Perfect Affection

Author : Yundol aka Lunn

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Shim Changmin, Park Yoochun, Kim Junsu, Tiffany Hwang and others

Genre : Drama, Romance, Family, Mpreg, OOC, YAOI, Slightly Straight

Desclaimer : They're belongs to themselves and God. I own nothing but this FF is mine!

.

Warning : Boys Love, beberapa GS dan perubahan marga, cerita pasaran, alur amburadul, garing, membosankan, typo(s), dan pemilihan kata yg kurang tepat. Jika ada kesamaan cerita, itu adalah murni ketidak sengajaan, tp cerita ini asli milik saya. Mohon kritik dan saran yg membangun. No bashing!

.

Don't Like. Don't Read!

.

Summary : Kim Jaejoong mengalami koma selama 5 tahun karena sebuah kecelakaan. Selama itu pula bocah manis bernama Kim Changmin merindukan sosok Umma yang belum pernah melihat wajahnya sejak ia dilahirkan. Lantas siapakah sosok yang seharusnya ia panggil Appa?


Perfect Affection

Yundol aka Lunn

.

Chapter 3

.

.

Kim Hankyung turun dari mobil begitu sampai di halaman rumah yang cukup luas dengan berbagai macam tanaman. Tanpa perlu memencet bel, pintu bercat coklat di depannya sudah terbuka lebih dulu, menampakkan seorang pelayan wanita yang telah menyambutnya.

"Eosseo oseyo Tuan" pelayan itu membungkuk begitu melihat tuan rumah telah tiba dari perjalanannya ke Cina.

Hankyung mengangguk sekilas. Tanpa sepatah kata pria berumur hampir setengah abad itu langsung menaiki tangga menuju lantai dua rumahnya dengan tergesa. Samar-samar sebuah suara isak tangis terdengar manakala kakinya menyentuh anak tangga terakhir. Begitu memilukan.

Kakinya kembali melangkah mendekati sebuah pintu dimana suara tangis itu berasal. Tangannya terulur menyentuh kenop pintu, memutarnya tanpa ragu dan mendorong pintu itu perlahan.

"Tenanglah umma, aku sudah melapor polisi dan meminta orang-orang suruhan appa untuk mencari Changmin" mata kecilnya mendapati seorang pria berwajah imut yang tak lain adalah putra bungsunya –Kim Junsu- duduk di tepian ranjang. Menenangkan istrinya yang tengah menangis tersedu-sedu sambil terus memanggil nama Changmin.

"Sayang…" Hankyung menghambur, mendekati sang istri yang duduk bersandar pada kepala ranjang dengan wajah bersimbah air mata. Menyadari sang ayah telah tiba, Junsu pun beranjak dari duduknya. Membiarkan Hankyung mengambil alih tempatnya semula.

Heechul menoleh melihat kedatangan Hankyung. Tanpa banyak bicara wanita itu memeluk tubuh suaminya erat-erat. Menumpahkan lagi semua air mata yang tak ada habisnya. Tangisnya semakin pecah sementara Hankyung mengelus punggung Heechul dengan lembut. Mencoba menenangkan istri tercintanya.

"Uri Changminnie menghilang. Bagaimana ini yeobo? Cucu kita menghilang, dan itu semua karena aku. Mianhae…mianhae…" Heechul mengubur wajahnya pada pundak Hankyung sambil menggumamkan kata maaf berkali-kali. Merasa sangat bersalah karena ia tak bisa menjaga Changmin dengan baik. Membiarkan bocah manisnya harus menunggu dirinya datang menjemput. Seandainya ia tak terlambat menjemput Changmin. Seandainya siang itu jalanan tidak macet. Seandainya…

Banyak kata seandainya yang bermunculan di pikirannya.

"Tenang lah sayang, itu bukan salahmu. Sudahlah jangan menyalahkan dirimu sendiri" kata Hankyung menenangkan. Sesungguhnya ia sendiri tak tenang dan tak menyangka. Setelah melakukan perjalanan ke Cina untuk urusan bisnis di negeri kelahirannya selama satu minggu, tiba-tiba ia mendapat kabar menghilangnya Changmin. Padahal semalam ia masih ingat dirinya sempat menelpon Heechul dan memberitahukan kepulangannya hari ini. Heechul pun sudah berjanji akan menjemputnya di bandara setelah menjemput Changmin pulang sekolah. Sambutan hangat yang ia harapkan dari istri dan cucu manisnya lenyap begitu saja setelah Junsu menelponnya saat ia baru saja menyalakan ponsel yang ia matikan selama penerbangan.

"Bagaimana aku bisa tenang sementara aku tidak tahu dimana cucuku sekarang berada. Apa dia baik-baik saja? Dia bahkan tidak tahu jalan pulang. Bagaimana aku bisa tenang Gege?!" Heechul menjerit histeris. Melepaskan pelukannya dan memandang Hankyung dengan nyalang.

"Demi Tuhan dia masih kecil. Aku tidak mau sesuatu yang buruk menimpanya. Aku tidak mau dia kenapa-napa. Aku tidak mau dia terluka. Kau harus menemukan Changmin dan membawanya kembali padaku. Tak peduli bagaimana pun caranya kau harus membawa Changmin pulang dengan selamat. Aku tidak mau tahu Gege! Kembalikan dia padaku—"

"Chulie!"

"Umma!"

Junsu menghambur mendekati ranjang sementara Hankyung merengkuh tubuh istrinya yang tak sadarkan diri. Heechul pingsan. Mungkin ia lelah karena sejak beberapa jam lalu yang ia lakukan hanyalah menangis dan menangis. Merutuki keteledorannya dalam menjaga Changmin.

.

O0o

.

"Kau baik-baik saja?"

Yunho berlutut di depan bocah bertopi kuning yang hampir ia tabrak tadi. Memeriksa seluruh tubuh si bocah dengan panik sekaligus khawatir. Demi Tuhan usianya baru 27 tahun, ia bahkan belum membahagiakan kedua orang tuanya. Jika ia masuk penjara karena menabrak anak kecil tentu ia bisa gila. Bocah itu terduduk di jalanan beraspal dengan jarak tak sampai sejengkal dari mobilnya. Beruntung Yunho memiliki respon yang cepat, sehingga kuda besi itu tak sampai mengenai bocah di hadapannya ini.

"Uh uh appo~" bocah itu meringis kesakitan seraya memegangi siku kirinya yang terluka. Mungkin saat hampir tertabrak tadi bocah itu terjatuh dan sikunya tergores aspal jalanan.

"Coba kulihat" Yunho baru akan menyentuh siku itu tapi suara pekikan si bocah menghentikannya.

"Andwe! Appo~ huks huks"

Dan bocah bertopi kuning itu pun menangis sesenggukan sembari memegangi sikunya setelah menjauhkan siku yang terluka itu dari jangkauan Yunho. Tak ayal tangisan bocah itu membuatnya kebingungan. Well, ia memang menyukai anak kecil tapi belum pernah sekalipun ia berhadapan langsung dengan anak kecil yang sedang menangis seperti ini. Apalagi ia sendiri penyebabnya.

Yunho pun menghembuskan napasnya perlahan. Mencoba mengatasi kepanikan yang sedari tadi menguasainya. Hey! Ia adalah Jung Yunho. Sejak ia memegang jabatan sebagai wakil direktur, baru kali ini ia merasa panik berlebihan.

Calm down Jung Yunho!

"Hey anak laki-laki tidak boleh menangis. Anak laki-laki harus kuat!" ujar Yunho sambil mengusap lembut lelehan air mata di pipi tembam bocah itu.

"Biar kulihat lukamu. Aku janji aku akan berhati-hati" Yunho berusaha meyakinkan. Sementara bocah itu menatapnya dengan mata yang masih berkaca-kaca. Sedetik kemudian Yunho tersenyum dan menyentuh siku yang terluka itu dengan hati-hati setelah bocah itu mengangguk kecil. Mengijinkan Yunho untuk menyentuh sikunya.

"Apa sangat sakit?" Tanya Yunho sambil memeriksa siku itu dan dijawab dengan anggukan yakin oleh bocah bertopi kuning.

