dengan beberapa pertanyaan konyol tentang alat itu seperti "Tombol ini untuk apa?" atau "Alat ini bisa bicara?" atau "Sihir apa yang kau gunakan untuk memakai benda yang terlihat seperti permen batangan ini?"

Tiba - tiba, suatu pikiran muncul di benaknya.

Ponsel?

Berbicara tentang ponsel, hanya satu sosok yang ada di benaknya.

Tanpa membuang waktu, Kurapika bergegas kembali ke kamarnya–dan Kuroro. Meski begitu dia masih cukup waspada untuk tidak menimbulkan suara apapun ketika kembali ke kamarnya, agar tak mengejutkan putri dari pemilik penginapan.

"Kuroro!" Dia setengah berseru begitu sampai di kamar.

Pria tersebut menoleh, sangat terkejut dan bingung. Kuroro baru saja selesai mandi dan rambutnya masih basah, dengan handuk menggantung di lehernya. Syukurlah dia sudah berpakaian lengkap dan Kurapika sangat berterimakasih untuk itu. Dia tak mau mengalami lagi adegan seperti waktu Leorio melangkah keluar dari kamar mandi dalam keadaan bertelanjang bulat. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana dia akan bereaksi nanti–dan kini dia berurusan dengan Kuroro Lucifer.

Kuroro menaikkan sebelah alis matanya ketika melihat wajah merona Kurapika dan ekspresi malu di sana.

"Ada apa?" Tanya Kuroro dengan tenang.

"Fin–" Kurapika menghentikan ucapannya.

Kuroro menaikkan kedua alis matanya.

"Fin?"

"Tidak, tidak, tidak. Maksudku–Shalnark!"

Kuroro berbalik menghadap gadis itu sepenuhnya–ucapannya sedikit tidak jelas dan sepertinya memerlukan perhatian Kuroro sepenuhnya agar dia bisa benar - benar paham.

"Shalnark?"

Kurapika memejamkan matanya kuat - kuat dan menggosok pelipisnya, jelas dia berusaha tenang tak peduli masalah gawat apapun itu yang tengah mendera pikirannya. Dia mulai meringkas banyak sekali pertanyaan di benaknya dan mulai dengan pertanyaan yang paling mudah.

"Pernahkah... Tidak. Kapan terakhir kali Shalnark datang ke sini?"

Kuroro mengernyit. Ada apa dengan pertanyaan itu?

"Aku tak yakin. Kami, para Laba - laba, tidak saling memberitahukan urusan pribadi. Kenapa kau bertanya?"

Kurapika mengernyit dan menggigit bagian bibir bawahnya, menunjukkan keraguan untuk mengucapkan pertanyaannya.

"Mungkin kebetulan kau tahu, apakah Shalnark dan Fino saling kenal dekat?"

Ah.

Kuroro tersenyum mendengarnya. Dia tahu pertanyaan Kurapika mengarah ke mana.

"Mmhmm..." Dia bergumam dengan main - main sambil melipat kedua lengannya dan sebagian besar berat tubuhnya bertumpu pada salah satu kaki. "Kebetulan aku tahu." Dia masih ingat waktu Shalnark berkomentar bahwa 'Fino adalah gadis yang baik.' "Jadi apa yang terjadi di bawah?"

Kurapika memicingkan matanya.

Aku tahu. Orangnya memang Shalnark.

Maka Kurapika pun mulai memberitahu Kuroro apa yang dilihatnya di lantai bawah mengenai Fino. Setelah Kurapika selesai dengan cerita singkatnya, alis mata Kuroro sudah naik, terlihat bingung tapi juga geli. Dia tak tahan untuk tidak merasa geli meski sejak awal dia sudah tahu ini akan terjadi.

"Seorang gadis kampung seperti Fino dengan pria yang pintar teknologi seperti Shalnark? Itu..." bibirnya berkedut menjadi senyum nakal, "...lucu sekali."

"Jangan jadikan hubungan orang lain menjadi hiburan untukmu!" Kurapika sedikit memarahinya. "Di samping itu, aku tidak menyetujui hubungan mereka!"

Kuroro memberinya tatapan yang sangat bertanya - tanya.

"Alasannya?"

"Fino gadis yang polos. Aku tak bisa membiarkannya berhubungan, apalagi berpacaran, dengan seorang penjahat seperti Shalnark."

Meskipun penampilan Shalnark kekanak - kanakan dan terkesan polos, Kurapika tahu betul, tetap saja dia anggota Kelompok Genei Ryodan yang berdarah dingin dan mampu membunuh massa dengan sempurna jika diperintahkan untuk itu.

"Kau seperti perempuan yang over protective terhadap urusan orang lain saja," dia menghela napas. "Seharusnya kau urus masalahmu sendiri."

"Yah, maaf aku jadi khawatir berlebihan begini tapi aku tak bisa menahannya," Kurapika mendengus dan berbalik.

Dia berjalan menuju ke satu - satunya pintu di kamar mereka dan berusaha membukanya, tapi yang mengejutkan, pintu itu tak bergeming sedikitpun. Hanya kemudian dia terlambat memperhatikan bayangan yang membayang di atasnya dan keberadaan satu lengan di samping kepalanya yang menekan pintu yang kokoh itu. Kurapika melirik melewati bahunya, memelototi Kuroro dengan sadis; jelas dialah yang 'mengunci' pintu dengan sebelah lengannya.

"Dan ke mana kau akan pergi, Nona?" Dia bertanya dengan suara selembut beludru.

Kurapika tersentak. Terakhir kalinya Kuroro menggunakan suara itu dan kata 'Nona', berakhir dengan lenyapnya sebagian poni Kurapika di tangan Sang Pemimpin Laba-laba (waktu itu Kuroro merapikan poninya tanpa izin). Meski waktu itu rambutnya memang perlu segera digunting. Kali ini dia ragu apa yang akan terjadi.

"Ke lantai bawah. Mendatangi Fino. Itu sudah jelas," dia mengucapkan setiap kata dengan tegas.

"Dan apa yang akan kau lakukan?" Kuroro bertanya dengan suara lembut yang sama yang membuat bulu kuduknya berdiri.

"Mengingatkannya tentang bahaya bernama 'Shalnark'," Kurapika menjawab seperti apa adanya.

"Aku yakin tindakan seperti itu tidak perlu."

"Kau tak punya hak untuk bilang begitu. Lagipula, kau bos - nya Shalnark," katanya sengit.

Sulitnya–berargumen–melawan–Kurapika mulai muncul lagi, dan Kuroro senang. Dia akan mengalami lagi perdebatan malam hari yang menyenangkan bersama gadis itu. Berdebat melawannya tak pernah membosankan.

"Itu mungkin benar, tapi apa yang membuatmu berhak memutuskan apa yang baik dan apa yang buruk bagi Fino?" Kuroro membalas dengan suara yang datar.

"Fino tidak tahu apa - apa tentang Genei Ryodan. Sudah jelas setidaknya aku harus memberi dia pemikiran secara kasar mengenai apa pekerjaan Shalnark sebenarnya. Itu tidak adil. Aku tak mau dia merasa dibohongi olehnya."

"Apa yang membuatmu mengira dia tak tahu tentang pekerjaan Shalnark?"

Kurapika pun membeku. "Dia tahu?"

"Aku tidak bilang begitu," seringai Kuroro melebar.

Kurapika merengut dalam - dalam. "Kalau begitu aku akan mencaritahu."

Kurapika mengembalikan perhatiannya ke gagang pintu dan berusaha menariknya lagi tapi pintu itu tetap tidak bergeming.

"Kuroro!" Jeritnya kesal. Kadang pria itu bisa jadi sangat menyebalkan, seperti anak - anak saja.

