Disclaimer : Masashi Kishimoto-sama

Main Cast : Naruto & All

:::::DONT LIKE DONT RIDE:::::

Chapter 8

Suasana seketika itu saja menjadi sangat tegang. Ketidak pastian kini tengah merundung hati mereka semua, apakah mereka harus melawan Naruto atau tidak.

Semua masih diam, tak ada yang bergerak namun tetap siaga pada kuda-kuda masing-masing. Tenggorokan mereka terasa tercekat, sedangkan jantung mereka berdebar tak karuan. Keputusan ini sangatlah sulit.

"Ayo hadapi aku! Apa kalian taku?!" Tantang Naruto yang masih tetap pada seringaian jahatnya.

"..."

"Apa kalian takut?" Naruto mulai melangkahkan kakinya untuk mendekat. "Bukankah kalian ingin aku kembali?" Tantang Naruto lagi. Namun dengan tatapan yang berubah datar.

"Jangan bermain-main lagi Naruto, cepat habisi mereka. Bukannya kita harus cepat? Konoha sedang kacau sekarang!" Teriak Menma dari kejauhan.

Konoha katanya. Apa yang dia maksud dengan menyebut nama Konoha? Apa dia dan Naruto akan menghancurkan Konoha sekarang juga.

"A-apa maksudmu dengan menyebut nama Konoha?" Tanya Sakura dengan sedikit berteriak.

Naruto diam sejenak, lalu ia menoleh kearah Menma kemudian mengangguk pelan. Sepertinya ia malas untuk menjawab pertanyaan Sakura tadi.

"Kau pintar nona, tebakanmu benar 100%. Jadi cepat lawan Naruto dan-"

"Tidak akan!" Cekat Lee yang sepertinya sudah bangkit. Dengan jalan yang sedikit sempoyongan, Lee berjalan mendekat, "Naruto adalah teman kami, dan kami kenal benar Naruto itu seperti apa. Naruto adalah seorang shinobi yang sangat mencintai desanya, ia ninja yang hebat, aku tidak akan membiarkan kau menghasut Naruto!" Teriak Lee lalu kembali berlari kearah Menma dan mendaratkan tinjunya tepat di ulu hati Menma.

"Jangan bercanda bocah," Menma menarik tangan Lee lalu mengangkatnya keatas. "Tinjumu itu seperti anak kecil" Ejeknya dengan notasi suara yang merendahkan.

DAP!

Menma kini menahan tendangan Lee dengan satu tangannya.

"Sebaiknya kau bergabung dengan teman-temanmu jika ingin melawan kami!"

DRAK! BRUG! BRUG!

Tubuh Lee kembali terlempar, dengan berkali-kali tubuhnya berbenturan dengan tanah. Sebenarnya siapa pria itu.

"Itu tidak benar kan Naruto?!" Kini Kiba yang angkat bicara, dengan harapan Naruto tidak akan melakukan itu semua.

"Hm" Jawab Naruto singkat. "Aku tidak bohong" Lanjutnya.

Semuanya kembali terdiam. Mereka sungguh takut dengan Naruto yang sekarang, bahkan mereka tidak menyangka Naruto akan semenakutkan ini.

"Apa kau lupa dengan janjimu Naruto?! Kau janji akan menjadi Hokage dan melindungi desa, menjaga desa sekuat tenaga! Kau bilang kau akan menjadi orang terkuat agar bisa menjadi Hokage!" Dengan sedikit emosi Hinata mulai mendekati Naruto, walaupun sekarang dalam hatinya ia sedang ketakutan menatap Naruto dihadapannya.

"Kau menyelamatkan Sasuke dari kegelapan, tapi kenapa sekarang kau yang terjerumus dalam kegelapan. Apa yang kau pikirkan saat ini Naruto? Kumohon sadarlah, kami sangat berharap kau kembali pada dirimu lagi, tak seperti sekarang. Aku mohon Naruto, kami sangat menyayangimu." Ucap Hinata sambil memberanikan diri memeluk tubuh Naruto. Tubuhnya kini terasa berbeda, dingin, dan kaku.

"Aku sudah sadar Hinata," Sahut Naruto dengan datar, Hinatapun langsung mendongak untuk melihat wajah Naruto. Ternyata Naruto tak sedikitpun menatapnya.

