DISCLAIMER :
Togashiro-sensei
Runandra (untuk cerita aslinya)
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.
GENRE :
Adventure & Romance
WARNING :
FemKura. Again, it's a bittersweet and MUCH MORE LONGER chapter than before.
CHAPTER 30 : THE 1001ST NIGHT
"Hei, Gadis. Bagaimana kalau kita kencan, bersantai malam ini?"
Tidak.
"Aku akan mentraktirmu makan malam yang enak. Kau tertarik?"
Tak mungkin itu jadi alasan untuk mengajakku pergi.
"Kau tahu? Kurasa kita tercipta untuk satu sama lain."
Benarkah? Kurasa aku tercipta untuk membuatmu menderita jadi menyingkirlah sebelum aku melakukannya.
"Hei, Kurapika. Aku menyukaimu. Maukah kau jadi pacarku?"
Tidak, maaf ya. Jawabanku tetap sama hingga jutaan tahun kemudian.
Sejujurnya, dia tak tahu kenapa para lelaki kerapkali mendekatinya. Dia tidak cantik; dia hanya gadis biasa dengan rambut pirang halus dan kulit mulus. Ada banyak gadis dan wanita lain di luar sana yang berambut pirang dan berkulit mulus yang milyaran kali lebih cantik darinya, jadi kenapa harus dia? Dan lagi, dia BERDADA RATA—Oh, Demi Tuhan—dan tubuhnya kurang berlekuk, yang biasanya diidamkan banyak lelaki dari seorang perempuan.
Kurapika mulai merasa lelah dengan hal ini—tidak, dia benar-benar muak. Entah sudah berapa kali dia berganti pekerjaan sejak pertama kali dirinya melamar pekerjaan yang layak. Alasannya selalu sama : pertama dia dilecehkan oleh atasan dan rekan kerjanya, dan kemudian akhirnya dia menghajar mereka hingga pingsan begitu amarahnya sudah meledak, dan biasanya akhirnya dia berhenti atas kehendaknya sendiri atau dipecat dengan alasan kekerasan.
Atau itu memang kepribadiannya? Jika itu masalahnya, semua lelaki di sini benar-benar gila melebihi perkiraannya. Sikap paling bagus yang dia tunjukkan di hadapan atasan dan rekan kerjanya adalah sikap seorang rekan kerja yang dingin, acuh tak acuh. Tidak lebih. Apakah mereka tertarik padanya karena sikap acuh tak acuhnya itu? Orang gila...
"Kurapika~~"
Oh, Demi Tuhan. Ini dia hal lainnya yang sangat mengesalkan... Kurapika meratap di dalam hati, namun di luar dia menjaga sikapnya tetap terkendali dan tenang.
"Ya, Bos? Ada yang bisa kubantu?"
Atasannya menyeringai lebar, mengira mood gadis itu sedang bagus—di mana hal ini sebenarnya salah besar. Dia mendekat padanya, dan dia bergeser lebih menjauh sebisanya.
"Oh, itu pasti. Kau bisa membantu dengan menemaniku ke Bar Moonlight malam ini."
Sudut bibir Kurapika berkedut.
"Kau tahu yang mana barnya, 'kan? Tempatnya dekat dari kantor," katanya sambil mengulurkan tangan untuk merangkul Kurapika namun gadis itu menghindar dengan cekatan.
Mengira Kurapika tidak senang dengan tawarannya—yang sekali lagi merupakan asumsi yang salah—dia memikirkan kembali strateginya.
"Aku akan mentraktirmu kali ini, bagaimana? Tidak buruk, 'kan? bagaimana menurutmu?"
Lagi, dia mengulurkan sebelah tangannya yang gemuk untuk menyentuh bahu Kurapika, tapi dengan kemampuan sebagai seorang Hunter profesional, Kurapika menghindarinya dan menghadap bos berkumis itu sepenuhnya dengan seutas pembuluh darah sudah berdenyut-denyut di dahinya. Si Manajer Gemuk dari bidang tempatnya bekerja itu sudah berulangkali mengajaknya keluar dengan berbagai macam alasan hingga dia bertanya-tanya kenapa lelaki tersebut tidak menggunakan sel-sel otaknya yang dia gunakan untuk menggoda perempuan, dia gunakan untuk pekerjaannya saja? Andai dia lebih menggunakan otaknya untuk pekerjaan daripada tanpa tahu malu merayu wanita yang sama-sama tak punya otak, perusahaan akan lebih punya prospek daripada sekarang.
"Aw, ayolah, Kurapika. Kau susah sekali...," dia mencoba lagi sambil menampakkan senyum yang seharusnya hangat dan ramah; yang malah berubah menjadi seringai anjing laut dengan kumisnya yang tebal.
Tak tahan lagi, Kurapika mengangkat tangannya yang mengenakan cincin dan melambaikannya di hadapan lelaki berwajah mesum itu. Kurapika akan memberinya alasan terbaik yang biasa dia gunakan untuk melepaskan diri dari masalah yang berkaitan dengan para lelaki.
"Maaf, tapi aku sudah menikah."
Bos anjing lautnya terlihat kaget saat melihat cincin bermata onyx miliknya.
Bagus! Akhirnya..., pikir Kurapika sambil menghela napas lega.
"Jadi kalau boleh aku—" dia berkata sembari berbalik hendak melangkah pergi, tapi terhenti saat sebelah tangan yang kasar meraih pergelangan tangannya.
Marah, Kurapika menyentakkan kepalanya untuk memelototi lelaki itu, tapi dia menjadi lebih kaget lagi mendapati bos anjing laut gemuknya itu menyeringai kegirangan.
"Aw, ayolah...," dia mulai berusaha lagi. "Kau masih terlihat sangaaaat muda. Lagipula, suamimu sedang tak ada di sini, 'kan?"
Mata Kurapika langsung terbelalak, ukurannya melebar secara eksponen.
Dia berusaha mengajakku berselingkuh atau apa?
Kurapika memutuskan, merupakan suatu kesalahan yang sangat fatal memberitahu atasannya bahwa 'suaminya' sedang pergi ke luar negeri untuk perjalanan bisnis. Dan lagi, karena 'suaminya' sebenarnya tak nyata, dia tak bisa memberikan alasan lain yang meyakinkan untuk ketidakhadirannya secara terus-menerus.
Bos anjing laut itu mulai menarik Kurapika ke arahnya, dan cukup sampai di situ. Alarm yang berada di dalam diri Kurapika untuk 'gangguan terhadap privasi' berbunyi dan dia mengepalkan tangannya menjadi sebuah kepalan kuat dan hampir mendaratkannya ke wajah si pria berkumis ketika tangan seseorang menghentikannya.
Dia berbalik, dan sangat lega melihat 'penyelamat'-nya.
"Maaf, Tuan. Tapi sepertinya dia benar-benar tak bisa memenuhi undanganmu malam ini," Leorio berkata dengan sopan sambil melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Kurapika, berjaga-jaga kalau-kalau gadis itu masih merasa gatal ingin meninju si pria anjing laut hingga tak sadarkan diri.
Atasan Kurapika tercengang melihat tinggi badan Leorio yang mengesankan. Berdiri berdampingan, Leorio dan lelaki itu terlihat seperti angka 'sepuluh'—1 untuk Leorio, 0 untuk bos Kurapika yang gemuk.
"Kau tahu, dia harus menghadiri acara saudara sepupunya dan mereka cukup merepotkan," Leorio melanjutkan ucapannya, dan memegangi dagunya. "Yah, mungkin dia akan mempertimbangkannya jika kau bersedia menjaga mereka sendirian."
"Y-Yah aku bisa menugaskan seseorang untuk menjaga mereka!" Celoteh lelaki itu penuh harap.
"Oh, tak bisa. Dia sangat sayang pada keponakan-keponakannya itu jadi dia tak akan mempercayakan mereka pada orang asing. Benar, Kurapika?" Leorio memberinya seulas senyum penuh arti.
"Tentu saja!" Kurapika berpura-pura jengkel.
"Kalau begitu, jika kau ijinkan. Aku harus mengantarnya pergi ke tempat para keponakannya."
Setelah itu, Leorio mengajak Kurapika pergi dengan menarik bahunya dan membimbingnya keluar dari gedung, meninggalkan bos anjing laut Kurapika tercengang sendirian. Setelah mereka sudah berada di luar, Kurapika menghela napas lega.
"Kau menyelamatkanku lagi, Leorio. Terima kasih," katanya dengan suara yang lelah namun tulus.
"Kapan saja," Leorio sedikit mengangkat bahunya. "Tapi ini sudah yang ke—berapa? Kesepuluh kalinya bos itu berusaha melecehkanmu. Aku terkejut kau masih tahan bekerja padanya."
"Bayarannya sepadan dengan berurusan bersama orang mesum itu," hanya itu yang Kurapika katakan.
"Tapi Kurapika...bagaimana jika sesuatu terjadi padamu ketika aku tak ada? Atau ketika Killua maupun Gon tidak berada di dekatmu untuk melepaskanmu dari masalah seperti itu? Kau yakin, kau baik-baik saja? Kau tidak membuat dirimu sendiri menjadi stress, bukan? Kau 'kan sudah tahu, kau mudah stress, Kurapika. Mungkin kau perlu liburan?"
Seutas pembuluh darah berkedut di kening Kurapika.
"Oh, Leorio, DEMI TUHAN! Berhentilah mengomeliku seperti perempuan yang terlalu mengkhawatirkan urusan orang lain saja! Aku benar-benar mampu menjaga diriku sendiri. Jangan perlakukan aku seperti orang yang rapuh."
Beberapa meter jauhnya dari tempat Leorio dan Kurapika berada, dua orang remaja diam-diam mengamati semua keributan itu. Tampak seringai nakal di wajah Killua, sementara Gon terlihat bersimpati pada Leorio.
"Cih, O-san itu tidak pernah belajar dari pengalaman, ya? Kurapika bukan pacarnya dan dia terus saja menempel padanya seperti bangkai," Killua menahan tawa gelinya.
"Killua, kau jahat sekali. Leorio hanya perhatian kepada Kurapika, seperti kita mengkhawatirkannya."
Killua memutar kedua bola matanya mendengar tanggapan Gon yang polos. Kapan dia akan tumbuh sebagai lelaki dewasa yang selayaknya?
"Tapi Kurapika, aku hanya perhatian padamu! Kau seorang ga—"
"LALU KENAPA?!" Kurapika berteriak padanya, hampir merusak gendang telinga Leorio. "Lalu kenapa kalau aku seorang gadis? Kemampuan bertarung dan pengalaman yang aku miliki lebih banyak daripada kau, Leorio! Kau tahu apa yang sudah kulalui dalam beberapa tahun ke belakang!"
Protesnya itu membuat Leorio memutuskan untuk mengambil tindakan yang bijak, yaitu menutup mulutnya rapat-rapat.
"Inilah kenapa aku tidak suka menjadi seorang gadis...Semua orang memperlakukanku seolah aku sangat lemah...," gumam Kurapika sengit sambil melangkah pergi, amarahnya bergolak.
"Hihh! Kuroro tak pernah memperlakukanku seperti i—"
Dia menghentikan ocehan kemarahannya. Kenapa dia membandingkan situasi saat ini dengan situasi ketika dia masih bepergian bersama Si Pemimpin Laba-laba? Kenapa dia membandingkan Leorio dengan Kuroro? Kurapika merasa bersalah karenanya. Leorio tidak pantas dibandingkan dengan Kuroro—itu hanya akan menempatkan dokter tersebut—berada dalam posisi yang menyedihkan. Mereka berasal dari dunia berbeda, tentu saja tak adil membandingkan keduanya.
Tapi tetap saja...
Kurapika menghela napas lelah.
"Sepertinya aku memang perlu liburan."
"Senritsu? Aku sudah ada di kota. Kau di mana?"
[Aku sedang menuju ke sana. Aku akan segera sampai di kota.] Terdengar jawaban dari telepon di seberang sana.
"Baiklah. Aku akan bertemu denganmu di penginapan. Kau tahu penginapan yang mana, 'kan?"
[Penginapan Prancing Pony, benar? Yang waktu itu kau ceritakan padaku?]
"Ya, yang itu."
Penginapan Prancing Pony. Itu tempat yang sudah dianggap Kurapika sebagai rumahnya yang baru. Selama hampir dua tahun dia pulang pergi dari dan ke tempat ini bersama Kuroro sambil mengumpulkan Mata Merah dari seluruh dunia. Ketika misi tersebut selesai, Kurapika mendapati dirinya kembali ke penginapan itu. tempat Fino-lah yang pertama kali muncul di benaknya ketika dia merenung di mana dirinya akan tinggal untuk saat ini.
Oh, teman-temannya menawarinya untuk tinggal bersama mereka, tapi dia sudah menolak tawaran itu dengan tegas. Lagipula, mereka semua LAKI-LAKI, dan dia perempuan. Tak peduli seberapa dekat hubungan mereka, akan bijaksana bagi seorang gadis untuk tidak tinggal di apartemen yang dipenuhi laki-laki (yah, sebenarnya seorang pemuda yang baru saja lepas dari masa remajanya dan dua orang remaja lelaki—pastinya tidak cukup disebut pria).
