Haaaaaiiii. Ada lanjutannya nih'-'
Lama? Maaf, writer's block + tugas + ujian adalah penghambatnyaaa huhu. Ditambah rumor-rumor itu.. i feel like my heart was broken into small pieces.. /alay.
Okedeh, gausah banyak curcol, kita langsung jha!
Senior and Junior
Rated T
Pairing: Suho/Lay (SuLay)
Genre: Romance
Warning
GS. AR. Aneh. Berantakan. Jelek. Butuh review biar jadi semangat terus ;n;
Give ur review after reading, bby~
Happy membaca guise!
Lay menutup pintu kamar mandinya. Terdengar sedikit suara kecipak air ketika ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandinya.
Gadis itu menggosok rambutnya pelan seraya mengambil sisir diatas meja rias.
Ia menghadap cermin persegi panjang cukup besar dan lebar yang tertempel dinding kamarnya. Tangannya mulai terangkat menyisiri rambutnya yang basah.
"Haah.." Terdengar helaan nafas.
Lay termenung sebentar.
"Jadi.. Kim Joonmyun adalah ketua OSIS?" gumamnya.
Tangannya berhenti bergerak. Ia menatap kedepan—terlihat pantulan dirinya pada cermin dihadapannya. Ia mendesah berat setelahnya.
Diusap wajahnya kasar. "Apa-apaan aku ini, aku naksir orang yang pastinya terkenal disekolah? Berani-beraninya aku ini.."
Ia meletakkan sisir kembali, lalu mendudukkan dirinya diatas kasur. Termenung memikirkan Joonmyun kembali.
"Tapi cinta tak memandang status apapun, kan? Aku berhak mencintai ketua OSIS sepertinya, kan?" gumam Lay pelan. Ia mengusap kasar wajah mulusnya lagi.
Dihentakkannya tubuhnya jatuh keatas kasurnya yang empuk. Merasakan lembutnya kasur yang ditidurinya membuat tubuhnya rileks.
"Aku tak menyangka dia ketua OSIS. Penampilannya juga biasa saja walau dia terlihat stay cool. Ya ampun, dunia memang dipenuhi hal-hal tak terduga.." oceh Lay seraya menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru muda.
"Tapi kenapa tak ada yang menghampirinya untuk melaporkan tugas OSIS, ya? Apa karena ujian kegiatan OSIS jadi berhenti? Ya, ya.. mungkin saja begitu ya?" Lay mengangguk-angguk dengan opininya sendiri.
Ya, beropinilah sesukamu, Lay. Jangan lupakan ujian bahasa Inggrismu besok.
Lay melangkah dilorong sekolah dengan mata yang sedang membaca dengan hati-hati.
Apa yang dibaca Lay pagi-pagi begini? Mari kita lihat— oh, ternyata buku bahasa Inggris.
BRUK
"Whoa, maaf— oh, Lay! Selamat pagi!"
Lay hampir ingin memaki orang yang mengganggu kosentrasinya yang sedang membaca buku pelajaran yang 89% dibenci setiap orang disekolah ini.
Seenaknya saja menabrakku, kau pikir kau bisa membantuku menjawab soal Miss Tiffany nanti? begitu umpatan Lay dalam hati.
Tapi setelah tahu itu Taemin, Lay mengusir makiannya itu jauh-jauh.
Akhirnya pagi ini ia mendapat teman yang juga bodoh dalam hal bahasa Inggris—walau sebenarnya hampir seluruh murid disekolah itu bodoh.. eh?
"Taemiiin~ Apa kau sudah belajar untuk pelajaran terkutuk itu?" ujar Lay sambil menggoyang-goyangkan lengan Taemin.
Ekspresi Taemin berubah setelah mendengar ucapan Lay.
"Hah! Aku takkan pernah sudi membuka bukuku dan berpikir dengan cuma-cuma untuk pelajaran yang diajar guru sok modis itu! Asal dia tahu saja, untuk menjadi guru usianya itu masih terlampau muda. Ia bisa cepat keriput kalau terus menerus mengajar diiringi senyum dengan mata yang hampir hilang itu dan bergadang membuat soal yang pada akhirnya tak ada satupun yang dapat seratus! Kalau dia tak ingin cepat tua, sebaiknya dia cari pekerjaan lain!" cerocos Taemin berapi-api.
Lay menatap sahabatnya sweatdrop. Begitulah kalau sudah berbicara menyangkut Miss Tiffany..
