Perfect Affection
Author : Yundol aka Lunn
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Shim Changmin, Park Yoochun, Kim Junsu, Tiffany Hwang and others
Genre : Drama, Romance, Family, Mpreg, OOC, YAOI, Slightly Straight
Desclaimer : They're belongs to themselves and God. I own nothing but this FF is mine!
.
Warning : Boys Love, beberapa GS dan perubahan marga, cerita pasaran, alur amburadul, garing, membosankan, typo(s), dan pemilihan kata yg kurang tepat. Jika ada kesamaan cerita, itu adalah murni ketidak sengajaan, tp cerita ini asli milik saya. Mohon kritik dan saran yg membangun. No bashing!
.
Don't Like. Don't Read!
.
Summary : Kim Jaejoong mengalami koma selama 5 tahun karena sebuah kecelakaan. Selama itu pula bocah manis bernama Kim Changmin merindukan sosok Umma yang belum pernah melihat wajahnya sejak ia dilahirkan. Lantas siapakah sosok yang seharusnya ia panggil Appa?
Perfect Affection
Yundol aka Lunn
.
Chapter 2
.
.
"Apa maksudmu?"
Yunho menatap sahabat yang duduk di depannya dengan tajam. Seakan tak suka dengan pertanyaan yang Yoochun tujukan padanya. Sementara Yoochun masih memandangnya penuh curiga.
"Aku berpikir mungkin saja kau diam-diam menyukai seseorang atau mungkin juga kau masih menyukai mantan kekasihmu dan mengharapkannya kembali padamu?"
Yunho menghela napas berat. Entah kenapa ia merasa marah dan kesal. Tanpa sadar ia pun mengepalkan tangan kanannya di bawah meja. Tanpa alasan yang jelas hatinya mendadak merasa sakit teramat sangat.
Menyadari perubahan air muka Yunho yang tiba-tiba mengeras tentu membuat Yoochun heran dan semakin penasaran. Ia yakin pertanyaannya tadi hanyalah lelucon yang tiba-tiba muncul di otaknya. Ia hanya ingin menggoda Yunho, tapi hey! lihatlah respon yang ia dapatkan. Sungguh di luar dugaannya. Apa mungkin-
"Permisi, ini credit card-nya Tuan"
Seorang pelayan memecahkan keheningan di antara mereka. Menghentikan berbagai macam dugaan dipikiran Yoochun dan membuyarkan lamunan Yunho.
"Gomawo" sahut Yunho seraya menerima kembali kartu kreditnya. Sebuah senyuman tipis dan terkesan kaku terpasang di wajah tampannya. Si pelayan tersenyum dan membungkuk hormat.
"Kita kembali ke kantor. Kkaja!" tanpa melihat Yoochun, Yunho segera beranjak dari duduknya setelah memasukkan kembali kartu kredit yang ia pegang di dalam dompetnya. Melangkah pergi meninggalkan Yoochun yang masih memasang raut wajah keheranan.
.
o0o
.
Kim Heechul masih sibuk membujuk Changmin yang tengah menangis di pelukannya. Mengelus punggung bocah itu seraya menepuknya kecil agar tangisannya mereda. Sementara matanya sedari tadi melotot tajam pada putra bungsunya yang sedang duduk di sudut sofa ruang tengah rumah mereka dengan bibir mengerucut lucu.
Ia benar-benar tak habis pikir dengan sikap Junsu. Ia masih ingat tadi pagi sebelum Junsu kembali ke Seoul, namja itu menelponnya sekedar untuk menanyakan kabar Changmin dan mengatakan bahwa ia merindukan bocah itu. Padahal mereka hanya sehari tak bertemu. Tapi sekarang? Setelah mereka bertemu, Junsu lagi-lagi membuat cucunya menangis. Meskipun ia tak tahu apa yang sudah Junsu lakukan sehingga membuat Changmin menangis kencang seperti ini.
"Aku tak melakukan apapun umma" Junsu menggeleng kecil saat lagi-lagi melihat sang umma menatapnya dengan tajam. Jengah mendapat tatapan penuh intimidasi seperti itu.
"Jadi menurutmu Changmin tiba-tiba menangis tanpa alasan begitu?"
"Tapi aku benar-benar tak melakukan apapun. Jinjja! Justru dia yang menyiksaku. Menarik rambutku seenaknya. Aish lama-lama aku bisa botak, padahal umurku baru 24 tahun" Junsu menggerutu sambil mengelus kepalanya yang masih terasa sakit.
"Bial saja kau botak!" tiba-tiba Changmin memekik. Tak mempedulikan ingus dan air mata yang meleleh membanjiri wajahnya.
"Ohng? Apa yang kau bilang? Baik! Aku akan memakan semua es krimmu di kulkas!" Junsu berdiri sembari berkacak pinggang. Menatap sengit pada keponakannya.
"Andwe! Andweee! Huweeeeee halmoni! Junchan jahaaat! Huweeee huks huks~" tangisan Changmin semakin mengeras. Tubuhnya bergerak tak terkendali di dalam pelukan Heechul. Tangan kecilnya memukul-mukul dada Heechul dengan brutal. Membuat Heechul semakin kewalahan.
Tanpa banyak bicara, Heechul menghampiri Junsu dan memukul kepala namja itu berkali-kali. Tak mempedulikan Junsu yang merintih kesakitan.
"Kau! Berani-beraninya!"
"Aish appo!"
Junsu kembali terduduk di sudut sofa. Kedua tangannya ia gunakan untuk melindungi kepalanya dari serangan Heechul yang 3 kali lipat lebih brutal dari serangan Changmin. Melihat Heechul yang sedang asyik memukul Junsu, otomatis membuat tangisan Changmin terhenti.
"Hihihihi~"
Dan Changmin pun terkikik geli di sela sesenggukannya yang masih tersisa. Merasa sangat senang melihat sang halmoni mem-bully Kim Junsu di hadapannya.
Yea begitulah pemandangan yang sering terlihat di keluarga Kim. Meskipun Junsu dan Changmin sering bertengkar, tapi Heechul tahu kedua orang itu saling menyayangi. Mereka tak terlihat seperti paman dan keponakan, tapi lebih seperti hyung dan dongsaeng. Junsu sering kali menggoda Changmin sampai menangis, tapi Changmin juga sering mem-bully Junsu sesuka hati. Bocah itu seolah tak pernah menanggap Junsu sebagai pamannya, karena baginya Junsu itu lebih seperti teman. Oh ayolah mana mau ia memiliki paman berwajah imut dan bersuara seperti lumba-lumba?
