Title

TOKYO

Chapter Two : Orphanage

Author

Jung Minrin

Cast

Jung Yunho

Kim Jaejoong

Shim Changmin

Park Yoochun

Kim Junsu

Kim Kibum

Choi Siwon

Naomi (OC)


Panti Asuhan.

Mungkin bagi kalian, tempat itu hanyalah tempat sederhana. Tempat yang tak berguna.

Tapi, bagi sebagian orang, tempat itu adalah tempat bagi mereka tumbuh, mendapat kasih sayang, merasakan kehangatan keluarga yang tak mereka dapat, dan memulai impian mereka.

Lagipula, siapa juga yang menyangkan bahwa panti asuhan adalah tempat yang berharga bagi seorang Jung Yunho?

Ah, apa kalian berpikir bahwa Yunho pernah tinggal di panti asuhan?

Tidak, tidak. Bukan seperti itu kasus yang dialami Yunho.

Sejak kecil, sejak Yunho dibesarkan oleh Halmeoni-nya, Yunho selalu diajarkan nilai-nilai kehidupan yang berharga. Termasuk menghargai orang lain, apalagi orang-orang yang kurang beruntung, seperti anak-anak yang tumbuh di sebuah panti asuhan tanpa mendapat kasih sayang orang tua kandung mereka.

Mungkin, itu adalah salah satu alasan kenapa Yunho tak pernah membenci Umma-nya. Bagaimanapun sikap Kibum dulu, yang lebih memilih melanjutkan kariernya dibanding merawat dan membesarkannya, Yunho tetap bersyukur dan berjanji akan selalu menyayangi Umma-nya. Ia merasa begitu beruntung karena setidaknya, ia masih memiliki keluarga yang utuh. Ya, setidaknya ia masih jauh lebih beruntung dari anak-anak yang tinggal di panti asuhan.

Sayangnya, akhir-akhir ini, Yunho merasa dirinya tak jauh berbeda dari bocah-bocah yang tinggal di panti asuhan. Atau malah, ia jauh lebih menyedihkan dibanding mereka?

Yunho merasa hidupnya semakin kosong. Semakin hampa.

Padahal, seharusnya hidupnya terasa semakin lengkap. Apalagi, kini Umma-nya mencurahkan semakin banyak waktu untuknya.

Lantas, apa yang salah?

Ah, benar juga. Yunho baru saja kehilangan. Kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya.

Separuh hatinya yang telah dibawa pergi oleh seorang namja cantik bernama Kim Jaejoong.

Ah, tapi benarkah itu? Atau Yunho hanya sedang mengada-ada?


Setiap orang yang tak memiliki cinta bahkan memiliki hidup yang jauh lebih menyedihkan daripada bocah-bocah panti asuhan.


Jung Yunho mati-matian terfokus pada setumpuk dokumen yang ada di atas mejanya. Tapi, sudah selama satu jam ia menghabiskan waktu untuk membaca dokumen-dokumen tersebut, namun tak ada satu pun yang bisa masuk ke dalam otaknya yang cerdas.

Ah, sepertinya, otak Yunho sedang mengalami kemunduran, eoh?

Tidak, tidak. Sepertinya, tidak seperti itu. Pikiran Yunho hanya sedang melayang kepada sosok yang begitu dirindunya.

Hei, siapa lagi kalau sosok bernama Kim Jaejoong?

Ah, nampaknya, CEO muda nan tampan ini sudah bisa membuka hatinya untuk orang lain, eoh?

Tapi, kenapa saat pintu itu sudah terbuka, si tamu itu justru menghilang?

TOK... TOK... TOK...

Bicara soal pintu, terdengar suara ketukan di pintu ruang kerja Yunho.

Yunho mendongakkan kepalanya ke arah pintu. "Masuklah," perintahnya dengan suara yang agak lemah.

Pintu ruang kerjanya pun terbuka perlahan, menampilkan sosok gadis cantik yang kita kenal sebagai sekretaris Yunho, Naomi. "Permisi, Tuan Jung," ucapnya sambil memasang senyum manis. "Tuan Park hendak menemui Anda," jelasnya.

