Konnichiwa minna.!
Sebelumnya Ricchan mau ngucapin terimakasih buat readers semua, baik silent reader atau pun reader yang sempat ninggalin jejak lewat review, fav dan follow. Hontouni harigatou gozaimasu~. Semoga reader semua puas dengan karya Ricchan ini.
'AKASHI SEIJUURO'
Kuroko no basuke bukan milik Ricchan,
kalau Ricchan yang buat ntar ujung-ujungnya jadi
cerita fangirl gaje
tapi fic 'Akashi Seijuuro' murni milik Ricchan
dan hanya dibuat demi kesenangan semata
[genre : romance, school life]
[pair : Akashi Seijuuro X OC/reader]
[Setting : SMP Teiko tahun ke-2]
[Warning : agak OOC, gaje, alur cepat, rate bisa berubah menjadi M sewaktu-waktu]
.
.
.
Lagi-lagi kau merasakan wajahmu memerah saat matamu dan Akashi Seijuuro bertemu. Kalian bukanlah dua pasang manusia yang baru kenal dan saling melirik penuh ketertarikan, kalian kini memanglah sepasang kekasih. Bahkan kau sudah memberikan ciuman pertamamu pada Seijuuro, laki-laki bersurai merah yang kini memperhatikanmu dengan matanya yang tajam.
"Baiklah, sekarang silahkan berkelompok satu laki-laki dan satu perempuan. Kita akan pindah kelas memasak hari ini." ujar Murasakibara-sensei dengan nada bosan, maupun sebenarnya memasak adalah satu-satunya hal yang ia sukai dan bisa ia lakukan. Sensei satu ini memang masih berhubungan darah dengan Murasakibara Atsushi, salah satu pemain basket tim Teiko yang notabene memiliki badan seperti raksasa, mungkin hasil dari uji coba masakan sensei satu ini.
Semua orang dikelasmu sudah mulai ribut. Setiap orang sibuk mengajak orang yang dirasa paling cocok untuk bekerjasama. Namun sepertinya kau sudah tak ambil pusing. Seluruh anggota kelas, atau mungkin satu sekolah sudah tahu akan hubunganmu dengan Seijuuro.
Setelah semua orang mendapat kelompok, kalian langsung pergi menuju dapur yang dirancang khusus bagi para murid untuk mempraktekan ilmu memasak disini. Sebuah pantry dipojok belakang ruangan menjadi pillihan kau dan Seijuuro.
"Apa kau pandai memasak?" tanya Seijuuro sembari mempersiapkan alat dan bahan yang akan kalian gunakan untuk memasak hari ini. Kare merupakan menu yang harus kalian sajikan hari ini.
"Sedikit" jawabmu.
Selama ini kau tinggal bersama kakak perempuanmu di sebuah apartemen dekat sekolah. Orang tuamu menetap di Kyoto, hanya sesekali mereka mengunjungi dua putrinya, atau sesekali kau dan kakakmulah yang pergi berkunjung kesana. Sedikit banyaknya kau terbiasa memasak sendiri.
"Waktunya satu jam. Silahkan memasak sesuai yang sensei jelaskan tadi" perintah Murasakibara-sensei sebelum membiarkan para muridnya dan sibuk menghabiskan maibou rasa strawberrynya.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Seijuuro.
"Kau tak pernah memasak kare?" tanyamu balik.
"Aku bahkan tak pernah memasuki dapur rumahku" balas Seijuuro.
Kau hanya geleng-geleng kepala. Seorang tuan muda seperti kekasihmu ini terlalu sibuk belajar, terkhusus basket bagi Seijuuro. Mungkin juga ia memang tak perlu belajar memasak. Ia tinggal sebut ingin makan apa, dan para pelayannya akan mempersiapkannya. Yah, kau memang tak tahu pasti. Kau hanya mendengarnya dari gosip-gosip disekolah. Nyatanya kau tak pernah berkunjung kerumah kekasihmu.
"Kenapa kau bermenung? Jadi, apa yang harus kulakukan?" tanya Seijuuro memutus imajinasimu.
"Kau bisa menolong mengupas kentang, biar aku menyiapkan yang lain" jawabmu memberikan sebuah pisau dapur dan sekantung plastik kecil kentang. Alis Seijuuro bertaut, seolah tak suka akan tugas yang kau katakan.
"Bukannya kau yang bertanya?" ucapmu takut-takut.
"Tapi aku tak mengatakan aku akan mengerjakannya. Kau, memasakah untukku! Ini perintah!" ujarnya menyamakan tingginya denganmu. Kau hanya tersenyum. Ini juga bagian dari Seijuuro yang begitu kau sukai.
"Hai' Hai'" jawabmu.
Karena posisi kalian yang tak begitu mencolok, juga karena Murasakibara-sensei yang sibuk dengan Maibounya, kau bisa memasak dengan leluasa. Tidak ada yang marah-marah saat Seijuuro hanya melihatmu tanpa mengerjakan apa-apa.
Beberapa menit kemudian sudah tercium aroma harum dari panci masing-masing kelompok. Bertepatan dengan bel makan siang, Murasakibara-sensei mempersilahkan kalian untuk istirahat dan mencicipi hasil masakan masing-masing.
Dua piring kare kini terhidang dihadapan kalian. Dengan uap panas yang masih terlihat, tanda baru saja matang.
"Itadakimasu" ujarmu dan dia bersamaan.
Namun kau belum juga menyuap. Kau sibuk memperhatikan kekasihmu yang kini sedang menyuap sendok pertama kare buatanmu. Setelah kare itu memasuki mulutnya, ekspresi kekasihmu sama sekali tidak berubah, membuatmu heran sekaligus penasaran.