"Ya, ya, kau mulai ngoceh yang tidak jelas. Lebih baik kita lanjut berjalan sampai ke ruang ujian." ujar Lay—bermaksud menghentikan omelan Taemin. Ia tak mau mendengar siraman agama pagi-pagi begini.
Taemin hanya mengangkat bahunya lalu berjalan beriringan dengan Lay menuju ruangan ujian mereka.
Tak sampai 10 menit, mereka pun sudah sampai.
"Aku mengungsi diruanganmu dulu ya. Luna mana?" ucap Taemin dengan kepala celingak-celinguk mencari sosok gadis yang tak pernah lelah beradu mulut dengannya itu.
"Tumben menanyai teman debatmu. Sepertinya dia belum datang." ucap Lay sambil meletakkan tas dibangkunya.
Taemin terkekeh. "Tak masalah kan menanyainya sekali-sekali. Ngomong-ngomong ruangan ini sudah ramai, ya. Baru jam setengah tujuh pagi, juga."
"Ya, begitulah. Sunbaenim semuanya rajin-rajin."
"Jadi maksudmu kita tidak rajin? Omo, sunbae itu duduk ditempat Luna. Itukah Donghae sunbae?"
Lay menoleh kearah bangku ujian Luna. Benar, Donghae sunbaenim sedang meletakkan tasnya dan segera mendudukkan dirinya. Ia mengubek-ubek tasnya dan mengeluarkan buku bahasa Inggris setelahnya.
"Ya, itu Lee Donghae sunbaenim."
"Omo.. ternyata Luna tidak membual! Benar-benar tampan!" Taemin berkata dengan sedikit berteriak. Lay hanya memasang tampang malasnya.
"Sudah, sudah, ayo berhenti bergosip. Saatnya membuka buku." ucap Lay. Ia mulai menggerakkan tangan untuk membuka buku cetaknya.
Taemin memandang sinis dan jijik buku cetak bahasa Inggris yang tidak berdosa itu.
"Sudah kubilang, aku tak sudi."
"Yasudah, jangan salahkan siapapun kalau nilaimu nol." kata Lay dengan matanya yang tak teralihkan dari buku.
Taemin berdecih pelan. "Awas saja kau tidak dapat seratus, Zhang Yixing."
Lay hanya terkekeh kecil mendengar umpatan Taemin untuknya. Tak lama ia fokus kebukunya kembali. Sedang Taemin malah memainkan android-nya. Benar-benar tak sudi, eh?
"Joonmyun-ah~"
"Tidak, Changmin-ah."
Lay dan Taemin menoleh bersamaan ketika mendengar suara ribut-ribut itu. Mereka bisa melihat Joonmyun dan seorang laki-laki dengan tinggi diatas rata-rata sedang berbicara serius didepan kelas yang ramai.
"Kenapa? Komohon, sekali ini saja.. kita sempatkan mengerjakan tugas OSIS disela-sela ujian.. ya?" ucap lelaki bernama Changmin dengan nada memohon yang amat sangat.
"Sekali tidak tetap tidak." ucap Suho dengan tegas.
Lay hanya menerjap menyaksikan kejadian didepan matanya. Sepertinya kata-katanya semalam terbuktikan hari ini.
"Komohon, Joonmyun-ah.. tugas OSIS sekecil ini takkan mengganggu ujian kita kok.." mohon Changmin sekali lagi. Dari nada bicaranya ia sudah terlihat frustasi dengan penolakan Joonmyun.
Dan setelahnya, air muka Joonmyun pun berubah. Matanya menatap tajam Changmin.
"Dari perkataanmu kau terlihat menganggap tugas OSIS itu enteng. Begitu?"
Changmin menyadari perubahan sikap Joonmyun. Ia gelagapan.
"B-bukan begitu maksudku, Joonmyun-ah.."
"'Bukan begitu maksudku?' jadi kalau bukan itu maksudmu, kau bisa kan menunda pekerjaan OSIS yang kau anggap kecil itu sampai ujian kita selesai? Otte, Changmin-ah?"
Changmin bungkam. Ia tahu, siapapun tahu. Walaupun nada bicara Joonmyun masih tetap halus dan tegas, tapi sebenarnya Joonmyun sudah marah besar. Dan Changmin sadar itu salahnya—salahnya karena sudah berkata tugas OSIS itu 'kecil'.
