UNTITLED
-3-
{chanbaek/krisbaek}
'Baekhyun ah. . Apa kabarmu? Aku merindukanmu' lamun Chanyeol.
Pandangan Baekhyun kosong.
Ia masih duduk ditempat yang sama tanpa melakukan apapun selain memainkan smartphone putih dengan phonestrap strawberry miliknya, memutarnya diantara jemari lentiknya sejak sepuluh menit yang lalu.
Memikirkan tentang Kris.
"Hap" Kyungsoo mengambil ponsel Baekhyun sukses membuatnya tersadar.
"Ya, kemarikan ponselku Kyungie."
Kyungsoo menggeleng. "Tidak mau."
"Kemarikaan!" Baekhyun berusaha mengambil ponselnya kembali dari tangan Kyungsoo yang mulai menyalakan smartphone putih itu.
"Ya ya ya Byun Baekhyun, sahabat macam apa kau ini. Lihat-lihat wallpaper ponselmu ini kau dan Kris kan? jadi kalian sudah resmi dan tidak memberitahuku tentang hal ini?"
Baekhyun menyerah, pasrah.
"Jadi sejak kapan?" tanya Kyungsoo lagi.
"Kemarin." jawab Baekhyun singkat.
Ia bukan tidak mau memberitahu tentang hubungannya dengan Kris pada Kyungsoo tapi untuk memastikan perasaannya saja ia belum bisa, bahkan setelah berbagi ciuman kemarin pun.
"Kau yakin tentang ini?" Kyungsoo mengembalikan ponsel milik Baekhyun.
Ia tau dengan pasti Chanyeol masih ada disana, dihati dan pikiran Baekhyun.
Baekhyun terdiam sejenak.
"Kris bilang dia siap menunggu dan aku mungkin akan mencobanya."
"Tidak usah terlalu dipaksakan Baekhyun ah, aku mungkin tidak mengenal Kris tapi kurasa dia seseorang yang tulus." Kyungsoo menggenggam tangan sahabatnya.
Baekhyun mengangguk kecil "Aku tau."
Baekhyun memainkan ujung sedotannya sembari terus memperhatikan Kris yang sedang menerima telepon disela waktu sore mereka, mungkin bisa juga disebut kencan.
"Telepon dari siapa?" tanya Baekhyun manja sembari meminum ice lattenya sesekali.
"Dari sahabatku di China. Dia akan kembali ke Korea dan menginap dirumahku selama beberapa hari, sampai dia menemukan tempat tinggal baru." jawab Kris menyimpan ponselnya disaku dengan satu tangannya yang lain sedikit memainkan poni Baekhyun.
"Namja?" Baekhyun berpura-pura menambahkan nada seperti terkesan cemburu disana.
Kris mengangguk. Tersenyum kecil.
"Kenapa? Baekhyunku cemburu?" goda Kris.
"Ti…daaaak." Baekhyun menggeleng kemudian memalingkan wajahnya.
"Ahhh kenapa menggemaskan sekali sih." Kris semakin senang menggoda Baekhyun. Terus dipandanginya sosok teristimewa dihatinya ini.
"Aku tidak cemburu Kris!"
"Jawab aku atau kucium disini. Sekarang. " Kris menatap Baekhyun dengan tatapan sedikit nakal, menggodanya.
"Akuu tidaak cemburuu. Temanmu itu akan menginap ditempatmu dan aku akan mengajak Kyungsoo menginap ditempat Kai kalau begitu ." balas Baekhyun sembari mengeluarkan ponselnya, berpura mencari nomor Kyungsoo dan mendialnya.
"No! Kai itu kekasih Kyungsoo, mana boleh aku membiarkanmu menginap ditempat namja lain." akhirnya Kris yang mulai terpancing rasa cemburu bergegas mengambil ponsel dari tangan Baekhyun dan memutus sambungan dial dilayar ponselnya sebelum panggilan itu benar-benar terhubung kenomor yang dituju.
Baekhyun masih melanjutkan aktingnya.
"Kalau begitu aku juga tidak mengijinkan namja lain menginap ditempatmu. Itu baru adil."
Sebenarnya Baekhyun hanya menggoda Kris.
Tentu saja Ia tidak bersungguh-sungguh melarang teman Kris menginap.
Ia tidak seprotektif itu.
Apalagi untuk saat ini ia masih belum tau perasaan macam apa yang dirasakannya pada Kris.
Sejauh ini ia akui memang ia merasa nyaman.
"Tapi aku sudah berjanji Baby, mengertilah sedikit." Kris bimbang.
Disatu sisi ia pasti akan lebih memilih untuk menuruti Baekhyun.
Tapi disisi lain ia telah berjanji pada Chanyeol.
Ditambah ia memang sudah merindukan sahabatnya itu meskipun hanya sempat bersama selama beberapa bulan sebelum Ia pindah ke Korea.
Chanyeol jugalah yang membantunya untuk beradaptasi dengan lingkungan Korea dengan berkirim pesan.
Baekhyun memalingkan wajahnya lagi. Berpura-pura marah.
"Ok, ok, bagaimana jika kau ikut menginap dirumahku jadi kau tidak akan mencurigai apa yang kulakukan dengan sahabatku itu. Bagaimana?" tawar Kris memecahkan masalah.
Baekhyun berfikir sejenak.
Tidak buruk juga untuk menambah teman. Toh teman Kris temannya juga.
"Baiklah sayang, aku terima penawaranmu. Tapi kau tau aku tidak bisa bahasa mandarin. Bagaimana aku bisa tau kalian tidak melakukan pembicaraan aneh didepanku." Baekhyun memanyunkan bibir mungilnya. Senang karena setidaknya Ia berhasil mengerjai Kris.