Fino, tentu saja, lebih dari sekedar merasa gembira—bahkan sangat gembira—untuk menerima Kurapika di tempat tinggalnya. Kedua orangtuanya pun tidak keberatan. Jadi dia diperbolehkan tinggal di penginapan dengan gratis selama dia membantupekerjaan rumah tangga saat dirinya sedang tidak bekerja ("Kau bekerja untuk makananmu, oke?" Sang pengurus penginapan dengan ramah berkata padanya,tanpa bermaksud menyinggung).
[Ngomong-ngomong, Kurapika. Apa kau yakin, ingin ikut denganku mencari bagian-bagian 'Sonata Kegelapan'?]
Kurapika tertawa. "Aku yakin sekali, Senritsu. Anggap saja ini latihan untukku. Kalau aku tidak berlatih, kemampuanku akan berkarat dan mengingat situasiku saat ini, aku perlu berada dalam kondisi terbaikku sepanjang waktu."
Melihat dari situasi, yang Kurapika maksudkan adalah statusnya sebagai keturunan terakhir Suku Kuruta yang masih hidup.
Yah, aku sungguh perlu berlatih. Dengan kemampuan yang kumiliki sekarang, aku tak akan bertahan lama di dunia ini, ucapnya dalam hati dengan nada suara yang kritis.
Kurapika menatap bekas luka di kedua tangannya;kenang-kenangan dari pertarungannya yang gila melawan Kuroro Lucifer. Setiap kali dia menatap bekas luka itu, dia diingatkan lagi dan lagi tentang betapa tak berdaya dirinya di hadapan Kuroro waktu itu. Yah, pria itu dibesarkan seorang medusa dan tumbuh di Ryuusegai sejak dia sudah bisa mengingat, sementara Kurapika menghabiskan sebagian besar masa kanak-kanaknya dalam pelukan aman desanya yang tersembuyi yang terletak di gunung. Seperti yang diharapkan.
Alasan, alasan…Aku hanya terlalu lemah saja. Kurapika mengepalkan sebelah tangannya dan memicingkan matanya. Khususnya sekarang setelah aku kehilangan—
Pikirannya terusik saat dia memperhatikan sekerumunan orang berkumpul di pintu masuk Penginapan Prancing Ponny. Orang-orang terlihat gugup dan gelisah, dan hal itu membuat Kurapika mengernyit. Orang-orang yang mengatur kota pada umumnya tenang dan santai. Apa yang terjadi hingga membuat mereka begitu gelisah dan gugup?
[Kurapika? Ada apa?]
Kurapika melupakan Senritsu begitu saja saat pandangannya jatuh pada beberapa orang pria berbaju hitam yang berdiri dalam posisi siaga di pintu masuk penginapan. Dia mengenali seragam itu—mafia.
Dengan ponselnya yang masih dalam kondisi terhubung dan masih ia pegang, dia membaur dengan kerumunan itu dan bertanya ke sekelilingnya apa yang terjadi. Orang-orang kota memberitahu bahwa sekelompok pria telah menyerbu masuk ke dalam penginapan dan langsung menendang semua orang keluar dari bangunan itu kecuali pemilik penginapan beserta keluarganya.
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari dalam. Tanpa berpikir lebih jauh—keselamatan Fino dan keluarganya adalah prioritas utama dalam benak Kurapika—dia mendobrak masuk ke dalam penginapan setelah mengalahkan para penjaga di luar dengan mudah. Namun saat dia melangkah masuk ke dalam penginapan, dia merasakan perasaan yang bercampur-aduk merasukinya.
Dia merasa ngeri, kaget, terkejut, DAN dengan menakutkan, ia pun tenang di saat yang sama.
Kurapika tahu bahwa cepat atau lambat Nostrad akan menemukannya.
"Nostrad," kata Kurapika dengan suara sedingin es sambil menatap mantan majikannya; yang tengah duduk dengan nyaman di salah satu kursi di aula penginapan, dengan tatapan yang dingin.
"Ah, Kurapika. Sudah lama rasanya…," kata Nostrad santai dengan kedua lengan direntangkan bagai sayap.
Gadis itu cepat-cepat melirik ke sekitarnya. Dua orang pria menyandera penjaga penginapan dan isterinya; dengan senjata diarahkan ke kepala mereka. Anjing Nostrad lainnya menyandera Fino; lengannya yang kuat melingkar di lehernya yang lemah dan benar-benar bisa mematahkan leher kurus itu dengan satu putaran saja. Sepucuk senapan diarahkan ke pelipisnya, hidung senapan itu menyentuh pelipisnya. Penjaga penginapan dan isterinya terlihat lebih mempedulikan Fino daripada diri mereka sendiri, dan wajah Fino sudah pasti pucat seperti kertas. Kurapika bisa melihat kelegaan begitu besar di wajahnya saat Fino melihat Kurapika, namun Kurapika meringis saat dengan menyedihkan dia menyadari sempitnya kesempatan untuk lolos dari masalah ini tanpa cedera.
"Apa yang kau inginkan?" Dia bertanya kepada Nostrad dengan nada suara yang datar.
Nostrad menaikkan sebelah alis matanya.
"Ayolah, Kurapika. Kau orang yang pintar. Pasti kau tahu tujuanku datang ke sini hanya untuk bertemu denganmu?"
"Hanya untuk bertemu denganku?" Bentak Kurapika. "Kau di sini untuk membawaku sebagai keturunan terakhir Suku Kuruta yang masih hidup."
"Iya, 'kan? Aku tahu kau sudah mengetahuinya. Sekarang, kembali ke masalahnya. Kau bersedia ikut dengan kami dan mereka akan terhindar dari penderitaan. Sederhana, 'kan?"
"Apa yang akan kaulakukan pada Kurapika?" Fino bertanya dengan suara gemetar, pelan sementara matanya dipenuhi rasa takut.
"Apa, ya? Yah, mungkin aku bisa menyimpannya sebagai artefak berharga di mansion-ku. Atau mungkin..." Nostrad menyeringai jahat. "Bahkan yang lebih bagus lagi, aku bisa melelangnya."
Kurapika mendengus dengan merendahkan.
"Kau betul-betul butuh uang? Sayang sekali Neon telah kehilangan kemampuannya. Tapi aku merasa bahagia untuknya. Setidaknya sekarang dia tak akan lagi menjadi alat untuk ayahnya yang tak punya otak supaya bisa naik ke status social yang lebih tinggi," Kurapika mendesis.
Sosok Nostrad yang sebelumnya terkendali berubah menjadi marah dan dia memukul meja dan langsung berdiri dengan emosi. Kurapika mengutuk dirinya sendiri karena kehilangan sikap tenangnya dan menimbulkan reaksi yangsalah dari pria itu. Walau bagaimanapun juga, tak bisa disangkal lagi dia berada dalam posisi yang tidak menguntungkan—dan sekarang dia baru saja membuatnya jadi lebih buruk.
"Kau sendiri yang meminta!" Nostrad berteriak. "Bunuh gadis i—"
"TUNGGU!" Kurapika berseru. "Aku akan ikut denganmu tapi jangan kau lukai seorang pun dari mereka," dia menggeram dengan sengit.
Nostrad menyeringai dengan penuh kemenangan atas menyerahnya Kurapika. Tampak bahunya menjadi rileks dan dia kembali bersikap terkendali.
"Betapa bijaksana dan baiknya dirimu, Kurapika. Anak-anak, tangkap dia."
Sebelum Kurapika bisa bereaksi, dia bisa merasakan daya listrik melumpuhkan indra dan syarafnya. Dalam waktu yang tak lama, dirinya tak sadarkan diri. Ketika dia jatuh, dua orang pria berdiri di belakangnya dengan sepucuk pistol di tangannya.
"KURAPIKA! HEI KAU MONSTER! KAU MEMBUNUHNYA!" Fino menjerit penuh tangis sambil meronta dalam cengkeraman orang yang menahannya.
"Oh, diamlah, Nak. Dia tidak mati. Bagiku, daripada mati, dia lebih baik hidup." Lalu Nostrad berbalik pada penjaga penginapan dan istrinya. "Aku akan memaafkan ketidaktahuanmu karena kau hidup di kota terpencil yang menyedihkan ini, tapi aku yakin kau harus tahu bahwa kau tak mau bermusuhan dengan mafia, benar?"
Si penjaga penginapan menganggukkan kepalanya dengan semangat. Tentu dia sudah mendengar tentang bajingan mafia kotor yang seperti hama di kota-kota makmur. Secara pribadi dia bersyukur kotanya hanyalah sebuah kota yang sederhana hingga tak ada seorang mafia pun yang akan tertarik walau hanya untuk berkunjung sekalipun.
"Bagus. Aku akan menempatkan orang-orangku di sini hingga urusanku dengan Kurapika selesai," Nostrad mengumumkan sambil melangkah pergi. Itu merupakan tindakan pengamanan untuk mencegah adanya pemberontakan apapun dari Kurapika—dia akan menggunakan keluarga itu sebagai pengaruh agar Kurapika mau bekerjasama.
Tanpa sepengetahuan mereka, Kurapika sudah menjatuhkan ponselnya ketika dia sedang ditodong senjata, dan ponsel itu masih dalam keadaan terhubung. Cuek, mereka tak mau repot mengambil atau bahkan memeriksanya. Seluruh percakapan itu telah dikuping oleh seseorang yang memiliki pendengaran yang tajam tiada tara.
"Kuroro, apa yang kau pikirkan?" Wanita keriput itu bertanya pada pria muda yang berada di hadapannya dengan tatapan penuh selidik.
Pria tersebut tengah mengarahkan pandangannya pada arah tertentu ke horizon dengan sedikit kernyitan berkerut di keningnya. Dia terlihat seolah dirinya bisa melihat apa yang terjadi di belahan dunia lain.
Sedetik yang lalu, dia merasakan suatu perasaan sesak di dadanya hingga dia secara refleks mendongak dan menatap ke arah tertentu yang dipandangi olehnya. Nen-nya beriak gelisah di dalam dirinya. Dia memiliki firasat buruk yang mengganggu bahwa sesuatu yang berbahaya sedang terjadi, tapi dia benar-benar tak tahu bahaya apa itu sebenarnya. Lagipula dia bukan peramal.
Menyingkirkan kegelisahan sekilas itu sebagai selingan semata, Kuroro mengembalikan perhatiannya kepada Hatsubaba.
"Tidak ada."
Hatsubaba mendengus kencang.
"Tidak meyakinkan."
"Apa kau akan memberitahuku alasan kenapa kau memanggilku ke sini atau tidak?" Kuroro bertanya dengan nada suara yang terkesan bosan.
"Kita kekurangan dana," akhirnya Hatsubaba menjawab sambil mendengus kesal. Anak nakal yang arogan, pikirnya.
Kuroro mengernyit. Wanita tua itu tidak memberitahukan semuanya. "Hanya itu?"
Hatsubaba memandanginya dan menatapnya penuh penilaian.
"Sebenarnya, tidak. Ada hal lainnya lagi—"
Sebelum dokter penyihir itu bisa menyelesaikan kalimatnya, ponsel Kuroro berdering. Dengan sebuah anggukan kepala, Hatsubaba memberinya ijin untuk menjawab panggilan itu—lagipula Kuroro tidak berencana menunggu ijin dari Tetua.
"Ya, Shalnark?"
[Danchou, berita hangat! Pelelangan besar akan diadakan!] terdengar suara girang Shalnark yang seperti biasa dari ujung telepon.
"Detailnya?"
[Nama jalannya adalah Lutetia. Waktunya pada hari Sabtu tengah malam, 25 sampai dengan 30 September. Seminggu dari sekarang.]
"Barang-barangnya?"
[Umm…Danchou, daftar barang-barangnya tidak diberitahukan. Ini Pelelangan Lutetia yang sedang kita bicarakan.] Shalnark berkata.
Kuroro menaikkan sebelah alis matanya. Jika Shalnark mengerahkan usahanya, pasti dia bisa meng-hack database para pelelang Lutetia dan para host-nya lalu mendapatkan daftar tersebut. Kali ini, anggota Laba-laba muda itu tampaknya ragu untuk melakukannya.
"Benar. Kumpulkan semuanya di Lutetia pada tanggal 22 September. Titik pertemuannya adalah gedung bernama Valence-en-Brie."
[Valence-en-Brie…Aku pernah mendengar nama itu sebelumnya…TIDAK MUNGKIN! Rumah berhantu itu?!]
"Yang kabarnya berhantu," Kuroro mengoreksi. "Normalnya orang-orang akan menghindari tempat itu, dan itulah sebabnya tempat tersebut akan jadi tempat yang sempurna untuk tempat pertemuan kita."
