Disclaimer : Masashi Kishimoto-sama
Main Cast : Naruto & All
BAlASAN REVIEV KEMARIN!
Sebelumnya maaf ya karena baru bisa balas reviev kalian semua, karena San memang tidak terlalu pintar membalas review kalian semua. Dan sekali lagi San minta maaf karena ngga bisa update kilat, gomennnnn...!
NamikaZe NatHanaeL RedfieldZ : Haha, saya nggak ahli dalam menulis jurus^^ Dan tidak tau nama jenis banyak jurus dalam Naruto. Tapi terimakasih riviewnya^^
Hana Midori-chan : Iya arigatou! Dan terimakasih riviewnya.
Guest, Bewinkkkk, Fanfick Naruto Lover, and god and angle : Oke, oke, San akan usahain.^^
Neroritsu : Iya arigatou^^
Mendokusai : Kayanya ngga akan ada war shinobi 5 deh, karena pasti capternya bakal banyak banget. Dan buat ngikutin semua aliansi shinobi San juga ngga terlalu hapal. Jadi gomen karena tidak bisa buat yang Mendokusai mau.
Earl grey bernvoureth : Naruto memang jatuh terlalu dalam^^ *Seneng nyiksa orang*. Tapi otak dibalik semua ini bukan Kyuubi, melainkan Menma. Jadi ditunggu aja kelanjutannya ya.. Jangan bosen baca fic gaje ini *Maksa*
Guest : Buat Guest juga selamat menghadapi UN!
Guest : Hahaha, ada-ada saja. Masa ada malaikat Naruto^^ Tapi makasih reviewnya. Ohya sebelum riview tolong kasih pen name ya, biar San ngga binggung ini Guest/ readers yang lain.
Kim : Arigatou!
Anon : SIAPPPP! Shikamaru cs pasti ketemu sama Naruto nanti, dan akan bertarung sengit. Wah-wah kayanya Anon sudah bisa baca apa yang ada di pikiran San deh^^ Terimkasih reviewnya!
LIM : Oke siap! San akan buat yang lebih sadis! *Evil laugh*
Nah segitu dulu yang dapat San balas riviewnya. Gomen kalau yang belum bisa terbalas reviewnya. Makasih ucapan semangat UN-nya! Semoga yang sedang UN juga lulus dengan hasil terbaik. Dan sekarang, kita mulai kelanjutannya.
:::::DONT LIKE DONT RIDE:::::
HAPPY READING!
Chapter 7
Matahari sudah menyingsing tinggi diatas, pancaran cahayanya yang terang dan menyilaukan, membuat sekelompok remaja yang tengah tertidur pulas harus bangun dengan rasa kantuk yang masih tersisa. Inilah saatnya untuk kembali mengejar apa yang mereka cari.
"YOSH! Sudah siang! Ayou bangun!" Teriak Lee yang kelihatannya heboh sendiri setelah ia yang tadi bangun paling akhir.
"Haahhh... Padahal aku masih mengantuk" Racau Shikamaru sambil terduduk malas diatas sebuah batu besar.
"Apa tidak sebaiknya kita mandi dulu? Errr, biar lebih segar" Tawar Sakura dengan senyum canggungnya.
"Ide bagus!" Sahut Kiba cepat. "Setelah kemarin harus kelelahan seharian, tidak salah bukan jika kita menyegarkan diri dulu. Setelah itu, kita akan mengejar Naruto kembali, dengan semangat!" Lanjutnya.
"Tapi mana ada pemandian air panas disini?" Seru Shikamaru yang kembali bersuara setelah tadi terus berusaha menahan kantuknya yang luar biasa.
"Ada," Balas Shino menyimpan senyuman kecil dibalik baju panjangnya. Ia juga tidak bisa memungkiri bahwa ide Sakura dan Kiba itu sangat bagus, ini memang sangat melelahkan.
"Dimana?" Tanya Ino dengan mata aquamerine-nya yang berbinar-binar.