"Mianhae aku kurang berhati-hati tadi" Yunho memandang mata bulat bening itu dengan penuh penyesalan. Bagaimanapun dalam kasus ini tentu dirinya yang akan disalahkan meskipun sebenarnya bocah itu yang menyeberang jalan seenaknya. Tapi hey! Mana mungkin bocah sekecil itu harus disalahkan?

"JJa! Lebih baik kita mencari apotik. Kita butuh alkohol dan plester untuk mengobati lukamu. Otte?"

"Eum!" bocah itu lagi-lagi mengangguk pasti. Dan Yunho tak kuasa menahan diri untuk tak tersenyum lebar dan menyentuh kepala bocah yang tertutupi topi berwarna kuning itu. Ia meletakkan kedua tangannya pada ketiak si bocah. Mengangkat bocah itu untuk berdiri. Kemudian Yunho membersihkan celana pendek si bocah yang kotor terkena debu jalanan.

Dan hup!

Tanpa ragu Yunho menggendong bocah bertopi kuning dan membawanya masuk ke dalam Range Over Evoque putih miliknya.

.

.

"Siapa namamu?" Yunho bertanya sambil melirik sekilas pada sosok mungil yang duduk di kursi penumpang di sampingnya. Kemudian kembali menatap jalanan di depannya. Kejadian beberapa menit yang lalu sedikitnya membuat Yunho trauma. Ia tentu tak mau hal seperti itu terjadi lagi. Meskipun korban yang hampir ditabraknya itu tak terluka parah tapi setidaknya hal itu sudah cukup memberinya pelajaran yang sangat berharga. Ia sangat bersyukur kuda besi putih kesayangannya ini tak menyakiti bocah manis itu.

"Changminnie" jawab bocah bernama Changmin itu pendek. Tangan kanannya sibuk memegangi siku kirinya yang terluka. Seolah takut luka itu tersentuh oleh apapun yang dapat membuatnya merasa sakit. Sesekali bibirnya membulat dan pipinya menggembung lucu, meniup lukanya seperti meniup lilin. Tak ayal tingkah lucu itu mampu menciptakan sebuah senyuman kecil di bibir Yunho.

"Changminnie?"

"Ung! K.i.m C.h.a.n.g.m.i.n" sahut si bocah sambil mengangguk lucu.

"Berapa umurmu?"

Changmin mengangkat kelima jari tangan kanan yang semula ia gunakan untuk memegangi siku kirinya. "5 tahun" jawabnya singkat, lalu kembali memegangi siku yang terluka itu dengan kelima jari tangan kanan tadi.

"Rumahmu?"

Changmin menggeleng kecil sambil memasang wajah sendu. Yunho yang tak begitu paham dengan gelengan Changmin pun mengernyitkan kening.

"Kau tidak tahu dimana rumahmu?" tanya Yunho memastikan dan dijawab sebuah gelengan kepala Changmin.

"Ah jadi kau tersesat ne?" Changmin menoleh ke arah Yunho yang sedang mengemudi. Memandang pria tampan itu dengan kedua alis yang saling bertautan. Merasa pertanyaannya tak dijawab, Yunho menoleh sekilas pada Changmin dan mendapati raut keheranan bocah itu. Yunho berpikir mungkin dugaannya salah.

"Kau kabur dari rumah?" Yunho kembali bertanya. Sedikit tak yakin dengan pemikirannya. Oh sangat konyol jika bocah berusia 5 tahun benar-benar kabur dari rumah. Terlalu ekstrem menurutnya.

Lagi-lagi Changmin tak menjawab. Bocah itu malah memajukan bibir mungilnya beberapa senti. Mengundang tatapan heran dari Yunho.

"Lalu?"

"Minnie mau cali appa"

"Mwo? Kau mau mencari appa? Kau tahu dimana appa -mu?" Changmin hanya menundukkan kepalanya. Menatap luka pada siku kirinya sambil menggeleng lesu.

"Jadi kau mencari appa-mu sendirian begitu?" tanya Yunho tak percaya. Hahaha yang benar saja? Bocah sekecil itu pergi dari rumah untuk mencari ayahnya yang entah sekarang ada dimana. Demi Tuhan ini benar-benar terlalu ekstrem. Saat ia masih kecil, meskipun kebebasannya sangat terbatas karena sikap ibunya yang terlalu posesif dan tak membiarkannya pergi kemana-mana sendirian, tapi tak pernah sekalipun ia memiliki pikiran untuk kabur dari rumah seperti bocah ini. Setidaknya saat kecil ia masih memiliki sifat penakut dan pengecut untuk pergi dari rumah secara diam-diam.

"Hey mana boleh begitu? Kalau kau ingin mencari appa seharusnya kau minta temani umma atau keluargamu yang lain. Jangan pergi sendirian seperti ini. Terlalu bahaya untukmu. Lagi pula apa kau tak kasihan dengan keluargamu eoh? Pasti sekarang keluargamu sedang kebingungan mencarimu Changmin ah. Mereka pasti sedih karena kau menghilang. Apa kau mau melihat keluargamu sedih hm?" ujar Yunho dengan lembut. Mencoba memberi pengertian pada bocah di sampingnya tanpa menaikkan nada suaranya. Bagaimana pun yang ia hadapi saat ini adalah bocah berusia 5 tahun. Tentu ia harus pandai menasehati meskipun sebenarnya ia masih merasa konyol dengan tindakan bocah manis itu.

Dan Changmin pun menggeleng cepat.

"Tak mau kan? Jadi jangan diulangi lagi okay?" lagi tanpa suara Changmin hanya mengangguk patuh. Mau tak mau Yunho mengulurkan tangan kanannya dan menyentuh kepala bocah bertopi kuning itu dengan gemas.

"Anak pintar" pujinya.

"Ah ini dia apotiknya. Baiklah aku akan turun sebentar untuk membeli alkohol dan plester. Kau tunggu disini dan jangan kemana-mana. Arasseo?" Yunho melepaskan seat belt-nya setelah menghentikan mobil tepat di depan sebuah apotik kecil. Ia baru saja akan membuka pintu mobil saat sebuah tangan mungil menarik lengan jasnya. Yunho memandang lengannya sebentar lalu mengalihkan tatapannya pada wajah manis dan polos di sampingnya.

"Wae? Kau perlu sesuatu?" Yunho bertanya pada sosok mungil yang masih menggenggam lengan jas hitamnya menggunakan tangan kanan yang semula ia pakai untuk memegangi sikunya yang terluka.

"Minnie mau pestel gambal Pololo" cicit bocah itu takut-takut. Bagaimana pun ia baru bertemu dengan pria tampan yang sudah menolongnya ini. Wajar bukan jika ia merasa canggung untuk meminta sesuatu pada orang yang baru ditemuinya? Apalagi Halmoni pernah bilang padanya agar tak merepotkan orang lain.

Lagi. Yunho merasa tak sanggup menahan dirinya untuk tak tersenyum geli karena bocah menggemaskan yang baru dikenalnya beberapa menit itu. Sebagai jawaban, ia pun mengangguk pasti.

.

.

"YA! JUNG YUNHO! KAU BENAR-BENAR TERLAMBAT!"

Jung Sungryung berkacak pinggang di ambang pintu rumah. Menatap tajam pada putra tunggalnya yang baru saja sampai. Mengindahkan tatapan jengah Jung Yunho yang ditujukan padanya. Ia baru akan membuka mulutnya lagi saat ekor matanya tak sengaja menangkap sosok mungil yang berjalan takut-takut di samping Yunho.

"Yunho ah siapa dia?" Sungryung menunjuk bocah yang digandeng oleh Yunho. Ia cukup terkejut tatkala melihat sang putra yang tak pernah pulang selama 2 minggu lebih tiba-tiba muncul dengan seorang anak kecil.

"Omo! Jangan-jangan ini alasanmu tak pernah pulang ke rumah eoh? Kau sibuk? Sibuk mengurus anakmu? Ya Tuhan dosa apa aku?"

"Aish umma apa yang kau bicarakan? Anakku? Hh! Jangan becanda" Yunho memutar bola matanya. Merasa konyol dengan ucapan ibunya barusan. Bagaimana tidak? Ia hanya tak pulang 2 minggu lebih dan ibunya sudah berpikiran hal yang aneh-aneh. Ck! Jung Sungryung terlalu banyak menonton drama.