Dia tak pantas dipanggil samchon atau pun hyung!
.
o0o
.
Seorang wanita cantik berambut coklat kemerahan tampak berjalan anggun memasuki perusahaan terkemuka di Seoul dalam bidang periklanan dan komunikasi pemasaran. Jung Worldwide Inc begitulah sebuah tulisan besar yang sempat ia baca saat mobilnya memasuki pelataran depan gedung di daerah Itaewon itu. Berpuluh-puluh mata menatapnya penuh kekaguman, mengiringi setiap langkah ringannya.
Wanita dengan short dress berwarna pink bermotif leopard itu mendekati meja resepsionis. Menanyakan letak tempat yang akan ia tuju. Setelah mendapat jawaban, wanita itu mengucapkan terima kasih dan tersenyum manis. Tak sadar bahwa tindakan kecilnya itu memberikan efek yang begitu besar pada resepsionis laki-laki disana.
Menunggu pintu lift terbuka, wanita itu mengedarkan pandangannya ke seluruh lobby dan mendapati hampir seluruh karyawan yang ada disana mencuri pandang ke arahnya. Lagi, ia pun melemparkan sebuah senyuman dan membungkuk kecil tatkala pandangannya tak sengaja bertemu dengan tatapan setiap orang yang ada disana. Hingga manik mata hitamnya menemukan satu titik yang begitu menarik baginya. Seorang pria tampan terlihat memasuki lobby dengan gagah. Tak ayal setiap orang yang berpapasan dengan pria itu langsung membungkuk hormat. Sangat menarik.
Perlahan wanita itu berjalan mendekat tanpa disadari oleh pria tampan yang masih sibuk berbincang dengan lawan bicaranya melalui ponsel sambil menunduk. Hingga langkah pria itu terhenti saat mata musangnya mendapati sepasang high heels berwarna hitam berada tepat di depan sepasang sepatunya.
"Annyeong haseyo Jung Yunho ssi"
Mendengar seseorang menyapanya dengan suara yang begitu merdu membuat Yunho mendongakkan wajahnya. Mata musangnya menemukan seraut wajah cantik yang tengah tersenyum di hadapannya. Sebuah smily eyes cantik tak luput dari tatapan terkejutnya.
"Kau—?"
"Oh Tiffany ssi"
Yoochun yang baru saja memasuki lobby langsung terkejut begitu mendapati sosok wanita cantik yang mendapatkan perhatian dari setiap orang yang ada disana. Ia pun memanggil wanita itu dan berjalan cepat mendekati Tiffany dan sahabatnya, Yunho.
"Oh annyeong haseyo Park Yoochun ssi" Tiffany membungkuk.
"Ye annyeong haseyo… Ah hyung perkenalkan ini dia Tiffany Hwang yang kita bicarakan tadi. Bukankah kau ingin tahu seperti apa rupa penyanyi cantik ini huh?" Yoochun menyenggol pelan lengan Yunho. Sementara Tiffany menatap mereka dengan bingung.
Ialah Tiffany Hwang, seorang penyanyi solo yang tengah naik daun diusianya yang menginjak 24 tahun. Wanita yang lahir dan besar di Amerika itu memutuskan untuk pindah ke Korea setelah lolos audisi dan mengikuti training selama beberapa tahun sebelum memulai debutnya 3 tahun yang lalu.
Menyadari tatapan bingung Tiffany, Yoochun pun menambahkan, "Mianhae Tiffany ssi, atasanku ini memang sedikit idiot. Disaat semua orang mengenal dan mengelu-elukan namamu, Tuan muda Jung ini satu-satunya orang yang tak mengenal penyanyi cantik bernama Tiffany Hwang."
"Ya!" Yunho pun memukul kepala Yoochun. Tak mempedulikan tatapan beberapa karyawan yang ada disana. Tiffany tersenyum geli melihat keduanya.
"Jung Yunho imnida" tiba-tiba Yunho mengulurkan tangan di depannya. Dengan ragu Tiffany pun menyambut uluran tangan itu.
"Tiffany Hwang imnida" dan ia pun tersenyum manis saat tangannya menggenggam tangan besar dan hangat milik wakil eksekutif Jung Worldwide Inc yang tampan.
.
.
"Kita akan mulai shooting iklan ini minggu depan. Mohon kerja samanya Tiffany ssi" Yoochun berkata setelah meletakkan cangkir kopinya di meja.
Saat ini mereka tengah berbincang mengenai proyek baru yang melibatkan Tiffany sebagai model untuk iklan parfum terbaru. Setelah perkenalan singkat mereka, Yunho mengajak Tiffany dan Yoochun ke ruangannya untuk minum kopi bersama. Dan disini lah sekarang mereka bertiga. Dengan Yunho yang duduk di tengah, menghadap Yoochun dan Tiffany yang ada di kanan-kirinya.
"Nde tentu saja Yoochun ssi" jawab Tiffany sambil tersenyum. Ekor matanya sempat melirik Yunho yang sedang menyesap kopinya.
"Ku dengar dua hari lagi Anda akan berulang tahun. Apa itu benar?" Tanya Yoochun.
"Ah ye. Jika Anda berkenan datang ke pesta saya, tentu saya akan merasa sangat senang."
"Gurae? Baiklah siapa yang dapat menolak undangan spesial dari penyanyi cantik seperti Anda?"
Lagi-lagi Tiffany hanya dapat tersenyum malu. Ia tak ingat sejak satu jam yang lalu, entah sudah berapa kali dirinya tersenyum sipu seperti ini. Park Yoochun berulang kali memujinya. Sementara Yunho hanya mendengus kecil tiap kali mendengar rayuan-rayuan yang dilontarkan Yoochun.
"Saya harap Yunho ssi juga datang"
"Tentu saja dia akan datang bersamaku. Ia kan hyung?" Yoochun menoleh pada atasan sekaligus sahabatnya yang sedari tadi diam mendengarkan pembicaraan dirinya dan Tiffany.
