Annyeoooooong~ /tebarduit/
Aku post part 2 nih :3 :3 kelamaan, ya? hehhehe abisnya gak ada waktu ngetik:') baca ff sih bisa, tapi kalo ngetik ff.. susah:') inipun awalnya ngetik pas lagi ujian praktek TIK /curcol/ ;'3
Udah ah, langsung capcus aja ya ;33
Senior and Junior
Rated T
Pairing: SuLay (Suho/Lay)
Genre: Romance
Warning
Genderswitch. AR. Fic aneh. Fic berantakan. Fic jelek. Like always lah TTTuTTT
setelah membaca nanti tinggalkan review, ya ;;)
Happy membaca! '-')/
"Kim Joon Myun.."
"Ya, Kim Joon Myun."
Taemin dan Luna terdiam menatap Lay setelah mendengar nama yang disebutkan gadis dengan dimple itu.
"... Kim Joon Myun? Hmm, tunggu dulu— rasanya aku pernah mendengar nama itu." Ucap Taemin.
"Kau juga berpikiran sama denganku, bibir tebal? Aku juga merasa tidak asing dengan nama itu, tapi siapa ya?" ucap Luna seraya meletakkan jari telunjuknya didagu.
Lay menatap Taemin dan Luna bergantian.
"... benarkah? Kalian kenal senior itu?"
Taemin balas menatap Lay. "Aku tidak kenal, sih. Hanya pernah mendengar nama itu disebutkan orang-orang. Tapi.. ah, sudahlah. Aku benar-benar lupa."
Luna mengangguk-angguk. "Ya, aku juga. Aku menyerah. Sepertinya kita hanya akan menemukan jawabannya hari Senin nanti."
Lay menghela nafas. Sungguh, ia sangat penasaran dengan seniornya yang bernama Kim Joon Myun itu.
Apakah seniornya itu baik? Nakal? Kenapa Taemin dan Luna seperti pernah mengetahui dia? Apa dia berandalan sekolah?— tentu tidak karena Lay ingat tidak ada satupun murid berandalan disekolahnya itu.
"Huah, otakku rasanya akan meledak!"
Lay berteriak frustasi.
Dia sudah membulak-balik halaman buku cetak sejarahnya yang tebal berulang-ulang. Ia juga sudah mencoba mengerjakan soal-soalnya. Dan hanya 5-9 soal yang terjawab dari 15 soal yang tersedia. Itu baru soal pilihan ganda, belum lagi soal essay-nya.
"Tuhan.. semoga kau mendatangkan keajaiban esok harinya ketika aku menjawab soal-soal dari pelajaran yang hampir membuatku gila ini.. amin." Lay hanya bisa berdoa kepada sang pencipta. Yah, tak ada salahnya kita ikut meng-aminkan doa Lay, bukan.
"Haaah.. sejarah tidak masuk ke otak sepenuhnya. Apa yang bisa membuat seluruh isi buku cetak itu meresap kedalam otakku dengan cepat, ya." Lay memejamkan matanya sambil berceloteh. Dia merasa benar-benar penat.
Gadis itu terdiam sesaat. Ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Belajar kembali? Aku benar-benar sudah menyerah." Lay menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ucapannya sendiri.
Lay berpikir lagi. Daripada waktunya terbuang percuma hanya untuk melamun dan tidur-tiduran, lebih baik dia—
"Mencari informasi tentang Kim Joon Myun!"
Entah kenapa Lay tiba-tiba berkata begitu. Tapi yang jelas sekarang ia sedang mencari-cari handphone-nya yang ditaruhnya entah dimana.
"Ketemu kau!"
Akhirnya ia menemukan sebuah benda persegi panjang yang pas digenggam oleh tangannya.
"Ahaha, baiklah. Sekarang kita cek akun facebook kita yang sudah lama terbengkalai."
