Konnichiwa minna.!
Sebelumnya Ricchan mau ngucapin terimakasih buat readers semua, baik silent reader atau pun reader yang sempat ninggalin jejak lewat review, fav dan follow. Hontouni harigatou gozaimasu~. Semoga reader semua puas dengan karya Ricchan ini. Chap ini agak panjangan dari yang kemaren. Mudah-mudahan reader-san ngak bosan :D
'AKASHI SEIJUURO'
Kuroko no basuke bukan milik Ricchan,
kalau Ricchan yang buat ntar ujung-ujungnya jadi
cerita fangirl gaje XD
tapi fic 'Akashi Seijuuro' murni milik Ricchan
dan hanya dibuat demi kesenangan semata
[genre : romance, school life]
[pair : Akashi Seijuuro X OC/reader]
[Setting : SMP Teiko tahun ke-2]
[Warning : agak OOC, gaje, alur cepat, rate bisa berubah menjadi M sewaktu-waktu]
.
.
.
"Araki-sensei sakit?"
"Yah... Jadi pelajaran olahraganya gimana dong?"
"Murasakibara-sensei yang gantiin. Disuruh main basket"
Kamu menghela nafasmu berat. Baru beberapa menit yang lalu bel tanda pergantian pelajaran berbunyi. Seharusnya sekarang jam olah raga, namun karena Araki-sensei, guru olah ragamu sakit, maka kelas kalian terpaksa olahraga bersama Murasaki-bara sensei. Naasnya, hari ini olah raga gabungan kelas 2-A, 2-C dan 2-F. Itu artinya seluruh surai yang bergelar 'kiseki no sedai' akan bertemu dilapangan.
"[name]-chan. Ayo kita ganti baju dulu" ujar Haruka menarik tanganku. Haruka baru-baru ini menjadi teman dekatku.
"Nanti duluan saja Sei" ucapmu pada Seijuuro. Kekasih merah mu mengangguk.
Haruka terlihat senang. Sesekali ia berjalan sambil melompat-lompat. Aku tahu mengapa ia senang. Latihan gabungan ini berarti mempertemukannya dengan salah satu kiseki no sedai pemilik surai baby blue. Haruka tak pernah mengakuinya, tapi kau tahu gadis disebelahmu ini punya perasaan khusus pada pemain bayangan itu.
"[name] enak ya, sekelas sama orang yang disayang. Apalagi sekarang sudah jadi pacar" komentar Haruka saat kau sedang mengenakan baju olahragamu. Kau hanya menanggapi dengan tertawa pelan.
"Makanya cepat nyatakan perasaanmu. Nanti keduluan yang lain loh Haruka" godamu.
"Jangan nakut-nakutin [name]-chan!" balas Haruka memerah.
Tak lama kau dan Haruka sudah berada di lapangan. Lapangan ini cukup luas, bahkan masih terasa lapang maupun sudah diisi oleh tiga kelas yang akan latihan gabungan hari ini.
Diantara kerumunan paling mencolok, tentu saja segerombolan siswi perempuan yang berkerumun mengelilingi ke-6 laki-laki berparas mempesona dari tim basket sekolahmu yang memang terkenal. Dan samar-samar kau bisa melihat Seijuuro juga berada disana. Tatapannya jelas menunjukkan bahwa ia tak suka dikelilingi seperti itu.
Haruka menyikutmu pelan sambil menunjuk-nunjuk ke arah perempuan yang mengelilingi Akashi. Kau hanya tertawa. Jujur kau cukup cemburu. Namun kau juga tak ingin di cap sebagai pacar yang cemburuan.
"Apa semuanya sudah disini?" tanya Murasakibara-sensei. Para murid langsung berbaris berdasarkan kelas masing-masing.
"Etto, aku tak mengerti tentang olah raga. Tapi Araki-sensei menitipkan pesan untukku. Kalian diminta untuk mendribble bola dan shot secara berurutan. Berhubung disini ada anggota regular klub basket, jadi sensei serahkan pada kalian saja ya!" ujar Murasakibara-sensei sambil berlalu dan duduk dipinggir lapangan dan mulai memakan maibou rasa strawberry faforitnya.
