Perfect Affection

Author : Yundol aka Lunn

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Shim Changmin, Park Yoochun, Kim Junsu, Tiffany Hwang and others

Genre : Drama, Romance, Family, Mpreg, OOC, YAOI, Slightly Straight

Desclaimer : They're belongs to themselves and God. I own nothing but this FF is mine!

.

Warning : Boys Love, alur maju-mundur, lambat dan membosankan, typo(s), serta pemilihan kata yg kurang tepat. Jika ada kesamaan cerita, itu adalah murni ketidak sengajaan, tp cerita ini asli milik saya. Mohon kritik dan saran yg membangun. No bashing!

.

Don't Like. Don't Read!

.

Summary : Kim Jaejoong mengalami koma selama 5 tahun karena sebuah kecelakaan. Selama itu pula bocah manis bernama Kim Changmin merindukan sosok Umma yang belum pernah melihat wajahnya sejak ia dilahirkan. Lantas siapakah sosok yang seharusnya ia panggil Appa?


Perfect Affection

Yundol aka Lunn

.

Chapter 5

.

.

Seoul, Musim Panas 2004

Jung Yunho! Jung Yunho! Jung Yunho! Saranghaeyo Jung Yunho!

Suara teriakan team cheerleaders serta murid-murid Hanyoung Foreign Languange High School terdengar begitu riuh memenuhi lapangan indoor basket siang itu. Saat seorang pria tampan bertubuh tinggi tengah berlarian di tengah lapangan dengan bola berwarna jingga. Hal yang sudah menjadi pemandangan yang wajar bagi seluruh penghuni sekolah elit itu sejak setahun yang lalu. Tentu saja! Siapa yang tak mengenal namja bernama Jung Yunho? Ia adalah anggota team basket yang direkrut sejak tingkat satu bersama sahabatnya –Park Yoochun- dan sekarang namja itu memegang posisi sebagai captendari team basket kebanggaan Hanyoung. Selain berasal dari keluarga yang kaya, Jung Yunho adalah siswa yang masuk 5 besar siswa terbaik di sana. Tak hanya fisiknya yang tampan, ia juga seorang namja yang ramah dan baik hati. Ia benar-benar sosok yang sempurna. Dan hal yang wajar jika ia memiliki fanclub di sekolahnya.

Seorang namja manis bernama Kim Jaejoong duduk di salah satu kursi penonton sambil menatap lurus namja yang kini melakukan slamdunk andalannya itu. Tak ayal suara teriakan semakin terdengar keras saat bola berkulit jingga itu memasuki ring. Kim Jaejoong tersenyum bangga. Sebuah polaroid yang sedari tadi dipangkunya kini terangkat. Membidik Jung Yunho yang berlarian sembari tertawa senang. Mengacungkan tinjunya ke atas.

Click! Click! Click!

Jaejoong tersenyum puas melihat hasil bidikannya. Dengan ini koleksinya pun semakin bertambah. Yeah sejak masuk Hanyoung empat bulan yang lalu, dan sejak perkenalan singkatnya dengan kapten tim basket itu, ia memiliki hobi baru. Membidik Yunho dengan polaroid kesayangannya secara diam-diam. Tanpa izin maupun sepengetahuan si obyek. Jaejoong sendiri tak tahu mengapa ia sangat suka sekali memotret Yunho dan mengoleksi foto-fotonya. Mungkin ia juga salah satu dari berpuluh-puluh fans Yunho di sekolah? Entahlah! Jaejoong sendiri merasa dirinya seperti seorang stalker yang sangat mengagumi seorang Jung Yunho. Hahaha bukankah itu artinya dia memang penggemar Yunho eoh?

Well, tak bisa dipungkiri selama empat bulan ini Kim Jaejoong memperhatikan Yunho diam-diam. Meskipun mereka pernah berkenalan tetapi tak ada keberanian sedikitpun untuk menyapa Yunho ataupun mengajaknya berbicara lebih dulu. Selama ini mereka hanya saling bertukar senyum saat tak sengaja berpapasan di lorong sekolah atau juga di kantin. Terkadang Yunho juga menyapanya singkat. Mengucapkan 'Hai' dan hanya dibalas senyuman gugup darinya. Ia sendiri tak tahu mengapa ia tak dapat mengontrol detak jantungnya saat bertemu Yunho. Ia merasa dirinya benar-benar aneh dan menggelikan. Bahkan saat ia menceritakan keanehannya pada Junsu, namdongsaeng-nya itu mengatakan bahwa dirinya sedang jatuh cinta.

Fall in love eoh? Pada namja bernama Jung Yunho? Hah menggelikan!

Ia bahkan seorang namja 100 persen, sama seperti Yunho. Yeah walaupun dirinya memiliki wajah yang cantik seperti ibunya, serta sifat lembut dan terkadang bersikap feminim seperti yeoja, tetapi kenyataan bahwa ia terlahir dengan jenis kelamin laki-laki tentu membuatnya sadar. Bagaimana mungkin ia jatuh cinta pada Yunho? Demi Tuhan mereka sama-sama lelaki. Terlebih ia tak cukup mengerti tentang cinta. Ia bahkan belum pernah jatuh cinta selama 16 tahun hidupnya.

Jadi bagaimana rasanya jatuh cinta?

Apa benar dadamu berdegup keras, dan jantungmu berdetak kencang saat berhadapan dengannya?

Apa benar pipimu memerah saat bertegur sapa dengannya?

Apa benar bibirmu tersenyum lebar saat melihatnya tersenyum?

Apa benar matamu berbinar senang saat melihatnya senang?

Dan Junsu bilang semua memang benar. Semua yang dialaminya adalah gejala seseorang yang terserang virus cinta.

Ugh! Junsu terlalu banyak menonton drama!

.

o0o

.

"Kau berbakat menjadi seorang paparazzi hyung!"

Junsu tiba-tiba muncul dari belakangnya saat ia tengah sibuk memperhatikan tumpukan foto di atas meja belajar. Jaejoong menoleh sekilas sebelum menarik senyum kecil. Beranjak dari duduknya, dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Masih memegang tumpukan foto, Jaejoong kembali melihat foto-foto itu satu persatu. Sesekali ia terkikik geli saat melihat foto yang menurutnya lucu. Junsu mendecih, lalu turut merebahkan tubuhnya di samping Jaejoong.

