Maaf kalo update-nya lamaaaa banget. Karena Dee barusan ikut UN, trus file-file ff series Dee di laptop ngilang. Akhirnya, terpaksa Dee tulis ulang -,- Mianhae ya, readers ._.

Dee mau ngucapin banyak terima kasih buat readers yg setia baca, review dan support fic ini. Kalian adalah semangat buat Dee.

Untuk kalian semua, happy reading, ya!


TOKYO

Chapter 6 : Wedding Day

Author

Jung Minrin

Cast

Jung Yunho (26)

Kim Jaejoong (20)

Shim Changmin (17)

Park Yoochun (25)

Kim Junsu (16)

Kim Kibum (48)

Choi Siwon (50)

Naomi (OC-22)

.

.

Hari pernikahan

Hari dimana dua sejoli yang saling mencintai dipersatukan di hadapan Tuhan

Hari dimana dua keluarga dipersatukan dalam ikatan yang lebih luas

Hari dimana hanya ada senyuman, tawa, dan kebahagiaan

Hari dimana rasa sedih dan tangisan disisikan oleh tangis bahagia dan haru

Berhasilkan Jung Yunho dan Kim Jaejoong melewati hari pernikahannya dan merajut hidup baru bersama?

.

.

"Umma sudah berkeliling ke seluruh Seoul dan menemukan 3 hotel terbaik untuk merayakan pesta pernikahan kalian," jelas Kibum pada anaknya, Yunho dan calon menantunya, Jaejoong.

"Hm." Yunho mengangguk mengerti dan mendengarkan penjelasan Umma-nya.

Sementara Jaejoong hanya menunduk dalam-dalam. Ada beberapa hal yang masih mengusik pikirannya.

"Umma sudah membawakan contoh aula dari 3 hotel tersebut," kata Kibum sambil mengambil beberapa lembar foto dan meletakkannya di meja, menunjukkannya pada Yunho dan Jaejoong. "Lihatlah, Yun, Jae."

Yunho mengambil lembaran-lembaran foto yang ditunjukkan Umma-nya. Ia menyikut pelan lengan Jaejoong. "Hei Jae, lihatlah," bisiknya lembut.

"E-eh." Jaejoong seolah baru tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke arah Yunho. "A-ada apa, Yun?" tanya Jaejoong bingung.

Yunho hanya tersenyum kecil, melihat Jaejoong yang tidak fokus. "Lihatlah foto-foto ini, Jae," jelas Yunho sambil menyodorkan foto-foto yang dimaksud.

Jaejoong melihat foto-foto tersebut dengan seksama.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Yunho. "Kau tahu, aku tak pandai dalam hal seperti ini," jelas Yunho.

"Joongie," panggil Kibum lembut pada Jaejoong.

Jaejoong memalingkan wajahnya sejenak ke arah Kibum. "Ne, Umma?"

Kibum tersenyum, lantas bangkit dari duduknya. "Umma pergi ke dapur dulu, ne? Jika sudah menentukan pilihan, bicarakan saja pada Umma. Arrasseo?" pesan Kibum.

Jaejoong tersenyum manis. "Arrasseo, Umma," balasnya sambil mengangguk kecil.

Kibum pun pergi meninggalkan sepasang kekasih itu di ruang tengah rumah keluarga Jung, menuju dapur.

"Jadi?" tanya Yunho pada Jaejoong sekali lagi.

Jaejoong menoleh ke arah Yunho. "Ne?" Jaejoong nampak masih bingung.

Yunho tertawa kecil, lantas mengacak pelan rambut Jaejoong. "Mana yang bagus?" tanya Yunho sekali lagi.

Jaejoong meringis malu. "Oh, ne, ne," balasnya kikuk. Ia pun menundukkan kepalanya dan melhat foto-foto itu sekali lagi.

Diam-diam, Yunho memperhatikan sosok Jaejoong dari jarak yang cukup dekat. Yunho sadar, kalau hubungannya dengan Jaejoong masih belum terlalu intim. Jarang sekali, mereka bergandengan tangan atau berpelukan. Yunho sama sekali bukan ahlinya dalam melakukan skinship, sementara Jaejoong nampak masih malu-malu padanya. Tapi Yunho yakin kalau setelah mereka menikah nanti, hubungan mereka akan semakin membaik. Benar, kan?

"Semuanya nampak bagus," gumam Jaejoong, yang membuyarkan lamunan Yunho.

"Eh?" Yunho menatap Jaejoong lekat-lekat.

Jaejoong menoleh dan menatap mata musang Yunho. Tiba-tiba, detak jantung Jaejoong mulai tidak teratur. Ia pun memutuskan untu segera menundukkan kepalanya. "Semuanya nampak bagus," ucapnya cepat.

Yunho mengernyit bingung dengan sikap Jaejoong. "Oh, ya?"

"Hm, kurasa, aku pun bingung memutuskan yang terbaik," gumam Jaejoong terdengar sedih.

"Coba kulihat," pinta Yunho.

Jaejoong memberikan foto-foto dalam genggaman tangannya.

Yunho memperhatikan foto-foto itu sekali lagi. "Ah, benar juga. Semuanya memang tampak bagus, ya?" gumam Yunho.

"Bagaimana, Joongie?" tanya sebuah suara. "Kau sudah memutuskan?"

