~Orang lain akan menghargai orang yang merhargai dirinya sendiri~
~Patrick Star~
.
.
~Hidup ini takkan pernah adil, jadi biasakanlah dirimu...!~
~Patrick Star~
.
.
~Kau boleh mengambil spatulaku, tapi jangan pernah kau merebut harga diriku...
... Karena, saat itulah aku marah.~
~Spongebob Squarepants~
.
.
.
.
.
.
Naruko terus berlari, menuruni tangga penghubung antara lantai atas dan bawah rumah tersebut. Sembari seulas senyum bertengger diwajah ayu gadis pirang itu, ia sudah tak sabar ingin menemui pemuda pirang penyelamat hidupnya itu. "Naruto-kun...!" ya nama itu, adiknya sendiri, sekaligus orang yang dalam diam ia kagumi bahkan bisa dibilang cinta.
Mungkin, pendapat orang tentang butanya cinta, ada benarnya juga. Karena itulah yang ia rasakan sekarang, mencintai adiknya sendiri? Aneh tapi nyata.
Senyum diwajahnya semakin mengembang. Melihat adik tercintanya menampakan wajah damai khas orang tidur. Tanpa banyak tingkah, segera ia hampiri adiknya itu. Adik yang dengan kurangajarnya mencuri hatinya itu.
.
.
.
.
Judul : Naruto And Naruko
.
Disclaimer : Naruto yah, punyanya Om Masashi. Max, yah cuma punya alur ngaco'. And special for Naruko, i don't know about that. Yang jelas saya cinta sama Naruko. Apalagi kalau buat Naru-kun.
.
Pair : Ini fict Uzumakincest. Jadi, pairnya incest dong. NarutoxNaruko, tapi jika ada kegilaan mungkin NarutoxKushina juga masuk - Pair ini tergantung vote.
.
Warning : Mungkin abal, mungkin aneh, munkin banyak typo. Tapi, yang jelas ini fict UZUMAKINCEST. Jadi, kalau nggak suka klik Back Button aja...
.
.
.
Naruko mendekati sofa, tempat adiknya merebahkan diri. Tersenyum sesaat sebelum menikmati wajah tenang sang adik, wajah tenang yang ia sukai. "Dasar adikku yang nakal. Berani-beraninya, kamu mencuri hati Onee-chanmu ini..."
"Sampai tak tersisa sebuah ruangpun untuk orang lain lagi. Kamu benar-benar nakal Naruto-kun...!" Naruko kini membawa tangannya mengelus wajah berkulit tan tersebut. Tak berubah, tiga garis itu -Yang sering teman-temannya sebut kumis kucing. Hidung itu, bibir itu. Bibir yang sangat gadis bermata biru itu harapkan mengucapkankan janji suci bersama dirinya, janji tentang bersama, biarpun itu susah ataupun senang, sedih ataupun bahagia, bahkan kaya ataupun miskin.
Bibir ranum yang ia harapkan setiap malam menjamah tubuhnya, memberikan sensai bergairah, hingga erangan penuh nikmat.
Segalanya memang tak berubah. Namun gadis keturunan Uzumaki dan Namikaze itu tak bisa, tak bisa untuk berhenti mengagumi sempurnanya ciptaan Tuhan pada salah satu makhluknya ini. Tapi, satu yang ia sesal dari takdir yang ada, mengapa orang yang dijadikan pencuri hatinya adalah orang yang terlarang baginya. Orang yang bahkan tak boleh menerima rasa ini...
... Adiknya...
...
..
..
...
Naruko hampir tak percaya atas apa yang terjadi padanya saat ini. Tubuhnya menegang, matanya membulat. Bagaimana tidak? Naruto kini tengah memeluknya, dan membenamkan wajah berkulit tan tersebut didadanya.
Awalnya Naruko hanya ingin mengelus wajah sang adik. Namun, ia tak menyangka pemuda penyelamatnya itu menarik tangannya, dan membawa dirinya dalam pelukan hangat antara adik dan kakak tersebut.
Mengelus surai pirang sang pemuda, Naruko tak bisa menyembunyikan rona merah diwajahnya, sembari merasakan hembusan nafas sang libra didadanya. "Engh...! Kurama, kau bodoh..."
"Ramen itu makanan terenak, tau'! Onee-chan saja yang aneh, menyuruhku berhenti makan itu...!" Naruko agak terteguh atas apa yang ia dengar. Ia harus mencatat ini ' Adiknya adalah pecinta ramen, jadi kalau mau jadi istri yang baik harus belajar masak ramen yang enak...'. Namun, mendengar kata terakhir yang terucap dari bibir sang adik agak membuatnya menyesal, 'Onee-chan saja yang aneh, menyuruhku berhenti makan itu..!'