Yunho tersenyum tipis. "Baiklah. Biarkan dia masuk," balasnya.

Naomi mengangguk, lantas mempersilakan seseorang yang sedang berada di luar ruangan Yunho.

Sosok pria berjidat lebar muncul dengan senyum sumringah yang terkembang di wajahnya. "Hei, Yun!" sapanya dengan riang dan hangat.

Naomi tersenyum, lantas menundukkan kepalanya, tanda bahwa ia undur diri dari ruangan Yunho untuk segera kembali ke balik meja kerjanya.

"Hei, Chun," balas Yunho lemah. "Apa yang membawamu kemari?" tanyanya.

Yoochun terkekeh pelan. "Oh, apa yang terjadi pada kawanku ini, hm?" tanya Yoochun yang menangkap aura murung dari dalam diri Yunho.

Yunho tersenyum tipis. "Tak apa. Hanya terlalu lelah," jawabnya bohong.

Yoochun tersenyum kecil. Ia tahu, kalau sahabatnya itu sedang berbohong. Tapi, ia memilih untuk terdiam dan tidak membahas keadaan Yunho terlalu jauh. Ia tahu betul perangai seorang Jung Yunho.

"Jadi, ada apa, Chun?" tanya Yunho lagi.

Yoochun menjatuhkan tubuh kekarnya di atas sofa di dalam ruangan Yunho. "Kebetulan, aku sedang memperbarui laporan proyek kami pada Divisi Penilitian dan Pengembangan perusahaanmu," jelas Yoochun. "Jadi, karena aku sedang senggang, kusempatkan untuk mengunjungimu saja," imbuhnya.

Yunho mengangguk mengerti. Tiba-tiba, ia bangkit dari duduknya. "Kau sedang senggang, kan?" tanya Yunho memastikan.

"Ya," jawab Yoochun yang ikut bangkit dari duduknya. "Kenapa?"

Yunho mengenakan jas kerjanya. "Ikutlah denganku. Kita makan siang bersama," jelas Yunho, lalu berlalu pergi.

"Hei, Jung Yunho! Tunggu aku!"


Yoochun tak bisa menahan tawanya lagi.

Yunho hanya mendengus kesal melihat tingkah sobatnya itu. Matanya memperhatikan sekitarnya. Beberapa pasang mata nampak memandang aneh ke arah meja yang ditempatinya dan Yoochun. "Hentikan tawamu, Park Yoochun! Kau membuat kita menjadi pusat perhatian!" desis Yunho tajam.

"Baiklah, baiklah," balas Yoochun di sela tawanya. Ia sedang berusaha mengendalikan tawanya. "Jadi, aku benar-benar tak salah dengar? Akhirnya, Jung Yunho jatuh cinta?" tanya Yoochun yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya meluncur dari mulut Yunho. "Jadi, siapakah gadis yang beruntung ini, eoh?" tanyanya penasaran.

Yunho menyeruput kopi hitam yang dipesannya. "Dia bukan seorang gadis," jawabnya datar.

"Eh? Lalu apa? Janda?" tanya Yoochun heran.

Yunho menghela nafas panjang. "Dia seorang pria, Chun," tegas Yunho.

Yoochun melongo. Oke, ini memang bukan fenomena yang aneh lagi. Bukan hal yang aneh lagi jika ada 'hubungan' antar sesama jenis. Buktinya saja, kedua orang tua Yunho juga mengalami hal itu dan hubungan mereka sukses dan langgeng hingga sekarang, bahkan sudah menghasilkan (?) dua anak, yakni Yunho dan Changmin.

Namun, akan terasa aneh, jika yang mengalami hal itu adalah makhluk tertutup seperti Yunho yang bahkan belum pernah jatuh cinta, apalagi menjalin hubungan cinta dengan wanita sekalipun. Sungguh mengejutkan, ketika cinta pertama Yunho adalah seorang pria.

