Second Chance
A/N: Hai! Hai! Setelah sekian lama, akhirnya Syl kembali lagi meneruskan cerita ini. :D
Sorry, kepada para reader yang telah menanti-nanti chapter 2 ini. Sebenarnya Syl sudah cukup lama menyelesaikan cerita ini, tapi Syl mengalami sedikit masalah dalam mengakhiri chapter ini. Dan saat Syl lagi bingung dalam pembuatan ending chapter, ulangan, tugas, dan UNAS datang menghalangi niat Syl untuk melanjutkan. Tapi puji syukur Syl haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan rahmatnya, Syl dapat menyelesaikan chapter 2 ini. #Plak# Woi! Elo kira ini kata pengantar laporan apa?!
-Syl-
Sekarang Syl mau membalas review dari para pembaca yang baik hati dan tidak sombong, yang telah mau meluangkan waktu untuk me-review. Syl bahagia sekali kalian mau me-review. T_T*Syl terharu. Syl juga mengucapkan terima kasih kepada semua yan telah me-follow dan me-fave cerita ini. ^^
To Anami: Nih sudah Syl lanjutin. Sorry lama. :(
To hinata hitsugaya: Salam kenal juga. (^_^)/ terima kasih sudah mau review. Sekarang sudah update XD. Sorry lama. :(
To Guest 1: Sekarang sudah update. Sorry lama. :(
To Mirai Mine: Thank you^^. Sekarang sudah update. Sory lama. Silahkan cek apa yang terjadi dengan Hitsugaya di chapter ini XD.
To Guest 2: Thank you^^. Sekarang sudah update. Sorry lama. :(
To phebpheb: Wah! Thank you very much sudah mau nge-fave cerita Syl. Syl seneng sekali. Sekarang Syl sudah update. Selamat membaca!^^
To Fuyuki Fujisaki: Sorry Fuyuki-san, soalnya Syl lagi nggak ada ide. Tapi, nanti Syl akan coba lanjutin ceritanya dengan ide yang Fuyuki-san berikan. Syl ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Fuyuki-san karena sudah menyadarkan Syl supaya meng-update cerita ini secepatnya. Sekarang Syl sudah update. Selamat membaca! ^^
-Syl-
Rate: T
Pairing: IchiHitsu XD
Genre: Hurt/Comfort, Romance
Warning: Typos, OOC, male x male alias Yaoi, semiAU
Disclaimer:
Syl :"Sangat disayangkan, Bleach itu punya Tite Kubo. :("
Plak!*Syl yang lagi satu mukul kepala Syl
Syl yang lagi satu: "Disclaimer-in yang bener!"
Syl: "Yayaya…Dengan sangat terpaksa, Bleach itu punyanya Tite Kubo."
Plak!
Syl yang lagi satu: "Yang serius!"
Syl: "Ehem!ehem! Dengan bangga Syl memberitahukan bahwa Bleach adalah kepunyaan Tite Kubo."
Syl yang lagi satu: "Sip." (sambil mengancungkan jempol)
-Syl-
Cerita sebelumnya di Second Chance
"Aaakkhh!" Toushiro berteriak kesakitan. Kepalanya serasa ditusuk pisau dari berbagai arah. Pandangan mulai mengabur dan kesadaran sedikit demi sedikit mulai menjauh hingga akhirnya Toushiro tergantung (karena rantai di tangannya) lemas tidak sadarkan diri.
"Toushiro!" Ichigo mengguncang-guncangkan badan Toushiro dengan panik berusaha menyadarkannya.
Tiba-tiba Toushiro bangun dan menatap tajam Ichigo. Ichigo tersentak kaget. Mata toushiro tidak lagi berwarna emerald melainkan merah darah. Mata itu menatap Ichigo benci dan terlihat keinginan untuk membunuh.
"Tou...Toushiroo..."
-Syl-
Chapter 2
The Story Begin
Flashback
"Buat apa kau menahanku di sini?" tanya Toushiro sambil menatap tajam Grimmjow yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Sebegitu ingin tahukah?" Tanya Grimmjow sambil memegang dagu Toushiro dan mendongakkan wajah Toushiro agar menatapnya. Toshirou memberikan death glarenya kepada Grimmjow.
"Aku anggap itu sebagai Iya" kata Grimmjow yang lalu mendekatkan kepalanya ke telinga Toushiro dan membisikkan sesuatu.
"Aku ingin menggunakanmu untuk membunuh Kurosaki Ichigo."
Mendengar itu, mata Toushiro membesar.
"Apa yang kau rencanakan, Grimmjow?" Desis Toushiro geram.
"Wah, seram," ejek Grimmjow.
Mendengar itu, Toushiro bertambah kesal dan menatap Grimmjow dingin.