Benar, semenjak Lay memasuki sekolah menengah atas, ia tidak punya banyak waktu untuk mampir ke dunia maya. Terlebih hanya untuk mengecek akun sosial medianya.
Setelah sign in dan beranda facebook muncul di layar handphone-nya, Lay berpikir.
"Aku harus mulai mencari tahu dari mana? Dari akun facebook teman-temanku? Atau akun facebook senior? Eh, tapi aku kan tidak banyak mengenal seniorku. Bagaimana bisa tahu akun facebook mereka."
Lay masih berpikir. Ia benar-benar ingin tahu dengan sosok seniornya yang bermarga Kim itu.
"Apa kucoba saja mencari dengan nama aslinya?"
Lay menatap layar handphone-nya lama.
"Baiklah, tidak ada salahnya mencoba." Ucapnya final.
Ia mulai mengetikkan nama 'Kim Joon Myun' di kotak pencarian. Dan ketika hasilnya bermunculan—
"Ah, ada, ada!" ucap Lay antusias. Ia merasa senang sekali ketika ia menemukan sebuah akun dengan nama 'Kim Joon Myun' yang tertera dilayar handphone-nya itu.
"Hihihi, mari kita memulai kegiatan stalking kita." Ucap Lay lagi diiringi dengan kikikan kecil.
Lay, kau benar-benar terlihat seperti seorang gadis tengah kasmaran yang mendapatkan sms berisi kata-kata manis dari pacarnya.
"Huh. Ternyata dia sama saja denganku. Menyebalkan."
Oh, ada apa? Apa yang terjadi? Mari kita lihat siapa yang sedang mengeluh itu.
Lay terlihat menatap handphone-nya dengan air muka tidak puas.
"Senior kudet! Sok sibuk sekali. Terakhir membuka akunnya sendiri bulan lalu. Apa-apaan itu!" sungut Lay. Tunggu, orang yang punya akun itu saja tidak sewot, kenapa gadis berkebangsaan China itu mengomel?
"Sudah, ah! Aku tidak mau tahu denganmu, Kim Joon Myun! Toh besok aku akan tahu siapa kau sebenarnya." Lay berbicara tepat didepan handphone-nya yang masih menampilkan akun facebook Kim Joon Myun. Lay, jangan bilang kau sudah kehilangan kewarasan. Handphone-mu takkan mendengar omelanmu.
Handphone tak bersalah itu pun dilempar gadis itu tak tentu arah. Ya ampun. Tidakkah ia memikirkan orang tuanya yang bekerja dengan peluh yang mengucur deras hanya untuk membelikan smartphone itu untuknya?
Lay pun memutuskan untuk meneruskan membaca buku sejarahnya.
Biarlah jika nantinya rambutku akan berubah menjadi keriting karena pelajaran dengan kisah yang panjang lebar ini. Yang penting aku tak mau mengurusi Kim Joon Myun lagi. Huh!
Begitulah pikir Lay sebelum akhirnya membuka buku cetak sejarahnya yang sudah 30 menit terbengkalai.
Seorang gadis dengan sepatu converse abu-abunya berjalan santai melewati koridor lantai satu. Ia sedang dalam perjalanan menuju ruangan tujuh, ruangan dimana ia akan mengerjakan ujiannya bersama dengan teman-temannya dan senior kelas 2-2.
"Oh lihat, Yixing sudah datang, Taemin!" gadis itu mendengar suara seseorang menyebut namanya. Refleks gadis itu mendongakkan kepalanya sedikit untuk melihat orang tersebut.
Terlihat Luna—sahabatnya—sedang bersandar kedinding dengan kedua tangan dilipat didepan dada. Ia tersenyum kepada Lay—gadis yang baru datang.
"Selamat pagi, Lay. Sudah belajar untuk sejarah?" ujar Luna dengan nada bergurau.
Lay hanya tertawa kecil. "Entahlah. Aku tidak tahu apakah kemarin bisa disebut belajar atau bukan."