"Kusarankan kita lihat saja dulu bagaimana kelanjutannya," kata Kuroro tenang.

"Dan menunggu hingga hal yang paling buruk terjadi? Tidak. Aku tak mau mengambil resiko apapun. Biarkan aku menemuinya, Kuroro," dia menggeram kepada pria itu.

"Tidak."

"Lepaskan tanganmu dari pintu."

"Coba saja."

Kurapika berbalik dan memelototi Kuroro dengan tajam. Jika dia serius, dia bisa memakai kemampuan Emperor Time yang dia miliki dan dengan Nen Reinforcement - nya dia bisa dengan mudah mengalahkan Kuroro, murni dalam hal kekuatan. Tapi jika dia melakukannya, pintu akan rusak dan dia tahu Kuroro pun menyadari kenyataan itu–Kuroro tahu Kurapika tak akan bertindak sekasar itu.

Dasar iblis... Dia mengutuk di dalam hati.

Setelah nenarik napas yang sangat dalam untuk menenangkan diri sambil memejamkan matanya, Kurapika mulai memeras otak untuk menemukan solusi bagi situasi yang sulit ini. Ketika akhirnya dia buka mulut dengan solusi yang berbeda, posisi Kuroro masih tetap sama seperti beberapa menit yang lalu. Seringai lebar itu masih ada di wajahnya. Oh, sungguh Kurapika merasa gatal ingin memukul hingga melenyapkan seringai itu dari wajahnya.

"Baiklah," akhirnya dia menghembuskan napasnya. "Aku tak akan mengganggu mereka kali ini. TAPI–" Kurapika memberinya tatapan yang berbahaya. "Aku akan menginterogasi Shalnark begitu dia sampai di sini DAN sebelum itu kau tidak boleh memberitahukan maksudku padanya. Setuju?"

Kuroro menggunakan tangan yang satunya lagi untuk menutupi mulutnya–sikap tubuhnya yang khas jika sedang berpikir–dan memikirkannya kembali selama beberapa detik sebelum menganggukkan kepala.

"Setuju."

Lalu dia lepaskan pegangan tangannya dari pintu dan melangkah ke tempat tidur. Sebuah tempat tidur berukuran queen size.

Oh, bagus sekali.

Kurapika memutar kedua bola matanya. Dengan enggan ia mengakui, dia telah SANGAT terbiasa untuk tidur di tempat tidur yang sama bersama Kuroro hingga kenyataan ini membuatnya terkejut. Dia menyadarinya sebagai salah satu tanda kasih sayang, dan kasih sayang terhadap Kuroro Lucifer hanya akan membawa penderitaan bagi Kurapika nantinya.

Walaupun begitu, bahkan tanpa memberitahukan pikirannya itu selama satu setengah tahun terakhir, Kurapika naik ke atas tempat tidur dan mengambil tempat di sisi yang berlawanan. Biasanya mereka tidur dengan posisi saling memunggungi. Bagi Kurapika pribadi, itu membuatnya merasa aman.

Tanpa saling mengucapkan 'selamat tidur', keduanya terlelap dalam tidur mereka yang damai.


" Kami akan menikah."

Itulah yang diberitahukan Kuroro ketika mereka semua berkumpul di hadapan pria itu di Penginapan Prancing Pony. Namun saat itu Kurapika tak ada karena sedang membantu Fino mengerjakan sesuatu. Aula penginapan masih cukup tenang dan para tamu pun jarang karena masih pagi - pagi sekali.

Setiap anggota Laba-laba berhenti mengerjakan apapun yang tengah mereka kerjakan saat itu dan membeku. Masing - masing menahan napasnya. Nobunaga - lah yang bersuara paling keras–yang memang hanya dia seorang di ruangan itu sambil mulai tersandung dengan kakinya sendiri dan jatuh ke lantai yang terbuat dari kayu tersebut.

"Ulangi lagi?" Phinks berusaha bertanya, tapi suaranya lebih terdengar seperti suara mencicit seekor tikus yang tergencet.

"Kami akan menikah," dengan baik hati Kuroro mengulanginya, melafalkan setiap kata dan menekankan kata terakhir dengan sengaja.

Kali ini, ucapannya mendapatkan reaksi yang memuaskan seperti yang ia duga sebelumnya–setiap orang dari mereka terperangah dan mata mereka terbelalak, seolah bisa keluar dari kantungnya kapan saja.

Di waktu yang bersamaan, Kurapika masuk dengan gayanya yang biasa, tak tahu apapun tentang situasi 'damai sebelum badai datang' yang tengah dialami para anggota Laba-laba saat itu. Semua mata tertuju padanya dan dia langsung terpaku dalam langkahnya. Dia mendongak dan memperhatikan tatapan aneh para anggota Laba-laba padanya. Dia mengernyit pada mereka, dengan sedikit curiga dan berhati - hati.

Nobunaga masih berada di lantai...memulihkan dirinya dari rasa kaget itu, dan cukup dilupakan oleh rekan - rekannya sesama anggota Laba-laba.

"Apa?" Tanya Kurapika.

"Apakah itu benar?" Akhirnya Shalnark angkat bicara, suaranya gemetar karena gugup dan juga gembira pada waktu yang bersamaan.

Kernyitan di dahi Kurapika semakin dalam.

"Apa yang kau bicarakan?"

"Kau akan menikah dengan Danchou?" Phinks bertanya dengan mata terbelalak lebar.

Mata Kurapika pun terbelalak hingga ukuran maksimum, sebelum dia berbalik menghadap Kuroro dan memberinya tatapan mematikan. Meskipun Kuroro tetap tidak terpengaruh.

"KAU MEMBERITAHU MEREKA?"

Suara terhenyak keras terdengar dari para anggota Laba-laba. Nobunaga hampir pingsan lagi, wajahnya sangat pucat. Jeritan jengkel Kurapika menegaskan pengumuman Kuroro tadi mengenai pernikahan mereka.

Kemudian, keseluruhan tindakan terjadi pada waktu yang bersamaan.

"SELAMAT!"

"APA–? TIDAK MUNGKIN! Kau pasti bercanda!"

"Apa kau bercanda, Danchou?"

"Aku sudah tahu! Aku bisa melihat itu akan terjadi!"

"Seharusnya kau memberitahu kami lebih awal, Danchou."

"Wow..."

"Kapan pestanya?"

"Sejak kapan kalian memutuskan untuk menikah?"

"Cukup lama juga hingga akhirnya kalian sampai ke tahap ini."

"Pesta!"

Sepuluh reaksi yang berbeda dari sepuluh orang yang juga berbeda secara bersamaan–bahkan Coltopi dan Bonolenof ikut serta dalam 'sepuluh reaksi' itu. Itu sangat jarang terjadi. Sepertinya berita tersebut begitu tak terduga hingga dua orang anggota Laba-laba yang tampak bisu itu memutuskan untuk angkat bicara setelah sekian lama.

Jelas Kurapika kewalahan oleh berbagai reaksi yang diterimanya sementara dia hanya bisa berdiri dengan terkaget - kaget, tapi Kuroro hanya bersikap tenang dan terkendali seolah dia sudah mengantisipasi penerimaan memalukan ini sejak awal sekali. Tanpa bicara dia mengangkat tangannya dan ruangan itu pun langsung hening.

"Satu - satu," katanya singkat.

Dan semuanya mulai bicara secara bersamaan lagi.

Kuroro memicingkan matanya menjadi lirikan yang berbahaya, dan ruangan itu sekali lagi menjadi hening.

"Aku dulu!" Nobunaga berkata sambil dengan susah payah berdiri dan berjalan menghampiri Danchou-nya, rahang terkatup rapat dengan tabah namun matanya jelas memperlihatkan rasa takut yang ada di dalam dirinya.

