Gomawo buat yg udah review di chap. 4 ^^

Dan gomawo juga buat yg udah kasih saran utk umurnya Junsu. Nah, karena penasaran, umur para cast disini itu berapa, nanti Dee tulis sekalian di bagian cast, oke ;)

Oiya, cuma mau menegaskan, tolong perhatiian chapter yang Dee tulis di bagian cerita. Bukan yang ada di pojok kanan atas itu. Soalnya, bagi Dee, prolog itu gak keitung chapter 1. Jadi, ini masih chapter 5.

Buat yang udah menantikan pernikahannya YunJae, harap ditunggu di chap depan, yaa :)

Tapi chap ini udah aku banyakin YunJae momennya, kok.

Semoga terhibur dan happy reading ^^


Title

TOKYO

Chapter Five : Jung Family

Author

Jung Minrin

Cast

Jung Yunho (26)

Kim Jaejoong (20)

Shim Changmin (17)

Park Yoochun (25)

Kim Junsu (16)

Kim Kibum (48)

Choi Siwon (50)

Naomi (OC-22)


Jung Family.

Siapa yang tak kenal dengan mereka?

Keluarga yang terkenal di Korea dengan perusahaannya yang bergerak di bidang transportasi. Bahkan, perusahaannya merupakan salah satu perusahaan paling maju di kawasan Asia yang kini mulai merambah dunia internasional, terutama pasar Eropa.

Kesuksesan keluarga Jung bermula pada sosok Jung Yonghwa, ayah dari Jung Siwon dan kakek dari Jung Yunho. Ketertarikannya dalam dunia otomotif pada masanya, membuat ia berniat untuk mendirikan bengkel sendiri miliknya.

Berawal dari bengkel sederhana yang diberi nama Jung Oto, kemudian usaha kecilnya itu mulai berkembang lewat bantuan oleh seorang pengusaha. Bengkel sederhananya mulai berkembang dan menjadi salah satu bengkel yang digemari banyak penggila otomotif karena perawatannya yang baik.

Lewat bengkel itulah, Yonghwa muda bertemu dengan sosok Seo Joohyun, yang akhirnya ia persunting menjadi istrinya. Dan bersama, mereka berdua mulai mengembangkan bisnis keluarga Jung.

Kelahiran bayi yang diberi nama Jung Siwon dari rahim Joohyun, membawa berkah bagi Yonghwa dan keluarga kecilnya. Yonghwa mendapat kesempatan semakin besar untuk mengembangkan usahanya. Ia banyak belajar dari berbagai ahli dalam bidang otomotif dan teknik, sehingga usaha kecilnya semakin berkembang luas.

Hingga akhirnya, Jung Yonghwa mengukuhkan dirinya sebagai salah satu pengusaha di bidang otomotif. Awalnya, Jung Industries hanya memproduksi mesin. Namun, seiring berjalannya waktu, Yonghwa meningkatkan produksinya dengan memproduksi alat transportasi. Meski tidak secara mandiri, namun Yonghwa sudah cukup bangga akan hal itu.

Ketika Siwon sudah beranjak dewasa, namja itu pun mulai terjun dalam bisnis yang didirikan ayahnya. Dan sumbangsihnya bagi Jung Industries membawa dampak besar. Siwon berhasil menjadikan Jung Industries sebagai perusahaan mandiri yang memproduksi alat transportasi.

Motor, mobil, kereta api , dan kereta listrik.

Seolah mewarisi bakat dari sang kakek dan sang ayah, sejak kecil, Jung Yunho sudah tertarik dengan mesin. Bahkan, ia berhasil menciptakan mesin pertamanya, ketika berusia 8 tahun. Ide-idenya yang cemerlang juga digunakan oleh Jung Industries dalam mengembangkan berbagai alat transportasi yang diproduksi Jung Industries. Dan itu berarti, Yunho sudah memiliki penghasilan sendiri sejak usianya masih belia.

Dan kini, Yunho sudah mencapai posisi yang diidamkannya selama ini, yakni sebagai CEO. Sejak kecil, ia tak pernah menargetkan dirinya untuk menjadi Presiden Direktur menggantikan Kakek atau Ayahnya. Dan perlu kalian ketahui, bahwa sebelum sang Kakek meninggal, beliau sempat berpesan pada Yunho untuk menggantikan posisinya sebagai Presiden Direktur Jung Industries, di usianya yang masih 15 tahun. Tapi Yunho menolaknya dengan halus, karena dia bukanlah tipe orang yang terlalu suka memerintah dan lebih tertarik untuk terjun secara langsung ke lapangan. Alhasil, kini Yunho pun menduduki posisi CEO, karena dia bisa tetap memimpin perusahaan dan terjun ke lapangan, bergabung dengan Divisi Penelitian dan Pengembangan.

Dan seperti yang kita ketahui, proyek besar yang sedang berada di tangan Yunho adalah kerja samanya dengan pemerintah Jepang dalam mengembangkan kereta maglev. Dan masih banyak kerja sama lainnya dengan berbagai pihak, yang bahkan akan sangat panjang jika diceritakan.

Tak akan ada habisnya jika membahas tentang Jung Family dan Jung Enterprises yang melegenda itu.

Ah, tapi bagaimana dengan kisah cinta sang CEO?

Mungkinkah sepanjang kisah Jung Family dan Jung Enterprises?

Mungkinkah kisah cintanya dengan Kim Jaejoong juga akan melegenda?