"A-aku permisi kembali keruanganku, Joonmyun."
Dan langkah sepatu Changmin mulai sayup-sayup menghilang dari pendengaran Joonmyun, Lay dan Taemin.
Oh ya, kedua orang itulah yang daritadi setia menyaksikan kejadian 'ayo-kerjakan-tugas-osis-disela-ujian-joonmyun' beberapa menit yang lalu.
Joonmyun menghela nafas. Ia terlihat kesal.
Melihat wajah Joonmyun yang kelelahan membuat Lay iba. Ia ingin memeluk Joonmyun, menenangkan Joonmyun dengan kata-kata penenang darinya, tersenyum lembut padanya— tunggu, apa yang barusan ia pikirkan?!
"Kasihan Joonmyun sunbae.. sebagai ketua OSIS pasti kerepotan mengurusi anggota OSIS yang tak semuanya bersikap dewasa dan tegas." ujar Taemin seraya menatap Joonmyun yang sedang dihampiri Kyuhyun.
"Ya.. kurasa aku setuju denganmu." ucap Lay pelan. Ia melihat Kyuhyun sedang menghibur Joonmyun dengan merangkulnya dan menepuk-nepuk bahunya pelan.
"OSIS membuat peraturan. Peraturan itu mengatakan kalau tugas OSIS otomatis harus berhenti dikerjakan untuk sementara selama ujian, kecuali dengan izin pembina. Pembina hanya mempercayai Joonmyun sunbae sebagai ketua OSIS yang bisa mengurus semuanya, jadilah ia direpotkan karena anggota-anggota yang tak henti-hentinya menganggap OSIS remeh."
Lay mendengarkan ucapan Taemin dengan mata yang masih terfokus pada Joonmyun—yang sekarang sedang mengobrol dengan Kyuhyun.
Tak lama setelah itu, Taeyeon pun datang. Gadis jelita itu menyapa Joonmyun dengan akrabnya dan ikut berbicara dengan lelaki itu juga. Entah kenapa Lay merasa sakit melihatnya. Buru-buru ia alihkan pandangannya.
"Aku mendapat informasi kalau Joonmyun sunbae itu ketua OSIS dari anak-anak ruangan pertama. Mereka menggosipi Joonmyun sunbae yang katanya sempat berdebat dengan Wooyoung didekat ruangan mereka. Dan yah.. itu karena tugas OSIS lagi."
Lay terdiam. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri setelah mendengarkan cerita Taemin. Ia tak sadar kalau Taemin sudah menenteng tasnya dan pamit pergi padanya.
Ia juga tak menyadari bahwa Joonmyun sudah duduk disebelahnya sambil menelungkupkan wajahnya dimeja.
Ternyata jadi ketua OSIS itu berat.
Ujian bermata pelajaran yang diajar oleh miss Tiffany pun berlangsung.
Seorang gadis bernama Zhang Yixing sedang berpikir sekuat tenaganya— oh ayolah, coba kau lihat raut wajahnya.
Alis dan dahi yang mengkerut, mata yang menatap soal-soal dihadapannya dengan tatapan mengintimidasi, jemari yang menggenggam erat penanya—dan mungkin pena itu bisa saja hancur kalau Lay tidak cepat melonggarkan genggamannya.
Lay sangat sangat sangat sangat SANGAT berusaha dengan keras sekarang. Daritadi ia menyemangati dirinya walau hanya satu soal yang terkerjakan dari lima essay yang harus diselesaikannya.
"Huweeeeeeeeeeeeee sebenci inikah miss Tiffany pada kami?! Ya Tuhan, jikalau ia memang benci pada kami, terangkanlah hatinya.. kami tak bersalah apa-apa, Tuhan.." doa Lay parau dalam hatinya.
Merasa benar-benar lelah berpikir, Lay memutuskan untuk merileks-kan dirinya sebentar. Ia meletakkan penanya lalu menyenderkan punggungnya pada kursi. Nyaman. Biarkanlah untuk beberapa saat seperti ini saja.
"Hey, hey!—psst."
Lay melirik kearah kanan. Ia menyerenyit. Ia tak salah lihat?
Joonmyun.. menoleh kebelakang dan berbisik-bisik?
"Psst—Ryeowook-ah."
Ryeowook—sunbae kelas dua yang duduk dibelakang Joonmyun mengangkat wajahnya sedikit.
"Ada apa, Joonmyun-ah?"
