Title
TOKYO
Chapter One : Magnetic Levitation
Author
Jung Minrin
Cast
Jung Yunho
Kim Jaejoong
Shim Changmin
Park Yoochun
Kim Junsu
Kim Kibum
Choi Siwon
Naomi (OC)
Akira (OC)
Magnetic Levitation
Pernahkah kalian mendengar istilah itu?
Ah, baiklah. Mungkin, lebih baik, kalau aku menjelaskannya pada kalian, kan?
Well, magnetic levitation adalah salah satu alternatif transportasi yang maju saat ini. Magnetic levitation atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan maglev adalah sejenis kereta yang menggunakan prinsip kemagnetan untuk menjalankannya. Karena prinsip itulah, kereta maglev merupakan kendaraan paling cepat di dunia dan paling bebas polusi. Dan karena alasan itulah berbagai negara maju berlomba-lomba untuk mengembangkan alat transportasi ini agar bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya.
Salah satunya adalah Jepang. Kini, Jepang tengah menggaet salah satu produsen alat transportasi paling maju di kawasan Asia, Jung Industries.
Ah, kalian pasti mulai menebak-nebak.
Jawabannya adalah ya, jika kalian menebak Jung Industries milik keluarga Jung Yunho.
Sementara itu, proyek kerja sama Jung Industries dengan pemerintah Jepang ini diketuai oleh Yunho selaku CEO Jung Industries, sesuai perintah dari ayahnya, Jung Siwon.
Dan karena proyek itulah, akhir-akhir ini, Yunho menjadi semakin sibuk.
Tapi, untunglah Yunho dikaruniai otak yang amat cerdas. Jadi, selain memimpin jalannya proyek, ia juga ambil peran dalam merancang kereta maglev ini.
Yunho selalu ingat satu hal yang pernah diajarkan guru Fisika-nya ketika SMP dulu.
Jika dua kutub magnet yang berbeda didekatkan, maka kedua kutub itu akan saling tarik menarik.
Bukankah magnet sama dengan dua sejoli yang berjodoh?
Cinta sama seperti magnet. Ketika dua sosok yang berbeda saling didekatkan, maka mereka akan menyatu dalam cinta.
Jung Yunho mengurut pelan keningnya. Sejak beberapa menit yang lalu, ketika ia sedang mengemudikan mobilnya dalam perjalanan pulang ke apartemennya, kepalanya mulai berdenyut. Dan kini, denyutan di kepalanya itu semakin terasa. 'Ah, sepertinya, aku terlalu lelah,' batin Yunho.
Yunho berjalan dengan langkah gontai ke apartemennya. Ia mulai memasukkan password apartemennya.
KLIK!
Pintu berhasil terbuka. Yunho pun mendorong pelan pintu apartemennya, "Tadaima!" seru Yunho.
Oke, Yunho memang harus terbiasa bersikap seperti itu, karena kini, ia tak lagi sendiri di dalam apartemennya yang mewah dan luas itu. Kini, ibunya, Jung Kibum, juga menemaninya meninggali apartemen tersebut.
"Aigo, Yunnie!" seru Kibum yang muncul dari balik dinding dapur. Namja manis itu langsung menghambur ke arah putra sulungnya. "Tak perlu menggunakan bahasa Jepang! Kau tahu kan, kalau bahasa Jepang Umma sangat payah?" sungut Kibum kesal dalam bahasa Korea.
Yunho tertawa kecil. Ia tahu betul dengan kepayahan Umma-nya dalam berbahasa Jepang. Dan setidaknya, kini rasa sakit di kepalanya mulai berkurang, karena tingkah Umma-nya yang lucu itu. 'Pantas saja, Appa begitu menyayangi Umma," batin Yunho sambil membayangkan saat-saat dimana Appa-nya, Jung Siwon, meraun-raung tak rela kalau istri tercintanya ini harus berada di Tokyo, yang berarti begitu jauh darinya. "Arrasseo, Umma." Yunho mengangguk patuh.
Kibum tersenyum senang. Mirip anak kecil.
'Aigo, Umma seperti anak kecil saja! Bahkan, ia bertingkah lebih imut dibanding Changmin," batin Yunho lagi.
"Oiya, Yun. Bagaimana harimu? Kau baik-baik saja, kan? Apakah kau masih terasa demam? Kau tidak terlalu lelah, kan? Bekal yang Umma beri padamu sudah kau makan, kan?" tanya Kibum tanpa jeda sedikitpun.
