Perfect Affection

Author : Yundol aka Lunn

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Shim Changmin, Park Yoochun, Kim Junsu, Tiffany Hwang and others

Genre : Drama, Romance, Family, Mpreg, OOC, YAOI, Slightly Straight

Desclaimer : They're belongs to themselves and God. I own nothing but this FF is mine!

.

Warning : Boys Love, alur maju-mundur, lambat dan membosankan, typo(s), serta pemilihan kata yg kurang tepat. Jika ada kesamaan cerita, itu adalah murni ketidak sengajaan, tp cerita ini asli milik saya. Mohon kritik dan saran yg membangun. No bashing!

.

Don't Like. Don't Read!

.

Summary : Kim Jaejoong mengalami koma selama 5 tahun karena sebuah kecelakaan. Selama itu pula bocah manis bernama Kim Changmin merindukan sosok Umma yang belum pernah melihat wajahnya sejak ia dilahirkan. Lantas siapakah sosok yang seharusnya ia panggil Appa?


Perfect Affection

Yundol aka Lunn

.

Chapter 4

.

.

Seoul, musim semi 2004

Kim Jaejoong berlari-lari kecil di tengah gerimis sore. Namja berkulit putih pucat itu tersenyum cerah saat sepasang manik beningnya menangkap sebuah toko bunga tak jauh dari tempatnya. Tak mempedulikan gerimis yang kian deras, remaja berusia 16 tahun itu semakin mempercepat langkahnya menuju tempat tujuannya itu. Berbagai macam perasaan muncul begitu saja saat kaki jenjangnya menapak teras toko yang berisi berbagai macam bunga. Senang, lega, sekaligus khawatir. Oh ia benar-benar berharap kali ini ia harus mendapatkan apa yang ia cari hampir seharian ini. Melewatkan makan siang dan mengingkari janji dengan dongsaeng-nya hanya untuk mencari toko bunga di seluruh Seoul. Dan disinilah dirinya sekarang, toko bunga ke empat yang ia datangi.

Membersihkan sweater almamater Junior High hitam yang cukup basah serta merapikan rambut almond-nya yang berantakan, namja itu menarik napas sejenak kemudian menghembuskannya pelan. Melangkah penuh keyakinan setelah mendengar suara seorang wanita menyambut kedatangannya. Namja berwajah cantik itu mengangguk sekilas pada wanita yang ia yakini sebagai pelayan di toko bunga itu sebelum membuka suara.

"Saya mencari bunga tulip putih" katanya.

"Tulip putih? Cheosonghamnida Tuan persediaan tulip putih kami sudah habis. Stok terakhir telah dibeli oleh Tuan yang ada disana" pelayan wanita itu menunjuk seorang pria tinggi yang berdiri di hadapan meja kasir membelakangi keduanya.

Bahu Jaejoong merosot untuk ke empat kalinya dalam sehari. Doe eyes-nya berubah sayu dalam hitungan detik. Setelah mengucap terima kasih sejenak pada si pelayan, namja itu membalikkan badannya, hendak melangkah keluar namun langkahnya terhenti saat menyadari guyuran hujan kian deras. Ah dia bahkan tak membawa payung. Padahal tadi pagi Heechul sudah mengingatkannya berkali-kali agar tak lupa membawa payung mengingat musim semi telah tiba. Musim dimana hujan relatif banyak turun, bunga-bunga mulai bermekaran, dan pohon-pohon mulai berdaun kembali. Musim yang menyambut berakhirnya musim dingin. Musim yang sangat ia sukai.

Kim Jaejoong menghela napas kecewa. Apa boleh ia berpendapat bahwa hari ini adalah hari tersialnya? Well jika ia lihat ke belakang, mungkin semua kesialannya bermula sejak berita yang cukup mengejutkan ia dapatkan dari wali kelasnya. Setelah mengikuti ujian masuk ke sekolah menengah atas, hakseng tingkat tiga Junior High itu memperoleh nilai yang sangat bagus sehingga ia diterima di salah satu sekolah terbaik di Gangdong-gu, Hanyoung Foreign Languange High School. Mungkin menurut wali kelas dan sebagian teman-temannya berpendapat bahwa kesempatan itu sangat sayang jika dilewatkan. Ia sendiri bahkan tak tahu harus merasa senang atau justru sedih? Oh ingatkan ancaman Heechul yang menginginkannya menjadi seorang entertainer. Menuntutnya untuk dapat memasuki Seoul Performing Art High School. Demi Tuhan, ia bahkan tak memiliki bakat untuk terjun di dunia hiburan. Entah itu akting, bermusik, bernyanyi atau menari sekalipun. Meski berkali-kali Heechul memuji suaranya saat mereka sedang karaoke bersama di ruang keluarga, tapi ia tak memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk menjadi seorang penyanyi. Mungkin lebih tepatnya, tak sekalipun ia bermimpi menjadi seorang penyanyi. Lantas bagaimana reaksi Heechul jika tahu putra sulungnya tidak dapat –sekaligus tak ingin- memasuki sekolah seni seperti yang diinginkan oleh ibunya itu? Dan inilah alasan namja tampan sekaligus manis –atau cantik- kebingungan mencari salah satu senjata untuk dapat memberitahukan berita itu kepada Heechul. White tulip. Karena baginya, tulip putih adalah senjata yang ampuh untuk memohon pengampunan. Menguatkan dirinya agar dapat mengungkapkan permintaan maaf jika ia melakukan kesalahan. So, ia berpikir memang semua bermula dari berita tersebut, karena hanya untuk mencari setangkai bunga tulip ia harus pergi berkeliling Seoul. Mengunjungi satu persatu toko bunga, kelaparan, dan sekarang ia terjebak hujan.

Jaejoong mendengus keras.

Hhh! Benar-benar sial!

"Mendengus seperti nenek-nenek"

Sebuah suara bass membuat Jaejoong menolehkan kepalanya ke samping. Mendapati seorang namja tampan berdiri tepat di sebelahnya tengah tersenyum geli. Oh apa dirinya terlalu sibuk merutuki kesialannya hingga tak menyadari kehadiran orang lain di sisinya? Terjebak hujan di teras milik toko bunga yang ia kunjungi. Kim Jaejoong hanya mengerucutkan bibirnya. Sedikit merasa malu karena namja tampan itu nampaknya menyindir dirinya. Setidaknya itu menurut Jaejoong, mengingat di teras toko itu hanya ada mereka berdua.