Yunho pun menatap Tiffany dan mengangguk pelan. "Tentu" jawabnya sambil tersenyum hangat.
"Baiklah saya harus pergi. Ada beberapa pemotretan yang harus saya lakukan sore ini." Tiffany beranjak dari duduknya dan diikuti oleh Yunho maupun Yoochun.
"Resiko sebagai penyanyi wanita terkenal. Mendapat job dimana-mana" Yoochun mengerling dan disambut senyuman kecil oleh Tiffany. Pria ini benar-benar penggoda ulung.
"Hati-hati di jalan Tiffany ssi" kata Yunho.
Tiffany mengangguk dan membungkuk singkat. "Terima kasih. Saya permisi"
Yunho dan Yoochun pun membalasnya dengan sebuah anggukan. Pandangan keduanya mengiringi langkah wanita cantik yang berjalan keluar dari ruangan itu.
Sepeninggal Tiffany, Yunho berjalan mendekati kursinya dan menjatuhkan dirinya disana. Tak mempedulikan Yoochun yang berdiri di depan meja kerjanya tengah melipat kedua tangannya di depan dada serta memasang seringaian aneh.
"Ottokhae? Cantik eoh?"
"Apa dia terlihat jelek?" Yunho bertanya balik. Merasa tak tertarik untuk menjawab pertanyaan Yoochun. Ia meraih tumpukan dokumen yang belum sempat ia pelajari dan tanda tangani serta meraih sebuah pulpen yang ada di atas mejanya.
Yoochun mendengus keras. "Kau harus memberi kado spesial untuk ulang tahunnya hyung". Yoochun menumpukan kedua tangannya pada meja kerja Yunho. Menatap intens pria yang sibuk dengan dokumen-dokumen di depannya.
Yunho tak merespon.
"Kurasa dia tertarik padamu" tambah Yoochun. Berusaha untuk melanjutkan obrolan tentang Tiffany. Tampaknya ia begitu antusias untuk mendekatkan Yunho dan Tiffany eoh?
Yunho tetap diam tak merespon.
"Aku yakin itu. Cara dia menatapmu benar-benar berbeda. Seolah kau—"
"Kurasa sudah waktunya kau kembali ke ruanganmu" Yunho memotong perkataan Yoochun tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun dari dokumen yang sedari tadi ia tekuri. Tak tertarik untuk melanjutkan pembicaraan yang tak berguna menurutnya.
Tanpa berkata apapun Yoochun beranjak dari sana. Keluar dari ruangan Yunho dengan menggumam tak jelas. Berbagai gerutuan dan makian tak luput dari bibir tebalnya.
.
o0o
.
Matahari tampak bersinar lebih terang keesokan harinya. Semilir angin berhembus lembut menggoyangkan dedaunan yang masih basah oleh sisa gerimis semalam. Sebuah mobil Audi hitam berhenti tepat di depan sekolah taman kanak-kanak di daerah Jamsil. Pintu mobil itu terbuka dan nampaklah Kim Heechul turun dari sana, disusul dengan bocah manis bertopi kuning di belakangnya.
"Belajarlah yang rajin dan jangan nakal ne?"
Kim Heechul sedikit membungkukkan tubuhnya setelah menuntun Changmin sampai depan gerbang sekolah. Dengan kedua tangan menepuk bahu kecil cucu manisnya, ia pun menasehati Changmin. Nasehat yang hampir tiap hari ia ucapkan saat mengantar Changmin ke sekolah seperti ini.
Changmin mengangguk kecil.
"Dan ingat! Jangan kemana-mana setelah jam sekolah berakhir. Tunggu sampai halmoni datang. Lalu kita akan menjemput haraboji di bandara sama-sama. Aracchi?"
"Eoh! Alasseo!"
Heechul tersenyum lebar lalu mengecup puncak kepala Changmin dengan sayang. Kemudian ia menegakkan tubuhnya dan mendorong pelan tubuh mungil Changmin.
"Jja masuklah!" Changmin mengangguk dan berlari kecil memasuki gerbang sekolah taman kanak-kanak yang sudah sering ia masuki hampir setahun ini.
.
.
Langkah Changmin terhenti saat mata bulatnya tak sengaja melihat seorang bocah laki-laki seusianya tengah menangis di dalam gendongan seorang pria dewasa. Dan di belakangnya tampak seorang wanita sibuk membujuk sang bocah sambil menepuk-nepuk punggungnya. Ia sangat kenal bocah laki-laki berambut ikal itu. Perlahan ia pun berjalan mendekati bocah itu.
"Kyuhyunnie kenapa?" tanya Changmin pada bocah berambut ikal yang sedang menangis. Changmin yang memiliki kaki pendek tentu harus mendongakkan kepalanya, mengingat Kyuhyun –temannya- itu berada di dalam gendongan ayahnya.
Mendengar suara yang sangat familiar itu secara otomatis membuat Cho Kyuhyun menoleh, diikuti oleh appa dan umma -nya.
"Oh Changmin?"
"Kyu? Waeyo?" lagi Changmin bertanya pada Kyuhyun. Menghiraukan umma Kyuhyun yang menyapanya. Wajah manisnya nampak bingung mendapati teman sekelasnyanya menangis sebelum sekolah di mulai.
"Minnie~" Kyuhyun bergerak di dalam gendongan ayahnya. Seolah memberi isyarat kepada ayahnya untuk menurunkan dirinya.
Dan hup!
Bocah itu pun langsung memeluk Changmin erat-erat setelah berhasil turun dari gendongan ayahnya. "Appa jahat" Kyuhyun merajuk pada Changmin. Tak ayal rajukannya terdengar jelas oleh kedua orang tuanya.
"Mianhae sayang, tapi appa memang harus bekerja. Kalau appa tak bekerja, bagaimana appa bisa membelikan Kyuhyun mainan hm?" pria dewasa yang tak lain adalah appa dari Kyuhyun yang bernama Cho Minho itu berjongkok di depan Kyuhyun yang masih memeluk Changmin. Meminta pengertian kepada putra tunggalnya yang sedari tadi merajuk tak ingin ditinggal olehnya. Entah kenapa hari ini Kyuhyun sangat manja padanya. Meminta dirinya untuk menemani bocah berambut ikal itu di sekolah, sedangkan ia harus pergi ke kantor. Berbagai bujuk rayuan sudah ia dan istrinya –Cho Taemin- lancarkan namun tak berhasil.