Luna ikut tertawa. "Kalau begitu kita sama saja, dong."
Lay dan Luna berbincang-bincang ringan di pagi pertama ujian hari itu, sebelum sebuah suara cempreng memotong obrolan mereka,
"MANA YIXING MANA?!"
Dan sialnya pemilik suara cempreng itu berteriak tepat didekat telinga gadis yang tengah bersandar.
Empat persimpangan muncul dipelipis gadis yang bersandar itu.
"HOI KAU BIBIR TEBAL! BISA KECILKAN SUARAMU? PAGI-PAGI MENDENGARMU BERTERIAK RASANYA MOOD-KU HANCUR!" sembur Luna tepat didepan muka Taemin.
Tak terima dengan ucapan Luna, Taemin pun membuka mulutnya—siap untuk balas menyembur,
"YA YA YA! BISAKAH KAU DIAM, SOK CANTIK! AIR LUDAHMU MUNCRAT KEMANA-MANA! DAN JANGAN HALANGI AKU, AKU SEDANG INGIN BICARA DENGAN YIXING!" semprot Taemin tak mau kalah. Suara cemprengnya menjadi bertambah cempreng.
"TAPI BISA KAN KAU TIDAK BERTERIAK DENGAN SUARA CEMPRENGMU ITU?!"
"BERISIK KAU LUNA PARK!"
Lay memijit pelipisnya. Sarapan tambahan dipagi hari, pikirnya.
"Sudahlah, sudah. Jangan bertengkar pagi-pagi begini, dong. Memangnya apa yang ingin kau bicarakan denganku, Taemin?" ucap Lay, menyela adu mulut pedas kedua sahabatnya itu.
Taemin menghentikan celotehan dari mulutnya.
"Oh ya, aku hampir lupa."
Lay hanya memasang muka datar mendengar ucapan gadis dengan bibir penuh itu.
Luna menghela nafas. "Apa yang akan dia katakan tidak penting kok, La—"
"HUAAAAAAA YIXING! TERNYATA RUANGANKU DIPINDAHKAN DISEBELAH RUANG TUJUH! RUANG DELAPAN! TADI SAAT AKU DATANG SEORANG GURU MEMBERITAHUKANNYA, HUAAAAAA."
Taemin menangis histeris—hanya bohongan untuk mendramatisir suasana.
"AKU PINDAH RUANGAN YIXING, PINDAH, HUAAAAAAA."
"H-hey Taemin.. jangan histeris begitu. Memangnya kenapa kau sampai sedih begini?" Lay berusaha menenangkan Taemin yang mengamuk seperti beruang ketika ikan santapannya diambil.
"Kenapa reaksimu tak jauh berbeda dengan Luna, Zhang Yixing! Itu artinya kita tidak satu ruangan ketika mengerjakan ujian! Bodooooh!" Taemin memukul-mukul bahu Lay brutal.
"H-hey Taemin hentikan, j-jangan memukulku begitu, s-sakit kau tahu—Taemin kumohon berhenti!" bukannya berenti memukuli Lay, pukulan Taemin malah semakin brutal dan ganas. Bisa-bisa bahu Lay hancur dalam sekejap karena pukulan keras dari gadis yang hobi menari itu.
"YAH BIBIR TEBAL, LAY KESAKITAN, TIDAKKAH KAU LIHAT?!"
"Maafkan aku, Yixing.. apakah masih sakit?"
"Tidak apa-apa, kok.. sudah mendingan."
Lay menyentuh pundaknya. Mana mungkin rasa sakit yang begitu luar biasa langsung hilang dalam sekejap?