"Nomor tiga, nomor tiga."
"Oh, baiklah tunggu sebentar."
"Arra."
Tunggu— barusan ia tak salah lihat, kan?
Joonmyun sunbaenim.. bertanya jawaban soal nomor 3?
Lay mengalihkan pandangannya kearah depan. "Kukira dia pintar. Ternyata dia bisa mencontek juga." batin Lay dengan mata yang masih melirik-lirik tingkah laku Joonmyun yang sedang mencontek pada Ryeowook.
Ia dapat melihat Ryeowook yang berbisik-bisik—memberi jawaban—kepada Joonmyun. Lay bisa menangkap bahasa-bahasa inggris dari bisikan-bisikan itu.
"Oke, terima kasih Ryeowook-ah. Aku berhutang banyak." bisik Joonmyun.
"Ya, sama-sama." ucap Ryeowook dengan senyum simpul. Tak lama ia kembali fokus ke kertas ujiannya.
Begitu juga dengan Joonmyun, dia kembali menatapi kertasnya dengan dahi yang berkerut. Berpikir keras.
"Kasihan sekali. Seandainya aku pintar bahasa Inggris.. aku pasti akan langsung membantunya." batin Lay dengan mata yang masih melirik Joonmyun.
Tapi, apa daya? Dia juga tak jauh berbeda dari Joonmyun—menyerah tentang bahasa internasional itu.
Lay menghela nafas, lalu mencoba kembali fokus.
"Hu~aaaaaaaaah! Selesai juga!"
Lay terkaget mendengar suara yang cukup keras itu. Ia menoleh kearah belakang, tempat temannya—Sungmin—duduk.
"Kau mengagetkanku, Min-ah."
Sungmin hanya nyengir. "Maaf. Habisnya, aku lega sekali ujian pelajaran terkutuk itu pergi."
Lay hanya geleng-geleng kepala. Bahasa inggris memang neraka.
"Ya. Aku juga lega. Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan untuk menjawabnya tadi, Min-ah? Mengucapkan mantra?"
Sungmin mendelik. "Yah, kau pikir aku penyihir? Lagipula memangnya kau tidak? Kau bersemedi sebelum mengerjakan tadi, kan?"
Lay menatap Sungmin datar. Yang benar saja, bersemedi? Eh, sebenarnya Sungmin tak sepenuhnya salah sih, memang benar dia tadi bersemedi didepan buku cetaknya, kan?
"Lay-ah, menurutmu apa kita sekelas akan mendapat nilai dibawah 60?"
Lay meringis mendengar pertanyaan Sungmin. "Persentase dari pertanyaanmu itu 97%."
Sungmin menghela nafas. "Guru bahasa inggris disini bukan hanya miss Tiffany, kan? Kenapa tidak guru lain saja yang mengajar kita? Kurasa akan lebih baik kalau guru-mata-hilang itu diganti dengan guru lain."
Lay manggut-manggut mendengar penuturan Sungmin. "Ya.. aku juga berharap begitu."
Entah karena keasyikan mengobrol dengan Sungmin atau apa, Lay tidak menyadari kalau Joonmyun masih berada disebelahnya dan menguping percakapannya dengan Sungmin tadi.
"Sepertinya diajar miss Tiffany benar-benar menyeramkan, ya?"
DEG
DEG
Tubuh Lay sudah dipastikan menegang. Barusan.. ia mendengar suara Joonmyun, kan?
Lay menoleh kearah Joonmyun. Dilihatnya Joonmyun menatapnya—menunggu Lay merespon kata-katanya.
"N-ng.. b-begitulah, sunbae."
Lay meringis dalam hati. Kenapa dia gelagapan?
Joonmyun tersenyum kecil. "Wanita itu selalu menyerocos dengan bahasa inggris tiap kali mengajar, benar tidak?"
Lay langsung mengangguk. Memang kenyataannya miss Tiffany tidak pernah mengucapkan bahasa lain selain bahasa inggris selama ia menjelaskan materi.
"Hahaha, itulah hal yang menyeramkan dari wanita itu. Kalau dulu, ketika sunbae masih di kelas satu, akan ada satu atau dua orang yang pintar bahasa inggris dikelas. Ya.. setidaknya mengerti apa yang dikatakan guru itu." ucap Joonmyun dengan senyum yang terpantri diwajahnya.
Lay menerjap beberapa kali.
