DISCLAIMER :
Togashiro-sensei
Runandra (untuk cerita aslinya)
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.
GENRE :
Adventure & Romance
WARNING :
FemKura. Chapter yang lebih pendek dari sebelumnya. Hanya diedit sekali jadi abaikanlah typo, hehe
EPILOG
Saat itu pagi yang damai di gedung kantor pusat Perkumpulan Hunter. Lobi begitu sunyi dan tenang. Cahaya masuk melalui dinding kaca gedung itu, memberikan atmosfer surgawi. Udaranya terasa segar, meskipun bagi sebagian besar orang rasanya agak dingin. Lobi itu sepi, kecuali resepsionis yang memang sudah tertidur–dan dua orang Hunter lagi yang baru muncul, hendak meninggalkan tempat itu.
Seorang pria kurus berkulit gelap dengan rambut hitam legam. Rambut gimbalnya diikat ekor kuda, membuatnya terlihat lebih liar daripada orang lain. Sementara wajahnya relatif bersih dari bekas luka pertarungan, dadanya yang telanjang—yang kurang tertutupi dengan baik oleh rompi kulitnya yang compang-camping—memiliki banyak bekas luka dengan penuh kebanggaan. Rekannya adalah seorang gadis berambut keemasan yang termasuk tinggi untuk perempuan seusianya, dan dia terlihat begitu lembut hingga tak seorang pun akan mengira bahwa dia adalah seorang Hunter.
"Siapa targetmu kali ini?" Gadis itu menanyai rekan kerja Hunter-nya dengan santai.
"Sekelompok penjahat yang sulit ditangkap, semuanya penjahat S-rank," dia menjawab dengan nada suara gembira yang membuat Si Gadis teringat pada Gon dan Killua ketika mereka dihadapkan pada sebuah tantangan, tapi Kurapika menginterupsinya sebelum dia dapat menjelaskan lebih jauh.
"Apakah kau, berbicara tentang Genei Ryodan?"
"Ya, tentu saja!" Pria itu mengedipkan sebelah matanya atas tebakan tepat Si Gadis.
Kurapika mengernyit padanya.
"Aku sangat menyarankan sebaiknya kau tidak memburu mereka jika kau menghargai nyawamu."
"Kenapa? Karena mereka terlalu kuat?"
Kurapika memutar kedua bola matanya dan menghela napas. Kadang-kadang, beberapa orang menilai kemampuan mereka terlalu tinggi.
"Mereka jauh di atasmu, Cash. Tanyakan saja kepada Bashou tentang hal itu, dia tahu bagaimana menggambarkan kekuatan mereka. Dia pernah melihat salah seorang di antaranya bertahun-tahun yang lalu, meski dia tidak menghadapinya secara langsung."
Cash benar-benar terlihat tersinggung dan tidak senang dengan pendapat Kurapika mengenai dirinya. Kurapika menghela napas lagi.
"Dengar, Cash. Bukannya aku merendahkan kemampuanmu sebagai seorang blacklist Hunter, tapi aku sendiri punya cukup banyak pengalaman berhadapan dengan mereka ketika aku masih bekerja sebagai seorang blacklist Hunter. Dari semua pengalaman itu, aku bisa merekomendasikan siapapun kolega dan rekanku untuk tidak menerima perburuan apapun yang berhubungan dengan Genei Ryodan. Aku sarankan kau meninggalkan misi ini sama sekali, kalau tidak kau hanya akan mengirimkan hidupmu pada kematian."
"Kalau begitu bagaimana kau bisa melarikan diri dari mereka dalam keadaan hidup?" Dia membalas dengan emosi, masih tak mau mempercayai pernyataan Kurapika.
Kurapika menyunggingkan seringainya yang mengandung ironi.
"Semata-mata karena berkah Tuhan."
Lalu Kurapika melangkah pergi darinya menuju ke ke pintu masuk-yang-sekaligus-berfungsi-sebagai-pintu-kelua r gedung kantor pusat Perkumpulan Hunter.
"Aku sudah menasihatimu, Cash. Apakah kau tidak mau atau mau menerima dan menjadikannya bahan pertimbangan, semuanya terserah padamu. Takdirmu terletak pada keputusan dan tanganmu sendiri," Kurapika berkata sambil menoleh melewati bahunya.
