UNTITLED
-4-
{chanbaek/krisbaek}
"Pergi dan jangan pernah kembali."
"Aku berjanji! Aku akan hidup bahagia dan Kris tentu akan menjagaku."
"Baiklah. Aku akan pergi Baekkie. Aku akan menuruti permintaanmu. Tapi sebentar lagi. . Sebentar lagi aku berjanji, aku akan pergi. ."
Sekeras apapun hati mencoba membohongi perasaan maka hal yang sebaliknya akan menjadi semakin kuat
Chanyeol mengambil posisi bersandar disebuah dinding bercat putih pertokoan yang hari ini sedang tidak beroperasi. Kedua bola matanya tidak lepas mengamati objek yang sama seperti satu jam yang lalu, tak jauh dari tempatnya bersandar. Sosok sempurna dimatanya yang ia pandangi melalui kaca lebar salah satu toko yang transparan.
Sesekali objeknya itu terlihat lelah, bercanda dengan seseorang lainnya disana, tersenyum kemudian tertawa lepas. Bahkan tidak ada alasan apapun yang membenarkan untuk merusak tawa dan senyum itu.
"Jika aku memandangimu dari jauh seperti ini, tidak apa-apa kan?" ucapnya pelan.
'Seperti ini lebih baik'
"Hosh hosh hosh" Chanyeol menoleh begitu tak jauh dibelakangnya jelas terdengar suara deru nafas seseorang seperti baru mengikuti turnamen lari.
"Ini. ." Chanyeol mendekati lelaki itu perlahan dan menyodorkan botol air mineral ditangannya.
Lelaki itu tidak lebih tinggi dari Chanyeol, berkulit tidak terlalu putih, bermata agak menyipit dengan lingkaran hitam dibawahnya.
Senyumnya manis.
Dari penampilan nya seperti bukan orang Korea.
"Terima kasih." ujarnya tidak sengaja dalam bahasa mandarin begitu Ia selesai meminum air mineral yang diberikan Chanyeol.
"Sama-sama" jawab Chanyeol dalam bahasa mandarin, Ia tersenyum.
"Kau mengerti bahasa mandarin?" ujar lelaki itu tak percaya. Kini menggunakan bahasa Korea.
"Sedikit. Hehe"
"Aku Tao, kau?"
"Aku Chanyeol." Chanyeol membalas uluran tangan Tao sembari tersenyum.
"Jadi kau baru saja dipecat?" tanya Chanyeol.
"Seperti itulah, bosku bilang aku merugikan toko dengan sikapku. Tapi konsumen tadi betul-betul kurang ajar. Kau tau hyung? dia merayuku ketika disitu istrinya sedang sibuk berbelanja. Langsung saja aku berteriak dan melaporkannya pada istrinya." celoteh Tao santai.
Chanyeol tersenyum mendengar cerita Tao, meskipun belum ada satu jam mereka berkenalan sudah terlihat begitu akrab. Tao ternyata berusia satu tahun dibawahnya dan termasuk seseorang yang menyenangkan, pandai membawa diri. Lihatlah bagaimana Tao langsung ingin memanggil Chanyeol dengan sebutan hyung dengan alasan 'Chanyeol sshi orang baik, aku akan menghormati Chanyeol sshi sebagai hyung'.
"Lalu kenapa nafasmu bisa terengah-engah seperti tadi Tao?"
"Itu, lelaki genit itu menyebalkan sekali hyung, dia menyuruh sopirnya untuk mengejarku dan mungkin memukuliku." keluhnya.
"Sudahlah, mungkin pekerjaan itu memang bukan jodohmu, cobalah mencari pekerjaan lain." saran Chanyeol.
Tao mengangguk.
"Hyung dimana rumahmu?" tanya Tao tiba-tiba.
Chanyeol terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Aku tidak memiliki tempat tinggal, untuk apa tempat tinggal ketika sebentar lagi aku akan pergi."
"Kau mau kemana memang hyung? lalu kau tinggal dimana saat ini?" tanya Tao penasaran.
"Kau mau tau? Ayo antarkan aku pulang sekalian temani aku mengobrol." tawar Chanyeol.
Dalam hati ia merasa bersyukur, Tuhan sepertinya memang mengirim Tao untuk membantunya sejenak tidak merasakan sesak dihatinya.
Baekhyun mengurungkan niatnya sebentar untuk langsung masuk menyusul Kris begitu Ia mendengar suara berat yang ia tau pasti suara Chanyeol dan seseorang lain yang menanggapinya kemudian terdengar seperti tertawa lepas.