"Satu kilo meter lagi ada pemukiman selanjutnya. Pasti ada pemandian air panas disana" Jawab Shino dengan nada datar.
"Ya, di peta juga tergambarkan begitu. Desa Koiso, desa yang lumayan besar" Sambung Ten-ten pada ucapan Shino tadi. Sedangkan Sasuke hanya diam, mungkin ia juga setuju karena memang ia juga merasa lelah saat ini.
Sakura sedikit melirik kearah Hinata. Mungkin yang paling terpuruk diantara mereka semua adalah Hinata, karena kekasihnya sekarang entah hilang kemana dengan segala kegelapan yang tengah menyelimutinya. Perlahan Sakura berjalan mendekati Hinata yang tengah berdiri membelakangi sebuah pohon, dengan wajah yang masih tidak bersemangat, sama seperti kemarin saat ia mengetahui bahwa Naruto yang melakukan pembantaian di desa Youto itu.
"Hinata?" Tegur Sakura pelan sambil meraih pundak Hinata.
"Y-ya Sakura-chan?" Sahut Hinata menatap Sakura dengan tatapan sendu.
Sakura sedikit menghela nafas, "Kamu tidak tidur?" Tanya Sakura, melihat mata Hinata yang seperti itu, pasti Hinata tidak tidur tadi.
"Iya," Jawab Hinata mengangguk pelan.
"Dengar," Sakura mengangkat kepala Hinata untuk mendongak kearahnya. "Jika kamu seperti ini terus, kamu tidak akan bisa melakukan pencarian ini lagi. Kondisimu itu tidak boleh seperti ini, kita harus semangat untuk mengejar Naruto. Jika kita bersedih, siapa yang akan membuat Naruto kembali melihat cahaya terang, siapa yang akan membuat Naruto kembali dari kegelapannya. Apalagi jika itu kamu, Naruto pasti akan sulit kembali jika kau terus seperti ini" Jelas Sakura, mencoba membuat Hinata tegar, tidak bersedih seperti ini.
"Terimakasih Sakura-chan," Ucap Hinata tersenyum lembut. "Terimakasih telah membuatku semangat" Lanjutnya lalu memeluk Sakura.
"Sama-sama Hinata. Naruto teman kami juga, dia juga sangat berarti bagi kami" Sakura membalas pelukan Hinata, lalu melepaskannya dengan lembut. "Sebaiknya kita cepat. Teman-teman akan menuju pemandian air panas untuk menyegarkan diri" Ucapnya.
"Hai!" Jawab Hinata mengangguk cepat.
_(^_^)_(^_^)_
"Jadi portal itu tidak berhasil. Jadi bagaimana dengan mereka semua?" Tanya Naruto datar.
"Mereka selamat dan melanjutkan pencarianmu." Jawab Menma sambil meneguk cangkir minuman yang sedari tadi ia pegang.
"Berarti jurus itu payah" Ketus Naruto masih dengan nada yang datar.
"Hmpphhtttt!" Menma sedikit tersedak. "Jurus tingkat tinggi seperti itu kau bilang payah?! Apa kau bodoh!" Balas Menma meninggikan suaranya.
"Jutsu Kyosukyo, itukan nama jurus yang kau prektekan dari gulungan itu? Jutsu dengan tingkat diatas jounin, dan hanya bisa digunakan dengan pengguna ber-elemen meiton." Kini Naruto berjalan mendekati sebuah lampu lentera yang menerangi ruangannya, lalu membuka kaca lentera itu dan mengeluarkan jurus. Api hitam yang memakan api merah yang ada didalam lentera.
"Sebelum kau gunakan jutsu, perhatikan dulu kelemahannya. Kau hanya memikirkan tingkat kelebihan tanpa melihat kelemahan jurus Kyosukyo itu. Kau, seperti berlari tanpa melihat lubang" Lanjutnya dengan seringaian kecil.
