Halo! ^-^ aku balik/? *apa.

Masih ada yang nunggu gak? *ga.

Kuharap masih ya, sobs. Aku kena writer's block. Tiap mau nulis akhirnya— udah, ah jangan bahas ini TuT *siapa juga yg bahas.

Yodah.. ini part 3-nya ya.

Enjoy this story, after that leave ur review ^-^ kamsa!


Senior and Junior

Rated T

Pairing: SuLay (Suho/Lay)

Genre: Romance

Warning

Genderswitch. AR. Fic aneh. Fic berantakan. Fic jelek. Karena jelek itulah perlu kritikan yang membangun ;u;

So give ur review, pretty please? ;u;


Selamat reading guise ^-^


"YA TUHAN HENTIKAN SEGALA PENDERITAAN INI!"

Bisakah kalian menebak siapa yang berteriak?

"KETIKA MEMBACA SOAL YANG SUDAH BERADA DITANGANKU, RASANYA AKU INGIN MEROBEKNYA SEGERA! APA GURU MEMANG SENGAJA MEMBUAT ANAK DIDIKNYA MENDERITA, HAH?!"

Siapapun yang menjawab itu Taemin,

Benar, itu memang Taemin.

Ujian hari pertama telah mereka lewati.

Tapi diiringi dengan teriakan akan kefrustasian seperti tadi.

"Jangan berteriak, Taemin. Kau mengundang perhatian orang." ujar Luna ketika menyadari tatapan orang-orang mulai mengarah ke mereka.

Ucapan Luna tidak menenangkan Taemin. Tatapan perempuan dengan bibir tebal itu menjadi semakin sengit.

"Biar sajaa! Yang jelas aku, mereka, dan termasuk Yixing dan kau Luna, SEMUANYA SETUJU KALAU SOAL ITU MENYEBALKAN!"

Dan teriakan Taemin sukses membuat orang yang baru saja lewat didekat mereka menutup telinga.

Luna menatap Taemin jengah. "Sheesh, lebih baik kalau kau mencari tempat yang sepi agar kau dapat menjerit-jerit sepuasnya."

"Ya! Aku akan melakukannya kalau begitu ayo kita pulang— eh, Yixing, kenapa daritadi kau diam saja?"

Kedua perempuan itu menatap seorang perempuan lainnya yang melamun— menatap kosong kedepan seperti orang tak bernyawa. Mereka menyadari teman mereka yang satu ini tidak ikut berucap heboh seperti tadi.

Luna mengedikkan bahunya. "Entahlah, dia sudah begini seusai mengumpulkan kertas soalnya. Aku mengajaknya ngobrol dan dia hanya menanggapiku dengan anggukan dan gelengan. Aneh, kan?"

Taemin menatap Luna dengan tatapan dibuat ngeri. "Apa dia— kesambet setan, Luna?" tunjuknya kearah Lay takut-takut.

"Aku dengar kau, Taemin. Aku tidak kesambet setan apapun."

Orang yang dibicarakan akhirnya membuka mulutnya. Walau tatapannya masih menatap kosong kedepan, sih.

"Huwaa, akhirnya kau bicara juga! Kau kenapa, sih? Apa kau sebegitu stress-nya karena soal sejarah tadi?" Taemin menatap Lay seraya memegang sebelah tangannya.

Lay bingung. Keringatnya mulai mengalir dipelipisnya. Apa yang harus dikatakannya?

"Bukan.. karena soal sejarah, kok."

Mendengar ucapan Lay, Taemin membulatkan matanya. "Hah? Jadi artinya kau dapat mengerjakan soal tadi dengan baik?!"

"Lay, bukannya kau bilang tadi kalau kau tidak belajar sedikitpun?" Luna ikut berbicara ketika mendengar kata-kata Taemin.

"Aku memang tidak belajar!"

"Lalu kenapa kau terlihat diam sekali?"

Pertanyaan dari Taemin membuatnya bungkam lagi. Ia menggelengkan kepalanya pelan.

"T-tidak kok.."

Taemin menatap Lay dengan tatapan meminta penjelasan.

"Oh, aku tahu.. punggungmu masih sakit, ya? Mau aku pijit?"