Naruko tak salah, gadis pirang itu tidaklah salah, ia hanya ingin yang terbaik bagi sang adik, hanya itu. Karena ia berfikir, porsi ramen untuk sang adik terlalu berlebihan, jadi menyetopnya memakan ramen dulu, adalah hal yang terbaik...
Tapi, lupakan dulu masalah itu. Kini, gadis itu hanya ingin waktu terhenti untuk dirinya sesaat. Ia takut, takut segalanya akan berakhir. Dan Naruto akan meninggalkannya.
...
..
'Can marry your daughter, and make her my wife.'
'I want her to be the only girl that i love for the rest of my life.'
'And give her the best of me, till the day that i die.'
Naruko terus menyanyikan untaian lagu itu. Jika kalian bertanya kenapa ia sangat suka menyanyikan lagu itu. Maka, alasannya sederhana. Ia ingin agar lagu itu dinyanyikan oleh Naruto didepan sang bunda. Yah, ia ingin pemuda libra itu melamarnya, kelak.
Ia tahu, mungkin itu hanya impian belaka. Menginginkan adiknya melamar didepan sang bunda. Itu sama saja membangunkan harimau tidur, menginginkan dirimu jadi santapannya. Ia tahu ibundanya pasti akan marah besar bila itu terjadi. Bayangkan saja, jika kau berada pada posisi Kushina. Mengetahui kalau dua anakmu saling menaruh hati satu sama lain. Kau pasti akan merasakan malu dan marah secara bersamaan.
Dahsyat menggelora.
Yah, tapi sebelum itu, iapun bahkan tak tahu perasaan sang adik padanya. Ia tak tahu kalau pemuda kurang asem ini menaruh hati padanya atau tidak. Maka daripada itu ia akan memastikannya dahulu. Memastikan pemuda ini ada dalam genggamannya.
... Prisoner Max Bright ...
Menatap jam dinding yang bertengger diatar jendela. Naruko baru menyadari, ia telah berpelukan selama satu jam. Waktu yang cukup lama, bukan. Dan, satu lagi esok ada tugas menyebalkan dari gurunya. "Naruto-kun, bangun. Ayo ada tugas, kau tak mau dihukum oleh Iruka-sensei kan?"
"Engh..!" bukannya menuruti perintah dari sang kakak. Pemuda itu malah semakin mengeratkan pelukannya pada 'Bantal' lembutnya itu.
Naruko mau tak mau merasakan sesuatu yang merangsang gairahnya dibagian dadanya. Sesuatu yang sangat ingin ia lakukan bersama pemuda pirang kurang asem ini. Bagaimana tidak? Kepala sang adik kini menempel ketat didadanya, tepat di puncak payudaranya. Seolah tak mau kehilangan hal tersebut.
Setiap gerakan hidung dan mulut malah menambah buruknya keadaan. Naruko semakin bergairah. "Naruto-kun... Maafkan aku"
Kini, gadis itu mulai mengangkat kepala sang adik. Mendekatkannya pada kepala sang libra. Mencium lembut bibir ranum sang adik. Jika kalian bertanya apakah yang ia rasakan kini, gadis pirang itu akan menjawab. Senang, bahagia, sedih, malu, dan bahkan takut.
Ciuman sepihak itu kini mulai memanas, dengan Naruto yang tanpa sadar membuka mulut. Dan gadis libra itu tak menyia-nyiakannya. Segera ia masukan lidahnya pada mulut adiknya. Merasakan sesuatu mulai yang hangat hingga keras melalu lidahnya. Lebih dari itu, kini gadis bermata biru abalt tersebut mulai menyesapi saliva sang adik. Menghisapnya hingga memasuki mulutnya, lalu menelannya.
Hanya erangan yang tercipta dari mulut sang adik. Dan entah, itu malah membuat gadis berambut kuning tersebut semakin bergairah. Ia ingin lebih, ia ingin lebih dari ini, lebih dari sekedar ciuman. Ia ingin tubuhnya dijamah pemuda kurang asem satu ini.
"Naruko... Bangunkan adikmu, suruh ia pindah kekamar. Di sofa dingin." sang bunda berteriak dari kamar, dan tentu menyadarkan Naruko yang kini mulai menurunkan resleting jaketnya. Tunggu Naruko, ini masih diruang tamu. Kalau mau lebih nanti saja dikamar.