Kuroro jarang menggunakan istilah 'persembunyian' dengan alasan istilah itu kedengarannya berkelas rendah. Dia memilih kata-kata seperti 'markas besar' atau 'titik pertemuan'. Berpikir tentang kosakata, hal itu mengingatkannya pada seorang Gadis Kuruta dengan kosakata yang berwarna yang seringkali dia gunakan ketika menggambarkan segala sesuatu dengan tepat. Kesempatan penting yang paling dia ingat adalah waktu dia membandingkan Kelompok Genei Ryodan dengan Kelompok Mammon. Menggelikan, gadis itu memakai istilah-istilah seperti 'protokol standar', 'metode kasar yang sembarangan dan tidak canggih'.
[Danchou?] Suara Shalnark kembali menariknya ke dunia nyata.
"Itu saja. Ada pertanyaan?"
Jeda. Jeda panjang yang tidak biasanya datang dari Shalnark.
[Tidak.]
Kuroro memicingkan matanya. Shalnark menyembunyikan sesuatu.
[Kalau begitu, aku akan bertemu denganmu di Lutetia? Pada tanggal 22 September, Valence-en-Brie? Baiklah. Sampai jumpa, Danchou.]
Dan dia pun memutuskan teleponnya.
Kuroro semakin mengernyit. Shalnark terdengar ingin sekali memutuskan percakapan dengan dirinya; di mana hal ini merupakan sesuatu yang sangat aneh untuk Laba-laba muda itu. Dia pun tidak begitu memberikan informasi. Shalnark yang dia kenal akan mengoceh tentang segala informasi yang dia temukan dari dunia maya hingga Kuroro harus menghentikannya. Kuroro mengingatkan dirinya untuk menginterogasi Shalnark nanti.
"Kau akan pergi sekarang?" Hatsubaba bertanya dengan suara datar; segala emosinya tersembunyi di bawah wajah antiknya yang keriput.
"Sepertinya doamu untuk mendapatkan tambahan dana itu baru saja terjawab," hanya itu jawaban Kuroro.
Tanpa bicara apapun lagi, dia berbalik memunggungi Hatsubaba dan mulai melangkah pergi. Wanita bungkuk itu hanya berdiri diam di tempatnya berdiri sambil mengamati pria muda itu yang melangkah pergi dengan harga diri yang tak akan dimiliki warga Ryuusei-gai yang biasa.
Hatsubaba menghela napas lelah dan mendongak menatap langit mendung Ryuusei-gai.
"Sungguh sikap yang dingin. Anak malang...Menyangkal kebutuhan dan hasratnya sendiri. Beritahu dia bahwa itu tidak sehat untuknya, Ishtar."
"Baiklah, semoga Danchou tidak mencurigai apapun," Shalnark bergumam sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia menoleh kepada seorang wanita bertubuh kecil yang berdiri di sampingnya. "Sekarang bagaimana?"
Senritsu tidak memperhatikan Laba-laba yang berusia lebih muda darinya itu. Dia tengah melihat ke sekeliling sembari merasa seolah darahnya membeku. Berserakan di seluruh tempat itu, mayat orang-orang Nostrad yang ditempatkan di Prancing Pony untuk menyandera keluarga pemilik penginapan tersebut guna melawan Kurapika. Untuk satu alasan, Shalnark memilik untuk membunuh mereka tanpa pertumpahan darah. Mengejutkan, tempat itu bersih dan tak meninggalkan bukti apapun yang menunjukkan bahwa suatu pembantaian baru saja terjadi di sana beberapa menit yang lalu.
Wanita kecil itu sudah bisa menangkap detail audio penculikan Kurapika yang dilakukan oleh Nostrad, dan dia bergegas ke penginapan tersebut dengan harapan mungkin dia bisa menolongnya. Namun begitu ia tiba di tempat itu, Kurapika sudah tak ada dan preman-preman itu sudah ditangani sendirian oleh Shalnark. Laba-laba yang memiliki sikap tenang itu hanya bilang bahwa dia sudah berjanji kepada Fino untuk mampir hari itu dan hal itu pun terjadilah hingga mereka tidak memperlakukan Fino beserta keluarganya dengan baik ketika dirinya datang. Maka Shalnark memutuskan untuk menanggulanginya sendiri.
Seperti yang diperkirakan akan dilakukan oleh seorang anggota Ryodan, hah? Pikir Senritsu dengan sedikit gemetar.
"Kau dengarkan aku, tidak?" Shalnark mencolek bahu Senritsu sedikit untuk mendapatkan perhatiannya kembali.
"Oh, maaf. Sekarang bagaimana? Oh, ya. Aku akan menghubungi Gon dan yang lainnya, melihat apa kita bisa membuat suatu rencana. Jika kita berhasil memberitahu Kurapika bahwa Fino dan keluarganya sudah tidak lagi disandera, mungkin dia bisa kabur dan kita akan menolongnya."
"Tidak, itu tak akan berhasil. Mafia itu akan segera mencarinya, dan Kurapika harus menjalani hidup layaknya seorang buronan selama sisa hidupnya. Rasanya hampir mustahil untuk meloloskan diri dari anjing-anjing mafia kecuali kau adalah orang-orang seperti kami."
"Benar juga...," bahu Senritsu terkulai ketika mendengar pendapat Shalnark. Itu masuk akal. Lalu wanita tersebut menatap Shalnark ingin tahu. "Menurutmu bagaimana tanggapan Danchou-mu begitu dia tahu bahwa Kurapika menjadi salah satu yang dilelang?"
Shalnark menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Itu pertanyaan yang sulit. Danchou yang lama tak akan pernah memperdulikan hal itu, tapi karena mereka telah bepergian bersama selama hampir dua tahun, sekarang sulit memperhitungkan sikapnya ketika berkaitan dengan Kurapika. kemungkinannya adalah : satu; dia sungguh mengabaikan kenyataan itu, mengatakan bahwa hal tersebut adalah bagian dari kesepakatan mereka untuk saling meninggalkan satu sama lain, atau dua; dia memerintahkan kami untuk membinasakan seluruh klan Nostrad."
"Keduanya tidak menunjukkan hasil bagus yang menjanjikan," Senritsu meringis.
"Yah, kami 'kan Genei Ryodan," Shalnark menyeringai lebar.
"Shalnark!"
Suara Fino datang dari sisi yang berseberangan di aula itu, dan dengan semangat menghampirinya, kekhawatiran yang teramat sangat terlihat di wajahnya yang pucat pasi.
"Dia tidak tahu bahwa kau anggota Genei Ryodan, ya? Tidak, bahkan apakah dia tahu tentang Genei Ryodan?" Senritsu bertanya dengan sedikit menuduh; gadis itu terlihat seperti seseorang yang bisa dengan mudah ditipu.
"Oh, dia tahu," jawab Shalnark ceria. "Dan itu menjawab kedua pertanyaanmu."
Kuroro melihat ke sekitar gedung itu dengan sedikit perasaan nostalgia berkembang di dalam dirinya. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali dia mengunjungi rumah Valence-en-Bine yang katanya berhantu. Bangunan itu masih terlihat sama seperti sebelumnya, hanya lapisan debu yang lebih tebal yang menjadi perubahan minimal yang terjadi di tempat itu.
Rapat baru saja berakhir beberapa menit yang lalu, dan para anggota Laba-laba lainnya memutuskan untuk menyelidiki kota. Lutetia adalah sebuah negara bagian kecil yang terkenal dengan gaya hidupnya yang mewah. Tak pernah menjadi hal yang sia-sia untuk menjelajahi negara itu dengan segala seluk-beluknya.
Namun ada seorang anggota Laba-laba yang dilarang pergi olehnya karena suatu alasan. Alasannya adalah anggota tersebut perlu sedikit diinterogasi.
Shalnark memainkan jari kakinya sambil berdiri beberapa meter jauhnya dari Kuroro. Dia terlihat seperti seorang anak yang tertangkap basah ketika sedang berbuat jahil. Kuroro membujuk—atau lebih tepatnya, memerintahkan—dirinya untuk membocorkan rahasia apapun juga yang ia sembunyikan.
Akhirnya pria itu duduk di salah satu kursi antik bergaya Victoria dan pandangannya jatuh kepada Shalnark; yang masih menatap lantai kayu rumah tua itu yang sebenarnya tidak begitu menarik.
"Sekarang aku mengerti kenapa kau begitu antusias dengan misi ini. Aku menduga Fino telah membujukmu melakukannya?" Akhirnya dia angkat bicara dengan suara yang terdengar ringan, tidak kesal atau apapun yang berkaitan dengan dirinya yang telah diakali oleh Shalnark.
"Dia memaksaku melakukannya," ralat Shalnark dengan sedikit memanyunkan bibirnya.
"Bagaimana dia melakukannya?" Kuroro bertanya, ia sungguh ingin tahu. Membayangkan seorang gadis biasa, sederhana seperti Fino bisa menaklukkan seorang Laba-laba seperti Shalnark menjadi patuh, sudah pasti Kuroro ingin sekali mengetahuinya.
"Jangan mencoba mengalihkan topik pembicaraan, Danchou." Sebenarnya, Shalnark berusaha menghindari topik itu. "Bagaimana tentang Kurapika?"
"Keterlibatannya dalam acara ini tak memiliki konsekuensi apapun terhadap misi kita," kata Kuroro tegas dengan wajah tanpa ekspresi. "Seperti kesepakatanku dengannya, kami akan saling meninggalkan satu sama lain."
"Tapi Dan—"
"Namun," Kuroro memotong ucapannya sebelum Shalnark protes lebih jauh, "Jika dia terdaftar sebagai salah satu barang lelang, maka dia salah satu target kita. Sesederhana itu."
Awalnya Shalnark kebingungan dengan kata-kata Kuroro. Roda di benaknya berderak ketika dia berusaha memahami ucapan Kuroro yang sederhana—selalu begitu, dia akan menggunakan kata-kata sederhana dalam struktur kalimat yang kompleks untuk menjelaskan suatu masalah yang rumit; yang ternyata membuat mereka semakin bingung. Ketika akhirnya dia mengerti apa yang Kuroro maksudkan, wajah Shalnark menjadi secerah mentari musim panas.
Dia memberi Danchou-nya sebuah seringai bodoh, yang ditanggapi seulas senyum tipis dari pria berambut hitam itu. Tapi kemudian, ada masalah lain yang belum dia mengerti.
"Lalu rencananya?"
"Kita akan melaksanakan rencana asli. Tak akan ada perubahan."
"Tapi bagaimana—"
"Semuanya dilakukan
Dengan penutup seperti itu pada nada suaranya, Shalnark tak bisa apa-apa selain menutup mulutnya dan menelan protes lainnya yang ia punya. Tanpa bersuara, pemuda itu keluar dari ruangan tersebut dengan sedikit merasa kecewa karena tidak diikutsertakan dalam rencana Kuroro yang paling rumit. Kuroro dibiarkan tenang di dalam kamar yang remang-remang itu. dia duduk bagai sebuah pastung yang terbuat dari batu, pandangannya tertuju kepada sudut gelap kamar itu sambil membandingkan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul dalam aksinya. Akhirnya, setelah begitu lama, kuroro bergeser dari duduknya dan mengeluarkan ponsel miliknya.
"Sungguh...kau benar-benar magnet yang menarik datangnya masalah," dia bergumam entah pada siapa sambil menekan nomor tertentu.
Setelah terhubung dan teleponnya diangkat, bahkan sebelum si penerima sempat bilang "Halo?", Kuroro angkat bicara :
"Voi avea nevoie de ajutorul vostru (aku akan membutuhkan bantuanmu)."
"Apa ini memang tempatnya?" Tanya Gon gugup sambil melihat ke sekitar tempat itu.
"Aku yakin ini tempatnya. Lihat orang-orang itu, Gon. Jelas-jelas mereka kaya raya. Alasan apa lagi yang akan membuat ratusan orang kaya penuh dosa berkumpul di satu tempat yang lebih terlihat seperti ruang kuliah di universitasku kecuali untuk berpartisipasi dalam pelelangan?" Leorio memutar kedua bola matanya dan dengan santai duduk di sembarang tempat.
Mereka semua mengenakan setelan resmi dan entah bagaimana berusaha membeli tiket untuk menghadiri pelelangan. Senritsu memilih untuk tidak pergi karena takut mungkin dia akan ditemukan orang-orang Nostrad dan mungkin mereka mengira rencana penyelamatan sudah disiapkan. Meniru Leorio, Killua duduk di tempat di sebelah pemuda yang lebih tua darinya itu, sementara Gon duduk di sebelah Killua seperti sepasang sepatu saja. Beberapa menit pun terlewati dan mereka bertiga menghabiskan waktunya mengamati tempat itu beserta orang-orangnya. Mereka memeras otak berusaha menemukan jalan untuk meloloskan teman Kuruta mereka dari masalah, ketika sebuah suara membuyarkan konsentrasi ketiganya.
"Apa kau tahu perbedaan antara pelelangan York Shin dan pelelangan Lutetia?"
