Sekali lagi, Dee ucapkan terima kasih buat yang udah review di chap. 2.

Dee berusaha update kemarin. Tapi koneksinya lagi ngadat, jadi Dee baru bisa update sekarang. Semoga readers belum terlalu kangen *plak*

Oke, happy reading, chingu!


Title

TOKYO

Chapter Three : Hospital

Author

Jung Minrin

Cast

Jung Yunho

Kim Jaejoong

Shim Changmin

Park Yoochun

Kim Junsu

Kim Kibum

Choi Siwon

Naomi (OC)


Rumah sakit.

Kira-kira, apa pendapat kalian setelah mendengar kata tersebut?

Penyakit?

Dokter?

Pasien?

Obat-obatan?

Jarum suntik?

Bahkan, kematian?

Sungguh tragis, eoh?

Ah, tidak. Tergantung bagaimana kita melihatnya, bukan?

Apakah kita melihat setiap kematian sebagai sesuatu yang harus ditangisi?

Tidak, bukan?

Terkadang, kematian jauh lebih baik bagi seseorang yang sudah terlalu lama menderita karena penyakitnya.

Orang yang putus asa?

Tidak. Bukankah orang yang siap mati adalah orang yang siap menjalani kehidupan yang justru lebih kekal dan abadi? Jadi, kutegaskan pada kalian bahwa orang-orang yang memilih untuk mati adalah orang yang tangguh dan sama sekali tidak putus asa.

Begitu pula dengan rumah sakit. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya, maka kita akan menginterpretasikan hal yang berbeda.

Sama seperti apa yang dialami Jung Yunho.

Yunho selalu merasa trauma dengan rumah sakit.

Kenapa?

Dulu, Yunho muda menganggap bahwa rumah sakit-lah yang menyebabkan Haraboji-nya, orang yang paling dicintai Halmeoni-nya, meninggal dunia. Padahal, Yunho tahu betul bahwa keadaan Harabojinya saat itu, meski hanya dirawat oleh Halmeoni dan beberapa pelayannya, tidak terlalu buruk. Tapi, semenjak Haraboji-nya memutuskan untuk dirawat di rumah sakit, segalanya berubah. Kondisi Haraboji-nya menurun, hingga akhirnya meninggal dunia di rumah sakit, meninggalkan seluruh keluarga dan meninggalkan Halmeoni-nya.

Seiring berjalannya waktu, Yunho mengerti. Bahwa kematian Haraboji-nya bukan salah rumah sakit. Bukan salah para dokter. Kematian Haraboji-nya memang sudah ditakdirkan oleh Sang Maha Kuasa.

Yunho memang mengerti dan mampu menerimanya.

Tapi emosinya menolak. Trauma itu masih menghantuinya hingga sekarang.

Dan ini adalah salah satu alasan kenapa Yunho tak pernah bersedia dirawat di rumah sakit ketika ia sedang jatuh sakit. Ia lebih baik istirahat di rumah atau meminta seseorang untuk datang dan merawatnya.

Namun ada satu hal yang masih menjadi pertanyaan Yunho hingga sekarang.

Ini semua tentang Halmeoni-nya.

Halmeoni yang begitu disayanginya.

Halmeoni yang hampir dianggap Yunho sebagai ibu kandungnya.

Halmeoni yang membesarkan dan merawatnya.

Halmeoni yang mencurahkan segala kasih sayang yang sempat tak Yunho dapatkan dari sang Umma.

Halmeoni yang selalu mengajarkan nilai-nilai kehidupan.

Halmeoni yang tak pernah trauma dengan rumah sakit dan kematian.

Dan Halmeoni yang bahkan tak menangis ketika pasangan hidupnya meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Seorang diri.

Di dunia fana.

Yang luas.

Dan penuh misteri ini.

"Kenapa Halmeoni tak menangis ketika Haraboji meninggal?"

"Karena Halmeoni bertemu dengan Harabojimu dengan senyuman merekah, bukannya tangisan. Ketika kita mengawali sesuatu hal dengan senyuman, maka kita juga harus mengakhirinya dengan senyuman, seberapa pahitnya akhir tersebut."

"Eh?"

"Meski begitu, Halmeoni dan Haraboji tak pernah benar-benar berpisah, Yunnie-ya."