Keluarga adalah tempat dimana kita berbagi cinta, berbagi tawa, berbagi kebahagiaan.

Keluarga adalah tempat dimana kita berbagi luka, berbagi tangis, berbagi kepedihan.

Tanpa keluarga, kita hanyalah seorang diri di dunia ini. Sebatang kara.


"Kim Jaejoong, menikahlah denganku."

"MWO?! Menikah?" Jaejoong melongo mendengar permintaan Yunho. Baginya, ini terlalu tiba-tiba. Ia belum mengenal Yunho secara mendalam. Apalagi, mereka hanya bertemu sebanyak 3 kali.

Yunho menutup mulutnya dengan cukup keras, sehingga menimbulkan bunyi. "Ah, mianhae, kalau ucapanku melantur," ucap Yunho menyesal.

"Eh?"

"K-kalau kau belum s-siap, gwaenchana," ucap Yunho gugup. "Mian, kalau aku terburu-buru," tutur Yunho.

Jaejoong malah bingung dengan sikap Yunho yang plin-plan. "Memangnya, ucapanmu yang tadi tidak sungguh-sungguh?" tanya Jaejoong heran.

Yunho mengangguk tengkuknya canggung. "B-bukan begitu," jawab Yunho. Yunho merutuki dirinya sendiri, 'Aish! Kenapa tadi aku berbicara begitu sendiri tanpa bisa kukontrol, sih? Apa ini memang isi hatiku yang terdalam? Apa aku memang sudah terlalu jatuh cinta pada Jaejoong?'

"Lalu?" Jaejoong menaikkan kedua alisnya, menanti penjelasan Yunho.

"Aku bersungguh-sungguh, Jae," ucap Yunho tulus. "T-tapi...

"Tapi apa?"

"Kau tahu sendiri kan, kalau kita baru beberapa kali bertemu?" tanya Yunho mengingatkan.

Jaejoong mengangguk.

"Tapi, entah kenapa, aku sudah jatuh cinta padamu, Jae," tutur Yunho. "Jatuh cinta pada semua yang ada pada dirimu," kata Yunho.

"K-kau yakin?" Kini, Jaejoong-lah yang gugup.

Yunho mendesah berat. "Mungkin, cintaku memang belum terlalu besar. Tapi aku yakin, seiring berjalannya waktu, seiring kebersamaan kita, rasa cinta itu akan terus tumbuh dalam hatiku," jelas Yunho.

Jaejoong tertunduk, seperti sedang memikirkan sesuatu.

Yunho menggenggam tangan Jaejoong. "Jadi, apa jawabanmu, Jae?" tanya Yunho lembut.

Jaejoong mendongakkan kepalanya dengan takut. "Hm, kurasa, tak ada salahnya menerima lamaranmu," ucap Jaejoong malu-malu.

"Ne? Jinjja?" Yunho tak menyangka dengan jawaban Jaejoong.

"Aku akan belajar mencintaimu, Jung Yunho."


Tuhan akan selalu memberi jalan pada umatnya yang telah bertekad.

Seperti Tuhan yang akan memudahkan jalan seseorang untuk mencintai.


"Ya, Paman Jidat Lebar! Kenapa menutupi telingaku?!" seru bocah yang berdiri di depan Yoochun, sambil menghempaskan kedua tangan Yoochun dari telinganya.

Yoochun tetap mempertahankan tangannya, menutupi telinga bocah itu. Ia tak ingin bocah itu mendengar perbincangan Yunho dan Jaejoong tentang pernikahan. Bisa-bisa, bocah itu akan banyak bertanya padanya. "Aish! Kau tak boleh mendengarkan apa yang dibicarakan kakakmu!" tegas Yoochun memberitahu.

Bocah itu membalik tubuhnya dan menatap Yoochun. "Memangnya, apa yang dibicarakan Nii-san? Nii-san menjelek-jelekkan aku?" tanya bocah itu penasaran sambil mengerjapkan matanya dengan lucu.

Yoochun tersenyum kecil melihat tingkah bocah itu. "Aish, kau ini umur berapa, sih?" tanya Yoochun gemas sambil mencubit kedua pipi bocah di hadapannya itu.

"Ya! Jangan cubit-cubit!" seru bocah itu, sambil menyingkirkan tangannya Yoochun dari pipinya. "Aku sudah berumur 16 tahun. Kenapa?" balas bocah itu.

"Benarkah?" tanya Yoochun tak percaya. "Tapi, kenapa kau pendek sekali, heh?" tanya Yoochun heran.

Bocah itu memanyunkan bibirnya dengan kesal. "Jangan meledekku! Kalau aku pendek memangnya kenapa?" tanya bocah itu jengkel.

Yoochun tertawa renyah melihatnya. "Tak apa. Itu membuatmu terlihat semakin imut." Sekali lagi, Yoochun mencubit pipi bocah itu.

"Ya! Aku tidak imut! Aku ini tampan!" seru bocah itu.

Yoochun kembali tertawa. Ia semakin gemas dengan bocah di hadapannya itu. "Baiklah, baiklah." Yoochun menyerah dengan bocah itu. "Oiya, ngomong-ngomong, kita belum berkenalan, ya?" tanya Yoochun.

"Eh?" Bocah itu mengerjap. "Bukannya sudah? Nama Paman adalah Paman Jidat Lebar, kan?" Bocah itu pun terkikik geli.