"Umma akan menemanimu sekolah, otte?" Taemin bersuara. Masih berusaha untuk membujuk putra manisnya.
"Shilooo!" Kyuhyun menggeleng kuat di pelukan Changmin bersamaan dengan air matanya yang jatuh di kaos baby blue Changmin.
"Kata Junchan, kalau tidak kelja nanti dimalahi bos. Kalau appa Kyu dimalahi bos bagaimana?" Changmin bersuara. Mencoba membujuk teman sekelasnya itu dengan bujukan yang biasa ia dengar dari pamannya.
Kyuhyun melepas pelukannya, menatap Changmin dengan wajah heran. "Dimalahi bos?" Kyuhyun membeo sambil memiringkan sedikit kepalanya.
Changmin mengangguk pasti. "Ung! Bos" memasang wajah penuh keyakinan. Sementara Kyuhyun mulai memasang wajah panik. Hey tentu ia tak mau kan appa-nya dimarahi oleh bos? Ia sangat sayang pada umma dan appa. Ia tak mau mereka dimarahi.
Minho dan Taemin saling berpandangan mendengar obrolan dua bocah lucu itu dan tersenyum bersama. "Cepat kelja appa! Nanti dimalahi bos kalau tidak kelja! Umma juga! Ppali!" dan Kyuhyun pun mendorong tubuh Minho serta Taemin. Memberi isyarat untuk kedua orangtuanya agar segera pergi dari sana.
"Aish arasseo baby. Kau memang anak umma dan appa yang pintar. Kemarilah appa ingin memeluk jagoan appa ini" Minho mencoba merengkuh Kyuhyun dan memeluk putranya itu dengan erat.
"Jangan nakal ne?" katanya menasehati, dan dijawab dengan anggukan kecil oleh Kyuhyun.
"Jja kemarilah! Umma akan mengusap wajahmu. Lihatlah wajahmu jadi kusut begini gara-gara menangis. Aigoo~" Taemin menarik tangan Kyuhyun dan mengusap wajah Kyuhyun yang basah oleh air mata dan ingus dengan tisu yang ia ambil dari dalam tasnya.
"Jangan menangis lagi ne chagi?" selesai membersihkan wajah Kyuhyun, Taemin mengecup lembut bibir mungil putranya.
Ketiga orang itu tak sadar, semua ucapan dan tindakan hangat mereka mengundang tatapan sendu seorang bocah bertopi kuning. Mata bulatnya berkaca-kaca, sebelum akhirnya bocah itu membalikkan badan. Merasa tak mampu untuk terus memperhatikan keluarga kecil itu.
Sepeninggal umma dan appa-nya, Kyuhyun menoleh hendak menanyakan sesuatu yang sedari tadi mengganggu pikirannya pada Changmin. Akan tetapi bibirnya langsung ditekuk begitu tak mendapati Changmin di tempatnya tadi. Ia pun mengedarkan pandangannya dan mendapati punggung seorang bocah bertopi kuning sudah meninggalkannya memasuki sekolah. Kyuhyun yakin punggung itu adalah punggung Changmin karena sebuah tas bergambar Pororo yang tergantung manis di sana. Tas punggung milik Changmin.
"Minnie! bos itu apa?" Kyuhyun berteriak pada Changmin sambil berlari mengejar bocah yang tampak lesu itu.
.
Perfect Affection
.
Hari masih pagi tapi Yunho sudah terlihat begitu sibuk menekuri tumpukan dokumen yang ada di atas meja kerjanya. Tangan kirinya membuka halaman demi halaman dokumen, sedangkan tangan kanannya nampak sibuk memainkan pulpen. Memutarnya searah jarum jam. Sesekali keningnya berkerut saat membaca isi deretan kalimat yang tak ia mengerti. Hening.
Sebuah suara getaran ponsel memecah keheningan ruang kerja milik putra dari President Director Jung Worldwide Inc ini. Seolah tak mendengar getaran ponsel yang ada di sisi laptopnya, Jung Yunho berusaha untuk tetap berkonsentrasi pada dokumen yang ia baca. Akan tetapi seakan tak menyerah, ponsel itu terus bergetar tanpa henti.
Yunho mendengus keras sambil melempar pulpen yang ia pegang di atas mejanya, lalu meraih ponsel yang masih berkedip itu tanpa melihat id si penelpon terlebih dahulu.
"YA! JUNG YUNHO!" sebuah teriakan kencang seorang wanita menyapa pendengarannya begitu ia menggeser tombol answer. Membuat Yunho mau tak mau harus menjauhkan Samsung Galaxy Note II hitam itu dari telinganya sebelum ia benar-benar tuli. Sambil menggerutu, Yunho melirik display name yang tertera di layar ponselnya.
Dan Yunho pun menghela napas setelah membaca id si penelpon, sebelum kembali menempelkan benda persegi panjang itu di telinganya.
"Eoh umma?"
"Ya! Kau benar-benar anak durhaka! Sebenarnya apa saja yang kau lakukan? Kenapa kau tak pernah mengunjungiku? Apa kau sudah tak menganggapku ibumu eoh? Malhebwa!" pekik seorang wanita di seberang yang tak lain adalah Jung Sungryung, ibunya.
"Aish umma apa yang kau bicarakan?" tanya Yunho. Matanya kembali sibuk menekuri isi dokumen yang belum selesai ia pelajari. Dokumen penting untuk bahan rapat jam 10 nanti.
"Sudah dua minggu lebih kau tak pulang ke rumah. Tak pernah mengunjungiku. Tak pernah merindukanku. Apa aku benar-benar sudah tak kau anggap ibumu lagi Yunho ah?"
"Aniya…aku hanya sibuk. Ada beberapa proyek yang harus ku tangani" Yunho mengumpat tanpa suara saat ekor matanya melirik jarum jam di pergelangan tangannya. Rapat akan dimulai 15 menit lagi dan ia belum selesai mempelajari bahan di depannya ini. Konsentrasinya benar-benar buyar sekarang.
"Kau selalu menggunakan pekerjaan sebagai alasan! Sebenarnya pekerjaan macam apa yang diberikan oleh aboji-mu sampai kau sesibuk ini huh? Bahkan sekedar untuk menjengukku saja kau tak sempat!"