Yunho dan Jaejoong mendongakkan kepala serempak. Ternyata, Umma mereka sudah kembali dari dapur sambil membawa nampan yang berisi setoples cookies dan 3 cangkir―entah apa isinya.

"Sepertinya, Jae kebingungan, Umma," balas Yunho, sambil menunjukkan cengiran khas-nya.

"Oh, ya?" Kibum nampak terkejut. Ia pun meletakkan nampannya di atas meja, lantas duduk di atas sofa.

Jaejoong meringis kaku. "Hm, terserah pada Umma saja," celetuk Jaejoong, setengah berbisik, sambil mengembalikan foto-foto tersebut kepada Umma-nya.

Kibum menatap Jaejoong, sambil mengernyit heran. Ia melihat bahwa Jaejoong sama sekali tak bersela hari itu. Ia tersenyum kecil. Bagaimanapun juga, Kibum pernah menjadi seorang calon pengantin. Ada saatnya bagi mereka untuk merasa lelah, jenuh, atau bosan dengan berbagai hal yang dihadapinya. Dan Kibum berusaha memahami keadaan Jaejoong. "Baiklah, kalau begitu," balas Kibum, lanta mengambil foto-foto yang dikembalikan Jaejoong. "Tapi kalau kau ingin mengubah pikiranmu, sampaikan saja pada Umma, ne?" kata Kibum memberitahu.

Jaejoong mengangguk pelan. "Permisi, aku ingin pergi ke kamar dulu, ne?" pamit Jaejoong.

Kibum tersenyum ke arah Jaejoong. "Ne. Istirahatlah saja, Joongie," pesan Kibum pada Jaejoong.

"Ne, Umma," balas Jaejoong. Ia pun bangkit dari duduknya dan pergi ke arah tangga, karena kamar tidurnya berada di lantai 2.

Yunho hanya menatap kepergian calon istrinya itu dengan pandangan bingung.

Setelah Jaejoong menghilang dari pandangan, tiba-tiba saja,

PLUK!

Sebuah bantal melayang dan tepat mengenai wajah tampan Yunho. "Aigo, Umma! Kenapa melemparku dengan bantal?" seru Yunho jengkel.

Kibum mengernyit tak suka. "Reaksi macam apa itu?" tanya Kibum tak suka.

"Maksud Umma?" tanya Yunho bingung.

"Yak, calon istrimu nampak murung seperti itu! Kenapa kau hanya diam saja disini? Kenapa tidak menyusulnya?" gerutu Kibum jengkel. "Dasar Jung pabbo!" hardik Kibum kesal.

"Memangnya, Jaejoong terlihat murung?" tanya Yunho linglung.

Kibum menggeram kesal. "Aish, kenapa kau tak lebih pintar dari Appa-mu, sih? Dasar namja! Sama-sama tidak peka!" cibir Kibum. "Jelas-jelas, kalau Joongie sedang sedih, Jung! Pasti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya," jelas Kibum.

Yunho hanya terdiam di tempatnya.

"Ya! Kenapa diam saja?" tanya Kibum geram. "Cepat susul Joongie ke kamarnya!" seru Kibum kesal.

Yunho mendengus pelan. "Ah, ne, ne," balasnya pasrah. Ia pun beranjak dari sofa dan melangkah menuju kamar Jaejoong. 'Apa yang sedang terjadi pada Jaejoong, ya?'

.

.

"Tangkap!" seru Changmin pada Junsu, sambil melempar sebuah bola basket.

Junsu berusaha melompat tinggi, namun tangannya bahkan tak bisa menyentuh bola basket yang sudah dilempar Changmin ke arahnya. Alhasil, bola itu pun terlempar semakin jauh. Junsu hanya bisa menghentakkan kakinya ke atas tanah, karena kesal. "Aish, menyebalkan!" gerutu Junsu kesal.

Changmin tertawa kecil, lantas mengejar bola basket miliknya. Setelah berhasil menangkap bola basketnya, Changmin pun menghampiri Junsu dan menepuk pelan kepala Junsu. "Berlatihlah, kau pasti bisa," kata Changmin memberitahu.

Junsu mendongakkan kepalanya, karena tubuh Changmin yang memang menjulang tinggi―bahkan lebih tinggi dari Appa dan Hyung-nya. "Aku dilahirkan dengan postur tubuh yang pendek, Hyung," keluh Junsu. "Jadi, bagaimanapun juga aku berlatih, aku tak bisa disejajarkan dengan pemain basket seperti kau," imbuhnya lesu.

Changmin tersenyum kecil, lantas merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Junsu. "Kau tak boleh menyerah," kata Changmin lembut. "Salah satu temanku juga bertubuh pendek, tapi dia bahkan jago melakukan three point shoot," jela Changmin.

Mata Junsu langsung berbinar. "Jeongmal?" tanyanya tak percaya.

"Ne." Changmin mengangguk. "Kalau kau tak percaya, kapan-kapan, aku akan mengajakmu menonton pertandingannya," imbuh Changmin.

"Wah, pasti seru sekali!" seru Junsu riang.

Changmin tersenyum kecil. "Bagaimana kalau kau melatih dribble-mu saja dulu?" tawar Changmin.

"Hm, boleh," jawab Junsu sambil mengangguk lucu. "Tapi, ajari aku ne, Hyung?" tanya Junsu.

