Gomawo yang udah review di chap. 3 *tebar confetti*

Karena sambutan chingu baik, makanya Dee ingin balas kebaikan kalian dengan update fic ini. Kemarin sempet frustasi gegara koneksi internetnya nyebelin banget *bakar modem*

Syukurlah, sekarang udah normal lagi. Jadi, Dee bisa update fic ini. Semoga memuaskan, yaa ^^

Happy reading!


Title

TOKYO

Chapter Four : Let's Get Married

Author

Jung Minrin

Cast

Jung Yunho

Kim Jaejoong

Shim Changmin

Park Yoochun

Kim Junsu

Kim Kibum

Choi Siwon

Naomi (OC)


Pernikahan.

Hal yang paling sakral dalam hidup ini.

Hal yang tak boleh dipermainkan.

Pernikahan adalah sebuah janji. Janji dua sejoli di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Janji untuk saling mencintai dalam keadaan paling menyenangkan ataupun keadaan paling menyusahkan dalam hidup ini.

Kita harus mengingat bahwa kita telah berjanji kepada Tuhan.

Lantas, apa yang terjadi jika kita mengingkarinya?

Sama seperti jika kita mengingkari janji kita antar sesama manusia. Tuhan akan membenci kita. Dia tak akan percaya lagi pada kita.

Tapi, Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, bukan?

Tuhan akan memberikan kesempatan pada mereka untuk kembali mencari pendamping hidupnya, sama seperti ketika Tuhan memberi kesempatan pada seorang pembunuh untuk bertobat.

Sesungguhnya, segala hal di dunia ini adalah mudah. Tuhan telah memudahkan segalanya bagi kita.

Bukankah Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang?

Hanya manusia-lah yang membuatnya rumit. Semakin kompleks.

Segala jawaban atas berbagai pertanyaan kita selama ini sudah terpampang di depan mata. Tapi kita justru mengabaikannya dan mencarinya hingga ke ujung dunia.

Inilah yang membuat Yunho khawatir. Ia khawatir, jika Tuhan telah memberikan jawaban atas pertanyaan sederhana sebagai seorang manusia, tepat di depan matanya.

Siapakah jodohku?

Pertanyaan yang sederhana, bukan?

Yunho bukan tipe pemuda yang mencari pendamping hidup dengan berbagai kriteria yang rumit. Selama ia merasa cocok dan nyaman di samping orang tersebut, maka ia akan memilihnya.

Yah, sayangnya, Yunho belum menemukan sosok tersebut.

Soal cinta?

Bagi Yunho, cinta bisa tumbuh seiring dengan kebersamaan diantara dua sejoli. Jadi, selagi mereka membangun rumah tangga, mereka bisa belajar saling memahami, saling mencintai.

Tapi, mungkinkah jawaban atas pertanyaan Yunho selama ini sudah ada di depan matanya?

Tapi, siapakah sesungguhnya jodoh Yunho?

Entah kenapa, Yunho hanya terpaku pada sosok Kim Jaejoong.

Diakah sosok jodoh yang dicari Yunho selama ini?

Diakah sosok seperti Kibum bagi Siwon?

Diakah sosok seperti Halmeoni-nya bagi Haraboji-nya?

Oh, Yunho tidak akan tahu kalau dia belum mencobanya, bukan?


Pernikahan adalah tentang menautkan dua sejoli yang terpisah.


KRIETT...

Yunho membuka pintu kamar rawat Umma-nya dengan perlahan. Ia baru saja pulang dari kantor dan hendak menjemput Umma-nya.

Menjemput?

Ya. Kibum sudah diperbolehkan pulang, setelah dokter memastikan keadaan Kibum selama seminggu ini semakin membaik.

Dilihatnya sosok namja manis yang terduduk di sofa kecil di samping ranjang sambil memperhatikan gadis cantik yang tengah menata baju ke dalam tas pakaian.

"Umma? Naomi?" panggil Yunho menginterupsi keheningan diantara dua makhluk cantik itu.

Gadis yang kita kenal sebagai Naomi langsung membalik tubuhnya. "Ah, Yunho-kun?" balas Naomi sambil tersenyum kecil ke arah atasannya itu. Mungkin, kalian bertanya-tanya kenapa Naomi bisa berada di ruangan Kibum sekarang, padahal Yunho baru pulang dari kantornya. Mudah saja, karena Yunho memang meminta Naomi untuk pulang terlebih dahulu agar bisa membantu Umma-nya berkemas.