Ia menyembunyikan tubuh mungilnya diantara dinding dan mobil Kris.
Sesaat Ia berfikir untuk apa ia melakukan hal konyol ini.
Mendengarkan pembicaraan orang lain sedangkan seharusnya Ia tidak perduli lagi.
"Jadi disini hyung? Ah aku akan sering main kesini hyung! Rumahku tepat diujung gang sebelah sana. Dekat bukan?"
"Aku hanya sementara tinggal disini, menumpang. Ini tempat tinggal sahabatku."
"Ah begitu! ini nomor ponselku hyung. Terima kasih untuk minumannya, bagaimana jika besok sore kutraktir minum?" Tao tersenyum lebar.
"Hey ini bukan ajakan kencan kan? Baiklah! traktir aku ice latte besok!" Chanyeol mengacak pelan surai hitam Tao.
Ada sesak kecil dihati Baekhyun.
Ice latte.
Minuman favorit mereka berdua dan tidak ada yang berubah.
Mungkin hanya ice latte yang biasa ia dan Chanyeol habiskan berdua kini ia minum bersama Kris atau mungkin Chanyeol dengan seseorang itu.
"Oke! see ya hyung!" lambai Tao diiringi helaan nafas pelan Chanyeol.
"Baekkie.. Aku tau kau disana, kau masih perduli padaku." gumamnya sangat pelan.
Bahagia adalah melihat seseorang yang kau sayangi bahagia.
Bahagia dimana saat itu juga kau merasa sakit.
Bahagia dimana saat itu juga kau merasa sesak..
Bahagia dimana saat itu juga kau merasa rongga rongga udaramu mengempis. Oksigen disekitaranmu hampir habis.
'Yoboseyo?'
'Hyung!'
'Sehunie' dari suaranya Chanyeol berusaha terlihat baik baik saja.
'Hyung, aku bermimpi buruk, ini tentang kau dan perasaanku benar-benar tidak enak, apa kau baik-baik saja?'
'Tentu, bukankah terlihat seperti itu?' Chanyeol balik bertanya.
'Tapi perasaanku mengatakan tidak hyung, entahlah, tapi kau tau perasaanku tidak pernah salah.' Chanyeol terdiam.
Bodoh jika ia berniat menyembunyikan sesuatu dari adik kesayangannya ini karena sama seperti yang terjadi sebelumnya. Itu percuma.
'Hyung? Kau masih disana?' panggil Sehun.
'I-iya'
'Aku dan Luhan akan terbang kesana besok hyung, dan apabila sesuatu hal memang terjadi tolong beritau aku.'
Kalimat terakhir Sehun yang diiyakan Chanyeol sebelum sambungan telepon itu terputus.
"Kau tampak tidak bersemangat akhir-akhir ini baby, ada sesuatu yang kau pikirkan?" Kris berdiri tepat disebelah kursi panjang teras belakang rumahnya. Menghadap kesebuah taman bunga mini dengan Baekhyun duduk dikursi panjang itu. Melamun.
"Huh, kau mengagetkanku Kris."
"Jadi benar kau sedang melamun? Melamunkan apa? Melamunkan aku?" goda Kris mengambil posisi duduk tepat dibelakang Baekhyun masih dikursi yang sama. Tangannya memeluk pinggang Baekhyun, wajahnya ia sandarkan ke bahu Baekhyun. Menyerap harum strawberry yang sangat ia suka didepannya.
"Kris.." Baekhyun mencoba melepaskan pelukan Kris. Ia sedang tidak mood. Entah mengapa percakapan antara Chanyeol dan lelaki yang memanggil Chanyeol hyung tadi terus berputar dipikirannya.
"Biarkan seperti ini, aku merindukanmu baby, kau tau akhir-akhir ini aku merasa kau seperti malas padaku. Kita bahkan tidak punya waktu bersama, berdua seperti ini."
Kris benar.
Semenjak kedatangan Chanyeol (lagi) dikehidupannya Baekhyun memang seperti mengacuhkan keberadaan kekasihnya itu.
Baekhyun juga merasa semuanya memang seperti berubah.
Apa memang karena awalnya Kris merupakan pelariannya dari Chanyeol atau Baekhyun memang belum betul-betul menyukai kris?
"Aku.. Aku tidak seperti itu Kris" jawab Baekhyun. Ada sedikit rasa bersalah dihatinya.
"Tapi aku yang merasakannya."
"Tidak sungguh."