"Pasti, Jun-chan," balas Changmin sambil mengacak pelan rambut Junsu. "Nah, ayo!" ajak Changmin.

Junsu pun mengikuti Changmin yang hendak melatihnya.

'Yunho Hyung benar-benar sangat beruntung. Keluarga barunya sangat menyenangkan,' batin Changmin sambil melatih Junsu.

.

.

Jaejoong sedang asyik berguling-guling di bawah selimut tebalnya. Walaupun terkesan kekanakan untuk ukuran namja yang akan menikah, tapi Jaejoong tak peduli. Ia hanya ingin mencari kesenangannya sendiri, berusaha menguapkan berbagai pikiran yang mengganjal.

CKLEK!

Karena terlalu asyik, Jaejoong bahkan tak sadar bahwa seseorang tengah masuk ke dalam kamarnya.

"Jae~"

Jaejoong langsung membeku di tempatnya. Ia langsung bertanya-tanya, 'Siapa yang masuk ke dalam kamar ini?' Jaejoong bisa menduga bahwa orang itu bukanlah Junsu atau Kibum, karena suaranya terdengar berat. 'Bagaimana kalau itu adalah Yunho?' duga Jaejoong. Ah, ia pasti akan sangat malu jika orang itu benar-benar Yunho.

"Jae," panggil suara itu sekali lagi.

Kini, Jaejoong bisa merasakan ada pergerakan di atas ranjang. Dan selimutnya mulai terbuka. "Kyaa!" seru Jaejoong kaget.

Yunho hanya terkikik geli. "Aigo, Jae. Apakah aku mengagetkanmu?" tanya Yunho.

Jaejoong meringis, lantas memperbaiki posisinya, sehingga terduduk di atas ranjang. "A-ani," balasnya gugup. "A-ada apa, Yun?" tanya Jaejoong.

Yunho menggaruk tengkuknya. "Ah, bagaimana, ya?" gumamnya.

Jaejoong mengernyit heran, melihat kebingungan Yunho.

Yunho menatap Jaejoong lekat-lekat. "Jae, apakah ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu?" tanya Yunho takut-takut.

"Eh?" Jaejoong terkejut, karena Yunho menanyakan hal semacam itu padanya. "Hm, tidak, kok," jawab Jaejoong bohong. Jujur saja, ada sesuatu yang mengganjal hatinya.

Yunho mengangguk mengerti. "Begitu, ya?" gumamnya. "Oiya Jae, kau tahu kan?"

"Tahu apa?" tanya Jaejoong bingung.

Yunho tersenyum kecil. "Kalau ada apa-apa, kau bisa menceritakannya padaku. Ingatlah, aku adalah kekasihmu. Arra?" kata Yunho mengingatkan.

Jaejoong memandang Yunho tanpa berkedip selama sekian detik, lantas tersenyum kecil. "Ne, aku mengerti," balasnya lirih.

Yunho menghela nafas. "Baiklah, ka―"

"Sebenarnya," potong Jaejoong dengan suara pelannya.

Yunho kembali menatap Jaejoong.

"Ada sesuatu yang menggangu pikiranku," ungkap Jaejoong.

Yunho pun memperhatikan kekasihnya dengan seksama. "Jadi, ada apa, Jae?" tanya Yunho cemas.

"B-bukan hal yang penting, kok," elak Jaejoong.

Yunho nampak semakin cemas. "Gwaenchana, ceritakan saja padaku," tegas Yunho. "Ingat, kita adalah sepasang kekasih."

Jaejoong bimbang. 'Haruskah aku menceritakannya pada Yunho?' tanyanya dalam hati. "Hm, begini, Yun..." Jaejoong menggigit bibir bawahnya. "Tentang pernikahan itu..."

"Ada apa dengan pernikahan?" tanya Yunho penasaran.

Jaejoong masih terdiam, sibuk merangkai kata yang tepat untuk disampaikan pada Yunho.

"A-apa kau belum siap menikah?" tanya Yunho sedih.

"Eh! Buk-bukan begitu," jawab Jaejoong cepat, sambil menggeleng kuat-kuat. "S-sebenarnya, aku ingin melangsungkan pernikahan kita di Jepang," ungkap Jaejoong lirih.

"Mwo?!" Yunho nampak terkejut.

"K-kalau kau tidak mau, tidak apa-apa, kok," jelas Jaejoong. Ia menatap Yunho, sambil memaksakan sebuah senyuman.

"Kenapa kau tidak mengatakannya sejak beberapa hari yang lalu, Jae?" tanya Yunho lembut.

Jaejoong menggaruk tengkuknya. "Ah, aku pasti mengacaukan semuanya, ya?" gumamnya. "Pernikahan di Seoul pun tak apa, Yun," ucap Jaejoong.

Yunho tersenyum kecil. "Tidak. Kau tidak mengacaukan apa-apa. Semuanya masih bisa diatur, Jae," jelas Yunho.

"T-tapi..."

"Aku tak ingin melihat pengantinku sedih di hari pernikahannya nanti," potong Yunho.

Jaejoong menatap Yunho lekat-lekat. "Apa kau tidak apa-apa?" tanya Jaejoong khawatir.

"Asal kau adalah pengantinku, aku akan baik-baik saja, Jae."