Yunho kembali tertawa. Umma-nya itu memang terlalu perhatian padanya. Sepertinya, benar apa yang dikatakan Changmin padanya. Umma-nya berusaha menebus kesalahannya di masa lampau karena tidak sempat membesarkannya dahulu, memilih untuk melanjutkan kariernya dan menitipkannya pada Halmeoni-nya untuk dibesarkan.
Ah, padahal, Yunho tak mempermasalahkan hal semacam itu. Yunho bukanlah tipikal namja sentimen seperti itu. Toh, cintanya pada Umma-nya tidak akan pernah berubah. Meski tak dipungkiri, bahwa dengan perhatian yang diberikan Umma-nya kini, Yunho bisa merasakan kasih sayang seorang Umma yang belum pernah didapatkannya.
Sementara Changmin?
Ah, bocah itu terlahir terlambat. Maksudnya, ia lahir 11 tahun, setelah Yunho. Jadi, saat itu, Kibum sudah yakin untuk menghentikan kariernya dan fokus pada keluarganya.
Dan saat itu, Yunho sudah beranjak remaja, sehingga sebagian besar waktunya lebih sering dihabiskan bersama teman-temannya, daripada di rumah bersama keluarga besarnya.
"Tenang saja, Umma. Aku baik-baik saja. Aku juga sudah memakan bekal yang dibuatkan Umma." Yunho mengambil lunch box dari dalam tas kerjanya, lalu menyodorkannya pada sang Umma. "Masakan Umma benar-benar enak."
Ah, nilai plus lagi dari seorang Jung Kibum. Namja manis itu juga pandai masak.
"Hanya saja, aku merasa agak pusing, Umma," lanjut Yunho, sambil menyentuh pelipisnya.
Raut wajah Kibum berubah menjadi cemas. "Eh? Pusing, ya?" Kibum ikut-ikutan menyentuh pelipis Yunho. "Arrasseo. Lebih baik, kau ke kamar saja dulu. Berbaringlah sejenak," usul Kibum. "Apa kau mau mandi?" tawarnya.
"Ne, Umma." Yunho mengangguk.
"Baiklah, Umma akan siapkan air hangat untukmu," kata Kibum. "Nanti, kalau kau sudah selesai mandi, Umma akan mengantarkan makan malam dan teh hangat untukmu, ne?"
Yunho kembali mengangguk. Lantas, ia pun berjalan ke arah kamarnya, merebahkan tubuh kekarnya yang begitu kelelahan di atas ranjang king size-nya yang nyaman.
"Kau bilang baik-baik saja, tapi ternyata kepalamu masih pusing," gerutu Kibum yang terduduk di tepi ranjang milik Yunho.
Yunho tersenyum kecil. "Mungkin, aku hanya terlalu lelah. Tadi aku harus mengikuti debat panjang dengan pihak pemerintah Jepang. Benar-benar menguras tenaga," keluhnya pada sang Umma. Selama ini, ia belum pernah menumpahkan keluh kesahnya pada sang Umma. Maklum, karena keduanya memang tidak terlalu dekat selama ini.
Kibum mengusap punggung tangan Yunho. "Sabarlah, Nak. Kau pasti bisa melewati semuanya. Kau adalah putra seorang Jung Siwon dan Jung Kibum!" seru Kibum dengan penuh semangat.
Yunho tertawa. Sepertinya, Umma-nya memang tahu cara untuk menghibur putranya ini. "Ne, aku mengerti Umma."
"Oiya, Yun. Umma ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Kibum serius.
"Ne, Umma?" Yunho memperhatikan Umma-nya dengan seksama.
"Sebenarnya, Umma dan Appa sudah membicarakan hal ini sejak lama," tutur Kibum. "Kapan kau menikah, Yun?" tanya Kibum.
Inilah yang selama ini dikhawatirkan Yunho. Selama ini, Yunho selalu merasa aman karena kedua orang tuanya tak pernah mempermasalahkan tentang pernikahannya nanti. Tapi ternyata, sekarang, saatnya sudah tiba.
Yunho bukanlah tipe namja yang mudah akrab dengan banyak orang.
Bukan. Dia bukan namja pemalu. Hanya saja, ia adalah namja yang tertutup. Buktinya, ia tak mempunyai terlalu banyak teman. Ia tak pandai berkomunikasi dengan orang lain, kecuali dengan teman-teman dekatnya, keluarga, ataupun rekan kerjanya.
Sepertinya, sifatnya ini memang menurun dari Kibum yang juga tertutup dengan orang lain.