"Jeongmal?"

"Ne. Karena Haraboji dan Halmeoni saling memiliki di dalam hati."

"Tapi, apa asyiknya kalau tidak bertemu? Apa Halmeoni tidak rindu?"

"Halmeoni merindukan Haraboji. Sangat, malahan. Tapi suatu saat nanti, Halmeoni dan Haraboji akan dipersatukan dalam suatu keabadian, Jung Yunho."

Oh, hal ini masih selalu mengganggu seorang Jung Yunho.

Bisakah ia menemukan seorang pendamping hidup, seperti Haraboji-nya yang menemukan Halmeoni-nya?

Bisakah ia mencintai pasangan hidupnya, sebagaimana Halmeoni-nya yang mencintai Haraboji-nya hingga maut memisahkan dan mempertemukan mereka di keabadian?

Dan untuk kesekian kalinya, yang terlintas di benak Yunho adalah...

Kim Jaejoong

Mungkinkah Jaejoong adalah obat atas segala luka yang pernah tertoreh di dasar hati Yunho?


Percayalah bahwa hanya yang menorehkan luka itulah yang bisa mengobatinya.


Sekarang sudah pukul 12.38 siang.

Sebentar lagi, sudah memasuki jam makan siang.

Tapi, apa yang terjadi di ruang kerja CEO Jung Enterprises, Jung Yunho?

Khekhe~ Mari kita lihat.

Ruangan itu masih sangat rapi. Dokumen-dokumen yang sudah diletakkan oleh Naomi, sang sekretaris, masih terletak pada tempatnya, tak berpindah sedikitpun. Seperangkat komputer sang CEO juga sama sekali tak menyala. Vas bunga kaktus yang terletak di atas meja pun tak berpindah. Pigura kecil yang membingkai foto sang CEO tampan yang bergaya dengan angkuhnya pun tak bergeser.

Oh, memangnya apa saja yang sudah terjadi sejak tadi pagi?

Apakah Yunho sudah merapikannya sebelum ia akan menikmati jam makan siangnya?

Ah, tidak. Akan terdengar konyol kalau seorang Jung Yunho mau repot-repot merapikan ruang kerjanya seorang diri, ketika ia memiliki banyak pegawai yang bisa melakukan pekerjaan itu.

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?

Tidak ada.

Tenanglah, aku tidak salah tulis dan mata kalian tidak rabun. Jadi, kalian tidak perlu membeli kacamata.

Ya, memang benar, kalau sejak tadi pagi, sejak tiba di ruangannya yang luas, bersih dan nyaman, Yunho sama sekali belum melakukan apapun, kecuali duduk dia atas singgasananya sambil memandangi layar ponselnya.

Aneh?

Tidak. Yunho hanya sedang terkena sindrom jatuh cinta. Tak ada satu hal pun yang aneh bukan, kalau sudah menyangkut apa yang kita sebut dengan cinta?

Setelah berhasil bertemu dengan pujaan hatinya yang sudah ia rindukan, Kim Jaejoong, Yunho kembali berbincang dengan penuh semangat dengan namja cantik itu, sama seperti pertemuan mereka di kereta maglev.

Hanya saja, Yunho tak lupa untuk menanyakan nomor telepon Jaejoong. Dan mereka pun saling bertukar nomor telepon.

Tapi, apa yang terjadi setelahnya?

Ya, Yunho tak henti-hentinya memandangi layar ponselnya.

Entah atas alasan apa.

"Hei, Jung Yunho!" sapa seseorang, yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu ruang kerja Yunho.

Yunho masih terfokus pada layar ponselnya. Maksudnya, masih melamun. Mengabaikan orang tersebut.

Seseorang yang baru saja muncul yang kita kenal sebagai Park Yoochun itu mengernyit heran.

Pertama, Yunho tidak menyahuti panggilannya.

Kedua, ini adalah untuk pertama kalinya bagi Yoochun memergoki Yunho tak mengerjakan apapun di ruang kerjanya. Mengingat bahwa Yunho adalah seseorang yang gila kerja.

Ketiga, ini juga pertama kalinya bagi Yoochun melihat sahabatnya itu memperhatikan ponselnya dengan seksama.