"Ya, Nobu?" Tanya Kuroro santai.

"Katakan padaku bahwa ini hanya sebuah lelucon yang memuakkan," ucapnya, dan menambahkan, "Kumohon?"

"Sayangnya," Kuroro tersenyum dengan cara yang hampir terlalu ramah–yang menimbulkan rasa merinding menjalar turun ke punggung Sang Samurai–dan mengulurkan tangannya untuk mengangkat tangan Kurapika sambil mengangkat tangannya yang satu lagi. Dia perlihatkan pada mereka, kedua cincin yang hampir sama persis yang mereka pakai di jari manis masing - masing. "Ini bukan lelucon."

Kurapika merengut saat Kuroro melakukan ini dan memalingkan wajahnya, tapi dia tidak menarik tangannya dari genggaman pria itu.

Lalu Nobunaga benar - benar pingsan.

Dan tak ada yang peduli untuk menangkapnya saat jatuh.

"Sejak kapan kalian berdua bersama, Danchou?" Machi maju selangkah, mengambil giliran untuk menanyai pasangan yang merupakan calon pengantin baru itu.

Kuroro dan Kurapika saling bertukar pandang sejenak.

"Sejak kapan, Kurapika?"

Si Gadis hanya mengangkat bahu dengan cuek. "Aku tak ingat. Bahkan aku tidak mencatat tanggalnya."

Suara bergumam yang terdengar berisik dalam diskusi panas mengenai 'bagaimana' dan 'kapan' muncul di antara para anggota Laba-laba. Kurapika hanya memutar kedua bola matanya dan mengumumkan akan kembali ke kamar. Dia cepat - cepat pamit, dengan sedikit terlalu tergesa - gesa, dan segera diikuti oleh Kuroro. Sesampainya di tangga, dia sudah setengah berlari. Sesampainya di kamar, cepat - cepat dia duduk di tempat tidur sementara dengan tenang Kuroro menutup pintu di belakangnya.

Tak bisa menahannya lagi, Kurapika mengeluarkan tawanya yang masih sedikit ditahan dengan mengatupkan rahang sebisa mungkin; yang segera saja berubah menjadi tawa histeris. Bahkan Kuroro ikut tertawa saat mengingat kembali ekspresi langka di wajah para anggota Laba-laba.

"Itu–" Kurapika mulai bicara dengan suara bergetar, masih belum stabil dari kegembiraannya yang teramat sangat. "Adalah lelucon April Mop terbaik yang pernah kulakukan."

Lalu dia tertawa lagi, bahkan sampai mengeluarkan air mata.

"Aku terkejut kau lebih dari hanya sekedar bersedia untuk mengikuti rencanaku."

"Apa ada yang salah?" Kurapika bertanya sambil menghapus air mata dari wajahnya. "Lagipula sebanding dengan akting - nya."

"Sama sekali tidak ada yang salah kok," Kuroro terkekeh.

Di dalam hati, Kuroro merasa senang dengan keberhasilannya meski dia tahu gadis itu mungkin tidak menyadarinya. Ibaratnya, dia sudah membunuh dua burung sekaligus dengan satu batu saja–sambil melakukan lelucon April Mop yang begitu menakjubkan dan meyakinkan kepada para anak buahnya sendiri, juga cukup mengalihkan perhatian Kurapika dengan rencana yang rumit dan menghasilkan keributan agar dia lupa menginterogasi Shalnark mengenai 'hubungan–atau–entah–apa–namanya' di antara dirinya dan Fino. Kuroro baru menyelamatkan pemuda itu dari siksaan permanen di tangan Si Kuruta.

Seharusnya dia sangat berterimakasih padaku, pikirnya sekilas.

Namun, ada satu kesalahan dalam rencana mereka : tidak memberitahu para anggota Laba-laba bahwa yang mereka lakukan tadi hanyalah lelucon April Mop.


"Kuruta."

Si Kuruta itu; yang sekarang ini sedang membaca koran, mendongak dan sejujurnya dia kaget melihat seorang samurai berdiri di hadapannya. Secara terang - terangan raut wajahnya langsung berubah waspada. Dia tak melihat ada anggota Laba-laba lainnya di dekat mereka. Sekarang apa yang ingin dilakukan samurai yang kadang gila dan berbahaya ini pada Kurapika?

"Ya?" Dia menanggapi dengan dingin.

Nobunaga menaikkan sebelah alis matanya.

"Kita bersikap biasa saja, ya?"

Kurapika mengernyit.

"Jika kau di sini hanya untuk menyulut pertengkaran, kau membuang waktumu. Pergilah, Nobunaga." Kurapika mendengus singkat dan kembali mengalihkan perhatiannya pada koran yang tadi sedang ia baca. "Aku sedang tidak mood."

Nobunaga menggeram keras, tapi tak mengatakan apapun sambil menyeret sebuah kursi dan duduk tepat di hadapan Kurapika. Kurapika mengangkat wajahnya lagi dan memandangnya penuh tanya. Nobunaga tak berkata apa - apa tapi ekspresinya menunjukkan pergulatan yang tengah ia rasakan di dalam dirinya. Dia melipat kedua lengan di depan dada dan menunduk menatap meja.

Begitu polos dan bersih.

"Aku sudah berpikir sejak tadi pagi..."

Memangnya aku peduli pada apa yang kau pikirkan? Kurapika ingin membalas ucapannya, namun dengan sopan tetap ia simpan dalam hati. Sekarang baru saja malam hari di April Mop yang terkenal itu. Kurapika ingin mempersiapkan diri kalau - kalau Nobunaga berencana untuk balas dendam.

"Kau tidak membocorkan sedikit pun informasi tentang kami kepada Kelompok Mammon."

"Tidak, aku tidak membocorkannya," Kurapika mengangkat bahunya tak peduli. Sepertinya, setengah mendengarkan dengan setengah hati sudah cukup bagi samurai yang ada di hadapannya. Tampaknya ocehan Nobunaga tidak meminta banyak perhatian darinya.

Pandangan Nobunaga masih tertuju pada titik tertentu di atas meja.

"Tentang kau dan Danchou..."

Sebelah alis mata Kurapika pun naik. Entah kenapa, dia merasa hal buruk tengah datang menghampiri.

"Jadi kau bagian dari kami...Benar?" Nobunaga bertanya dengan suara pelan, seolah takut menanyakannya keras - keras.

"Tidak," jawab Kurapika singkat.

"Tapi kau akan menikah dengan Danchou!" Katanya.

Kurapika mendongak untuk yang ketiga kalinya dari koran yang ia baca sejak Nobunaga muncul dan memberinya tatapan yang sangat mengerikan. Nobunaga menciut di kursinya saat melihat tatapan itu. Tatapan tersebut memberi kesan bahwa dia baru saja menggumamkan sesuatu yang begitu aneh dan sangat bodoh. Ini membuatnya merasa sadar diri dan defensif.

"Kalian berdua bilang begitu tadi pagi!"

"Oh, Tuhan...," Kurapika bergumam hampir tak terdengar, tapi di dalam hati dia tidak tahu apakah seharusnya merasa senang karena ternyata Nobunaga mudah tertipu atau merasa jengkel dan malu.

"Sekarang tanggal berapa?" Tanya Kurapika pelan.

"Hah? Apa yang–"

"Jawab saja," ia menyela.

Nobunaga merengut, tapi meskipun demikian dia tetap menjawab, "Tanggal Satu April. Memang kenapa?"

Kurapika menepuk dahinya dengan tidak terlalu keras.

"Kenapa? Apa masalahmu?" Nobunaga benar - benar bingung. Dia mulai berpikir bahwa dirinya melewatkan informasi yang sangat penting di sini.