"Ya! Berhenti meledekku! Dasar pendek!" seru Yoochun. "Sudahlah. Mari kita berkenalan!" ajak Yoochun. "Namaku Park Yoochun," ucap Yoochun sambil mengulurkan tangannya.

"Ah, Paman Yoochun," gumam bocah itu, seolah berusaha mengingat-ingat. "Kenalkan, namaku Xiah Junsu!" seru bocah itu riang, sambil menjabat tangan Yoochun.

Yoochun tersenyum lebar. 'Dia benar-benar anak yang menyenangkan.'


Tak akan pernah ada yang salah dengan cinta.

Perbedaan agama, perbedaan usia.

Kalau memang itu salah, haruskah kita menyalahkan Tuhan?


"Lho? Su-ie?" Jaejoong terkejut ketika menyadari bahwa kamar adiknya kosong. Adiknya tidak berada disana. Ia merasa khawatir dan tak ingin kejadian ketika adiknya ditemukan dalam keadaan pingsan itu terulang kembali.

Yunho yang juga menyadari hal itu pun terlihat cemas. "Adikmu dimana, Jae?" tanya Yunho.

Jaejoong membalik tubuhnya. Raut wajahnya menunjukkan kesedihan. "S-su-ie tak ada disini," ucap Jaejoong dengan suara bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca. "Bagaimana kalau dia pingsan lagi seperti waktu itu?" racau Jaejoong. Sejak kejadian pingsannya adiknya, Junsu, beberapa hari yang lalu, ia selalu mengkhawatirkan keadaan Junsu. Ia juga sudah sering memperingatkan Junsu untuk tidak keluyuran. Tapi, bagaimanapun juga, Junsu butuh hiburan di luar. Mungkin, karena Jaejoong meninggalkannya terlalu lama, jadi Junsu pergi dari kamarnya lagi. Jaejoong mendongak, memandang wajah Yunho dengan matanya yang basah. "Bagaimana ini, Yunho? Aku benar-benar kakak yang payah. Aku sama sekali tak bisa diandalkan," racau Jaejoong lagi.

Yunho tak pernah benar-benar bisa menghadapi orang yang menangis. Dan dia melakukan sesuai nalurinya. Dengan gugup, tangan kanan Yunho menyentuh punggung Jaejoong dan mendorong tubuh Jaejoong untuk mendekat padanya, lantas mendekapnya dalam pelukan hangat. "Tenanglah dulu, Jae. Kita bisa minta bantuan pada perawat untuk mencari Junsu. Aku akan membantumu, karena bagaimanapun juga, aku juga menyebabkan Junsu menghilang. Aku sudah menahanmu terlalu lama tadi," oceh Yunho sambil mengusap punggung Jaejoong.

Jaejoong terisak pelan di dada Yunho. Entah kenapa, ada suata rasa aman dan nyaman ketika ia berada di dekat Yunho. Bahkan, ia yang jarang menangis itu mendadak menjadi cengeng hanya karena Junsu yang menghilang.

Atau hanya karena Jaejoong merasa nyaman menangis di hadapan Yunho?

Yunho menangkup wajah Jaejoong dengan dua tangan kekarnya dan membuat namja cantik itu terdongak. "Sekarang, berhenti menangis dan ayo kita cari Junsu," ucap Yunho lembut.

Jaejoong mengusap air matanya dengan menahan malu.

"Nah, begitu kan, kau terlihat lebih cantik," gumam Yunho memuji.

Jaejoong tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Entah setan apa yang merasukinya, tiba-tiba saja, Jaejoong memeluk Yunho sekali lagi. "Gomawo, Yunho. Gomawo," bisiknya tulus.

Yunho membalas pelukan Jaejoong. 'Rasanya hangat.'


"Nii-san!" Junsu berlari sekencang-kencangnya.

Sementara itu, Yoochun yang melihatnya melongo dan panik. Ia khawatir, kalau asma Junsu kambuh lagi. "Hei, Junsu! Hati-hati!" serunya memperingatkan. Ia pun segera mengejar Junsu.

"Su-ie!" panggil sebuah suara.

Yoochun melihat seseorang yang dikenalinya sebagai kakak Junsu, Kim Jaejoong. Ia merasa tenang dan lega. Dan ia kembali terkejut, ketika Yunho yang masih berada di samping Jaejoong. "Yunho?"

"Chun? Kau?" Yunho memasang tampangnya yang linglung dan penuh tanya.

Yoochun hanya mengulas cengiran ke arah sahabatnya itu, sambil menggaruk tengkuknya dengan perasaan canggung.

Sementara itu, Jaejoong sedang memeluk Junsu. "Su-ie, lain kali, jangan pergi-pergi lagi, ya?" ucap Jaejoong dalam bahasa Jepang.

"Baik, Nii-san," jawab Junsu tegas. "Tapi, tadi Paman Ji-"

Yoochun yang menyadari panggilan menyindir dari Junsu pun langsung menunjukkan death glare-nya.

"Ah, maksud Su-ie, tadi Paman Yoochun sudah menemaniku. Dia baik sekali, Nii-san," jelas Junsu riang.

Yoochun tersenyum kikuk ke arah Jaejoong.

"Arigatou, Tuan," ucap Jaejoong sopa pada Yoochun.

Yoochun terkekeh, sambil mengibaskan tangannya. "Tak apa. Junsu adalah anak yang baik dan menyenangkan," kata Yoochun. "Lagipula, aku juga mengenal Yunho, kok," ucap Yoochun memberitahu.