"Sampai matipun aku tidak akan membiarkanmu melukai Ichigo!"
Seolah-olah tidak melihat tatapan yang diberikanToushiro, Grimmjow malah dengan santainya menjetikkan jarinya.
"Oh, ya? Kita lihat, apakah kamu nanti bisa berkata seperti itu lagi." Grimmjow tersenyum licik.
Tidak lama setelah itu, pintu ruangan itu terbuka dan seorang pria berambut pink dan berkacamata serta berjas lab masuk ke ruangan itu sambil membawa sebuah tabung kaca yang berisi suatu cairan.
Penampilan orang itu terlihat seperti ilmuwan gila yang hanya terobsesi pada penelitian. Terlebih dengan adanya tabung kaca berisi cairan berwarna hijau keunguan yang terlihat sangat mencurigakan di tangannya itu menguatkan penampilannya.
"Perkenalkan, Szayel Aporro Granz, temanku yang paling pintar." Grimmjow memperkenalkan seraya Szayel berjalan mendekat ke arah mereka.
"Nah, Szayel, bisakah kau menjelaskan rencana kita kepada Hime kita ini?"
"Jangan panggil aku Hime!" seru Toushiro marah.
"Hime yang pemarah ya", kata Syazel sambil menyeringai dan memperbaiki letak kacamatanya.
"Nah, Hime. apa kamu tahu cairan apa yang aku pegang ini?" Szayel mengangkat tabung reaksi yang dibawanya ke depan muka Toushiro, sehingga sekarang Toushiro dapat dengan jelas melihat isinya.
Tabung reaksi itu berisi cairan berwarna ungu dengan sesuatu berwarna hijau yang melayang-layang di dalam cairan. Dan kalau dilihat dengan lebih teliti, cairan itu mengeluarkan gelembung-gelembung kecil seperti air mendidih. Cuman melihat saja, sudah membuat perasaan tidak enak.
"Sudah liat, Hime? Cairan inilah yang nanti akan bergabung dengan darah di dalam pembuluh darah mu," Szayel menyeringai menyeramkan dan matanya menampakkan kilat kegilaan.
"Cairan ini akan membuatmu menuruti keinginan kami. Kamu akan membunuh Ichigo dengan tanganmu sendiri. Kamu akan membunuh Ichigo Kurosaki untukku, untuk membalaskan dendamku," Grimmjow melanjutkan penjelasan Szayel diikuti tawa kemenenangan.
"Kurang ajar! Aku tidak akan pernah membunuh Ichigo!" geram Toushiro.
"Benarkah?" Mata Grimmjouw berkilat licik. "Kita lihat apakah kamu masih bisa berkata seperti itu jika cairan ini sudah mengalir dalam darahmu," tantang Grimmjow.
" Szayel, lakukan!" Mendengar perintah Grimmjow, Szayel langsung mendekati Toushirou lalu menggenggam tangan kanannya dengan kuat dan bersiap menyuntikkan cairan dalam tabung reaksi itu.
Toushirou berusaha meronta, tapi cengkraman tangan Szazyel terlalu kuat sehingga semua usaha yang dilakukannya sia-sia. Szayel telah menyuntikkan cairan itu. Ia hanya dapat melihat cairan itu masuk ke dalam tubuhnya. Waktu serasa berjalan lambat bagi Toushiro. Ia melihat secara perlahan cairan itu berpindah dari jarum suntik menuju pembuluh darahnya.
Setelah semua cairan itu telah berpindah ke dalam tubuh Toushirou, tiba-tiba Toushirou merasa pusing dan pandangannya mulai mengabur. Cairan itu mulai bereaksi. "Ukh, si...sial." Toushirou berusaha melawan efek dari cairan itu, tapi usahanya sia-sia. Pandangannya semakin mengabur dan kesadarannya semakin menipis.
Hal terakhir yang diingat sebelum ia kehilangan kesadarannya adalah seringai kemenangan Grimmjow dan kata-kata
"Selamat tidur Hime."
-Syl-
"Kelihatannya cairan itu berhasil," kata Syazel sambil membenarkan posisi kacamatanya. Ia tersenyum puas sambil melihat kelinci percobaannya, Toushirou.
"Sekarang kita tinggal memanggil si stroberi sialan itu untuk melengkapi rencana kita," kata Grimmjow sambil beranjak keluar dari ruangan itu. Tidak jauh dibelakangnya, Szayel mengikuti setelah menyumbat mulut Toushirou dengan kain.
Flashback End
-Syl-
"Tou...Toushiroo..."
BAAM!
Tiba-tiba pintu yang menjadi satu-satunya jalan keluar dari ruangan itu tertutup.
Ichigo panik dan mencoba membuka pintu itu dan ternyata pintu itu telah terkunci. Ia terjebak di dalam ruangan itu. "Sial!" Ichigo lalu teringat kata-kata Toushiro sebelum Toushiro kesakitan.