"Umma aku sibuk sekarang. Kita lanjutkan nanti. Okay?"
"Lihat! Kau bahkan tak mau mengobrol denganku!"
"Oh come on Mom! I'm very busy now!" sahut Yunho frustasi menghadapi ibunya yang keras kepala. "15 menit lagi ada rapat penting dan aku belum selesai mempelajari bahan. Ku mohon mengertilah umma" tambah Yunho sembari melembutkan suaranya. Tersadar kalau ia sedikit menaikkan suaranya tadi.
Jung Sungryung terdiam tak menyahuti. Perasaan bersalah pun menghinggapi hati Yunho. Ia benar-benar tak berniat membentak ibunya tadi. Ia hanya pusing karena masalah pekerjaan, ditambah mendengar kemarahan sang ibu membuatnya semakin pusing.
"Baiklah aku akan pulang setelah rapat dan menyelesaikan semua pekerjaanku hari ini. Otte?" Yunho berusaha membujuk ibunya. Ia tentu tak mau membuat wanita yang telah melahirkannya ini terluka bukan? Apalagi ia tahu bahwa ibunya memang sangat menyayanginya, mengingat Yunho adalah anak satu-satunya di keluarga Jung. Belum lagi setelah ia menyelesaikan kuliahnya di Amerika, ia memutuskan untuk tinggal di sebuah apartemen di daerah Cheongdam-dong. Hal yang wajar jika ibunya marah, karena memang hampir dua minggu ini ia tak mengunjungi rumah orang tuanya di Samsung-dong. Padahal jarak apartemen dan rumah tak begitu jauh.
"Yaksok?" Sungryung membuka suara setelah beberapa menit terdiam. Membuat Yunho yang sedari menunggu jawaban dari ibunya pun tersenyum lega.
"Eoh yaksok" jawab Yunho.
"Arasseo kembalilah bekerja"
"Umma…"
"Eoh?"
Yunho terdiam beberapa detik sebelum melanjutkan perkataannya, ia menghembuskan napas pelan. "Mianhae"
Dan istri Presdir Jung Sangwoo itu pun tertawa kecil mendengar permintaan maaf putra tunggalnya.
.
o0o
.
Changmin tampak sedang beropang dagu. Entah mengapa bocah yang biasanya hyper active itu menjadi lebih diam sejak tadi. Wajah manisnya terlihat murung dan tak bersemangat. Binar matanya pun berubah sendu. Tak sekalipun menyentuh buku gambar dan krayon miliknya yang tergeletak begitu saja di meja bundar yang dikelilingi oleh tiga bocah.
"Minnie tidak gambal?" Kyuhyun bertanya. Tangan mungilnya sibuk mencorat-coret buku gambarnya dengan crayon berwarna merah muda.
Tanpa menjawab, Changmin hanya menggeleng lesu.
"Wae?" Kyuhyun kembali bertanya. Manik hitamnya menatap Changmin dengan heran.
Lagi-lagi Changmin hanya menggeleng. Tak mendapat respon dari Changmin, Kyuhyun pun mengerucutkan bibirnya lucu. Manik matanya beralih melirik buku gambar Jonghyun. Bocah berwajah putih pucat yang duduk di depannya itu juga tampak asyik menggambar. Namun tiba-tiba Kyuhyun mengerutkan keningnya. Bingung.
"Ige mwoya?" Kyuhyun bertanya sambil menunjuk salah satu dari tiga gambar Jonghyun.
Jonghyun menghentikan kegiatan mewarnainya. "Ini adik bayi" katanya seraya menunjuk ulang gambar yang ditunjuk oleh Kyuhyun tadi.
"Adik bayi?" Kyuhyun membeo. Keningnya semakin berkerut dan dijawab oleh anggukan antusias dari Jonghyun.
"Eoh! Ini appa", Jonghyun menunjuk gambar seorang pria dengan krayon warna merah. "Ini umma", lalu Jonghyun menunjuk gambar seorang wanita dengan rambut keriting seperti mie berwarna hijau. "Dan ini adik bayi", Jonghyun menunjuk gambar selanjutnya.
"Kenapa adik bayi sepelti pisang?"
"Ung?" Jonghyun menatap Kyuhyun tak mengerti.
Kyuhyun menunjuk lagi gambar 'adik bayi' milik Jonghyun. "Kenapa adik Jongyun tak punya tangan dan kaki?"tanyanya.
Jonghyun pun memperhatikan gambar 'adik bayi'-nya. Memang bentuknya berbeda dengan gambar umma dan appa yang memiliki dua garis untuk tangan dan dua garis untuk kaki. Sedangkan gambar adik bayinya hanya berbentuk lonjong berwarna kuning. Ah dan jangan lupakan dua buah titik hitam dan garis horizontal pendek di bawah dua titik tadi. Mata dan mulut eoh?
"Ini adik bayi balu kelual dali pelut umma! Kata umma adik bayi belum bisa jalan, jadi kakinya belum ada!" dengan kesal Jonghyun mencoba untuk menjelaskan gambarnya.
"Jonghyunnie…Kyuhyunnie~" Changmin yang sedari tadi diam saja tiba-tiba bersuara. Menghentikan pertengkaran kecil antara Jonghyun dan Kyuhyun. Mereka berdua pun menoleh, menatap Changmin yang kini tengah menatap balik mereka dengan raut wajah serius khas anak-anak.
"Ada apa Minnie?" Tanya Jonghyun setelah meletakkan krayon kuning yang ia pegang ke tempatnya semula, lalu menutup kotak krayonnya.
"Apa kalian tahu tempat yang jauh itu dimana?" Changmin bertanya. Sontak Jonghyun dan Kyuhyun memasang tampang berpikir. Kyuhyun bahkan meletakkan jari telunjuknya di bibir.
"Waeyo? Minnie mau pelgi ke tempat yang jauh?" Jonghyun lagi-lagi bertanya sebelum mendapatkan ide untuk pertanyaan Changmin.
"Andwe! Minnie tidak boleh pelgi ke tempat yang jauh!" tiba-tiba Kyuhyun memekik dan memeluk lengan Changmin posesif. Mendapat respon yang berlebihan, otomatis membuat Changmin harus memasang wajah heran. Diikuti Jonghyun yang juga menatap Kyuhyun tak mengerti.