Dan semburat merah mulai menyeruak di pipi Jaejoong.

.

.

"Umma," panggil Yunho pada Kibum yang sedang memasak di dapur dengan para maid.

Kibum membalik tubuhnya. "Ada apa, Yun?" tanyanya.

"Bisakah aku berbicara dengan Umma?" tanya Yunho. "Tapi tidak disini," jelas Yunho.

"Oh, baiklah," balas Kibum. Ia pun melepaskan apron yang dikenakannya. "Tolong lanjutkan, ne?" pesan Kibum pada para maid.

Para maid pun mengangguk patuh, lantas melanjutkan pekerjaan mereka.

"Ke taman belakang saja ya, Umma?" pinta Yunho.

"Ne, terserah kau," balas Kibum.

Sepasan ibu-anak itu pun pergi ke taman belakang rumah dan memutuskan untuk duduk di bangku taman yang tersedia.

"Memangnya, ada apa, Yun?" tanya Kibum pada Yunho.

"Aku tahu, apa yang mengganggu Jaejoong, Umma," jelas Yunho.

"Eh? Memangnya, apa?" tanya Kibum penasaran.

Yunho menarik nafas dalam-dalam. "Ternyata, Jaejoong ingin melangsungkan pernikahannya di Jepang, Umma," jelas Yunho.

"Begitukah?" Kibum nampak terpana.

Yunho mengangguk. "Umma, kumohon, biarkan kami menikah di Jepang, ne?" mohon Yunho.

Kibum tersenyum kecil, lantas menepuk pundak putranya. "Dasar bodoh! Tentu saja, Umma mengijinkannya!"

.

.

Jam 10 nanti, temui aku di taman dekat kantor Appa, ne?

Kekasihmu,

Jung Yunho ^^

Jaejoong seperti tak bosan, meskipun sudah berulang kali membaca secari kertas yang berisikan pesan dari Yunho. Pesan itu selalu berhasil membuatnya tersenyum kecil. Dan setiap kali membacanya, Jaejoong pasti membayangkan kalau Yunho mengucapkannya secara langsung. 'Pasti akan terlihat lucu,' pikir Jaejoong.

Jaejoong mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kini, ia sudah berada di taman yang dimaksud Yunho. Jaejoong sudah pernah ke taman ini dengan Yunho sebelumnya dan Jaejoong juga sudah lumayan hafal dengan letak kantor Appa-nya, Jung Siwon. Jadi, Jaejoong bisa menemukan taman yang dimaksud dengan mudah.

Jaejoong sudah terduduk disana selama 10 menit, namun Yunho belum mun―

"Jae!" panggil sebuah suara, yang kedengaran seperti suara Yunho

Jaejoong mengedarkan pandangannya sekali lagi. Dilihatnya Yunho yang berjalan ke arahnya sambil melambaikan tangannya. Jaejoong tersenyum dan membalas lambaian tangan Yunho.

Yunho langsung melihat jam tangannya, ketika tiba di depan Jaejoong. "Ah, aku terlambat 10 menit, ya?" gumam Yunho.

Jaejoong tersenyum kecil. "Gwaenchana," balas Jaejoong lembut. "Duduklah dulu, Yun," kata Jaejoong sambil menepuk pelan sisa tempat duduk di sampingnya.

Yunho mengangguk cepat, lantas duduk di samping Jaejoong.

"Memangnya, ada apa memintaku datang kemari?" tanya Jaejoong penasaran.

Yunho menatap Jaejoong, lanta terkekeh pelan. "Aku ingin memberimu kejutan," ucap Yunho misterius.

"Oh?"

"Tutuplah matamu, Jae," pinta Yunho.

Jaejoong pun menutup matanya. Ia penasaran dengan kejutan yang akan diberikan oleh Yunho.

Tak lama, Yunho pun kembali bersuara, "Nah, sekarang bukalah matamu!"

Jaejoong membuka matanya perlahan. Dilihatnya Yunho yang membawa beberapa lembar kertas. Jaejoong mengernyit bingung. "Apa ini?"

Yunho tersenyum kecil. "Kejutan untukmu!" seru Yunho senang. "Lihatlah!" Yunho menyodorkan lembaran-lembaran kertas tersebut pada Jaejoong.

Jaejoong mengambil kertas-kertas tersebut dan memperhatikannya dengan seksama. "T-tiket ke Jepang?" Jaejoong nampak terkejut.

"Ne!" balas Yunho mantap. "Karena kau menginginkan pernikahan di Jepang, maka aku akan mewujudkannya untukmu, Jae," jelas Yunho. "Kau senang?"

"T-tapi, aku..." Jaejoong menatap tak percaya ke arah tiket-tiket tersebut. "Ah, gomawo, Yunho!" seru Jaejoong senang, lantas menghambur dan memeluk Yunho dengan erat. "Gomawo, gomawo!" seru Jaejoong sekali lagi.

Yunho tertawa pelan. "Ne, ne. Apapun untukmu, Jae," balas Yunho.

Jaejoong mengeratkan pelukannya pada tubuh Yunho, seolah menyampaikan rasa senangnya. Tiba-tiba, ia merasa sesuatu yang aneh menjalari tubuhnya. 'Hangat sekali.'

.

.

"Yeay! Jadi, kita akan pergi ke Jepang!" seru Junsu girang.