Oke, Yoochun tak ingin mati penasaran. Jadi, ia memutuskan berjalan mendekati meja kerja Yunho.

Yunho masih terdiam, tidak menggubris kehadiran Yoochun di ruangannya.

"Menunggu telepon dari Jaejoong, eoh?" tanya Yoochun sambil berbisik tepat di samping telinga kiri Yunho.

Yunho yang merasa geli langsung terlonjak. "Ya, Park Yoochun! Apa yang kau lakukan di ruanganku?" sungut Yunho kesal.

Yoochun menegakkan tubuhnya, lalu tertawa keras. "Kau memperhatikan ponselmu sampai tak menyadari kehadiranku disini," komentar Yoochun. "Ada apa? Kau sedang menunggu telepon dari Jaejoong?" tebak Yoochun.

Yunho terbelalak. "Eh? Bagaimana kau tahu?"

Yoochun tertawa pelan, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kursi tamu. "Mudah sekali, Jung Yunho," ucapnya. "Pertama, aku tahu, kau jarang melirik ponselmu itu. Apalagi memperhatikannya dengan serius seperti itu," jelas Yoochun. "Kedua, aku tahu, akhir-akhir ini, hanya Jaejoong yang berhasil membuatmu uring-uringan," lanjutnya. "Jadi, bisa kusimpulkan, bahwa kau sedang menunggu telepon dari Jaejoong," imbuhnya menyimpulkan.

Yunho mendengus pelan, karena sobatnya ini memang mengerti tentang dirinya dan tak bisa dibohongi begitu saja. Ia pun memasukkan ponselnya ke dalam saku jas-nya. Oh! Dan bahkan, Yunho masih belum sempat melepas jas kerjanya sejak tiba di ruang kerjanya. Ia pun segera bangkit dari kursinya.

"Eh? Kau mau kemana?" tanya Yoochun heran, lalu ikut-ikutan bangkit dari duduknya.

Yunho cemberut. "Seperti aku tak tahu jalan pikirmu saja. Kau ingin aku mentraktirmu makan siang, kan?" tebak Yunho kesal.

Yoochun langsung merangkul pundak sahabatnya itu. "Kau memang selalu tahu aku, Yun." Lalu, ia tertawa keras-keras.


"Dasar bodoh!" seru Yoochun jengkel.

"Ya! Kenapa kau malah meledekku?" seru Yunho kesal.

"Mana mungkin, kau malah menunggu telepon dari Jaejoong? Kau ini pria atau bukan, sih?" tanya Yoochun.

"Ya! Aku ini pria!" seru Yunho.

"Lalu, kenapa kau malah yang menunggu telepon dari Jaejoong? Seharusnya, seorang pria yang menelepon terlebih dahulu!" tegas Yoochun.

Yunho mengernyit bingung. "Jaejoong kan, juga pria!"

"Tapi, apa kau mau menjadi seorang uke?" goda Yoochun. "Memikirkannya saja aku tak sanggup," ucap Yoochun, lalu tertawa geli.

"Aish, kau ini!" Yunho langsung memalingkan wajahnya karena kesal.

"Sepertinya, Jaejoong tidak tertarik padamu," gumam Yoochun, lalu menyesap cappuchino yang dipesannya.

"Eh?"

"Buktinya, dia juga tak berusaha meneleponmu," komentar Yoochun.

Yunho mendesah kecil. Ia takut kalau Jaejoong tidak membalas cintanya. "Mungkin," Yunho menggigit bibirnya. "Mungkin, ia hanya belum tertarik padaku," balas Yuho ragu.

Ya, semoga saja~


"Aigo, Umma!" pekik Yunho yang baru saja menyentuh kening Umma-nya. "Suhu tubuh Umma sangat tinggi!" kata Yunho.

Kibum hanya mengulas senyum tipis. "Gwaenchana, Yun," balas Kibum menenangkan. "Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Kibum sambil membenarkan posisinya di atas ranjangnya.

Wajah Yunho nampak tak puas. Ia heran, kenapa Umma-nya masih bersikap seolah keadaannya baik-baik saja, padahal, Yunho saja bisa melihat bahwa keadaan Umma-nya itu jauh dari kata baik-baik saja. "Semuanya baik-baik saja, Umma," balas Yunho. "Umma yakin, Umma tidak apa-apa?" tanya Yunho cemas.