Flashback
"Ichigo! Cepat pergi dari sini!" teriak Toushiro panik. "Ini jeba...Ukh!"
End Flashback
Toushiro sudah memperingatinya bahwa ini jebakan. Tapi biarpun ini jebakan, Ichigo tidak mungkin membiarkan Toushiro begitu saja.
Ia akan melindungi dan membawa Toushiro keluar dari tempat ini.
Klang! klang!
Pikiran Ichigo terputus ketika mendengar suara besi terjatuh. Ketika Ia menoleh ke arah Toushirou, Ia melihat Toushiro sudah tidak lagi terantai. Ia berdiri dengan kepala menghadap ke bawah. Rantai yang mengikatnya tadi telah terbuka dan berserakan di tanah.
"Toushiro!" panggil Ichigo ragu melihat kondisi Toushiro yang tidak biasa.
Toushiro tetap diam di tempatnya seolah-olah tidak mendengar panggilan Ichigo itu.
Tiba-tiba dengan cepat Toushiro menyerang Ichigo. Ia menendang perut Ichigo dengan keras hingga membuat Ichigo terlempar dan menabrak pintu di belakangnya.
"Ukhh..." Ichigo mengerang kesakitan.
'apa yang sedang terjadi? Toushiro menyerangku? Kenapa?'
Karena terlalu terkejut, Ichigo kesulitan untuk memproses apa yag sedang terjadi.
Belum sembuh dari keterkejutannya, Toushiro sudah menyerang lagi. Terima kasih kepada Baka Oya-jiinya sehingga refleksnya terlatih dan berhasil menghindari pukulan Toushirou.
Pukulan Toushiro yang meleset menghantam pintu besi dengan keras hingga membuat pintu itu penyok. Ichigo menatap pintu itu dengan perasaan bersalah, andai ia tidak menghindar pastilah ia yang penyok, bukan pintu itu.
Tapi sekarang bukan waktunya untuk merasa prihatin terhadap si pintu. Sebenarnya apa yang terjadi kepada Toushiro?
Toushiro menarik pukulannya dan berbalik ke arah Ichigo. Poninya menutupi matanya sehingga Ichigo tidak dapat melihat ekspresinya. Tangan yang dipakai untuk memukul tadi mengeluarkan darah, tapi Toushiro kelihatan tidak terpengaruh dengan luka di tangannya itu. Ia seperti robot pembunuh yang siap membunuh siapapun yang ada di depannya, yang tidak dapat merasakan sakit dan belas kasihan.
Hati Ichigo terasa sakit melihat kondisi Toushiro yang seperti itu.
Ingin Ichigo memeluk Toushiro dengan erat agar Toushiro dapat kembali menjadi Toushironya kembali. Toushironya yang baik dan penuh rasa sayang. Ia ingin melihat kembali Toushiro yang selalu menatapnya dengan ramah, pengertian dan penuh cinta.
Rasa marah Ichigo terhadap Grimmjow menjadi semakin besar. Apa yang telah dilakukan si bajingan itu terhadap Toushiro hingga membuatnya seperti ini. Rasa marahnya menimbulkan semangat untuk menyadarkan Toushiro kembali.
Tapi sayang, itu baru hanya keinginan semata, belum dapat terlaksana karena setiap usaha yang hendak dilakukannya untuk menyadarkan Toushiro selalu gagal. Toushiro terus menerus menyerang Ichigo tanpa henti.
"Toushiro! Kamu kenapa?! Ini aku Ichigo! Sadarlah Toushiro!"
Panggilan hingga teriakan Ichigo yang berusaha menyadarkannya tidak digubrisnya. Ia tetap saja menyerang Ichigo seolah-olah Ichigo adalah orang yang paling dibencinya, orang yang harus dibunuh.
Ichigo semakin kewalahan menghadapi serangan-serangan dari Toushiro. Selain serangan Toushiro tidak memberi jeda, serangan Toushiro juga sangat kuat. Berbagai pukulan dan tendangan harus diterima Ichigo meskipun sering kali Ia berhasil menghindar. Tapi setiap kali mendapat pukulan atau tendangan dari Toushiro, Ichigo merasa kekuatannya semakin meninggalkannya. Apalagi Ichigo tidak dapat membalas serangan Toushiro. Ia tidak tega untuk melukai atau menyakiti Toushiro.
Saat ia menemukan celah di antara serangan-serangan Toushiro, Ichigo segera maju mendekati Toushiro sambil menghidari dan menangkis tendangan-tendangan yang ditujukan padanya. Di saat jaraknya cukup dekat, Ichigo segera memeluk Toushiro. Di peluknya tubuh mungil itu dengan erat, mencegah setiap gerakan yang hendak dilakukan Toushiro.
