UNTITLED
-5-
{chanbaek/krisbaek}
Chanyeol memasukkan smart phone putihnya kedalam saku celananya, jemari tangannya mengusap-usap kedua matanya secara bergantian, ia masih sedikit mengantuk.
Ada beberapa pesan singkat dari Kris yang sepertinya dikirim tadi malam.
Ia membuka perlahan selimut yang melapisi tubuhnya. Sekejap ia ingat ia masih berada di apartemen milik Tao.
"Tao?" panggilnya. Arah pandangnya mencari sosok yang telah dianggap adiknya sendiri itu.
"Hyung, kau sudah bangun? Aku sedang menyiapkan sarapan untuk kita." teriak Tao dari arah dapur.
Chanyeol memposisikan dirinya disalah satu kursi meja makan mungil yang dihadapannya menyala tivi lengkap dengan siaran berita pagi.
"Tada, ini buatanku. Aku tidak pandai memasak, hyung, tapi ini layak dimakan aku jamin" canda Tao seraya menaruh dua piring nasi goreng diatas meja, satu untuknya dan satu untuk Chanyeol.
"Hmm bagaimana ya, mari kita coba." Chanyeol mengambil suapan pertamanya.
"Bagaimana?"
"Emm, lumayan! Ini enak."
"Hah, syukurlah, kau harus menghabiskannya hyung, jika tidak aku akan menghukummu mencuci semua piring kotor nanti."
"Aku hanya bercanda" lanjut Tao cepat diiringi tawanya dan Chanyeol.
Chanyeol mengambil nafas dalam sebelum benar-benar membuka kenop pintu dihadapannya.
Ia memutuskan untuk pulang dari apartemen Tao setelah menghabiskan sarapannya tadi.
Entah mengapa semakin dekat kearah tempat tujuannya langkah kakinya dirasa semakin berat.
Hatinya belum terlalu Ia siapkan untuk menerima kenyataan yang terjadi.
'Hyung, kau tau kalau kau selalu bisa mengandalkanku, aku mungkin tidak bisa merasakan apa yang kau rasakan hyung, tapi sungguh berbagi akan membuatmu merasa lebih baik. Aku selalu ada untukmu jika kau membutuhkanku.'
Mengingat kata-kata Tao sebelum dirinya berpamitan tadi setidaknya membuat perasaannya sedikit lebih baik.
CHANYEOL POV
"Chan? Itu kau?" sapa Kris begitu aku menutup pintu. Seperti biasanya ia menyambutku dengan senyuman lebarnya dan menghampiriku.
"Jadi namanya Tao?" goda Kris menyenggol bahuku pelan.
Aku berfikir sejenak, belum begitu mengerti apa maksud dari perkataan Kris.
"Ya?"
"Selamat Chan, aku turut bahagia." kali ini Kris memelukku.
"Tu-tunggu Kris, selamat untuk apa?"
"Kau menemukan malaikatmu kan? Jadi namanya Tao?" Kris melepaskan pelukannya dan menatapku masih dengan senyumnya.
Aku terdiam sesaat, mulai mengerti keadaan yang sedang terjadi saat ini.
Kuhela nafas perlahan, bagaimana mungkin aku menjelaskan kebenarannya pada Kris.
Saat ini Kris sedang bahagia dan demi kedua mata indah milik seseorang yang saat ini sedang menatap kearahnya dan Kris ia tidak akan rela merusak kebahagiaan itu.
Aku mengangguk pelan, mungkin Kris merasa anggukan itu adalah jawaban pembenaran dari pertanyaan yang ia tanyakan tadi.
"Baby! benar kan, kubilang Tao itu special untuknya. Kemari kau harus menerima hukumanmu." Kris menghampiri Baekhyun yang masih dengan ekspresinya yang tidak dapat kuartikan.
Seperti ada rasa marah, kecewa, atau mungkin tidak rela? Entahlah bukankan Baekhyun membenciku.
"Ayo ucapkan selamat pada Chanyeol, kau tidak tau betapa bahagianya dia saat ini, setiap saat dia bercerita tentang kerinduannya pada malaikatnya itu membuat aku gila, Baby!" Kulihat Baekhyun berjalan menghampiriku masih dengan rangkulan erat Kris di bahu Baekhyun.
Aku menatap Baekhyun dalam.
"Selamat Chanyeol sshi, semoga kau bisa membuatnya bahagia, tidak menyakiti hatinya."
Satu kalimat dari Baekhyun yang terasa begitu mengena dihatiku.
"Oh yah kami akan berlibur ke Jeju besok, Semoga kau dan Tao bisa ikut." lanjutnya.
Punggung kecil itu perlahan berbalik berjalan menjauh setelah meninggalkan sebuah senyuman yang membuat hatiku sakit.