"Eh? Benarkah?" Jaejoong menatap Yoochun dan Yunho bergantian.

"Benar. Jae, kenalkan, ini Park Yoochun, sahabatku," kata Yunho memperkenalkan.

Yoochun dan Jaejoong pun saling berjabat tangan.

"Oiya, Nii-san. Paman berwajah kecil ini siapa?" tanya Junsu dengan tidak berdosanya.

Yoochun terkikik geli mendengar panggilan Junsu pada Yunho.

Jaejoong segera menutup mulut adiknya. "Aish, Su-ie! Jangan menyebutnya Paman berwajah kecil!" larang Jaejoong. "Dia adalah Yunho Nii-san," jelas Jaejoong.

"Oh, Yunho Nii-san," gumam Junsu mengulang perkataan Jaejoong. "Perkenalkan, namaku Xiah Junsu!" seru Junsu sambil mengulurkan tangannya ke Yunho.

Yunho tersenyum lebar, lalu menjabat tangan Junsu. "Aku Jung Yunho. Senang berkenalan denganmu, Jun-chan," balas Yunho.

"Eh? Jun-chan?" Junsu mengerjap dengan lucu.

"Ya. Kenapa? Kau tak suka?" tanya Yunho.

"Ah, bukan begitu! Aku sangat suka! Jun-chan sangat suka!" seru Junsu gembira.

Dan keempat orang itu pun tertawa bersama.

Siapapun yang melihat kebersamaan mereka, pasti menduga bahwa mereka adalah keluarga yang sangat bahagia.


UHUK!

Kibum tersedak, setelah mendengar penjelasan Yunho.

Dengan sigap, Yunho menyodorkan air putih miliknya untuk Umma-nya. "Minumlah dulu, Umma," tutur Yunho.

Kibum segera meneguk air putih itu. Ia mengatur nafasnya. "Ya! Ini semua kan, gara-gara kau, Jung Yunho," desis Kibum tajam. "Kau bersungguh-sungguh? Kau sudah melamar Jaejoong?" tanya Kibum tak percaya.

Yunho menghela nafas. "Tentu saja, Umma. Mana mungkin aku berbohong pada Umma?" balas Yunho pasrah.

Kibum tersenyum lebar. "Aigoo~ Anak Umma sudah dewasa ya, rupanya?" goda Kibum.

Yunho mendengus sebal. "Tentu saja, Umma. Aku sudah dewasa! Aku sudah 26 tahun!" seru Yunho.

Kibum tertawa. "Oiya, memangnya, umur Jaejoong itu berapa?" tanya Kibum penasaran.

Yunho menepuk jidatnya dengan keras. "Omo! Aku belum bertanya!" seru Yunho heboh.

Kibum memanyunkan bibirnya karena jengkel. "Kau ini bagaimana, sih?" gerutunya kesal. "Bagaimana mungkin, kau belum tahu umur Jaejoong dan kau sudah melamarnya?" tanyanya jengkel. "Sebenarnya, apa saja yang kau bicarakan dengan Jaejoong selama ini, heh?"

Yunho meringis. "Aku memang pabbo," rutuknya pelan.

"Dasar!" cibir Kibum. "Dan apa yang membuatmu langsung melamarnya kalau kau belum tahu apa-apa tentang dirinya?" tanya Kibum.

"Ya! Bukannya aku tidak tahu apa-apa, Umma," elak Yunho. "Tapi asal Umma tahu saja, cinta itu tidak membutuhkan alasan," jelas Yunho.

Kibum terdiam. Benar juga apa yang dikatakan Yunho. Cinta memang tidak membutuhkan alasan.


"Selamat, Yunho-kun! Aku turut senang!" Naomi tersenyum dengan bahagia, ketika melihat bos-nya datang ke kantor.

"Ya Tuhan! Memangnya, ada apa, Naomi?" tanya Yunho heran.

"Aku mendengar dari Ny. Jung kalau kau akan segera menikah," celetuk Naomi.

"Heh? Kaa-san bilang begitu padamu?" Yunho tak percaya kalau Umma-nya itu sangat suka bicara.

"Iya," jawab Naomi senang. "Kemarin malam, Ny. Jung meneleponku dan menceritakan semuanya padaku," tutur Naomi.

Yunho melongo. 'Semuanya?'

"Setelah sekian lama, aku tidak melihat Yunho-kun dengan seorang gadis, tiba-tiba saja, tiba kabar bahwa Yunho-kun akan segera menikah," lanjut Naomi. "Eh? Atau malah sebenarnya, aku memang tidak pernah melihat Yunho-ku dengan seorang gadis, ya?" candanya, lalu tertawa geli.

Yunho mendengus sebal. "Ya! Sudahlah! Hentikan acara gossipnya dan kembali bekerja!" perintah Yunho.

Naomi masih tertawa. "Memangnya, berita pernikahan itu hanya gossip?"

Yunho kembali mendengus. 'Dasar wanita!'


"Aigo, Su-ie. Kau imut sekali," puji Kibum sambil mencubit gemas kedua pipi Junsu.

Junsu hanya terkikik geli.

Sementara itu, Jaejoong melihatnya sambil tersenyum.

Dan Yunho?

Namja bermata musang itu mendengus pelan melihat tingkah konyol Ummanya.