Changmin tertawa melihat tingkah dongsaeng barunya. Ia pun menepuk pelan pundak Junsu. "Ne, ne. Kita akan pergi ke rumahmu," balas Changmin.

Junsu masih terkekeh, karena terlalu senang. "Eh, tapi rumahku dan rumah Nii-chan tidak besar. Apa cukup?" tanya Junsu dengan polosnya.

Changmin kembali tertawa. "Kita akan tinggal di mansion keluarga Jung disana," balas Changmin. "Kau pasti senang, karena tempatnya sangat luas. Ada lapangan untuk bermain basket dan sepak bola. Ada kolam renang juga!" jelas Changmin dengan penuh semangat.

"Ah, jeongmal?" Junsu pun nampak tertarik. "Eh, tapi aku rindu dengan rumahku, Hyung," jelas Junsu murung.

Changmin berusaha mengerti perasaan Junsu. "Tentu saja, kau masih bisa mengunjungi rumahmu," timpal Changmin.

"Eh?"

"Ne. Dan jangan lupa, ajak aku menginap di rumahmu, ya?" mohon Changmin.

Junsu tertawa senang. "Tentu saja, Hyung!" seru Junsu senang. "Ah, aku benar-benar merindukan Jepang," gumam Junsu.

"Jepang pasti sangat indah, ya?" balas Changmin.

"Hm." Junsu mengangguk setuju. "Dan aku juga merindukan Paman Jidat Lebar!"

"Eh? Siapa itu Paman Jidat Lebar?"

.

.

"Wah, kau terlihat sangat tampan, Yunho-kun," puji Naomi yang memperhatikan Yunho dalam balutan pakaian pernikahannya. Naomi menyikut Jaejoong yang berdiri di sampingnya. "Lihatlah, Jae-chan, calon suami sangat tampan, ya?" tanya Naomi pada Jaejoong.

Jaejoong mendongakkan kepalanya perlahan. Dilihatnya sosok Yunho dengan malu-malu. "Ah, iya. Dia memang sangat tampan," balas Jaejoong, lantas menundukkan kepalanya kembali. Jaejoong mengakui bahwa Yunho sangat tampan dengan menggunakan pakaian tersebut. Hal ini membuat Jaejoong sedikit iri, 'Apakah aku pantas bersanding dengannya?'

"Ah, biasa saja," balas Yunho sambil mengibaskan tangannya.

Naomi hanya terkikik geli melihat sikap sepasang kekasih yang masih terkesan malu-malu itu. Hari itu, sesuai permintaan Kibum, Naomi pun menemani Yunho dan Jaejoong untuk melakukan fitting baju pengantin. "Nah, Jae-chan, sekarang saatnya untukmu mencoba bajumu," kata Naomi mengingatkan.

"E-eh. Iya," balas Jaejoong. Jaejoong pun melangkahkan kakinya menuju salah satu shop assistant yang siap membantunya untuk mencoba baju pengantinnya. Jaejoong pun masuk ke dalam kamar pas. Ia menatap lekat-lekat ke arah baju pengantinnya, nampak ragu.

Baju pengantin yang akan dikenakan Jaejoong di hari pernikahannya adalah kemeja berwarna merah muda yang akan dibalut dengan jas berwarna putih bersih. Jaejoong juga akan mengenakan celana penjang berwarna senada dengan jas yang dikenakannya.

'Pakaian ini sangat indah,' pikir Jaejoong. 'Memangnya, aku pantas memakainya?' batin Jaejoong ragu.

Karena tak ingin membuat Yunho dan Naomi terlalu lama menunggu, akhirnya Jaejoong pun segera menanggalkan seluruh pakaian yang sedang dikenakannya dan kembali membalut tubuh polosnya dengan baju pengantinnya.

Jaejoong pun mematut tubuhnya di cermin yang tersedia di dalam kamar pas. 'Oh, aku terlihat sangat aneh,' batinnya.

Dengan gugup, Jaejoong pun membalik tubuhnya dan membuka kamar pasnya. Ia hanya bisa menunduk dalam-dalam, tak ingin melihat reaksi yang ditunjukkan oleh orang-orang yang melihatnya.

"Whoa!" seru sebuah suara. "Yunho-kun, lihatlah Jae-chan! Calon istrimu terlihat sangat manis, ya?"

Jaejoong merasa pipinya mulai memanas. 'Ya Tuhan, memangnya, rupaku seperti apa?'

"Jae?" panggil sebuah suara yang dikenali Jaejoong sebagai suara Yunho. "Ya Tuhan, kau terlihat cantik sekali," puji Yunho.

Jaejoong mengangkat wajahnya perlahan. Mata doe-nya bertemu dengan mata musang milik Yunho. Dilihatnya Yunho yang seolah menatapnya tanpa berkedip sedikitpun, membuat Jaejoong semakin malu.

"Kemarilah, Jae," pinta Yunho.

Dengan langkah gugup, Jaejoong pun berjalan mendekati Yunho. "A-aku malu, Yun," bisik Jaejoong pelan.

Yunho tertawa pelan, lantas mengangkat wajah Jaejoong. "Kenapa harus malu? Kau terlihat sangat cantik, Kim Jaejoong," puji Yunho sekali lagi.