Sungguh kontras. Siwon adalah namja yang mudah akrab dengan banyak orang dan sifatnya menurun pada Changmin, adik bungsu Yunho. Sementara Kibum adalah namja yang tertutup dan sifatnya menurun pada Yunho.
Untuk sekedar berdekatan saja, Yunho tak bisa, apalagi harus menjalin hubungan cinta?
Pasti akan sangat sulit bagi Yunho.
Lagipula, sepertinya, selama ini, Yunho tak pernah benar-benar merasakan apa yang disebut dengan jatuh cinta.
Yunho tak pernah merasa benar-benar tertarik pada seseorang atau sekedar suatu benda.
Yunho tak pernah melihat seseorang, seperti cara Appa-nya melihat Umma-nya dengan tatapan penuh cinta dan kasih sayang.
Bahkan Yunho tak pernah melihat suatu benda, seperti cara Changmin melihat beberapa porsi makanan di meja makanan, dengan tatapan yang lapar.
Yunho tak pernah seperti itu.
Atau mungkinkah hatinya sudah terlalu beku?
"Yun?" Kibum menyentuh pundak putranya dengan lembut.
"Ne, Umma?" balas Yunho dengan tatapan linglungnya. Ia baru saja tersadar dari lamunan panjangnya.
Kibum tersenyum lembut. "Sudahlah, lupakan saja kalimat Umma tadi. Kita bisa membicarakannya lagi lain kali," jelas Kibum.
Meski Yunho bisa melihat Umma-nya tersenyum, tapi ia tahu betul bahwa terdapat kekecewaan dalam hati sang Umma.
"Sekarang, lebih baik, kau istirahat. Kau harus bekerja besok, kan?" lanjut Kibum.
"Ne, Umma."
"Jaljayo, Chagi." Kibum bangkit dari duduknya, lalu berlalu pergi dari kamar Yunho.
Menyisakan Yunho yang masih termenung, tanpa bisa memejamkan mata.
Tuhan menciptakan setiap manusia dengan segumpal hati dan perasaan di dalamnya.
Tak akan pernah ada kata terlambat untuk cinta.
Bukankah sudah kubilang bahwa cinta itu seperti magnet?
Jadi, setiap kali kau berada di dekat orang yang penuh cinta, maka cinta akan bersemai di hatimu.
Sama saja seperti magnet yang mengubah besi menjadi magnet, kan?
Tenang saja, Jung Yunho. Tak akan ada kata terlambat bagimu untuk jatuh cinta.
"Jadi, kau juga merancangnya?" tanya Kibum pada Yunho yang duduk disampingnya.
Kini, mereka berdua tengah berada di dalam kereta maglev. Keduanya sepakat untuk menghabiskan akhir pekan bersama ke salah satu pusat perbelanjaan di daerah Kyoto.
"Ne, Umma," balas Yunho sambil tersenyum.
"Wah, hebat! Umma tak menyangka!" Kibum menatap takjub ke sekelilingnya. Ia tak menduga kalau Yunho juga bisa merancang sebuah kereta maglev, di samping kemampuan bisnisnya yang menurun dari Siwon.
Yunho terkekeh pelan.
"Jadi, kereta seperti ini juga yang sedang kau rancang dengan pemerintah Jepang?" tanya Kibum nampak antusias.
"Ne, Umma." Yunho membenarkan. "Hanya saja, kami harus memberikan beberapa pembaruan, sehingga kereta maglev kami lebih maju dibanding kereta maglev negara lain," jelas Yunho.
Kibum mengangguk mengerti.
Kereta maglev yang mereka tumpangi itu bergerak dengan sangat cepat. Tetapi, penumpangnya sama sekali tak merasakan guncangan sedikitpun. Sehingga, siapapun akan merasa nyaman ketika berada di dalamnya.
Kini, sepasang ibu dan anak itu terdiam.
Larut dalam pikiran masing-masing.
Menikmati setiap detik dalam kereta maglev yang mereka tumpangi.
Hingga membawa mereka pada tujuan yang mereka ingini.
"Arigatou gozaimasu~" Yunho membungkukkan badannya ke arah beberapa namja bermata sipit yang merupakan perwakilan dari pemerintah Jepang.
Perwakilan pemerintah Jepang itu tersenyum kecil, lantas memohon undur diri dari ruang rapat di kantor pusat Jung Enterprises di Jepang.
Yunho menghela nafas yang panjang.