"YA!" Jaejoong memekik saat Junsu merebut beberapa lembar foto dari tangannya.

"Jung Yunho memang tampan tapi sayang wajahnya terlalu kecil. Seperti alien!" ejek Junsu sembari memperhatikan satu persatu lembar foto di tangannya.

Jaejoong memajukan bibir bawahnya. "Bukankah kau pernah bilang kalau kau ingin memiliki wajah yang kecil? Dan aku juga masih ingat alasanmu saat aku menanyakan kenapa"

"Apa?"

"Lelaki tampan adalah mereka yang memiliki wajah kecil!" Jaejoong merebut kembali fotonya dari tangan Junsu.

Junsu pun mendengus keras. Ia berusaha merebut lagi foto itu dari Jaejoong namun ia kalah cepat saat hyung-nya menjauhkan tangannya dari jangkauan Junsu. Jaejoong tertawa penuh kemenangan melihat Junsu yang mengerucutkan bibirnya kesal.

"Aku tidak tahu mengapa kau sangat menyukai Jung Yunho" gumam Junsu sambil melipat kedua tangannya sebagai bantalan kepala, menatap langit-langit kamar.

"Bukankah aku sudah mengatakan alasannya?" sahut Jaejoong tanpa mengalihkan tatapannya pada tumpukan foto itu.

"Kecuali tentang tulip putih dan upacara penerimaan siswa baru tentunya" Junsu memutar bola matanya. Tentu saja ia sudah tahu kedua alasan itu sejak Jaejoong pertama kali menceritakan tentang Yunho sebulan setelah ia bersekolah di Hanyoung setahun yang lalu, terutama tentang alasan pertama. Menurutnya Jaejoong terlalu berlebihan. Hanya karena Yunho pernah memberinya setangkai tulip putih, kakaknya itu sudah merasakan hal yang aneh pada dirinya sendiri. Bukankah itu terlalu cepat dan naif? Meskipun mereka berdua adalah seorang remaja berusia belasan yang masih labil, apalagi hyung-nya yang sangat polos dan belum pernah merasakan jatuh cinta, bukankah hal yang aneh jika hyung-nya itu menyukai orang hanya dalam waktu singkat?

Apa begitu istimewanya seorang Jung Yunho hingga mampu membuat Kim Jaejoong merasakan getaran cinta untuk pertama kalinya?

"Entahlah! Aku sendiri tak mengerti mengapa aku sangat menyukainya" Jaejoong terkekeh seraya menggeleng kecil.

"Bahkan sampai saat ini kau masih setia menyukainya. Kau tahu? Setahun ini kau menghabiskan waktumu untuk menjadi stalker sekaligus paparazzi. Memotret Yunho dan mematainya secara diam-diam. Kau benar-benar menakutkan hyung!" Junsu memeluk dirinya sendiri. Bergidig ngeri akan tingkah aneh kakaknya.

Jaejoong hanya tertawa keras menanggapinya.

"Apa tak pernah ada sedikitpun keinginan untuk mengatakan perasaanmu padanya?" Junsu kembali bersuara. Saat ini ia menyangga kepalanya dengan tangan kanan sehingga posisinya menghadap Jaejoong.

Jaejoong menoleh. Menatap balik Junsu dengan tatapan sendu. "Meskipun aku telah mengakui bahwa aku memang menyukai—ani! Mencintainya, tetapi aku tak memiliki keberanian yang besar untuk mengatakan perasaan ini. Aku tak mau dia menganggapku aneh Junsu ah. Begini saja rasanya sudah cukup. Mengaguminya tanpa harus mengatakan apapun. Melihatnya dari jauh sudah cukup membuatku bahagia."

"Tapi bukankah saat ini ia siswa tingkat tiga? Itu artinya sebentar lagi ia akan lulus dan kau tidak akan bertemu dengannya lagi. Kau tak takut menyesal hyung?"

"Aku tak akan pernah menyesalinya karena aku benar-benar tulus mencintainya" Jaejoong kembali menatap tumpukan foto di tangannya.

Junsu memandang hyung-nya tak percaya. "Lalu apa kau tahu dimana dia akan melanjutkan studinya setelah kelulusan nanti?"

Jaejoong menghela napas sejenak sebelum menoleh pada Junsu dan menjawab. "Ku dengar dia akan melanjutkan studinya di Amerika" lirihnya.

.

Perfect Affection

.

"Yunho ssi pernah jatuh cinta dua kali?" Tiffany menatap Yoochun tak percaya.

Yoochun mengangguk kecil. "Yang ku tahu memang begitu karena dia tak pernah sekalipun mengenalkan kekasihnya padaku. Lain cerita jika ia menyukai seseorang tanpa sepengetahuanku. Aku hanya ingat cerita tentang cinta pertamanya saat ia duduk di bangku sekolah dasar. Ia menyukai seorang gadis yang tiba-tiba memayunginya saat ia kehujanan. Dan untuk yang kedua aku hanya tahu bahwa ia menyukai seseorang saat ia melanjutkan studinya di Amerika."

"Benarkah?"

"Begitulah! Ia hanya mengatakan bahwa ia menyukai seorang gadis di sana. Hahaha pantas saja ia sangat tak suka jika ibunya mengunjunginya, mungkin ia tak ingin ibunya tahu jika ia memiliki kekasih. Ah aku lupa nama gadis itu. Dulu Yunho hyung pernah menyebutkan namanya." Yoochun menepuk pelan kepalanya. Merutuki daya ingatnya yang lemah.

Tiffany hanya tertawa kecil.

"Tapi sampai saat ini aku masih penasaran. Saat kami duduk di bangku Senior High ia pernah bercerita, ada seseorang yang sangat ia kagumi. Tapi aku sama sekali tidak tahu siapa orang itu." ujar Yoochun. Menatap lurus ke depan dengan menerawang.

"Ah sudahlah! Membicarakan kisah cinta Yunho hyung sangat membosankan. Jadi, drama Korea apa saja yang kau jadikan untuk media belajar bahasa Koreamu?" Yoochun mencoba mengalihkan pembicaraan. Merasa cukup pusing jika memikirkan kisah cinta seorang Jung Yunho yang penuh rahasia.

Tiffany tersenyum samar sebelum menjawab. "Aku belajar bahasa Korea dari seseorang yang sangat berarti bagiku" ujarnya pelan. Entah disadari oleh Yoochun atau tidak, sinar mata indahnya mulai meredup.