Kali ini, Jaejoong sama sekali tak bisa menyembunyikan rona merah di kedua pipinya, karena Yunho sedang menahan wajahnya.

"Nah, kan. Jae-chan memang terlihat manis dan cantik," timpal Naomi. "Dan kalian pun terlihat sangat serasi," imbuh Naomi. "Lihatlah ke cermin!" perintah Naomi.

Yunho pun memutar tubuh Jaejoong agar keduanya sama-sama menghadap ke cermin. "Lihatlah! Kau sangat cantik, Jae," bisik Yunho di telinga Jaejoong.

Jaejoong memperhatikan pantulan tubuhnya di cermin. 'A-apa aku memang secantik itu?' Jaejoong melirik ke arah pantulan tubuh Yunho di cermin. Namja itu pun nampak gagah dan tampan. 'Apa aku benar-benar terlihat serasi dengannya?'

"Aku memang tak salah memilihmu, Kim Jaejoong," bisik Yunho senang, tepat di telinga Jaejoong.

.

.

"Wah, aulanya sangat besar!" gumam Junsu yang memandang takjub ke seluruh penjuru aula yang akan digunakan untuk pesta pernikahan Hyung-nya.

Banyak orang yang berlalu lalang di dalam aula, sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ada yang menata meja-meja untuk makanan yang dihidangkan. Ada yang merangkai bunga-bunga indah. Ada yang menata tempat duduk.

'Pernikahannya pasti sangat ramai," pikir Junsu senang. Ya, Junsu sangat senang dengan keramaian.

"Hei, Junsu!" panggil sebuah suara.

Junsu pun menoleh ke belakang. "Paman Jidat Lebar!" seru Junsu senang, ketika menyadari sosok yang berdiri di belakangnya adalah Park Yoochun.

Yoochun mengernyit tak suka. "Hei, hei, sudah kubilang, jangan memanggilku begitu," gerutu Yoochun kesal. "Panggil aku Nii-san!" pinta Yoochun.

Junsu tertawa pelan. "Baiklah. Hai, Yoochun Nii-san!" sapa Junsu. "Aku sangat merindukan Nii-san," jelas Junsu.

"Oh, ya?" Yoochun mengerjap takjub. "Hm, tapi kau pasti melewatkan waktu yang indah di Seoul, ya?" tebak Yoochun.

Junsu mengangguk dengan penuh semangat. "Tentu saja! Changmin Hyung dan Siwon Appa sangat baik padaku!" jelas Junsu.

"Kau juga bertemu dengan Changmin?" tanya Yoochun.

"Ya. Dia juga menemaniku kesini, kok," jelas Junsu. "Tapi dia sedang pergi sebentar ke toilet."

Yoochun mengangguk mengerti. "Wah, Nii-san-mu akan segera menikah, ya?" gumam Yoochun, sambil memandang keramaian di sekitarnya.

"Benar, Nii-san!" jawab Junsu. "Suatu saat nanti, aku juga akan menikah, seperti Jae Nii-san," ucap Junsu semangat.

"Kalau begitu, menikah saja denganku!" celetuk Yoochun.

"Yak! Kau kan, sudah tua!"

.

.

Jaejoong menatap ke arah langit malam yang ditaburi bintang-bintang. Ia sedang duduk di dekat jendela kamarnya. Ya, akhirnya Jaejoong kembali lagi ke rumahnya yang mungil, namun selalu berhasil memberikan ketenangan dan kedamaian bagi dirinya.

Besok adalah hari pernikahan Jaejoong dan Yunho. Karena itulah, Jaejoong ingin kembali ke rumahnya dan menghabiskan sisa waktunya sebagai seorang lajang di rumahnya, sambil menenangkan pikirannya sebelum hari panjang yang harus dilaluinya.

Jaejoong mengelus dinding rumahnya yang dicat dengan warna putih bersih. "Sebentar lagi, aku akan meninggalkanmu," gumamnya, seolah berbicara pada rumahnya. "Jujur saja, aku sangat menyayangimu. Tapi, aku harus pergi dan ikut dengan suamiku, Jung Yunho," lanjutnya. "Tenang saja, aku yakin, kalau Yunho adalah pria yang baik. Sangat baik," jelas Jaejoong. "Keluarganya juga sangat baik padaku dan Junsu. Jadi, kau tak perlu mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja."

Jaejoong merasakan air mata yang menggenangi mata doenya. "Aku tetap mengunjungimu disini. Jadi, jagalah dirimu baik-baik, ya?" mohon Jaejoong. Jaejoong tak bisa membendung air matanya lagi. Perlahan, air matanya mengalir di pipinya yang mulus.

Jaejoong sama sekali bukan orang yang cengeng atau sensitif. Hanya saja, ia sudah menyayangi rumahnya seperti ia menyayangi Junsu. Rumahnya sudah menjadi bagian dalam hidupnya, seperti keluarganya saja.

Jaejoong memeluk tubuhnya sendiri, berusaha menghangatkan tubuhnya yang mulai menggigil karena udara dingin yang masuk melalui jendela yang terbuka.

'Andaikan keluargaku masih ada di dunia ini,' harap Jaejoong dalam hati. "Umma, Appa, dimanapun kalian berada, kuharap kalian berbahagia, karena disini, Joongie juga bahagia," ucap Jaejoong. "Joongie selalu mencintai kalian."