"Wae?"
"Kata appa, kalau kita pelgi ke tempat yang jauh nanti tidak bisa pulang. Kalau Minnie tidak bisa pulang bagaimana?"
"Aniya…aniya…", Jonghyun mengibaskan tangannya begitu mendengar jawaban Kyuhyun. "Kata appa tempat yang jauh itu di Myeongdong" lanjut Jonghyun dengan wajah serius meyakinkan. Dan lagi-lagi Changmin serta Kyuhyun hanya memasang wajah tak mengerti.
"Myeongdong? Odi?" Tanya Changmin. Sepertinya ia sangat penasaran sekaligus tertarik.
Jonghyun mengedikkan bahu kecilnya sembari menggeleng. "Molla. Appa cumapelnah bilang kalau Jonghyunnie mau beli sikel Popolo halus di Myeongdong dan itu sangat jauh dali lumah". (a/n. Sikel: stiker. Popolo: Pororo. Maklum yah namanya jg anak kecil, wajar dong salah? Wkwkwk *ditabok)
"Jinjja?" Changmin dan Kyuhyun berseru bersamaan. Mata kedua bocah itu tampak berbinar senang. Entah karena stiker Pororo atau jawaban topik pembicaraan mereka semula.
Ck! Anak kecil…
.
o0o
.
Rapat telah usai sejak satu jam yang lalu sebelum jam makan siang dan kini Jung Yunho tengah menyelesaikan pekerjaannya. Mengecek hasil pekerjaan karyawan yang menjadi tanggung jawabnya. Ia ingin segera menyelesaikan semuanya agar bisa cepat pulang ke rumah bumonim. Ia masih ingat saat rapat tengah berlangsung tadi, sang umma berkali-kali mengirim pesan padanya. Mengancam akan memecatnya jika ia tidak memenuhi janji pada sang umma. Well, tentu ia tak ingin melepaskan jabatan yang telah ia duduki sejak hampir 5 tahun ini kan?Big NO! Setidaknya ia tahu. Dan amat sangat tahu ancaman dari umma tak pernah main-main. Hey! ia istri dari President Director Jung Worldwide Inc. Jung Sangwoo. Dan sang Presdir tidak pernah mengatakan tidak pada keinginan sang istri tercinta. Ugh! Jung Sungryung benar-benar keterlaluan.
Yunho masih sibuk mengecek ulang dan menandatangani file di depannya saat sebuah ketukan pintu terdengar dan menampakkan sebuah kepala menyembul di sana. Oh jidat lebarnya terlalu menyilaukan.
"Hyung kau benar-benar akan pulang ke rumah kan?" si pemilik jidat lebar membuka pintu lebih lebar. Melangkah masuk pada ruang kerja milik putra Presdir yang luas dan rapi. Well kalian pasti tahu kan siapa pemilik jidat lebar disini? Yeah Park Yoochun berjalan santai mendekati rak berisi berbagai macam miniatur koleksi Yunho yang ada di sana. Tangannya terulur meraih salah satu miniatur yang menurutnya unik dan terbaru mungkin? Seingatnya ia belum pernah melihat miniatur itu sebelumnya.
"Eoh! Wae?" sekilas Yunho melirik Yoochun yang sedang memegang miniatur miliknya. Miniatur yang baru ia beli beberapa hari lalu saat ia pergi ke Thailand untuk urusan bisnis. Gajah.
Yoochun meletakkan miniatur itu kembali pada tempatnya semula, lalu berjalan mendekati sofa yang ada di ruangan itu. Kemudian menghempaskan tubuhnya disana. Mengangkat tangan kirinya yang sedari tadi menggenggam ponsel dan menggoyangkan benda itu.
"Ahjumoni menelponku berkali-kali. Beliau memintaku untuk memastikan kalau kau benar-benar pulang ke rumah"
"Aish! Jadi benar dugaanku. Kau sudah direkrut umma menjadi mata-mata?" Yunho meletakkan pulpennya, kemudian merapikan file yang berserakan di atas meja. Melirik jarum jam di pergelangan tangan kiri lalu berdiri dari duduknya. Tak terasa sudah jam 2 siang.
Yoochun menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Sedikit melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. "Well¸ sejak kepulanganmu dari Amerika 6 tahun lalu mungkin?" ujar Yoochun setelah mengedikkan bahunya.
"Aku bisa gila" Yunho mendesah. Kemudian memutar pinggangnya ke kiri dan ke kanan sehingga menimbulkan bunyi gemeretak dari tulang-tulangnya. Hari yang melelahkan eoh Yunho ssi?
Yoochun hanya terkekeh mendengar desahan Yunho. "Kau menginap disana malam ini?"
Yunho mengedikkan bahunya, lalu meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kemudian meraih jas hitam yang tergantung manis di sudut ruangan dan memakainya.
"Aku akan makan malam disana. Kau tak ingin ikut? Aku yakin umma akan senang bertemu cecunguknya"
"Ugh! That's too bad. But sorry I can't. Aku sudah ada janji nanti malam" ujar Yoochun. Manik matanya memperhatikan gerak-gerik Yunho yang tengah merapikan jas yang melekat di tubuhnya. Hyung-nya ini memang sempurna. Tinggi tegap, tubuh atletis dengan six pack di perutnya, kulit kecoklatan eksotis, dan jangan lupa wajah kecilnya yang tampan. Hey! Apa ia terdengar seperti cemburu? No no no! tapi setidaknya ia harus mencoba mendatangi tempat fitness yang sering hyung-nya itu kunjungi. Apa salahnya?
"Siapa sekarang? Jimin noona?" Yunho kini telah berdiri di depan Yoochun. Dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana.
Yoochun menggeleng acuh, lalu bangkit dari duduknya. Saling berhadapan dengan Yunho, meskipun terpisahkan oleh sebuah meja. Dalam hati Yoochun menggerutu. Lihat! Bahkan tinggi badannya tak lebih tinggi dari hyung di depannya ini. Shit.
"Yoon Eunhye"
"Siapa lagi itu?"
