Tattoo

Disclaimer; Masashi Kishimoto

Rated; Teenagers

.

.

.

[Normal Point of View]

Seorang cowok berambut merah bersimpuh dipinggir sebuah trotoar. Matanya menatap nyalang, dari sudut bibirnya ada tetesan darah yang mengering. Wajahnya pucat sekali, lebam berwarna biru nyaris memenuhi satu bagian pipinya. Gaara Sabaku namanya. Siswa kelas 3 di Akatsuki Senior high School itu dikabarkan adalah berandalan kelas atas yang sangat ditakuti. Tak ada satupun orang yang berani mendekatinya, karena ia seperti preman. Dengan piercing hitam yang menempel di telinga kirinya, wajah sangar, serta lingkaran di sekeliling matanya yang membuatnya ditakuti seisi sekolah.

[Hinata's Point of View]

Aku lupa kalau hari ini kakakku—Neji menyuruhku membeli ramen untuk makan malam kami nanti. Semenjak Ibu kami meninggal, akulah yang bertanggung jawab atas urusan rumah tangga bagiku, kakakku, serta ayahku. Oh aku lupa memperkenalkan diri! Namaku Hyuuga Hinata, gadis kelas 3 di Konohagakure Senior High School. Orang-orang berpikiran kalau aku itu gadis lemah yang sangat pendiam. Tapi aku tidak mau disebut begitu! Aku ingin disebut kuat!

.

.

.

Aku melihat seorang laki-laki berambut merah yang tengah bersimpuh didekat trotoar seberang warung ramen Ayame-san—tetangga sebelah kami.

Aku mendekati cowok berwajah pucat itu. "He-hei!" kupanggil dia. Tak juga menoleh, dengan segenap keberanian aku menepuk pelan bahunya, "He-hei," dia menoleh sedikit kearahku dengan wajah sendunya. Sedetik kemudian ia kehilangan kesadaran.

[Gaara's Point of View]

Ada dimana aku? Mengapa langit-langit kamarku berubah menjadi putih? Aku melihat sekeliling. Ini bukan rumahku. Aku tak ingat bagaimana aku bisa sampai dirumah...siapa ini? Yang aku ingat, aku berkelahi dengan seroang anak SMA Swasta Otogakure gara-gara dia melecehkan sekolahku, lalu aku babak belur dihajarnya. Terakhir kali aku melihat wajah seorang gadis yang sepertinya seusiaku dengan rambut indigo gelapnya. Lalu, sepertinya aku tak sadarkan diri lagi...

[Normal Point of View]

"Su-sudah siuman?" tanya Hinata—seorang gadis berponi rata yang datang sambil membawa sebaskom air hangat dan handuk kecil.

"Siapa kau? Dan dimana aku?" tanya Gaara—cowok yang kini berbaring lemah itu menggubris pertanyaan Hinata.

"Na-namaku Hinata Hyuuga. Dan i-ini rumahku. Dan siapa na-namamu?" jelas Hinata sambil tersenyum.

Untunglah Neji dan Hanabi sedang tidak berada dirumah, dan akan kembali sejam mendatang. Neji sibuk mengatur bisnisnya, jadi dia menitip ramen pada Hinata. Sedangkan Hanabi? Ia masih ada kerja kelompok dirumah Konohamaru. Kalau mereka berdua ada dirumah, bisa dipastikan Gaara akan ditendang duo Hyuuga itu. Hinata...Hinata...kau terlalu manis dan baik pada semua orang.

"Aku Sabaku Gaara," respon Gaara singkat.

"K-kau pingsan, ke-kebetulan aku me-melihatmu. Ka-karena kupikir lu-lukamu itu harus di-diobati, aku membawamu ke-kerumahku." Jelas Hinata lagi sambil menaruh baskom itu di sebuah meja dekat tempat tidur. Gaara tak mengatakan apa-apa lagi. Mungkin lebam di wajahnya membuatnya tak bisa bergerak.

'Pasti itu sangat sakit,' gumam Hinata pelan.

"Sa-sakit tidak?" Hinata menyentuhkan handuk yang sudah dicelupkan ke air hangat itu ke sudut bibir Gaara.

"Aduh!" erang Gaara. "Pelanlah sedikit," ujarnya lagi.