Kibum kembali tersenyum. "Tentu saja, Yun," jawab Kibum ringan. "Kau sudah makan malam, belum?"

Yunho menggeleng lemah. Ia masih mengkhawatirkan keadaan Umma-nya.

"Kau pasti lapar. Ayo kita ke ruang makan!" ajak Kibum, sambil bangkit dari ranjangnya.

Yunho masih terduduk di atas ranjang Umma-nya, membiarkan Umma-nya itu mendahuluinya ke ruang makan. Kepalanya menoleh, menatap punggung Umma-nya yang menjauh.

'Appa beruntung sekali memiliki Umma," batin Yunho dalam hati.


Yunho hanya mengaduk-aduk makanan yang sudah diberikan Umma-nya ke atas piringnya. Ia tidak terlalu nafsu untuk makan malam itu.

Pertama, karena ia masih uring-uringan karena sosok Jaejoong yang masih belum mau enyah dari pikirannya.

Kedua, karena Umma-nya yang nampak sakit.

"Kenapa makanannya tidak kau makan, Yun?" tanya Kibum yang muncul dari balik sekat antara ruang makan dan dapur. "Apakah makanannya tidak enak?" tanya Kibum cemas.

Yunho mendongakkan kepalanya, lalu tersenyum tipis ke arah Umma-nya. "Aniyo, Umma," Yunho menyuapkan sesendok makanannya ke mulutnya. "Makanan Umma tetap enak seperti biasanya," ucap Yunho sambil berusaha mengunyah makanannya.

Dan memang benar. Masakan Umma-nya tidak berubah meski beliau sedang dalam keadaan sakit.

Kibum tertawa kecil melihat cara makan anaknya yang seperti anak kecil. "Aigo, Yun. Telan dulu makananmu," kata Kibum mengingatkan.

Yunho terkekeh pelan, setelah berhasil menelan makanannya. "Ne, Umma," balas Yunho sambil mengangguk kecil.

Kibum kembali ke dapur.

Dan Yunho kembali melamun.

Hingga akhirnya, suara tumbukan keras membuat Yunho tersadar dari lamunannya.

Suara itu berasal dari dapur tempat Umma-nya berada.

Dan Yunho berteriak, "Umma!" ketika menyadari Umma-nya telah jatuh pingsan di atas lantai dapur.


"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanya Yunho cemas pada dokter yang baru saja memeriksa keadaan Umma-nya.

Ketika melihat Umma-nya sudah tergetelatk di atas lantai, Yunho memang sempat panik. Namun, ia berusaha menenangkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Lantas, ia menggendong tubuh Umma-nya yang entah kenapa, terasa begitu ringan, dan membawanya keluar apartemen. Ia segera menuju parkir basement dan bersiap mengantar Umma-nya ke rumah sakit.

Dan kini, Yunho sedang berada di ruangan seorang dokter yang baru saja mengecek keadaan Umma-nya.

Sementara itu, Kibum masih tergeletak di atas ranjang dalam keadaan tak sadarkan diri.

Sang dokter tersenyum. "Ibu Anda sedang mengalami typus, Tuan," jawab sang dokter.

"Typus?" Yunho mengernyit heran.

"Benar," kata sang dokter membenarkan. "Sepertinya, ibu Anda terlalu lelah akhir-akhir ini, bahkan sampai lupa makan. Apakah itu benar?" tanya dokter memastikan.

Yunho terdiam. Ia tak pernah memperhatikan Umma-nya hingga sedetail itu. "Entahlah, Dok. Saya hanya bertemu ibu saya setiap sebelum berangkat kerja dan setelah saya pulang dari kantor. Jadi, saya tidak terlalu memperhatikan kesehatan beliau," jelas Yunho.

"Ah, sepertinya, mulai sekarang, Anda harus sudah mulai memperhatikan kesehatan beliau, jika tak ingin berakibat fatal," kata sang dokter mengingatkan.

"Baiklah, Dok." Yunho mengangguk mengerti. "Jadi, apa yang harus saya lakukan sekarang, Dok?" tanya Yunho.