"Apa maksudmu?!" Tanya Menma yang sepertinya tidak mengerti akan ucapan Naruto tadi. Dia, rupannya sudah menjadi pintar.
"Yare.. Kau bilang kau adalah mahluk yang tercipta dari kegelapan, kenapa kau tidak tau? Kau terlalu meremehkan shinobi Konoha. Kau tidak memandang siapa saja yang mengejarku, mereka adalah ninja-ninja hebat, dengan Shikamaru dan Sasuke yang memiliki kepintaran diatas rata-rata." Naruto sedikit menjeda kalimatnya, lalu menghembuskan nafas perlahan. "Jutsu dewa sekalipun akan memiliki kelemahan jika diteliti dengan serius. Kau kira jutsu itu jutsu yang sempurna hm? Kalau kau berpikir seperti itu berarti kau memang payah! Kyosukyo adalah jutsu berelemen meiton, yang memiliki frekuensi cakra tingkat tinggi. Mengandalkan DNA yang telah disimpan sebelumnya untuk bisa aktiv secara otomatis. Setelah seseorang masuk kedalam jutsu itu maka orang itu akan terkurung didalamnya, tanpa ada udara yang dapat masuk lagi. Jika orang itu menyentuh dinding Kyosukyo maka orang itu akan lenyap seketika, menjadi abu. Jika orang itu hanya berdiam diri maka dia akan mati kehabisan udara. Tapi, jika Kyosukyo ditabrakan dengan elemen meiton lainnya, maka ia akan hancur. Dan kau bodoh tidak mengaktivkan jurus besi api saat mereka terkurung disana" Jelas Naruto datar lalu beranjak menuju ambang pintu. "Jika kau tidak bisa, aku saja yang akan menghabisi mereka. Karena aku tidak suka menunggu" Lanjutnya sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu.
Sedangkan Menma hanya tertawa puas didalam hatinya. Naruto sudah berkembang sangat pesat. Sungguh Menma memang ceroboh, tapi ia puas mendengar Naruto yang sangat berambisi menghabisi teman-temannya. Tali persahabatan yang ia buat selama ini, kini telah rapuh dan terguncang akibat ulahnya sendiri. Dan mungkin, sekarang Naruto tidak lagi menganggap semua sahabatnya itu berharga. Melainkan hanya sampah yang tidak berguna.
_(^_^)_(^_^)_
SHUT! SHUT! SHUT!
Seperti kilat mereka melewati dahan-dahan pohon. Rupanya setelah mandi dan menginap semalam di desa tadi membuat badan mereka menjadi sangat segar. Dan sekarang mereka kembali memulai pencarian Naruto dengan semangat yang berapi-api. Inilah waktunya persahabatan mereka diuji.
Ini Hari ketiga, tapi cakra hitam yang Naruto tinggalkan masih saja kental. Sebenarnya sebesar apa kekuatan itu. Mata byakugan Hinata dapat melihatnya dengan sangat jelas, bahkan dimalam hari sekalipun. Cakra itu walaupun berbaur dengan udara namun membentuk sebuah titik laju.
BRAK!
"Ugh!" Lenguh Kiba yang baru saja jatuh saat melompati dahan-dahan pohon. Pasti ada yang mengganggunya karena Akamaru juga terjatuh.
"Ada aa Kiba?!" Tanya teman-temannya dengan serempak.
"Arrrgggghhhh! Ini sangat menyiksa! Hentikan suaranya! Hentikan! Arrrhhhgg!" Teriak Kiba sambil menutupi telinganya. Akamaru juga terlihat meraung-raung, seperti ada sebuah suara yang membuat Kiba dan Akamaru tersiksa seperti ini. Bagaimanapun pendengaran mereka sangat tajam.
Sakura segera berlari kearah Kiba, lalu segera memeriksanya. Sedangkan Ino langsung menangani Akamaru.
"Ada suara yang mengganggu mereka berdua" Seru Sakura menatap Sasuke dengan khawatir.