Itu pertanyaan yang datang dari seorang pria yang duduk di sebelah Gon. Gon terkaget-kaget—dia tidak memperhatikan pria itu duduk di sebelahnya! Seolah dia muncul begitu saja. Killua langsung berdiri begitu pandangannya jatuh kepada pria berambut hitam tersebut.
"Apa yang kaulakukan di sini?" Desaknya dengan nada suara yang terdengar kasar.
"Sebagai peserta lelang, itu sudah jelas," jawab Kuroro ringan tanpa menoleh.
"Apa kau tahu bahwa Kurapika akan dilelang di sini?" Leorio bertanya dengan suara bisikan yang pelan.
"Aku tahu."
"Kalau begitu kau di sini untuk menyelamatkan Kurapika?" Tanya Gon penuh harap.
"Tidak juga."
Bahu Gon terkulai, merasa sangat kecewa.
"Jadi," Kuroro bicara lagi, "Apa kau tahu perbedaannya?"
Ketiganya saling bertukar pandang bingung dan melemparkan Pemimpin Geng Laba-laba itu lirikan waspada.
"Aku hanya memperhatikan tak ada penjualan katalog tentang barang-barang yang akan dilelang," Killua menjawab sambil mencari-cari jawaban di wajah Kuroro.
"Tepat. Warga Lutetia menyukai ketegangan dan sensasi. Mereka merasa akan lebih menyenangkan jika mereka tidak tahu tentang barang-barang itu sebelumnya. Katanya begitu, tentu mereka akan membutuhkan rencana dan strategi yang pantas jika ingin mengamankan barang-barang bagus tanpa kehilangan uang terlalu banyak. Karena alasan itu, pembawa acara ini mendapatkan keuntungan lebih dari pelelangan Lutetia ketika strategi yang tepat dilaksanakan."
"Strategi seperti apa?" Gon bertanya, dari suaranya sepertinya dia benar-benar ingin tahu.
Kuroro menolehkan kepalanya sedikit, menatapnya penuh arti.
"Lihatlah sendiri, dan pelajari," katanya singkat, dan dia tak akan memberitahu lebih dari itu mengenai system pelelangan selama sisa waktu acara tersebut.
Lalu, pelelangan pun dimulai.
Atau lebih tepatnya, bagi mereka pelelangan berakhir secepat dimulainya acara itu.
Seorang pria kurus mengenakan setelan resmi berwarna hitam tiba-tiba muncul di atas panggung dari ruang belakang. Dia begitu pucat dengan keringat dingin menetes di pelipisnya. Dia mulai menanyakan pertanyaan tertentu kepada para penonton.
"Apakah ada dokter di sini?"
Gumaman keras pun muncul di antara para penonton.
"Seseorang sedang sekarat! Apakah ada dokter di sini?"
Naluri pertama Leorio sebagai seorang mahasiswa kedokteran adalah langsung berdiri dan berseru "AKU SEORANG DOKTER MAGANG!", namun perhatiannya kepada Kurapika membuatnya melemparkan lirikan ragu kepada rekan-rekannya—yang juga menatapnya bingung. Kuroro tidak membantu sama sekali. Yang dia lakukan hanya duduk diam dengan topeng tanpa ekspresi terpasang dengan kukuhnya di wajahnya yang dingin.
"Leorio, pergilah. Kami akan menangani segala sesuatunya di sini," akhirnya Gon berkata.
Pemuda yang lebih tua dari bocah itu hanya bisa mengangguk gugup dan melakukan apa yang diserukan nalurinya sejak beberapa menit yang lalu. Kuroro menyaksikan ketika dokter muda itu bergegas menuju ke belakang panggung.
semuanya berjalan tetap sesuai dengan rencana.
"Di mana pasiennya?" Leorio segera bertanya ketika dia memasuki kamar belakang.
Dia ingin sekali menyelesaikan urusan kesehatan apapun itu yang harus ia tangani di sana, jadi dia bisa kembali kepada teman-temannya mengantisipasi entah bagaimana caranya untuk menyelamatkan teman Kuruta-nya. Namun keinginan tersebut langsung padam begitu ia melihat jasad tak bernyawa tergeletak di lantai.
Itu adalah tubuh seorang wanita dengan rambut pirang lembut yang tumbuh memanjang selama beberapa tahun terakhir hidupnya yang semrawut. Tubuhnya tergolek dalam angle yang aneh—orang lain tampaknya tak berani menyentuhnya. Kulitnya memiliki perubahan warna kebiruan yang aneh, dan matanya—masih berwarna biru—terbuka lebar dengan tatapan kosong. Pakaian khas suku tertentu yang ia kenakan mengumumkan identitasnya : seorang Kuruta.
Kedua lutut Leorio gemetar dan hampir menyerah, tapi dia memaksakan diri untuk dengan sadar berlutut di hadapan tubuh Kurapika yang lunglai. Dia memeriksa denyut nadinya, dia tak menemukan apapun. Pupil matanya sudah melebar, dan kulitnya dingin seperti mayat. Dia yakin Kurapika sudah mati saat itu.
"Apa yang terjadi?" Pelan ia bertanya.
Seorang staf menjawabnya dengan suara gugup, gemetar. Dia berkata bahwa sebelumnya gadis itu sudah kaku dan pucat, dan napasnya pun pelan dan dangkal. Dia mengeluh sakit perut dan sakit kepala, tapi dia mengucapkan kata-katanya dengan gagap seolah memiliki kesulitan berbicara. Ketika dia berusaha berdiri, mendadak ambruk ke lantai seolah kedua kakinya tak punya kekuatan, dan jauh sebelum itu dia mulai mengalami kejang. Segera saja, seluruh tubuhnya menjadi lumpuh, dan hal berikutnya yang dia tahu, gadis itu sudah hampir mati.
"Kedengarannya seperti keracunan tetrodoxin…apakah dia, mungkin saja, menyantap ikan kembung atau semacam itu sebelumnya?"
"A,aku tidak memperhatikan…," pemuda itu menjawab dengan suara pelan.
Leorio hanya bisa menghela napas dan memandangi tubuh dingin teman yang ia sayangi. Dia tak bisa mempercayainya. Kurapika yang ia kenal sangat tabah dan tangguh untuk bisa diruntuhkan. Di tempat mana di Bumi ini dia keracunan? Apakah seseorang berusaha membunuhnya? Tapi untuk apa? Gadis itu tak bisa menyakiti siapapun tanpa alasan. Yah, mungkin dia akan berusaha mempermalukan orang-orang yang menangkapnya sekalinya dia bebas guna menuntut balas (Wah, bagaimana caranya gadis itu tahu cara untuk menahan dendam), tapi untuk melakukan provokasi atas suatu usaha pembunuhan? Bunuh diri, mungkin? Tidak. Itu mustahil. Harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan tindakan yang pengecut seperti itu.
Leorio tak bisa lagi memikirkan kemungkinan lainnya yang masuk akal.
"Apakah dia mati?" Seorang pria berkumis setengah baya bertanya padanya.
"Hah?" Leorio menoleh untuk mengenali pria kasar tersebut, dan segera menyadari bahwa orang itu tak lain tak bukan adalah Nostrad—mantan bos mafia Kurapika dan orang yang menangkapnya pada saat ini. Lalu Leorio berdehem dan berusaha terdengar seprofesional mungkin. "Oh. Ya, aku yakin dia mati."
Nostrad memicingkan matanya, merasa begitu kecewa. Hal itu membuat Leorio menelan ludah—apakah dia mengatakan sesuatu yang salah?
"Matanya biru, benar?"
Leorio mengernyit bingung. Apa pengaruhnya dengan semua ini?
"Um…ya, warnanya biru. Boleh aku tahu kenapa kau bertanya?"
Nostrad mendengus kencang.
"Yah kalau begitu kami tak memerlukannya. Kalau matanya sudah berwarna merah, kami masih bisa mengambil matanya, tapi karena dia mati tanpa Mata Merahnya, dia tak berarti apa-apa," pria yang mengenakan setelan hitam itu hanya mengangkat bahu tak peduli dan berbalik dengan melambaikan tangan.
"Tentu saja, Tuan," anak buahnya mengangguk dengan sebuah seringai tampak di wajahnya, dan menoleh kepada para pengawal lainnya di kamar itu. "Kau dengar apa kata bos. Seseorang, bereskan mayat itu."
Leorio menatap mereka tak percaya. Matanya terus tertuju ke pintu di mana Nostrad dan anak buahnya keluar kamar. Dia hanya bisa bereaksi ketika seorang pria yang begitu tinggi menghampiri tubuh Kurapika dan mengangkutnya di atas bahu.
"Tunggu! Biar aku yang mengurusnya!" Leorio memaksa.
"Tidak ada perintah yang harus kuikuti," pria itu berkata dengan suara sekuat baja.
"Tidak, tidak, kumohon! Aku mengenal mereka!" Leorio menarik lengan baju pria itu, dan diberi tatapan menusuk dari pria tersebut—bukan pelototan seperti yang ia kira.
"Dengar, Dokter," kata pria itu tajam, dan menurunkan kacamata hitamnya sedikit untuk menampakkan sepasang mata abus-abu miliknya yang luar biasa. "Aku akan membuang tubuhnya dan cukup sampai di situ. Setelah itu, apapun yang ingin kau lakukan, aku tak mau peduli. Oke?"
Leorio membeku.
Pria itu membetulkan kacamata hitamnya dan tubuh lunglai Kurapika ke atas bahunya, melangkah pergi dengan cepat untuk 'membuang sampah', seperti bagaimana staf lain menyebutnya. Leorio masih memandangi pintu ke mana pria jangkung itu menghilang.
Dia tahu suara itu. Dia tahu aksen itu. Dia pernah mendengar semua itu sebelumnya.
Dia tahu sepasang mata abu-abu itu. Dia pernah melihat ke dalam mata itu sebelumnya.
"Leorio, apa yang terjadi?" Tanya Gon ingin tahu begitu Leorio kembali duduk di antara pada penonton pelelangan.
Dia tak bisa menjawab Gon. Dia duduk dan berusaha apa yang sebenarnya terjadi di kamar belakang itu. Dia hanya bisa sampai pada satu kesimpulan bahwa Kuroro Lucifer—yang masih duduk di sebelah Gon dengan wajah pasif—pasti ada hubungannya dengan semua ini. Dia yakin, kalau pria bermata abu-abu tersebut juga ada di dalamnya.
"Gon, kau bisa bertukar tempat denganku?" tanya Leorio dengan lelahnya.
"Hah? Tentu..." Gon pun patuh tanpa berdebat lebih jauh dan mempersilakan Leorio menempati kursinya sementara dia pindah ke kursi yang Leorio tempati sebelumnya.
Killua melirik Leorio penuh tanya; yang ditanggapi pemuda berusia lebih tua darinya itu dengan gerakan bibir yang mengatakan 'Nanti'. Jadi Killua tak bertanya apa-apa. Begitu dia duduk di sebelah 'pria plin-plan yang berbahaya'—seperti bagaimana Leorio menyebut Kuroro—Leorio berusaha duduk dengan nyaman sebelum mulai menanyai pria yang jauh lebih tua darinya itu.
"Ke mana kau membawa tubuhnya? Aku melihat lelaki itu—siapa namanya? Lucian?—membawanya pergi."
"Tenang. Dia tidak mati," jawab Kuroro sambil menerawang. "Kau akan melihatnya pada waktunya nanti."
"Pada waktunya?" Leorio mengernyit dalam-dalam, sebelum mendesis seolah menantang pria itu berkelahi. "Apa yang kau inginkan darinya kali ini?"
"Nanti kau akan bertemu dia dalam keadaan utuh dan dengan kondisi yang baik jika kau mengikuti aturanku. Bisa dimengerti?" Tanya Kuroro datar dengan pandangan yang masih tak lepas dari podium.
Leorio ingin protes, tapi menilai dari aura yang dikeluarkan Kuroro, dia tahu sebaiknya tidak melawan Sang Pemimpin Geng Laba-laba. Jika Kurapika tak bisa melawannya; seperti yang diceritakan gadis itu kepada mereka, maka Leorio hanya memiliki kesempatan yang sudah pasti tak akan berhasil dan akan berakhir buruk baginya jika dia melakukan itu. Maka dengan enggan Leorio menelan ludah dengan gugup dan menganggukkan kepalanya.
"APA YANG SUDAH KAU SUNTIKKAN PADAKU, HEI VAMPIR GILA?!"
Saat Kurapika terbangun dari mati surinya, dia marah sekali.
Kembali ketika dia ada di kamar belakang di dunia bawah Pelelangan Lutetia—dia dipisahkan dari barang-barang lelang lainnya—salah seorang pengawal mendekati gadis itu dan menusuk lengannya dengan jarum yang sangat tajam. Rasa sakitnya tak berarti bagi Kurapika; hanya seperti digigit semut. Dia hanya memelototi pria itu dengan kesal, dan ditanggapi dengan sebuah seringai penuh arti. Menganggapnya hanya lelucon yang dilakukan seorang pengawal yang sedang benar-benar merasa bosan, Kurapika tak memikirkannya lebih jauh. Hanya ketika dia mulai mengalami sakit perut parah, sakit kepala, dan akhirnya kejang, dia baru sadar bahwa kejadian tersebut bukanlah lelucon.