"Kau sudah pulang, Yun?" Kali ini, Kibum yang angkat bicara.

"Ne, Umma," balas Yunho, lalu melangkah mendekat dan terduduk di samping Kibum.

Sementara itu, Naomi tersenyum tipis melihat Yunho dan Kibum. Lantas, ia melanjutkan kegiatannya merapikan beberapa baju milik Kibum.

"Senangnya, bisa kembali lagi ke rumah," gumam Kibum.

Yunho tersenyum kecil. Hatinya merasa bimbang. Ya, dia memang senang karena Umma-nya sudah diperbolehkan pulang, yang berarti bahwa keadaan Umma-nya sudah membaik. Tapi, jika Umma-nya tidak lagi dirawat di rumah sakit, artinya Yunho tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Jaejoong lagi.

Semenjak pertemuan mereka di cafetaria rumah sakit, keduanya lebih mudah berkomunikasi (Well, Yunho masih belum berani menghubungi Jaejoong dengan ponselnya). Kadang, mereka bertemu di cafetaria, taman atau lapangan parkir.

Selain itu, Jaejoong terlihat begitu akrab dengan Umma-nya. Kadang, jika Umma-nya sedang kesepian, Jaejoong berkunjung ke kamar Umma-nya dan mengajaknya jalan-jalan.

Kadang, Yunho merasa heran. Padahal, Jaejoong bilang, ia berada di rumah sakit karena adiknya yang sedang dirawat di rumah sakit itu juga. Tapi, kenapa Jaejoong bersikap seolah ia tak sedang menjaga adiknya. Jaejoong seperti memiliki banyak waktu senggang, bahkan untuk mengunjungi Umma-nya.

Yah, ini salah Yunho juga. Karena ia tak pernah menanyakan tentang adik Jaejoong. Setiap kali mereka bertemu, mereka selalu membicarakan hal-hal yang ringan saja. Seperti musik favorit, film-film terbaru, novel yang bagus, atau berita terkini. Maklum, berbincang dengan Jaejoong seperti hiburan tersendiri, setelah pekerjaan yang melelahkan di kantornya. Bahkan, sepertinya, identitas Jaejoong yang dikenali Yunho hanyalah nama, nomor telepon dan alamat rumah. Mengenaskan, bukan?

Dan setelah ini, Yunho akan melewatkan kesempatan untuk bertemu dengan Jaejoong kembali. Yah, Yunho memang memiliki nomor telepon Jaejoong. Tapi, ia masih merasa malu jika ia harus menghubungi Jaejoong melalui telepon.

Lagipula, apa susahnya? Padahal, Yunho juga sudah sering berbincang dengan Jaejoong secara langsung.

"Bukan rumah Umma, tapi apartemen," gurau Yunho membalas ucapan Kibum. "Rumah Umma adalah di Seoul," lanjutnya. "Atau jangan-jangan, Umma sudah merindukan Appa, ya?" goda Yunho.

"Aish! Kau menggoda Umma, ya?" sungut Kibum jengkel, lalu memalingkan wajahnya.

Yunho terkekeh pelan. "Yah, tidak tahukah Umma kalau Appa sangat merindukan Umma? Apalagi, saat Appa tahu Umma sedang jatuh sakit, Appa sudah mengancam akan mengirimkan bom kepadaku," celoteh Yunho.

"Aish! Biarkan saja. Memangnya, Umma peduli, heh?" balas Kibum, masih jengkel.

Yunho malah tertawa keras.

Sementara itu, Naomi yang mendengar perbincangan itu tertawa dengan sangat pelan.

"Terserah Umma saja-lah," balas Yunho sambil mengangkat bahunya. Ia pun bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke samping Naomi. "Semuanya sudah beres?" tanya Yunho dalam bahasa Jepang.

Naomi menoleh ke arah Yunho. "Sebentar lagi, Yunho-kun," jawab Naomi, yang kedua tangannya masih memasukkan beberapa lembar pakaian lagi ke dalam tas milik Kibum.

"Ya! Kalian berdua! Jangan menggunakan bahasa Jepang!" seru Kibum jengkel.

Dan hal itu membuat Yunho dan Naomi tertawa bersama.


Sedari tadi, Yunho hanya memencet tombol di remote TV-nya, tanpa tujuan dan jelas, sambil menatap kosong ke arah layar TV.

Ya, Yunho memang sedang melamun.

Hingga,

PLUK!

Sebuah bantal mendarat di kepalanya.