"Tapi kami tidak mendengar suara apapun?" Sahut Sai sambil meneliti keadaan sekitar.
"Kenapa ini sangat menyulitkan sekali! Jebakan ada dimana-mana!" Desis Shino mendecak sebal.
"Bagaimana ini..?" Tanya Sakura kepada teman-temannya. Ia tidak mungkin membiarkan Kiba terus seperti ini, atau gendang telinganya akan pecah.
Sasuke terus memutar otak. Pasti pria rubah itu telah memberi masing-masing jebakan untuk mereka. Sekarang Kiba, siapa selanjutnya. Kemudian ia mengaktivkan mata sharingannya, melihat aliran cakra yang mengalir pada tubuh Kiba dan Akamaru. Ada sebuah asap berwarna kuning yang terus menjalar melewati telinganya.
"Jadi seperti itu" Gumam Sasuke yang sepertinya sudah menemukan titik terang untuk menyelamatkan Kiba dan Akamaru.
Sakura dan Ino segera menjauh ketika Sasuke mendekati Kiba dan Akamaru, sedangkan yang lain hanya menatapnya penuh tanda tanya, seolah mengatakan apa yang ingin ia lakukan?
"Jarum akupuntur?" Pinta Sasuke menyodorkan tangannya kearah Ino. Dan setelah Ino memberikan dua buah jarum akupuntur Sasuke mulai menetralkan jarum itu dengan membakarnya.
Perlahan ia sibakan rambut Kiba dan menusukan jarum itu pada leher bagian belakang, begitupun dengan Akamaru. Rupanya Sasuke menutup saraf pendengarang mereka. Tapi inilah cara satu-satunya untuk menyelesaikan masalah ini. Setidaknya benda itu akan disitu sampai suara itu hilang.
"Sekarang kita bisa melanjutkan perjalanan" Ujar Sasuke menatap Shikamaru yang sepertinya sudah mengerti apa yang telah ia lakukan tadi.
Semuapun melihat kearah Kiba dan Akamaru. Sepertinya mereka memang sudah membaik, jadi mereka mengikuti Sasuke yang sudah meloncat bersama Shikamaru.
Kiba memperhatikan teman-temannya yang terlihat sedang merencanakan sesuatu. Tapi kenapa ia tidak bisa mendengar apapun? Sebenarnya apa yang Sasuke lakukan padanya. Saat ia palingkan pandangannya kearah Akamaru, diapun tidak bisa mendengar gonggongan Akamaru, padahal ia bisa lihat jelas mulut Akamaru sedang melolong.
"Hey! Apa yang kalian lakukan?" Tanya Kiba setengah berteriak sambil menusuk telinganya dengan jari telunjuknya.
"Berisik!" Tukas Chouji sambil mengacungkan bonggemannya kedepan.
"Hah!?" Tanya Kiba mencondongkan telinganya.
"Sudahlah Chouji, percuma saja kau berbicara dengan Kiba. Dia itu sedang tuli, jadi biarkan saja" Ujar Shikamaru dan dibalas dengan anggukan dari Chouji.
"Hey! Aku tidak bisa mendengar apa-apa! Jelaskan, apa suara itu memecahkan gendang suaraku! Hah!" Teriak kiba dengan intonasi nada yang lebih tinggi, karena diapun tidak bisa mendengar suaranya sendiri.
Tidak ada yang menjawab, hanya terlihat Sai yang sedang membuka gulungannya, mungkin dia akan menuliskan sesuatu.
"Kau sedang tuli untuk beberapa saat kawan. Jadi diamlah" Ucap Kiba saat membaca gulungan yang Sai beberkan kearahnya.
1 detik.
2 detik.
3 detik.
"Apa! Tuli! Pendengaranku yang berharga tuli! Jangan bercanda!" Teriak Kiba histeris dan langsung mendapat jitakan hebat dari Ino.
