The Serial
Pejam
Severus Snape adalah kepunyaan JK Rowling
Kisah kehidupan sehari-hari, minus konflik. Bisa diartikan sebagai sequel nan damai dari 'Pulang'. Dapat dibaca satu persatu secara lepas
Bab ini, anak-anak masih balita, Lily Potter dan Hugo Weasley masih bayi
Rate K+
-o0o-
Ini adalah ide gila nyonya Ronald Weasley, alias Hermione, tapi anehnya, semua malah menyetujuinya! Err, mungkin apakah yang menganggap ini sebagai ide gila itu hanya Severus? Dan yang lain malah menganggapnya ide brilian?
Pendeknya, ia, Severus, terpaksa, sekarang sudah ikut duduk melingkar di tanah, menghadap sebuah api unggun, bersama-sama beberapa orang dewasa dan lebih banyak lagi anak-anak. Di belakang mereka ada dua buah tenda. Seperti tenda kecil, tetapi seperti umumnya tenda sihir, di dalamnya bisa diperluas sesuai kebutuhan.
Di Forest Dean.
Entah kenapa, Hermione merasa bahwa musim panas tahun ini akan sangat mengasyikan jika mereka bersama berkemah di sana. Dengan anak-anak. Plus Teddy Lupin. Plus keluarga Weasley yang lain.
Sebenarnya juga akan ada Hagrid, tetapi ia masih sibuk dengan peliharaannya di Hogwarts, sehingga ia mungkin tidak ikut menginap, tetapi akan datang besok pagi-pagi sekali. Berikut Charlie Weasley, dan Bill Weasley sekeluarga, datang untuk ikut piknik, tetapi tidak ikut menginap.
Jadi, berangkatlah mereka semua. Severus, Harry dan Ginny, James, Albus, dan bayi Lily. Ron dan Hermione, Rose, bayi Hugo, plus Teddy Lupin.
Pertama-tama tentu saja keributan memasang kemah. Walau bisa saja dipasang sekejap dengan sebuah mantra, Hermione merasa akan lebih seru kalau dipasang secara Muggle. Jadi, kedua bapak dan empat anak bersimbah peluh memasang kemah, plus instruksi-instruksi gaje dari seorang kakek. Bagaimana tidak gaje, seumur-umur si kakek itu belum pernah berkemah—
Tetapi, akhirnya terpasang juga. Lalu, mereka berkutat lagi dengan pemasangan kayu untuk api unggun. Bagi yang belum tahu, kayu tinggal ditumpuk, dinyalakan, beres. Tapi, kalau cuma asal tumpuk, apa nyalanya bagus? Paling-paling nyala sebentar sudah mati lagi karena kehabisan oksigen.
Jadi, terpaksa Hermione turun tangan—setelah bayi Hugo bobo di tenda, kenyang minum ASI—menunjukkan cara memasang kayu dengan baik dan benar, setelah membuka buku petunjuk berkemah a la Muggle.
Api unggun sudah menyala. Makanan utama sudah dimasak dan dihabiskan. Tinggal makanan-makanan cemilan. Memanggang sosis kecil-kecil. Marshmallow. Bahkan tadi Hermione berhasil memasak popcorn dalam panci, dan sekarang sudah habis, tinggal butir-butir jagung keras yang tak ikut meletup.
Bernyanyi-nyanyi dengan lebih banyak nada sumbang daripada nada merdu, yang penting gembira. Bahkan Severus berhasil 'dipaksa' untuk bernyanyi solo, yang hanya berlaku satu bait saja. Yang penting tertawa. Ada banyak teka-teki dilontarkan, lebih banyak lagi jawaban tak nyambung sebagai jawabannya, alhasil semakin lama teka-tekinya makin garing. Lalu silih berganti bercerita. Mula-mula cerita konyol, lama-lama cerita (maunya sih) horor. Akan tetapi, karena banyak cerita horor yang sudah tertebak dari awal, niatnya horor jadinya malah humor—
Kemudian satu-persatu gugur. Pertama-tama tentu saja bayi-bayi, dibawa oleh ibu-ibu mereka ke tenda yang satu. Rose mengikuti. Lalu Albus ke tenda yang satu lagi. James. Berikutnya Ron menggendong Teddy yang sudah terlelap.