"Auw!" Yunho menoleh. Ia pikir, tak mungkin bantal melayang sendiri ke kepalanya. Sementara satu-satunya orang yang pantas dicurigai adalah Umma-nya. Ia pun menoleh ke arah belakangnya dan mendapati Umma-nya berdiri sambil berkacak pinggang dan memasang tampang heran. "Kenapa Umma melemparku dengan bantal?" rajuk Yunho.

"Ya! Kenapa kau malah melamun sedari tadi?!" seru Kibum.

Yunho menggelengkan kepalanya. Sejak sembuh dari sakitnya, Umma-nya itu menjadi semakin kejam dan mengerikan. Ia juga semakin cerewet dan suka marah-marah. "Aku hanya merasa bosan di rumah," jawab Yunho. Ya, berada di rumah memang hal yang sangat membosankan bagi Yunho. Maklum, karena Yunho adalah seorang workaholic.

Wajah Kibum semakin muram. "Jadi, kau tak suka kalau Umma ada di rumah?" tanya Kibum tajam.

Yunho melongo heran. "Aniyo, Umma. Lagipula, siapa yang bilang kalau aku tak suka Umma ada di rumah?" balas Yunho. Akhir-akhir ini, Umma-nya begitu sensitif dan mudah tersinggung. "Aku hanya bosan, karena tidak ada kerjaan di rumah," jelas Yunho.

Kibum mendekati Yunho yang terduduk di sofa ruang tengah. "Kalau begitu, lakukanlah sesuatu!" perintah Kibum sambil mengetuk pelan puncak kepala Yunho.

"Lakukan apa, Umma?" tanya Yunho malas.

"Apa saja. Memangnya, kau bisa melakukan pekerjaan rumah tangga?" tanya Kibum.

Yunho menggeleng cepat.

"Kalau begitu, pergilah ke suatu tempat. Jalan-jalan mencari udara segar dan hiburan," usul Kibum.

Yunho hanya mendengarkan.

"Kau sih, tak punya pacar," gumam Kibum.

Yunho mendengus pelan. 'Kenapa harus mempermasalahkan pacar lagi?' batinnya. "Memangnya, apa masalahnya kalau aku tak punya pacar?" tanya Yunho menantang.

Kibum mendesah kecil, lalu duduk di samping putranya. "Kalau kau punya seorang pacar, setidaknya ada seseorang yang bisa kau ajak berbincang, jalan-jalan atau melakukan sesuatu," jelas Kibum.

"Aku tak perlu punya pacar, Umma. Aku punya Yoochun," jawab Yunho santai.

PLETAK!

Kibum menjitak kepala Yunho. "Memangnya, Yoochun itu pacarmu?" tanya Kibum jengkel.

Yunho meringis sambil mengusap puncak kepalanya yang baru saja dijitak Umma-nya. "Lagipula, apa bedanya? Mengajak berbincang atau jalan-jalan, kan? Bahkan, aku bisa melakukannya dengan anjing," komentar Yunho.

"Ya! Kalau kau punya pacar, kau bisa melakukan 'sesuatu'," tegas Kibum.

" 'Sesuatu' apa?" tanya Yunho bingung.

"Aish, bocah ini," gerutu Kibum. "Yah, setidaknya, kau bisa menggenggam tangannya ketika berjalan bersama, memeluknya, atau mungkin," Kibum menggantungkan kalimatnya.

"Atau mungkin apa, Umma?"

"Berciuman, mungkin?"

"MWO?!" seru Yunho kaget. "Aigo, Umma." Yunho menggelengkan kepalanya tak percaya atas pemikiran Umma-nya itu.

"Yah, setidaknya itulah yang dulu Umma dan Appa lakukan," kata Kibum. "Atau, kalau kau punya pacar, setidaknya, ada seseorang yang lebih memperhatikanmu. Membuatkanmu makanan, atau menanyakan keadaanmu," celoteh Kibum lagi.

"Kalau itu kan, tugas Umma," celetuk Yunho.

"Maksudmu?"

"Umma kan, selalu membuatkanku makanan, menanyakan keadaanku," balas Yunho. Sepertinya, dia memang selalu berusaha menghindar dari tuntutan untuk mencari pacar.

"Ya! Bukan begitu!" seru Kibum. "Maksud Umma, setidaknya, ada seseorang yang lebih memperhatikanmu. Tidak mungkin kan, selamanya Umma akan ada di sampingmu?"

Yunho memalingkan wajahnya, mengangguk malas.

"Lagipula, banyak gadis di luar sana yang baik padamu," komentar Kibum.