Ya, semata-mata karena berkah Tuhan-lah aku masih di sini... Kurapika tersenyum sambil merenungkan kata-katanya sendiri. Walau itu belum tentu meskipun semua pertemuan dengan Geng Laba-laba tersebut berbahaya. Malah, sebaliknya. Aku masih hidup karena mereka.
Lima tahun lalu, saat dirinya melangkah memasuki Penginapan Prancing Pony, dia diberi pelukan yang begitu erat hingga rasanya badannya bisa remuk—dari Fino yang kegirangan hingga menangis bahagia. Dia menolak melepaskannya bahkan ketika Kurapika berkata : "Tidak bisa...bernapas..." Lalu dia memaksa agar Kurapika memberitahunya semua yang terjadi saat dirinya ditangkap mafia. Si Gadis Kuruta memberitahu apa yang dia ketahui mulai dari penculikannya hingga campur tangan Lucian dengan semua kejadian itu. Meski dia menghilangkan satu bagian dari cerita itu—dia begitu enggan memberitahukannya pada siapapun juga. Biarlah menjadi rahasianya saja.
Kemudian, yang membuatnya sangat terkejut, Fino menyodorkan surat kabar ke wajahnya dan membuatnya membaca isi surat kabar itu. Mata Kurapika terbelalak saat membaca artikel yang ada di sana. Artikel tersebut tentang kematian seluruh Klan Nostrad secara misterius. Sepertinya mereka dibunuh dengan keji tapi tak ada penjelasan lebih jauh apakah pihak penguasa melakukan sesuatu untuk melacak para pembunuhnya atau tidak.
Di dalam hatinya, Kurapika tahu bahwa Genei Ryodan-lah yang melakukannya. Dan jika Pemerintah Lutetia sama peka-nya seperti Pemerintah Yorkshin, mungkin mereka menutup kasus itu begitu mengetahui bahwa pelakunya adalah Genei Ryodan dari Ryuusei-gai. Semua alasan pembunuhan dikesampingkan, pemerintah akan menghindari bentrokan dengan sekelompok penjahat S-rank.
Kurapika pun tertawa sinis. Dia tahu dirinya adalah alasan pemusnahan Klan Nostrad. Tidak diragukan lagi Kuroro menganggap itu alasan yang cukup untuk melenyapkan mereka yang mengetahui bahwa Kurapika adalah keturunan terakhir Suku Kuruta yang masih hidup di muka bumi ini. Benar-benar tidak manusiawi dan kejam, tapi dia bisa apa? Apa yang sudah terjadi, terjadilah. Tak ada yang bisa dilakukan untuk mengubah kenyataan itu. Dia memutuskan membiarkan masalah tersebut menyelinap pergi begitu saja tanpa perlu terlalu memikirkannya, Kurapika tak pernah membicarakannya lagi.
Kalaupun iya, seharusnya dia bersyukur atas keputusan Kuroro yang bijaksana. Lagipula, pria itu sudah menyelamatkannya dari gaya hidup buronan.
Sinar cerah matahari terbenam yang berwarna jingga kemerahan menyapu area luas yang tak terdapat apapun di sana kecuali barang-barang yang tak diinginkan dari seluruh dunia. Mesin, pakaian, makanan, berbagai peralatan dan bahkan para bayi, dilempar jauh-jauh ke tempat itu; hingga terlihat menggunung.
Tanah Orang Jalanan di Ryuusei-gai adalah seperti tanah tempat panen bagi warga Ryuusei-gai. Itu tempat di mana para warganya mencari penghasilan—mengumpulkan sisa-sisa dari dunia luar dan menggunakannya untuk apapun kegunaan yang mungkin dimiliki. Karena hal inilah, warga Ryuusei-gai sangat kreatif dalam kemampuan mereka untuk bertahan hidup, tapi seringkali cara mereka dipandang sebagai cara yang abnormal oleh orang-orang dari dunia luar.
Tanah abnormal yang menghasilkan orang-orang abnormal, seperti yang seringkali dikutip orang-orang yang tahu tentang Kota Bintang Jatuh.
Sebenarnya, tak ada pernyataan lain yang lebih tepat dari kutipan itu, kota tersebut dipimpin oleh seorang Medusa yang pernah menjadi Dewi. Para warganya sendiri tidak bijaksana, kecuali beberapa orang istimewa yang diijinkan rahasia gelap kota itu. Kota abnormal ini juga melahirkan sekelompok penjahat abnormal S-rank; Genei Ryodan.