Mendengar kata 'pijit' Lay menanggapinya dengan cepat, "Ti-tidak, tidak, tidak! Terima kasih Taemin, hahahaha lagipula punggungku sudah tidak apa-apa sekarang, sungguh.."

"Oh, baiklah.."

"Apa sesuatu terjadi?"

DEG

Lay bungkam lagi. Luna memang bisa menyadari gerak-geriknya. Ia memang bisa mengetahui kalau sesuatu terjadi padaku, pikir Lay.

"A-apa maksudmu? Tentu—tentu saja tidak ada yang terjadi." sangkal Lay. Didalam hatinya ia berdoa agar Luna tidak tambah curiga.

"Mencurigakan.."

Tuh kan. Sudah pasti Luna akan mencurigainya.

"Su-sudahlah! Katanya tadi mau pulang? Ayo pulang!"

Lay melangkah mendahului kedua temannya yang hanya menatapnya penuh tanya.

Ia menutup matanya. Senyum Kim Joon Myun kembali merayapi pikirannya.

"Maafkan aku.. aku akan menceritakannya— ketika aku siap."


Sebuah ruang tamu. Meja yang dipenuhi buku-buku yang lumayan tebal. Pena, pensil dan penghapus. Kotak pensil beraneka jenis.

Dan kemudian terdengar seruan diiringi pensil yang ditunjuk diudara.

"PERHATIAN!"

Karena seruan itu cempreng, ya.. berarti yang bersuara adalah perempuan.

Perempuan bersuara cempreng yang ada dicerita ini tentu saja,

—Taemin. Siapa lagi?

Taemin menunjukkan senyum menantangnya.

"Nah! Agar besok kita jadi lebih siap mengerjakan ujian.. ayo kita belajar bersama!"

Luna dan Lay yang ada disana hanya menatap Taemin datar.

"Pada akhirnya 'belajar bersama' ini akan berubah menjadi 'bergosip bersama'." ucap Luna. Matanya menatap ruang tamu Taemin yang nyaris berubah menjadi ruang belajar anak SMA. Tas, buku tebal dan alat tulis..

"Hehe, aku akan berusaha agar judulnya tidak berubah. Maka dari itu, ayo kita mulai belajar! Besok ujian apa ngomong-ngomong? Biologi?"

Luna membuka sebuah notes kecil. Tertera 'jadwal ulangan harian bersama' disebuah kertas. Matanya difokuskan di hari Selasa.

"Biologi dan Geografi." ucap Luna lalu menutup notes-nya dan meletakkannya diatas meja.

Taemin terdiam sebentar. "Yah.. paling tidak sedikit mudah karena ada Biologi. Song Qian sonsaengnim mengatakan kalau soal ujian ia ambil dari buku cetak, kan? Itu mudah! Kita hanya perlu membahas soalnya saja." Ia pun duduk lalu mulai membuka halaman buku cetak Biologinya.

Kedua perempuan yang lain juga mengikuti Taemin. Membuka buku cetak dan mencoba mengerjakan soal.

"Oh ya Luna. Bagaimana senior Lee Donghae?" tanya Taemin seraya kedua mata dan tangan kanannya fokus mencatat jawaban.

Luna terlihat menyukai topik yang diungkit Taemin. Gadis dengan rambut sepinggang yang dibiarkan terurai saat ini sedikit menegakkan tubuhnya dan senyum-senyum sendiri. Lay yang berada disampingnya hanya menatap perubahan tingkah Luna dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

"Sangat keren. Kau tahu? Ternyata dia salah satu senior kelas dua tertampan disekolah ini. Aku sangat beruntung ketika mengetahuinya. Ditambah dia juga mengajakku berbincang kecil tadi selama ujian. Ya tuhan.."

Taemin menatap Luna sinis. "Yak, kau mulai asyik berkhayal, nona Park."

"Sesukaku. Kau sendiri? Siapa senior perempuan yang duduk denganmu itu?"

Taemin menyeringai ketika Luna mulai mengungkit teman sebangkunya selama ujian.

"Seohyun sunbae. Kau tahu Luna, kalau kau bertemu dengannya, kujamin kau akan mengaku kalah telak."