"Hanya seorang artis cantik dan seksi dengan bibir tebal menggoda. Owh menggemaskan! Aku sudah tak sabar ingin cepat-cepat bertemu dan menghabiskan malam yang panas dengannya" tiba-tiba Yoochun yang semula sibuk menyangkal pemikirannya tentang -cemburu-pada-fisik-Yunho- kini tengah asyik membayangkan hal-hal panas yang tak pantas dibayangkan oleh bocah di bawah umur. Memeluk dirinya sendiri dengan kedua tangannya dan disertai jilatan seduktif pada bibir tebalnya.
"Oh God! Kill me now!"
Dan Yunho pun berlalu dari tempatnya setelah melemparkan tatapan jijik. Meninggalkan Yoochun yang masih bersemangat meraba-raba tubuhnya sendiri. Ugh!
.
o0o
.
Siang itu Changmin sedang duduk di sebuah ayunan yang ada di halaman sekolahnya bersama Kyuhyun dan Jonghyun. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak 3 menit yang lalu, dan sekarang di sinilah ketiga bocah itu. Menunggu jemputan masing-masing. Kyuhyun dan Jonghyun terlihat asyik menikmati permen lollipop rasa susu stroberi –milik Kyuhyun dan dibagikan pada ke dua temannya- di tangan mereka masing-masing sambil sesekali bergurau.
Berbeda dengan keduanya, Changmin hanya memegang lollipopnya yang masih terbungkus rapi tanpa ada niatan untuk membukanya. Mata bulat beningnya sibuk memperhatikan teman-teman sekolahnya yang sudah dijemput orang tua mereka masing-masing. Padahal pemandangan seperti ini sudah biasa ia lihat setiap hari selama hampir satu tahun ini. Tapi entah mengapa kali ini ia benar-benar merasa iri. Yeah ia iri melihat teman-temannya dijemput oleh umma dan appa mereka. Ia iri melihat kehangatan Kyuhyun bersama kedua orang tuanya tadi pagi. Ia sangat iri. Selama hampir setahun ini tak pernah sekalipun ia diantar dan dijemput oleh orang tuanya. Saat ia menangis, tak pernah sekalipun ia dipeluk oleh orang tuanya. Tak pernah merasakan pelukan dan ciuman hangat dari orang yang seharusnya ia panggil umma dan appa. Selama ini halmoni yang selalu mengantar dan menjemputnya. Halmoni yang selalu memeluknya saat ia takut, menciumnya saat ia menangis. Hanya haraboji dan Junsu yang selalu menghiburnya saat ia sedih. Lantas salahkah bocah berusia 5 tahun itu iri pada teman-temannya? Salahkah bocah manis itu mengharapkan kehadiran orang tuanya?
Umma… Appa…
Appa Changminnie ada di tempat yang sangat jauh…
Tempat yang sangat jauh?
"Minnie mau kemana?" Kyuhyun dan Jonghyun bertanya bersamaan. Mereka yang semula masih asyik memakan lollipop dan bergurau, memandang heran Changmin yang tiba-tiba turun dari ayunan yang ia duduki dan beranjak tanpa mengatakan apapun pada keduanya.
Changmin menoleh belakang, menatap kedua temannya. "Minnie duluan ne" kata bocah itu sejenak sebelum kembali melangkahkan kakinya. Berjalan meninggalkan Kyuhyun dan Jonghyun yang masih duduk di ayunan.
"Ung? Apa halmoni sudah jemput?" Kyuhyun memiringkan kepalanya, lalu mengedarkan pandangan sekeliling. Mencari sosok yang setiap hari mengantar dan menjemput Changmin. Namun manik mata itu tak melihat wanita yang ia ketahui sebagai nenek temannya. Ia hanya melihat punggung Changmin dengan tas Pororonya berjalan sendirian.
"Mungkin Minnie mau ke Myeongdong" celetuk Jonghyun sambil kembali mengemut lollipopnya. Pandangan bocah berwajah putih pucat itu juga masih mengikuti punggung Changmin. Sampai punggung itu tak terlihat lagi begitu bocah bertopi kuning benar-benar keluar dari gerbang sekolah mereka.
.
o0o
.
Kim Heechul baru saja turun dari Audi hitam yang ditumpanginya dengan terburu. Wanita itu melirik Cartier yang melingkar manis pada pergelangan tangan kirinya. Mendengus begitu menyadari bahwa ia terlambat hampir 30 menit untuk menjemput cucunya. Salahkan jalanan macet yang menjebaknya selama 20 menit. Ia bahkan tak dapat duduk dengan tenang di kursi penumpang yang ia duduki karena memikirkan cucu tunggalnya. Khawatir jika changmin lelah dan bosan menunggunya.
Heechul melangkah memasuki gerbang sekolah taman kanak-kanak itu. Manik coklatnya sibuk mencari bocah bertopi kuning dengan tas punggung bergambar Pororo di halaman sekolah. Ia tahu Changmin biasa menunggunya di halaman sambil bermain ayunan, tapi entah kenapa kali ini halaman itu sangat sapi. Bahkan ayunan yang biasa Changmin duduki pun kosong. Seketika perasaan cemas dan khawatir menyergapnya. Dengan cepat Heechul melangkahkan kakinya hendak memasuki gedung sekolah, namun langkahnya terhenti saat berpapasan dengan seorang guru yang mengajar disana.
"Annyeong haseyo…saya wali dari Kim Changmin. Apa dia ada di dalam?" tanpa berbasa-basi Heechul langsung menanyakan cucunya.
"Ah ye annyeong haseyo tapi bukankah Changmin sudah pulang? Di dalam sudah tidak ada siapa-siapa. Seluruh murid sudah pulang." Jawab guru itu.
"Gurae? Tapi siapa yang menjemputnya?"
"Cheongsuhamnida saya hanya melihat dia keluar gerbang sendirian. Saya pikir anda menunggunya di luar"
Tak ayal jawaban dari guru itu pun semakin membuat Kim Heechul panik. "Kapan dia pergi sonsaengnim?"
"Sekitar 25 menit yang lalu. Saat itu sebelum dia pergi, dia masih sempat mengobrol dengan Kyuhyun dan Jonghyun"
"Jinjja? Baiklah gamsahamnida" Heechul membungkuk sekilas sebelum akhirnya terburu-buru melangkah keluar dari halaman sekolah yang penuh dengan berbagai macam permainan.