"Namanya Kim Jaejoong." Yunho memulai ceritanya. "Awalnya, aku mengira bahwa pria itu adalah seorang wanita, karena penampilan fisiknya yang lebih mirip dengan seorang wanita. Kulitnya putih, matanya indah, dan bibirnya berwarna merah seperti cherry," jelasnya. "Ia adalah sosok tercantik yang pernah kulihat. Selain Kaa-san, tentunya," imbuhnya.

Yoochun mendengarkan setiap penuturan Yunho dengan seksama.

"Aku tak tahu mengapa, tiba-tiba, aku menyapanya. Kau tahu sendiri kan, seperti apa aku jika berhadapan dengan orang asing?" lanjut Yunho.

Yoochun mengangguk mengerti. Yunho memang tidak mudah berinteraksi dengan orang asing.

"Tapi, semuanya terasa berbeda ketika aku berhadapan dengan Jaejoong. Aku mudah akrab dengannya," jelas Yunho. "Aku juga tertarik pada tingkah lucunya, yang begitu mirip dengan Kaa-san," lanjutnya. Yunho menarik nafas panjang. "Sialnya, aku lupa menanyakan nomor telepon atau alamat rumahnya," ucap Yunho penuh penyesalan. "Jadi, aku mulai mencoba mencarinya. Aku mencarinya di kereta maglev. Bahkan, aku rela naik kereta maglev setiap bepergian, dengan harapan bisa bertemu dengannya lagi," jelasnya. "Tapi, Jaejoong seolah ditelan bumi. Seolah apa yang kualami malam itu hanyalah ilusi."

Yoochun mengernyit. "Tunggu dulu. Kau naik kereta maglev? Apa hubungannya?" tanyanya heran.

"Karena aku bertemu dengan Jaejoong di kereta maglev," jelas Yunho.

Yoochun mengangguk mengerti. "Dan dia adalah orang Korea juga, ya? Siapa namanya? Jae..."

"Jaejoong," sela Yunho cepat. "Ya, dia adalah orang Korea. Cocok sekali, bukan?"

Yoochun terkekeh pelan. "Sindrom orang jatuh cinta," gumamnya.

"Eh?"

"Seseorang yang jatuh cinta cenderung selalu mengumpulkan fakta-fakta seolah ia dan orang yang dicintainya itu berjodoh. Seperti kau ini," jelas Yoochun.

"Tapi, ini sungguhan!" elak Yunho.

Yoochun kembali tertawa. "Sudahlah. Aku bisa mengerti dan akan kuhargai perasaanmu itu," balasnya santai. "Memangnya, kau dengan mudahnya jatuh cinta pada si Jaejoong itu?" tanyanya terkesan meremehkan.

"Maksudmu?" Yunho mengernyit tak mengerti. "Dia adalah sosok yang menawan. Ia juga mirip dengan Kaa-san," tegasnya.

"Nah, itu dia!" seru Yoochun. "Sepertinya, kau terserang mother complex, eoh?"

"Eh?"

"Tertarik pada sosok yang mirip dengan ibumu," jelas Yoochun. "Sudahlah, jangan menganggap perasaan ini terlalu serius, Jung Yunho atau itu akan menyiksa perasaanmu sendiri."

Yunho terdiam. 'Haruskah aku melupakan Jaejoong?'


Bagaimana kita menyebut perasaan yang bersemai di hati yang kosong itu?

Hanyalah kebetulan? Ketidaksengajaan?

Oh, ayolah. Tak ada kebetulan di dunia ini. Karena Tuhan telah menggariskan setiap takdir bagi masing-masing umat manusia.


"Jadi, hanya itu saja agendaku selama seminggu kedepan?" tanya Yunho. Matanya teralih dari buku agenda yang diberikan Naomi padanya.

Naomi tersenyum. "Sesungguhnya, pada akhir pekan ini, Divisi Personalia hendak mengadakan kegiatan sosial," jelas Naomi.

"Oh, benarkah?" Yunho nampak terperangah.

"Benar, Yunho-kun," jawab Naomi.