Saat ini, Pemimpin Genei Ryodan yang terkenal itu sedang duduk di atas puncak reruntuhan Tanah Orang Jalanan, di daerah yang paling terpencil. Dia duduk menghadap matahari terbenam, menyaksikannya seperti seekor gagak mengamati mangsanya. Mantel hitamnya berkibas saat hembusan angin Tanah Orang Jalanan yang kuat menari di sekitarnya.
Dia sedikit memicingkan matanya saat menyaksikan langit bersemburat warna merah tua karena matahari. Dia ingat semburat warna merah itu.
Sama seperti enam tahun yang lalu, di Desa Suku Kuruta... ucapnya dalam hati.
Sosok yang lain melompat ke puncak struktur bangunan yang tengah diduduki Kuroro, tapi sosok itu tidak duduk. Dia hanya memandangi matahari terbenam, mengaguminya sama seperti yang dilakukan rekannya. Dia melipat kedua lengannya di depan dada dan menunggu jawaban apapun dari si pria berambut hitam. Rambut hitamnya yang sepanjang bahu menari seiring hembusan angin yang kuat. Mata abu-abunya yang berkaca-kaca memantulkan sinar matahari terbenam yang berwarna jingga kemerahan, sepasang mata yang hidup itu memberikan cahaya yang sangat menyeramkan.
"Argumen yang sama, terus seperti itu," Kuroro mengakui, dibarengi dengan helaan napas lelah, tanpa melihat kepada rekannya yang seorang vampir.
Lucian terkekeh, suara tawa pelan yang terkesan gelap, dan tidak mengatakan apapun lebih jauh mengenai masalah itu. Dia datang ke Ryuusei-gai untuk membuat hidup menjadi lebih sulit bagi temannya tersebut, tapi tidak dengan mengusiknya mengenai masalah Ryuusei-gai. Tidak, dia ada di sana untuk mengganggunya dengan masalah lain.
Hal-hal yang lebih baik dalam hidup...Dia menyeringai sendiri. Ah, dia suka sekali bagaimana kalimat itu terdengar di telinganya.
"Aku terkejut bahkan kau memberikan Cincin Solomon-mu kepada Kurapika," dia mulai bicara. "Bukankah itu kenang-kenangan terakhir dari Ishtar untukmu?"
Awalnya Kuroro tidak menanggapi, pandangannya masih tertuju pada matahari yang bergerak turun mendekati horizon. Ada jeda waktu keheningan yang panjang sebelum akhirnya dia menjawab :
"Dia akan menyetujui keputusanku."
"Apa yang membuatmu bisa berkata begitu?" Lucian menantangnya.
"Aku tak wajib mengungkapkan alasanku padamu, Lucian," Kuroro berkata dengan nada suara terganggu yang berbahaya.
Lucian menelan ludah. Kapanpun Kuroro menggunakan nada suara itu, artinya keputusannya sudah final. Dia tak akan memberitahu apapun juga padanya, tidak untuk seumur hidupnya. Bahkan jika vampir itu bersujud di hadapannya, memohon padanya untuk memberitahu pikirannya mengenai masalah tersebut walau hanya sedikit, Kuroro tak akan membocorkan sepatah kata pun padanya.
Pelit, dia berdecak kesal di dalam hati tapi tak berani mengucapkannya secara terang-terangan. Namun, dia tak akan menyerah, belum saatnya! Masih ada beberapa pertanyaan lagi yang harus dia tanyakan padanya.
"Kau tahu, kau belum memberitahu siapapun tentang alasanmu membiarkan Kurapika tetap hidup sejak awal perjalananmu dengannya."
Satu detik pun terlewati. Dua detik kemudian. Tiga. Empat. Lima…
"Kurapika pernah menanyakan itu sebelumnya, tapi aku tak pernah memberikan jawaban padanya," Kuroro akhirnya menjawab sambil terkekeh pelan, seolah ada yang lucu.
Lucian menghela napas berat yang menunjukkan kelegaan. Kuroro akan menjawabnya! Mamă-mamă! (pernyataan orang Rumania untuk mengekspresikan sesuatu yang keren atau luar biasa). Dia merasa seperti sedang melontarkan confetti tapi daripada begitu dia memasang raut wajah serius.
"Apa kau akan mengijinkanku mengetahuinya?"