Kris mencubit pipi Baekhyun Gemas.
"Dia orang korea sebenarnya, dan lagi kau tidak perlu mencemaskan hal yang macam-macam. Karena sialnya disini, dan disini terasa sesak. Dipenuhi namamu" nada ucapan Kris berubah serius, ia menggenggam jemari Baekhyun dengan satu tangannya, menuntunnya kearah pelipisnya dan turun ke dadanya, memposisikannya disana sesaat.
Wajah Baekhyun memerah.
Menatap wajah tampan Kris yang juga sedang menatapnya tanpa keraguan sekaligus merasakan debaran dijantungnya, ia tau dan yakin Kris benar-benar menyukainya.
"O, o bagaimana kau bisa mengenalnya?" Baekhyun mencairkan suasana diantara keduanya memasang wajah seakan tertarik ingin mendengar cerita Kris.
Kris menghela nafas pendek. Melepas genggaman tangannya dijemari Baekhyun.
"Aku bertemu dengannya di rumah sakit ketika aku menjenguk temanku. Dia menolongku, mungkin saat ini aku seperti berhutang budi bahkan nyawa padanya, kemudian kami berteman. Dia sangat baik, menyenangkan, dan kau tau dia sungguh tampan. Aku malah khawatir kau akan menyukainya." jujur Kris.
Baekhyun tertawa dalam hati.
Kekasihnya ini begitu sempurna sebenarnya. Tampan, tinggi, proposional, selalu menjaga dan melindunginya, betul-betul seseorang yang sempurna.
"Kalau kau takut pegang hatiku, dan jangan biarkan berpindah ketempat lain." Baekhyun menggenggam punggung tangan Kris hangat.
Kris tersenyum mendengar kalimat yang baru saja diucapkan kekasihnya ini.
"Itu sudah pasti, aku berjanji. Bahkan jika kau yang memohon untukku melepaskannya aku tidak akan melepaskanmu."
"Begitu terdengar lebih baik." senyum Baekhyun.
"Hey tunggu, kemarikan ponselku!" respon Baekhyun begitu Kris mengambil ponselnya yang ia letakkan tepat disebelah ice lattenya.
Kris tersenyum, sembari memainkan strap-ponsel Baekhyun.
"Kau memakainya?"
"Kau bisa melihatnya kan?" Baekhyun balas bertanya.
Strap-ponsel strawberry, isi dari kotak putih, hadiah pertama yang Ia berikan untuk Baekhyun diwaktu perkenalan mereka.
"Aku senang, anggap ini aku okay? Kau harus menjaganya. Aku tau kau ini ceroboh. Jadi jangan sampai kau menghilangkannya" ujar Kris mengusap pelan surai halus Baekhyun.
Kris menengok ke arah jam besar di salah satu dinding.
Sudah hampir satu jam ia menunggu dan akhirnya pesawat yang membawa sahabatnya itu mendarat juga.
"Kris!" teriak suara berat diujung pintu kedatangan luar negeri.
"Chanyeol!" Kris menghampiri Chanyeol dan memeluknya.
"Welcome Back!"
"Korea sepertinya baik-baik saja." ujar Chanyeol melepaskan pelukan Kris
"Tunggu, sepertinya aku tidak melihat Sehun dan Luhan. Kemana mereka?" tanya Kris begitu menyadari Chanyeol hanya seorang diri.
"Mereka akan menyusul minggu depan, tiba-tiba ada yang harus diurus katanya."
Sahabatnya ini memang begitu hangat meskipun Ia hanya sempat mengenalnya selama beberapa bulan.
"Hey Kris, Aku lapar. Bagaimana jika kau mentraktirku makan?"
"Sure!" Kris membantu Chanyeol membawakan kopornya menuju mobilnya.
Kris dan Chanyeol menghabiskan waktu makan siang dengan cerita-cerita masing masing setelah cukup lama tidak bertemu.
Mereka memang tipe sahabat yang saling cocok satu sama lain, maksudnya memiliki banyak kesamaan seperti jenis musik, hobi, dan selera.
Tidak banyak perubahan fisik yang Kris lihat di diri Chanyeol, hanya mungkin selain terlihat lebih tampan dengan rambut hitam model semi-spikenya sahabatnya ini terlihat lebih kurus.
Kris tidak mempertanyakan kenapa karena yang ia tau Chanyeol memang sedang dalam masa penyembuhan meski ia tidak tau penyakit apa yang sahabatnya ini derita.
Toh ia juga tidak mau Chanyeol salah paham dan menganggapnya tidak tulus hanya karena kasian dan rasa balas budi.
"Jadi bagaimana, apakah sudah ada kabar dimana keberadaan malaikatmu itu?" tanya Kris.
Chanyeol meminum ice lattenya. Raut wajahnya berubah sedikit.
Ia menggelang.
"Kau pasti sangat merindukannya Chan, itu terbaca dimatamu." kata Kris.
'Sangat. .'
'Baekhyun, aku merindukanmu. Apa kau akan senang, aku kembali. .' desah Chanyeol
"Hey ceritakan padaku tentang kekasihmu." ujar Chanyeol bersemangat mengalihkan topik pembicaraan sebelumnya yang dirasa sedikit sensitif.
Kris tersenyum malu.
Ekspresi yang terbaca oleh Chanyeol, Kris tentu benar-benar mencintai kekasihnya itu.
"Dia seseorang yang menyenangkan. Aku seperti merasa aku hampir gila Chan, tapi aku benar-benar menyayanginya dan kurasa ini cinta pada pandangan pertama." cerita Kris, kedua matanya berbinar.
"Jadi kau sudah pensiun dari status playboymu, huh?" goda Chanyeol.
