Konnichiwa minna.!
Maaf salah post..! T.T ini udah ricchan repost
hontou ni harigatou gozaimasu
Sebelumnya Ricchan mau ngucapin terimakasih buat readers semua, baik silent reader atau pun reader yang sempat ninggalin jejak lewat review, fav dan follow. Hontouni harigatou gozaimasu~. Semoga reader semua puas dengan karya Ricchan ini. BTW ini chap terakhir. Ceritanya tentang pertemuan pertama reader dengan Akashi Seijuuro sebelum pacaran ;)
'AKASHI SEIJUURO'
Kuroko no basuke bukan milik Ricchan,
kalau Ricchan yang buat ntar ujung-ujungnya jadi
cerita fangirl gaje XD
tapi fic 'Akashi Seijuuro' murni milik Ricchan
dan hanya dibuat demi kesenangan semata
[genre : romance, school life]
[pair : Akashi Seijuuro X OC/reader]
[Setting : SMP Teiko tahun ke-1]
[Warning : agak OOC, gaje, alur cepat, rate bisa berubah menjadi M sewaktu-waktu]
.
.
.
Reader's Pov
Hari ini hari pertama semester baru di SMP Teiko. Dengan artian kini aku sudah resmi memakai seragam baru khas Teiko itu. Namun sayangnya ribuan, bahkan mungkin jutaan air yang merembesi langit turun menghiasi bumi. Beberapa rintiknya masuk ke sela serat pakaianku, sedang beberapa lainnya menghiasi kulit, lalu perlahan turun, seolah tak betah lama-lama bersinggah.
Langit terlihat berat. Beberapa orang yang mungkin sedang menghadapi beratnya cobaan hidup akan berfikir bahwa saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk menangis. Dimana mereka bisa menyamarkan air mata akan nama hujan. Tapi aku memutuskan untuk tersenyum dibawahnya, merentangkan tangan dan mencoba menikmati dingin yang menyapa indra perabaku.
Beberapa orang melihat aneh. Kulihat mereka berdesak-desakan. Di lorong-lorong kelas, di bawah pohon, bahkan di bawah payung sekalipun. Beberapa masih memandangiku aneh, seorang siswi dengan seragam lengkap yang terlihat menikmati bulir-bulir hujan. Sedang beberapa yang lain mulai terlihat tak peduli, sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing.
Ah, apa yang aku lakukan? Lari dari kenyataankah? Kenyataan bahwa orang tuaku tak menginginkanku. Kenyataan bahwa aku lebih memilih tinggal bersama kakakku dibanding dengan orang tuaku. Hahaha! Aku benar-benar sedang mencemooh diriku sendiri dengan tersenyum dibawah hujan seperti ini. Nyatanya, aku membenci hujan.
Akashi's Pov
"Latihannya cukup sampai disini. Kalian semua sudah boleh pulang" ujar Nijimura-senpai mengakhiri latihan yang cukup berat hari ini, yah maupun bagiku tak begitu menyulitkan. Namun nyatanya masih ada anak dari grup tiga yang muntah. Cih, seharusnya dia tak usah masuk klub basket Teiko yang sudah terkenal dengan kehebatannya ini.
Aku memutuskan untuk segera ke kelas untuk mengambil tasku. Aku yakin supirku sudah menunggu sedari tadi. Setelah berganti ke seragam semula, aku segera melesat keluar Gym. Sayang hujan yang turun mau tak mau menghadang langkahku. Aku membenci hujan. Saat hari pemakaman itu, hujan juga turun lebat seperti saat ini.
Normal Pov
Pemilik surai merah dengan iris berbeda warna itu pun akhirnya memutuskan untuk berlari menembus hujan. Hanya saja, pemandangan di didepannya membuatnya berhenti tanpa sadar.
Tepat ditengah lapangan, perempuan itu kini tengah menengadahkan tangannya, seolah siap merangkul setiap air hujan yang mengenai tubuhnya. Tapi bukan itu yang memancing perhatian si pemuda. Tepatnya adalah senyum sang gadis. Terlihat penuh kesedihan, penuh penerimaan, hanya saja palsu.
Sang gadis yang sedari tadi menengadah langit mengalihkan pandangannya pada seorang pemuda yang ia tahu telah memandanginya sedari tadi. Keduanya kemudian sama-sama menoleh, seolah paham keduanya sedang tak ingin mengganggu atau pun diganggu.