Dan seketika, Jaejoong merasa tubuhnya semakin hangat. Seolah keluarganya pun berada disana dan memberikan pelukan hangat untuknya hingga ia pun terlelap.

.

.

Yunho sudah berdiri di depan altar dengan didampingi oleh Yoochun, sebagai pendamping prianya. Ia menatap ke arah pintu gereja, tempatnya melangsungkan pernikahan. Sungguh, ia tak sabar untuk menunggu Jaejoong. Namun, disisi lain, ia juga merasa sangat gugup untuk melangsungkan pernikahan ini.

Tak lama, Jaejoong pun muncul dari balik pintu gereja dengan didampingi oleh Matsura Keiichi, seorang pria paruh baya yang menjadi wali Jaejoong. Jaejoong nampak semakin cantik. Bahkan, pria itu terlihat lebih cantik, dibanding dengan saat mereka mencoba baju pengantin mereka di butik.

Jaejoong terus berjalan ke arah altar dengan anggun, sambil menyunggingkan sebuah senyuman indah.

Seluruh tamu undangan yang hadir di dalam gereja pun nampak takjub dengan penampilan Jaejoong, yang kecantikannya mengalahhkan seorang wanita sekalipun.

Matsura dan Jaejoong pun sudah tiba di depan altar.

Matsura menyerahkan Jaejoong pada Yunho. "Yunho-san, kutitipkan Jaejoong padamu. Kuharap, kau bisa menjaganya dengan baik," pesannya pada Yunho.

"Dengan segenap jiwa dan ragaku, Paman," balas Yunho mantap.

Kini, Yunho dan Jaejoong pun menghadap ke arah pendeta dan bersiap mengucap janji pernikahan.

Pendeta pun memulai pernikahan tersebut. Hingga akhirnya, "Jung Yunho, apakah kau akan menerima Kim Jaejoong dalam keadaan senang dan sedih, sehat dan sakit, atau kaya dan miskin?" tanya sang pendeta pada Yunho.

"Ya. Saya bersedia," jawab Yunho mantap.

"Kim Jaejoong, apakah kau akan menerima Jung Yunho dalam keadaan senang dan sedih, sehat dan sakit, atau kaya dan miskin?" tanya sang pendeta pada Jaejoong.

"Saya bersedia," jawab Jaejoong dengan suara lembutnya, namun tetap terkesan yakin.

"Dengan begitu, kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri," ucap sang pendeta senang.

Dan tamu undangan pun ikut berbahagia. Apalagi, Kibum, Siwon, Jung Halmeoni, Junsu dan Changmin, sebagai keluarga terdekat Yunho dan Jaejoong. Yoochun, Naomi dan Akira yang juga menghadiri pernikahan tersebut pun tampak bahagia atas pernikahan teman mereka.

"Tuan Jung, Anda dipersilakan mencium istri Anda," bisik sang pendeta pada Yunho.

Yunho menoleh ke arah Jaejoong.

Jaejoong pun balas menoleh ke arah Yunho. Ia sangat gugup, karena Yunho akan menciumnya dan itu adalah ciuman pertama Jaejoong.

Yunho pun mendekatkan wajahnya ke wajah Jaejoong. Dan...

CHU~

Yunho mencium kening Jaejoong dengan lembut. "Aku akan melakukannya jika kau benar-benar sudah siap, Jae," bisik Yunho.

Jaejoong tersenyum kecil. Ia senang karena menikah dengan pria yang begitu perhatian dengannya.

.

.

Jaejoong menghela nafas panjang. Ia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah, setelah mandi. Ia merasa sangat lelah, setelah melewati berbagai rangkaian acara pernikahannya yang melelahkan.

Kini, Jaejoong sedang berada di kamar hotel yang dikhususkan untuk kamar pengantinnya dengan Yunho.

Sementara Yunho?

Oh, Yunho sedang berbincang sebentar dengan beberapa relasinya.

CKLEK!

Jaejoong tersentak kaget, ketika pintu kamar hotelnya terbuka.

"Jae..." panggil Yunho, yang muncul dari balik pintu.

"Oh, hai, Yun," balas Jaejoong kikuk.

Yunho melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. "Kau sudah mandi?" tanya Yunho memastikan.

Jaejoong hanya mengangguk sebagai jawabannya.

"Kalau begitu, aku akan mandi sekarang," ucap Yunho. "Kau tahu, dimana piyamaku, Jae?" tanya Yunho.

"Hm, aku sudah meletakkannya di kamar mandi," jelas Jaejoong lembut.

"Ah, arigatou, Jae," balas Yunho. Yunho pun melesat ke dalam kamar mandi.

Jaejoong mengelus dadanya perlahan. "Aduh, ada apa dengan jantungku ini?" gumam Jaejoong. Ya, detak jantungnya memang mulai tidak teratur, sejak Yunho masuk ke dalam kamar.

Tiba-tiba, Jaejoong teringat akan perbincangannya dengan Naomi dan Kibum Umma tentang malam pertama.

'Wah, malam ini adalah malam pertama Jae-chan, bukan?'

'Ish, Naomi. Kau membuat Joongie malu!'

'Ahjumma, bagaimanapun juga, Jae-chan dan Yunho-kun akan melewatkan malam pertamanya, bukan?'