.

o0o

.

Yunho menghempaskan tubuhnya di atas single bed di apartemen setelah melepas jas dan dasinya. Rasanya kini lebih rileks karena terbebas dari pakaian formal yang harus ia pakai setiap hari saat bekerja. Yunho mengangkat tangan kirinya. Menatap jarum pendek Rolex yang menunjuk angka 8. Setelah mengantar Changmin ke rumahnya tadi, ia pergi ke restoran untuk makan malam sebelum pulang ke apartemen. Selain karena ia tak begitu pandai memasak, ia juga terlalu malas. Sejenak ia teringat akan undangan pesta ulang tahun Tiffany, namun entah mengapa ia sangat tak ingin menghadiri acara itu. Menurutnya menghabiskan malam untuk istirahat di apartemen miliknya justru lebih menyenangkan. Yeah setelah pulang dari Amerika 6 tahun lalu Yunho memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen dan well, mengingat Sungryung adalah seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya. Ia pun memuluskan keinginan putra tunggalnya –meski semula menolak mentah-mentah— dan membelikan Yunho sebuah apartemen mewah di Cheongdamdong.

Yunho bangkit dan duduk di tepian ranjang king size dengan bed cover warna cark grey seraya melepas satu persatu kancing kemeja putihnya. Kedua lengannya ia sisingkan sampai siku. Tampaknya ia harus segera mandi agar tubuh dan pikirannya menjadi segar, setelah itu ia bisa langsung tidur. Tak peduli jika jam tidurnya lebih awal dari jam tidur pria dewasa sepertinya. Ia hanya perlu istirahat malam ini.

Yunho hendak beranjak ke kamar mandi saat dering ponsel terdengar. Mendecih sebelum menghampiri kotak persegi panjang yang ia letakkan di atas meja nakas bersama kunci mobil. Bibir hatinya menggerutu kecil saat manik musangnya membaca id si penelpon.

"Yunho ah!" suara sang ibu langsung terdengar tepat setelah ia menyentuh tombol 'answer' dan menggesernya.

"Eoh umma" dengan malas Yunho menyahut. Berjalan mendekati sofa kecil berwarna putih di sudut kamar dan menjatuhkan pantatnya di sana.

"Bisakah kau ke rumah besok? Ada mainan Changmin yang tertinggal. Aku takut dia akan kebingungan mencarinya"

Kening Yunho berkerut. "Mainan?"

"Eoh! Miniatur Pororo. Aku menemukannya di atas ranjangmu dan aku yakin itu pasti bukan milikmu kan?" terdengar suara tawa kecil Sungryung di seberang.

"Aniyo. Itu memang milik Changmin." Menggeleng kecil seolah Sungryung kini di hadapannya.

"Jadi kau mau kan mengambilnya Yunho ah? Jika saja abojimu besok pagi tak berangkat ke Jepang, aku pasti akan menitipkan mainan itu padanya"

"Gwenchana, besok setelah makan siang aku akan mampir ke rumah" ujar Yunho.

"Aigoo gomawo chagi. Baiklah kalau begitu istirahatlah!"

"Eoh" Yunho mengangguk kecil sebelum telepon terputus.

Menghela napas setelah meletakkan ponsel di atas sofa yang ia duduki. Sepertinya besok ia harus mendatangi kediaman Kim untuk yang kedua kalinya. Bukan tak mau, tapi ia merasa sedikit tak nyaman untuk kesana. Bagaimana pun ia hanyalah orang asing yang tak sengaja hampir menabrak cucu keluarga itu. Rasanya sangat aneh jika tiba-tiba ia muncul lagi walaupun sekedar untuk mengantar mainan Changmin yang tertinggal. Meskipun ia menyukai bocah bernama Kim Changmin itu, tetapi ia tak bisa bersikap seolah-olah dekat dengan keluarga itu kan? Lagi pula ia memang pria yang sangat menyukai anak kecil, bukankah hal yang wajar jika ia juga tertarik dengan bocah manis itu?

Selain lucu dan menggemaskan, bocah bermata bulat bening itu juga sangat pintar. Dan entah mengapa saat melihat manik matanya yang bening dan tampak polos mengingatkannya pada seseorang. Entah siapa ia sendiri pun tak mengerti. Lagipula bukankah di dunia ini cukup banyak orang yang memiliki kemiripan dan kesamaan? Mungkin ia memang pernah melihat mata seperti itu sebelumnya. Bisa saja salah satu dari rekan kerja, karyawan kantor, atau mungkin juga teman-temannya. Iya kan?

.

o0o

.

Changmin berlari-lari kecil memasuki gedung sekolah dengan riang. Tampaknya bocah manis itu sangat senang pagi ini. Mungkin karena sehari kemarin ia tak masuk sekolah sehingga ia merindukan kedua sahabatnya. Kyuhyun dan Jonghyun. Selain itu ia juga tak sabar ingin menceritakan tentang pengalamannya kemarin. Yeah meskipun ia belum menemukan appa tapi Changmin senang karena bertemu dengan orang-orang yang baik seperti Yunho dan kedua orang tuanya. Pasti Kyuhyun dan Jonghyun akan iri padanya karena ia memiliki dua halmoni dan dua haraboji.

"Kyuhyunnie! Jonghyunnie!"

Changmin berseru saat kaki kecilnya baru memasuki kelas. Manik mata bulatnya mendapati kedua sosok sahabatnya tengah duduk mengelilingi meja bundar berwarna merah.

"Minnie!" pekik kedua bocah itu bersamaan ketika melihat Changmin berdiri di hadapan keduanya sambil tersenyum lebar.

"Minnie bogoshippo!" Kyuhyun melompat ke arah Changmin. Memeluk bocah berkaos putih erat-erat. Tak ayal tingkahnya itu mengundang rona merah di pipi tembam Changmin.

"Minnie dali mana? Kenapa kemalin tidak sekolah?" Jonghyun yang sedari tadi asyik memperhatikan kedua temannya berpelukan –lebih tepatnya Kyuhyun yang memeluk Changmin- mulai bersuara.

"Minnie pelgi ke tempat yang jauh Jonghyunnie!" jawab Changmin dengan bangga. Masih membiarkan Kyuhyun memeluk dirinya seperti boneka.