Lay hanya tidak ingin membuat Taemin khawatir berlebihan. Bisa bahaya jika sahabatnya ini mulai mengeluarkan sifat kepeduliannya yang tak tanggung-tanggung. Taemin bisa saja seharian memijiti bahunya tanpa henti. Enak memang dipijiti oleh orang. Jika saja cara memijitnya benar dan lembut. Dan cara memijit dengan lembut tidak berlaku pada Taemin.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu kalau pukulanku terlalu keras." Taemin menatap bersalah Lay. Kita harusnya merasa senang ketika sahabat perhatian kepada kita. Tapi Lay tidak. Pengecualian untuk Taemin. (Kayaknya kalo Taemin nunjukin perhatiannya Lay takut banget-n-)
"Iya sudah tak apa. Sana keruanganmu. Sebentar lagi bel masuk berbunyi." Lay mengelus surai panjang kecokelatan Taemin. Ooh, tanda sayang seorang sahabat.
Taemin mengangguk. "Baiklah Yixing, aku akan ketempatku. Kita bertemu setelah ujian, ya!"
Lay tersenyum kearah Taemin yang mulai berjalan menjauhi ruangannya. Luna terkikik.
"Kau selamat dari pijitan mautnya."
Lay tertawa. "Yah, aku tak mau bahuku jadi tambah sakit. Dasar Taemin, kenapa dia begitu kasar sih."
"Dia bukan perempuan, mungkin." Luna tertawa keras.
"Hei, hei, kalau dia mendengarmu rambutmu akan rontok semuanya."
"Aku akan menjambaknya balik, Lay. Itu mudah."
Lay tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Luna. Ia senang punya sahabat seperti Taemin dan Luna. Yah, walaupun mereka selalu bertengkar dengan sadisnya.
"Oh ya, kau sudah tahu senior Kim Joon Myun itu?" tanya Luna.
Mendengar nama itu, bibir Lay mengerucut.
"Aku mencari tahu tentangnya kemarin. Dia kurang update sekali. Bahkan aku tak menemukan satupun foto dirinya! Huh, buat aku kesal saja."
Luna tertawa melihat ekspresi kesal Lay.
"Hahahaha, kau lucu sekali, Lay."
"Terima kasih Luna Park, kau juga sangat aneh."
TENG TONG TENG TONG
Bel masuk pun terdengar.
"Wah, bel sudah berbunyi." Ucap Luna lesu.
"Hahaha, ayo berjuang untuk hari ini, Luna." Lay memberi semangat. Namun ia tahu itu tak berguna sama sekali, mengingat betapa stresnya ia kemarin menghapal satu bab yang menjelaskan tentang Pengertian dan Ruang Lingkup Sejarah yang panjangnya minta ampun.
Lay melihat-lihat seisi ruangan. Ada teman-teman dan senior-seniornya. Ia bisa melihat Taeyeon sunbaenim sedang bersenda gurau dengan teman-teman perempuannya yang lain.
"Baiklah, aku harus mencari tempat dudukku. Bangku pertama dibarisan paling kiri— ah, aku mendapatkannya."
Lay segera mendudukkan pantatnya dikursi. Ia melirik bangku disebelahnya yang masih kosong.
"Kim Joon Myun itu duduk disini, ya. Belum datang rupanya."
Lay memutuskan untuk membaca sekilas buku sejarahnya lagi. Ia lalu merogoh buku cetak didalam tasnya.
Saat Lay sedang asyik membaca, seorang laki-laki memasuki kelas. Lay tidak terlalu memperhatikannya karena ia asyik membaca bukunya.
GREK
Mendengar suara kursi yg ditarik, Lay menoleh kesamping. Dan ia melihat seorang lelaki berparas malaikat sedang mencari-cari sesuatu didalam tasnya.
Lay menatap orang disebelahnya.
"Diakah Kim Joon Myun?"
Suasana kelas menjadi sangat hening. Tak ada keributan yang tercipta. Seluruhnya sedang mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengerjakan soal yang tersaji dihadapan mereka. Hanya 5 soal memang, tapi itu mampu membuat Lay merasa mual yang amat sangat.