"Ma-maaf," ujar Hinata kaget sambil pelan-pelan menyentuhkan handuk itu ke bibir Gaara.

"Kau kayak malaikat yang turun dari langit." Komentar Gaara sambil tersenyum.

"Eh? Ta-tadi kau bi-bilang apa?" tanya Hinata gagap sambil mencelupkan handuk tadi ke baskom berisi air hangat itu.

"Tidak apa-apa. Cuaca cerah ya," Elak Gaara mengganti topik sambil menunjuk langit diluar.

Oh bagus Gaara, kau menunjuk langit mendung yang kuyakin setelahnya akan hujan deras.

"I-iya," Hinata tertawa kecil kemudian mengangguk kecil setelah sebelumnya melihat langit yang ditunjuk Gaara.

"Maksudku cerah dalam pandanganku," elak Gaara lagi. Menyembunyikan semburat rasa malu-nya.

"A-aku tahu kok," secercah tawa gadis Hyuuga itu sanggup membuat seorang Sabaku agak sedikit merona dibuatnya

[Hinata's Point of View]

Gaara namanya. Cowok bermata jade yang kini sedang kuobati lukanya itu lucu sekali ya. Wajahnya kayak panda, kulit putih, ditambah dengan lingkaran disekeliling matanya. Bedanya dia nggak gembul kayak panda-panda di kebun binatang. Rasanya ingin kucubit pelan pipinya bila aku tak melihat lebam di wajahnya. Eh sejak kapan aku jadi genit begini? Aku melirik sebuah gambar di lengan kanannya, gambar sebuah naga. Tato—desisku.

[Normal Point of View]

"A-ano, tatomu i-itu...sakit ti-tidak?" tanya Hinata sambil terlihat kebingungan dengan sebuah gambar berwarna hitam di lengan Gaara.

Gaara tertawa, "Tidak. Ini sudah lama kutato." Sahutnya.

"A-apa tidak sa-sakit? Ah ma-maaf aku mencampuri u-urusanmu." Gadis itu kembali gugup.

Gaara menggeleng pelan. "Tidak apa-apa," sahutnya. "Sakit sih, tapi ini bukti kalau aku sudah menguasai satu sekolah." Lanjutnya lagi.

"Me-menguasai satu se-sekolah?" tanya Hinata bingung.

"Iya," jawab Gaara. "Aku punya sebuah kelompok yang lebih menjurus pada kenakalan remaja saat ini, dan kelompok kami adalah kelompok paling berandal di sekolah kami. Dan pemimpin kelompok itu adalah aku. Sebagai simbol, aku menato lenganku." Jelas Gaara panjang lebar.

"Ta-tapi, ke-kenapa kau ba-babak belur?" tanya Hinata ingin tahu. "A-ah maaf, aku mu-mulai lagi." Hinata menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Handuk kecil itu dia taruh di bibir Gaara. Semoga saja lukanya sembuh.

"Tidak apa-apa, kan sudah kubilang." Gaara menyeringai. "Murid SMA Swasta sialan itu melecehkan sekolah kami," jawab Gaara. "Lantas aku tak terima dan aku menghajarnya." Gaara menghela napas. Sejenak keduanya terdiam dalam keheningan.

Mungkin Gaara bukan orang jahat, terbukti dia melakukan perbuatan itu dengan sebuah alasan. Bisa saja dia orang baik.

"Ma-maaf ya, a-aku banyak ta-tanya." Hinata menunduk.

"Iya, bukan masalah." Sahut Gaara sambil tersenyum—kecil.

Seberkas cahaya muncul dibalik bergumpal-gumpal awan gelap, membiaskannya menjadi tujuh warna indah. Seindah tawa kecil dua insan ini.

[Gaara's Point of View]

Kenapa aku baru sadar kalau aku sudah banyak bercerita pada gadis ini selain ibuku? Apa mungkin gadis pemalu ini berbeda dari gadis yang lain? Eh aku ini ngomong apa sih...


TBC


Aku tahu chapter ini paling membosankan, maafkan aku aku lagi kehilangan ide ideku ;_; *malah curhat* /diinjek

Sebenernya chap ini udah ada di hape, cuman belom sempet ngetiknya ;~; *curhat lagi*

Yasudlah, mind to review?:3