Ya Tuhan. Joonmyun mengajaknya ngobrol?
"O-oh, begitu ya sunbae? K-kalau dikelasku sih.. cara mengatasi serangan miss Tiffany itu dengan cara membuka kamus secepat mungkin. Maklum saja.. tidak ada satupun yang punya skill dasar berbahasa inggris." ucap Lay. Ia agak tersenyum miris menceritakan keadaan kelasnya ketika miss Tiffany mulai menyerocos tak jelas.
Joonmyun tertawa lagi. Kali ini agak lebih keras. "Benarkah? Wow! berarti kalian punya kemampuan untuk memecahkan rekor dunia membuka kamus tercepat. Kenapa tidak mencoba saja? Setelah itu kalian sekelas akan jadi orang terkenal dengan foto yang terpampang disetiap media kabar."
Lay ikut terbahak mendengar ucapan Joonmyun.
"Wah, boleh juga, sunbae! Nanti aku usulkan pada ketua kelas kalau begitu. Dia pasti senang sekali!" ujar Lay diiringi tawa lepasnya.
Suho tertawa makin keras. "Kalau kalian sudah terkenal, jangan lupa katakan pada seluruh media kalau yang mengusulkan kalian memecahkan rekor dunia adalah sunbae tercinta kalian, Kim Joonmyun. Oke?"
Lay mencibir. "Enak saja.. sunbae mah cuma numpang tenar! Huu."
"Hey, hey, berani sekali kau menyoraki sunbae-mu?" Suho menjitak kecil kepala Lay.
Refleks, Lay menghindar. Entah sadar atau tidak? "Duh sunbae, jangan jitak-jitak! Oh iya, ngomong-ngomong guru bahasa inggris sunbae siapa?"
Suho menarik tangannya. "Mr. Kris. Tahu guru dari Kanada yang tinggi menjulang itu, kan?"
Lay mengangguk. "Tahu. Teman-temanku banyak mengatakan kalau dia tampan. Padahal menurutku tidak terlalu, giginya agak tonggos. Enak tidak diajar olehnya?"
Suho tertawa tertahan mendengar ucapan Lay. Ternyata adik tingkatnya satu ini pintar sekali mengatakan hal-hal lucu.
Suho menjadi nyaman.
"Yah, kalau dibilang enak sih, memang lebih enak dibanding diajar oleh miss Tiffany. Tapi kalau soal suasana kelas selama dia mengajar.. sebaiknya tidak usah dipertanyakan. Tak jauh beda dari suasana dikuburan."
Lay terkekeh. "Wah, orangnya stay cool, ya?"
"Tepat." ucap Suho, ikut terkekeh.
Siswa-siswi berbeda tingkat itu terus melanjutkan obrolan mereka tentang Mr. Kris sampai bel pulang berbunyi menghentikan percakapan seru mereka.
Lay membaca buku fisikanya seraya senyum-senyum.
Lihatlah. Sekarang matanya sedang membaca tulisan-tulisan dibukunya. Namun sedetik kemudian dia mulai senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
Atau orang kerasukan?
"Hihihi."
Dan sekarang dia mulai tertawa sendiri!
Nampaknya kita butuh bantuan rumah sakit jiwa sekarang.
Dengan senyum yang tak luntur, Lay menyamankan sedikit posisi tidurnya. Buku fisikanya agak terlantarkan sekarang.
"Sebenarnya aku mimpi atau bagaimana? Tadi aku benar-benar ngobrol dengan Joonmyun sunbae, kan? Kyaaa." ucap gadis itu sedikit berteriak.
Lay menumpukan kedua tangannya dibawah dagunya. Pandangannya menerawang kedepan diiringi senyumnya yang semakin lebar.
"Aaah.. kenapa ada makhluk setampan dia? Aku kan jadi jatuh cinta." ujarnya dengan mata yang tak berkedip.
Perlahan jemari Lay meraih kembali buku cetak fisikanya. Ia mulai membaca lagi.
Sesaat kemudian ia kembali senyum-senyum—tuh kan mulai lagi.
"Besok.. apa aku bisa mengobrol lagi dengan Joonmyun sunbae seperti tadi, ya?"
Pagi hari yang cerah, mengiringi ujian hari terakhir Lay. Suara gesekan antar kertas terdengar jelas di ruangan tujuh tersebut. Murid-murid sibuk mengoper kertas kearah belakangnya.