Kris mengangguk mantap.
"Dan aku menyerah pada sosok pecinta ice cream strawberry." lanjutnya.
'Ice cream strawberry?' ada sesak kecil dihati Chanyeol.
"Hmm, aku jadi penasaran."
"Tidak usah begitu penasaran Chan, karena kalian akan bertemu sebentar lagi. Kau tau, dia itu pencemburu, Dia bilang dia akan menginap ditempat kekasih temannya jika aku mengijinkanmu menginap ditempatku." jawab Kris dengan nada terdengar gemas.
"Hahaha, lucu sekali. Lalu aku akan kau tempatkan dimana?" tawa Chanyeol.
"Aku sudah membujuknya dengan memberikannya tawaran untuk ikut menginap bersamamu, ditempatku. Dan dia akhirnya setuju." jelas Kris.
"Sepertinya kekasihmu itu benar-benar lucu. Aku jadi semakin penasaran ingin mengenalnya." goda Chanyeol.
"Hey Park Chanyeol! berani kau menggodanya sedikit saja, akan kutemukan malaikatmu itu dan kukatakan padanya untuk melupakan lelaki sepertimu." canda Kris.
Chanyeol hanya membalas candaan Kris dengan tawa khasnya.
"Tenanglah Wu Yi Fan, aku hanya menggodamu." Chanyeol membalas menyebut nama lengkap Kris.
"Tapi kalian sepertinya memang akan cocok. Pecinta Ice Latte. Mari kita pulang kerumah dan bertemu dengannya." Kris bangkit dan diikuti Chanyeol.
'Ice Latte?'
Tidak sampai 15menit mobil Kris sudah terparkir lagi di garasi rumahnya.
Entah mengapa perasaan Chanyeol tiba-tiba berdebar.
Kris membuka bagasi belakang mobilnya dan mengeluarkan kopor milik Chanyeol.
"Ayo masuk!" ajak Kris.
Chanyeol memegangi dadanya.
Demi bumi yang Ia pijak debarannya semakin menggila begitu Ia melangkahkan kaki melewati pintu masuk rumah Kris.
Debaran seperti ini sebelumnya hanya ia rasakan ketika sesuatu itu berhubungan dengan Baekhyun.
Ketika melihat senyum Baekhyun, ketika melihat Baekhyun ceria dan bermanja padanya, ketika Baekhyun. .
Semua tentang Baekhyun.
"Kau tunggu disini, aku akan menaruh kopormu dan memanggil kekasihku. Sepertinya dia sedang mempersiapkan minuman untuk kita."
Chanyeol menjawab ucapan Kris dengan mengacungkan ibu jarinya.
'Sial, debaran ini semakin menggila, rasanya sesak.'
"Annyeonghaseo, Byun Baekhyun imnida"
Chanyeol membeku.
Pikiran dan telinganya seolah saling berinteraksi mencerna kalimat yang baru saja Ia dengar. Perasaannya semakin bergejolak.
Bibirnya terkatup sedikit gemetar.
Suara itu sangat familiar ditelinganya.
Suara itu suara yang selama ini mengisi hari-harinya.
Suara yang sejujurnya begitu ia rindukan.
Dengan segenap kekuatan Chanyeol menoleh ke asal suara itu.
Dan benar.
Pikirannya tak salah, kedua matanya tidak buta, dan gejolak hatinya yang menggila saat ini beralasan.
'Malaikatku. .' desah Chanyeol dalam hati.
Senyum manis Baekhyun menghilang.
Demi bumi yang Ia injak saat ini Ia mengenali sosok dihadapannya ini.
Tidak ada yang berubah selain wajahnya yang memang terlihat jauh lebih tampan dan tubuhnya yang terlihat begitu kurus.
Sebentar Ia mencoba menenangkan hatinya.
Tidak bohong bila hatinya bergejolak hebat.
Dan luka hatinya yang tidak ia tutupi dengan baik selama ini terbuka lagi.
Seseorang yang Ia benci, yang menghancurkan perasaannya kini tepat berada dihadapannya, Park Chanyeol.
"Hey Chan kenalkan, dia ini kekasihku." seru Kris yang masih merangkul bahu Baekhyun.
'Eghhh' desah Chanyeol pelan nyaris tak terdengar.
Hatinya seperti tertusuk ratusan duri mendengar kalimat sahabatnya itu.
Sakit. Sakit sekali.
Chanyeol berusaha menetralkan perasaan sakitnya dan memasang wajar senetral mungkin meski itu tidak terlalu berhasil.
"A-Anyeonghaseyo Baekhyun sshi" Chanyeol menahan bibirnya yang bergetar. Baekhyun hanya menatapnya datar.
"Bagaimana? Tampankan sahabatku ini? Kau bahkan tanpa sadar terus memandanginya sayang." Kris menggoda Baekhyun yang saat ini duduk disebelahnya berhadapan dengan Chanyeol.
Baekhyun yang tersadar kemudian memalingkan pandangannya.
Chanyeol masih berusaha menahan rasa sakitnya.
Dia butuh obatnya saat ini juga.
"Dia ini kekasihku Chan, dia sangat manis bukan?" Kris masih belum menyadari hawa aneh yang berada disekitar Chanyeol dan Baekhyun.
"Ne. . Sangat manis." jawab Chanyeol sembari memberanikan diri menatap Baekhyun. Baekhyunnya yang sangat Ia rindukan.
'Sial. . ' keluh Baekhyun dalam hati sambil menahan rona diwajahnya. Kris tidak boleh melihatnya merona.
"Apa kubilang. . Cantik mana Baekhyunku dengan malaikatmu yang selalu kau banggakan itu?" tanya Kris lagi.
Chanyeol mulai dapat menekan perasaannya.