Namja tampan itu meliriknya sekilas sebelum mengalihkan tatapannya. Memandang butiran air hujan yang turun begitu derasnya. Sebuah senyum kecil menghiasi bibir berbentuk hati miliknya.

"Kau tak bawa payung?" namja itu memulai kembali percakapan di antara mereka.

"N—ne begitulah" Jaejoong menjawab dengan canggung. Merasa cukup aneh dengan situasi yang terjadi sekarang. Bagaimana pun ia tak mengenal namja ini sebelumnya, wajar bukan jika ia merasa canggung?

Ekor mata Jaejoong melirik namja yang berdiri di sampingnya. Namja itu tak lebih pendek darinya. Memiliki kulit kecoklatan serta wajah yang kecil. Tubuhnya juga cukup atletis meski terbalut kemeja putih dengan lengan yang disisingkan hingga siku dan dipadukan dengan vest rajutan abu-abu, namun Jaejoong yakin otot-ototnya mulai terbentuk sempurna diusia yang mungkin jika bisa ia tebak hanya berbeda setahun atau dua tahun di atasnya. Dan semua terangkum menjadi satu kesimpulan yang terbentuk di otaknya. Sangat tampan.

Jaejoong mengalihkan tatapannya dengan gugup begitu namja tampan di sebelah menoleh padanya. Sepertinya namja itu memergoki dirinya karena telah memperhatikan begitu detail. Niat hati sekedar melirik, namun apa daya Kim Jaejoong justru memperhatikannya terlalu lama. Oh Jaejoong benar-benar kebingungan menempatkan pandangannya sekarang. Di mana pun asal tidak di sebelahnya.

Namun doe eyes itu malah menjatuhkan pandangannya pada sebuket bunga tulip putih yang ada pada genggaman tangan namja di sebelah. Bunga yang ia cari hampir seharian ini. Bunga yang cukup sulit ia temui di awal-awal musim semi seperti ini. Ah tiba-tiba ia ingin memiliki taman bunga sendiri agar ia tak perlu repot-repot mengunjungi satu florist ke florist lain untuk mencari bunga kesukaannya. Apalagi umma-nya juga penggemar bunga, sama sepertinya. Tampaknya ia harus menyusun rencana untuk membujuk Kim Hankyung agar ayahnya itu memuluskan keinginannya. Hohoho menyenangkan sekali!

"Ah kau mencari tulip putih?"

Lagi. Namja itu membuka suara. Sedikit mengangkat sebuket tulip putih yang ada di tangannya.

Jaejoong mengangguk pelan. "Ye" jawabnya lesu. Menatap kuncup-kuncup tulip itu dengan sendu.

Menyadari tatapan lesu namja cantik di sebelahnya, namja tampan kembali bersuara. "Sepertinya kau sangat membutuhkan bunga ini" namja itu pun turut menatap tulip putih sambil tersenyum kecil.

"Aku membelinya untuk umma-ku yang sedang sakit. Sebenarnya aku tak tahu apakah bunga ini cocok untuk umma atau tidak. Aku hanya sekedar memilih apapun yang menarik dan indah dimataku. Dan well, pilihanku jatuh pada bunga tulip"

Untuk pertama kalinya namja tampan berbicara lebih panjang dari sebelumnya. Mengatakan alasannya membeli tulip putih tanpa diminta. Sebenarnya Jaejoong tak mau tahu jika namja itu tak mengatakannya sendiri. Setidaknya ia bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain, terutama orang yang tak ia kenal.

"Bunga tulip selalu tepat untuk momen apapun. Karena ketika kau mengirim tulip putih untuk teman atau pun keluargamu, itu berarti kau mengirim pesan kebahagiaan. Tulip putih melambangkan kerendahan hati, kemurnian, permohonan dan kepolosan." Jaejoong berucap sembari terus menatap bunga itu.

Namja tampan itu menoleh, menatap Jaejoong dengan tatapan kagum sekaligus terkejut. Tak menyangka namja cantik di sebelahnya justru menjawab pernyataan yang ia lontarkan tiba-tiba. Ia sendiri pun tak mengerti mengapa dirinya harus mengungkapkan alasan membeli tulip putih kepada namja itu.

Sang namja tampan tersenyum lebar. Menatap lekat-lekat wajah ayu tanpa cacat di sampingnya. Rasanya baru kali ini ia menemukan seorang anak lelaki dengan mata yang begitu besar. Bulu mata lentik serta alis coklat yang menggaris sempurna. Hidungnya ramping serta bibir penuh dan tampak segar seperti buah cherry. Ya Tuhan ia bahkan harus menahan napas hanya karena melirik bibir itu.

"Tulip putih memiliki arti kasih sayang sempurna"

Namja tampan mengalihkan tatapannya begitu saja setelah mendengar sosok di sebalahnya kembali bersuara. Menghela napas lega karena setidaknya namja cantik tak memergoki dirinya yang sudah seenaknya menelusuri wajah putih miliknya. Yea Jaejoong masih terlalu asyik menghabiskan waktunya untuk memandangi tulip putih. Seolah ia terlarut dalam keindahan kuncup-kuncup putih itu.

"Ah mianhae sepertinya aku terlalu banyak bicara" tersadar dari lamunan, Kim Jaejoong menutup mulutnya dengan punggung tangan kirinya. Si namja tampan terkekeh.

"Kau tahu banyak tentang bunga eoh?" ujar namja itu. Menatap Kim Jaejoong yang memerah di sampingnya. Manis sekali.

"A-aniyo" Jaejoong menggeleng kecil dengan kedua tangan menyentuh pipinya yang entah mengapa terasa panas. Ada apa?

Namja tampan lagi-lagi hanya dapat terkekeh, kemudian menatap buket tulip putih di tangannya. Menarik satu dari sebuket tangkai tulip itu dan menyodorkannya ke depan Jaejoong.

"Jja ambillah!" katanya.