Kini, Yunho dan Kibum sedang berada di kamar rawat Junsu. Karena Kibum yang merengek-rengek pada Yunho untuk mengantarnya menemui Jaejoong dan Junsu.

"Duduklah disini, Yunho," ucap Jaejoong sambil mendorong kursi ke arah Yunho.

"Ah, gomawo, Jae." Yunho pun terduduk di atas kursi tersebut. Dan ia menyadari bahwa Jaejoong masih saja berdiri di sampingnya. "Bagaimana dengan kau sendiri? Mau kupangku saja?" tawar Yunho tulus.

Wajah Jaejoong bersemu merah, menahan malu. "A-ani." Jaejoong menggeleng lemah dengan wajah tertunduk.

Yunho tersenyum kecil melihat tingkah Jaejoong.

"Oiya, Joongie," panggil Kibum.

"Ne?" Jaejoong menoleh ke arah Kibum.

"Sebenarnya, aku dan Yunho kesini untuk membicarakan sesuatu padamu," ucap Kibum memberitahu.

Sementara itu, Yunho hanya menatap bingung ke arah Umma-nya. 'Sesuatu apa?' batinnya bingung. Sebelum ini, Umma-nya sama sekali tidak berniat untuk membicarakan sesuatu yang penting dengan Jaejoong.

"Kami ingin kau dan Su-ie ikut kami ke Seoul untuk bertemu dengan keluarga besar kami," jelas Kibum.

Jaejoong membatu di tempatnya.

Begitu pula dengan Yunho.

"Aku harap, kita semua bisa saling mengenal," lanjut Kibum.

"T-tapi..."

"Tenang saja, Joongie. Kami yang akan mengatur semuanya," sela Kibum.

"Tapi, Su-ie..."

"Kau juga tidak perlu mengkhawatirkan Su-ie. Kami bahkan akan mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan Su-ie," jelas Kibum. Kini, Kibum menatap Junsu. "Su-ie ingin sembuh, kan? Su-ie ingin bermain bola seperti dulu lagi, kan?" tanya Kibum

Junsu mengangguk dengan antusias.

"Jadi, terimalah ini, Joongie," mohon Kibum.

Yunho dan Jaejoong saling bertatapan.

"Anggap saja, ini sebagai syarat, aku akan merestui pernikahan kalian," lanjut Kibum.

Dan kalau sudah begitu, Yunho dan Jaejoong tak bisa berkata selain 'iya'.


"Apa-apaan ini, Umma?" tanya Yunho jengkel, sambil mengemudikan mobilnya.

Kibum tertawa melihat protesan Yunho. "Waeyo, Yun?" tanyanya denga tak berdosa.

"Ini namanya pemaksaan, Umma!" tegas Yunho.

"Umma hanya ingin membantumu dengan Jaejoong. Umma ingin melihat kalian segera menikah," jelas Kibum. "Lebih cepat, lebih baik, kan?" tanya Kibum.

"Tapi, tidakkah Umma tahu, kalau Jaejoong begitu cemas tadi?" tanya Yunho mengingatkan.

"Ya, mau bagaimana lagi?" Kibum mengangkat kedua bahunya.

Yunho mendengus pelan. "Ah, aku tahu. Sebenarnya, Umma hanya memanfaatkan kami sebagai alasan, kan?" tebak Yunho.

"Heh? Apa maksudmu?"

"Bilang saja, kalau Umma sudah tak sabar bertemu dengan Appa dan ingin membuat Jung baru, ya?" goda Yunho.

"Jung Yunho!"

Dan Yunho pun tertawa puas.


"Aku takut," racau Jaejoong cemas.

Yunho langsung menggenggam tangan Jaejoong dengan lembut. "Tenanglah, Jae. Tak ada yang perlu ditakutkan," ucap Yunho meyakinkan.

Sementara sepasang kekasih itu nampak saling menenangkan, Kibum justru sedang asyik bermain dengan Junsu, selagi menunggu panggilan untuk keberangkatan mereka ke Incheon.

"Tapi, bagaimana sambutan keluargamu nanti? Bagaimana kalau mereka tidak menerimaku?" racau Jaejoong.

Yunho tersenyum lembut, lalu mengusap pipi Jaejoong. "Tenanglah. Kau sudah lebih dari sekedar diterima di keluargaku," jelas Yunho.

Jaejoong mengerucutkan bibirnya. "Kau mengatakan itu hanya untuk menenangkanku, kan?" tanya Jaejoong.

Yunho tertawa pelan. "Tidak, Jae. Aku bersungguh-sungguh," jawab Yunho mantap. "Appa dan dongsaeng-ku sudah tak sabar untuk bertemu denganmu," jelas Yunho. "Apalagi, Halmeoni-ku," imbuhnya.

"Eh? Halmeoni-mu?"

"Ne. Sosok yang paling kukagumi selama ini," ucap Yunho. "Dan sekarang, posisinya sudah tergantikan olehmu," imbuh Yunho.

Jaejoong tertunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang selalu memerah setiap Yunho memuji atau menggodanya.

Yunho tersenyum melihat tingkah Jaejoong. "Jae, dengarkan aku." Yunho mengangkat wajah Jaejoong. "Selama kita bersama, semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku," ucap Yunho.

"Ne. Aku percaya padamu."

Dan panggilan bagi penumpang pesawat tujuan Incheon pun terdengar.

Mengharuskan keempat orang itu bersiap untuk naik pesawat.