Luna mengangkat alisnya. "Hah, apa maksudmu?"

Taemin merenggangkan badannya. "Kalau Donghae sunbae senior tertampan, maka Seohyun sunbae senior tercantik. Dia teman dekat Taeyeon sunbae."

Mendengar kata 'tercantik' ekspresi Luna berubah. Lay yang disebelahnya lagi-lagi hanya menggelengkan kepalanya. Lay tahu, Taemin tahu, seluruh orang tahu bahwa Luna sangat sensitif mendengar kata 'cantik'.

"Heh. Secantik itukah dia sampai-sampai kau lebih memuji senior itu dibanding sahabatmu sendiri?"

"Kalau iya, bagaimana?"

Luna menatap Taemin datar.

"Cis.. sudahlah, aku sedang malas cari masalah denganmu sekarang."

Taemin yang merasa kalau Luna menahan kesalnya hanya terkekeh.

Lalu matanya beralih menatap Lay. Dan Lay sendiri sadar Taemin menatap dirinya. Dia hanya berdoa agar—

"Oh, Yixing. Bagaimana Kim Joon Myun sunbae itu?"

DEG

Terlambat.

"D-dia orang baik." jawab Lay sekenanya.

"Ya.. kalau hanya baik mungkin setiap orang juga berpendapat begitu. Maksudku.. apa dia tampan?" tanya Taemin lagi.

Lay tak konsen menulis jawabannya. "Err.. aku tidak bisa menilai tampan tidaknya seseorang.." dan tangannya terhenti ketika ia sadar bahwa ia tak sengaja menuliskan 'Kim Joon Myun' dibukunya.

Cepat-cepat Lay menghapusnya dan menulis kembali. Ia merutuki dirinya sedikit.

"Cis, tidak mungkin. Menurutmu bagaimana, Luna? Kau juga melihat senior yang duduk disebelah Yixing itu kan?"

Luna mengangkat wajahnya. "Aku tidak terlalu memperhatikan Joonmyun sunbae itu. Yang aku lihat, dia orang kedua yang mengumpulkan kertas ujiannya setelah Shindong sunbae."

Taemin sedikit terkejut. "Wow. Itu artinya dia pintar. Begitukah, Yixing?"

Luna dan Taemin menatap Lay bersamaan. Lay yang merasa dirinya berada diambang kematian.

Padahal dia hanya ditanya tentang pintar tidaknya Joonmyun, iya kan?

"Y-yah.. dibanding aku, dia sangat lancar menuliskan jawabannya tadi."

"Berarti dia senior pintar. Apa kau tahu informasi lain darinya?"

Ingin rasanya Lay menjeritkan 'TAEMIN BERHENTI BERTANYA SEPUTAR KIM JOON MYUN PADAKU!'. Tapi ia tahu kalau ia lebih tidak berani mengatakan itu.

"Eh.. t-tidak."

Tuhan hentikan kekepoan Taemin. Begitulah doa singkat Lay barusan.

Taemin manyun. "Yah, kenapa? Sepertinya kau tak tertarik mencari tahu tentang senior. Sementara kita harus mengenal mereka semua, kan?"

Lay hanya tersenyum kikuk seraya menstabilkan detak jantungnya yang berlomba-lomba.


"Selamat pagi, Lay."

Merasakan tepukan pelan dipundaknya, Lay menoleh. Ia tersenyum menatap Luna.

"Pagi, Luna. Aku merasa cukup bisa menghadapi Biologi hari ini."

Luna tertawa kecil. "Ya, aku juga. Ternyata belajar bersama kemarin cukup membuahkan hasil ya."

"Hahaha, kukira kemarin kita akan lebih fokus bergosip."

"Tapi ternyata Taemin menepati janjinya untuk serius belajar. Dia bisa begitu juga, ya?"

"Kalau dia mendengar aku tidak ikut-ikutan dalam pertarungan sengit kalian."

"Kau tak perlu ikut Lay, karena kaulah wasitnya."

Lay dan Luna hanya tertawa dengan apa yang mereka perbincangkan.

Mereka pun berbincang-bincang sambil melangkah menuju ruangan ujian mereka.