"Eoh? Minnie pelgi ke tempat yang jauh?" Kyuhyun melepaskan pelukannya tiba-tiba. Menatap Changmin dengan mata yang membulat lucu.

Changmin mengangguk mantab.

"Tapi kenapa Minnie bisa pulang?" lagi-lagi Kyuhyun membeo sambil memiringkan kepalanya. Sepertinya bocah ini masih teringat kata appa-nya dulu.

"Pasti Minnie ke Myeongdong ne?" sela Jonghyun cepat.

"Woah! Minnie beli sikel Pololo?" sahut Kyuhyun dengan girang.

Changmin menggeleng lemah. "Ani, Minnie cuma beli pestel Pololo Kyu~" jawab Changmin lesu seraya menunjukkan plester bergambar Pororo pada siku kirinya. Plester yang dibelikan Yunho dua hari yang lalu.

Kyuhyun dan Jonghyun pun memandang plester itu dengan kecewa.

Ckckck!

.

o0o

.

"Oh Yunho ssi!"

Heechul cukup terkejut saat keluar dari dapur. Mendapati seorang pria tampan berjas putih dipadukan dengan kemeja dan celana berwarna hitam baru saja melepaskan sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah. Berdiri tepat di sisi seorang pelayan yang semula bertugas membukakan pintu untuknya.

"Annyeong haseyo, maaf sudah mengganggu sore Anda" Jung Yunho membungkuk hormat pada wanita paruh baya di depannya.

"Aniyo! tentu saja tidak. Aku baru saja selesai memasak untuk makan malam. Ah silahkan duduk!" kata Heecul.

"Ne gamsahamnida" ujar Yunho sejenak sebelum mendudukkan dirinya pada sofa coklat muda di ruang tamu itu.

"Kau pasti mencari Changmin ne?" ujar Heechul sembari duduk tepat di depan Yunho. Memandang pria itu dengan tatapan kagum. Oh meskipun ia hampir memasuki kepala lima, tapi wanita cantik ini sangat menyukai pria muda tampan dan ramah seperti ini. Sedikitnya ia merasa iri dengan orang tua si pria karena memiliki seorang anak yang sempurna seperti ini. Ugh! Andai kedua putranya tidak memiliki sifat feminim dan kekanakan.

Yunho mengangguk sekilas. "Saya ingin mengembalikan mainan Changmin yang tertinggal" katanya.

"Aigoo seharusnya kau tak perlu repot-repot mengantarnya Yunho ssi. Kau pasti meluangkan waktu kerjamu. Mianhae"

"Gwenchaseumnida. Lagi pula saya juga ingin bertemu Changmin" sahut Yunho seraya tersenyum ramah.

Heechul membalas senyuman pria itu dengan hangat. "Baiklah aku akan memanggilnya. Dia pasti sangat senang kau kemari" katanya.

"Changminnie! Ada yang mencarimu sayang!" Heechul berteriak memanggil Changmin seraya melemparkan pandangan pada sebuah pintu berwarna coklat yang tertutup rapat.

"Dimana dia?" Tanya Yunho.

Heechul menoleh "Dia sedang di kamar ibunya sejak ku tinggal menyiapkan makan malam tadi"

"Aish! Apa yang dilakukan anak itu? Kenapa lama sekali?" Heechul menggerutu kecil sembari beranjak dari duduknya.

"Chamshiman yo" ujarnya dan dibalas anggukan kecil dari Yunho.

"Changminnie! Lihatlah siapa yang datang!" Lagi Heechul kembali mencoba memanggil sang cucu. Melangkah mendekati pintu bercat coklat yang masih tertutup rapat.

Klik!

Pintu bercat coklat itu mulai terbuka tepat sebelum Heechul menyentuh kenopnya. Menampakkan sebuah kepala mungil yang terjulur keluar. Sepasang manik bulatnya menatap Heechul yang kini berdiri tepat di depan pintu.

Heechul tersenyum pada bocah kesayangannya. "Chagi lihatlah siapa yang datang" katanya seraya sedikit menggeser tubuhnya agar si bocah dapat melihat sosok yang tengah duduk di atas sofa ruang tamu.

"Hey!" Yunho menyapa bocah itu sambil mengangkat tangan kanannya singkat. Tersenyum gemas melihat si bocah hanya menampakkan kepalanya. Seolah malas untuk melangkah keluar dari pintu bercat coklat itu.

Mata bocah bernama Changmin itu membulat sempurna. Tanpa banyak bicara ia membuka pintu itu lebih lebar hingga menampakkan seluruh tubuhnya.

"Yunho ahjussi!" serunya kencang sembari berlari kecil. Mendekati Jung Yunho yang tak dapat menahan senyum lebarnya.

Bruk!

Changmin menabrakkan tubuh mungilnya pada Yunho, dan secara reflek pria tampan itu mengangkat tubuh Changmin agar duduk dipangkuannya.

"Kau sedang apa eoh?" Yunho mengusap lembut kepala Changmin.

"Minnie sedang main!" seru Changmin seraya menunjukkan sebuah lego berbentuk pesawat yang ia pegang.

"Woah! Kau membuatnya sendiri?" Yunho memandang pesawat itu dengan takjub dan dijawab anggukan antusias dari Changmin.

"Hebat sekali!"

Heechul hanya tersenyum melihat kedua orang itu. Rasanya baru kali ini ia melihat Changmin mudah akrab dengan orang lain.

"Baiklah aku akan ke dapur sebentar untuk mengambil minuman" katanya.

"Tidak perlu repot-repot" ujar Yunho.

"Aniyo. Sama sekali tidak" sahut Heechul sebelum beranjak meninggalkan Yunho dan Changmin.

"Ah ya, apa ini milikmu?" teringat akan tujuannya semula, Yunho mengeluarkan sebuah miniatur Pororo dari saku celananya. Menyodorkan benda mungil itu di hadapan Changmin.

"Ung! Ini punya Minnie!" Changmin mengangguk setelah menerima mainan miliknya. Sementara Yunho hanya dapat tersenyum sambil mengusap kepala Changmin.

Yunho memandang ke sekeliling rumah itu. Sepi. Yang terdengar hanyalah suara-suara kecil yang ia yakini berasal dari dapur. Sepertinya penghuni rumah yang lain masih belum pulang. Tiba-tiba Yunho teringat akan Kim Junsu yang kemarin ditemuinya. Sedikitnya ia masih penasaran akan sikap Junsu padanya. Seolah pria berwajah kekanakan itu mengenal dirinya.