Menghiraukan tatapan curiga dan penuh selidik Sungryung, Yunho melangkah memasuki rumah. Menggandeng Changmin dan meninggalkan sang ibu yang masih berkacak pinggang sambil terus mengekornya.

"Lalu anak siapa dia huh? Cepat katakan padaku! Anak siapa?" Sungryung menaikkan suaranya.

"Tadi aku hampir menabraknya. Dan Aku tak tahu dimana rumahnya, jadi ku bawa saja dia kemari. Tak mungkin jika anak sekecil ini aku biarkan sendirian di jalanan" Yunho menoleh pada bocah yang kini bersembunyi di balik kaki jenjangnya. Ia dapat merasakan tangan mungil itu bergetar di dalam genggamannya. Ah sepertinya Sungryung membuat bocah manis itu ketakutan.

"Ya Tuhan kau menabrak anak kecil? Aigoo~ dimana otakmu hah? Tega sekali kau Jung Yunho!" Sungryung memukul kepala Yunho berkali-kali. Ia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran putranya. Menabrak anak kecil? Jeongmal michigessda!

"Apakah dia baik-baik saja? Apa dia terluka? Kemarilah nak biar kulihat" setelah memukul kepala Yunho, wanita itu mendorong tubuh putranya sehingga genggaman tangan Yunho terlepas dari tangan Changmin. Sungryung berlutut di hadapan bocah yang masih nampak ketakutan itu, lalu memeriksa seluruh tubuh si bocah. Tak ayal sikap berlebihan sang ibu mengundang cibiran dari Yunho.

"Dia tak apa-apa umma. Aku hanya HAMPIR menabraknya" Yunho melepaskan jas hitam yang sedari tadi melekat di tubuhnya sambil memutar bola matanya jengah. Kemudian ia melemparkan tubuhnya pada sofa berwarna coklat keemasan yang ada di ruang tamu. Punggungnya ia sandarkan pada sandaran sofa yang membuatnya merasa nyaman. Tampaknya ia benar-benar kelelahan.

"Syukurlah kau tak apa-apa. Aigoo~ kau manis sekali sayang. Ireumi mwoya?" Sungryung mengelus wajah anak itu dengan lembut.

"Kim Changmin" jawab Changmin pendek. Mata bulatnya melirik Yunho dengan tatapan seolah minta perlindungan. Hey! Bagaimana pun bocah manis itu masih ketakutan dengan wanita di depannya ini. Apalagi ia sempat melihat wajah menyeramkan si wanita saat marah tadi. Wajar bukan jika ia masih merasa takut dan tak nyaman pada wanita yang entah-ia-tak-tahu-siapanya pria tampan yang telah menolongnya itu.

"Changminnie? Aigoo neomu kyeoptaaa~" Sungryung mencubit pelan pipi tembam Changmin tanpa mempedulikan wajah kesakitan bocah itu, lalu memeluk si bocah dengan erat. Seolah mendapatkan sebuah mainan baru yang sangat lucu dan menggemaskan.

Yunho menegakkan duduknya saat melihat sikap sang ibu yang terlalu excited dan melotot tajam manakala mata musangnya mendapati wajah Changmin yang hampir menangis. Oh bocah itu benar-benar takut pada Jung Sungryung ternyata.

"Umma hentikan! Apa kau tak lihat dia hampir menangis karena kau memeluknya seperti itu? Ya Tuhan!" Yunho beranjak dari duduknya. Menarik Changmin dari pelukan beruang Sungryung. Membiarkan Changmin memeluk kedua kaki jenjangnya erat-erat.

"Ah mianhae chagi. Aku terlalu senang melihatmu" Sungryung menegakkan tubuhnya. Mendekati Changmin yang masih menyembunyikan wajah di balik kaki Yunho. Mengusap pelan kepala bocah yang masih tertutupi oleh topi kuningnya.

"Sudah hampir malam. Mandilah dulu Yunho ah lalu kita makan malam bersama. Mungkin aboji-mu juga sebentar lagi pulang." Kata Sungryung, memperhatikan mata bulat Changmin yang berbinar lucu saat ia mengucapkan kata 'makan' tadi.

"Arasseo aku akan mengajak Changmin mandi bersamaku"

"Aniya!" Yunho baru saja akan mengangkat tubuh Changmin namun suara Sungryung menghentikannya.

"Biar umma yang memandikannya" lanjut Sungryung yang kini sudah merengkuh bocah manis itu. Menggendongnya begitu saja tanpa mempedulikan tatapan keheranan dari Jung Yunho.

"Kau tak perlu takut padaku chagi. Anggap aku seperti nenekmu sendiri ne? Ah sudah lama aku tak memandikan anak kecil. Menyenangkan sekali" sebuah tanda tanya sebesar gajah muncul di atas kepala Yunho saat melihat ibunya pergi meninggalkannya sendirian di ruang tamu. Oh ia bahkan dapat melihat cahaya terang berwarna merah muda berpendar dari punggung Sungryung yang tengah menaiki tangga.

Geez! Ibunya benar-benar aneh.

.

o0o

.

Hari sudah gelap, matahari telah kembali ke peraduannya sejak 60 menit yang lalu, tapi kondisi rumah keluarga Kim tak jauh lebih baik. Hankyung terlihat berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sambil sesekali melirik jam tangan dan telepon rumah yang terletak di atas meja kecil di sudut ruangan itu. Sementara Junsu sedang duduk gelisah di atas sofa sambil memainkan ponselnya. Sudah lebih dari 5 jam Changmin menghilang namun belum ada kabar apapun dari orang-orang suruhan appa-nya. Ia bahkan sudah meminta bantuan pada salah satu temannya yang berprofesi sebagai detektif untuk menemukan keberadaan Changmin. Tak jauh berbeda dengan kedua orang tuanya, Junsu juga merasa sangat khawatir karena bagaimana pun Changmin adalah satu-satunya keponakan yang ia miliki. Terlebih bocah itu adalah anak kandung kakakknya sendiri. Dan ia sangat menyayangi bocah itu meskipun mereka berdua sering kali bertengkar.

Berulang kali Junsu mengecek ponsel, menunggu adanya pesan atau panggilang masuk namun hasilnya nihil. Ponsel yang sedari tadi ia genggam itu tak kunjung berbunyi. Ia benar-benar semakin kesal sekarang. Tak sabar, ia pun beranjak dari duduknya setelah meraih jaket biru tua yang ia letakkan pada lengan sofa.

"Aku pergi appa"

Hankyung menoleh cepat, menatap Junsu yang sudah berjalan beberapa langkah dari tempat duduknya semula. "Kau mau kemana Junsu ah?"

Junsu menghentikan langkahnya sejenak sebelum berkata, "Aku tak bisa diam saja di rumah. Aku harus pergi mencari Changmin"

Hankyung berjalan mendekati putra bungsunya. Menepuk pundak Junsu dengan lembut. "Tenanglah. Kita percayakan saja Changmin pada orang-orang suruhan kita" kata Hankyung. Junsu membalikkan badannya dengan cepat sehingga tangan Hankyung terlepas dari pundaknya. Menatap ayahnya dengan kesal.

"Aniya appa! Bagaimana aku bisa tenang? Ini sudah malam tapi tak ada satu pun dari mereka yang berhasil menemukan Changmin. Aku harus mencarinya sendiri. Dia pasti ketakutan dan kedinginan di luar sana. Dan aku tak mau itu terjadi. Aku pergi!" Junsu membalikkan badannya dan kembali melangkahkan kakinya.

"Tapi kau belum makan malam. Ayo sebaiknya kita makan malam bersama dulu"

"Aku tak lapar" tanpa menoleh ke belakang, Junsu pergi begitu saja setelah membanting pintu rumahnya. Meninggalkan Hankyung yang mendesah keras dan meninggalkan Heechul yang secara diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka dari ujung tangga tanpa mereka ketahui.