"Saya sarankan, supaya ibu Anda dirawat disini dulu agar kami bisa memantau kesehatan beliau," jelas sang dokter.

"Baiklah, Dok." Yunho mengangguk mengerti. "Lakukan yang terbaik untuk ibu saya, Dok," mohon Yunho.

"Tentu, Tuan Jung."


"Apa saja yang sudah kau lakukan pada Umma-mu, Jung?" tanya Siwon geram. Suaranya yang mengerikan itu terdengar lebih mengerikan ketika didengarkan melalui telepon.

Yunho mendesah kecil. Ia sudah menebak bahwa beginilah respons Siwon jika menyangkut keadaan Kibum. "Aku tidak melakukan apa-apa, Appa, selain membawa Umma ke rumah sakit," jelas Yunho.

"Ya! Tapi bagaimana bisa Umma-mu jatuh sakit begitu, hah?!" sungut Siwon. "Apa kau memperbudak Umma-mu?"

"Aigo, Appa. Kau tega menuduh putramu sendiri seperti itu?" tanya Yunho tak percaya. "Umma hanya terlalu mengabaikan kesehatannya sendiri sehingga jatuh sakit seperti sekarang, Appa," jelas Yunho.

"Seharusnya, kau lebih memperhatikannya, Jung!" bentak Siwon. "Sebaiknya, aku meminta Kibum kembali ke Korea saja! Appa tak bisa membiarkan keadaan Umma semakin parah di sampingmu," jelas Siwon.

Yunho terkekeh pelan. "Coba saja, kalau Appa bisa," goda Yunho. Ia tahu betul, kalau bahkan, sepertinya Umma-nya lebih peduli padanya daripada pada Appa-nya.

"Ya, Jung Yunho! Kau berani melawan Appa-mu?" sungut Siwon.

"Memangnya, Appa berani melawan kehendak Umma?" goda Yunho lagi.

Dan seorang Jung Siwon memang tak pernah bisa melawan permintaan istrinya.

"Aish! Kau memang menyebalkan, Jung Yunho!" desis Siwon. "Yang pentig, kau harus menjaga Umma-mu. Awas kalau kau membuat penyakit Umma-mu tambah parah," ancam Siwon.

"Roger that."


Yunho terduduk di salah satu meja di cafetaria rumah sakit. Tangannya memainkan ponselnya di atas meja dan matanya menatap sendu ke arah ponsel tersebut.

Pikirannya agak kacau.

Kereta maglev...

Umma-nya...

Dan Kim Jaejoong...

SRAK!

"Eh," pekik Yunho ketika seseorang menyenggol kursi yang didudukinya, membuatnya tersadar dari lamunannya. Ia segera menoleh ke belakang.

"Ah, gomen, gomen," ucap seseorang itu sambil membungkukkan badannya beberapa kali.

Dan seperti mengalami de javu, senyum Yunho langsung merekah, "Jaejoong?"


"Sepertinya, kau memang sangat ceroboh, ne?" tanya Yunho pada Jaejoong yang kini sudah terduduk di hadapannya dalam bahasa Korea. Kedua mata musangnya tak bisa beralih dari wajah namja cantik di hadapannya itu.

Jaejoong nampak canggung. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil tertunduk malu. "Mwolla~," balas Jaejoong masih kedengaran canggung.

Yunho tertawa kecil. "Jadi, kenapa kau ada di rumah sakit?" tanya Yunho heran. "Kau tidak sedang sakit, kan?" tanya Yunho cemas. Ia sedikit mencemaskan keadaan Jaejoong. Ia khawatir kalau seandainya Jaejoong sedang sakit.

Dan ini adalah pertama kalinya Yunho dibuat cemas oleh seseorang yang begitu asing baginya.

Ya, asing, tapi begitu dekat di hatinya.

"Aniyo. Aku tidak sakit," jawab Jaejoong sambil mengulas senyuman menenangkan.

"Lalu?" Yunho mengangkat kedua alisnya penasaran.

"Adikku yang sakit," jawab Jaejoong yang masih memasang senyumannya.

"Oh?" Yunho nampak terkejut. "Dia sakit apa? Dia dirawat disini juga?" tanya Yunho.

"Ya, dia dirawat disini. Beberapa hari lalu, asma-nya kambuh," jelas Jaejoong.