"Aku ini sudah sadar. Aku yang dululah yang belum sadar, ternyata kalian itu tidak berguna. Aku hanya membuang waktuku untuk mendapatkan pengakuan, padahal aku tidak perlu itu. Karena kekuatanlah yang membuat aku diakui" Sambung Naruto masih dengan nada yang sama.

"Kenapa Naruto!" Hinata memukul pelan dada Naruto, "Sebenarnya ada apa denganmu?!" Lanjutnya terus memukul dada Naruto dengan sedikit keras.

Pukulan Hinata berhenti, bukan karena alasan, namun karena tangan Naruto yang menahannya. Kini bisa Hinata lihat mata hitam Naruto yang sekarang kelam, tidak secerah mata shapirenya dulu.

"Menyerahlah nona, kau tidak akan bisa mengubah pendirianku. Dan sekarang kembalilah, jaga teman-temanmu agar tidak terbunuh!" Kecam Naruto melepaskan tangan Hinata lalu melompat kebelakang untuk menemui Menma.

"Cepat Naruto! Aku tidak sabar lagi!" Seru Menma dengan keras, sehingga membuat Naruto menoleh kearahnya.

"Baiklah," Naruto kembali memalingkan pandangannya kearah Shikamaru dan yang lain. "Aku hitung sampai 5 dan kalian harus siap untuk menyerangku, atau aku yang akan menyerang kalian duluan?" Tawar Naruto dengan datar.

Namun semuanya masih terdiam pada posisi masing-masing, tak ada yang bergerak maupun mengalihkan pandangan mereka dari Naruto. Mereka benar-benar belum siap melawan.

"Satu,"

Naruto mulai menghitung, namun semuanya masih tetap diam.

"Dua,"

"Tiga,"

"Empat,"

ZRUBBBB!

"Lima,"

"Berpencar!" Teriak Shikamaru saat Naruto dengan tiba-tiba berada dibelakang mereka, entah sejak kapan.

"Jangan melarikan diri kapten!"

BUAKH!

Satu tendangan telak mendarat diperut Shikamaru hingga ia terpental beberapa meter kebelakang.

"Sejak kapak, hah..hah... kau ada dibelakangku?! Akh!" Rintih Shikamaru ketika ia rasakan sakit dan panas didalam tubuhnya. Padahal itu Cuma tendangan, tapi mengapa sesakit ini.

"Nimpo itsumaria!" Seru Sai melepaskan mantra lukisannya.

CRAT! CRAT!

Namun sayang, Naruto baru saja menggagalkan tehniknya hanya dengan jentikan tangan. Sebenarnya sebesar apa kekuatan kegelapan dalam tubuh Naruto.

Semua tetap siaga, bisa saja Naruto tiba-tiba muncul dibelakang dan menghajar mereka. Tapi mereka lihat Naruto masih dalam posisinya, dengan tatapan datar namun mengerikan.

"Aku beri kalian kesempatan untuk menyerangku lebih dulu, tapi kalian malah menolaknya" Seru Naruto sambil menyunggingkan sedikit ujung bibirnya. "Dan sekarang, akulah yang akan menyerang kalian!" Sambungnya dengan keras.

ZRUUUBB!

BUGGHH!

BUAKKKHH!

ZRRAAAGGGHHH!

Tiba-tiba semuanya sudah terhempas segala arah. Gerakan Naruto bagai kilat yang tidak terditeksi, bahkan bayangannya saja masih tertinggal ditempatnya tadi, tapi sekarang ia sudah berhasil menghajar semua temannya dengan sekali gerakan.

"Kalian lambat!" Seru Menma sambil menggerakan ibu jarinya kebawah.

"Dia cepat sekali.." Rintih Kiba memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Tendangan Naruto tadi terasa begitu sangat kuat.

"Ya, bahkan lebih cepat dari Sasuke" Sambung Shino yang bernasib sama dengan yang lain.

Naruto terdiam sejenak, menghela nafas panjang lalu kembali menatap tajam kearah teman-temannya.

"Aku cepat bukan?" Kini Naruto mengangkat tangannya keatas. "Sekarang aku mengerti kenapa shinobi-shinobi kuat lebih banyak memilih kekuatan kegelapan. Itu karena kekuatan itu sangat mengesankan. Bersama dengan kalian membuatku terhambat, aku tidak percaya diri, ketergantungan, bertingkah bodoh karena ingin kalian menganggapku. Mengingat hal itu membuatku semakin yakin bahwa inilah yang terbaik untukku sa-"

"Apa yang kau bicarakan idiot! Kau adalah sahabat kami! Kami mengakuimu!" Cekat Lee dengan wajah yang terbakar karena kesal.