Aura kebencian itu masih menguar disana.
END OF CHANYEOL POV
Waktu terasa bergulir begitu perlahan, matahari bersinar tidak begitu terik, hembusan semilir angin perlahan memasuki disela-sela jendela mobil audi hitam milik Kris setelah beberapa menit yang lalu pesawat yang membawanya, Baekhyun, Chanyeol, dan Tao mendarat.
Chanyeol sesekali memperhatikan Tao yang sedikit berbeda dari biasanya.
Ia tampak lebih diam, dan begitu terlihat menatap kearah Baekhyun.
/FLASHBACK/
"Tao."
"Ne hyung?"
Chanyeol masih memilih kata-kata yang tepat untuk meminta Tao menemaninya ke Jeju hari ini.
Ini mungkin terlalu mendadak untuk Tao. Belum lagi jika nanti Kris menanyakan hal-hal yang akan membuat Tao bingung.
Tapi sayangnya Chanyeol tidak memiliki pilhan lain selain meminta bantuan Tao.
Sungguh ia merasa tidak akan sanggup jika harus menjalani ini sendirian.
"Hyung kau sudah meminum obatmu? Ingat untuk selalu menjaga kesehatanmu hyung"
"Tenanglah, aku sudah meminumnya. Emm sebenarnya aku membutuhkan bantuanmu, sedikit."ujar Chanyeol ragu-ragu.
"Bantuan? tentu jika aku bisa membantumu, Hyung."
Setelah beberapa helaan nafas pendek Chanyeol mulai menjelaskan tentang peristiwa yang terjadi kemarin, dengan Tao yang diujung telepon sana seperti terkejut.
"Tunggu hyung, kau tidak bilang kenyataan yang sesungguhnya pada Kris? Kau serius hyung? Aku tidak habis pikir denganmu." ada sedikit amarah disana.
"Tao, aku tidak bisa."
Terdengar helaan nafas panjang diujung sana.
"Hmm, baiklah. Aku akan menemanimu hyung, aku akan bersiap dan sampai disana 30menit lagi"
Chanyeol tersenyum kemudian memutus sambungan teleponnya.
'Gomawo Tao ah'
/END OF FLASHBACK/
"Kita sampai." Kris memarkirkan audi hitamnya di garasi sebuah villa yang menghadap tepat kearah pantai.
Villa pribadi milik Kris.
"Kau suka Baby?"
Baekhyun hanya menjawabnya dengan anggukan.
Moodnya tidak begitu bagus semenjak kedatangan Tao tadi, tapi pemandangan didepannya ini jujur saja sedikit banyak mulai memperbaiki moodnya.
"Chan, kau dan Tao bisa memakai kamar dilantai bawah, sementara aku dan Baekhyun akan menempati kamar atas. Kau bisa berjalan-jalan dan menghabiskan waktu disini sesukamu sampai kita pulang besok malam." jelas Kris tanpa menyadari ekspresi keterkejutan Tao dan Baekhyun.
Chanyeol hanya mengangguk dan mulai menyeret koper miliknya dan Tao masuk kekamar mereka. Tao sempat menatap Baekhyun sekilas sebelum menyusul Chanyeol kekamar mereka.
Ruangan kamar itu tidak berukuran besar, lengkap dengan sebuah kamar mandi, dindingnya bercat putih polos dengan wallpaper bertema bunga sakura. Ada sebuah jendela dengan pemandangan yang tepat menghadap ke tepi pantai.
"Hyung?" tanya Tao pelan begitu ia menutup pintu ruangan itu.
Chanyeol membuka jendela, berdiri disana sesaat, membiarkan hembusan angin membelai surai hitamnya. Matanya terpejam seolah ikut menikmati tiap terpaannya.
"Hyung, aku tidak bisa hyung. Aku harus memberitahukan semua kebenarannya." nada kalimat Tao terdengar frustasi.
"Tao." Chanyeol membalikkan tubuhnya menatap Tao dengan pandangan berkaca-kaca kemudian menggelengkan kepalanya.
"Tapi hyung!"
"Dia pasti akan tau yang sebenarnya Tao,dia akan tau segalanya nanti, setelah semuanya membaik, setelah dia memaafkanku, setelah aku pergi.."
"Hyung!" Tao memeluk Chanyeol, menangis.
"Tidak hyung, bagaimana kau bisa begitu kuat, a-aku tidak sanggup melihat keadaan ini hyung, bagaimana dia bisa memaafkanmu tanpa tau kenyataan yang sebenarnya sementara aku bisa membaca amarah itu dimatanya hyung."
Chanyeol mengulurkan kedua tangannya, memeluk Tao.
Jemarinya menghapus bulir bening yang membasahi pelupuk matanya.
"Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik untuk kami berdua Tao ah, setidaknya melihatnya memiliki kebahagiannya dan tersenyum tulus untukku itu sudah cukup."
"Hyung sungguh, memiliki seseorang yang mencitainya sebesar dirimu adalah hal yang paling membuatku iri. Kau harus tetap kuat hyung. Aku mohon."
"Aku akan tetap kuat Tao ah."
'setidaknya hingga Baekhyun tersenyum lagi untukku.' lanjut Chanyeol dalam hati.
Baekhyun memposisikan dirinya tak nyaman.
Jemarinya sibuk mengganti channel televisi setiap 5 menit sekali.
Pandangannya lurus menatap kearah lain. Kearah dua orang yang sedang bersenda gurau didapur yang hanya dibatasi sekat dimana lemari pendingin berada.
Pikirannya tidak konsentrasi hanya sekedar untuk mendengarkan komentar-komentar Kris tentang tayangan yang tersiar ditelevisi.
"Hyung, terigunya terlalu banyak."
"Baik-baik akan aku kurangi." Chanyeol mengambil terigu di loyang kecil itu satu sendok penuh dan meniupkanya perlahan kearah Tao membuat surai hitam lelaki manis dihadapannya menjadi putih penuh terigu.
"Ya! hyung!" teriakan gemas Tao membuat tawa Chanyeol lepas.
"Kubalas kau hyung!" Tao menuangkan terigu ditelapak tangannya dan meniupkannya perlahan kearah Chanyeol sambil tertawa melihat wajah Chanyeol yang berantakan.
"HAHAHA, kau jelek sekali hyung."
"Tao! aku ini tampan! Ya! kapan ini akan selesai, berhenti bermain-main."
"HAHAAHAH" tawa Tao lagi.
"Hey Chan, Tao, jangan lupa bereskan dapurku setelahnya." teriak Kris.
"Arasso Kris sshi!" balas Tao.
"Hyung aku senang bisa melihatmu tertawa lepas." gumam Tao pelan.
Baekhyun menahan sesak dihatinya. Ia benci perasaan ini.
Ia benci karena harus berada diposisi ini. Ia benci harus mengingkari perasaannya lagi.
Tawa Chanyeol, senyuman Chanyeol, Ia benci itu semua.
Kenapa Tuhan begitu tidak adil. Ini semua serasa sulit untuknya.
Kenapa Ia tidak rela.
Chanyeol begitu tega pada dirinya.
Menghianatinya ketika ia sudah benar-benar mencintainya.
Ketika ia mulai berusaha untuk melupakannya, membencinya, Chanyeol datang mengatakan bahwa ia masih begitu mencintainya.
Chanyeol harus merasakan sakit yang sama seperti yang ia rasakan dulu.
Tapi melihat keadaan ini.
Mengapa ia merasa sakit lagi.
"Kris, lepaskan ikatan penutup mata ini."
Kris masih memegang erat tubuh Baekhyun, menuntunnya berjalan. Kedua mata Baekhyun tertutup selendang berwarna biru muda yang sengaja Kris gunakan untuk menutup kedua mata kekasihnya ini.
"Sebentar lagi kita akan sampai. sabarlah sebentar lagi"
"Nah! Kita sampai, kurasa waktunya tepat." Kris membuka kain penutup itu, Baekhyun mengerjapkan matanya perlahan membiasakan bias cahaya yang mulai memasuki retinanya.
Ia berada ditepi pantai, di senja hari, tepat dengan Kris disebelahnya.
Langit yang berwarna oranye dengan matahari yang belum sepenuhnya tenggelam.
Ia menoleh kearah kris yang tersenyum manis padanya.
"Kau tau Baekhyun ah, suatu ketika aku pernah berkeinginan menghabiskan waktu senja, duduk melihat matahari terbenam ditepi pantai bersama seseorang yang benar-benar aku sayangi."
"Dan beruntungnya aku keinginan itu terkabul, dan kau tau yang membuatku lebih merasa beruntung karena seseorang yang bersamaku itu, dirimu." lanjut Kris.
Baekhyun hanya membalasnya dengan senyuman.
"Aku tau mungkin kau akan bosan mendengarnya. tapi sungguh aku mencintaimu."
Kris menatap Baekhyun dalam.
Mencoba mencari jawaban seperti yang hatinya ingin kan disana, tapi sayangnya ia tidak menemukan jawaban itu.
Baekhyun hanya terdiam.
"Baekhyun ah? aku tidak akan memaksamu tapi sungguh aku sangat berharap. Tolong. katakan hal yang sama, hal yang ingin aku dengar." Kris menangkup pipi putih Baekhyun.
"Kris.. aku.." Baekhyun memutus perkataannya. Jujur hatinya gusar. Ia tidak bisa benar-benar memastikan perasaannya pada Kris bahkan hingga saat ini pun.