"Hati-hati dengan jarumnya" Ujar Sasuke datar, tanpa melirik kearah Ino dan Kiba.
"Ahhh ya, maaf. Aku akan hati-hati" Ucap Ino sambil tersenyum kikuk. Sedangkan Kiba masih saja memukul –mukulkan telinganya.
Perjalanpun dilanjutkan dengan lancar, walaupun Kiba masih saja perotes tapi sepertinya itu tidak mempengaruhi keseriusan yang lain untuk tetap fokus mencari Naruto.
Sasuke sedikit berpikir, kiranya apa lagi jebakan yang menanti mereka hadapi. Mungkin akan lebih menakutkan dari yang sebelumnya. Apakah selanjutnya akan ada monster buatan yang menyerang mereka seperti waktu di desa? Atau juga mungkin ada mahluk yang lebih mengerikan. Pasti ada kejutan nanti.
"Cakranya semakin kental!" Seru Hinata yang langsung menghentikan langkahnya, diikuti dengan yang lain juga.
"Apa maksudmu Hinata?" Tanya Sakura mendekati Hinata yang kelihatannya sedang gugup.
Hinata sedikit mengeuk ludahnya. "Ca-cakranya, semakin terlihat sangat j-jelas. I-itu-"
"Itu berarti kita sudah sangat dekat dengan Naruto! Aku tidak siap memukul wajah bocah itu!" Sambung Lee cepat kemudian langsung berlari sekencang mungkin. Barangkali Naruto memang ada disini.
BRUGH!
"Aduh! Kenapa kau menghalangiku Shino!" Protes Lee saat Shino menarik kakinya dengan serangga sehingga membuatnya jatuh tersungkur.
"Jangan ceroboh" Sahut Shino datar dan singkat.
Sedangkan Kiba, terlihat mendapat penciuman baru. Untunglah hidungnya ini masih bisa digunakan. "Dia, ada disini" Gumam Kiba yang terlihat melamun. Pandangannya lurus kedepan dan kosong. Ini benar bau Naruto.
"Siapa Kiba?" Tanya Sasuke yang mencoba untuk tetap tenang.
Namun Kiba masih tetap diam.
Ohya, ia lupan kalau ia menutup saraf pendengarannya tadi. Dan mungkin bunyi itu sudah menghilang karena mereka sudah sangat jauh dari tempat itu.
"Bau siapa yang kau cium Kiba?" Tanya Sasuke yang langsung melepaskan jarum yang ia tusukan dileher belakang Kiba tadi. Begitupun Sakura yang melepaskan jarum dileher belakang Akamaru.
"Naruto" Jawab Kiba singkat, tanpa banyak bertanya tentang pendengarannya yang sudah kembali.
"Cepat cari ruang terbuka!" Perintah Shikamaru yang langsung berlari secepat mungkin untuk keluar dari hutan. Karena jika mereka bertarung didalam hutan pasti akan merepotkan.
Semua berlari mengikuti komando Shikamaru dari belakang. Jantung merekapun kini berdebar tak karuan. Apakah mungkin tiba-tiba Naruto ada disini.
"Bentuk formasi!" Perintah Shikamaru lagi saat mereka sudah keluar dari hutan. Mungkin tebing akan lebih memudahkan mereka.
Semua membentuk formasi memutar, mata mereka masing-masing terfokus pada arah yang mereka tempati. Bisa saja Naruto datang dari segala arah. Keringat dingin mulai menetes melewati pelipis masing-masing. Disini sepi, tak ada suara. Apa mungkin akan ada serangan tiba-tiba.
"Rupannya kalian semua sudah siap ya? Sungguh hebat" Seru suara dibalik sebuah pohon yang berdiameter cukup besar. Sehingga membuat Sasuke dan yang lain makin waspada.
Perlahan muncul sesosok pria berjubah hitam, dengan topeng rubah yang menutupi wajahnya. Ini benar-benar sebuah kejutan.