Para gadis mulai berteriak histeris. Itu artinya mereka bisa menghabiskan waktu dengan kiseki no sedai yang mereka kagumi. Namun para lelaki malah menangis bombay mengutuki diri mereka yang tak bisa seterkenal itu.
Kau tersadar saat sebuah tangan menyentuh bahumu. Seijuuro sudah berdiri tepat disebelahmu, entah kapan.
"Aku tidak suka ini" komentar Seijuuro sambil menghela nafas, terlihat cukup berat.
"Tapi kau harus Sei" balasmu.
"Sejak kapan ada yang bisa memerintahku?" balas Seijuuro tak mau kalah.
"Hai' hai' Seijuuro-sama selalu absolut" ujarmu mengalah, namun tetap menekankan kata-katamu, apalagi pada kata-kata 'sama' dan 'absolut'.
Namun pada akhirnya, mau tak mau mereka mulai mengatur barisan dan memperhatikan gerakan semua orang yang mencoba mendribble dan shot. Jarang dari mereka yang bisa tepat memasukkan bola ke ring yang tingginya lebih 2 meter itu.
Kau deg degan. Sekarang sedang gilirannya Haruna. Itu artinya selanjutnya adalah kau. Sejujurnya, kau buruk dengan aktifitas fisik. BENAR-BENAR BURUK.
"Rilekskan lenganmu- nodayo" komentar Midorima pada Haruna.
"Jangan melihati yang lain-ssu. Fokus! Fokus!" Kise ikut berkomentar. Kau tahu Haruna hanya deg degan melihat Kuroko yang daritadi memperhatikan seluruh murid yang mendribble dan menshot bola.
Kau sudah terlalu deg degan untuk mengingat komentar apa lagi yang diberikan pada Haruka. Kau sendiri sudah benar-benar gugup. Apalagi mengingat Seijuuro ada disitu. Akan sangat memalukan jika Seijuuro melihatmu begitu bodoh.
"Baik, selanjutnya" ujar Aomine yang hanya bertugas memanggil dan menceklis di absen.
"Hai [name]-chin" panggil Murasakibara masih dengan wajah malasnya. Yang lain? Sudah keringat dingin jaga-jaga Akashi Seijuuro tak akan menggunting mereka jika mereka salah kata atau salah sikap denganmu.
Bola orange itu sudah berada di tanganmu. Tugasmu sederhana. Mendribble bola 5x dan shot. Hanya itu. HANYA! Gumammu dalam hati menyemangati diri sendiri.
DUK!
Oke, dribble pertama masih tertangkap.
EH?
Bola orange itu malah menggelinding menjauh darimu. Serasa ada angin dingin yang berhembus kencang. Kamu bisa melihat wajah kisedai minus Seijuuro yang setengah mati ingin menahan tawa, begitu pula dengan teman-temanmu yang lain. Sungguh, jika tak mengingat bahwa kau adalah kekasih dari Akashi Seijuuro, mungkin mereka sudah akan tertawa terbahak-bahak sekarang.
Kau kembali mencobanya.
DUK!
DUK!
EH?
Sudah beberapa kali kau mencobanya dan hasilnya tetap sama. Kau selalu kehilangan kontrolmu pada bola saat dribble ke-2 atau ke-3. Kau sudah mulai merasa frustasi. Apalagi Seijuuro hanya melihatimu dengan wajah berkerut sejak tadi.
"Ka-Kau bisa langsung shot saja [name]cchi" ujar Kise memberanikan dirinya buka suara.
Terimakasih Kise, batinmu dalam hati.
Kau mulai memasang posisi. Namun kali ini sepasang lengan yang lebih beras terasa menyentuh tanganmu. Aroma tubuh yang sudah akrab bagimu mulai menggerogoti indera penciumanmu.
"Posisimu salah [name]" komentar Seijuuro sambil menuntunmu membetulkan posisi awalmu sebelum shot.
Kau menelan ludah. Jantungmu berdetak tak karuan. Apalagi sudah ada beberapa yang men'ciee'kanmu, juga terdengar beberapa desahan iri dari murid perempuan lain.
"Sekarang, tembak [name]" perintah Sei.
EH?
Masuk! Ini pertama kalinya dalam hidupmu kau bisa memasukkan bola ke dalam ring.
"Lihat, kau bisa bukan?" ujar Seijuuro tersenyum padamu. Kau ikut tersenyum dan mengangguk senang.
