The Serial
Virus
Severus Snape dan Harry Potter adalah kepunyaan JK Rowling
Kisah kehidupan sehari-hari, minus konflik. Bisa diartikan sebagai sequel nan damai dari 'Pulang'. Dapat dibaca satu persatu secara lepas
Ditulis setelah membaca popwatch [.] ew [.] com [/] 2011 [/] 11 [/] 18 [/] daniel-radcliffe-alan-rickman-seminar-photo [/] yang gambarnya asli Severitus banget. Dan katanya, abis ditengok Daniel, Alan sakit...
-o0o-
Pertengahan November yang dingin. Salju belum lagi musimnya, tetapi angin sudah menggigit, dan pepohonan sudah nyaris habis daunnya, rontok mencapai tanah.
Ke sebuah perumahan Muggle yang kumuh, di tepi sebuah sungai yang kecil, kotor dan tidak terawat, Harry menuju. Sepertinya dia sudah terbiasa ke sana.
PLOP!
Bahkan dia tidak mengetuk pintu seperti lazimnya tamu, melainkan langsung ber-Apparate ke ruangan bawah tanahnya. Pertanda sudah biasa. Tapi—
—ruang bawah tanah itu sepi. Dingin dan lembab seperti biasanya ruang bawah tanah jika tak ada kegiatan di dalamnya. Tak ada orang, tak ada nyala api di bawah kuali, tak ada gerakan memotong dan meracik bahan ramuan, tak ada kesibukan apa-apa.
Harry tercenung sejenak.
Rasanya Dad tidak memberitahu bahwa ia akan pergi.
Pelan dan berusaha tanpa suara, Harry bergerak ke lantai utama. Masuk ke dalam rumah sebenarnya.
Di dapur juga tak ada siapa-siapa, tak ada kegiatan apa-apa. Malah sepertinya sebuah jendela tak tertutup rapat, dan angin menghembus masuk. Dingin dari luar terbawa.
Selain dari suara angin, tak ada suara apa-apa sepertinya dari dalam rumah.
Tapi—Harry berusaha menajamkan pendengaran dan perasaan—sepertinya rumah tidak benar-benar ditinggalkan. Ada seseorang—atau mungkin sesuatu—di tengah rumah.
Perlahan Harry berjalan masuk ke ruang tengah.
Ya, di sofa Harry melihatnya. Harry belum pernah melihatnya seperti ini sebelumnya. Tidak, dulu memang ia berhari-hari melihatnya terbaring koma di ruang tahanan Wizengamot, tetapi tidak seperti ini.
Sepertinya tak berniat tidur, tetapi terlalu mengantuk sehingga bahkan di lantai di sisinya nampak sebuah buku dengan posisi terlipat tidak rapi. Posisi khas buku yang terjatuh. Dan bukan kebiasaan Severus.
Dan sepertinya terlalu mengantuk juga bukan merupakan kebiasaan Severus.
Harry berjingkat mendekatinya.
Tidak bergerak. Seperti tidak merasakan kehadirannya.
Juga bukan kebiasaan Severus. Tidak biasanya ambang kewaspadaannya turun begini rendah.
Hati-hati Harry berlutut, mengamatinya lebih jelas.
Tidurnya lelap, tetapi sepertinya tidak wajar. Bukan tidur lelap karena kelelahan.
Harry menjulurkan tangannya. Punggung tangannya didekatkan di kening Severus. Hati-hati.
Tapi tetap saja ia terkejut.
Panas.
Sepertinya 39°. Atau bahkan lebih?
Harry menarik tongkatnya dari balik ikat pinggangnya, menggerakkannya, dan keluar sebuah termometer. Diletakkannya hati-hati di ketiak. Ditunggunya beberapa menit—dan selama itu Severus bahkan tak merasakan kehadirannya—lalu dilihat angkanya.
39,5°.
Hati-hati Harry menyimpan termometernya di meja dekatnya. Kembali ke dapur perlahan, ia mencari sebuah wadah, mengisinya dengan air, dan mencari kain yang bersih dari laci. Kembali ke ruang tengah, masih hati-hati, ia mengompres kening Severus.
