The Serial
Tesmak
KBBI: tes·mak n kacamata;
Severus Snape adalah kepunyaan JK Rowling
Kisah kehidupan sehari-hari, minus konflik. Bisa diartikan sebagai sequel nan damai dari 'Pulang'. Dapat dibaca satu persatu secara lepas
Rate K+
-o0o-
Severus menutup pintu di belakang punggungnya. Menghela napas.
Saat ini ia sedang menginap di rumah keluarga Potter, dengan permintaan yang sangat dari seluruh anggota keluarga. Tentu saja ia tak dapat menolak.
Walau ia sedang menantikan sesuatu.
Dan kali ini, khusus untuk kali ini, rasanya ia akan sangat senang kalau saja mereka menggunakan pos Muggle.
Pos Muggle, hanya bisa diantar ke satu alamat tertentu. Yang sudah tercantum di depan amplop surat, atau paket. Terutama untuk paket, jika di alamat tujuan sedang tak ada orang, maka biasanya paket kembali ke kantor pos. Akan ada selembar surat pemberitahuan ditinggalkan di alamat tujuan agar mengambil paket di kantor pos yang ditunjuk. Atau, bisa saja dengan perjanjian tertentu, jika di alamat itu tak ada penerima, paket akan kembali ke alamat pengirim.
Tetapi, tidak demikian dengan pos burung hantu.
Burung hantu sudah dibekali sensor tertentu, paket yang dibawanya juga sudah dimantrai, sehingga jika si terkirim tadi sedang tak ada di alamat awal, burung hantu itu akan dapat menemukan harus ke mana paket itu disampaikan.
Jadi, tadi siang, sampailah sebuah paket padanya. Mau tak mau, akan sampai.
Sebetulnya, bukan paket kejutan. Ia sudah tahu paket semacam ini akan datang. Tetapi, kalau bisa, jangan sekarang.
Jangan di depan banyak orang seperti tadi.
Tetapi untunglah, dengan pengalamannya menjadi agen ganda, raut wajahnya bisa dibuat dingin, seolah tak ada apa-apa. Seolah paket itu hanyalah paket bahan ramuan biasa. Dan dengan keahliannya juga ia membuat nama pengirim tak kan terbaca oleh siapapun. Dengan sikap acuh, ia menyimpan paket itu di kamar, dan kembali ke ruang keluarga, meneruskan mendengar cerita anak-anak dan memberi komentar, seperti biasa.
Seperti biasa.
Seolah tak ada apa-apa. Tak ada yang tahu, betapa ia berdebar-debar sebenarnya.
Sekarang sudah malam. Anak-anak sudah masuk ke kamar masing-masing, demikian juga Ginny. Harry masih bercakap dengan atasannya di jaringan Floo, tapi Severus sudah memberi isyarat bahwa ia sudah mengantuk, dan masuk ke kamarnya.
Jadi, ia mengunci pintu.
Memeriksa apakah pintu benar-benar sudah terkunci.
Setelah yakin, barulah ia mendekati mejanya. Meraih paket itu. Menimangnya.
Ringan saja sebenarnya. Berbentuk segi empat panjang, kira-kira sejengkal panjangnya, mungkin sepuluh senti tingginya.
Perlahan dan hati-hati dibukanya. Kertas pembungkusnya dibuka tanpa merobek. Di dalamnya ada sebuah kotak. Seperti kotak perhiasan, tetapi tidak juga sih. Tidak mewah, hitam dengan pinggiran metal. Dengan bukaan di pinggir, dilapisi magnet.
Dibukanya perlahan.
Dipandangnya.
Ia sudah diberitahu bahwa paket ini akan datang hari ini. Selesai dibuat kemarin, dan langsung dikirim, agar bisa langsung dipakai.
Severus menghela napas.
Rasanya tidak banyak orang di Hogwarts yang memakainya. Yang ia tahu dengan jelas, orang yang dulu pernah sangat ia benci—James Potter—memakainya. Juga Harry.
Itu siswa. Guru-guru, yang ia tahu selalu memakainya adalah Kepala Sekolah, Dumbledore. Yang lain, yang ia tahu pasti, Minerva McGonagall. Bahkan animagi-nya juga 'memakai'-nya. Guru-guru yang lain, rasanya ada juga yang memakainya, terutama pada saat memeriksa tugas dan ulangan-ulangan para siswa.
Diangkatnya benda di dalam kotak itu.
Ringan. Kecil, tidak terlalu besar.
Severus berjalan menuju lemari. Di dalam lemari, di salah satu pintunya, ada kaca.
Dibukanya.
Sambil memandang bayangannya sendiri di kaca, ia memakai benda tadi.
Rasanya aneh. Masih kikuk. Seperti ada yang mengganjal.
Menurut dokter—penyihir—mata yang menanganinya, pertama kali memakainya memang akan aneh. Tetapi, ia harus memakainya. Kalau tidak, semakin lama minusnya akan bertambah banyak.
Menurut dokter itu juga, ini disebabkan karena kebiasaan membaca dengan cahaya yang kurang. Severus harus mengakui, ini akibat kesukaannya membaca di Ruang Bawah Tanah.
Ia memandangi lagi bayangan dirinya di kaca.
Membetulkan posisi kacamatanya.
Memang segalanya terlihat seperti lebih jelas.
Severus menutup pintu lemari, dan mendekati meja kerjanya. Diambilnya sebuah buku, sembarang saja. Dibukanya.
Huruf-hurufnya jauh lebih jelas.
Memang jadi lebih enak membacanya, tetapi ada rasa kagok dengan sesuatu bertengger di hidung dan terkait di telinga.
Severus menghela napas lagi. Apa boleh buat. Kalau ia masih ingin terus banyak membaca, kalau ia ingin terus banyak menulis, bagaimanapun ia perlu benda ini.
Lagipula, sepertinya Albus dan Minerva oke-oke saja memakainya. Bahkan ada kesan lebih berwibawa.
Dan, ia sampai lupa. Harry kan memakainya, bahkan dari kecil!
Oke kalau begitu! Jadi, tak perlu disembunyikan lagi!
Severus membetulkan letak kacamatanya, dan membuka kunci pintu. Membuka pintunya.
Tapi di luar sudah tak ada suara lagi.
Harry tertidur di dekat perapian. Mungkin sudah kelelahan, sehingga selesai berbincang dengan sang bos, tertidur begitu saja. Tidak beranjak ke kamar.
Bahkan kacamatanya pun belum dilepas.
Severus membuka kacamata Harry hati-hati, menyimpannya di meja. Menarik selembar selimut dari lemari kamarnya, dan menyelimutinya. Mematikan lampu. Dan kembali ke kamar.
Dibukanya kacamatanya. Diletakkan di kotaknya. Ia menuju ranjangnya, dan membaringkan diri. Mematikan lampu. Menutup matanya.
Besok anak-anak pasti banyak komentar, jadi lebih baik ia menyiapkan stamina dari sekarang, dengan tidur nyenyak.
Selamat malam!
FIN
6 Januari 2012, 3 hari sebelum ulang tahun Severus yang ke-52 #nyengir