.
.
.
"Lelahnya!" gumammu sambil menyandarkan punggunggmu pada punggung Haruka. Kini sedang giliran murid laki-laki untuk mendribble dan shot. Para murid perempuan diperbolehkan istirahat di pinggir lapangan.
Dan kira-kira lima belas menit kemudian latihan basket sudah selesai. Meskipun jam olah raga masih bersisa setengah jam lagi.
Murasakibara-sensei terlihat masih sibuk mengunyah maibounya sambil membuka-buka buku resep makanan.
Sedangkan kelompok kiseki no sedai yang sejak tadi hanya mengamati mulai bermain basket sendirian. Kise yang waktu itu iseng melempar bola setinggi-tingginya tak sengaja mengenai kepala Aomine dan Kuroko yang sedang one on one
"KISE TEME~" ujar Aomine mulai marah.
"Ma-maaf Aomine-cchi!" teriak Kise mulai berlari menjauh.
Aomine yang terbakar amarah mulai mengejar Kise, tanpa sengaja ia membuat Murasakibara menjatuhkan maibou spesial yang ia dapatkan dengan susah payah. Aura hitam mulai menjalar dari surai ungu.
"Aomine-chin! AKU AKAN MENGHANCURKANMU!" teriak Murasakibara mulai mengejar Aomine sambil membawa patung beruang yang merupakan lucky item milik Midorima untuk menghajar Aomine. Ia kini mengejar Kise sambil berusaha menyelamatkan diri dari kejaran corettitancoret ungu dibelakangnya.
"Oi, Lucky Item ku-nodayo!" teriak Midorima mencoba mengejar Murasakibara. Ia tak ingin lucky itemnya pecah, apalagi memecahkan kepala Aomine. Bisa-bisa ia ikut masuk kantor polisi karena tuduhan persekongkolan dalam pembunuhan.
Kau yang waktu itu masih tertawa ringan dengan Haruka sempat terkejut saat Kise datang sambil berlari-lari ke arahmu. Dan masih ada anggota kisedai lain yang ikut berlari dibelakang Kise sambil berteriak-teriak.
"[name]cchi tasukete!" teriak Kise mencoba bersembunyi dibelakangmu.
Kau bingung. Namun dalam kebingunganmu instingmu berjalan cepat. Melihat ekspresi menyeramkan orang-orang yang mengejar Kise kau malah ikut ketakutan.
"Lari [name]cchi!" teriak Kise menarik tangamu ikut berlari dengannya.
"HE? AKU TAK INGIN TERLIBAT!" teriakmu frustasi. Wajah amarah dari ketiga laki-laki lain dibelakangmu jelas tampak begitu kentara.
Akashi Seijuuro yang sudah terbiasa dengan tindak kekanak-kanakan dari temannya [baca : budak] hanya bisa geleng-geleng kepala. Namun urat kesal mulai muncuk di dahinya saat Kise menarik tanganmu dan mulai mengajakmu berlari dengannya.
"Apa kalian semua ingin mati ha?" gumam Seijuuro entah pada siapa. Kuroko yang berada didekat Akashi sudah merinding merasakan hawa membunuh dari lelaki suari merah disebelahnya.
"Tetsuya, kau bantu aku menangkap budak-budak bodoh itu! Jangan mencoba menghilang jika kau masih sayang nyawamu!" perintah Seijuuro ikut mengejar barisan bersama dengan Kuroko yang terlihat terancam.
Jadi sekarang urutannya, kau dan Kise berlari di barisan terdepan. Kise masih memegang tanganmu agar kecepatanmu bisa menyamai kecepatannya. Namun tetap saja kau lemah jika masalah fisik. Tak jauh dibelakangmu dan Kise terlihat Aomine, Murasakibara, Midorima dan Kuroko yang terlihat mencoba berlari sekencang mungkin. Ekspresi amarah yang tadi ada di wajah mereka tergantikan puih pucat dan berkeringat dingin. Beberapa detik kemudian Aomine bukannya menghentikanmu dan Kise, ia malah menyalip.
"OI KISE! KENAPA KAU MEMBAWA [NAME]! APA KAU TAK SAYANG NYAWA HA? AKASHI AKAN MEMBUNUH KITA SEMUA" teriak Aomine menambah kecepatannya.