Jaejoong menoleh, menatap setangkai tulip itu dengan mata berkedip lucu kemudian menatap si pemilik bunga tak mengerti.

"Ku harap setangkai tulip ini bisa menghapus sedihmu" ujarnya. Menatap balik Jaejoong yang masih memandangnya penuh tanya.

"Dan ku harap kau juga berhenti mendengus seperti nenek-nenek" lanjut si namja diselilingi tawa renyah yang keluar dari bibir hatinya.

Ragu-ragu Jaejoong menerima setangkai tulip itu dengan bibir yang mengerucut lucu. Oh lihatlah! Si namja tampan lagi-lagi hanya dapat menahan napas melihat pemandangan di depannya itu. Ya Tuhan!

Namja itu mengalihkan tatapannya. Menatap bulir-bulir air hujan yang semakin mereda. "Ah sepertinya aku harus pergi. Lagipula hujan sudah tak sederas tadi. Annyeong!" tersenyum pada Jaejoong sejenak sebelum berlari menerobos rintik-rintik gerimis.

Jaejoong hendak mengucapkan sesuatu namun diurungkan saat tubuh tegap si namja menghilang dari pandangannya. Memasuki sebuah mobil hitam yang terparkir di tepi jalan. Jaejoong menghela napas kecewa sambil terus menatap mobil hitam yang berjalan semakin menjauh.

Sedetik kemudian sebuah senyum manis terukir di wajah cantiknya saat manik matanya menatap setangkai tulip putih yang ia genggam. Menghirup wangi khas yang menguar dari tulip putih tanpa menghapus sedikitpun senyuman manisnya.

Gomawo…

.

o0o

.

Kim Jaejoong melangkahkan kakinya memasuki gerbang Hanyoung High School dengan riang. Ah ia sangat senang karena bumonim-nya mengijinkan ia untuk memasuki sekolah yang ia impikan ini. Yeah meskipun ia harus rela mengorbankan telinga untuk mendengarkan berbagai macam omelan Heechul. Beruntung sang appa mendukung apapun yang ia pilih, sehingga Heechul mau tak mau harus meluluskan keinginannya. Kim Jaejoong tersenyum lebar membayangkan hari-hari indah selama 3 tahun ke depannya di sekolah barunya ini.

Jaejoong menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, mencari ruang kelas yang akan ia tempati saat sebuah suara pengumuman terdengar di seluruh lorong sekolah. Sepertinya upacara penerimaan siswa baru akan di mulai 10 menit lagi. Jaejoong semakin mempercepat langkahnya, ia tentu tak mau terlambat mengikuti upacara kan? Ini adalah hari pertamanya sekolah, tentu ia tak ingin memberikan kesan buruk untuk hari penting seperti ini.

"Ah ini dia!" Jaejoong tersenyum lebar saat manik matanya menemukan sebuah papan kecil bertuliskan angka 1-2 di atas pintu bercat coklat. Tanpa ragu ia memasuki sebuah ruang yang ia yakini sebagai ruang kelasnya untuk setahun ke depan. Mendekati bangku kosong di deretan ke tiga pinggir jendela. Meletakkan tas punggungnya disana.

"Annyeong Kim Hyunjoong imnida. Salam kenal chingu ya" seorang namja tampan tampak berdiri di belakang bangku Jaejoong. Mengulurkan tangan sembari tersenyum lebar. Memperlihatkan derean gigi putihnya yang rapi.

Kim Jaejoong menoleh, sedikit terkejut mendapati seorang anak lelaki seusianya tiba-tiba mengajaknya berkenalan. Sedetik kemudian sebuah senyuman terpasang di wajahnya. Tanpa ragu ia meraih tangan itu dan menjabatnya hangat. Menyenangkan sekali memulai hari pertama di sekolah baru dengan seorang teman baru pula.

"Kim Jaejoong iminda" ucapnya.

"Baiklah sebaiknya kita harus ke aula sebelum upacara di mulai. Kkaja!" anak lelaki bernama Hyunjoong itu menarik lengan Jaejoong tanpa diminta. Sementara si pemilik lengan –Jaejoong- hanya pasrah mengikuti Hyunjoong, namun tiba-tiba langkah Jaejoong terhenti saat mereka berdua melewati lorong sekolah yang cukup ramai. Hyunjoong pun menghentikan langkahnya. Menatap Jaejoong penasaran.

"Hyunjoong ssi apa kau tahu dimana letak toilet? Sepertinya aku perlu buang air kecil sebentar" kata Jaejoong.

Hyunjoong terkekeh melihat air muka namja cantik di depannya yang tampak sedang menahan sesuatu. "Di ujung lorong sana. Ayo kuantar" Hyunjoong baru akan menarik lagi lengan Jaejoong namun tertahan.

"Aniyo gwenchana. Aku akan pergi sendiri. Kau pergilah dulu ke aula"

"Kau yakin? Apa kau tahu letak aula?"

Jaejoong menggeleng kecil sambil tersenyum lebar. Memperlihatkan sederetan giginya yang rapi. "Tenang aja Hyunjoong ssi aku bisa bertanya pada siswa lain." Jaejoong melepaskan genggaman tangan Hyunjoong pada lengan kanannya.

"Arasseo aku pergi dulu. Ah! Dan jangan panggil aku dengan embel-embel ssi! Kita akan berteman selama tiga tahun ke depan, jadi sudah seharusnya kita mendekatkan diri satu sama lain sebagai teman" ujar Hyunjoong sejenak sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan Jaejoong yang masih berdiri di lorong yang mulai sepi sambil tersenyum kecil.

Sepeninggal Hyunjoong, Jaejoong berlari-lari kecil menuju toilet yang Hyunjoong katakan tadi. Lorong lantai dua ini sudah cukup sepi mengingat lantai ini dihuni oleh siswa tingkat satu, dimana hampir seluruh siswa mungkin saat ini sudah berada di aula sekolah. Mengikuti upacara penerimaan siswa baru. Ia benar-benar merasa senang dan bangga karena dapat memasuki sekolah favoritnya ini. Bahkan Kim Junsu –namdongsaeng nya yang saat ini duduk di bangku Junior High tingkat dua- berharap dapat memasuki sekolah ini setelah lulus nanti. Hahaha sepertinya Heechul benar-benar tak dapat mewujudkan impiannya untuk memiliki seorang anak yang terjun di dunia entertainment.