"Kegiatan sosial macam apa?" tanya Yunhi penasaran.

"Kegiatan sosial di panti asuhan dan panti jompo," jelas Naomi.

"Panti asuhan?" gumam Yunho. Ingatan Yunho langsung kembali pada masa kecilnya yang sering dilewatkannya dengan anak-anak di panti asuhan yang dimiliki oleh keluarga Jung.

Naomi tersenyum kecil. "Tentu saja, ketua Divisi berharap Dewan Direksi hadir dalam kegiatan tersebut," jelas Naomi.

Yunho termenung sejenak. "Akhir pekan ini, ya? Hari Sabtu?" tanya Yunho.

"Benar, Yunho-kun."

"Naomi-chan, tolong aturkan jadwal untukku mengikuti kegiatan itu," ucap Yunho dengan senyum yang merekah di bibirnya.


"Panti asuhan?" Kedua mata Kibum nampak berbinar-binar.

"Ne, Umma." Yunho kembali menyendokkan makan malam yang sudah disiapkan Umma-nya ke dalam mulutnya.

"Ah, pasti menyenangkan melihat anak-anak kecil," gumam Kibum senang.

Yunho tertawa geli melihat Umma-nya.

"Yun, bolehkah Umma ikut?" tanya Kibum penuh harap.

Yunho tertawa renyah. "Tentu saja boleh, Umma. Mana mungkin istri Presdir Jung Enterprises dilarang ikut?" balas Yunho riang.

Kibum nampak gembira. "Jeongmal, Yun?" tanya Kibum tak percaya. "Ah, senangnya~," gumam Kibum. "Umma ingin sekali memiliki anak-anak kecil yang lucu," lanjutnya.

"Bukankah Umma sudah pernah memiliki aku dan Changmin?" tanya Yunho.

"Ya! Itu kan, sudah belasan tahun yang lalu!" sungut Kibum kesal.

Yunho tertawa. "Kenapa Umma tidak membuat yang baru saja dengan Appa?" goda Yunho.

"Ya, Jung Yunho! Siapa yang mengajarimu berotak yadong seperti itu, hah?!"


"Apakah Umma sudah siap?" tanya Yunho pada Umma-nya dari ruang tengah.

"Ne! Sebentar lagi, Chagi!" seru Kibum dari dalam kamarnya.

Yunho mendesah kecil. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tak bisa membayangkan, bagaimana jika suatu saat nanti, ia akan menikah dan menghadapi istri yang selalu sibuk berdandan, bahkan jika hanya diajak untuk melewati sore hari di beranda rumah mereka.

Ah, membayangkannya membuat Yunho geli.

Dan membayangkan hal itu membuat Yunho teringat kembali pada sosok Kim Jaejoong.

'Bagaimana keadaannya, ya?' batin Yunho di tengah lamunannya. Ia bahkan sempat berpikir kalau Jaejoong hanyalah ilusinya. Kejadian di kereta maglev itu hanya terjadi dalam mimpinya.

Tapi, entah kenapa, semua terasa begitu nyata.

Perasaan itu, kerinduan itu...

Semuanya adalah nyata...

"Yun?" Kibum menyentuh pundak putranya, menyadarkan Yunho dari lamunan singkatnya.

"Eh, Umma."

"Ayo berangkat! Umma sudah siap!" ajak Kibum, lantas menggandeng lengan putranya untuk segera berangkat ke panti asuhan, tempat diadakannya kegiatan sosial.


Yunho terduduk di tepi kolam ikan yang terletak di halaman belakang panti asuhan yang ditujunya. Ia sedang menikmati kesendiriannya.

Sementara Umma-nya?

Ah, sebagai seorang istri Presdir Jung Enterprises, Kibum harus menjalin komunikasi yang baik dengan para karyawan. Jadi, ia sedang berbincang dengan para karyawan yang hadir, sambil melihat-lihat tingkah lucu anak-anak kecil.