"Kau pernah mendengar tentang Hari April Mop?"

"Duh, tentu saja," Nobunaga memutar kedua bola matanya. "Jadi apa–" Dia berhenti bicara. "Hei tunggu sebentar..."

Kurapika pun nyengir.

"Kau mengerti?"

"JADI ITU HANYA LELUCON?" Nobunaga meraung, mengagetkan beberapa orang tamu yang tengah berada di ruang makan.

"Pelankan suaramu!" Kurapika berdesis sambil melirik khawatir ke tamu - tamu yang ketakutan itu.

"SIALAN! Dan memikirkan bahwa aku sudah menyiapkan diri untuk menerimanya!"

Kali ini Kurapika yang benar - benar kaget.

"Kau menerimanya?" Dia bertanya dengan raut wajah yang seolah menunjukkan aku–melihat–Nobunaga–berkepala–dua.

"I–Iya! Sejujurnya, uh...Sialan, ya aku menerimanya! Yang Lain juga! Brengsek! Sialan! Kalian gila!"

Ketika Nobunaga secepat kilat keluar dari dalam penginapan dengan wajah merah padam, Kurapika tak bisa berkata - kata dibuatnya. Nobunaga, bukan yang lainnya, menerima kenyataan (yang tidak benar) bahwa dirinya dan Kuroro akan menikah? Wow, sungguh merupakan sesuatu yang sangat berharga untuk diketahui. Namun seterkejut apapun Kurapika, dia tahu akibat negatif dari ucapan Nobunaga barusan.

Yang lainnya juga begitu!

"Oh, tidak, tidak, tidak..."

Tiba - tiba Kurapika berdiri dari kursinya dan tergesa - gesa bagai orang kesurupan mencari anggota Laba - laba yang lainnya–mungkin ini pertama kalinya dia pernah mencari anggota Ryodan tanpa bermaksud untuk membunuh mereka. Semua tipu daya ini salah perhitungan dan balik menyerang–Kurapika Kuruta sedang panik membetulkan semuanya segera.

Saat dia mendapati Shalnark–calon korbannya yang pertama–dia bergegas menghampirinya. Semua hal mengenai menginterogasi Shalnark tentang hubungannya (atau semacam itulah) dengan Fino ia lempar jauh - jauh.

"Shalnark!"

Pemuda tersebut berbalik, melihat ke arahnya ketika mendengar namanya dipanggil. Shalnark ketakutan dan wajahnya terlihat pucat.

"Aku perlu bicara kepada–" Kurapika sudah sangat geram, tapi dia tak pernah berhasil menyelesaikan kalimatnya ketika sesuatu yang berukuran besar menabraknya, membuatnya sesak.

"KURAPIKA!" Ternyata itu Fino, dan ekspresinya begitu berseri-seri bahagia dan terlihat bersinar seperti wajah Sang Buddha.

Kurapika; yang masih tidak fokus dan pusing akibat tabrakan itu berusaha keras mengenali kegembiraan di dalam suara dan ekspresi Fino.

"KALIAN AKAN MENIKAH!"

Kalimat itu menarik perhatian Kurapika sepenuhnya. Wajahnya langsung pucat namun dia masih belum bisa bersuara. Kemudian Fino memekik gembira dan memegangi kedua tangan Si Gadis Kuruta, melompat-lompat dalam kebahagiaan yang teramat sangat dan melihat cincin bermata onyx Kurapika (yang sebenarnya adalah milik Kuroro dan Kurapika lupa untuk menukarkannya kembali) sambil berkata :

"Aku tahu ini akan terjadi! Jadi ini cincin pertunanganmu, ya? Sungguh aku tidak perhatian. Seharusnya aku tahu sejak lama!"

"T-Tidak. Fino, bukan begitu. Kau salah pa—"

"Oh, ini harus dirayakan! Benar?" Fino menoleh kepada Shalnark, yang sudah pulih dari ketakutannya tadi saat dipanggil Kurapika dan menyeringai nakal.

"Tentu saja! Aku akan memanggil yang lainnya!"

"TIDAK! SHALNARK, KAU TETAP DI SINI DAN JANGAN LAKUKAN APAPUN!"

Tapi teriakan Kurapika tak didengar. Dalam waktu kurang dari semenit, semua anggota Laba-laba sudah berkumpul (Kurapika tak tahu bagaimana Shalnark berhasil memanggil mereka dengan begitu efisien) untuk merayakan—kecuali Nobunaga yang masih merenungkan tentang hara-kiri karena sudah melakukan kesalahan yang memalukan, tidak menyadari lelucon April Mop itu—dan Kuroro sedang pergi untuk suatu 'urusan' yang tidak ia jelaskan. Kurapika pun tidak menanyakan itu urusan apa, tapi sekarang dia sangat menduga bahwa perubahan situasi ini sudah diperhitungkan Kuroro.

"Dasar iblis licik!" Kurapika mengambil ponsel barunya—ponsel yang ia miliki sebelumnya dirampas Kelompok Mammon dan dihancurkan—dan mulai menekan sederet nomor ketika tiba-tiba ponsel itu direbut dari tangannya.

"Tidak. Kau tidak boleh minta tolong," Phinks menyeringai lebar; seperti seringai Kucing Cheshire yang terlihat di wajahnya yang tak beralis mata, sambil menyelipkan ponsel Kurapika ke dalam sakunya.

Tiba-tiba, Kurapika mendapati dirinya sudah dikelilingi para anggota Laba-laba dan Si Antusias Fino yang berbahaya. Dia belum pernah berada dalam situasi yang membahayakan seperti ini sebelumnya. Ini lebih dari sekedar mengancam nyawa. Ini mengancam akal sehat dan bagi Kurapika, kehilangan akal sehat lebih buruk dari kehilangan nyawa.

"AYO KITA BERPESTA!"


"...Apakah aku ingin tahu apa yang terjadi sementara aku pergi tadi?"

Penginapan Prancing Ponny terlihat begitu baik-baik saja dari luar, dan begitu pula dengan interiornya. Namun, semuanya berubah ketika Kuroro melangkah masuk ke kamarnya. Yah, itu bukan perubahan yang keterlaluan memang; dalam kenyataannya, hanya ada sedikit perubahan di kamar itu.

Satu, dia memperhatikan beberapa artikel yang ia duga merupakan sisa-sisa pesta atau semacam—confetti. Dua, dia memperhatikan bahwa kamar itu sudah dibereskan dengan cara yang begitu tergesa-gesa (hal itu tidak begitu terlihat di mata orang biasa tapi dia adalah Kuroro Lucifer dan tentu saja dia memperhatikan hasil buatan tangan para anak buahnya sendiri). Tiga, Kurapika meringkuk seperti bola di atas tempat tidur bersama Fino yang tengah merawatnya.

Benar. Suatu bencana telah terjadi. Tak salah lagi.

"Oh, kau tak ingin tahu tapi kau harus tahu apa yang telah dilakukan para anak buahmu padaku...," Kurapika menjawab dengan suara seperti orang yang sedang sakit.

Aku tahu pasti akan begini.

"Apa yang terjadi, Fino?" Dia menanyai putri penjaga penginapan, yang tampak di matanya seperti merasa bersalah.

"Umm...Yah..." Fino tak bisa menatap mata Kuroro, jadi dia meceritakan semuanya kepada Kuroro sambil terus menatap seprai yang tiba-tiba saja tampak begitu menarik perhatian.