Sepeninggal Junsu, dengan lemah Heechul menyeret kakinya menuju sebuah kamar yang berada di lantai lantai bawah tanpa sepengetahuan Hankyung. Tangannya terulur menyentuh pintu coklat di depannya. Mendorong pintu itu tanpa menimbulkan suara. Sunyi. Kamar itu benar-benar sunyi. Yang terdengar hanyalah suara detak jantung seorang pria cantik yang terbaring lemah di atas ranjang queen size melalui cardiogram. Mata sembab Heechul menatap sendu putra sulungnya. Seolah tak ingin merusak kesunyian, Heechul melangkahkan kakinya mendekati sosok itu tanpa suara. Tubuh lemahnya terduduk begitu saja di atas lantai, berada tepat di sisi kiri ranjang. Berlutut di samping pria yang terpejam itu. tangannya terulur menyentuh tangan ringkih yang tak pernah bergerak sekalipun sejak 5 tahun yang lalu. Kemudian dibawanya tangan itu pada pipi kirinya, seiring dengan butiran bening yang mulai berjatuhan. Membasahi tangan kurus yang masih ia tempelkan di pipinya

"Mianhae, umma tidak bisa menjaga Changmin dengan baik. Mianhae Jaejoongie" bisik Heechul lirih. Menatap sendu Kim Jaejoong yang kian hari kian mengurus meskipun asupan gizi ia terima setiap hari melalui infus.

"Aku butuh kau untuk menjaga Changminnie. Bangunlah nak, ku mohon. Ku mohon chagi, cepatlah bangun. Ayo kita jaga Changmin sama-sama. Ayo kita besarkan dia bersama. Umma benar-benar membutuhkanmu. Ku mohon…"

Butir kristal itu mengucur kian deras tanpa henti. Mengaliri setiap sela jemari ringkih yang ia genggam erat. Membasahi wajahnya yang kian memucat. Ia merasa sakit. Amat sangat sakit.

Bangunlah nak…

.

o0o

.

Kediaman keluarga Jung malam itu tampak lebih ramai dari biasanya. Bagaimana tidak, setiap hari pasangan Jung Sangwoo dan Jung Sungryung selalu menghabiskan makan malam mereka hanya berdua tanpa sang putra. Tapi sekarang? Lihatlah! Senyum Sungryung tak kunjung pudar dari wajah cantiknya. Wanita itu tengah menikmati kegiatannya sekarang, yaitu menyuapi bocah manis bernama Changmin yang duduk di kursi sebelahnya. Sesekali ia tertawa kecil saat melihat Changmin memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya yang masih penuh. Oh lucu sekali bocah itu, padahal Sungryung sudah menyuapinya dari mangkuk miliknya, akan tetapi bocah itu juga menyuapkan makanan dari mangkuknya sendiri. Dan pemandangan yang jarang terjadi itu tak luput dari tatapan kedua pria tampan dengan perbedaan umur yang ada di sana. Yunho dan Sangwoo. Ayah dan anak itu menikmati makan malam mereka sambil tersenyum kecil melihat tingkah menggemaskan bocah itu.

"Kau tak suka sayur Changminnie?" Sangwoo bertanya saat dilihatnya bocah lucu itu memisahkan potongan sayuran yang tercampur dengan daging.

Changmin mengangguk sekilas, lalu kembali membuka mulutnya saat Sungryung menyodorkan sesendok nasi padanya. Sedangkan tangan kanannya masih sibuk memilah sayuran di mangkuknya untuk mencari potongan daging, kemudian menyuapkan daging yang telah ia temukan ke dalam mulutnya.

"Saat kecil Yunho juga seperti itu. Ia selalu memilah sayuran yang ku buat dan hanya memakan gohgi-nya saja" Sungryung menyahut. Melirik Yunho yang tengah menyuapkan kimchi ke dalam mulutnya.

Yunho meletakkan sumpitnya, mengganti dengan sebuah sendok berwarna platinum. Sambil mendengus kecil, ia berkata "Kebanyakan anak kecil memang tak menyukai sayuran" kilahnya dan hanya ditanggapi senyuman kecil bumonim-nya.

"Jadi bagaimana rencanamu selanjutnya? Aku yakin keluarganya sedang kebingungan mencarinya sekarang" Sangwoo meletakkan sumpitnya, lalu meraih segelas air. Meneguk sebagian isinya, kemudian menatap putra tunggalnya.

Yunho mengedikkan bahunya. "Sama sekali tidak ada clue tentang dia" Yunho menjawab sambil melirik Changmin yang sedang menyuapkan potongan daging yang cukup besar. Lagi.

"Seharusnya ada" sahut Sangwoo yang kini juga ikut memperhatikan Changmin. Entah mengapa ia sangat senang melihat bocah manis itu. Sangat polos dan lucu. Oh rasanya sudah lama ia tak merasakan kehadiran seorang anak kecil di rumah besarnya ini, mengingat ia hanya memiliki seorang putra yang kini sudah sangat dewasa.

"Saat aku membuka tas milik Changmin, aku menemukan beberapa buku, peralatan tulis dan krayon. Sepertinya ia pulang dari sekolah" Sungryung berkata seraya mengusap mulut Changmin yang belepotan dengan sapu tangan putih.

"Changmin ah kau tahu nama sekolahmu?" Sangwoo sedikit membungkukkan tubuhnya untuk dapat melihat dengan jelas wajah si bocah.

"Ung!" Changmin mengangguk-anggukan kepalanya berulang kali. "TK Shinki" jawabnya pendek.

"Aish! Kenapa kau tak bilang dari tadi Changmin ah?" Yunho menatap Changmin tidak percaya. Sedari tadi ia tak mendapatkan ide untuk mengembalikan Changmin pada keluarganya dan lihatlah bocah itu dengan santainya menyebutkan nama sekolah yang diingatnya.

"Kau saja yang bodoh" gumam Sangwoo.

"Datangi sekolah Changmin besok pagi dan tanyakan alamat rumahnya pada pihak sekolah. Setelah itu antarkan dia pulang" lanjut Sangwoo dan dijawab sebuah anggukan kecil dari Yunho.

"Naeil?" Sungryung yang sedari tadi asyik memperhatikan Changmin mulai menyahut.

"Wae? Kau keberatan sayang?" Sangwoo menatap wajah sang istri yang tampak terkejut dengan perkataannya. Sepertinya Sungryung tak rela jika Changmin dikembalikan pada keluarganya.

"Tidak bisakah dia tinggal disini lebih lama? Aku tidak mau dia pergi" Sungryung membalas tatapan Sangwoo dengan wajah memohon. Ia tahu jika suaminya ini tak tahan jika ia mulai mengeluarkan jurus andalannya ini. Entah kenapa ia sangat keberatan dengan keputusan Sangwoo. Meskipun ia baru beberapa jam bertemu dengan Changmin, tapi ia sudah jatuh hati pada bocah manis itu.

"Tidak bisa. Keluarganya pasti khawatir. Dan kita tak memiliki hak apapun untuk membuatnya lebih lama disini"

"Tapi—"

"Mengertilah sayang. Dia masih memiliki keluarga yang lebih berhak dari pada kita"

Mau tak mau Sungryung mengunci bibirnya rapat-rapat. Meskipun suaminya tak pernah mengatakan tidak padanya, tapi ada kalanya Sangwoo tidak dapat dibantah. Wanita cantik itu menatap bocah yang tengah menghabiskan susunya dengan sendu.

"Uh Minnie masih lapal, mau es klim~" celetuk Changmin setelah meletakkan gelas susunya yang sudah kosong. Sebuah kumis putih nampak di atas bibirnya yang kecil.

Tak ayal celetukannya mencairkan suasana meja makan yang sempat mendingin karena perbincangan barusan. Ketiga orang dewasa itu pun menoleh bersamaan pada sosok mungil itu, diikuti oleh suara tawa yang keluar dari bibir ketiganya. Aigoo~

.

o0o

.

Kim Junsu mengemudikan Audi hitamnya dengan kecepatan sedang. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalanan Jamsil yang cukup ramai. Setelah pergi dari rumah, ia memutuskan untuk mencari Changmin disini, mengingat sekolah Changmin yang berada di daerah itu. Ekor matanya melirik jam digital yang ada di dalam mobil, sudah hampir satu jam ia berkeliling mencari keponakannya. Setiap kali manik matanya menangkap sosok bocah yang seusia dengan Changmin, ia akan menghentikan mobilnya dan mendekati bocah itu. Berpikir kalau saja itu adalah Changmin. Dan berkali-kali pula ia harus menghela napas penuh kecewa karena bocah-bocah yang ditemuinya bukanlah Changmin.