"Apa ini semua karena kedatangan temanku? Kau merasa terganggu? Aku akan secara baik-baik memintanya untuk tinggal dihotel atau aku bisa tinggal ditempatmu." Kris masih meresapi wangi strawberry Baekhyun sembari terkadang menciumi leher putih milik kekasihnya itu.
"Kau sungguh akan melakukan itu? Kau bilang dia sahabatmu, kau bahkan berhutang nyawa padanya Kris." Baekhyun sedikit tidak percaya dengan perkataan Kris.
Kris menghela nafas sejenak.
"Aku tak perduli jika kau yang meminta, Kau selalu yang pertama untuku Baekhyun, yang terpenting, bahkan jika aku harus menukarkan nyawaku."
Baekhyun meremang mendengar keseriusan Kris.
Satu hal yang tak mungkin lagi Ia elakkan. Kris menyayanginya, Kris sangat menyayanginya, Kris mencintainya, tidak Kris cinta mati padanya.
"Ka-kau berlebihan Kris, aku tentu tidak akan meminta yang seperti itu, aku tidak bermasalah dengan kehadiran temanmu. Emm, bagaimana jika kita berlibur ke villamu di Jeju? Kalau kau mau kita bisa pergi beramai-ramai, kau boleh mengajak Chanyeol dan suruh dia akan mengajak temannya."
Baekhyun tersenyum puas.
Ide yang baru saja terlintas dibenaknya.
Ia ingin tau jika seseorang yang bersama Chanyeol tadi memang special untuknya tentu Chanyeol akan mengajaknya dan disana dia pasti akan memiliki lebih banyak waktu untuk bermesraan dengan Kris didepan Chanyeol.
Menyakiti hatinya yang Baekhyun tau masih benar-benar mencintainya. Melihat Chanyeol yang seperti teriris, membalaskan semua dendam yang ia simpan bertahun-tahun karena perselingkuhan Chanyeol secara perlahan.
Ia menikmati semuanya.
Dan liburan nanti akan mencapai puncaknya.
"Ide bagus! Aku akan mengatur semuanya."
Baekhyun mengacungkan ibu jarinya kearah Kris.
"Aku mencintaimu, Kau yang terbaik."
Kris membalikkan sedikit tubuh Baekhyun ke arahnya menatap kedua mata Baekhyun intens, memperpendek jarak diantara keduanya, memberi kecupan di bibir cherry milik Baekhyun yang belum membalasnya.
Pandangan Baekhyun menangkap sosok yang menatap kearahnya dan Kris dari kejauhan, memperhatikan mereka berdua dengan tatapan nanar, kedua bola matanya seperti berkaca-kaca entah sudah berapa lama sosok itu berdiri disana.
Mengerti dengan keadaan itu Baekhyun mulai membalas kecupan-kecupan kris, mengalungkan tangannya ke leher Kris, jemarinya mengusap dan menarik perlahan surai Kris seraya mengubah kecupan itu menjadi sebuah ciuman, Ia memejamkan kedua matanya menampakkan wajah yang seolah sangat menikmati, Ciuman yang semakin panas karena Kris juga sepertinya sudah mulai terbawa nafsu dalam ciuman Baekhyun. Sesaat mereka meleguh, menyatukan kembali, saling bertautan hingga ciuman sangat panas itu terus berlanjut seiring dekapan Kris yang semakin kuat ketubuh kekasihnya itu.
Chanyeol memegangi dadanya yang terasa sakit.
Apa yang ia lihat tadi nyata.
Baekhyun sengaja, Ia tau, dan itu sukses menghancurkan hatinya menjadi berkeping-keping. Ia masih mengingat jelas senyum sinis Baekhyun sebelum ia berciuman panas dengan Kris tadi. Senyuman itu seperti mengisyaratkan bahwa kata-kata Baekhyun yang membencinya dan akan menghancurkan perasaannya itu memang nyata.
"Hyung!" Tao berlari kearah bangku dimana Chanyeol duduk saat ini.
Dijalan menuju taman tadi Chanyeol memang sempat menelepon Tao untuk menemaninya. Ia tidak bisa sendiri untuk saat ini. Ia bisa saja tadi berlari kekamarnya dan meminum habis seluruh obat pereda nyeri miliknya kemudian ia akan pergi untuk selamanya tanpa rasa sakit itu lagi.
Tapi tidak.
Bayangan Sehun dan rasa benci Baekhyun padanya tidak mengijinkannya melakukan hal itu.
Sebelum pergi, setidaknya ia harus melihat satu senyuman Baekhyun yang melepasnya tanpa amarah tanpa ada rasa benci.