"Tidak perlu setegang itu, aku ini bukan hantu" Ujar Menma sambil terus mendekat. "Aku sarankan kalian menyerah saja, sebelum Naruto datang kemari." Sambungnya.
"..."
"Aku berikan dua pilihan," Menma menjeda kalimatnya sebentar. "Kalian menyerah dan menjadi budak kami, atau mati dihabisi sahabat baik kalian sendiri? Bagaimana hm? Tawaran bagus bukan?" Lanjutnya sambil tertawa kecil.
"Kami tidak akan menyerah orang aneh!" Sembur Lee dengan cepat.
"Baiklah, itu pilihan kalian sendiri. Tidak ada penawaran ulang" Sahut Menma yang langsung melepas jubah hitam yang metupi tubuhnya dan tiba-tiba berlari kearah Lee yang tepat berada didepannya.
SREGH!
BRAKH!
Tubuh Menma tiba-tiba terpental kebelakang. Sial! Rupannya dia sudah datang.
"Jangan sentuh mangsaku, Menma" Ucap seseorang yang sudah pasti mereka kenal. Naruto Uzumaki dengan penampilan baru. Ia mengenakan jubah hitam serupa, bola mata yang berwarna hitam kelam, tanpa ada ikat kepala didahinya. Dia sungguh berbeda.
"Kau bisa membuat topengku hancur bodoh!" Tukas Menma sambil membenarkan letak topengnya yang sedikit bergeser tadi.
"Persetan dengan topeng busukmu itu. Apa kau lupa dengan perkataanku?" Sekarang Naruto menatap Lee yang kelihatannya sangat ketakukan. Lalu ia menepuk puncak kepala Lee dan berkata, "Aku yang akan menghabisi sahabat-sahabat baikku sendiri"
Semua masih diam membantu. Mencoba mencerna apa yang baru saja Naruto katakan. Tapi mereka tidak salah dengar Naruto baru mengatakannya dengan jelas. Apakah akan terjadi pertarungan diantara mereka.
"N-naruto-kun" Gumam Hinata pelan, sambil terus diam tak bergerak.
"Oh, kau," Sahut Naruto yang kemudian beralih mendekati Hinata. "Apa kabarmu hime?" Lanjutnya dengan sedikit menyeringai.
"..." Hinata masih tetap diam membisu. Sungguh ia baru melihat Naruto menyeringai seperti ini.
"Apa kau ingin jadi yang pertama?" Tawar Naruto sambil menyodorkan tangannya.
"A-apa maksudmu Naruto-kun?" Tanya Hinata dengan gugup.
"Maksudku adalah," Naruto menggantungkan kalimatnya lalu mencengkram wajah Hinata dengan kuat, "Apa kau ingin menjadi orang pertama yang aku habisi!" Lanjutnya dengan wajah yang berubah menjadi sangat datar, sehingga tatapan matanya terlihat sangat menusuk.
DAP!
Naruto menahan kaki Sasuke yang hendak menendangnya. "Rupannya kalian sudah tidak sabar ingin dihabisi!" Seru Naruto lalu membanting Sasuke kebelakang hingga membentur sebuah batu besar.
"Sadarlah Naruto!" Teriak Lee yang hendak memukul Naruto namun gagal. Karena Naruto sudah berada dibelakangnya, entah sejak kapan, dan langsung menendang tubuhnya yang langsung melesat menghancurkan beberapa pohon yang ada dihutan.
Sedangkan Naruto kembali mundur kearah Menma berada. Mengedarkan pandangannya kearah teman-temannya, lalu kemudian menyeringai kecil.
"Cepat, hadapi aku"
TOBECONTINUE
Wah gomen lagi! San baru sempet publis hari ini karena UN smp baru dimulai! Semoga kalian tidak bosan ya dengan cerita yang ngaret ini. Dan San harap kalian juga masih mau memberikan review walau memang tidak layak. Jadi R&R please.