Singkat cerita, mereka melangsungkan pesta di kamar itu dan beberapa orang di antara mereka telah meminumkan champagne—yang diberikan Fino dan itulah alasan dari rasa bersalahnya—secara paksa kepada Kurapika. Meskipun dia adalah Si Pengguna Rantai, Kurapika tak bisa bertindak apa-apa melawan sekelompok anggota Laba-laba yang sudah memutuskan untuk membuatnya menelan minuman yang mencelakakan itu. Beberapa orang di antaranya benar-benar tak tahu bahwa Kurapika sangat tidak tahan dengan minuman beralkohol dan wine. Shalnark terlalu telat memberitahu mereka informasi penting itu. Kurapika langsung sakit begitu champagne tersebut masuk ke dalam ususnya. Dengan tergesa-gesa, semua Laba-laba undur diri sambil membersihkan semua bukti tapi sayangnya mereka melewatkan beberapa serpihan confetti.

"Begitu," Kuroro bergumam ketika Kurapika sudah selesai menceritakan pesta yang kacau itu.

"Sungguh, Kuroro…," Kurapika mulai bicara lagi, dengan suara yang sepertinya sangat kesakitan. "Kalau kau tidak memberitahu semua anggota Laba-laba terkutukmu itu…" dia mengerang, "…untuk membiarkanku sendiri…mungkin akhirnya aku akan membuat sumpah yang baru membalaskan dendamku atas semua kejadian merepotkan ini…dan atas semua penderitaan yang mereka akibatkan padaku!"

"Aku akan mengingatnya," Kuroro berkata sambil terkekeh pelan.

Kurapika menoleh untuk memelototinya.

"Kenapa aku punya perasaan bahwa kau terdengar sangat senang melihatku dalam kondisi yang penuh kemalangan ini?" Tuduhnya.

"Apakah aku terdengar seperti itu?" Kuroro menampakkan ekspresi seolah tak percaya.

Kurapika memicingkan matanya.

"Kau dari mana?"

"Kau tak perlu tahu. Itu urusan pribadi," kata pria itu dengan nada suara tak peduli, menandakan dirinya tak akan bicara lebih banyak dari itu tentang 'urusan pribadi'-nya.

Kurapika menangkap pesan itu dengan jelas dan karena itulah dia tidak memaksa lebih jauh. Dengan suara bergumam kesal "Hn," dia mengakhiri masalah tersebut. Di mata Fino, sebagai orang ketiga yang berada di kamar itu, semua yang dilihatnya adalah pasangan serasi yang tahu bagaimana cara mereka memperlakukan satu sama lainnya. Tiba-tiba merasa bahwa mungkin kehadirannya tak diinginkan di kamar itu, dengan malu Fino pun undur diri dari pandangan mereka dan bergegas pergi dari sana.

Kuroro mengamati sosok Kurapika yang sedang meringkuk. Sejujurnya, dia tidak mengira semuanya akan jadi begini, tapi enaknya semua itu akan memberi keuntungan baginya.

"Melihat bagaimana semuanya terjadi, kurasa kita perlu merubah rencana."

Sebuah suara erangan pun lolos dari mulut Kurapika.

"Kuserahkan masalah itu padamu. Hanya berikan aku sedikit waktu untuk memulihkan diri dari rasa pusing yang konyol ini…"

Tanpa bicara Kuroro mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada salah seorang Laba-laba. Dalam beberapa menit, dengan setia mereka semua sudah berkumpul di hadapan pria itu—dan semuanya tak bisa menatap matanya.

"Tak ada yang ingin kukatakan tentang apa yang sudah terjadi di kamar ini," dengan murah hatinya ia berkata.

Ekspresi lega terlihat di semua wajah para anggota Laba-laba, kecuali Nobunaga yang berkedip bingung dan bertanya ke sekelilingnya : "Apa yang sudah terjadi?" Meski tak ada yang menjawabnya.

"Aku akan memberikan penjelasan singkat mengenai tugas kalian."

Begitu kalimat tersebut diucapkan, semua langsung memperhatikan. Kurapika; sekalipun dia masih sakit, diam-diam mengamati mereka ketika Kuroro memberikan perintahnya.

"Shalnark, Machi, Franklin, Phinks, Shizuku dan Nobunaga. Kalian berenam bawalah masing-masing enam pasang Mata Merah ("Kenapa aku?" Keluar dari mulut Nobunaga). Sisanya bawa tiga pasang Mata Merah dan bawa ke Desa Kuruta. Bentuk dua atau tiga kelompok. Ambil rute dan jenis transportasi apapun menurut pilihan kalian. Batas waktunya tiga hari, dimulai besok. Kalian bisa pergi hari ini atau besok. Ada pertanyaan?"

Suasana hening. Perintah itu jelas dan sederhana.

"Bagus. Misi dilaksanakan."

Tanpa banyak cakap mereka mengambil Mata Merah sejumlah yang diperintahkan dan berpencar, sekali lagi meninggalkan Kuroro bersama Kurapika.

"Kenapa kau membuat mereka membawa semua Mata Merah? Kau bos yang suka memperbudak anak buahnya," gumam Kurapika.

"Aku akan repot denganmu. Sepertinya kau tidak akan pulih tepat waktu."

"Tepat waktu? Apa yang kau bicarakan?" Suaranya sedikit lemah akibat sakit kepala yang ia alami karena mabuk. "Tunggu…Pikirkanlah, kau hanya memberi mereka waktu selama tiga hari untuk sampai ke Gunung Rukuso. Bukankah waktunya terlalu sempit?"

"Tidak. Mereka akan sampai tepat waktu," Kuroro menanggapi dengan percaya diri. Dia mengetahui kemampuan para anak buahnya dengan cukup baik hingga bisa memberikan suatu penilaian yang tak akan mereka tentang.

"Kenapa terburu-buru?" Kurapika bertanya lagi, tak bisa memahami rencana apa yang mungkin dimiliki Sang Pemimpin Laba-laba.

Kuroro hanya memberinya seulas senyum nakal.

"Itu tugasmu untuk mencaritahu."


"Sekarang, apa kau akan memberitahuku ada apa dengan semua ketergesaan ini?" Kurapika mendesak pria yang memeganginya saat dia tersandung di tanah yang keras.

Dia pusing dan mengalami disorientasi. Tiga hari penuh menunggangi kuda dalam kecepatan yang gila! Mereka jarang berhenti, hanya berhenti untuk istirahat sebentar sekedar bersantap dan tidur, sebelum kembali pergi dengan kecepatan yang sama gilanya. Pagi hari setelah Hari April Mop, Kurapika terbangun mendapati dirinya berada di pelukan Kuroro, mengenakan pakaian khas sukunya (dengan baik hati Kuroro memberitahu bahwa Fino yang telah menggantikan pakaiannya) dan mereka sudah menunggangi Una. Kurapika ketakutan, tapi sakit kepalanya belum juga mereda sehingga dia tak bisa protes. Dia hanya bisa tetap berada dalam pelukan pria itu dengan tak berdaya sambil memerangi sakitnya.

Kuroro pun tidak membantu sama sekali. Mengerikan, dia terus diam sepanjang perjalanan, hanya bicara saat memeriksa Una untuk memastikan apakah dia masih sanggup untuk berlari kencang—seolah hidupmu tergantung pada hal itu. Kurapika takjub, Si Unicorn sama sekali tidak kelelahan. Bahkan dia pun tak berkeringat setetes pun.

"Sejujurnya…," Kuroro mulai bicara. Dia melepaskan Kurapika dari pelukannya dan mengamatinya sejenak, sebelum dia bicara lagi, "Aku tak tahu apakah harus terkejut atau tidak saat mengetahui kau sudah melupakan hari ulang tahunmu."

Kurapika berkedip.

"Apa?"

Kuroro tidak menanggapinya; malah, dia melangkah pergi ke desa yang sudah hancur itu, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku. Sekali lagi Kurapika memaksakan dirinya untuk fokus, dengan cepat dia segera menyusul pria itu dan berjalan beberapa langkah di belakangnya. Mereka berjalan dalam diam sambil Kuroro memimpin di depan.