Yunho menghela napas sejenak. Mencoba menguak memori otaknya tentang Kim Junsu, namun tak secuil pun ingatan tentang pria itu muncul. Mungkin ia memang belum pernah bertemu Junsu sebelumnya. Sepertinya begitu. Tapi—

Pikirannya tentang Kim Junsu menguap begitu saja saat manik musangnya tak sengaja terpaku pada sebuah pintu bercat coklat yang tak tertutup rapat. Pintu ruangan yang semula dihuni Changmin. Benaknya menerka ruangan yang tampak sunyi itu.

"Ahjussi! Ayo main lego!"

Suara Changmin sontak membuatnya mengalihkan pandangan dari ruangan itu. Dilihatnya Changmin kini telah turun dari pangkuannya. Tangan mungilnya menarik pergelangan tangan kanan Yunho. Seolah mengisyaratkan agar ia beranjak dari duduknya.

Yunho menatap bocah itu dengan kebingungan.

"Kita main lego di kamal umma ne?" kata Changmin sambil terus mencoba menarik tangan Yunho. "Kasian umma sendilian dikamal!" lanjutnya.

"Arasseo tapi kita tunggu halmoni dulu oke?" usul Yunho. Bagaimana pun ia adalah tamu di sini. Setidaknya ia merasa tak nyaman jika memasuki ruangan lain. Hey! Ia masih punya sopan santun.

"Aniyooo~" tak peduli, Changmin terus saja berusaha menarik tangan Yunho sehingga pria itu mau tak mau beranjak dari duduknya. Mengikuti langkah kaki kecil Changmin di depannya.

"Nanti ahjussi kenalan sama umma ne?" dengan riang Changmin menarik tangan pria yang lebih besar darinya itu.

Jantung Yunho mendadak berdegup tiga kali lipat dari biasanya saat menyadari kemana bocah berusia 5 tahun itu membawanya. Yeah, sebuah pintu bercat coklat yang tadi sempat ia perhatikan.

Ada apa? Kenapa tiba-tiba ia merasa gugup?

"Itu umma Minnie!"

Suara Changmin serta suara Cardiogram langsung menyapa telinganya saat kakinya baru saja menapak pada lantai kamar bernuansa putih itu.

Mengikuti arah telunjuk Changmin dan mendapati seseorang tengah terbaring lemah di atas ranjang. Changmin menarik Yunho lagi agar mendekat hingga kini mereka berdua berdiri tepat di samping ranjang.

"Umma~ ini Yunho ahjussi yang Minnie celitakan kemalin. Ayo ahjussi kenalan sama umma!" Changmin menggoyangkan tautan tangan mereka. Seakan menyuruh Yunho agar mengenalkan dirinya pada ibunya.

Dengan ragu Yunho menoleh. Menatap wajah pucat nan tirus di depannya sejenak sebelum membulatkan matanya.

"Kim Jaejoong?!"

.

o0o

.

Seoul, Musim dingin 2004

"Kim Jaejoong!"

Jung Yunho berteriak memanggil seorang namja manis yang tengah berdiri di depan halte yang tak jauh dari sekolah melalui kaca mobil. Ia baru saja akan pulang saat manik musangnya mendapati sosok manis itu, dan tanpa sadar ia menginjak rem mobilnya tepat di hadapan si namja.

Kim Jaejoong menoleh begitu mendengar namanya dipanggil. Rona kemerahan tiba-tiba muncul begitu saja di kedua pipinya saat menyadari si pemilik suara. Dengan kikuk Jaejoong sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Yunho sunbaenim!" katanya. Sedikit terkejut akan kehadiran namja kesukaannya saat ini.

Jung Yunho menarik sebuah senyum hangatnya yang khas. Merasa tertarik pada rona merah yang terlukis di wajah manis itu.

"Menunggu bus?" tanyanya dan dijawab anggukan kecil dari Jaejoong.

"Masuklah! Akan kuantar kau pulang" ujar Yunho setelah menggerakkan kepalanya sekilas. Seakan mengisyaratkan agar Jaejoong memasuki mobilnya.

"A—aniyo sunbae. Aku akan naik bus saja" tolak Jaejoong. Sedikitnya merasa tak percaya akan pendengarannya. Oh Yunho menawarinya untuk pulang bersama? Demi Tuhan, ia bahkan tak pernah membayangkan hal seperti ini sebelumnya.

Yunho turun dari mobilnya, berjalan cepat mendekati Jaejoong yang masih berdiri di tempatnya. Tanpa mengatakan apapun, namja tampan itu meraih tangan Jaejoong dan menariknya. Tak mempedulikan tatapan heran dari beberapa siswa yang berada di sana.

Terkejut akan sikap tiba-tiba dari Yunho, Jaejoong hanya dapat membulatkan matanya.

"Sunbae—"

"Kau tahu? Tanganmu sudah hampir membeku"

Jantung Jaejoong seolah melompat dari tempatnya saat tangan Yunho menggenggam erat telapak tangannya. Dan tanpa berkata apapun, Yunho sudah membuka pintu mobilnya dan sedikit memaksanya untuk masuk.

Merasa diperhatikan oleh beberapa siswa yang menunggu bus di halte tentu membuat Jaejoong risih. Ia yakin beberapa dari yeoja di sana adalah penggemar Yunho. Menatap dirinya dengan tatapan ingin membakarnya seperti ikan. Ya Tuhan tentu dirinya tak mau hal itu terjadi.

Menahan diri agar tak mengikuti perintah Yunho, Jaejoong mencoba untuk menolak dengan halus. Hey! Seandainya tak ada tatapan liar dari beberapa siswa di sana, tentu Jaejoong dengan senang hati menerima ajakan Yunho. Tapi keinginannya untuk tetap hidup mengalahkan egonya.

"Tidak perlu sunbae, aku—aku akan naik bus saja" katanya seraya menatap kerumunan siswa yang kini saling berbisik-bisik dan menatapnya tajam.

"Tenang saja, mobilku lebih hangat dari pada bus. Jja!" tak menyerah, Yunho mendorong Jaejoong dengan sedikit paksa memasuki mobilnya lagi, sehingga mau tak mau Jaejoong pun memasuki mobil hitam itu.

