Magic
Disclaimer: (C) Masashi Kishimoto
Pair; GaaraxHinata
Theme Song: Lyla – Magic
Summary: "Semua yang kau lakukan it's magic,"
Author: Mayu Masamune &Medasume-senpai (Btw ini fict colabor pertama saya 8DDD)
Dedicated for my lovely oneechan; Ai HinataLawliet yang udah senantiasa menunggu berbulan-bulan untuk fict ini ;_; *sobs* maaf karena keterlambatan—yang sangat sangat—pada fict ini senpai *bows*
.
.
.
[Normal Point of View]
Gadis cantik itu kini terpaku menatap bayangannya di cermin. Dia berputar sekali lagi membuat dress selututnya mengembang tertiup angin. Dia tersenyum melihat wajahnya. Sangat berseri-seri. Bola mata Lavender-nya berbinar indah dan senyum manisnya yang sanggup membuat siapapun yang melihatnya berdebar tak karuan.
"Hinataaa" Sayangnya, gambaran seorang gadis cantik tadi yang disinyalir bernama Hinata itu harus terusik dengan teriakan cempreng seseorang yang tak lain tak bukan adalah kakak kandungnya—Neji Hyuuga.
Hinata lalu cepat-cepat memasukkan beberapa barang pentingnya kedalam sebuah tas mungil yang ia selempangkan. "Tu-tunggu sebentar" sahutnya lagi sambil menutup pintu kamarnya dan kemudian berlari menuruni tangga.
Hinata Hyuuga—gadis manis berusia 16 tahun yang kini sedang merasakan indahnya masa remaja itu kini duduk manis disamping Neji—kakaknya didalam mobil. Hinata berencana pergi ke toko buku langganannya di pusat kota. Sebenarnya ia bisa saja naik bus sendiri, tapi seorang Neji adalah faktor utama ia tak menaiki bus itu. Neji—kakaknya itu sangat posesif. Dia bahkan mengatur jam malam untuk adiknya. Sebenarnya sah-sah saja sih Neji berbuat demikian, tapi masa iya untuk membeli pakaian dalam wanita saja dia harus ikut menemani Hinata?
.
.
.
"Sampai jumpa. Nanti kujemput pukul dua. Kau jangan kemana-mana, tetap disini sampai aku menjemputmu. Kalau ada yang macam-macam padamu, langsung telepon aku." Wejangan Neji memenuhi kepala gadis Hyuuga berusia 16 tahun itu.
"I-iya, sampai jumpa Neji-nii" Hinata melambaikan tangannya pada mobil porsche berwarna abu-abu itu.
Hinata melangkahkan kakinya ke sebuah toko buku ber-plang 'Uzumaki's Bookstore'.
"Hinata-chan!" Seorang laki-laki berusia sebayanya dengan rambut kuning jabrik menyambutnya sumringah.
"Ah Na-naruto-kun" Hinata tersenyum malu-malu. Bagaimanapun juga setiap bertemu lelaki, Hinata selalu malu-malu dan agak canggung.
"Wah hari ini pun kau menyempatkan kesini? Naruto, ajak dia masuk!" seorang pria berusia 30 tahunan menyembul dari balik pintu. Namikaze Minato—ayah dari seorang Uzumaki Naruto itu tersenyum lebar.
"Te-terimakasih paman" Hinata berjalan beriringan dengan Naruto.
"Bagaimana kabarmu, Hinata-chan?" tanya Naruto. Maklum, libur musim panas membuat mereka jarang sekali bertemu; padahal mereka adalah teman sebangku di kelas.
"U-um baik, Na-naruto-kun bagaimana?" rona merah terpancar semu dikedua belah pipi Hinata yang tertimpa cahaya senja.
"Sama sepertimu. Ah ya—" belum sempat Naruto melanjutkan, perkataannya dipotong oleh teriakan cempreng dari arah depan.
"NARUTOOOOO" Naruto menghela napas panjang.
"Gomen Hinata-chan, kutinggal dulu. Akhir-akhir ini ibuku sering sekali berteriak. Maklum, bawaan bayi yang sudah 4 minggu di kandungnya sih," Naruto nyengir sambil berlari menuju suara ibunya itu. Hinata tertawa kecil melihatnya.
[Hinata's Point of View]
Akhirnya aku sampai di toko buku ini. Wangi buku-buku baru menguar ke indera penciumanku tatkala aku menyentuh sebuah rak buku besar. Jari telunjukku sibuk mencari sebuah novel terjemahan yang baru kemarin kubaca resensi-nya di internet.