Ketika akhirnya Sang Pemimpin Laba-laba berhenti berjalan, Kurapika terkejut saat mendapati mereka berdua berdiri di hadapan pemakaman yang dibuat ala kadarnya, yang ia buat hampir enam tahun yang lalu. Pemakaman itu masih terlihat seperti dulu; seolah alam tak kuasa menyentuhnya.

Kurapika maju selangkah dengan gemetar sambil mengamati pemakaman yang sedikit berantakan itu. Ketika dia melihat ke samping, dia mendapati Kuroro tengah mengamati wajahnya. Wajah pria itu tanpa ekspresi dan tak menunjukkan perasaan atau emosinya sama sekali; jika dia memang memilikinya saat itu. Dari raut wajah gadis itu, Kuroro tahu dia menginginkan penjelasan.

"Kurasa mungkin kau ingin membakar Mata Merah dekat di mana kau membakar jasadnya. Jadi aku meminta para anak buahku untuk menemukan pemakaman ini," dia menoleh melihat pemakaman itu. "Benar-benar dibuat oleh tangan anak kecil."

"Ini…," Suara Kurapika gemetar. Dia menelan ludah sekali sebelum bertanya lagi dalam suara berbisik, "Kenapa?"

"Kurasa dulu aku sudah memberitahumu bahwa dari waktu ke waktu Genei Ryodan melakukan pekerjaan amal juga 'kan?" Dia menawarkan.

"Y-Ya tapi—" Kurapika tak tahu harus berkata apa.

"Jangan terlalu merisaukan hal itu, Kurapika. Lakukan saja apa yang perlu kau lakukan. Selama yang kau butuhkan."

Dia meletakkan sebelah tangannya di bahu gadis itu, suatu tindakan yang menentramkan, lalu melepaskannya dan mulai melangkah pergi. Refleks, Kurapika merasakan panik saat mendengar suara langkah Kuroro yang menjauhinya. Dia membalikkan badan menghadap pria itu dan tanpa berpikir lebih jauh ia berteriak :

"TUNGGU!"

Kuroro memang menghentikan langkahnya. Dia menoleh dari balik bahunya dan melihat Si Gadis Kuruta kaget dengan tindakannya sendiri. Tampaknya dia melakukan hal itu berdasarkan naluri semata; dia tampaknya tak tahu harus berkata apa.

"Aku akan menunggumu hingga kau selesai," dia meyakinkannya, tahu apa alasan gadis itu memanggilnya.

Setelah berkata demikian, Kuroro berbalik dan menghilang di antara rimbunnya pepohonan di hutan yang mengelilingi desa sepi itu.

Kurapika ditinggal sendiri untuk melakukan apapun yang ia inginkan atas Mata Merah. Dia melihat sekitarnya dan memperhatikan ada sebuah sekop diletakkan di dekat sana, tak diragukan lagi salah seorang anggota Laba-laba yang melakukannya. Tebakannya adalah Shalnark—tampaknya dia yang paling peka di antara yang lainnya. Dia memandangi Mata Merah; yang tampak seperti menatap kosong ke arahnya. Dia menatap pemakaman itu; sedih dan kesepian.

Perlahan, dia melangkah menghampiri Mata Merah dan berlutut di hadapan tempat penyimpanan yang paling besar di antara yang lainnya : yang berisikan kepala kakaknya. Dia memeluknya dan berkata dengan suara pelan.

"Aniki, pria itu gila. Bayangkan, ini kado ulang tahunku darinya…"

Itu adalah kado ulang tahun yang pertama kali ia terima setelah enam tahun yang panjang.

Kurapika pun tak bisa menahan diri untuk tidak menangis.


Ketika akhirnya Kurapika menemukan Kuroro, hari sudah senja. Langit bermandikan warna jingga, dengan awan menggantung rendah di sekitar horizon. Pria itu berdiri di tepi bukit yang menghadap ke lembah. Dia berdiri menghadap lembah, punggungnya menghadap Kurapika ketika dalam diam gadis itu menghampirinya.

Kurapika hanya sesaat berdiri di sampingnya sebelum dia duduk di tanah berumput di dekat Kuroro. Lalu dia memeluk kedua lututnya saat tiupan angin malam yang dingin melewati bukit. Kuroro menunduk dan mengamatinya.

Matanya berwarna merah seperti darah; tanda ia telah menangis deras. Kuroro tak terkejut melihat hal itu. Itu wajar; lagipula Kurapika adalah seorang manusia—manusia yang dibesarkan dalam lingkungan sosial yang normal tidak seperti dirinya. Kedua tangannya sedikit kapalan dan kotor begitu pula dengan baju khas sukunya, tak diragukan lagi itu karena menggali dan berurusan dengan kotoran ketika dia membakar Mata Merah.

Kuroro lalu mengalihkan pandangannya dari gadis itu dan mengamati pemandangan dengan tanpa sadar sekali lagi. Setelah hening selama beberapa menit, akhirnya dia angkat bicara :

"Sekarang yang belum dilakukan adalah meangakhiri kesepakatan."

"…Ya…," gumam Kurapika dengan setengah hati.

Sebenarnya kalau mau jujur, Kuroro pernah menginginkan Kurapika bergabung dengan Genei Ryodan jadi dia bisa membuat gadis itu berada tetap di dekatnya dan menghiburnya dengan perdebatan mereka yang konyol dan sepele, TAPI dia TAK AKAN melakukannya. Saat kurapika sibuk dengan urusan Mata Merah-nya, Kuroro menggunakan waktunya untuk merenungkan apa yang ingin dia lakukan selanjutnya. Sejauh yang Kurapika perhatikan, Kuroro tahu pasti bahwa pria itu ingin Kurapika tak berurusan dengan pertemuan aneh apapun yang telah mereka alami. Dia ingin gadis itu kembali ke hidup normalnya, tak berurusan dengan dirinya dan segala hal yang tak wajar di sekitarnya.

Sebesar bagaimana Kuroro begitu menikmati kebersamaannya dengan Kurapika, dia tahu semua itu tak akan berjalan dengan lancar. Perbedaan di antara mereka terlalu jauh. Mereka hidup di dunia yang berbeda. Seperti yang pernah dia sebutkan sebelumnya, akhir-akhir ini semuanya jadi di luar kendali.

Singkatnya, dia ingin gadis itu keluar dari hidupnya demi kebaikan mereka berdua.

Tapi di saat yang bersamaan, sebagian dirinya menginginkan gadis itu sepenuhnya untuk dirinya saja.

Akhirnya, kelogisan dan keegoisan di dalam diri pria itulah yang menang.

"Apa yang akan kaulakukan selanjutnya?"

"Kenapa kau peduli?" Kurapika bertanya, suaranya datar dan tak menunjukkan emosi apapun.

Kuroro mengangkat bahunya. "Sepertinya karena kebiasaan saja."

Kurapika tersenyum tipis.

"Sejujurnya, aku tidak tahu. Aku tak tahu akan melakukan apa…"

Bahkan suara Kurapika pun terdengar tersesat dan tanpa tujuan, karena hidupnya nanti tanpa tujuan balas dendam yang ia miliki sebelumnya. Dia mengingat kembali janjinya kepada Ishtar untuk 'menjaga' Kuroro, tapi dia tahu itu tak akan terjadi. Entah bagaimana, dia tahu yang terbaik bagi mereka adalah untuk saling menjauhkan diri satu sama lain; dan dia tahu bahwa Kuroro pun merasakan hal yang sama.

"Ada sesuatu yang kau pikirkan?" Tiba-tiba Kuroro bertanya.