Yunho kembali menatap Umma-nya. "Memangnya, Umma kenal dengan teman wanitaku?" tanya Yunho heran.

Kibum meringis. "Tidak banyak," jawabnya. "Naomi, misalnya. Gadis itu baik dan ramah. Dan sepertinya, dia tulus dalam membantu Umma kemarin," tutur Kibum.

"Aigo, Umma. Naomi sudah punya pacar," kata Yunho. "Umma masih ingat dengan Akira? Teman Jepang-ku yang Umma kagumi sejak jaman SMA dulu?" tanya Yunho mengingatkan.

"Ah, bocah itu! Umma ingat! Wah, Akira memang sangat tampan. Pantas saja, dia memiliki pacar seperti Naomi," gumam Kibum.

"Nah, teman wanita siapa lagi yang Umma kenal?" tanya Yunho dengan nada menggoda.

"Ah, itu! Joongie!" seru Kibum.

"Heh? Joongie? Nuguya?" tanya Yunho bingung.

"Aish! Anak cantik yang selalu menemani Umma di rumah sakit. Kim Jaejoong!" seru Kibum semangat.

"Oh, Kim Jaejoong." Yunho mengangguk paham. "Tapi, kenapa Umma memanggilnya Joongie?" tanya Yunho heran. "Seperti sudah lama kenal saja," cibir Yunho.

"Ya! Karena Umma begitu sayang padanya!" seru Kibum. "Dia sangat baik, ramah, asyik diajak bicara, dan sopan. Ternyata, dia juga jago masak. Dan setelah mendengar ceritanya, kalau dia sedang merawat adiknya yang sakit, Umma yakin, kalau Jaejoong adalah namja penyayang keluarga. Ditambah lagi, dia sangat cantik, ya?" celoteh Kibum. "Dia benar-benar menantu idaman, Yun. Andai saja kau menikah dengannya," harap Kibum.

Yunho terpekur. 'Kenapa pikiran Umma sama denganku?'


Weekday pertama di Tokyo hari itu ditandai dengan cahaya matahari yang muncul malu-malu di sela-sela tumpukan awan. Udara Tokyo hari itu tidak begitu dingin. Maklum saja, karena tinggal beberapa hari lagi, musim dingin sudah terlewatkan begitu saja.

Yunho tak ingin melewatkannya begitu saja. Ia menyambutnya dengan semangat kerja yang menggebu-gebu. Seperti biasa, Yunho masih menikmati transportasi barunya, kereta maglev.

Kali ini, Yunho tidak bertujuan mencari sosok Jaejoong. Toh, ia sudah memiliki nomor ponselnya. Meski ia juga masih sedikit berharap, supaya ia bisa dipertemukan kembali dengan namja cantik itu. Tujuan Yunho kali ini lebih pada kegiatan observasi langsung. Ia harus meneliti kereta maglev yang sudah beredar sekarang, sebagai bahan perbandingan untuk pembuatan kereta maglev jenis terbaru.

Selagi menunggu kereta maglev berhenti di stasiun tujuannya, Yunho melamun. Pikirannya memikirkan perbincangannya dengan Umma-nya.

"Dia sangat baik, ramah, asyik diajak bicara, dan sopan."

Ya. Yunho setuju dengan hal itu. Sejak pertama kali bertemu, Yunho juga langsung mendapat kesan baik tersebut dari sosok Jaejoong.

Belum lagi, ketulusan Jaejoong yang juga setia menemani Umma-nya, meski ia juga sibuk merawat adiknya.

"Ternyata, dia juga jago masak."

Nah, untuk hal ini, Yunho memang belum mengetahuinya. Saat Umma-nya masih dirawat di rumah sakit, Jaejoong pernah membawa makanan. Tapi, karena nafsu makan Umma-nya sedang tinggi, alhasil seluruh makanan pemberian Jaejoong dihabiskan oleh Umma-nya seorang diri. Jadi, Yunho tidak sempat mencicipinya. Tapi Yunho yakin, bahwa Umma-nya memang selalu benar dalam menilai seseorang. Jadi, ia percaya saja pada Umma-nya untuk urusan ini.

"Dan setelah mendengar ceritanya, kalau dia sedang merawat adiknya yang sakit, Umma yakin, kalau Jaejoong adalah namja penyayang keluarga."

Yunho juga berpendapat demikian. Karena dari sekian banyak anak muda di dunia, jarang sekali, ada yang masih perhatian pada saudara atau keluarganya. Apalagi, Jaejoong selalu menemani adiknya di rumah sakit sepanjang hari.