"Hei, kau seharusnya berterimakasih padaku, bukan berteriak di telingaku berusaha menghancurkan gendang telingaku! Aku memberimu semacam obat untuk memalsukan kematianmu secara klinis," balas Lucian dari balik meja yang telah ia balikkan untuk digunakan sebagai perlindungan melawan kemarahan Kurapika.
Ketika dia pergi untuk 'membuang sampah' tadi, dia membawa Kurapika langsung ke rumah Valence-en-Brine dan kemudian 'memulihkannya'. Dia harus melepaskan lapisan luar pakaian khas sukunya; hanya meninggalkan pakaian dalam tipis tanpa lengan dan celana panjangnya, untuk memeriksa sejauh apa dampak yang diakibatkan oleh 'racun'-nya itu. Hal paling pertama yang ia terima ketika Kurapika sudah cukup sadar adalah tamparan menakjubkan di pipinya.
"Dan TEPATNYA apa bahan-bahan obat itu?" Si Gadis Kuruta memelototi Lucian.
"Mm…tetrodoxin yang dimodifikasi…"
"TETRODOXIN? KAU BISA BENAR-BENAR MEMBUNUHKU!"
"Itulah alasannya kenapa tetrodoxin itu dimodifikasi. Cih, biarkan aku selesai menjelaskannya dulu!" Protes Lucian, tapi meskipun demikian dia tetap mengamankan dirinya di balik meja yang dia gunakan sebagai penahan di antara dirinya dan Si Kuruta yang tengah bergolak marah. Kurapika mendengus, menyilangkan kedua lengannya dan mengetukkan sebelah kakinya dengan tidak sabaran.
"Lanjutkan," dia mendesak sambil menggeram pelan seperti pemangsa.
"Mm…bahan-bahan primitif lainnya seperti tulang belulang yang dikubur dan dibakar hingga hangus, beberapa sisa-sisa jasad manusia, getah beracun, kristal kalsium oksalat, katak, lipan, cacing laut—"
"BAIK, BAIK! BERHENTI!"
Kurapika duduk merosot di kursinya dan dengan tertekan menempatkan tangannya di keningnya yang berkeringat. Dia merasakan dorongan yang sangat kuat untuk muntah.
"Oh. Ya ampun. Terima kasih!" Bentaknya. "Itu daftar panjang benda-benda menjijikkan dan mengerikan yang kau masukkan secara paksa ke dalam tubuhku…"
"Ne pare rau, dar nu poate fi ajutat…(maaf, tapi itu tak bisa dihindari)," gumam vampir itu dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Dan bagaimana kau menghidupkanku kembali?"
"CPR."
"APA!?" Raungannya sedikit menggetarkan kamar itu.
"Hanya bercanda," Lucian menyeringai sambil merasa bersalah. "Aku menggunakan obat buatanku sendiri yang mengandung Antimyasthenic untuk memulihkan kekuatan motorikmu dan bahan-bahan lain."
"Bahan-bahan…lain?"
"Alpha adrenergic agonist untuk tekanan darah rendahmu, Anticholinesterase agent, semacam antibodi monoclonal untuk melawan tetrodoxin, penahan saluran potassium, dan lainnya lagi. Semuanya dimodifikasi," dia mengangkat bahunya.
Baiklah, setidaknya bahan-bahan itu terdengar aman dari segi medis…Kurapika menghela napas lega.
Lucian menggeledah isi sakunya dan segera saja ia melemparkan sesuatu berukuran kecil ke arah Kurapika. Refleks, Kurapika menangkap apapun itu yang dilemparkan kepadanya dengan sebelah tangan.
"Aku berhasil menyelamatkannya," dia memberitahu gadis itu dengan suara yang tidak begitu jelas terdengar sambil berharap bahwa hal tersebut akan membuatnya menjadi lebih lembut.
Kurapika membuka telapak tangannya dan mendapati dirinya menatap cincin miliknya yang bermata onyx—cincin yang diberikan Ishtar kepada Kuroro dan kemudian ditukarkan dengan cincinnya yang bermata aquamarine. Merasakan suatu sensasi lega yang aneh di hatinya, dia menyematkan cincin itu ke jari manisnya, merasakan sentuhan dingin yang ia kenal dari sebuah cincin perak bersematkan sebutir batu onyx. Tanpa sadar dia meraba cincin itu. Dia ingat ketika dirinya diberitahu bahwa dia tidak boleh terpisah dari cincin tersebut selama sisa hidupnya sebagai konsekuensi telah menerima darah Ishtar.
"Kulihat kau bertahan dari siksaan itu, Lucian."
Sebuah suara berucap santai dan terdengar hampir seperti merasa geli datang dari arah pintu. Kurapika dan Lucian menoleh, melihat Kuroro berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku.
Vampire itu; yang terlihat seperti kelinci yang tersambar petir, memekik girang "Lucifer!" dan bergegas pergi menjauh dari penahannya yang berharga—yaitu meja—dan langsung bersembunyi di belakang Kuroro.
"Bagaimana lelangnya?" Lucian bertanya sambil merasa jauh lebih aman dari jangkauan pembalasan Kurapika.
"Tak ada yang istimewa," Kuroro mengangkat bahunya.
Tentu saja di pelelangan itu tak akan ada yang istimewa. Para anak buahnya sudah menggandakan semua barang-barang lelang dengan kemampuan Nen milik Coltopi, seperti waktu pelelangan di Yorkshin. Begitu Kurapika dipisahkan dari yang lainnya, hanya Lucian—yang menyamar sebagai salah seorang penjaga—bisa memiliki 'akses' menemui Kurapika. Itulah rencana pada misi kali ini.
Tidak. Sebenarnya ada misi tambahan lainnya bagi para anggota Laba-laba.
"Danchou bilang apa?" Machi bertanya pada seorang pemuda berambut coklat pasir.
"Sebuah misi tambahan," jawab Shalnark dengan suara mencicit sambil memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. "Jelas dan sederhana : lenyapkan Klan Nostrad."
"Aku sudah tahu," Phinks menyeringai.
"Itu mudah sekali," Feitan mendengus sambil melenturkan kedua tangannya.
"Kau tidak keberatan, Nobu?" Franklin menanyai samurai yang berdiri di sampingnya. "Kau tahu ini ada hubungannya dengan Si Pengguna Rantai, 'kan?"
Nobunaga hanya sedikit mengernyit dan mengangkat bahunya.
"Ini perintah Danchou."
"Yah, tentu saja. ini perintah Danchou," Phinks terkekeh sambil mengatakan hal itu dengan nada mengejek.
"Diamlah dan cepat selesaikan ini!" Kata samurai yang mudah terbawa emosi itu.
"Baik, baik. Ya ampun..." Phinks bergumam sambil mulai memutar kedua lengannya, bersiap-siap untuk suatu 'pesta kecil'. "Kami datang, Nostrad. Inilah yang akan kau dapatkan karena telah melecehkan gadisnya Danchou."
Nobunaga hanya menanggapi pernyataan Phinks dengan bersungut-sungut tapi tidak menyanggahnya.
"Hah, kurasa begitu." Lucian; yang mengetahui misi tambahan itu, terkekeh pelan dan melangkah menuju ke pintu, setelah dia menepuk bahu Kuroro dan menggodanya : "Am curăţat dormitor pentru tine (Aku sudah membersihkan kamar tidur ini untukmu). Distreaza-te cu 'sotia' ta (selamat bersenang-senang bersama 'istri'-mu)."
Sebelum Kuroro bisa menyikutnya hingga tulang rusuknya retak, Lucian pergi menuju ke pintu secepat kilat dan menutup pintu itu dengan keras. Hal itu membuat Kurapika tertegun dan bingung karena dia sama sekali tak memahami apa yang telah dikatakan Lucian, tapi Kuroro terlihat sedikit gelisah karena kata-kata vampir tersebut. Seolah ucapan itu membuatnya teringat akan sesuatu yang mengganggu namun menyenangkan.
Setelah hening selama beberapa menit, begitu keduanya saling menilai satu sama lain, akhirnya Kurapika memecahkan keheningan itu.
"Apa yang kau inginkan sekarang?" Dia langsung membentakkan pertanyaan itu kepada Kuroro.
Kuroro menaikkan sebelah alis matanya dan merasa geli.
"Itu bukan cara yang baik untuk menyapa 'suami'-mu," dia berkomentar dengan suara yang dibuat-buat.
Kurapika menatapnya dengan mata terbelalak.
"Bagaimana—"
"Teman Zaoldyck-mu memberitahukan hal itu padaku dengan kehendaknya sendiri."
Killua, lain kali ketika kau bertemu denganku kau akan tahu rasa, Kurapika menggeram di dalam hati, tapi menjaga raut wajah datar yang ia perlihatkan.
Kuroro mendekatinya dengan langkah yang tenang, dan Kurapika berdiri tegak di tempatnya berpijak. Ketika pria itu berada tepat di hadapannya, hal pertama yang ia lakukan adalah mengulurkan sebelah tangannya dan membelai rambut pirang Kurapika dengan lembut. Sikap tubuh ini membuat Kurapika sedikit terkejut.
"Kau memanjangkan rambutmu," itu lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan daripada pernyataan.
"Memangnya kenapa?" Balas Kurapika, dia tidak bergerak sedikitpun atau menepiskan tangan Kuroro dari rambutnya. Tanpa ia sadari, semburat kemerahan muncul membuat rona tipis tampak di wajahnya.
Kuroro tersenyum lemah. Jadi gadis itu mengingat komentarnya dulu, ketika dia meributkan bahwa dirinya perlu menggunting rambut:
…tapi rambut panjang lebih cocok untukmu.
Hal itu membuatnya sangat senang hingga dia menghabiskan beberapa menit berikutnya dengan hanya memainkan helaian rambut pirang Kurapika. Yang membuatnya terkejut, Kurapika tidak protes sepatah kata pun. Biasanya dia sangat teliti mengenai orang yang memainkan rambutnya.
"Jadi kesepakatan kita berakhir," kata Kuroro dengan gaya yang menunjukkan seolah dia sedang tidak sadar atas apa yang tengah dikatakannya.
"Apa yang kausarankan?" Kurapika bertanya dengan waspada sambil menjauh dari pria itu.
Kuroro menyeringai. "Kau selalu menarik masalah, ya?"
"Tidak, yang benar itu sebaliknya. Masalah yang menarik diriku," Kurapika mendengus sambil teringat akan saat-saat yang sangat tidak menyenangkan karena dipermainkan dan dilecehkan oleh orang-orang yang kasar.
"Kau tahu, secara teknis kau adalah milikku karena Nostrad telah membuangmu dan aku sudah memiliki tubuhmu yang seharusnya sudah mati," Kuroro beranjak duduk dan menyandarkan punggungnya di kursi.
"Oh, benarkah? Wah, terima kasih telah menjelaskannya padaku," bentak Kurapika, suaranya begitu sarkastis.
Kuroro menaikkan sebelah alis matanya geli.
"Mood-mu sedang tidak bagus, ya?"
"Kenapa mood-ku harus bagus ketika temanmu, yang PASTINYA SUDAH kehilangan beberapa baut di kepalanya, hampir meracuniku hingga MATI sementara aku jelas-jelas hidup ketika setiap orang mengumumkan bahwa aku sudah mati?"
"Itu jalan terbaik untuk mengeluarkanmu dari masalah itu," Kuroro mengangkat bahu.
"Memalsukan kematian benar-benar jalan keluar kesukaanmu, 'ya?" Kurapika mengernyit kesal padanya. "Dua kali kau memalsukan kematianku, dan aku hanya berharap kali ini mereka tak akan menemukan bahwa aku lagi-lagi masih hidup."
"Kau berada di bawah pengawasan mereka selama 24 jam penuh dan ketika kau mendadak mati karena keracunan, mau tak mau mereka percaya bahwa Kurapika Kuruta benar-benar mati, benar?"
"Terserah," gadis itu memutar kedua bola matanya, lelah dengan perdebatan yang sia-sia. "Jadi sekarang bagaimana, aku adalah milikmu?"
"Semacam itulah." Senyum angkuh yang menjengkelkan itu kembali tampak di wajahnya—oh betapa Kurapika ingin mencakar senyuman tersebut, menghapuskannya dari wajah pria itu yang sayangnya memang tampan.
"Jadi apa yang harus kulakukan untuk membeli kebebasanku, Tuan?" Dia berdiri dengan bertumpu pada sebelah kakinya dan melipat kedua lengan dengan sikap menantang. "Tapi satu hal yang pasti, jika kau memintaku untuk menjadi Laba-laba-mu, aku lebih baik mati."