Kuroro tidak menjawabnya, atau memberinya raut wajah jengkel yang biasa dia berikan kapanpun vampir itu memaksakan peruntungannya. Malah, dia langsung 'mengakui' alasannya menjaga Kurapika tetap hidup tentu saja.
"Saat aku pertama kali melihat Mata Merahnya, aku hanya berpikir 'Ah, kecantikan yang langka, dan itu yang terakhir. Sayang sekali jika lenyap ke dalam kematian'."
Lucian menaikkan sebelah alis matanya heran.
"Merasa bertanggungjawab karena telah membantai semua saudara sesukunya? Atau mungkin penyesalan?" Ini tidak seperti dirinya yang biasa, pikirnya diam-diam. "Itulah kenapa kau merasa wajib untuk melindunginya dan tidak membiarkannya mati? Itulah kenapa kau mengarahkannya untuk tidak mengorbankan hidupnya dalam pembalasan dendam?"
Kuroro terkekeh pelan, terkesan bercanda.
"Bukan seperti itu. Aku tidak menyesal atas apa yang sudah kulakukan. Lagipula, jika aku tidak melakukan misi itu..."
"Semuanya tidak akan jadi serumit sekarang."
"Itu sudah pasti."
"Dan kau tak akan bertemu dengannya."
"Mungkin."
"Jadi kau menjaganya tetap hidup karena Mata Merahnya?"
"Awalnya begitu."
Lucian mengernyit. Dia tak tahu lagi. Apakah dia yang bodoh atau Kuroro yang membingungkan? Sudah jelas yang terakhir.
"Seiring dengan berjalannya waktu, apa yang terjadi?"
Kuroro tetap diam untuk sesaat, memilah kata-katanya untuk menemukan penjelasan yang paling cocok tentang perubahan yang terjadi enam tahun lalu.
"Dia sederhana tapi rumit. Aku ingin mempelajarinya, ingin tahu lebih jauh tentangnya."
Lucian tertawa pelan.
"Sepertinya, terlalu mengenal pun tidak baik. Rasa penasaranmu akhirnya membawamu kepada kematianmu sendiri."
"Kematian? Aku tidak menganggapnya begitu."
Ucapan yang sederhana itu membuat Lucian mengernyit dalam-dalam. Lalu dia duduk di samping Kuroro dan memberinya pandangan menyelidik. Dia mencoba mencari-cari jawaban atau wahyu apapun itu dari wajahnya, tapi baik ekspresi maupun matanya tak menunjukkan apapun yang ia sembunyikan di dalam tempat perlindungan pribadi di dalam benak dan hatinya.
La naiba cu tine (Sialan kau), Ishtar. Karena kau, Lucifer sulit sekali untuk dibaca.
"Jika kau begitu menyukainya, lalu kenapa kau meninggalkannya?" Lucian bertanya dengan hati-hati sambil mengartikulasikan ucapannya pelan-pelan.
Kuroro tertawa sinis, tawa yang murung. Lalu dia mendongak dan memandangi langit senja. Matahari sudah benar-benar tenggelam di balik horizon dan sekarang yang tertinggal hanyalah kegelapan samar yang akan segera bertambah gelap daripada sebelumnya. Kuroro mengangkat kedua tangannya dan menutupi mulutnya dengan itu, suatu kebiasaan lama yang mungkin tak pernah disembuhkan seumur hidupnya.
"Jika aku tetap bersamanya, mungkin dia terpecah. Karma itu seperti paksaan yang mengerikan," akhirnya dia menjawab, suaranya pelan dan hampir terdengar begitu serius.
Lucian memberinya tatapan terkejut, dia tercengang.
Aku tak melihat ada kelogisan di dalamnya, pikir Lucian. Kau benar-benar kurang sehat secara psikologis.
"Setelah mengenalmu bertahun-tahun lamanya, aku masih tidak tahu apakah kau orang yang memiliki belas kasihan kepada orang lain, atau orang yang kejam, seorang yang jenius atau orang gila," Lucian menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Apakah itu pujian?"
"NU ESTE (BUKAN)!" Rasanya Lucian ingin menjambak rambutnya sendiri. Dia melonjak berdiri dan menunduk menatap Kuroro dengan intens. "Ini serius, sejak kau meninggalkan fată (gadis), sepertinya otakmu kacau, kau tahu itu?"
Kuroro hanya tersenyum.
"Bertanggungjawablah sedikit, oke? Kasihani dia."
"Sejak kapan kau mulai semangat bicara dengan kata-kata bijak?"