"Ba-bagaimana rasanya Sei?" tanyamu harap-harap cemas. Biasanya kau sangat percaya diri akan hasil masakanmu, namun kali ini rasa grogi tak bisa kau hindari.
"Masihlebih enak buaatan pelayanku" jawabnya datar.
"Oh, begitu ya" jawabmu sedikit kecewa. Bagaimanapun hati kecilmu berharap kekasihmu ini akan memuji masakanmu, layaknya pasangan lain yang kau tahu.
Kau mulai menyuap hambar kare kemulutmu saat merasakan tangannya menyentuh ujung kepalamu. Dengan gerakan agak kasar ia mengubrak-abrik surai kehitamanmu, membuat rambutmu sedikit kusut.
"Tapi ini kare paling spesial yang pernah kumakan" lanjut Seijuuro.
Kau terdiam. Kau sadar rona merah pasti kini sudah menghiasi kedua pipimu.
"Apa aku boleh minta makanan penutup?" tanya Seijuuro berbisik ditelingamu.
"Tapi tadi kita kan hanya memasak kare" jawabmu polos.
Akashi Seijuuro tersenyum. Kepolosanmu kadang membuatnya sedikit kewalahan. Tapi ia juga tak begitu membencinya. Ia menyukai segala hal tentangmu.
"Lain kali kau mau memasakkannya?" tanya Seijuuro banting stir.
"Tentu" jawabmu tersenyum bahagia. Baru kali ini kau merasa begitu bahagia saat seseorang memakan masakanmu.
Kalian masih tertawa bersama saat salah seorang memulai perang makanan. Seolah tak terganggu dengan keadaan sekitar, Seijuuro tetap melanjutkan santapnya.
Cresh...
Sampai akhirnya makanan yang tadinya melayang kemana-mana mengenai bajumu.
Hentakan sendok yang beradu dengan piring membuat suasana hening seketika. Semua orang menatap ngeri pada sosok berambut merah yang tampak siap meledak kapan saja.
"Ma-Maaf [First Name]-san!" ujar salah seorang perempuan mendekatimu dan mencoba membersihkan bajumu. Beberapa orang ikut menunduk meminta maaf.
"Daijoobu yo!" ujarmu tersenyum seperti biasa. Seolah mendapat angin mereka kini mulai menjauh dan menghentikan perang makanan yang hampir saja membuat mereka terkena gunting keramat milik si empu.
"Kenapa kau memaafkan mereka semudah itu?" tanya Seijuuro mencoba ikut membersihkan noda dibajumu, namun kau langsung menhentikan pergerakannya karena jika ia melakukannya, maka ia mungkin saja bisa menyentuh area sensitif tubuhmu.
"Biar aku lakukan sendiri" ujarmu sambil menerima tisu pemberiannya.
"Apa kau membawa baju ganti?" tanyanya lagi. Kau menggeleng pelan. Hari ini memang tak ada jam olah raga.
"Ikut aku!" ujar Seijuuro membawamu keluar, menuju tempat ia biasa menghabiskan waktu seusai pelajaran. Gym.
Ruang ganti khusus laki-laki itu sedikit membuat dadamu berdetak kencang. Aroma khas para pria langsung tercium saat memasuki ruangan itu. Seijuuro membuka lokernya dan mengambil atasan jerseynya, menyerahkannya padamu dan langsung meninggalkan ruangan itu, menunggu kau siap berganti pakaian.
Aroma khas Akashi Seijuuro langsung menyandera indra penciumanmu. Malu-malu kau mengenakan pakaian yang sering digunakannya saat berlatih basket. Sedikit kebesaran dibadanmu.
"Apa sudah siap?" tanya Seijuuro.
"Aku malu, Sei" jawabmu.
Seijuuro membuka pintu dan melihatmu tertunduk malu dengan pakaian yang kebesaran dibadanmu. Apalagi jersey Teiko no 4 itu kini dipadu oleh rok selututmu yang hampir tertutup seluruhnya oleh baju itu.
"Hahaha"
"Jangan tertawa Sei!" teriakmu mencoba mengejar dan memukuli tubuh itu. Namun nyatanya pukulanmu tak berarti sama sekali untuk menyakiti pemuda itu. Tangannya menangkap tanganmu dan menarikmu kedalam pelukannya.
Ia menghirup nafas dalam disela lehermu, mencoba menyesapi aromamu sebanyak yang ia bisa. Degub jantungmu kembali tak beraturan. Seijuuro terlalu tiba-tiba, dan memang selalu melakukan apa pun tanpa peringatan sebelumnya.
"Aku suka aroma tubuhmu, apalagi ketika bercampur dengan aroma tubuhku" bisik Seijuuro ditelingamu. Kau yakin wajahmu kini semerah kepiting rebus. Seijuuro kembali menarikmu dalam pelukan panjang. Membiarkan kepalamu bersandar nyaman pada dadanya.
"Aishiteru yo, [Name]" bisik Seijuuro lagi ditelingamu.
"Hm, aishiteru Sei" balasmu.
.
.
.
To be Continued
Dou minna? Gajekah?
Hahaha
Ricchan juga sempat bingung mau nulis apa, takut alurnya kecepetan. Sampai sekarang sih masih nahan-nahan biar rate nya g berubah ke M #author mesum #plak
Semoga minna-san bisa puas baca fic Ricchan
Next next...
Review please..!
Fav atau follow jga boleh #plak #banyak maunya