"Ya Tuhan, aku ingin pulang." Batin Lay sengsara. Sudah dikatakan bukan, seluruh materi yang ia baca kemarin tak meresap kedalam otaknya. Mungkin Lay tahu jawabannya sedikit-sedikit, tapi ia sendiri masih merasa ragu dengan jawaban yang ia tulis.
"Apa aku mencontek saja, ya?"
Lay menggeleng kuat-kuat. Menepis pemikiran bejatnya itu.
"Apa-apaan aku ini. Kau ingin orangtuamu dipanggil kepala sekolah, hah?" omel Lay pada dirinya sendiri.
Gadis China itu menghela nafas pasrah. Ia sudah memutuskan, ketika bel tanda ujian berakhir dibunyikan ia akan langsung mengumpulkan kertasnya, apapun isi dari kertas laknat itu.
Iseng, ia menoleh kearah seniornya—Kim Joon Myun—yang duduk disebelahnya. Seniornya itu terlihat sedang berpikir. Tak lama setelah itu ia menulisi kertasnya.
Ukh, Lay menatap seniornya itu iri. Pasti dia sangat pintar, pikir Lay.
Diam-diam Lay memperhatikan lekuk wajah Joonmyun. Tampan, ditambah dengan paras malaikatnya itu. Rambutnya hitam, tertata rapi. Menambah kesan manly pada seniornya itu. Matanya indah, Lay yakin setiap perempuan yang bertatapan dengannya akan jatuh pada pelukannya.
Lay menggelengkan kepalanya lagi.
"Cukup, aku benar-benar sudah mabuk karena soal ini."
Lay menundukkan kepalanya. Mencoba menepis segala pemikiran gilanya. Kenapa dia seperti terpesona dengan Kim Joon Myun?
"Hey, ini absensinya. Tanda tanganilah."
Suara yang cukup berat menyapu telinga Lay. Dan gadis itu pun menoleh kearah samping kanannya.
Dan ia melihat Joonmyun menyodorkan absensi kepadanya dengan senyum yang terukir.
Senyum itu untuk Lay.
Dan Lay merasa ialah korban dari tatapan mata Joonmyun.
Ia bisa menebaknya dari jantungnya yang berdebar tak karuan.
TBC
Author's note
Haloo haiiiii ;3
Udah baca yaaa :33 maaf abal, inilah ff-ku, selalu dipenuhi dengan keabalan ;u;
Kalo part ini ceritanya gak bagus, mian yaaa. Entah kenapa aku selalu kehilangan kata-kata dan jalan cerita untuk ff-nya ;w;
Sekali lagi maaf :'3 /sujud/
Okeoke, sekarang aku mau bales review dichapter sebelumnya :3
selvian. summer: iya ini gs'-' semoga suka yaa. ini udah lanjut, makasih udah review'-')/
ExileZee : azik deh belahan jiwa 8D makasih udah review'-')/
Brigitta Bukan Brigittiw : iya, serem ya mereka berantem 8| silakan baca part ini, yixing udah ketemu dengan si suho'-')/ makasih udah review'-')/
Jaylyn Rui : kayaknya bakal panjang deh soalnya kisahku panjang .u. /slap/ iya mereka berantem serem bet-_,- ini udah lanjut, makasih udah review'-')/
Des Parfaits : sipsip, ini udah lanjut. makasih udah review yaw'-')/
Laibel : whoa, whoa, ini udah lanjut koook .u. makasih udah review'-')/
chenma : wah flashback nih ye 8D /ditabok/ naksir gak tuh sama seniornya? ;;) /iniapa /ditaboklagi. ini udah lanjuuut. makasih udah review'-')/
MinieZhang : iya, ini ficnya mami papi nih o:) udah lanjuut. makasih udah revieww'-')/
Sabil : udah lanjuuut niiih. makasih udah review'-')/
Oke, aku rasa ini aja ocehanku. Makasih udah baca hehehe :'''3
Review sangat dianjurkan dan diperbolehkan :'3