'Ah, benar juga, sih. Joongie, kau harus berhati-hati, ne?'

'Memangnya, kenapa Umma?'

'Karena malam pertama itu, rasanya akan sangat sakit. Tapi selanjutnya, akan terasa nikmat.'

'Begitukah?'

'Ne. Yang paling penting, kau harus menyenangkan Yunho, ya? Umma dan Appa sudah tak sabar menimang cucu dari kalian.'

'Aku juga tak sabar melihat keponakanku.'

Mengingatnya saja, bisa membuat pipi Jaejoong merona merah. Jaejoong yang polos pun mulai berpikiran mesum mengenai apa saja yang akan dilakukannya dengan Yunho malam ini.

Jaejoong menutup wajahnya dengan kedua tangannya, karena menahan malu. "Ya Tuhan, kenapa aku berpikirkan jorok seperti itu?"

Setelah memastikan bahwa tubuhnya sudah bersih dan rapi, Jaejoong pun mulau membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia pun bimbang. Rasanya, ia sudah sangat mengantuk. Tapi, Kibum Umma mengatakan bahwa ia harus menyenangkan Yunho. Itu berarti bahwa Jaejoong benar-benar akan melewati malam pertama dengan Yunho, kan?

Namun, ketika membayangkan kata 'sakit' yang disampaikan oleh Kibum Umma, Jaejoong pun mulai ketakutan. Ia mencoba memejamkan matanya, berharap ia bisa segera tertidur dan tak perlu melewatkan malam pertamanya dengan Yunho malam itu juga.

CKLEK!

Terdengar suara pintu terbuka.

'Itu pasti Yunho,' tebak Jaejoong. Jaejoong pun memposisikan tubuhnya, seolah ia sudah tertidur pulas.

"Jae?" panggil Yunho.

Jaejoong menahan dirinya untuk tidak menjawab panggilan suaminya.

"Oh? Kau sudah tidur, ya?" gumam Yunho.

Jaejoong mendesah lega, karena Yunho tidak mencurigainya. Tak lama, Jaejoong merasa ranjangnya bergerak pelan, tanda bahwa Yunho sudah naik ke atas ranjang.

Yunho merebahkan tubuhnya di samping Jaejoong. Ia menatap Jaejoong lekat-lekat. "Kau cantik sekali, Jae," bisiknya lembut. Lantas, Yunho pun melingkarkan lengannya di pinggang Jaejoong dan menarik tubuh Jaejoong mendekat ke arahnya.

Jaejoong menggeliat resah. "Y-yun..."

"Jae, maaf kalau aku membangunkanmu," ucap Yunho menyesal.

Jaejoong membuka matanya perlahan. "Yunho, k-kau tidak..."

Yunho mengernyit. "Tidak apa, Jae?"

"Kau t-tidak akan melakukan 'i-itu', ya?" tanya Jaejoong gugup.

Yunho semakin bingung. "Itu apa?"

"M-maksudku, m-malam pertama," jelas Jaejoong malu-malu.

Yunho tertawa pelan. "Tidak, mungkin tidak sekarang, Jae," balas Yunho lembut. "Kau pasti masih lelah, kan? Kita bisa melakukannya kapanpun, Jae. Asalkan kau sudah siap," jelas Yunho.

Jaejoong memberanikan diri menatap Yunho. "B-benarkah?"

Yunho mengangguk pasti. "Nah, sekarang, kita tidur, ya?" ajak Yunho.

Jaejoong mengangguk.

"Tapi, bolehkah aku memelukmu begini?" tanya Yunho lembut.

Jaejoong berpikir sejenak, lantas mengangguk malu-malu.

Yunho tersenyum senang, lantas mengecup pipi Jaejoong sekilas. "Arigatou, Jae," bisiknya lembut.

Keduanya pun mulai memejamkan mata dan bersiap terbang ke alam mimpi, dengan Yunho yang senantiasa memeluk tubuh Jaejoong.

TBC

Apakah YunJae Shipper ikut hadir dalam pernikahan YunJae? Dee udah sebarin undangannya ke kalian semua, lho /plak/

Maaf, kalo tadi ada kesalahan-kesalahan dalam tata cara pernikahan. Dee nggak pernah nikah, jadinya nggak tahu, haha XD

Dee mau jelasin, kalo disini, hubungan Changmin dan Junsu itu kayak saudara aja. Jadi, nggak bakalan ada cinta di antara mereka. Biarkan Jun-chan dengan Chunnie Oppa :) Dan Changmin sama Dee aja /plak/ Maksudnya, Changmin sama seseorang yang udah Dee siapin nantinya ^^ Jadi, sabar aja, ne?

Terus, apakah suatau saat nanti, readers mengharapkan 'ehem' diantara YunJae. Yah, rating-nya naik dikit gitulah. Meskipun Dee nggak yakin bisa bikinnya, sih. Tapi, kalau readers berminat, silakan bilang aja, hoho ^o^

Oiya, apakah penceritaan Dee terlalu cepat? Apakah tulisan Dee aneh atau jelek? Maaf, ini semua karena Dee lama nggak nulis. Mood lagi jatuh juga setelah sadar kalau file-file ngilang -,- Tolong semangatin Dee, supaya tulisan Dee makin bagus, dengan nulis review kalian. Okay?

Love,

Jung Minrin