Baekhyun masih memalingkan wajahnya.
"Malaikatku cantiknya sama seperti Baekhyun sshi, tapi sepertinya Baekhyun sshi jauh lebih cantik." jawabnya tulus.
Baekhyun kali ini tidak dapat menahan lagi gejolak hatinya.
Wajahnya merona sempurna dan Chanyeol melihatnya.
Ada desir-desir halus dihati Chanyeol.
"Hey hey Park Chanyeol, yang barusan itu seperti terdengar kau menggoda kekasihku, apa kau mau kulaporkan pada malaikatmu itu hah?" nada kalimat Kris terdengar bercanda namun tidak bersahabat.
"Hahaha, aku hanya bercanda Kris, malaikatku tentu lebih cantik." jawab Chanyeol menetralkan keadaan. Ia tau betul Kris serius terhadap perasaannya pada kekasihnya, Baekhyun.
"Kris. .Aku mengantuk. ." ujar Baekhyun kemudian menyandarkan kepalanya di dada hangat Kris. Kris merengkuhnya dan membelai surainya perlahan.
Baekhyun sengaja.
Dan sepertinya berhasil.
Chanyeol yang sedari tadi memandanginya kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Kamarmu ada dilantai 1, Chan. Rumah ini hanya memiliki dua kamar. Baekhyun biar tidur bersamaku. Kau bisa beristirahat sekarang jika kau mau."
Chanyeol mengangguk, tersenyum sekilas kemudian melangkahkan kakinya kelantai atas.
Semakin lama berada disitu hanya akan membunuhnya secara perlahan.
Tubuhnya melemas.
Hatinya semakin sakit.
Bahkan jauh lebih sakit dari sebelumnya.
Sejenak ia menyandarkan dirinya diantara dinding tangga untuk mencari kekuatan.
Pikirannya menerawang dan pandangannya mulai mengabur.
"O-obatku. ."
Chanyeol masih memegangi dadanya yang sakit, dengan sisa kekuatannya Ia membuka kopornya mencari tempat dimana obat penahan rasa sakitnya berada.
Ia memang menyembunyikannya terlalu dalam sehingga sedikit sulit menemukannya dalam kondisi seperti ini.
find me and I'll be there for you~
Ia hentikan sesaat kegiatannya, merogoh sakunya dan membuka flip ponselnya.
"Sehun. ." lirihnya.
"Hyung, sudah sampai di Korea kan? Kenapa tidak menghubungiku? Hyung baik-baik saja kan?" nada Sehun terdengar khawatir diujung sana.
Chanyeol memejamkan matanya. Sakit sekali.
"Aku sudah sampai, aku baik-baik saja Sehunie."
"Syukurlah hyung. Hyung, kau tidak lupa meminum obatnya kan?"
"Ne, aku sudah meminumnya" bohong Chanyeol.
"Hyung ada yang ingin aku tanyakan. Tentang obat pereda rasa sakit itu. . Kau yakin kau sudah membuangnya kan hyung?"
"A-aku sudah membuangnya Sehunie." jawab Chanyeol gugup.
Ia bebohong lagi, membohongin adik kesayangannya kedua kalinya untuk hari ini.
Ada rasa berdosa terselip dihatinya.
'Sehun maafkan aku. .'
"Aku percaya padamu hyung, hanya saja Luhan bilang kemarin Ia melihatmu seperti memasukkan botol obat itu kekopor. Hyung jangan buat aku hawatir. Hyung ingat perkataan dokter Zhang bukan?"
'Aku tidak menyarankan kau meminum obat ini Chanyeol, namun jika rasa sakitnya seperti tidak bisa kau tahan lagi kau dapat meminumnya. Tidak dalam jumlah banyak dan tidak dalam jangka waktu yang terlalu sering. Efek obat ini cukup kuat. Membuatmu kecanduan dan jika kau tidak mendengarkan perkataanku maka nyawamu yang akan terancam. Sehun bisa tolong kau selalu awasi dan ingatkan kakakmu?'
Penjelasan dokter Zhang saat itu masih teringat jelas difikiran Chanyeol.
Chanyeol memang sangat jarang meminum obat pereda rasa sakit itu bisa dibilang hampir tidak pernah karena hanya satu kali.
Itupun tanpa sepengetahuan Sehun karena ia meminumnya diam-diam.
"Hyung." panggil suara diujung sana.
"Sehunie, aku ingin beristirahat. Aku akan baik-baik saja"
"Baiklah, aku percaya padamu hyung. Selamat beristirahat." tutup Sehun.
Chanyeol menaruh ponselnya tergesa dan memegang erat tabung kecil berisi apa yang Ia cari, mengeluarkan beberapa kapsulnya sekaligus dan menenggaknya.
"Sakit sekali Baekkie. ."
Cahaya hangat yang menelusup dari luar jendela kaca kamar dilantai satu itu menggoda Chanyeol untuk membuka kedua matanya yang masih berat.
Kepalanya terasa sedikit pusing mungkin efek dari obat pereda rasa sakit yang Ia minum semalam.
Masih terpejam ia memegangi dadanya.
"Obatnya bekerja dengan baik" lirihnya pelan.
Perlahan ia membuka kedua matanya dan mengusapnya perlahan.
Dilihatnya jam yang terpasang didinding bercat putih dihadapannya.
Terbaca pukul 10 pagi.
"Aku tidak boleh membuang waktuku lagi, sebentar lagi aku akan pergi jauh dan tidak akan bertemu denganmu lagi Baekhyunie. Selagi saat ini aku bisa melihatmu itu sudah cukup. Aku akan pergi dengan tenang."
"Selamat pagi Park Chanyeol! atau mungkin selamat siang?" sambut Kris begitu melihat Chanyeol turun dari lantai satu.
