NINABOBO

Severus Snape, Harry Potter, Ginny Weasley-Potter, dan baby Lily Luna Potter adalah kepunyaan JK Rowling

Kisah kehidupan sehari-hari, minus konflik. Bisa diartikan sebagai sequel nan damai dari 'Pulang'. Dapat dibaca satu persatu secara lepas

Rate K+

-o0o-

Ginny sudah nyaris menyerah. Bajunya sudah kusut tak beraturan, entah sudah beraroma apa. Rambutnya diikat tapi sudah keluar-keluar, tak sempat dirapikan. Ia bahkan sudah tak ingat, kapan ia terakhir mencuci muka.

Tapi tak ada apapun yang sudah beres di rumah!

James dan Al ribut akan sesuatu, berkejar-kejaran, bertengkar, dan berakhir dengan Al menangis, mendekat dan menempel padanya, tak mau ditinggalkan. Padahal sudah malam, sudah waktunya tidur. Padahal bayi Lily sedari tadi tak berhenti rewel. Badan bayi itu hangat, tadi terakhir diukur 38º C. Entah kenapa, tapi menurut orang-orang tua dulu, biasanya bayi kalau akan bisa sesuatu, badannya suka hangat.

Entahlah. Mungkin mau tumbuh gigi. Sudah mulai kelihatan putih-putih di gusinya jika bayi itu tertawa.

Ginny menghela napas.

Mau minta tolong Harry—ia tahu suaminya itu sedang sibuk akhir-akhir ini. Bahkan nyaris saja ia tak pulang, tidur di Kementrian, tapi sepertinya Harry selalu memaksakan diri pulang. Demi bertemu dengan anak-anak, terutama bayi Lily.

Sementara Ginny pernah berjanji tidak akan merepotkan orangtua lagi, semenjak pindah rumah ke Grimmauld. Tetapi sepertinya kali ini ia harus menyerah, minta tolong pada Mum. Ginny menghela napas.

Ketukan di pintu.

Kembali Ginny menghela napas. Pasti tamu. Harry punya kunci serep dan selalu pulang lebih dari jam 10 beberapa malam ini. Dan ia tidak siap untuk bertemu dengan tamu manapun, dengan keadaan seperti sekarang ini. Sekacau ini.

Tapi, sudahlah. Biarlah. Bagaimanapun, tamu harus dihadapi.

Sambil menggendong Lily yang masih terus merengek, Ginny membuka kunci pintu—

Severus.

"Oh—"

"Ada apa, Ginny? Aku nyaris masuk sendiri jika tadi tak kau buka saja, tapi bukankah tak sopan jika kita langsung ber-Apparate ke dalam rumah orang?"

Ginny mundur dan mengisyaratkan Severus agar masuk. Mata Severus langsung menangkap suasana rumah. Dan ia mengangguk mengerti.

Memanggil kedua bocah laki-laki, Severus bersikap tegas: gosok gigi, cuci tangan dan kaki, lalu masuk kamar. Memadamkan lampu, dan tidak ada dongeng sebelum tidur malam ini, karena kedua bocah itu tadi bertengkar dan merepotkan Mum.

Menutup kamar kedua bocah itu, Severus kemudian mendekati Ginny.

"Biar Lily bersamaku sejenak. Kau pergilah mandi, pakai air hangat. Lalu makan dan minum sesuatu yang hangat. Setelah itu tidur—"

"Tapi—"

"Kau perlu istirahat sejenak. Jangan membantah—"

"Tapi Lily—"

"Dia tidak akan apa-apa. Mungkin dia merasakan suasana hatimu yang sedang kacau, sehingga dia juga ikut-ikutan rewel—"

Beberapa detik sebelum akhirnya Ginny menyerahkan bayi Lily pada Severus. Memang, pada awalnya, Severus agak canggung menggendongnya. Kagok begitu cara menggendongnya juga.

Tapi, sementara Ginny beranjak ke kamar mandi, tak terdengar lagi suara rengekan bayi Lily. Sayup-sayup justru terdengar suara berat menyenandungkan sesuatu.

Ginny tersenyum.

-o0o-

Keluar dari kamar mandi, ternyata pintu depan terbuka. Harry baru saja pulang, sedang menutup pintu dan menguncinya.

"Bagaimana?" bisiknya, tak mau membangunkan satu pun anak-anaknya.

Ginny meletakkan telunjuknya di bibir, sambil mengerling ke arah kamar bayi. Harry mendengar juga suara senandung sayup dari sana.

Harry nyengir.

Diserahkan tasnya pada Ginny, dan Harry kemudian mendekat ke kamar bayi, berusaha tanpa suara.

Over in Killarney
Many years ago,
Me Mither sang a song to me

Harry terdiam.

Too-ra-loo-ra?

Tiba-tiba Harry bagai terlempar ke masa silam, masa di mana ia bahkan hampir tak ingat lagi, masa di mana sebenarnya ia tak ingin ingat lagi.

Tapi lagu nina bobo ini—

Dan suara yang menyenandungkannya—

In tones so sweet and low.
Just a simple little ditty,
In her good ould Irish way,

She, dalam lagu itu, tapi yang menyenandungkannya ia ingat benar, seorang laki-laki! Dengan suara yang sama persis, sama benar.

And l'd give the world if she could sing
That song to me this day.

Too-ra-loo-ra-loo-ral, Too-ra-loo-ra-li,
Too-ra-loo-ra-loo-ral, hush now, don't you cry!
Too-ra-loo-ra-loo-ral, Too-ra-loo-ra-li,
Too-ra-loo-ra-loo-ral, that's an Irish lullaby.

Harry baru tahu setelah beberapa tahun bersekolah di Hogwarts, bahwa ia tidak ditinggalkan sendiri di rumah keluarga Dursley saat kecil. Ada Arabella Figg yang terus-menerus memantaunya. Dan ternyata, setelah Perang Besar, setelah ia mulai masa bekerja, ia juga baru tahu bahwa guru-guru Hogwarts bergantian piket menjaga pada waktu-waktu tertentu.

Oft in dreams I wander
To that cot again,
I feel her arms a-huggin' me
As when she held me then.

Dan lagu ninabobo ini.

Saat ia berusia sekitar lima tahun atau mungkin lebih kecil lagi, ia sakit keras. Demam. Bibi Petunia memang membawanya ke dokter, dan memberinya obat, tetapi tidak lebih. Sementara ia, si bocah kecil, mendambakan tangan dewasa memeluknya, menungguinya, menjaganya.

Ia tidak sadar, siapa yang piket menjaganya saat itu. Yang ia tahu, ada yang menungguinya, menyelimutinya, memberinya kompres. Dan menyenandungkan lagu ninabobo ini—

And I hear her voice a -hummin'
To me as in days of yore,
When she used to rock me fast asleep
Outside the cabin door
. 1)

Persis.

Sama persis.

Harry menyeka ujung matanya yang tiba-tiba basah.

FIN

AN:

1) Too-ra-loo-ra-loo-ra adalah lagu ninabobo rakyat Irlandia, sebelumnya hanya berupa melodi, tetapi di tahun 1890 JR Shannon membuat liriknya. Gugel jika ingin mendengar lagunya, ada versi Bing Crosby yang keceh sekali XD Obtw, lagu ini sudah masuk public domain ya, jadi nggak apa-apa masukin liriknya XP