Kedua mata musang Yunho menatap sendu ke arah sepasang ikan yang berenang-renang kesana kemari. 'Sepasang, ya? Bukankah setiap makhluk diciptakan secara berpasangan?' batin Yunho. Ia menghela nafas panjang. 'Ah, kapanpun itu, aku akan tetap menemukan pasanganku, kan?'

BRUK!

"Auw!" rintih seseorang.

Yunho menoleh cepat. Dilihatnya sosok yang terjungkal di belakangnya. Ia menggeser tubuhnya, mencoba menolong orang tersebut. "Kau tak apa?" tanya Yunho cemas.

Orang itu mendongak. "Tak apa," jawab orang itu.

Waktu serasa berhenti.

Yunho ingat betul dengan sosok yang dilihatnya saat ini. Dia adalah Kim Jaejoong. Wajahnya, matanya, bibirnya. Itu memang Kim Jaejoong. "J-jaejoong?" panggil Yunho tergagap.

"Y-yunho-ssi?" Jaejoong ikut tergagap, entah karena apa. Ia segera memperbaiki posisinya.

"Aku sudah mencarimu selama ini," gumam Yunho dengan sangat lirih, hingga Jaejoong tak mendengarnya.

Jaejoong tersenyum. "Aku tak menduga bisa bertemu lagi denganmu disini," ucap Jaejoong. "Jadi, apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Jaejoong.

"Kegiatan sosial," jawab Yunho singkat. Ia masih mengagumi sosok di hadapannya dari jarak yang cukup dekat.

"Oh, Jung Enterprises, ya?" gumam Jaejoong.

"Bagaimana denganmu?" balas Yunho.

Jaejoong tersenyum kecil. "Hanya kunjungan rutin," jawab Jaejoong. "Aku sangat menyukai anak-anak."

Oh, nilai plus dari seorang Kim Jaejoong. Dia adalah pria pencinta anak-anak.

Yunho semakin kagum saja dengan pria di hadapannya ini.

"Apa kau juga menyukai anak-anak?" tanya Jaejoong.

"Hm, entahlah," balas Yunho bingung.

"Eh? Kenapa begitu?" tanya Jaejoong heran.

Yunho menghela nafas panjang. "Kurasa, anak-anak bisa begitu menyenangkan, tapi kadang juga menyusahkan," tutur Yunho.

Jaejoong tertawa kecil. "Itu tergantung bagaimana kau menyikapinya," sahutnya. "Kalau kau bersikap baik, mereka pasti akan bersikap menyenangkan padamu," jelas Jaejoong. "Lagipula, kenakalan anak-anak adalah hal yang wajar, bukan?" tanya Jaejoong.

Yunho mengangguk setuju. Oke, kekaguman Yunho ada Jaejoong semakin bertambah saja. Ternyata, Jaejoong tak hanya menyukai anak-anak, tapi ia juga memahami anak-anak.

Ah, Yunho mulai membayangkan, bagaimana jika Jaejoong-lah yang menjadi ibu bagi anak-anaknya?

Khayalan yang terlalu tinggi, eoh?

Yang paling penting bagi Yunho saat ini adalah bahwa ia sudah kembali menemuka separuh hatinya yang sempat menghilang.

Yunho tak ingin berangan terlalu tinggi, karena akan sakit, bila terjatuh dari angan tersebut.


Hati yang hilang sudah kembali, menggenapkan rindu yang separuh.

Bisakah Yunho mencapai kebahagiannya?

TBC


Termasuk cepet belum, yah? Hehe~

Dee lagi seneng nerusin ff ini. Tapi, jeongmal mianhae kalo moment YunJae-nya masih minim, karena Dee mau fokusin moment YunJae setelah mereka nikah nanti. Jadi, biar makin kerasa romantis aja~

Dee juga pingin godain readers *dijewer*

Dan maaf, kalo Dee belum bisa panjangin ff ini. Dee cuma bisa bikin segitu doang. Semoga readers tetap terhibur, yaa?

Dee harap banget kritik dan saran dari readers. Jadi, silakan langsung tulis di kotak review, yaa?

Review kalian adalah semangat bagi Dee

Love,

Jung Minrin :)