Setelah keluar dari gerbang sekolah, Heechul mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalanan depan sekolah. Berharap ia dapat tersenyum lega begitu menemukan sosok cucunya, namun harapan itu terbang begitu saja saat ia tak menemukan bocah bertopi kuningnya. Tergesa dan panik, ia pun mengambil ponsel dari dalam Louis Vuitton putihnya, men -dial angka 3 di sana lalu menempelkan benda persegi berwarna putih itu di telinga. Dada wanita itu berdegup kencang saat mendenger dering tunggu di seberang. Dengan tak sabar ia mengetukkan sepatu berhaknya di tanah berulang-ulang.
Cepat angkat. Ku mohon…
"Junsu ah! Kau di mana? Di rumah kah? Apa Changmin ada di rumah? Dia sekarang bersamamu kan? Cepat katakan padaku dimana uri Changminnie? Malhae!" serentetan pertanyaan Heechul lontarkan begitu panggilannya tersambung.
"Umma wae gurae?" sahut Junsu di seberang. Bingung dengan suara sang umma yang terdengar panik.
"Cepat katakan padaku! Changmin ada di rumah kan? Iya kan?" tanpa sadar Heechul menaikkan suaranya. Mengundang pandangan heran dari orang-orang yang lewat di sekitar.
"Ani, dia tak ada di rumah. Bukankah umma pergi menjemputnya?"
Heechul terpaku di tempatnya setelah mendengar jawaban Junsu di seberang. Kakinya mendadak lemas, ia hampir saja jatuh jika sopir keluarga yang tadi mengantarnya tak cepat meraih tubuhnya.
"Yoboseyo? Umma? Umma?" terdengar suara Junsu yang berteriak panik memanggil ibunya.
Dengan sisa tenaga yang ia punya, Heechul kembali mendekatkan ponsel yang masih ia genggam pada telinganya.
"Changmin—uri Changminnie menghilang" dan bulir-bulir bening pun jatuh di pipinya, bersama dengan suara isakan kecil yang meluncur dari bibir tipisnya.
"MWO?!"
.
o0o
.
Jung Yunho mengemudikan Range Over Evoque-nya dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan sekitar Jamsil yang tak begitu ramai. Mata musangnya sesekali melirik ke kanan dan kiri saat menemukan pemandangan yang menarik baginya. Keasyikan Yunho terganggu saat dering ponsel menginterupsi. Dengan kesal Yunho meraih bluetooth handsfree dari dashboard dan memasang benda itu pada telinga kanannya.
"Yoboseyo?"
"Yunho ah neo odiega?"
Yunho mendengus kecil begitu menyadari pemilik suara di seberang. "Aku masih di jalan umma, tenang saja aku pasti pulang ke rumah!"
"Jinjja? Tapi kenapa lama sekali? Kau tak membohongiku kan?"
"Aish! Untuk apa aku bohong? Aku bahkan sudah sampai Jamsil. Apa aku harus jauh-jauh kesini untuk pulang ke apartemen? Demi Tuhan, Cheongdamdong sudah ku lewati" sungut Yunho.
Terdengar suara Sungryung yang tengah tertawa kecil di seberang. "Mianhae chagi, umma hanya memastikan kalau kau benar-benar pulang ke rumah"
Yunho memutar bola matanya. Jengah menghadapi sikap sang umma yang masih menganggapnya anak kecil. "Apa masih belum cukup dengan merekrut Yoochun sebagai mata-mata?" ujar Yunho sinis, dan mau tak mau Sungryung pun semakin tertawa keras setelah mendengar ucapan adeul -nya.
"Arasseo…arasseo. Kkeunheo!"
Pik.
Telpon pun terputus.
Yunho menghela napasnya keras-keras seraya melepas handsfree -nya. Ia benar-benar tak habis pikir dengan sikap sang ibu. Hanya karena ia tak mengunjungi rumah 2 minggu ini, sikap Sungryung semakin membuatnya jengah. Ibunya itu tak pernah sedikit pun membiarkan dirinya bebas. Well mungkin kali ini lebih baik. Setidaknya tak lebih parah saat dirinya memutuskan untuk melanjutkan studinya di Harvard setelah ia lulus High School. Ia masih ingat betul di tahun pertama ia tinggal di negeri Paman Sam itu, Jung Sungryung rela melakukan penerbangan Korea-Amerika setiap 3 minggu sekali. Hanya karena rindu berlebihan. Oh ayolah! Hanya karena rindu? Hell! Menelponnya hampir setiap hari apa masih belum cukup? Dan sekarang? Hanya karena dirinya tak pulang selama 2 minggu, sikap posesif sang ibu mulai kambuh lagi. Demi Tuhan, ia hanya tinggal di Cheongdamdong dan bekerja di perusahaan milik orang tuanya sendiri. Apa yang perlu dikhawatirkan? Ia bahkan sudah 27 tahun. Yea setidaknya ia masih beruntung karena sang umma tak menemuinya di kantor atau apartemen.
Lamunan Yunho buyar saat seorang anak kecil bertopi kuning tiba-tiba berlari menyeberang jalan tanpa menoleh kanan-kiri. Tanpa pikir panjang, Yunho menginjak rem kuat-kuat hingga menimbulkan suara decitan ban yang cukup keras. Sejenak suasana begitu hening, yang terdengar hanyalah suara detak jantung Yunho yang berdegup kencang. Keringat dingin membanjiri telapak tangannya yang masih memegang kemudi mobil dengan erat.
God! Apa yang baru saja terjadi?
.
Perfect Affection
Chapter 2
TBC
Wed, 3 April 2013
19.51
.
Annyeong chingu deul...
pertama aku mau ngucapin makasih banget buat temen2 yg berkenan baca, review, follow, dan favorite FF amburadul ini. Aku ga nyangka ternyata ada yg minat sama nih FF. Padahal ini FF pasaran, apalagi pemilihan kata banyak yg ga tepat. Mohon maklum ya, aku bukan anak sastra hehehe. Untuk sementara peran Jaejoong masih belum keluar di chapter ini, jadi mohon sabar ya. Nunggu di asadar dulu ^^
Sekali lagi aku ngucapin banyak2 terima kasih buat temen2 yg mau baca FF jelek ini. Jeongmal gamsahamnida :)