"Heh, kalian memang mengakuiku, tapi itu setelah aku memiliki kekuatan yang dapat aku tunjukan! Kekuatan yang bahkan bisa mengalahkan 2 Uchiha bodoh itu!" Balas Naruto dengan notasi suara tinggi, namun masih tetap dengan mimik wajah yang datar, "Dengan kekuatan aku bisa mendapatkan apapun. Dengan kekuatan aku bisa melakukan apapun sesuka hatiku. Teman, sahabat, keluarga, maupun saudara, itu hanya membuatku hal itu lah yang membuatku lemah. Karena aku terlanjur mengenal apa itu persahabatan, apa itu keluarga, apa itu kasih sayang, mengenal rasanya diakui, diperhatikan, bahkan aku mengenal apa itu cinta." Naruto sedikit menjeda kalimatnya, kemudian memejamkan matanya perlahan. "Karena itu, menumbuhkan rasa saling perduli yang kuat, rasa takut kehilangan, rasa belas kasihan yang membuatku tidak bisa mengembangkan kekuatanku lebih jauh. Maka dari itu, sekarang aku membunuh semua perasaan itu, melenyapkannya hingga tak bersisa. Tali persahabatan yang dulu susah payah aku jalin pada semua orang, kini aku putuskan. Tidak ada rasa kasihan, rasa peduli, rasa takut akan sesuatu, atau perasaan apapun itu, bahkan aku melenyapkan rasa cintaku sendiri." Lanjutnya dengan dingin dan datar, seperti tidak ada beban sedikitpun untuk mengatakan semua itu dengan lantang.

Semua mulai bangkit, walaupun masih terasa sakit pada perut dan punggung masing-masing. Mereka menatap mata Naruto yang masih terpejam. Entah kenapa mereka merasa sangat sakit mendengar perkataan Naruto tadi. Walaupun mereka tau Naruto tengah terjatuh dalam kegelapan saat ini, namun mereka dapat melihat diri Naruto yang sesungguhnya saat Naruto mengatakan hal itu. Ini murni Naruto, murni tanpa ada pengaruh dari dalam kegelapan yang menyelimutinya. Entahlah itu benar atau tidak, tapi yang pasti mereka dapat melihat itu benar-benar Naruto yang mengatakannya.

Naruto kembali membuka matanya, kemudian menyeringai kecil. "Jadi, bagaimana jika kalian membantuku untuk melenyapkan perasaan itu? Bagaimana jika kalian membantuku dengan cara kalian lenyap ditanganku sekarang juga!"

"Menghindar!" Intrupsi Sai cepat ketika melihat sebuah bola rasengan hitam muncul dari tangan Naruto.

SRING! SRING! SRING!

BUARRRR!

Ledakan hasil rasingan suriken Naruto berhasil meledak diantara mereka. Untunlah mereka segera lari dan menghindar. Telat sedetik saja mungkin mereka sudah menjadi abu saat ini.

"Jadi mereka melarikan diri kehutan untuk memisahkan kita ya," Ucap Menma yang tiba-tiba saja sudah berada disamping Naruto.

"Ya. Berarti kita memang harus berpencar" Sahut Naruto datar.

"Yare~ Menyusahkan" Keluh Menma yang langsung saja menghilang.

"Sekarang atau tidak sama sekali," Sambung Naruto kemudian mengikuti langkah Menma mengejar Shikamaru dkk yang ternyata memang berpencar menjadi dua.

"Apa sudah saatnya Shikamaru?" Tanya Sai yang berada di belakang Shikamaru, dengan gulungan yang siap ia pakai kapan saja.

"Belum. Sasuke masih menghilang sejak Naruto melemparnya tadi. Jadi lebih baik kita tunggu Sasuke dulu" Jawab Shikamaru yang kelihatannya masih memegangi perutnya.

SRING!

BWARRRTTT! BWARRRTTT!

"Sial! Pria rubah itu sangat menyusahkan!" Umpat Shikamaru saat Menma melepaskan bola rasingan hitam kearahnya.

Team terbagi menjadi dua untuk memisahkan Naruto dari Menma. Namun rupanya rencana mereka gagal, karena sekarang mereka kembali terkumpul. Ternyata Naruto dan Menma sengaja mendesak mereka dengan serangan-serangan jarak jauh, agar mereka kembali berkumpul dan mudah dihancurkan.