.

.

"Ah lega!" desah Jaejoong saat keluar dari toilet sambil merapikan seragam barunya. Menoleh kanan-kiri mendapati lorong lantai dua yang sudah sangat sepi. Ugh! Sepertinya upacara telah dimulai dan ia terlambat. Tanpa pikir panjang Jaejoong berlari cepat menuruni tangga menuju lantai satu. Ia memang tak tahu dimana letak aula sekolah tetapi instingnya menuntun dirinya agar segera turun ke lantai satu dan ia yakin aula sekolah pasti ada di sana. Telapak kaki Jaejoong baru saja menginjak anak tangga terakhir saat—

Bruk!

Tubuh Jaejoong terdorong ke belakang dan jatuh terduduk tepat pada anak tangga ketiga. Merasakan nyeri yang luar biasa pada pantatnya karena terbentur tepian anak tangga. Sepertinya saat ia baru menapaki anak tangga terakhir ia menabrak seseorang yang baru saja berbelok, mungkin kebetulan hendak menaiki tangga.

"Gwenchana?"

Sebuah suara bass terdengar begitu khawatir. Seorang namja yang Jaejoong tabrak tadi kini berjongkok di depannya dengan tangan menyentuh pundak kanan Jaejoong.

"Aish appo!" Jaejoong meringis sembari berusaha berdiri dengan bantuan namja asing itu. Tangan kirinya mencoba menekan tulang pantatnya yang terasa sakit.

"Gwenchana?" lagi si namja asing bertanya. Masih mencoba mendapatkan respon dari Jaejoong.

Perlahan Jaejoong mendongak, menatap pihak yang menjadi korban –atau pelaku?- dari kejadian barusan. Ia hendak membuka mulut untuk mengatakan kalau ia baik-baik saja –meski tidak pada pantatnya- namun urung saat mata besarnya mendapati seraut wajah tampan yang pernah dilihatnya sekitar dua minggu yang lalu. Sepasang mata musang menatapnya penuh kekhawatiran sekaligus keterkejutan. Dia—

"Kau?"

Seolah membaca pikiran Jaejoong, namja itu memotong. Mendahului dirinya yang hendak mengucapkan satu kalimat itu. Si namja tampan melebarkan senyumannya hingga sederetan gigi putihnya yang rapi tertangkap oleh retina Jaejoong yang masih melebar.

"Tulip putih? Benar?" namja itu menunjuk wajah Jaejoong yang menatapnya tak percaya. Hey! Apa Jaejoong nampak seperti bertemu hantu? Wajah terkejutnya sangat berlebihan. Wae?

"K—kau?"

"Kau tak ingat aku? Kita pernah bertemu di toko bunga daerah Dongdaemun dua minggu lalu. Terjebak hujan bersama" ujar si namja seolah mencoba mengingatkan namja cantik dihadapannya.

Jaejoong masih menekan kecil pantatnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanan menutupi bibir merahnya. Tampaknya ia berusaha menyembunyikan senyuman yang tak sengaja terpasang. Ia tak tahu mengapa tiba-tiba ia ingin tersenyum seiring dengan detak jantungnya yang berdetak semakin cepat. Bahkan ia berani bersumpah, semburat merah pasti terpasang di wajahnya sekarang. Ya Tuhan ada apa dengan dirinya eoh? Apa dia salah makan?

Jaejoong menggeleng pelan. Entah sebagai jawaban dari pertanyaan namja tampan atau juga sebagai penolakan dari pemikirannya barusan? Tapi ia tak merasa salah dengan apa yang telah ia makan untuk sarapan tadi. Well, pancake buatan Heechul tentu tak beracun kan? Lalu apa karena ia tak melupakan pertemuan antara dirinya dengan namja tampan di hadapannya?

"Aniyo. Tentu aku masih ingat"

Sepertinya begitu.

Hey! Bagaimana mungkin ia melupakan namja ini? Meski hanya beberapa menit bertemu dan berbincang singkat, namun Kim Jaejoong tak melupakan sedikitpun pria yang telah memberinya setangkai tulip putih itu. Apa kalian tahu Jaejoong tak pernah mendapatkan setangkai pun bunga dari orang lain –kecuali keluarganya- selama ini? Jadi bisa dibilang namja ini adalah orang pertama yang memberinya bunga. Meski hanya setangkai tetapi sangat bermakna baginya. Oh! Salahkan Kim Jaejoong yang memiliki sifat lembut dan mudah tersentuh meski ia seorang namja sekalipun. Dan siapa sangka ia akan bertemu lagi dengan namja ini di sini?

"Syukurlah kau masih mengingatku. Ku pikir hanya aku yang mengingatmu hahaha" sahut namja tampan ditengah tawa renyahnya. Menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.

"Ah apa kau baik-baik saja? Kau terluka?" seolah tersadar, namja itu memegang kedua pundak Jaejoong. Meneliti seluruh tubuh anak lelaki yang tak lebih tinggi darinya itu dengan khawatir. Tentu ia teringat rintihan kesakitan yang meluncur dari bibir plum lelaki cantik itu sebelumnya.

Jaejoong menggeleng cepat. "Ani, gwenchana yo" ujarnya. Seolah melupakan nyeri pada tulang pantatnya semula.

"Gurae? Syukurlah" namja itu menghela napas lega. Menatap Jaejoong dengan tatapan lembutnya.

"Kau murid baru?" lagi si namja tampan bertanya dan dijawab anggukan yakin oleh Jaejoong.

"Woah menyenangkan sekali! Jadi kita bisa sering bertemu. Ah perkenalkan aku Jung Yunho tingkat dua. Kau?" namja tampan bernama Jung Yunho itu mengulurkan tangannya. Sedangkan Jaejoong menatap tangan itu dengan ragu. Demi Tuhan telapak tangannya berkeringat saat ini. Apa boleh ia membalas uluran tangan itu dengan tangan yang basah seperti ini? Tapi—

"K—Kim Jaejoong imnida" Jaejoong pun tak kuasa menahan diri untuk tak membalas uluran tangan itu. Ia bahkan tersenyum gugup saat kehangatan yang berasal dari tangan besar itu menyentuhnya. Seolah dapat menyerap semua keringat yang membasahi telapak tangannya. Aneh!