"Tapi—" Namja manis itu hendak memprotes kembali, namun gerakan Yunho lebih cepat. Menutup pintu mobilnya dan berjalan cepat ke sisi mobil yang lain.

"Ah musim dingin tahun ini dingin sekali!" gerutunya.

.

o0o

.

"Maaf merepotkanmu sunbae"

Yunho menoleh sekilas ke samping dimana sosok manis yang beberapa bulan ini dikenalnya berada, sebelum kembali menatap lurus jalanan bersalju di depannya. Ujung bibirnya menarik sebuah senyum kecil setelah mendengar suara merdu di sampingnya.

"Aniyo, gwenchana. Aku hanya tak suka pulang sendiri. Yoochun tak bisa pulang bersamaku hari ini. Kau tahu lah jadwal kencannya sangat padat melebihi jadwal Presiden sekalipun!" gurau Yunho.

Jaejoong tertawa kecil.

"Jaejoong ah bisakah kau tak memanggilku sunbae? Kau tahu? Aku merasa sudah sangat tua dengan panggilan itu"

Jaejoong menoleh, menatap Yunho dengan tatapan bingung.

"Hyung, Yunho, atau apapun asal jangan memanggilku sunbae."

"Tapi—"

"Ah atau kau ingin memanggilku oppa?" potong Yunho cepat. Menoleh sekilas pada Jaejoong dengan mengedipkan sebelah matanya.

Blush!

"Ye?"

"Ahahaha aku hanya becanda! Jangan memasang wajah begitu. Kau tampak seperti yeoja!" sahut Yunho. Merasa lucu dengan rona kemerahan dipipi Jaejoong. Benar-benar manis.

Manis eoh?

Yunho menggeleng-gelengkan kepalanya. Menghilangkan pemikirannya tentang namja di sampingnya ini. Tapi kenapa jika namja itu manis? Bukankah Kim Jaejoong memang manis? Lalu apa salah jika ia mengakuinya?

"Sunbae, bisakah kau menurunkanku di minimarket itu?"

"Hm? Wae?"

"Ada yang harus kubeli. Lagipula rumahku juga sudah cukup dekat"

"Arasseo" ujar Yunho kemudian. Menepikan mobilnya tepat di depan sebuah minimarket.

"Gomawo yo sunbae" Jaejoong berkata seraya melepas sabuk pengaman. Menoleh canggung pada Yunho yang kini membalas tatapannya.

"Ku tunggu. Akan ku antar kau sampai rumahmu"

"Aniya sunbae, gwenchana. Rumahku cukup dekat dari sini" tolak Jaejoong halus.

Yunho menganggukkan kepalanya sekilas. "Baiklah"

"Sekali lagi, terima kasih banyak sunbae sudah mengantarku" kata Jaejoong setelah turun dari mobil. Membungkuk sejenak saat Yunho membuka kaca mobilnya.

Yunho tersenyum kecil melihat tingkah Jaejoong. "Galke!" ujarnya dan dibalas anggukan kepala dari namja manis itu.

Entah mengapa ada perasaan tak rela dari perpisahan kecil itu.

.

Perfect Affection

.

"Oh Yunho ssi?"

Sebuah suara menyadarkan Jung Yunho dari keterkejutannya. Dilihatnya Kim Junsu tengah berdiri di ambang pintu, memandangnya penuh keheranan. Mungkin pria imut itu sedikit terkejut mendapati keberadaan dirinya di dalam kamar Jaejoong.

Yunho mengedarkan pandangan. Mencari bocah lelaki yang semula menariknya memasuki kamar ini.

"Maaf aku sudah lancang masuk. Tadi Changmin tiba-tiba menarik tanganku dan—"

"Gwenchana Yunho ssi" potong Junsu cepat. Seolah tak peduli dengan alasan keberadaan Yunho di dalam kamar Jaejoong yang tak pernah dimasuki oleh orang asing selain keluarga, dokter dan perawat.

"Aku senang karena akhirnya kau bertemu dengan hyung-ku" lanjut Junsu seraya melangkahkan kakinya. Mendekati Yunho yang masih berdiri kaku di sisi ranjang.

Yunho menatapnya tak mengerti.

"Ia adalah umma Changmin"

Sepasang mata musang itu membulat. "Mwo? Bagaimana mungkin? Ia bahkan—"

"Seorang namja?" potong Junsu. Lagi. Seolah mengerti akan keterkejutan Yunho.

"Hyung adalah seorang male pregnancy. Percaya atau tidak tapi memang begitulah kenyataannya. Changmin sudah menjadi bukti" tambah Junsu. Pandangannya melekat pada sosok Jaejoong yang terbaring lemah seperti putri tidur.

"Apa kau mengingat hyung-ku Yunho ssi?" Junsu mengalihkan tatapannya dari Jaejoong. Memandang pria tampan yang berdiri di sampingnya. Raut keterkejutannya tak kunjung hilang dari wajahnya.

"Aku tak yakin kau mengingatnya. Tapi ia adalah salah satu dari hoobae-mu di sekolah atau mungkin juga bisa dikatakan, ia adalah salah satu dari puluhan penggemarmu"

"Ye?"

"Bukankah dulu kau kapten tim basket sekolah? Hal yang wajar bukan jika kau memiliki banyak penggemar?"

Yunho terdiam. Ia masih sangat tidak mengerti dengan apa saja yang sudah Junsu katakan sedari tadi. Terutama tentang kenyataan bahwa Kim Jaejoong adalah seorang namja yang dapat hamil dan melahirkan. Bukankah itu hal yang konyol?

Akan tetapi kenyataan bahwa ia masih ingat betul pria yang terbaring di depannya ini, tak dapat disangkal. Ia masih ingat sosok Kim Jaejoong yang ramah dan baik pada semua orang. Ia masih ingat sosok Kim Jaejoong yang hangat dan manis. Tentu ia ingat meskipun wajah itu tak lagi bersinar seperti dulu.

"Jaejoong hyung mengalami kecelakaan 5 tahun yang lalu. Saat itu usia kandungannya hampir menginjak 9 bulan. Ia pergi ke supermarket dengan mengendarai mobil sendirian tanpa sepengetahuan kami sekeluarga. Dan tiba-tiba kami sudah mendapat kabar bahwa Jaejoong hyung mengalami kecelakaan."