"Sepertinya ini memang sudah siang." jawab Chanyeol sambil tersenyum.
Pandangannya menyisir seluruh ruangan dimana Ia dan Kris berada saat ini, tapi terasa kecewa begitu ia tidak menemukan sosok yang ia cari.
"Kau memasak? Dimana kekasihmu?" dengan nada senormal mungkin agar Kris tidak salah paham.
"Hanya ramen. Aku belum sempat berbelanja sebenarnya. Dan Baekhyun, sepertinya dia masih terlelap. Semalam kami tidur larut. Tidak biasanya dia begitu bermanja padaku." terang Kris malu-malu.
Ekspresi wajah Chanyeol berubah.
Sedih.
Terasa sekali raut kesedihan disana.
Sahabatnya terlihat begitu bahagia, kenapa hatinya bersedih? Bukankah ini tidak adil.
Dan tentang Baekhyun kenapa terasa begitu sulit menerima semua kenyataan ini?
Bukankah dulu dirinya yang meminta Baekhyun untuk hidup bahagia? Melepasnya dengan rasa sakit dan tangisan.
Sahabat dan Orang yang paling dicintainya saling menyayangi, bukankah itu harusnya memberi kebahagiaan berlipat untuknya?
'Sebentar lagi. .'
Dan Chanyeol yakin sebentar itu bukan waktu yang lama.
"Uhuk, sepertinya ada yang sedang membicarakanku" sahut Baekhyun yang keluar dari balik pintu kamar Kris.
Chanyeol seperti tersihir.
Baekhyun hari ini masih sama seperti Baekhyun yang kemarin hanya dimatanya memang Baekhyun selalu lebih indah dari hari keharinya.
Kulitnya yang begitu putih bersih, rambut halusnya, kedua mata indahnya, hidungnya yang sempurna, dan bibir merah itu menghipnotisnya.
Sungguh, melepas Baekhyun adalah kebodohan terbesar yang pernah ia lakukan meskipun itu didasarkan untuk kebahagiaan Baekhyun. Ia menyesal.
BAEKHYUN POV
Aku memberanikan diriku untuk keluar dari kamar Kris begitu kudengar suara Kris seperti sedang mengobrol.
Kurapikan rambutku yang masih sedikit basah.
"Uhuk, sepertinya ada yang sedang membicarakanku" ujarku untuk membuat Kris dan Chanyeol menyadari kehadiranku.
Chanyeol. Yah sebenarnya aku sudah sangat malas menyebut namanya.
Aku membencinya.
Kudapati Ia sedang menatapku tak lepas.
Seperti terhanyut dalam sebuah dunia.
Aku tau dia terpesona.
Tentu saja seharusnya memang seperti itu karena ini memang bagian dari rencanaku.
Sakit hati yang kurasakan sampai detik ini.
Keterpurukanku dan kesedihanku.
Kepercayaan yang telah kubangun dengan tulus dihancurkan dengan sebuah alasan konyol yang aku tidak akan pernah bisa terima. Perselingkuhan.
'Kau harus membayarnya Park Chanyeol, dengan luka dan sakit yang sama. . atau bahkan lebih.'
"Selamat pagi baby."
Kris merengkuh pundakku dan meninggalkan kecupan manis dikeningku.
Aku berusaha terlihat menikmati perlakuan Kris yang tidak biasanya ini.
Aku tau Kris hanya sedang memamerkan kebahagiaannya pada sahabatnya itu.
Jujur saja memang sedikit risih karena dari sudut sana seperti ada tatapan-tatapan kesedihan melihat kearahku dan Kris.
Tapi siapa perduli, semakin menyakitkan rasa sakit itu biarlah menjadi balasan Tuhan untuknya.
"Pagi Baekhyun sshi" Chanyeol menyapaku dengan senyumnya.
"Pagi." jawabku singkat.
"Ok, ramyun sudah siap! mari kita makan" seru Kris.
"Kau memasak ramyun? Waah."
Kris menjawab pertanyaanku dengan anggukan.
"Ramyun udang." tambahnya lagi.
"Ra-ramyun udang?" tanyaku memastikan.
Aku melihat kearah Chanyeol sekilas.
Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk saling mengetahui kekurangan, kelebihan, kesukaan, dan ketidaksukaan satu sama lain.
Dan aku tau benar, Chanyeol alergi udang.
"Mari makaaan!" Chanyeol menyiapkan mangkuk dan sumpitnya. Mulai memakan dengan lahap ramyun buatan Kris.
"Hati-hati hey Chan, kau bisa tersedak." ujar Kris mengingatkan sembari memakan ramyunnya.
Aku tidak terlalu bernafsu atau lebih tepatnya sudah kehilangan nafsu makanku.
Lelaki ini.
Apa dia hilang ingatan?
Apa dia sengaja?
Apa dia begitu bodoh?
Sepertinya dia sudah gila.
Sialnya situasi dihadapanku ini membuatku kembali teringat kenangan pertama kali saat aku membuatkan bekal untuk makan siangku dan Chanyeol.
/FLASHBACK/
"Hey bodoh!" panggilku begitu melihat Chanyeol kekasihku duduk menyandarkan tubuhnya pada pohon rindang dibelakang sekolah kami.
"Kau lama sekali! Lihatlah aku sekarat" lemas Chanyeol.
Aku menahan tawaku.
Tentu saja aku tau dia hanya berpura-pura.
"Maafkan aku. tadi aku . ."
"Aku tidak menerima penjelasan. Aku marah padamu titik." Chanyeol memalingkan wajahnya memutus penjelasanku.
Aku merasa tidak enak juga sebenarnya.