Jaejoong menghela napas kecewa saat Yunho melepaskan tautan tangan mereka. Ada perasaan tak rela saat tangan hangat itu terlepas darinya. Ya Tuhan sebenarnya ada apa dengan dirinya? Benar-benar menggelikan.

"Kau tak mengikuti upacara penyambutan siswa baru? Sepertinya sudah dimulai sejak 15 menit yang lalu" Yunho berkata sambil melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya.

Jaejoong hanya mengangguk samar. Masih menatap Jung Yunho yang berdiri di hadapannya tanpa berkedip. Dengan jarak sedekat ini Jaejoong dapat melihat dengan jelas wajah tampan di depannya. Bahkan sebuah tahi lalat kecil yang berada di atas bibir berbentuk hati sebelah kiri itu tak luput dari mata besarnya. Untuk kedua kalinya setelah dua minggu yang lalu Kim Jaejoong memperhatikan Jung Yunho begitu detail.

"Kau tak ke aula?" tak mendapat respon, Yunho kembali bertanya.

Jaejoong tersentak, "Eh? Apa? Aula?" melempar balik pertanyaan dengan mata berkedip lucu. Bukankah dua minggu yang lalu ia juga pernah mengalami hal seperti ini? Terpesona pada wajah tampan Yunho hingga terus memperhatikannya tanpa berkedip. Memalukan!

Yunho tersenyum kecil mendapati wajah gugup di depannya. "Yeah bukankah kau harus mengikuti upacara?"

"OMO! Upacara! Aula! Aula! Dimana aula?!" seolah tersadar dari tujuannya semula Kim Jaejoong berlari tergopoh-gopoh sepanjang lorong lantai 1 layaknya orang kebingungan. Meninggalkan Yunho yang sedang tertawa melihat tingkah konyolnya. Tak tega, ia pun berlari mengejar Jaejoong.

"Ayo kuantar kau ke aula" tanpa banyak bicara Yunho meraih pergelangan tangan Jaejoong. Menarik lembut tangan itu tanpa menyadari perubahan raut wajah namja cantik yang digandengnya. Jaejoong hanya mampu mengikuti langkah Yunho tanpa banyak bicara. Melirik sekilas tangan hangat yang menarik tangannya sebelum menatap si pelaku lekat-lekat. Semburat kemerahan kembali menghiasi wajah putihnya bersamaan dengan sebuah senyum manis yang terpasang di bibir plum miliknya.

Ada apa eoh Jaejoong ssi?

.

Perfect Affection

.

Sungryung sedang menuangkan jus stroberi pada gelas bening di atas konter dapur. Manik matanya melihat Changmin tengah duduk di kursi ruang makan. Oh bocah itu lucu sekali. Mata bulatnya berbinar senang saat Sungryung membawa gelas berisi jus stroberi dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan Changmin. Bocah itu bertepuk tangan gembira sambil menggumam 'Sobelli! Sobelli!' sebelum kedua tangan mungil itu meraih gelas bening di depannya dan meneguk isinya tanpa ragu. Sesekali ia menjauhkan bibir gelas dari bibirnya untuk menarik napas dan mengecap lidah lalu kembali meneguk jus stroberi itu hingga tak bersisa. Sungryung hanya bisa menikmati tingkah menggemaskan bocah itu sambil tersenyum puas. Merasa begitu senang karena jus stroberi buatannya dihabiskan oleh sang bocah.

"Changminnie suka stroberi eoh?" tanya Sungryung.

Changmin mengangguk cepat. "Ung! Sangat sangat sukaaa~" jawabnya semangat. Tak mempedulikan sisa jus yang membasahi sekitar mulut dan dagunya. Sungryung tertawa senang.

"Umma!" sebuah teriakan membuatnya menoleh ke arah pintu dapur. Sepertinya itu suara Yunho yang berasal dari ruang tamu.

"Eoh sayang! Yeogi! Kami di dapur!" sahut Sungryung setelah kembali memperhatikan Changmin yang menyentuhkan lagi bibir gelas pada bibirnya. Ya ampun bocah itu masih berharap adanya sisa-sisa jus di gelas.

Yunho tersenyum lebar begitu menemukan Sungryung dan Changmin duduk berhadapan di meja makan. Ia pun melangkahkan kakinya memasuki ruang makan yang terhubung dengan dapur. Menarik kursi di sebelah Changmin dan duduk di sana.

"Sedang apa kalian?" tanyanya sembari menatap Changmin yang masih mengangkat tinggi-tinggi gelas bening dalam posisi terbalik.

"Aku baru saja membuat jus stroberi untuk Changmin. Neo arra? Changmin sangat suka stroberi. Sepertimu" kata Sungryung. Melirik sekilas pada putranya.

"Kata halmoni, umma Minnie juga suka sobelli!" sahut Changmin setelah menyesap setetes jus stroberi yang menetes dari dalam gelas. *ponakanku umurnya jg 5 thn, kalo ngomong stroberi jadi sobelli wkwk XD* *abaikan*

"Benarkah? Hahaha stroberi memang yang terbaik. Ah aku juga ingin jus stroberi umma" Yunho menoleh pada ibunya. Menatapnya dengan tatapan memohon.

Sungryung terkikik pelan. "Arasseo, chamkaman"

"Minnie juga mau lagi halmoni!" seru Changmin seraya menyodorkan gelas kosongnya. Mau tak mau Sungryung pun tertawa. Ia mengangguk sekilas lalu meraih gelas Changmin.

.

"Setelah ini aku akan mengantar Changmin pulang ke rumahnya" Yunho berkata. Memperhatikan sang ibu yang sedang sibuk membuatkannya jus stroberi.

Sungryung meliriknya sekilas. "Kau sudah mendapatkan alamatnya?"

"Eoh setelah makan siang tadi aku mampir ke sekolah Changmin. Sepertinya keluarga Changmin mencarinya sejak kemarin. Aku sempat mendengar beberapa guru yang membicarakannya" Yunho melepaskan jas hitamnya dan meletakkannya di atas meja.