Kurapika tetap diam begitu lama hingga Kuroro pikir dia tak akan menjawab, ketika tiba-tiba Kurapika angkat bicara : "…Janjiku pada Ishtar…"

"Anggap saja itu sudah selesai."

Tanggapannya datang begitu cepat dan tegas hingga membuat Kurapika terkejut.

"Tapi—"

"Kau sudah melakukan bagianmu, Kurapika. Kau tak berhutang apapun lagi padanya," kata Kuroro dengan suara yang mengisyaratkan bahwa dia menghendaki topik itu untuk diakhiri.

Kurapika tahu bahwa Kuroro tak akan berdebat lebih jauh mengenai keputusannya. Kurapika memutuskan untuk tidak mempersulit. Dia pun terdiam.

Pikirannya berkelana ke masa lalu. Dia mengingat saat-saat ketika dirinya bersama kedua orang tuanya, ketika mereka memarahinya karena bertindak ceroboh, dan ketika mereka membanjirinya dengan cinta yang tak bersyarat. Dia mengingat saat membahagiakan yang ia habiskan bersama kakaknya. Dia ingat saat menyenangkan bersama teman-temannya. Dia ingat latihan-latihannya yang keras bersama Sang Guru. Dia ingat hidupnya yang tak mempedulikan apapun selama masa tenang itu.

Tapi semuanya hancur berkeping-keping oleh Genei Ryodan; para Laba-laba.

Dan di sana, berdiri di sampingnya di desanya yang telah hancur, adalah pemimpin mereka.

Dan dialah orang yang sama yang telah berulangkali menyelamatkan hidupnya dan membantunya mengumpulkan SEMUA Mata Merah dalam kurang dari dua tahun—suatu prestasi yang akan memakan waktu lebih dari satu dekade untuk diselesaikan jika dia melakukannya sendiri.

Kurapika menggelengkan kepalanya perlahan untuk menyingkirkan dirinya dari kepahitan itu. Dia sudah cukup memiliki hidup yang pahit. Meski dia tak tahan untuk tidak membayangkan bagaimana jadinya jika Genei Ryodan tidak membantai sukunya.

"Jika pembantaian itu tidak terjadi…" Dia mendengar dirinya sendiri bergumam pelan. Suaranya cukup keras untuk sampai di telinga Kuroro, membuat pria itu berbalik menatapnya dengan matanya yang gelap.

"Jika itu tidak terjadi…" Dia mengulangi sambil memandang jauh, "Aku akan tumbuh sebagai gadis yang sangat normal…Mungkin aku akan menjadi gadis kampung seperti Fino."

Dia tersenyum saat mengingat Fino.

"Aku akan tumbuh mengabaikan semua masalah dan konflik di dunia ini, hidup bebas di desa terpencil yang dikelilingi hutan rimbun di tengah gunung," dia melanjutkan. "Seorang remaja biasa dengan kemampuan bertarung pada tingkat rata-rata. Tumbuh besar, belajar dengan teman-teman, bersenang-senang, jatuh cinta, punya pacar, menikah," dia berhenti sesaat dan sedikit memicingkan matanya, member kesan mengantuk di wajahnya, "Punya anak, merawat keluargaku sendiri."

"Hidup yang sangat normal," Kuroro menyimpulkan.

"Ya, teramat sangat normal," Kurapika mengangguk menegaskan hal itu.

"Tapi itu tak pernah terjadi," kata Kuroro pelan.

Kurapika menggelengkan kepalanya lagi dalam diam, dan pandanganya jatuh pada cincin bermata onyx yang melingkari jari manisnya—sebuah cincin untuk melindungi dirinya dari intisari Ishtar yang ada di dalam darahnya. Dia berkata dengan suara berbisik yang terdengar parau :

"Itu tak akan pernah terjadi."

Keheningan kembali memenuhi suasana di antara mereka. Kuroro memalingkan wajahnya, mengamati langit yang tadinya bercorak warna jingga kemerahan oleh matahari yang terbenam di horizon. Cahaya merah itu memancarkan bayangan sedih pada Si Gadis Kuruta yang sedang duduk di atas rumput di sebuah bukit kecil.

Adegan yang cocok untuk meratap dan menangis, komentar Kuroro sinis dengan kesan hampir seperti bosan. Meski itu bukan karena dia tak menghormati Si Kuruta.

"Sepertinya…" Kurapika bicara lagi.

Tampaknya dia benar-benar sedang dalam mood untuk menyendiri. Menghormati gadis itu, Kuroro mendengarkannya dan memperlihatkan bahwa dia memang memperhatikan. Lagipula, jika dia merasa putus asa, Kuroro-lah satu-satunya orang yang patut disalahkan—dia yang telah merencanakan pembantaian terhadap sukunya.

"…hidupku ini, sungguh berliku-liku…"

Dengan kalimat itu keluar dari mulutnya, tanpa sadar Kurapika meraba cincin kenang-kenangan dari Ishtar di jarinya. Dengan sabar Kuroro menunggu hingga dia menyelesaikan kalimatnya.

"Aku pergi dari desa sebagai laki-laki, memutuskan untuk mengumpulkan mata saudara-saudaraku dan memburu setiap anggota Genei Ryodan. Sekarang aku kembali sebagai diriku yang asli, seorang perempuan, dengan semua Mata Merah yang telah terkumpul, ditemani tak lain tak bukan oleh Pemimpin Genei Ryodan…"

Sungguh ironis, pikir Kuroro sejenak.

Dia tak begitu yakin bagaimana harus menanggapi kata-kata Kurapika. Kata-katanya memiliki implikasi yang samar, atau tidak memiliki arti sama sekali. Kata-katanya lebih terdengar seperti pikiran sembarang tanpa tujuan. Apa maksudnya? Menyingkirkan hal itu sebagai bentuk ekspresi dari kondisi Kurapika yang sedang melankolis, Kuroro menoleh untuk mengamatinya sejenak, sebelum bertanya :

"Apa kau masih ingin membalas dendam?"

Kurapika tetap diam sejenak, tak memberinya jawaban atau apapun, sebelum akhirnya dia menggelengkan kepalanya perlahan. Lalu dia menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya dan memeluk kedua kakinya erat-erat—seolah dia sedang kedinginan. Kuroro menatapnya sedikit lebih lama, sebelum dia berubah posisi hingga sekarang dia berlutut tepat di hadapan gadis itu. Dia menyelipkan sebelah tangannya ke dalam celah di antara kepalanya yang tertunduk dan lengannya, memegangi dagunya dan mengangkat kepalanya hingga tatapan mereka bertemu.

Gadis itu tak memberikan perlawanan apapun melawan sikap tubuh dan sentuhan Kuroro.

Kuroro mencari-cari ke dalam mata biru bagai samudera itu untuk sesuatu yang tak bisa Kurapika ungkapkan dengan tepat melalui kata-kata, sementara dia sendiri hanya balik menatap ke dalam mata obsidiannya yang gelap tak berdasar.

"Ingat waktu aku bilang padamu bahwa kau bebas untuk mendapatkan pembalasanmu?"

Kurapika berkedip mendengar pertanyaan Kuroro yang tak terduga. Adegan tersebut berkelebat di di depan matanya seolah itu baru saja terjadi kemarin, percakapan yang akan ia ingat selamanya :

Mereka sedang melintasi hutan, mencari peradaban terdekat setelah mereka mengunjungi kembali masa lalu melalui api Poenix.

"Kurapika, ketika kita selesai dengan semua hal tentang…belenggu gaib ini, kau bebas untuk meminta pembalasanmu dariku."

"Apa?"

"Itu hakmu. Lagipula, mungkin aku juga sudah melakukan hal yang sama, jika aku menjadi dirimu. Tapi ketika saat itu tiba, jangan kira aku akan mudah menyerah padamu."