"Yah, maafkan aku. Biasanya percakapan sehari-hariku kurang berisi," Lucian berkata dengan suara yang terdengar bosan. "Ngomong-ngomong...aku benar-benar berpikir kau seharusnya mengunjungi Kurapika. Tidak. Aku sangat mendesakmu untuk mengunjunginya."
Kuroro memandanginya dengan tatapan penuh tanya.
"Alasannya?"
Lucian menyeringai lebar.
"Itu tugasmu untuk mencaritahu."
Sosok seseorang berjalan menuruni koridor pelabuhan yang sepi. Rambut biru gelap mencuat wanita itu bergoyang seiring dengan angin yang membelainya. Dia mengabaikan sekitarnya; bersikap dengan baik dan tenang, hanya fokus pada benak dan hatinya yang tengah bergolak.
Machi, salah seorang anggota Genei Ryodan, merasa terganggu. Begitu pula Shalnark. Dan juga—yang sangat mengejutkan—adalah Nobunaga. Mereka sering bertemu untuk mendiskusikan tentang masalah tertentu mengenai Danchou mereka, tapi setiap kali mereka berusaha mengangkat masalah tersebut dengan bertanya kepada pria itu, sayangnya Kuroro hanya akan menunjukkan dengan jelas bahwa dia tak ingin direpotkan dengan perhatian apapun yang mereka miliki atas dirinya. Itu sungguh mengganggu.
Fakta bahwa topik pembahasan mereka adalah seorang Kuruta tidak membantu atau menghibur sama sekali. Mereka bertiga tahu betul bahwa Sang Danchou entah kenapa sudah berubah—baik itu lebih baik atau lebih buruk—sejak dia meninggalkan Si Gadis Kuruta di desa lima tahun yang lalu. Dia menjadi lebih lunak dan kekejamannya berkurang—itu bagian yang lebih baiknya—tapi dia juga jadi menjauh—itu bagian yang lebih buruk. Selama bertahun-tahun dia masih mengadakan beberapa misi, dengan kejeniusan dan kesempurnaan yang sama yang tak tertandingi, tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa ketika anggota Geng Laba-laba yang loyal ini menyadari tatapan kehilangan yang kadangkala ditunjukkan Kuroro ketika kewaspadaannya tengah melemah untuk beberapa saat di berbagai kesempatan.
Para anggota Geng Laba-laba yang lainnya menyadari perubahan yang samar itu, tapi mereka tidak mau repot untuk meributkannya. Beberapa orang anggota Laba-laba yang bodoh itu hanya mengesampingkan masalah tersebut, menyebutnya 'gejala penarikan diri'—terutama ini istilah dari Phinks—dan dengan tidak berterimakasihnya mereka menganggap bahwa Sang Danchou akan melalui gejala itu cepat atau lambat dan semuanya akan kembali normal sebelum kemunculan Si Pengguna Rantai.
Yang benar saja semuanya bisa kembali normal, pikir Machi saat itu, dan sekarang dia masih berpikiran sama.
Machi menghela napas berat. Dia melompat ke atas kotak penyimpanan yang paling tinggi di sekitar sana dan duduk bersila di atasnya. Tatapan dinginnya bertumpu kepada lautan luas yang berbatasan dengan pelabuhan.
Selama lima tahun yang terasa menyiksa, mereka menahan diri. Sesuatu harus dilakukan. Seperti yang dia perhatikan sejak lama, ada ikatan yang terpadu di antara Si Pengguna Rantai dan Danchou mereka, dan firasatnya mengatakan bahwa ikatan itu jauh dari ikatan yang hancur. Kalaupun ada, dia mendapati dirinya berjaga-jaga bahwa sesuatu akan segera terjadi—entah itu baik atau buruk.
Jarak membuat hati semakin dekat, ya? Pikirnya sinis.
Rasanya selalu ganjil menghubungkan Sang Danchou yang dingin, yang tak menunjukkan ekspresi apapun dengan apapun juga yang berkaitan dengan perasaan atau emosi. Kalau tidak, dia menduga bahwa hal itu menjadi kasus yang lebih parah sejak dia berpisah dengan Si Kuruta.
Kutukan hubungan dan keterikatan. Dia mendengus pelan. Meski ini bukan berarti dia merendahkan kedua hal tersebut. Dia juga harus menyadari bahwa ada ikatan tertentu di antara para anggota Geng Laba-laba. Dia tak menentang hubungan dan keterikatan, tapi hubungan dan ikatan yang romantis? Itu sudah pasti di luar ruang lingkupnya.