"Dimana rumahnya?"

"Apgujeong"

"Ah aku harap bisa bertemu lagi dengannya" Sungryung meletakkan segelas jus di hadapan Yunho, lalu segelas lagi di hadapan Changmin. Kembali menduduki kursinya semula sambil menatap sendu Changmin yang sedang meneguk jusnya dengan semangat.

Ckckck anak itu…

"Tenang saja umma, kita pasti bisa bertemu lagi dengannya" ujar Yunho setelah meletakkan gelas jusnya yang tinggal setengah.

"Changminnie kau mau kan menelpon halmoni? Halmoni akan sangat senang jika kau menelponku" seolah mendapatkan ide dari kegelisahannya, Sungryung menatap Changmin dengan mata berbinar-binar senang.

Changmin mengangguk antusias setelah meletakkan gelasnya yang sudah kosong. Lagi. "Minnie mau! Minnie mau!" serunya riang.

Sungryung dan Yunho pun tertawa bersamaan.

.

o0o

.

Junsu baru saja keluar dari kamar Jaejoong sore itu saat dilihatnya salah seorang pelayan tengah berbicara dengan seseorang melalui interkom. Sepertinya ada tamu, tapi siapa?

Tak peduli, Junsu pun melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil air minum. Ia benar-benar tak bertenaga seharian ini. Lelah mencari Changmin sejak kemarin malam. Keadaan rumah pun tak semakin membaik. Heechul hanya mengurung diri di kamar sambil terus menangis, tak mau makan sedikitpun. Hankyung pun tak banyak bicara sebelum berangkat ke kantor tadi pagi, sedangkan dirinya sendiri hanya sibuk menemani Jaejoong sepulangnya mencari Changmin tadi siang. Menceritakan tentang Changmin yang tak kunjung ditemukan, tentang kondisi ibunya dan tentang keadaan rumah yang sunyi sejak kemarin pada hyung-nya.

"Tu—tuan! Tuan muda!" panggilan si pelayan menghentikan langkahnya. Tergopoh-gopoh berjalan mendekatinya dengan wajah kebingungan.

Mau tak mau Junsu pun membalikkan badannya. Menatap si pelayan dengan kening berkerut. "Wae? Siapa yang datang?" tanyanya.

"Ada orang yang mengantar Tuan Changmin pulang" jawab pelayan itu.

"MWO? Changmin?!" Junsu berseru kencang. Tanpa banyak bicara ia berlari-lari kecil menuju pintu. Bagaimana pun ini adalah tentang Changmin, tentu ia sangat terkejut.

Seseorang mengantar Changmin pulang? Siapa? Apa salah satu dari anak buah ayahnya?

Junsu membuka pintu lebar-lebar dan mendapati seorang pria tinggi tampan tengah berdiri tepat di depan pintu. Junsu terkejut saat si pria balas menatapnya sambil memasang sebuah senyuman ramah. Pria itu hendak bersuara namun—

"J—Jung Yunho?!" potong Junsu cepat. Mimik wajahnya benar-benar tak dapat disembunyikan. Bahkan si pria tampan di hadapannya pun menyadari raut keterkejutan Junsu.

"Kau—"

"Junchaaaaan!" suara teriakan nyaring bocah berusia 5 tahun memotong disertai dengan dorongan yang cukup kuat menabrak kedua kakinya. Mau tak mau Junsu pun menunduk, mendapati si pemilik suara tengah memeluk kedua kakinya dengan erat.

"Changmin ah!" pekik Junsu tak percaya. Ia berlutut, mensejajarkan dirinya dengan bocah yang dicarinya sejak kemarin. Merengkuh Changmin dalam sebuah pelukan erat dan hangat.

"Ya Tuhan Changminnie" sejenak melepaskan pelukannya, seolah ingin memastikan bahwa bocah di depannya ini benar-benar Kim Changmin, keponakannya.

"Huhuhu Changminnie kau kemana saja eoh? Kau tak tahu kami semua mengkhawatirkanmu?" ujar Junsu sambil kembali memeluk Changmin disela-sela tangisannya yang mendadak pecah.

"Junchan menangis? Wae?" tanya Changmin di dalam pelukan Junsu.

Junsu melepaskan pelukannya, lalu menepuk pelan kepala Changmin yang tertutupi topi kuning. "Pabo! Ini semua karena kau tahu! Huhuhu" Junsu mendengus sambil mengerucutkan bibirnya lucu. Sementara Changmin hanya memandangnya tak mengerti. Pamannya ini mudah menangis seperti anak kecil.

"Changminnie!"

Suara lain menginterupsi kedua manusia itu, menatap Changmin dengan mata berkaca-kaca. Wajah cantiknya nampak sangat pucat dan lemah. Mungkin karena tak mendapatkan asupan makanan serta menangis terus-menerus seharian.

"Halmoni!" Changmin melepaskan diri dari Junsu. Berganti memeluk Heechul yang kini berdiri di belakang pamannya itu. Menangis sesenggukan di dalam pelukan neneknya. Sejenak suasana haru sekaligus bahagia menyelimuti ketiga manusia itu. Seolah melupakan keberadaan manusia lain yang hanya dapat memandang ketiganya dengan senyuman hangat dan lega.

.

o0o

.

"Terima kasih banyak Jung Yunho ssi sudah menjaga Changmin dengan baik" Heechul menatap seorang pria tampan berjas hitam yang kini duduk di hadapannya. Saat ini mereka tengah berada di ruang tamu keluarga Kim bersama. Mendengarkan celotehan Changmin panjang lebar tentang pengalaman kaburnya(?) kemarin serta pertemuannya dengan Yunho dan keluarganya yang sudah dianggapnya sebagai kakek-neneknya yang baru. Sementara Yunho sesekali menyahuti cerita Changmin sambil tersenyum geli.