Meskipun Ia rasa mustahil, karena ia tau pasti waktunya hanya sebentar lagi.
"Tao."
"Hyung itu obat apa?" Chanyeol tidak sempat menyembunyikan obat yang ia pegang kedalam sakunya dan Tao mengambilnya paksa.
"Itu, itu hanya obat pusing." jawab Chanyeol seadaanya, toh Tao juga tidak akan tau itu obat apa.
"Kau bohong hyung. Ini obat pereda rasa sakit dosis tinggi kan?"
Chanyeol menatap Tao tak percaya. Bagaimana Tao bisa tau.
"Kau sakit apa hyung?"
"Ba-bagaimana kau bisa tau obat itu?"
"Kerusakan hati? Benar kan hyung?" tanya Tao tanpa menjawab pertanyaan Chanyeol.
Chanyeol hanya mengangguk. Jawaban Tao tepat.
Tao menghela nafas sebentar.
"Aku tau. Karena aku sangat familiar dengan obat itu."
"Kakakku, Kakakku meninggal setahun yang lalu karena kerusakan hati dan itu semua karena aku tidak menemukan donor untuknya." lanjut Tao.
"Tao, aku tidak bermaksud, aku turut berduka."
"Tidak apa hyung, bolehkah aku menceritakan tentang kakakku padamu?"
Tao melanjutkan ceritanya begitu ia lihat Chanyeol mengangguk.
"Namanya Xiumin , Kakakku lebih tua dariku 3 tahun. Ia menderita kerusakan hati, sama sepertimu hyung. Semangat hidupnya sangat tinggi. Ia bahkan menjalani berkali-kali operasi, hingga suatu saat keuangan keluarga kami benar-benar memburuk. Tapi aku tidak perduli, aku rela kehilangan rumah megah, mobil atau harta apapun itu yang kumiliki, asal Xiumin ge tetap disini, tetap bersamaku."
Chanyeol terdiam sejenak, teringat akan Sehun.
"Didunia ini aku hanya memiliki Xiumin ge, orang tua kami sudah meninggal sejak aku masih kecil, dan Xiumin ge yang selalu mengurusku, menggantikan peran orang tua kami. Ia bekerja sangat keras, sangat sangat sangat hingga.." Tao memutuskan kalimatnya sejenak, bulir bening mengalir di pipinya. Ia terlihat sangat rapuh.
"Tao.." Chanyeol memberikan saputangannya.
"Aku baik-baik saja hyung, aku akan melanjutkan ceritaku."
"Hingga suatu saat aku menemukan obat seperti itu dikamar Xiumin ge, aku ingin marah saat itu juga hyung, dia bilang dia sudah membuangnya dan tak akan pernah lagi menyentuh obat itu. Aku berlari menuju tempat kerja Xiumin ge, dan sesampainya aku disana tempat itu ramai dengan kerumunan orang yang menatapku sendu. Salah seorangnya bilang padaku, Gege baru saja pergi." air mata Tao semakin deras mengalir. Chanyeol merespon memeluknya saat itu juga. mencoba menenangkannya.
Saat itu rasa sedih dan bersalah menyeruak memenuhi hatinya.
Tentang Sehun, bagaimana perasaan Sehun jika Ia meninggalkannya tanpa sempat berpamitan.
Sehun dikemudian hari adalah Tao yang ia peluk saat ini.
"Hyung, maafkan aku membuatmu mendengarkan ceritaku." Tao melepaskan diri dari pelukan Chanyeol.
"Kau sangat menyayangi hyungmu, dia pasti bahagia memiliki adik sepertimu." Chanyeol tersenyum.
"Aku memang menyayanginya hyung."
"Aku juga punya adik, namanya Sehun, dia satu tahun dibawahmu. melihat dirimu, seperti melihat Sehun dikemudian hari, tanpaku."
"Hyung! Kau bicara apa? Kau harus berjuang hyung, demi Sehun. jangan pernah menyentuh obat itu lagi."
"Aku tidak tau Tao, tapi ketika aku muncul dihadapannya, dia membenciku, aku tidak bisa. Aku terlalu mencintainya, melebihi hidupkuā¦"
"Dia? Dia siapa?" tanya Tao.
"Baekhyun, Byun Baekhyun, matahariku." Jawab Chanyeol yang kemudian menceritakan segala tentang dirinya, dirinya dan Baekhyun.
Tao meniup-niup perlahan cokelat panas digenggamannya.
Sesekali ia menengok kearah Chanyeol yang sedang tertidur di sofa apartemen kecilnya.