Aku yang salah dan sepertinya aku memang harus mengalah saat ini.
"Lalu apa yang harus kulakukan agar kau tidak marah lagi?" desahku.
Chanyeol menatapku. Menyeringai kearahku dan tersenyum penuh arti.
"Suapi aku" katanya singkat.
"Su-suapi?"
Chanyeol mengangguk.
"Kenapa? tidak mau?" tanyanya lagi.
Sebenarnya bukan tidak mau.
Tapi ini kali pertama aku menyuapi seseorang selain keluargaku dan posisi Chanyeol sebagai pacar pertamaku, tentu saja membuatku gugup.
"Ba-baiklah akan kusuapi. Dasar manja." Aku menyerah.
"Nah begitu dong."
Aku bersiap menyuapinya.
Menyumpit sebuah rollade dan mengarahkan pada Chanyeol.
"Kau mau apa?" tanyanya lagi.
"Menyuapimu lah, kau bodoh, kan tadi kau yang memintaku." jawabku kesal.
"Aku tidak mau pakai sumpit."
Aku menghela nafas menahan kesabaranku. Kekasihku ini maunya apasih?!
"Lalu aku harus menyuapimu menggunakan apa?" tanyaku kesal.
"Gunakan bibirmu." jawab Chanyeol singkat. Pipinya memerah.
'Bi-bibir?'
"Ka-kau mau atau tidak? Kesalahanmu itu besar mana mungkin aku begitu saja memaafkanmu. Lihat aku. Ahh sakit sekali perutku. Aku sekarat. Kelaparan." Chanyeol bertingkah konyol menutupi rasa gugupnya.
Aku menahan gelora dihatiku yang penuh dan bergejolak.
Pipiku mungkin memerah sempurna.
Dengan ragu kumasukkan rollade yang ada ditanganku kearah mulutku sendiri dan menarik leher Chanyeol perlahan agar wajahnya menghadap kearahku dan menyalurkan rollade itu padanya. Chanyeol yang seperti sedikit terkejut membuka mulutnya dan menerima operan rollade itu kemudian mengunyahnya.
Debaran dihatiku menggila.
Denyut jantungku seperti tigakali lebih cepat.
Aku hanya menunduk tidak berani membalas tatapan Chanyeol setelahnya.
"Ehm rasanya enak. Manis." komentarnya.
Aku masih menunduk mencoba menahan debaran gila ini.
"Kau mau coba juga?" tawar Chanyeol.
Tanpa kalimat persetujuan dariku Chanyeol menangkup kedua pipiku membuatku menatap kearahnya.
Perlahan ia mendekatkan jarak diantara kami. Kemudian menyatukan bibirnya dan milikku.
Aku merespon dengan memejamkan mataku. Menikmati setiap ciuman Chanyeol yang membuatku nyaman. Membiarkan dia menghanyutkanku dalam ciuman manis itu.
"Aku menyayangimu." ucap Chanyeol tanpa putus memandangiku setelah melepaskan ciuman pertama kami.
Aku mengangguk. Sama.
Aku juga menyayangimu, mencintaimu Park Chanyeol.
Pandanganku menelusuri seluruh wajah kekasihku ini. Setiap lekukannya.
Tampan dan sempurna.
Aku tidak berbohong.
Chanyeol, segala tentangnya begitu sempurna.
Kekagumanku sempat terhenti ketika kulihat bercak bercak merah yang terlihat semakin membesar disekitar leher Chanyeol.
"Ahh, kenapa bisa didaerah sini terasa panas." keluh Chanyeol memegangi lehernya dimana bercak merah itu berada.
"Chanyeol. . Lehermu itu. ." tunjukku.
"Kau, sepertinya kau alergi. Ayo kita ke uks segera." lanjutku lagi, panik.
"Ahh tidak mungkin alergi. aku hanya alergi udang dan aku tidak makan udang hari ini." jelasnya.
"U-udang?" aku semakin panik.
"Kau kenapa? Tidak usah khawatir sampai panik begitu, aku ini kuat tidak lama juga sembuh. Tidak terasa sakit kok."
"Tadi. . Tadi itu rollade udang. ." sesalku hampir menangis.
Aku ini kekasih macam apa bahkan aku tidak tau Chanyeol alergi udang.
"Ahh sudahlah. Kau tidak salah Baekkie, jangan seperti menyalahkan dirimu. Melihatmu seperti ini rasanya jauh lebih tidak enak dibanding alergi kecil ini kau tau?" ujarnya menenangkan sembari mengusap rambutku.
"Maafkan aku. ." tanpa sadar aku mulai terisak.
"Sudah sudah, aku tidak apa-apa."
Chanyeol menenangkanku dengan membawa tubuhku kepelukan hangatnya dan menenggelamkanku disana.
END OF BAEKHYUN POV
/END OF FLASHBACK/
"Baekhyun sshi." suara berat itu membangunkan Baekhyun dari lamunannya.
Baekhyun menatap Chanyeol sekilas.
Benar.
Bercak-bercak lebar kemerahan itu kini menghiasi leher putih Chanyeol.
"Kris, sepertinya Baekhyun sshi melamun."
"Baby. ." tepuk Kris dipundak Baekhyun.
"Kau melamunkan apa? Kau belum menyentuh makananmu." lanjutnya.
Baekhyun tersenyum. Senyum yang jelas ia paksakan.
"Aku ingin makan diluar. aku bosan makan ramyun." bohong Baekhyun.
"Kenapa tidak bilang daritadi, baiklah aku akan bersiap-siap ne?"
Chanyeol hanya menunduk.
Sepertinya tujuan kepulangannya ke Korea untuk meminta maaf dan mengajaknya kembali hanya sebuah angan.