Yunho meletakkan cangkir kopinya di atas meja dengan pelan. Menatap balik wanita cantik paruh baya yang memangku Changmin dengan senyum khasnya. "Bukan apa-apa. Justru saya meminta maaf karena hampir menabrak Changmin saat itu"

"Tapi saya tetap merasa sangat lega karena Changmin bertemu dengan orang baik seperti anda. Saya tidak bisa membayangkan jika dia bertemu dengan orang-orang jahat dan melukainya. Tentu saya akan merasa marah pada diri saya sendiri" sahut Heechul. Tersenyum bijak pada pria tampan itu.

"Halmoni pasti sedih kalena Minnie. Minnie minta maaf ne? Minnie janji tidak akan kabul sendili lagi. Nanti Minnie ajak halmoni, halaboji dan Junchan kabul sama-sama ne?" dengan polosnya Changmin menyahuti pembicaraan. Mendongak menatap Heechul dengan sendu. Heechul tersenyum, mencium puncak kepala Changmin dengan sayang.

"Kau tak mengajakku eoh?" Yunho menyahut. Memasang wajah murung yang dibuat-buat.

Changmin menoleh padanya cepat. "Tentu saja Minnie ajak Yunho ahjussi juga! Minnie juga ajak umma, halmoni dan halaboji balu kabul sama-sama. Yaaayy!" seru Changmin penuh semangat. Alhasil perkataan Changmin pun memancing tawa Yunho dan Heechul.

Sementara itu, berbeda dengan kedua orang yang asyik mendengarkan celotehan Changmin. Junsu duduk di samping ibunya tanpa banyak bicara. Sesekali mata kecilnya sibuk memperhatikan Yunho saat pria tampan itu tak menyadarinya. Namun ia akan mengalihkan tatapannya saat Yunho menoleh padanya. Entah mengapa ia sangat bingung dan tak mengerti dengan kondisi saat ini. Seolah ada berbagai macam pikiran yang berputar diotaknya saat ia menatap pria bermata musang itu.

"Kim Junsu ssi apa kita pernah bertemu sebelumnya?" suara bass Yunho menginterupsi segala pemikiran Junsu. Membuatnya harus menoleh pada pria itu.

"Y—ye?"

"Entah hanya perasaanku saja atau bukan, tapi saya merasa sedari tadi anda melihat saya seolah kita pernah saling mengenal. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?' lagi Yunho mengulang pertanyaannya. Tak bisa dipungkiri, ia memang merasa bahwa pria bernama Kim Junsu itu sedari tadi mencuri-curi pandang ke arahnya, lalu menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ia artikan. Ia hanya dapat menangkap raut keterkejutan di wajah imut itu.

"Ada apa Junsu ah? Kau mengenal Yunho ssi sebelumnya?" Heechul menyahut. Memandang Junsu dengan penasaran. Ia pun merasa sedikit aneh dengan sikap putra bungsunya yang tiba-tiba tak banyak bicara.

Junsu menggeleng kaku. "A-aniya. Aku tak pernah bertemu dengannya. Aku hanya tahu sedikit tentangnya" jawab Junsu gugup.

"Oh ya? Kau tahu tentangnya?" merasa tertarik, Heechul kembali bertanya.

"Yeah bukankah dia putra tunggal Jung Worldwide Inc? Aku pernah membaca artikel tentangnya di salah satu majalah bisnis" kata Junsu meyakinkan. Namun entah mengapa Yunho dapat membaca gelagat lain dari Junsu. Seolah ada sesuatu yang disembunyikannya. Entah apa.

.

o0o

.

Yoochun berjalan memasuki Lotte Hotel dengan langkah tegap. Sesekali tangannya sibuk membenahi jas hitamnya yang sebenarnya sudah rapi. Senyum khas cassanova miliknya terpasang sempurna, mengiringi setiap langkah ringannya. Tak ayal beberapa wanita yang berpapasan dengannya menatapnya penuh kekaguman. Aura Park Yoochun benar-benar menyilaukan. Memancar memenuhi lobby hotel malam itu.

Dengan santai Yoochun memasuki ballroom khusus untuk pesta di hotel itu. Senyumnya semakin terkembang saat matanya menangkap sosok wanita cantik memakai gaun panjang berwarna soft pink tengah menyalami satu persatu tamu yang datang.

"Saengil chukhae hamnida Tiffany ssi" Yoochun mengulurkan sebuah kotak kecil putih yang diikat dengan pita merah muda saat berhadapan dengan wanita itu.

Tiffany tersenyum hangat sambil menerima kado manis itu. "Gamsahamnida Yoochun ssi" jawabnya tulus.

"Kau sendirian?" Tiffany mengedarkan pandangan. Seolah mencari seseorang yang ia harap akan muncul bersama Yoochun.

"Ah kau mencari Yunho hyung? Mianhae dia tak bisa datang. Sepertinya ia memiliki masalah" ujar Yoochun. Mengerti akan maksud dari pertanyaan basa-basi Tiffany.

Tiffany mendesah kecewa. "Begitu? Sayang sekali" katanya. Raut wajah bahagianya tiba-tiba berubah sendu.

"Hey! Jangan murung begitu. Ini adalah hari bahagiamu. Tersenyumlah!" Yoochun menepuk singkat pundak Tiffany. Tampaknya ia dapat mengartikan raut kecewa wanita cantik itu. Sepertinya dugaan Yoochun benar, Tiffany diam-diam menyukai Yunho.

Dan Yoochun pun menyeringai.

.

.

"Ku dengar kau tinggal sendiri di Korea?" Yoochun menyesap sedikit anggur merahnya. Menatap Tiffany di hadapannya. Acara inti baru saja selesai, dan saat ini para tamu tengah sibuk mencicipi berbagai macam hidangan yang disediakan disana.

Tiffany tersenyum kecil. "Ayah dan kedua kakakku berada di Amerika, sedangkan ibuku sudah meninggal sejak aku kecil"

Yoochun mengangguk sekilas. "Pasti sangat sulit tinggal sendiri di Korea" katanya.

Tiffany menggeleng pelan. "Tidak. Aku merasa bersyukur karena memiliki orang-orang yang sangat menyayangiku disini. Teman-temanku, manajerku. Masa-masa sulitku adalah saat aku menjalani training selama 3 tahun sebelum aku debut. Apalagi saat memasuki tahun kedua"

"3 tahun? Jadi kau tinggal di Korea kurang lebih 6 tahun sampai sekarang?" Yoochun memandang Tiffany tak percaya dan dijawab anggukan kecil dari Tiffany. Yoochun tertawa lebar.