"Apakah selama itu, Min?" tanya Siwon cemas pada putra bungsunya, Changmin yang sedang asyik bermain PSP.

"Aigo, Appa. Pemberitahuan kedatangan baru saja terdengar. Dan mereka pasti sedang bersiap turun," jelas Changmin santai.

Siwon mendengus pelan. Ia menyadari bahwa ia telah bersikap berlebihan. Maklum, karena ia tak sabar untuk segera bertemu dengan istrinya. Siwon pun memutuskan untuk menenangkan dirinya dan terduduk di samping Changmin.

"Oiya, Appa," panggil Changmin yang sudah menghentikan kegiatannya memainkan PSP.

Siwon menoleh ke arah Changmin. "Ne?"

"Yunho Hyung benar-benar akan segera menikah, ya?" tanya Changmin.

"Ne," jawab Siwon malas. Entah sudah keberapa kalinya, Changmin menanyakan hal itu. "Waeyo? Kau kedengaran meragukan Hyung-mu, eoh?" tanya Siwon penuh selidik.

Changmin tertawa renyah. "Ani, Appa," balas Changmin. "Hanya heran saja, mengingat kalau Hyung jarang dekat dengan wanita dan tiba-tiba ia mengabarkan kalau akan segera menikah," ucap Changmin.

Siwon mengangguk mengerti dengan jalan pikiran Changmin. "Yang paling penting adalah bahwa kita semua harus mendukung pilihan Hyung-mu, Min," kata Siwon mengingatkan.

"Ne! Tentu saja, Appa!" seru Changmin sambil mengacungkan dua jempolnya. "Nah, itu mereka!" seru Changmin yang menunjuk ke arah belakang Siwon.

Siwon menolehkan kepalanya dan mendapati sosok Kibum yang berjalan ke arahnya, diikuti oleh Yunho dan dua orang yang belum dikenalnya, seorang gadis cantik dan remaja yang nampak imut. "Bummie~" gumam Siwon. Ia langsung bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati istrinya.

Kibum tersenyum senang ketika melihat suaminya. "Siwonnie~" balas Kibum yang langsung menghambur memeluk tubuh kekar Siwon.

Sementara itu, Changmin mengikuti Appa-nya, bangkit dari duduknya. Namun, ia menyambut Hyung-nya terlebih dahulu, karena ingin membiarkan kedua orang tuanya untuk saling melepas rindu. "Bagaimana kabarmu, Hyung?" tanya Changmin sambil memeluk tubuh Hyung-nya.

Yunho membalas pelukan Changmin dengan hangat sambil menepuk punggungnya. "Baik," jawabnya singkat. "Kau sendiri?" tanya Yunho sambil melepas pelukannya.

"Seperti yang kau lihat," jawab Changmin ringan. Matanya nampak tertarik pada sosok cantik yang berdiri di samping Yunho. "Nah, dan ini pasti calon istri Hyung, kan?" tanya Changmin memastikan.

Sosok cantik itu tersenyum lembut. "Perkenalkan, aku Kim Jaejoong," ucapnya sambil mengulurkan tangannya ke arah Changmin.

"Ah, senang bertemu denganmu, Noona," balas Changmin sambil menjabat tangan Jaejoong.

"Hyung, Min," ralat Yunho.

"Eh?" Changmin mengerjap terkejut. "Jadi?"

Jaejoong tertawa renyah. "Jangan percaya pada penampilan. Penampilan bisa menipumu," gurau Jaejoong.

Changmin tersenyum canggung karena telah salah mengenali sosok Jaejoong. Dia berusaha mengalihkan perhatian dengan sosok imut yang berdiri di samping Jaejoong. "Ah, dan kau?" tanya Changmin ramah.

"Aku Xiah Junsu!" seru anak imut itu.

"Changmin lebih tua setahun daripada kau, Jun-chan. Jadi, panggil saja dia Hyung," kata Yunho memberitahu. "Atau tiang listrik juga boleh," guraunya.

"Yah, Hyung!" keluh Changmin kesal.

Yunho dan Jaejoong tertawa.

"Ah, Appa sampai kelupaan," celetuk Siwon yang tiba-tiba muncul diantara anak-anak muda itu. "Jadi, mana calon menantuku?" tanya Siwon bersikap seolah pura-pura tidak tahu. Meskipun Siwon belum pernah melihat wajah calon menantunya, tapi ia bisa menebak yang mana yang merupakan calon menantunya. Mengingat kalau salah satu diantara sosok asing itu masih terlalu muda untuk dijadikan istri Yunho.

"Appa, kenalkan, dia Kim Jaejoong," kata Yunho memperkenalkan.

"Jaejoong." Jaejoong mengulas senyum sambil menjabat tangan Siwon.

Siwon pun mengalihkan perhatiannya pada Junsu. "Dan kau? Kau pasti adik Jaejoong, kan?" tebak Siwon.

"Ne!" seru Junsu. "Aku Xiah Junsu!"

Siwon tertawa renyah melihat tingkah Junsu. "Kau manis, dan Noona-mu cantik," puji Siwon.

"Appa! Jaejoong adalah seorang namja," tukas Yunho jengkel. Entah sudah keberapa kalinya, banyak orang yang salah mengenali Jaejoong.

"Eh?" Siwon pun terkekeh pelan.

Dan semuanya ikut tertawa.

Benar-benar keluarga yang bahagia, bukan?