"Aku mengerti, aku tidak akan memaksamu Baekhyun ah, selama seperti ini membuatmu nyaman." Kris memeluk Baekhyun erat.
"Ma-maafkan aku Kris, aku begitu egois padamu. tapi sungguh aku menyayangimu." Baekhyun membalas pelukan Kris, terisak dan menenggelamkan dirinya disana.
Tao spontan menarik lengan Chanyeol berbalik berjalan masuk kembali ke villa. Tapi sepertinya ia terlambat. Chanyeol sudah melihatnya. Melihat pelukan erat dan ciuman yang Baekhyun bagi bersama Kris.
"Hyung."
"…."
"Hyung.. Tolong jangan begini."
"Tao, dia sudah bahagia bukan."
"Hyung.."
"Kenapa disini begitu sakit Tao ah, seharusnya tidak begini, kebahagiaan Baekhyun adalah kebahagiaanku juga. Kenapa sakit sekali Tao." Chanyeol meremas dadanya kuat-kuat, nafasnya mulai terasa sesak.
"Hyung! Kau mau apa?" Kedua bola mata Tao membulat begitu melihat sebuah benda yang Chanyeol genggam erat. Obat pereda rasa sakit.
"Obatku."
Tao dengan segera mengambil botol berisi beberapa butir obat itu dan melemparnya ke tempat sampah. Kemudian memeluk Chanyeol yang terduduk, dengan pandangan kosong dan kristal bening yang memenuhi pelupuk matanya.
"Hyung dengarkan aku hyung, Ingat janjimu kau tidak akan menyentuh obat itu lagi. Hyung kau seseorang yang kuat aku mohon. Demi Sehun." mendengar nama Sehun tubuh Chanyeol perlahan melemas. Tao membaringkan dan kemudian menyelimutinya.
Chanyeol tertidur semenjak sepuluh menit yang lalu dengan Tao yang masih sibuk mengusap keringat Chanyeol dengan handuk kecil ditangannya.
Tubuh Chanyeol begitu dingin, Ia mengambil beberapa lapis selimut lagi didalam lemari dan menyelimuti tubuh Chanyeol agar tetap hangat.
Tao masih menjaga Chanyeol, terkadang tanpa Chanyeol sadar gumaman-gumaman kecil keluar dari mulutnya.
Yang dapat Tao dengar dengan pasti Chanyeol menyebut nama Baekhyun, hingga membuatnya meremang, ingin menangis.
Sungguh jika bukan karena menghormati Chanyeol yang melarangnya untuk memberitaukan segala kebenarannya pada Baekhyun ia akan segera keluar dari ruangan itu, berlari menuju Baekhyun dan berteriak, 'Chanyeol hyung sakit! Ia tidak pernah menghianatimu Ia hanya tak ingin kau bersedih apabila penyakit itu mengambilnya dari sisimu! Ia, Ia bahkan terlalu menyayangimu untuk memikirkan segala kebahagiaanmu diatas segalanya. Diambang hidup dan matinya pun kau akan menangis jika tau namamu lah yang selalu ia sebut Byun Baekhyun!'
Tao menghapus air mata yang tanpa ia tau membasahi pipinya.
Melihat kondisi Chanyeol saat ini ia terbayang kakak lelakinya yang telah pergi lagi.
"Sehun" Nama itu terbaca di ponsel Chanyeol yang berkedip.
"Yoboseyo?"
"Hyung, aku dan Luhan akan mengambil keberangkatan besok pagi. Hyung sungguh firasatku tidak enak hyung."Tao dapat mendengar isakan diujung sana.
"Se-sehun?"
"Siapa kau? Kau bukan hyung. Kemana Chanyeol hyung?"
"Aku Tao, aku temannya. Saat ini dia sedang beristirahat. Aku tau tentang kondisi Chanyeol hyung. Berdoalah yang terbaik untuknya Sehun ah, percayalah aku pernah berada diposisimu saat ini. Aku akan menjaganya sampai kedatanganmu esok." jelas Tao.
"Ne, ne gomawo."
Tao menaruh kembali ponsel itu. Ada yang harus ia lakukan.
Setidaknya ia berharap semoga ini akan berjalan sesuai harapannya.
Ia harus menemui Kris, memberitahukan segalanya.
Meski ia tau Chanyeol tidak akan menyetujui rencananya ini tapi ia tidak bisa menahan diri lebih lama.
'Maafkan aku hyung, aku hanya ingin membantumu. Kau pantas bahagia juga.'
TBC
ps: chanbaek/krisbaek? dan chapter besok jadi chapter inti sebelum ending!
pss: mungkin aku bakal telat posting tapi baca review dari kalian semua pasti bakal buat aku lebih semangat nulis :D
so, show me your love juseyong!~