"Pantas bahasa Koreamu sangat lancar. Kupikir kau hanya training beberapa bulan, dan bam! Kau menjadi penyanyi terkenal 3 tahun ini"

Tiffany tertawa pelan mendengar perkataan Yoochun. "Aku belajar bahasa Korea sebelum aku mengikuti audisi"

"Gurae? Wah kau pasti belajar melalui drama-drama Korea ne? Kudengar sejak Kpop menyebar luas ke seluruh dunia, para fans Kpop belajar bahasa Korea melalui drama Korea dan lagu-lagu Korea" celoteh Yoochun. Menumpahkan apa yang ia baca di koran dan internet beberapa hari lalu mengenai Korean Wave. Sedikitnya sebagai warga negara Korea, ia merasa bangga. Hahaha!

Tiffany hanya tersenyum tipis menanggapinya. "Yoochun ssi apa aku boleh bertanya sesuatu?" seolah teringat sesuatu, Tiffany bertanya pada Yoochun.

"Tentu saja. Silahkan"

Tiffany memandang Yoochun ragu-ragu. "Apa Jung Yunho ssi saat ini memiliki kekasih atau seseorang yang dekat?" tanyanya pelan.

Yoochun tergelak "Wae? Kau tertarik dengannya?" goda Yoochun. Dan see? Wajah cantik itu memerah sekarang. Lucu sekali.

Tiffany menggeleng cepat. "Aniyo bukan begitu maksudku. Aku hanya—"

"Tenang saja ia tak memiliki kekasih atau apapun semacamnya itu" potong Yoochun cepat setelah menyesap lagi anggur merahnya.

Tiffany tersenyum samar. "Benarkah? Aku tak percaya pria tampan sepertinya tak memiliki kekasih" ujar Tiffany. Yoochun terkekeh. Memaklumi keraguan wanita cantik itu.

"Begitulah! Padahal di luar sana banyak sekali wanita yang mengagumi dan menginginkannya menjadi kekasih. Tapi dia terlalu kaku dan menutup diri. Bahkan aku sebagai sahabatnya sendiri saja tak begitu mengerti kisah cintanya selama ini. Dia sangat tertutup jika menyangkut satu hal itu" Yoochun memandang anggur merahnya dengan tatapan menerawang. Merasa sangat bodoh dan tak berguna sebagai seorang sahabat.

"Yang ku tahu hanyalah Jung Yunho yang pernah jatuh cinta 2 kali selama 27 tahun hidupnya. Namun sayangnya, aku –sahabatnya- tak pernah mengetahui siapa kedua orang yang pernah mencuri hatinya"

.

o0o

.

Kim Junsu menarik sebuah kursi di samping ranjang kamar Jaejoong malam itu. Sunyi. Kamar itu benar-benar sunyi seolah tak ada kehidupan disana. Mungkin jika dada itu tak naik turun dengan teratur dan cardiogram tak lagi bersuara, orang akan berpikir sosok yang terpejam damai itu sudah tak lagi bernyawa. Setidaknya seluruh anggota keluarga Kim merasa sangat bersyukur, meskipun selama hampir 5 tahun ini raga itu tak bergerak sedikitpun, tak terjaga sedetikpun, tetapi kenyataan bahwa raga itu masih hidup, masih bernapas, dan masih bertahan sampai sekarang sudah cukup membuat mereka lega. Tentu. Bukankah lebih menakutkan jika melihat dada itu tak lagi naik-turun dan cardiogram itu tak lagi berbunyi?

Junsu menghela napasnya berat. Perlahan Junsu mengulurkan tangannya, menyingkirkan anak rambut yang jatuh di dahi kakaknya. Kemudian merapatkan selimut putih yang baru tadi sore ia ganti agar menghangatkan tubuh hyung-nya.

"Hyung" panggilnya pelan. Seolah tak ingin menganggu tidur Jaejoong yang damai.

Junsu menyentuh lembut rambut coklat almond Jaejoong yang sudah memanjang lagi. Tampaknya besok ia harus memotong rambut itu, karena selama ini dirinya sendirilah yang memotong rambut Jaejoong sejak 5 tahun lalu. Dan mencukur bulu-bulu halus di sekitar dagu Jaejoong sejak hyung-nya itu koma.

"Dia datang. Bahkan dia yang menemukan Changmin, anakmu" Junsu menghela napasnya. Lagi. Entah mengapa ia masih saja memikirkan pertemuannya dengan Yunho tadi sore. Terutama kedatangan pria itu ke rumahnya dan kedekatannya dengan Changmin. Ia merasa bingung, tak tahu harus bersikap bagaimana.

"Apa kau senang karena dia datang? Atau justru kau sedih?" Junsu kembali berbicara. Menatap Jaejoong yang terpejam dengan sendu.

"Katakan padaku hyung apa yang kau rasakan saat ini? Bukankah dia Jung Yunho—" Junsu berhenti sejenak saat perasaan sesak memenuhi dadanya sebelum kembali melanjutkan.

"—cinta pertamamu?"

.

Perfect Affection

Chapter 4

TBC

.


Mon, 22 April 2013

20.57

.

Annyeong chingu deul...

Mian ya lama banget updatenya. Sekitar 2 mingguan kalo ga salah hehehe. Mohon maklum yah lagi ngejar deadline skripsi biar bulan depan uda bisa sidang *curcol* =D

Mian kalo chapter ini ga begitu panjang, mengecewakan dan membosankan. Mulai sekarang alur FF ini bakalan maju-mundur tapi ga banyak2 sih *plak. Aku mau ngucapin makasi makasi makasi banget nget ngeeet sama semua temen2 yg sudi mampir dan baca FF ini. Aku ga mempermasalahkan jumlah review, ada yg mau baca atau sekedar ngintip aja aku seneeeng banget hehe. Mian yah kali ini aku ga bs balas review temen2. Mungkin chap depan aku bales reviewnya. Sekali lagi aku ngucapin banyak banyak terima kasih buat temen-temen semua 3

Special thank's to Merry Jung ^^