"Selamat datang di rumah keluarga Jung!" seru Changmin sambil merentangkan kedua tangannya ke atas, tanda menyambut kehadiran Jaejoong dan Junsu sebagai anggota keluarganya.

Siwon yang berjalan di belakang Changmin, membalik tubuhnya dan memandang Yunho dan Jaejoong bergantian. "Nah, hari ini, ada kejutan spesial untuk kalian," ucap Siwon memberitahu.

"Eh? Kejutan apa, Appa?" tanya Yunho penasaran.

Siwon tersenyum misterius. "Lebih baik, kalian langsung melihatnya di ruang baca," kata Siwon sambil mengerling. Kini, ia mengalihkan pandangannya pada Junsu. "Nah, Junsu. Sekarang, ayo main dengan Ahjussi di taman belakang," ajak Siwon sambil menggandeng tangan Junsu.

"Ne, Ahjussi!" balas Junsu penuh semangat dan mengikuti langkah Siwon.

"Appa, Min ikut!" seru Changmin yang langsung mengejar Siwon dan Junsu.

Kibum menghampiri Yunho dan Jaejoong. "Kalian cepatlah ke ruang baca, ne?" ucap Kibum, yang lalu mengikuti langkah suaminya ke taman belakang.

Yunho dan Jaejoong saling bertatapan penuh tanya.

"Hm, ayo kita kesana sekarang, Jae," ajak Yunho sambil menggenggam erat tangan Jaejoong.

Dan Jaejoong mengikuti langkah Yunho.


"Cucuku~" panggil sosok wanita tua yang duduk di salah satu sofa di ruang baca.

Yunho tersenyum senang ketika menyadari bahwa sosok yang ditemuinya di ruang baca saat itu adalah Halmeoni-nya yang begitu ia sayangi dan rindukan. "Halmeoni," panggil Yunho yang langsung menghambur ke arah Halmeoni-nya dan memberinya pelukan hangat.

Jaejoong nampak begitu kikuk. Ia merasa canggung karena seperti 'orang asing' diantara Yunho dan Halmeoni-nya.

Jung Halmeoni melepas pelukannya pada cucunya, lalu menatap Jaejoong. "Kau pasti Jaejoong, kan?" tebaknya.

"Eh?" Jaejoong tersadar dari lamunannya. "Ah, ne, H-halmeoni," ucapnya gugup.

"Kemarilah," pinta Jung Halmeoni lembut.

Jaejoong melangkah dengan gugup ke arah Yunho dan Halmeoni-nya.

Jung Halmeoni menyentuh lengan Jaejoong dengan lembut. "Jae, kau tak perlu malu begitu," kata Jung Halmeoni menenangkan.

Jaejoong menatap Jung Halmeoni dengan gugup.

"Mulai sekarang, kita adalah keluarga," ucap Jung Halmeoni mantap.

Dan Jaejoong mengangguk mengerti. Ia merasakan suasana hangat melingkupinya.


Jaejoong termenung sambil menatap ke arah keluarga Jung yang asyik bercengkrama, ditambah kehadiran Junsu diantara mereka. Meskipun anggota keluarga Jung tidak terlalu banyak, namun terlihat begitu akrab dan penuh kehangatan.

"Jae." Tiba-tiba, Yunho menyikut pelan lengan Jaejoong, menyadarkan namja cantik itu dari lamunannya.

"Eh? Ada apa?" tanya Jaejoong bingung.

Yunho tertawa pelan. "Kau sedang melamunkan apa?" tanya Yunho.

"A-ani," jawab Jaejoong bohong. Tentu saja, ia berbohong. Ia merasa bahagia, sekaligus sakit ketika melihat keakraban keluarga Jung.

Yunho sepertinya menyadari bahwa Jaejoong sedang berbohong padanya. Namun, ia tak berniat menuntut penjelasan secara langsung dari kekasihnya. "Kau ingin jalan-jalan keluar bersamaku?" tawar Yunho.

"Eh? Bagaimana dengan keluargamu?" tanya Jaejoong.

Yunho tersenyum. "Gwaenchana. Mereka pasti akan mengerti," kata Yunho. "Kau ingin melihat-lihat keadaan Seoul saat ini, kan?" tanya Yunho.

Jaejoong mengangguk pelan.

"Kalau begitu, ayo berangkat!"


"Aku merindukan keceriaanmu, Jae," ucap Yunho sambil memandang daun yang gugur dari pohonnya.

Kini, Yunho dan Jaejoong sedang terduduk di sebuah taman yang masih terselimuti salju. Untungnya, musim dingin segera berakhir, sehingga udara dingin Seoul kali ini tidak terlalu bermasalah bagi Yunho.

Jaejoong tertunduk lesu mendengar ucapan Yunho. "Mianhae," gumamnya. "Aku memang payah," ucapnya lirih.

Yunho menatap Jaejoong lekat-lekat. "Apanya yang payah?" tanya Yunho heran. "Jae, aku tahu, kau sedang punya masalah. Ceritakanlah padaku, karena sudah sepantasnya sepasang kekasih saling berbagi," jelas Yunho.

Tiba-tiba, Jaejoong menutup wajah cantiknya dengan kedua tangannya dan mulai terisak. "Aku iri padamu, Yun," kata Jaejoong.

Yunho mengerjap kaget. "I-iri? Waeyo?" tanyanya heran.