Mengajaknya kembali? Memulai sesuatu yang telah ia hancurkan dari awal lagi? Baekhyun sudah bahagia tanpanya dan Ia tidak berhak untuk merusaknya setelah melepaskannya.
"Kenapa kau kembali?" tanya Baekhyun dengan nada dingin begitu memastikan Kris sudah memasuki kamarnya untuk mandi dan bersiap.
Dimeja makan itu sekarang hanya tinggal Baekhyun dan Chanyeol yang duduk berhadapan.
"Aku. . Aku ingin menemuimu, Baekkie." jawab Chanyeol lirih.
"Jangan panggil aku Baekkie, kita tidak ada hubungan lagi. Anggap saja kita baru kenal dan itupun karena kau sahabat kekasihku."
"Ma-maafkan aku Baekhyun sshi. ."
"Jangan pernah berharap apapun lagi dariku, sedikitpun jangan pernah. Karena aku tidak akan memberi harapan itu meskipun hanya sedikit. Meskipun kau memohon. Meskipun segalannya berubah. Jangan pernah berharap."
Chanyeol tercekat.
Dadanya sesak lagi.
Sakitnya terasa tigakali lipat dibanding sakit yang ia rasakan semalam.
Kalimat-kalimat yang terucap dari bibir Baekhyun.
Kalimat penuh kebencian yang menguap.
"Aku membencimu."
". . . . . . . ."
"Aku sangat membencimu."
"Maaf. . Maafkan aku. . "
"Kau pikir maaf akan menyembuhkan segala luka dan sakit hatiku Park Chanyeol."
"Maaf. . Aku memohon kepadamu. . Maafkan aku. Beritahu aku cara menyembuhkan luka itu."
"Terlambat. Kemana kau satu tahun ini, kemana kau saat aku. . saat aku menangis, kemana kau saat aku sakit dan selalu menyebut namamu bahkan dalam tidurku." nada Baekhyun meninggi.
Chanyeol memegangi dadanya.
Menekan sekuat mungkin agar rasa sakitnya tidak terasa.
'Aku tidak pernah meninggalkanmu, aku menangis, aku sakit, aku tersiksa jauh darimu. Bahkan diambang hidup dan matiku aku selalu mengingatmu, menyebut namamu. Jika aku diberi pilihan lain oleh Tuhan dengan tidak meninggalkanmu ada dipilihan itu, apapun akan kulakukan bahkan jika aku harus mengorbankan nyawaku sekalipun.' lirih Chanyeol dalam hati.
"Maaf. . Maafkan aku. ."
Chanyeol memandangi wallpaper ponselnya yang tidak pernah ia ganti semenjak 4tahun yang lalu.
Gambar dimana wajah dan rambutnya juga Baekhyun yang penuh tepung putih karena dikerjai oleh teman-teman sekelasnya yang baru mengetahui mereka menjalin hubungan.
Bibirnya melukiskan senyuman manis.
Ia berada ditempat yang penuh kenangan.
Tempat dimana ia memulai dan melepas Baekhyun.
Perlahan senyumannya memudar.
Diteguknya lagi air dalam botol minuman yang digenggamnya.
Ia baru saja menelan obat pereda rasa sakit itu lagi.
find me and I'll be there for you~
Chanyeol membuka flip ponselnya.
"Hyung. ."
"Sehunie, ada apa?" tanyanya lembut.
"Aku merindukan hyung. Apa hyung baik-baik saja?"
Chanyeol menatap tabung obat digenggamannya.
Ia merasa begitu bersalah pada adik kesayangannya ini.
"Aku baik-baik saja Sehunie."
"Hyung. . Apakah hyung sudah mulai mencari Baekhyun hyung? Aku akan merasa sangat lega jika hyung sudah bertemu dengannya." jujur Sehun.
Chanyeol terdiam.
'Aku sudah menemukannya Sehunie, dia sudah bahagia dan dia membenciku. .'
"Hey, bagaimana kabar Luhan? Kalian jadi menyusul kemari minggu depan kan? Bagaimana kalau minggu ini saja?" Chanyeol mengalihkan pembicaraan.
"Luhan baik-baik saja hyung. Kau ingin berbicara dengannya?" tanya Sehun.
"Tidak usah, sampaikan saja salamku padanya. Jaga dia dengan baik Sehunie, ketika suatu saat aku tidak ada disisimu lagi Luhan yang akan menggantikanku menjagamu dan menemanimu."
"Hyung? hyung bicara apa?"
'Hyung akan pergi sebentar lagi. . Tidak lama lagi. .'
"Tentu saja dia yang akan menjagamu. Kau pikir hyungmu ini akan terus hidup seorang diri bersamamu dan tidak menikah? Dasar bodoh!" bohong Chanyeol.
"Kenapa Luhan, hyung? Hahaha. Hyung benar, aku mengerti begitu hyung menemukan Baekhyun hyung tentu hyung akan langsung melamarnya dan mengajaknya hidup bahagia bersama." Sehun tertawa.
Kalimat-kalimat Sehun terdengar miris ditelinga Chanyeol.
'Andai ucapanmu itu adalah doa yang dikabulkan Tuhan, Sehunie. .'
Malam ini begitu dingin. Hawanya menelusup ketubuh Chanyeol melewati pori-pori kain jaketnya.
Sesekali ia menggosokkan kedua telapak tangannya.
Meniupkan hawa hangat dari mulutnya kesana.
Langkahnya semakin ia perpendek begitu jarak tujuannya sudah terlihat dengan kedua matanya.
Hatinya belum siap.
Jam ditangannya menunjukkan pukul satu pagi.
Sudah terlalu malam untuk pulang. Jalanan sudah sepi.