"Ya Tuhan dimana kau Changminnie?" Junsu mendesah keras sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan Changmin. Bocah itu pasti kelaparan sekarang.

Junsu menginjak remnya kuat-kuat saat mata kecilnya mendapati seorang bocah dengan tas punggung bergambar Pororo berjalan di pinggir jalan bersama seorang wanita. Ia baru saja akan mematikan mesin mobil saat terdengar sebuah suara yang cukup keras dari arah belakang mobilnya. Mau tak mau Junsu pun melirik kaca spion dan mendapati sebuah mobil di belakangnya membunyikan klakson berkali-kali.

"Ada apa?" Tanya Junsu pada dirinya sendiri. Seolah masih tak mengerti dengan kejadian barusan. Namun sedetik kemudian ia teringat akan sosok bocah dengan tas punggung Pororo, tanpa banyak bicara Junsu langsung turun dari mobilnya dan berlari mengejar bocah yang berjalan sudah cukup jauh bersama seorang wanita. Menghiraukan teriakan seseorang yang memanggilnya.

"Ya!"

"Changmin ah!" masih berusaha mengejar si bocah, Junsu berteriak kencang. Tak ayal tingkahnya itu memancing perhatian beberapa orang yang ia lalui.

"Ya!"

"Changmin ah!" Junsu meraih bahu bocah bertas punggung Pororo hingga bocah itu menoleh padanya. Bahkan wanita yang menggandeng bocah itu pun turut menoleh. Memandangnya dengan wajah keheranan.

"Ada apa?" Tanya si wanita dengan mimik tak suka, sedikit menjauhkan bocah yang ia gandeng dari seorang pria yang tak ia kenal di depannya.

"Ah maaf saya salah orang. Maafkan saya" Junsu membungkuk berkali-kali begitu menyadari bocah bertas punggung Pororo itu bukan Changmin. Tanpa banyak bicara, wanita itu pergi meninggalkannya yang masih membungkuk sambil menarik tangan si bocah.

Lagi. Bocah itu bukanlah Changmin. Junsu membuang napasnya berantakan. Tangannya mencengkeram rambutnya frustasi. Ya Tuhan dimana dia?

"Ya!" sebuah tepukan dipundak kanannya membuat Junsu harus menoleh ke belakang. Seorang pria berbibir tebal berdiri tepat di belakangnya dengan terengah. Sepertinya ia habis berlari mengejar seseorang.

Junsu mengernyitkan keningnya. Merasa asing dengan pria di hadapannya yang memandang dirinya dengan kesal. "Nuguseyo?"

"Woah kau tuli eoh?"

Junsu membulatkan matanya. "MWO? Tuli katamu? Ya! Kau pikir kau siapa? Seenaknya saja menghina orang! Dasar jidat lebar!" Junsu menatap pria di hadapannya dengan nyalang. Seenaknya saja pria itu menghinanya tuli, seingatnya ia tak pernah mengenal pria aneh di depannya ini.

"Ugh! Jika ini tempat sepi, sudah ku robek mulutmu!" balas pria itu tak kalah sengit.

"Ohng? Kau mau merobek mulutku? Silahkan kalau kau berani robek saja sekarang! Robek! Cepat!" tanpa takut Junsu memajukan bibirnya. Mendekatkan wajahnya pada pria tak dikenalnya itu. Mau tak mau pria itu pun melangkah mundur sambil menatap jijik Junsu.

"Kau tak berani? Hah dasar kau namja aneh!" Junsu menatap sengit pria itu sejenak sebelum pergi meninggalkan si pria berbibir tebal menuju tempat dimana mobilnya tadi berada.

"Omo!" Junsu memekik ngeri saat hendak membuka pintu mobilnya. Mata kecilnya membulat sempurna begitu ekor matanya tak sengaja melirik ke belakang mobilnya.

"Kau baru sadar eoh? Lihat! Ini semua karena ulahmu!"

Junsu menoleh, dilihatnya pria berbibir tebal tadi sudah berdiri tepat di belakangnya. Dengan kedua tangan terlipat di depan dada, menatapnya angkuh sekaligus menyebalkan. Junsu meringis lebar, lalu mengalihkan tatapannya pada bagian belakang mobilnya kemudian melirik bagian depan mobil berwarna putih yang berada tepat di belakang Audi hitamnya.

Pria berbibir tebal itu berjalan mendekati mobil putih itu, lalu membungkukkan badannya. Memeriksa kondisi bagian depan mobil yang tampak sedikit penyok dan lecet. Pria itu menunjuk bagian yang penyok itu sambil melemparkan tatapan mengerikan pada Junsu.

"Karena kau mengerem mendadak, mobilku menabrak bagian belakang mobilmu. Lalu seenaknya saja kau keluar dari mobil tanpa menjelaskan apapun. Aku sudah memanggilmu berulang kali tapi kau tak mempedulikanku. Dan kau dengan seenaknya menghinaku jidat lebar!" ujar pria itu sembari menunjuk pria berwajah imut di depannya.

Seolah baru menyadari suara keras yang berasal dari belakang mobilnya tadi, Junsu mulai mengutuk kebodohannya. Bagaimana mungkin ia tak menyadari suara keras tadi? Ah ini semua karena ia mengejar bocah bertas punggung Pororo itu. Bocah yang semula ia pikir adalah sosok keponakannya, Changmin.

Tanpa pikir panjang Junsu membungkukkan badannya. Mengucapkan permintaan maaf berkali-kali. "Cheosonghamnida. Jeongmal cheosonghamnida"

"Dwaesseo! Lebih baik beri aku kartu namamu. Aku akan menghubungimu untuk membayar semua biaya kerugian mobilku" kata pria itu sambil melirik jam tangannya dengan gelisah. Sepertinya ia terburu-buru.

"Ta—tapi…"

"Berikan kartu namamu! Ppali!" pria itu mengulurkan tangannya di depan Junsu yang masih nampak shock dengan tak sabar. Tanpa banyak bicara, Junsu pun mengeluarkan dompet dari saku celananya dan mengambil sebuah kartu nama. Menyerahkannya pada pria itu dengan ragu.

Pria itu meraihnya dengan cepat, kemudian membaca sekilas deretan hangul dengan tinta hitam yang tertera disana. "Baiklah Kim Junsu ssi, besok aku akan menghubungimu. Kau harus membayar biaya reparasi mobilku. Ah aku sudah terlambat. Thank's!"

Semua terjadi begitu saja. Begitu cepat sampai-sampai ia tak bisa berpikir dengan jernih, bahkan setelah pria itu memasuki mobilnya dan meninggalkan dirinya yang masih terdiam di tempatnya.

"Chamsiman yo!" seolah tersadar dari alam bawah sadarnya, Junsu berteriak memanggil pria itu, namun teriakannya tak membuahkan hasil. Ia hanya mendengus keras saat manik matanya mengikuti Hyundaiabu-abu itu semakin menjauhinya. Namun tiba-tiba Junsu memekik ngeri saat melihat bagian belakang mobilnya yang tergores cukup wah.

"Sialan! Kenapa harus aku yang membayar kerugiannya? Apa dia buta? Bahkan mobilku juga lecet! Dasar jidat lebar!" dengan kesal Junsu menendang ban mobilnya keras-keras. Duk!

Aish appo!

.

o0o

.

"Kau belum tidur chagi?"

Sungryung baru saja turun dari tangga saat dilihatnya Yunho sedang duduk di sofa ruang keluarga seorang diri, menatap intens layar datar 14 inch netbook Samsung dipangkuannya. Asap tipis nampak mengepul dari sebuah mug warna hijau limau di tangan kanannya.

Yunho menoleh sejenak pada sang ibu yang berjalan mendekatinya, sebelum kembali fokus pada layar datar di depannya. Menyesap sedikit cappuccino dari mug yang digenggamnya. Ia dapat merasakan ruang kosong sofa di sisinya memberat, menandakan adanya orang lain selain dirinya yang duduk di sofa coklat keemasan itu. Yunho meletakkan mugnya di atas meja.