Ketika Machi menghela napas lagi, matanya yang tajam menangkap sesuatu. Ada pergerakan dari salah satu sisi pelabuhan. Penasaran dan tak ada hal yang lebih baik dari itu untuk dilakukan, Machi pergi untuk memeriksanya.
Ada beberapa pria berotot memegangi sebuah kandang atau semacamnya, memindahkannya dari perahu yang sangat kecil ke bagian pelabuhan yang paling gelap. Mereka melakukannya dengan sangat tergesa-gesa dan diam-diam, yang membuat Machi menyimpulkan bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang ilegal. Bahkan dia merasa penasaran lebih dari biasanya, untuk alasan yang belum dia temukan—dia tak pernah menghiraukan hal-hal lain kecuali demi kepentingan Genei Ryodan—Machi berusaha mendekat ke gerombolan yang mencurigakan itu sambil menghindari pandangan mereka yang waspada.
Kesampingkan saja rasa penasarannya, sebenarnya adalah, firasatnya mengatakan bahwa dia harus memeriksa operasi diam-diam itu. Ketika dia berada cukup dekat dan dalam posisi yang strategis untuk memata-matai operasi tersebut, dia berusaha bisa melihat jelas apa yang ada di dalam kandang.
Itu anak-anak. Anak-anak dari segala umur dan ras; agaknya mereka diculik dari berbagai tempat di seluruh dunia. Kemungkinan besar mereka akan dijual sebagai budak anak-anak, atau prajurit anak-anak. Menjadi seorang Laba-laba dan dibesarkan di lingkungan Ryuusei-gai yang keras, Machi hanya merasakan sedikit simpati untuk anak-anak itu. Hanya perbedaannya bagi anak-anak itu adalah mereka harus mempelajari kemampuan bertahan hidup dengan cara yang sulit. Jika mereka bisa bertahan dari siksaan, mereka akan muncul sebagai orang yang lebih kuat dan lebih licik dari yang pernah mereka kira.
Machi hampir menyingkirkan masalah mengenai penyelundupan anak-anak itu dan beranjak pergi ketika matanya menangkap hal lain yang menarik di antara mereka. Di antara anak-anak itu ada seorang anak lelaki—meski penampilannya seperti perempuan, Machi yakin dia anak lelaki—yang berambut keemasan.
Rambut keemasan... Machi memicingkan matanya, dan sebuah kecurigaan pun merasukinya.
Ada banyak anak-anak lain dengan rambut pirang, tapi anak lelaki itu yang paling menarik perhatiannya. Dia tahu wajah itu. Dia tahu semburat warna rambut pirang itu. Ketika dia memicingkan matanya untuk mengamati anak lelaki tersebut lebih jauh, dia bisa melihat matanya yang berwarna gelap—dalam gelapnya gang di pelabuhan itu mata mereka semua terlihat gelap.
Tiba-tiba saja, keseluruhan operasi itu menjadi perhatiannya.
Leorio baru saja bangun. Dia masih mengenakan piyama dan membaca-baca surat kabar secara sepintas dengan segelas kopi panas di tangannya. Hidupnya sudah baik, bahkan hebat. Sekarang dia sedang mengejar gelar Master-nya sambil bekerja paruh waktu sebagai seorang dokter. Gon dan Killua sering pergi dalam jangka waktu yang lama, masih mencari Ayah Gon yang tidak waras itu. Meskipun apartemen itu hanya dihuni tiga orang bujangan, namun dijaga dengan sangat rapi hingga orang lain pun akan bertanya-tanya bagaimana bujangan seperti mereka bisa mempertahankan kerapian seperti itu.
Rahasianya adalah ada seorang wanita dengan sikap seperti seorang ibu yang memiliki kekhawatiran berlebihan terhadap segala sesuatu, yang mengunjungi apartemen itu sebulan sekali. Dia akan memerintahkan mereka untuk merapikan tempat itu, dan seringkali dia pun membawa serta tamu lain bersamanya.
"Aaah..." Leorio duduk merosot di kursinya dengan hati senang. "Ini yang namanya hidup..."