"Ditambah lagi, dia sangat cantik, ya?"

Dan Yunho amat sangat setuju dengan hal itu. Kecantikan Jaejoong-lah yang membuat Yunho tertarik padanya untuk pertama kalinya.

"Dia benar-benar menantu idaman, Yun. Andai saja kau menikah dengannya."

Yunho sama sekali tak menyangka kalau harapan Umma-nya supaya ia menikah dengan Jaejoong itu serius. Awalnya, ia pikir, Umma-nya hanya berniat menggodanya. Tapi, setelah dilihat dari tatapan mata Umma-nya, Yunho yakin, bahwa Kibum serius mengucapkannya.

Sebenarnya, Yunho tak keberatan kalau Jaejoong menjadi pendamping hidupnya. Toh, selama ini, ia merasa cocok dan nyaman bersama Jaejoong.

Dan urusan cinta bisa ditumbuh kembangkan ketika mereka sudah berpacaran atau menikah nantinya.

Masalahnya adalah, bagaimana dengan perasaan Jaejoong?

Apakah Jaejoong juga tertarik pada Yunho?

Maukah Jaejoong menjadi pendamping hidup Yunho?

Bisakah Jaejoong mencintai Yunho?

Dan sebelum semua pertanyaan Yunho sempat terjawab, kereta yang ditumpangi Yunho sudah berbunyi, tanda bahwa ia sudah tiba di tujuannya.


"Hei, Yun!" seru Yoochun ketika melihat sahabatnya, Yunho sedang makan di kantin kantor.

Yunho mendongak dengan enggan. "Apa?" tanyanya malas.

Yoochun melompat, lalu duduk di samping Yunho. "Jadi, kau sudah kembali, eoh?" tanya Yoochun berbasa-basi.

"Menurutmu?"

Yoochun terkekeh. "Hei, kenapa kau jutek begitu, sih? Ada masalah?" tanya Yoochun penasaran.

Yunho berdeham pelan. "Tidak," jawabnya bohong. "Oiya, ngomong-ngomong, kemana kau setelah dari rumah sakit, heh? Kenapa kau menghilang begitu saja?" tanya Yunho jengkel.

Yoochun nampak salah tingkah. "Ah, i-itu, yaa..." Yoochun kesulitan mencari kata-kata. "B-begini, s-sebenarnya, aku melihatmu sedang bersama Umma-mu. Karena aku tak ingin mengganggu kalian, jadi aku pulang saja," cerita Yoochun sambil tergagap.

"Dan kenapa kau terbata seperti itu, Park Yoochun? Atau ada yang sedang kau sembunyikan dariku?" tanya Yunho tajam.

"T-tidak."

"Jawab yang benar!"

"Eh, i-iya."

"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?"

"S-sebenarnya..."

FLASHBACK

Saat itu, Yoochun hendak pergi ke cafetaria sambil menunggu acara-jumpa-menantu antara Yunho, Kibum dan seseorang yang cantik yang tak Yoochun kenal. Tapi, tubuh kekarnya menabrak sesuatu.

"Auw!"

"Eh!" Yoochun terkejut ketika ia sadar bahwa ia menabrak seseorang bertubuh mungil. "Adik kecil, kau baik-baik saja?"

Bukannya dijawab. Bocah itu malah menangis. "Hiks, hiks. Nii-san, nii-san. Junsu sakit. Nii-san," racau bocah itu. "Huwaa!" Bocah itu justru menangis keras.

Dan Yoochun melongo. Ia segera berjongkok. "Adik kecil, kenapa kau malah menangis?" tanya Yoochun cemas.

"Hiks, Jae Nii-san." Bocah itu masih terisak.

"Kau mencari kakakmu?" tanya Yoochun.

"J-jae Nii-san. D-dada Junsu s-sesak lagih," ucap bocah itu terbata.

Yoochun terkejut mendengarnya. "Sesak? Ya Tuhan! Kau punya sesak nafas?" tanya Yoochun heran. Ia pun berinisiatif menggendong bocah itu, lalu segera berlari ke dalam rumah sakit lagi.

Yoochun segera menghampiri salah satu suster. "Suster, anak ini mengalami sesak nafas. Aku mohon bantuannya," ucap Yoochun cemas.

Suster itu mengangguk mengerti, lantas mengajak Yoochun untuk membawa bocah itu ke sebuah ruangan. Sayangnya, Yoochun tidak diijinkan masuk.