Sungryung melirik sekilas pada layar datar yang mendapatkan perhatian penuh dari putra tunggalnya. Berbagai macam grafik serta angka-angka yang tak ia mengerti tampak memenuhi layar datar itu. Sungryung mencibir kecil sebelum meletakkan tangan kanannya pada bahu kiri Yunho, memijat lembut bahu itu tanpa ragu. Tak ayal tindakan kecil ibunya itu pun mengundang senyum tipis dari pemilik bahu yang dipijat itu. Menyenangkan sekali. Sungryung sangat tahu apa yang ia butuhkan.

"Aku baru saja menidurkan Changmin di kamarmu. Dia sangat pintar, menggosok gigi sebelum tidur tanpa ku ingatkan. Padahal saat kau kecil, aku harus mengingatkanmu setiap hari sebelum tidur." Sungryung terkekeh sendiri saat mengingat masa kecil Yunho.

"Dia juga menyempatkan diri untuk berdoa, dan kau tahu? Dia berdoa untuk ibunya yang sedang sakit." Sungryung terdiam sejenak. Yunho dapat mendengar suara Sungryung yang tertahan. Yunho pun menolehkan kepalanya. Menatap Sungryung yang kini tampak sendu.

"Kasihan sekali dia. Kenapa bocah sekecil itu harus terbebani masalah seperti ini? Dimana sebenarnya ayah Changmin? Sampai-sampai bocah itu harus kabur dari rumah hanya untuk mencari ayahnya. Pria itu sangat bodoh, meninggalkan seorang anak yang pintar dan lucu sepertinya. Benar-benar bodoh" lanjut Sungryung berapi-api. Sementara Yunho hanya tersenyum kecil.

"Kenapa kau berbicara seolah kau sangat mengenal ayah Changmin umma?" Yunho kembali menatap netbook-nya. Menarikan jemari panjangnya disana.

"Aku hanya tak habis pikir, kenapa masih ada pria seperti itu? Benar-benar tak bertanggung jawab. Meninggalkan istrinya yang sedang sakit dan anaknya yang masih kecil." Sungut Sungryung kesal. Menarik tangannya dari bahu lebar Yunho.

"Sudahlah umma jangan ikut campur. Mungkin saja pria itu memiliki alasan" jawab Yunho tanpa mengalihkan tatapannya.

"Alasan apa?"

Yunho hanya mengedikkan bahu serta memajukan ujur bibir bawahnya sekilas. Dan Sungryung menghela napas mendapat jawaban yang tak memuaskan. Entah mengapa ia merasa sangat tak terima dengan keadaan Changmin, padahal ia tak tahu apa-apa tentang latar belakang keluarga Changmin. Ia sempat berpikir mungkin ayah Changmin pergi untuk bekerja mencari uang, tapi jika dilihat dari barang-barang milik Changmin mulai dari baju, sepatu, topi, tas, buku serta barang-barang lainnya, sepertinya Changmin bukan dari keluarga kurang mampu.

"Yunho ah apa kau tak ingin cepat-cepat menikah?" Sungryung memulai kembali percakapan diantara mereka sejak keheningan beberapa menit lalu.

Yunho memutar kepalanya, menatap Sungryung yang kini memandangnya antusias. "Menikah?"

"Yea, 27 tahun sudah sangat matang untuk menikah. Lagipula aku ingin sekali memiliki cucu, apalagi setelah melihat Changmin. Aku ingin cucu seperti dia Yunho ah" rajuk Sungryung sambil mencengkeram lengan kiri Yunho. Memasang tampang memohon yang dibuat-buat. Oh ibunya mulai mengeluarkan jurus andalannya lagi.

Yunho mendecakkan lidah. "Kenapa menyuruhku menikah jika umma hanya menginginkan cucu?"

"Kalau kau tak menikah lalu dari mana aku mendapat cucu eoh?"

"Kenapa tak mengadopsi anak saja untuk kau jadikan cucumu?"

"Ya! Kau benar-benar keterlaluan!"

"Aku masih tak ingin menikah" Yunho kembali menatap layar datar netbook-nya dengan pandangan menerawang.

"Wae?" Sungryung menatap putra tunggalnya tak mengerti. Setiap kali dirinya membahas tentang pernikahan, Yunho selalu seperti ini. Padahal ia sangat menginginkan cucu mengingat usianya sudah tak lagi muda. Belum lagi selama ini ia merasa sangat kesepian setelah Yunho pindah ke apartemen. Bukankah hal yang wajar jika ia ingin mendengar suara tangisan anak kecil di rumah besarnya yang sepi ini? Apalagi setelah melihat Changmin, keinginannya untuk memiliki seorang cucu semakin kuat.

"Tidak ada alasan khusus"

Lagi. Jawaban yang sama setiap kali ia menanyakan alasan mengapa putranya ini masih belum mau menikah. Sungryung dapat melihat kepedihan dari sorot mata musang Yunho yang kosong.

"Apa kau masih mengharapkan dia kembali padamu?" Sungryung merubah intonasi suaranya menjadi lebih serius dan lihat! Air muka Yunho pun mulai berubah tegang sekaligus terkejut. Ia bahkan mengalihkan pandangannya dari layar datar yang sedari tadi mendapat tatapan kosong pada Sungryung.

"Kalau kau memang masih mencintainya dan mengharapkannya kembali padamu kenapa kau tak mencoba untuk memulainya dari awal?" Sungryung menatap intens mata musang di depannya.

"Aku tau selama ini kau masih menyimpan hatimu untuknya Yunho ah. Kau bahkan selalu men—"

"Geumanhae" potong Yunho.

"Tapi kau masih suka mendengar—"

"Geumanhae! Geumanhae! Geumanhae!" Yunho meraung kencang. Mata musang yang semula terlihat kosong kini memerah sempurna. Menatap nyalang sang ibu dengan amarah yang tak terkira. Netbook yang semula terbuka kini menutup rapat saat si pemilik berdiri dari duduknya dan menutupnya dengan paksa. Tangan lainnya yang bebas tampak terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Seolah bersiap untuk melayangkannya pada apapun yang ada di depannya.

"Yunho ah" Sungryung turut berdiri. Menatap adeul dengan tatapan sendu. Lihatlah Yunhonya tampak sangat terluka dibalik amarahnya.

"Semua tak semudah yang umma katakan" gumam Yunho. Menatap balik Sungryung dengan raut wajah yang tak dapat ditebak. Perubahan air mukanya benar-benar sangat cepat.

"Seharusnya memang mudah nak"

"Tapi umma tak tahu apa-apa!" bentak Yunho. Sorot matanya kembali nyalang.

"Kalau begitu katakan padaku apa yang tidak aku tahu!" balas Sungryung tak kalah kencang.

"Ya Tuhan! Ada apa ini?"

Sangwoo tampak tergopoh-gopoh menuruni tangga. Memandang istri dan anaknya yang sedang berdiri berhadapan dan saling menatap tajam. Demi Tuhan ini sudah sangat larut dan ia bahkan sudah tidur dengan nyenyak sebelum akhirnya terganggu oleh suara teriakan dari lantai bawah rumahnya. Mungkin ia tak peduli jika yang terganggu hanyalah dirinya seorang, tapi mengingat malam ini adanya seorang penghuni mungil yang tertidur di kamar sebelahnya tentu ia tak ingin teriakan itu mengganggu si bocah.

Dan Yunho hanya terdiam. Mengunci bibirnya rapat-rapat. Menahan segala amarah yang memenuhi dirinya. Ia benci situasi seperti ini. Situasi dimana dirinya harus mengingat kembali semua tentang dirinya lagi. Ia benci.

.

o0o

.

Pagi itu Park Yoochun keluar dari mobilnya dengan wajah cerah. Senyum manis tak kunjung hilang dari wajah tampannya saat beberapa pegawai yang berpapasan dengannya di lobby kantor menyapanya. Bahkan beberapa pegawai menatapnya dengan heran. Oh Demi Tuhan senyumnya pagi ini terlalu menyilaukan, bahkan lebih silau dari jidatnya yang lebar. Ups!