Sesekali terdengar bunyi satu dua kendaraan yang melintas.
Dibukanya pintu dengan cat putih itu perlahan.
Lampu didalamnya sudah padam.
Hanya lampu dapur yang terlihat masih menyala dan terdengar ada suara aktifitas disana.
"Kris?" tanya Chanyeol pelan. Ia tidak ingin membuat keributan.
Dan membuatnya cukup terkejut begitu sosok Baekhyun disana dan bukan Kris sedang duduk dan memegang gelas berisi air mineral.
"Ba-baekkie. . Maaf. . Baekhyun sshi?" tanyanya.
Baekhyun tidak menjawab panggilan Chanyeol.
Kedua matanya sembap, seperti habis menangis.
Ia bangkit dari duduknya dan seperti kehilangan keseimbangan ia terjatuh dengan pecahan gelas yang menancap jemari dan telapak tangannya.
Chanyeol membulatkan matanya.
Dengan segera ia hampiri Baekhyun yang meringis seperti menahan sakit.
Tangannya dialiri darah segar yang terus mengalir.
"Yatuhan. ." Chanyeol panik. Dengan segera ia mengeluarkan sapu tangan dari kantong jaketnya dihapusnya darah segar yang mengalir itu.
Digenggamnya erat tangan Baekhyun dengan sangat berhati-hati diambilnya satu persatu pecahan gelas yang tertancap disana.
Dibalutnya untuk berusaha membuat pendarahan ditelapak tangan Baekhyun terhenti.
Kedua mata Chanyeol berkaca-kaca setiap sesekali melihat Baekhyun yang masih menahan sakit dan memejamkan matanya. Seperti Baekhyun ingin menolak tetapi hatinya tidak memperbolehkan itu.
Kedua mata Baekhyun membulat begitu merasakan jemarinya menghangat.
Rasa sakitnya seperti tidak terasa. Chanyeol memasukkan jemari Baekhyun kedalam mulutnya dan menghisap aliran darah yang keluar dari sana sesaat kemudian melepasnya.
"Kenapa kau masih begitu ceroboh hah? Kau tau kau melukai dirimu sendiri!" nada Chanyeol meninggi. Air matanya mengalir.
Baekhyun memalingkan wajahnya.
"Kenapa kau perduli hah? Kenapa kau bersikap seperti ini padaku? Kenapa?!"
Hati Chanyeol seperti ingin berteriak.
"Aku menyayangimu. ." Akhirnya kalimat yang Chanyeol tahan keluar juga dari bibirnya.
Baekhyun tertawa lirih.
"Apa? Apa yang kudengar Park Chanyeol bisa kau ulangi? Kau menyayangiku? Apa kau bercanda?"
Chanyeol menatap Baekhyun nanar.
'Kemana malaikatku. . Apa aku yang merubahnya menjadi seperti ini? Aku ini orang jahat. .'
"Aku menyayangimu, Aku mencintaimu. ." lirih Chanyeol lagi.
"Kau ini begitu lucu Park Chanyeol! Lucu sekali. Setelah kau meninggalkanku menangis dan melepasku dengan alasan tidak mencintaiku berselingkuh dibelakangku, sekarang apa yang kudengar kau mencintaiku?" nada Baekhyun terdengar angkuh.
Kebencian hatinya meluap.
Chanyeol menahan dirinya untuk mendengar semua amarah Baekhyun.
Hatinya telah ia persiapkan untuk itu.
Apapun asalkan Baekhyun mau memaafkannya ia rela.
"Kau gila!" bentak Baekhyun lagi sambil menggunakan tangan kirinya yang tidak terluka untuk berdiri dan hampir terjatuh lagi. Chanyeol dengan sigap membantunya berdiri.
"Jangan sentuh aku!" Baekhyun menghempaskan pegangan tangan Chanyeol.
"Ba-baekkie. . Maafkan aku. . " lirihnya tulus.
"Pergi dari kehidupanku Chanyeol, Aku ingin hidup tenang tanpamu!"
". . . . "
"Kau dengan mudahnya kembali padaku seolah tidak pernah terjadi apa-apa, apa kau tau seberapa besar rasa benciku padamu hah?!"
". . . . ."
"Pergi."
". . . . ."
"Pergi dan jangan pernah kembali."
"A-apa. . Apa dengan kepergianku kau berjanji akan hidup bahagia Baekkie? Kau akan berjanji untuk menjaga dirimu. Kau akan tulus memaafkanku?" tunduk Chanyeol.
"Aku berjanji! Aku akan hidup bahagia dan Kris tentu akan menjagaku." jawab Baekhyun.
Hatinya terasa sakit entah mengapa.
"Baiklah. Aku akan pergi Baekkie. Aku akan menuruti permintaanmu. Tapi sebentar lagi. . Sebentar lagi aku berjanji, aku akan pergi. ."
Baekhyun meninggalkan Chanyeol yang masih terduduk disana.
Hatinya terasa sesak.
Ia menangis.
Kenapa? Bukankah Chanyeol telah berjanji akan meninggalkannya, tidak akan mengganggunya lagi, seharusnya ia merasa senang.
Chanyeol pergi dengan terluka parah.
Ia tau itu.
Ia bisa melihatnya dikedua mata Chanyeol.
Chanyeol terluka parah.
TBC
ps: aku baca semua review teman-teman buat fanfic ini. makasih banyak buat semua yang kasih apresiasi ke tulisanku ini maaf aku ngga bisa balas satu-satu :') next update sepertinya ngga bakal secepat ini aku posting. tapi ini sepertinya udah cukup panjang buat jadi dua chapter, hehehe. semoga feel angstnya dapet ya? aku baru belajar nulis juga soalnya :)
next? show me your love juseyo~