SHUT!

SHUT!

SHUT!

Mereka kembali mengambil posisi siaga. Naruto berhasil memojokan mereka diujung hutan, dengan tebing-tebing tinggi yang mengelilingi mereka.

"Terpojok huh?" Kecam Naruto dari belakang Menma.

Semua semakin menjaga jarak, sampai mereka bersandaran dengan dinding tebing dan tak bisa bergerak. Sedangkan Naruto semakin mendekat, raut wajahnya yang datar memberikan kesan dingin yang luar biasa, apa lagi jika mereka menatap matanya yang berwarna hitam.

"Sungguh sangat ironi, seorang sahabat yang dibantai oleh sahabatnya sendiri? Sekali-kali cobalah kalian merasakan mati, mungkin akan menjadi pengalaman yang paling mengesankan." Hina Menma sambil membenarkan letak topengnya.

SSUUUIIITTT!

Sebuah rasingan shuriken kembali muncul dari tangan Naruto.

"Waktu kejar-kejaran sudah habis, ini saatnya penghabisan." Desis Naruto pelan namun masih dapat terdengar oleh semuanya.

Naruto semakin mendekat dan mendekat, rasa taku yang teramat sangat kini telah timbul dihati mereka. Apakah mungkin mereka akan mati sekarang juga, mati tampa bisa membuat Naruto sadar kembali? Apakah ini akan terjadi.

"JANGAN MENYERAH!"

ZZZRRRTTTT!

DUARRR!

"SASUKE!?" Teriak semuanya ketika melihat Sasuke baru saja mendaratkan chidorinya pada dada Naruto hingga tertembus kedepan.

"Akh!"

"Jika kau tidak bisa dikembalikan secara baik-baik! Bagaimana jika kau mati saja!" Teriak Sasuke yang langsung mengembangkan chidorinya hinga menjalar kemana-mana.

BUAAmMM!

DDDRRRTTTT!

Suasana hening seketika. Kumpulan asap terlihat menutupu sekeliling akibat chidori Sasuke tadi. Apakah Sasuke berhasil? Apakah Sasuke berhasil membunuh Naruto.

Asappun mulai hilang, kini mereka bisa melihat jelas apa yang terjadi. Setetes demi setetes darah mulai berjatuhan dari tangan Sasuke yang memang belum melepaskan tangannya dari dada Naruto yang ia tembus.

Dengan raut pucat pasi mereka memaksakan untuk melihat. Mata Naruto yang membulat dengan mulut yang menganga dan mengeluarkan darah, dadanya terlihat berlubang walaupun tangan Sasuke masih ada disana. Sasuke berhasil, dia berhasil membunuh Naruto.

"N-naruto-kun..." Gumam Hinata yang tak sadar meneteskan air matanya. Naruto telah mati.

"Apa yang kau lakukan Sasuke!" Teriak Lee histeris.

"Apa kau bodoh! Kenapa kau membunuh Naruto!" Tambah Chouji dengan histeris.

Sasuke masih terdiam, dia masih mencerna tindakan bodoh yang baru saja ia lakukan. Tangannyapun gemetar. Lalu Sasuke perlahan melepaskan tangannya dari tubuh Naruto, lalu menatap lumuran darah yang membasahi tangannya.

Brugh!

Tubuh Narutopun tumbang ketanah, dengan badan yang tidak lagi bergerak.

'K-kenap, kenapa aku lakukan ini! Naruto...' Sasuke memandang tubuh Naruto yang tersungkur dihadapannya. Dia diam, tak bergerak, Naruto sudah benar-benar mati.

"Kau ceroboh Sasuke!" Kecam Menma yang masih mematung di tempatnya.

'Aku terlalu terbawa emosi, kenapa kau sebodoh ini Sasuke! Lihat apa yang telah kau perbuat. Kau telah gagal Sasuke, kau telah gagal membawa Naruto kembali, bahkan tidak untuk selama-lamanya.' Rutuk Sasuke dalam hati.

Sasuke terus menatap tubuh Naruto yang sudah tak bernyawa, ia tak lagi merasakan cakra Naruto. Tapi kelihatannya pria rubah itu masih tenang-tenang saja, dan seharusnya jika Naruto benar-benar mati maka cakra Kyuubi akan terlepas semua.