Dalam sepanjang perjalanan hidup, akan ada hari-hari istimewa bagi setiap orang. Hari mereka lahir, hari mereka pertama berjalan, hari pertama mereka berlari, juga hari ketika mereka bertemu dengan orang yang spesial bagi mereka. Hanya saja sore itu baik si pemuda maupun si gadis sama-sama melangkah berjauhan, tanpa sadar mereka telah mengalami salah satu hari istimewa dalam hidup mereka.
.
.
.
Reader's Pov
Langit kini telah sempurna gelap. Matahari telah pamit undur diri, sedang bulan dan bintang tak kuasa melawan kehendak awan gelap yang menaungi langit. Seberapa besarpun usaha mereka untuk menyampaikan cahaya mereka, tak akan sampai jua cahaya itu.
Entah sudah berapa lama aku duduk di sebuah ayunan taman yang cukup sepi ini. dan entah sudah berapa lama pula hujan mengguyur bumi. Aku sudah bosan tersenyum. Kini wajahku datar. Sedang aku sudah mulai tak merasakan tubuhku lagi. Mungkin kebas karena berjam-jam basah kuyup dibawah hujan.
"Hei gadis cantik, kau sendirian disini?" tanya seseorang, lebih tepatnya ia menggodaku. Aku mencoba mengangkat kepalaku, melihat seorang pemuda yang mungkin sedikit lebih tua dariku tengah berdiri sambil memegang sebuah payung. Dari penampilannya, sepertinya ia anak kuliahan. Tak jauh dari belakangnya berdiri seorang laki-laki lain yang seusianya.
Aku tak menanggapi. Kembali menundukkan kepala menatap tanah. Aku tak peduli dengan mereka.
"Hei, jangan acuhkan kami!" ujarnya mulai menaikkan suaranya.
"Jangan ganggu aku sialan!" balasku akhirnya. Entah kenapa hanya kata umpatan yang ada di pikiranku saat ini.
Mereka terlihat marah dengan ucapanku. Sebelah tanganku diraihnya dan dipitingnya keras. Namun wajahku masih datar, tak ada suara atau pun jeritan yang ku lontarkan. Sudah kukatakan bukan, tubuhku sudah kebas. Hatiku sudah kebas.
"Kupikir kau perlu diberikan pelajaran. Cih, padahal aku tak suka tubuh anak SMP" ujarnya memegang kedua tangaku diatas kepala. Tubuhnya mendorongku kuat, membuatku terbanting kasar di tanah. Tangannya yang satu lagi mulai membuka dasiku. Temannya ikut membantu dengan membuka kancing seragamku dari bawah satu per satu.
Apa laki-laki selalu melakukan hal seperti ini? Apa memegang tubuh seorang perempuan begitu menyenangkan? Apa yang ayahku pikirkan saat menyentuh perempuan sialan itu di depan ibuku? Ah, aku tak tahu.
Akashi's Pov
Aku pikir aku selalu merencakan segalanya dengan sempurna. Tapi kenapa mobil kesayanganku sempat mogok di saat aku harus segera pulang. Memang salahku juga karena tak langsung pulang meskipun hari ini ada pertemuan penting dengan ayahku. Entah kenapa, mungkin karena pengaruh hujan aku jadi rindu pada ibuku.
"Oi kenapa kau diam seperti mayat ha! Kau ini sedang diperkosa lo adik kecil!" samar-samar aku mendengar suara lelaki di antara bunyi hujan yang tertahan oleh payungku.
Aku memutuskan untuk tak peduli. Sayang rumahku terpaksa melewati sumber suara. Mau tak mau aku mendekat. Namun saat menyadari seragang putih itu milik Teiko, mau tak mau aku harus menyelamatkan siapa pun itu. Tak lucu jika SMP pilihanku langsung terkena skandal di hari pertamaku bersekolah disana bukan?
"Lepaskan tangan kalian!" ujarku pelan. Kedua laki-laki itu mengalihkan pandangannya. Aku bisa melihat wajah perempuan itu. Dia? Bukankah dia perempuan tadi sore? Pakaiannya sudah acak-acakan, terbuka di sana-sini, hanya saja wajahnya masih datar.
"Apa-apaan kau bocah? Hendak berlagak pahlawan sekarang ha?" ancam lelaki itu mendekatiku. Namun sekali gerakan aku langsung bisa membantingnya ke tanah. Huh, jangan macam-macam dengan penerus Akashi Group sialan!