"Naruto-kun, bangun ada tugas, dan Okaa-chan menyuruhmu tidur dikamar...!" Naruto kini mulai membuka matanya. Mungkin efek ciuman saat tidur agak membuatnya terusik.
"Engh...!, Onee-chan... Tunggu, lima menit lagi... Naru masih ngantuk... "
Lagi-lagi, Naruko harus berjuang untuk tidak menerkam sang adik. Tatapan sayu itu. Ah, berjuanglah Naruko, sabar. "Nggak ada, harus sekarang ...!" Naruko kini menarik bantal yang digunakan adiknya itu. "Ayo, bersikaplah rajin seperti Gaara, lihat ia sudah jadi ketua Osis dari kelas satu. Jika kau lebih berusaha pasti kau akan jadi juara tahun ini...!"
Mendengar itu, entah kenapa... Telinga Naruto memanas. Mendengar kakaknya memuji orang lain didepan matanya sendiri. ''Ah, terserah Onee-chan...!" Naruto kini mulai duduk. "Yang jelas Naru nggak mau belajar hanya untuk jadi juara. Naru nggak mau jadi kaya sibastart Orochimaru yang terobsesi dengan penelitian. Ataupun Sakura, yang hanya ingin dipandang Sasuke. Naru hanya ingin pintar, agar tak menjatuhkan nama Keluarga Namikaze. Hanya itu...!" Naruto kini bangun, berlari menaiki tangga untuk menuju kamarnya.
BRAKK...!
Naruko kini terdiam, terpaku ditempat. Seolah dikakinya terbandul beban seberat seratus kilo gram. Otak encer khas Namikazenya mulai mencari tahu apa yang membuat adiknya marah. "Ayo, bersikaplah rajin seperti Gaara, lihat ia sudah jadi ketua Osis dari kelas satu. Jika kau lebih berusaha pasti kau akan jadi juara tahun ini...!". Nah itu, adiknya tak suka disuruh mengerjakan hal yang menurutnya tak penting. Apalagi mencapai target tak berguna seperti itu. Setetes liquid bening mengalir, membasahi pipi kuning langsat gadis libra itu.
Mungkin, saat ini Naruto tengah mengumpat tentang dirinya dikamar. Ah, impiannya untuk dijamah Naruto pupus sudah hari ini.
Naruko yang tahu apa kesalahannya, kini mulai berlari. Menaiki tangga dan menuju kamar yang ditempati dirinya dan adiknya. Berharap sang adik mau membukakan pintu, gadis itu mulai mengetuk pintu. "Naruto-kun..., Naruto-kun... Ini aku, bukain sih!"
Melihat pintu terbuka, menampakan sosok yang ia cinta. "Ada apa lagi...?"
Naruko sudah tak tahan. Segera ia peluk adik semata wayangnya ini. Adik yang dengan kurang ajarnya telah mencuri hatinya.
"Naruto-kun...! Maafkan Onee-chan..." gadis itu kini menenggelamkan wajahnya dipundak sang adik. Lebay, mungkin...
"Ah, Onee-chan... Nggak papa kok... Naru cuma nggak mau disama-samain.." Naruto hanya bisa menepuk pelan pundak sang kakak. Sesungguhnya, ia agak bingung dengan perubahan emosi gadis yang terlahir berselisih hanya hitungan menit dengannya itu. Gadis tersebut akhir-akhir ini terlihat lebih... Manja, padanya.
Tapi, Naruto tetap Naruto. Ia tak mau ambil pusing dengan itu. Asal kakaknya senang, kenapa tidak?. "Oh iya, katanya mau belajar. Ayo...!"
Perlahan, Gadis yang terlahir pada bulan Oktober itu mulai mengangkat kepalanya. Menatap kilas adiknya, lalu mengangguk antusias. "Nah, gitu dong..! Kan Naru jadi nggak ngerasa bersalah banget..."
Naruto lalu menarik tangan kakaknya untuk memasuki kamar keduanya. Kenapa keduanya?
Kalian pasti tahu lah... Memang dari kecil, mereka terus bersama. Makan bersama, tidur bersama, bahkan terkadang mandi bersama- saat kecil tentunya. Dan karena itu, orang tua mereka tak akan khawatir jika mereka melakukan lebih dari itu. Toh, mereka saudara 'kan?
...
Uzumakincest
...
Hari-hari membosankan dimulai lagi. Naruko mulai membuka matanya, menatap kamar bernuansa orange itu. Sebenarnya, Naruko sudah hampir bangun. Namun, melihat adiknya ia lebih memilih memeluk pemuda itu lebih lama.