Ditinggalkannya Severus ke dapur, dan ia menjerang air sebuah kuali kecil. Bahan-bahan untuk ramuan pilek biasa saja sih dia sudah tahu. Ada di pelajaran Ramuan entah di kelas berapa, tapi agak aneh juga membuatnya sendiri, justru membuat untuk guru Ramuannya dulu. Tetapi tanpa tekanan, tanpa ketakutan akan memasukkan bahan yang salah dan dimarahi atau bahkan didetensi.
Dikecilkan sekali apinya, dan ditutupnya.
Ada sesuatu yang kurang.
Bahan ramuan sih di sini banyak. Tetapi, untuk hidup, orang kan tidak bisa hanya mengandalkan bahan ramuan. Orang perlu makan.
Sekilas Harry mengedarkan pandangan ke seluruh dapur. Nampaknya tak ada apapun yang bisa dimakan.
Oke, sepertinya Dad tak akan apa-apa ditinggalkan beberapa waktu lagi, pikir Harry.
PLOP!
Dia menghilang.
-o0o-
PLOP!
Bayangan itu kembali, kali ini tidak masuk ke ruang bawah tanah, melainkan ke ruang tengah. Membawa sebuah keranjang besar, sepertinya lumayan berat. Tapi diletakkannya saja di lantai. Ia bergegas mendekati sosok yang masih terbaring di sofa.
Dan kali ini sosok itu bergerak.
"Harry?"
"Dad! Kau sudah bangun—"
"Memangnya apa—dan ini apa?" Severus meraih kompres yang sekarang sudah nyaris mengering, suhu panasnya sudah beralih dari kening ke kompres.
"Tadi aku ke sini, dan kau sedang tidur. Tapi sepertinya ambang kewaspadaanmu turun. Biasanya kau akan langsung tahu kalau aku datang, sedang ini—"
Severus berusaha bangkit. Harry menolongnya agar bisa duduk tegak. Ya. Sepertinya tiga hari berturut-turut mengumpulkan bahan ramuan di tengah angin musim gugur plus sedikit melalaikan waktu makan, bisa membuatnya tumbang. Apalagi, dalam usia sekarang ini—
Harry bangkit dan mengecek ramuan yang tadi dibuatnya di dapur. OK, sudah siap. Dimatikannya api kecil itu. Lalu dituangkan ramuannya di sebuah piala. Masih panas, baru diangkat. Tapi dibawanya juga ke ruang tengah. Diletakkannya di meja.
"Mudah-mudahan ramuannya benar," Harry nyengir.
Severus tidak menjawab, tetapi salah satu sudut bibirnya sedikit naik, menyeringai. Harry menggaruk-garuk kepala tak gatal. Tapi bau ramuan itu sudah menyebar sejak dari tadi ke seluruh rumah, sepertinya Severus bisa menebak jika ada bahan yang salah dimasukkan.
"Kau harus makan dulu, Dad," Harry membuka keranjangnya. Penuh ketat. Sepertinya Ginny memasukkan apa saja yang bisa dimasukkan.
Sebuah panci berisi sup bawang yang masih panas berkepul begitu dibuka tutupnya. Berikut sebongkah roti untuk penyertanya. Sebuah pie daging yang besar. Entah berapa potong roti isi. Sebuah poci teh jahe.
"Harry, ini semua untuk siapa?"
"Untukmu, jelas. Kau harus banyak makan—"
Severus menggeleng-gelengkan kepala. "Ini persediaan untuk berapa hari, banyak sekali—"
"Ginny bilang, ini harus dihabiskan dalam waktu sehari. Besok akan ada stok baru lagi—" Harry berjalan ke dapur, mengeluarkan sebuah mangkok, sebuah piala, sendok, pisau, piring, dan entah apa lagi. "Mau yang mana dulu? Sepertinya sup bawang dulu ya, dengan roti. Habis itu, minum obatmu. Sesudah itu, beristirahat di kamar, jangan di sini, kau bisa masuk angin lagi, Dad! Kalau perlu tidur lagi. Bangun nanti, makan lagi—"
Severus berusaha untuk protes, tapi sepertinya Harry tak mau mendengar. Menuang sup ke mangkuk, ia bahkan mau menyuapi. Menolak dengan tegas, Severus berusaha untuk makan sendiri.
Di antara suapannya, Severus merasa, semakin ke sini, semakin ia rentan dimasuki virus. Bukan, bukan semata virus flu. Virus itu virua yang tak ada obatnya.
Dan namanya kasih sayang.
FIN