Yunho menatap pria imut itu dengan alis saling bertautan.

"5 tahun lalu?"

"Yea dan aku masih ingat, bahkan amat sangat ingat. Sebelum kecelakaan, ia sempat menelponku sambil menangis dan bercerita tentang pertemuan kalian." Ujar Junsu. Balas menatap Yunho dengan sendu.

.

o0o

.

Seoul, Musim Panas 2009

Kim Jaejoong tampak terburu-buru keluar dari mobil yang ia tumpangi. Entah mengapa hari ini ia ingin sekali memakan buah stroberi. Ia pun memutuskan untuk pergi ke supermarket sendirian tanpa sepengetahuan penghuni rumah. Sebenarnya ia tak perlu repot-repot pergi sendiri jika saja persediaan buah stroberi dilemari es habis. Huh! Salahkan Kim Heechul yang tak membeli buah kesukaannya itu.

Alhasil disinilah ia sekarang. Di sebuah supermarket yang cukup jauh dari rumah. Jaejoong memasuki supermarket itu sambil mengeratkan jaket yang dipakainya. Mencoba menutupi perutnya yang semakin membesar. Beberapa orang yang berpapasan dengannya melemparkan tatapan aneh.

Hey ini musim panas! Hanya orang aneh yang memakai jaket tebal kebesaran pada suhu 38 derajat ini. Oh ia terlihat mencolok.

Senyum Jaejoong mengembang saat manik mata bulatnya menemukan apa yang ia cari. Yeah stroberi. Salah satu buah kesukaannya selain apel. Uh rasanya ia ingin cepat-cepat pulang dan melahap buah warna merah yang tampak segar itu!

"Kim Jaejoong?"

Ia baru saja berbalik setelah mendapatkan buah idamannya, namun sebuah suara menginterupsi. Suara bass yang sangat ia kenal meskipun beberapa tahun tak pernah ia dengar lagi. Jaejoong menoleh kaku. Merasa cukup ragu untuk membenarkan dugaannya.

Doe eyes-nya membulat sempurna. Mendapati seorang pria tampan dengan jas semi formal warna biru tua tengah menatapnya. Meski beberapa tahun tak bertemu, meski cukup banyak perubahan pada dirinya, tapi Jaejoong yakin pria itu adalah dia. Satu-satunya pria yang pernah memberinya tulip putih. Pria yang menolongnya dihari pertama memasuki high school. Pria pertama yang mengisi bertumpuk-tumpuk album foto pribadinya. Pria pertama yang mencuri hatinya.

"Jung Yunho sunbaenim?"

"Ah ternyata benar kau! Ku pikir aku salah orang" sapa Yunho. Tertawa kikuk sambil mengusap belakang kepalanya.

"Apa kabar? Lama tak bertemu, kau benar-benar berubah" tersenyum hangat seraya mengulurkan tangan. Menatap namja manis yang satu tahun lebih muda darinya dengan kagum. Kim Jaejoong tetap manis seperti saat ia masih sekolah dulu, bahkan ia terlihat semakin menawan meski namja itu tampak lebih gemuk dari sebelumnya.

Jaejoong menjabat tangan itu dengan ragu. Masih tak percaya akan pertemuannya dengan pria yang tak pernah sekalipun ia lupakan sejak kepindahannya ke Amerika 4 tahun lalu.

"Ya, sudah lama sekali"

.

o0o

.

"Tapi apa hubungan kecelakaan itu denganku?"

"Untuk pertanyaan itu aku tak tahu apakah aku boleh mengatakannya atau tidak. Tapi yang pasti karena kau adalah cinta pertamanya."

"Mwo?"

"Pertemuan singkat kalian setelah beberapa tahun tak bertemu membuatnya sangat terpukul. Ia merasa sangat bersalah padamu Yunho ssi. Sejak kau melanjutkan studimu ke Amerika, ia selalu berharap agar dapat bertemu lagi denganmu, namun apa yang ia harapkan ternyata tak seindah apa yang ia inginkan."

"Apa maksudmu?"

"Kalian bertemu saat hyung tengah mengandung, itulah yang membuatnya sangat marah pada dirinya sendiri."

"Yunho ssi bolehkah aku meminta bantuanmu?"

"Sering-seringlah datang kemari, entah karena Changmin atau untuk mengunjungi Jaejoong hyung. Mungkin dengan kehadiranmu hyung mau membuka matanya kembali. Ku mohon…"

.

.

.

Yunho meneguk habis beer kaleng yang digenggamnya. Menikmati pemandangan malam sungai Han dari bawah jembatan Seo Gang. Potongan pembicaraannya dengan Junsu masih berputar diotaknya. Setelah pertemuan tak terduganya dengan Jaejoong dan mengetahui kondisi namja yang dulu sangat dikaguminya itu, ia berpamitan pulang pada keluarga Kim. Merasa butuh sedikit ketenangan akan semua yang didengarnya hari ini.

Ia cinta pertama bagi Kim Jaejoong?

Huh cerita konyol apa ini? Lebih konyol dari kenyataan bahwa Jaejoong adalah seorang interseks dan melahirkan seorang anak manis nan lucu bernama Kim Changmin.

Yunho menertawakan dirinya sendiri.

Tidak tahukah cerita Kim Junsu berdampak begitu besar pada dirinya saat ini? Seperti orang tolol! Memutar berkali-kali pernyataan Junsu tentang cinta pertama Jaejoong. Cih! Ini bahkan seperti cerita roman murahan yang sering kali ia lihat di drama.

Ia cinta pertama Jaejoong?

Ya Tuhan isi perutnya seakan diaduk-aduk. Jantungnya serasa dicengkeram erat oleh tangan yang tak kasat mata! Tidak tahu. Harus bahagiakah dirinya? Atau justru sedih? Tapi ini terasa sakit.

Awal musim semi tahun 2004 adalah saat dimana pertama kali ia bertemu dengan namja manis penggemar bunga tulip itu. Sifatnya yang ramah dan hangat membuatnya terus memperhatikan anak lelaki itu diam-diam. Kim Jaejoong seolah memiliki daya tarik yang kuat sehingga Jung Yunho merasa aneh setiap kali berpapasan dengannya.