Seorang gadis cantik yang berdiri tak jauh dari Yunho tersenyum kecil. "Begitu lega, Yunho-kun?" celetuk gadis itu.
Yunho menoleh ke arah sang gadis dan tersenyum lebar. "Tentu saja, Naomi-chan," balas Yunho senang. "Rapat hari ini tidak sealot minggu lalu," lanjutnya.
Memang benar. Setelah rapat alot seminggu yang lalu, Yunho mulai merancang proyeknya sedemikian rupa, sehingga menghasilkan kepuasan bagi kliennya, yakni pemerintah Jepang, yang cenderung begitu selektif. Alhasil, kerja kerasnya seminggu terakhir ini terbayar sudah.
Gadis bernama Naomi itu mendekati Yunho. "Apa kau ingin langsung pulang, Yunho-kun?" tanyanya lembut.
Yunho menatap sekretarisnya itu.
Ya, Naomi adalah sekretarisnya. Meski hubungan mereka hanyalah sebatas atasan dan bawahan, tapi Yunho berusaha menghilangkan hal semacam itu. Selama ini, ia merasa begitu nyaman berada di samping Naomi. Maka dari itu, keduanya saling memanggil dengan sapaan akrab. 'Yunho-kun' dan 'Naomi-chan'.
Eh? Nyaman?
Apa kalian berpikir bahwa Yunho tertarik pada Naomi?
Yunho memang tertarik pada Naomi. Tapi sebatas teman saja.
"Sepertinya, aku harus membereskan beberapa berkas terlebih dahulu, lalu pulang," jelas Yunho. "Bagaimana denganmu? Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang?" tawar Yunho.
Naomi tersenyum manis. "Tidak perlu. Akira yang menjemputku hari ini," jelas Naomi.
Yunho teringat dengan sosok Akira, sahabat lamanya, yang juga kekasih Naomi saat ini. "Oh, Akira. Bagaimana kabarnya saat ini? Aku sudah lama tak bertemu dengannya."
"Akira baik-baik saja," jawab Naomi.
"Masih sibuk dengan jembatan-jembatan itu, eoh? Sampai-sampai lupa dengan kekasihnya yang cantik ini dan lebih memilih berkencan dengan tiang-tiang besi yang dingin itu?" gurau Yunho.
Naomi tertawa kecil. "Kau bisa saja," balas Naomi.
"Ah, baiklah. Kurasa, aku harus segera membereskan berkas-berkasku. Aku tak ingin pulang terlalu larut. Kaa-san sudah menunggu di rumah," tutur Yunho.
"Perlu bantuan?" tawar Naomi.
"Tidak. Pulanglah saja. Nikmati waktumu dengan Akira," balas Yunho.
"Berhati-hatilah, Yunho-kun," kata Naomi mengingatkan.
Yunho tersenyum. "Tentu saja. Sampaikan salamku pada Akira, ya?"
"Tentu, Yunho-kun. Sampaikan juga salamku pada Nyonya Jung."
Ini adalah kedua kalinya dalam hidupnya, Yunho memilih kereta maglev untuk mengantarnya ke suatu tempat.
Konyol, bukan?
Well, Yunho memang bukan penggagas kereta maglev, tapi dia ikut serta dalam pengembangannya, bukan?
Sungguh miris kan, kalau dia adalah salah satu perancang kereta maglev yang ditumpanginya sekarang, tapi ia baru dua kali menjajalnya?
Jadi, malam itu, setelah Yunho berhasil melewati rapat dengan pemerintah Jepang dengan baik, ia memutuskan untuk pulang dengan kereta maglev dan meninggalkan mobilnya di parkir basement kantornya.
Kereta maglev yang ditumpangi Yunho malam itu relatif sepi. Ini sudah cukup malam, jadi penumpangnya sudah semakin sedikit.
Yunho menyandarkan punggungnya ke tempat duduknya. Mata musangnya terpejam.
Benar kata Umma-nya bahwa kereta maglev benar-benar menakjubkan. Dengan kereta maglev, kita bisa mencapai tempat tujuan kita dengan lebih cepat. Selain itu, kita tidak perlu lelah mengemudikan kendaraan. Bahkan, kita bisa beristirahat sejenak seperti yang dilakukan Yunho sekarang. Yah, itu pun kalau kita sempat mendapat tempat duduk, terutama saat kereta maglev sedang dipadati penumpang.
Ah, Yunho memang bodoh. Tidak menyadari betapa canggihnya kendaraan ini.
Sama seperti saat seseorang yang begitu cantik tengah duduk berseberangan dengannya.