Yoochun melihat beberapa orang langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. 'Ya Tuhan! Apa yang sudah kuperbuat?' batin Yoochun frustasi. "Tolong selamatkanlah bocah itu," gumam Yoochun.

Yoochun tak beranjak dari tempatnya, hingga seseorang keluar dari ruangan tersebut.

"Anda keluarga anak tadi?" tanya orang tersebut yang berpenampilan seperti dokter.

"B-bukan," jawab Yoochun gugup.

"Lalu?"

"Aku menemukannya di taman dalam keadaan sesak nafas," jelas Yoochun.

"Ah, dokter. Aku sudah menemukan keluarganya." Tiba-tiba seorang suster datang.

"Benarkah?"

"Dokter, bagaimana keadaan adik saya?" tanya seseorang yang berdiri di belakang suster tersebut.

Yoochun menatap sosok tersebut. Gadis yang begitu cantik.

Dokter itu tersenyum. "Sesak nafas adik Anda kambuh. Untung saja, Tuan ini segera tanggap pada keadaannya," ucap sang dokter sambil menunjuk Yoochun.

Yoochun tersenyum canggung.

"Arigatou, Tuan. Adik saya memang begitu lemah," ucap gadis itu lembut.

"Tak apa. Aku senang bisa membantu," balas Yoochun tulus.

Gadis itu kembali menatap sang dokter. "Apakah saya bisa menemui adik saya?"

"Tentu saja. Tapi, dia masih istirahat. Setelah ini, perawat akan memindahkannya ke kamarnya kembali," jelas aang dokter.

"Baik, Dok. Saya mengerti," ucap gadis itu, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang dimaksud.

Yoochun berinisiatif mencegah gadis itu. "Bolehkah aku masuk ke dalam?" tanya Yoochun.

Gadis itu tersenyum kecil. "Tentu saja. Silakan," ajak gadis itu.

Yoochun mengikuti langkah gadis itu. Ditatapnya sosok bocah yang sedang terlelap di atas ranjang. Wajahnya imut dan begitu damai ketika tertidur. 'Malaikat,' batin Yoochun, lalu tersenyum. Entah kenapa, Yoochun lebih tertarik pada bocah itu daripada kakak perempuannya yang cantik.

"Sekali lagi, terima kasih atas bantuannya, Tuan," ucap gadis itu membuyarkan lamunan Yoochun.

"Ah, iya. Sama-sama," balas Yoochun salah tingkah. "Dan jangan memanggilku Tuan. Rasanya aneh sekali," kata Yoochun.

"Jadi?"

"Panggil saja aku Yoochun," kata Yoochun.

"Baiklah, Yoochun-san. Perkenalkan, aku Kim Jaejoong"

FLASHBACK END

"K-kim Jaejoong?" pekik Yunho kaget.

"Ya. Ada apa memangnya?" tanya Yoochun bingung.

"Ya! Apa kau sudah melupakannya? Itu adalah Jaejoong yang selama ini kuceritakan padamu!" seru Yunho.

"Benarkah?" Yoochun nampak tak percaya. "Bukankah Jaejoong itu pria, ya? Tapi orang yang kutemui itu wanita," elak Yoochun.

"Kau yakin? Karena Jaejoong yang kukenal itu memang sangat cantik dan mirip wanita," jelas Yunho.

Yoochun menerawang. "Ah, mungkin saja," gumamnya.

Tanpa pikir panjang, Yunho beranjak dari duduknya.

"Hei! Mau kemana kau?" tanya Yoochun heran.

"Ayo ke rumah sakit! Aku harus bertemu dengan Jaejoong lagi," kata Yunho, lalu menyeret tubuh Yoochun.

"Ya! Jangan menyeretku!"


"Kenapa kau terburu-buru begitu, sih?" tanya Yoochun heran pada Yunho yang melangkah cepat ke meja resepsionis rumah sakit.

"Aku tak ingin kehilangan kesempatan bertemu dengannya," jawab Yunho.

"Kau kan, punya nomor teleponnya, kenapa tidak ditelepon saja?" tanya Yoochun heran.

"Sudahlah, diam saja," desis Yunho. Kini, Yunho sudah berhenti di depan meja resepsionis. "Permisi, suster."

"Ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya suster tersebut.

"Aku sedang mencari seseorang yang dirawat disini. Sayangnya, aku tak tahu namanya. Tapi, aku kenal dengan kakaknya," jelas Yunho.