"I Love You, Toushiro,"bisik Ichigo lembut di telinga Toushiro.
Tiba-tiba saja, semua pergerakan Toushiro terhenti. Terkejut dengan perubahan itu, Ichigo sedikit melonggarkan pelukannya. "Tou…Shiro? Kau sudah sa…"
BUG
"Uaaggh..."
Perkataan Ichigo terhenti ketika dirasakannya sakit di dada kirinya. Ichigo melepas pelukannya dan terjatuh sambil memegang dada kirinya. Darah keluar dari mulutnya. Sambil menahan perih di dadanya, Ichigo segera berguling ke samping menghindari tendangan vertical Toushiro yang mengincar kepalanya.
"Ck," terdengar decakan marah dari Toushiro karena tidak berhasil mengenai tagetnya. Ichigo memberi tatapan sendu ke Toushiro sambil kembali bangkit berdiri. Seluruh badannya yang terluka protes karena dipaksa bergerak. Tidak mengijinkan Ichigo untuk beristirahat, Toushirou kembali menyerang.
-Syl-
"Hah...hah..hhh...,"nafas Ichigo mulai memburu akibat kelelahan seta luka dan memar di tubuhnya yang semakin banyak seiring berjalannya waktu. Gerakan Ichigo semakin lambat dan ia semakin kesulitan untuk menghindari serangan demi serangan. Tubuhnya terasa berat dan tidak mau bergerak sesuai keinginannya.
"Hahahahahaa...", tiba-tiba suara tawa Grimmjow bergema dalam ruangan itu. "Bagaimana Ichigo? Bagaimana rasanya diserang dan ingin dibunuh oleh orang yang kamu cintai?" ejek Grimmjow, "Aku tidak perlu turun tangan untuk balas dendam kepadamu. Biarlah Hime-mu yang manis itu yang melakukannya untukku." ketawa Grimmjow kembali terdengar, membuat kemarahan Ichigo semakin besar.
"Nikmatilah pembalasan dendamku ini, Ichigo."
"Brengsek kau Grimmjow!" maki Ichigo di sela-sela nafasnya yang memburu, "Kau apakan Toushiro?!"
!
Makian Ichigo terputus oleh serangan Toushiro yang mengarah ke wajahnya. Ichigo berhasil menghindar di saat-saat terakhir, tetapi serangan itu berhasil membuat luka kecil di wajah Ichigo.
Klantang! Sesuatu terjatuh dari kantong celana Ichigo saat ia meghindar tadi. Benda itu terpental ke dekat kaki Toushiro. Ichigo dan Toshirou serentak menatap benda itu.
"Shit!" tanpa sadar, makian keluar dari mulut Ichigo.
Pisau lipat. Itulah nama benda yang terjatuh itu. Ichigo selalu membawa pisau lipat di celananya untuk berjaga-jaga jika ia dikeroyok oleh para berandalan. Meskipun pada kenyataannya, tidak sekali pun ia membutuhkan bantuan pisau lipat itu. 'Lebih baik berjaga-jaga daripada nanti menyesal' itulah prinsip Ichigo.
Tapi, seperti prinsip itu sekarang berbalik kepada Ichigo. Bukannya membawa aman, pisau lipat itu malah membawa celaka bagi Ichigo.
Tangan kecil Toushiro meraih pisau lipat itu dan membuka lipatannya. Mata Toshirou yang tanpa rasa belas kasih itu menatap tajamnya mata pisau itu, lalu berpindah menatap Ichigo yang masih terduduk di lantai hasil dari usahanya menghindari serangan Toushiro sebelumnya.
Perlahan tapi pasti Toshirou mendekati Ichigo. Ia lalu berjongkok menyetarakan tingginya dengan Ichigo. "To...shirou," Ichigo menatap Toshirou nanar. Ketika sudah tepat berada di depan Ichigo, Toushiro dengan cepat mengayunkan tangan yang memegang pisau lipat itu ke arah jantung Ichigo.
Mata Ichigo membesar ketika pisau itu dengan cepat mengarah ke jantungnya. Ia menatap dengan horror pisau yang seolah-olah bergerak secara slow motion itu, hendak mencabut nyawanya.
CRAATT!
****Bersambung****
-Syl-
A/N: Sorry, lagi-lagi Syl harus memutus ceritanya di bagian yang menegangkan. Tapi Syl sengaja melakukannya biar reader penasaran dan tetap mengikuti cerita Syl :3
Penasaran dengan apa yang terjadi? Apakah Toushiro membunuh Ichigo? Atau apakah Ichigo berhasil menyelamatkan Toshiro? Tunggu kelanjutannya di chapter berikutnya.
Please review!
Syl sangat membutuhkan saran dan dukungan dari para reader:3