"Apa kau mau ikut pingsan seperti temanmu?" ancamku. Aura hitam mulai menyeruak keluar. Langkah seribu dipilih oleh lelaki itu, aku tersenyum menang.
Perempuan yang bahkan tak kutahu namanya itu mulai mendudukkan tubuhnya. Tangannya merapatkan seragamnya, menutupi tubuhnya yang masih bersegel. Beruntung dia masih belum sempat dinodai kedua laki-laki itu. Entahlah? Sejak kapan aku peduli!
"Kau tak apa?" tanyaku mengulurkan tangan. Argh! Kenapa aku jadi begitu peduli dengannya. Aku ingat akan janjiku dengan Ayah. Tapi aku tak bisa mengabaikannya begitu saja. Entah kenapa.
Dia menatap lama telapak tanganku. Perempuan manapun juga akan takut dengan laki-laki yang tak ia kenal jika telah mengalami hal seperti tadi kurasa. Akhirnya hanya angin yang menyambut tanganku. Ia berusaha berdiri sendiri. Sayang tubuhnya oleng begitu saja, kesadaran yang terlihat ia perjuangkan sedari tadi runtuh bersamaan dengan tubuhnya. Aku mencoba menahan tubuhnya dengan kedua tanganku.
"Maaf, tubuhku kebas" ujarnya. Ya, aku bisa merasakannya. Tubuhnya panas. Tunggu dulu? Dia masih memakai seragam. Apa ia hujan-hujanan sejak tadi sore? Dasar perempuan bodoh!
.
.
.
Future Normal Pov
Kedua anak kembar itu menatap ayah dan ibu mereka berbinar. Anak usia belasan tahun memang tengah penasaran-penasarannya dengan kata cinta. Dan hubungan asmara ayah ibu mereka lah yang menjadi target mereka. Dengan senang hati Paman Kise dan Paman Aomine menceritakan masa-masa pacaran ayah ibu mereka. Hanya saja kisah tentang bagaimana ayah dan ibu mereka bertemu masihlah sebuah pertanyaan besar. Paman-paman kisedai itu sama-sama tak tahu.
"Apa Akashicci pernah cerita pada Shincci dan Rincci tentang bagaimana mereka bertemu?" tanya Paman Kise pada duo kembar beda jenis kelamin itu. Keduanya serentak menggeleng.
"Aku juga tak tahu. Kau tahu Tetsu?" tanya Paman Aomine pada Paman Kuroko. Paman Kuroko menggeleng pelan.
"Aku juga tak tahu" lanjut Paman Murasakibara dan Paman Midorima bersamaan.
"Eh, tapi kami ingin tahu" rengek Rin.
"Apa yang kalian ingin tahu?" tanya sebuah suara yang sangat akrab ditelinga mereka. Kau dan suamimu, Seijuuro memasuki cafe tempat Kisedai beserta istri mereka dan anak kalian berkumpul. Cafe miliik Murasakibara memang sengaja ditutup tiap jumat sore. Khusus menjadi tempat ngumpul kalian sebulan sekali.
"[name]-chan! Tadi kami bercerita tentang masa muda kita semua. Shin-kun dan Rin-chan sempat bertanya tentang masa mudamu dengan Akashi. Kau tak keberatan kami menceritakannyakan?" ujar Haruka. Haruka sahabtmu dulu! Akhirnya ia bisa mendapatkan hati sang bayangan setelah bertahun-tahun usaha.
Wajahmu memerah. Ehm, bukannya apa-apa, tapi kau yakin kalau mereka yang menceritakan, mereka mungkin akan menceritakan betapa konyolnya masa-masa pacaranmu dengan Seijuuoro.
"Shin, Rin kemari!" perintah Seijuuro. Keduanya langsung mendekat tanpa niat membantah. Hasil didikan Seijuuro memang hebat.
"Apa yang Paman kalian [baca: budakku] ceritakan?" tanya Seijuuro.
"Banyak! Paman Kise bilang ayah menyeramkan dan terlalu sensitif kalau itu berhubungan dengan Ibu" cerita Rin polos. Paman Kisenya hanya bisa gigit kemeja. Istri Paman Kise hanya tertawa pelan menyemangati suaminya.
"Tapi mereka tak cerita tentang bagaimana Ayah dan Ibu bertemu dan saling jatuh cinta!" lanjut Shin memasukkan tangan ke saku celananya. Sifat serius seorang 'Akashi Seijuuro' sepertinya menurun padanya.