Yunho mengangguk mengerti. "Memangnya, tak apa, kalau kau meninggalkan adikmu sendiri?" tanya Yunho.

Jaejoong tersenyum lagi. "Gwaenchana. Dia sedang terlelap sekarang," jelas Jaejoong.

Yunho mengangguk lagi.

"Kau sendiri? Kenapa di rumah sakit?" tanya Jaejoong.

"Umma-ku," jawab Yunho singkat sambil memaksakan sebuah senyuman.

"Eh? Umma-mu?" Jaejoong terkejut. "Umma-mu sakit apa?" tanya Jaejoong.

"Beliau sakit typus," jawab Yunho sedih.

Jaejoong tersenyum, lalu tangannya terulur untuk menyentuh telapak tangan Yunho. "Gwaenchana. Umma-mu pasti baik-baik saja. Asal kau mendoakannya, beliau pasti akan kembali sehat seperti dulu," kata Jaejoong menenangkan.

Yunho menatap Jaejoong lekat-lekat. Sentuhan namja cantik itu seolah mengalirkan rasa hangat tersendiri bagi Yunho.

Dan rasa cinta Yunho pada Jaejoong semakin besar saja.


"Jadi, Nyonya Jung sakit?" tanya Yoochun pada Yunho yang sibuk merapikan berkas-berkasnya.

Pagi itu, Yunho pergi ke kantornya hanya untuk mengambil beberapa berkas. Hari itu, sesuai perintah Appa-nya, ia tidak masuk kantor dan memboyong seluruh pekerjaannya ke rumah sakit. Sehingga, ia bisa menunggu Umma-nya sambil mengerjakan pekerjaan kantor.

"Ya," jawab Yunho singkat atas pertanyaan Yoochun. ia masih sibuk merapikan berkas-berkasnya.

"Dan kau akan ke rumah sakit setelah ini?" tanya Yoochun lagi.

Yunho menatap Yoochun. "Tentu saja. Tapi, aku akan mampir ke toko bunga dulu," jelas Yunho. "Kenapa?"

"Tak apa," jawab Yoochun singkat. "Ngomong-ngomong, bolehkah aku ikut menjenguk beliau?" tanya Yoochun. Well, semenjak kepergian kedua orang tuanya, Yoochun memang sudah menganggap Siwon dan Kibum sebagai kedua orang tuanya. Jadi, ia merasa harus menjenguk 'Umma'-nya itu.

"Tentu saja," balas Yunho ringan.

"Oiya, Yun," panggil Yoochun.

"Hn?"

"Bukannya, Umma-mu alergi pada bunga, ya? Kenapa kau malah memberinya bunga?" tanya Yoochun heran. Ia tahu betul dengan Kibum yang alergi pada bunga.

Yunho terkekeh pelan. "Lagipula, siapa yang bilang kalau bunga itu untuk Umma-ku?" tanya Yunho.

"Heh? Lalu, untuk siapa?" tanya Yoochun heran.

"Menurutmu?" Yunho malah balas bertanya. Ia pun melenggang pergi meninggalkan Yoochun dengan setumpuk berkas di tangannya.

Yoochun menghela nafas. "Pasti si Kim Jaejoong itu," tebak Yoochun.


KRIET~

Pintu kamar rawat Kibum terbuka perlahan. Menampilkan dua namja tampan yang berdiri di baliknya.

"Umma~" panggil Yunho.

Tapi, tak ada satu pun yang menyahut.

Yunho menatap heran ke arah ranjang Umma-nya yang kosong.

"Lho? Kemana Umma-mu?" tanya Yoochun heran ketika menyadari bahwa kamar itu kosong.

Yunho mencoba melangkah masuk. Mencari-cari keberadaan Umma-nya.

Nihil. Umma-nya tak ada di ruangan itu.

Yunho langsung panik. "Aigo, Umma. Kau dimana?" pekik Yunho cemas.


Yunho berputar-putar di daerah taman rumah sakit. Tadi, ia sudah bertanya pada seorang perawat yang menyatakan bahwa Umma-nya sedang berjalan-jalan di taman rumah sakit.