"Sudahlah Naruto, jangan membuat mereka bingung. Kau telah membuat kekasih dan teman-temanmu menangis, sekarang cepatlah, jangan mempermainkan mereka!" Seru Menma yang sepertinya memang sudah tidak sabar lagi.

Jasad Narutopun kini berubah menjadi semacam tanah liat, dengan seseorang tak dikenal didalamnya.

Semua kembali tercengang, ternyata itu bukan Naruto, melainkan orang lain. Tapi bagaimana bisa aura cakranya sama seperti yang Naruto miliki, dan jika benar dia hanya sekedar orang yang sedang menyamar, seharusnya jurusnya sudah hilang sejak tadi. Karena setiap jurus yang ia gunakan adalah jurus yang membutuhkan cakra besar, yang secara tidak langsung akan mengikis justu peniru yang ia pakai.

"Kenapa b-bisa sperti ini?!" Gumam Shikamaru yang sepertinya memang tertipu oleh semua ini.

"Jangan kaget seperti itu!" Seru Menma membuyarkan lamunan semuanya. "Aku tau bocah itu akan datang terlambat, jadi aku sengaja membuat replikanya dengan menggunakan tubuh seseorang. Tapi yang jelas dialah yang mengendalikannya, dengan kata lain orang ini terkena brain controle." Lanjutnya lalu tertawa lepas.

"Jika dia bukan Naruto lalu dimana Naruto yang asli!" Teriak Sasuke yang mulai geram.

"Dibelakangmu Sasuke!"

"Huh!"

BUAKH!

Hening~... Bukan karena tubuh Sasuke yang terlempar kearah mereka, tapi karena melihat Naruto yang ada dihadapan mereka. Separuh wajahnya dipenuhi dengan bercak berwarna ungu, jubah hitam-putih dengan mata yang kelabu, dan wajah datar yangterlihat sangat dingin.

"Dia lebih mengerikan dari yang tadi," Guman Sakura dengan mata yang masih terbelalak kaget.

Naruto terdiam, memperhatikan raut wajah teman-temannya dengan seksama. Kemudian ia berjalan ketempat jasad orang yang telah dibunuh Sasuke tadi.

DUKH!

Naruto menendang jasad itu keatas, kemudian mengeluarkan semacam api berwarna hitam dan mengacungkannya keatas. Taklama kemudian api itu menjadi pusanan kecil, seperti sebuah rasingan yang terbuat dari api. Dan ketika jasad itu turun..

CRRRAAATTTT! CCCRRRRAAATTTT!

Jasad itu sudah hancur, beberapa bagian tubuhnya berserakan dengan darah yang mengucur deras. Jasadnya seperti tercabik, sama seperti jasad-jasad yang mereka lihat di desa itu. Ternyata benar Naruto yang melakukan semua ini.

"Jangan terburu-buru Naruto," Seru Menma sambil melipat tangannya didepan dada.

"Diam!" Tukas Naruto mendelik sinis kearah Menma. Naruto memang tidak ingin banyak bicara saat ini.

"Sasuke, sepertinya Naruto lebih berbahaya dari tiruannya tadi" Bisik Shikamaru sambil membantu Sasuke berdiri.

"Ya, dia lebih diam dari pada yang tadi. Bisa ku lihat dari pancaran matanya, tak ada keraguan sama sekali. Jadi sebaiknya kita tidak perlu dulu menganggap dia itu Naruto, jangan takut untuk menyerangnya. Ini memang keputusan yang sangat berat, tapi kita harus melakukannya" Balas Sasuke penuh keyakinan. Bukan berarti Sasuke juga tega melakukan ini, namun ini memang perlu. Jika mereka tidak berani menghajar Naruto, bagai mana mereka bisa menyadarkannya. Menyadarkan orang yang sudah termakan kegelapan memang harus memakai kekerasan, sama seperti dirinya dulu.

Shikamaru menoleh kebelakang, kemudian menjentikan satu jarinya pada semua kawan-kawannya.

"Apa kita harus melakukan itu Shikamaru?" Tanya Sakura yang mungkin merasa keberatan. Namun Shikamaru hanya mengangguk.