"Pikiran itu tak pernah terlintas di benakku," Kuroro menautkan kedua tangannya dan menatap gadis itu dengan tatapan yang lurus, sepasang mata obsidian itu tak pernah sekalipun menampakkan maksud yang dia sembunyikan di balik kegelapan yang ada di dalamnya.
"Lalu? katakan saja jadi aku bisa cepat menyelesaikannya! Lebih cepat, lebih baik," Kurapika mendengus. "Dan sebagai informasi untukmu, aku tak punya harta apapun untuk ditawarkan kepadamu."
"Apakah sekarang dokter itu adalah pacarmu?"
Kurapika benar-benar terperangah begitu saja ketika pertanyaan itu meninggalkan bibir Kuroro dan sampai ke telinganya. Bahkan dia lupa bagaimana caranya berkedip. Kenapa secepat kilat pria itu tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang sepele, tidak relevan seperti itu? itu tak ada hubungannya dengan seluruh situasi saat ini. Mengenal kebiasaannya yang plin-plan, karena dia telah berurusan dengan hal itu kira-kira satu setengah tahun lamanya secara terus-menerus, Kurapika memilih untuk menanggapinya daripada memarahinya karena alasan itu—memarahinya sama saja dengan menyia-nyiakan napasnya.
"BUKAN." Suaranya terdengar lebih penuh dengan paksaan daripada yang ia maksudkan. "Dan—"
Dia berhenti sejenak.
"Dan kenapa kau peduli?" Adalah yang ingin ia tanyakan, tapi lagi-lagi, mengenal seperti apa Kuroro Lucifer, pria itu seringkali menghindari pertanyaan 'kenapa'. Tiba-tiba, sebuah ide muncul di benaknya. Meski Kurapika tidak yakin itu ide yang bagus.
"Dan apa kau punya pacar, mungkin?" Dia bertanya dengan tersipu-sipu.
Kuroro menaikkan salah satu alis matanya heran dan penasaran.
"Kenapa kau bertanya?" Akhirnya pria itu bertanya dengan waspada.
Kurapika mendengus dan tertawa. "Rupanya, kau mulai menanyakan lebih banyak pertanyaan 'kenapa' sekarang."
Kuroro menanggapinya dengan tersenyum masam. "Kau pengaruh yang buruk."
"Aku? Oh, yang benar saja!" Kurapika tertawa sambil memutar kedua bola matanya.
Lalu dia melangkah menghampiri Kuroro dengan gaya berjalan lemah gemulai yang disengaja; seolah dia tengah melangkah di catwalk, berhenti di hadapan pria itu dan sedikit membungkukkan badannya ke depan dengan satu tangan diletakkan di pinggulnya. Dia mengistirahatkan tangan yang satunya lagi di sandaran kursi karena dia tahu permainan ini akan memakan waktu lebih lama dari seharusnya.
"Berapa umurmu, Tuan? Kurasa sekarang kau mendekati usia tiga puluh?"
"29, lebih tepatnya," Kuroro menjawab, memutuskan untuk memainkan permainan gadis itu.
"Dan kau masih tetap seorang bujangan." Itu lebih terdengar seperti pertanyaan daripada pernyataan.
Di dalam hati, jantung Kurapika berdegup kencang. Dia tahu dia tengah berjalan di tempat yang berbahaya—memprovokasi Sang Pemimpin Geng Laba-laba sudah pasti beresiko tinggi—tapi dia tak tahan untuk tidak melakukannya. Kenapa dia melakukan apa yang tengah dilakukannya sekarang pun di luar pemahamannya. Dia hanya merasa terdorong untuk melakukannya.
"Ya. Apakah itu masalah untukmu?"
"Tidak juga. Aku hanya bertanya-tanya apakah setiap orang di dalam kelompokmu semuanya lajang," Kurapika tersenyum malu-malu.
"Shalnark tidak akan lajang lagi dalam waktu dekat ini," Kuroro memberitahunya.
"Oh, itu berita lama untukku. Asal kau tahu saja, aku tinggal bersama Fino," dia tersenyum penuh kemenangan.
"Aku terkejut kau tidak berkencan dengan teman doktermu itu," balas Kuroro.
"Oh, dia pernah mengajakku kencan, tapi aku membuatnya kecewa dengan menolak ajakannya," Kurapika mengangkat bahunya.
"Alasannya?"
"Memangnya kau perlu tahu?"
"Hibur aku."
"Aku bukan penghiburmu."
"Kau milikku sekarang."
Kurapika kalah dalam permainan tersebut; Kuroro tahu itu, karena akhirnya Si Gadis Kuruta menegakkan badannya dan memalingkan wajah dengan gelisah. Dia terlihat jengkel dan tersinggung karena Kuroro menggunakan kata milik, tapi alasan utamanya adalah karena dia merasa tidak nyaman dengan konteks permainan bodoh mereka.
"Dia lebih seperti seorang kakak bagiku, tidak lebih," akhirnya dia menjawab dengan enggan dan suara yang berbisik.
"Umurmu dua puluh, benar?"
"Ya."
"Usia yang cukup untuk menikah. Kurasa kau tak bermaksud untuk melestarikan garis keturunan Kuruta-mu. Dokter itu adalah pilihan yang baik."
"Apa kau mencoba mengarahkanku untuk menikahi Leorio? Lupakan itu, Kuroro. Tak peduli se-oportunis apa diriku, aku tak akan memanfaatkannya dengan cara itu. Di samping itu, aku tak mau menikahi seseorang yang tak kucintai."
"Kau tidak mencintainya?"
"Aku mencintainya dalam konteks semacam cinta antara saudara. Apa kau memperhatikan?" Dengan jengkel Kurapika membentaknya.
Sesaat, Kurapika lupa bahwa Kuroro 'kurang sehat secara psikologis', seperti bagaimana Lucian menyebutnya.
"Kalau begitu ada seseorang di benakmu?"
"Ya."
Jawaban tersebut terucap secara tak disengaja dari mulut Kurapika bahkan sebelum dia bisa mengendalikannya. Gegabah, dia membungkam mulutnya dengan sebelah tangan, jelas menunjukkan bahwa dia sudah mengatakan sesuatu yang tidak dia maksudkan untuk diutarakan—seperti seorang anak yang tertangkap basah mengatakan sesuatu yang dia telah bersumpah untuk merahasiakannya. Kuroro menaikkan sebelah alis matanya penasaran dan merasa geli. Dia menegakkan posisinya duduk sementara Kurapika sepenuhnya membelakangi dirinya, membuat pria itu memandang punggungnya secara keseluruhan.
"Siapa?" Dia bertanya dengan suara parau.
"Bukan urusanmu!" Kurapika membentak, tapi masih menolak untuk menghadapnya.
"Siapa?" Kuroro bertanya lagi.
"Kubilang itu sama sekali bukan urusanmu!" Kurapika berteriak.
"Aku meminta jawaban dan kau wajib memberikannya, Kurapika," ucapnya datar.
"Sejak kapan aku wajib memenuhi setiap rengekanmu?"
Bersamaan dengan jeritan jengkelnya, Kurapika berbalik dan melemparkan rantainya kepada Kuroro. Dia bisa dengan mudah menghindarinya, tapi merasakan sesuatu yang aneh pada rantai itu, dia memutuskan untuk menangkapnya; Chain Jail atau bukan. Ketika dia mendapatkan rantai itu di tangannya, dia tahu bahwa dia benar. Kualitas Nen Kurapika yang dikeluarkan rantai tersebut berbeda. Kuroro mengernyit padanya.
"Apa yang terjadi pada rantaimu?"
Kurapika tampak pucat.
"Apa maksudmu?" Dia bertanya dengan suara datar.
"Ada sesuatu yang hilang dari rantaimu," jawabnya, menajamkan tatapannya ke mata aquamarine Kurapika, mencari jawaban.
Tiba-tiba, wajah Kurapika menampakkan kesan seolah kekuatan yang ia miliki sebelumnya telah menguap. Dia terlihat seperti seseorang yang kalah begitu saja dan ditinggalkan di dalam lumpur. Dia melenyapkan rantainya.
"Pisau Nen di jantungku menghilang. Aku tak bisa lagi membuat rantai Nen dengan kekuatan yang sama. Aku masih mencobanya…"
Suaranya sedikit gemetar dan ada sesuatu seperti rasa malu di sana. Dia merengkuh sosoknya yang mungil dengan kedua lengannya yang kurus.
"Sejak kapan?" Suara Kuroro sungguh terdengar lebih lembut.
"Sejak hari itu di desa Suku Kuruta," jawabnya dengan suara pelan. "Sejak kita berpisah." Karena aku tak lagi punya hasrat untuk membalas dendam… Dia menambahkan di dalam hati.
Mereka pun jatuh ke dalam keheningan yang canggung. Sangat jarang bagi mereka untuk menjadi seperti itu. Kurapika menarik napas dalam-dalam dan terdengar jelas, sebelum dia membalikkan badannya dan menantang dirinya sendiri untuk menghadapi Kuroro sepenuhnya. Dia menatap lurus ke dalam bola mata obsidian pria itu—yang merupakan kegelapan neraka yang tak berdasar, tapi dia terlalu mengenal kedalaman di matanya itu.
"Sekarang bagaimana?"
Ada kilatan berbahaya di mata itu, dan untuk sesaat Kurapika tertegun. Tiba-tiba, mata itu anehnya menjadi tidak ia kenali. Ada sosok pemangsa di dalam mata yang biasanya dingin, tak berperasaan itu.
Dengan pelan dan pasti, seolah menambah ketegangan yang sudah Kurapika rasakan di sekujur tubuhnya, Kuroro bangkit dari duduknya dan mengambil satu langkah menuju ke arah gadis itu berada. Refleks, Kurapika pun mundur selangkah.
"Seperti yang dikatakan sebelumnya," Kuroro mulai bicara, suaranya pelan.
Kecepatan langkahnya menuju ke arah Kurapika merupakan kecepatan yang tetap, sementara langkah gadis itu yang menjauhinya sedikit ragu dan bingung.
"Kau adalah milikku sekarang, jadi kau harus berada di sampingku," dia melanjutkan, menghentikan ucapannya sejenak sebelum menambahkan, "tidak perlu sebagai anak buahku."
"Kalau begitu sebagai apa?" Tanya Kurapika ragu, tak mengerti apa yang tengah diisyaratkan pria itu.
Kuroro tidak menjawab. Kurapika menjauh hingga tumitnya membentur bagian samping tempat tidur dan jalan keluarnya terhalangi—kecuali dia memilih untuk menaiki tempat tidur itu guna melintasinya, bersikap kurang pantas sebagai seorang wanita tapi jika hal itu diperlukan, dia akan melakukannya. Entah kenapa, Kuroro menjadi sangat berbahaya baginya. Seolah Kuroro bisa menerjang ke arahnya dan segera mencabik-cabik dirinya. Saat itu ada sesuatu yang seperti binatang mengenai Kuroro.
Bahkan ketika Kurapika sudah berhenti, Kuroro terus melanjutkan langkahnya. Dia hanya berhenti ketika dirinya berjarak beberapa inci saja dari gadis itu. Jarak yang begitu dekat bagi Kurapika hingga dia bisa menangkap aromanya yang familiar. Benak Kurapika sudah berteriak : INVASI RUANG PRIBADI! PERINGATAN! PELANGGARAN ILEGAL DAERAH TERITORIAL!
Kuroro membungkuk hingga hidungnya hampir menyentuh hidung Kurapika. Matanya menatap—tidak, matanya memandang jemu—tepat ke dalam mata gadis itu. Dengan putus asa Kurapika berusaha bertahan di tempatnya dan balik memelototi Kuroro, meski secara psikis dia bisa merasakan keberaniannya kini meragukan. Ketika Kurapika melirik sekilas ke tempat tidur—tiba-tiba ide untuk melintasi tempat tidur terlihat sangat menggoda dan dia memiliki perasaan yang bagus mengenai hal itu—Kuroro menjentikkan jarinya dan menyentuh dada Kurapika tepat di bawah tulang selangka hanya dengan kekuatan yang cukup untuk bisa membuatnya terjungkal dan jatuh terhempas ke atas tempat tidur.
Jatuh ke tempat tidur dengan sikap sebaik mungkin, sejenak Kurapika menjadi tidak fokus tapi begitu dia dapatkan kembali indera keseimbangannya, satu-satunya yang ia lihat adalah wajah Kuroro berdekatan dengan wajahnya, dalam jarak dekat yang berbahaya. Kedua siku pria itu ditempatkan di tempat tidur tepat di samping kepalanya, dan sebelah lutut ia gunakan untuk menyokong berat badannya di sana.
"Kau harus membeli kebebasanmu," ucapnya singkat.
Kurapika menelan ludah sambil terdiam.
"S,Seperti yang kubilang tadi," dia mulai bicara dengan suara yang gagap—di mana hal ini sangat jarang terjadi, "Aku tak punya harta apapun untuk ditawarkan kepadamu."