Selepas membagi kertas soal kepada teman-temannya dibelakang, Yixing membenarkan posisi duduknya lebih nyaman. Diraihnya pulpen dan berdoa sedikit dalam hati; aku pasti bisa.
Lalu difokuskannya mata ke soal yang dipegangnya. Perlahan tangannya meraih kertas abu-abu polos untuk mengorek-ngorek yang disediakan guru yang mengawas diruangannya. Tangannya pun mulai bergerak menulis angka-angka layaknya soal yang dibacanya itu.
TEK
TEK
Tangan Lay terhenti. Tubuhnya menjadi 'JPG' untuk sementara.
Suara—
Ketukan pena?
TEK
TEK
Refleks dirinya menoleh kekanan. Dan matanya bertubrukan dengan obsidian Joonmyun yang menatapnya sambil tersenyum.
"Semangat." Joonmyun berbisik namun masih bisa didengar jelas oleh Lay.
Lay masih mencerna apa yang terjadi.
Sedetik kemudian, dia mengulum senyum. Menunjukkan dimple-nya yang begitu manis.
"Ya. Semangat juga untukmu, sunbae."
Lay merasa hari-harinya sebagai murid kelas satu disekolahnya ini akan lebih berwarna.
TBC
Haloo. Ini chapter lanjutannya.. maafkan yang nulis yaa akan keleletannya.
Tapi author yang lelet ini terus berusaha kok mikirin ide buat ff ini. Semoga masih ada yang mau baca, ya.
Review, oke? Aku pasti senang sekalii.
Zinih aku mau jawab review kalian di chapter sebelumnya~
Brigitta Bukan Brigittiw : Biasalah, kalo lagi fall in love emang malu-malu kucing gitu kan kalo deket gebetaan? Iya, hebat ya dia? Udah jadi $uho, ketua OSIS pula. ckck. pantes lay suka. Gak tau juga ya, mungkin modus? /slap/. Thanks for review yaaa!
fuawaliyaah : Amiiin, dan itu pasti akan terjadiii. Thanks for review yaaa!
rizqibilla : Jangan digigit kertasnya, nanti kamu gak ikut ujian dan gak naik kelas:( /salah. Thanks for review yaaa!
ExileZee : Kan deket gebetan, mana gak dugeun dugeun gitu:(( entahlah, paling si junmyun modus ya'-' Thanks for review yaaa!
nur991fah : Annyeong~ bisa diliat cast-nya gak cuma suho lay kok, ada luna, taemin, dan nama-nama lainnya yang aku pake buat ngedukung/? cerita ini~ suho itu gragasan/? kok tenang jha. Thanks for review yaa!
the-dancing-petals : Ciee ternyata kalo deket gebetan gitu juga? Aah samalah.. /ga. /slap.
Ini udah lanjut, maafkan keleletanku:(( thanks for review yaaa!
Tabifangirl : Ciyusan? Aa padahal menurut aku update-nya lama.. maafkan aku jikalau aku memang lelet:(( ini udah lanjut, thanks for review yaaa!
fantaosticpanda : Yup, ketua OSIS. Aku juga kangen sulay makanya buat ff mereka:'3 oke akan diusahakan yaa, thanks for review yaa!
chenma : Gak, dia gak nyontek. Modus doang sih. /apa.
Waah kamu pinter ya:( /salah. /tendang. Malah senior disebelahku gak pernah tuh nanya-nanya keaku. /curhat. /abaikan. Thanks for review yaaa!
luhan : Ciyusan? Makasiiih~ maklum dia kan bego gitu.. /ditabok. Udah lanjut, thanks for review yaaa!
oomgirang : Uu aku terharu bacanya:(( maaf lama, maafkan keleletankuu, ini lanjutannya yaaa:(( sulay memang unyu, aku sangat setuju sama kamuuu. Thanks for review yaaa!
rinrinchan00 : Heyho, ini lanjutannyaaaa. Thanks for review yaaa!
vickykezia23 : Mianhae, tbc emang menganggu ya:(( /salah. Ini udah lanjut, thanks for review yaaa!
chanlubaek : Aaaww pengen jatuh cinta lagi yaa? Okedeh sini sama akuuu. /abaikan. Thanks for review yaaa!
Makasih yaa buat reviewers, ilysm~ u guys lift my spirits up ^-^
Also thanks for people who favorite and follow this story!
Give me ur review more, i need it a lot! xoxo ^-^
