"Ada saatnya nanti aku tidak akan ber-prokastinasi lagi, Uchiha Sakura"
.
.
allihyun presents
a SasuSaku Fanfiction
Psychologist
AU. Drabble. Typo(s). OOC. Gombal XD
DLDR is on term
Naruto and its chara © Masashi Kishimoto
Psychologist © allihyun
.
Part V
Prokastinasi
Membuat seorang Haruno Sakura menunggu terlalu lama adalah pilihan yang buruk untuk menghabiskan hari minggu Uchiha Sasuke.
Sejak pertama menginjakkan kaki di apartemen Sasuke—tidak, bahkan sebelum gadis beriris laksana batu emerald itu memasuki pintu apartemennya—tepatnya ketika mulai memencet bel apartemennya dengan bar bar, Sakura sudah menunjukkan muka garang yang siap menelan Sasuke kapan saja. Tingkat kegarangan mukanya semakin meningkat ketika wajah aku-masih-merindukan-bantal-biruku milik Sasuke lah yang menyambutnya di ambang pintu. Sama sekali bukan tampilan parlente ala Uchiha Sasuke yang siap membuat pingsan sejuta kaum wanita seperti yang Sakura harapkan.
"SASUKE! KAU MELUPAKAN JANJI KENCAN KITA LAGI, HAH?!"
Bugh!
Dan sebuah pukulan telak dari tas LV milik Sakura membuat Sasuke meninggalkan mimpi indahnya dengan bantal birunya.
Dan di sini lah Haruno Sakura sekarang; di dalam apartemen Uchiha Sasuke sambil membereskan kekacauan-entah-apa yang dilakukan Sasuke semalam sehingga kamar yang didominasi warna biru itu tak ubahnya kapal pecah. Masih ada lima cangkir bekas kopi yang tergeletak malang di atas meja, bekas camilan yang masih tersisa di sebelahnya dan laptop beserta lembaran-lembaran materi Kesmen yang berserakan di meja yang sama. Melihat posisi TV yang masih menyala juga bantal dan selimut yang tersampir di sofa biru dongker kesayangan Sasuke, pasti lah semalam pacar dinginnya itu habis begadang lagi demi bola. Garis bawahi kata lagi karena ini bukan kali pertama Sasuke melakukannya.
"Jadwal bola saja ingat tapi janji kencan dengan pacar sendiri lupa, dasar cowok!" gerutu Sakura sambil tangannya masih tetap sibuk memilah-milah kertas tugas dan materi kuliah yang ada di meja Sasuke.
Mulut mungilnya dari tadi sibuk mencacati segala hal yang bersifat berantakan yang bisa dia temui di kamar Sasuke. Tidak lupa gerutuannya tentang sudah satu jam lebih menunggu tanpa kabar di hari kencan mereka. Begitu asyiknya mengumpat sampai-sampai Sakura tidak sadar orang yang sedang jadi bahan gerutuannya telah keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut boxer warna biru dan seutas handuk yang melingkari leher jenjangnya. Beberapa tetes air menghiasi rambut hitam kebiruannya yang masih basah.
Seksi.
Sebuah kondisi yang biasanya akan membuat Sakura langsung bermuka merah jika melihatnya. Tapi tidak ketika mata gadis itu sudah menggelap karena kesal. Melihat Sasuke masih santai-santai mengeringkan rambutnya dengan handuk dan malas-malasan memilih baju di lemari besarnya justru membuat Sakura ingin menjambak rambut ayam kebanggan bungsu Uchiha itu. Mata Sakura memicing tajam menyiratkan murka yang kalau saja di dunia animasi matanya sudah bisa mengeluarkan sinar laser beserta dengan muntahan apinya.
"Jangan membuat wajah seram seperti itu."
"Hoh? Jadi kau sadar aku marah Sa-su-ke-kun?"
Sasuke tidak menjawab tapi berbalik menghadap Sakura sambil menunjuk bekas 'ciuman' tas Sakura yang masih melekat tipis di pelipisnya. Tidak memar tapi cukup merah. Sangat cukup untuk menunjukkan seberapa marahnya gadis musim semi itu.
"Kau beruntung aku lah yang jadi pacarmu, Sakura."
"Nani?"
"Karena mungkin cuma aku yang mau menerima perlakuan bar barmu itu."
Mata hijau emerald Sakura melebar mendengar perkataan terakhir Sasuke. Gadis merah jambu itu sama sekali tidak menyangka di saat seperti ini Sasuke masih bisa menunjukkan sisi narsisnya.
"Ne, Uchiha Sasuke-kun!" Tekankan pada sufiks –kun,"kau mungkin benar aku beruntung mempunyai kau sebagai salah satu samsak tinjuku. Tapi kau lebih beruntung karena memiliki aku sebagai alarm pengingatmu!"