Sesampainya diruang tujuh, mereka melangkahkan kaki mereka masuk.

Lay menuju tempat duduknya yang berada di ujung sebelah kiri. Sedangkan Luna hanya menatap tempatnya yang sudah terdapat satu lelaki sedang duduk seraya membaca buku dimeja sebelah kanan. (Jadi maksudnya satu meja orang dua gitu. Ada tempat duduk kiri dan tempat duduk kanan.)

"Donghae sunbae selalu datang lebih awal." ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya.

Lay mengikuti arah pandang Luna. "Sunbaenim yang rajin."

Luna belum mengalihkan pandangannya. "Ukh. Aku tak berani menuju tempat dudukku. Meja didepan dan dibelakangku juga masih kosong, pasti suasana akan canggung. Lay, aku duduk ditempatmu dulu ya? Teman sebangkumu juga belum datang, kan."

Lay hanya mengangguk. Ya.. tenang Lay. Kim Joon Myun belum datang.

Kedua perempuan itu melanjutkan perbincangan mereka lagi. Sampai-sampai mereka tidak menyadari seorang lelaki berparas malaikat masuk kedalam ruangan. Ia berdiri didekat tempat duduknya yang ditempati Luna.

Ia meyerenyitkan dahi karena dua orang yang asyik berbincang itu sama sekali tak menyadarinya yang sudah berada didekat mereka.

"Ehm."

Deheman berat memotong percakapan seru Lay dan Luna.

Luna menoleh dengan raut wajah kesal—karena obrolannya dan Lay dihentikan.

"Siapa sih?— o-oh, sunbaenim."

Kedua Luna dan Lay menegang mendapati Joonmyun berdiri didekat mereka. Lelaki itu menatap mereka tanpa bicara membuat kedua perempuan itu gugup. Terutama Lay—yang ekspresinya tak dapat dijelaskan lagi.

"M-mian sunbaenim. L-Lay, aku permisi ya. "

"Y-ya."

Ketika Luna sudah meninggalkan tempat duduknya, Joonmyun meletakkan tasnya dan mendudukkan dirinya dikursi. Ia membuka tas dan mengambil buku Biologinya. Tak lama matanya fokus membaca.

Lay hanya menelan ludah seraya melirik seniornya yang baru datang itu.

Ternyata canggung yang diucapkan Luna tadi seperti ini, batin Lay.

Karena Joonmyun hanya diam, Lay pun ikut diam.

Ia meremas-remas jarinya sedikit. Detak jantungnya melaju cepat.

Tuhan, tolong. Jangan sampai dia tahu jantungku berdetak tak normal. Aku ingin ketempat Luna, tapi.. bagaimana caranya?!

Lay menatap miris tempat duduknya. Terhimpit dengan dinding, satu-satunya jalan untuk keluar adalah mengucapkan 'permisi' kepada senior yang ada disebelahnya itu.

Lay meraup udara sebanyak-banyaknya.

Lay, kau pasti bisa! Apa yang kau tak bisa, hah? Hanya mengucapkan kata 'permisi sunbae aku mau lewat' saja susah! Kau perempuan payah! rutuk Lay dalam hatinya.

Ia pun mengepalkan tangannya. Aku pasti bisa.

Lay pun berdiri dan—mencoba berani—mengangkat wajahnya,

"P-permisi sunbaenim! B-boleh aku lewat?"

Dan reaksi Joonmyun tak pernah dia perkirakan sebelumnya.

Berdiri mempersilahkan Lay lewat sambil tersenyum.

"Silahkan. Maaf menghalangi jalan."


Entah waktu berjalan atau berlari, yang jelas sekarang ujian sedang dilaksanakan.

Ruang tujuh terlihat sunyi dengan murid kelas satu dan kelas dua yang berkonsentrasi penuh seperti orang sedang bersemedi.

Seorang perempuan yang duduk dimeja paling kiri terhimpit dengan dinding terlihat sibuk mengisi lembar kertasnya. Lebih baik dari kemarin, heh?

Lay menghela nafas. Akhirnya. Ia bisa mengerjakan soal-soal Biologi yang berada dihadapannya sekarang. Ia rasa ia harus memberi Song Qian sonsaengnim hadiah yang sangat banyak usai ujian ini.