Dia sungguh senang. Tak ada lagi petualangan yang memacu adrenalin dan mengancam akan merusak jantung dan organ tubuh dalamnya. Tidak lagi berurusan dengan dunia bawah karena sekarang Kurapika menjalani hidup yang relatif normal sebagai seorang Hunter. Dia mengejar tujuan baru sebagai Hunter : dia ingin melakukan berbagai penelitian mengenai suku-suku lain yang ada di seluruh dunia dan berada dalam ancaman kepunahan seperti sukunya sendiri. Dia ingin membantu mereka jika hal itu memungkinkan. Sementara cakupan penelitian ayahnya Gon adalah arkeologi, Kurapika lebih kepada masalah etnis dan suku.
Ah, berbicara tentang Hunter, mereka bertiga sudah menerima Satu Bintang untuk cakupan keahlian mereka—ataukah Bintang Ganda untuk Kurapika? Gon, dengan kemampuan afinitasnya yang tak biasa terhadap binatang, memiliki Satu Bintang untuk melindungi kehidupan liar atau hal semacam itu. Killua, dengan obsesinya yang gila terhadap coklat, memiliki Satu Bintang dengan mengkontribusikan sesuatu kepada industri makanan internasional—kedengarannya aneh sekali hingga Kurapika dan Leorio tidak tahan untuk tidak menertawakan penilaian mereka. Kurapika, tentu saja dia mendapatkan Satu Bintang—atau lagi-lagi Bintang Ganda?—karena membantu suku tertentu dari kepunahan. Betapa mulia yang telah ia lakukan. Leorio menebak mungkin dia tak ingin suku-suku lain berakhir seperti sukunya.
Leorio sendiri? Dia cukup senang hidup sebagai seorang dokter. Lagipula, tujuannya menjadi seorang Hunter murni karena uang untuk membiayai kuliah kedokterannya. Tak kurang, tak lebih.
Menurut Kurapika, Una Sang Unicorn telah mengambil tempat tinggal tetap di hutan yang mengelilingi kota terpencil di mana Penginapan Prancing Pony berada. Kapanpun Kurapika pergi untuk tugas Hunternya, Unicorn itu akan mendampinginya. Seringkali Leorio bertanya-tanya bagaimana Sang Unicorn bisa begitu setia kepada Kurapika. Una membuatnya teringat kepada anjing jenis tertentu yang terkenal karena kesetiaan mereka yang abadi kepada pemiliknya.
Leorio menyesap kopinya perlahan, menikmati rasa pahit yang nikmat di dalam mulutnya ketika televisi tiba-tiba menarik perhatiannya. Di sana, di layar televisi itu, seorang reporter mengatakan bahwa sekelompok anak jalanan ditemukan di kota dan mereka menjelajahi hutan untuk makanan dan sebagai tempat berlindung. Ketika ditawari bantuan, mereka menolak dan malah berlari lebih jauh ke dalam hutan. Sepertinya pemimpinnya adalah salah seorang anak lelaki; yang baru berusia empat tahun. Mereka menayangkan gambar kabur anak itu, dan Leorio pun tersedak kopi yang tengah ia minum dan memuncratkannya ke mana-mana.
"Meta?"
Dan kemudian ponselnya pun berbunyi.
THE END
A/N :
Gyaaaaaa….akhirnya selesai x'D Yup, inilah ending dari 1001 Nights yang aku selesaikan dalam beberapa jam saja (tentu karena panjang chapternya yang hanya setengah dari biasanya, hehe).
Wah, sungguh pengalaman yang penuh usaha dan sempat gagal beberapa kali…#terharu
Terima kasih untuk Togashi-sensei yang telah menciptakan karakter-karakter HxH terutama KuroPika, makasih untuk Runandra-senpai yang telah membuat fic sehebat ini dan menurutku lebih menarik dari cerita aslinya (maaf ya Om Togashi), terima kasih untuk semua readers dan reviewers yang memberikan kritik dan dorongan semangat. Benar-benar berarti sekali! x'D
Ah, aku sudah tidak sabar untuk translate sekuel selanjutnya, Angel's Prayer…
Terus baca ya, kita bertemu dengan Meta yang menggemaskan nantinya.
Maaf semua review ga bisa aku balas satu per satu, sekali lagi TERIMA KASIH BANYAK! X3
P.S :
Ayo baca juga versi rate M chapter kemarin, Half Empty Glass Translated…hehe
19 Mei 2013, pk. 19.41 WIB ~
Ayo review! xDv
~KuroPika FOREVER~