Sasuke yang sudah selesai berpakaian mengangkat sebelah alisnya,
"Maksudmu?"
"Apa kau sadar kau sering lupa deadline tugasmu, siapa yang mengingatkanmu?"
"Hn, kau."
"Siapa yang mengingatkanmu untuk selalu makan dengan benar?"
"Hn, kau."
"Siapa yang mengingatkanmu jadwal bulanan menemui dokter gigimu?"
"Hmm, kau."
"Siapa yang selalu menelponmu setiap pagi untuk memastikan kau tidak telat kuliah?"
"Baiklaaah, kau!"
Sakura tersenyum miring merasa dirinya di atas angin. Sesekali menang bincang-bincang dengan Sasuke bukan lah hal buruk. Bahkan bisa menghilangkan rasa kesalnya sedikit-sedikit.
"Dan lihat siapa yang suka menunda-nunda pekerjaan hm, Sasuke-kun?"
Sasuke mengerutkan alisnya sambil mengerling ke arah Sakura. Pikirnya perbincangan itu tidak akan berlanjut. Tapi rupanya Sakura ingin memojokkannya sampai akhir. Mau menantang silat lidah, eh?
"Aku."
"Dan siapa yang suka mendulukan hal-hal tidak penting seperti menonton bola daripada menyelesaikan tugas yang deadline-nya besok?"
"Ak- hei! Tadi malam itu bigmatch Arsenal dan Chelsea, mana mungkin aku melewatkannya!"
"Intinya kau menunda-nunda pekerjaanmu Sasuke-kun, padahal tugas Kesmen itu diberikan seminggu yang lalu kan? Tapi baru kau selesaikan semalam? Prokastinasi!"
Sasuke mendecih ketika mendengar kata prokastinasi diucapkan. Sudah bukan hal yang asing bagi telinganya mengingat Sakura selalu mengucapkan kata sakral itu setiap kali Sakura mengungkit-ungkit kebiasaannya mengerjakan tugas dalam waktu semalam. Bukan apa-apa, hanya saja Sasuke merasa sanggup mengerjakan tugasnya dalam waktu kurang dari 24 jam. Sedikit arogan memang, tapi fakta menyatakan keturunan Uchiha memang dianugerahi otak yang cemerlang.
Secermerlang otak Sasuke sekarang yang sudah menemukan hal yang bisa membungkam rentetan protes dari mulut Sakura,
"Aku akan berhenti ber-prokastinasi suatu saat nanti."
"Heh? Jangan sesumbar Sasuke-kun, nanti nenek moyangmu bangun dari kubur kalau kau sampai tidak bisa menepati kata-katamu itu!"
"Benar, kok."
"Jangan mencoba defense deh!"
"Serius. Aku tidak akan prokastinasi kalau itu tentang jadwal melamarmu jadi istriku nanti."
Seringai kemenangan Sasuke menyertai kalimat pamungkasnya barusan. Dipandangnya wajah bulat gadis yang kini hanya menganga dengan muka merah itu. Persis seperti tomat kesukaannya,
"A..aa-"
"Dan kupastikan nenek moyangku tidak akan pernah bangun dari kuburnya, Uchiha Sakura."
Dan wajah Sakura pun tidak bisa lebih memerah lagi sekarang.
Jadi battle silat lidah kali ini pun Sasuke lagi yang memenangkannya eh, Uchiha Sakura?
=== udah ===
Prokastinasi : kebiasaan untuk menunda-nunda pekerjaan yang penting dan mendahulukan kepentingan yang seharusnya tidak jadi prioritas. Problem Time management dan Priority Management jadi kunci utama untuk kebiasaan ini.
Haloooo minna-san! :D
Sudah lama juga saya gak update drabble ini ya, hampir satu bulan hehehe. Masih ada yang inget kah? :D
Semoga chapter ini menghibur yah, atau masih kurang gombal? Wkwkwk. Soal prokastinasi sebenernya itu terinspirasi dari saya sendiri yang suka nunda-nunda kerjaan sama tugas, lol /curhat.
Yang kemaren nanya Sasuke suka tim bola apa? Tuh kan kejawab : Arsenal ! (karena saya suka Arsenal wkwkwk/dibuang). Oh ya Tiya-chan kalo pake bahasa Indonesia jadinya Psikologi ;) Request dari Akasuna no ei-chan next chapter yah :D
Special thanks buat yang udah review chapter kemaren:
Ukida Haruka, karimagbgz, , aguma, NaNo Kid, akasuna no ei-chan, kiro-aki, karikazuka, Mizuki Hinagiku, blyskue, Iralarasati, Tiya-chan, Sakumori Haruna
U guys are cool! :D
Thanks for reviewing, mind to review again? ;)
Story only = 860wrod
270513, onmygreenbed.
-allihyun.