"Hmph! Silakan saja."

"Aku ingat," dia menjawab tanpa mengalihkan tatapannya dari Kuroro.

Kuroro tersenyum, tampak senang Kurapika mengingatnya meski gadis itu bertanya-tanya kenapa hal itu membuatnya senang.

"Janji itu masih berlaku," Kuroro berkata.

Apakah itu suatu janji? Kurapika bertanya-tanya dalam hati.

Saat Kurapika merenungkannya perlahan, Kuroro menikmati waktunya dengan meraih sebelah tangan Kurapika dengan tangan yang satunya lagi dan meraba jari manis gadis itu. Dia tidak melepaskan cincin bermata onyx-nya dari sana. Kuroro tidak tahu apakah Kurapika melakukannya dengan maksud tertentu dan dengan mudahnya lupa untuk menukar kembali cincin itu atau tidak, tapi itu bukan masalah. Nyatanya, Kuroro pun tidak melepaskan cincin perak bermata aquamarine milik gadis itu dari jari manisnya.

Entah bagaimana, tanpa kata keduanya memutuskan untuk membiarkan cincin-cincin itu di mana mereka berada sekarang.

Keduanya adalah penahan, jadi bukan masalah penting jika kami menukar cincin masing-masing, pikir Kuroro.

"Saat aku melangkah keluar dari desa ini, kesepakatan akan diakhiri dan berlaku," dia berkata sambil memusatkan pandangannya pada cincin itu.

Kurapika mendongak dan menatapnya penuh tanya.

Tanpa memberi penjelasan lebih, Kuroro membungkuk dan mencium cincin yang ada di jari Kurapika sekilas. Mata Kurapika membelalak. Lalu Kuroro mengangkat kepalanya dan mencondongkan badannya ke depan untuk memberikan sebuah kecupan yang sangat lembut di pipinya. Kurapika masih tetap diam seperti patung.

Ketika Kuroro sedikit menjauh dari depan wajahnya, pria itu bisa melihat kebingungan dan keheranan di ekspresi wajah Kurapika, tapi dia tidak melihat sedikitpun kemarahan di sana. Pria itu memberinya seulas senyum tipis yang tulus.

"Selamat tinggal."

Lalu dia berdiri, membiarkan tangan Kurapika terlepas dari tangannya, dan melangkah pergi. Kurapika tak bisa berkata-kata dan dengan bodohnya dia hanya bisa menatap punggung pria itu yang terlihats emakin menjauh.

Pria itu tak pernah menoleh ke belakang hingga benar-benar lenyap dari pandangan Kurapika.

Pria itu tak pernah menunggu tanggapan Kurapika.


Kurapika berjongkok di depan pemakaman yang dibuat dengan kasar dan sudah berusia sekitar enam tahun. Senja sudah tiba dan desa itu benar-benar gelap tanpa cahaya apapun untuk bisa melihat dengan jelas walau hanya sekilas cahaya reemang-remang. Namun Kurapika tak bermasalah dengan kegelapan.

"Kurasa ini yang namanya 'membalikkan sehelai daun yang baru dan memulai kembali di halaman yang kosong', ya?" Dia bergumam pelan hampir tak terdengar, "…Aniki…"

Hanya angin yang menjawabnya dengan tiupan dan derunya yang tanpa kata. Helaian rambut pirangnya menari bersama angin. Setelah hening sebentar, Kurapika berdiri dan menarik napas dalam. Waktunya untuk memulai hidup baru, tapi sebuah pertanyaan yang mengganggu terus mengusik benaknya dan Kuroro tak lagi ada di sana untuk memberinya masukan dengan jawaban yang ia miliki yang biasanya diberikan pria itu kepadanya dengan raut wajah khasnya yang angkuh.

Kurapika memicingkan matanya dan menggelengkan kepalanya pelan seolah bermaksud untuk mengenyahkan semua pikiran mengenai pria berambut hitam itu. Mereka sudah mengucapkan selamat tinggal—atau tepatnya Kuroro sudah mengucapkannya—dan mereka sudah setuju akan saling meninggalkan satu sama lainnya sendiri selamanya. Kurapika akan memegang kata-katanya, karena dia tahu Kuroro pun akan melakukan hal yang sama.

Sekarang kembali pada pertanyaan yang sudah mengganggunya tentang memulai hidup yang baru, Kurapika mendongak menatap langit senja dan menyuarakan pikirannya :

"Bagaimana caranya?"


TBC


A/N :

Heheh, masa dua minggu yang cukup sulit dan penuh intrik =v=

Okay, langsung ke review chapter lalu saja ya :

fadya :

Sama-sama xD

Sends :

Sangat cepat? O,o bunuch ajach dech gw ==

Cherry Saraichi :

Wah makasih, salam kenal ya^^

NIKKY RIMONOV :

BWAHAHAHAHAHAHA XDD *ikut guling2 salting*

Chapter yang kamu bilang itu chapter depan loh x3

alucard4869 :

Terima kasih…tak apa kok, kamu selalu baca ceritaku saja aku udah bahagia banget x3

Aku ganti pen name karena sekedar pengen lihat namaku di belakang judul fic dengan nama berbeda…hee xDa

Tentu saja aku akan terus membuat KuroPika! Apa jadinya KuroPika kalau pembuatan karya fic KuroPika tidak kita galakkan?! *berapi-api*

Ah…tentang feel ya? Uh, itu pujian yang 'sesuatu' banget! Terima kasihhhh….! XD *hug*

Reviewmu membangkitkan semangatku :)

Kujo Kasuza Phantomhive :

Tentu akan aku terjemahkan juga, ijinnya sudah dapat dari bulan Desember xDa

Yup, ada rate M-nya walaupun tidak se-rate M karya rate M-ku…*smirk*

Natsu Hiru Chan :

Oh tak apa Natsu, aku juga kadang suka lupa xDa

Yang penting Natsu baca itu cukup :3

bunnygirl :

Sekuelnya itu yang abis ini 'Angel's Prayer', 30 chapter :D

Setelah ini, '1001 Nights' tinggal dua chapter lagi kok…

Iya, sama-sama ya…makasih udah review Cx

Mikyo :

Yup, chapter humor xD

imappyon :

Gyaaaa makasih untuk dukunganmu, juga support supaya aku tetap bikin fic sendiri…pastinya xD masih terus bikin kok, walau kini melambat daripada dulu (dulu aktif banget…hiks) karena berbagai hal.

*pelukcium balik*

P.S : tolong ya itu KHDS-nya, KuroPika moment Dx hehe

Uzumaki Naachan :

Oh benarkah? Haha sorry, rencananya setelah tamat mau aku rapikan dari pertama tapi ga bisa aku publish ulang sih…untuk yang berminat mungkin nanti aku kirimi 'edisi lengkap' yang udah direvisi. Tapi ini baru rencana loh, rencana xD

Shina Kurta :

Hweee…Maaf aku gagal memenuhi permohonanmu D'x

Mudah-mudahan ntar ga terlambat lagi. Jujur untuk chapter depan aku kerjain di komputer kantor kalau senggang, tapi seminggu terakhir ini waktu senggang itu ga ada karena pekerjaan semakin bertubi-tubi! but I'll do my best ^^'

Yukichi-chan :

Iya, begitulah! Yang aku tonton itu memang yang 1999.

fynlicht :

HoHoHoHo terima kasih…Runandra-Senpai memang hebat x3

Wow cepatnya…tapi aku juga dulu gitu sih waktu pertama baca cerita ini xDa

Salam kenal juga :D

.

Rencananya aku ingin publish Chapter 30 berbarengan dengan one shot rate M-nya. Doakan ya, semoga bisa terwujud xD

.

Review please…^^


~KuroPika FOREVER~