Yunho yang mencium aroma parfum pun membuka matanya perlahan. Ia mengerjap kaget ketika menyadari gadis yang begitu cantik duduk di seberangnya.
Gadis itu memang cantik, dengan kulitnya yang seputih susu, big doe eyes-nya yang begitu indah, rambutnya yang hitam itu dipotong pendek, bibirnya yang merah menggoda seperti cherry. Benar-benar indah.
Gadis itu menyunggingkan senyumannya ke arah Yunho.
Yunho melongo. 'Dia tersenyum ke arahku?'
Dengan kikuk, Yunho pun membalas senyuman gadis itu. "Kau sendirian saja?" tanya Yunho, tiba-tiba. Sungguh, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
Bukankah Yunho adalah namja yang begitu tertutup? Tapi, sekarang apa? Mengajak orang asing berbincang hanya karena terpesona kecantikannya?
Apakah Yunho sudah jatuh cinta pada gadis itu?
"Ya, aku sendirian," balas gadis itu dengan suara lembut.
Entah kenapa, Yunho serasa ingin terbang setelah mendengar jawaban gadis itu. 'Ya Tuhan! Dia meresponsku! Ini tidak buruk! Tidak buruk!' serunya girang dalam hati. "Bukankah tak baik bagi seorang gadis untuk keluar di malam hari seperti ini?" tanya Yunho, melanjutkan perbincangan mereka. Entah kenapa, lidahnya terasa begitu lancar untuk berbicara saat ini.
Gadis itu tertawa kecil. "Ya, aku tahu itu."
"Lalu, kau sendiri?"
Gadis itu kembali tertawa. "Aku bukan seorang gadis."
"Eh?" Yunho melongo. "K-kau?"
"Ya, aku seorang pria, sama sepertimu, Tuan," Ga- eh, maksudnya, pria itu membaca name tag Yunho, "Tuan Jung."
"Ah, gomen." Yunho nampak bersalah.
"Tak apa," balas pria itu. "Apa kau adalah orang Korea? Margamu Jung, bukan?" tanya pria itu.
"Benar," jawab Yunho.
Pria itu tersenyum lebar, lalu bangkit dari duduknya. Ia langsung menghampiri Yunho. "Wah, senang sekali, aku bisa bertemu dengan sesama orang Korea sepertimu!" seru pria itu sambil menjabat tangan Yunho.
Yunho kembali terkejut. "Kau juga orang Korea?"
"Ne!" jawab pria itu dalam bahasa Korea. "Kim Jaejoong imnida!" serunya memperkenalkan dirinya.
"Oh." Yunho mengangguk mengerti. "Jung Yunho imnida," balas Yunho memperkenalkan dirinya.
Pria bernama Jaejoong itu pun duduk di sampingnya. "Kau sudah lama tinggal di Tokyo?" tanya Jaejoong dalam bahasa Korea dengan nada seolah ia sudah mengenal Yunho sejak lama.
"Hm, sejak 3 tahun yang lalu," jawab Yunho.
"Apakah kau masih mengunjungi Korea?" tanya Jaejoong.
"Ne. Setiap natal, aku pasti kembali ke Korea," jelas Yunho.
Jaejoong nampak semakin antusias. "Bagaimana keadaan Korea sekarang?" tanya Jaejoong penasaran.
"Hm, baik," jawab Yunho. "Memangnya, kau tak pernah berkunjung ke Korea lagi?"
"Ani. Sejak kecil, aku dibesarkan di Jepang dan tak pernah kembali ke Korea lagi," jelas Jaejoong dengan wajah sedihnya.
"Tapi, kau bisa berbahasa Korea dengan baik?" tanya Yunho heran.
"Tentu saja! Aku kan, belajar!" seru Jaejoong.
Yunho tertawa pelan melihat tingkah pria di hadapannya itu. Entah kenapa, melihat Jaejoong membuatnya teringat akan sosok Kibum, Umma-nya. Tingkah lucu mereka begitu mirip.
Dan malam hari itu, Yunho pun merasa begitu terhibur. Sama seperti malam dimana Umma-nya menghiburnya dan membantunya melepas penatnya setelah bekerja.
Yunho dan Jaejoong menghabiskan sisa waktu mereka dengan perbincangan yang mengasyikkan, sampai bunyi kereta yang menandakan bahwa mereka harus segera berpisah.
"Bagaimana makanannya?" tanya Kibum, tepat setelah Yunho menelan sesuap nasi beserta lauk pauknya.