Lay memejamkan matanya. Ia mencoba bersantai seusai menggunakan otaknya dengan kekuatan super. Kalau boleh dibayangkan, otak Lay mungkin sudah mengempis saking kerasnya dipakai.

Ia pun melirik Joonmyun yang ada disebelah kanannya. Ia menulis, tapi lebih sering berhenti menatap kertasnya. Agak berbeda dari ujian kemarin.

"Dia terlihat kesusahan. Biologinya sulit, ya?" pikir Lay. Ia mencoba melirik soal Joonmyun, namun gagal. Terlalu sulit. Ia tak berani menegakkan wajahnya. Ketahuan memperhatikan kan memalukan—

—terutama oleh orang yang disukai.

Wajah Lay pun perlahan memanas. Ia mengingat kejadian tadi pagi.

Joonmyun yang mempersilahkannya lewat dengan tersenyum tulus.

Lay menggelengkan kepalanya cepat. Apa-apaan aku ini!

Perempuan dengan dimple itu menunduk. Wajahnya masih panas—malah makin panas.

Ia menyadari, kalau ia benar-benar jatuh hati pada seniornya satu itu.

Wajahnya yang tampan bak malaikat, keren, berimage dewasa, senyumnya yang—

Lay menepuk kepalanya pelan. Aku gila!—gila karena Joonmyun bodoh disebelahku ini.

Ia pun melirik kearah kanannya lagi. Terlihat Joonmyun sedang menggambar sesuatu. Seperti.. bagan? Bagan apa? Proses perkembangbiakan?

"Apa-apaan gambar itu. Ukh, aku jadi takut menghadapi kelas dua nantinya." batin Lay. Soalnya saja tadi cukup susah. Untung dia belajar, kalau tidak? Ia sudah akan seperti patung Liberty. Patung Liberty memegang obor, Lay memegang pena.

Ia melirik lagi. Lagi-lagi Joonmyun hanya menatap kertasnya. Terlihat sangat bingung. Namun akhirnya tangannya terangkat—

—untuk mencoret gambar tadi.

Lay membulatkan matanya. "Oh, dia.. dia tak punya penghapus! Penghapus, penghapus.. M-mana penghapusku ya?!"

Lay mengedarkan pandangannya kesegala arah mencari penghapusnya. Ia tak membawa kotak pensil, hanya membawa pena, pensil, penggaris, dan penghapus ke mejanya.

Dan sekarang kemana penghapusnya itu?

Mata Lay lebih membulat ketika mendapati penghapusnya berada agak dekat dengan Joonmyun.

"K-kenapa penghapusku sudah ada didekatnya begitu?! Tak mungkin penghapus itu berjalan sendiri, kan?"

Lay berharap-harap cemas. Penghapusnya itu sudah ada didekat Joonmyun, dan Joonmyun sendiri tinggal mengambilnya untuk menghapus.

Namun,

TUING

Siku Joonmyun menyenggol penghapus itu.

Dan jatuh kebawah meja.

JGAR

Bagaikan disambar petir, Lay menatap penghapusnya yang jatuh.

Ia ingin menangis sekarang juga.

"Dia memilih mencoret-coret kertasnya dibandingkan mengambil penghapusku yang jelas-jelas berada didekatnya itu? Senior macam apa dia ini.." pikir Lay seraya melirik Joonmyun dengan tatapan bete-minta-ampun.

Joonmyun yang dilirik hanya sibuk menatapi kertasnya yang penuh coretan.

"Kalau bisa kubanting akan kulakukan sekarang pada senior ini." pikir Lay lagi.

Ia bersungut-sungut dalam hati. Tak menyadari Joonmyun sedang sibuk menandatangani absensi.

SRET

"Ini absensinya."

DEG DEG DEG

Jantung Lay mulai berdegup kencang kembali. Ia tahu itu Joonmyun yang sedang menyerahkan absensi seperti kemarin. Ia tak berani menoleh kearah Joonmyun.

Ia takut dengan senyuman yang bisa membuatnya terbungkam itu.