Ah tubuhnya pagi ini sangat segar dan berstamina(?), belum lagi sisa wangi shampoo yang menguar dari rambutnya semakin menyegarkan pikirannya. Ohoho' seringai iblisnya muncul tiba-tiba saat potongan memori semalam terlintas diotaknya. Berada di atas tubuh naked seorang wanita dengan gerakan-gerakan erotis dan sensual. Belum lagi suara desahan dan erangan disertai tetesan keringat yang menambah panasnya suasana. Ahh uhh—

"Yoochun ah!"

Sial. Potongan memori itu sirna begitu saja saat telinga sehatnya mendengar seseorang tengah memanggil namanya. Yoochun mengumpat tanpa suara.

"Yoochun ah!"

Yoochun menoleh, mencari pemilik suara yang telah menghilangkan senyum kelewat silaunya. Yoochun mendecih keras saat manik mata hitamnya mendapati seorang wanita cantik berambut panjang berwarna coklat berlari-lari kecil mendekatinya. Senyumnya benar-benar menghilang sekarang. Kenapa dia kemari?

"Ada apa noona?" Yoochun memandang wanita yang ia panggil noona itu dengan malas.

"Ada hal yang ingin ku bicarakan"

"Apa? Bicaralah!"

Wanita itu menatap sekelilingnya. Hari masih pagi dan lobby kantor itu terlihat cukup ramai. Banyak pegawai yang baru datang untuk memulai hari baru mereka dengan kembali bekerja.

"Tidak disini Yoochun ah" wanita itu menggeleng.

"Oh aku sangat sibuk pagi ini. Jika memang ada yang ingin kau bicarakan, cepat katakan saja sekarang" Yoochun berkata tanpa berminat menatap wanita di depannya. Mata kecilnya terlihat lebih sibuk memandang sekelilingnya.

"Tapi—"

"Baiklah kalau begitu kita bicarakan lain kali" Yoochun baru saja hendak membalikkan badan, namun sebuah tangan menahan lengannya. Mau tak mau Yoochun kembali menghadap wanita itu.

"Aku—aku hamil" ujar wanita itu setengah berbisik.

"Gurae? Ah chukhae Kahi noona" jawab Yoochun pendek. Tampak tak tertarik dengan apa yang dikatakan oleh wanita bernama Kahi itu. Mantan kekasihnya.

"Dan ini anakmu" tambah Kahi.

"Mwo? Mmfh—hahaha. Kau jangan becanda!"

"Tapi aku tidak. Ini benar-benar anakmu Park Yoochun!"

Yoochun mencibir. "Kau yakin itu anakku? Kau bahkan melakukannya berkali-kali dengan pria lain. Hahaha lucu sekali!" Yoochun tertawa meremehkan.

"Mwo? Ya Park Yoochun! Nappeun sek—" Kahi akan melayangkan tamparannya namun dengan cepat Yoochun lebih dulu menangkap pergelangan tangan itu dan menahannya dengan kuat.

"Noonim kau mau menampar wajahku yang tampan ini? Oh God! kau benar-benar mengganggu pagiku yang cerah!"

"Ya! Lepaskan!" Kahi memekik kesakitan sambil terus mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang masih ditahan oleh Yoochun.

"Kalau kau berani menemuiku lagi dan mengatakan omong kosong seperti ini. Aku jamin kau akan menyesalinya" bisik Yoochun sembari menatap sengit wanita di hadapannya. Tak mempedulikan pandangan heran beberapa karyawan yang melewatinya.

"Aish! Appo! Lepas—"

"MWOYA IGE?"

Sebuah suara lantang membuat keduanya menoleh. Cukup terkejut mendapati President Director sekaligus Executive Vice President telah berdiri di hadapan mereka. Menatap kedua orang penting itu dengan takut. Tanpa berkata apapun, Yoochun melepaskan tangannya dari lengan Kahi, kemudian membungkuk hormat. Oh ayolah siapa yang menyangka tindakannya dilihat oleh kedua atasannya secara langsung. Benar-benar memalukan!

Jung Sangwoo menatap Yoochun dan wanita yang tak dikenalnya itu secara bergantian. Tatapan matanya tak dapat diartikan. Yoochun hanya mendesah kecil. Memaki dirinya sendiri dalam hati. Ugh lihatlah! Bahkan sahabatnya sendiri –Jung Yunho- yang berdiri di samping sang Presdir memberikan tatapan seolah ingin memakannya hidup-hidup.

"Jika ada masalah pribadi. Selesaikan di luar kantor Park Yoochun ssi" kata Jung Sangwoo dingin lalu melangkahkan kakinya hendak memasuki lift dan diikuti oleh Yunho di belakangnya. Yoochun hendak memasang senyumnya pada Yunho yang tengah melirik padanya namun—

"Temui aku di ruanganku" dari Yunho berhasil menghapus senyum bodohnya yang sudah terlanjur terpasang.

Mati kau Park Yoochun!

.

o0o

.

"Aku tak ingin anak ini!"

"Mwo? Apa yang kau bicarakan eoh? Itu anak kita!"

"Aku tak mau hidupku hancur karena anak ini! Aku tak mau! Lebih baik aku menggugurkannya saja!"

"Kau mau membunuh anakku? Membunuh darah dagingku? Kau sudah gila?"

"Ya! Aku memang sudah gila! Gila karena anak ini!"

Plak!

"Aku mohon jangan katakan hal seperti itu. Aku tak ingin kau membunuh darah daging kita. Aku berjanji akan segera menikahimu dan kita besarkan anak kita bersama-sama. Aku mohon—"

.

"Yunho hyung?"

"Yo hyung!"

"Aish dia benar-benar sudah gila!"

"Jung Yunho!"

"Oh Yoochun ah? Wae?" Yunho sedikit terkejut mendapati Yoochun yang sedang berdiri di depan mejanya. Membungkuk sambil menggoyangkan tangannya di depan wajah Yunho berulang kali. Ah apa dia sedang melamun sampai tak menyadari kehadiran Yoochun di ruangannya?

"Thank's God! Kupikir kau sudah gila. Bertingkah seperti gadis yang menunggu untuk dipinang. Melamun sambil bertopang dagu geez!" kata Yoochun. Ia hendak menegakkan tubuhnya saat sebuah file yang cukup tebal mendarat tepat di kepalanya. Yoochun hanya dapat meringis tanpa ada niatan memaki si pelaku kejahatan. Yang benar saja? Bagaimana mungkin ia berani memaki Jung Yunho yang kini sudah memasang tampang iblisnya? Lihat! Dua buah tanduk berwarna merah mulai muncul di atas kepalanya. Ugh benar-benar iblis tampan!

"Kau tahu ini sudah jam berapa?" tanya Yunho. Menatap Yoochun di depannya dengan raut wajah yang bisa dibilang cukup buruk.

"Ah mianhae hyung, ada beberapa laporan yang harus kuselesaikan jadi aku baru bisa menemuimu hehehe" Yoochun menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Sedikitnya ia merasa takut jika menghadapi Yunho yang seperti ini. Err— ia merasa hyung-nya ini sedang tidak dalam kondisi yang baik, atau bisa kita sebut bad mood. Yoochun tahu dari tanda-tanda munculnya tanduk itu.

"Siapa wanita itu?"

Yoochun menggeleng acuh. "Mantan kekasihku yang ke err—ah aku lupa. Yang jelas dia mengaku telah mengandung anakku" Yoochun memainkan kuku-kukunya. Seolah tak tertarik dengan pembicaraan mereka. Ia sudah menduga salah satu alasan Yunho memanggilnya adalah ini. Menjelaskan.

Brakk!

"Kau sudah gila?!" Yunho memukul mejanya dengan kepalan tangannya lalu menunjuk wajah Yoochun dengan murka.

"Hey hyung! Itu bukan anakku. Aku tahu itu. Kau juga tahu sendiri hal seperti ini sudah beberapa kali terjadi padaku dan see? Mereka semua yang mengaku mengandung anakku hanya pembual. Mereka menjadikanku korban hanya karena aku pernah sekali tidur dengannya. Cih!"

"Kalau begitu berhentilah bermain-main Yoochun ah! Kau sudah cukup dewasa! Cobalah untuk menjalin hubungan yang serius! Jangan mempermainkan wanita!"