"Bisakah Anda memberitahukan nama marganya dan kami bisa mengeceknya," balas suster itu.

"Marganya adalah Kim dan dia adalah orang Korea," jawab Yunho.

"Baiklah, kami akan memastikannya." Suster itu pun segera mengetikkan sesuatu pada keyboard. Tak lama, ia kembali menatap Yunho. "Maaf, Tuan. Tapi kami tak menemukan seorang pun dengan marga Kim," ucapnya.

"Benarkah?" Yunho nampak tak percaya. Ia menoleh ke arah Yoochun. "Hei, Chun! Kau yakin, kalau orang yang kau temui itu Kim Jaejoong, kan?" tanya Yunho.

"Tentu saja! Namanya adalah Kim Jaejoong. Tapi, aku tak yakin, kalau Kim Jaejoong yang kumaksud itu sama dengan Kim Jaejoong yang kau cari," ucap Yoochun.

"Aish!" gerutu Yunho kesal. "Kim Jaejoong, apakah kita tak berjodoh?!" Yunho berteriak keras ke atas.


Hanya Tuhan yang tahu jodoh kita?

Ah, tidak juga. Asal kita berusaha mencarinya, kita pasti mendapatkannya.


Yunho menendang botol kaleng minuman di depannya cukup keras, hingga membuatnya melambung dan mengenai seseorang.

"Auw!"

Yunho mendongakkan kepalanya dan terkejut ketika menydari bahwa perbuatannya telah melukai seseorang. Ia segera berlari mendekati orang tersebut. "Maaf, aku menendang botol kaleng itu, sehingga mengenai kepalamu," ucap Yunho.

Orang tersebut mendongak, menatap Yunho. "Tidak a- Yunho?"

Yunho mengerjap kaget. "Jaejoong?"

Dan Yunho menemukan Jaejoong, seperti menemukan separuh hatinya yang telah lama menghilang.


"Kau kesini lagi?" tanya Jaejoong heran.

"Ne," jawab Yunho singkat. Ia masih mengagumi sosok di hadapannya seperti biasa.

"Untuk apa? Bukankah Umma-mu sudah pulang?" tanya Jaejoong lagi. "Atau dia sakit lagi?" Jaejoong mulai khawatir.

"Aniyo. Umma baik-baik saja," jawab Yunho tanpa mengedipkan mata sedikitpun.

"Syukurlah." Jaejoong mengelus dadanya dengan lega. "Lalu, apa yang membawamu kemari? Sedang menjenguk seseorang? Atau kau yang sedang sakit?" tanya Jaejoong cemas.

'Benar-benar perhatian. Jadi, begini ya, rasanya diperhatikan?' batin Yunho senang. "Aku sedang ingin menemui seseorang."

"Eh? Nugu?"

"Kau, Kim Jaejoong," jawab Yunho mantap.

Entah hanya perasaan Yunho atau ini memang kenyataan, Yunho melihat wajah Jaejoong yang bersemu merah dan raut wajahnya menjadi lebih kikuk. Apakah Jaejoong tersipu?

"Aku tak tahu, apakah ini hanya perasaanku saja, atau kau juga merasakannya." Yunho mulai berceloteh.

Jaejoong menyimaknya masih dengan ekspresi yang-menurut Yunho-begitu kikuk.

"Sejak pertemuan pertama kita di kereta maglev, aku langsung terpikat melihat sosokmu. Sebelum bertemu denganmu, aku adalah pribadi yang tertutup. Tapi setelah melihatmu, aku seolah menjadi lebih terbuka. Aku ingin mengenalimu lebih jauh. Dan kau benar-benar membuatku semakin terpesona. Kau benar-benar sosok yang menyenangkan, Jaejoong. Aku belum pernah merasa senyaman itu dengan orang lain," tutur Yunho panjang lebar.

Oke, Jaejoong nampak semakin tersipu. Tapi, ia nampak masih belum mengerti arah pembicaraan Yunho.

"Dan pertemuan kedua kita di panti asuhan, membuat aku semakin tertarik padamu. Aku sama sekali tak menduga kalau kau adalah seseorang yang begitu menyukai anak kecil," lanjut Yunho.

Dan Jaejoong kembali tersipu. Ia tersenyum kecil.