"Hm... Apa kalian ingin mendengarnya?" tanya Seijuuro. He? Apa-apaan ini? Apa Seijuuro akan menceritakan hal memalukan itu dihadapan semua orang?
Shin dan Rin sama mengangguk. Wajah antusias sangat terlihat dari wajah Rin, maupun Shin tetap mengaja gengsi. "Baiklah, akan Ibu ceritakan dirumah. Sekarang ayo kita pulang!" ujarmu menarik Shin dan Rin. Kau yakin wajahmu sudah semerah kepiting rebus.
Ruangan itu diselimuti aura hitam untuk sesaat. Seijuuro memberikan deathglare terbaiknya pada para budak bodoh yang sudah sengaja membeberkan kisah cintanya pada dua anaknya. Namun sebelum gunting merah kermatnya melayang ke arah mereka, kau sudah ikut menarik Seijuuro masuk ke mobil. Semua yang ada disana menarik nafas lega.
"Jadi, bagaimana ceritanya Ayah?" tanya Rin di mobil.
"Hari itu hujan, seperti saat ini. Dan aku menolong ibumu dari anjing liar" Seijuuro mulai bercerita. Sebelah tangannya yang tak memegang kemudi menggenggam tanganmu, seolah memberikan kekuatan. Mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
"Lalu saat itu ibu menceritakan seluruh permasalahan ibu pada ayah. Ternyata keluarga ayah kurang lebih sama seperti ibu. Dan saat itu kami sadar, bahwa kami berdua sama. Dan kami memutuskan untuk saling menerima dan saling mendukung satu sama lain" lanjutmu mengakhiri kisah singkat itu.
Kau dan Seijuuro saling tatap untuk sesaat. Kalian sependapat. Anak kalian belum cukup dewasa untuk mendengar seluruh ceritanya dengan lengkap dan tanpa disensor.
.
.
.
Normal Pov
Akashi Seijuuro menggendong perempuan yang sudah terlelap ini dipunggungnya. Entah malaikat apa yang lewat di hatinya hari ini. Membawa seorang gadis yang bahkan belum ia tahu namanya pulang. Namun tanggapan ayahnya tak seperti yang ia duga. Perempuan yang ia tolong ini ternyata anak kenalan ayah marga Akashi itu. Ayahnya malah memuji lelaki bersurai merah itu.
Malam itu tangan panas perempuan itu tak lepas dari tangan Seijuuro. Dan dibawah kuasa obat, perempuan itu mulai menceritakan semuanya. Tentang kakaknya yang diusir karena ingin menjadi pelukis. Tentang Ayahnya yang main perempuan dan sering melakukan kekerasan. Tentang ibunya yang selalu memasang topeng sempurna dihadapan semua orang. Dan tentang dirinya yang sudah bosan dengan kehidupan itu dan memutuskan mengikuti jejak kakaknya.
"Ibuku sudah meninggal. Kanker stadium 4. Padahal jika diketahui lebih cepat ibu pasti bisa selamat. Tapi ayaku terlalu sibuk untuk memperhatikan ibu yang sakit-sakitan. Bahkan ayah tak hadir saat pemakan ibuku" cerita Akashi pada perempuan yang setengah sadar itu.
Setetes air bening membasahi pipi sang gadis. Ia tengah menangis. Entah menangisi nasibnya, nasib pemuda dihadapannya, ataupun nasib mereka berdua.
"Namaku Akashi Seijuuro, namamu?"
"Namaku [full name]"
"[last name], mulai hari ini aku akan jadi pelindungmu. Dan kau juga akan jadi pelindungku. Karena itu kita sudah tak punya alasan untuk menangisi dunia. Kita akan melawan dunia itu sendiri" lanjut Akashi.
Entah sadar atau tidak. Dalam sepanjang perjalanan hidup, akan ada hari-hari istimewa bagi setiap orang. Hari mereka lahir, hari mereka pertama berjalan, hari pertama mereka berlari, juga hari ketika mereka bertemu dengan orang yang spesial bagi mereka. Dan hari itu, mereka bertemu.
.
.
.
END
Doumo...!
Akhirnya fanfic "Akashi Seijuuro" tamat juga. Ricchan antara lega juga sedih. Sedih juga bikin akhirnya gantung kayak gini. Semua reader-san ga bingung bacanya. :D
Spesial thanks buat seluruh yang udah review, fav, follow fic Ricchan yang satu ini. Juga untuk silent reader yang setia baca. Sampai jumpa di karya Ricchan berikutnya!
See you next time desu...!
Last, review please~