Kurapika membayangkan mungkin dia terlihat seperti kelinci yang takut tersambar petir pada saat itu. Dia tak pernah takut kepada Kuroro, kecuali saat ini. Masih memegangi pergelangan Kurapika erat-erat dalam cengkeraman tangannya, Kuroro mencondongkan badannya lebih jauh maka dia bisa berbisik tepat di telinga gadis itu.
"Ada sesuatu yang bisa kau tawarkan padaku sebagai pertukaran atas kebebasanmu," katanya parau di telinga Kurapika, memberikan sensasi aneh yang menyenangkan—yang selalu dirasakan Kurapika setiap kali kulit Kuroro menyentuhnya.
"Apa itu?" Kurapika memberanikan diri untuk bertanya, tapi secara menyedihkan, suaranya terdengar lemah.
"Jangan berpura-pura bodoh, Kurapika," Kuroro bicara lagi, suaranya terdengar geli dengan nada mengejek. "Kau tahu apa maksudku."
Kurapika sudah langsung menjadi kaku saat itu, tapi dia langsung jadi seperti sebuah patung batu. Ketika Kuroro melangkah masuk ke dalam ruang pribadinya, benak Kurapika pun mati rasa dan dia tak bisa berpikir dengan jernih. Sejujurnya, otaknya benar-benar tidak berfungsi. Sikapnya yang kurang tanggap membuat Kuroro mengernyit, sedikit merasa jengkel.
"Apa aku harus mengatakannya secara terang-terangan?" Dia bertanya.
"Kumohon, lakukanlah," Kurapika berbisik.
Kuroro terkekeh dengan aura gelap menyelimutinya dan balas berbisik, "Tidak. Tebaklah sendiri."
Kuroro bisa benar-benar melihat ekspresi wajah gadis itu menurun tajam dari tertegun ke merasa ngeri dan kecewa; yang membuatnya lebih terhibur lagi. Mengetahui bahwa Kurapika akan membutuhkan cukup waktu lebih hingga sel-sel otaknya mulai berfungsi sepenuhnya dengan baik, Kuroro memutuskan untuk merubah posisi mereka.
Dengan satu gerakan cepat, dia merengkuh pinggang ramping Kurapika dan mengangkatnya. Kurapika terhenyak tertahan ketika tiba-tiba mendapati dirinya berada dalam pelukan Kuroro, sementara pria itu duduk di atas tempat tidur dengan punggung yang bersandar ke bagian lurus kepala tempat tidur yang menempel ke dinding.
"Nikmati waktumu," dia berbisik ke telinganya, napasnya yang hangat terasa di kulitnya yang lembut.
Tanoa sengaja Kurapika gemetar, membuat Kuroro menyeringai. Ketika Kurapika belum pulih dari keterkejutannya, Kuroro menundukkan kepalanya hingga bibirnya menyentuh bahu telabjang gadis itu di bagian bawah leher. Dia bisa merasakan Kurapika menjadi kaku dalam pelukannya. Dia bergerak menelusupkan hidungnya ke dalam rambut Kurapika, menangkap aroma khas gadis itu yang entah bagaimana ia ingat. Setelah bereksplorasi sebentar, dia memutuskan untuk menempatkan kepalanya di bahu Kurapika sambil menunggunya mencerna seluruh situasi itu dan jawaban dari pertanyaan yang Kurapika utarakan sendiri : apa yang bisa dia tawarkan padanya sebagai pertukaran untuk kebebasannya?
Jawabannya sudah sangat jelas.
Kurapika merengut pada dirinya sendiri karena dirinya tidak menyadari hal itu lebih awal. Sekarang dia merasa benar-benar dungu.
Merasakan pergerakan mendadak gadis itu, Kuroro menyimpulkan bahwa dia akhirnya mendapatkan semacam 'pencerahan'.
"Jadi?" Dia menghembuskan napasnya menerpa leher lembut Kurapika.
Yang membuatnya terkejut, Kurapika begitu rileks berada dalam rengkuhan lengan Kuroro dan bahkan menenggelamkan dirinya lebih jauh ke dalam pelukannya. Merasa heran, Kuroro berusaha melihat ekspresi gadis itu. di saat yang bersamaan, Kurapika bersandar menyamping dan menolehkan kepalanya hingga dia bisa menatap mata pria itu. saat mata mereka bertemu, keheningan pun timbul.
"Kau yang memutuskan," Kuroro akhirnya berkata, dengan mulut mereka berdua berada begitu dekat dalam jarak yang berbahaya.
"Apa aku punya pilihan lain dalam hal ini?" Bentak Kurapika jengkel.
"Kau hanya tak punya pilihan ketika kau tidak memberikan pilihan kepada dirimu sendiri," Kuroro menanggapi dengan singkat dan santai.
Apa yang ingin dia katakan adalah dia tak akan melakukannya kecuali Kurapika memberikan persetujuannya. Kurapika, sebagai orang yang cerdas, menangkap pesan yang ditegaskan itu dan menyeringai padanya. Bahkan hingga kini, Kuroro masih menghormatinya dan menghormati keputusannya. Hal itu sungguh membuatnya merasa tersanjung.
"Tepat sekali."
Lalu keduanya menutup jarak di antara bibir mereka dengan penuh hasrat dan gairah.
Jauh dari sana, begitu jauh dari Lutetia dan dari suatu rumah yang 'berhantu', seorang wanita dengan wajah eksotis tengah memetik Oud miliknya. Oud adalah alat musik petik yang berasal dari Arab yang selalu menemaninya ke mana pun dia pergi, kecuali dalam perjalanannya yang pendek bersama Kuroro dan Kurapika guna menemukan Ifrit Deifri. Sambil memetiknya dengan tanpa sadar, tatapannya menelusuri bintang-bintang di surga yang sudah menjadi gelap di atas sana sementara pikirannya berkelana ke memori masa lalu.
"Sedang menenun kisah yang lain lagi?" Terdengar suaras eorang lelaki.
Scheherazade merengut ketika rentetan lamunannya diganggu dengan lancang. Dia mengalihkan pandangannya dari langit malam yang berbintang dan mengarahkannya kepada seorang pria dengan rambut pirang platina dan kulit ochre gelap. Wajahnya terlihat bengis sepeti biasa, tapi tatapannya sungguh berbeda.
"Kisah yang paling baru," wanita itu menyetujui pendapatnya sambil memetik Oud dengan lebih serius. Lalu, dia mulai bernyanyi dengan lembut; suaranya separau angin malam,
Oh bulan yang lembut dan bintang-bintang yang bercahaya,
Dengarlah permohonanku,
Menyaksikan kisah ini yang sama berharganya dengan kisah 1001 Malam
Maka jadilah saksiku saat aku menceritakan kembali kisah itu
Kisah 1001 Malam,
Di mana masa depan ditulis di atas masa lalu yang suram,
Di mana dalam Kisah 1001 Malam,
Dua jiwa menggapai penyempurnaan
Dari ikatan yang mereka tempa
"1001 Malam, hah? Apakah memang benar-benar sudah malam yang keseribu sejak pertama kali mereka memulai perjalanannya?" Jelmaan laba-laba itu memiringkan kepalanya sambil menyilangkan kedua lengan, berusaha menghitungnya sendiri.
"Itulah yang dikatakan bintang-bintang padaku. Tapi jika kau mengijinkanku untuk menyelesaikan..." Scheherazade berkata dengan suara yanng terdengar jengkel.
"Ada kelanjutannya?" Anansi mengernyit.
Wanita itu memberinya seulas senyum yang membingungkan, sebelum dia lanjutkan nyanyiannya :
Tapi apakah malam yang keseribu itu adalah mimpi yang indah?
Ataukah mimpi buruk?
Ketika Kurapika membuka mata pada keesokan harinya, anehnya dia merasa kedinginan. Saat melihat ke sekitarnya, tempat di sebelahnya kosong. Dengan kepala pening dia duduk dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Sekujur tubuhnya nyeri, namun entah bagaimana anehnya dia merasa...puas. dia menoleh ke sekitarnya dan memperhatikan ada sebuah kantong kertas diletakkan di atas meja, dengan secarik catatan di sebelahnya dan sebuah cincin untuk menahan catatan itu tetap berada di tempatnya.
Dengan sedikit malas-malasan dia mengintip ke dalam kantong kertas itu; ada pakaian miliknya di sana, baik baju sehari-hari maupun baju khas sukunya. Dia ingat baju khas sukunya itu ia tinggalkan di tempat Nostrad sebelum peristiwa Hassamunnin terjadi. Dengan hati-hati dia mengambil cincin itu dan memeriksanya. Cincin Solomon. Kurapika mengernyit dan mendadak jantungnya pun mati rasa. Suatu prasangka buruk memenuhi hatinya dan dengan sengaja perlahan dia mengambil catatan itu dan membacanya. Menyakitkan, pesan di dalamnya singkat dan jelas.
Kau akan membutuhkan perlindungan lebih daripada yang aku butuhkan, karena kau seperti magnet yang menarik banyak masalah. Aku meminjamkannya padamu.
Walau tak ada nama yang tertera di sana, dia tahu siapa yang menulis catatan itu. Dia mengenali tulisan tangannya—yang sering dia lihat sebelumnya. Tangannya menjadi lemah dan dia biarkan catatan itu terselip perlahan dari jemarinya. Catatan tersebut jatuh ke lantai tanpa suara, sementara Kurapika untuk sesaat lupa bagaimana caranya bernapas.
Dia ditinggal sendirian.
Setelah beberapa menit yang terasa bagai tak berkesudahan, dia bisa benar-benar mendengar suara Kuroro berbicara di benaknya :
Kau akan membutuhkan perlindungan lebih daripada yang aku butuhkan, karena kau seperti magnet yang menarik banyak masalah. Aku meminjamkannya padamu.
Otak Kurapika pun mulai bekerja.
...meminjamkannya padamu.
Kalimat itu berarti mereka akan punya kesempatan untuk bertemu kembali. Tentu saja. Mengejutkan, dunia itu kecil. Kurapika menggenggam cincin tersebut di tangannya. Ketika dia berkesempatan bertemu dengan pria itu lagi nanti, dia akan mengembalikannya. Hingga saat itu tiba, dia akan menyimpannya.
Dengan menghibur diri bahwa mereka akan bersimpangan jalan lagi—yang tak dia pahami kenapa hal itu membuatnya merasa lega, atau lebih tepatnya lagi dia memilih untuk tidak memahaminya—Kurapika menegakkan postur tubuhnya dan menyiapkan diri untuk merengkuh hidup yang sepenuhnya baru yang ada di hadapannya.
Meskipun hidup yang baru itu kelihatannya suram.
Kurapika segera mengasingkan dirinya ke cagar alam hijau yang mengelilingi Lutetia. Dia belum ingin bertemu orang lain sekarang. Dia memilih pendampingan Alam selama saat yang bermasalah seperti ini.
Dia masih terbenam dalam renungannya ketika suara pelan derap tapak kaki kuda yang terdengar sayup-sayup mengejutkannya. Dia mendongak, dan dari kejauhan terlihat Una, berdiri dalam kejayaan penuhnya sebagai Unicorn. Unicorn itu terlihat lebih dewasa sejak terakhir kali Kurapika melihatnya. Dengan cepat Kurapika beranjak saat Una menghampirinya dengan kecepatan yang tetap.
"Kau dari mana saja?" Kurapika bertanya, suaranya terkesan khawatir dan merindu. Dia sangat merindukan Unicorn itu. "Aku tak bisa menemukanmu di mana pun sejak di Pedesaan Suku Kuruta."
Una tidak memberitahumu, tapi Una punya alasan. Una kembali ke hutan tempat tinggal Chiron.
"Chiron? Centaur tua itu?"
Ya. Una mencari kebijaksanaan, dan Una menemukan apa yang Una cari.
Kurapika tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum dengan lembut. Bahkan ketika Una sudah dewasa, dia masih memilih untuk menggunakan kata ganti orang ketiga dalam berbicara. Betapa menggemaskan.
"Itu bagus. Aku ikut bahagia untukmu," dia berkata dengan tulus. "Apa yang akan kaulakukan sekarang?"
Tanpa adanya kebimbangan dalam langkahnya, Unicorn melanjutkan ucapannya dengan berkata :
Una ikut bersamamu.
Kurapika sedikit mengernyit mendengarnya.
"Apakah Kuroro yang memintamu atau kau melakukannya atas dasar kehendakmu sendiri?" Dia tak akan menerima belas kasihan. Jika Kuroro meminta Una untuk menemaninya, dia akan menolaknya.
Una memilihmu, jawab Unicorn itu singkat.
Kurapika memberinya seulas senyum yang tulus. Unicorn tersebut tidak tahu betapa bersyukurnya dia atas kata-kata Una. Dia menghampiri Sang Unicorn, bermaksud untuk menepuknya dengan penuh kasih sayang, tapi mendadak berhenti ketika sesuatu merasuk ke dalam benaknya. Dia mendadak berhenti, dan Una memiringkan kepalanya bingung.
Ada apa?