Harry mengatur api unggun agar tidak menyala-nyala besar seperti tadi lagi. Kecil saja. Membersihkan lingkaran sekitar api unggun agar api tidak meloncat keluar dan membakar seisi hutan di saat mereka tidur. Lalu mengikuti yang lain, masuk tenda.
Berjejer-jejer mereka terlelap.
Severus mengikuti Harry, masuk ke tenda. Mengikuti Harry juga, berbaring mengambil tempat. Membiarkan terpal pintu masuk tenda terbuka. Di musim panas ini tak akan ada bahaya kedinginan.
"—malam—"
"Selamat malam—"
Severus sudah akan memejamkan mata, tatkala ia menyadari bahwa Harry belum tertidur. Posisinya masih berbaring, tetapi kepalanya masih tegak. Dan ia masih memakai kacamata. Berarti ia sedang mengamati sesuatu.
Severus bangkit, dan mencoba melihat, apa yang sedang diamati anaknya ini.
Albus.
Harry sedang mengamati Albus yang sedang terlelap.
Severus tersenyum tipis.
Harry merasa diawasi, membalikkan kepalanya. "Dad?"
Severus hanya mengangkat bahunya.
Harry tersenyum. "Anak-anak ini, damai sekali jika sedang terlelap begini—"
Jarinya mengelus rambut bocah balita—rambut yang sama dengannya, tak beraturan, walau disisir akan kembali tak beraturan, tetapi warnanya merah seperti ibunya—yang tak bergerak walau disentuh.
Senyum tipis kembali menghiasi wajah Severus. Menggeleng. "Tidak. Bukan hanya anak-anak yang nampak damai jika sedang terlelap—"
"Maksud Dad?"
Severus menyeringai, tapi tak menjawab. Malah terus membenahi posisinya, mengambil posisi nyaman untuk memejamkan mata.
Harry tersenyum. "Dad sering mengawasi aku saat sudah tidur, ya?"
Severus tertawa kecil, tapi matanya sudah terpejam. "Dulu. Begitu aku tahu kalau—kalau aku ayahmu. Saat kita mulai tinggal bersama di Spinner's End. Kau sudah ABG kan—"
Harry turut tertawa kecil. Dan turut membenahi posisinya. Meletakkan kacamatanya di posisi aman. Memejamkan mata juga.
Malam sudah larut, mungkin sudah mulai akan masuk dinihari, ketika Harry terbangun. Sosok kecil di sisinya bersuara, bergerak-gerak tak tentu.
Konon jika seseorang sedang beristirahat, sedang tidur, maka sel-sel dalam tubuhnya ber-regenerasi. Dan itu bisa dilihat dari caranya tidur. Tidur yang nyenyak, berarti yang sedang memperbaiki diri itu sel-sel tubuh. Jika tidurnya tidak nyenyak, diiringi mengigau, maka yang sedang memperbaiki diri itu sel-sel otak. Dan ini banyak terjadi pada anak-anak, yang sedang dalam pertumbuhan.
Harry percaya itu. Karenanya, tanpa membangunkan Albus, ia mengusap-usap lembut anaknya.
"Shh, shh, tidurlah lagi, nak—" bisiknya.
Dua-tiga kali usapan, dan igauan Albus berhenti. Kembali pada keteraturan napas.
Harry menghela napas. Sudah bersiap untuk tidur kembali, ketika ia tiba-tiba teringat. Dan berbalik perlahan, melihat sosok di sampingnya.
Hal yang sangat langka.
Severus tertidur lelap. Gerakan dada, menandakan napasnya teratur.
Matanya terpejam. Rapat.
Ada rasa sesak di dada Harry. Sesak yang membawa bahagia.
Baru kali ini ia melihat ayahnya sedang tertidur lelap. Dan ayahnya benar. Bukan hanya anak-anak yang nampak damai jika sedang terlelap.
Seorang mantan Pelahap Maut-pun bisa terlihat damai.
Perlahan Harry menjulurkan tangannya, jemarinya membetulkan helaian rambut ayahnya yang jatuh menutupi wajah. Perlahan, agar tak menyentuh kulit wajahnya.
Dan ia berbisik, "Selamat malam, Dad."
Membalikkan badan seperti tadi, ia memejamkan mata kembali.
Dengan senyum menghiasi wajah.
FIN