Aku sibuk mengedarkan pandangan.
"Hinata?" suara itu membuatku menoleh mendapati seorang pemuda berambut merah dengan lebam di wajahnya.
"Ga-gaara-kun?" kagetku. Tak kusangka bisa bertemu dengannya sekarang. Terlebih keadaannya yang mengenaskan—wajah penuh lebam. Tak heran sih, soalnya dia doyan berkelahi. Aku nggak tau dia punya hobi membaca sampe-sampe datang ke toko buku Naruto.
.
.
.
[Normal Point of View]
Gaara bersender pada sebuah rak buku. Lambat laun tubuhnya merosot dan kini ia terduduk dengan baju yang berantakan dan wajah yang membiru bekas tonjokkan.
"K-kau harus se-segera ku-kuobati," ujar Hinata. Rautnya menampakkan kecemasan. Tunggu! Kuobati? Adakah yang janggal dari frasa itu?
Ku-o-ba-ti.
Berarti ada suatu keinginan gadis bermanik lavender itu ingin melakukan sesuatu pada wajah Sabaku junior itu.
Gaara menyeringai kalem—seakan merasakan kejanggalan dalam ucapan gadis Hyuuga itu. "Kalau kau tak keberatan," sahutnya datar.
Hinata yang merasakan sesuatu, bergegas menutup mulutnya, "A-aku tak be-bermaksud," air mukanya berubah takut.
Pfft!
Gaara mengulum tawa. "Cepat obati aku sebelum aku pingsan," ujarnya sambil menunjukkan pipinya.
"Ba-baiklah," pasrah, Hinata membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna ungu. Pelan-pelan, ia mulai menempelkan saputangan itu di pipi Gaara.
"Sakit! Pelan-pelan!" seru Gaara. Terlihat sedikit aura jahil dari samudera azure-nya.
Hinata menatapnya kaget, "Go-gomen," lalu menghentikan pergerakan jarinya yang menyentuhkan saputangan itu.
"Ada yang menyuruhmu berhenti?" suara Gaara. Menyeringai setan.
Hinata dengan gugup buru-buru menyentuhkan saputangan tadi ke pipi Gaara. Semburat merah menjalari pipinya.
Hening sesaat.
"Ga-gaara-kun," Hinata berinisiatif membuka pembicaraan.
"Ya?"
"Ke-kenapa wajahmu s-selalu penuh le-lebam?" tanya Hinata.
"Nggak boleh?" tukas Gaara. Hinata salah ngomong lagi nih kayaknya.
"Bu-bukan begitu," kilah Hinata pelan. "Ha-hanya saja—"
"Apa? Aku nggak ganteng kalo ada lebam ini?"
Iris Hinata yang sewarna bulan membulat.
"Apa wajahku nggak memikat hatimu?"
Hinata nyaris kehilangan suaranya.
"Apa kamu nggak mau jadi gadisku?"
Kali ini Hinata benar-benar bingung.
Tiba-tiba Gaara mendekat, mengeliminasi jarak antara keduanya. Dan dengan sentuhan lembut, ia menempelkan bibirnya di bibir Hinata. Setelahnya, Gaara hanya menyunggingkan senyum yang tak bisa diartikan.
"Ke—" sebelum Hinata melanjutkan protesnya, Gaara sudah menaruh telunjuk dibibir Hinata.
"Karena kau tak bereaksi apapun, bisakah aku mengasumsikan bahwa aku mendapat persetujuan darimu?"
Hinata sudah tak berkutik lagi. Tungkai kakinya melemas seperti jelly. Dan, ia kehilangan kata-kata. Diam, menjadi opsi terbaiknya. Sementara Gaara, menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
"Kalau kau tak meresponku, kau akan tahu apa yang akan kulakukan, bukan?" sejurus kemudian, Gaara sudah mencondongkan kembali tubuhnya ke arah Hinata. Hingga jarak wajah keduanya hanya terpaut tiga senti saja. Kali ini, Hinata tak menolak. Ia memejamkan matanya, merasakan sentuhan manis yang menyapu bibir mungilnya. Mengikuti arah gravitasi Gaara yang mendominasi.
"Aku mencintaimu, Hinata Hyuuga."
.
.
.
Dengan alur yang berantakan dan terlalu cepat, apakah anda masih bisa meluangkan waktu untuk mengisi kolom review? Arigatou!