"Kurasa sekarang aku tak bisa lagi berdekatan denganmu," Kurapika berkata dengan suara yang sedih. "Karena aku bukan lagi..."
Dia tak bisa melanjutkan kata-katanya. Hal itu membuatnya merasa malu dan rendah diri. Dia merasa dirinya buruk sekali—membayangkan dia telah menjual tubuhnya sebagai pertukaran kebebasan. Apa yang lebih rendah dari itu?Dan lagi, dia tak punya pilihan, bukan?
Tidak. Dia sendiri yang memilih.
Kau yang putuskan, pria itu menawarkan padanya.
Kau hanya tidak punya pilihan ketika kau tidak memberikannya kepada dirimu sendiri, pria itu mengingatkan dirinya.
Ya, itu yang dia inginkan. Itu keputusannya. Sekarang dia tinggal menanggungkonsekuensinya. Tapi sebuah pertanyaan pun datang : apakah itu sesuatu yang penuh hasrat atau nafsu semata? Apakah dia telah memiliki nafsu terhadapnya? Pemikiran itu saja membuatnya terus merasa jijik, namun segalanya telah terjadi. Tak ada jalan untuk merubahnya. Meski satu yang pasti; dia begitu bodoh karena berpikir bahwa pria itu tak akan meninggalkannya kemudian.
Sembari Una mencerna arti kalimatnya yang tak diselesaikan, Sang Unicorn dengan sengaja melangkah menghampiri Si Kuruta. Dalam kesadaran penuh, Sang Unicorn mengusapkan kepalanya ke samping tubuh Kurapika, berhati-hati agar tidak melukai gadis itu dengan tanduknya. Kurapika betul-betul terkejut.
"U-Una? Kukira—"
Kami tak akan mati saat menyentuh sesuatu yang tak murni. Kami hanya dikucilkan oleh suku kami, dibuang sebagai Unicorn pengkhianat. Una menjelaskan dengan ketidakpedulian terdengar di nada suaranya, seolah dia tak peduli dirinya dibuang.
Terus terang, dia sudah dibuang sejak masa kanak-kanak. Apa bedanya sekarang? Tak ada.
Ketika Una menarik kembali kepalanya, barulah Kurapika memperhatikan ada yang berbeda dengannya. Kemudian, dalam waktu sekejap saja, dia memeprhatikan perbedaan yang sangat jelas. Tanduknya yang keemasan telah berubah warna menjadi warna hitam obsidian. Itu adalah warna logam hitam, berkilau dengan sedikit menyeramkan dalam keremangan cahaya fajar.
"Tandukmu...?" Kurapika bergumam dengan suara yang penuh kengerian.
Tanduk hitam adalah lambang Unicorn pengkhianat. Lagi, Una menjelaskan dengan sikap tak peduli.
"Oh, Una. Aku betul-betul minta maaf…" Kurapika membelai pipi Una dengan lembut, merasakan penyesalan merasuk ke dalam hatinya karena telah 'menodai' Sang Unicorn.
Jangan begitu. Mereka bisa membuang Una atau apapun, Una tak peduli, tapi Una telah memilihmu daripada memilih mereka. Keputusan Una sudah final dan tak ada jalan untuk merubahnya. Sang Unicorn berkata dengan tegas dan penuh percaya diri.
"Akankah mereka memburumu?" Kurapika bertanya lagi, suaranya masih terdengar pelan.
Tidak. Mungkin mereka akan menyiksa Una dengan kata-kata, tapi tidak memburu Una. Mereka tak bisa bersikap sembarangan terhadap Unicorn pengkhianat. Selama kami tidak menghalangi jalan mereka, mereka akan membiarkan kami sendiri.
"Aku mengerti...," sekarang Kurapika merasa lebih yakin.
Semakin dia memikirkannya, semakin dia merasa berterimakasih kepada Unicorn itu. Secara resmi, sekarang dia sudah mati—seharusnya, jika perhitungan Kuroro yang memalsukan kematiannya benar—dia tak bisa lagi hidup seperti sebelumnya. Mungkin dia perlu membuat identitas palsu, tapi itu terlalu merepotkan. Setelah semua yang terjadi, dia memilih kehidupan yang tenang sekarang.
Ketika dia keluar selangkah dari rumah yang terabaikan itu, dia telah merengkuh dirinya untuk menghadapi hidup sendirian, tapi kemudian Una datang dan 'menurunkan martabat' dirinya menjadi Unicorn pengkhianat maka dia bisa menemani Kurapika.
Tiba-tiba saja, dia memiliki banyak pilihan bagaimana cara untuk menjalani hidupnya. Dia bisa berkeliling dunia bersama Una. Dia bisa kembali dan mengunjungi Fino—gadis itu sangat bisa dipercaya dan dia telah membuktikan hal itu berkali-kali—dari waktu ke waktu. Bahkan dia bisa menjadikan Penginapan Prancing Ponny sebagai rumah sementara baginya, jika sang pemilik penginapan mengijinkan—di mana dia cukup yakin mereka akan mengijinkannya tinggal karena dia telah menyelamatkan nyawa Fino beberapa kali sebelumnya. Untuk pekerjaan, dia bisa belajar dan melakukan hal baru. Mungkin menjadi seorang sarjana atau peneliti? Lagipula dia selalu punya hal-hal untuk ditemukan dan diketahui.
Tiba-tiba, semuanya menjadi terlihat lebih baik. Sepertinya hidup Kurapika memiliki masa depan yang menjanjikan.
"Hei, Kurapika! Dan kau, Una!"
Sebuah suara yang familiar membuyarkan rentetan pemikirannya dan dia menoleh melihat dirinya berhadapan dengan ketiga orang temannya yang setia. Gon dan Killua tengah memainkan permainan 'siapa yang pertama bisa sampai ke tempat Kurapika adalah pemenangnya' dan dia tahu taruhannya tentang coklat. Di lain pihak, Leorio berteriak :
"Kami mencari-carimu! Ke mana saja kau?"
Ya, dan dia juga memiliki ketiga orang temannya yang setia.
"Maaf membuatmu khawatir. Aku...hanya mengurus beberapa hal," dia berkata dengan lembut.
Gon-lah yang pertama sampai di tempatnya berada dan setelah menyatakan "Aku menang!" dan mendapatkan tanggapan "Sial!" dari Killua, bocah itu menatapnya dengan matanya yang besar, seolah dia baru saja melihat Kurapika setelah bertahun-tahun lamanya. Tiba-tiba, seulas senyuman lebar mengembang di wajahnya.
"Sepertinya akhirnya kau merasakan kedamaian, Kurapika," katanya.
Kurapika menaikkan sebelah alis matanya, benar-benar terkejut mendengar hal itu. "Benarkah?"
Dia merasakan sedikit hentakan rasa bersalah di hatinya. Sebenarnya, dia tak pernah merasakan kedamaian—tidak setelah dirinya menyadari bahwa dia telah menjadi begitu rendah ketika memperdagangkan kesucian demi kebebasannya. Namun, dia tak akan memberitahukan hal itu kepada teman-temannya. Setidaknya belum waktunya.
Gon menganggukkan kepalanya dengan semangat, merasa senang temannya yang tengah mengalami masalah akhirnya entah bagaimana menemukan kedamaian. Lalu dia mengalihkan perhatiannya kepada Una sementara Killua; tidak sesederhana Gon, menatap Kurapika dengan pandangan waspada sambil otaknya bekerja untuk menyimpulkansesuatu. Dengan adanya pernyataan Kuroro yang mengatakan bahwa 'Kau akhirnya akan bertemu dengannya dalam keadaan utuh dan dalam kondisi yang bagus jika kau mematuhi aturan mainku' dan bagaimana kondisi Kurapika sekarang, sesuatu pasti telah terjadi semalam.
"Apa kau sudah membereskan semuanya dengan pria itu?" Akhirnya dia bertanya.
Dia punya kecurigaan sendiri, tapi dia ingin mendengarnya langsung dari mulut Kurapika. Kurapika menoleh menatap matanya. Dia sedikit terkejut atas apa yang diketahui Killua, tapi hal itu setidaknya tidak membuatnya merasa terganggu. Meskipuntatapan Killua mencari-cari, dia tidak menghindarinya. Entah bagaimana, dia merasa tak ada yang disembunyikan di sana, namunhal itu merupakan sesuatu yang ingin dia simpan sendiri.
"Ya," jawabnya singkat, tapi tak menjelaskan lebih jauh.
"Bagaimana bisa?" Killua bertanya lebih jauh.
"Killua," kaat gadis itu tegas, dan Killua tak bisa untuk tidak memperhatikan adanya kesan pengakhiran di nada suaranya. "Itu sudah bukan hal yang penting lagi."
Dia menarik napas dalam-dalam dan memejamkan matanya. Dia dengarkan suara angin, merasapan tiupan lembut hembusan angin di pagi hari. Pada akhirnya, hatinya terasa begitu ringan, meski beberapa menit sebelumnya dia begitu putus asa. Itu adalah yang pertama kalinya terjadi setelah sekian lama hidupnya yang dihantui. Dia merasa sangat bebas. Ketika akhirnya Kurapika membuka matanya, dia menatap ketiga temannya mantap.
"Sudah berakhir."
Angin berhembus melewati mereka, seolah menyetujui pernyataan Kurapika. Ada keheningan di antaranya, tapi tak ada kecanggungan di dalamnya.
"Kalau begitu kukira ini waktunya bagi kita untuk merayakannya?" Leorio menyeringai pada Kurapika dengan seringai konyolnya seperti biasa.
"Benar? Itu hebat sekali! Aku baru saja menemukan restoran yang bagus, kita harus mencoba—"
"Hei, hei, tenang Gon. Ayo kita diskusikan dulu!" Leorio mengacak rambut berdiri bocah itu dengan kasar sambil mendorongnya agar bergerak maju. Lalu mereka mulai berjalan pulang ke arah kota.
Kurapika melirik Una ragu.
Una akan menunggu di sini. Nikmatilah perayaan bersama teman-temanmu, katanya singkat dengan nada suara yang lembut.
"Terima kasih, Una," Kurapika memeluk leher Una, sebelum dia menyusul teman-temannya.
Saat Leorio dan Gon meributkan tentang makanan dan hal-hal sepele lainnya, Killua mengikuti di belakang mereka bersama Kurapika di sampingnya. Ketika cahaya mentari bersinar menimpa mereka, Killua melihat sesuatu berkilau dari sudut matanya. Dia menoleh melihat sumber kilauan cahaya itu, dan memperhatikan bahwa hal tersebut berasal dari jemari Kurapika. Ketika dia melihat dari dekat, dia perhatikan ada cincin lain di samping cincinnya yang bermata onyx disematkan di jari tengahnya.
"Apa itu?" Dia bertanya penasaran.
"Oh, ini?" Kurapika mengangkat tangannya dan membiarkan Killua melihat cincin itu dari dekat. "Ini hadiah kompensasi dari Kuroro."
"Kompensasi?"
"Ya. Untuk semua masalah yang membuatku ikut terseret."
Dia tak akan mengatakan apapun lagi mengenai cincin itu, masalah dan kompensasi yang dia miliki, dijelaskannya sekilas. Killua betul-betul ingin tahu lebih banyak tapi dia tak memaksakannya. Dia tahu sekalinya Kurapika memutuskan untuk tidak mengungkapkan apapun, dia tak akan pernah mengatakannya. Sikapnya yang keras kepala mungkin bisa jadi sangat menyebalkan.
Kurapika Kuruta siap merengkuh hidupnya yang baru; hidup yang bebas dari mimpi buruk masa lalunya. Namun dia masih belum menyadari, bahwa malam di rumah kosongitu adalah permulaan perjalanannya yang baru.
TBC
A/N :
Haha, sudah lama ya xD maaf ya teman-teman, belakangan ini aku sibuk sekali dan sulit untuk translate apalagi menulis. Mohon doakan agar aku bisa mengatasi semuanya dengan baik dan segalanya bisa normal kembali, termasuk agar aku bisa kembali melanjutkan fic-fic aku sendiri.
Terima kasih untuk semua readers yang telah memberikan review di chapter lalu;
Nekomata Angel of Darkness, Natsu Hiru Chan, Rin-X-Edden, Kujo Kasuza Phantomhive, Sends, imappyon, Mikyo, Uzumaki Naa-chan, bunnygirl, ShaKuraChan, Nikky, Shina Kurta, shiroheartfilia, alucard4869
Sekali lagi, maaf aku tak bisa menjawab review satu per satu. Pastinya semua dukungan teman-teman sangat berarti untukku.
Rate M untuk chapter ini tengah aku kerjakan, sayang tidak bisa aku publish bersamaan dengan yang ini karena belum selesai. Segala pertanyaan yang mungkin muncul setelah membaca chapter 30 akan terjawab di rate M-nya, yaitu "Half Empty Glass".
Ikuti terus ya... dan tinggalkanlah jejak review-mu untuk chapter ini^^
.
~ KuroPika FOREVER ~