Kau melirik kebelakang. Seijuuro ikut berlari dengan wajah kesal sambil mengeluarkan gunting merah keramat miliknya. Pantas saja seluruh wajah kisedai itu kini putih pucat.
Tak lama kau dan Kise kembali disalip oleh Murasakibara dan Midorima. Kise terlihat semakin pucat. Kau merasa bersalah karena memperlambat Kise. Namun entah Kise yang terlalu bodoh atau apa (maaf ya kise fans) ia tetap mempertahankanmu dan mencoba mengajakmu berlari secepatnya. Nafasmu sudah mulai tak teratur. Lelah. Kau heran akan kecepatan berlari kisedai di depanmu. Apa mereka tak lelah? (Ya, mereka takut ama Akashi. Makanya 'the power of kejepit'nya keluar)
Sebuah lemparan gunting nyaris menggoresmu. Namun pada akhirnya gunting itu menancap tepat diujung sepatu Aomine yang berlari paling depan. Karena gerakan yang tiba-tiba, Aomine tak bisa mempertahankan keseimbangannya dan malah terjatuh. Disusul oleh kisedai lain yang fokus menoleh kebelakang melihat-lihat apakah 'shinigami' mereka sudah dekat atau belum.
"Ittai~" komentarmu.
Saat kau membuka matamu, kini posisimu benar-benar tak nyaman. Aomine tertelungkup ditanah, dihimpit oleh Murakasibara, Midorima dan Kise, Kuroko, dan ehem kau yang menghimpit paling atas.
"Ka-Kalian berat" ujar Aomine tak bertenaga. Siapa juga yang masih bisa berbicara normal dihimpit oleh orang-orang berbadan besar(minus kamu). Apalagi Murasakibara yang tingginya hampir 2 meter.
"[name]-san jangan bermenung. Cepat! Akashi akan membunuh kami!" teriak Kuroko OOC. Bahkan Kuroko juga berteriak ketakutan jika berhubungan dengan Akashi Seijuuro.
Kau mencoba bergerak, namun sepertinya kakimu tak bisa diajak kompromi lagi.
"Apa yang kalian lakukan budak bodoh?" ujar Seijuuro mengeluarkan aura hitam pekat. Anggota kisedai meneguk ludah. Mungkin umur mereka akan berakhir hari ini.
"KYAAA!" teriak mereka semua melihat Seijuuro sudah menggenggam erat guntingnya.
.
.
.
"Kau tak apa [name]?" tanya Seijuuro setelah ia sibuk 'membereskan' budak-budaknya yang kurang ajar.
Kau mengangguk lemah. Jujur badanmu lelah.
"Apa kau masih bisa berjalan?" tanya Seijuuro lagi.
Kau mencoba berdiri dengan bantuan Seijuuro. Namun tubuhmu malah oleng dan hampir menubruk tanah jika kedua lengan Seujuuro tak menahan tubuhmu. Kakimu gemetaran. Salahkan tubuhmu yang lemah sejak lahir ini.
"Maaf" ujarmu pelan sambil menunduk.
Seijuuro langsung menggendongmu ala bridal syle dan berjalan membawamu ke UKS. Telingamu yang berada dekat dada Seijuuo bisa mendengar dengan jelas suara detak jantung Seijuuro yang juga tak teratur. Kau tahu bahwa kekasihmu ini juga lelah berlarian seperti tadi. Wajahmu bernar-benar merah saat ini. Entah karena kelelahan atau karena senang, merasa ia begitu memperhatikanmu.
"Aishiteru yo, Sei" gumammu pelan sambil menutupi wajahmu yang merah dengan kedua telapak tanganmu. Seijuuro tersenyum. Jarang-jarang kau yang pertamakali mengucapkan kata ini.
"Hm.. Aishiteru [name]" balasnya mengecup singkat dahimu.
.
.
.
To be Continued
Dou minna? Kepanjangan ya? Ricchan juga merasa kepanjangan. Hapir dua kali chap yang kemaren.
Maaf kalau banyak typo. Ricchan gak sempat cek ulang spellnya.
Selanjutnya ada yang mau ngasih saran scene kayak apaan lagi ya buat fic ini? :D
Terakhir Review please..!
Fav atau follow jga boleh #plak #banyak maunya
See you next time desu!