"Ya Tuhan aku benar-benar tidak mengerti. Sepertinya aku hanya dijadikan kambing hitam disini" Yoochun menggelengkan kepalanya berkali-kali.

"Mwo?" Yunho memandang Yoochun tak mengerti. Menganggap jawaban Yoochun sangat melenceng jauh dari pembahasan mereka semula.

"Aku tahu…aku tahu. Kau sedang dalam suasana hati yang buruk sekarang. Kau pasti tak akan menceramahiku berlebihan seperti ini jika kau tak sedang dalam suasana hati yang buruk. Aku sangat mengenalmu hyung. Jadi kenapa eoh? Kau pasti bertengkar dengan ahjummoni?"

"Jangan mengalihkan pembicaraan Park Yoochun!"

"Ani aku tak berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Aku hanya membicarakan apa yang aku lihat dan aku rasakan. Lagipula Demi Tuhan hyung itu bukan anakku, jinjja! Dan mengenai yang kau katakan tadi, baiklah aku akan mencoba menjalin hubungan yang serius. Kau puas? So? What's wrong with you?"

"Nothing" jawab Yunho pendek sambil mulai menyibukkan diri dengan dokumen di depannya. Entah mengapa sejak tadi ia ingin marah terus menerus tanpa alasan. Apa mungkin ia masih kesal karena pembicaraan dengan ibunya semalam?

"Geotjimal!" Yoochun melipat kedua tangannya dan meletakkannya di atas meja. Sedikit memajukan tubuhnya agar dapat melihat dengan jelas raut wajah Yunho. Mencibir jawaban Yunho yang tak memuaskan, namun tiba-tiba Yoochun seakan teringat sesuatu.

"Ah hyung jangan lupa nanti malam okay?"

"Nanti malam? Ada apa?" Yunho menatap Yoochun malas.

"Jangan bilang kau lupa undangan pesta ulang tahun Tiffany? Kau sudah berjanji padanya akan datang"

"Sepertinya aku mengingkari janji itu"

"Kenapa huh? Kau ada janji lain?"

"Aku tak berniat untuk menghadiri acara apapun. Aku hanya perlu istirahat di apartemen malam ini"

"Sepertinya kau benar-benar bertengkar dengan ibumu eoh? dan biar ku tebak, pasti ini berhubungan dengan kegiatan mari-melamun-seperti-gadis-perawan mu tadi. Aish! Aku semakin ingin tahu apa yang membuat kalian bertengkar?"

Yunho mengedikkan bahunya sekilas tanpa ada niatan untuk memberi jawaban pada Yoochun. "Kembalilah ke ruanganmu!" katanya kemudian. Merasa mulai terganggu dengan kehadiran Yoochun di ruangannya.

"Ck! Kau keterlaluan hyung! Aku sudah menceritakan masalahku padamu tapi kau tak mau membagi masalahmu padaku! Sahabat macam apa itu?" Yoochun mencibir.

"Arasseo aku akan membagi masalahku padamu dan sebagai sahabat kau harus membantuku" jawab Yunho tenang sembari melirik arloji di pergelangan tangannya lalu meraih beberapa tumpukan dokumen di sisi kiri mejanya.

"Tentu saja! Sudah seharusnya kau membagi masalahmu padaku" Yoochun menepuk dadanya dan tersenyum bangga.

Yunho meletakkan beberapa tumpukan dokumen tepat di depan Yoochun "Ini masalahku. Tolong kerjakan. Aku ada urusan. Bye!" katanya santai seraya meraih jas hitamnya dan meninggalkan Yoochun yang masih asyik terpaku di tempatnya.

"MWOYA?!"

.

o0o

.

"Kau yakin ini rumahmu?" Yunho menoleh pada bocah mungil yang berjalan di sisinya saat keduanya turun dari mobil Yunho.

"Ung! Ini lumah Minnie~" kata Changmin ceria. Sepertinya bocah itu sangat senang karena akhirnya dapat pulang kembali ke rumahnya. Kaki-kaki kecilnya tampak melompat-lompat gembira hingga Yunho harus menggenggam tangan mungilnya sedikit erat. Seolah takut bocah manis itu terjatuh mengingat tingkahnya yang sangat aktif. Belum lagi nasehat Sungryung saat ia pulang ke rumah untuk menjemput Changmin tadi, mengingatkannya berkali-kali agar mengantar Changmin selamat sampai rumahnya. Oh berlebihan!

Yunho menekan tombol kecil yang terletak di dekat pintu pagar hitam rumah yang cukup besar itu beberapa kali sebelum sebuah suara terdengar dari interkom . Mungkin suara dari salah satu pelayan di rumah itu.

"Nuguseyo?"

"Annyeong haseyo Jung Yunho imnida, apa benar ini rumah Kim Changmin? Saya mau mengantar Kim Changmin pulang" kata Yunho.

"Ah baik Tuan silahkan masuk"

Klik!

Pintu pagar itu pun mulai terbuka tepat setelah suara seseorang melalui interkom tadi menyuruhnya untuk masuk. Tanpa ragu Yunho mendorong pintu pagar itu semakin lebar tanpa melepaskan genggaman tangan Changmin. Mata musangnya mendapati berbagai macam tanaman yang tumbuh memenuhi halaman depan rumah itu. Ah sepertinya si empunya rumah sangat gemar menanam tanaman serta merawatnya dengan baik.

Langkah kaki panjang Yunho terhenti tepat di depan sebuah pintu berwarna coklat tua yang mulai terbuka. Menampakkan seorang pria berwajah kekanak-kanakan yang tampak begitu terkejut begitu mendapati seorang pria tampan bermata musang di hadapannya.

"J—Jung Yunho?"

.

Perfect Affection

Chapter 3

TBC

.


Tue, 9 April 2013

19.45

.

Annyeong chingu deul...

Mian kayaknya chap ini terlalu panjang dan membosankan hehehe. Maaf juga untuk chap ini YunJae-nya ga begitu banyak en buat temen2 yg ngarepin Jaejoong cepet sadar, sayang sekali anda belum beruntung heheh. Please wait the next chap! kekeke~

Lagi, aku mau ngucapin banyak2 terima kasih buat temen2ku semua yg sudah meluangkan waktunya untuk baca FF pasaran ini. Maaf kalo ada banyak typo dan mengecewakan. Aku bakalan berusaha tuk bikin yg lebih baik lagi dari ini. Dan aku jg mau bales review temen2 secara global aja yaa... :)

1. Changmin anak YunJae kah?

Changmin jelas anak bapak-emaknya ya #plak wkwkwk. Mian untuk pertanyaan ini rasanya ga asik kalo aku jawab fufufu :D

2. Kapan Jaejoong sadar?

Secepatnya, yg pasti aku pengen ngedeketin Yunho sm Changmin dulu baru Jaejoong sadar

3. Disitu ditekenin Yunho single selama 5 tahun, emang apa hubungan Yunho dan Jaejoong?

Wkwkwk hubungannya apa yaa? yg jelas ada lah! *digampar rame2* :D

4. Kenapa belum ada kejelasan tentang masa lalu Yunho dan Jaejoong?

Huhuhu aku paling bingung jwb pertanyaan yg ini. Tp semoga chap depan bisa menjawab pertanyaan ini yaa :)

5. Kenapa Jaejoong koma?

Jaejoong koma karena kecelakaan 5 tahun lalu saat ia lg hamil tua. Dan untuk pertanyaan kenapa dia bisa kecelakaan? well, kita lihat saja nanti *gludak* :D

Mungkin aku baru bisa jawab pertanyaan temen2 segitu dulu ya, untuk selanjutnya biar chap depan yg menjawab. AKu minta maaf bgt buat review temen2 yg ga aku jawab T_T

Sekali lagi aku ngucapin banyak2 terima kasih buat semuanya, zumkyu28. YunHolic, nin nina, JungJaema, gdtop, 1, Jung Jae YJ, , Reysa J, Kira is Jung Dabin Naepoppo, AKTForever, trililililili, Andreychoi, Violet-kira, Jihee46, FanyHyuk, Guest, dan semua yg ga bisa aku sebutin satu2 hehhee.

Special thank's to Himawari ezuki makasi chingu uda diingetin hehehe ^^