"Kita harus bisa," Sambar Sasuke ketika melihat teman-temannya saling menggeleng. "Jika kalian ingin menyelamatkannya, kalian harus bisa menghajarnya. Buat dia sadar dari kegelapan yang menutupi cahayanya. Kalian harus mengorbankan perasaan kalian, menghapus sejenak ingatan kalian tentang Naruto! Karena Naruto yang ada dihadapan kalian ini bukan Naruto yang sebenarnya!" Sambung Sasuke sambil mengerutkan alisnya. Ini memang harus dilakukan.

"Kalau begitu siapa diantara kalian yang ingin menghajarku duluan?" Tantang Naruto dengan dinginnya, dengan suara berat yang menusuk bagi siapapun yang mendengarnya.

"Hah!"

"Ya, buktikan ucapan Uchiha itu. Kalau kalian memang bisa menyadarkanku" Jelas Naruto lagi.

"Baiklah!" Lee menyodorkan dirinya kedepan. "Jika itu satu-satunya cara untuk membuatmu kembali Naruto, aku akan melakukannya!" Lanjut Lee dengan serius.

BRUSSHHH!

Lee mulai memusatkan cakra pada kedua tangannya, lalu dalam hitugan detik ia mulai berlari kencang kearah Naruto.

"HYAAAAAA-UHM!"

"Kenapa?" Tanya Naruto dengan santai, saat pukulan Lee tiba-tiba berhenti di depan wajahnya. "Kau tidak tega? Kenapa kau ragu menghajarku Lee, apa kau terlanjur menganggapku sahabat?"

Lee masih mengeratkan kepalan tangannya. Ia tidak bisa melakukan ini, Naruto benar, ia masih ragu untuk mendaratkan pukulannya pada wajah Naruto.

"Cepat pukul aku, teman"

DEGH!

Lee langsung membuka matanya lebar-lebar. Entah kenapa hatinya begitu teriris mendengar Naruto mengucapkan kalimat itu.

"Teman, kenapa kau jadi seperti ini Naruto!" Tukas Lee menarik kembali kepalan tangannya. "Teman, seharusnya kita saling mengasihi, saling menjaga, melindungi, bukan seperti ini! Tali persahabatan yang kau buat sudah terlalu kuat Naruto! Bukankah kau bilang teman adalah segala-galanya, persahabatanlah yang telah menguatkanmu! Kau bilang, selama semua temanku masih ada, aku tidak akan menyerah! Kau ingat Naruto!" Tukas Lee lagi sambil menatap tajam bola mata kelabu milik Naruto.

"Aku sudah mengatakannya tadi, aku ini sudah memutuskan semua tali persahabatan itu. Jadi, sekarang kalian tidak ada artinya lagi bagiku." Balas Naruto datar, tanpa ada ekspresi sedikitpun pada wajahnya.

"Keterlaluan!"

BUAKH!

"Pukulan bagus," Ucap Naruto menyeka darah yang keluar dari ujung bibirnya. "Kau berhasil mengalahkan keraguanmu, teman."

BUAKHH!

"JANGAN KATAKAN ITU LAGI!"

BUAKKH!

"KARENA KAU BUKAN NARUTO!"

TAP!

Naruto menahan tangan Lee dengan cepat.

"Aku ini Naruto, Uzumaki Naruto" Ucapnya setengah berbisik.

TAP!

Naruto kembali menahan kaki Lee yang diarahkan kearahnya.

"Baiklah, dengan ini,"

DUKH!

Naruto menendang tubuh Lee keatas.

"Aku memututuskan tali persahabatan kita!" Desis Naruto lalu menendang tubuh Lee yang melayang diatas kebawah.

"Lee!" Teriak semua hampir bersamaan.

"Aku tidak apa-apa. Sasuke benar, kita harus tega melawan Naruto. Seperti Shikamaru, Ino, dan Chouji melawan edotensei Asuma-sensei dulu" Ujar Lee yang kembali bangkit.

Ternyata ucapan Lee itu berhasil membangun sebuah keyakinan pada hati teman-temannya. Disinilah persahabatan mereka diuji, ini adalah cara untuk membuktikan seberapa kuat tali persahabatan yang telah Naruto tanam dan mengaitkannya pada semua orang. Teman, akan selalu menjaga temannya. Dan Sahabat, akan selalu menjaga sahabatnya, walaupun mereka harus mengorbankan nyawa mereka.

"Terimakasih Naruto, akhirnya kau secara tidak langsung menyadarkan kami semua, kalau tali persahabatan yang kau buat memang benar-benar kuat"

TOBECONTINUE