"Lalu, kita bertemu di rumah sakit ini. Kita berbincang, lalu kau mengenal Umma-ku. Semuanya seperti keajaiban bagiku. Dan aku semakin menyukai sosokmu," lanjut Yunho. "Selama ini, aku sadar, bahwa aku selalu merasa hampa setiap aku tak bertemu denganmu. Setelah pertemuan pertama kita, aku bahkan rela naik kereta maglev hanya supaya aku mendapat kesempatan beretmu denganmu lagi. Tapi nihil. Aku tak bertemu denganmu," ucapnya.

Jaejoong terpana.

"Dan seolah Tuhan berpihak padaku, aku kembali dipertemukan denganmu di sebuah panti asuhan. Mengejutkan, bukan?" kata Yunho. "Dan kita sempat bertukar nomor telepon. Tahukah kau kalau aku menantikan telepon darimu?"

Jaejoong hanya membatu di tempatnya.

"Dan sekali lagi, Tuhan seperti mendengar semua doaku agar dipertemukan lagi denganmu, sehingga kita dipertemukan lagi disini, di rumah sakit ini." Yunho masih melanjutkan kalimatnya. "Sejak aku tahu kau berada disini, aku tak ingin melewatkan sedikitpun kesempatan untuk bertemu denganmu," jelasnya. "Hingga akhirnya, kita harus terpisahkan lagi. Namun untuk kesekian kalinya, kita kembali dipertemukan, bukan?"

Jaejoong masih terdiam. Ia tak mengerti maksud dari ucapan Yunho itu. Apa tujuan Yunho mengatakan itu semua padanya?

"Kim Jaejoong," panggil Yunho sambil menyentuh kedua tangan Jaejoong.

"N-ne?"

"Setelah segala kejadian itu, aku seperti menemukan berbagai kepingan puzzle dalam hidupku," ucap Yunho. "Lantas, maukah kau menyusun kepingan puzzle itu bersamaku?" tawar Yunho.

"N-ne?"

"Kim Jaejoong, menikahlah denganku."

"MWO?! Menikah?"


"Aish, dasar! Si beruang itu kemana lagi, sih?" gerutu Yoochun yang sibuk mencari-cari Yunho di sekitar rumah sakit.

"Hei, Paman!" panggil seseorang.

Yoochun menoleh ke sumber suara tersebut. Didapatinya bocah 'malaikat' yang pernah ditabraknya waktu itu. Ia langsung berjongkok. "Kenapa kau di sini? Kau tak takut terkena sesak nafas lagi?" tanya Yoochun heran.

"Aku sedang menunggu Nii-san," jawab bocah itu dengan gaya imut.

"Eh? Nii-san?" Yoochun mengerjap. "Kakakmu, namanya Kim Jaejoong, kan?" tanya Yoochun.

"Benar, Paman!" jawab bocah itu senang.

TUK! TUK!

Bocah itu malah mengetuk pelan jidat Yoochun yang lebar. "Wah, jidat Paman lebar sekali! Pasti sebuah pesawat bisa mendarat disini, ya?" tanya bocah itu dengan polosnya.

Yoochun mendengus kesal.

"Oiya. Akhir-akhir ini, aku bertemu Paman-Paman dengan wajah unik," ucap bocah itu seolah berbicara pada diri sendiri. "Paman Jidat Lebar dan Paman Berwajah Kecil, tapi mirip beruang yang sedang bertemu Nii-san," celotehnya.

"Heh?" Yoochun nampak kaget.

"Kenapa, Paman?"

"Cepat ajak aku menemui kakakmu!"

TBC


Hidup itu seperti merangkai puzzle.

Berhasilkah Yunho merangkai puzzle kehidupannya?


Penasaran dengan jawaban Jaemma? Kkkk~

Mian, kalo YunJae momennya masih dikit banget. Kan, Dee udah pernah bilang, kalo YunJae momennya Dee banyakin setelah mereka nikah. Tenang aja, gak bakalan lama, kok. Chap. 6 nanti, YunJae udah nikah dan di Chap. 7, mereka mulai mengawali hari mereka sebagai suami-istri. Cieee

Dan yang penasaran sama bocah yang ditabrak Yoochun dan hubungannya sama Jaejoong udah terjawab, kan? Hoho~

Dan itu, Dee mau tanya. Menurut readers, enaknya umur Junsu berapa, ya? Di fic ini, sifat Junsu emang kekanakan banget. Tapi, Dee gak mau bikin umurnya terlalu muda, karena gak mau kalo Yoochun Oppa disangkai Pedo, hehe ^^

Kritik, saran dan komentarnya, mohon ditulis dengan baik di kolom review, yaa?

Dee butuh review kalian untuk nambah semangat!

Love,

Jung Minrin