Jaejoong terisak kembali. "Kau begitu beruntung memiliki keluarga yang penuh kasih sayang," ucap Jaejoong.

"Lalu?"

"Aku tak pernah merasakannya, Yun," ucapnya lirih. "Sejak kecil, aku dibesarkan di panti asuhan di Tokyo. Panti asuhan yang kau kunjungi waktu itu," jelas Jaejoong.

Yunho ingat dengan panti asuhan yang dimaksud Jaejoong. Seketika, Yunho merasa bersalah karena ia tak mengetahui latar belakang Jaejoong yang sesungguhnya. "Mungkin aku memang merasa bahagia, karena aku memiliki teman-teman yang menyenangkan disana, tapi..." Tangisan Jaejoong mulai terdengar semakin keras.

Yunho langsung membawa Jaejoong dalam dekapannya. "Menangislah, Jae. Menangislah, kalau itu membuatmu tenang," kata Yunho lembut.

"Selama ini, aku hanya berusaha terlihat ceria. Tapi, aku tetaplah manusia yang payah," ujar Jaejoong menyalahkan dirinya sendiri.

"Ssst. Berhenti mengatakan bahwa kau payah," larang Yunho lembut. "Kau sama sekali tak payah, Jae. Kau terlihat hebat di mataku," puji Yunho tulus.

Jaejoong mengusap air matanya. "Kau memang selalu tahu cara menghiburku," gumamnya. Ia sudah berhenti terisak.

Yunho tersenyum lembut ke arah Jaejoong. "Harus kukatakan berapa kali bahwa kau terlihat lebih cantik kalau tidak sedang menangis," celetuk Yunho.

Dan Jaejoong langsung mencubit pelan lengan Yunho.

Yunho meringis kesakitan.

"Dan aku sama sekali tak menyangka kalau kau adalah Jung yang itu," gumam Jaejoong.

Yunho mengernyit. "Jadi, selama ini, kau tak menyadarinya?" tanya Yunho heran.

Jaejoong nyengir ke arah Yunho. "Kalau aku tak bertemu Appa-mu, mungkin aku tak akan menyadarinya," balas Jaejoong.

Yunho begitu gemas dengan Jaejoong dan mencubit hidung mancung kekasihnya itu. "Aish, kau ini. Berpacaran dengan namja paling diidamkan dan kau tidak menydarinya? Jinjja," gerutu Yunho jengkel.

Jaejoong tertawa. "Kau terlalu percaya diri. Kalau kau memang diidamkan banyak orang, kenapa kau memilih aku sebagai kekasihmu?" tanya Jaejoong.

Yunho tersenyum. Diusapnya wajah sang kekasih dengan lembut. "Karena aku baru meyakini, bahwa kaulah sosok yang kucari selama ini," ucap Yunho.

Jaejoong tersipu malu.

"Hatchi~" Tiba-tiba, Yunho bersin.

"Eh? Kau terkena flu?" tanya Jaejoong cemas.

Yunho mengusap hidungnya. "Ani. Aku memang seperti ini kalau terkena suhu dingin," jelas Yunho.

"Aish, ini semua pasti karena ulahku," gumam Jaejoong. "Ayo kita segera kembali ke rumahmu," ajak Jaejoong.

"Shirreo," ucap Yunho manja.

"Lalu kau mau apa? Keadaanmu bisa semakin parah, kalau berada disini terus," jelas Jaejoong.

Yunho tersenyum lembut. "Ani. Hatchi~"

"Nah, kan?"

"Aku akan baik-baik saja asal kau disini. Asal kau tetap memelukku dan berbagi kehangatan denganku," balas Yunho.

Sekali lagi, Jaejoong tersipu malu. Rona merah di pipinya terlihat begitu jelas.

Yunho mengeratkan pelukannya pada Jaejoong. "Mulai sekarang, kau tak perlu merasa sedih lagi," kata Yunho. "Karena mulai sekarang, keluarga Jung adalah keluargamu juga."

Jaejoong mengangguk mengerti. Ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Yunho.

Dan keduanya saling berbagi kehangatan hari itu.

"Lihat! Salju turun lagi!"


Jika kau merasa sendiri di dunia ini,

ingatlah bahwa ada seseorang yang selalu membutuhkan kehadiranmu

TBC


Aneh ya, kalo Yonghwa sama Seohyun jadi Kakek-Neneknya Yunho?

Habis, Dee udah stuck ide. Dee gak tahu caranya bikin nama Korea. Takutnya jadi aneh dan salah. Akhirnya, aku pilih mereka berdua aja .

Dan kalo ada yg bertanya-tanya, kenapa marga Junsu dan Jaejoong bisa berbeda, akan dijelaskan lagi di next chap-nya. Karena Dee pingin liat Yunppa keliatan pabbo-nya *dijewer Yunppa*

Gimana menurut kalian momen YunJae-nya? Baguskah? Hehe XD

Mian kalo aneh. Soalnya, Dee nggak romantis dan nggak pernah pacaran *dirajam pacar Dee*

Dee mau curhat, nih. Sebenernya, fic ini udah mau Dee publish dari tadi. Tapi, tiap kali nge-save, gagal melulu dan Dee terpaksa nulis ulang *hiks*

Okelah, Dee cuma mau ngingetin, next chap YunJae mau nikah. Ditunggu, yaa ^^

Dan seperti biasa, Dee menunggu review-nya untuk nambah semangat. Gomawo :)

Love,

Jung Minrin