Ia mengambil absensi itu tanpa menoleh, lalu menandatanganinya.

Selesai, ia oper absen itu kebelakang—kepada temannya yang bernama Lee Sungmin.

Lay menghadap kedepan kembali dan—

mendapati Joonmyun melihati lembar jawabannya.

DEG DEG DEG

"Mau apa dia? Mengoreksi jawabanku? Ayolah, tak perlu! Aku tak mengharapkan nilai sempurna!" ucap Lay dalam hati. Jantungnya berdegup lagi.

Dan setelahnya Lay merasa jantungnya bisa copot kapan saja.

Joonmyun mengalihkan pandangannya dari kertas ujian ke pemilik kertas ujian itu sendiri.

Tadi dia buat aku kesal dan sekarang dia buat aku gila..

Tuhan.. ini ujian untukku, ya?


TENG TONG TENG TONG

Bel tanda ujian selesai dibunyikan. Itu artinya murid-murid dapat pulang beristirahat dan menyiapkan diri untuk ujian hari ketiga besok.

Dan mari kita memfokuskan pandangan kearah perempuan yang terlihat seperti orang yang frustasi dalam menjalani hidup.

"Ujian Biologi tadi ia menatap kertas ujianku lalu menatapku.. kemudian ketika ujian Geografi dia juga melakukan hal yang sama. Dia bermaksud apa, sih?" begitulah isi hati perempuan tersebut barusan.

"Ukh.. aku harus pulang dan segera beristirahat.." pikirnya menderita.

"Hey, kau kenapa, Lay? Tak enak badan?" Luna yang juga melihat Lay seperti 'orang yang frustasi' pun menghampiri temannya satu itu.

"A-aku tak apa kok.." ucap Lay seraya menggeleng.

Luna mengangguk-angguk—tanpa tahu beban Lay yang sesungguhnya. "Baguslah. Ayo kita keruangan sebelah. Siapa tahu Taemin juga sudah selesai mengerjakan. Setidaknya ujian hari ini terasa lebih mudah karena kita belajar. Iya, kan?"

"I-iya.."

Kedua perempuan itu berjalan menuju ruangan yang berada disebelah ruangan mereka. Namun suara seseorang yang familiar menghentikan mereka.

"Yixing! Yixing!"

Luna menoleh.

"Lho, Taemin? Kami baru saja mau menghampirimu diruanganmu." ucap Luna kepada Taemin yang sedang mengatur nafasnya karena tadi berlari.

"Kau darimana, Taemin?" tanya Yixing. Taemin terlihat buru-buru sekali.

"Darimana saja! Dan dengar! Yixing! Dengar aku!"

Lay yang merasakan ada hal penting menatap Taemin serius.

"Pantas aku merasa pernah mendengar namanya disebutkan orang-orang!"

"Senior Kim Joon Myun itu ternyata ketua OSIS!"


TO BE CONTINUED


Halo~ gimana? Hwhw. Akhirnya identitas si Suho terkuak juga.. (Suho: emang gue apaan?)

Makin aneh? Makin absurd? Lama update?

Klik review dan keluarkan unek-unekmu/? *ga.

Sebelumnya aku mau bales review dulu~

Brigitta Bukan Brigittiw : iya tuh, senyum suholang kaya memang bikin klepek-klepek/? dan duo cewek heboh itu keknya bakalan tetep begitu selamanya, deh.. /ga. makasih udah review ya ^-^

chenma : wah, kalo saya malah satu semester kmaren ditambah semester ini duduk dengan orang yang sama.. /curcol /slapped. tenang, nanti suho nyontek kok. tapi nanti ya/? kalo ngebantu lay gimana ya, kan suho disini jadi orang sok cool/? hwhw, makasih udah review ^-^

Laibel : hayo kejadian kek gimana? /slap. makasih udah review ^-^

Lulu ELFuJoyers : sip, diusahakan ya 8D makasih udah kasih review ^-^

BBCnindy : iya soalnya kisah aslinya juga lama/? *ga. oke, ini udah update ^-^ thanks for review!

thanks ya yang udah kasih review! Buat yang fav dan follow juga makasih banget~ cium sini:*

will ya give ur review again? xoxo!