Berhubung taman rumah sakit sangat luas, jadi Yunho dan Yoochun memutuskan untuk berpencar untuk mencari keberadaan Umma-nya.

Hingga akhirnya, mata Yunho tertuju pada dua sosok cantik yang terduduk di salah satu bangku taman. "Umma!" pekik Yunho ke arah dua sosok cantik tersebut. Ia pun berlari ke arah bangku taman tersebut. "Hosh! Hosh!"

"Aigo, Yunnie!" pekik Kibum yang terkejut melihat Yunho yang tiba-tiba muncul di sampingnya.

"Umma membuatku khawatir saja," gumam Yunho.

Kibum tertawa kecil. "Aigo. Umma hanya ingin berjalan-jalan. Umma bosan di dalam kamar saja," jelas Kibum.

Yunho menatap Umma-nya lekat-lekat. "Yang penting, sekarang Umma baik-baik saja," balas Yunho.

"Yunho-ssi?" Sebuah suara menginterupsi.

Yunho menoleh ke sumber suara tersebut. "J-jaejoong?" Yunho terkejut ketika menyadari sosok cantik yang duduk di samping Umma-nya adalah Jaejoong yang ia kenal.

"Lho? Kau mengenal Joongie, Yun?" tanya Kibum heran.

"Eh? Joongie? Nugu?" tanya Yunho bingung.

"Eh, maksud Umma, Jaejoong." Kibum segera meralat ucapannya.

"Oh, ne. Aku kenal dengan Jaejoong," jawab Yunho.

"Wah, wah! Joongie baik sekali ne, Yun? Dia menemani Umma jalan-jalan," jelas Kibum.

Yunho menoleh ke arah Jaejoong. Nampak terkejut.

Jaejoong tertunduk malu. "Ah, biasa saja, Ahjumma," ucap Jaejoong.

"Gomawo, Jae, sudah menemani Umma-ku," ucap Yunho tulus.

"N-ne," jawab Jaejoong gugup, masih tertunduk.

Kibum yang menyadari kecanggungan diantara Yunho dan Jaejoong pun berniat menjahili keduanya. "Umma jadi ingin sekali memiliki menantu seperti Jaejoong. Menurutmu, bagaimana, Yun?" tanya Kibum dengan suara menggoda.

"Umma!" pekik Yunho jengkel.

Sementara itu, Kibum tertawa mendengarnya.

Dan diam-diam, pipi Jaejoong sudah bersemu merah.


"Ya Tuhan!" Yoochun menepuk jidat lebarnya. "Yunho malah asyik berkencan," keluh Yoochun, ketika mengintip Yunho yang asyik berbincang dengan Umma-nya dan seorang namja cantik. Yoochun mendengus sebal. Ia pun hendak pergi ke cafetaria sambil menunggu acara-jumpa-menantu itu. Tapi, tubuh kekarnya menabrak sesuatu.

"Auw!"

"Eh!" Yoochun terkejut ketika ia sadar bahwa ia menabrak seseorang bertubuh mungil. "Adik kecil, kau baik-baik saja?"

Bukannya dijawab. Bocah itu malah menangis. "Hiks, hiks. Nii-san, nii-san. Junsu sakit. Nii-san," racau bocah itu. "Huwaa!" Bocah itu justru menangis keras.

Dan Yoochun melongo. Ia kelimpungan menangani bocah imut di hadapannya ini.


Hati itu sudah menemukan obatnya.

Berhasilkah hati itu terobati dan kembali seperti dulu?

Menemukan rasa cinta yang telah terkubur dalam hati?

TBC


Apa YunJae momennya masih kurang? Hehe XD

Next chap, Yunho bakal ngelamar Jaejoong. Kan, mereka udah 3 kali ketemu. Jadi, tunggu aja, yaa~

Dan diatas, udah Dee sisipin YooSu moment di akhir-akhir. Hayo, kira-kira gimana hubungan mereka? Kkk~

Sayangnya, Dee gak janji bisa update cepet, soalnya dua minggu ke depan, Dee udah sibuk UAS sama Try Out. Mianhae, ne...

Tapi, kalau readers bener-bener mendukung Dee, akan Dee usahakan untuk update fic ini secepatnya.

Jadi, mohon review-nya, ne?

Love,

Jung Minrin :D