Mereka juga jarang berbincang, hanya saling menyapa saat tak sengaja bertemu pandang di lorong atau kantin sekolah. Obrolan panjang mereka mungkin hanya dua atau tiga kali selama 2 tahun mereka berada di sekolah yang sama. Sampai setelah kelulusan, Yunho memutuskan untuk melanjutkan studinya di luar negeri seperti yang telah ia inginkan sejak ia masih duduk di sekolah dasar.

Sepulangnya dari Amerika 5 tahun lalu, mereka berdua bertemu secara tak sengaja di sebuah supermarket pada musim panas. Ia masih ingat saat itu Jaejoong memang lebih gemuk, tapi ia sama sekali tak menyangka ternyata Jaejoong yang ia temui kala itu adalah Kim Jaejoong yang tengah mengandung 9 bulan. Tak dapat dipungkiri setelah pertemuan singkat mereka, Yunho merasa sangat senang dan berharap dapat bertemu lagi dengannya. Namun siapa sangka, pertemuan itu justru membuat namja manis favoritnya itu terpuruk. Bahkan psikisnya menolak untuk bangun setelah kecelakaan mobil yang dialaminya.

.

o0o

.

Sedikit terhuyung Yunho menekan deretan angka pada pintu apartemennya. Ia hanya menghabiskan tiga kaleng beer tapi kepalanya sudah terasa cukup pusing dan perutnya pun mual. Mungkin karena perutnya belum terisi makanan apapun. Ia melewatkan jadwal makan malam karena terlalu banyak berpikir tentang Jaejoong.

Sejak keputusannya untuk melanjutkan studi di Amerika, sejak itu pula Yunho memutuskan untuk tak memikirkan namja yang telah menyedot seluruh perhatiannya itu. Ia selalu meyakinkan dirinya bahwa perasaan anehnya pada namja itu hanyalah suatu kekaguman semata. Tak lebih. Dan see? Keyakinan itu semakin kuat setelah ia bertemu seorang gadis keturunan Amerika-Korea yang ditemuinya di tahun pertama tinggal di negeri Paman Sam. Keyakinan bahwa ia masih normal.

Yunho melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah berwarna abu-abu tua. Sedikit terheran mendapati lampu apartemennya yang telah menyala. Seingatnya sebelum berangkat ke kantor pagi tadi ia sudah mematikan lampu ruang tengah apartemennya ini. Ah sudahlah! Mungkin ia memang lupa tak mematikannya.

Melepaskan jas putihnya dan melemparkannya pada sofa hitam di sana sebelum melangkahkan kakinya menuju dapur. Tenggorokannya seakan membutuhkan siraman air segar.

"Oh oppa, kau sudah datang?"

Langkah kaki Yunho terhenti begitu mendapati kehadiran orang lain di pantry pribadinya. Seorang yeoja berparas cantik tampak sedang mengaduk kopi di atas konter dapur kering miliknya.

Wajah Yunho tampak menegang.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Wae? Salahkan password apartemenmu yang tak kau ubah sejak 6 tahun yang lalu" ujar gadis itu sambil membawa secangkir kopi buatannya. Menduduki sofa hitam yang ada di ruang tengah apartemen luas itu.

Ekor mata Yunho mengikuti sang yeoja. Darah di dalam tubuhnya terasa mendidih. Hatinya terasa sakit tanpa diperintah.

"600743. Sampai saat ini aku bahkan tidak tahu arti deretan angka itu" yeoja itu kembali bersuara setelah meneguk sedikit kopinya.

"Pergilah!"

"Kemarin malam, kenapa kau tak hadir?" gadis itu menoleh. Memandang Yunho dengan tatapan kecewa.

"Kumohon pergilah!" kata Yunho, seolah tak mendengar pertanyaan dari sang gadis.

"Oppa!"

"Dan tolong panggil aku dengan sebutan yang lebih formal!"

"Oh Arasseo Jung Yunho ssi! Kau puas? Sekarang jawab pertanyaanku, kenapa kau tak datang kemarin malam?"

"Apa harus? Aku hanya seorang wakil direktur perusahaan periklanan yang memiliki hidup bebas. Tidak seperti kehidupan seorang bintang terkenal yang harus tampak sempurna dan bahkan rela melakukan apapun demi mengejar karirnya"

"Oppa!"

"Wae? Apa aku salah Hwang Miyoung ssi? Ah bukan! Namamu bukan lagi Hwang Miyoung. Yeah kau adalah Tiffany Hwang sekarang."

.

Perfect Affection

Chapter 5

TBC

.


Mon, 20 May 2013

19.13

.

Annyeong chingu deul…

Huhuhuhu mian chapter ini uda garing, gagal, apdetnya jg lamaaaaa banget lagi! Maaf banget ya temen2 mengecewakan bgt nih chapter T_T

Tapi gimana nih uda mulai agak kebuka kan nih ff? Dari semua review, hanya ada 2 yg bener nebak nih ff. Hehe oke kalo gitu aku jawab review temen2 aja ya secara global kaya yg lalu *ditabok*

Changmin anak Yunho? *pertanyaan langganan setiap chapter* XD

*Chap ini kayaknya uda sedikit ada clue ttg jawaban pertanyaan ini. Intinya, bukan. Hehehe

Apakah setelah melahirkan Changmin, Jaejoong langsung koma?

*Iya, jd setelah kecelakaan itu terpaksa baby Changmin harus dikeluarkan. Untuk flashback scene ini chap depan baru muncul.

Yunjae dulu pacaran kah?

*Engga, mereka ga pacaran. Intinya kedua orang itu sebenernya saling suka tp ga ada yg mau ngungkapin.

Kok bisa Yunho ninggalin Jaejoong?

*Yunho ngelanjutin studinya di Amerika krna itu uda cita2 dy sejak kecil.

Kapan Jaejoong sadar? *pertanyaan langganan juga* XD

*Secepatnya! Nunggu peran Yunho dulu dong ahahaha

Kenapa Jaejoong ga sadar2?

*Dy kaya trauma gitu deh! Secara fisik dia uda sembuh, tp secara psikis dy ga mau bangun.

Yunho pernah ketemu Junsu sebelumnya atau tidak?

*Tidak. Mereka ga pernah ketemu sekalipun. Junsu tahu Yunho cuma dari cerita Jaejoong dan foto2 Yunho yang diambil Jaejoong secara diam2

Apakah Yunho hilang ingatan?

*Sama sekali tidak. Yunho sehat wal afiyah. Ingatannya masih seger buger(?) *plak XD