Yunho tersenyum ke arah Umma-nya. "Tentu saja, nikmat seperti biasa, Umma," balas Yunho riang.
Kibum tersenyum senang. "Bagaimana kabar proyek kereta maglev itu?" tanya Kibum.
"Sejauh ini, semuanya berjalan baik, Umma," jawab Yunho singkat. Toh, ia tak perlu menjelaskannya secara panjang lebar pada Umma-nya, meskipun Umma-nya tergolong cerdas, karena akan sia-sia saja. Umma-nya tidak ada sangkut pautnya dengan urusana bisnis. Kecuali jika ia harus berhadapan dengan Appa-nya.
"Kalau proyekmu sudah selesai, kau bisa menjalankan proyek lain, kan?" tanya Kibum. "Mencari istri, mungkin?" tanya Kibum dengan nada menggoda.
UHUK!
Yunho tersedak. Ia segera mengambil air putih dan menenggaknya dengan cepat. "I-istri?"
Kibum tertawa. "Ah, sudahlah. Yang penting, fokuslah pada pekerjaanmu dulu. Umma tidak memaksa," balas Kibum santai, lalu berlalu meninggalkan Yunho di ruang makan dan melangkah ke dapur.
Sementara itu, Yunho terdiam di kursinya. Entah kenapa, di pikirannya hanya ada satu orang.
Kim Jaejoong.
Sejak pertemuannya dengan Jaejoong dan perbincangannya dengan sang Umma tentang istri, Yunho semakin gencar untuk bertemu Jaejoong.
Bahkan, Yunho tidak lagi naik mobil pribadinya dan memutuskan naik kereta maglev setiap kali ingin bepergian, hanya untuk mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Jaejoong lagi.
Ah, sepertinya CEO Jung Enterprises ini sudah mulai jatuh cinta, eoh?
Mwolla~ Yunho saja tak mengerti perasaannya saat ini.
Dan kembali lagi tentang Jaejoong.
Sepertinya, keberuntungan belum berpihak pada Yunho. Karena Yunho belum lagi bertemu dengan Jaejoong sejak malam itu.
Yunho sedikit menyesal, karena ia tak bertanya lebih jauh pada Jaejoong, misalnya nomor telepon atau alamat rumah, sehingga ia bisa dengan mudah menghubunginya lagi.
Ah, sepertinya Yunho memang tidak berjodoh dengan Jaejoong.
Tidak, tidak. Mungkin, mereka hanya belum berjodoh.
Sepertinya, sang Dewa Cinta masih tertarik mempermainkan nasib cinta Yunho, eoh?
Hm, we'll see~
Bumi memiliki kutub yang bisa menarik magnet dimanapun magnet itu berada.
Seperti magnet, jodohmu akan tertarik padamu, sejauh apapun jarak memisahkan kalian.
TBC
Berusaha untuk update secepat mungkin, hehe. Dee gak nyangka sih, kalo responsnya baik :)
Soalnya, habis ini, mungkin Dee nggak bisa rajin update, karena minggu depan udah ada UAS.
Nah, gimana nih chap 1 dari ff ini? Menarik kah?
Emang sih, Dee udah janjiin moment Yunjae, tapi entah kenapa, Dee ngerasa masih kurang. Tapi kalo mau ngedit, mau ditambahin apa juga, yaa? Maka dari itu, Dee minta usulan dari readers untuk chap depan, supaya bisa memuaskan ^^
Dan Dee rasa, di chap ini, banyak banget momen Yunho-Kibum, ya? Tenang aja, mereka gak incest, kok. Kalo incest, bisa-bisa Dee dirajam sama Siwon, haha XD
Entah kenapa, chap 1 ini kayak ngajarin kemagnetan, ya? Maklum lah, Dee terbawa suasana yang barusan ikut ujian praktek Fisika tentang Kemagnetan di sekolah.
Mian, kalau ada info-info di atas yang salah, misalnya tentang kereta maglev atau magnet. Itu sih, setahu Dee aja. Berasa dari berbagai info yang Dee gabung jadi satu.
Trus, karena ff ini ngambil set di Tokyo, jadi Dee pake beberapa istilah dari bahasa Jepang, yaa? Kalo ada yang gak dimengerti, silakan ditanya aja ^^ Dan Dee mau ucapin makasih banyak buat temen Dee yang udah ngajarin Dee bahasa Jepang. Berguna banget buat nulis ff ini.
Last, mind to review, chingu?
Love,
Jung Minrin