Wajahnya tenang, berbeda sekali dengan beberapa jam yang lalu, terlihat rapuh dan jujur sangat menyedihkan.
Tao tidak pernah tau sebelumnya jika mencintai seseorang bisa semenyedihkan ini.
Ia pikir hanya ikatan persaudaraan yang bisa begitu kuat tapi ternyata tidak.
Dan Chanyeol benar-benar mengalaminya sendiri.
Tao masih meremang mengingat cerita Chanyeol tadi, keinginannya untuk hidup menjadi dua kali lebih kuat karena selain Sehun ada Baekhyun yang ia begitu sayangi.
Awalnya Tao berfikir sesempurna apa sosok Baekhyun hingga membuat Chanyeol seperti ini, dia pasti seperti malaikat baik hati dan menyenangkan, tapi begitu mendengar kelanjutan cerita Chanyeol tentang Baekhyun yang membencinya hingga begitu mendendam dan semua tindakan Baekhyun setelah kemunculan Chanyeol lagi semua bayangan itu menghilang.
Baekhyun jelas sudah berubah. Dan entah kenapa Tao merasa ingin meluruskan sesuatu, membantu memperbaiki segalanya untuk melindungi Chanyeol.
Ia semakin ingin bertemu dengan Baekhyun.
"Aku hanya ingin Baekhyun tersenyum untukku Tao, satu senyuman saja, tanpa ada rasa benci disana. Dan aku bisa pergi dengan tenang" kalimat terakhir Chanyeol sebelum ia tertidur pulas.
find me and I'll be there for you~
Ringtone ponsel Chanyeol membangunkan Tao dari lamunan panjangnya.
Ia masih berfikir ulang untuk mengangkat panggilan dari Kris, tertulis jelas dilayar smartphone putih itu.
'Yoboseyo?' Tao memutuskan untuk mengangkat panggilan itu karena deringnya tak kunjung berhenti.
'Chanyeol ah?! Kau dimana? Kau baik-baik saja bukan? Ini hampir malam dan kau tidak mengabariku?'
'Ma-maaf, Aku bukan Chanyeol hyung, aku Tao temannya.'
'Tao?'
'Ne, Chanyeol hyung sedang tertidur di apartemenku, mungkin hari ini dia akan menginap, dan belum sempat untuk mengabari.' jawab Tao sopan.
'Chanyeol menginap disana? Hmm baiklah. Suruh dia secepatnya mengabariku begitu dia terbangun' jawab Kris seraya memutus sambungan telepon itu.
"Jadi dimana Chayeol?" Baekhyun yang sedari tadi diam mendengarkan pembicaraan Kris ditelepon akhirnya bertanya. Mungkin ia hanya sedikit peasaran atau dia benar-benar penasaran.
"Menginap ditempat temannya, Tao."
"Tao, aku baru mendengarnya." jawab Baekhyun secara tidak sadar.
"Aku juga baby, tunggu, dari nadamu seperti kau tau sekali tentang Chanyeol. Apa ada sesuatu yang aku tidak tau disini?" Kris menatap tajam Baekhyun.
"Ah tidak Kris, aku hanya asal bicara. Aku bahkan mengenal dia karena dia temanmu." jawabnya gugup.
"Hmm, benarkah? Entah mengapa pertama kali melihat kalian bertemu aku seperti merasakan sesuatu.. Seperti kalian sudah lama saling mengenal."
"Mungkin, mungkin itu cuma perasaanmu. Ayo kita tidur" Baekhyun memosisikan tubuhnya membelakangi Kris yang kini memeluknya.
Pikirannya masih terfokus pada seseorang, Chanyeol tidak pulang, Chanyeol menginap ditempat temannya, teman barunya yang sepertinya dekat dengannya, teman yang Baekhyun tidak tau siapa. Apa yang mereka lakukan? Apa mereka menghabiskan waktu bersama hingga Chanyeol lelah dan tertidur. Apa mereka benar-benar sudah sedekat itu? Park Chanyeol, Kau bilang kau masih begitu mencintaikuā¦
"Sial, kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya?" desah Baekhyun pelan.
TBC
ps: ceritanya monoton ya? tapi ini udah sesuai sama rancangan aku sih. kira kira 2-3 chap lagi menuju ending.
di review kemarin ada beberapa yang tebak sama request endingnya ya aku baca :D
aku mau bilang makasih (lagi) buat yang masih ngikutin fanfic ini plus review juga, aku jadi semangat karena baca review temen-temen semua.
apalagi aku masih baru banget buat tulis menulis.
last, salam kenal ya semuanya, mari kita berteman di pm! :D