"Naruto-kun, bangun...!" Naruko kini menindih tubuh adiknya, sambil memainkan hidung kecil diwajah bertanda lahir guratan garis yang berbentuk kumis itu.
Pemuda itu membuka mata. Mencoba menyesuaikan matanya dengan cahaya yang ada. "Onee-chan...!"
Lagi-lagi, cara aneh kakaknya untuk membangunkannya, Menindihnya. "Sudah kubilang berapa kali, Onee-chan... Berhentilah membangunkanku dengan cara anehmu...!"
Gadis itu kini memajukan bibirnya, sembari menggembungkan pipi. "Mou... Naruto-kun, tapi kau susah sekali dibangunkan... Tidurmu seperti kerbau saja..!"
"Jadi, Onee-chan mengataiku kerbau dong? Huh, masa adikmu yang ganteng ini disamain sama hewan lumpur, beda jauh dong... Gimana 'sih Onee-chan ini?" kini giliran Naruto yang memajukan bibirnya. Dan sukses mendapat senyum dari Naruko. "Dah, mandi sana!"
"Onee-chan, gimana Naru mau mandi kalau tubuhmu masih menindih tubuhku?" Naruko kini hanya bisa menepuk jidat, sembari nyengir kuda. "Iya, yah?"
...
...
A/N : Pertama saya mau ngucapin, Dirgahayu bangsaku. Dan mau ngasih lagu ini.
Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniamu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
KehadiratMu Tuhan
.
Dari yakinku teguh
Cinta ikhlasku penuh
Akan jasa usaha
Pahlawanku yang baka
Indonesia merdeka
Syukur aku hanjukkan
Ke bawah duli tuan
.
Dari yakinku teguh
Bakti ikhlasku penuh
Akan azas rukunmu
Pandu bangsa yang nyata
Indonesia merdeka
Syukur aku hanjukkan
Kehadapanmu tuan
...
Siapa yang tahu lagu itu? Coba tebak...- yang nggak tahu kebangetan, pergi sono jauh jauh.
Yang jelas, bangsa kita adalah bangsa yang kaya. Bangsa kita takkan habis kekayaannya jika hanya dikeruk oleh tangan nakal penjajah. Namun, kerusakan yang mereka buat melebihi apa yang dapat kita tangani. Jadi, perjuangan bangsa indonesia takkan pernah berakhir.
Setelah semuanya berakhir, saya mau tanya soal pair lebih baik dikasih NaruKushi nggak?
Thank for, Jeong Daisuke, Chisaki Chan, A'Raion No Sun, rahmatz, The Red's UzmAki no Kam, Rinnegan, Vin'DieseL D'.Newgates, .GM , Go Minami Hikari Bi, Neko Twins Kagamine, anonym, art69, , MORPH, putrabreaker, bandit, Nokia 7610, Yuuki Tokabito, Gunbai no Madara, . Pokoknya terimakasih.
Kolom tanya jawab- buat yang nggak login. Rinnegan, Cepet updet ya nak tak kebiri we... = yah, walau agak nggak maksud tapi ini dia. Anonym, Next, akhirnya ada fict narunaruko lagi, kuharap konfliknya sederhana aja (gak ada pihak ketiga, keempat, kelima, dsb), kuharap sih konfliknya lebih ke bagaimana agar cinta mereka bisa diterima masyarakat ataupun keluarga mereka (soalnya incest masih tabu dimasyarakat) = wah, ternyata anda penggemar NaruNaru yah? Kita sealiran. Konfliknya kek mana yah?. Art69, Lanjud = yah, terimakasih atas saran anda, akhirnya fict bodoh ini ada lanjutannya. MORPH, Fic-nya bagus dan juga cerita berbau incest..heeheh. Tapi tadi ada sedikit typo, tapi itu juga nggak mempengaruhi maksud dari author-san sampaikan..keep writing author-san = wuah... Bagus kek mana? Jelek gini kok bagus sih? Tapi, soal incest... Hehehehehe. Typo emang seperti udah jadi gaya penulisan saya, yah? #pudung_dipojokan. Bandit, di tunggu klanjutan'a= wah, masih ada yang nunggu yah? Tapi, arigatou. Gunbai No Madara, Penasaran sama chapter selanjutnya, semoga chapter selanjutnya lebih menarik. Thx :D = Nilai aja sendiri Gun-san, menurut anda kek mana? Tapi, kayaknya chapter ini agak buruk.
.
.
.
.
.
.
Akhir kata, PmaxB, undur diri.
.
.
See yaa!
...
Type your review here!
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVV
VVVVVVV
VVVV
VVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVV
VVVVVV
VVVV
VV
V
